Menuju Festival Arsip: Peluncuran dan Bedah Buku “JEJAK”

Oleh: Galih Ristia (Peserta Magang IVAA)

“Acara peluncuran buku Jejak ini adalah pre-event dari acara Festival Arsip. Festival Arsip digagas oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai upaya membangun gerakan pengarsipan, sekaligus menegaskan posisi kita sebagai basis dari pengetahuan dunia melalui penguatan nilai kesejarahan, terutama sejarah seni rupa Indonesia,” ungkap salah satu peserta lokakarya yang menjadi pembawa acara peluncuran dan bedah buku Jejak ini.

Ruang IVAA dipenuhi oleh para peserta lokakarya, tamu undangan, dan peserta diskusi pada Jumat (11/8). Mereka berkumpul untuk berdiskusi membedah Buku Jejak. Acara ini dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana (IVAA). Dihadiri oleh Fairuzul Mumtaz dan Sita Magfira sebagai pembicara. Fairuzul Mumtaz adalah penulis dan editor. Pada lokakarya ini, Fairuzul Mumtaz bertugas sebagai editor. Sita Magfira adalah penulis dan sering terlibat pada kerja-kerja seni nasional dan internasional. Pada acara bedah buku ini ia sebagai penanggap dan pemantik diskusi.

“JEJAK: Seni dan Pernak-Pernik Dunia Nyata” merupakan kumpulan tulisan dari para peserta Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa yang berlangsung Mei-Juni 2017. Terdiri dari 11 penulis muda dengan berbagai latar belakang dan menghasilkan tema yang beragam pula. Untuk itulah, judul “Jejak” kemudian dipilih. Jejak disini juga dimaknai sebagai jejak pembelajaran.

Fairuzul Mumtaz dalam 30 menit berbicara mengenai proses pendampingan peserta lokakarya dari awal hingga akhir selama dua bulan. Dari 13 peserta, 11 peserta akhirnya lolos seleksi. “Peserta pada awalnya kebingungan mencari tema dan mau menulis apa. Peserta yang tidak pada bidangnya juga akhirnya menulis tidak berdasarkan data, tapi berdasarkan asumsi-asumsi yang ada”, ungkapnya. Dengan begitu, Fairuzul mengaku bahwa dalam proses lokakarya ini, ia sengaja menjadi editor “ganas” di hadapan para peserta. Hal ini sengaja dilakukan untuk membuat para peserta memiliki semangat menulis dan saling suportif di antara mereka.

Berbicara mengenai rentang waktu, yakni dua bulan untuk pelaksanaan lokakarya ini, Fairuzul dengan tegas mengatakan bahwa ia sering menolak tawaran kegiatan workshop atau lokakarya lain dengan jangka waktu yang pendek. “Workshop tidak cukup dengan waktu yang pendek, karena peserta butuh pendampingan,” ucap Fairuzul. Dua bulan untuk lokakarya kali ini menjadi ketertarikan sendiri, dikarenakan adanya nilai pendampingan yang musti diperhatikan pada setiap acara workshop atau lokakarya.

Hal tersebut juga diakui menarik oleh Sita Magfira. Tidak hanya rentang waktu, hal yang menarik bagi Sita ialah karena hasil proses akhir peserta lokakarya dibukukan dan hal semacam ini patut diapresiasi.

Sita ikut terlibat pada awal perumusan lokakarya. Ia memperhatikan bahwa pada awal lokakarya ini terdapat kata “seni rupa” yang disematkan dalam judul Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Namun, ketika melihat buku yang telah para peserta susun, bahasannya menjadi lebih meluas dan beragam, tidak hanya pada seni rupa, misalnya film. “Ini bisa terjadi karena peserta punya ketertarikan spesifik personal yang mungkin tidak baik jika dipaksakan. Atau mungkin juga bisa terjadi karena proses lokakaryanya yang tidak terlalu ketat, sehingga para peserta tidak dikondisikan khusus mendekati ‘seni rupa’ pada proses lokakarya ini,” kata Sita. Walau demikian, Sita mengaku dengan adanya bahasan tulisan yang meluas dan beragam membuatnya menjadi tahu hal-hal yang belum ia tahu, misalnya menemukan beberapa seniman yang menurutnya belum pernah ia dengar namanya. Hal ini menjadi wawasan tambahan bagi Sita ataupun calon pembaca lainnya.

Secara personal, pada pembahasan mengenai karya dan seniman, Sita menemukan beberapa tulisan mengenai alasan yang cukup tidak jelas mengapa para peserta mengangkat karya atau tema tersebut. Akan lebih menarik lagi jika peserta bisa menjelaskan pernyataan yang cukup jelas mengenai tema yang diangkat. Di beberapa tulisan lainnya, Sita juga mengaku tidak menemukan rumusan masalah atau persoalan, sehingga mengakibatkan fokus dari tulisan peserta menjadi kabur.

Lisis sebagai moderator kemudian menanyakan mengenai kritik Buku Jejak pada Fairuzul dan Sita. Fairuzul memberi kritik perihal rencana pembuatan buku dari tulisan peserta lokakarya, ada baiknya apabila rencana ini diinformasikan kepada para peserta di awal masuk lokakarya. Fairuzul yakin, dengan demikian akan semakin memancing semangat peserta untuk berlomba menulis lebih bagus, sehingga mereka memiliki gairah menulis yang tinggi. Sita melanjutkan dengan menyarankan proses lokakarya ini ada baiknya ketika para peserta mengirimkan esai, mereka juga diminta untuk mengirimkan proposal tulisan yang akan ia hasilkan dari proses lokakarya, sehingga peserta memiliki bayangan akan menulis apa yang sesuai dengan tema. Sita juga mengkritik mengenai materi lokakarya yang dirasa tumpang tindih, khususnya pada judul “Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa.” Sita menanyakan apakah peserta akan dibekali praktik ataukah wacana. Jikalau keduanya, bagaimana agar hal tersebut tidak jadi hal yang melelahkan bagi peserta.

“Buku Jejak ini akan dijual dengan harga promo 75.000 rupiah. Hasil penjualan ini akan digunakan untuk menyelenggarakan lokakarya selanjutnya,” papar Lisis memberi jeda setelah diskusi. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tulis peserta lokakarya, membeli Buku Jejak sama halnya dengan berusaha memperkaya diri. Fairuzul menegaskan bahwasannya buku ini menjadi salah satu sumbangan para peserta bagi perkembangan seni rupa dalam perspektif personal yang sebelumnya dikenal menjadi sebaiknya dikenal. Sita dengan mantap menjawab jika buku ini tidak dibaca, tentunya calon pembaca tidak akan tahu bagaimana generasi muda memandang medan seni atau hal visual lainnya yang terjadi pada hari ini.

Terakhir, acara dilanjutkan dengan penandatanganan 11 peserta lokakarya pada Buku Jejak. Kemudian diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Dewan Penasihat IVAA, Yustina Neni, serta doa yang dipimpin oleh Fairuzul Mumtaz.

“Berpikir jauh itu harus ada yang pertama. Jadikan sesuatu itu untuk menjadi yang pertama,” pesan Neni ketika menutup pengantarnya. Sesuatu yang pertama salah satunya telah terwujud pada pembuatan Buku Jejak yang kini telah diresmikan, sekaligus menjadi penanda satu langkah lebih dekat menuju Festival Arsip “Kuasa Ingatan”.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.