Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese

Oleh: David Ganap

Penulis: Brian Arnold
Pengantar: Aminuddin Th. Siregar
Penyunting: Ellen Avril
Ilustrator Sampul: Diandra Galih
Edisi: I, Februari 2017
Penerbit: Afterhours Book (Lans Brahmantyo)
Bahasa: Inggris
Halaman: 134

Buku berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese” adalah satu dari hasil akhir penelitian Brian Arnold selama tiga tahun tentang fotografi kontemporer di Pulau Jawa. Hasil lain dari penelitiannya adalah pameran dengan judul sama di Herbert F. Johnson Museum of Art di Universitas Cornell yang dibuka awal Februari lalu. Sehingga buku ini bisa juga disebut sebagai katalog dari pameran tersebut. Sebagai kuratornya, Brian memilih sederet nama seniman Indonesia untuk diikut sertakan karyanya. Ada 10 seniman yang tercatat di dalam buku ini: Krisna Murti, Jim Allen Abel, Wimo Ambala Bayang, Angki Purbandono, Dito Yuwono, Deden Hendan Durahman, Henrycus Napit Sunargo, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Amran Malik Hakim, dan Tino Djumini. Tak kalah menarik, ada catatan pendek dari sejarawan seni rupa Aminuddin Th. Siregar yang memaparkan sejarah seni fotografi di Indonesia yang bisa dijumpai di bagian akhir buku ini.

Brian Arnold, seorang seniman fotografi yang tinggal di New York, mengajar seni di Alfred University dan beberapa universitas lain di Amerika Serikat. Brian yang pada mulanya mendalami etnomusikologi jatuh hati pada fotografi untuk pertama kalinya saat berada di Indonesia. Tak hanya hanya itu, kesempatannya untuk belajar gamelan di Jawa waktu itu juga membuatnya jatuh hati pada kebudayaan Indonesia. Petualangan studinya di tahun 1992 tersebut berdampak signifikan bagi penemuan identitas daya cipta dan kesadaran intelektualnya di kemudian hari.

Menyadari betapa kompleksnya perbedaan atmosfir negeri Paman Sam dan Ibu Pertiwi, Brian memprakarsai riset histori mengenai latar belakang dan dampak kolonialisme, serta peran kesenian dalam proses pembangunan peradaban. Riset tersebut mengerucut pada skeptisisme hebat atas fotografi yang bertahan selama beberapa dekade pada negara-negara bekas jajahan yang baru mekar. Masyarakat di era tersebut, dalam kondisi yang traumatis berspekulasi bahwa fotografi terlalu kebarat-baratan dan kerap dimitoskan sebagai mesin kekuatan kolonial.

Berbicara tentang jati diri bangsa, sudut pandang yang Brian gunakan sebagai pendekatan terhadap imaji arsipelago hari ini adalah konsorsium pegiat seni foto Indonesia dengan berbagai materi karya yang representatif. Salah satu di antaranya adalah trilogi “Uniform Code” milik Jim Allen Abel. Jimbo, sapaan akrabnya menarasikan seragam sebagai konsep identitas yang cenderung taksa. Ambiguitas yang ia suarakan berlatar kesadarannya tentang fungsi seragam sebagai “kamuflase” yang mampu menyamarkan sifat personal suatu individu ke dalam kejamakan komunitas.

Untuk memperjelas, Jimbo mengisahkan insiden jenaka ketika dia terpaksa dicegat polisi atas perkara yang tidak begitu penting. Dalam suatu kesempatan, ia mengendaraai sepeda motor tanpa atribut proteksi standar yang berlaku. Saya membayangkan petugas yang menyaksikan momentum ini sumringah merespon kelakuan Jimbo. Tanpa basa-basi, Jimbo dianggap melanggar prosedur keamanan berkendara. Jimbo yang merupakan anggota Mes 56, kolektif seniman fotografi, membaca peluang konseptual dari peristiwa ini. Dia menyadari unsur metaforis tentang nilai dari seragam korporat. Ketika ia berargumentasi dengan oknum aparat yang bersangkutan, ia mengenali anggota kepolisian negara tersebut sebagai seorang pribadi, insan manusiawi dengan kehidupan personalnya dibalik fungsi seragam yang ia gunakan. Akan tetapi, dalam waktu yang relatif berdekatan, ketika ia mencari aparatus negara tersebut, seketika juga identitas pribadi yang tadinya ia kenali, tersublimasi menjadi komponen dari pasukan pengayom masyarakat dalam citra divisi yang utuh.

Pada akhirnya melalui pameran ini, Brian Arnold kembali menegaskan multikulturalisme sebagai penanda eksistensi masyarakat modern. Di mana ‘pencangkokan’ budaya (apalagi di era digital ini) tidak lagi dibatasi oleh persoalan spasial dan waktu. Di samping itu juga memperkokoh makna simbolik bahasa visual sebagai bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat leksikal. Segala proyek serta dedikasi Brian Arnold terhadap Indonesia semakin memperkaya khazanah pemikiran kita tentang citra bangsa ini di masa lampau, saat ini, dan gambaran kemungkinan masa yang akan datang.


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.