Tag Archives: agendarumahIVAA

From Statue to Pillory

Oleh Hardiwan Prayogo

Kita tentu lebih familiar bahwa monumen selalu berbentuk patung. Lantas bagaimana dengan pillory? Ini adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Hans Van Houwelingen, seniman Belanda yang fokus dengan gagasan seni di ruang publik. Dalam diskusi di Rumah IVAA yang berlangsung Sabtu, 11 Mei 2019, dia mempresentasikan proyek pembuatan pillory di Belanda. Pillory secara umum dapat diartikan sebagai counter-monument, meski secara detail ia cukup berbeda karena bukan hanya menghapus monumen (ingatan buruk) tetapi justru menghadirkan pembandingnya. Itu pula kenapa diskusi ini bertajuk From Statue to Pillory ini, mempersoalkan makna monumen sebagai artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. 

Gagasannya berangkat dari kegelisahan atas monumen yang dibangun untuk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda yang membantai ribuan orang dalam Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yang telah dilakukannya. Serta masih menganggap Van Heutsz sebagai salah satu pahlawan nasional. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. 

Hans memulai presentasinya dengan menunjukan video orang-orang merusak monumen dari tokoh-tokoh yang dianggap sebagai penjahat kolonial. Dia merasa masyarakat perlu mengingat memori buruk dan perlu melakukan tindakan nyata seperti melempari monumen dengan kentang hingga kotoran. Semacam menjadi pengingat supaya kejahatan-kejahatan masa lalu tidak terulang. 

Diskusi yang digelar atas kerjasama dengan Brikolase ini sengaja untuk mendengar perspektif dari orang Indonesia, sebagai pihak yang menjadi wilayah koloni. Maka diskusi yang berlangsung hampir 2 jam ini, lebih banyak mendengarkan opini dari audiens. Di antara mereka ada yang aktif sebagai aktor kesenian, seperti Agung Kurniawan, Iwan Wijono, Nindityo Adipurnomo, Sanne Oorthuizen, dan beberapa akademisi. 

Beberapa feedback menarik terlontar dari forum tersebut. Dikatakan bahwa kehadiran pillory bisa jadi akan dimaknai berbeda oleh orang Indonesia. Ini disebabkan oleh setiap masyarakat memiliki kultur tersendiri untuk mengingat peristiwa-peristiwa traumatiknya. Tidak semua lapisan masyarakat berani untuk menunjukkan kemarahan dan kebenciannya, bahkan terhadap orang-orang yang sudah jelas telah melakukan kejahatan terhadap mereka. Dengan kata lain, kita memiliki cara tersendiri untuk “berdamai” dengan ingatan. Persoalan lain yang menghinggapi adalah bagaimana cara dan untuk apa masyarakat kita memaknai sejarah dan mental serta perilaku macam apa yang perlu dirubah untuk memaknai kolonialitas.

Pada akhirnya diskusi ini memang tidak disimpulkan secara eksplisit. Namun rasanya satu hal yang dipelajari Hans dari diskusi ini adalah kita harus awas terhadap kehadiran monumen dan pemaknaan atas sejarah dan cara pandang siapa yang diwakili oleh kehadiran monumen di ruang publik. Sudah barang tentu bahwa cara masyarakat Eropa memaknai sejarah dan masa lalunya tidak akan bisa semudah itu diterapkan pada konteks  masyarakat yang pernah menjadi wilayah koloni.

View this post on Instagram

Hans Van Houwelingen sharing dan ngobrol-ngobrol soal proyek seninya yg berjudul From Statue to Pillory, yg mempersoalkan makna monumen sbg artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. Berangkat dari monumen yg dibangun utk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda, yg membantai ribuan orang dlm Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yg telah dilakukannya. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. Acara ini kerjasama dengan @brikolase Di Ruang pamer Lt.2 Rumah IVAA Foto oleh Emon @rully_ap #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Asana Bina Seni Biennale Jogja

Oleh Sukma Smita

Mengutip publikasi dalam laman Biennale Jogja, inisiasi penyelenggaraan Asana Bina Seni terinspirasi oleh Asana Bina Widya, sebuah lembaga bimbingan belajar yang ‘berfungsi’ sebagai komplemen atas materi pelajaran dari sekolah. Berangkat dari gagasan atas kebutuhan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam pada kerja-kerja kesenian yang tidak banyak diberikan oleh lembaga pendidikan formal, Asana Bina Seni menawarkan 3 subjek utama dalam kelasnya, yaitu:

  1. Manajemen Seni
  2. Kuratorial
  3. Apresiasi Seni

Model pendidikan alternatif di luar kelas belajar formal dalam dunia kesenian sebelumnya sudah pernah dilakukan misal dalam nyantrik, yaitu praktik bagaimana seniman muda belajar dan dibimbing oleh seniman yang lebih senior melalui sanggar-sanggar. Pendidikan alternatif juga semakin naik daun belakangan ini melalui berbagai workshop artistik, kelas belajar pengembangan kapasitas, hingga kelas-kelas kajian seni yang dibuka oleh para pekerja seni dalam lingkup individu maupun kolektif di galeri-galeri. Ketika perkembangan metode eksperimen artistik dan wacana dalam seni berjalan begitu cepat, tidak mengherankan jika kebutuhan atas produksi hingga konsumsi pengetahuan juga turut bergerak cepat.

Sepanjang penyelenggaraan Asana Bina Seni, IVAA terlibat dalam penyediaan ruang belajar untuk beberapa materi Manajemen Seni dan Kuratorial. Dari total 17 materi dalam kelas tersebut, 5 diantaranya diadakan di IVAA. Kelas-kelas yang diberikan diampu oleh praktisi dan banyak membagikan pengalaman kerja harian mereka sekaligus siasat untuk mengatasi berbagai kendala dan kebutuhan. Dalam kelas Manajemen Seni pengampu yang dihadirkan adalah orang-orang yang bekerja langsung dalam pengorganisasian dan produksi seni. Untuk Materi Pengelolaan Keuangan Festival dan Lembaga Seni, Verry Handayani bercerita tentang pengalamannya sebagai pengelola keuangan berbagai festival yang diselenggarakan di beberapa daerah oleh Yayasan Umar Kayam serta pengalaman mengelola keuangan Forum Aktor Yogyakarta. Verry membagikan perihal dua pengalaman bersiasat yang jauh berbeda: soal bagaimana siasat keuangan tidak hanya tentang mengalokasikan dana dengan adil dan tepat, tapi juga memikirkan kebutuhan keberlangsungan hidup ruang maupun kegiatan yang berkelanjutan.

Dalam kelas Kuratorial, dihadirkan Mit Ja Inn, seniman Thailand yang bercerita tentang pengalamannya terlibat dan menginisiasi Chiang Mai Social Installation pada 1992. Dalam kelas yang dihadiri tidak hanya oleh peserta kelas yang terdaftar namun juga beberapa seniman dan pekerja seni undangan ini, muncul diskusi panjang tentang pembandingan peristiwa seni pada tahun yang sama di Yogyakarta. Chiang Mai Social Installation saat itu diinisiasi atas kebutuhan mendekatkan seni yang dinilai berjarak dengan publik. Pada tahun yang sama di Yogyakarta diselenggarakan pula Binal Eksperimental, sebuah pameran tandingan Biennale #3 Seni Lukis Yogyakarta yang digagas oleh seniman-seniman muda. Diskusi juga berlanjut dengan membandingkan peristiwa lain di kawasan Asia Tenggara dan bagaimana hal itu bisa seolah saling berkaitan: imajinasi macam apa yang sedang menggerakkan publik seni pada waktu itu. 

Serangkaian materi dalam kelas Asana Bina Seni seharusnya bisa lebih dari komplementari atas ilmu yang diberikan lembaga pendidikan formal. Sebagai ruang belajar alternatif  yang bertujuan untuk membagi pengetahuan seni secara lebih luas dan mendorong interaksi yang dinamis antar berbagai kelompok masyarakat, Asana Bina Seni barangkali mampu memantik diskusi yang lebih luas tentang peran-peran yang muncul dalam produksi seni. Dalam konteks produksi seni, kita kadang masih terjebak dalam pemisahan antara yang utama dan pendukung. Padahal jika ditilik lebih dalam, terutama terkait dengan perkembangan wacana seni yang semakin pesat serta bentuk kerja bersama yang semakin beragam, posisi peran satu dengan yang lain sangatlah cair dan tidak lagi tersekat oleh hirarki struktural secara kaku. 

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

SIKLUS 1.0 

Oleh Najia Nuriyana

Sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, pada Jumat, 3 Mei 2018 IVAA menggelar acara bertajuk “Siklus 1.0” di Rumah IVAA. Siklus 1.0 merupakan wujud kolaborasi untuk mendorong aktivasi ruang perpustakaan IVAA yang dikemas dengan cara berbeda. Terdapat beberapa rangkaian acara menarik, seperti Be Kind Rewind (pemutaran film), dongeng seniman, panggung musrary, garage sale dan lapak IVAA dengan diskonnya. 

Pukul 16.00 rangkaian acara dimulai dan diawali dengan Be Kind Rewind yang dikuratori langsung oleh Hardiwan Prayogo. Bertempat di ruang pameran IVAA lantai 2, empat film berbeda genre menjadi pilihan kali ini. Film-film yang ditawarkan merupakan koleksi arsip IVAA sekaligus menjadi salah satu contoh penggunaan arsip dalam berbagai format analog. Empat film tersebut adalah Kunjungan Spesial (2015)-sutradara: Zen Al-Ansory, Tuan Spies (2017)-sutradara: Putri Rae Harbie, Topo Pendem (2018)-sutradara: Imam Syafi’I, dan Artisan (2017)-sutradara: Ika Nur Cahyani.

Kunjungan Spesial (2015) menceritakan seorang wanita bernama Kelana yang sedang melawat binatang kesayangannya, seekor babi. Babi menjadi simbol manusia dalam cerita mitologi penunggu lilin di Indonesia. Film ini menceritakan bagaimana Kelana memperlakukan babi kesayangannya. Ia membawa makanan dengan rantang, sambil sesekali menari bebas. Film Tuan Spesies (2017) berlatar belakang Pulau Dewata Bali, menghadirkan analogi hubungan Ibu dan anak. Kehadiran Walter Spies ke Bali seperti dua sisi mata uang, saling bertentangan antara yang baik dan yang buruk. Di sini Spies berperan sebagai sosok yang akan menerima surat cinta dari Pulau Bali. Sedangkan film Topo Pendem (2018) bercerita  tentang bagaimana seorang bapak menyembuhkan anaknya dengan cara bertapa mengubur diri di dalam tanah. Yang terakhir, film Artisan (2017) bercerita tentang kehadiran artisan di balik sosok para seniman yang tersohor. 

Puncak acara dimulai pada pukul 19.30 dengan diawali beberapa guyonan dari pembawa acara, Dwi Rahmanto dan Najia, lalu dilanjutkan dengan obrolan singkat soal e-newsletter IVAA edisi Maret-April. Panggung musrary (music from library) dan dongeng seniman menjadi acara inti. Beberapa band lokal seperti Nada Bicara dan Half Eleven PM dengan lagu-lagu bertema isu-isu sosial memeriahkan musrary. Untuk dongeng seniman, IVAA mengundang Arsita Iswardhani, Umma Gumma, dan Gladhys Elliona Syahutari. Mereka menarasikan ulang transkrip rekaman radio Dialog Seni Kita (DSK) dalam bentuk dongeng. Transkrip yang dipilih adalah Wacana Seni dan Konsep karya Aminuddin Th. Siregar dan Sunardian Wirodono, serta dialog bersama Dr. Mudji Sutrisno SJ berjudul Reposisi Peran Kesenian dalam Gerakan Kebudayaan Kini. 

Tak lupa Lapak IVAA hadir melengkapi keseluruhan acara dengan berbagai koleksi buku dan merchandise yang ditawarkan dengan diskon 20%. Selain itu di sela-sela acara juga diumumkan pemenang giveaway dari IVAA Shop, dengan hadiah buku bagi empat pemenang.

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Safari JAP (Jadikan Aku Pustakawan)

Oleh Santosa Werdoyo

Safari JAP adalah program perpustakaan IVAA untuk mengunjungi beberapa institusi perpustakaan di Yogyakarta guna belajar mekanisme pengelolaan mereka. Kali ini kami bersafari di Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dan Perpustakaan Open Page. Safari ini diposisikan sebagai titik awal menggali informasi aktivasi perpustakaan sembari membangun jaringan sosial. Selain membagikan pengalaman safari, tulisan ini juga berisi kilas balik IVAA seputar program Library Project dan Jogjalib.net. 

Library Project merupakan sebuah jejaring perpustakaan alternatif yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Cemeti (YSC). Salah satu outputnya adalah penerbitan direktori perpustakaan alternatif tahun 2005 dengan jumlah 36 perpustakaan alternatif yang berada di Yogyakarta. Perpustakaan alternatif tersebut  dibagi menjadi empat bagian berdasarkan bidang yang dipilih dengan spesifikasinya. Empat bagian itu adalah Seni Kebudayaan dan Tradisi, Perpustakaan Komunitas dan Anak – anak, Studi dan Kajian, serta Perpustakaan Plus. Fungsi Library Project adalah sebagai awal untuk terciptanya iklim saling mendukung dan bekerja sama, sehingga akan terbangun perluasan akses jaringan dan kebutuhan informasi yang aktual serta kemudahan akses bagi pengguna perpustakaan alternatif. Setelah Library Project ada forum lanjutan bernama Biblio yang memiliki program khusus meningkatkan kapasitas pengelolaan perpustakaan alternatif.

Setelah Library Project dan Biblio, IVAA juga menjadi anggota dari forum Jogjalib.net, sebuah jaringan yang lebih luas cakupan anggotanya dengan basis pengelolaan SLiMS (Senayan Library Management System). Jaringan yang berbasis SLiMS ini menggabungkan katalog bersama anggota-anggotanya dengan tujuan memudahkan pencarian koleksi dalam satu penelusuran di dalam satu jaringan.

Sayangnya program serta jaringan di atas sudah vakum. Oleh karena itu, IVAA mencoba menggali kembali potensi jaringan yang mungkin lebih kontekstual dengan cara bersafari menjalin kembali jaringan-jaringan tersebut, dengan tambahan perpustakaan baru yang tidak termasuk dalam jaringan keduanya. Awal kegiatan safari adalah anjang sana,  berbagi pengalaman, dengan mengantongi beberapa pertanyaan seperti bagaimana mereka mengelolanya, siapa yang mengakses koleksi, fasilitas apa saja yang ada, serta sebaran koleksinya.

Safari ini kami siapkan dengan bekal sebuah FGD yang dihadiri oleh Yayasan Umar Kayam, Gerak Budaya, Perpustakaan Gunung Kidul dan WALHI Yogyakarta. Di dalam pertemuan tersebut muncul kegelisahan yang sama terhadap pengelolaan perpustakaan, sistem, katalogisasi, pengunjung yang sepi, hingga sumber pendanaan yang minim. Kegelisahan IVAA sendiri dalam aktivasi perpustakaan adalah informasi yang kurang aktual terkait perkembangan dunia perpustakaan dan persoalan mitra berjejaring. Dari obrolan itulah ide Safari JAP muncul. Sejauh ini Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman serta Library Open Page menjadi rujukan awal. 

Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dibuka untuk umum pada hari Senin-Jumat pada jam 09.00-14.00, kecuali hari Jumat pada jam 09.00-11.00. Di perpustakaan itu terdapat arsip-arsip jaman pemerintahan Pakualam I hingga IX. Kebanyakan adalah arsip administrasi kerajaan. Arsip-arsip tersebut disusun berdasarkan kronologi waktu raja bertahta, baru setelahnya berdasarkan tema-tema spesifik. Ada 251 koleksi manuskrip dan 500 buku yang disimpan dengan sistem Dewey Decimal Classification (DDC), sistem kategorisasi standar perpustakaan internasional. Manuskrip tertua adalah tahun 1812 yang menceritakan perjalanan Paku Alam I ketika dibuang dari kerajaan. Meski milik Pakualaman, pengelolaannya bekerja sama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (BPAD) Provinsi DIY.

Setiap lembar arsip dibungkus kertas dan diberi kode penyimpanan. Semua dimasukkan ke dalam kotak kardus dan disimpan di rak almari besi yang tertutup rapi. Perawatan arsip adalah dengan fumigasi dan restorasi. Fumigasi untuk mencegah serangan serangga pemakan kertas dan restorasi untuk arsip yang sudah sangat rapuh karena usia. Selain itu juga dilakukan digitalisasi terhadap semua arsipnya. Data-data digital tersebut disimpan di BPAD. 

Selanjutnya, perpustakaan Open Page menjadi tempat kunjungan kedua. Perpustakaan ini terletak kurang lebih 15 km ke arah utara kota Yogyakarta. Udara yang masih sejuk, buku koleksi yang tertata rapi, dan ruangan yang cukup lebar menjadikan perpustakaan ini sangat nyaman untuk dikunjungi. 

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku sebanyak 5000-an buah dengan tema sosial-politik yang dominan serta berbahasa Inggris. Semuanya milik Max Lane dan Faiza Mardzoeki. Artinya, perpustakaan ini adalah perpustakaan pribadi. Meski demikian, ia dibuka untuk umum pada Sabtu, Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 11.00. 

Sejauh ini kami belum bisa menentukan bentuk kelanjutan dari program Safari JAP. Kami masih terus meraba segala kemungkinan dengan modal jaringan serta informasi terkait perpustakaan yang sudah kami peroleh.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Pengarsipan untuk Institusi, Pengarsipan untuk Pengetahuan

Oleh Lisistrata Lusandiana

Pada tanggal 23 hingga 25 Mei 2019, IVAA diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam simposium dan workshop bertajuk Creating Institutional Memory, yang diselenggarakan oleh Asia Art Archive (AAA) bekerja sama dengan M+. Dilaksanakan di AAA Hong Kong, simposium dan workshop ini dihadiri oleh undangan dan partisipan yang telah mendaftar. Sebagian besar partisipan merupakan bagian dari jaringan kerja AAA dan M+, seperti AAA India, Singapore Art Museum, Bamboo Curtain Studio Taiwan, dan beberapa lembaga seni kontemporer lainnya, yang juga melakukan kerja dokumentasi serta penyimpanan dan kelola aksesnya.

Tiga hari acara ini diisi dengan berbagai acara, mulai dari presentasi narasumber, diikuti dengan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan workshop dan kerja kelompok. Dibuka dengan presentasi yang dilakukan oleh Nancy Enneking dari The Getty, disambung dengan beberapa agenda acara yang pada dasarnya ditujukan bagi para arsiparis untuk membagi landasan metode dan metodologi pengelolaan penyimpanan serta pengelolaan akses dari koleksi yang dimiliki oleh tiap lembaga yang hadir pada saat itu.

Acara ini juga diinisiasi atas dasar kebutuhan lembaga penyelenggara untuk melakukan refleksi atas penyelenggaraan program Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA, serta kebutuhan M+ untuk membangun model pengarsipan institutional yang sedang mereka kerjakan. Di sela-sela itu terdapat berbagai lembaga dokumentasi, pengarsipan serta museum, baik yang dikelola oleh swasta, pemerintah, dengan berbagai skala. Ada yang menempatkan kerja pengarsipan sebagai program utamanya, ada juga beberapa lembaga dan komunitas yang menempatkan kerja pengarsipannya sebagai kerja pendukung, baik mendukung komunitas secara administratif, ataupun secara intelektual dengan menjadi penyedia data dan informasi yang bisa diolah kapan saja untuk kepentingan penelitian.

Meski berangkat dari tema yang cukup spesifik, yakni seputar memori institusional, diskusi dan pembicaraan yang muncul dari forum ini menjadi sangat general dan luas, mengingat beragamnya lembaga dengan tantangan serta persoalannya sendiri, serta memiliki beragam cara dalam mengelola memori institusi. Salah satu hal yang juga tidak bisa ditinggalkan dalam pembicaraan seputar memori institusional ialah soal kondisi ekonomi politik dari tiap lembaga yang ada. Bahwa tidak semua lembaga memiliki sumber dana yang selalu aman dan bisa diandalkan. Tidak semua lembaga memiliki perangkat dan daya dukung yang lengkap dalam menjalankan sistem pengarsipan seperti yang sudah dilakukan oleh lembaga yang lebih lama hadir dengan sistem yang konsisten serta sumber dana yang kuat. Selain itu juga terdapat berbagai konteks sosial politik yang juga tidak bisa diabaikan. Bahwa model pengarsipan yang dikelola hari ini sudahkah berdasar pada logika akses yang selama ini dibutuhkan oleh publik dalam memproduksi pengetahuannya sehari-hari? Apakah praktik ini juga bisa mengakomodasi beragamnya model pengarsipan seni budaya yang hidup di masyarakat kita? Berbagai pertanyaan itulah yang menjadi pijakan awal dari paparan yang saya bagikan di forum tersebut.

Selain itu, berbagai narasumber juga membagikan dinamika kerja pengarsipan serta tantangan hingga kemajuannya. Alan Chan, dari AAA, membagikan pengalamannya selama terlibat dalam Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA. Angharad McCarrick dari M+ juga memaparkan landasan filosofis dari pekerjaannya sebagai arsiparis institusional. Sementara, Michelle Harvey menuturkan sejarah MoMa dari awal mulanya yang masih sangat kecil dan sederhana hingga saat ini. Selain itu juga ada Sezin Romi dari SALT yang membagikan model pengarsipannya yang dibangun dari nol dan berbasis eksperimen.

Bagi lembaga pengarsipan seperti IVAA yang memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang berserak, dengan sistem penyimpanan yang dibangun sambil jalan, sambil dikembangkan dan diperbaiki, di saat yang bersamaan juga memikirkan cara terbaik untuk tetap bertahan dan hadir untuk publik. Forum berbagi ini akan lebih produktif jika tidak meninggalkan pembicaraan seputar konteks. Di atas konteks apa kerja pengarsipan hadir, bagaimana kondisi sosial ekonomi hadir sebagai pendukung sekaligus tantangan dari kerja pengarsipan. Dan yang tak kalah penting dari semua pembicaraan itu ialah bahwa kerja pengarsipan, penyediaan data informasi dan mendukung penelitian tidak bisa dipisahkan dari spirit dasarnya, yakni kerja produksi pengetahuan, yang juga tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang beroperasi. 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Kunjungan dari Partisipan Traveller, Guangzhou

Oleh Ahmad Muzakki (Kawan Magang IVAA)

Bertukar informasi dalam dunia seni sangat dibutuhkan. Tidak hanya antar seniman, pertukaran informasi juga penting dilakukan dengan aktor-aktor dari bidang yang lain. Praktik semacam ini akan mendorong perkembangan kesenian dan bidang lain yang bersentuhan dengannya.

Pada Rabu, 24 April 2019 lalu IVAA mendapat kesempatan untuk berdialog bersama para pegiat seni dari Guangzhou. Rumah IVAA menjadi salah satu tujuan tour mereka di Yogyakarta dalam program Traveller. Traveller merupakan sebuah program yang diprakarsai oleh seniman Li Zhiyong, Ce Zhenhao dan Zhu Jianlin pada 2016. Program ini dimaksudkan untuk membangun atau mentransfer hubungan sementara antara ruang dan waktu, hanya dengan berkeliaran di kota-kota. Dengan menyelidiki apa arti kota hari ini, dan lebih jauh lagi, dengan membedakan pemahaman soal “place”, “on-site”, “native” dan “local”, program ini berusaha mengurai hubungan antara kota dengan praktik/ penciptaan, serta mendorong kemungkinan kolaborasi.

Pada 2016, didukung oleh “Banyan Commune” dari Times Museum dan HB Station, “Banyan Travel Agency” pertama diluncurkan oleh Traveller. Proyek pertama Traveler ini berhasil diselenggarakan dengan tujuan ke Shunde, Tokyo, Shanghai, Shenyang, Wuhan, Hong Kong, Guangzhou, dll. Melalui “Banyan Travel Agency”, para inisiator mengundang seniman, kurator, dan peneliti yang berminat untuk mengulik isu seputar kota.

Mereka terhubung dengan para pegiat seni dan institusi setempat untuk berkolaborasi dalam suatu bentuk kerja. Harapan yang diusung melalui program ini adalah adanya situasi menembus batasan geografis dan stereotip, melepaskan diri dari inersia ruang/ praktik, untuk meningkatkan koneksi, pengembangan, dan wawasan tentang pengalaman praktis.

Dari Maret hingga Juli 2019, dengan dukungan dari HAF, Traveller meluncurkan perjalanan di kawasan Asia Tenggara. Asia Tenggara lebih mereka maknai sebagai konsep kultural dari pada sebentuk wilayah geografis saja, yang memiliki kesamaan dengan Guangzhou. Beberapa wilayah yang dikunjungi adalah Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), Jakarta dan Yogyakarta (Indonesia). IVAA menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi untuk wilayah Yogyakarta.

Saat singgah di Rumah IVAA para pegiat seni dari Guangzhou ini dikenalkan dengan banyak hal mengenai IVAA. Lisistrata Lusandiana, selaku direktur IVAA, memulainya dengan mengajak mereka berkeliling di setiap sudut ruang IVAA. Banyak dari mereka yang mengamati detil ruangan beserta barang-barang yang ada, seperti buku, bentuk arsitektur, hingga papan time table. Setelah berkeliling, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama di amphitheater, mendiskusikan isu kota dan kaitannya dengan arsip serta praktik-praktik kesenian di sekitarnya.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Seni Jalanan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit

Oleh Rully Adi Perdana (Kawan Magang IVAA)

Pada Rabu, 10 April 2019, IVAA menggelar sesi diskusi bertajuk “Seni Jalan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit”. Esha Jain, salah satu peserta magang di IVAA membagi pengalamannya ketika menyusuri jalanan Yogyakarta. Kesempatan diskusi tersebut diikuti oleh seluruh staff IVAA bersama lima orang peserta magang di IVAA. Esha, dengan perhatian lebih pada seni jalanan (street art), menampilkan ragam visual yang ia temui, baik berupa mural, graffiti, maupun bentuk seni jalanan lainnya.

Mural di kantor PKBI Yogyakarta

Sesi yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 10.00 tersebut mengundang percakapan yang hangat di antara seluruh peserta diskusi. Masing-masing staff dan peserta magang membagikan cerita dan pengalamannya mengenal dunia street art. Berbagai nama seniman jalanan yang karyanya berhasil direkam oleh Esha menjadi bahan perbincangan, berikut karya-karya yang pernah mereka buat di waktu dan tempat yang berbeda serta cerita-cerita di balik karya-karya tersebut.

Mural oleh Ketjil Bergerak Jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta

Malioboro, Kotagede, Mantrijeron, dan titik lain yang ditelusuri Esha menghadirkan berbagai macam seni jalanan dengan bentuk dan tafsiran cerita yang berbeda-beda. Sebagian bercerita tentang toleransi, beberapa tentang politik, sementara sebagian lainnya sekadar menjadi penanda area dengan membuat tag. Selain memaparkan tentang seni jalanan di daerah Yogyakarta, Esha juga mengenalkan The High Line yang berada di tepi barat Manhattan di New York City. The High Line dibangun di atas area bekas New York Central Railroad dan desainnya merupakan hasil kolaborasi James Corner Field Operations, Diller Scofidio + Renfro, serta Piet Oudolf. Jalur sepanjang 2.33 kilometer yang dibuka sejak tahun 2009 itu telah menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies tanaman dan karya seni yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung secara gratis.

Sumber tambahan:

https://www.thehighline.org/#

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Pra Kongres Kebudayaan 2018, Ragam Masalah dan Rekomendasi Menuju Strategi Kebudayaan

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai lembaga yang dekat dengan kerja kebudayaan, IVAA mendapat undangan untuk mengikuti Pra Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) pada 4-6 November 2018. Acara yang bertempat di The Sultan Hotel & Residence Jakarta ini digelar oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pra KKI merupakan forum diskusi yang melibatkan para ahli dan pekerja kebudayaan, yang terbagi ke dalam 11 forum dari total 24 forum, yang mendiskusikan serangkaian aspirasi ruang sektoral terkait ekosistem kebudayaan, untuk menyusun rekomendasi dalam kepentingan perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan.

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi titik tolak diselenggarakannya Pra KKI. Sebagai langkah pemerintah yang berbeda dari seluruh KKI sebelumnya, Pra KKI dimaksudkan untuk mengawali KKI 2018 dengan rekomendasi berbasis forum diskusi. Pra KKI menjadi bagian besar dari proses perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan yang telah didasarkan atas penyusunan PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) dari kabupaten sejak Maret 2018.

Dari 11 forum, IVAA berpartisipasi ke dalam forum Kajian dan Pendidikan Tinggi Kebudayaan. Forum ini diikuti oleh mereka yang dianggap sebagai representasi pendidikan tinggi (seni), institusi riset, asosiasi keilmuan, pusat studi, dan eksekutif birokrasi. Oleh karena itu, forum ini dipecah kembali ke dalam dua kelompok, yakni Kelompok Gabungan 1 (institusi riset, pusat studi, eksekutif birokrasi) dan Kelompok Gabungan 2 (asosiasi keilmuan dan perguruan tinggi). Secara ringkas, tujuan dari forum ini adalah untuk mengidentifikasi masalah kebudayaan apa yang muncul, inisiatif apa yang sudah dilakukan, dan merumuskan rekomendasi yang layak ditempuh.

Dalam Kelompok Gabungan 1 ada empat isu yang dibicarakan selama proses diskusi. Pertama, soal diskonektivitas antar stakeholder dan antar bagian dalam institusi. Bahwa masih ada jarak yang lebar antara proses dan hasil penelitian kebudayaan dengan dinamika masyarakat. Selain itu diskonektivitas juga terjadi antar institusi pendidikan dengan pemangku kebijakan. Pemerintah di level daerah tidak menjalankan fungsinya sebagai badan penyalur hasil penelitian kepada masyarakat. Persoalan diskonektivitas ini membuat pemanfaatan hasil penelitian atau kajian untuk perumusan kebijakan dan ranah pendidikan tidak terjadi.

Isu kedua adalah bahwa stakeholder masih memiliki visi dan misi yang terbatas tentang pentingnya kebudayaan dalam pembangunan. Kebudayaan beserta ilmu mengenainya masih didudukkan lebih rendah dari kepentingan industri dan ilmu eksak. Oleh sebab itu, perhatian terhadap kajian kebudayaan bersifat terbatas sehingga informasi tentang kebudayaan pun sangat minim. Namun, inventarisasi data kebudayaan melalui PPKD dapat menjadi pintu masuk yang cukup potensial.

Isu ketiga masih berkaitan dengan perihal visi dan misi, bahwa stakeholder memiliki visi dan misi yang parsial. Tidak ada visi dan misi yang solid dari seluruh daerah terkait pemajuan kebudayaan. Kompleksitas isu kebudayaan di daerah tidak terpetakan dan terpotret dengan baik oleh ilmuwan. Tulung Agung menjadi contoh kasus yang diangkat. Dulu ada ratusan kelompok ketoprak, tapi sekarang tidak ada lembaga yang mampu memberi data tentang itu. Jadi ketika kita bicara soal ketoprak, kita hanya bicara soal imajinasi.

Persoalan diseminasi menjadi isu yang terakhir dibicarakan dalam kelompok ini. Para peserta melihat bahwa hasil riset atau kajian kebudayaan tidak didiseminasikan dengan tepat. Tidak ada proses translasi dari bahasa riset ke bahasa masyarakat dan bahasa kebijakan untuk sistem pendidikan. Pengelolaan informasi yang buruk (lack of information management) juga muncul, terutama di level daerah.

Dari keempat isu itu, kelompok ini menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Penciptaan ruang-ruang kolaboratif di berbagai tingkat dengan cara membentuk MoU, pokja (kelompok kerja), dan perjanjian kerja sama.
  2. Membuka akses perguruan tinggi kepada sumber data (dokumen PPKD) yang dimiliki.
  3. Harus ada executive review PPKD di level nasional dan tingkat kabupaten/ kota yang menjadi acuan.
  4. Pembentukan pokja untuk menindaklanjuti dan me-review dokumen PPKD untuk dituangkan sebagai renstra (rencana strategis) pemerintah kabupaten/ kota.
  5. Optimalisasi fungsi litbang baik di tingkat nasional/ kabupaten/ kota untuk menstimulasi koordinasi lintas pihak intra dan ekstra instansi.
  6. Mengintegrasikan fungsi litbang dan humas untuk mengolah hasil penelitian agar bisa dikelola dan didiseminasikan.

Kelompok Gabungan 2 juga memiliki poin-poin masalah yang telah diidentifikasi. Pertama, berhubungan dengan poin masalah dari Kelompok Gabungan 1, adalah soal sinergitas. Bahwa konektivitas antar asosiasi keilmuan atau lintas lembaga dengan masyarakat belum maksimal. Dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah serta lembaga negara yang lain pun, sinergitasnya belum terwujud dengan baik. Bagi kelompok ini, masalah konektivitas juga terkait dengan beberapa masalah lain, seperti belum seluruh disiplin ilmu bidang kebudayaan memiliki asosiasi lembaga keilmuan murni dan terapan, asosiasi keilmuan belum berdaya dalam penguatan SDM dan infrastrukturnya, belum seluruh asosiasi keilmuan memiliki dewan etik dan kode etik, dan belum adanya rekomendasi secara berkala dan kontekstual dari asosiasi keilmuan mengenai pemajuan kebudayaan.

Isu yang kedua adalah soal regulasi. Ada beberapa poin masalah seperti belum terbitnya PP pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan dan regulasi turunannya untuk mengatur peran lembaga perguruan tinggi, belum ada perlindungan keamanan yang maksimal dari negara terhadap kegiatan berkebudayaan baik kepada perguruan tinggi maupun masyarakat, dan ada kecenderungan keterbatasan perspektif dalam studi seni (skripsi, tesis, dan disertasi).

Isu program juga menjadi sorotan dalam perbincangan, bahwa program pendampingan, event-event kebudayaan, riset, kekaryaan oleh perguruan tinggi bidang kebudayaan belum maksimal. Mungkin masalah itu berhubungan dengan persoalan anggaran atau pendanaan. Kelompok menilai bahwa belum ada anggaran pemajuan kebudayaan yang tersalurkan kepada perguruan tinggi terkait riset bidang kebudayaan.

Dari beberapa masalah tersebut kelompok ini memberikan beberapa poin rekomendasi:

  1. Pengelola kebudayaan harus mengarusutamakan pemahaman dari perspektif pemilik kebudayaan terkait dengan upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara berkelanjutan.
  2. Inventarisasi dan identifikasi kajian-kajian kebudayaan secara berkesinambungan yang berorientasi pada pengembangan keberagaman, pemberdayaan sumber daya, penguatan jati diri melalui Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu yang dipublikasikan melalui portal pemajuan kebudayaan yang dapat diakses publik.
  3. Debirokratisasi sistem pelaksanaan riset kebudayaan dalam rangka optimalisasi pengembangan ilmu-ilmu kebudayaan.
  4. Sinergitas peran pemerintah pusat dan daerah, lembaga negara yang lain, swasta, dan masyarakat penyangga dalam mewujudkan gerakan nasional penguatan ekosistem pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan.
  5. Mendesak penerbitan regulasi dalam semua tingkatan hirarki perundang-undangan dalam hal penguatan pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan dalam rangka pemajuan kebudayaan.
  6. Meningkatkan peran dan posisi pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam pembangunan yang berkelanjutan berbasis kebudayaan melalui forum tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional (dunia).
  7. Optimalisasi peran pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam program diplomasi kebudayaan sebagai upaya peran aktif negara dalam mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.

Ada satu lagi poin yang didiskusikan, yakni soal kebudayaan maritim. Forum menilai bahwa kebudayaan maritim belum tersentuh sebagai objek penelitian keilmuan budaya maupun pemanfaatannya sebagai sumber daya kebudayaan. Oleh karena itu, rekomendasi yang diajukan adalah pengembangan peran PELNI sebagai Universitas Kebudayaan Maritim dan pengembangan program pembelajaran yang terintegrasi di bidang penyelenggaraan festival, pameran, pertunjukkan di atas kapal PELNI, sekaligus perjalanan budaya yang memfasilitasi dosen dan mahasiswa dalam rangka pengembangan literasi kebudayaan.

Poin-poin masalah dan rekomendasi di atas hanyalah satu dari sebelas forum lainnya. Belum lagi tiga belas forum di luar acara Pra KKI. Bisa dibayangkan betapa banyak masalah dan rekomendasi perihal kebudayaan yang nanti akan dirumuskan ke dalam satu komando Strategi Kebudayaan. Rasa kepemilikan yang tinggi menjadi harapan dari ambisi pemerintah untuk mencoba merumuskan Strategi Kebudayaan yang berangkat dari konteks daerah, seperti penggalan sambutan Hilmar Farid demikian,

“Yang penting dari penyelenggaraan KKI 2018 ini adalah rasa kepemilikan yang tinggi. Ini karena basis data-data yang dihimpun adalah dari seluruh provinsi/ kabupaten/ kota di Indonesia. Aspirasi dari daerah-daerah, diberikan ruang untuk menjadi penyusun strategi kebudayaan. Ini yang membedakan penyelenggaraan KKI 2018 dari yang sebelum-belumnya.”

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Indonesia Philanthropy Festival

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari 15 hingga 17 November 2018 di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, tim IVAA mengunjungi Indonesia Philanthropy Festival. Acara ini adalah semacam pameran produk CSR dari lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Selain itu juga terdapat lembaga-lembaga independen (non pemerintah) yang berpotensi mendapat bantuan philanthropy. Lembaga ini beragam, mulai dari yang bergerak di ranah lingkungan, pengelolaan sampah plastik, peternakan, perjuangan hak disabilitas hingga seni-budaya. Acara berlangsung selama 3 hari dengan rangkaian acara mulai dari pameran, talkshow, hingga diskusi kelompok terarah.

IVAA bergabung dalam booth milik Koalisi Seni Indonesia (KSI), lembaga yang menaungi pelaku seni baik kelompok maupun individu. Booth ini menampilkan video profil dari para pelaku seni, hingga rilisan dan buku terbitannya. Melalui booth tersebut KSI berharap atensi dari lembaga-lembaga philanthropy dalam mendukung kegiatan seni-budaya yang selama ini masih minim dapat meningkat.

KSI mendapat satu slot di panggung utama untuk menggelar talkshow sekaligus peluncuran buku pada hari ketiga. Buku yang diluncurkan berjudul Dampak Seni di Masyarakat, menampilkan 12 Gerakan dan Komunitas Seni, sekaligus ingin menunjukkan sedikit dari banyak komunitas seni budaya yang tersebar di Indonesia dan melahirkan inisiatif-inisiatif lokal. Bersama dengan peluncuran buku, talkshow diisi oleh perwakilan dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan Pasa Harau.

Sebagai bagian dari upaya menyambut Kongres Kebudayaan Indonesia yang akan digelar pada 5-9 Desember 2018, KSI juga mendapat slot untuk menggelar FGD. Diskusi intensif ini mempertemukan antara perwakilan lembaga seni-budaya dengan lembaga philanthropy. Masing-masing berdiskusi untuk saling mempertemukan persoalan. Inti persoalan dari kedua pihak itu adalah masih sulitnya mengakses informasi tentang philanthropy dalam negeri, perlunya basis data terpadu soal potensi seni-budaya yang mendesak dan perlu dukungan, dan cara menakar tingkat efektivitas dan kesuksesan seni-budaya yang tentu tidak bisa semata menggunakan kuantifikasi ekonomi. Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, menyampaikan sebuah pidato sebagai penutup FGD dan menyatakan bahwa poin-poin dalam acara ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia.

Rangkaian Indonesia Philanthropy Festival akhirnya ditutup di malam hari pada 17 November 2018. Acara ini memiliki tagline “From Innovation To Impact”. Titik temu agar benar-benar memiliki “impact” antara lembaga seni-budaya dan lembaga philanthropy tentu akan sulit terealisasi dalam satu kali perhelatan. Perjalanannya bisa panjang dan berliku, atau bahkan jika ukuran yang digunakan hanya soal komoditas ekonomi, pertemuan itu bisa menjadi semakin utopis, atau hanya beredar dalam lingkaran yang kecil.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Selamatan Rumah IVAA

Oleh Sukma Smita

Tumpeng nasi kuning komplit dengan lauk-pauk yang diletakkan di tengah amphiteater mengiringi rangkaian acara pembukaan Selamatan Rumah IVAA, pada petang 21 Desember 2018. Dalam bahasa Jawa, tumpeng merupakan akronim dari yen metu kudu mempeng, atau secara bebas dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan ‘harus penuh kesungguhan jika muncul’. Nasi kuning kerap menjadi menu hidangan utama dalam suatu kegiatan perayaan. Juga tumpeng nasi kuning merupakan simbol rasa syukur, doa untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan. Acara selamatan yang diselenggarakan selama 2 hari, yaitu 21-22 Desember 2018 dengan mengundang publik seni dan warga sekitar untuk turut merayakan dan mendoakan, adalah wujud rasa syukur IVAA atas selesai dan dibukanya ruang baru serta doa keselamatan untuk beberapa rencana program mendatang IVAA.

Pada pembukaannya, acara selamatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Rini Widarti selaku Lurah Keparakan dan Yoshi Fajar selaku Ketua Yayasan IVAA. Dalam sambutannya Yoshi menyampaikan bahwa IVAA perlu melakukan refleksi dan penguatan posisi terutama dalam kerja-kerja pengarsipan seni budaya yang sudah dilakukan lebih dari 23 tahun. Penguatan posisi perlu diambil selain karena melihat situasi politik dan kaitannya dengan seni budaya hari ini, juga karena kerja pengarsipan IVAA memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi yang lain, terutama di tengah 3 rezim yang tengah berlangsung yaitu Wisata, Percepatan Pembangunan dan Industri Kreatif. Selepas beberapa sambutan yang diutarakan, Gunawan Maryanto diundang untuk memimpin refleksi sederhana serta doa keselamatan yang kemudian disambung oleh pertunjukan Sahita, kelompok teater ibu-ibu dari Surakarta yang diundang secara khusus untuk melakukan pementasan. Pembukaan selamatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Lisistrata yang kemudian diserahkan kepada perwakilan warga Dipowinatan, dilanjutkan dengan dhahar kembul atau memakan nasi kuning bersama-sama.

Sebagai penanda dibukanya ruang baru, yaitu ruang pamer, IVAA mengadakan pameran arsip dan tafsirnya. Dalam pameran yang bertajuk Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA mengajak Ipeh Nur -seniman muda perempuan yang tertarik merespon situasi di sekitarnya melalui karya-karya yang interaktif-, Piring Tirbing -kelompok seniman yang fokus bekerja dengan medium audio-visual-, serta Arga Aditya –kurator muda yang pernah terlibat dalam Festival Arsip IVAA 2017 sebagai asisten direktur artistik-. Melalui pameran tersebut, Ipeh Nur dan Piring Tirbing ditantang untuk merespon arsip menjadi karya artistik dan melakukan eksplorasi atas tema Tradisi dan Identitas, yaitu eksplorasi berjalan tim Newsletter IVAA yang tertuang dalam 3 edisi terakhir selama Mei hingga Oktober 2018. Reading Identity menjadi judul karya Ipeh Nur, dan Out of the Circle menjadi judul karya Piring Tirbing.

Selain pameran, juga diadakan peluncuran kembali IVAA Shop, yaitu salah satu bidang usaha IVAA yang muncul atas semangat kemandirian pada segi pendanaan. Kali ini IVAA Shop mengajak 3 orang seniman untuk berkerja bersama dalam merancang, memproduksi dan menjual produk merchandise melalui tema Fashion as Statement. Tiga seniman yang diajak yaitu Agan Harahap, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani dan Vendy Methodos. Selama dua hari acara, diajak pula beberapa komunitas untuk terlibat yaitu teman-teman pegiat zine, antara lain Asal kelihatan Boleh Dibicarakan, Indischzine Partij, Kios 5A, Demi Sesuap Nasi, dan pameran buku oleh Pojok Cerpen serta lapak musik oleh Jogja Record Store Day.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua diawali dengan pemutaran 2 film pendek untuk anak-anak oleh Bioscil. Ini merupakan kali kedua IVAA sengaja mengundang Biocil untuk memutarkan film pilihannya. IVAA mengajak anak-anak sekitar untuk terlibat. Mereka adalah anak-anak sekitar yang selama liburan sekolah biasa menghabiskan waktu untuk bermain game online menggunakan wifi Rumah IVAA. Aktifitas lain di hari kedua yaitu workshop merawat kaset oleh Jogja Record Store Day, tur pameran, serta diskusi dan peluncuran buku berjudul Nu’u. Buku ini berisi tulisan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di Nusa Tenggara Timur. Acara Selamatan Rumah IVAA ditutup dengan semarak dalam Musrary yang menampilkan 3 kelompok music, yaitu Doa Ibu, Help Me Touch Me dan Didi Kempits Hits Collection.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.