Tag Archives: agendarumahIVAA

MUSRARY #12 : NINA ALEXIA BRAZZO

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Jumat, 6 Juli 2018, penerangan perpustakaan IVAA bersumber pada lilin dan di balut dengan lampu berwarna kuning. Suasana remang-remang pun tercipta. Di mini amphitheater IVAA, Nina Alexia Brazzo menyihir para penonton dengan musikalisasi puisinya yang memiliki diksi religius, diiringi musik folk dengan perkusi yang terdengar khidmat. Suasana pun seolah  kembali di bulan suci Ramadhan.

Pada hari itu Musrary genap memasuki edisi ke 12, artinya program ini telah berlangsung selama satu tahun. Musrary #12 ini juga merupakan rangkaian Nina ke enam dalam project Pelangi Tour Indonesia di delapan kota. Acara ini berlangsung pukul 20.00, dibuka dengan pertunjukan musik dari grup indie asal Yogyakarta Swara-Swara. Dengan alunan musik bergenre akustik, dikolaborasikan dengan beberapa alat musik klasik dan tradisional, Swara-Swara berhasil menciptakan nada yang terkesan syahdu dan menyihir  penonton untuk terpaku dalam menikmati alunan musiknya instrumentalnya.

Waktupun berlanjut, Nina Alexia Brazzo memulai penampilannya dengan menggelar sajadah yang dihiasi 5 lilin menyala di hadapannya. Nina tampak sedang berdzikir dengan membawa tasbih di tangan kanannya. Diiringi backsound ‘Ya Hakimhu, Ya Qadrhu, Ya Rahman, Ya Raheem diputar berulang-ulang, bunyi ini seolah menjadi ritme atau alunan musik yang mengiringinya dalam membacakan puisi berjudul ‘One and Only (True Love)’ dan ‘The tree of Good Nature’.

Nina seperti sedang ingin berinteraksi dengan Tuhan melalui dzikir dan puisi. Nina membawakannya dengan puitis sehingga penonton terpaku dan hanyut dalam suasana yang hening. Adapun beberapa judul puisi yang dibawakan Nina saat itu adalah, ‘One and Only (True Love)’, ‘The Tree Of Good Nature’, ‘Kunci Hatiku’, ‘Own Love (Allah)’, ‘Another Workin’day’, ‘Surat untuk Shayk saya’, ‘Her Tears’, ‘Didn’t know I could love again’, ‘To My Mother Nusaybah’, dan yang terakhir ‘The Kiss’.

Acara yang berlangsung selama satu jam itu ditutup dengan tarian lilin Nina yang diiringi puisi ‘The Kiss’. Suasana saat itu tiba-tiba menjadi tegang ketika Anissa Razali memasuki amphitheater IVAA dengan tarian tongkat apinya. Terjadilah sebuah kolaborasi yang begitu elok di mata penonton. Ruangan gelap yang dikombinasikan dengan tarian api tersebut memecahkan tepuk tangan penonton.

Selepas pertunjukan itu, Dwi Rahmanto membuka sesi Tanya jawab dengan penonton. Nina menjelaskan bahwa pertunjukannya ini adalah tentang penyerahan diri dan mengingat Allah. Sebagian puisinya dedikasikan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa dan seorang lelaki yang mengubah cara pandangnya dalam hidup dan membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya Nina menjadi mualaf.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Subandi Giyanto; Seniman Pengrajin Wayang dan Eksplorasi Mediumnya

Oleh: Silvy Wahyuni (Kawan Magang IVAA)

Subandi Giyanto adalah seniman yang dominan memakai corak tradisional pada karyanya. Fenomena baru yang diangkat pada karya beliau yang berbentuk mobil, berawal dari perjalanan panjang pencarian identitasnya. Terhitung sejak 2009, karya Subandi berkembang cukup pesat berkat saran-saran dari Samuel Indratma. Samuel selalu mendorongnya untuk melahirkan berbagai inovasi. Seperti membuat sebuah mural di jembatan layang Lempuyangan. Dari seringnya diskusi dengan Samuel, seniman senior, juga kolega-kolega lama, akhirnya jadilah karya-karya yang mulai memasukkan ciri khasnya. Seperti gambaran tubuh-tubuh wayang kulit yang direkonstruksi seperti tubuh manusia, dan gambaran seperti mobil sport dan tubuh kuda berlari.

Subandi setelah lulus dari Sekolah Seni Rupa di Yogyakarta tahun 1979, diminta untuk mengajar kursus melukis kaca di sanggar Bambu. Itulah pertemuan pertama Subandi dengan lukis kaca. Ada pelajaran baru yang dia dapatkan dari pengalaman tersebut. Subandi menyadari bahwa lukis kaca saat ini mulai memudar dan kalah sohor dari lukisan kanvas. Eksplorasi medium karyanya mulai serius diujicobakan sejak dirinya kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).

Dengan berlatar belakang pengrajin/ pembuat wayang, Subandi berkarya tidak jauh dari corak wayang. Subandi lahir dan tumbuh dalam keluarga pembuat wayang kulit di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ayah dan paman-pamannya adalah para pengrajin wayang, yang mulai mengajaknya belajar  menatah wayang di umur 7 tahun.

Eksplorasi karyanya terhitung cukup banyak, berawal dari membuat kulit dipotong-potong kecil seperti tempat halma atau catur kemudian digambari seperti kolase, kemudian berkembang hingga karyanya dikoleksi sampai Taiwan, Prancis dan Jepang. Ini adalah karya-karya yang dibuatnya dalam periode tahun 80 hingga 86.

Setelah itu Subandi mengeksplorasi medium kertas. Wayang dengan menggunakan kertas dan sempat membuat pameran bersama Diana Anggraini dan Risan Kristianto. Dalam pameran ini, karya Subandi cukup laris. Alasan inilah yang membuat Subandi hingga sekarang masih menggunakan warna-warna yang minim, karena karya-karya dengan warna minimnya sangat laku. Subandi kembali ke medium kanvas setelah mendapat orderan membuat lukisan berukuran 1×1 meter untuk 104 kamar hotel ambarukmo. Pekerjaan besar ini dikerjakannya dengan kurun waktu dua tahun.

Menurut Subandi, sebagai seniman dan pengrajin wayang, dalam membuat wayang memang ada teknik-teknik yang harus dikuasai terlebih dulu, dan tidak perlu terlalu dalam memahami filosofi wayang. Yang penting, pengrajin wayang mengetahui watak wayang tersebut, dalam hal ini insting pengrajin harus bisa diandalkan. Hal pertama yang dipelajari ketika membuat wayang adalah bagaimana cara menatah wayang dengan benar, bagaimana cara memegang dan memukul tatah dengan benar, ini adalah awal dari hasil tatahan yang baik dan halus. Pengertian tatahan yang baik dan halus adalah udomamah, yaitu ketika wayang kecil ditatah dengan tatah kecil, wayang sedang ditatah dengan tatah yang sedang, dan wayang besar ditatah dengan tatah yang besar. Karena ketika ada wayang besar ditatah kecil maka karakternya akan berubah, banyak orang yang tidak paham mengenai hal ini.

Gagasan yang masih dipegangnya hingga saat ini adalah soal bagaimana menggabungkan seni klasik dan modern menjadi suatu karya yang benar-benar baru. Subandi mengaku  ingin memasukkan unsur ekspresif juga dalam karyanya. Unsur-unsur inilah yang sebenarnya ingin diperjuangkan saat ini, tentunya ini adalah upaya eksistensi posisinya sebagai seniman di era seni kontemporer.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Diskusi: Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pada Jumat, 19 Januari 2018 di Rumah IVAA pukul 15.30, digelar diskusi dengan tajuk “Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme”. Diskusi tersebut membicarakan dinamika keterlibatan Indonesia di Europalia, sebuah festival budaya dan seni internasional yang diselenggarakan di Belgia dan negara-negara tetangga. Perwakilan seniman dan kurator yang terlibat, yakni Agung Kurniawan, Hestu Setu Legi, Sita Magfira dan Agung ‘Geger’ Firmanto (Lifepatch), serta Alia Swastika hadir sebagai pembicara. Irham Nur Anshari hadir sebagai moderator.

Setelah dibuka oleh Irham, Alia mengawali diskusi ini dengan memberikan penjelasan singkat tentang Europalia. Alia mengatakan bahwa Europalia merupakan acara atau misi kebudayaan untuk kesenian Indonesia di luar negeri. Sebelum Europalia, Indonesia pernah menyelenggarakan misi kebudayaan demikian, 25 tahun silam di era Soeharto pada 1990-1991 dengan nama Pameran KIAS (Kebudyaan Indonesia di Amerika Serikat). Jika KIAS merupakan inisiatif dari pemerintah, Europalia berbeda. Indonesia menjadi negara Asia keempat yang diundang oleh Eropa untuk menjadi tamu setelah Turki, India, dan Cina. Semua pameran dikuratori oleh dua pihak, yakni Indonesia dan Eropa. Bagi Alia, keterlibatan negara dalam situasi globalisasi ini menjadi hal yang menarik.

Namun, bicara soal keterlibatan, Alia menyayangkan adanya ketimpangan dialog, ketika kurator Barat dalam perumusan pameran sudah menawarkan tiga kata kunci konsep yang sulit ditembus. Tiga kata tersebut adalah Archipelago (ke-nusantara-an), Ancestor, dan Biodiversity. Pembiayaan acara yang diberikan oleh Indonesia sekitar 70-80% tidak sebanding dengan keseimbangan perdebatan antara kurator Indonesia dan Barat. Gagasan kurator Indonesia terkait konsep pameran tidak diakomodasi lebih lanjut.

Kemudian Alia sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi kurator di beberapa pameran saat itu. Salah satunya adalah pameran dari Iswanto Hartono yang digelar di Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam. Bentuk karyanya adalah patung lilin J. P. Coen, pahlawan besar Belanda, yang dinyalakan di salah satu ruang gereja. Melalui karya ini Iswanto mencoba mengulik koneksi sejarah antara Oude Kerk, yang terkenal sebagai monumen para pahlawan (penjajah); simbol etnosentrisme Eropa pada abad ke-17, dengan masa kolonialisme di Banda. Karya yang dibuat oleh Iswanto ini bisa dilihat sebagai pernyataan politik, apalagi ketika patung lilin J. P. Coen yang dibakar menjadi pembicaraan media nasional dan para akademisi di sana.

Pameran kedua yang diangkat adalah On Paradise yang dibuat oleh Jompet Kuswidananto. Jompet mencoba mencari hubungan antara agama dan politik dengan membuat karya lampu gantung dengan cahaya yang gemerlap. Alia mengatakan bahwa konsep dari karya ini berangkat dari fenomena pemberontakan di Banten pada 1888. Sedikit tentang anti modernisme, tetapi sebenarnya lebih kepada keinginan untuk membangun surga yang utopis. Juga yang menarik adalah ketika masuk ke ruang pameran ini, pengunjung seolah tidak melihat fakta sejarah. Mereka hanya melihat karya visual yang dipamerkan.

Selain Iswanto dan Jompet, Agung ‘Geger’ Firmanto dari Lifepatch juga turut serta memamerkan karya yang dikuratori oleh Alia. The Tale of Tiger and Lion menjadi judul pameran mereka. Melalui pameran ini Sita Maghfira mengatakan bahwa Lifepatch mencoba mengulik hubungan antara dua tokoh kunci sejarah Kolonial Belanda di Indonesia – Hans Christoffel dan Si Singamangaraja XII. Dengan menggabungkan artefak sejarah, materi arsip, dan karya seni, mereka menyampaikan hasil penelitian mereka terhadap koleksi Christoffel (artefak jajahan yang ia bawa ke Belgia) dan temuan di lapangan, yakni daerah Toba, Sumatera Utara. Geger juga menambahkan bahwa Lifepatch ingin menghadirkan narasi sejarah versi pemenang (pemerintah dan akademisi), dan versi lain yang muncul dari kebiasaan atau adat tanah Toba. Sita menambahkan bahwa melalui proyek ini Lifepatch menjadi belajar lebih banyak tentang sejarah, bahwa narasi sejarah tidak pernah tunggal.

Tidak ketinggalan, Hestu Setu Legi juga turut memberikan kontribusi pada ajang internasional ini. Melalui koridor Performance Club, Hestu merespon landscape yang ada di ruang pamer dan sekitarnya. Sesuai ciri khasnya, dengan menggunakan tanah liat untuk membuat mural bentuk pohon lambang kesuburan, situasi industri yang terinspirasi fenomena Kendeng, dan lain-lain.

Di koridor lain, Power and Other Thing, Agung Kurniawan juga memamerkan karyanya. Charles Esche menjadi salah satu kurator yang bekerja bersama Agung untuk proyek ini. Dengan bentuk video mapping, Agung menghadirkan kembali karyanya yang berjudul Gejolak Malam Keramat yang bicara isu ‘65. Apa yang menarik dari karya Agung adalah, ia memilih ruang bawah tanah sebagai lokasi pameran. Bagi dia ruang bawah tanah dimaknai sebagai tempat para tikus bersarang; juga seperti mausoleum (kuburan orang-orang Yahudi), yang mencerminkan perjuangan harkat kemanusiaan. Dalam karya ini, Agung berusaha memaknai koneksi konteks ’65 dengan Eropa yang ternyata ada secara geopolitik.

Setelah cukup lama para pembicara membagikan pengalamannya, sesi diskusi mulai dibuka. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari Ngakan Made Ardana. Ia mempertanyakan istilah pseudo yang dipakai; apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Kegagalan Europalia? Atau apa?

Pertanyaan tersebut direspon oleh Alia dengan cerita pengalamannya ketika berdebat dengan para kurator Barat. Baginya, label internasional yang disandang Europalia tidak sesuai dengan keterbukaan terhadap kebudayaan lain secara faktual. Alia mengatakan, “Selama proses, standar-standar mereka sulit ditembus.” Maka globalisasi seni tidak terjadi dan konsep internasionalisme yang dibangun masih kuno.

Sedikit berbeda dengan respon Agung yang mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia mengatakan bahwa secara strategis, tujuan dari festival ini belum nampak jelas. Diplomasi kebudayaan yang terlihat perlu untuk diulik lagi. Namun, ada aspek yang cukup melegakan ketika tidak ada batasan untuk seniman yang terlibat. Buktinya, beberapa seniman bisa membuat karya yang cukup sensitif.

Menyambung pembicaraan yang cukup serius ini, Nindityo Adipurnomo ikut bertanya, “Bagaimana dialog bilateralnya? Pertanyaan itu muncul atas kecurigaan terhadap kecenderungan-kecenderungan negara ‘penjajah’ yang ingin mengembalikan artefak-artefak yang telah dicuri. Padahal kita hidup di jaman komunikasi virtual, tapi barang-barang curian itu hendak dikembalikan; barang-barang yang sudah tidak punya konteks. “Ini sama saja menghidupkan mitos yang sudah mati,” ungkap Nindityo. Geger kemudian merespon kegelisahan Nindityo dengan sebuah dialognya bersama Opung Bakara ketika melakukan studi lapangan di Tanah Toba. Ada tiga pandangan dari Opung Bakara terkait artefak dalam konteks kolonialisme dan masa sekarang. Menurut Opung Bakara ada tiga bentuk aktivitas membeli suatu barang: membeli barang dengan membayar, membeli barang dengan barter, dan membeli barang dengan membunuh/ merampas. Bagi beliau, bentuk yang ketiga itulah yang harus diungkap. Bukan persoalan barang, tetapi lebih kepada hal membunuh atau merampas-nya.

Diskusi semakin terkesan serius ketika Linda Mayasari memberikan kritik terhadap para seniman yang terlibat. Berangkat dari pengalamannya yang melihat pameran tersebut secara langsung, ia mengatakan bahwa, “Seniman-seniman di sana dijadikan arkeolog, di-etnografis-kan.” Bagi dia wacana kolonialisme yang masih berkembang kurang diangkat. Agung pun merespon kritik Linda tersebut dengan cukup tegas, bahwa arkeologi itu bukan sesuatu yang cacat. Ia juga merupakan hal besar. “Seniman tidak lebih tinggi dari etnografer. Ia juga bertugas mencatat.” Terkait eksotisme, Agung lebih melihat ini sebagai perjumpaan. “Saya berjumpa dengan rasa kehilangan akan masa lampau,” ungkap Agung. Nindityo, sebagai bentuk keprihatinan, juga menambahkan bahwa kita nampaknya sedang loncat menggunakan legitimasi mereka (Barat) untuk melihat benda-benda kita. Lantas Linda dengan tegas meluruskan apa yang telah dikatakannya dengan, “Aku lebih menekankan pendekatannya, bukan hirarki seniman dan arkeolog.”

Terkait kelanjutan atau pertanggungjawaban dari festival Europalia ini, Agung mengatakan bahwa ia setuju jika pameran tersebut dibawa dan dipamerkan di Indonesia. Baginya pameran itu mampu mengolah aspek intelektual dari benda. Irham menutup diskusi dengan statement yang kurang lebih sama. Harapannya di era globalisasi ini, misi kebudayaan Indonesia tidak terbungkus ke dalam wacana internasionalisme yang semu.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-6: Slipping Pills

Oleh: Wimpy Nabila F.Z. (Peserta Magang IVAA)

Di akhir Januari ini, menonton konser musik “Musrary” menjadi salah satu alternatif hiburan.  Musrary (Music Library) merupakan program rutin bulanan yang diadakan oleh IVAA. Konsep yang disajikan pada acara ini ialah eksplorasi suara, visual, kolaborasi dengan seniman dan sebagainya untuk merespon ruang perpustakaan IVAA.

Pembeda Musrary dengan acara konser musik lainnya adalah tidak ada pembatas antara penonton dengan performer. Artinya penonton dipersilahkan bertanya dan mengulik tentang karya atau bahkan proses berkarya musisi performer di setiap jeda pertunjukan.

Musrary sempat off selama 2 bulan, akan tetapi pada bulan Desember Musrary kembali  mengadakan pertunjukan dengan menghadirkan Slipping Pills. Mengaku sebagai sebuah ruang untuk bermain dan bergembira, menyiasati dunia yang semakin tua. Dibentuk pada tahun 2011 oleh musisi Teguh Hari Prasetya dan Purnawan Setyo Adi. Slipping Pills beranggotakan Teguh Hari Prasetya (Vokal dan Bass), Hengga Tiyasa (Gitar), Aga Yoga Perkasa (Gitar), dan Gendra Wisnu Buana (Drum). Pada tahun 2012 Slipping Pills telah merilis mini album pertamanya “Kpd. ytc. Lies”.

Dengan dekorasi payung-payung di panggung yang sederhana, menambah kesan teduh malam itu. Slipping Pills membuka pertunjukan dengan lagu yang berjudul “69 di 98”, dianggapnya sebagai lagu politis karena berkaitan dengan negara. Penonton terlihat khidmat menghayati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Teguh sang vokalis yang sesekali menghisap rokok. Suasana pecah gelagak tawa penonton menyambar ketika masing-masing personil unjuk kebolehan memainkan alat musiknya. Pesan-pesan yang disampaikan di setiap lagu Slipping Pills sangat dalam.

Dalam Musrary kali ini, Slipping Pills membawakan kurang lebih 8 lagu. Yang menarik adalah ketika Teguh menyampaikan petuah kepada penonton bahwa “Cinta beda agama bukan bagaimana cintanya tapi bagaimana negara sudah masuk ke dalam ranjangnya”. Bisa dibilang lagu-lagu mereka merupakan lagu pemberontakan, salah satunya dengan mengangkat isu terkait pernikahan beda agama di negara Indonesia yang tidak diterima secara sah. Lirik-lirik yang dihadirkan sebagai sindiran, sekaligus pembelaan bagi para penikmatnya.

Di akhir pertunjukan, di tutup dengan penampilan Teguh bernyanyi solo membawakan lagu yang baru saja dibuatnya pagi hari sebelum pertunjukan Musrary dan diberinya judul “perselingkuhan” yang menurut dia sangat zaman now.

 

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Launching IVAA Shop dan Musrary Edisi ke-8: Olski

Oleh: Yeni Arista

Tepat pada 26 Januari 2018 telah dilaksanakan launching IVAA shop. Kali ini IVAA shop muncul dengan wajah baru, dengan tatanan interior yang lebih menarik dan tentu koleksi barang – barang yang bertambah. IVAA shop menjual aneka barang berupa baju, buku, CD dan berbagai pernik lainnya dengan harga bervariasi. Selain itu, IVAA shop juga menerima barang titipan untuk dijual. Apabila anda tertarik untuk mengunjungi IVAA shop atau hendak menitipkan barang yang ingin dijual maka silakan berkunjung ke Rumah IVAA, buka setiap hari Senin–Jumat pukul 09.00-17.00 WIB.

Masih dengan suasana jual beli, pada hari itu juga IVAA mengadakan garage sale, berbagai barang dari gudang IVAA diobral dengan harga yang bersahabat dan bisa dinego. Semua yang dijual adalah barang yang masih layak pakai seperti meja, rak, tape, lensa, monitor dan sebagainya. Pada hari yang sama, Rumah IVAA diramaikan oleh pengunjung yang ingin membeli barang di IVAA shop dan garage sale IVAA.

Masih dengan serangkaian acara yang sama, setelah siang hari disibukan oleh orang– orang yang berdatangan untuk membeli barang, menjelang sore hari ruang perpustakaan IVAA disulap menjadi ruang pertunjukan sederhana. Malam yang dinantikan pun tiba, malam pertunjukan yang akan dimeriahkan oleh Olski. Olski merupakan band dari Jogja, beraliran pop dengan konsep akustik dengan gaya yang manis nan lucu. Pertama kali terbentuk pada tahun 2013, band ini beranggotakan 4 orang :  Febrina Claudya (Vokalis), Shohih Febriansyah (Glockenspil, Pianika, Toy Keyboard), Atika Putri (Perkusi dan Drum) dan Dicki Mahardika (Gitar dan Ukulele). Lagu-lagu yang dibawakan bercerita tentang kehidupan sehari-hari, seperti diary seorang gadis kecil. Olski telah merilis 3 buah single, yaitu “Titik Dua dan Bintang” (2014), “Colors” (2015) dan “Tunggu” (2017). Pada akhir tahun 2017 Olski merilis album pertamanya “In the Wood”.

Sinar lampu remang–remang di ruang perpustakaan IVAA membuat penonton semakin menghayati lagu yang dinyanyikan. Penonton yang memenuhi ruangan IVAA antusias mendengarkan lagu dan candaan di sela – sela penampilan. Penampilan Olski berlangsung sekitar 2 jam dengan menyanyikan 4 lagu, diselingi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Candra dan Mukti sepasang komika dari Jogja. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dengan santai itu ada beberapa hal yang menarik yaitu; walaupun berkarir dalam satu kelompok band ternyata masing–masing dari mereka mengidolai musisi yang berbeda aliran musiknya. Meski demikian, mereka memiliki harapan yang sama untuk tahun 2018 yaitu melakukan konser tunggal. Penampilan Olski dan sesi tanya jawab malam itu diakhiri dengan sebuah pernyataan oleh Dicki Mahardika, bahwa dengan bermusik hal yang “serius” dapat menjadi “fun”, dan hal yang “fun” pun dapat menjadi serius.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-4: Arsip Berjalan Ingatan Kota

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Perpustakaan IVAA disulap oleh Izyudin “Bodhi” Abdussalam (Ruang Gulma) menjadi ruang seperti ruang teater, dia mengeset ruang perpustakaan IVAA dengan pernak-pernik lampu belajar sejumlah lima buah. Sebelum pertunjukan dimulai, ruangan dibuat sedemikian gelap sehingga panggung dan penataannya terlihat begitu anggun. Malam itu penonton memenuhi ruangan IVAA yang berkapasitas maksimal 80 orang itu sehingga terlihat penuh tetapi hangat dan sangat dekat dengan bibir panggung.

Malam itu panggung diisi oleh kelompok band bernama Kota dan Ingatan, mereka adalah Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Sejak berdiri di tahun 2016 mereka berkali-kali menghiasi panggung musik Yogyakarta khususnya dan memberi pendekatan lain dengan musik dan lirik yang sangat berbeda. Mereka beberapa juga terlibat dalam sebuah gerakan seni dan sosial di Yogyakarta dengan membuat lirik mereka di beberapa lagu begitu lantang tetapi masih sangat puitis.

Penampilan Kota dan Ingatan dalam Musrary edisi ke-4 berlangsung selama satu jam dengan diselingi sesi tanya jawab. Aditya Prasanda dengan kumis uniknya membawakan sembilan lagu. Sesekali pria berkumis unik ini memegang mikrofon dengan kedua tangannya dan merem melek sepertinya terlihat sangat menghayati lagunya.

Proses bermain musik Kota dan Ingatan merupakan upaya mendokumentasikan. Kota dan Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi, dan rencana-rencana tata kota yang berterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu marak untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat, mencatat guna mengingat.

Di dalam konser mini tunggal mereka ini beberapa lagu masih dalam tahap perekaman dan akan dijadikan album mereka. Materi-materi Kota dan Ingatan beberapa sudah diluncurkan dan dibagi di sosial media, antara lain lagu-lagu yang berjudul Alur dan Peluru. “Alur” adalah sebuah catatan tentang kekerasan serta konflik horizontal yang akhir-akhir ini sering terjadi.

Kesempatan konser ini mereka maksimalkan dengan memberi visual yang digarap oleh Bodhi juga, dari lagu ke lagu visual ditampilkan secara bergantian dengan visual-visual seperti perkotaan dan sebagainya, yang diproyeksikan dalam ukuran besar di rak-rak buku perpustakaan sebagai latarnya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Mural #OTEWE4

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

Mural #OTEWE4 kali ini bekerja sama dengan IVAA, dengan merespon lantai amphitheater yang ada di Rumah IVAA. Pengerjaan mural selama 2 hari di tanggal 17-18 Juli 2017 dan peluncurannya di 22 Juli 2017, bersamaan dengan acara #UpdateYourCity dari Kindmagz. Untuk konsep sendiri mereka membuat peta Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Pada saat memilih peta Yogyakarta, aku ngobrol dengan Kotrek. Bagaimana jika menggambarkan masalah yang ada di Yogyakarta dengan cara yang berbeda? Sepertinya asik… Kemudian muncullah beberapa karakter di peta seperti Sleman dengan karakter Gunung Merapi, Kulon Progo dengan karakter Bandara, Yogyakarta, Bantul, dan Gunung Kidul dengan karakter manusia yang ada di dalamnya. Bagaimana masyarakat menanggapi adanya pembangunan,” kata Kotrek.

Sebenarnya proyek ini bagi Ismu Ismoyo dan Kotrek sendiri berkenaan dengan proyek Otewe yang sedang mereka garap tentang alat transportasi di Yogyakarta yaitu sepeda. “Ironis ketika Yogyakarta sebagai kota sepeda tapi ternyata minim ruang publik sepeda di Yogyakarta,” ungkap Ismu. Sebelumnya mereka sudah membuat mural di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kidul, Nitiprayan, Giwangan, dan di IVAA adalah lokasi ke-4. Untuk mural sendiri rencana mereka ingin membuat 7 sampai 10 mural. Di setiap titiknya menceritakan permasalahan transportasi sepeda yang ada di daerah itu. Untuk gambar yang ada di Rumah IVAA konsepnya adalah bagaimana menceritakan cara pandang kondisi kota Yogyakarta, yang pasti sepeda ada di dalamnya.

Dalam proyek #Otewe ada 3 hal yang menjadi harapan sang inisiator, yaitu membangun ingatan orang tentang kota Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang kedua adalah melihat bahwa kota Yogyakarta tidak dirancang untuk kendaraan besar jadi sepeda itu bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan, dan yang ketiga adalah membangun sedikit nostalgia seperti sepeda membuat dialog tersendiri dengan warga yang lain (pengguna sepeda). Sebenarnya penggunaan sepeda di kota Yogyakarta besar akan tetapi fasilitas belum mendukung seperti marka jalan yang ada di jalan, ataupun ruang tunggu yang ada di lampu merah.

Lewat pengerjaan mural ini diharapkan segala permasalahan di Yogyakarta dapat direfleksikan lewat kegiatan berkeseniaan, danmural ini salah satunya. Mengkritik Yogyakarta tidak hanya lewat tulisan saja, tetapi berbicara juga bisa melalui jalan kesenian. Hal inilah yang ingin disampaikan Kind Magz kepada publik Yogyakarta.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Art in Context: Seni Dari Warga, Oleh Warga, dan Untuk Warga

Penulis: Artia L. Yohana (Peserta Magang IVAA)

Kamis, 20 Juli 2017, Goethe-Institut Program Jogja mengadakan peluncuran buku dan diskusi yang bekerja sama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Buku yang diluncurkan adalah sebuah buku yang dikembangkan dari program lokakarya yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia di November 2015 silam yang berjudul “Art In Context”. Acara peluncuran buku dan diskusi ini bertempat di Rumah IVAA.

Selain peluncuran dan bedah buku, acara ini juga disertai dengan diskusi tentang seni kolektif serta berbagi cerita dari pengalaman pembicara. Acara ini kemudian dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dimulai dengan bedah buku yang menghadirkan Djuwadi dari Taring Padi sebagai pembicara. Djuwadi merupakan salah satu peserta yang terlibat dalam lokakarya tersebut. Dalam sesi ini dipandu oleh Christina Schott (Tina) penanggung jawab dari Goethe-Institut Program Jogja. Pada sesi ini membahas tentang isi dari buku “Art In Context” serta pengalaman dari Djuwadi sebagai peserta yang mengikuti residensi selama 12 hari di Kuala Lumpur. Workshop atau Master Class ini berjudul “Transaction in the Fields”, dihadiri seniman dari 10 negara di Asia salah satunya adalah Indonesia.

Menurut pemaparan Tina, acara yang telah dilaksanakan pada tahun 2015 ini mengambil tema partisipatory art atau socially engaged art, fusion public art, art activation community, dan art education. Kemudian ide dari penerbitan buku ini sendiri menurut Djuwadi tercipta setelah program workshop 12 hari penuh, akhirnya diputuskan untuk mendokumentasikan seluruh hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dan di publikasikan dalam bentuk buku. Pembuatan buku ini sendiri memakan 2 tahun yang kemudian diterbitkan oleh Goethe-Institut.

Setelah berbagi pengalaman dari Djuwadi, terdapat pertunjukan kecil yang pernah dibawa Djuwadi ke Malaysia ketika workshop. Pertunjukan yang dilakukan adalah tutorial memanfaatkan sampah sebagai hiasan. Menurutnya ide ini muncul ketika mengikuti karnaval kostum sampah, ia memungut sampah yang ditemuinya sepanjang jalan dan kemudian membentuknya menjadi sebuah hiasan untuk pakaian dengan mengunakan peniti. Karya ini juga merupakan salah satu karya yang di presentasikan oleh Djuwadi ketika mengikuti workshop di Kuala Lumpur.

Sesi kedua diisi dengan diskusi tentang wacana seni partisipatoris yang bersinggungan dengan sifatnya yang kolektif serta bersosialisasi dengan masyarakat. Dalam sesi ini terdapat dua pembicara yang dimoderatori oleh Hardiawan Prayoga. Pembicara yang dihadirkan adalah Djuwadi dari Taring Padi dan yang kedua adalah Ketjilbergerak yang di wakili oleh Britto. Kedua komunitas ini pada garis besarnya bergerak dalam konteks art in community atau dapat dikatakan karya-karya mereka dipersembahkan untuk berpartisipasi dalam membantu masyarakat. Karya seni yang mereka buat bersinggungan dengan isu-isu terbaru yang ada di lingkungan masyarakat.

Sebelum diskusi dimulai, ditampilkan beberapa video dari para pembicara. Djuwadi menampilkan cuplikan hasil kegiatan lokakarya yang telah dibahas sebelumnya. Sedangkan dari Ketjilbergerak menampilkan video hasil karya mereka yang berjudul “Energi Mudamu, Senjatamu!.” Menurut Britto, video yang ditampilkan oleh Ketjilbergerak ini merepresentasikan bahwa Ketjilbergerak memiliki tiga program, yaitu pendidikan alternatif berbasis kesenian, yang kedua adalah bergerak dengan anak muda agar mereka bisa rensponsif dan dapat membaca lingkungan, dan yang terakhir adalah penguatan warga agar mereka dapat membaca dan memahami serta mengambil sikap yang tepat dalam merespon perubahan atau perkembangan yang ada di lingkungan.

Dalam sesi ini juga dibahas latar belakang komunitas tersebut dan fokus dari komunitas serta kegiatan yang dilakukan oleh kedua komunitas tersebut. Menurut pemaparan Djuwadi, Taring Padi merupakan sebuah komunitas yang terlahir di tahun 1998 sebagai organisasi budaya progresif. Taring Padi ini banyak mendedikasikan hasil karya seni mereka untuk berpartisipasi dalam aksi solidaritas bersama masyarakat dengan kata lain membantu masyarakat dalam mengekspresikan maupun mengutarakan pendapat mereka melalui karya kesenian.

Sedangkan Ketjilbergerak merupakan komunitas yang terlahir di tahun 2006 sebagai komunitas kreatif berbasis anak muda sebagai orang yang berjiwa muda. Menurut Britto Ketjilbergerak ini pada awalnya muncul dari keinginan dan niat untuk terjun langsung pada warga. Salah satu karya dari Ketjilbergerak ini salah satunya yaitu pembuatan video yang isinya mengkritik kondisi permasalahan saat itu. Britto memberikan pemaparan tentang alasan mengapa mereka memilih berkarya di musik video walaupun tetap juga aktif berkarya di seni lainnya, menurutnya karena Ketjilbergerak mempunyai metode untuk bergerak dengan media yang menyenangkan sehingga gerakan tersebut tidak membebani.

Kemudian para pembicara juga memaparkan bagaimana mereka berkegiatan di masyarakat. Taring Padi maupun Ketjilbergerak mempunyai metode yang hampir sama ketika mereka mulai berkarya untuk masyarakat. Tujuan dari karya mereka pun sejalan, yaitu menguatkan warga agar mereka dapat membaca situasi atau kondisi yang ada sehingga mampu mengambil sikap atas situasi tersebut. Kemudian mereka juga memaparkan bahwa karya-karya seni yang dihasilkan itu berasal dari ide-ide masyarakat yang kemudian dikembangkan dan dibuat bersama-sama dengan masyarakat. Kemudian ide tersebut berkembang menjadi sebuah hasil karya seni yang berisi ungkapan, suara, pendapat warga tentang situasi atau isu yang berada dilingkungan tersebut. Selain itu, alasan bahwa ide tersebut harus berasal masyarakat adalah karena Ketjilbergerak serta Taring Padi tidak akan selamanya berada di tempat tersebut, sehingga dengan belajar bersama, harapannya masyarakat pada akhirnya mampu berkarya sendiri ketika tidak ada Ketjilbergerak atau Taring Padi.

Secara umum acara ini merupakan sebuah diskusi dan bedah buku di mana tema atau garis bersarnya adalah kolektif seni. Baik buku yang diluncurkan maupun diskusi yang dilaksakan membahas tentang bagaimana seni dapat menjadi sebuah alat untuk mengungkapkan ekspresi, pendapat, dan ide dari masyarakat; sehingga seni tidak hanya dianggap yang hasilnya berupa karya untuk ditampilkan atau dipamerkan, tetapi juga dapat sebagai suatu alat untuk membangun kesadaran masyarakat.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Musrary Edisi ke-5: Jono Terbakar

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Gelaran diskusi musik di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang baru dirintis sejak Maret 2017 ini merupakan acara yang  mewadahi pertemuan musisi, kritikus dan pendengar musik Yogyakarta. Pada edisi ke-5 Juli 2017 kali ini Musrary menghadirkan Jono Terbakar.

Jono Terbakar adalah duo akustik heavy-mental dari Yogyakarta yang terdiri dari Nihan Lanisy dan M.N. Hidayat. Dalam acara ini Jono (Hidayat) tampak hadir sendiri, rekannya Terbakar (Nihan) tidak hadir kerena sakit usai manggung di Jakarta. Karena Terbakar tidak bisa hadir, malam itu Jono mengajak temannya Mas Tobi dari Gatal Production untuk berkolaborasi dengan video klip yang ditampilkan saat acara berlangsung. Mas Tobi juga sempat mengusulkan agar desain cover album ke-2 dibuat sayembara.

Acara ini dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan sebuah lagu berjudul Sepatu Sporty. Jono Terbakar telah menelurkan satu mini-album (Sugeng Kunduran, 2014) dan satu full-album (Dunyakhirat, 2015) dan beberapa single.

Jono Terbakar membawakan beberapa lagu andalannya seperti: Titik Dua Bintang, Tualang, Ziarah, dan lain-lain. Dalam penampilannya Jono juga menyelipkan komedi sehingga penonton tidak akan bosan untuk menontonnya. Apalagi di lagu ke-3 Jono menyanyikan lagu berjudul Atos (Kudu Piye Tuips) sontak membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak karena kelucuan dalam lirik lagu dan cara menyanyikan lagunya. Inilah cuplikan lirik yang membuat semua tertawa:

“Bu, iki teh e kok ora legi yo?”
Lha malah diwangsuli
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”

Di tengah acara Jono terbakar juga membagikan albumnya kepada penonton yang aktif bertanya dalam diskusi musik tersebut. Jono terbakar rupanya sempat lama menghilang dari dunia musik. Dia mengatakan sebab berhenti di dunia musik itu karena terlalu mendalami agama dan menganggap musik itu haram. Waktu itu dia juga persiapan ingin memiliki anak.

Jono membuat semua lagu itu intinya yang happy. “Walaupun liriknya sedih tetapi setelah mendengarkan akan terasa happy mentalnya,” ujar Jono. Dulu proses awalnya Jono Terbakar itu cuman dari gitar klasik sama handphone aja. Seperti lagu cinta yang sering diputar di radio-radio Yogyakarta. Dari usia SMP Jono sudah memainkan gitar elektrik dan lain-lain. Tetapi Jono mengatakan anggota grup band umumnya ada 5 dan itu tidak nyaman, jadi dia bikin 2 personil saja.

Kali ini Jono Terbakar juga berkesempatan untuk menafsirkan film Ziarah melalui kacamatanya dan kemudian dituangkan dalam serangkaian nada khas Jono Terbakar. Film Ziarah adalah karya sahabatnya BW Purbanegara, dia butuh seniman yang bisa memindah mediakan film, musik, tari, dan lain-lain. Di April 2017 ia berencana merilis mini-album “Ziarah” yang di dalamnya terdapat 4 lagu. Lagu-lagu tersebut mencoba menarik pendengarnya ke suasana cinta dalam bentuk perjalanan, pencarian, kesetiaan, dan refleksi akan kematian.

Dalam acara ini Jono Terbakar menutup dengan sebuah lagu berjudul Tualang dan penonton bertepuk tangan dengan meriah.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Tutti Art & Seniman Perempuan: Narasi Keperempuanan Dari Perempuan

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

29 Juli 2017, di Rumah IVAA, 16 perempuan baik seniman maupun peserta lain, mendiskusikan persoalan keperempuanan dari sudut pandangnya masing-masing. Acara ini diorganisir oleh Tutti Arts, yakni lembaga yang mendukung seniman disabilitas dalam berkesenian.

Perempuan-perempuan tersebut membuat kolase malalui bahan yang telah disediakan Tutti Arts. Mereka dituntut untuk mendeskripsikan perempuan dan persoalannya melalui karya kolase.

Lashita yang berkolaborasi dengan Uut dan Agnes membuat karya visual performatif berjudul Woman Process. Ketika seniman itu menggabungkan potongan gambar kaki, tangan, dan anggota tubuh manusia yang lain dengan berbagai bagian tubuh hewan bersayap, sebagai personifikasi dari perempuan. Ditambah, pertunjukkan membuat bunga mawar dari kertas krep yang dilipat sedemikian rupa kemudian ditarik, sebagai penanda proses.

Endang, seniman di bidang musik, menciptakan kolase yang menarasikan tentang dirinya sebagai seorang perempuan penyandang disabilitas yang berproses mencapai kesetaraan.

Fitri, seniman di bidang visual, mengkolasekan berbagai gambar perkakas rumah tangga menjadi badan perempuan yang menjinjing satu tas bermerek, dengan potongan gambar keluarga—ayah, ibu, dan anak—sebagai kepalanya. Bagi Fitri, karya ini mewakili kisah perempuan yang mendapatkan tuntutan menikah atas dasar usia yang telah memasuki kepala tiga. Perempuan digambarkan Fitri sebagai figur yang menerima berbagai konstruksi sosial. Diwajibkan bisa memasak, berdandan, dan melayani suami. Konstruksi tersebut dirasa Fitri terlalu merepotkan, namun dirinya sadar bahwa hal ini merupakan sebuah warna-warni kehidupan sosial yang perlu dijalani.

Rika, mengkolasekan gambar gurita dengan berbagai potongan tangan, sebagai ilustrasi tututan wanita yang beragam. Baginya, tuntutan ini tidak proporsional, sebab setiap tubuh manusia memiliki keterbatasan. Terdapat hal-hal yang bisa dikerjakan, dan sebaliknya.

Naomi, dengan karya berjudul Woman’s Match bernarasi soal perempuan yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepantasan dalam berbusana. Bersedia berdesakan dalam antrian atau tempat belanja yang menyediakan diskon besar-besaran. Narasi ini diilustrasikan melalui berbagai potongan tas bermerek yang disusun secara rapi, dan masing-masing potongan tersebut terhubung degan garis mengkilap yang terbuat dari gel glitter.

Restu, menggambarkan wanita yang berada dalam kotak transparant dengan segala bentuk aturan. Disebut kotak transparant karena bentuk dan materi pembuat “kotak” tidak dapat teridentifikasi lebih jelas. Restu menegaskan bahwa, bentuk aturan yang berada dalam kotak ini jika dipandang lebih jauh, bukan hanya menjadi kewajiban dari wanita saja melainkan pihak lain—pria.

Pat Rix melihat bahwa narasi mengenai asal selalu menjadi pembicaraan perempuan. Bahasan nenek moyang, yakni venus—atau ibu pertiwi—digambarkannya melalui berbagai wajah yang disusun berbaris ke bawah terhubung dengan anak panah.

Tiara, pengalamannya sebagai seniman pertunjukkan—tari, menginspirasi karyanya yang menyoal topeng dari perempuan dan mimpi. Bagi Tiara, wanita akan selalu tampil dengan berbagai topeng yang tidak disenanginya akibat tuntutan sosial. Hingga, pada keadaan tertentu menghalanginya dalam meraih mimpi. Tiara menegaskan bahwa, semua perempuan bebas meraih mimpinya dengan atau tanpa melewan struktur sosial.

Selain soal keperempuanan, perhatian mengenai dunia pendidikan menarik perhatian salah satu seniman film, Revita. Perempuan yang kerap berkutat dengan dunia naskah ini melihat gambar-gambar yang disediakan Tutti mengulik kegelisahannya pada dunia keilmuan. Revita mengambil berbagai jenis serangga dan menyusunnya untuk memudahkan anak-anak atau penikmat karya lain melakukan identifikasi.  

Bagi Revita, seluruh persoalan dunia baik keperempuanan atau lainnya, dapat terselesaikan dengan jika pendidikan digerakkan dengan baik. “Mengubah dunia melalui pendidikan”ujarnya dengan mantap.   

Karya Revita seperti merangkum narasi keperempuanan dan hal lainnya dalam diskusi grup ini. Pendidikan menjadi ruang yang memungkinkan penyampaian wacana dalam berbagai persoalan, dalam hal ini, keperempuanan.      


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.