Tag Archives: agendarumahIVAA

Pusparagam Pengarsipan: The Possibility of Socially Engaged Archiving

ūüďĘūüďĘ PANGGILAN TERBUKA

Pusparagam Pengarsipan
The Possibility of Socially Engaged Archiving
19 – 21 November 2019

Pusparagam Pengarsipan ialah sebuah program yang mempertemukan para praktisi yang bekerja dengan arsip, arsiparis atau siapa saja yang memiliki ketertarikan dengan semesta arsip dan pengetahuan. Pusparagam Pengarsipan yang pertama ini menggarisbawahi tema ‚ÄúThe Possibility of Socially Engaged Archiving‚ÄĚ atau mencari arah kerja pengarsipan yang membumi.
Kali ini Pusparagam Pengarsipan membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin terlibat dalam proses belajar bersama, saling berbagi & membicarakan model pengarsipan yang selama ini kita praktikkan, baik secara berkelompok, institusional ataupun individual. Bagi teman-teman yang berminat sila mengirim tulisan yang menceritakan aktivitas kerja pengarsipan (dalam artian yang seluas-luasnya). Tulisan dapat dikirim ke program@ivaa-online.org dengan subjek SEA2019, paling lambat 12 November 2019. Sembilan partisipan terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti keseluruhan agenda; khusus bagi teman-teman yang tinggal di luar Jogja, kami akan menyediakan tiket perjalanan pulang-pergi beserta akomodasi.

Kegiatan ini merupakan suatu upaya bersama untuk mempelajari keberagaman model pengarsipan di sekitar kita, sekaligus melihat kembali model kerja pengarsipan yang selama ini hidup di tengah-tengah kita.
Hal ini kita lakukan sambil mempertanyakan ulang arah pengetahuan dan pengarsipan. Seberapa jauh arah pengetahuan kita membutuhkan arsip? Bagaimana kaitan antara proses artistik & pengarsipan? Bagaimana kerja pengarsipan ataupun preservasi kebudayaan bisa terhubung dengan kerja atau perjuangan dari ranah yang lain, seperti perjuangan di bidang lingkungan & demokrasi, sehingga agenda kultural bisa senafas menjadi perjuangan politik?

Untuk pertanyaan lebih lanjut, sila hubungi 0819-7718-4678 (Sukma)

 

Milang Kori: Beragam Pintu, Beragam Pengetahuan

oleh Santosa Werdoyo dan Dwi Rahmanto 

Video: Milang Kori – Surabaya

Setelah beberapa saat bersafari di dua tempat, yakni di perpustakaan Open Page serta Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman di area Yogyakarta, kami mencoba membuka jaringan lebih luas ke Surabaya dan Madura dalam rangka perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan (milang kori, dalam bahasa Jawa berarti ‚Äúmenghitung pintu‚ÄĚ, dapat dimaknai sebagai praktik menjelajahi berbagai tempat untuk mempelajari lokalitasnya). Di dua area ini kami bertemu beberapa komunitas dan individu yang cukup intens dalam kerja-kerja pengarsipan, perpustakaan, literasi maupun aktivitas kesenian.¬†

Bersamaan dengan perjalanan ini, beragam isu nasional sedang berkembang, seperti perihal UU Pelecehan dan Kekerasan Seksual, KPK, represi para aktivis, serta problem pasca pemilu yang tak kunjung usai dan justru memecah belah komunitas. Kadang isu-isu itu membuat kami berkerut dahi. Tetapi pertemuan dengan kawan-kawan dalam perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan membuat kami bersemangat lagi. Bersama-sama kami mempertanyakan model demokrasi macam apa hari ini, sekaligus memantulkan pertanyaan itu pada praktik-praktik pengarsipan yang tentu sudah hidup lama di dalam jiwa masyarakat. Bahwa demokrasi dalam pengarsipan juga menjadi hal yang penting untuk dipertanyakan terus-menerus; setiap komunitas memiliki caranya masing-masing untuk mencatat pengetahuan baik melalui kesenian tradisi ataupun keseharian. Menilik kembali praktik-praktik pengarsipan dan pengetahuan lokal barangkali bisa ditempatkan sebagai upaya untuk membentengi kita dari pertikaian bangsa. 

Rabu malam, 18 September 2019, kami tiba di Surabaya dengan kereta ekonomi yang cukup nyaman. Keesokan harinya kami bertemu Oei Hiem Hwie untuk ngobrol secara eksklusif. Cerita demi cerita tentang Medayu Agung ia sampaikan secara runut. Medayu Agung adalah sebuah perpustakaan dua lantai yang menyimpan beragam koleksi buku dan arsip, bertempat di kompleks perumahan yang diprakarsai oleh Oei Hiem Hwie sendiri. Oei Hiem Hwie lahir di Malang pada 1938. Mama dan papanya berasal dari Tiongkok. 

Dalam perjalanan hidupnya, Oei memilih untuk berkewarganegaraan Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan Harian Trompet Masjarakat, sebuah surat kabar yang mendukung politik Soekarno. Tragedi 1 Oktober 1965 membuat Oei tidak bisa bekerja lagi. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu pada 12 Januari 1966. Lalu ia dipindahkan ke penjara Lowokwaru, Malang, dimasukkan ke Blok 10-11. Tidak hanya itu, pada 1970-1978 Oei menjadi tahanan politik di Pulau Buru. 

Di Pulau Buru ia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Pada waktu itu Pram meminta Oei untuk menyimpan naskah asli tulisannya yang berjudul Ensiklopedi Citrawi Indonesia, yang ditulis tangan dan diketik menggunakan mesin ketik. Naskah itu berhasil keluar dari Pulau Buru bersama Oei dan disimpan di Medayu Agung. 

Medayu Agung berlantai dua. Dari pintu masuk di lantai pertama, kita bisa melihat foto Bung Karno, tempat duduk dan meja untuk tamu, dan rak besi yang berderet setinggi dua setengah meter berisi buku serta majalah. Ada juga lemari kaca berbentuk persegi panjang berisi koleksi surat kabar Suara Rakyat, Api Pancasila, Ampera serta beberapa media massa yang masih terbit hingga saat ini seperti Kedaulatan Rakyat, Kompas, dan Jawa Pos. Selain itu ada tiga kamar yang khusus digunakan untuk menyimpan buku-buku Pramoedya Ananta Toer serta koleksi buku lama dan langka yang sudah tidak diterbitkan lagi. 

Di lantai atas terdapat berderet rak besi yang berisi koleksi surat kabar dari masa kemerdekaan. Terpampang juga buku-buku bertema sosial-budaya, sosial-politik, ekonomi dan beberapa tema lain. Oei juga membuat kliping dengan tema spesifik yang ia letakkan di sudut ruangan lantai ini. Perpustakaan yang begitu kaya akan pengetahuan ini dapat diakses publik pada Senin-Jumat (09.00-16.00) dan Sabtu (09.00-13.00). 

Setelah Medayu Agung, kami berpindah ke Serbuk Kayu, sebuah komunitas kesenian yang dikelola oleh anak-anak muda. Serbuk Kayu terletak di sebuah kontrakan di perumahan yang tidak jauh dari Kampus UNAIR di pinggir Kota Surabaya. Salah satu kegiatan mereka adalah Timur Liar yang bekerjasama dengan Kolega Warna, Darjoclub, Banyu Genuk, Kuas Patis, Tanjung Market, Kolekjos, Taman Langit, Sektor Kotor, Vila Artspace, Tubgraff, dan Sara. Timur Liar merupakan sebuah kegiatan untuk saling bertemu, berkumpul, dan berjejaring dalam rangka membangun pemahaman atas pola seni rupa saat ini. 

Dari pinggir kota kami melanjutkan perjalanan ke tengah. Tibalah kami di C2O Library and Collabtive. Di ruang depan yayasan ini terdapat perpustakaan dengan koleksi sekitar 7000 buku, komik, dan majalah yang telah dikelompokkan. Pengelompokannya berdasarkan disiplin ilmu, seperti sejarah, seni, arsitektur, dll. Masih di ruang yang sama, terdapat tempat untuk menjual buku serta merchandise baik dari C2O ataupun titipan. Tidak hanya itu, C2O juga punya co-working space dan event space sendiri. 

Kami bertemu Beni Wicaksono yang kemudian berbincang soal perkembangan seni rupa khususnya di Surabaya. Dari Beni kami dihantarkan untuk bertemu Nuzurlis Koto, seorang dosen di STKW yang dulu pernah seangkatan dengan seniman Nunung WS. Ia lebih banyak bercerita tentang sejarah seni rupa di Surabaya pada era 1960-an. Nuzurlis Koto memiliki banyak koleksi barang-barang seni di rumahnya. Selain itu ia juga menyimpan kliping maupun surat-surat seniman Nashar. 

Malam hari berikutnya kami menuju ke Lapak Baca Bakteri di Gang Pesapen di daerah bilangan, Surabaya, berjarak kurang lebih 1 km dari Pelabuhan Tanjung Perak. Kami bertemu Rian. Sangat menarik karena ketika kami datang, kami masih sempat menyaksikan sendiri bagaimana lapak itu digelar. Pengendara motor yang lewat harus menuntun motornya. Ada banyak buku, majalah dan komik anak-anak yang disuguhkan melalui lapak selebar kurang lebih 4 meter beralaskan tikar tersebut. Kurang lebih ada 50-an anak dari kampung setempat yang datang dan saling berinteraksi sembari duduk membaca dan menggambar. Perpustakaan keliling itu diadakan seminggu sekali setiap Kamis malam pada pukul 19.00-21.00. Beragam koleksi itu sebagian didapat dari donasi, hasil tukar dengan jaringan, dan beli menggunakan dana sendiri. Lapak Baca Bakteri adalah salah satu praktik nyata pendidikan dan rekreasi yang begitu dekat dengan masyarakat. 

Dari Surabaya kami menyeberangi Selat Madura. Pertemuan pertama kami di sini berlangsung di Kafe Manifesco, Pamekasan bersama dengan kelompok Khoteka. Pada waktu itu banyak seniman serta para pegiat kebudayaan yang hadir dan berbagi pengalaman. Praktik pengarsipan ternyata bukan hal baru bagi mereka. Dari makanan khas Madura, pendapat generasi muda tentang kotanya, dan hal-hal keseharian lainnya menjadi ingatan yang mereka arsipkan. 

Video: Milang Kori – Madura

Keesokan hari kami pindah ke Sumenep, masih di Pulau Madura. Kami mengunjungi Pondok Pesantren Annuqayah yang sudah berdiri sejak 1887 di Guluk-Guluk. Di pondok pesantren tersebut kami bertemu KH. Mohammad Faizi. Selain sebagai seorang kyai, ia adalah penulis yang gemar bermain gitar dan bepergian menggunakan bus umum. Faizi sudah mengarungi rute jalan darat di berbagai kota di Indonesia. Tidak sekedar hobi, ia bahkan mengumpulkan semua tiket bus yang didapatkan selama bertahun-tahun. Perjalanan nampaknya menjadi metode pengarsipannya. 

Kami dibuat takjub ketika Faizi mengajak berkeliling area pondok yang terletak di perbukitan ini. Karena begitu luasnya, kami pun harus menggunakan mobil. Pengaruh seorang kyai begitu kuat di sini. Ketika kami lewat di tengah-tengah ribuan santri dan santriwati, sontak mereka menundukkan kepala dan sama sekali tidak berani menatap wajah Kyai. Ini adalah sebentuk tawadhuk murid kepada guru. 

Cara para guru menyebarkan pengetahuan di Pondok Pesantren Annuqayah juga menarik. Tidak ada struktur yang begitu baku. Mengelola pengetahuan dengan basis sastra sudah bukan barang asing bagi mereka. Ini adalah kesenian dan menjadi bagian penting kebudayaan mereka. Sehingga, membaca puisi di sore hari di atas batu-batu besar sewaktu jeda rutinitas sudah lumrah dilakukan. 

Perjalanan ini kami tutup dengan menginap di Dapur Kultur, sebuah perpustakaan yang dikelola secara kolektif dengan koleksi buku sejumlah 5000-an. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang. Dari Sumenep kami naik bus ke arah Surabaya, lalu disambung dengan kereta ke Yogyakarta. Meski perjalanan kami masih sepenggal, banyak sekali pertemuan dan pengetahuan yang kami peroleh. Tidak hanya pengetahuan soal pengarsipan, tata nilai kehidupan serta jejaring baru juga menjadi bagian penting dari rekam perjalanan kami. Bahwa tiap komunitas punya pintunya masing-masing untuk menjadi subjek atas pengetahuannya.

View this post on Instagram

Berbagai keceriaan & kebaikan dalam beberapa hr ini. Bertemu dg teman-teman yg berdedikasi, berbagi semangat, pengalaman & refleksi. . . Apa yg tengah dipersiapkan oleh tim IVAA dan kawan-kawan baik ini? Tunggu kabar selanjutnya, Semua ada waktunya.. . . Jgn lupa baca berbagai RUU yg membuat kt capek & panas jdi org indonesia! Siapkan stamina utk bergabung & merapatkan barisan! Salam hormat utk kawan2 di garis terdepan ataupun pengorganisasian. Teriring doa utk kawan2 di Papua, Kendari, Jakarta yg hrus mnjdi korban… . . #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Seniman Mengajar, Denyut Tatapan Kebudayaan

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Selama 43 hari pada Juli-September 2019 beberapa seniman terpilih telah mengikuti program Seniman Mengajar 2019 di beberapa lokasi. Seniman Mengajar merupakan program dari kemdikbud yang dirancang untuk menciptakan ruang-ruang dialog, kolaborasi, dan partisipasi antara seniman dan masyarakat untuk berinteraksi, bertukar informasi, pengetahuan, berkarya, serta membangun jejaring seni untuk menciptakan ekosistem seni yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.   

Pada Selasa, 17 September 2019, pukul 3-5 sore bertempat di IVAA, tiga seniman yang mengikuti program Seniman Mengajar 2019 membagikan pengalaman proses kreatifnya di lokasi. Mereka adalah Aik Vela Pratisca (seniman teater), Yessy Yoanne (seniman tari), dan Amanatia Junda (pegiat literasi). Berbagai macam bentuk tatapan kebudayaan yang mereka alami bersama masyarakat setempat dibagikan sebagai bentuk penyebaran pengetahuan. 

Aik menghabiskan waktunya di Kecamatan Larantuka, Flores Timur. Perjumpaan awalnya dengan laut telah menggiring Aik untuk kemudian membicarakan isu perempuan, ritual, dan makanan dalam proses kekaryaannya.  

Dalam konteks adat, keberadaan perempuan di masyarakat Flores Timur cukup dihormati. Mereka bisa dikenakan hukum adat, potong babi misalnya, jika ketahuan bekerja di ladang. Bahkan, ada satu mitologi dari masyarakat Suku Lamaholot (suku tertua di Flores Timur) yang menempatkan perempuan dalam posisi penting. Mitologi itu disebut Tonu Wujo; seorang anak perempuan yang merelakan dirinya dicacah-cacah dan disebar untuk mengatasi kekeringan yang dialami masyarakat. Tonu Wujo kemudian menjadi upacara adat untuk menentukan keberhasilan masa subur desa. Selain itu ada upacara Semana Santa atau pekan suci menjelang Paskah. Di dalam rangkaian upacara itu ada satu proses pengarakan patung Tuan Ma (Bunda Maria) sebagai devosi atau ungkapan syukur atas hasil panen dan tangkapan ikan di laut. 

Namun, Aik melihat bahwa kehormatan posisi perempuan dalam masyarakat tidak seagung mitologi serta upacara adatnya. Tak jarang Aik menemukan para mama justru bekerja terlalu keras. Sebelum beristirahat pada malam hari, mereka harus mengurus suami dan rumah tangga, berkebun, dan memberi makan babi. Fenomena yang ironis seperti patung Tuan Ma, yang meski diarak dalam rangkaian pekan suci, patung tersebut berparas sedih. 

Oleh karena itu Aik memilih untuk melakukan pendampingan penciptaan Teater Mama. Selain ingin berpartisipasi bersama para mama di sana, keberadaan sanggar berusia setahun mendukung kegiatan yang Aik gelar. Aik mencoba menggali kisah hidup mereka dengan metode ‚Äėriver of my life‚Äô: membagikan tiga peristiwa yang tidak pernah dilupakan di dalam hidup. Rahasia-rahasia sebagai sesuatu yang sukar diceritakan akhirnya dibagikan. Para mama menjadi terbuka untuk membagikan pengalaman sakit dan dicampakkan. Berbagai pengalaman itu kemudian diolah menjadi teks pementasan yang dibuat oleh para mama itu sendiri. Sambil tetap melakukan aktivitas sehari-hari, mereka berlatih teater.¬†

Selain teater, Aik juga mengajak para mama untuk memikirkan ulang persoalan makanan. Bersama-sama mereka pergi ke kebun mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Temuan mereka kemudian dicatat dan digunakan untuk membuat resep baru yang otentik. Poin penting yang ingin diupayakan Aik adalah peran seni sebagai media ekspresi dan mengaktifkan pengalaman berbagi melalui indera.  

Jauh di utara Flores Timur, Yessy melakukan program Seniman Mengajar di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sebuah daerah perbatasan Indonesia di utara dengan Filipina. Tarian menjadi fokus ketertarikan seniman tari berdarah Manado ini. Bersama masyarakat Yessy mengembangkan gerak tari Ampa Wayer, sebuah tari pergaulan Sangihe bernuansa dansa. Tari ini sebenarnya merupakan warisan Portugis ketika menjajah wilayah Sulawesi. Di sisi lain, masyarakat Sangihe sebenarnya memiliki tari adat mereka sendiri, yakni Salaing Bawine. Tari ini awalnya dibuat oleh masyarakat, bukan kerajaan. Tetapi seiring berangsurnya modernitas, tari Salaing Bawine kian jarang dilakukan. Menurut Yessy, kepunahan tari tersebut juga dilatarbelakangi oleh ketersediaan literatur yang minim serta sistem pendidikan yang kurang memadai. 

Dari persoan di atas, Yessy kemudian membuat tari Sakaeng Masa Sangihe. Sebuah tari yang mengisahkan Suku Sangir (suku pengembara lautan) yang terdiri dari 9 penari (5 laki-laki, 4 perempuan) membentuk formasi perahu. 

Berbeda dari Aik dan Yessy, Natia lebih bekerja di wilayah sastra. Banda Neira menjadi tempat di mana ia menjalankan program Seniman Mengajar. Di sana Natia banyak belajar menulis bersama perempuan-perempuan muda. Barangkali Natia mencoba untuk lebih menguatkan keberadaan komunitas dan festival sastra di sana. 

Natia sempat bingung dengan situasi di Banda Neira. Pala melimpah, perekonomian tinggi, ikan masih banyak, dan tingkat kriminalitas rendah. Seolah tidak ada masalah. Tetapi, Natia justru menemukan bahwa persoalan yang ada di sana adalah tentang narasi sejarah Banda Neira. Masyarakat di sana selalu menempatkan kolonialisme Barat sebagai satu-satunya pilar pokok sejarah mereka. Meskipun demikian, mereka tidak malu untuk menceritakan peristiwa sejarah sesuai versinya masing-masing. 

Berangkat dari konteks tersebut, Natia memilih untuk mendirikan bengkel menulis setiap Senin dan Selasa malam. Ia mengajak orang-orang muda di sana untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka sendiri. Meski tetap banyak yang menulis cerita tentang kolonialisme Barat dan drama Korea, Natia berusaha memberi ruang untuk mendiskusikan mitologi-mitologi setempat, misalnya gurita anak manusia. Setelah melalui proses yang tidak mudah, bengkel menulis itu akhirnya melahirkan sebuah buku berjudul Goresan Tinta Anak Banda. 

Salah satu poin yang cukup nampak dari diskusi ini adalah bahwa masyarakat lokal belum menjadi subjek atas pengetahuan mereka sendiri. Entah itu dalam hal seni tari, narasi sejarah, atau mitologi yang menempatkan perempuan di dalam posisi khusus. Kehadiran para partisipan melalui program Seniman Mengajar di satu sisi bisa menjadi pancuran air menyegarkan. Tetapi proses bersama yang hanya terjadi selama 43 hari tidak akan mengubah pancuran air menjadi sumur yang dalam. Pekerjaan yang paling berat justru bukan terletak pada membuat sesuatu yang baru, tetapi mempertahankan kesadaran kolektif atas pengetahuan sebagai bagian dari kebudayaan setempat. Apakah denyut tatapan kebudayaan tersebut akan senantiasa berdenyut?

View this post on Instagram

Aik Vela, Yessy dan Amanatia adalah tiga dari sekian seniman yang berkesempatan dalam mengikuti program seniman mengajar. Melalui berbagai bidang seni yang ditekuni oleh seniman partisipan program, banyak peristiwa muncul dari pertemuan budaya saat beraktivitas bersama. Seniman perempuan yang bergerak dari identitas personal disentuhkan dalam kondisi sosial budaya yang amat berbeda. Seniman berangkat dari kekuatan masyarakat budaya setempat, menatap lebih luas, mendengar lebih cermat, dan memaknai lebih dalam, perbincangan dalam rutinitas budaya tersebut. Tatapan inilah yang sehangat mungkin ingin dibagi dan diinteraksikan dengan rekan-rekan di luar program Seniman Mengajar 2019, agar lebih panjang bentang pengetahuan baru yang diproduksi bersama. #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive #magang #magangivaa #magangivaaoktoberdesember2019

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Mengintip Wilayah, Sejarah, dan Sistem Nilai Masyarakat Maluku

oleh Hardiwan Prayogo

Rabu sore, 2 Oktober 2019, Rumah IVAA kedatangan Hikmat Budiman, Pomad Wali, dan Octalyna Puspa Wardany. Mereka sengaja hadir untuk menjadi pemantik dalam diskusi buku yang berjudul Ke Timur Haluan Menuju. Buku ini berangkat dari hasil penelitian lapangan para peneliti Populi Centre di berbagai wilayah di Kepulauan Maluku. Berbagai isu dan persoalan dihadirkan dalam buku setebal 386 halaman ini. Mulai dari yang paling umum ketika membicarakan wilayah timur Indonesia seperti pembangunan infrastruktur. Kemudian mencoba lebih dalam dengan menelisik sejarah panjang tanah Maluku dengan rempah-rempah, masyarakat diaspora antara Seram Timur dan Papua Barat, gerakan adat dan transisi agraria, segregasi sosial dan spasial generasi muda Ambon, hingga studi kepemimpinan adat.

Dalam diskusi ini, arah pembicaraan mencoba dikerucutkan pada persoalan Jawa-sentrisme, khususnya dalam pembangunan wacana dan infrastruktur kesenian. Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh Yan Parhas, yang bertindak sebagai moderator diskusi. Dalam wacana ini, ketimpangan juga terjadi. Pertanyaannya adalah apakah ketimpangan lahir karena membayangkan pertumbuhan dan kemajuan yang sama? Apakah justru dengan berbagai ketimpangan, emansipasi justru bisa terjadi? Buku ini kemudian dilihat sebagai pemaknaan ulang atas nilai-nilai kemajuan tersebut. Dengan kata lain, timur sebagai pijakan berkembang. Maka untuk penajaman ke arah ini, dihadirkan Octalyna Puspa Wardany, yang akrab dipanggil Opee. Selain aktif sebagai kurator dan penulis berbagai pameran Opee juga merupakan Pendiri Rumah Produksi Seni Gerimis Ungu, inisiator proyek seni yang melibatkan antropolog dan seniman tahun 2011-2014. Sedangkan Pomad Wali adalah pria asal Maluku alumnus pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, dan telah menyunting beberapa buku.

Sebagai pemantik pertama, Opee menekankan pada rentang pembacaan buku Ke Timur Haluan Menuju yang cukup jauh. Ia bercerita bahwa buku ini membuatnya teringat tentang asal mula rempah-rempah tersebar ke seluruh dunia melalui kebudayaan maritim masyarakat Maluku, mencapai masa keemasan pada abad ke-9, hingga kemudian Eropa menginvasi dan dimulailah kolonisasi. 

Dalam konteks yang lebih luas, Opee menilai bahwa ada 3 pilar wilayah masyarakat adat, yaitu wilayah, sejarah, dan sistem nilai. Masyarakat adat yang selalu hidup dengan alam, menjadi bagian dari upaya dunia menjaga ekosistem alam. Secara sosial, masyarakat adat bisa beradaptasi dengan masyarakat modern. Meski pada akhirnya sosok raja menurun gengsinya, ia masih dianggap memiliki modal sosial yang kuat. Lebih jauh ada situasi di mana tokoh sosial, dalam hal ini raja, dipisahkan dengan tokoh spiritual. Artinya ada pemisahan antara pemimpin lokal dengan pemimpin spiritual. Situasi dalam jangka panjang melahirkan tarikan semakin jauh antara hal-hal yang bermuatan transenden menjadi profan. Akhirnya terjadi pergeseran dari spiritual menjadi sekadar ritual dan pertunjukan akibat pariwisata. Singkatnya tidak ada lagi nilai yang melekat dan bisa diberlangsungkan dalam hidup. 

Pomad kemudian melanjutkan diskusi dengan perspektif yang lain. Sebagai orang yang lahir di wilayah Maluku, telinganya begitu lekat dengan cerita sejarah wilayahnya yang melulu tentang peperangan. Sudut pandang demikianlah yang dihindari oleh buku ini. Pomad mengapresiasi langkah tersebut karena dinilai memberi sentuhan kebaruan. Di satu sisi, Pomad mengerti betul bahwa Maluku bukanlah entitas tunggal, apalagi homogen. Namun Negara masih kerap mengeneralisasinya sebagai ras timur. Jika identitas digeneralisasi, maka tidak mengherankan jika nilai-nilai yang beragam pun ikut dipukul rata dalam tatanan nilai universal.

Dari buku ini, Pomad melihat bahwa rempah-rempah bagi masyarakat Maluku adalah berkah sekaligus kutukan. Ia pun cukup mengetahui bahwa narasumber yang diwawancarai pada buku ini dinilai tidak jujur. Pomad sendiri mengaku mengenal cukup baik narasumber tersebut. Masyarakat Maluku sejatinya tidak mengenal istilah gerakan adat karena masih hidup dalam sistem kesukuan. Sistem ini membantu rekonsiliasi ketika terjadi konflik antar masyarakat. Namun sekarang rekonsiliasi sulit terwujud karena sistem kesukuan tidak lagi diterapkan karena satu dan berbagai hal. Bagi Pomad, pembacaan atas buku ini, jika tidak didampingi oleh buku yang lain, bisa menimbulkan tafsir tunggal yang keliru. 

Kemudian diskusi berkembang cukup luas ketika direspon langsung oleh Hikmat Budiman, editor buku ini yang juga sekaligus direktur Populi Centre. Intinya Hikmat menekankan bahwa penelitian ini ingin mengelaborasi metodologi penelitian lapangan yang kerap dilakukan Populi Centre. Mulai dari perkembangan wacana, hingga menguji problem-problem etik penelitian lapangan. Pemilihan atas wilayah timur Indonesia juga dinilai sebagai langkah strategis juga untuk menggali perspektif pinggiran. Seperti umumnya buku dengan topik yang jarang diangkat, Hikmat menantang pembaca merespon buku ini dengan riset-riset yang lebih komprehensif. Memang sulit mengklaim buku ini telah membuka tabir, namun setidaknya ia mencoba mengintip di antara celah-celah stereotipe yang biasanya melekat pada masyarakat di wilayah timur nusantara. 

Pada akhirnya, diskusi ini memang tidak berhasil secara gamblang untuk dikontekstualisasikan dengan fenomena kesenian, seperti yang diharapkan di awal forum. Pembacaan dari dua pemantik diskusi, dan satu penulis buku memang tidak menajamkan obrolan ke arah sana. Meski demikian, setidaknya ada banyak pertanyaan lebih lanjut yang  bisa digali dari buku ini, mulai dari persoalan metodologi, metode, perilaku etik peneliti, hingga posisi masyarakat lokal sebagai subjek pengetahuan. Buku ini bisa didapatkan dengan menghubungi akun instagram @ivaa_shop, atau langsung mengunjungi Rumah IVAA.

View this post on Instagram

Selama ini ekosistem kesenian di Indonesia cenderung memihak pada pusat-pusat kesenian yang secara geografis berada di wilayah Indonesia Barat dibanding di wilayah Indonesia Timur. Berbagai pertarungan wacana estetika, aktivisme, hingga pasar terjadi di ruang-ruang tertentu yang sebagian besar lokusnya ada di Indonesia Barat. Atau barangkali justru pandangan seperti ini yang bias pusat. Singkatnya, situasi ini dapat ditafsirkan sebagai ketimpangan dalam dunia kesenian Indonesia. Menilik bahwa kesenian memiliki konteks yang erat dengan lingkungan sosialnya secara dialektik, patut dicurigai bahwa kesenian turut berkontribusi dalam mengkonstruksi ketimpangan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur. #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Arsip Seni Rupa dan Aktivisme: Catatan dari Kuliah Nuraini Juliastuti

oleh Gladhys Elliona

Pertengahan Juli 2019 lalu, di ruang arsip Rumah IVAA, Nuraini Juliastuti (akrab disapa Nuning), seorang peneliti dan akademisi seni, menggelar kuliah kecil yang dihadiri belasan peneliti dan mahasiswa dari Victorian College of the Arts, University of Melbourne, Australia. Nuning menjelaskan soal perkembangan sejarah seni Indonesia kepada peserta. Ia memulai dari menerangkan dengan bagaimana Indonesia digambarkan sejak masa Hindia-Belanda. Bagaimana lukisan-lukisan yang didominasi oleh gambar lanskap Indonesia — yang disebut mooi indie atau hindia molek — adalah bentuk dari orientalisme, pandangan eksotis bangsa kolonial terhadap keadaan di Hindia-Belanda waktu itu. Dilanjutkan pada masa menjelang kemerdekaan, hingga beberapa tahun setelahnya, lukisan Indonesia diwarnai oleh gaya-gaya realisme sosial. Tema tersebut menitikberatkan keadaan Indonesia yang menjadi negara baru dan memberikan pandangan senyatanya dengan narasi yang dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri. Bukan hanya untuk merepresentasikan Indonesia dengan semacam eksploitasi keindahan geografis, tetapi juga menyorot pada apa yang terjadi di dinamika sosial Indonesia.

Kemudian, dengan perkembangan pembangunan infrastruktur serta naiknya Orde Baru, fokus dalam seni lukis dan seni rupa Indonesia secara keseluruhan beralih. Beriringan dengan mencuatnya industrialisasi, komunitas seniman secara langsung maupun tidak membuat diskursus tentang kontrasnya hidup di kota dan desa, serta pandangan akan ketimpangan ekonomi maupun gaya hidup yang semakin jauh. Peralihan pandangan tentang urbanisasi, transmigrasi yang kadang dipaksakan, serta distribusi populasi yang selalu menjadi masalah menjadi turunan diskursus tersebut. Wacana seni rupa pun berubah menjadi ‚Äėmanusia dan alam melawan teknologi serta perkembangan industri‚Äô. Terjadinya krisis ekonomi di akhir Orde Baru menggiring Indonesia ke era Reformasi. Selama Soeharto memimpin dari 1966-1998, pemerintah membangun pusat-pusat budaya di setiap provinsi. Institusi seni yang digagas pemerintah tersebut menjadi semacam kontrol atas rakyat, bahwa setiap karya seni mesti disetujui oleh lembaga pemerintah.

Nuning juga menjelaskan peran aktivisme seni saat era Reformasi, ketika gelombang perlawanan dari mahasiswa menguat pada 1994, tahun pertama saat Nuning berkuliah. Aktivisme dan seni berkelindan dimulai dari bagaimana orang-orang mengklaim kembali ruang-ruang di Jogja, termasuk ruang kebudayaan untuk mengekspresikan kritiknya atas pemerintahan. Dari sana, membuat karya seni yang kritis terhadap pemerintahan menjadi penting dilakukan. Setelah Reformasi terjadi, tepatnya pasca 1998, aktivisme mulai memiliki tempat yang cair dalam seni, seperti seni rupa, film, media, dan di semua bentuk yang biasanya dikuasai oleh propaganda pemerintah.

Berkenaan dengan arsip sebagai salah satu bagian dari politik budaya, salah satu peserta kuliah bertanya perihal seni visual apa yang kemudian berhak diarsipkan dan dianggap sebagai arsip. Nuning menjelaskan bahwa arsip sangat bergantung dengan era yang sedang terjadi, karena bagaimana masa dan institusi mendeskripsikan arsip berubah seiring waktu dan kepentingannya. 

Nuning menambahkan bahwa penting untuk menghubungkan arsip dan aktivisme. Dari situ kita bisa meninjau ulang makna-makna aktivisme dalam tiap karya seni visual — terlebih pasca Reformasi. Di sini kemudian juga muncul satu poin bahwa pengarsipan sebenarnya adalah bagian dari aktivisme itu sendiri. Bahwa kemudian arsip menjadi sebuah gerakan yang memiliki ketahanan, dan dimaksudkan sebagai aktivitas jangka panjang. Nuning menegaskan, bahwa keberadaan Indonesian Visual Art Archive, sebagai lembaga alternatif dan mengusung aktivisme dengan cara lain, merupakan satu dari beberapa lembaga lain yang bertahan lama, menimbang sebagian besar kelompok, kolektif atau institusi alternatif rata-rata berumur pendek di Indonesia.

Seni dan aktivisme di Indonesia juga tidak lepas dari isu-isu global seperti konservatisme agama dan penerimaan gender ketiga, isu-isu berkenaan dengan kelompok queer atau gender non-biner. Dua kubu itu tentu tidak bisa saling bertemu dan perselisihan sering tak terelakkan. Ruang-ruang alternatif kemudian memberikan tempat bagi aktivisme gender. KUNCI Cultural Studie Center mengadakan pemutaran film oleh sutradara transgender Tamara Pertamina. Film-film yang dihadirkan pun berguna untuk membuka pengetahuan Bissu sebagai gender kelima dan budaya Sulawesi Selatan. Namun, acara ini tidak diumumkan secara masif karena masih adanya ketakutan akan tanggapan masyarakat serta kesadaran atas ancaman dari kaum konservatif. 

Di akhir kuliah, Nuning kemudian menjelaskan beberapa kolektif seni yang dapat menyuarakan pendapat dan ekspresi seni sebagai kegiatan politis, misalnya praktik kelompok Taring Padi. Beberapa gerakan seni juga berorientasi pada masyarakat dan kewargaan yang tidak secara literal menasbihkan diri sebagai gerakan politik, tetapi bentuk tersebut juga dapat dimasukkan ke dalam seni yang mengusung aktivisme, seperti Mulyono yang membuat Kesenian Unit Desa: mengajak serta memberdayakan warga desa dan kampung kota untuk berkegiatan seni dan menyuarakan pendapat dari praktik artistik. 

Dari sini pula, seni sebenarnya sangat bergantung pada ruang aman untuk para seniman dengan identitas dan karyanya, untuk tetap menyelipkan aktivisme dan atau isu yang ingin mereka usung dalam setiap kerja artistiknya. Hal ini menandakan bahwa posisi seniman di Indonesia umumnya masih prekariat dan berada dalam keadaan rentan akan tanggapan sosial serta pandangan bahwa karya yang dihasilkan akan selalu melawan norma-norma yang ada. Padahal, tujuan aktivisme dalam seni adalah untuk menampakkan realita yang direpresi, serta menjadikan seniman sebagai warga berdaya, warga yang juga terlibat pada diskursus politik untuk menipiskan sekat antara suara rakyat dan pemerintah.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

From Statue to Pillory

Oleh Hardiwan Prayogo

Kita tentu lebih familiar bahwa monumen selalu berbentuk patung. Lantas bagaimana dengan pillory? Ini adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Hans Van Houwelingen, seniman Belanda yang fokus dengan gagasan seni di ruang publik. Dalam diskusi di Rumah IVAA yang berlangsung Sabtu, 11 Mei 2019, dia mempresentasikan proyek pembuatan pillory di Belanda. Pillory secara umum dapat diartikan sebagai counter-monument, meski secara detail ia cukup berbeda karena bukan hanya menghapus monumen (ingatan buruk) tetapi justru menghadirkan pembandingnya. Itu pula kenapa diskusi ini bertajuk From Statue to Pillory ini, mempersoalkan makna monumen sebagai artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. 

Gagasannya berangkat dari kegelisahan atas monumen yang dibangun untuk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda yang membantai ribuan orang dalam Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yang telah dilakukannya. Serta masih menganggap Van Heutsz sebagai salah satu pahlawan nasional. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. 

Hans memulai presentasinya dengan menunjukan video orang-orang merusak monumen dari tokoh-tokoh yang dianggap sebagai penjahat kolonial. Dia merasa masyarakat perlu mengingat memori buruk dan perlu melakukan tindakan nyata seperti melempari monumen dengan kentang hingga kotoran. Semacam menjadi pengingat supaya kejahatan-kejahatan masa lalu tidak terulang. 

Diskusi yang digelar atas kerjasama dengan Brikolase ini sengaja untuk mendengar perspektif dari orang Indonesia, sebagai pihak yang menjadi wilayah koloni. Maka diskusi yang berlangsung hampir 2 jam ini, lebih banyak mendengarkan opini dari audiens. Di antara mereka ada yang aktif sebagai aktor kesenian, seperti Agung Kurniawan, Iwan Wijono, Nindityo Adipurnomo, Sanne Oorthuizen, dan beberapa akademisi. 

Beberapa feedback menarik terlontar dari forum tersebut. Dikatakan bahwa kehadiran pillory bisa jadi akan dimaknai berbeda oleh orang Indonesia. Ini disebabkan oleh setiap masyarakat memiliki kultur tersendiri untuk mengingat peristiwa-peristiwa traumatiknya. Tidak semua lapisan masyarakat berani untuk menunjukkan kemarahan dan kebenciannya, bahkan terhadap orang-orang yang sudah jelas telah melakukan kejahatan terhadap mereka. Dengan kata lain, kita memiliki cara tersendiri untuk ‚Äúberdamai‚ÄĚ dengan ingatan. Persoalan lain yang menghinggapi adalah bagaimana cara dan untuk apa masyarakat kita memaknai sejarah dan mental serta perilaku macam apa yang perlu dirubah untuk memaknai kolonialitas.

Pada akhirnya diskusi ini memang tidak disimpulkan secara eksplisit. Namun rasanya satu hal yang dipelajari Hans dari diskusi ini adalah kita harus awas terhadap kehadiran monumen dan pemaknaan atas sejarah dan cara pandang siapa yang diwakili oleh kehadiran monumen di ruang publik. Sudah barang tentu bahwa cara masyarakat Eropa memaknai sejarah dan masa lalunya tidak akan bisa semudah itu diterapkan pada konteks  masyarakat yang pernah menjadi wilayah koloni.

View this post on Instagram

Hans Van Houwelingen sharing dan ngobrol-ngobrol soal proyek seninya yg berjudul From Statue to Pillory, yg mempersoalkan makna monumen sbg artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. Berangkat dari monumen yg dibangun utk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda, yg membantai ribuan orang dlm Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yg telah dilakukannya. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. Acara ini kerjasama dengan @brikolase Di Ruang pamer Lt.2 Rumah IVAA Foto oleh Emon @rully_ap #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Asana Bina Seni Biennale Jogja

Oleh Sukma Smita

Mengutip publikasi dalam laman Biennale Jogja, inisiasi penyelenggaraan Asana Bina Seni terinspirasi oleh Asana Bina Widya, sebuah lembaga bimbingan belajar yang ‚Äėberfungsi‚Äô sebagai komplemen atas materi pelajaran dari sekolah. Berangkat dari gagasan atas kebutuhan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam pada kerja-kerja kesenian yang tidak banyak diberikan oleh lembaga pendidikan formal, Asana Bina Seni menawarkan 3 subjek utama dalam kelasnya, yaitu:

  1. Manajemen Seni
  2. Kuratorial
  3. Apresiasi Seni

Model pendidikan alternatif di luar kelas belajar formal dalam dunia kesenian sebelumnya sudah pernah dilakukan misal dalam nyantrik, yaitu praktik bagaimana seniman muda belajar dan dibimbing oleh seniman yang lebih senior melalui sanggar-sanggar. Pendidikan alternatif juga semakin naik daun belakangan ini melalui berbagai workshop artistik, kelas belajar pengembangan kapasitas, hingga kelas-kelas kajian seni yang dibuka oleh para pekerja seni dalam lingkup individu maupun kolektif di galeri-galeri. Ketika perkembangan metode eksperimen artistik dan wacana dalam seni berjalan begitu cepat, tidak mengherankan jika kebutuhan atas produksi hingga konsumsi pengetahuan juga turut bergerak cepat.

Sepanjang penyelenggaraan Asana Bina Seni, IVAA terlibat dalam penyediaan ruang belajar untuk beberapa materi Manajemen Seni dan Kuratorial. Dari total 17 materi dalam kelas tersebut, 5 diantaranya diadakan di IVAA. Kelas-kelas yang diberikan diampu oleh praktisi dan banyak membagikan pengalaman kerja harian mereka sekaligus siasat untuk mengatasi berbagai kendala dan kebutuhan. Dalam kelas Manajemen Seni pengampu yang dihadirkan adalah orang-orang yang bekerja langsung dalam pengorganisasian dan produksi seni. Untuk Materi Pengelolaan Keuangan Festival dan Lembaga Seni, Verry Handayani bercerita tentang pengalamannya sebagai pengelola keuangan berbagai festival yang diselenggarakan di beberapa daerah oleh Yayasan Umar Kayam serta pengalaman mengelola keuangan Forum Aktor Yogyakarta. Verry membagikan perihal dua pengalaman bersiasat yang jauh berbeda: soal bagaimana siasat keuangan tidak hanya tentang mengalokasikan dana dengan adil dan tepat, tapi juga memikirkan kebutuhan keberlangsungan hidup ruang maupun kegiatan yang berkelanjutan.

Dalam kelas Kuratorial, dihadirkan Mit Ja Inn, seniman Thailand yang bercerita tentang pengalamannya terlibat dan menginisiasi Chiang Mai Social Installation pada 1992. Dalam kelas yang dihadiri tidak hanya oleh peserta kelas yang terdaftar namun juga beberapa seniman dan pekerja seni undangan ini, muncul diskusi panjang tentang pembandingan peristiwa seni pada tahun yang sama di Yogyakarta. Chiang Mai Social Installation saat itu diinisiasi atas kebutuhan mendekatkan seni yang dinilai berjarak dengan publik. Pada tahun yang sama di Yogyakarta diselenggarakan pula Binal Eksperimental, sebuah pameran tandingan Biennale #3 Seni Lukis Yogyakarta yang digagas oleh seniman-seniman muda. Diskusi juga berlanjut dengan membandingkan peristiwa lain di kawasan Asia Tenggara dan bagaimana hal itu bisa seolah saling berkaitan: imajinasi macam apa yang sedang menggerakkan publik seni pada waktu itu. 

Serangkaian materi dalam kelas Asana Bina Seni seharusnya bisa lebih dari komplementari atas ilmu yang diberikan lembaga pendidikan formal. Sebagai ruang belajar alternatif  yang bertujuan untuk membagi pengetahuan seni secara lebih luas dan mendorong interaksi yang dinamis antar berbagai kelompok masyarakat, Asana Bina Seni barangkali mampu memantik diskusi yang lebih luas tentang peran-peran yang muncul dalam produksi seni. Dalam konteks produksi seni, kita kadang masih terjebak dalam pemisahan antara yang utama dan pendukung. Padahal jika ditilik lebih dalam, terutama terkait dengan perkembangan wacana seni yang semakin pesat serta bentuk kerja bersama yang semakin beragam, posisi peran satu dengan yang lain sangatlah cair dan tidak lagi tersekat oleh hirarki struktural secara kaku. 

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

SIKLUS 1.0 

Oleh Najia Nuriyana

Sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, pada Jumat, 3 Mei 2018 IVAA menggelar acara bertajuk ‚ÄúSiklus 1.0‚ÄĚ di Rumah IVAA. Siklus 1.0 merupakan wujud kolaborasi untuk mendorong aktivasi ruang perpustakaan IVAA yang dikemas dengan cara berbeda. Terdapat beberapa rangkaian acara menarik, seperti Be Kind Rewind (pemutaran film), dongeng seniman, panggung musrary, garage sale dan lapak IVAA dengan diskonnya.¬†

Pukul 16.00 rangkaian acara dimulai dan diawali dengan Be Kind Rewind yang dikuratori langsung oleh Hardiwan Prayogo. Bertempat di ruang pameran IVAA lantai 2, empat film berbeda genre menjadi pilihan kali ini. Film-film yang ditawarkan merupakan koleksi arsip IVAA sekaligus menjadi salah satu contoh penggunaan arsip dalam berbagai format analog. Empat film tersebut adalah¬†Kunjungan Spesial (2015)-sutradara: Zen Al-Ansory, Tuan Spies (2017)-sutradara: Putri Rae Harbie, Topo Pendem (2018)-sutradara: Imam Syafi’I, dan Artisan (2017)-sutradara: Ika Nur Cahyani.

Kunjungan Spesial (2015) menceritakan seorang wanita bernama Kelana yang sedang melawat binatang kesayangannya, seekor babi. Babi menjadi simbol manusia dalam cerita mitologi penunggu lilin di Indonesia. Film ini menceritakan bagaimana Kelana memperlakukan babi kesayangannya. Ia membawa makanan dengan rantang, sambil sesekali menari bebas. Film Tuan Spesies (2017) berlatar belakang Pulau Dewata Bali, menghadirkan analogi hubungan Ibu dan anak. Kehadiran Walter Spies ke Bali seperti dua sisi mata uang, saling bertentangan antara yang baik dan yang buruk. Di sini Spies berperan sebagai sosok yang akan menerima surat cinta dari Pulau Bali. Sedangkan film Topo Pendem (2018) bercerita  tentang bagaimana seorang bapak menyembuhkan anaknya dengan cara bertapa mengubur diri di dalam tanah. Yang terakhir, film Artisan (2017) bercerita tentang kehadiran artisan di balik sosok para seniman yang tersohor. 

Puncak acara dimulai pada pukul 19.30 dengan diawali beberapa guyonan dari pembawa acara, Dwi Rahmanto dan Najia, lalu dilanjutkan dengan obrolan singkat soal e-newsletter IVAA edisi Maret-April. Panggung musrary (music from library) dan dongeng seniman menjadi acara inti. Beberapa band lokal seperti Nada Bicara dan Half Eleven PM dengan lagu-lagu bertema isu-isu sosial memeriahkan musrary. Untuk dongeng seniman, IVAA mengundang Arsita Iswardhani, Umma Gumma, dan Gladhys Elliona Syahutari. Mereka menarasikan ulang transkrip rekaman radio Dialog Seni Kita (DSK) dalam bentuk dongeng. Transkrip yang dipilih adalah Wacana Seni dan Konsep karya Aminuddin Th. Siregar dan Sunardian Wirodono, serta dialog bersama Dr. Mudji Sutrisno SJ berjudul Reposisi Peran Kesenian dalam Gerakan Kebudayaan Kini. 

Tak lupa Lapak IVAA hadir melengkapi keseluruhan acara dengan berbagai koleksi buku dan merchandise yang ditawarkan dengan diskon 20%. Selain itu di sela-sela acara juga diumumkan pemenang giveaway dari IVAA Shop, dengan hadiah buku bagi empat pemenang.

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Safari JAP (Jadikan Aku Pustakawan)

Oleh Santosa Werdoyo

Safari JAP adalah program perpustakaan IVAA untuk mengunjungi beberapa institusi perpustakaan di Yogyakarta guna belajar mekanisme pengelolaan mereka. Kali ini kami bersafari di Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dan Perpustakaan Open Page. Safari ini diposisikan sebagai titik awal menggali informasi aktivasi perpustakaan sembari membangun jaringan sosial. Selain membagikan pengalaman safari, tulisan ini juga berisi kilas balik IVAA seputar program Library Project dan Jogjalib.net. 

Library Project merupakan sebuah jejaring perpustakaan alternatif yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Cemeti (YSC). Salah satu outputnya adalah penerbitan direktori perpustakaan alternatif tahun 2005 dengan jumlah 36 perpustakaan alternatif yang berada di Yogyakarta. Perpustakaan alternatif tersebut¬† dibagi menjadi empat bagian berdasarkan bidang yang dipilih dengan spesifikasinya. Empat bagian itu adalah Seni Kebudayaan dan Tradisi, Perpustakaan Komunitas dan Anak ‚Äď anak, Studi dan Kajian, serta Perpustakaan Plus. Fungsi Library Project adalah sebagai awal untuk terciptanya iklim saling mendukung dan bekerja sama, sehingga akan terbangun perluasan akses jaringan dan kebutuhan informasi yang aktual serta kemudahan akses bagi pengguna perpustakaan alternatif. Setelah Library Project ada forum lanjutan bernama Biblio yang memiliki program khusus meningkatkan kapasitas pengelolaan perpustakaan alternatif.

Setelah Library Project dan Biblio, IVAA juga menjadi anggota dari forum Jogjalib.net, sebuah jaringan yang lebih luas cakupan anggotanya dengan basis pengelolaan SLiMS (Senayan Library Management System). Jaringan yang berbasis SLiMS ini menggabungkan katalog bersama anggota-anggotanya dengan tujuan memudahkan pencarian koleksi dalam satu penelusuran di dalam satu jaringan.

Sayangnya program serta jaringan di atas sudah vakum. Oleh karena itu, IVAA mencoba menggali kembali potensi jaringan yang mungkin lebih kontekstual dengan cara bersafari menjalin kembali jaringan-jaringan tersebut, dengan tambahan perpustakaan baru yang tidak termasuk dalam jaringan keduanya. Awal kegiatan safari adalah anjang sana,  berbagi pengalaman, dengan mengantongi beberapa pertanyaan seperti bagaimana mereka mengelolanya, siapa yang mengakses koleksi, fasilitas apa saja yang ada, serta sebaran koleksinya.

Safari ini kami siapkan dengan bekal sebuah FGD yang dihadiri oleh Yayasan Umar Kayam, Gerak Budaya, Perpustakaan Gunung Kidul dan WALHI Yogyakarta. Di dalam pertemuan tersebut muncul kegelisahan yang sama terhadap pengelolaan perpustakaan, sistem, katalogisasi, pengunjung yang sepi, hingga sumber pendanaan yang minim. Kegelisahan IVAA sendiri dalam aktivasi perpustakaan adalah informasi yang kurang aktual terkait perkembangan dunia perpustakaan dan persoalan mitra berjejaring. Dari obrolan itulah ide Safari JAP muncul. Sejauh ini Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman serta Library Open Page menjadi rujukan awal. 

Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dibuka untuk umum pada hari Senin-Jumat pada jam 09.00-14.00, kecuali hari Jumat pada jam 09.00-11.00. Di perpustakaan itu terdapat arsip-arsip jaman pemerintahan Pakualam I hingga IX. Kebanyakan adalah arsip administrasi kerajaan. Arsip-arsip tersebut disusun berdasarkan kronologi waktu raja bertahta, baru setelahnya berdasarkan tema-tema spesifik. Ada 251 koleksi manuskrip dan 500 buku yang disimpan dengan sistem Dewey Decimal Classification (DDC), sistem kategorisasi standar perpustakaan internasional. Manuskrip tertua adalah tahun 1812 yang menceritakan perjalanan Paku Alam I ketika dibuang dari kerajaan. Meski milik Pakualaman, pengelolaannya bekerja sama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (BPAD) Provinsi DIY.

Setiap lembar arsip dibungkus kertas dan diberi kode penyimpanan. Semua dimasukkan ke dalam kotak kardus dan disimpan di rak almari besi yang tertutup rapi. Perawatan arsip adalah dengan fumigasi dan restorasi. Fumigasi untuk mencegah serangan serangga pemakan kertas dan restorasi untuk arsip yang sudah sangat rapuh karena usia. Selain itu juga dilakukan digitalisasi terhadap semua arsipnya. Data-data digital tersebut disimpan di BPAD. 

Selanjutnya, perpustakaan Open Page menjadi tempat kunjungan kedua. Perpustakaan ini terletak kurang lebih 15 km ke arah utara kota Yogyakarta. Udara yang masih sejuk, buku koleksi yang tertata rapi, dan ruangan yang cukup lebar menjadikan perpustakaan ini sangat nyaman untuk dikunjungi. 

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku sebanyak 5000-an buah dengan tema sosial-politik yang dominan serta berbahasa Inggris. Semuanya milik Max Lane dan Faiza Mardzoeki. Artinya, perpustakaan ini adalah perpustakaan pribadi. Meski demikian, ia dibuka untuk umum pada Sabtu, Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 11.00. 

Sejauh ini kami belum bisa menentukan bentuk kelanjutan dari program Safari JAP. Kami masih terus meraba segala kemungkinan dengan modal jaringan serta informasi terkait perpustakaan yang sudah kami peroleh.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Pengarsipan untuk Institusi, Pengarsipan untuk Pengetahuan

Oleh Lisistrata Lusandiana

Pada tanggal 23 hingga 25 Mei 2019, IVAA diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam simposium dan workshop bertajuk Creating Institutional Memory, yang diselenggarakan oleh Asia Art Archive (AAA) bekerja sama dengan M+. Dilaksanakan di AAA Hong Kong, simposium dan workshop ini dihadiri oleh undangan dan partisipan yang telah mendaftar. Sebagian besar partisipan merupakan bagian dari jaringan kerja AAA dan M+, seperti AAA India, Singapore Art Museum, Bamboo Curtain Studio Taiwan, dan beberapa lembaga seni kontemporer lainnya, yang juga melakukan kerja dokumentasi serta penyimpanan dan kelola aksesnya.

Tiga hari acara ini diisi dengan berbagai acara, mulai dari presentasi narasumber, diikuti dengan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan workshop dan kerja kelompok. Dibuka dengan presentasi yang dilakukan oleh Nancy Enneking dari The Getty, disambung dengan beberapa agenda acara yang pada dasarnya ditujukan bagi para arsiparis untuk membagi landasan metode dan metodologi pengelolaan penyimpanan serta pengelolaan akses dari koleksi yang dimiliki oleh tiap lembaga yang hadir pada saat itu.

Acara ini juga diinisiasi atas dasar kebutuhan lembaga penyelenggara untuk melakukan refleksi atas penyelenggaraan program Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA, serta kebutuhan M+ untuk membangun model pengarsipan institutional yang sedang mereka kerjakan. Di sela-sela itu terdapat berbagai lembaga dokumentasi, pengarsipan serta museum, baik yang dikelola oleh swasta, pemerintah, dengan berbagai skala. Ada yang menempatkan kerja pengarsipan sebagai program utamanya, ada juga beberapa lembaga dan komunitas yang menempatkan kerja pengarsipannya sebagai kerja pendukung, baik mendukung komunitas secara administratif, ataupun secara intelektual dengan menjadi penyedia data dan informasi yang bisa diolah kapan saja untuk kepentingan penelitian.

Meski berangkat dari tema yang cukup spesifik, yakni seputar memori institusional, diskusi dan pembicaraan yang muncul dari forum ini menjadi sangat general dan luas, mengingat beragamnya lembaga dengan tantangan serta persoalannya sendiri, serta memiliki beragam cara dalam mengelola memori institusi. Salah satu hal yang juga tidak bisa ditinggalkan dalam pembicaraan seputar memori institusional ialah soal kondisi ekonomi politik dari tiap lembaga yang ada. Bahwa tidak semua lembaga memiliki sumber dana yang selalu aman dan bisa diandalkan. Tidak semua lembaga memiliki perangkat dan daya dukung yang lengkap dalam menjalankan sistem pengarsipan seperti yang sudah dilakukan oleh lembaga yang lebih lama hadir dengan sistem yang konsisten serta sumber dana yang kuat. Selain itu juga terdapat berbagai konteks sosial politik yang juga tidak bisa diabaikan. Bahwa model pengarsipan yang dikelola hari ini sudahkah berdasar pada logika akses yang selama ini dibutuhkan oleh publik dalam memproduksi pengetahuannya sehari-hari? Apakah praktik ini juga bisa mengakomodasi beragamnya model pengarsipan seni budaya yang hidup di masyarakat kita? Berbagai pertanyaan itulah yang menjadi pijakan awal dari paparan yang saya bagikan di forum tersebut.

Selain itu, berbagai narasumber juga membagikan dinamika kerja pengarsipan serta tantangan hingga kemajuannya. Alan Chan, dari AAA, membagikan pengalamannya selama terlibat dalam Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA. Angharad McCarrick dari M+ juga memaparkan landasan filosofis dari pekerjaannya sebagai arsiparis institusional. Sementara, Michelle Harvey menuturkan sejarah MoMa dari awal mulanya yang masih sangat kecil dan sederhana hingga saat ini. Selain itu juga ada Sezin Romi dari SALT yang membagikan model pengarsipannya yang dibangun dari nol dan berbasis eksperimen.

Bagi lembaga pengarsipan seperti IVAA yang memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang berserak, dengan sistem penyimpanan yang dibangun sambil jalan, sambil dikembangkan dan diperbaiki, di saat yang bersamaan juga memikirkan cara terbaik untuk tetap bertahan dan hadir untuk publik. Forum berbagi ini akan lebih produktif jika tidak meninggalkan pembicaraan seputar konteks. Di atas konteks apa kerja pengarsipan hadir, bagaimana kondisi sosial ekonomi hadir sebagai pendukung sekaligus tantangan dari kerja pengarsipan. Dan yang tak kalah penting dari semua pembicaraan itu ialah bahwa kerja pengarsipan, penyediaan data informasi dan mendukung penelitian tidak bisa dipisahkan dari spirit dasarnya, yakni kerja produksi pengetahuan, yang juga tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang beroperasi. 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.