Tag Archives: agendarumahIVAA

Pra Kongres Kebudayaan 2018, Ragam Masalah dan Rekomendasi Menuju Strategi Kebudayaan

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai lembaga yang dekat dengan kerja kebudayaan, IVAA mendapat undangan untuk mengikuti Pra Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) pada 4-6 November 2018. Acara yang bertempat di The Sultan Hotel & Residence Jakarta ini digelar oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pra KKI merupakan forum diskusi yang melibatkan para ahli dan pekerja kebudayaan, yang terbagi ke dalam 11 forum dari total 24 forum, yang mendiskusikan serangkaian aspirasi ruang sektoral terkait ekosistem kebudayaan, untuk menyusun rekomendasi dalam kepentingan perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan.

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi titik tolak diselenggarakannya Pra KKI. Sebagai langkah pemerintah yang berbeda dari seluruh KKI sebelumnya, Pra KKI dimaksudkan untuk mengawali KKI 2018 dengan rekomendasi berbasis forum diskusi. Pra KKI menjadi bagian besar dari proses perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan yang telah didasarkan atas penyusunan PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) dari kabupaten sejak Maret 2018.

Dari 11 forum, IVAA berpartisipasi ke dalam forum Kajian dan Pendidikan Tinggi Kebudayaan. Forum ini diikuti oleh mereka yang dianggap sebagai representasi pendidikan tinggi (seni), institusi riset, asosiasi keilmuan, pusat studi, dan eksekutif birokrasi. Oleh karena itu, forum ini dipecah kembali ke dalam dua kelompok, yakni Kelompok Gabungan 1 (institusi riset, pusat studi, eksekutif birokrasi) dan Kelompok Gabungan 2 (asosiasi keilmuan dan perguruan tinggi). Secara ringkas, tujuan dari forum ini adalah untuk mengidentifikasi masalah kebudayaan apa yang muncul, inisiatif apa yang sudah dilakukan, dan merumuskan rekomendasi yang layak ditempuh.

Dalam Kelompok Gabungan 1 ada empat isu yang dibicarakan selama proses diskusi. Pertama, soal diskonektivitas antar stakeholder dan antar bagian dalam institusi. Bahwa masih ada jarak yang lebar antara proses dan hasil penelitian kebudayaan dengan dinamika masyarakat. Selain itu diskonektivitas juga terjadi antar institusi pendidikan dengan pemangku kebijakan. Pemerintah di level daerah tidak menjalankan fungsinya sebagai badan penyalur hasil penelitian kepada masyarakat. Persoalan diskonektivitas ini membuat pemanfaatan hasil penelitian atau kajian untuk perumusan kebijakan dan ranah pendidikan tidak terjadi.

Isu kedua adalah bahwa stakeholder masih memiliki visi dan misi yang terbatas tentang pentingnya kebudayaan dalam pembangunan. Kebudayaan beserta ilmu mengenainya masih didudukkan lebih rendah dari kepentingan industri dan ilmu eksak. Oleh sebab itu, perhatian terhadap kajian kebudayaan bersifat terbatas sehingga informasi tentang kebudayaan pun sangat minim. Namun, inventarisasi data kebudayaan melalui PPKD dapat menjadi pintu masuk yang cukup potensial.

Isu ketiga masih berkaitan dengan perihal visi dan misi, bahwa stakeholder memiliki visi dan misi yang parsial. Tidak ada visi dan misi yang solid dari seluruh daerah terkait pemajuan kebudayaan. Kompleksitas isu kebudayaan di daerah tidak terpetakan dan terpotret dengan baik oleh ilmuwan. Tulung Agung menjadi contoh kasus yang diangkat. Dulu ada ratusan kelompok ketoprak, tapi sekarang tidak ada lembaga yang mampu memberi data tentang itu. Jadi ketika kita bicara soal ketoprak, kita hanya bicara soal imajinasi.

Persoalan diseminasi menjadi isu yang terakhir dibicarakan dalam kelompok ini. Para peserta melihat bahwa hasil riset atau kajian kebudayaan tidak didiseminasikan dengan tepat. Tidak ada proses translasi dari bahasa riset ke bahasa masyarakat dan bahasa kebijakan untuk sistem pendidikan. Pengelolaan informasi yang buruk (lack of information management) juga muncul, terutama di level daerah.

Dari keempat isu itu, kelompok ini menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Penciptaan ruang-ruang kolaboratif di berbagai tingkat dengan cara membentuk MoU, pokja (kelompok kerja), dan perjanjian kerja sama.
  2. Membuka akses perguruan tinggi kepada sumber data (dokumen PPKD) yang dimiliki.
  3. Harus ada executive review PPKD di level nasional dan tingkat kabupaten/ kota yang menjadi acuan.
  4. Pembentukan pokja untuk menindaklanjuti dan me-review dokumen PPKD untuk dituangkan sebagai renstra (rencana strategis) pemerintah kabupaten/ kota.
  5. Optimalisasi fungsi litbang baik di tingkat nasional/ kabupaten/ kota untuk menstimulasi koordinasi lintas pihak intra dan ekstra instansi.
  6. Mengintegrasikan fungsi litbang dan humas untuk mengolah hasil penelitian agar bisa dikelola dan didiseminasikan.

Kelompok Gabungan 2 juga memiliki poin-poin masalah yang telah diidentifikasi. Pertama, berhubungan dengan poin masalah dari Kelompok Gabungan 1, adalah soal sinergitas. Bahwa konektivitas antar asosiasi keilmuan atau lintas lembaga dengan masyarakat belum maksimal. Dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah serta lembaga negara yang lain pun, sinergitasnya belum terwujud dengan baik. Bagi kelompok ini, masalah konektivitas juga terkait dengan beberapa masalah lain, seperti belum seluruh disiplin ilmu bidang kebudayaan memiliki asosiasi lembaga keilmuan murni dan terapan, asosiasi keilmuan belum berdaya dalam penguatan SDM dan infrastrukturnya, belum seluruh asosiasi keilmuan memiliki dewan etik dan kode etik, dan belum adanya rekomendasi secara berkala dan kontekstual dari asosiasi keilmuan mengenai pemajuan kebudayaan.

Isu yang kedua adalah soal regulasi. Ada beberapa poin masalah seperti belum terbitnya PP pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan dan regulasi turunannya untuk mengatur peran lembaga perguruan tinggi, belum ada perlindungan keamanan yang maksimal dari negara terhadap kegiatan berkebudayaan baik kepada perguruan tinggi maupun masyarakat, dan ada kecenderungan keterbatasan perspektif dalam studi seni (skripsi, tesis, dan disertasi).

Isu program juga menjadi sorotan dalam perbincangan, bahwa program pendampingan, event-event kebudayaan, riset, kekaryaan oleh perguruan tinggi bidang kebudayaan belum maksimal. Mungkin masalah itu berhubungan dengan persoalan anggaran atau pendanaan. Kelompok menilai bahwa belum ada anggaran pemajuan kebudayaan yang tersalurkan kepada perguruan tinggi terkait riset bidang kebudayaan.

Dari beberapa masalah tersebut kelompok ini memberikan beberapa poin rekomendasi:

  1. Pengelola kebudayaan harus mengarusutamakan pemahaman dari perspektif pemilik kebudayaan terkait dengan upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara berkelanjutan.
  2. Inventarisasi dan identifikasi kajian-kajian kebudayaan secara berkesinambungan yang berorientasi pada pengembangan keberagaman, pemberdayaan sumber daya, penguatan jati diri melalui Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu yang dipublikasikan melalui portal pemajuan kebudayaan yang dapat diakses publik.
  3. Debirokratisasi sistem pelaksanaan riset kebudayaan dalam rangka optimalisasi pengembangan ilmu-ilmu kebudayaan.
  4. Sinergitas peran pemerintah pusat dan daerah, lembaga negara yang lain, swasta, dan masyarakat penyangga dalam mewujudkan gerakan nasional penguatan ekosistem pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan.
  5. Mendesak penerbitan regulasi dalam semua tingkatan hirarki perundang-undangan dalam hal penguatan pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan dalam rangka pemajuan kebudayaan.
  6. Meningkatkan peran dan posisi pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam pembangunan yang berkelanjutan berbasis kebudayaan melalui forum tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional (dunia).
  7. Optimalisasi peran pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam program diplomasi kebudayaan sebagai upaya peran aktif negara dalam mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.

Ada satu lagi poin yang didiskusikan, yakni soal kebudayaan maritim. Forum menilai bahwa kebudayaan maritim belum tersentuh sebagai objek penelitian keilmuan budaya maupun pemanfaatannya sebagai sumber daya kebudayaan. Oleh karena itu, rekomendasi yang diajukan adalah pengembangan peran PELNI sebagai Universitas Kebudayaan Maritim dan pengembangan program pembelajaran yang terintegrasi di bidang penyelenggaraan festival, pameran, pertunjukkan di atas kapal PELNI, sekaligus perjalanan budaya yang memfasilitasi dosen dan mahasiswa dalam rangka pengembangan literasi kebudayaan.

Poin-poin masalah dan rekomendasi di atas hanyalah satu dari sebelas forum lainnya. Belum lagi tiga belas forum di luar acara Pra KKI. Bisa dibayangkan betapa banyak masalah dan rekomendasi perihal kebudayaan yang nanti akan dirumuskan ke dalam satu komando Strategi Kebudayaan. Rasa kepemilikan yang tinggi menjadi harapan dari ambisi pemerintah untuk mencoba merumuskan Strategi Kebudayaan yang berangkat dari konteks daerah, seperti penggalan sambutan Hilmar Farid demikian,

“Yang penting dari penyelenggaraan KKI 2018 ini adalah rasa kepemilikan yang tinggi. Ini karena basis data-data yang dihimpun adalah dari seluruh provinsi/ kabupaten/ kota di Indonesia. Aspirasi dari daerah-daerah, diberikan ruang untuk menjadi penyusun strategi kebudayaan. Ini yang membedakan penyelenggaraan KKI 2018 dari yang sebelum-belumnya.”

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Indonesia Philanthropy Festival

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari 15 hingga 17 November 2018 di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, tim IVAA mengunjungi Indonesia Philanthropy Festival. Acara ini adalah semacam pameran produk CSR dari lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Selain itu juga terdapat lembaga-lembaga independen (non pemerintah) yang berpotensi mendapat bantuan philanthropy. Lembaga ini beragam, mulai dari yang bergerak di ranah lingkungan, pengelolaan sampah plastik, peternakan, perjuangan hak disabilitas hingga seni-budaya. Acara berlangsung selama 3 hari dengan rangkaian acara mulai dari pameran, talkshow, hingga diskusi kelompok terarah.

IVAA bergabung dalam booth milik Koalisi Seni Indonesia (KSI), lembaga yang menaungi pelaku seni baik kelompok maupun individu. Booth ini menampilkan video profil dari para pelaku seni, hingga rilisan dan buku terbitannya. Melalui booth tersebut KSI berharap atensi dari lembaga-lembaga philanthropy dalam mendukung kegiatan seni-budaya yang selama ini masih minim dapat meningkat.

KSI mendapat satu slot di panggung utama untuk menggelar talkshow sekaligus peluncuran buku pada hari ketiga. Buku yang diluncurkan berjudul Dampak Seni di Masyarakat, menampilkan 12 Gerakan dan Komunitas Seni, sekaligus ingin menunjukkan sedikit dari banyak komunitas seni budaya yang tersebar di Indonesia dan melahirkan inisiatif-inisiatif lokal. Bersama dengan peluncuran buku, talkshow diisi oleh perwakilan dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan Pasa Harau.

Sebagai bagian dari upaya menyambut Kongres Kebudayaan Indonesia yang akan digelar pada 5-9 Desember 2018, KSI juga mendapat slot untuk menggelar FGD. Diskusi intensif ini mempertemukan antara perwakilan lembaga seni-budaya dengan lembaga philanthropy. Masing-masing berdiskusi untuk saling mempertemukan persoalan. Inti persoalan dari kedua pihak itu adalah masih sulitnya mengakses informasi tentang philanthropy dalam negeri, perlunya basis data terpadu soal potensi seni-budaya yang mendesak dan perlu dukungan, dan cara menakar tingkat efektivitas dan kesuksesan seni-budaya yang tentu tidak bisa semata menggunakan kuantifikasi ekonomi. Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, menyampaikan sebuah pidato sebagai penutup FGD dan menyatakan bahwa poin-poin dalam acara ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia.

Rangkaian Indonesia Philanthropy Festival akhirnya ditutup di malam hari pada 17 November 2018. Acara ini memiliki tagline “From Innovation To Impact”. Titik temu agar benar-benar memiliki “impact” antara lembaga seni-budaya dan lembaga philanthropy tentu akan sulit terealisasi dalam satu kali perhelatan. Perjalanannya bisa panjang dan berliku, atau bahkan jika ukuran yang digunakan hanya soal komoditas ekonomi, pertemuan itu bisa menjadi semakin utopis, atau hanya beredar dalam lingkaran yang kecil.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Selamatan Rumah IVAA

Oleh Sukma Smita

Tumpeng nasi kuning komplit dengan lauk-pauk yang diletakkan di tengah amphiteater mengiringi rangkaian acara pembukaan Selamatan Rumah IVAA, pada petang 21 Desember 2018. Dalam bahasa Jawa, tumpeng merupakan akronim dari yen metu kudu mempeng, atau secara bebas dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan ‘harus penuh kesungguhan jika muncul’. Nasi kuning kerap menjadi menu hidangan utama dalam suatu kegiatan perayaan. Juga tumpeng nasi kuning merupakan simbol rasa syukur, doa untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan. Acara selamatan yang diselenggarakan selama 2 hari, yaitu 21-22 Desember 2018 dengan mengundang publik seni dan warga sekitar untuk turut merayakan dan mendoakan, adalah wujud rasa syukur IVAA atas selesai dan dibukanya ruang baru serta doa keselamatan untuk beberapa rencana program mendatang IVAA.

Pada pembukaannya, acara selamatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Rini Widarti selaku Lurah Keparakan dan Yoshi Fajar selaku Ketua Yayasan IVAA. Dalam sambutannya Yoshi menyampaikan bahwa IVAA perlu melakukan refleksi dan penguatan posisi terutama dalam kerja-kerja pengarsipan seni budaya yang sudah dilakukan lebih dari 23 tahun. Penguatan posisi perlu diambil selain karena melihat situasi politik dan kaitannya dengan seni budaya hari ini, juga karena kerja pengarsipan IVAA memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi yang lain, terutama di tengah 3 rezim yang tengah berlangsung yaitu Wisata, Percepatan Pembangunan dan Industri Kreatif. Selepas beberapa sambutan yang diutarakan, Gunawan Maryanto diundang untuk memimpin refleksi sederhana serta doa keselamatan yang kemudian disambung oleh pertunjukan Sahita, kelompok teater ibu-ibu dari Surakarta yang diundang secara khusus untuk melakukan pementasan. Pembukaan selamatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Lisistrata yang kemudian diserahkan kepada perwakilan warga Dipowinatan, dilanjutkan dengan dhahar kembul atau memakan nasi kuning bersama-sama.

Sebagai penanda dibukanya ruang baru, yaitu ruang pamer, IVAA mengadakan pameran arsip dan tafsirnya. Dalam pameran yang bertajuk Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA mengajak Ipeh Nur -seniman muda perempuan yang tertarik merespon situasi di sekitarnya melalui karya-karya yang interaktif-, Piring Tirbing -kelompok seniman yang fokus bekerja dengan medium audio-visual-, serta Arga Aditya –kurator muda yang pernah terlibat dalam Festival Arsip IVAA 2017 sebagai asisten direktur artistik-. Melalui pameran tersebut, Ipeh Nur dan Piring Tirbing ditantang untuk merespon arsip menjadi karya artistik dan melakukan eksplorasi atas tema Tradisi dan Identitas, yaitu eksplorasi berjalan tim Newsletter IVAA yang tertuang dalam 3 edisi terakhir selama Mei hingga Oktober 2018. Reading Identity menjadi judul karya Ipeh Nur, dan Out of the Circle menjadi judul karya Piring Tirbing.

Selain pameran, juga diadakan peluncuran kembali IVAA Shop, yaitu salah satu bidang usaha IVAA yang muncul atas semangat kemandirian pada segi pendanaan. Kali ini IVAA Shop mengajak 3 orang seniman untuk berkerja bersama dalam merancang, memproduksi dan menjual produk merchandise melalui tema Fashion as Statement. Tiga seniman yang diajak yaitu Agan Harahap, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani dan Vendy Methodos. Selama dua hari acara, diajak pula beberapa komunitas untuk terlibat yaitu teman-teman pegiat zine, antara lain Asal kelihatan Boleh Dibicarakan, Indischzine Partij, Kios 5A, Demi Sesuap Nasi, dan pameran buku oleh Pojok Cerpen serta lapak musik oleh Jogja Record Store Day.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua diawali dengan pemutaran 2 film pendek untuk anak-anak oleh Bioscil. Ini merupakan kali kedua IVAA sengaja mengundang Biocil untuk memutarkan film pilihannya. IVAA mengajak anak-anak sekitar untuk terlibat. Mereka adalah anak-anak sekitar yang selama liburan sekolah biasa menghabiskan waktu untuk bermain game online menggunakan wifi Rumah IVAA. Aktifitas lain di hari kedua yaitu workshop merawat kaset oleh Jogja Record Store Day, tur pameran, serta diskusi dan peluncuran buku berjudul Nu’u. Buku ini berisi tulisan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di Nusa Tenggara Timur. Acara Selamatan Rumah IVAA ditutup dengan semarak dalam Musrary yang menampilkan 3 kelompok music, yaitu Doa Ibu, Help Me Touch Me dan Didi Kempits Hits Collection.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

MUSRARY #12 : NINA ALEXIA BRAZZO

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Jumat, 6 Juli 2018, penerangan perpustakaan IVAA bersumber pada lilin dan di balut dengan lampu berwarna kuning. Suasana remang-remang pun tercipta. Di mini amphitheater IVAA, Nina Alexia Brazzo menyihir para penonton dengan musikalisasi puisinya yang memiliki diksi religius, diiringi musik folk dengan perkusi yang terdengar khidmat. Suasana pun seolah  kembali di bulan suci Ramadhan.

Pada hari itu Musrary genap memasuki edisi ke 12, artinya program ini telah berlangsung selama satu tahun. Musrary #12 ini juga merupakan rangkaian Nina ke enam dalam project Pelangi Tour Indonesia di delapan kota. Acara ini berlangsung pukul 20.00, dibuka dengan pertunjukan musik dari grup indie asal Yogyakarta Swara-Swara. Dengan alunan musik bergenre akustik, dikolaborasikan dengan beberapa alat musik klasik dan tradisional, Swara-Swara berhasil menciptakan nada yang terkesan syahdu dan menyihir  penonton untuk terpaku dalam menikmati alunan musiknya instrumentalnya.

Waktupun berlanjut, Nina Alexia Brazzo memulai penampilannya dengan menggelar sajadah yang dihiasi 5 lilin menyala di hadapannya. Nina tampak sedang berdzikir dengan membawa tasbih di tangan kanannya. Diiringi backsound ‘Ya Hakimhu, Ya Qadrhu, Ya Rahman, Ya Raheem diputar berulang-ulang, bunyi ini seolah menjadi ritme atau alunan musik yang mengiringinya dalam membacakan puisi berjudul ‘One and Only (True Love)’ dan ‘The tree of Good Nature’.

Nina seperti sedang ingin berinteraksi dengan Tuhan melalui dzikir dan puisi. Nina membawakannya dengan puitis sehingga penonton terpaku dan hanyut dalam suasana yang hening. Adapun beberapa judul puisi yang dibawakan Nina saat itu adalah, ‘One and Only (True Love)’, ‘The Tree Of Good Nature’, ‘Kunci Hatiku’, ‘Own Love (Allah)’, ‘Another Workin’day’, ‘Surat untuk Shayk saya’, ‘Her Tears’, ‘Didn’t know I could love again’, ‘To My Mother Nusaybah’, dan yang terakhir ‘The Kiss’.

Acara yang berlangsung selama satu jam itu ditutup dengan tarian lilin Nina yang diiringi puisi ‘The Kiss’. Suasana saat itu tiba-tiba menjadi tegang ketika Anissa Razali memasuki amphitheater IVAA dengan tarian tongkat apinya. Terjadilah sebuah kolaborasi yang begitu elok di mata penonton. Ruangan gelap yang dikombinasikan dengan tarian api tersebut memecahkan tepuk tangan penonton.

Selepas pertunjukan itu, Dwi Rahmanto membuka sesi Tanya jawab dengan penonton. Nina menjelaskan bahwa pertunjukannya ini adalah tentang penyerahan diri dan mengingat Allah. Sebagian puisinya dedikasikan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa dan seorang lelaki yang mengubah cara pandangnya dalam hidup dan membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya Nina menjadi mualaf.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Subandi Giyanto; Seniman Pengrajin Wayang dan Eksplorasi Mediumnya

Oleh: Silvy Wahyuni (Kawan Magang IVAA)

Subandi Giyanto adalah seniman yang dominan memakai corak tradisional pada karyanya. Fenomena baru yang diangkat pada karya beliau yang berbentuk mobil, berawal dari perjalanan panjang pencarian identitasnya. Terhitung sejak 2009, karya Subandi berkembang cukup pesat berkat saran-saran dari Samuel Indratma. Samuel selalu mendorongnya untuk melahirkan berbagai inovasi. Seperti membuat sebuah mural di jembatan layang Lempuyangan. Dari seringnya diskusi dengan Samuel, seniman senior, juga kolega-kolega lama, akhirnya jadilah karya-karya yang mulai memasukkan ciri khasnya. Seperti gambaran tubuh-tubuh wayang kulit yang direkonstruksi seperti tubuh manusia, dan gambaran seperti mobil sport dan tubuh kuda berlari.

Subandi setelah lulus dari Sekolah Seni Rupa di Yogyakarta tahun 1979, diminta untuk mengajar kursus melukis kaca di sanggar Bambu. Itulah pertemuan pertama Subandi dengan lukis kaca. Ada pelajaran baru yang dia dapatkan dari pengalaman tersebut. Subandi menyadari bahwa lukis kaca saat ini mulai memudar dan kalah sohor dari lukisan kanvas. Eksplorasi medium karyanya mulai serius diujicobakan sejak dirinya kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).

Dengan berlatar belakang pengrajin/ pembuat wayang, Subandi berkarya tidak jauh dari corak wayang. Subandi lahir dan tumbuh dalam keluarga pembuat wayang kulit di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ayah dan paman-pamannya adalah para pengrajin wayang, yang mulai mengajaknya belajar  menatah wayang di umur 7 tahun.

Eksplorasi karyanya terhitung cukup banyak, berawal dari membuat kulit dipotong-potong kecil seperti tempat halma atau catur kemudian digambari seperti kolase, kemudian berkembang hingga karyanya dikoleksi sampai Taiwan, Prancis dan Jepang. Ini adalah karya-karya yang dibuatnya dalam periode tahun 80 hingga 86.

Setelah itu Subandi mengeksplorasi medium kertas. Wayang dengan menggunakan kertas dan sempat membuat pameran bersama Diana Anggraini dan Risan Kristianto. Dalam pameran ini, karya Subandi cukup laris. Alasan inilah yang membuat Subandi hingga sekarang masih menggunakan warna-warna yang minim, karena karya-karya dengan warna minimnya sangat laku. Subandi kembali ke medium kanvas setelah mendapat orderan membuat lukisan berukuran 1×1 meter untuk 104 kamar hotel ambarukmo. Pekerjaan besar ini dikerjakannya dengan kurun waktu dua tahun.

Menurut Subandi, sebagai seniman dan pengrajin wayang, dalam membuat wayang memang ada teknik-teknik yang harus dikuasai terlebih dulu, dan tidak perlu terlalu dalam memahami filosofi wayang. Yang penting, pengrajin wayang mengetahui watak wayang tersebut, dalam hal ini insting pengrajin harus bisa diandalkan. Hal pertama yang dipelajari ketika membuat wayang adalah bagaimana cara menatah wayang dengan benar, bagaimana cara memegang dan memukul tatah dengan benar, ini adalah awal dari hasil tatahan yang baik dan halus. Pengertian tatahan yang baik dan halus adalah udomamah, yaitu ketika wayang kecil ditatah dengan tatah kecil, wayang sedang ditatah dengan tatah yang sedang, dan wayang besar ditatah dengan tatah yang besar. Karena ketika ada wayang besar ditatah kecil maka karakternya akan berubah, banyak orang yang tidak paham mengenai hal ini.

Gagasan yang masih dipegangnya hingga saat ini adalah soal bagaimana menggabungkan seni klasik dan modern menjadi suatu karya yang benar-benar baru. Subandi mengaku  ingin memasukkan unsur ekspresif juga dalam karyanya. Unsur-unsur inilah yang sebenarnya ingin diperjuangkan saat ini, tentunya ini adalah upaya eksistensi posisinya sebagai seniman di era seni kontemporer.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Diskusi: Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pada Jumat, 19 Januari 2018 di Rumah IVAA pukul 15.30, digelar diskusi dengan tajuk “Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme”. Diskusi tersebut membicarakan dinamika keterlibatan Indonesia di Europalia, sebuah festival budaya dan seni internasional yang diselenggarakan di Belgia dan negara-negara tetangga. Perwakilan seniman dan kurator yang terlibat, yakni Agung Kurniawan, Hestu Setu Legi, Sita Magfira dan Agung ‘Geger’ Firmanto (Lifepatch), serta Alia Swastika hadir sebagai pembicara. Irham Nur Anshari hadir sebagai moderator.

Setelah dibuka oleh Irham, Alia mengawali diskusi ini dengan memberikan penjelasan singkat tentang Europalia. Alia mengatakan bahwa Europalia merupakan acara atau misi kebudayaan untuk kesenian Indonesia di luar negeri. Sebelum Europalia, Indonesia pernah menyelenggarakan misi kebudayaan demikian, 25 tahun silam di era Soeharto pada 1990-1991 dengan nama Pameran KIAS (Kebudyaan Indonesia di Amerika Serikat). Jika KIAS merupakan inisiatif dari pemerintah, Europalia berbeda. Indonesia menjadi negara Asia keempat yang diundang oleh Eropa untuk menjadi tamu setelah Turki, India, dan Cina. Semua pameran dikuratori oleh dua pihak, yakni Indonesia dan Eropa. Bagi Alia, keterlibatan negara dalam situasi globalisasi ini menjadi hal yang menarik.

Namun, bicara soal keterlibatan, Alia menyayangkan adanya ketimpangan dialog, ketika kurator Barat dalam perumusan pameran sudah menawarkan tiga kata kunci konsep yang sulit ditembus. Tiga kata tersebut adalah Archipelago (ke-nusantara-an), Ancestor, dan Biodiversity. Pembiayaan acara yang diberikan oleh Indonesia sekitar 70-80% tidak sebanding dengan keseimbangan perdebatan antara kurator Indonesia dan Barat. Gagasan kurator Indonesia terkait konsep pameran tidak diakomodasi lebih lanjut.

Kemudian Alia sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi kurator di beberapa pameran saat itu. Salah satunya adalah pameran dari Iswanto Hartono yang digelar di Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam. Bentuk karyanya adalah patung lilin J. P. Coen, pahlawan besar Belanda, yang dinyalakan di salah satu ruang gereja. Melalui karya ini Iswanto mencoba mengulik koneksi sejarah antara Oude Kerk, yang terkenal sebagai monumen para pahlawan (penjajah); simbol etnosentrisme Eropa pada abad ke-17, dengan masa kolonialisme di Banda. Karya yang dibuat oleh Iswanto ini bisa dilihat sebagai pernyataan politik, apalagi ketika patung lilin J. P. Coen yang dibakar menjadi pembicaraan media nasional dan para akademisi di sana.

Pameran kedua yang diangkat adalah On Paradise yang dibuat oleh Jompet Kuswidananto. Jompet mencoba mencari hubungan antara agama dan politik dengan membuat karya lampu gantung dengan cahaya yang gemerlap. Alia mengatakan bahwa konsep dari karya ini berangkat dari fenomena pemberontakan di Banten pada 1888. Sedikit tentang anti modernisme, tetapi sebenarnya lebih kepada keinginan untuk membangun surga yang utopis. Juga yang menarik adalah ketika masuk ke ruang pameran ini, pengunjung seolah tidak melihat fakta sejarah. Mereka hanya melihat karya visual yang dipamerkan.

Selain Iswanto dan Jompet, Agung ‘Geger’ Firmanto dari Lifepatch juga turut serta memamerkan karya yang dikuratori oleh Alia. The Tale of Tiger and Lion menjadi judul pameran mereka. Melalui pameran ini Sita Maghfira mengatakan bahwa Lifepatch mencoba mengulik hubungan antara dua tokoh kunci sejarah Kolonial Belanda di Indonesia – Hans Christoffel dan Si Singamangaraja XII. Dengan menggabungkan artefak sejarah, materi arsip, dan karya seni, mereka menyampaikan hasil penelitian mereka terhadap koleksi Christoffel (artefak jajahan yang ia bawa ke Belgia) dan temuan di lapangan, yakni daerah Toba, Sumatera Utara. Geger juga menambahkan bahwa Lifepatch ingin menghadirkan narasi sejarah versi pemenang (pemerintah dan akademisi), dan versi lain yang muncul dari kebiasaan atau adat tanah Toba. Sita menambahkan bahwa melalui proyek ini Lifepatch menjadi belajar lebih banyak tentang sejarah, bahwa narasi sejarah tidak pernah tunggal.

Tidak ketinggalan, Hestu Setu Legi juga turut memberikan kontribusi pada ajang internasional ini. Melalui koridor Performance Club, Hestu merespon landscape yang ada di ruang pamer dan sekitarnya. Sesuai ciri khasnya, dengan menggunakan tanah liat untuk membuat mural bentuk pohon lambang kesuburan, situasi industri yang terinspirasi fenomena Kendeng, dan lain-lain.

Di koridor lain, Power and Other Thing, Agung Kurniawan juga memamerkan karyanya. Charles Esche menjadi salah satu kurator yang bekerja bersama Agung untuk proyek ini. Dengan bentuk video mapping, Agung menghadirkan kembali karyanya yang berjudul Gejolak Malam Keramat yang bicara isu ‘65. Apa yang menarik dari karya Agung adalah, ia memilih ruang bawah tanah sebagai lokasi pameran. Bagi dia ruang bawah tanah dimaknai sebagai tempat para tikus bersarang; juga seperti mausoleum (kuburan orang-orang Yahudi), yang mencerminkan perjuangan harkat kemanusiaan. Dalam karya ini, Agung berusaha memaknai koneksi konteks ’65 dengan Eropa yang ternyata ada secara geopolitik.

Setelah cukup lama para pembicara membagikan pengalamannya, sesi diskusi mulai dibuka. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari Ngakan Made Ardana. Ia mempertanyakan istilah pseudo yang dipakai; apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Kegagalan Europalia? Atau apa?

Pertanyaan tersebut direspon oleh Alia dengan cerita pengalamannya ketika berdebat dengan para kurator Barat. Baginya, label internasional yang disandang Europalia tidak sesuai dengan keterbukaan terhadap kebudayaan lain secara faktual. Alia mengatakan, “Selama proses, standar-standar mereka sulit ditembus.” Maka globalisasi seni tidak terjadi dan konsep internasionalisme yang dibangun masih kuno.

Sedikit berbeda dengan respon Agung yang mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia mengatakan bahwa secara strategis, tujuan dari festival ini belum nampak jelas. Diplomasi kebudayaan yang terlihat perlu untuk diulik lagi. Namun, ada aspek yang cukup melegakan ketika tidak ada batasan untuk seniman yang terlibat. Buktinya, beberapa seniman bisa membuat karya yang cukup sensitif.

Menyambung pembicaraan yang cukup serius ini, Nindityo Adipurnomo ikut bertanya, “Bagaimana dialog bilateralnya? Pertanyaan itu muncul atas kecurigaan terhadap kecenderungan-kecenderungan negara ‘penjajah’ yang ingin mengembalikan artefak-artefak yang telah dicuri. Padahal kita hidup di jaman komunikasi virtual, tapi barang-barang curian itu hendak dikembalikan; barang-barang yang sudah tidak punya konteks. “Ini sama saja menghidupkan mitos yang sudah mati,” ungkap Nindityo. Geger kemudian merespon kegelisahan Nindityo dengan sebuah dialognya bersama Opung Bakara ketika melakukan studi lapangan di Tanah Toba. Ada tiga pandangan dari Opung Bakara terkait artefak dalam konteks kolonialisme dan masa sekarang. Menurut Opung Bakara ada tiga bentuk aktivitas membeli suatu barang: membeli barang dengan membayar, membeli barang dengan barter, dan membeli barang dengan membunuh/ merampas. Bagi beliau, bentuk yang ketiga itulah yang harus diungkap. Bukan persoalan barang, tetapi lebih kepada hal membunuh atau merampas-nya.

Diskusi semakin terkesan serius ketika Linda Mayasari memberikan kritik terhadap para seniman yang terlibat. Berangkat dari pengalamannya yang melihat pameran tersebut secara langsung, ia mengatakan bahwa, “Seniman-seniman di sana dijadikan arkeolog, di-etnografis-kan.” Bagi dia wacana kolonialisme yang masih berkembang kurang diangkat. Agung pun merespon kritik Linda tersebut dengan cukup tegas, bahwa arkeologi itu bukan sesuatu yang cacat. Ia juga merupakan hal besar. “Seniman tidak lebih tinggi dari etnografer. Ia juga bertugas mencatat.” Terkait eksotisme, Agung lebih melihat ini sebagai perjumpaan. “Saya berjumpa dengan rasa kehilangan akan masa lampau,” ungkap Agung. Nindityo, sebagai bentuk keprihatinan, juga menambahkan bahwa kita nampaknya sedang loncat menggunakan legitimasi mereka (Barat) untuk melihat benda-benda kita. Lantas Linda dengan tegas meluruskan apa yang telah dikatakannya dengan, “Aku lebih menekankan pendekatannya, bukan hirarki seniman dan arkeolog.”

Terkait kelanjutan atau pertanggungjawaban dari festival Europalia ini, Agung mengatakan bahwa ia setuju jika pameran tersebut dibawa dan dipamerkan di Indonesia. Baginya pameran itu mampu mengolah aspek intelektual dari benda. Irham menutup diskusi dengan statement yang kurang lebih sama. Harapannya di era globalisasi ini, misi kebudayaan Indonesia tidak terbungkus ke dalam wacana internasionalisme yang semu.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-6: Slipping Pills

Oleh: Wimpy Nabila F.Z. (Peserta Magang IVAA)

Di akhir Januari ini, menonton konser musik “Musrary” menjadi salah satu alternatif hiburan.  Musrary (Music Library) merupakan program rutin bulanan yang diadakan oleh IVAA. Konsep yang disajikan pada acara ini ialah eksplorasi suara, visual, kolaborasi dengan seniman dan sebagainya untuk merespon ruang perpustakaan IVAA.

Pembeda Musrary dengan acara konser musik lainnya adalah tidak ada pembatas antara penonton dengan performer. Artinya penonton dipersilahkan bertanya dan mengulik tentang karya atau bahkan proses berkarya musisi performer di setiap jeda pertunjukan.

Musrary sempat off selama 2 bulan, akan tetapi pada bulan Desember Musrary kembali  mengadakan pertunjukan dengan menghadirkan Slipping Pills. Mengaku sebagai sebuah ruang untuk bermain dan bergembira, menyiasati dunia yang semakin tua. Dibentuk pada tahun 2011 oleh musisi Teguh Hari Prasetya dan Purnawan Setyo Adi. Slipping Pills beranggotakan Teguh Hari Prasetya (Vokal dan Bass), Hengga Tiyasa (Gitar), Aga Yoga Perkasa (Gitar), dan Gendra Wisnu Buana (Drum). Pada tahun 2012 Slipping Pills telah merilis mini album pertamanya “Kpd. ytc. Lies”.

Dengan dekorasi payung-payung di panggung yang sederhana, menambah kesan teduh malam itu. Slipping Pills membuka pertunjukan dengan lagu yang berjudul “69 di 98”, dianggapnya sebagai lagu politis karena berkaitan dengan negara. Penonton terlihat khidmat menghayati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Teguh sang vokalis yang sesekali menghisap rokok. Suasana pecah gelagak tawa penonton menyambar ketika masing-masing personil unjuk kebolehan memainkan alat musiknya. Pesan-pesan yang disampaikan di setiap lagu Slipping Pills sangat dalam.

Dalam Musrary kali ini, Slipping Pills membawakan kurang lebih 8 lagu. Yang menarik adalah ketika Teguh menyampaikan petuah kepada penonton bahwa “Cinta beda agama bukan bagaimana cintanya tapi bagaimana negara sudah masuk ke dalam ranjangnya”. Bisa dibilang lagu-lagu mereka merupakan lagu pemberontakan, salah satunya dengan mengangkat isu terkait pernikahan beda agama di negara Indonesia yang tidak diterima secara sah. Lirik-lirik yang dihadirkan sebagai sindiran, sekaligus pembelaan bagi para penikmatnya.

Di akhir pertunjukan, di tutup dengan penampilan Teguh bernyanyi solo membawakan lagu yang baru saja dibuatnya pagi hari sebelum pertunjukan Musrary dan diberinya judul “perselingkuhan” yang menurut dia sangat zaman now.

 

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Launching IVAA Shop dan Musrary Edisi ke-8: Olski

Oleh: Yeni Arista

Tepat pada 26 Januari 2018 telah dilaksanakan launching IVAA shop. Kali ini IVAA shop muncul dengan wajah baru, dengan tatanan interior yang lebih menarik dan tentu koleksi barang – barang yang bertambah. IVAA shop menjual aneka barang berupa baju, buku, CD dan berbagai pernik lainnya dengan harga bervariasi. Selain itu, IVAA shop juga menerima barang titipan untuk dijual. Apabila anda tertarik untuk mengunjungi IVAA shop atau hendak menitipkan barang yang ingin dijual maka silakan berkunjung ke Rumah IVAA, buka setiap hari Senin–Jumat pukul 09.00-17.00 WIB.

Masih dengan suasana jual beli, pada hari itu juga IVAA mengadakan garage sale, berbagai barang dari gudang IVAA diobral dengan harga yang bersahabat dan bisa dinego. Semua yang dijual adalah barang yang masih layak pakai seperti meja, rak, tape, lensa, monitor dan sebagainya. Pada hari yang sama, Rumah IVAA diramaikan oleh pengunjung yang ingin membeli barang di IVAA shop dan garage sale IVAA.

Masih dengan serangkaian acara yang sama, setelah siang hari disibukan oleh orang– orang yang berdatangan untuk membeli barang, menjelang sore hari ruang perpustakaan IVAA disulap menjadi ruang pertunjukan sederhana. Malam yang dinantikan pun tiba, malam pertunjukan yang akan dimeriahkan oleh Olski. Olski merupakan band dari Jogja, beraliran pop dengan konsep akustik dengan gaya yang manis nan lucu. Pertama kali terbentuk pada tahun 2013, band ini beranggotakan 4 orang :  Febrina Claudya (Vokalis), Shohih Febriansyah (Glockenspil, Pianika, Toy Keyboard), Atika Putri (Perkusi dan Drum) dan Dicki Mahardika (Gitar dan Ukulele). Lagu-lagu yang dibawakan bercerita tentang kehidupan sehari-hari, seperti diary seorang gadis kecil. Olski telah merilis 3 buah single, yaitu “Titik Dua dan Bintang” (2014), “Colors” (2015) dan “Tunggu” (2017). Pada akhir tahun 2017 Olski merilis album pertamanya “In the Wood”.

Sinar lampu remang–remang di ruang perpustakaan IVAA membuat penonton semakin menghayati lagu yang dinyanyikan. Penonton yang memenuhi ruangan IVAA antusias mendengarkan lagu dan candaan di sela – sela penampilan. Penampilan Olski berlangsung sekitar 2 jam dengan menyanyikan 4 lagu, diselingi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Candra dan Mukti sepasang komika dari Jogja. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dengan santai itu ada beberapa hal yang menarik yaitu; walaupun berkarir dalam satu kelompok band ternyata masing–masing dari mereka mengidolai musisi yang berbeda aliran musiknya. Meski demikian, mereka memiliki harapan yang sama untuk tahun 2018 yaitu melakukan konser tunggal. Penampilan Olski dan sesi tanya jawab malam itu diakhiri dengan sebuah pernyataan oleh Dicki Mahardika, bahwa dengan bermusik hal yang “serius” dapat menjadi “fun”, dan hal yang “fun” pun dapat menjadi serius.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-4: Arsip Berjalan Ingatan Kota

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Perpustakaan IVAA disulap oleh Izyudin “Bodhi” Abdussalam (Ruang Gulma) menjadi ruang seperti ruang teater, dia mengeset ruang perpustakaan IVAA dengan pernak-pernik lampu belajar sejumlah lima buah. Sebelum pertunjukan dimulai, ruangan dibuat sedemikian gelap sehingga panggung dan penataannya terlihat begitu anggun. Malam itu penonton memenuhi ruangan IVAA yang berkapasitas maksimal 80 orang itu sehingga terlihat penuh tetapi hangat dan sangat dekat dengan bibir panggung.

Malam itu panggung diisi oleh kelompok band bernama Kota dan Ingatan, mereka adalah Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Sejak berdiri di tahun 2016 mereka berkali-kali menghiasi panggung musik Yogyakarta khususnya dan memberi pendekatan lain dengan musik dan lirik yang sangat berbeda. Mereka beberapa juga terlibat dalam sebuah gerakan seni dan sosial di Yogyakarta dengan membuat lirik mereka di beberapa lagu begitu lantang tetapi masih sangat puitis.

Penampilan Kota dan Ingatan dalam Musrary edisi ke-4 berlangsung selama satu jam dengan diselingi sesi tanya jawab. Aditya Prasanda dengan kumis uniknya membawakan sembilan lagu. Sesekali pria berkumis unik ini memegang mikrofon dengan kedua tangannya dan merem melek sepertinya terlihat sangat menghayati lagunya.

Proses bermain musik Kota dan Ingatan merupakan upaya mendokumentasikan. Kota dan Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi, dan rencana-rencana tata kota yang berterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu marak untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat, mencatat guna mengingat.

Di dalam konser mini tunggal mereka ini beberapa lagu masih dalam tahap perekaman dan akan dijadikan album mereka. Materi-materi Kota dan Ingatan beberapa sudah diluncurkan dan dibagi di sosial media, antara lain lagu-lagu yang berjudul Alur dan Peluru. “Alur” adalah sebuah catatan tentang kekerasan serta konflik horizontal yang akhir-akhir ini sering terjadi.

Kesempatan konser ini mereka maksimalkan dengan memberi visual yang digarap oleh Bodhi juga, dari lagu ke lagu visual ditampilkan secara bergantian dengan visual-visual seperti perkotaan dan sebagainya, yang diproyeksikan dalam ukuran besar di rak-rak buku perpustakaan sebagai latarnya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Mural #OTEWE4

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

Mural #OTEWE4 kali ini bekerja sama dengan IVAA, dengan merespon lantai amphitheater yang ada di Rumah IVAA. Pengerjaan mural selama 2 hari di tanggal 17-18 Juli 2017 dan peluncurannya di 22 Juli 2017, bersamaan dengan acara #UpdateYourCity dari Kindmagz. Untuk konsep sendiri mereka membuat peta Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Pada saat memilih peta Yogyakarta, aku ngobrol dengan Kotrek. Bagaimana jika menggambarkan masalah yang ada di Yogyakarta dengan cara yang berbeda? Sepertinya asik… Kemudian muncullah beberapa karakter di peta seperti Sleman dengan karakter Gunung Merapi, Kulon Progo dengan karakter Bandara, Yogyakarta, Bantul, dan Gunung Kidul dengan karakter manusia yang ada di dalamnya. Bagaimana masyarakat menanggapi adanya pembangunan,” kata Kotrek.

Sebenarnya proyek ini bagi Ismu Ismoyo dan Kotrek sendiri berkenaan dengan proyek Otewe yang sedang mereka garap tentang alat transportasi di Yogyakarta yaitu sepeda. “Ironis ketika Yogyakarta sebagai kota sepeda tapi ternyata minim ruang publik sepeda di Yogyakarta,” ungkap Ismu. Sebelumnya mereka sudah membuat mural di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kidul, Nitiprayan, Giwangan, dan di IVAA adalah lokasi ke-4. Untuk mural sendiri rencana mereka ingin membuat 7 sampai 10 mural. Di setiap titiknya menceritakan permasalahan transportasi sepeda yang ada di daerah itu. Untuk gambar yang ada di Rumah IVAA konsepnya adalah bagaimana menceritakan cara pandang kondisi kota Yogyakarta, yang pasti sepeda ada di dalamnya.

Dalam proyek #Otewe ada 3 hal yang menjadi harapan sang inisiator, yaitu membangun ingatan orang tentang kota Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang kedua adalah melihat bahwa kota Yogyakarta tidak dirancang untuk kendaraan besar jadi sepeda itu bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan, dan yang ketiga adalah membangun sedikit nostalgia seperti sepeda membuat dialog tersendiri dengan warga yang lain (pengguna sepeda). Sebenarnya penggunaan sepeda di kota Yogyakarta besar akan tetapi fasilitas belum mendukung seperti marka jalan yang ada di jalan, ataupun ruang tunggu yang ada di lampu merah.

Lewat pengerjaan mural ini diharapkan segala permasalahan di Yogyakarta dapat direfleksikan lewat kegiatan berkeseniaan, danmural ini salah satunya. Mengkritik Yogyakarta tidak hanya lewat tulisan saja, tetapi berbicara juga bisa melalui jalan kesenian. Hal inilah yang ingin disampaikan Kind Magz kepada publik Yogyakarta.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.