Category Archives: Sorotan Pustaka

Sorotan Pustaka | Maret-April 2019

Di dalam edisi ini, ada tiga buku yang kami ulas sebagai bagian subrubrik Sorotan Pustaka. Pertama adalah “Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta” karya Ibed Surgana Yuga yang bicara soal ragam warna dan suara dalam kerja seni peran. Kedua adalah “Seni Kejadian Berdampak” karya Bramantyo Prijosusilo, yang membicarakan kerja seni (khususnya seni daerah) berdampak. Perhatian kepada ke-daerah-an juga nampak dari buku ketiga, yakni “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII”. Sebuah buku hasil dari disertasi Goenadi Nitihaminoto ini memaparkan kajian tentang masyarakat Gunungwingko yang tidak lepas dari kesenian.

Aku-Aktor: Menyelami Kerja Seni Peran

Judul : Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta
Penyunting : Ibed Surgana Yuga
Penerbit : Kalabuku
Cetakan : Juni 2018
Halaman : 239
ISBN : 978-602-19352-9-3
Resensi oleh : Gladhys Elliona Syahutari

Salah satu bentuk seni pertunjukan yang cair adalah seni peran. Bentuk seni ini dianggap menjadi satu dengan teater atau film, walau pada kenyataannya, seni peran dapat menjadi proses yang terpisah dari teater maupun film karena dapat diaplikasikan di berbagai konteks. Buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta yang merupakan terbitan penerbit khusus buku teater, Kalabuku, mencoba membedah cara kerja aktor di Yogyakarta dan mengurai proses pembentukan diri seorang aktor dalam mencipta karakter maupun mengasah kemampuan seni perannya. Buku ini kemudian menjadi pengantar yang baik bagi setiap aktor yang mendambakan sebuah wadah bertukar pikir tentang metode pembangunan karakter. Kita kemudian akan menangkap bahwa, setiap aktor memiliki metode yang terpersonalisasi karena menerapkan campuran berbagai metode pemeranan yang disesuaikan dengan kebutuhan penciptaan atau ideologi pertunjukan tertentu.

Ibed Surgana Yuga, selaku editor buku ini, memberikan sebuah pembuka yang dapat mengantarkan pembaca mengenal maksud dari judul Aku-Aktor. Ibed menerangkan bahwa buku ini merupakan kumpulan catatan proses keaktoran, di mana seorang aktor menciptakan sebuah peran melalui berbagai cara. Terlebih dahulu Ibed menerangkan bahwa aktor memiliki tiga ‘aku’: aku-diri, aku-aktor, dan aku-laku. Perbedaan ini mencakup kedirian seorang aktor sesuai dengan konteksnya yaitu seseorang sebagai dirinya sehari-hari, seseorang yang menjalankan profesinya sebagai aktor, dan seorang aktor yang menjalankan karakter yang telah disematkan padanya. Melalui deskripsi pembuka ini, kita diantar pada pemahaman proses kreatif berbagai aktor Yogyakarta dalam level aku-aktor — sesuai dengan judul besar buku ini.

Terdapat 27 esai — termasuk pengantar — yang ditulis langsung oleh para aktor, secara singkat mengenai proses keaktoran dan metode uniknya masing-masing. Aktor-aktor yang menuliskan prosesnya berasal dari latar belakang genre akting dan penerapan prinsip yang berbeda-beda. Sebaran keberagaman aktor dan aktris juga cukup berimbang, tidak hanya genre akting, tapi juga pada lama pengalaman keaktoran, sampai dengan tempat di mana aktor berkarya. Tiga esai terakhir mencakup pengalaman aktor dari luar Yogyakarta yang diundang menulis sebagai pembanding. Kumpulan esai ini kemudian dibagi lagi dalam lima sub bab. Sub bab Konsep berisikan pemikiran para aktor yang menjelaskan bagaimana keaktorannya dapat memperkuat identitas diri dan idealismenya. Selanjutnya para aktor yang menulis di bagian Metode menjabarkan ragam cara penerapan akting dalam pertunjukan yang akan atau pernah mereka jalani. Dalam sub bab Proses, para aktor menjabarkan lika-liku pelatihan dan jalan menemukan diri masing-masing dalam dunia seni peran. Masuk ke dalam bagian Menengok Ke Depan, terdapat empat tulisan tentang proses keaktoran para aktor senior Yogyakarta yang juga mencakup pandangan mereka tentang generasi aktor penerus. Di bagian terakhir, yaitu Menengok Ke Luar, adalah kumpulan esai keaktoran oleh para pelaku seni peran di luar Yogyakarta.

Penjabaran oleh para aktor begitu beragam, karena ketika kita membaca penulisan dari masing-masing aktor, tidak hanya cara pandang saja tapi gaya bahasanya pun berbeda-beda. Beberapa aktor dapat menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang memang lebih kuat menceritakan konsep yang mereka yakini dalam mendalami seni peran. Misalnya dalam esai pembuka, aktris Agnes Christina menjabarkan bagaimana mengedepankan kenyamanan diri dalam menampilkan sesuatu sebagai bentuk kejujuran dan pandangannya pula mengenai penonton sebagai alam pertunjukan. Esai Agnes kemudian menjadi pembuka yang baik sebab mampu mengemukakan konsep abstrak yang kemudian mampu menghantarkan pembaca ke tulisan-tulisan yang lebih teknis. Contohnya tulisan B.M. Anggana yang menjelaskan tentang metode pelatihan seni peran dan bekal apa saja yang aktor perlukan sebelum pementasan, serta tulisan BaBAM dalam sub bab Metode yang lebih menitikberatkan pada bagaimana para aktor di Cabaret Show menerapkan penampilan dan persiapan apa saja yang diperlukan untuk penampilan cross gender. Melalui ketiga contoh tersebut, kita sudah dapat menangkap bahwa penulisan mengenai proses keaktoran tidak bisa seragam, karena setiap aktor telah melalui proses dan referensi yang beragam — sehingga kekuatan dan kekayaan karya mereka pun memiliki keunikan masing-masing.

Buku kumpulan esai keaktoran ini kemudian diniatkan menjadi salah satu wadah untuk mengarsipkan berbagai bentuk metode seni peran. Usaha pengarsipan ini bisa dibilang cukup berhasil, sebab walau tidak mampu menangkap seluruh pemikiran dan metode aktor Yogyakarta, 27 esai ini nampaknya sudah cukup mewakili pelaku seni peran. Usaha mengarsipkan proses keaktoran sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Teater Satu Lampung, yang mengumpulkan catatan kreatif setiap aktor dalam kelompok teater dan dibukukan. Alhasil, walaupun berada dalam satu kelompok, pandangan yang diambil dalam proses kreatif tetap memiliki warnanya masing-masing. Hal ini juga dapat kita temukan dalam buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta. Jika dalam satu kelompok perbedaan sudut pandang yang diambil beragam, dalam satu ekosistem teater di Yogyakarta diversitas itu kemudian menjelma menjadi sebuah spektrum. Metode pengumpulan tulisan ini kemudian menjadi sebuah rentang warna yang penting dimiliki untuk kolektif arsip dalam mengambil berbagai jenis warna demi merangkai gambaran sejarah, bidang, dan peristiwa yang lebih holistik. Terlebih, seni peran yang identik dengan metode yang berfokus pada penerapan panggung dan kesadaran pengarsipan dalam seni pertunjukan masih belum banyak digalakkan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk melihat bahwa proses kreatif seni peran tidak bisa dilihat dari dua sisi, seperti bagus-jelek, tepat-tidak tepatnya suatu metode, tapi semuanya sangat bergantung pada jenis seni peran apa yang ingin diperjuangkan serta semangat berkarya yang tiada henti — bahwa semua suara dan gaya bercerita dalam seni peran patut diberi ruang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Merawat Kebudayaan Lokal Melalui Seni Kejadian Berdampak: Narasi Perjalanan Proses Penciptaan Karya Seni Bramantyo Prijosusilo

Judul : Seni Kejadian Berdampak
Penulis : Bramantyo Prijosusilo
ISBN/ISSN : 978-602-356-229-9
Penerbit : Kepel Press
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Ahmad Muzakki

Sebuah induk kesenian menjadi sebuah tradisi bangsa kita yang sangat kaya dan berkembang, akan tetapi saat ini hampir tidak mendapatkan perhatian dari dunia pendidikan kesenian. Begitulah bunyi kalimat pembuka pada bab pertama di buku ini,  menggambarkan bagaimana kondisi seni upacara adat sekarang. Meski kurang tersentuh, seni upacara adat tidak mati. “Lingkungan komunitas keagamaan masih menjaga kesuburan upacara adat meski mungkin seninya kurang kreatif”, kata Bramantyo Prijosusilo yang tak lain merupakan penulis buku yang berjudul “Seni Kejadian Berdampak”.

Bramantyo Prijosusilo memiliki latar belakang sebagai seorang seniman. Pria kelahiran 1897 ini pernah bersekolah di SMA Kolese de Britto dan mendapat kesempatan belajar kesenian di bawah asuhan Gregorius Sukadi. Selain itu, Bramantyo juga pernah belajar di Bengkel Teater W. S. Rendra dan mendirikan Teater Akar di Yogyakarta. Walaupun sempat dikeluarkan dari jurusan teater IKJ, Bramantyo Prijosusilo tetap berkarya dan dikenal di dunia seni Indonesia. Lahirnya buku “Seni Kejadian Berdampak” ini menjadi salah satu saksi perjalanan proses penciptaan karya seninya.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini tidak begitu tebal. Buku karya Bramantyo Prijosusilo ini memiliki tebal tujuh puluh tujuh halaman, diterbitkan pada 2019 oleh Penerbit Kepel Press dari Yogyakarta. Ilustrasi karya Joseph Wiyono yang berjudul “Kebo Ketan Kraton Ngiyom” menjadi gambar sampulnya dan di setiap pergantian bab terdapat ilustrasi yang akan membawa imajinasi pembaca terlibat ke dalam narasi buku ini.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Bramantyo Prijosusilo menuliskan pengalamannya dalam menghidupkan kembali budaya upacara tradisi. Dinamika yang dialaminya sangat beragam, dari mulai harus berurusan dengan kelompok organisasi agama hingga harus bersangkutan dengan pihak kepolisian. Akan tetapi hal itu justru menjadi salah satu bahan pengembangan karya yang akan dibuatnya. Menghidupkan kembali upacara adat seperti yang Bramantyo Prijosusilo lakukan di era modern seperti ini sangat sulit, berbenturan dengan anggapan adanya pelecehan agama hingga menghalalkan kekerasan dengan dalih berjihad. Hal itulah yang dialami Bramantyo Prijosusilo,  yang dituliskan dalam salah satu bab buku ini.

Bramantyo Prijosusilo percaya bahwa penyelenggaraan upacara adat dapat berpengaruh terhadap kondisi sekitar, dari konteks sosial masyarakat hingga keseimbangan alam. Selain itu, Bramantyo Prijosusilo juga percaya bahwa upaya menghidupkan kembali upacara adat dapat selaras dengan cita-cita negara yang terkandung dalam tubuh Pancasila. Sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang ketika keragaman budaya sudah mulai luntur.

Masyarakat Indonesia sudah sangat lama mengenal mitos. Mitos tercipta dari pendahulu kita, menyimpan banyak pesan yang harus selalu dikontekstualisasi. Akan tetapi, tidak jarang orang cenderung memandang mitos sebagai takhayul. Padahal, keberadaan mitos dalam suatu daerah dapat mempengaruhi bagaimana kondisi dan perkembangan sebuah kebudayaan lokal yang ada, termasuk upacara adat.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Upaya Bramantyo Prijosusilo yang tercatat dalam buku ini dan menjadi salah satu hal yang menarik adalah upayanya dalam menghidupkan kembali mitos-mitos yang sudah hampir tiada. Seperti yang dilakukannya di Sendang Margo, tepatnya di Alas Begal. Bramantyo Prijosusilo memunculkan kembali kisah Peri Setyowati untuk menghubungkannya dengan perbaikan Sendang Margo dan Sendang Ngiyom serta kawasan penyangganya. Narasi mengenai mitos di dalam buku ini dapat memberikan pandangan kepada para pembaca, bahwa percaya karena takut bukanlah sikap yang tepat untuk hidup bersama mitos, melainkan memahami mengapa mitos itu ada di sekitar kita.

Dijelaskan juga secara rinci bagaimana usaha Bramantyo Prijosusilo memunculkan Upacara Kebo Ketan. Upacara Kebo Ketan terinspirasi dari narasi Joko Samudro dan Sri Parwati yang diolah Bramantyo Prijosusilo. Upacara Kebo Ketan yang dilaksanakan dapat merangsang praktik rehabilitasi lingkungan hidup sekitar. Maksud dari rehabilitasi adalah melalui upacara ini masyarakat menjadi sadar akan lingkungan sekitar. Seperti yang Bramantyo Prijosusilo telah lakukan, kondisi Sendang Margo di Alas Begal yang tidak terawat mulai diperhatikan masyarakat sekitar. Teknis pelaksanaan dan hasil evaluasi acara adat ini juga disampaikan Bramantyo Prijosusilo di dalam buku ini. Pada dasarnya Bramantyo Prijosusilo memiliki harapan besar agar Upacara Kebo Ketan dapat menjadi salah satu wahana edukasi.

 

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Buku “Seni Kejadian Berdampak” tidak hanya menyajikan proses perjalanan penciptaan karya Bramantyo Prijosusilo. Ia juga menyajikan bagaimana usaha merawat sebuah kesenian rakyat daerah itu memiliki dampak. Melalui dua bab terakhir dalam buku ini, bersumber dari pengalaman empiris, Bramantyo Prijosusilo menuliskan proses pembuatan sebuah karya kesenian berdampak dengan jelas, “Seni kejadian berdampak memiliki dua fokus yang berbeda dengan kesenian lainnya, yakni fokus kepada dampak yang diupayakan dan fokus pada event yang digelar dan hal ini dilakukan secara berkala”. Selain itu, ia juga menyebutkan dampak lain bahwa sebuah karya seni kejadian berdampak dapat memberikan pelepasan batin jika dilaksanakan secara seksama dan khusyuk. Narasi ini ditulis Bramantyo Prijosusilo setelah melihat fenomena kapitalisme yang mendulang keuntungan di wilayah-wilayah yang seharusnya bersifat sakral.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Situs Gunungwingko, Situs Masyarakat Pesisir

Judul : Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII
Penulis :Dr. Goenadi Nitihaminoto, Drs. Nurhadi Rangkuti, M.Si., Drs. Muhammad Chawari, M.Hum., Alifah, M.A
Penerbit : Dinas Kebudayaan DIY
Cetakan : Desember, 2018
Halaman : 231 halaman
ISBN : 978-602-53183-4-4
Resensi oleh : Najia Nuriyana (Kawan Magang IVAA)

Buku ini merupakan hasil penelitian disertasi Goenadi Nitihaminoto selama kurang lebih 18 tahun, dari 1972 sampai 1990. Goenadi Nitihaminoto lahir di Tuban, 12 November 1971. Ia menjadi peneliti bidang arkeologi prasejarah dari 1989 hingga 2008. Selama 9 tahun, ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja sebagai Kepala di Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku yang diterbitkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta beserta Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta ini dimaksudkan untuk mengapresiasi sosok Goenadi Nitihaminoto.

Buku “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII” menceritakan bagaimana fase kehidupan di pesisir selatan Jawa pada masa prahistori atau awal Masehi. Situs Gunungwingko terletak di area pemukiman di utara objek wisata Pantai Samas, yaitu di Desa Srigading dan Desa Tirtohargo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; diapit oleh dua lembah sungai yaitu Kali Opak dan Kali Progo. Mulanya Gunungwingko adalah nama sebuah desa kuno yang saat ini telah berubah menjadi Desa Tegalrejo. Istilah Gunungwingko berasal dari kata ‘wingko’, yang dalam bahasa Jawa artinya adalah gerabah, sedangkan gunung adalah gunung atau bukit. Di area pegunungan itu banyak ditemukan artefak gerabah.

Masyarakat Gunungwingko memiliki garis dengan ras Mongoloid, ditandai oleh peninggalan kebudayaannya yang hidup sejak awal Masehi hingga abad ke-17. Kehidupan masyarakatnya dibagi menjadi 4 lapisan budaya. Setiap lapisan budaya ditandai oleh penemuan benda yang berbeda. Pada lapisan budaya pertama dan kedua mereka hidup dengan cara semi menetap. Pada lapisan budaya ketiga mereka mulai hidup dengan cara menetap. Karena terdapat 4 lapisan budaya maka terjadi perubahan fisik lingkungan yang berbeda pula. Masyarakat Gunungwingko umumnya hidup sebagai petani garam karena letaknya yang dekat dengan laut dan ditandai oleh artefak gerabah sebagai alat pembuat garam. Selain bermata pencaharian sebagai petani garam, masyarakat Gunungwingko juga berternak binatang seperti sapi, kambing, kerbau, babi, ayam, itik dll. Mereka juga membuat manik-manik, berburu, dan menangkap ikan.

Kehidupan relijius juga menjadi topik yang tidak luput dibicarakan. Masyarakat Gunungwingko mengenal ritual tingkepan dalam kelahiran, upacara tandur dalam pertanian, dan menyakini adanya benda magis yang dapat mengusir roh jahat. Anak-anak memakai gelang yang terbuat dari tulang belakang ikan, manik-manik, biji-bijian, dengan mata kalungnya dari gigi taring binatang, sebagai penolak roh jahat. Gambaran kehidupan relijius masyarakat Gunungwingko juga dijabarkan berdasarkan tata cara penguburan dan perawatan mayat. Urusan kuburan juga menunjukkan stratifikasi sosial, ditandai dengan bekal macam apa yang diberikan di dalam kuburan. Kuburan yang terdapat perhiasan dari logam menunjukkan bahwa mayat di dalamnya memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi, dibanding dengan bekal kuburan yang hanya berwujud gerabah.

Selain kehidupan relijius dan sosial, aspek teknologi dan kesenian menjadi topik yang diulas. Temuan-temuan yang ada menunjukkan perubahan fase teknologi masyarakat Gunungwingko. Hal ini dibuktikan dengan teknologi pembuatan gerabah yang berubah dari metode manual dengan tangan ke metode roda putar cepat. Seni kriya menjadi kesenian yang hidup di masyarakat Gunungwingko, yang ditandai oleh sisa-sia pecahan gerabah yang memiliki beberapa pola dan motif berbeda. Motif yang ditemukan adalah motif duri ikan dan garis-garis vertikal.

Bagi saya buku ini memberi informasi yang cukup padat mengenai situs Gunungwingko, meski sampulnya tidak cukup menarik. Dengan berbagai macam pendekatan, seperti etnografi, ekologi, dan oseanografi, buku ini membantu kita untuk mengenal lebih jauh kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

SOROTAN PUSTAKA | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Santosa Werdoyo

Salah satu hasil dari revitalisasi Rumah IVAA untuk perpustakaan adalah adanya balkon yang terletak di lantai dua. Dengan bertambahnya ruang, harapan yang tentu muncul adalah agar para pengguna pustaka dapat lebih nyaman mencari tempat untuk membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

Selama ini, aktivitas membaca dan meminjam dari para pengguna perpustakaan IVAA banyak berkenaan dengan pustaka yang berhubungan dengan seniman progresif, seni rupa modern dan Biennale Jogja. Sementara, ada beberapa tambahan koleksi pustaka yang kami peroleh dari hibah, hunting pameran, dan pembelian. Ada 30 katalog, 15 majalah, dan 53 buku yang diinventarisasi dan diinput ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS).

Untuk newsletter edisi ini, ada beberapa buku baru yang diulas, yakni Soembawa, 1900-1950; Gunungkidulan; Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990; dan Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.

Sorotan Pustaka November-Desember 2018
Oleh: Santosa, Esha Jain, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990

Title : Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990
Edited : Stephen H Whiteman, Sarena Abdullah, Yvonne Low, Phoebe Scott
Book Description : 248 x 172 mm, 335 pages
Publisher: Power Publications and National Gallery Singapore
Originally published July 2018
Call Number: 701 Whit A

Reviewed by : Esha Jain

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990 seeks to separate the art of the Southeast Asian countries from the stereotypes, expectations, and assumptions traditionally “Western” societies hold about it that are byproducts of the Cold War. It consists of ten essays created in partnership between “eastern” and “western” institutions such as the National Gallery Singapore and the University of Sydney’s Power Institute. The pretense of the book in itself is unique. It created “a regional network of emerging and senior scholars” in one year, with an emphasis on archiving. The archival lens provides a unique historical and cultural perspective throughout the book.

As a result of returning to the art of the era long after the influential events have occurred, the authors are able to explore the lasting impact the era had on the country, artist, and culture. Not only does the basis of archiving allow the reader to have an enhanced reading experience with visual aids, but it also enables both the audience and author to explore a facet of culture from the perspective of an often overlooked historical context in conjunction with the examination of artwork. The archiving and documenting aspect allows the audience to understand the cultural implication both during the time period, as well as the impacts on preservation and expression today.

For example, the process of collecting research and archiving was heavily reflective of the impact of the Cold War on countries in the region. For instance, Cambodia’s art experienced mass and systematic destruction at the hands of the Khmer Rouge. In the essay “‘The Work the Nation Depends On’: Landscapes and Women in the Paintings of Nhek Dim,” Roger Nelson describes the difficulties he faced in trying to obtain documents pertaining to the work of Dim. However, because Nelson has a background in archiving, he was able to provide an underrepresented perspective into the impact foreign involvement in Cambodia had on cultural preservation.

The book’s strength lies not only in its archival lens, but in that it does not attempt to broadly generalize “Southeast Asian art” during 1945-1990. Rather, each author investigates in depth one person, topic, or event. This allows for specific issues to be explored from a fresh, focused lens. Specifically, in terms of Indonesia, the book explores both the impact of Indonesia remaining neutral during the Cold War as well as art movements after the 1965 killings. Especially regarding the incidents of 1965, the author was able to explore a taboo topic. Even today, communism and the acts of 1965 are still widely left out of conversation. The essay investigates how, “…this traumatic period impacted Indonesian modern art history from the perspective of those who witnessed it firsthand.” As an archivist and art historian, Wulan Dirgantoro was able to review a largely untouched subject through art, providing a perspective on the emotional toll of a national tragedy.

Ultimately the book attempts to remove the western lens from Southeast Asian art. Each author attempts to separate themselves from what they have been taught through traditional Eurocentric education. Too often, parts of history are written over by hegemonic powers. Stories are left unread and undiscovered, creating a single narrative, often unrepresentative of large swaths of the world. This collection of essays seeks to share these overlooked stories.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Gunungkidulan

Judul : Gunungkidulan
Pengarang : Wonggunung
Penerbit : BaturAgung
Tahun : 2018
Deskripsi : 823 Halaman + XVI ; 17,6 x 25 Cm
No Panggil : 300 Won g

Resensi oleh : Muhammad Indra Maulana

Mitos adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (arbitrer) sehingga sesuatu dianggab alamiah. Mitos, melalui fakta yang bisa digambarkan konsekuensinya, adalah Bahasa. Mitos adalah bentuk wicara” – Roland Barthes

Lahirnya kumpulan tulisan “gunungkidulan” ini hanya pemenuhan-emosional atas panguda-rasa penulis terhadap pawacana, atau paralambang purwa yang telah tergelar dengan cetha-ngegla di bumi Gunungkidul khususnya dan Jawa umumnya. Berdasarkan ilmu para winasis yang ia pahami, penulis membuat jejaring secara ala kadarnya. Cukup menarik bagi saya, ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membaca kumpulan tulisan ini. Jika membacanya terlalu serius, bisa jadi isinya menjadi tak serius dan banyak yang ngawur.

Terdapat banyak kumpulan mitos-mitos Gunungkidul di buku yang berhalaman 823 ini, yang akan membuat Anda mengantuk pada lembar-lembar awal. Jadi masuk akal ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membacanya. Salah satu mitos yang menarik untuk dibaca adalah “Gadhung”. Mitos ini dibungkus dalam sebuah esai yang membahas pohon sebagai materi yang ingin hidup. Artinya, oleh kapedal yang mewakili opini sekelompok orang atau masyarakat umum, dianggap mati. Aneh, bukan? Ya, itulah mitos.

Mitos adalah sistem komunikasi. Di dalamnya tersimpan pesan-pesan. Mitos merupakan sebentuk Bahasa. Bahasa mitos tak hanya berbentuk Bahasa yang berasal dari tulisan. Benda-benda, mahkluk, foto, dsb bias dimaknai sebagai tulisan, asalkan memiliki  ‘kosa kata’. Kata-kata, khususnya dalam kebudayaan kulawangsa Gunungkidul (Jawa), tentu memiliki sejarah epistemologinya sendiri. Maka inilah ikatan temalinya: mitos Gunungkidulan adalah pengungkapan kata-kata atas berbagai gambar, bentuk, benda, konsep hingga pemikiran Gunungkidulan.

Sempat terpikir kenapa sang penulis ini menggunakan dua bahasa dalam buku ini, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu guru dan murid dalam khasanah pengetahuan Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah tunggal guru: sama-sama berguru pada bahasa induk atau indung Nusantara. Artinya kedua bahasa ini memiliki sifat universal dari sesuatu yang disebut bahasa, yakni komunikatif. Bahwa bahasa adalah penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam seluruh kegiatannya.

Nalar penokohan si simbok seperti Dewi Sri, Nawang Wulan, Talang Warih, R(L)embayung, Rara Resmi, Rara Sudarmi, Rara kuning, Gadhung Mlati, dan penyebutan lainnya adalah gambaran penalaran peradaban Gunungkidul yang telah terikat kuat dengan ‘sejarah’ Siti atau Bumi Gunungkidul. Gambaran ini juga sekaligus metafora atas kontrak sosial masyarakat Gunungkidul dengan paralambang atau simbol yang amat dihormati dan ditinggikan: indu(k/ng).

Ketika di Eropa, pada dekade 40-an, Barthes selama dua tahun menulis tentang mitos-mitos (pos)modern orang Perancis seperti bubuk sabun dan deterjen, mainan anak-anak, otak Einstein dan lain-lain. Penulis, lewat pepenthan tulisan ini, mencoba bercerita tentang mitos-mitos wangsa tradisional Gunungkidul yang beberapa di antaranya berhubungan erat dengan bidang kerja keseharian para simbok (perempuan) di desa, seperti dhudhuh, tela, gathot, endhang-endhang, laron, weksa, menthol, pencok, thiwul, tempe, jangan lombok, ngliwet, utri dan lainnya. Tentu, topik-topik yang diinterpretasikan melalui buku ini bisa diasumsikan menggambarkan penalaran kehidupan wanita Jawa yang muncul dari beraneka totem tersebut, yang seakan-akan berbeda kutub dengan apa yang dilakukan Barhes. Seolah seperti mitos pramodern versus mitos (pos)modern.

Mitos bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk diselami agar kita selalu ingat bahwa kita senantiasa hidup berdambingan dengannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal

Judul : Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal
Penulis : Yuli Andari Merdikaningtyas
Penerbit : CV. Esa Media Tama, bekerjasama dengan Sumbawa, dan didukung oleh Lembaga Adat Tana Samawa
Halaman dan Ukuran : 120 hlm; 13 x 20 cm

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini ditulis berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bala Kuning (1931-1952).  Komunitas Sumbawa Cinema Society dan KITLV Digital Image Library adalah pihak yang mengoleksi katalog foto-foto tersebut. Dari dua sumber arsip foto yang berbeda, digunakan dua perspektif untuk meresponnya. Untuk sumber arsip foto pertama kacamata orang Eropa yang melihat dan mengimajinasikan Sumbawa sebagai tempat tinggal di Hindia Belanda menjadi perspektif yang digunakan. Sedangkan untuk sumber arsip kedua, perspektif yang digunakan lebih untuk membaca representasi Indonesia. Seleksi foto dilakukan dengan memilah foto-foto berangka tahun yang sama dengan sumber pertama.

Mengacu pada metodologi disiplin sejarah, posisi arsip dilihat sebagai sumber sejarah yang menempati kedudukan  tertinggi dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, atau dapat dikatakan sebagai sumber sejarah primer. Dalam pengantar buku ini,  disampaikan bahwa penulisan sejarah lokal sangat kering karena jauh dari pusat kekuasaan. Juga, tidak banyak yang berminat menulis sejarah lokal. Selanjutnya, pembicaraan tentang sejarah lokal Sumbawa yang bersumber dari foto dibicarakan di halaman 34 dengan berdirinya studio foto Sinar di Kota Sumbawa Besar. Tentu, untuk mampu membaca arsip foto, kita memerlukan konteks. Oleh karena itu,  diperlukan sumber-sumber lain, seperti teks foto, catatan harian penulis, maupun arsip lain yang mendukung dan relevan dengan arsip foto yang dimaksud.

Dalam halaman-halaman terakhir, foto-foto bernarasi dipaparkan. Foto-foto itu banyak tentang keluarga, pejabat-pejabat pemerintahan Belanda dan Kerajaan Sumbawa, dan sebuah perayaan maupun aktivitas yang diselenggarakan oleh kerajaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan

Judul : Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan
Penyusun : Agus Aris Munandar, Joko Madsono, Aris Ibnu Darodjad, Irna Trilestari, Linda Sunarti, dan Budi Eriyoko
Penerbit : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Basoeki Abdullah

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini merupakan salah satu kajian tentang karya lukis Basoeki Abdullah yang dilakukan oleh Museum Basoeki Abdullah. Dengan berangkat dari tema-tema lukisan Basoeki Abdullah secara berkesinambungan pada 2009, kajian pertama diterbitkan dengan judul Lukisan Basoeki Abdullah: Tema Dongeng, Legenda, Mitos, dan Tokoh Kajian. Kajian kedua, pada 2011, berjudul Lukisan Potret Basoeki Abdullah. Sedangkan kajian ketiga, dituangkan ke dalam buku pada 2018, bertema Perjuangan Bangsa, Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan.

Secara singkat, buku ini terdiri atas dua bagian. Pertama, lebih kepada penjelasan soal kerangka dan metode-metode kajian. Selanjutnya, baru mengulas soal tema yang dikaji beserta objek lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, baik yang disimpan di museum, perorangan, ataupun tempat lain yang masih berada di Indonesia.

Dalam buku ini lukisan-lukisan yang dikaji telah dikumpulkan dan dikelompokkan secara tematis, disertai tabel beserta deskripsi lukisan. Dari ketiga tema yang disuguhkan, untuk tema Perjuangan terdapat 7 lukisan dengan 2 peristiwa yang digambarkan yaitu 4 Gerakan Non Blok dan 2 Sketsa Revolusi. Untuk tema Sosial dan Kemanusiaan terdapat 16 lukisan, antara lain lukisan aktifitas di sawah, di pasar, di pelabuhan, figur nenek dan monyet, dan figur anak. Selain itu, beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah juga dibandingkan dengan lukisan-lukisan karya pelukis lain dengan kriteria kesamaan objek yang digambar.

Penutup dalam buku ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang dijelaskan sebelumnya, bahwa lukisan-lukisan Basoeki Abdullah cenderung realis. Dengan tidak melepaskan unsur keindahan dalam objek yang dilukis, pada perbandingan karya lukis Basoeki Abdulah dengan Dullah, Henk Ngantung, dan Rustamaji, hakekatnya adalah sama; bahwa lukisan mereka itu menyampaikan peristiwa sejarah dan visualisasi keadaan sosial.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.