Category Archives: Sorotan Pustaka

SOROTAN PUSTAKA | MEI-JUNI 2019

Selama tiga bulan, April-Juni 2019, aktivitas perpustakaan IVAA antara lain inventarisasi dan penyampulan buku sebanyak 1158 buah, katalog, majalah, komik serta input data buku ke Senayan Library Management System (SLiMS). Kebanyakan material-material tersebut adalah hibah dari Daniel Viko untuk 172 buku, Akademi Samali untuk 518 komik, serta dari KUNCI sebanyak 93 buah (katalog dan buku). Seperti biasa, aktivitas-aktivitas tersebut dikerjakan dengan bantuan dari empat rekan magang IVAA. Kemudian, untuk rubrik Sorotan Pustaka kali ini terdapat 5 buku yang kami ulas:

Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia 

Judul : Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia 
Penulis : Dwi Woro Retno Mastuti
Penerbit  : PT Sinar Harapan Persada
Tahun Terbit : 2014
Tempat Terbit : Jakarta
Halaman : 143
ISBN : 978-602-95696-8-1
Resensi oleh   : Wahyu Siti Walimah

Wayang adalah salah satu seni pertunjukkan di Indonesia yang berkembang pesat di Jawa dan Bali. Pada 7 November UNESCO menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, yang merupakan warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur. Ada beragam jenis wayang menurut bahan pembuatannya. Ada wayang kulit, wayang kayu, wayang orang, wayang rumput, dan wayang motekar. Salah satu jenis wayang kayu yang tidak begitu dikenal adalah wayang potehi. Buku Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia yang ditulis dalam dua bahasa ini, Indonesia dan Inggris, dapat menjadi pengantar mengenal wayang potehi dan singgungannya dengan Tionghoa. 

Dwi Woro Retno Mastuti memberikan Pendahuluan yang dapat mengantarkan pembaca mengenal maksud dari judul buku ini. Ia menerangkan secara singkat perbedaan antara China, Cina, dan Tionghoa. Selanjutnya buku ini dibagi ke dalam sub bab seperti, Peranakan Tionghoa di Indonesia, Wayang Potehi, Kota Gudo dan Wayang Potehi, Seni Pertunjukkan Wayang Potehi, dan yang terakhir Penutup.  

Topik awal yang ditulis adalah riwayat peranakan Tionghoa di Indonesia. Pada abad ke-17, suku Hokkian dari China berlayar ke arah Laut China Selatan hingga ke Jawa. Imigran China masuk ke pulau Jawa melalui pelabuhan-pelabuhan yang berada di pantai utara, kemudian menyebar ke daerah-daerah di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Lambat laun sebagian besar unsur-unsur budaya Tionghoa melebur dengan unsur-unsur budaya Jawa. Akulturasi budaya tersebut dapat diamati melalui unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, serta sistem religi dan kesenian. Proses akulturasi yang berlangsung lama telah menciptakan budaya baru yang berbeda antara budaya asal dengan interaksi masing-masing masyarakat tersebut. Budaya baru itu berkembang dengan perpaduan yang unik. Salah satu contoh produk budaya baru yang kemudian menjadi identitas masyarakat campuran itu adalah wayang potehi. Dua etnik yang bergabung tersebut masih menampilkan tanda yang dapat ditelusuri jejaknya, bahwa itu adalah bentuk yang berasal dari dua budaya China-Jawa. 

Sejarah wayang potehi menjadi topik yang cukup banyak dibicarakan dalam buku ini. Wayang potehi telah ada di provinsi Hokkian sejak 3.000 tahun yang lalu. Istilah wayang potehi berasal dari kata poo 布 (kain), tay  袋 (kantong), dan hie 戯 (wayang) yang kemudian disebut sebagai boneka kantong. Wayang potehi juga bisa diartikan sebagai wayang boneka yang terbuat dari kain meski bahan untuk beberapa bagiannya terbuat dari kayu. Susunan wayang potehi terdiri dari kepala, tangan, kaki menggunakan sepatu, dan badan yang berupa kantong. Ukurannya sekitar 30 cm, lingkar kepala sebesar 5 cm dan memiliki lebar 15 cm jika dibentangkan. Pementasan wayang potehi dilakukan di sebuah panggung yang disebut paylow dengan ukuran 130 x 105 x 40 cm dan berwarna merah, lambang dari kebahagiaan. 

Pada mulanya wayang potehi diciptakan untuk mengisi waktu luang para tahanan yang telah divonis mati. Dalam perjalanan waktu, fungsi hiburan tersebut berkembang menjadi fungsi ritual. Lakon yang dimainkan mengisahkan cerita kepahlawanan, sejarah, kerajaan, dan kehidupan para dewa. Sejak wayang potehi mengisahkan kehidupan para dewa, masyarakat Tiongkok beranggapan bahwa pertunjukkan wayang potehi merupakan sarana yang tepat untuk menyampaikan puji-pujian kepada para dewa dan juga segala hal yang berkaitan dengan para leluhur sesuai dengan ajaran Konghucu. Ungkapan rasa syukur atas keberhasilan yang diperoleh di bidang usaha, disampaikan melalui pertunjukkan wayang potehi. Mereka meyakini bahwa pementasan wayang potehi di halaman klenteng mendatangkan berkah dan rejeki yang melimpah untuk kehidupan mereka. Ketika wayang potehi dipentaskan di luar kelenteng, misalnya di taman hiburan atau di pesta, ia berubah fungsi menjadi media kritik sosial dan sarana penyampaian ajaran moral.

Dalam sub bab Kota Gudo dan Wayang Potehi, penulis menjabarkan sejarah Kota Gudo melalui penelitian yang mendalam dengan melibatkan berbagai sumber-sumber arsip pada masa Hindia-Belanda, cerita rakyat, dan sumber lain yang terkait dengan Gudo serta perkembangan wayang potehi di kota ini. Gudo merupakan kota yang cukup penting karena memiliki pabrik gula yang masih beroperasi sampai sekarang. Penduduk Kota Gudo terdiri dari keturunan Jawa dan Cina. Banyaknya penduduk keturunan Cina di Gudo membuat terbentuknya sebuah daerah pecinan di sana. Keberadaan pecinan tersebut lebih disebabkan oleh pabrik gula yang banyak mempekerjakan orang-orang Cina sebagai mekanik mesin pabrik. Daerah pecinan tersebut diberi nama Kampung Tukangan dan di sana terdapat Kelenteng Hong Sang Kiong. 

Perkembangan wayang potehi di kota ini lebih maju apabila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Jawa. Sejak 1967 hingga 1998 wayang potehi tidak berkembang. Terkait dengan kebebasan berekspresi di bidang seni, ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangannya yakni peristiwa politik Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan Peraturan Pemerintah No 14/1967. Pada masa pemerintahan orde baru, kegiatan yang berbau Tionghoa dibatasi untuk tampil di masyarakat. Hal tersebut membuat wayang potehi tidak dapat diapresiasi secara intensif. Sebagai akibatnya, di kota-kota besar seperti Surakarta, Yogyakarta, dan Semarang jarang terdengar pertunjukkan wayang potehi, karena setiap pertunjukkan Wayang Potehi di kota besar memerlukan surat izin petugas keamanan tingkat kota. Di sisi lain, kondisi politik Kota Gudo lebih kondusif. Pertunjukkan wayang potehi tetap berlangsung secara intensif. Jumlah penduduk yang sedikit membuat warga Gudo saling mengenal satu sama lain dan hal itu menciptakan hubungan baik di antara pihak keamanan dan warga. 

Buku Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Gudo tidak hanya menyajikan sejarah proses akulturasi dua budaya. Penulis juga menyajikan tahapan pertunjukkan wayang potehi mulai dari pembacaan suluk/ doa pembuka pagelaran, kemudian jejer (babak penceritaan): tahap ketika dalang mulai memainkan wayang potehi,  hingga pertunjukkan selesai. Penutupan pagelaran wayang potehi diakhiri dengan pembacaan suluk/ doa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Jejak Jejak Manusia Merah-Siasat Politik Kebudayaan Bali

Judul : Jejak Jejak Manusia Merah-Siasat Politik Kebudayaan Bali
Pengarang : I Ngurah Suryawan
Penerbit : BukuBaik
Tahun Terbit : 2005
Halaman : 276
ISBN : 979-3239-29-8
Resensi oleh : Santoso Werdoyo

Warna merah untuk font judul buku dan foto seorang remaja berambut mohawk yang sedang menata sesaji di jalan. Entah kesan apa yang coba dibangun oleh penulis, barangkali minor nadanya. Jejak Jejak Manusia Merah mengurai catatan mengenai jejak-jejak kuburan massal pembantaian PKI 1965-1966, khususnya di Kabupaten Jembrana ujung barat Pulau Bali. 

Catatan-catatan sejarah menyebutkan: sebelum menjadi tujuan wisata, Bali terkenal sebagai wilayah yang mengekspor budak belian. Bali juga dikenal sebagai daerah yang sangat ‘barbar’. Penuh peperangan dan pembantaian pada sesama.  Semua label itu segera berubah ketika eksotisme manusia Bali dengan perempuannya yang bertelanjang dada, pemandangan alam, seni dan tradisinya yang membuat para pelancong serta sarjana berlibur di Bali mulai dimunculkan. 

Pada 1930 unsur modernitas dibawa oleh para pelancong, pedagang, seniman, dan sarjana asing ke Bali melalui pariwisata. Lalu ia sempat tersendat ketika gejolak revolusi kemerdekaan berlangsung pada 1945-1949. Semakin parah ketika masuk ke ketegangan politik pada 1950-an hingga 1960-an. PNI dan PKI sedang dalam pertarungan politik, memperebutkan kekuasaan, yang akhirnya membuat Bali menjadi ikut panas. Para ‘manusia merah’, mereka yang dituduh sebagai simpatisan PKI, dibantai habis-habisan. Jejak kelam ini kemudian dikubur rapi dalam selimut tebal politik pariwisata budaya, sebuah ideologi pembangunan dan stabilitas keamanan ala orde baru. Perlahan tapi pasti, pembangunan infrastruktur pariwisata kembali menunjukkan giginya. Hotel, cafe, diskotik, dan tempat hiburan lainnya mulai bermunculan. Belum lagi bisnis prostitusi, narkoba hingga rantai kriminalitas yang seolah tak terelakkan. Kehidupan politik pascakolonial di Bali ditandai dengan politik siyu (bersorak dan mendukung yang dominan), untuk kemenangan Golkar. 

Sederetan peristiwa konflik dihadirkan melalui buku ini: sengketa pembagian sentra (kuburan) di lingkungan Banjar pada 10-11 Maret 2005, perselisihan anak muda Desa Pakraman Ulakan dan Angan Telu pada 13 Maret 2005, serta perselisihan di Desa Kejula pada 12 April 2005. Ada keyakinan dari penulis bahwa serangkaian konflik ‘etnis’ tersebut disebabkan oleh situasi keterhimpitan orang Bali di daerah kelahirannya sendiri yang membuat mereka saling klaim tanah dengan saudaranya. Sayangnya potret beringas Bali tidak dilihat sebagai persoalan yang berkaitan dengan konstruksi pariwisata. Olah karena itu yang terjadi justru penguatan identitas ke-Bali-an, ekstremnya gerakan politik identitas etnis. 

Keamanan dari pengaruh luar akhirnya menjadi perhatian pemerintah Bali. Gubernur Mangku Pastika menekankan keberadaan adat, budaya, dan agama yang satu, yakni Hindu. ‘Ajeg Bali’ menjadi jargon untuk menawarkan jalan baru ke arah keutuhan dan kesolidan. Sweeping pendatang menjadi salah satu agenda turunan dari jargon ini, apalagi pasca bom Bali. 

‘Nak Jawa’ menjadi sebutan untuk para pendatang yang datang ke Bali. Gaung sebutan ini hampir ada di setiap sudut kota ketika terjadi pencurian di Bali pada 1980-an. Sentimen negatif terhadap pendatang diperkuat oleh pemberitaan media massa. Sampai akhirnya terjadi bom Bali dengan Amrozi sebagai simbol ‘Nak Jawa’ yang telah menghancurkan Bali. ‘Nak Jawa’ juga diam-diam dimanfaatkan dalam skena perebutan kekuasaan politik di sana. Mereka kerap didekati untuk mendapat dukungan suara. Selain itu, kehadiran mereka juga menjadi harapan bagi para pemilik kos-kosan untuk menambah penghasilan. Ajeg Bali sebagai jargon menuju keutuhan, juga menyimpan dilema. 

Ada juga gambaran jejak-jejak kekerasan yang terjadi pada 1965-1969. Ada sebuah tegalan di tengah hutan bambu terdapat pelinggih (pura kecil sebagai tempat pemujaan). Pelinggih itu beratap kayu dan sudah lapuk. Orang-orang Melaya menyebutnya sebagai daerah Lubang Buaya. Berbeda dengan Lubang Buaya yang ada di Jakarta, Lubang Buaya yang ini tidak dilengkapi dengan monumen fisik. Monumen yang menjadi penanda adalah cerita dari para tetua. Mereka menyebutkan bahwa di sini dulu ada kurang lebih 50 mayat ‘manusia merah’ yang dikuburkan. Tidak semua mayat dikubur di situ. Dengan menggunakan truk, selebihnya dibuang di Pantai Candikusuma. 

Cerita atau malah sejarah tentang kekerasan yang berhubungan dengan para ‘manusia merah’ juga ada di Desa Tegalbadeng. Di desa ini, keutuhan Ajeg Bali agaknya terganggu dengan ragam versi mengenai peristiwa kelam yang melibatkan PKI, Front Pancasila serta Anshor. Ketidakpastian versi ini barangkali mirip dengan peristiwa G30S yang sudah sering kita dengar. Bedanya, peristiwa di Desa Tegalbadeng terjadi pada November. 

Selain di wilayah gerakan politik, kekerasan dan kekuasaan juga hidup di seni rupa. Jejak seni rupa Bali yang dipengaruhi politik kolonial dan kuasa elit lokal menciptakan desain seni yang diwariskan hingga kini. Semula gaya seni rupa Bali adalah untuk ritual, lalu bergeser menjadi modern sejak kehadiran Walter Spies dan Rudolf Bonnet pada 1927 dan 1929. Pitamaha pun lahir karena pengaruh paradigma barat pada 1939. Berlanjut pada terbentuknya Young Artist dan Sanggar Dewata Indonesia pada 1970-an. Dari rentetan perkembangan tersebut, sayang sekali narasi seniman generasi 1960-an telah dihapus oleh rezim orde baru karena asosiasi mereka dengan gerakan komunisme. Itu adalah kekerasan. Tidak hanya itu, kekerasan sebenarnya sudah berubah bentuk. Penghapusan narasi sejarah telah berganti menjadi pelestarian logika industrialisme di dunia seni rupa yang menempatkan seniman sebagai mesin produksi. Kekerasan yang terakhir ini jelas adalah warisan paling konkret dari perkembangan seni rupa sebelum-sebelumnya. 

Buku ini mencoba menghadirkan konstruksi sejarah yang tidak solid. Bukti dokumen berhadap-hadapan dengan ingatan. Dokumen sebagai representasi arus atas yang formal berbenturan dengan ingatan sebagai narasi dari arus bawah. Berbagai kekerasan yang terjadi di domain gerakan politik, kesenian, dan juga pendidikan telah menyisakan jejak-jejak kabur.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Kalam yang Menggapai Bumi 

Judul : Kalam yang Menggapai Bumi 
Penulis : Koko Hendri Lubis
Penerbit : BASABASI
Cetakan : Februari 2019
Tempat terbit : Yogyakarta
Halaman : 140 
ISBN : 978-602-5783-73-9
Resensi oleh : Nur Rizki Aini 

Ketika berbicara tentang komik akan muncul di benak kita tentang cerita bergambar yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah jalinan cerita. Tidak hanya menarik dari segi penampilan namun komik juga mempunyai beragam jenis cerita. Mulai dari cerita misteri, percintaan, drama hingga petualangan yang juga terbagi atas kategori umur. Oleh karena itu pecinta komik tidak hanya orang dewasa saja. Remaja dan anak-anak pun bisa menikmatinya. Namun, komik sempat menjadi bahan bacaan yang diperdebatkan karena dianggap mempunyai dampak buruk yang dapat merusak dan meracuni pikiran. 

Komik sempat dilarang beredar dan banyak percetakan tidak mau menerima pencetakan komik. Namun salah satu komikus Medan mulai merintis kembali penulisan komik, untuk menunjukkan komik sebagai bahan bacaan yang baik. Saat itu Zam Nuludyn membuat satu karangan pada majalah Tjergam pada 1961. Di situ ia menegaskan bahwa Tjergam sebagai istilah harus dinamis dan revolusioner. Isinya untuk membangun spirit, moral dalam kehidupan masyarakat. Sebagai pembaca kita diajak memperbaiki cara pandang dalam menilai komik yang dulunya dianggap kurang mendidik. Melalui buku ini, Koko Hendri Lubis telah menuliskan perjalanan komik yang dinamis, khususnya dalam konteks daerah Medan. 

Koko Hendri Lubis memiliki latar belakang sebagai seorang peneliti budaya pop dan tradisi lisan di Sumatera Utara. Pria kelahiran 1977 ini telah menulis banyak artikel di berbagai buletin, surat kabar dan majalah. Pada 2017 ia terpilih mengikuti program residensi penulis yang diadakan Kemendikbud dan Komite Buku Nasional di Belanda. Di sana, selama dua bulan ia meneliti arsip dan dokumentasi terkait roman-roman yang terbit di Medan. 

Buku ini merupakan kumpulan esai yang berasal dari karangan di berbagai surat kabar, ceramah dan diskusi tentang komik. Di dalam buku ini terdapat 25 karangan esai yang termasuk di dalamnya dua wawancara dengan dua orang tokoh komik. Harapan penulis bisa membuat pembaca mengerti dan memahami perkembangan komik selama lima dasawarsa belakangan ini khususnya yang ada dan terbit di Medan. Komik Medan diakui khalayak mempunyai gambar yang baik, serta mempunyai ciri khas jalan cerita dan karakter tokohnya yang unik.

Komik remaja di Indonesia pada era klasik menjadi topik di bab awal buku ini. Komik Indonesia yang bertema cerita remaja pernah jadi ikon pada tahun 1960-1970-an. Namun pada 1965-an ada beberapa komik yang dilarang beredar karena anggapan mengandung unsur erotis. Untuk mengatasi hal tersebut para komikus membuat wadah yang bernama Ikatan Seniman Cergamis Indonesia (IKASTI).

Bab kedua dan selanjutnya dari buku ini menceritakan sejarah, biografi dan perjalanan para komikus dari Medan. Ada latar belakang, proses pembuatan, serta prinsip-prinsip yang berbeda di antara para komikus. Beberapa komikus menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang konseptual. Beberapa komikus tersebut adalah Bahzar Sou’yb dengan gaya visual yang memiliki roh, Zam Nuludyn dengan segudang kisah jenakanya, dan Taguan Hardjo dengan idiom identitas bangsa. 

Selain sejarah dan biografi, buku ini juga menyajikan sedikit cuplikan komik yang dibuat oleh para komikus. Salah satunya adalah komik dari Zam Nuludyn yaitu Komik Kebesaran Dewi Krakatau. Isinya menceritakan seorang putri yang bijaksana dengan kegelisahannya soal pernikahan. 

Dalam dua bab terakhir ada dua hasil wawancara antara penulis dengan para komikus. Isinya adalah pengalaman para komikus dalam memulai perjalanan membuat komik serta keluh-kesah mereka. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam mempertahankan dan menciptakan ide-ide karyanya. Mereka juga memberikan saran kepada para komikus baru untuk selalu belajar dan mencoba hal baru untuk membuat kreasi komik.

Buku ini cukup memberi informasi lengkap dengan menyajikan 25 esai tentang perjalanan komik khususnya di Medan. Yang menjadi titik fokus dalam kumpulan esai ini adalah dinamika pertumbuhan dan watak para komikus yang merespon sekitarnya. Kepekaan tiap komikus yang beragam dalam skena komik era 1990-an.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Titipan Umar Kayam: Sekumpulan Kolom di Majalah TEMPO

Judul Buku : Titipan Umar Kayam: Sekumpulan Kolom di Majalah TEMPO
Penulis : Umar Kayam
Editor : Tim Editor TEMPO
ISBN/ISSN : 979-9065-06-2
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Pusat Data dan Analisa TEMPO
Tahun Terbit : 2002
Tempat Terbit : Jakarta
Resensi oleh : Ahmad Muzakki

“Penulis-penulis Jawa lama itu, meskipun mereka penulis sewaan raja, mereka masih berani memanjakan fantasinya seluas-luasnya bahkan juga segila-gilanya. Itu semacam kebebasan sikap dari mereka”

-Umar Kayam, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (1972)-

Kebudayaan  merupakan segala ciptaan-ciptaan manusia yang lahir dari kesadaran pikiran dalam memenuhi hasratnya untuk menuntut kehidupan yang sesempurna-sempurnanya. Karya sastra merupakan salah satu hasil wujud kebudayaan hasil karya manusia yang cukup tua. Sastra memiliki hubungan dengan kondisi politik, ekonomi, dan sosial. Dengan kata lain, kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang ada di sekitar kita dapat melatarbelakangi perkembangan sejarah sastra. Karya sastra dapat memberikan sebuah gambaran kehidupan dan kondisi sosial pada zaman tertentu. Salah satu tokoh kebudayaan khususnya sastra Indonesia yang dikenal masyarakat ialah Umar Kayam.

Pria kelahiran  Ngawi, 30 April 1932 ini pernah menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah menyelesaikan  sarjana muda di Universitas Gadjah Mada (1955), Umar Kayam meraih gelar M.A. dari Universitas New York (1963), dan meraih gelar Ph.D. dari Universitas Cornell (1965). Ia mulai menulis karya sastra ketika mendapat kesempatan memperdalam ilmunya di Amerika. Sebelumnya, sejak masih sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, perhatiannya lebih difokuskan pada jenis kegiatan di bidang seni lainnya, yaitu teater dan film. Tahun 1954/1955 Umar Kayam dikenal sebagai aktivis teater Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat UGM. Selain itu, Umar Kayam juga menulis skenario film “Jalur Penang dan Bulu-Bulu Cendrawasih” yang difilmkan pada 1978. Umar Kayam juga pernah bermain sebagai aktor dalam film “Karmila” dan “Pengkhianatan G-30-S/PKI” sebagai Bung Karno. 

Umar Kayam dikenal aktif menulis sebuah karya sastra dan menulis kolom di media surat kabar, harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta terbitan hari Selasa. Kolom-kolom itu kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam tiga kumpulan, salah satunya adalah “Mangan Ora Mangan Kumpul”: berisi 127 kolom yang terbit antara 12 Mei 1987 hingga 30 Januari 1990. Selain harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta majalah TEMPO juga menjadi salah satu media massa yang memuat tulisan-tulisan Umar Kayam. TEMPO sebagai salah satu media massa tersohor di Indonesia beranggapan bahwa rasanya tulisan Umar Kayam itu terlalu penting untuk dibiarkan tersimpan begitu saja di halaman majalah yang nantinya akan menjadi arsip. Pertimbangan itulah yang membuat Pusat Data dan Analisis TEMPO untuk menerbitkan antologi tulisan Umar Kayam.

Tahun 2002 Pusat Data dan Analisis TEMPO akhirnya menerbitkan buku kumpulan kolom-kolom Umar Kayam. Buku ini menghimpun tulisan Umar Kayam yang pernah dimuat di majalah TEMPO dengan judul “Titipan Umar Kayam: Sekumpulan kolom di majalah TEMPO”. Buku ini terdiri dari XVI+230 halaman, menghimpun kolom-kolom Umar Kayam dalam kurun waktu tahun 1974 sampai tahun 1999. Sebuah ilustrasi foto Umar Kayam dengan latar belakang gambar pewayangan menunjukkan dengan jelas bahwa buku ini berisi tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kebudayaan di Indonesia. 

Buku kumpulan kolom ini dibuka dengan kolom Umar Kayam yang berjudul “Potret Affandi”. Kolom ini dimuat pada 1974, berisi bagaimana kehidupan singkat sang maestro pelukis Indonesia Affandi Koesoema. Umar Kayam juga menuliskan kondisi galeri Affandi yang ada di pinggiran kali Gajah Wong, Yogyakarta. Melalui tulisannya Umar Kayam mampu membawa imajinasi pembaca untuk ikut memahami proses penciptaan sang maestro. 

Umar Kayam memilih masalah yang aktual sebagai tema tulisannya. Taufik Abdullah, rekan dekat Umar kayam, ditunjuk untuk memberikan pengantar buku ini. Melalui tulisannya yang berjudul “Ia Bercanda Sambil Berfikir ”, Taufik Abdullah berbicara bahwa kolom-kolom Umar Kayam ini bukan hanya dianggap sebagai potret sosiologi sesaat, melainkan diperlakukan pula sebagai dokumen sejarah sosial. Sifat dokumenter dari kumpulan kolom ini semakin terasa setelah perjalanan waktu yang semakin memisahkan kita dari saat ketika kolom-kolom ini ditulis.  

Kolom dengan judul “Orang – Orang Sial dan Ilmu Sosial” yang dimuat pada 1980 menggambarkan salah satu potret sosial yang ia renungkan. Melihat judulnya saja kita dapat memprediksi bahwa tulisan ini mengandung nada paradoks untuk mengkritik sebuah fenomena sosial yang ada. Kolom ini menceritakan bagaimana perjuangan hidup masyarakat petani dan nelayan. Lebih jelasnya bukan hanya perjuangan hidup, tetapi kesulitan mereka yang harus berjuang demi kehidupan keluarga mereka. Kesulitan yang semakin menjadi ketika ada jarak antara mereka dengan orang-orang birokrasi kelembagaan desa. Secara tersirat kolom ini juga menceritakan adanya perbedaan kelas sosial antara priyayi dan masyarakat biasa. Pembeberan realitas itu seolah menjadi teguran keras untuk para pujangga ilmu sosial profesional yang menguasai teori serta metodologi.

Pengalaman kesuksesan memerankan Bung Karno dalam film “Pengkhianatan G-30-S/PKI” juga ditulis Umar Kayam dalam kolomnya yang berjudul “Dua Kali Bersama Bung Karno”. Kolom ini menceritakan kekaguman Umar Kayam terhadap sang proklamator negeri ini. Ia menceritakan bagaimana dirinya mendapat kesempatan dua kali berjabat tangan langsung dengan Bung Karno. Pertama saat terjadinya revolusi di Jogja dan yang kedua saat Bung Karno sedang di ambang senja kekuasaannya. Ia juga menceritakan perasaannya saat Arifin C. Noer menunjuk dia untuk berperan sebagai Bung Karno dalam film tersebut. Ada beberapa adegan yang meninggalkan kesan membekas, yakni ketika dialog dengan Soeharto dan ketika Bung Karno akan dipindah dari Istana Merdeka menuju Wisma Yaso. 

Tahun 2002 Umar Kayam meninggal dunia. Tentu saja, buku ini bisa menjadi kumpulan peninggalan Umar Kayam untuk kita semua. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso

Judul Buku : Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso
Penulis : Edhi Sunarso
Editor : Suwarno Wisetrotomo
ISBN/ISSN : 978-602-97402-1-1
Bahasa : Indonesia
Penerbit : PT. Hasta Kreatifa Manunggal
Tahun Terbit : 2010
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Rully Adhi Perdana

Edhi Sunarso adalah seorang seniman yang juga terlibat dalam gerak “menjadi dan menjaga Indonesia”. Lahir di Salatiga, 2 Juli 1932 (Edhi mengarang sendiri tanggal lahirnya ketika menjadi tahanan perang), Edhi merupakan salah seorang seniman patung terpenting di Indonesia. Namun, jalan kehidupannya – berkat hobi atau kegemarannya menggambar – membawanya ke dunia seni rupa.

Terpisah dengan orang tua kandung dan saudara-saudara kandungnya sejak bayi, menjadi komandan regu dan tergabung dalam kesatuan Pasukan Sambernyawa Divisi I Batalion III Resimen V Siliwangi di usia 14, dan menjadi tahanan perang selama tiga tahun, merupakan fase “perjuangan” dalam hidup Edhi Sunarso sebelum memberikan dirinya seutuhnya ke dunia seni. 

Kegemarannya dalam menggambar sudah terbentuk dan mendapat kesempatan untuk berkembang ketika Edhi berada di penjara. Rupanya, kebiasaan itulah yang membuatnya mampu beradaptasi secara cepat ketika ia “ikut-ikutan” membuat sketsa bersama mahasiswa ASRI di Pasar Beringharjo. Pujian atas gambar dan sketsanya, serta ajakan untuk belajar di ASRI datang kepadanya dari seorang pengajar di ASRI kala itu, yang kemudian ia kenal sebagai Hendra Gunawan, seorang seniman tersohor. Sejak saat itu, ia bergabung sebagai siswa Toehorder ASRI (siswa luar biasa, tidak diperkenankan mengikuti pelajaran teori, tapi boleh ikut praktik bersama siswa yang lain).

Ketekunannya dalam menggambar potret, sketsa, menyalin catatan dari teman-temannya yang belajar di ASRI, serta keluwesannya dalam berkomunikasi membuat Edhi mampu mendapat tempat di rumah Hendra Gunawan dan di Sanggar Pelukis Rakyat. Pengalaman Edhi Sunarso dalam membuat patung-patung pribadi dari batu menarik perhatian Hendra. Perhatian, pendekatan, dan didikan Hendra dalam membuat patung dari bahan batu berdampak pada Edhi yang mendapat tugas untuk mengerjakan relief pada salah satu kaki Tugu Muda di Semarang.

Sejak proyek Tugu Muda, relasi antara Edhi Sunarso dengan Presiden Sukarno kian erat. Keinginan Sukarno untuk membangun monumen, patung, dan diorama mampu dieksekusi dengan tepat oleh Edhi. Tentu saja, Edhi dibantu oleh teman-temannya di ASRI, kenalannya di berbagai tempat, hingga pembuat kijing di daerah Kaliurang. Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Jakarta), Patung Dirgantara, Monumen Pembebasan Irian Barat, Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Museum Diorama Monumen Nasional, adalah beberapa tugas besar yang pernah dikerjakan oleh Edhi Sunarso.

Sebagai buku otobiografi, buku tersebut mampu menampilkan secara lengkap perjalanan hidup Edhi Sunarso sejak kanak-kanak hingga ketika buku tersebut diluncurkan (2010). Kisah hidupnya secara pribadi, keluarganya, keterlibatannya sebagai pejuang dan pematung, semua diceritakan secara urut dan rapi. Percakapan-percakapan penting yang terjadi dalam hidupnya dengan Hendra Gunawan maupun Presiden Sukarno, masih mampu ditulis dengan baik. Buku otobiografi ini juga terbilang lengkap karena disertai beberapa foto karya Edhi Sunarso, foto dokumentasi ketika menggelar pameran di Jogja Gallery dan Galeri Salihara, serta foto dengan (alm) Presiden Suharto ketika membicarakan salah satu proyek.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Sorotan Pustaka | Maret-April 2019

Di dalam edisi ini, ada tiga buku yang kami ulas sebagai bagian subrubrik Sorotan Pustaka. Pertama adalah “Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta” karya Ibed Surgana Yuga yang bicara soal ragam warna dan suara dalam kerja seni peran. Kedua adalah “Seni Kejadian Berdampak” karya Bramantyo Prijosusilo, yang membicarakan kerja seni (khususnya seni daerah) berdampak. Perhatian kepada ke-daerah-an juga nampak dari buku ketiga, yakni “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII”. Sebuah buku hasil dari disertasi Goenadi Nitihaminoto ini memaparkan kajian tentang masyarakat Gunungwingko yang tidak lepas dari kesenian.

Aku-Aktor: Menyelami Kerja Seni Peran

Judul : Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta
Penyunting : Ibed Surgana Yuga
Penerbit : Kalabuku
Cetakan : Juni 2018
Halaman : 239
ISBN : 978-602-19352-9-3
Resensi oleh : Gladhys Elliona Syahutari

Salah satu bentuk seni pertunjukan yang cair adalah seni peran. Bentuk seni ini dianggap menjadi satu dengan teater atau film, walau pada kenyataannya, seni peran dapat menjadi proses yang terpisah dari teater maupun film karena dapat diaplikasikan di berbagai konteks. Buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta yang merupakan terbitan penerbit khusus buku teater, Kalabuku, mencoba membedah cara kerja aktor di Yogyakarta dan mengurai proses pembentukan diri seorang aktor dalam mencipta karakter maupun mengasah kemampuan seni perannya. Buku ini kemudian menjadi pengantar yang baik bagi setiap aktor yang mendambakan sebuah wadah bertukar pikir tentang metode pembangunan karakter. Kita kemudian akan menangkap bahwa, setiap aktor memiliki metode yang terpersonalisasi karena menerapkan campuran berbagai metode pemeranan yang disesuaikan dengan kebutuhan penciptaan atau ideologi pertunjukan tertentu.

Ibed Surgana Yuga, selaku editor buku ini, memberikan sebuah pembuka yang dapat mengantarkan pembaca mengenal maksud dari judul Aku-Aktor. Ibed menerangkan bahwa buku ini merupakan kumpulan catatan proses keaktoran, di mana seorang aktor menciptakan sebuah peran melalui berbagai cara. Terlebih dahulu Ibed menerangkan bahwa aktor memiliki tiga ‘aku’: aku-diri, aku-aktor, dan aku-laku. Perbedaan ini mencakup kedirian seorang aktor sesuai dengan konteksnya yaitu seseorang sebagai dirinya sehari-hari, seseorang yang menjalankan profesinya sebagai aktor, dan seorang aktor yang menjalankan karakter yang telah disematkan padanya. Melalui deskripsi pembuka ini, kita diantar pada pemahaman proses kreatif berbagai aktor Yogyakarta dalam level aku-aktor — sesuai dengan judul besar buku ini.

Terdapat 27 esai — termasuk pengantar — yang ditulis langsung oleh para aktor, secara singkat mengenai proses keaktoran dan metode uniknya masing-masing. Aktor-aktor yang menuliskan prosesnya berasal dari latar belakang genre akting dan penerapan prinsip yang berbeda-beda. Sebaran keberagaman aktor dan aktris juga cukup berimbang, tidak hanya genre akting, tapi juga pada lama pengalaman keaktoran, sampai dengan tempat di mana aktor berkarya. Tiga esai terakhir mencakup pengalaman aktor dari luar Yogyakarta yang diundang menulis sebagai pembanding. Kumpulan esai ini kemudian dibagi lagi dalam lima sub bab. Sub bab Konsep berisikan pemikiran para aktor yang menjelaskan bagaimana keaktorannya dapat memperkuat identitas diri dan idealismenya. Selanjutnya para aktor yang menulis di bagian Metode menjabarkan ragam cara penerapan akting dalam pertunjukan yang akan atau pernah mereka jalani. Dalam sub bab Proses, para aktor menjabarkan lika-liku pelatihan dan jalan menemukan diri masing-masing dalam dunia seni peran. Masuk ke dalam bagian Menengok Ke Depan, terdapat empat tulisan tentang proses keaktoran para aktor senior Yogyakarta yang juga mencakup pandangan mereka tentang generasi aktor penerus. Di bagian terakhir, yaitu Menengok Ke Luar, adalah kumpulan esai keaktoran oleh para pelaku seni peran di luar Yogyakarta.

Penjabaran oleh para aktor begitu beragam, karena ketika kita membaca penulisan dari masing-masing aktor, tidak hanya cara pandang saja tapi gaya bahasanya pun berbeda-beda. Beberapa aktor dapat menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang memang lebih kuat menceritakan konsep yang mereka yakini dalam mendalami seni peran. Misalnya dalam esai pembuka, aktris Agnes Christina menjabarkan bagaimana mengedepankan kenyamanan diri dalam menampilkan sesuatu sebagai bentuk kejujuran dan pandangannya pula mengenai penonton sebagai alam pertunjukan. Esai Agnes kemudian menjadi pembuka yang baik sebab mampu mengemukakan konsep abstrak yang kemudian mampu menghantarkan pembaca ke tulisan-tulisan yang lebih teknis. Contohnya tulisan B.M. Anggana yang menjelaskan tentang metode pelatihan seni peran dan bekal apa saja yang aktor perlukan sebelum pementasan, serta tulisan BaBAM dalam sub bab Metode yang lebih menitikberatkan pada bagaimana para aktor di Cabaret Show menerapkan penampilan dan persiapan apa saja yang diperlukan untuk penampilan cross gender. Melalui ketiga contoh tersebut, kita sudah dapat menangkap bahwa penulisan mengenai proses keaktoran tidak bisa seragam, karena setiap aktor telah melalui proses dan referensi yang beragam — sehingga kekuatan dan kekayaan karya mereka pun memiliki keunikan masing-masing.

Buku kumpulan esai keaktoran ini kemudian diniatkan menjadi salah satu wadah untuk mengarsipkan berbagai bentuk metode seni peran. Usaha pengarsipan ini bisa dibilang cukup berhasil, sebab walau tidak mampu menangkap seluruh pemikiran dan metode aktor Yogyakarta, 27 esai ini nampaknya sudah cukup mewakili pelaku seni peran. Usaha mengarsipkan proses keaktoran sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Teater Satu Lampung, yang mengumpulkan catatan kreatif setiap aktor dalam kelompok teater dan dibukukan. Alhasil, walaupun berada dalam satu kelompok, pandangan yang diambil dalam proses kreatif tetap memiliki warnanya masing-masing. Hal ini juga dapat kita temukan dalam buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta. Jika dalam satu kelompok perbedaan sudut pandang yang diambil beragam, dalam satu ekosistem teater di Yogyakarta diversitas itu kemudian menjelma menjadi sebuah spektrum. Metode pengumpulan tulisan ini kemudian menjadi sebuah rentang warna yang penting dimiliki untuk kolektif arsip dalam mengambil berbagai jenis warna demi merangkai gambaran sejarah, bidang, dan peristiwa yang lebih holistik. Terlebih, seni peran yang identik dengan metode yang berfokus pada penerapan panggung dan kesadaran pengarsipan dalam seni pertunjukan masih belum banyak digalakkan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk melihat bahwa proses kreatif seni peran tidak bisa dilihat dari dua sisi, seperti bagus-jelek, tepat-tidak tepatnya suatu metode, tapi semuanya sangat bergantung pada jenis seni peran apa yang ingin diperjuangkan serta semangat berkarya yang tiada henti — bahwa semua suara dan gaya bercerita dalam seni peran patut diberi ruang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Merawat Kebudayaan Lokal Melalui Seni Kejadian Berdampak: Narasi Perjalanan Proses Penciptaan Karya Seni Bramantyo Prijosusilo

Judul : Seni Kejadian Berdampak
Penulis : Bramantyo Prijosusilo
ISBN/ISSN : 978-602-356-229-9
Penerbit : Kepel Press
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Ahmad Muzakki

Sebuah induk kesenian menjadi sebuah tradisi bangsa kita yang sangat kaya dan berkembang, akan tetapi saat ini hampir tidak mendapatkan perhatian dari dunia pendidikan kesenian. Begitulah bunyi kalimat pembuka pada bab pertama di buku ini,  menggambarkan bagaimana kondisi seni upacara adat sekarang. Meski kurang tersentuh, seni upacara adat tidak mati. “Lingkungan komunitas keagamaan masih menjaga kesuburan upacara adat meski mungkin seninya kurang kreatif”, kata Bramantyo Prijosusilo yang tak lain merupakan penulis buku yang berjudul “Seni Kejadian Berdampak”.

Bramantyo Prijosusilo memiliki latar belakang sebagai seorang seniman. Pria kelahiran 1897 ini pernah bersekolah di SMA Kolese de Britto dan mendapat kesempatan belajar kesenian di bawah asuhan Gregorius Sukadi. Selain itu, Bramantyo juga pernah belajar di Bengkel Teater W. S. Rendra dan mendirikan Teater Akar di Yogyakarta. Walaupun sempat dikeluarkan dari jurusan teater IKJ, Bramantyo Prijosusilo tetap berkarya dan dikenal di dunia seni Indonesia. Lahirnya buku “Seni Kejadian Berdampak” ini menjadi salah satu saksi perjalanan proses penciptaan karya seninya.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini tidak begitu tebal. Buku karya Bramantyo Prijosusilo ini memiliki tebal tujuh puluh tujuh halaman, diterbitkan pada 2019 oleh Penerbit Kepel Press dari Yogyakarta. Ilustrasi karya Joseph Wiyono yang berjudul “Kebo Ketan Kraton Ngiyom” menjadi gambar sampulnya dan di setiap pergantian bab terdapat ilustrasi yang akan membawa imajinasi pembaca terlibat ke dalam narasi buku ini.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Bramantyo Prijosusilo menuliskan pengalamannya dalam menghidupkan kembali budaya upacara tradisi. Dinamika yang dialaminya sangat beragam, dari mulai harus berurusan dengan kelompok organisasi agama hingga harus bersangkutan dengan pihak kepolisian. Akan tetapi hal itu justru menjadi salah satu bahan pengembangan karya yang akan dibuatnya. Menghidupkan kembali upacara adat seperti yang Bramantyo Prijosusilo lakukan di era modern seperti ini sangat sulit, berbenturan dengan anggapan adanya pelecehan agama hingga menghalalkan kekerasan dengan dalih berjihad. Hal itulah yang dialami Bramantyo Prijosusilo,  yang dituliskan dalam salah satu bab buku ini.

Bramantyo Prijosusilo percaya bahwa penyelenggaraan upacara adat dapat berpengaruh terhadap kondisi sekitar, dari konteks sosial masyarakat hingga keseimbangan alam. Selain itu, Bramantyo Prijosusilo juga percaya bahwa upaya menghidupkan kembali upacara adat dapat selaras dengan cita-cita negara yang terkandung dalam tubuh Pancasila. Sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang ketika keragaman budaya sudah mulai luntur.

Masyarakat Indonesia sudah sangat lama mengenal mitos. Mitos tercipta dari pendahulu kita, menyimpan banyak pesan yang harus selalu dikontekstualisasi. Akan tetapi, tidak jarang orang cenderung memandang mitos sebagai takhayul. Padahal, keberadaan mitos dalam suatu daerah dapat mempengaruhi bagaimana kondisi dan perkembangan sebuah kebudayaan lokal yang ada, termasuk upacara adat.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Upaya Bramantyo Prijosusilo yang tercatat dalam buku ini dan menjadi salah satu hal yang menarik adalah upayanya dalam menghidupkan kembali mitos-mitos yang sudah hampir tiada. Seperti yang dilakukannya di Sendang Margo, tepatnya di Alas Begal. Bramantyo Prijosusilo memunculkan kembali kisah Peri Setyowati untuk menghubungkannya dengan perbaikan Sendang Margo dan Sendang Ngiyom serta kawasan penyangganya. Narasi mengenai mitos di dalam buku ini dapat memberikan pandangan kepada para pembaca, bahwa percaya karena takut bukanlah sikap yang tepat untuk hidup bersama mitos, melainkan memahami mengapa mitos itu ada di sekitar kita.

Dijelaskan juga secara rinci bagaimana usaha Bramantyo Prijosusilo memunculkan Upacara Kebo Ketan. Upacara Kebo Ketan terinspirasi dari narasi Joko Samudro dan Sri Parwati yang diolah Bramantyo Prijosusilo. Upacara Kebo Ketan yang dilaksanakan dapat merangsang praktik rehabilitasi lingkungan hidup sekitar. Maksud dari rehabilitasi adalah melalui upacara ini masyarakat menjadi sadar akan lingkungan sekitar. Seperti yang Bramantyo Prijosusilo telah lakukan, kondisi Sendang Margo di Alas Begal yang tidak terawat mulai diperhatikan masyarakat sekitar. Teknis pelaksanaan dan hasil evaluasi acara adat ini juga disampaikan Bramantyo Prijosusilo di dalam buku ini. Pada dasarnya Bramantyo Prijosusilo memiliki harapan besar agar Upacara Kebo Ketan dapat menjadi salah satu wahana edukasi.

 

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Buku “Seni Kejadian Berdampak” tidak hanya menyajikan proses perjalanan penciptaan karya Bramantyo Prijosusilo. Ia juga menyajikan bagaimana usaha merawat sebuah kesenian rakyat daerah itu memiliki dampak. Melalui dua bab terakhir dalam buku ini, bersumber dari pengalaman empiris, Bramantyo Prijosusilo menuliskan proses pembuatan sebuah karya kesenian berdampak dengan jelas, “Seni kejadian berdampak memiliki dua fokus yang berbeda dengan kesenian lainnya, yakni fokus kepada dampak yang diupayakan dan fokus pada event yang digelar dan hal ini dilakukan secara berkala”. Selain itu, ia juga menyebutkan dampak lain bahwa sebuah karya seni kejadian berdampak dapat memberikan pelepasan batin jika dilaksanakan secara seksama dan khusyuk. Narasi ini ditulis Bramantyo Prijosusilo setelah melihat fenomena kapitalisme yang mendulang keuntungan di wilayah-wilayah yang seharusnya bersifat sakral.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Situs Gunungwingko, Situs Masyarakat Pesisir

Judul : Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII
Penulis :Dr. Goenadi Nitihaminoto, Drs. Nurhadi Rangkuti, M.Si., Drs. Muhammad Chawari, M.Hum., Alifah, M.A
Penerbit : Dinas Kebudayaan DIY
Cetakan : Desember, 2018
Halaman : 231 halaman
ISBN : 978-602-53183-4-4
Resensi oleh : Najia Nuriyana (Kawan Magang IVAA)

Buku ini merupakan hasil penelitian disertasi Goenadi Nitihaminoto selama kurang lebih 18 tahun, dari 1972 sampai 1990. Goenadi Nitihaminoto lahir di Tuban, 12 November 1971. Ia menjadi peneliti bidang arkeologi prasejarah dari 1989 hingga 2008. Selama 9 tahun, ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja sebagai Kepala di Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku yang diterbitkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta beserta Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta ini dimaksudkan untuk mengapresiasi sosok Goenadi Nitihaminoto.

Buku “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII” menceritakan bagaimana fase kehidupan di pesisir selatan Jawa pada masa prahistori atau awal Masehi. Situs Gunungwingko terletak di area pemukiman di utara objek wisata Pantai Samas, yaitu di Desa Srigading dan Desa Tirtohargo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; diapit oleh dua lembah sungai yaitu Kali Opak dan Kali Progo. Mulanya Gunungwingko adalah nama sebuah desa kuno yang saat ini telah berubah menjadi Desa Tegalrejo. Istilah Gunungwingko berasal dari kata ‘wingko’, yang dalam bahasa Jawa artinya adalah gerabah, sedangkan gunung adalah gunung atau bukit. Di area pegunungan itu banyak ditemukan artefak gerabah.

Masyarakat Gunungwingko memiliki garis dengan ras Mongoloid, ditandai oleh peninggalan kebudayaannya yang hidup sejak awal Masehi hingga abad ke-17. Kehidupan masyarakatnya dibagi menjadi 4 lapisan budaya. Setiap lapisan budaya ditandai oleh penemuan benda yang berbeda. Pada lapisan budaya pertama dan kedua mereka hidup dengan cara semi menetap. Pada lapisan budaya ketiga mereka mulai hidup dengan cara menetap. Karena terdapat 4 lapisan budaya maka terjadi perubahan fisik lingkungan yang berbeda pula. Masyarakat Gunungwingko umumnya hidup sebagai petani garam karena letaknya yang dekat dengan laut dan ditandai oleh artefak gerabah sebagai alat pembuat garam. Selain bermata pencaharian sebagai petani garam, masyarakat Gunungwingko juga berternak binatang seperti sapi, kambing, kerbau, babi, ayam, itik dll. Mereka juga membuat manik-manik, berburu, dan menangkap ikan.

Kehidupan relijius juga menjadi topik yang tidak luput dibicarakan. Masyarakat Gunungwingko mengenal ritual tingkepan dalam kelahiran, upacara tandur dalam pertanian, dan menyakini adanya benda magis yang dapat mengusir roh jahat. Anak-anak memakai gelang yang terbuat dari tulang belakang ikan, manik-manik, biji-bijian, dengan mata kalungnya dari gigi taring binatang, sebagai penolak roh jahat. Gambaran kehidupan relijius masyarakat Gunungwingko juga dijabarkan berdasarkan tata cara penguburan dan perawatan mayat. Urusan kuburan juga menunjukkan stratifikasi sosial, ditandai dengan bekal macam apa yang diberikan di dalam kuburan. Kuburan yang terdapat perhiasan dari logam menunjukkan bahwa mayat di dalamnya memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi, dibanding dengan bekal kuburan yang hanya berwujud gerabah.

Selain kehidupan relijius dan sosial, aspek teknologi dan kesenian menjadi topik yang diulas. Temuan-temuan yang ada menunjukkan perubahan fase teknologi masyarakat Gunungwingko. Hal ini dibuktikan dengan teknologi pembuatan gerabah yang berubah dari metode manual dengan tangan ke metode roda putar cepat. Seni kriya menjadi kesenian yang hidup di masyarakat Gunungwingko, yang ditandai oleh sisa-sia pecahan gerabah yang memiliki beberapa pola dan motif berbeda. Motif yang ditemukan adalah motif duri ikan dan garis-garis vertikal.

Bagi saya buku ini memberi informasi yang cukup padat mengenai situs Gunungwingko, meski sampulnya tidak cukup menarik. Dengan berbagai macam pendekatan, seperti etnografi, ekologi, dan oseanografi, buku ini membantu kita untuk mengenal lebih jauh kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.