Sebuah Landasan Pacu untuk Melaju, Jalan di Tempat, atau Balik Kanan?

Judul : Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film (2007-2012) (Seri Wacana Sinema)
Editor : Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan
No. Panggil : 790 jay t
ISBN/ISSN : 987-979-1219-11-2
Penerbit : Dewan Kesenian Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Jakarta, Indonesia
Deskripsi Fisik : 15 x 22 cm, 1616 halaman
Resensi oleh : Hardiwan Prayogo

Pertama, saya akan melakukan disclaimer pada buku berjudul “Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012” yang berjumlah 1616 halaman ini. Saya tidak membaca semuanya. Buku kumpulan tulisan yang pernah dimuat di website Rumah Film tahun 2007-2012 ini saya perlakukan seperti Toko Serba Ada (Toserba), atau lebih tepatnya warung makan prasmanan. Tidak perlu kita santap semua menu, cukup ambil yang sekiranya menggairahkan untuk dimakan. Wajar jika muncul banyak ekspektasi ketika melihat buku setebal 16 cm ini. Terdiri dari 205 tulisan dengan panjang dan bobot tulisan yang beragam dan terbagi dalam 5 bab. Masing-masing bab mewakili ulasan atau review film, laporan pandangan mata festival-festival film di Eropa, wawancara dengan pelaku dunia perfilman, dan dua bab terakhir berisi kumpulan esai-esai tentang film dan konteks-konteks yang menyertainya. 

Dari ratusan tulisan yang disajikan, ketertarikan pertama saya tertuju pada tulisan terakhir yang berjudul “Memulai Tradisi Arsip Visual” oleh Ekky Imanjaya, yang dimuat pada bab 5 bertajuk “Berburu Shu Qi, Madonna Lari: Filmsiana, dan Lain-Lain”. Alasannya mudah ditebak, karena saya sendiri berprofesi sebagai arsiparis, jadi rasanya atensi mudah terpikat melihat kata arsip.

Maka saya langsung melompat ke halaman 1602. Pada intinya, tulisan ini seperti reportase Ekky mengunjungi pameran “24 Hours Indonesia” di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda yang diselenggarakan pada 26 Juni-16 November 2008. Pameran ini menampilkan rekaman aktivitas sehari-hari warga yang tinggal di Payakumbuh, Kawal, Jakarta, Sintang, Delanggu, Surabaya, Bittuang, dan Ternate. Pameran ini merupakan bagian dari proyek “Recording the Future”. Sebuah proyek yang memiliki spirit bahwa kisah-kisah kecil perlu direkam, karena itulah dasar kehidupan kita. Singkatnya, kita tidak akan menemukan rekaman seperti peristiwa politik atau demonstrasi besar, justru kita disuguhi aktivitas sehari-hari seperti ibu-ibu berjilbab berjalan melewati lorong, aktivitas jual beli di pasar, hingga lalu lalang manusia di terminal bus. 

Henk Schulte Nordholt, salah satu pencetus ide proyek ini mengklaim bahwa ini adalah format arsip baru, dan menganggap ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan intelektual. Sementara itu Nuraini Juliastuti menandai bahwa proyek ini memerlukan konsistensi agar rekaman-rekaman tersebut bisa ‘dibunyikan’, tidak sekadar menjadi data mentah. Merujuk pada laman https://www.kitlv.nl/research-projects-recording-the-future/, projek ini nampaknya masih berjalan. Jika melihat dari praktiknya, barangkali sulit menyetujui klaim bahwa rekaman audio visual adalah format arsip baru. Bangsa kolonial sudah melakukannya sejak ditemukan alat perekam foto dan video, hanya saja secara eksplisit tidak disertai klaim atau narasi bahwa mereka sedang melakukan kerja pengarsipan. Dengan demikian sudah barang tentu kita berhak mencurigai maksud di balik kenapa klaim bahwa ini adalah kerja pengarsipan dimunculkan belakangan. Dan tentu juga kecurigaan tersebut tidak bisa dituntaskan oleh buku Tilas Kritik ini.

Saya kembali ke halaman daftar pustaka, memindai kembali sekiranya manalagi judul-judul yang menarik hati. Ada 4 tulisan yang mengulas film-film bikinan Edwin. Secara pribadi saya cukup mendalami karya-karya Edwin, karena pernah menelitinya dalam tesis yang saya tulis beberapa tahun silam. Seluruhnya ulasan film Edwin dalam buku ini termuat dalam bab pertama yang berjudul “Mencari Yang Nyata, dan Lain-Lain: Ulasan dan Kritik Rumah Film”. 

Tulisan pertama ada di halaman 153, berjudul “Katalog Keluarga Edwin” karangan Eric Sasono. Tulisan ini tidak hanya membahas satu film, tetapi empat film pendek buatan Edwin. Keempat film tersebut adalah “A Very Slow Breakfast” (2003), “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” (2004), “Kara, Anak Sebatang Pohon” (2005), dan “A Very Boring Conversation” (2006). Seluruhnya dinilai memaknai ulang konstruksi normalitas keluarga. Anggapan keluarga ideal terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, yang melahirkan komunikasi yang baik nan harmonis, diwujudkan secara sinis dan pincang dalam film-film Edwin. 

“Kara, Anak Sebatang Pohon” dan “A Very Boring Conversation” menceritakan ketidakutuhan keluarga. Gambaran keluarga utuh diwujudkan dalam “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” dan “A Very Slow Breakfast” namun dengan penggambaran yang penuh konflik, ganjil, komunikasi yang menyakitkan dan serba canggung. Di bagian penutup, Eric menafsirkan bahwa film-film pendek ini adalah daftar pertanyaan atas relevansi struktur keluarga ideal dengan standar kebahagiaan. Eric memberikan nilai yang tinggi pada pertanyaan-pertanyaan ini. Eric menilai bahwa Edwin sedang menyusun sebuah katalog keluarga kontemporer. 

Saya melanjutkan ke halaman 324 dan 329. Tulisan pertama dari Ekky Imanjaya, berjudul “Babi-Babi yang Membabi Buta Ingin Dicintai”. Dari judulnya sudah dapat ditebak, bahwa tulisan ini pasti akan mengulas film panjang pertama Edwin yang berjudul “Babi Buta yang Ingin Terbang” (selanjutnya akan disebut Babi Buta) yang rilis tahun 2008. Ekky mengawali tulisan dengan penggalan lirik lagu “I Just Call to Say I Love You” dari Stevie Wonder. Lagu ini memang beberapa kali dinyanyikan pada film Babi Buta. Ekky menilai justru lagu ini secara filosofis merepresentasikan nilai persaudaraan yang ingin disampaikan oleh film. Bahwa apapun identitasnya, semua orang pada dasarnya ingin dicintai dan mencintai. Babi Buta memang mengangkat isu sensitif, yaitu identitas Tionghoa dengan segala represi dan diskriminasi yang diterimanya. Ekky mengkritik film ini karena memasukkan adegan vulgar threesome laki-laki. Adegan ini terlalu lama dan merusak atensi publik atas isu minoritas Tionghoa sebagai benang merah cerita. Ekky berpendapat bahwa tahun 2008 isu Tionghoa sudah kehilangan momentum, karena pasca 98 sudah banyak film mengangkat tema tersebut. Dan adegan vulgar yang tidak perlu itu semakin membuat penonton lebih mengingat scene threesome-nya, daripada esensi pada persoalan Tionghoa. Ini argumen utama yang saya tangkap dari ulasan Ekky. 

Mari kita beralih pada ulasan film Babi Buta yang kedua, kali ini dari Eric Sasono yang berjudul “Mencari Babi Cemas dalam Diri”. Sama seperti ulasan Eric tentang empat film pendek Edwin, Eric kembali menggarisbawahi kehadiran keluarga dalam Babi Buta. Dari sini bisa kita melihat starting point yang berbeda antara tulisan Ekky dan Eric. Perbedaan kedua adalah tafsir atas mata tokoh utama yang bernama Halim. Ekky beranggapan bahwa Halim benar-benar buta karena menyilet matanya sendiri. Berbeda bagi Eric yang tidak mempersoalkan Halim benar-benar buta atau tidak, karena yang penting baginya adalah memaknai ‘kebutaan’ Halim sebagai wakil dari perasaan tidak nyaman dan ingin lari dari kenyataan. 

Perbedaan yang lain juga ada dalam tafsir atas lagu “I Just Call to Say I Love You”. Ketimbang membedah makna liriknya secara filosofis, Eric lebih menekankan bahwa lagu ini difungsikan sebagai elemen pengganggu, yang ditujukan untuk mempertegas kecemasan. Eric membedah aspek-aspek formalis film Babi Buta dengan melihat bahwa plot-plot yang tidak linier ini menjadi representasi atas racauan gagap Edwin atas persoalan identitas. Eric menutup dengan ajakan untuk berefleksi bahwa kita jangan lagi menolak kecemasan dalam diri. 

Jika dibandingkan secara umum, ulasan Ekky lebih memiliki bobot kritis terhadap film Babi Buta ketimbang Eric. Bagi saya, ulasan Eric lebih bersifat ‘menjelaskan’ setiap adegan-adegan tidak lazim pada film Babi Buta. Tentu ini sah-sah saja dilakukan. Namun secara pribadi saya menilai ulasan Ekky lebih luwes karena kritiknya pada Babi Buta lebih mudah dikontekstualisasikan jika kita ingin mengulas film-film yang lain. Tulisan Eric memang memperluas wawasan kita terkait konsep identitas, tetapi sepertinya memerlukan usaha lebih jika ingin digunakan untuk semata-mata mengevaluasi aspek formalis film. Penilaian saya pada ulasan Eric terhadap film-film Edwin, tidak banyak berubah ketika membaca “Identitas Tanpa Wilayah” pada halaman 436, tulisan ketiga Eric yang mengulas film Edwin. Kali ini ia mengupas film panjang kedua Edwin yang berjudul “Kebun Binatang (Postcard from The Zoo)”. 

Kebun Binatang bercerita tentang seorang perempuan bernama Lana, yang sejak usia 3 tahun ditinggal oleh ayahnya di kebun binatang. Dari paragraf pembuka, Eric sudah menafsirkan Lana sebagai wakil sempurna ketercerabutan manusia dari kenangan kolektif, salah satu landasan terpenting bagi pembentukan badan politik bernama negara bangsa. Lebih lanjut, Eric memuji film ini sebagai salah satu film terpenting di Indonesia tahun 2012. Alasannya? Karena ini adalah film pertama yang tegas membicarakan pemisahan identitas manusia Indonesia dari kenangan kolektif yang membentuknya. Padahal kenangan kolektif adalah basis pembentuk nasionalisme. Demikian klaim yang disampaikan oleh Eric atas film Kebun Binatang

Apakah filmnya memang sengaja bernarasi seperti itu? Bisa jadi tidak, tetapi ya kurang lebih seperti itulah kerja kritikus film. Membuka tabir dan tafsir ‘baru’ atas suatu karya. Yang lebih penting adalah argumen dan perspektif apa yang ditawarkan di balik tafsir ‘baru’-nya itu. 

Kembali pada tulisan Eric, ia menyebutkan bahwa dunia sinema Indonesia adalah salah satu corong penting indoktrinasi ideologi militerisme di Indonesia. Ini mengakibatkan narasi nasionalisme menemui titik jenuhnya, karena selalu tidak beranjak dari perkara perjuangan militeristik. Sebenarnya film melalui kesadaran atas mediumnya, berpotensi membawa pemaknaan baru atas nasionalisme yang selalu dibatasi atas teritori dan kenangan kolektif. Karena sejarah membuktikan dua aspek itu justru melahirkan represi, diskriminasi dan pengingkaran atas hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan membuang konsep teritori (deteritorialisasi), ingatan personal atau kewargaan lebih berpeluang memiliki hak representasi. Ini adalah argumen kenapa Eric menempatkan Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Meski sebenarnya cukup sedikit porsi Eric mengulas hal-hal teknis film, bahkan lebih sedikit dibanding ulasan Eric atas film-film pendek Edwin dan Babi Buta. Setidaknya dari ketiga ulasan Eric atas film-film Edwin, kita dapat menangkap satu gaya penulisan Eric, yaitu menarik pembacaan pada konteks yang lebih luas. 

Buku ini menjadi rekaman yang penting atas sumbangan gagasan dan perspektif demikian. Pada dasarnya ulasan-ulasan atas karya Edwin ini mudah dipahami karena saya sendiri sudah menyaksikan seluruh film Edwin. Namun lain cerita bagi orang yang asing dengan film-film Edwin. Masih menjadi persoalan ketika kita membaca sebuah ulasan karya seni (dalam hal ini film), yang belum pernah kita saksikan sendiri.

Mungkin ini hanya persoalan selera dan kebutuhan belajar yang berbeda, bahwa tidak semua orang nyaman dengan analisis seperti Eric. Bisa jadi orang lebih mencari temuan-temuan yang lebih dekat dengan hal teknis seperti ulasan Ekky. Untuk sebuah tulisan pendek, sekitar 800-1000 kata, saya lebih menikmati cara analisis Ekky. Tanpa mengurangi rasa terima kasih pada tulisan-tulisan Eric yang sudah memperluas wawasan, tapi kembali lagi, penilaian saya atas beberapa tulisan dalam buku ini seperti memilih menu pada warung makan prasmanan. Selera dan kebutuhan belajar menjadi pertimbangan utama. Jika suatu ketika rasa lapar dan nafsu makan saya berubah, menu yang dipilih dan dirasa menggairahkan juga akan berubah. 

Buku ini memang memberikan banyak sajian. Selain beberapa yang saya baca secara mendalam, banyak tulisan-tulisan “bucket list” 100 film terbaik dunia dalam satu dekade 2000-2009, 33 film Indonesia terpenting dekade 2000-2009, film-film apokaliptik terbaik, 10 film komik non-superhero terbaik, 10 film warkop terbaik, Eric juga menandai Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Klaim-klaim ‘terpenting’, dan ‘terbaik’, yang ditawarkan buku ini sangat menarik untuk dibaca lebih dalam. Karena di balik yang terpenting dan terbaik, tentu ada yang tidak penting dan tidak baik. Dari buku ini, dengan kritis dan skeptis kita bisa sedikit memetakan gagasan apa yang sedang dominan, bagaimana perkembangan, dan akan dibawa ke mana kajian sinema Indonesia. Akan melaju kencang, jalan di tempat, atau justru balik kanan karena jalan terlalu berlubang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.