Jogja Agro Pop: Jalan Alternatif Membongkar Oposisi Biner Seni Rupa Indonesia

Judul : Jogja Agro Pop: Negosiasi Identitas Kultural dalam Seni Visual 
Editor : M. Rain Rosidi
Penulis : Nano Warsono
Penerbit : Jogja Agro Pop
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : xii + 226
Resensi oleh : Bian Nugroho

Ruangan ukuran 3×3 ini tak tertata rapi. Kertas berserakan di pojok ruangan dekat sebuah cermin yang digantung. Pakaian-pakaian tertumpuk di sudut lain. Ada aroma sambel pecel, menyatu dengan bau keringat pada kasur. Ada setumpuk piring dan gelas di bawah rak buku yang mulai berdebu. Saya tidak tahu itu barang bersih atau kotor. Di sisi tembok ruang bagian timur, sebuah gorden warna hijau lusuh, kelihatan tidak pernah dicuci beserta beberapa poster-poster yang nge-pop sangat kontras dari suasana lembab kamarnya. Makin postmo saja orang ini gumam saya. Memang tujuan utama saya datang ke sana adalah untuk berbincang mengenai postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. Entah karena main saya kurang jauh, lebih suka bermalas-malasan di kos dan yang terpenting saya lebih mementingkan kebutuhan biologis saya dari pada kebutuhan estetika. Karena saya bukan tergolong anak muda dunia ketiga yang terseret arus kesenian indie yang terdepan dalam seni tapi lunglai secara ekonomi. Saya tidak pernah melihat gaungan wacana postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. “Mainmu kurang jauh, Yan”, begitu katanya dia menyebutkan sebuah nama Jogja Agro Pop. Sebuah kolektif seni rupa yang menurutnya sering bermain di dalam wacana postmodern.

Jogja Agro Pop adalah istilah yang dipakai seorang kurator bernama Rain Rosidi dalam sebuah katalog pameran untuk merujuk beberapa seniman Jogja yang memiliki kesamaan dalam mengadopsi tanda-tanda yang beragam, yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari, budaya pop, lokal dan global dalam setiap karya mereka. Komunitas ini muncul dan berkembang melalui semangat independen dan underground yang berakar dari wacana-wacana subkultur yang mereka konsumsi. 

Meminjam pemikiran Benedict Anderson, Jogja Agro Pop secara intrinsik terbentuk karena proses komunikasi. Proses komunikasi ini berlangsung secara organik karena kesamaan wacana yang mereka konsumsi selama ini; apa yang mereka baca, dengar dan lihat. Kesamaan ini akan mempermudah komunikasi para seniman karena ada imajinasi tentang sesuatu yang sama-sama dipercayai sebagai tujuan dalam berkesenian. Hal ini secara tidak langsung membentuk sebuah identitas komunitas tersebut. Dalam hal ini identitas mereka akan terlihat dalam produksi maknanya, yaitu karya seni.

Dalam perjalanannya terlihat bagaimana wacana yang dibawa oleh Jogja Argo Pop agak berbau postmodern. Mereka berusaha mendekonstruksi oposisi biner yang ada sejak dulu di dalam perkembangan dunia seni di Jogja. Jogja Agro Pop berusaha membongkar oposisi biner yang selama ini terbangun, seperti pakem-bermain. Jogja Agro Pop berusaha mengangkat terma pertama yaitu bermain untuk mengusik status quo pakem yang selama ini dianggap sudah final, seperti dalam tradisi Metafisika Kehadiran Dunia barat dari jaman Klasik sampai Modern yang sangat terobsesi untuk mencari genealogi dan finalitas terhadap realitas. Mulai dari Platon mengenai “dunia ide”-nya sampai dengan dealektika Hegelian. 

Jogja Agro Pop akan lebih merespon realitas sosial dengan semangat bermain agar tidak terjebak dalam oposisi biner yang secara tidak langsung akan menegasikan predikat kedua dalam sebuah oposisi biner. Contoh, dalam sebuah fenomena sosial politik, dengan cara yang berbeda mereka akan mengolah sebuah ketegangan menjadi lebih lunak. Sehingga karya yang terlihat tidak berbau amarah, tetapi menjadikannya sebagai semangat perlawanan yang berbeda. 

Dalam sudut pandang lain, hal ini akan menciptakan sebuah dualisme-paradoksal yang hampir mirip dengan prinsip logika Wittgenstenian, yaitu bipolaritas. Jogja Agro Pop mengandung makna sebagai proposisi bipolar yang menghadirkan dua kata berlawanan dalam satu proposisi, sehingga proses pemaknaan dalam setiap karya Jogja Agro Pop tidak akan pernah menuju sebuah finalitas yang dapat mengusik status quo yang sejak dulu menjadi pakem dalam perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.