Dari Putri Lugu ke Ratu Boros sampai Idola Milenial: Pameran tentang Marie Antoinette

oleh Jafar Suryomenggolo

Siapa yang tidak kenal Marie Antoinette (dibaca: Mari On-twa-net), sang ratu Perancis yang dipenggal kepalanya akibat Revolusi 1789?  

Banyak dari kita yang ingat pelajaran sejarah di sekolah tentang Revolusi Perancis yang merontokkan sendi-sendi aristokrasi. Marie Antoinette adalah salah satu korban gilotin (guillotine).  Di antara pembaca mungkin juga ada yang teringat kisah Lady Oscar sebagai pengawal pribadi Marie Antoinette di dalam cerita manga Rose of Versailles, yang populer sepanjang dekade 1980-an. Juga mungkin ada pembaca yang tak bisa lupa adegan Kirsten Dunst menuangkan teh di dalam film yang disutradarai oleh Sofia Coppola. Di dalam film itu, Kirsten Dunst berperan sebagai sang ratu saat muda. 

Beragam gambaran tentang Marie Antoinette adalah tema yang diangkat dalam pameran ini. Berlangsung sejak 16 Oktober 2019 sampai 26 Januari 2020, pameran ini mengambil tempat di gedung kastil Conciergerie, di kota Paris. 

Gedung kastil Conciergerie (dibaca: Konsier-jeri) adalah kastil yang selama Abad Pertengahan akhir (abad ke-10 hingga abad ke-14) berfungsi sebagai kediaman raja Perancis. Kini, kastil itu telah menjadi salah satu museum utama di kota Paris. Menariknya, gedung ini sempat berfungsi sebagai penjara selama masa Revolusi Perancis. Marie Antoinette juga dipenjara di sini selama dua minggu lebih, yakni dari 1 Agustus 1793 hingga hari eksekusinya pada tanggal 16 Agustus 1793. Jadi, gedung ini adalah penjara terakhirnya.    

Susunan Pameran 

Pameran ini diawali dengan bagian kronologi ringkas kisah hidup Marie Antoinette. Pada bagian ini disuguhkan perjalanan hidupnya sedari lahir sebagai putri bungsu ratu Austria, ratu Maria Theresa, pada 1755 hingga akhir hayatnya di dalam penjara. 

Menariknya, penyajian kronologi hidup ini tidak bertele-tele. Pengunjung langsung dibawa ke suasana masa Revolusi Perancis dengan “pengadilan” yang menghukum pancung Marie Antoinette. Ada tiga dakwaan terhadap dirinya, yakni memboroskan keuangan negara, konspirasi yang membahayakan keamanan internal dan eksternal negara, dan pengkhianatan atas negara. Pada bagian ini dipamerkan surat dakwaan tersebut, dan juga lukisan wajah Marie Antoinette saat di penjara.

Foto 1. Satu sudut pameran kronologi hidup Marie Antoinette. 

Selanjutnya, pengunjung diajak untuk melihat beragam karya seni (lukisan, patung, film) tentang Marie Antoinette. Pada bagian ini tersaji berbagai lukisan karya sejumlah pelukis dari abad ke-18, abad ke-20 hingga seniman era modern. Juga ada berbagai film yang mengangkat kisah Marie Antoinette. Setidaknya terdapat 14 film, yaitu dari film bisu karya sutradara Van Dyke (1938), film biopic karya sutradara Jean Delannoy (1955), hingga film karya sutradara Benoît Jacquot (2012). Juga sejumlah aktor papan atas, di antaranya Sarah Bernhardt, Jeanne Provost, Tenna Kraft, Norma Sheare, Jane Seymour, Kirsten Dunst dan Diane Kruger.

Pada bagian ini terdapat juga ruang teater mini yang memutar beberapa adegan dari film-film yang ada tentang Marie Antoinette. Lewat film-film ini, pengunjung diajak untuk melihat perubahan visualisasi citra perihal Marie Antoinette. Tiap film punya sudut tersendiri dan gambaran tertentu yang disuguhkan kepada penonton.  

 Foto 2. Beberapa lukisan Marie Antoinette karya berbagai seniman. 

Selanjutnya pameran menyuguhkan tiga topik utama gambaran tentang Marie Antoinette, yakni gaya rambut, tubuh, dan kepala yang terpancung. Terdapat berbagai karya seni yang mengangkat fokus tiga topik tersebut. Pengunjung dapat melihat bahwa gaya rambut Marie Antoinette tidak pernah sama. Gambaran model rambut ini berubah dan berkembang sesuai jamannya – dan juga, sesuai tafsir sang seniman. 

Demikian juga dengan gambaran tentang tubuh Marie Antoinette. Tubuh Marie Antoinette tidak pernah sama, dan dibalut dengan kostum yang selalu berubah sesuai tafsir jaman. Marie Antoinette menjadi ikon ratu dunia fashion. Pada bagian ini, pengunjung juga dapat melihat sejumlah buku yang menggambarkan tubuh sang ratu, sesuai tafsir si penulisnya. Sejak jaman Revolusi Perancis, gambaran tubuh Marie Antoinette tidak pernah sama dan selalu penuh kontroversi. Maklum, salah satu gambaran yang ada adalah Marie Antoinette yang sering dengan pengawalnya, dan sering mengadakan pesta seks di istana Versailles. 

Gambaran kepala yang terpancung menjadi akhir tragis hidup Marie Antoinette. Beberapa pamflet dari abad ke-18 dan ke-19 menggambarkan eksekusi Marie Antoinette secara realistis, meski sesungguhnya sang seniman tidak benar-benar menyaksikan langsung. Kepala yang terpancung juga menjadi gambaran horor Revolusi Perancis: di satu sisi sebagai hukuman pidana yang sadis, dan di sisi lain sebagai akhir aristokrasi dan awal berdirinya Republik Perancis.   

Foto 3. Beberapa boneka Marie Antoinette. Salah satunya adalah tokoh Miss Piggy sebagai Marie Antoinette.

Di bagian akhir, pameran menyajikan gambaran tentang Marie Antoinette sebagai barang komersial dalam pasar global. Hal ini terkait perubahan budaya dan juga perkembangan dunia modern sepanjang abad ke-20 yang mendorong konsumsi barang-barang menjadi semakin tak kenal batas. Gambaran pop tentang Marie Antoinette menjadi bagian dari konsumerisme global. 

Ada berbagai macam barang komersial yang berikon Marie Antoinette, dari bedak muka, sepatu, boneka anak-anak, hingga teh. Juga terdapat sejumlah iklan komersial yang menggambarkan Marie Antoinette, dari minuman bersoda, kopi, hingga pizza cepat saji. Di dalam berbagai iklan tersebut, gambaran tentang Marie Antoinette tidak pernah sama. Sebab, gambaran tersebut disesuaikan dengan produk, tak peduli sesuai kenyataan atau fantasi belaka. Hal ini menandakan bahwa gambaran tentang Marie Antoinette punya nilai jual dalam pasar global.  

Foto 4. Satu bagian dalam pameran. 

Kisah sejarah yang hidup

Pameran ini menyajikan gambaran sejarah yang hidup. Berbagai gambaran tentang Marie Antoinette (dan perubahannya) yang terjadi sepanjang abad ke-18 hingga sekarang ini tersaji apik. Lewat berbagai gambaran tersebut, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat sejarah hidup Marie Antoinette secara lebih hidup.  

Foto 5. Pemandu pameran bagi anak-anak memberikan peragaan tentang hidup Marie Antoinette.

Menariknya, hal ini bukan berarti sejarah tentang Marie Antoinette menjadi telah tuntas atau selesai. Justru sebaliknya, sejarah tentang kehidupan Marie Antoinette akan tetap menjadi tema yang tidak pernah tuntas. Berbagai buku, baik fiksi maupun non-fiksi, akan tetap ditulis berbagai pengarang. Berbagai film akan tetap dihasilkan oleh berbagai sutradara. Berbagai karya seni tentang Marie Antoinette akan tetap menjadi objek imajinasi oleh berbagai seniman. Demikian juga, berbagai barang konsumsi akan tetap diproduksi untuk memuaskan konsumen global.   

Foto 6. Beberapa buku tentang Marie Antoinette yang dijual dalam pameran.

Bagi kita di Indonesia, pameran ini menunjukkan bahwa kisah hidup seorang tokoh tidak pernah mati. Kisahnya menjadi bagian dari imajinasi budaya, sosial, dan politik bangsanya. Indonesia punya banyak tokoh sejarah yang masih perlu kita gali, angkat dan poles sebagai bagian dari perjalanan bangsa kita bersama – dan mungkin juga, bagi bangsa lainnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.