Mekanis Sekaligus Laku Prihatin

oleh Hardiwan Prayogo dan Krisnawan Wisnu Adi

Siapa pelopor pasar seni di Yogyakarta? Pertanyaan tersebut menggiring kami kepada satu nama, Godod Sutedjo. Tidak berawal di Yogyakarta, kiprah Godod di skena pasar seni justru bermula dari Jakarta. Ia adalah koordinator seniman di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara dari 1975 hingga 1990. Entah suatu kebetulan atau tidak, niat Godod untuk menempa kesenimanannya di ibu kota disambut oleh tahun-tahun kejayaan pasar seni antara 1978 dan 1995. Bukan tanpa bekal, seniman kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah ini semasa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) memang sudah aktif mengorganisasi pameran. 

Godod cukup berhasil dalam mengorganisasi Pasar Seni Ancol. Ia mampu mendatangkan pembeli karya melalui relasi-relasi dengan beberapa orang penting. Salah satunya adalah Joop Ave, staf protokoler Istana Kepresidenan pada waktu itu. Melalui bantuan dari Joop serta Guntur Siswoyo dan Joko Setiyadi, Godod mendapat kesempatan sebulan sekali selama tiga hari untuk berkunjung ke Istana melihat-lihat koleksi lukisan serta belajar manajemen pameran. 

Namun, menjelang akhir dekade 1990-an, Pasar Seni Ancol mulai kehilangan popularitas. Salah satu latar belakangnya adalah pasar seni ini hanya berfungsi sebagai etalase dagangan. Artinya tidak ada lagi seniman yang benar-benar berproses menciptakan karya di sana. Kemunduran ini menjadi pelajaran bagi Godod untuk kiprah selanjutnya ketika ia kembali ke Yogyakarta, terutama di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). 

Sebelum terjun ke FKY, semula Godod bersama enam rekannya mengadakan pameran di Monumen Pers, Surakarta pada 1981. Pengalaman manajemen yang ia dapatkan semasa bekerja di Pasar Seni Ancol dibawa ke sini. Ia ingin sebisa mungkin karya-karya yang dipamerkan terjual. Melalui bantuan Sudarwoto (putra dari Sudarso Sentul), Godod terhubung dengan Adam Malik yang waktu itu menjadi wakil presiden. Adam Malik sangat suka mendapat tamu seniman, karena tidak hanya bisnis yang diobrolkan tapi juga kebudayaan. Akhirnya, Adam Malik membeli beberapa lukisan yang akan ditawarkan Godod. Lukisan-lukisan yang dibeli ini tetap dipamerkan beserta foto dokumentasi pertemuan mereka. Oleh karena itu, banyak orang akhirnya ikut membeli lukisan-lukisan yang belum laku. 

Pada 1995 ia mulai terlibat di FKY, mengorganisir bursa seni. Sebagai manajer ia mempunyai target bahwa karya-karya yang dipamerkan harus laku. Ardiyanto Pranata adalah sosok yang membantu dia untuk mengelola bursa seni. Ada suatu cerita yang menarik. Ketika bursa seni akan dibuka, Ardiyanto menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kemudian Godod melihat kesempatan untuk mendatangkan pembeli. Ia mengirim karangan bunga sebagai ucapan selamat kepada Ariyanto di TIM. Karangan bunga ini akhirnya memancing rekan-rekan Ardiyanto untuk datang ke bursa seni FKY. Ketika itu, karya-karya yang dipamerkan di bursa seni FKY adalah dari Fadjar Sidik, Joko Pekik, Rustamadji, Batara Lubis, dll. Godod juga pernah mencoba menggelar FKY di kota lain, seperti Bandung dan Jakarta. Memperluas jaringan pasar seni rupa adalah kekhasannya. 

Dalam mengelola pameran atau bursa seni Godod selalu mempunyai manajemen antisipasi. Ketika di Jakarta, ia merawat kerja sama dengan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) yang pada waktu itu diketuai oleh Moetaryanto Poerwoaminoto. Dengan adanya mitra kerja, Godod akan terbantu untuk mendatangkan pembeli. Kemudian di FKY, Godod pernah menerapkan sistem paket. Ketika orang-orang ingin membeli lukisan dari Joko Pekik, mereka juga harus membeli lukisan-lukisan lain yang belum laku. Lagi-lagi mitra kerja, TP Agus Setyoko, yang pada waktu itu bekerja di Bank Umum Nasional adalah sosok yang membantu Godod untuk mencarikan pembeli. 

Bukan tanpa resiko, Godod pernah didemo karena mekanisme yang ia terapkan. Pada 1999, pameran Seni Rupa FKY XI yang dikoordinatori oleh Godod diprotes oleh kelompok S-Tape (Seniman Tanggap Perubahan). Aksi ini diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Mereka melihat bahwa FKY terlalu menjadi ajang komersial. Pihak panitia dituntut untuk membuat FKY agar lebih melibatkan para perupa muda. 

Ada satu metode lagi yang Godod terapkan di dalam penyelenggaraan pameran atau bursa seni. Ia selalu menggunakan cara kejawen, mempertimbangkan hari-hari baik untuk menentukan kapan pameran atau bursa seni akan dimulai. Metode laku spiritual ini sebenarnya juga ia terapkan sebagai seniman. Ketika ia melukis, pertimbangan waktu dengan iringan puasa menjadi suatu kebutuhan yang harus dilakukan. Dalam wawancaranya dengan The Jakarta Post pada 22 Februari 2008, ia mengatakan, “Itulah yang ingin saya alami dalam melukis, bekerja dengan cara yang mirip dengan bagaimana empu menciptakan senjata suci”. Barangkali, kerja-kerja manajerial seni juga ia perlakukan sebagai kerja-kerja mekanis sekaligus laku prihatin.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.