Benarkah Sejarah Lisan Berangkat dari Bawah?

Judul Buku : Sejarah Lisan di Asia Tenggara: Teori dan Metode
Penulis : Asvi Warman Adam, James Morrison, Kwa Chong Guan, Hong Lysa, Daniel Chew, Lim How Seng, Yos Santasombat, Nirmala, Puru Shotam, Lai Ah Eng, P. Lim Pui Huen, Azizah Mokhzani.
Editor : P. Lim Pui Huen, James H. Morrison, Kwa Chong Guan
Tahun Terbit : 2000, Cetakan Pertama
Penerbit : LP3ES, Jakarta
Halaman : xxiii + 311 hlm
No. Panggil : 901 Pui s

Resensi oleh Krisnawan Wisnu Adi

…. catatan dokumenter telah kehilangan keluguannya (bila memang pernah ada) dan kini dilihat sebagai mengandung nilai propaganda untuk masa datang atau pembenaran diri.

(Paul Thompson, dalam Voice of the Past: Oral History)

Sejarah Lisan di Asia Tenggara: Teori dan Metode merupakan sebuah buku berisi kumpulan esai yang sebagian besar pernah disajikan dalam Lokakarya Sejarah Lisan yang diselenggarakan oleh ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) pada 1990. Dengan ukuran layaknya buku saku, buku ini berisi perihal teori serta metode dalam kerja-kerja penelitian sejarah lisan dalam konteks Asia Tenggara.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, yakni Pengantar, Teori, dan Metode. Pada bagian Pengantar, selain terdapat pengantar dari editor terdapat juga pengantar dari James H. Morrison dan Asvi Warman Adam. Dengan judul “Perspektif Global Sejarah Lisan di Asia Tenggara”, James H. Morrison memberikan gambaran makro mengenai kemunculan studi sejarah lisan beserta terma-terma yang cukup problematis di dalamnya. Asvi Warman Adam, melalui “Pengantar: Sejarah Lisan di Asia Tenggara, Sejarah Korban di Indonesia”, memberikan gambaran mengenai studi sejarah lisan secara lebih spesifik dalam konteks Indonesia, dengan meletakkan pembentukan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YKPP 65/66) sebagai aktivitas baru di bidang sejarah lisan.

Pada bagian Teori, terdapat dua tulisan. Pertama, tulisan dari Kwa Chong Guan dengan judul “Manfaat Kesaksian Lisan: Teks dan Kelisanan dalam Rekonstruksi Masa Lampau”. Melalui tulisan ini Kwa Chong Guan menjelaskan dua versi sejarah lisan terbentuknya Malaka, yakni Suma Oriental (perspektif Portugis) dan Sejarah Melayu (perspektif kerajaan Goa di Sulawesi Selatan). Berbeda dengan Suma Oriental yang hanya difungsikan sebagai sumber informasi masa lampau Malaka, Sejarah Melayu lebih dimaknai sebagai narasi sejarah yang memuat pernyataan kekuasaan; bahwa tradisi lisan yang dicatat bukan sekadar informasi yang diingat, tetapi pernyataan mengenai apa Malaka itu, dan hak moral Sultan untuk memerintah. Kedua, tulisan dari Hong Lysa dengan judul “Ideologi dan Lembaga Sejarah Lisan di Asia Tenggara”. Ia menggambarkan masalah klasik sejarah lisan yang berkaitan dengan ideologi atau orientasi dari lembaga peneliti. Bahwa sebenarnya spirit sejarah lisan adalah bukan soal objektivitas, melainkan soal ‘sejarah dari bawah’, keanekaragaman pandangan, subjektivitas pencerita, dan kemungkinan demokratis dalam historiografi.

Kemudian pada bagian Metode, terdapat tujuh tulisan. Daniel Chew, dengan tulisannya yang berjudul “Metodologi Sejarah Lisan: Pendekatan Pengalaman Hidup”, mengulas metodologi sejarah lisan berdasarkan pandangan Pusat Sejarah Lisan di Singapura. Ada dua struktur wawancara yang dapat dibedakan ke dalam dua bagian, yakni fokus terhadap topik dan sejarah hidup. Kedua, dengan judul “Mewawancarai Para Elite Bisnis dan Politik di Singapura: Metode dan Problem”, Lim How Seng menitikberatkan pada poin sejarah lisan yang tidak melulu bicara soal kisah masa lalu. Kisah sekarang yang terkait dengan politik dan identitas menjadi poin yang harus disadari pula.

Selanjutnya, melalui tulisan dengan judul “Sejarah Lisan dan Potret Diri: Mewawancarai Elite Thai”, Yos Santasombat mengatakan bahwa jurang antara realitas, pengalaman dan ungkapan, serta kontradiksi yang terkandung di dalamnya merupakan masalah utama dalam sejarah lisan atau sejarah pengalaman hidup. Peneliti harus membedakan antara realitas (hidup yang dihidupi), pengalaman (hidup seperti yang dialami), dan ungkapan (hidup seperti yang diceritakan).

Masih berkaitan dengan potret diri atau pengalaman hidup seseorang, melalui tulisannya yang berjudul “Proses Wawancara Naratif”, Nirmala Puru Shotan menulis bahwa sebagai bagian dari sejarah lisan, wawancara naratif bukan hanya soal pengumpulan biografi, melainkan tujuannya adalah untuk membangkitkan narasi. Perhatian utamanya tertuju pada pemberian suara kepada subjektivitas dan kreativitas manusia, dan dari sana mengaktualisasikan realitas kehidupan sehari-hari.

Perihal memunculkan narasi ini juga berkaitan dengan gagasan P. Lim Pui Huen dengan tulisannya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pengalaman Hidup”. Lim Pui Huen mengutip perkataan Paul Thompson bahwa sekali berbagai pengalaman hidup orang dapat digunakan sebagai bahan mentah, suatu dimensi baru telah dimunculkan dalam sejarah. Dengan kasus profil Wong Fook, seorang imigran Tionghoa yang menjadi wirausahawan terkenal di Malaysia, ia berpendapat bahwa cerita yang dihasilkan dari wawancara menggambarkan kebutuhan untuk menyaring fakta dari fiksi. Penyaringan ini ia gambarkan dengan proses verifikasi cerita berdasarkan dokumen; dari tradisi lisan menjadi sejarah lisan.

Bagian Metode juga diperkaya dengan tulisan Azizah Mokhzani yang berjudul “Penulisan Biografi Tan Sri Fatimah Hashim”. Lagi-lagi soal biografi, dengan mengangkat sosok Tan Sri Fatimah Hashim, ia mau membicarakan dinamika seorang perempuan di dunia politik dan keluarga.

Dari kebanyakan tulisan yang membicarakan biografi, buku ini juga memuat sebuah tulisan mengenai problem peneliti sejarah lisan. Lai Ah Eng, dalam tulisannya yang berjudul “Pengalaman dan Persoalan Penelitian Lapangan Lintas-Budaya di Singapura”, membicarakan isu kehidupan lintas-budaya. Dengan penelitiannya di pemukiman Marine Parade, Singapura, ia mengutarakan bahwa peneliti antropologi dan sejarawan lisan harus mampu melampaui etnisitasnya untuk memahami kehidupan multietnis. Isu multietnis bisa dikatakan menjadi bagian dari sejarah lisan, ketika studi ini memiliki spirit membangkitkan keberagaman narasi dari bawah.  

Dari beberapa tulisan tersebut, meski saya yakin masing-masing penulisnya memiliki pandangan yang mungkin kontradiktif satu sama lain, ada beberapa benang merah yang bisa saya tempatkan sebagai poin penting dalam sejarah lisan. Pertama adalah soal narasi sejarah sebagai pernyataan kekuasaan. Layaknya Sejarah Melayu sebagai salah satu versi sejarah lisan pembentukan Malaka, sejarah lisan bukan hanya berisi peristiwa-peristiwa yang diingat, melainkan menyimpan pernyataan kekuasaan dari pihak tertentu. Kedua, sejarah lisan memiliki spirit ‘sejarah dari bawah’, dalam arti ia dipakai untuk mengakomodasi subjektivitas dalam keanekaragaman versi, untuk membangkitkan narasi sejarah yang lebih demokratis. Kritik terhadap historiografi yang melulu berangkat dari perspektif elit menjadi latar belakang spirit ini. Ketiga, lebih pada perihal metode, adalah soal permasalahan utama dalam sejarah lisan, yakni jurang antara realitas, pengalaman, dan ungkapan serta kontradiksi di dalamnya. Hal ini berhubungan dengan kecenderungan untuk menyaring fakta dari fiksi, semacam verifikasi data.

Berdasarkan poin-poin di atas, saya menemukan beberapa kontradiksi yang barangkali bisa menjadi kritik atas buku ini, atau setidaknya atas beberapa tulisan di dalamnya. Pertama, terkait tulisan P. Lim Pui Huen yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pengalaman Hidup”. Ia menulis bahwa wawancara menghasilkan hal-hal yang bisa ditelusuri secara lebih jauh. Para pengkisah mungkin tidak banyak mengetahui mengenai berbagai peristiwa, tetapi mereka bisa mengingat bahwa peristiwa itu memang terjadi. Peristiwa Wong Fook yang menuntut pemerintah Johor di pengadilan menjadi contoh peristiwa yang ia teliti. Menurut Huen, kebenaran dari pernyataan itu dapat dibuktikan melalui arsip. Bahwa hal ini memperlihatkan fungsi lain dari sejarah lisan yaitu menyediakan petunjuk kepada sumber-sumber dokumenter, dari keterangan lisan ke keterangan tertulis. Dia menyimpulkan, cerita itu, yang setelah diverifikasi ternyata ada benarnya juga, tampaknya bisa beralih dari tradisi lisan menjadi sejarah lisan.

Bagi saya, Gagasan Huen di atas cukup bertolak belakang dengan gagasan Paul Thompson dalam “Voice of the Past: Oral History”, yang mempertanyakan keluguan dokumen. Tulisan Huen saya maknai demikian: sejarah lisan lebih terpercaya dari pada tradisi lisan, karena Huen menempatkan sejarah lisan sebagai hasil akhir dari tradisi lisan yang telah diverifikasi dengan dokumen sebagai bukti faktual. Dokumen tetap menjadi bagian yang menentukan validitas peristiwa. Sementara, seperti yang Thompson gagas, dokumen tidak sepenuhnya lugu. Artinya, fungsinya sebagai penentu validitas peristiwa pun perlu diragukan. Saya jadi berpikir bahwa ‘yang lisan’ tetap berkedudukan lebih rendah dari pada ‘yang tertulis’. Dan kesimpulan ini cukup tidak sesuai dengan spirit ‘sejarah dari bawah’, apalagi dalam konteks tradisi tutur masyarakat Asia Tenggara yang terus berkontestasi dengan peninggalan arsip dan pola pikir kolonial dari para penjajah.

Selanjutnya adalah sebuah kritik atas tulisan Yos Santasombat yang berjudul “Sejarah Lisan dan Potret Diri: Mewawancarai Elite Thai”. Santasombat menulis bahwa sebagai teks yang dilakoni, sejarah lisan harus memfokuskan perhatian pada pengalaman yang dialami setiap individu. Sejarah lisan menampilkan hasi studi dari sejarah pengalaman hidup mereka, menceritakan pada orang lain bagaimana mereka itu, bagaimana mereka melukiskan potret-diri mereka dan cara mereka menyajikan diri sendiri. Saya jadi berpikir apakah sejarah lisan memang hanya soal pengalaman individu? Apa bedanya dengan biografi pada umumnya? Lantas, mengapa perlu ada kategori ‘sejarah lisan’ dalam disiplin sejarah jika fokus perhatiannya hanya pengalaman individu?

Tidak hanya tulisan dari Yos Santasombat, hampir seluruh tulisan di bagian Metode dalam buku ini menggunakan biografi sebagai metode sejarah lisan. Kebanyakan juga didasarkan atas perspektif elit bisnis dan politik. Hanya Lai Ah Eng yang tidak menggunakan perspektif elit ketika ia meneliti kehidupan multietnis penduduk pemukiman Marine Parade, Singapura. Kecenderungan untuk menggunakan perspektif elit ini juga bertolak belakang dengan gagasan R. Lockhead dalam tulisannya yang berjudul “Three Approaches to Oral History”. Ia menjelaskan bahwa sejarah lisan muncul karena para sejarawan ingin mengangkat sejarah non-elit, sebagai kritik atas tradisi sejarah yang selalu berbasis elit sebagai subjek.

Ketika saya membaca bagian Pengantar dan Teori, poin penting yang saya dapat adalah bahwa sejarah lisan merupakan satu arus lain dalam ilmu sejarah yang mencoba berangkat dari bawah. Dengan spirit ‘sejarah dari bawah’ yang berusaha membangkitkan narasi, ia dimaksudkan untuk menciptakan sejarah yang lebih demokratis. Sifat catatan dokumenter yang hanya menjadi alat propaganda dan pembenaran diri menjadi latar belakang mengapa sejarah lisan lahir. Namun, poin di atas tidak begitu muncul pada bagian Metode, ketika sebagian besar penelitian sejarah lisan yang diangkat justru berangkat dari perspektif elit. Selain itu, konteks Asia Tenggara juga tidak sepenuhnya muncul dari kumpulan tulisan di buku ini, karena hanya Malaysia, Thailand, dan Singapura yang menjadi fokus.

Meski demikian, buku ini cukup bisa membantu kita untuk melihat kemungkinan lain dalam historiografi, setidaknya dalam tahap perkenalan dalam konteks Asia Tenggara. Bahwa ungkapan populer dari Leopold von Ranke sebagai bapak sejarah ilmiah yang berbunyi, “no documents, no history”, tidak sepenuhnya relevan.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.