TELUSUR : Salah Satu Alternatif Transfer Ilmu dan Penambahan Pemahaman Baru.

Oleh Nilna Faza Mardiyatin

Kelas Belajar Telusur memancing partisipan dengan rentetan pertanyaan, sejak kapan masyarakat mulai berpindah? Bagaimana kaitan antara perpindahan dan sejarah seni rupa Indonesia? Ke arah manakah politik pengetahuan kita dibawa? Untuk apakah kita menggunakan arsip? Bagaimana kita menghadapi ragam ‘profesi – profesi’ baru dalam medan seni? Apa kabar kritik seni hari ini? Dan pertanyaan–pertanyaan lainnya terus bermunculan dalam kelas, yang menjadi titik awal diskusi dan eksplorasi.

Penemuan baru terkait hal – hal yang berhubungan dengan seni rupa akan selalu ada, karena tidak ada yang bisa membakukan definisi seni itu sendiri. Salah satu cara untuk menghubungkan beberapa pemikiran yang satu dengan yang lainnya adalah dengan diskusi, atau adanya transfer pengetahuan. Tak kalah penting dari itu semua adalah perlu adanya catatan tentang bukti pertukaran pengetahuan tersebut, sehingga kegiatan ini akan terikat dan ada material untuk memeriksa sejauh mana pertukaran itu tersampaikan.

Maka dari itu kelas Telusur muncul untuk menjadi salah satu tempat bertemunya pertukaran pengetahuan dan perluasan wawasan. Kelas Telusur merupakan kelas belajar penulisan dan pengarsipan yang diinisiasi oleh IVAA, kelas ini hadir untuk mendukung upaya dinamisasi penulisan kritik seni di Indonesia. Program ini terdiri dari beberapa aktivitas seperti diskusi intensif dengan para pemateri, pembacaan arsip dan penulisan.

Pelaksanaan kelas Telusur dimulai dari tanggal 23 Juli hingga 7 Agustus 2018. Bekerjasama dengan Ace House dan Krack Studio, kelas ini berlangsung selama 13 hari. Kelas diisi dengan materi beragam yang saling bersangkutan satu dengan yang lainnya. Peserta kelas Telusur terdiri dari peserta penuh dan peserta dengar. Bedanya peserta penuh dituntut untuk membuat tulisan setelah kelas selesai, dengan melalui pendampingan. Sedangkan peserta dengar adalah mereka yang mengikuti kelas Telusur tanpa ada kewajiban untuk membuat tulisan. Peserta penuh kelas Telusur kali ini berjumlah 4 orang, dengan 3 peserta dari Three Musketeers Project. Jumlah ini masih ditambah peserta dengar yang rata-rata berjumlah 7-8 orang setiap kelas. Peserta sejumlah ini terhitung cukup banyak, namun masih dalam situasi kondusif untuk serangkaian kelas belajar yang dipantik oleh satu pemateri di tiap sesinya.

Selama 13 hari, kelas terbagi dalam materi berikut ini:

  1. Bekerja dengan dan Melalui Sejarah Seni, oleh Brigitta Isabella
  2. Kritik dan Kurasi, oleh Arham Rahman
  3. Perkembangan Praktek Kurasi dan Ruang Alternatif di Yogyakarta, oleh Syafiatudina
  4. Manajemen Seni : Kebutuhan atau Imajinasi?, oleh PR Seni
  5. Dari Tangan Seniman ke Mata Pengunjung , oleh Riki Zoels
  6. Pengantar Kajian Budaya (Metode Penelitian), oleh Wahmuji
  7. Kosmopolitanisme dan Strategi Kebudayaan, oleh Alia Swastika
  8. Seni dan Internasionalisme : Kosmopolitanisme dari Masa ke Masa (Residensi), oleh Linda Mayasari
  9. Seni dan Regulasi Kota : Dinamika Budaya Sebelum dan Sesudah UUK, oleh Kus Sri Antoro
  10. Pengetahuan Seni dan Institusionalisme: Pemetaan Seni dan Genealogi Institusi, oleh Rain Rosidi
  11. Pengarsipan dan Politik Pengetahuan oleh Dwi Rachmanto dan Hardiwan Prayogo
  12. Kritik Seni Kontemporer, oleh St. Yangni
  13. Jurnalisme dan Kritik Seni, oleh Raihul Fadjri
  14. Dasar Penulisan, oleh Fairuzul Mumtaz

Seluruh rangkaian materi dan jadwal telah disusun dan dipersiapkan oleh tim konten yang terdiri dari Lisistrata Lusandiana, Hendra Himawan, Rjo Rahardjo, dan Hardiwan Prayogo. Materi ini sengaja disusun agar sesuai dengan tema yang diangkat pada kelas Telusur kali ini, yaitu ‘Mobilitas dan Kuasa Dalam Medan Sosial Seni – Budaya’. Seperti telah disinggung sebelumnya kelas ini merupakan kelas penulisan seni rupa, maka tujuan dari kelas ini adalah tulisan/ esai kritis yang dibuat oleh peserta penuh kelas Telusur.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.