Sihir Rumah Ibu; Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Agus Dermawan T.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2015
Deskripsi Fisik: x+317 Hlm
No. Panggil: 701 Der S

Sebagai seorang pengamat yang biasa mengerjakan kritik seni, laporan, esai, dan juga features, Agus Dermawan T. memandang bahwa kegiatan tulis-menulisnya adalah sebagai aktivitas berekspresi. Buku Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya ini berisi tentang kajian yang dilakukan oleh Agus terhadap persoalan isu sosial dan politik melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Ada sejumlah figur (orang lain) yang sengaja dibicarakan dalam buku ini, karena bagi Agus orang yang dibicarakan itu telah melahirkan sebuah peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini kemudian disampaikan kepada pembaca melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Setiap situasi dalam peristiwa itu Agus simbolkan melalui beberapa contoh karya seni dan cerita pewayangan. Agus juga memainkan kode semiotik dalam setiap paragrafnya, sehingga pembaca akan merasa ada keterhubungan antara karya seni dengan peristiwa yang sedang dibahas.

Penjelasan kondisi politik Indonesia dari waktu ke waktu dijabarkan secara renyah di dalam buku ini. Agus juga menceritakan citra seni yang turun akibat pemikiran sempit seniman, dimana mereka menganggap bahwa politik posisinya lebih tinggi dari seni. Pemikiran ini memunculkan seniman yang secara tiba-tiba, dalam kondisi buta politik dan hanya mengandalkan modal keartisannya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Hal itu cukup untuk membuat gusar Agus terhadap kondisi kesenian saat ini. Selain itu juga terdapat beberapa esai yang mengulas tentang ketidakadilan terhadap pelukis istana yang masa tuanya tidak diperlakukan layaknya staf istana yang lain. Hal tersebut menjadi sebuah keprihatinan tersendiri di mata penulis kelahiran 1952 ini. Agus merasa para pelukis ini berkontribusi bagi negara dalam durasi yang panjang.

Sebagian tulisan dalam buku ini telah dimuat di beberapa media massa, seperti Kompas, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Intisari, Visual Arts, dan sebagainya. Beberapa tulisan ada juga yang berstatus ineditum atau tidak/ belum dipublikasikan. Buku ini merupakan seleksi dari ratusan artikel yang ditulisnya sejak 2008. Tentu telah melalui tahap penyuntingan, pengembangan, aktualisasi, hingga kontekstualisasi. Buku ini membicarakan segala ihwal yang terbuka lebar. Berbagai sisi sudut pandang disediakan, mulai dari tulisan-tulisan dengan ulasan jenaka, ironis, dramatis, parodi, gila, waras, estetis, politis, bahkan mungkin juga nihilis. Semua tulisan dalam buku ini dipayungi sikap kritis terhadap persoalan sosial politik dari kacamata kesenian dan kebudayaan. Sebaliknya, buku ini akan membuat pembacanya merefleksikan kesenian dan kebudayaan dari perspektif sosial politik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.