Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Siang itu, 5 Juli 2018, ruang galeri museum Sonobudoyo memajang karya-karya seni rupa dengan satu inspirasi cerita, yaitu Panji. 16 seniman dan beberapa koleksi Museum Sonobudoyo meramaikan pameran yang merupakan rangkaian dari Festival Panji Internasional ini. Festival ini sendiri secara keseluruhan digelar pada 27 Juni-13 Juli 2018 di 8 kota di Indonesia (Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta). Yogyakarta menjadi kota kelima dalam festival yang melibatkan 3 negara Asean ini. Indonesia, Kamboja dan Thailand berkolaborasi dalam upaya kerjasama budaya Panji yang lebih erat. Acara ini memang program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk penyelenggaraan di Yogyakarta menggandeng Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pameran ini bertajuk Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni. Berbagai karya seni lukis, patung, topeng, dan naskah-naskah serta buku-buku tentang Panji dipamerkan selama empat hari. Pameran yang dibuka oleh Penasehat Mendikbud RI, Wardiman Djojonegoro ini menginterpretasikan berbagai versi turunan cerita Panji. Diungkapkan dalam pembukaan bahwa pameran ini digelar dengan semangat mempromosikan budaya Panji diantara Negara ASEAN untuk memperkuat jalinan diplomasi kebudayaan.

Dalam pidatonya, Wardiman Djojonegoro memaparkan bahwa pameran ini mengusung tiga pesan utama. Pertama sebagai bentuk perayaan. Terhitung 31 Oktober 2017, UNESCO menerima naskah panji yang ada di Indonesia, Malaysia, Kamboja, hingga yang tersimpan di Museum Belanda dan London sebagai memory of the world atau warisan budaya dunia. Kedua, pameran ini sebagai ajang pelestarian. Harapannya adalah panji mampu membentengi generasi muda dari serbuan budaya asing. Generasi muda Indonesia agaknya dapat membentuk ideologinya melalui identitas lokalnya. Kemudian yang ketiga, keberadaan panji sudah menyeberangi lautan hingga melingkupi hampir semua negara ASEAN, artinya panji telah menjadi warisan bersama sebagai budaya tak benda dari nenek moyang.

Suasana ‘lokal’ sangat terasa ketika memasuki ruang pamer tersebut. Di pintu masuk ruangan sisi utara, kita disuguhkan lukisan-lukisan wayang yang direkonstruksi menjadi wayang kontemporer tanpa melepaskan identitas lokalnya. ‘Gumreg di Tanah Emas‘ karya Subandi Giyanto. Lukisan cat akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm ini menggambarkan seekor kerbau yang di tubuh dan latar belakangnya dipenuhi ornamen dan sosok wayang. Narasi dari lukisan ini adalah bagaimana manusia memuliakan hewan sebagai mitranya bercocok tanam dan mencari nafkah. Kemudian di ruang tengah terdapat patung ‘Cindelaras‘ karya Sumidal dan satu set Wayang Klithik karya Kemiskidi Wikyo Suprapto. ‘Cindelaras‘ adalah patung seorang pria jongkok sambil memegang seekor ayam berukuran 40 x 30 x 40 cm. Patung ini ingin menceritakan kisah hidup Cindelaras. Sedangkan Wayang Klithik ingin menceritakan Majapahit dalam pimpinan Ratu Dewi Suhita yang berhasil menaklukkan banyak daerah. Karya ini menarik karena mediumnya terbuat dari kayu jati.

Ruangan sisi selatan memajang beberapa topeng Panji serta Dewi Sekartaji koleksi dari Museum Sonobudoyo, dan beberapa karakter Panji dalam wujud Wayang Golek dan wujud Wayang Kulit. Selanjutnya ada satu ruangan yang berisi buku serta naskah-naskah yang berkaitan dengan panji. Dan di ruang sebelah selatan pintu masuk, terdapat karya 3 dimensional dari Giring Prihatyasono. Karya yang dibentuk seperti gulungan ini berjudul ‘Puisi Cinta Bait yang Tersisa‘ berukuran 18 x 177 cm berbahan aluminium, etsa, dan kulit kayu. Melalui karya ini, Giring menginterpretasikan cerita panji sebagai kisah asmara yang berbalut dan bernuansa politik.

Cerita Panji  merupakan sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Berisi cerita kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Pameran dengan sebuah tema yang identik dengan cerita pewayangan kini telah direspon dalam berbagai medium seni rupa. Dari lukisan, patung, instalasi, hingga wayang itu sendiri. Menarik dalam pameran ini karena hampir seluruh karya, disertai caption yang tidak hanya berisi nama seniman, judul karya, medium, dimensi, dan tahun pembuatan, tetapi juga dilengkapi dengan narasi singkat cerita yang diangkat dalam karya tertentu. Dalam karya seni rupa yang statis, kehadiran narasi cerita ini bisa sedikit banyak bisa membantu apresiasi yang lebih dalam. Terlebih pameran ini dalam catatan kuratorial yang ditulis Timbul Raharjo, menyebutkan bahwa Pameran ini ingin menumbuhkan kecintaan budaya nusantara melalui pendidikan dengan kegiatan apresiasi dan edukasi budaya seni rupa indonesia. Singkatnya ada upaya literasi visi kebaikan kebudayaan Indonesia dalam pameran ini. Bisa jadi visi ini juga yang mendasari alasan pameran ini digelar di Museum Sonobudoyo, yang berlokasi di salah satu titik keramaian Yogyakarta. Karya-karya dalam pameran ini berusaha merespon cerita panji dengan gayanya masing-masing, termasuk interpretasi dan upaya kontekstualisasinya masing-masing. Dengan gaya yang dominan tentu saja ornamen wayang. Menarik untuk diikuti lebih jauh, apakah pameran panji di daerah lain juga didominasi corak khasnya masing-masing.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.