Aloysius Nindityo Adipurnomo lahir di Semarang – Jawa Tengah 1961. Tahun 1980 mulai tinggal di Yogya hingga sekarang. Menempuh Pendidikan Tinggi Seni Rupa di STSRI “ASRI” – Seni Lukis Yogyakarta, kemudian ke “Rijks Akademie van Beeldende Kunsten” Amsterdam di tahun 1986 – 1987. Bekerja sebagai seniman perupa bebas medium. Nindityo sangat memberi perhatian pada budaya populer yang berkembang dari kreatifitas kerajinan lokal.
Hingga kini, Nindityo banyak menginisiasi proyek seni yang bersifat “partisipatory engagement” bersama dengan pengunjung apresiator karya seni maupun lintas disiplin baik tari maupun pertunjukkan selain; terus bekerja dengan medium-medium konvensional dari pendidikan akademik seni rupa. Nindityo menggelar pameran-pameran Tunggal, presentasi proyek seni maupun pameran bersama di forum-forum nasional maupun internasional (terutama di wilayah regional kawasan) seperti Biennale Havana, SOONSBEEK International Sculpture Exhibition. Beberapa karya Nindityo menjadi koleksi museum di Fukuoka, Queensland dan Singapore, dan MIIAM Chiang May serta beberapa kolektor individual di Indonesia dan Asia. Mulai belajar mengarahkan perhatian pada gagasan anthroposcene dalam banyak aspek pemikiran karyanya.
Membangun dan mengelola Rumah Seni Cemeti Yogyakarta bersama seniman Mella Jaarsma dari tahun 1987 hingga 2017 di Yogyakarta. Kecuali sebagai pemilik bersama Mella Jaarsma menjadi bagian dari anggota Dewan Pembina Rumah Seni Cemeti. Menerima penghargaan “Long Life Achievment Award John D. Rockefeller 3rd” 2015. Salah satu pendiri dan anggota Dewan Pengawas Yayasan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Bekas anggota Dewan Pembina Yayasan Biennale Yogyakarta (sampai dengan Biennale Ekuator ke-6).