Farah Wardani adalah kurator seni independen, konsultan, dan produser program budaya, yang aktif sejak tahun 2002. Ia meraih gelar MA History of Art (20th Century) dari Goldsmiths College, London, pada tahun 2001.
Farah memiliki minat khusus terhadap hubungan praktik seni dan wacana generasional, yang ia wujudkan dalam praktik kuratorial dan aktivitas profesionalnya di bidang GLAM (Galeri-Perpustakaan-Arsip-Museum) di Indonesia dan luar negeri. Pada tahun 2023, kumpulan tulisannya tentang seni selama dua dekade diterbitkan dalam sebuah buku berjudul ‘Skena 2000: Berkas Seni Rupa Indonesia 2002-2023’ (Gang Kabel, 2023).
Farah pernah menjabat sebagai Direktur Artistik Biennale Yogyakarta 2013 dan Direktur Eksekutif Jakarta Biennale 2021. Pada periode 2006-2015, ia menjabat sebagai Direktur Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta, dan hingga kini terlibat sebagai anggota Dewan Pengurus Yayasan IVAA. Pada tahun 2015-2019, ia bergabung dengan National Gallery Singapore sebagai Assistant Director for Resource Centre, Curatorial & Collections.. Sejak 2022, ia menjadi anggota Komite Ahli Museum SAKA, Bali. Ia juga merupakan salah satu kurator Program +E Ellipse Art Project di Biennale de Lyon, Prancis, tahun 2024. Sejak tahun 2024, ia tergabung dalam Komite Akuisisi National Gallery Singapore (periode 2024-2027). Sejak akhir 2025, Farah menjadi kurator ARTJOG periode 2026-2028.