AGUNG KURNIAWAN

Board Member

Bekerja dengan berbagai media, mulai dari gambar hingga pertunjukan, Agung Kurniawan kerap menggunakan tema-tema tabu sebagai narasi karyanya. Ia mengangkat isu-isu seperti kekerasan politik, gender, hingga genosida terhadap simpatisan komunis Indonesia pada tahun 1965. Selain itu, ia juga memanfaatkan kurasi dan festival sebagai medium untuk mengolah isu-isu yang menurutnya membutuhkan ruang publik sebagai bagian dari proses kreatif. Festival multi-event terakhir yang ia gagas adalah Amuk 1812, yang mengisahkan invasi Inggris ke Yogyakarta pada tahun 1812.

Selain berkarya sebagai seniman, ia juga turut menginisiasi pendirian institusi seperti Indonesian Visual Art Archive (1995) dan Kedai Kebun Forum (1996). Karya-karyanya dikoleksi oleh berbagai institusi, antara lain Singapore Art Museum, National Art Gallery Singapore, Van Abbe Museum Eindhoven, Stedelijk Museum Amsterdam, serta sejumlah museum privat di dalam dan luar negeri. Saat ini, ia tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

SHARE MEDIA

Facebook
Email
LinkedIn
X / Twitter
Telegram
WhatsApp