Melalui studi awal ini, Amos Ursia menilisik arsip-arsip koleksi IVAA untuk membuka kembali perdebatan tentang makna “muda” dalam sejarah seni rupa kontemporer Indonesia. Dari manifesto hingga kritik seni, “muda” bukan sekadar usia, melainkan strategi estetik dan politik untuk mengguncang tatanan dan menunjukkan spirit zaman.
Hari ini, ketika label emerging dan established semakin menegaskan jarak, bagaimana seniman muda dapat menegosiasikan ruang kritisnya tanpa terjebak dalam logika branding dan kompetisi? Apakah keberanian masih berarti melawan arus, atau justru mempertanyakan sistem yang membentuknya?
Studi ini mengajak kita berpikir ulang: menjadi “muda” bukan hanya soal generasi, tetapi tentang keberanian untuk terus menguji bahasa, posisi, dan struktur yang mengatur dunia seni itu sendiri.