Berangkat dari penelitian yang dilakukan oleh Pusat Sejarah dan Etika Politik Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, kisah keluarga Mia Bustam membuka ruang refleksi tentang bagaimana ingatan personal dapat menantang narasi besar sejarah Indonesia.
Mia Bustam (1920–2011) bukan hanya seniman dan aktivis yang dipenjara selama 13 tahun karena keterlibatannya di Seniman Indonesia Muda dan Lekra, tetapi juga seorang ibu yang menulis memoar empat jilid sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan. Di balik kisahnya, tersimpan suara anak‑anaknya—Sri Nasti, Abang Rahino, Sekartunggal, Watugunung, Lanang Daya, dan Sri Shima—yang kini tersebar di berbagai kota, membawa serpihan ingatan yang nyaris hilang.
Melalui pendekatan wawancara mendalam‑informal dan pengamatan keseharian, tim peneliti PUSdEP berupaya merekam cerita mereka secara hangat dan cair, membiarkan memori tumbuh tanpa tekanan formalitas. Tahap pertama menghasilkan rekaman audio, foto, dan video; sebuah arsip yang bukan hanya milik keluarga, tetapi juga bangsa.
Di tengah ingatan kolektif yang sering menyingkirkan suara keluarga korban politik, bagaimana anak‑anak Mia Bustam menegosiasikan identitas, trauma, dan ketahanan mereka hari ini? Apakah arsip personal mampu menantang cara negara menulis sejarah, atau justru menjadi ruang baru bagi sejarah yang lebih manusiawi?