POSTED

Aris Setyawan – Musik Penuh Daya Hidup: Noise Sebagai Estetika Perlawanan Paduan Suara Dialita Pasca-Genosida 1965

Melalui penelitian Aris Setyawan yang berangkat dari pengalamannya menyaksikan langsung pertunjukan Paduan Suara Dialita, kita diajak melihat bahwa ini bukan sekadar tentang musik. Ini adalah tentang bagaimana noise—karakter vokal yang tumbuh secara organik, jujur, dan sublim—menjadi sebuah estetika perlawanan yang bertenaga.

Dalam kerangka Jacques Attali, noise adalah gangguan terhadap tatanan yang mapan, sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang menolak diam. Di tangan para ibu Dialita, proses dialektika dan latihan yang konsisten membuat kemampuan musikal mereka tumbuh menjadi sangat baik dan solid.

Transformasi vokal yang bertenaga inilah yang kemudian menjelma menjadi strategi kultural untuk mengusik “harmoni palsu” yang dibangun negara melalui pelupaan sejarah. Aris membaca nyanyian Dialita sebagai left melancholia. Bukan sebuah kesedihan yang pasif atau ratapan, melainkan cara mereka merawat kehilangan melalui “aktivisme lembut” agar tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Di sini, duka masa lalu dilebur menjadi energi kolektif yang produktif, mekar bersama generasi muda, sekaligus menegosiasikan ruang eksistensi mereka. Jika sejarah bisa dihapus dari buku, apakah suara bisa dibungkam dari ingatan?

Riset ini mengingatkan kita bahwa di balik kematangan nada dan keindahan harmoni yang mereka rawat, ada keberanian luar biasa untuk hidup, mengingat, dan menolak lupa.

SHARE MEDIA

Facebook
Email
LinkedIn
X / Twitter
Telegram
WhatsApp