POSTED

Enrico Halim – Tatanan Pasca-Tradisional di dalam Biennale Jogja X: Sebuah Refleksivitas atas Tradisi di dalam Masyarakat Seni Kontemporer Yogyakarta

Biennale Jogja X (2009) mengubah kota menjadi panggung publik: lebih dari 300 seniman, ruang‑ruang sehari‑hari yang mendadak menjadi arena pertemuan seni dan publik. Semangat Jogja Jamming menjadikan seni bagian dari keseharian, bukan sekadar tontonan.

Dalam risetnya, Enrico Halim membaca BJX lewat lensa pasca‑tradisional: tradisi tidak dimakamkan, melainkan direlasikan ulang; ia dibebaskan dari beban nostalgia agar menjadi suatu spirit baru.

BJX menampilkan ketegangan antara format biennale global dan praktik lokal Jogja, di mana tradisi berfungsi bukan hanya sebagai arsip, tetapi sebagai strategi pembentukan identitas publik. Dengan kerangka Anthony Giddens, riset ini mengajak kita melihat biennale sebagai laboratorium negosiasi antara tradisi, modernitas, dan jaringan global.

Hari ini, ketika biennale kembali mengisi ruang‑ruang kota, mari renungkan: apakah peristiwa seni seperti biennale masih membuka ruang bagi refleksi kritis dan praktik kolektif, ataukah ia semakin terjebak dalam logika kuratorial dan ikut terjerembab pada logika pasar?

SHARE MEDIA

Facebook
Email
LinkedIn
X / Twitter
Telegram
WhatsApp