POSTED

8 (Delapan) Kurasi Tema IVAA Contemporary Art Studies

1.   Perkembangan teori & diskursus seni kontemporer dalam praktik seni rupa Indonesia

IVAA adalah satu-satunya lembaga yang menyimpan pustaka dan arsip tentang seni rupa   kontemporer  terlengkap di Indonesia. Koleksi ini membangun mayoritas pustaka dan arsip IVAA,  dari koleksi referensi filsafat,  teori dan wacana seni kontemporer lokal dan global, sampai arsip video konferensi, wawancara dan seminar yang membahas perkembangan isu, diskursus, dan praktik seni rupa kontemporer sesuai perkembangan zaman.  Khazanah ini mencakup perkembangan filsafat modernisme, pascamodernisme, orientalisme, pascastrukturalisme, sampai ke Global Contemporary dan Global South. 

2.   Seni kontemporer, perubahan sosial-politik dan gerakan masyarakat sipil

Taring Padi dan gerakan mahasiswa “Effigiy for Soeharto (1998)” di UGM)

Sejak bermula sebagai Yayasan Seni Cemeti sampai kemudian bertransformasi menjadi IVAA, hubungan antara perkembangan seni rupa kontemporer dengan perubahan masyarakat selalu menjadi fokus utama lembaga ini. Arsip dan pustaka IVAA menyimpan koleksi referensi tentang praktik, gerakan, aktivisme dan keterlibatan seni yang didasari atau merespon dinamika sosial politik di Indonesia, seperti munculnya LEKRA, Desember Hitam, PIPA, gerakan seniman dalam Reformasi ‘98, seniman dan warga, sampai ke gerakan lingkungan yang marak sejak 10 tahun terakhir. Koleksi referensi ini berupa arsip-arsip video dan audio, foto, kliping serta berbagai kajian berupa naskah akademis dan juga pustaka.

3. Medium & praktik seni kontemporer pasca-1990an

City Mural Project by Apotik Komik “SAMA-SAMA” (2002)

Perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia terutama ditandai oleh berbagai eskplorasi medium dan praktik yang melampaui disiplin-disiplin seni rupa modern konvensional, terutama sejak dekade 1990-an. IVAA memiliki koleksi referensi dan arsip berbagai praktik seni mulai dari: Urban Art, Mural, Street Art, performance art, Video Art dan New Media yang marak di awal 2000-an sampai dekade 2010an. 

4.   Modernisme & kontemporer Indonesia:sejarah, kontinuitas, diskontinuitas

Foto: Persagi

Perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia tidak terlepas dari lahirnya seni rupa modern Indonesia terutama sejak Raden Saleh di akhir abad 19 dan Persagi di awal abad 20, yang berlanjut ke pascakemerdekaan serta perkembangan seni era Orba. Keberlanjutan ini juga diwarnai dengan berbagai diskontinuitas serta perdebatan. IVAA memiliki berbagai referensi dan juga arsip yang menjadi khazanah untuk terus mengkaji modernisme dan kontemporer Indonesia. 

5. Peristiwa: Biennale, Triennale, Festival

Semsar Siahaan “Mass Grave” di Biennale Seni Rupa Jakarta IX

Sejak berdiri sebagai YSC di tahun 1995, IVAA terus mengumpulkan referensi dan arsip yang berkaitan dengan peristiwa seni kontemporer, seperti Biennale, Triennale dan festival seni, baik di dalam mau pun luar negeri – di antaranya pustaka dan arsip Biennale Yogyakarta sejak kelahirannya di 1988, dan ArtJOG di tahun 2027, serta arsip tentang Biennale Jakarta 1993 yang menjadi titik tolak bangkitnya seni rupa kontemporer Indonesia di penghujung era Orde Baru. 

6.   Skena/medan seni rupa Indonesia: 

Memasak Sejarah Klinik Seni Taksu (2004)

Medan seni rupa kontemporer Indonesia memiliki berbagai poros wilayah dimana wacana dan praktik berkembang, yang dipengaruhi juga dengan kehadiran akademi-akademi seni rupa serta ajang seni kontemporer di wilayah-wilayah tersebut. Berbagai poros wilayah ini membentuk medan atau ‘skena’-nya masing-masing dengan dinamikanya sendiri, antara lain skena seni rupa di Jogja, Bali, Padang, Jakarta dan Bandung, dengan berbagai perkembangan skena terbaru seperti Makassar dan Jawa Timur.

7.   Gender, feminisme, perempuan

Seniwati Gallery

Isu gender dalam seni rupa telah menjadi fokus IVAA sejak masa YSC, dengan berbagai penerbitan dan kajian terhadap wacana gender, feminisme dan gerakan perempuan di Indonesia dan internasional.  Sejak 10 tahun terakhir, perhatian, kajian dan praktik seniman perempuan juga marak dan menjadi prioritas dari berbagai kalangan. IVAA percaya bahwa arsip dan pustaka di wilayah ini perlu terus dikembangkan untuk mendukung kesetaraan dan  inklusivitas gender, selain juga menjadi materi kajian kritis tentang wacana ini.

8.    Identitas, Etnisitas, Minoritas

Pertemuan perupa Indonesia dengan Gwangju Biennale (2002)

Keberagaman di Indonesia adalah satu hal yang selalu menjadi paradoks antara selebrasi dan kontestasi, dimana wacana politik identitas berkelindan dengan isu etnisitas dan minoritas, yang di dalamnya juga menyangkut representasi, marjinalisasi, hegemoni dan ‘yang liyan’.  Praktik seni kontemporer oleh para seniman yang mewakili berbagai keberagaman Indonesia juga menjadi bagian dari koleksi arsip dan pustaka IVAA, yang diharapkan dapat menjadi khazanah penting dalam kajian dan perkembangan praktik seni yang mengangkat isu-isu ini.

SHARE MEDIA

Facebook
Email
LinkedIn
X / Twitter
Telegram
WhatsApp