Oleh: Yerie Yulanda
Gagasan projek ini berawal dari rasa penasaran pada Rumah Sakit Kusta Alverno di Singkawang. Rumah Sakit berusia 104 tahun ini memang kebetulan dekat dengan rumah saya dan menjadi tempat bermain saat kecil. Sebagai satu-satunya rumah sakit khusus kusta di Kalimantan, saya menjadi semakin tertarik untuk melihat lebih dekat dan menjelajahi lebih dalam. Penelusuran ini yang membawa saya menemukan pemukiman di ujung kota Singkawang, yaitu Pemukiman Liposos (Lingkungan Pondok Sosial), Pakunam.
Berjarak sekitar 20 menit dari tempat saya tinggal, tepatnya di kaki bukit Sijangkung, Liposos Pakunam dihuni oleh para mantan penderita kusta. Rumah-rumah yang dulu disebut rumah putih ini dibangun oleh para suster dari Rumah Sakit Kusta Alverno untuk mantan penderita kusta yang tidak bisa kembali ke kampung halaman. Harus diakui bahwa stigma dan diskriminasi masih melekat pada mereka. Stigma dan diskriminasi yang membuat mereka selalu berada dalam posisi yang tersubordinasi. Sebuah situasi yang melatar belakangi alasan kenapa mereka menetap di Liposos Pakunam sejak tahun 1995. Dalam perjalanan menyelesaikan projek ini, saya juga harus berusaha keras untuk melampaui pandangan-pandangan seperti itu.
Kunjungan pertama ke Liposos Pakunam saya lakukan pada Sabtu 9 Oktober 2021, dan disambut dengan hangat. Saya melihat bagaimana setiap warga berinteraksi dan bekerja bersama tanpa saling membeda-bedakan. Sebuah ikatan yang baru saya sadari belakangan sebagai bentuk toleransi dalam wujud yang nyata, bukan semata jargon atas nilai-nilai yang abstrak. Tahun 2019, pemerintah pernah membekali warga Liposos Pakunam dengan keterampilan membuat ecoprint. Ecoprint sengaja dipilih karena lingkungan perkebunan yang ada di Liposos Pakunam menyediakan berbagai jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai pewarna alam. Perkebunan ini dikelola mandiri dan diolah secara bersama oleh warga. Dari sini, kemudian saya coba mendalami keahlian mereka menciptakan pewarna alami dan membuat ecoprint sebagai satu metode penciptaan karya seni.
Kami menciptakan ecoprint dan karya lukisan yang menggambarkan aktivitas dan lingkungan di Liposos Pakunam sebagai temanya. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya kegiatan kolaborasi kami lakukan secara intens selama kurang lebih sekitar 10 hari, terhitung pada 2 minggu pertama bulan November 2021. Kegiatan kami dimulai dari memetik daun sebagai bahan dasar warna, meramu dan meracik pewarna alami, membuat ecoprint dan melukis bersama. Selengkapnya, kawan-kawan bisa menonton proses ini di video dokumenter yang terlampir dalam laman ini, ya….
***
Saya berangkat dari disiplin keilmuan seni lukis yang pengetahuannya didapatkan melalui jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Modal pengetahuan ini yang coba saya eksplorasi ulang bersama dengan metode penciptaan karya yang dimiliki oleh warga Liposos Pakunam. Selama ini warga Liposos Pakunam membuat bahan dan pewarna alam menjadi ecoprint, namun belum pernah membuatnya menjadi lukisan. Begitu pula dengan saya, belum pernah menciptakan satu karya lukisan dengan bahan dan pewarna alam.
Projek yang saya beri judul Spirit of Resilience ini memang sebuah projek kolaborasi, sebuah upaya pertukaran pengetahuan dan metode penciptaan karya. Melalui upaya pertukaran dan pemaknaan atas pengetahuan yang kontekstual ini, saya ingin memaknai kembali perihal interaktivitas. Menempatkan ragam pengetahuan dan segala metode sebagai bentuk kekayaan intelektual adalah jalan yang saya tempuh agar tidak terjebak dalam stigma dan diskriminasi yang kerap menyaru dalam wujud empati.
8 november adalah hari pertama kami berkarya bersama. Sebelumnya saya ke sana untuk sekadar kunjungan dan berkenalan dengan warga Liposos Pakunam. Kemudian intens selama kurang lebih 10 hari, saya mendapatkan beberapa hal yang bisa direfleksikan:
- Melihat sebuah toleransi yang nyata adanya. Awalnya saya mengangkat tema ini berangkat dari kegelisahan atas bagaimana predikat Singkawang sebagai kota toleransi kedua di Indonesia ini menyikapi diskriminasi dan stigma yang masih melekat pada eks penderita kusta. Terlepas dari jargon-jargon tersebut, warga Pakunam memperlihat pada saya bagaimana sebuah interaksi yang toleran dilakukan dalam bentuk nyata. Penerimaan warga pada saya sebagai orang luar, dan bagaimana antar warga saling berinteraksi bersama tanpa membeda-bedakan.
- Berbaur dengan masyarakat untuk mematahkan stigma masyarakat luar tentang masyarakat eks kusta. Bagi saya, ini juga adalah pengalaman pertama berkarya bersama warga. Maka orang pertama yang harus melampaui stigma negatif tentang masyarakat eks kusta adalah saya sendiri. Kemudian cara yang harus ditempuh adalah dengan memulai berinteraksi dengan mereka. Hingga akhirnya saya bisa melihat mereka sebagai pemilik pengetahuan dan metode penciptaan karya melalui keahlian mereka membuat pewarna alam dan ecoprint.
- Intensitas interaksi ini melatih saya secara pribadi untuk lebih peka pada sekitar. Kepekaan ini yang kemudian menjadi jalan untuk melihat pengetahuan-pengetahuan di sekitar yang bisa digali dan diarsipkan dalam berbagai macam bentuk
- Dari projek ini yang juga merupakan pengalaman baru, bagi saya yang cukup berharga adalah adanya proses pertukaran pengetahuan dan metode penciptaan karya. Disiplin pengetahuan saya memang diperoleh melalui pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Projek ini kemudian mempertemukan saya dengan sebuah proses kreatif yang tumbuh dari masyarakat, dari ruang-ruang yang dinamis dan kontekstual.
- Projek ini memang sebuah projek kolaborasi. Bukan semata menggunakan warga Liposos Pakunam sebagai objek, tetapi memaknai kolaborasi sebagai interaksi yang setara dan menghasilkan sebuah karya baru.
- Salah satu bentuk penerimaan dari warga yang saya rasakan juga adalah antusiasme mereka pada hal-hal baru.
- Proses berkarya bersama dan kemudian memamerkannya di aula warga Liposos, menjadi upaya untuk secara tidak langsung bicara pada masyarakat luas tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi, melihat kekayaan pengetahuan warga, dan melampaui segala stigma dan diskriminasi yang melekat.
Dalam berjalannya proses, kendala yang saya temui memang lebih bersifat teknis, yaitu masalah manajemen waktu dan cuaca. Kendala ini tidak terlalu menjadi soal karena pada akhirnya saya masih bisa menyelesaikan sesuai dengan tenggat waktu jadwal presentasi karya.
Lantas ada dua yang masih menyisakan pertanyaan di benak saya. Pertama adalah soal bagaimana kedepannya warga Liposos Pakunam mengelola ecoprint. Pengetahuan mereka tentang ecoprint diperoleh melalui program pembinaan dari pemerintah. Dari sini, muncul pertanyaan tentang apa yang bisa dilakukan dalam upaya untuk menjaga ketrampilan ini baik dalam konteks kemandirian ekonomi ataupun menjadi wadah interaksi antar warga. Lebih jauh, membuat warrga Liposos Pakunam dihargai sebagai pemilik pengetahuan dan tidak hanya menjadi ‘tukang pencetak’ ecoprint.
Kedua adalah soal status rumah sakit khusus kusta yang berubah menjadi panti lepra sejak 2021. perubahan status ini masih menyisakan pertanyaan bagi saya. Soal apa yang mendasari keputusan ini apakah memang karena sudah tidak ada lagi penderita kusta di Singkawang, atau ada maksud lain untuk ‘menyembunyikan’ mereka karena dinilai tidak sesuai dengan citra Kota Singkawang yang ingin dibangun
Setelah mengikuti program Mini Residensi Ephemera #2 ini, beberapa hal yang bisa jadikan pegangan untuk praktik kesenian saya kedepannya adalah
- Terus belajar mengenai bagaimana cara pengarsipan yang kontekstual, mengingat di daerah Singkawang banyak hal-hal menarik.
- Saya akan coba untuk terus menjaga semangat berkarya, belajar dan berkolaborasi bersama masyarakat di daerah terpencil
- Melibatkan banyak pihak yang bergerak dalam bidangnya masing-masing, mengingat proses kolaborasi idealnya bisa berjalan beriringan dengan proses pengumpulan data, dokumentasi visual, dan penulisan.