Category Archives: Kabar IVAA

Kumpulan Esai Raihul Fadjri

Oleh Hardiwan Prayogo

Raihul Fadjri adalah salah satu pendiri Yayasan Seni Cemeti (YSC) yang pada 2007 menjelma menjadi Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Fadjri pernah menjadi ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) periode 1998-2000, lembaga yang ia dirikan bersama 11 rekan lainnya (sumber: https://aji.or.id/read/aji-kota/35/aji-yogyakarta.html). Ia juga pernah aktif sebagai jurnalis TEMPO biro Yogyakarta, dan banyak menulis artikel tentang seni-budaya, khususnya yang berkaitan dengan seni rupa. 

Cara Fadjri dalam mengulas pameran adalah dengan mendeskripsikan secara detail bentuk karya sekaligus sedikit membubuhi interpretasi. Seperti yang ia tulis kala mengulas pameran tunggal Shigeyo Kobayashi di Galeri Cemeti, Yogyakarta, 6-31 Juli 1995: 

“Coba simak karya yang berjudul “The Landscape Kept On My Mind”. Sebatang kayu sepanjang satu meter tergeletak di lantai. Kayu yang disapu dengan warna hitam itu berbentuk sosok ular dengan sisik yang berkesan dari bekas pahatan. Sebanyak dua belas biji kelereng menghiasi tubuh ular itu, dan biji saga yang berwarna merah disusun memanjang di atas punggungnya. Sementara di dekat kayu berbentuk ular itu terdapat tiga onggok saga merah membentuk bidang elips hingga mencapai pinggir dinding. Sedang di dinding tergantung obyek-obyek yang terkesan berbentuk buah-buahan dari bahan kayu. Jika diamati, susunan dan bentuk obyek-obyek itu mencitrakan kehidupan makhluk di dalam tubuh manusia ketika dilihat dari balik kaca mikroskop, atau panorama kehidupan makhluk di dalam air. Ada bentuk-bentuk seperti bakteri yang mirip dengan bentuk kecebong dengan ekornya yang lunak. Ada bentuk cacing, atau bebatuan yang sudah diselimuti kehijauan lumut.”

Di awal tulisan, Fadjri memberikan gambaran singkat terlebih dahulu tentang di mana posisi seni kriya dalam kancah seni rupa. Seni kriya yang memiliki akar seni tradisi, lebih sering dilihat hanya sebagai benda-benda fungsional, dari pada sebuah karya seni rupa yang utuh. Lantas yang mencairkan batasan ini adalah sifat kontemporer yang melanda dunia seni rupa. Maka mencair pula batasan antara seni murni dengan seni terapan. Dengan kata lain, gagasan-gagasan kontemporer diungkapkan melalui medium seni terapan, dalam hal ini kriya.

Pendekatan yang tidak jauh berbeda muncul juga dalam artikel ulasan Pameran Gambar di Galeri Dimata yang berlangsung pada 17-31 Oktober 1995. Gambar sering dinilai sebagai karya seni yang kurang populer dan bernilai ekonomi. Kehadirannya pun dinilai masih bergantung pada karya seni rupa lainnya, entah lukisan atau patung. Enam perupa yang menaruh perhatian pada situasi ini dan ikut berpameran adalah Eddi Hara, Heri Dono, Ivan Sagita, Nindityo Adipurnomo, Hari Budiono, dan Anusapati. Fadjri pun menulis dengan cukup detail karya dari setiap seniman, sekaligus merekam opini para seniman pada medium gambar. 

“Teknik dan materi (gambar) tak membebani seniman, sehingga ekspresi langsung bisa tercapai.” (Eddie Hara)

“Pada dasarnya karya seni adalah catatan-catatan, pengabadian kejadian dan saksi dari ruang dan waktu yang terus melaju.” (Heri Dono)

Heri Dono menambahkan bahwa tidaklah penting label nama sebuah karya, apakah itu gambar atau lukisan. Selama dia masih memiliki elemen estetik, yang tidak kalah penting adalah pesan personal dan aspiratif dari lingkungannya. Sebagai penutup, Fadjri menuliskan bahwa gambar mungkin akan sama posisinya dengan seni rupa lainnya. Asalkan keinginan ini tidak sekedar memberi nuansa dalam kegiatan seni rupa. Jika demikian, gambar tetap menjadi sekedar gambar uang tersuruk di lemari arsip para perupa.

Selain itu, ada beberapa tulisan menarik lainnya yang masih dalam lingkar seni rupa, hanya saja kali ini fokus pada karya fotografi terhadap aksi-aksi demonstrasi. Secara reflektif Fadjri mempersoalkan lemahnya perlindungan terhadap wartawan foto peliput aksi demonstrasi yang menerima kekerasan baik fisik maupun verbal. Fadjri mengawali dengan dicekalnya pameran foto aksi demonstrasi mahasiswa dari wartawan-wartawan Yogyakarta. Pameran foto ini bertajuk “Yogya di Mata Wartawan Yogya”, berlangsung di atrium pusat perbelanjaan Galeria Yogyakarta, 8-12 Januari 1996. Dari 100 foto yang dipamerkan, 13 foto yang paling menarik perhatian publik adalah foto aksi demonstrasi. Rupanya ini menggelisahkan aparat keamanan, hingga akhirnya foto-foto ini diturunkan dan diberi keterangan: “Satu syarat dari Kepolisian: Foto ini harus diturunkan”. Foto aksi demonstrasi ini merentang dari tahun 1974 ketika peristiwa Malari yang merembet sampai Yogyakarta, hingga refleksi sumpah pemuda 28 Oktober 1995. 

Dari pencekalan pameran foto ini, Fadjri merefleksikan bahwa setelah sekian lama, masih terdapat jurang antara kebebasan berekspresi dengan aparat keamanan yang hanya menjalankan perintah atasan dengan dalih stabilitas. Maka yang terwujud dari jurang ini adalah sisi gelap emosi manusia, yaitu kemarahan dan ketidakseimbangan. 

Selain foto demonstrasi, bersanding juga foto-foto kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana ke Yogyakarta, Ratu Beatrix dari Belanda, kunjungan Paus di Bandara Adisucipto, hingga rapat raksasa Bung Karno di depan gedung Agung pada 1962. Foto yang demikian justru mendominasi pameran. Fadjri menutup tulisan dengan pernyataan bahwa aparat keamanan terlalu berlebihan dalam menilai sisi gelap yang secuil itu.

Dari cara Raihul Fadjri mengulas berbagai macam pameran di atas, dari pameran tunggal hingga pameran bersama terlihat cara menulis Fadjri yang diawali dengan ilustrasi singkat konteks perkembangan gagasan seni, disambung dengan ulasan karya seni hingga profil seniman, dan diakhiri dengan refleksi. Cara menulis semacam ini mengingatkan saya pada satu pernyataan dari seorang wartawan senior, Bambang Bujono. Pada satu kesempatan ia pernah berkata bahwa tulisan/ artikel ulasan pameran berbeda dengan karya seni. Artinya, kehadirannya tidak akan bisa menggantikan posisi atau imajinasi pembaca atas karya jika belum melihatnya secara langsung. Namun dengan menuliskan sedetail mungkin bentuk karya dalam ulasan, menjadi penting untuk membawa pembaca dalam konteks yang lebih luas. Dengan kata lain memperpanjang usia pameran kesenian yang sementara ke dalam pembicaraan yang lebih jauh. Dari arsip-arsip artikel tulisan Raihul Fadjri ini, sedikit banyak muncul gambaran tentang apa yang terjadi pada dinamika dan perkembangan wacana seni. Untuk pembacaan dan eksplorasi lebih dalam, silakan kunjungi halaman dan koleksi dokumen Raihul Fadjri di laman ini.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

8 Months at IVAA: A Reflection on Internship

Konten Sorotan Magang kali ini berisi satu tulisan refleksi selama menjalankan proses magang dari Esha Jain. Esha Jain adalah peserta Bridge Year Program, sebuah program pelayanan selama sembilan bulan yang memungkinkan mahasiswa baru Universitas Princeton terlibat dalam pekerjaan pelayanan masyarakat di cakupan internasional. Sejak Oktober 2018 hingga Mei 2019 melalui lembaga Where There Be Dragons, Esha menjalankan proses magang di IVAA. 

By Esha Jain

Before coming to Indonesia, I had very little experience with the arts and archiving, which is why I was so excited to get to work with IVAA. At first, I was interested in IVAA because it had so many different components: archiving, documenting, and the public library, each of which was very new to me.  It also seemed like a great way to learn more about Jogja through a unique medium, as Jogja has more art—both formal and informal—than any other city that I have experienced. 

Working at IVAA for such an extended period of time allowed me to experience the different departments within the organization. The first few months of IVAA, I worked on documenting events and writing summaries of English books for the library. This was a fun introduction to the work that IVAA does. I enjoyed getting to go to different events, and read more about the art scene in Jogja.

However, my exposure to Jogja’s art scene grew starting in January I started walking around Jogja to document street art. This was one of my favorite parts of my time in Jogja. You can see much more detail when walking on foot around a city than when you’re zipping around in a car or on a bike.  Because I was walking with the intention of taking pictures, it forced me to slow down and take time to wander along streets and alleys I normally would not have gone down. 

The process of sorting the pictures into different categories was also really interesting. In the end, the categories of pictures ranged from soccer to tolerance to tags. The sorting process was a bit difficult at first because I did not understand all the references or topics being discussed, but with translation help I was able to learn about the topics and issues that people in the city cared about. This was another organic way to learn more about the cultural nuances of Jogja, and Indonesia at large. For example, I learned about topics ranging from the impact of increasing tourism on the city to political tensions related to the presidential election. 

This was my first time seeing a city with as much street art as Jogja. Where I live in America, it’s illegal to have street art without permission. But, in Jogja since everyone can make street art there is such a wide variety of topics and quality of art. There were some sections of the city where one person had tagged almost every store door with just his name, almost as if he or she were marking territory. Just one street over, meters-long murals tackled climate change. The longer I walked around, the more I noticed the differences in the way the art was created, whether it was by using paint, spray paint, or even stencils. As a whole, it was interesting just to observe what subjects people chose to depict, especially because everyone was able to without needing permits or approval, which could have censored their work. 

Throughout the year, I also worked on organizing the archives from Karta Pustaka. The first box I worked on contained twenty three albums with photographs from the 1970s to the 1990s. The most difficult part of this job  was translating the captions from Dutch (because they were from a Dutch organization), so that the location, event information, and date could be recorded. It was fascinating seeing the influence that the Dutch had on the types of events being held. For example, there were photographs of Christmas parties and competitions where students would create miniature fairy gardens—something not often seen in Jogja. After this first box, I then organized a bunch of film by date, and put them into binders. This was the first time I had ever seen hard film and again, it was interesting to see which specific things were deemed worthy of documenting. Then, I moved onto sorting DVD covers and VHS tapes. This was my favorite thing to sort through because I got to see the covers of Dutch movies, Indonesian visual art performances, and even American movies. The sheer magnitude of archives to sort through was striking. 

IVAA, along with other organizations, had preserved so much. Many of the materials were created before I was born, and sorting through them felt like I was touching history. Previously, I always thought of archiving as something that was done by museums and for a very select historical events. Working with IVAA’s archives illustrated to me the importance of archiving a variety of different subjects and mediums in order to get a more holistic view of history and culture. 

During my time at IVAA, I was also a part of the book club. This book club was unlike any book club that I was a part of in America. To begin, it was the first non-fiction book that I had read in a group setting. Along the Archival Grain was a book that examined the Dutch colonization of Indonesia through a lens of archiving. Reading the book not only helped me understand the history of colonization in Indonesia and the impact that it has on current issues, but detailed the broader issues of colonization and western-centric way of thinking. 

One of my favorite parts of interning at IVAA was meeting all of the other interns. Especially in the last couple of months, when I had stronger language skills in comparison to the beginning of the year, it was really fun getting to know my peers and understand why they wanted to work at IVAA. I think the one criticism that I would have for IVAA is how the events are planned. At times, it felt like the publicity was done last minute. 

Learning how to document, organizing the archives, writing for the newsletter all allowed me to gain an understanding of how an NGO functions and why cultural preservation is important, especially in a world that is rapidly changing and growing—and in the process, overriding  certain art forms. I am leaving IVAA with a greater appreciation for the necessity of archiving, and am looking forward to exploring similar opportunities back in America.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

From Statue to Pillory

Oleh Hardiwan Prayogo

Kita tentu lebih familiar bahwa monumen selalu berbentuk patung. Lantas bagaimana dengan pillory? Ini adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Hans Van Houwelingen, seniman Belanda yang fokus dengan gagasan seni di ruang publik. Dalam diskusi di Rumah IVAA yang berlangsung Sabtu, 11 Mei 2019, dia mempresentasikan proyek pembuatan pillory di Belanda. Pillory secara umum dapat diartikan sebagai counter-monument, meski secara detail ia cukup berbeda karena bukan hanya menghapus monumen (ingatan buruk) tetapi justru menghadirkan pembandingnya. Itu pula kenapa diskusi ini bertajuk From Statue to Pillory ini, mempersoalkan makna monumen sebagai artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. 

Gagasannya berangkat dari kegelisahan atas monumen yang dibangun untuk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda yang membantai ribuan orang dalam Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yang telah dilakukannya. Serta masih menganggap Van Heutsz sebagai salah satu pahlawan nasional. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. 

Hans memulai presentasinya dengan menunjukan video orang-orang merusak monumen dari tokoh-tokoh yang dianggap sebagai penjahat kolonial. Dia merasa masyarakat perlu mengingat memori buruk dan perlu melakukan tindakan nyata seperti melempari monumen dengan kentang hingga kotoran. Semacam menjadi pengingat supaya kejahatan-kejahatan masa lalu tidak terulang. 

Diskusi yang digelar atas kerjasama dengan Brikolase ini sengaja untuk mendengar perspektif dari orang Indonesia, sebagai pihak yang menjadi wilayah koloni. Maka diskusi yang berlangsung hampir 2 jam ini, lebih banyak mendengarkan opini dari audiens. Di antara mereka ada yang aktif sebagai aktor kesenian, seperti Agung Kurniawan, Iwan Wijono, Nindityo Adipurnomo, Sanne Oorthuizen, dan beberapa akademisi. 

Beberapa feedback menarik terlontar dari forum tersebut. Dikatakan bahwa kehadiran pillory bisa jadi akan dimaknai berbeda oleh orang Indonesia. Ini disebabkan oleh setiap masyarakat memiliki kultur tersendiri untuk mengingat peristiwa-peristiwa traumatiknya. Tidak semua lapisan masyarakat berani untuk menunjukkan kemarahan dan kebenciannya, bahkan terhadap orang-orang yang sudah jelas telah melakukan kejahatan terhadap mereka. Dengan kata lain, kita memiliki cara tersendiri untuk “berdamai” dengan ingatan. Persoalan lain yang menghinggapi adalah bagaimana cara dan untuk apa masyarakat kita memaknai sejarah dan mental serta perilaku macam apa yang perlu dirubah untuk memaknai kolonialitas.

Pada akhirnya diskusi ini memang tidak disimpulkan secara eksplisit. Namun rasanya satu hal yang dipelajari Hans dari diskusi ini adalah kita harus awas terhadap kehadiran monumen dan pemaknaan atas sejarah dan cara pandang siapa yang diwakili oleh kehadiran monumen di ruang publik. Sudah barang tentu bahwa cara masyarakat Eropa memaknai sejarah dan masa lalunya tidak akan bisa semudah itu diterapkan pada konteks  masyarakat yang pernah menjadi wilayah koloni.

View this post on Instagram

Hans Van Houwelingen sharing dan ngobrol-ngobrol soal proyek seninya yg berjudul From Statue to Pillory, yg mempersoalkan makna monumen sbg artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. Berangkat dari monumen yg dibangun utk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda, yg membantai ribuan orang dlm Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yg telah dilakukannya. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. Acara ini kerjasama dengan @brikolase Di Ruang pamer Lt.2 Rumah IVAA Foto oleh Emon @rully_ap #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Asana Bina Seni Biennale Jogja

Oleh Sukma Smita

Mengutip publikasi dalam laman Biennale Jogja, inisiasi penyelenggaraan Asana Bina Seni terinspirasi oleh Asana Bina Widya, sebuah lembaga bimbingan belajar yang ‘berfungsi’ sebagai komplemen atas materi pelajaran dari sekolah. Berangkat dari gagasan atas kebutuhan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam pada kerja-kerja kesenian yang tidak banyak diberikan oleh lembaga pendidikan formal, Asana Bina Seni menawarkan 3 subjek utama dalam kelasnya, yaitu:

  1. Manajemen Seni
  2. Kuratorial
  3. Apresiasi Seni

Model pendidikan alternatif di luar kelas belajar formal dalam dunia kesenian sebelumnya sudah pernah dilakukan misal dalam nyantrik, yaitu praktik bagaimana seniman muda belajar dan dibimbing oleh seniman yang lebih senior melalui sanggar-sanggar. Pendidikan alternatif juga semakin naik daun belakangan ini melalui berbagai workshop artistik, kelas belajar pengembangan kapasitas, hingga kelas-kelas kajian seni yang dibuka oleh para pekerja seni dalam lingkup individu maupun kolektif di galeri-galeri. Ketika perkembangan metode eksperimen artistik dan wacana dalam seni berjalan begitu cepat, tidak mengherankan jika kebutuhan atas produksi hingga konsumsi pengetahuan juga turut bergerak cepat.

Sepanjang penyelenggaraan Asana Bina Seni, IVAA terlibat dalam penyediaan ruang belajar untuk beberapa materi Manajemen Seni dan Kuratorial. Dari total 17 materi dalam kelas tersebut, 5 diantaranya diadakan di IVAA. Kelas-kelas yang diberikan diampu oleh praktisi dan banyak membagikan pengalaman kerja harian mereka sekaligus siasat untuk mengatasi berbagai kendala dan kebutuhan. Dalam kelas Manajemen Seni pengampu yang dihadirkan adalah orang-orang yang bekerja langsung dalam pengorganisasian dan produksi seni. Untuk Materi Pengelolaan Keuangan Festival dan Lembaga Seni, Verry Handayani bercerita tentang pengalamannya sebagai pengelola keuangan berbagai festival yang diselenggarakan di beberapa daerah oleh Yayasan Umar Kayam serta pengalaman mengelola keuangan Forum Aktor Yogyakarta. Verry membagikan perihal dua pengalaman bersiasat yang jauh berbeda: soal bagaimana siasat keuangan tidak hanya tentang mengalokasikan dana dengan adil dan tepat, tapi juga memikirkan kebutuhan keberlangsungan hidup ruang maupun kegiatan yang berkelanjutan.

Dalam kelas Kuratorial, dihadirkan Mit Ja Inn, seniman Thailand yang bercerita tentang pengalamannya terlibat dan menginisiasi Chiang Mai Social Installation pada 1992. Dalam kelas yang dihadiri tidak hanya oleh peserta kelas yang terdaftar namun juga beberapa seniman dan pekerja seni undangan ini, muncul diskusi panjang tentang pembandingan peristiwa seni pada tahun yang sama di Yogyakarta. Chiang Mai Social Installation saat itu diinisiasi atas kebutuhan mendekatkan seni yang dinilai berjarak dengan publik. Pada tahun yang sama di Yogyakarta diselenggarakan pula Binal Eksperimental, sebuah pameran tandingan Biennale #3 Seni Lukis Yogyakarta yang digagas oleh seniman-seniman muda. Diskusi juga berlanjut dengan membandingkan peristiwa lain di kawasan Asia Tenggara dan bagaimana hal itu bisa seolah saling berkaitan: imajinasi macam apa yang sedang menggerakkan publik seni pada waktu itu. 

Serangkaian materi dalam kelas Asana Bina Seni seharusnya bisa lebih dari komplementari atas ilmu yang diberikan lembaga pendidikan formal. Sebagai ruang belajar alternatif  yang bertujuan untuk membagi pengetahuan seni secara lebih luas dan mendorong interaksi yang dinamis antar berbagai kelompok masyarakat, Asana Bina Seni barangkali mampu memantik diskusi yang lebih luas tentang peran-peran yang muncul dalam produksi seni. Dalam konteks produksi seni, kita kadang masih terjebak dalam pemisahan antara yang utama dan pendukung. Padahal jika ditilik lebih dalam, terutama terkait dengan perkembangan wacana seni yang semakin pesat serta bentuk kerja bersama yang semakin beragam, posisi peran satu dengan yang lain sangatlah cair dan tidak lagi tersekat oleh hirarki struktural secara kaku. 

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

SIKLUS 1.0 

Oleh Najia Nuriyana

Sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, pada Jumat, 3 Mei 2018 IVAA menggelar acara bertajuk “Siklus 1.0” di Rumah IVAA. Siklus 1.0 merupakan wujud kolaborasi untuk mendorong aktivasi ruang perpustakaan IVAA yang dikemas dengan cara berbeda. Terdapat beberapa rangkaian acara menarik, seperti Be Kind Rewind (pemutaran film), dongeng seniman, panggung musrary, garage sale dan lapak IVAA dengan diskonnya. 

Pukul 16.00 rangkaian acara dimulai dan diawali dengan Be Kind Rewind yang dikuratori langsung oleh Hardiwan Prayogo. Bertempat di ruang pameran IVAA lantai 2, empat film berbeda genre menjadi pilihan kali ini. Film-film yang ditawarkan merupakan koleksi arsip IVAA sekaligus menjadi salah satu contoh penggunaan arsip dalam berbagai format analog. Empat film tersebut adalah Kunjungan Spesial (2015)-sutradara: Zen Al-Ansory, Tuan Spies (2017)-sutradara: Putri Rae Harbie, Topo Pendem (2018)-sutradara: Imam Syafi’I, dan Artisan (2017)-sutradara: Ika Nur Cahyani.

Kunjungan Spesial (2015) menceritakan seorang wanita bernama Kelana yang sedang melawat binatang kesayangannya, seekor babi. Babi menjadi simbol manusia dalam cerita mitologi penunggu lilin di Indonesia. Film ini menceritakan bagaimana Kelana memperlakukan babi kesayangannya. Ia membawa makanan dengan rantang, sambil sesekali menari bebas. Film Tuan Spesies (2017) berlatar belakang Pulau Dewata Bali, menghadirkan analogi hubungan Ibu dan anak. Kehadiran Walter Spies ke Bali seperti dua sisi mata uang, saling bertentangan antara yang baik dan yang buruk. Di sini Spies berperan sebagai sosok yang akan menerima surat cinta dari Pulau Bali. Sedangkan film Topo Pendem (2018) bercerita  tentang bagaimana seorang bapak menyembuhkan anaknya dengan cara bertapa mengubur diri di dalam tanah. Yang terakhir, film Artisan (2017) bercerita tentang kehadiran artisan di balik sosok para seniman yang tersohor. 

Puncak acara dimulai pada pukul 19.30 dengan diawali beberapa guyonan dari pembawa acara, Dwi Rahmanto dan Najia, lalu dilanjutkan dengan obrolan singkat soal e-newsletter IVAA edisi Maret-April. Panggung musrary (music from library) dan dongeng seniman menjadi acara inti. Beberapa band lokal seperti Nada Bicara dan Half Eleven PM dengan lagu-lagu bertema isu-isu sosial memeriahkan musrary. Untuk dongeng seniman, IVAA mengundang Arsita Iswardhani, Umma Gumma, dan Gladhys Elliona Syahutari. Mereka menarasikan ulang transkrip rekaman radio Dialog Seni Kita (DSK) dalam bentuk dongeng. Transkrip yang dipilih adalah Wacana Seni dan Konsep karya Aminuddin Th. Siregar dan Sunardian Wirodono, serta dialog bersama Dr. Mudji Sutrisno SJ berjudul Reposisi Peran Kesenian dalam Gerakan Kebudayaan Kini. 

Tak lupa Lapak IVAA hadir melengkapi keseluruhan acara dengan berbagai koleksi buku dan merchandise yang ditawarkan dengan diskon 20%. Selain itu di sela-sela acara juga diumumkan pemenang giveaway dari IVAA Shop, dengan hadiah buku bagi empat pemenang.

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Safari JAP (Jadikan Aku Pustakawan)

Oleh Santosa Werdoyo

Safari JAP adalah program perpustakaan IVAA untuk mengunjungi beberapa institusi perpustakaan di Yogyakarta guna belajar mekanisme pengelolaan mereka. Kali ini kami bersafari di Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dan Perpustakaan Open Page. Safari ini diposisikan sebagai titik awal menggali informasi aktivasi perpustakaan sembari membangun jaringan sosial. Selain membagikan pengalaman safari, tulisan ini juga berisi kilas balik IVAA seputar program Library Project dan Jogjalib.net. 

Library Project merupakan sebuah jejaring perpustakaan alternatif yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Cemeti (YSC). Salah satu outputnya adalah penerbitan direktori perpustakaan alternatif tahun 2005 dengan jumlah 36 perpustakaan alternatif yang berada di Yogyakarta. Perpustakaan alternatif tersebut  dibagi menjadi empat bagian berdasarkan bidang yang dipilih dengan spesifikasinya. Empat bagian itu adalah Seni Kebudayaan dan Tradisi, Perpustakaan Komunitas dan Anak – anak, Studi dan Kajian, serta Perpustakaan Plus. Fungsi Library Project adalah sebagai awal untuk terciptanya iklim saling mendukung dan bekerja sama, sehingga akan terbangun perluasan akses jaringan dan kebutuhan informasi yang aktual serta kemudahan akses bagi pengguna perpustakaan alternatif. Setelah Library Project ada forum lanjutan bernama Biblio yang memiliki program khusus meningkatkan kapasitas pengelolaan perpustakaan alternatif.

Setelah Library Project dan Biblio, IVAA juga menjadi anggota dari forum Jogjalib.net, sebuah jaringan yang lebih luas cakupan anggotanya dengan basis pengelolaan SLiMS (Senayan Library Management System). Jaringan yang berbasis SLiMS ini menggabungkan katalog bersama anggota-anggotanya dengan tujuan memudahkan pencarian koleksi dalam satu penelusuran di dalam satu jaringan.

Sayangnya program serta jaringan di atas sudah vakum. Oleh karena itu, IVAA mencoba menggali kembali potensi jaringan yang mungkin lebih kontekstual dengan cara bersafari menjalin kembali jaringan-jaringan tersebut, dengan tambahan perpustakaan baru yang tidak termasuk dalam jaringan keduanya. Awal kegiatan safari adalah anjang sana,  berbagi pengalaman, dengan mengantongi beberapa pertanyaan seperti bagaimana mereka mengelolanya, siapa yang mengakses koleksi, fasilitas apa saja yang ada, serta sebaran koleksinya.

Safari ini kami siapkan dengan bekal sebuah FGD yang dihadiri oleh Yayasan Umar Kayam, Gerak Budaya, Perpustakaan Gunung Kidul dan WALHI Yogyakarta. Di dalam pertemuan tersebut muncul kegelisahan yang sama terhadap pengelolaan perpustakaan, sistem, katalogisasi, pengunjung yang sepi, hingga sumber pendanaan yang minim. Kegelisahan IVAA sendiri dalam aktivasi perpustakaan adalah informasi yang kurang aktual terkait perkembangan dunia perpustakaan dan persoalan mitra berjejaring. Dari obrolan itulah ide Safari JAP muncul. Sejauh ini Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman serta Library Open Page menjadi rujukan awal. 

Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dibuka untuk umum pada hari Senin-Jumat pada jam 09.00-14.00, kecuali hari Jumat pada jam 09.00-11.00. Di perpustakaan itu terdapat arsip-arsip jaman pemerintahan Pakualam I hingga IX. Kebanyakan adalah arsip administrasi kerajaan. Arsip-arsip tersebut disusun berdasarkan kronologi waktu raja bertahta, baru setelahnya berdasarkan tema-tema spesifik. Ada 251 koleksi manuskrip dan 500 buku yang disimpan dengan sistem Dewey Decimal Classification (DDC), sistem kategorisasi standar perpustakaan internasional. Manuskrip tertua adalah tahun 1812 yang menceritakan perjalanan Paku Alam I ketika dibuang dari kerajaan. Meski milik Pakualaman, pengelolaannya bekerja sama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (BPAD) Provinsi DIY.

Setiap lembar arsip dibungkus kertas dan diberi kode penyimpanan. Semua dimasukkan ke dalam kotak kardus dan disimpan di rak almari besi yang tertutup rapi. Perawatan arsip adalah dengan fumigasi dan restorasi. Fumigasi untuk mencegah serangan serangga pemakan kertas dan restorasi untuk arsip yang sudah sangat rapuh karena usia. Selain itu juga dilakukan digitalisasi terhadap semua arsipnya. Data-data digital tersebut disimpan di BPAD. 

Selanjutnya, perpustakaan Open Page menjadi tempat kunjungan kedua. Perpustakaan ini terletak kurang lebih 15 km ke arah utara kota Yogyakarta. Udara yang masih sejuk, buku koleksi yang tertata rapi, dan ruangan yang cukup lebar menjadikan perpustakaan ini sangat nyaman untuk dikunjungi. 

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku sebanyak 5000-an buah dengan tema sosial-politik yang dominan serta berbahasa Inggris. Semuanya milik Max Lane dan Faiza Mardzoeki. Artinya, perpustakaan ini adalah perpustakaan pribadi. Meski demikian, ia dibuka untuk umum pada Sabtu, Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 11.00. 

Sejauh ini kami belum bisa menentukan bentuk kelanjutan dari program Safari JAP. Kami masih terus meraba segala kemungkinan dengan modal jaringan serta informasi terkait perpustakaan yang sudah kami peroleh.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Pengarsipan untuk Institusi, Pengarsipan untuk Pengetahuan

Oleh Lisistrata Lusandiana

Pada tanggal 23 hingga 25 Mei 2019, IVAA diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam simposium dan workshop bertajuk Creating Institutional Memory, yang diselenggarakan oleh Asia Art Archive (AAA) bekerja sama dengan M+. Dilaksanakan di AAA Hong Kong, simposium dan workshop ini dihadiri oleh undangan dan partisipan yang telah mendaftar. Sebagian besar partisipan merupakan bagian dari jaringan kerja AAA dan M+, seperti AAA India, Singapore Art Museum, Bamboo Curtain Studio Taiwan, dan beberapa lembaga seni kontemporer lainnya, yang juga melakukan kerja dokumentasi serta penyimpanan dan kelola aksesnya.

Tiga hari acara ini diisi dengan berbagai acara, mulai dari presentasi narasumber, diikuti dengan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan workshop dan kerja kelompok. Dibuka dengan presentasi yang dilakukan oleh Nancy Enneking dari The Getty, disambung dengan beberapa agenda acara yang pada dasarnya ditujukan bagi para arsiparis untuk membagi landasan metode dan metodologi pengelolaan penyimpanan serta pengelolaan akses dari koleksi yang dimiliki oleh tiap lembaga yang hadir pada saat itu.

Acara ini juga diinisiasi atas dasar kebutuhan lembaga penyelenggara untuk melakukan refleksi atas penyelenggaraan program Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA, serta kebutuhan M+ untuk membangun model pengarsipan institutional yang sedang mereka kerjakan. Di sela-sela itu terdapat berbagai lembaga dokumentasi, pengarsipan serta museum, baik yang dikelola oleh swasta, pemerintah, dengan berbagai skala. Ada yang menempatkan kerja pengarsipan sebagai program utamanya, ada juga beberapa lembaga dan komunitas yang menempatkan kerja pengarsipannya sebagai kerja pendukung, baik mendukung komunitas secara administratif, ataupun secara intelektual dengan menjadi penyedia data dan informasi yang bisa diolah kapan saja untuk kepentingan penelitian.

Meski berangkat dari tema yang cukup spesifik, yakni seputar memori institusional, diskusi dan pembicaraan yang muncul dari forum ini menjadi sangat general dan luas, mengingat beragamnya lembaga dengan tantangan serta persoalannya sendiri, serta memiliki beragam cara dalam mengelola memori institusi. Salah satu hal yang juga tidak bisa ditinggalkan dalam pembicaraan seputar memori institusional ialah soal kondisi ekonomi politik dari tiap lembaga yang ada. Bahwa tidak semua lembaga memiliki sumber dana yang selalu aman dan bisa diandalkan. Tidak semua lembaga memiliki perangkat dan daya dukung yang lengkap dalam menjalankan sistem pengarsipan seperti yang sudah dilakukan oleh lembaga yang lebih lama hadir dengan sistem yang konsisten serta sumber dana yang kuat. Selain itu juga terdapat berbagai konteks sosial politik yang juga tidak bisa diabaikan. Bahwa model pengarsipan yang dikelola hari ini sudahkah berdasar pada logika akses yang selama ini dibutuhkan oleh publik dalam memproduksi pengetahuannya sehari-hari? Apakah praktik ini juga bisa mengakomodasi beragamnya model pengarsipan seni budaya yang hidup di masyarakat kita? Berbagai pertanyaan itulah yang menjadi pijakan awal dari paparan yang saya bagikan di forum tersebut.

Selain itu, berbagai narasumber juga membagikan dinamika kerja pengarsipan serta tantangan hingga kemajuannya. Alan Chan, dari AAA, membagikan pengalamannya selama terlibat dalam Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA. Angharad McCarrick dari M+ juga memaparkan landasan filosofis dari pekerjaannya sebagai arsiparis institusional. Sementara, Michelle Harvey menuturkan sejarah MoMa dari awal mulanya yang masih sangat kecil dan sederhana hingga saat ini. Selain itu juga ada Sezin Romi dari SALT yang membagikan model pengarsipannya yang dibangun dari nol dan berbasis eksperimen.

Bagi lembaga pengarsipan seperti IVAA yang memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang berserak, dengan sistem penyimpanan yang dibangun sambil jalan, sambil dikembangkan dan diperbaiki, di saat yang bersamaan juga memikirkan cara terbaik untuk tetap bertahan dan hadir untuk publik. Forum berbagi ini akan lebih produktif jika tidak meninggalkan pembicaraan seputar konteks. Di atas konteks apa kerja pengarsipan hadir, bagaimana kondisi sosial ekonomi hadir sebagai pendukung sekaligus tantangan dari kerja pengarsipan. Dan yang tak kalah penting dari semua pembicaraan itu ialah bahwa kerja pengarsipan, penyediaan data informasi dan mendukung penelitian tidak bisa dipisahkan dari spirit dasarnya, yakni kerja produksi pengetahuan, yang juga tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang beroperasi. 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Pengumuman Hasil Seleksi Program Magang IVAA Periode Juli-September 2019

Selamat atas terpilihnya peserta Program Magang IVAA periode Juli-September 2019.

Berikut adalah nama peserta magang terpilih:

  1. Innas Tsuroiya
  2. Muhammad Ziauddin
  3. Ratri Ade Prima Puspita
  4. Syafril Maulana Ghiffari
  5. Vicky Ferdian S.

Bagi peserta yang lolos seleksi diharapkan segera melakukan konfirmasi dan mengisi formulir Program Magang yang telah dikirim pada email masing-masing peserta.

Sekali lagi kami ucapkan selamat dan semoga kesempatan ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Sorotan Dokumentasi | Maret-April 2019

Sampai akhir bulan April, Tim Arsip khususnya bagian dokumentasi menerima berbagai rekaman baik berupa liputan pameran, diskusi, presentasi, dan wawancara dengan jumlah sekitar 74 peristiwa seni. Rekaman tersebut hadir dengan berbagai medium, mulai dari foto, video, audio, katalog hingga kliping media.  

Selama dua bulan, Maret-April ini, tim dokumentasi bersama dengan tim redaksi e-newsletter menggagas pengumpulan rekaman dan memperbarui data terkait dengan ruang seni dan seniman yang menginisiasi ruang belajar, kebanyakan yang dilakukan secara kolektif. Sepanjang perjalanan ini pekerjaan kami juga terasa ringan dengan kehadiran kawan-kawan magang, mereka adalah Esha, Najia,  Emma, Kiki, Zaki, dan Rully. Di titik ini, kerja koordinasi menempati garda depan garis pekerjaan.

Berbagai perayaan seni di sekitar pemilu, geliat seni perempuan hingga perayaan ulang tahun Oei Hong Djien dengan beberapa pameran seni rupanya, juga tak luput kami rekam, meski tidak kami garis bawahi di e-newsletter edisi ini.  

Dan berikut adalah beberapa inisiasi runag belajar yang kami liput secara khusus:

Hasan Basri, Suluk, dan Kelas Suluk Kebudayaan

Oleh Rully Adi Perdana dan Esha Jain (Kawan Magang IVAA)

Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan oleh kawan magang IVAA, Rully dan Esha, bersama Hasan Basri mengenai Kelas Suluk Kebudayaan. Kelas Suluk Kebudayaan merupakan sebuah kegiatan belajar gagasan dan praktik ‘suluk’ dalam ajaran Islam bagi generasi muda. Selain sebagai respon atas gerakan Islam ultra-kanan, kelas ini menjadi ruang kebudayaan untuk membangunkan kembali sensibilitas atas tasawuf, sebuah tradisi mistisisme Islam yang telah lama terputus secara intelektual.

Apa itu suluk?

Suluk memiliki banyak pengertian. Untuk mengenal suluk, pintu masuknya dapat melalui kajian tasawuf (kajian tentang aspek-aspek batiniah atau rohaniah dalam Islam). Sebab dalam komponen ilmu keislaman terdapat ilmu bahasa (aspek gramatikal, leksikal, hingga sastra), ilmu hukum/ fiqih, filsafat Islam, hingga yang terakhir ilmu tasawuf. Suluk berasal dari kata ‘salakah’ yang artinya ‘berjalan’. Dalam dunia tasawuf, terdapat pemahaman bahwa ada ilmu yang dapat diterima sebagai hasil proses belajar dan ada ilmu yang diterima karena diamalkan/dijalankan (tanpa melalui pengamalan, seseorang tidak akan mendapatkan hal-hal baru dan tambahan pengetahuan). Menurut Nancy Florida, istilah ‘ilmu suluk’ diadopsi di Jawa, karena terkait dengan genre dalam sastra Jawa. Selain babad dan serat, suluk menjadi salah satu karya sastra Jawa yang lahir dari pesantren. Karena suluk erat kaitannya dengan tasawuf dan mistisisme Islam, suluk sudah pasti berbicara tentang mistisisme Jawa-Islam serta ajaran rohani.

Selanjutnya, yang disebut ‘ilmu’ dalam Bahasa Jawa adalah ilmu yang dikerjakan (ngelmu iku kalakone kanthi laku), sehingga orang yang berilmu adalah orang yang pengetahuannya bersenyawa dengan tindakannya. Harapannya, tingkatan ilmu pengetahuan dan ilmu tindakan berada pada taraf yang sama. Sayangnya, banyak orang yang lebih tahu aspek teoritik, tapi belum tentu mempraktikkannya.

Suluk terdiri dari satu komponen pengetahuan yang stabil, memiliki rujukan intelektual yang dapat diakses oleh orang yang mempelajarinya, dan rujukan tersebut telah mendapat pengakuan terkait bobot intelektualitas dan status mistiknya oleh umat Islam. Karena ada rujukan yang bersifat otoritatif, yang terjadi selanjutnya ialah pola praktik cara mengajar suluk. Seorang salik (orang yang melakukan suluk) pada tahap awal belajar tahap-tahap intelektualitas seperti kecakapan berbahasa, penguasaan pranata sastra, serta akhlak formal (bagaimana bertindak, bersikap pada orang lain, dan memiliki pandangan terhadap alam). Selanjutnya, para salik dibimbing dalam ajaran rohani secara ketat oleh para sufi atau wali. Konon, jika seorang salik belum mendapat pencerahan, ia tidak akan dibiarkan keluar dari pesantren sehingga tetap berada di bawah bimbingan gurunya.

Pada akhir abad kesembilan belas, menjelang berakhirnya masa kolonialisme, hampir seluruh kelompok umat Islam (kalangan Sunni maupun di luar kelompok tersebut) memiliki perubahan pandangan terhadap dunia tasawuf. Salah satu yang Hasan ketahui datanya adalah secara kelompok/ kolektif, hanya Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakui mistisisme Islam (suluk dan tasawuf), sementara kelompok lain menganggap tasawuf adalah komponen asing yang pernah masuk dalam ajaran Islam sehingga harus dibuang. Maka praktis timbul perbedaan pada akhir abad 19 antara kelompok Islam yang mengakui tasawuf dan anti tasawuf. Itulah sebabnya kelompok baru (ultra-nasional) dalam konteks Islam pasti tidak akan mau menyentuh tasawuf/ suluk. NU pada waktu itu tidak hanya memberi respons atas apa yang terjadi di dunia internasional, tetapi NU juga punya kepentingan untuk menyambungkan diri dengan tradisi Islam sebelumnya (misalnya Wali Sanga).

Akibat adanya kolonialisme, sebagian masyarakat terputus dengan tradisi secara intelektual, tetapi tidak terputus secara praktik karena masih memiliki tradisi untuk menyambungkan diri dengan masa lalu. NU melakukannya dengan cara menegaskan bahwa tasawuf tetap bagian terpenting dari keber-Islam-an minimal dua arah: sebagai jawaban pada apa yang terjadi dengan umat Islam saat itu, dan upaya orang NU untuk bercakap dengan tradisi sebelumnya.

Seperti yang kita ketahui, Islam di Indonesia persis dengan klaim orang Pakistan atau Muslim di India bahwa mereka datang dengan membawa mistisisme, sehingga dapat diterima oleh masyarakat setempat. Sama seperti Indonesia, Islam selalu disebut (walau sering mendapat perdebatan oleh banyak kalangan) datang ke Indonesia dengan langgam mistik sehingga dapat lebih toleran terhadap perbedaan, dapat menerima orang lain, karena dalam mistisisme pada puncaknya tidak ada ‘othering’ (yang lain; liyan). Sehingga, jika ingin mencari bentuk toleransi dan sikap moderat pada Islam harus melalui tasawuf. Jika tidak pernah menyentuh tasawuf, maka kita akan dibayangi dengan wajah Islam yang garang, Islam yang marah, dsb.

Lalu, bagaimana dengan Kelas Suluk Kebudayaan?

Kata ‘suluk’ yang digunakan pada Kelas Suluk Kebudayaan memiliki makna yang berbeda. Secara umum, pada masa pendudukan kolonial di Indonesia, para salik melakukan resistensi terhadap kaum penjajah, sehingga pihak Belanda berusaha keras untuk mematikan gerakan tersebut dengan cara mendorong umat islam (sebagai komponen terbesar masyarakat nusantara pada saat itu) untuk beralih ke ranah fiqih yang bersifat formal dan semakin menjauh dari dunia mistik. Sebagai akibat dari strategi Belanda tersebut, hingga saat ini mistisisme Jawa selalu dianggap sebagai anti Islam, sedangkan Hasan yang hidup di dunia pesantren tidak pernah membedakan antara mistisisme Jawa dan mistisme Arab karena keduanya memiliki kekayaan mistik yang luar biasa.

Kelas Suluk Kebudayaan (yang disusun oleh Hasan Basri, Jumadil Alfi, Irfan Afifi, dan Bagus Pradana) mencoba menyusun program untuk membuat serangkaian diskusi intensif dengan tema seputar Islam, Indonesia, dan keberagaman. Hasan dengan beberapa teman dari pesantren yang ada di Yogyakarta sudah lama membuat beberapa kelas dan sejumlah komunitas yang terkait dengan pengembangan kualitas. Inisiatif untuk membuat kelas tersebut timbul karena sudah banyak perubahan yang terjadi di lingkup pengalaman dan kebutuhan generasi muda terhadap ruang diskusi yang lebih terbuka. Kelas-kelas yang bersifat memberikan ruang diskusi tentang hal yang elemental terkait pengembangan intelektualitas. Sebagai dasar, Hasan dan rekannya memberikan kelas menulis, lalu menawarkan tema sesuai minat wacana setiap peserta. Apabila ada peserta yang memiliki minat di luar kapasitas Hasan, biasanya akan disarankan untuk belajar kepada sumber yang kompeten di bidangnya.

Pada bulan puasa tahun 2018, Irfan selalu mengadakan acara yang rutin membahas beberapa aspek Jawa atau naskah tasawuf yang dibaca dalam konteks Jawa, dengan mengundang teman yang memiliki pergulatan mendalam tentang tema tertentu. Irfan, Hasan, dan rekan lainnya yang lama bergulat tentang hal-hal tersebut menangkap ada celah bahwa wacana ‘tasawuf’ sulit diterima kelompok kajian arus utama, karena kelompok tersebut mempelajari Islam statis yang ilmunya datang dari dunia Barat. Unsur-unsur lokal seperti filosofi Jawa, sastra Jawa, bahkan memahami praktik tradisi Islam di Jawa yang sebenarnya memiliki sumbangan yang sangat besar terhadap praktik keislaman sebagian besar umat Islam, saat ini tidak mendapat banyak tempat.

Sebenarnya, banyak teman yang bergulat serius secara intelektual untuk menulis tema tertentu yang terkait dengan Jawa. Akan tetapi, ada kendala ketika membahas Jawa dan menyampaikannya secara diskursif kepada golongan muda. Pertama, sebagai orang Indonesia modern, kita lahir, tumbuh, dan hidup dalam basis epistemologi yang jamak. Sehingga, Irfan dan rekannya harus menghidupkan aspek tradisi melalui medium yang tetap menggunakan diskursus modern. Kedua, seringkali pembicaraan tentang tradisi Indonesia dilakukan dengan mengabaikan batas, sehingga ketika ahli menyampaikan gagasannya, arah pembicaraan menjadi tidak terarah. Berdasarkan pengalaman tersebut, Kelas Suluk Kebudayaan selalu mengambil tema spesifik. Selain adanya batas tentang tema yang diambil, ada pula basis pertanggungjawaban berupa tulisan (makalah), biasanya sekitar 15 halaman.

Pada seri Suluk Kebudayaan pertama, Hasan mendapat tema tentang ajaran Wujudiyah di Pulau Lombok. Wujudiyah adalah salah satu aliran atau ajaran terinti dari dunia suluk yang memandang bahwa segala sesuatu yang kita lihat, termasuk diri kita adalah perwujudan Tuhan. Sebelumnya, kelas tersebut diadakan setiap dua minggu. Akan tetapi, karena dirasa terlalu berdekatan, para penyelenggara kemudian mengadakan kelas menjadi sekali dalam sebulan. Hasan memiliki prinsip bahwa acara semacam itu dapat menjadi alternatif bagi teman-teman yang memiliki perhatian pada tema-tema yang sama. Jika melihat perubahan yang terjadi di dunia intelektual, Hasan merasa harus lebih rendah hati, karena yang dilakukan selama ini bukanlah sesuatu yang istimewa dan semata-mata menjadi upaya untuk meneruskan percakapan intelektual dengan siapa saja dalam lingkup yang kecil tapi banyak dilakukan di berbagai tempat sehingga terjadi persebaran gagasan.

Asal istilah ‘suluk kebudayaan’ berasal dari Irfan. Hasan menyadari, jarang ada orang yang mau membahas tema-tema yang telah disebutkan di atas karena dianggap sebagai tema yang tertinggal. Akan tetapi, kelas tetap berjalan, tema tetap dibahas, karena menantang secara intelektual. Tema-tema yang dipaparkan sudah dipersiapkan sejak lama, begitu pula dengan narasumber yang tidak dipilih begitu saja. Narasumber yang akan memaparkan gagasannya harus mampu bergulat dengan tema yang diberikan, dibuktikan dengan makalah sebanyak (kurang lebih) lima belas halaman.

Bagaimana melihat Suluk dan Kelas Suluk Kebudayaan di masa mendatang?

Melalui pengamatan di media sosial, ada perkembangan yang menarik, yakni ketertarikan generasi muda muslim Indonesia. Terkait suluk, ada peningkatan minat secara intelektual, meskipun belum tentu dipraktikkan – tetapi ada juga sebagian yang mulai mempraktikkannya secara serius. Menurut Hasan, gejala tersebut (mungkin) timbul sebagai respons generasi muda terhadap kelompok-kelompok Islam garis kanan, sehingga salah satu dampaknya ialah hal-hal yang lama tidur (dunia suluk dan lain sebagainya) ‘bangun’.

Terkait wacana yang digagas dalam kelas suluk, dapat menjadi jembatan bagi berbagai kalangan untuk berbicara tentang Indonesia, keislaman, dan pengalaman Indonesia. Karena dirangkai dalam berbagai pendekatan dan beragam tema, serta acuan bahwa pemateri dan narasumber memang memiliki pergulatan dan konsentrasi pada tema yang didalami, kelas suluk memiliki daya tarik bagi banyak kalangan yang memiliki perhatian secara intelektual.

Karena diskusi tersebut direkam dan ditayangkan di kanal Facebook dan YouTube, banyak orang yang menonton dan kemudian menggabungkan diri pada diskusi di kelas selanjutnya. Ketika diadakan di Yogyakarta, ada peserta yang datang dari Surakarta, daerah pantai utara Jawa Tengah, Bandung, hingga Jakarta. Pada akhir sesi, dilakukan evaluasi dan masukan, entah tentang pengelolaan diskusi supaya lebih baik, tema untuk kelas berikutnya, atau hal-hal dalam tema yang tidak selesai dibahas ketika diskusi diadakan. Secara umum, ketertarikan terhadap suluk (sebagai ajaran) dan Kelas Suluk Kebudayaan tumbuh subur.

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.