Category Archives: Kabar IVAA

Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul

Oleh: Pitra Hutomo

Tahun 2016 menandai jeda tahun kedua pasca penyelenggaraan Hibah KARYA! (Kembangkan Arsip Budaya!), yang di tahun 2013 membuka kesempatan bagi para pekerja seni untuk mereproduksi gagasan setelah meneliti arsip budaya koleksi anggota Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Di tengah periode jeda, IVAA melakukan evaluasi besar menjelang satu dekade pembaruan visi dan misi lembaga. Hasil evaluasi IVAA merumuskan kebutuhan untuk merevitalisasi konsep JABN, agar JABN bisa mewadahi praktik pertukaran pengetahuan melalui kerja pengelolaan dan pengkajian arsip. Misi ini tentu berbeda dengan JABN sebelumnya, yakni menjadi wadah untuk bertukar pengetahuan tentang praktik alih media rekam, sekaligus jejaring antar pembutuh solusi untuk keterbatasan sarana fisik untuk penyimpanan dan preservasi dokumen.

Makna arsip budaya digali lebih dalam pasca IVAA menerbitkan buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia.” Buku Arsipelago dibawa ke beberapa kota untuk didiskusikan dengan praktisi arsip, sejarah, dan media baru. Penamaan “Menanam Arsip” sebagai judul rangkaian diskusi bermaksud membangkitkan rekam jejak peradaban manusia di komunitas-komunitas agraris yang terhimpit karena modernitas telah memaksa terjadinya alih fungsi dan hilangnya hak pemanfaatan lahan akibat pergantian kepemilikan. Dalam komunitas yang mudah lupa karena (di antara sebabnya adalah) jarang mencatat, merefleksikan perubahan lingkungan adalah kerja kebudayaan. Konon, semakin canggih kemampuan manusia untuk mewujudkan gagasan artistik karena kecakapan mengolah medium atau tergarapnya ruang-ruang apresiasi seni sebagai ekspresi maupun disiplin, semakin tinggi pula peradaban. Apakah benar demikian jika sejak awal cara mengakses pengetahuan dibatasi otoritas dalam ruang-ruang pendidikan formal?

Kasus di Pantai Kapen/Watukodok sempat mengisi halaman muka Tribun Jogja. Di lokasi konflik, warga mulai ditempa pengalaman menghadapi derasnya arus modal di sekitar mereka, dengan maupun tanpa bukti keterlibatan birokrat setempat atau Kasultanan sekalipun.
Sumber: Tribun Jogja, 30 Mei 2015

Maka, di tahap awal ini IVAA sengaja hendak membebaskan studi literatur dari upaya teorisasi praktik-praktik keterlibatan maupun ketersambungan dalam disiplin seni (participatory and engagement in art). Sebagai pihak yang setiap hari menggeluti laporan kerja budaya terkini lalu mencari konteks pada praktik-praktik masa lampau, mempelajari ekspresi artistik dan perluasannya yang terang-terangan memasang label ‘seni partisipatoris’ hanya akan berhenti sebagai laku pengawetan. Karena itulah metode riset aksi menjawab kebutuhan kontekstualisasi untuk rekaman yang di masa mendatang menyusun tubuh arsip budaya Indonesia. Ruang lingkup yang kami tuju adalah spektrum yang menggunakan seni budaya khususnya seni rakyat, sebagai komoditas. Studi literatur berangkat dari kebijakan nasional tentang kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan berdasarkan sejarah nomenklatur kementerian hingga dua tahun belakangan menjadi badan tersendiri. Konteks setempat di lingkungan terdekat IVAA di Yogyakarta mensyaratkan pula pemahaman tentang kebijakan daerah, mulai dari konsekuensi penerapan paradigma Keistimewaan di provinsi hingga desa, sekaligus relasi kuasa yang bekerja karena keberadaan Kraton sebagai simbol budaya dan politik permainan politik identitas.

Peta wisata Gunungkidul yang menunjukkan potensi pariwisata alam.
Sumber: visitingjogja.com

Riset aksi yang mendahului guliran baru JABN berbekal kesamaan melihat potensi fatal komodifikasi budaya di Gunungkidul, khususnya untuk warga pesisir selatan di deretan pantai Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. IVAA bekerja sama dengan Rumah Belajar Rakyat dan beberapa orang warga Watukodok dan Sepanjang mempelajari dan mendokumentasikan apa saja yang berubah sejak pantai-pantai di Desa Kemadang dibuka.

Komposisi profesi di Desa Kemadang. Sumber: kemadang-tanjungsari.desa.id

Data kependudukan Desa Kemadang menunjukkan bahwa warga yang bekerja di sektor pertanian dan perkebunan mencapai lebih dari 2000 jiwa, melampaui jumlah warga yang berprofesi lain. Karena ada kebutuhan mengedepankan nilai budaya setempat sebagai daya tarik untuk wisatawan, Dinas Kebudayaan DIY menerjunkan individu-individu sebagai pendamping budaya.

Kami berangkat dari beberapa pertanyaan penelitian, yakni:

  1. Benarkah warga Desa Kemadang meningkat taraf hidupnya karena membuka warung makan dan kamar mandi di pantai?
  2. Jika pariwisata bisa meningkatkan taraf hidup, mengapa tahun 2015 warga pengelola Pantai Kapen/Watukodok menghadapi ancaman penggusuran oleh pembeli tanah yang membekali dirinya dengan surat kekancingan, atau tanda bukti pemakaian tanah dari kantor pertanahan Kraton?
  3. Bagaimana warga pantai Gunungkidul memaknai kedaulatan mereka melalui ikatan atas tanah warisan nenek moyang?
  4. Apakah warga pernah dilibatkan dalam perencanaan tata ruang desa dan tata letak pantai?
  5. Bagaimana kondisi sebelum dan sesudah pendamping budaya bekerja di desa-desa budaya?
Cuplikan dari lembar presentasi berjudul “Pariwisata Berbasis Budaya sebagai Wujud Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” yang menurunkan unsur pariwisata budaya menjadi produk (budaya) dan pasar (wisatawan); juga apa saja potensi kebudayaan dan kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Desember

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

#SorotanDokumentasi Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Membuka lembaran daftar perolehan dokumen baru, hingga hari ini tim dokumentasi IVAA tercatat telah merekam sejumlah 27 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada awal tahun ini agaknya khalayak seni rupa Indonesia tengah menyusun persiapan penyelenggaraan perhelatan-perhelatan besar yang akan bermunculan mulai pertengahan hingga akhir tahun seperti ArtJOG, Biennale Jogja, dan Jakarta Biennale. Hal ini kami simpulkan demikian karena tidak terlalu banyak penyelenggaraan pameran, diskusi, maupun performance yang kami jumpai sejak kalender baru dipasang hingga tulisan di rubrik Sorotan Dokumentasi ini dibuat. Keadaan ini memberi kesempatan tim dokumentasi IVAA yang beranggotakan peserta Program Magang IVAA dan dikoordinatori oleh Dwi Rachmanto untuk mengambil nafas, mengingat bahwa biasanya kami bagaikan tanpa jeda merekam banyaknya aktivitas seni budaya. Pada rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami akan menyoroti 4 peristiwa yang kami anggap menarik. Uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya dapat disimak di bawah ini.


1. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
Oleh : Himawan Kurniadi

2. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
Oleh : Brigitta Engla dan Tiatira Saputri

3. Contemporary Art from Bali 2016
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas

4. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul

Oleh: Himawan Kurniadi (Kontributor)

Paduan dua kata, ‘Gunungkidul’ dan ‘pariwisata’ bagi segelintir orang bermakna jalan menuju peningkatan taraf hidup. Bagi mereka yang merasa mampu berkontribusi melihat hal ini dalam kerangka proyek pengembangan potensi, sedangkan yang lain berdalih tidak ingin menjadikan warga Gunungkidul sebagai penonton. Diskusi “Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul” adalah upaya menjajaki persepsi sekelumit putra-putri asal kabupaten di sisi tenggara provinsi DI. Yogyakarta ini, khususnya mereka yang bergiat sebagai pekerja LSM, mahasiswa, hingga langganan penggarap proyek negara atau kabupaten. Tujuan diskusi di Angkringan Mrikiniki, Wonosari yang berlangsung 18 Januari 2017 lalu ini bertumpu pada refleksi dan jajak pendapat kalangan masyarakat sipil yang menguasai konteks politik dan ekonomi setempat.

Beberapa pertanyaan kunci diajukan oleh dua pemantik diskusi, Tri Wahyu dari Indonesia Court Monitoring (ICM) dan M. Thonthowi dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Nahdlatul Ulama Gunungkidul. Forum semakin menarik karena paparan dan diskusi yang gamblang berlangsung antara pihak-pihak non pemerintah yang merasa selama ini bekerja terpisah dari proyek-proyek pemerintah untuk pengembangan kebudayaan.

Saat membahas gencarnya upaya mencitrakan Gunungkidul sebagai wilayah administratif yang paling membutuhkan skema industrialisasi pariwisata alam dan budaya, forum ini mempertanyakan mengapa pemerintah masih menggunakan proksi dinas provinsi atau investor? Sebagian peserta diskusi juga mengeluhkan cara-cara promosi pemerintah yang abai dengan kesiapan warga di lokasi-lokasi yang terlanjur digenjot sebagai tujuan pariwisata. Seolah-olah bagi pemerintah kabupaten, naiknya kunjungan wisata hanya berdampak pada kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari retribusi atau biaya tiket masuk ke klaster area wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan.

Pemerintah memang menyediakan sejumlah anggaran untuk dikelola desa dan terkadang disertai intervensi langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan yang mewakili tubuh provinsi di Kabupaten. Selain menyalurkan anggaran yang dikelola desa, pemerintah menempatkan sejumlah sumber daya manusia sebagai ‘Pendamping Desa Budaya’. Desa Budaya adalah salah satu turunan keistimewaan DIY yang ditetapkan dalam Pergub DIY No.36/2014. Keberadaan para pendamping adalah untuk menyelaraskan misi pengelolaan desa dengan arahan utama pertumbuhan ekonomi, melalui skema permodalan untuk Usaha Kecil dan Menengah hingga promosi lokasi tujuan wisata melalui ekspresi seni rakyat.

Percakapan tentang keberadaan para pendamping sebagai tenaga kontrak yang mendapat Upah Minimum Provinsi dari Dana Keistimewaan menggiring forum untuk menyoroti perihal basis modal di Gunungkidul. Skema industrialisasi pariwisata di bidang kebudayaan dicurigai telah mendorong adanya penyeragaman bentuk-bentuk ekspresi setempat dan malah mencabut akar kebutuhan atas seni rakyat itu sendiri. Ini terjadi misalnya untuk “Sedekah Laut” yang sebelum ‘didampingi’ sebatas menandai momen berkumpul antar warga pedukuhan suatu desa setelah panen raya. Acuan waktu yang khas terpaksa diabaikan karena acara budaya harus masuk kalender event budaya reguler Gunungkidul, dan harus dilakukan saat kunjungan tinggi pariwisata (high season).

| Klik disini untuk melihat video |


*Himawan Kurniadi (l.1986) adalah pegiat Rumah Belajar Rakyat di Siraman, Wonosari. Ia lulus dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa tahun belakangan intens dalam kerja-kerja pengorganisasian terkait isu pendidikan dan pariwisata.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities

Oleh: Brigitta Engla* dan Tiatira Saputri

Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan konferensi internasional bertajuk “International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities” yang dibuka pada Jumat (13/1) bertempat di Auditorium Driyarkara, USD, Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari yakni 13-14 Januari 2017 di Gedung Lembaga Studi Realino, USD. Konferensi ini diadakan khusus untuk mengenang Benedict Anderson, sejarawan Indonesianis asal Amerika Serikat yang dikenal melalui bukunya “Imagined Communities”.

Konferensi ini menghadirkan para dosen, peneliti, juga mahasiswa dari beberapa negara untuk turut serta menjadi pembicara, yakni dari Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Acara dikemas menjadi dua sesi yakni pleno dan paralel, pada tiap sesi paralel diisi oleh enam pembicara. Untuk peserta yang menghadiri acara sebagai pendengar, konferensi dibuka secara gratis.

Acara dimulai tepat waktu pukul 09.00 WIB yang diawali dengan pembukaan, salah satunya dari Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku rektor Universitas Sanata Dharma. Acara dilanjutkan dengan sesi pleno yang menghadirkan dua orang pembicara dari University of the Philippines, Ramon  Guillermo dan Coeli Barry dari Mahidol University yang dimoderatori oleh Melani Budianta dari Universitas Indonesia. Ruangan seminar terlihat penuh dipadati oleh para tamu serta peserta seminar.

Dalam ulasannya, Ramon Guillermo berbicara mengenai bahasa yang merepresentasikan sebuah kultur tidak bisa dengan mudahnya diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa asing. Bagaimana kemudian menghadirkan sebuah istilah dalam sebuah kultur tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga dapat menjadi sebuah refleksi bersama.

Lain halnya dengan Gullermo yang membahas keragaman dalam bahasa, Coeli berbicara mengenai keragaman karakter kelompok, khususnya kelompok konservatif dan kelompok ekstrim, dalam hal komunikasi politik. Coeli berpendapat harus ada upaya pendekatan dan stategi komunikasi yang berbeda dari kedua kelompok, agar benturan antara keduanya bisa diminimalisir.

Wacana kosmopolitan dalam kerangka ‘komunitas terbayang’ ala Ben Anderson ini tidak hanya dibahas dalam hal keragaman kultur bahasa dan karakter kelompok politik. Pada sesi-sesi berikutnya para pembicara juga membahas tentang dinamika masyarakat kelas bawah, penerjemahan, pertunjukan seni, dinamika kelompok-kelompok intoleran, gender serta pengaruh karya-karya Ben terhadap akademisi di Indonesia.

“Bagaimana bisa menjadi kosmopolitan tanpa menerjemahkan?”, pertanyaan pembuka ini sekaligus menjadi bekal untuk kami pikirkan selama konferensi berlangsung. Pengalaman hidup Ben Anderson sebagai penerjemah memperkenalkan bahwa tidak semua kata bisa diterjemahkan ke bahasa lain. Ini dikarenakan setiap kebudayaan memiliki konsep berbeda-beda dalam memaknai sesuatu. Roman Guillermo memberi beberapa contoh kasus dari pengalamannya bekerja bersama Ben Anderson dalam proyek penerjemahan. Misalnya, “rasa” tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Inggris menjadi “feel” karena konsep “rasa” dalam bahasa Indonesia memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Barat. Dalam bahasa Indonesia, “rasa” terkait dengan keberadaan manusia dalam jagad raya, sehingga tidak hanya terdiri dari “feel” tapi juga “sense” dan “means”. Sehingga ketika bicara “feeling” jika dalam bahasa Inggris dipahami sebagai memiliki “feel” dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai kemampuan indrawi seseorang. Sehingga pada kasus kalimat “Perasaanku cair dan bercampur dengan mereka” yang diterjemahkan menjadi “my own feeling dissolve and mix with their” bisa saja mentah diterjemahkan menjadi “my feeling with faculty liquid and dissolve into their feeling”.

Masih bicara mengenai bahasa. Pada sesi paralel, Arief W. Djati membicarakan kuantitas masyarakat Tionghoa Surabaya sebagai masyarakat kosmopolitan dari jumlah bahasa yang mereka gunakan. Arief menggunakan teori Ben Anderson mengenai kosmopolitanisme kolonial, bahwa mereka yang disebut masyarakat kosmopolitan adalah orang-orang yang memahami beragam budaya dari kemampuan mereka menggunakan berbagai bahasa, bukan karena banyak berpergian ke berbagai tempat. Dikatakan bahwa masyarakat Tionghoa Surabaya fasih dalam menggunakan bahasa Belanda, Jawa, Hokkian dan Melayu. Hal yang juga menarik adalah presentasi dari Popi Primadevi mengenai sosial media. Hari ini sosial media memberi kita keleluasaan dalam membangun identitas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Lalu pertanyaannya, komunitas seperti apa yang kita miliki dalam media sosial hingga memerlukan pembentukan identitas yang mungkin saja palsu? Melalui arsip-arsip ‘iseng’nya, Popi mencoba mendokumentasikan dinamika yang terjadi pada sosial media untuk melihat bagaimana image-image identitas ini diterima dan diterjemahkan kembali oleh komunitas maya.


*Brigitta Engla adalah lulusan S1 Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti Program Magang IVAA di bulan Desember 2016 – Januari 2017.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Program Magang IVAA – 2017

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Dalam kesempatan kali ini, kawan-kawan yang tertarik magang di IVAA dapat memilih 2 bidang kerja yaitu: (1). Program; dan (2). Kajian Arsip.

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org


* Poster oleh Beny Wijaya Cahya, mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual di Akademi Seni Rupa dan Desain MSD Yogyakarta, Beny saat ini sedang  mengikuti Program Magang IVAA di bagian Dokumentasi.


Rubrik Pengumuman Kantor ini merupakan bagian dari Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

 

Cerita magang di IVAA

Oleh: Alexander Bloom

Selama menjalani magang di IVAA saya mendapat banyak pengalaman menarik; mulai dari mempelajari bagaimana semua orang bekerja untuk membuat organisasi ini berjalan dengan baik, hingga menambah kemampuan saya dalam menyunting video serta merekam dengan kamera video. Sebelumnya saya tidak menyangka IVAA sebegitu terlibatnya di dalam kancah kesenian di Yogyakarta saat ini, dan tidak hanya mengelola rekaman yang sudah ada, tapi IVAA juga terus-menerus mengikuti arah perkembangan dari seniman-seniman serta musisi-musisi yang hebat di Indonesia.

Pekerjaan saya di IVAA lebih banyak menyunting video, oleh sebab itu saya harus belajar menggunakan program penyuntingan standar industri yang digunakan di IVAA, tapi justru dengan demikian saya akan benar-benar merasakan manfaat dari mempelajari program ini di masa mendatang. Saya juga ditugasi untuk merekam pertunjukan secara langsung, yang mana terbukti lebih sulit dari yang saya bayangkan, mengingat bahwa di dalam video kita harus memperhatikan variabel-variabel yang tidak ada di dalam fotografi, yakni bahwa gambar di dalam video adalah gambar bergerak, dan tak ketinggalan variabel lainnya yaitu suara!

Saya sangat berterima kasih kepada Dwe dan semua staf di IVAA untuk kesempatan yang diberikan pada saya dan teman-teman pemagang lain, baik yang sedang ataupun yang pernah magang di IVAA. Efek positif dari magang bisa saya ketahui dengan pasti dengan melihat senyum yang terkembang dari para alumni magang saat berkunjung ke IVAA. Ini adalah batu loncatan untuk memasuki dunia seni yang penuh kreativitas, baik sebagai pengalaman belajar sekaligus menghubungkanmu dengan dunia di luar kantor. Saya merasa sangat diterima di sini, dan sangat menyenangkan bisa bekerja bersama orang-orang yang ramah dan penyabar. Saya harap apa yang telah saya kerjakan di sini akan berguna untuk IVAA, dan karena semua pengalaman, jaringan pertemanan, dan semua gelora yang saya rasakan, saya akan kembali ke Yogyakarta secepatnya!

Banyak cinta, Alex

_________________________________

My internship at IVAA has been a great experience; from learning about the work everyone does to make the organization function, to extending my skills in video editing and recording. I was surprised to find that IVAA is very involved in Jogja’s current art scene, and not just a record of the past -it’s constantly being updated with an array of Indonesia’s awesome musicians and exhibiting artists.

My work has mainly involved editing videos, where I have had to learn an industry standard application, which will help me on my journey significantly. Also, I’ve been recording live performances which has proved much more difficult than expected, with the range of variables that the video medium presents compared to still photography – the pictures are moving, and there’s sound!

I’m very grateful to Dwe and the team at IVAA for the opportunity they have given me as well as many other current and past interns, and it’s easy to see the positive effects by the smiles on the faces of past interns visiting the office. It’s a stepping stone into the creative arts both as a learning experience in itself which extends beyond the office environment, with opportunities to meet and network with people at exhibitions, music gigs. I have felt very welcome and it’s been a blessing to be working alongside such friendly and patient people. I hope that the work I have completed is useful to IVAA and because of this experience, the networks, and the vibe I’ll be returning to Jogja as soon as possible!

Lots of love, Alex


Alexander Bloom adalah mahasiswa Murdoch University asal Australia, dia terpilih menjadi salah satu peserta Program ACICIS Proffesional Practicum 2017. Program ini mengirimkan mahasiswa-mahasiwi dari Australia untuk magang di beberapa organisasi/studio seniman di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam program magangnya Alex bergabung dengan tim dokumentasi IVAA selama satu bulan.


Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor di dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Koleksi Arsip Moelyono

Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, kami disibukkan dengan digitalisasi arsip yang dikontribusikan oleh sejumlah seniman. Pada buletin edisi lalu di rubrik Sorotan Arsip kami telah mengulas arsip-arsip yang dikontribusikan oleh FX Harsono. Pada edisi kali ini kami mengedepankan kumpulan arsip dari Moelyono. Moelyono dikenal aktif dalam kegiatan seni di tengah masyarakat sejak tahun 1980. Proyek seni Moelyono selalu melibatkan masyarakat di desa atau area tertentu, kemudian dengan seni itu sendiri ia mengupayakan perubahan untuk masyarakat di area tersebut. Tentu tidak mudah menggunakan kesenian sebagai medium perubahan, dibutuhkan strategi khusus. Untuk penyusunan strategi ini Moelyono harus menetap dalam waktu yang tidak sebentar, membaur dengan masyarakat, dan melakukan pengamatan di area yang sedang ia dalami tersebut.Bersama Yayasan yang Ia dirikan tahun 1993 yaitu Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK), Moelyono menjadikan seni berguna bagi masyarakat. Menurut Moelyono, seniman tidak boleh bersikap netral dengan hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek estetik dari karyanya.

Setelah kami amati, arsip dari Moelyono ini dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni  materi-materi yang dikumpulkan dalam rangka penelitian untuk persiapan membuat kegiatan seni di tengah masyarakat; dan berkas-berkas dokumentasi dari  kegiatan-kegiatan tersebut, seperti foto, katalog, laporan proyek, liputan media massa, dll. Beberapa proyek seni yang teridentifikasi di koleksi arsip Moelyono diantaranya adalah “Seni Rupa Penyadaran”, “Yang Diikat”, “Atopic Site”, “Consciousness Raising Art”, “Seni Pembebasan Anak Jalanan”, “Untuk Marsinah”, “Seni Rupa Instalasi Refleksi Hak Dasar”, dan “Topografi Ingatan”. Kerja-kerja seni Moelyono di tengah masyarakat telah menjadikan alumni Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia ini menerima penghargaan. Beberapa penghargaan yang telah diterimanya antara lain “Fellowship Innovator for the Public” dari Yayasan Ashoka Indonesia pada tahun 1992, dan “Hadiah Seni Gubernur Jawa Timur” pada tahun 2001.

Seluruh arsip yang dikontribusikan olehMoelyono telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Moelyono yang terdiri dari 9.598 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2khMSrB


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

#SorotanPustaka Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Oleh: Lisis dan Santosa

Rubrik Sorotan Pustaka ini akan mengabarkan perkembangan Perpustakaan IVAA sejak buletin yang lalu terbit. Koleksi perpustakaan kini telah bertambah sebanyak 21 katalog, 10 majalah, 13 buku, dan 1 skripsi. Di antara koleksi baru ini, banyak yang berasal dari sumbangsih anggota perpustakaan dan mitra/jaringan kerja IVAA yang telah bermurah hati mengkontribusikan terbitan baru maupun koleksi pustaka mereka.

Ada tiga koleksi baru yang akan kami soroti kali ini, yakni buku berjudul “Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic 1945-1965,” sebuah buku yang diterbitkan oleh Prestel Publishing di tahun 2016. Buku ini dikirimkan oleh Dr. Damian Lentini dan Daniel Milnes dari Haus der Kunst, sebuah museum seni non-koleksi di Munich, Jerman. Kedua kurator ini sempat menggunakan arsip IVAA sebagai bahan penulisannya di dalam buku ini. Buku kedua yang kami soroti adalah buku yang kami kira pasti mempesonakan banyak pecinta sejarah, berjudul “Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia,” buku ini ditulis oleh sejumlah penulis sejarah yang diberi kesempatan untuk menggali data di KITLV Leiden, diterbitkan Yayasan Obor di tahun 2013. Sedangkan buku ketiga yang kami tampilkan berjudul “Menjadi Jogja,” terbitan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tahun 2016.


1. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965 846 Halaman
Penerbit: Prestel Publishing
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: English

Buku yang apabila judulnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Pascaperang: Seni Antara Pasifik dan Atlantik, 1945-1965” ini mengkaji seni era pascaperang dari berbagai perspektif; timur dan barat, utara dan selatan, penjajah dan terjajah, Pasifik dan Atlantik. Buku ini diterbitkan berbarengan dengan penyelenggaraan sebuah pameran yang diselenggarakan sejak 14 Oktober 2016 lalu dan masih berlangsung hingga 26 Maret 2017 mendatang di Haus der Kunst, Munich, Jerman. Di dalam pameran ini ditampilkan lukisan, patung, instalasi, performance, film, fotografi, otobiografi seniman, dan dokumen-dokumen, total lebih dari 350 karya dari 218 seniman yang berasal dari 65 negara. Baik pameran maupun buku ini memberikan gambaran mengenai periode sejarah setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, dengan memahami wacana dan sejarah seni yang muncul secara global, mengeksplorasi persepsi individu dan formulasi pada perkembangan seni, struktur politik, pola ekonomi, dan pola kerja institusional di negara-negara Pasifik dan Atlantik yang membentang dari Jerman, Jepang, sampai Amerika Selatan. Buku ini melibatkan 35 kontributor untuk menulis baik itu sejarawan seni, kurator, ataupun akademisi.

2. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia

446 Halaman
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Indonesia

Seperti judul bab pendahuluannya, buku ini berusaha mengajak kita memikirkan ulang historiografi Indonesia. Telah makin kita yakini bersama bahwa menulis sejarah nasional bukanlah sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga politis. Sehingga patutlah kita mempertanyakan kembali klaim akan kebenaran (truth-claims) yang kita konsumsi selama ini dari penulisan sejarah di masa lalu khususnya di masa Orde Baru. Pasca tumbangnya Orde Baru, penulisan ulang sejarah mulai diupayakan. Dalam meninjau historiografi Indonesia, buku ini berusaha menghindari narasi-narasi besar (grand naratives) dan membaca narasi-narasi alternatif yang dimunculkan kaum intelektual dan anggota masyarakat yang berada di pinggir kekuasaan. Selain itu buku ini juga mempertimbangkan banyak faktor, seperti menyadari pentingnya masa kini dalam mempelajari masa lalu, serta berupaya kritis terhadap upaya-upaya yang dilakukan sekarang untuk menulis sejarah-sejarah lokal yang bertujuan mendukung otonomi daerah tertentu dan melegitimasi kekuasaan elit lokal.

Sebagian besar penulis di dalam buku ini mendapat kesempatan untuk bekerja di KITLV Leiden dan menikmati segala fasilitas yang ada, baik perpustakaan, arsip, maupun koleksi foto lembaga. Pada bagian pendahuluan dikemukakan perlunya dekolonisasi historiografi Indonesia. Bagian kedua menyoroti berbagai arti yang diberikan kepada waktu sejarah (historical time), peristiwa, dan pelaku sejarah. Bagian ketiga membahas persoalan narasi sejarah dan peranan ingatan, baik ingatan kolektif maupun ingatan perorangan dalam membentuk narasi sejarah tersebut. Berkaitan dengan ini, maka bagian keempat membahas relevansi sejarah populer, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana sejarawan menghadapi fenomena yang tampaknya sulit ditangkap ini. Sedangkan bagian kelima melihat berbagai genre penulisan sejarah, interpretasi sejarah, peranan film, dan fotografi dalam historiografi.

3. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta377 Halaman
Penerbit Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Buku dengan sampul tebal dengan nuansa klasik ini mendedahkan berbagai aspek sejarah yang menjadi bagian dari bangunan narasi bernama Jogja. Diterbitkan dalam rangka ulang tahun ke 250 Kota Yogyakarta, buku ini disusun oleh Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang bekerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Dibuka dengan beberapa prolog yang memperkuat narasi keistimewaan Yogyakarta, buku ini menuliskan Jogja dari awal mula berdirinya, yang terkait dengan dinamika kerajaan Mataram hingga perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi dua kedudukan, di Surakarta dan di Yogyakarta.

Gambaran pada masa sebelum kemerdekaan juga terdapat dalam buku ini. Masa ketika banyak tumbuh organisasi-organisasi tokoh-tokoh kebangsaan, yang kelak menjadi embrio dari sistem pendidikan nasional yang kita kenal hingga kini, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Taman Siswa (1922). Selain itu, organisasi yang berbasis agama dan pendidikan seperti Perserikatan Muhamadiyah dan NU juga lahir di Jogja dan diceritakan di buku ini.

Kemudian dari sisi arsitektur dan tata ruang kota, narasinya tidak jauh beda dengan narasi sejarah pada umumnya, yang menempatkan keraton sebagai pusat pembangunan.

Selebihnya, kita akan menemukan beberapa narasi romantis lain, perihal posisi Jogja di tengah semesta dan dunia, namun buku ini kosong dari wacana-wacana baru yang lebih mencerdaskan serta menjawab kebutuhan untuk ‘Menjadi Jogja’, bagaimana mengidentifikasi diri secara kolektif serta menentukan posisi politis.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Contemporary Art from Bali 2016

oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Bali, sebagai entitas dikenal dengan ciri artistik yang khas; kental dengan budaya tradisi, namun diterpa dengan derasnya arus kebudayaan modern. Pameran Seni Kontemporer Bali memberi pendekatan yang kritikal kepada sejarah seni dan budaya, baik di Bali maupun secara luas. Tujuannya melihat dan membaca ulang bagaimana pebentukan sejarah seni rupa di Bali serta pemahaman kembali apa itu seni lukis (drawing-painting). Perkembangan seni rupa Bali tradisi-modern-postmodern-kontemporer dalam konteks seni rupa Indonesia sekarang. Bagaimana gagasan maupun eksplorasi para seniman yang menunjukan potensi artistik dari cara pandang dan konsepsi yang hybrid ke dalam bentuk lukisan, drawing, maupun bentuk karya tiga dimensional.

Baru-baru ini Langgeng Art Foundation bersama Equator Art Projects mengadakan pameraran bertajuk “Contemporary Art from Bali”, tepatnya pada 15 Desember 2016-31 Januari 2017. Pameran berlokasi di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta.

Rifky Effendy dan Gede Mahendra Yasa sebagai kurator pameran ini memilih karya-karya yang sebagian besar berupa lukisan dan drawing, serta beberapa karya tiga dimensi. Seperti tajuknya, karya-karya dalam pameran ini menujukkan kecenderungan kancah seni rupa Bali sekarang yang sangat beragam, yang diramaikan oleh seniman, baik seniman lokal (asli Bali) maupun seniman pendatang.

Seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Ketut Sumadi, Kemalezedine, Aswino Aji, Ketut Moniarta, Ketut Susena, Teja Astawa, Marco Cassani, Natisa Jones, Wayan Mandiyasa, Wayan Upadana, Ketut Suwidiarta, Valasara, Ashley Bickerton, Putu Wirantawan, Filippo Sciascia, dan Rodney Glick.

| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Berawal dari sekumpulan individu yang memiliki kecocokan dalam ideologi berkarya, serta menghadapi permasalahan yang memiliki urgensi bersama, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi yang dinamai Milisi Fotocopy pada awal 2011. Nama Milisi Fotocopy sendiri mewakili semangat gerakan milisi yang memang ingin berbagi semangat merespon permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Surabaya. Menurut Milisi Fotocopy bentuk kesenian-kesenian yang saat ini ada di Surabaya tidak menampilkan persoalan yang dekat dengan diri mereka sendiri, sudut pandangnya sangat mainstream, bahwa gerakan kesenian adalah kerja imajinatif dan tidak berangkat dari persoalan-persoalan nyata.

Milisi Fotocopy mengadakan pameran tunggal pertama mereka yang berjudul “Ngluruk” di Ruang Pamer Kedai Kebun Forum, Jl. Tirodipuran No.3 Yogyakarta pada 14 Januari-4 Februari 2017 lalu. Dalam pembukaan pameran “Ngluruk”, Milisi Fotocopy menyajikan karya serta dokumentasi kerja mereka dari tahun 2011 hingga 2016. Melalui pameran arsip ini mereka ingin mengemukakan pentingnya mempresentasikan kerja-kerja kolektif dalam bentuk pameran ataupun diskusi supaya terjadi saling dan tukar informasi mengenai apa yang telah mereka kerjakan dan temukan selama proses bekerja kepada publik di kota Yogyakata. Nama-nama seniman muda surabaya yang tergabung di dalam kolektif Milisi Fotocopy ini antara lain Abdoel Semute, Bagus Priyo, Cahyo Prayogo, Dimas Giswa, Eko Hariadi, Imanniar Ramadhani, Iyan Fabian, Juve Sandi, Rakhmad Dwi Septian, Rendi Murti, Riski Juniartama, Sandi Crisko, dan Tubagus Riski.

Mengiringi pameran arsip ini, ada juga pertunjukan Titer Kabared Satoe “Babu Para Gedibal”, teater dari kampung Dupak, Bangunrejo, Surabaya, sebuah kampung yang notabene merupakan lokalisasi tertua di Surabaya. Digagas sebagai pengembangan dan pemberdayaan pewacanaan pelaku teater kampung yang sementara ini di anggap sebelah mata, Naskah yang berjudul “Babu Para Gedibal” mengusung tema kehidupan sosial ekonomi keluarga masyarakat Dupak sebagai masyarakat urban kota dengan segala kerakusannya, konsumerisme, dan materialistik.

Pameran Arsip Milisi Fotocopy ini ditutup dengan serangkaian acara yang diselenggarakan bersama Basarub pada tanggal 3 dan 4 Februari, antara lain pasar pernak-pernik dan kerajinan bikinan komunitas-komunitas seni di Yogyakarta dan Surabaya, pasar ini dinamai SINDIKAT BAZAAR GELAP. Sehari setelahnya mereka mengadakan artist talk dan peluncuran zine yang disusul pertunjukan musik dari band-band lokal. Di dalam artist talk, mereka mempresentasikan projek-projek yang pernah mereka kerjakan dari tahun 2011-2016, antara lain projek riset kampung Tambak Bayan Tengan di tahun 2012-2014 dan presentasi dari kolektif Kinetik tentang karya video dalam projek Hidup dan Mati di Tanah Sengketa.


| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.