Category Archives: Kabar IVAA

Meraba Wajah Praktik Seni-Budaya di Atas Tanah yang Bergeser: Catatan Sederhana tentang Pengarsipan di Kala Pandemi

Oleh Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi

Semakin ke sini, ingatan menjadi semakin berharga tapi juga semakin sulit dikelola. Percepatan dunia yang dimulai oleh revolusi digital seolah membuat kita semakin gelagapan berurusan dengan ingatan, kesenian, dan bahkan peristiwa. Harapan banyak orang bahwa era teknologi digital dapat mengabadikan banyak hal di ‘ruang angkasa’, beriringan dengan potensi hilangnya ingatan di belantara data, atau paling tidak tersesat atau keracunan di dalamnya. Itulah tantangan pengarsipan sekarang.

Tantangan macam itu semakin dipertegas oleh kehadiran pandemi saat ini. Arus dunia digital makin dipercepat ketika ‘jaga jarak’ menjadi kebiasaan. Interaksi virtual menjadi kebutuhan yang membludak. Segala cara hidup beserta perspektifnya seolah sedang diombang-ambing di atas tanah yang bergeser tanpa bisa kita raba dengan jelas arahnya. 

International Council on Archives (ICA) mendeklarasikan pentingnya pengarsipan di tengah situasi pandemi. Bahwa tugas untuk mendokumentasikan tidak berhenti semasa krisis. Kehadirannya justru jadi lebih penting sebagai sumber historis untuk melihat lagi bagaimana negara, masyarakat dan komunitas internasional menghadapi krisis. Mengafirmasi pernyataan UNESCO, mengubah ancaman Covid-19 menjadi peluang untuk pendokumentasian, karena arsip adalah sumber terpercaya untuk menjamin keamanan dan transparansi administratif. Lebih spesifik, arsip dan manajemennya menjadi elemen kunci untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 dalam kaitannya dengan akses informasi.

Pernyataan ICA terkait peran pengarsipan di tengah pandemi yang menjadi lebih penting dan mendesak tersebut, tentu saja tidak salah. Tetapi tidak bisa begitu saja kita terima mentah-mentah. Dalam pernyataannya, ICA lebih banyak didorong oleh kepentingan-kepentingan di sekitar perwujudan tata kelola pemerintah transparan, terbuka dan terukur. Karena hal-hal itulah yang menjadi prasyarat demokrasi. Singkat kata, pengarsipan untuk mendorong praktik good governance. Di Indonesia, perihal ini juga cukup konkret, bisa terlihat dari sengkarut penyaluran bantuan. Akan tetapi, yang menjadi tantangan saat ini yaitu bahwa kita juga perlu menempatkan urgensi pengarsipan, tidak hanya di hadapan kepentingan good governance. Tantangan kita saat ini ialah menempatkan urgensi pengarsipan di atas tanah kebudayaan. 

Kebutuhan merekam peristiwa juga muncul untuk kepentingan nilai kesejarahan dalam koridor disiplin ilmu. A Journal of the Plague Year dari School of Historical, Philosophical and Religious Studies, Arizona State University, melalui laman Share Your Story, mengundang publik untuk mengirimkan arsip mereka yang berkaitan dengan pandemi dalam format digital. Dengan mengantongi keyakinan bahwa penting untuk membayangkan apa yang bisa ditulis oleh para sejarawan mendatang mengenai pandemi, arsip sudah sedari lahir diciptakan untuk kepentingan historis. Orientasi partisipasi publik dengan pandangan sejarah masa kini (history of the present) menjadi kecenderungan yang semakin dipertegas di masa pandemi ini. 

Tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi formal dan melulu berorientasi administratif serta historis, inisiatif pendokumentasian juga dilakukan oleh individu dengan orientasi personal, sepersonal bercerita layaknya kultur sosial media. Rebecca A. Adelman melalui Coronavirus Lost and Found: A Pandemic Archive, mencoba mengundang publik untuk membagikan cerita tentang apa yang hilang dan lahir sebagai habitus baru. Inisiatif ini ia lakukan atas dasar ketertarikannya terhadap peran emosi dalam situasi penderitaan dan bertahan hidup. Selain itu, ada juga betweenyounme.nl oleh Mirjam Linschooten. Melalui laman ini, Mirjam mengajak publik untuk membagikan cerita tentang perubahan objek (personal) apa yang terjadi ketika pandemi. Perhatian atas inisiatif pengarsipan secara individual ini muncul atas dasar kebutuhan orang untuk berbagi cerita, dan/ atau impresi personal. 

Sembari terus berusaha mewujudkannya, kami percaya bahwa pengarsipan harus selalu kontekstual. Ketika semua praktik seni bergeser karena pandemi, kami mencoba untuk merekamnya. Tentu saja tidak mudah untuk merekam praktik-praktik seni-budaya yang bergeser ini, ketika hampir semua mendadak virtual. Akses memang mudah, tetapi agresivitas informasi tak bisa dihiraukan. Oleh karena itu, perlu kami akui bahwa bukan keutuhan dan kemapanan catatan peristiwa yang kami sasar, melainkan tangkapan atomistik tentang bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan, yang mungkin dapat menjadi kontribusi refleksi serta produksi pengetahuan kini dan kelak. 

Dari data-data yang kami kumpulkan, baik itu dari media massa, publikasi sosial media, hibah arsip dari publik, webinar, dan sedikit wawancara, ada tiga klaster yang kami tawarkan kepada publik sebagai bingkai. Pertama, Semesta Bertahan: praktik-praktik bertahan hidup yang dilakukan oleh para pegiat seni-budaya, seperti solidaritas pangan, pameran merespon pandemi secara tematik untuk kepentingan kekaryaan dan donasi, advokasi dan kerumitannya, serta bursa dan arisan karya. Kedua, Olah-alih Medium dan Kajian: beberapa pameran yang beradaptasi menggunakan platform digital serta pembicaraan di seputar itu. Ketiga, Potret Pustaka: tentang bagaimana dunia literasi berdinamika di saat pandemi. 

Pengarsipan yang kami lakukan tentu tidak bisa menjadi acuan tunggal untuk melihat dinamika ekosistem seni-budaya semasa pandemi. Meski demikian, paling tidak kami mencoba untuk meraba wajah praktik seni-budaya, terutama dari tradisi seni visual yang juga sedang berupaya beradaptasi dan mempertahankan nafasnya. 

Pengarsipan tidak hanya menjadi penting di atas tanah yang sedang bergeser. Bahwa sesungguhnya, ingatan akan selalu memiliki urgensinya ketika manusia belum punah. Tanpa menunggu pandemi, ingatan selalu menyimpan kenyataan bahwa kita selalu hidup di tengah bayang-bayang krisis. Kerentanan kita di kala pandemi justru menunjukkan bahwa mungkin kita selalu menyangkal, mengabsenkan keterdesakan untuk keterdesakan lain yang tidak jarang hadir dari luar. Merekam ingatan dan peristiwa di masa pandemi setidaknya menjadi titik bagi kita untuk mengakui kerentanan dan memikirkan ulang segala keterdesakan; menilik kembali segala pembicaraan dan praktik seni, bahkan persoalan-persoalan fundamental seperti ritme dan cara hidup yang sedang bergeser ini. 

Untuk melihat sebaran data Semesta Bertahan, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Pandemi dan Dunia Literasi Hari Ini

oleh Santoso Werdoyo

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah yang muncul sangat mempengaruhi semua lini kehidupan, salah satu di antaranya adalah dunia literasi, muladi dari penerbitan hingga perpustakaan. Kami berusaha meraba situasi dunia literasi semasa pandemi ini dengan mengumpulkan informasi secara online dan bertegur sapa dengan beberapa pegiat literasi, dari pemerintah dan komunitas. 

Dampak pandemi bagi dunia literasi yang banyak dibicarakan adalah pasar buku konvensional yang anjlok. Himbauan jaga jarak mengakibatkan sebagian besar industri perbukuan mandek. Penjualan buku-buku di berbagai negara turun drastis. Di Indonesia turun sekitar 40-70 persen sejak Maret 2020. Sedangkan untuk penerbit, rata-rata dari April bisa bertahan setidaknya tiga sampai enam bulan, sisanya hanya 4-5 persen yang dapat bertahan satu tahun ke depan. 

Ikatan Penerbit Indonesia berupaya menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah, melalui Kemenparekraf. Mereka berharap pemerintah dapat memfasilitasi penerbit agar bisa menjual buku melalui platform digital. Pemerintah di beberapa negara di Eropa, seperti Inggris, Irlandia, Republik Ceko sudah melakukan upaya tersebut. Mereka membeli buku-buku berformat digital (e-book) dari para penerbit untuk kemudian didistribusikan ke masyarakat secara gratis melalui perpustakaan-perpustakaan negara. 

Di Indonesia, pasar e-book tercatat naik 55% sejak Januari hingga Maret 2020, jika dibandingkan dengan periode 2019. Namun memang masih belum maksimal, pasalnya produksi e-book masih dominan topik pendidikan. Permasalahan lainnya adalah belum ada perlindungan hak cipta secara legal bagi penulis yang menulis buku langsung dengan format digital. 

Selain pasar buku, himbauan jaga jarak juga membuat para pegiat literasi, khususnya perpustakaan merubah mekanisme pelayanan publik atau bahkan menutup untuk sementara waktu. Salah satunya perpustakaan yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY. Sampai sekarang layanan secara fisik hanya diberlakukan untuk pengembalian buku, dengan mekanisme drive-through. Untuk peminjaman buku, perpustakaan pemerintah DIY sudah memiliki mekanisme daring. Publik dapat mengakses buku elektronik melalui aplikasi i-jogja. Selain perpustakaan pemerintah DIY, beberapa perpustakaan lain seperti iPusnas, iJakarta, iJabar, dan iJatim juga melakukan model pelayanan yang sama. 

Selain pelayanan peminjaman buku digital, cara lain yang dilakukan perpustakaan pemerintah adalah menggelar beberapa webinar. Salah satunya adalah webinar bertajuk Bangkit dari Pandemi dengan Literasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta pada 17 Juni 2020. Topik-topik yang dibicarakan adalah seputar lompatan pemanfaatan teknologi digital untuk pertukaran informasi, seperti pemanfaatan kanal youtube untuk produksi konten edukatif dan sumber ekonomi, serta penguasaan bahasa yang melampaui teritori. 

Perpustakaan non-pemerintah atau komunitas tentu lebih terdampak karena tidak semua memiliki infrastruktur yang mendukung untuk menghadapi pandemi ini. Sejak pertengahan Maret 2020 layanan onsite perpustakaan IVAA untuk publik ditutup. Baru pada awal Mei 2020, dengan situasi ‘new normal’, layanan onsite kembali dibuka tapi dengan mekanisme janjian, dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Publik yang hendak meminjam buku dapat terlebih dahulu melihat koleksi di katalog online

Selain IVAA ada juga perpustakaan Yayasan Umar Kayam. Perpustakaan yang memiliki beragam koleksi pribadi milik almarhum Umar Kayam, yang sebagian besar berisi buku-buku, makalah dan kertas kerja bidang sastra dan sosial-budaya, saat ini juga memberlakukan protokol Covid untuk layanan publik. 

Mau tidak mau, pembatasan akses publik jadi tindakan yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai virus. Meski tidak ada pengunjung yang mengakses ruang perpustakaan, deretan buku yang berjejer tetap harus diperhatikan. Kerja inventarisasi, klasifikasi, dan perawatan tetap dilakukan. Buku-buku tetap harus dibersihkan dari debu, harus dibuka-buka agar tidak lengket serta mengantisipasi jamur karena ruangan yang lembab. 

Dan tentu saja seorang pustakawan, atau pecinta buku bisa memanfaatkan waktu ini untuk mengolak-alik koleksi, mempertajam subjek klasifikasi, sembari membaca apa yang belum dibaca atau mengulang baca untuk merawat ingatan. Situasi pandemi ini dapat melahirkan berbagai imajinasi literasi pustakawan yang mungkin dapat dibagikan kepada publik, sebagai bagian dari kerja merawat buku. Salah satunya adalah dengan menulis, karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan pustakawan punya amunisi besar untuk hal itu. 

Untuk melihat sebaran data Potret Pustaka, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Apa yang Berlalu Jika Pandemi Sudah Pergi?

oleh Sukma Smita dan Hardiwan Prayogo

Situasi pandemi, beberapa wilayah sempat melakukan karantina mandiri, jalanan juga sempat sepi, malam terasa lebih cepat datang daripada biasanya. Mudah ditemui berita pembatalan atau penundaan suatu pergelaran kesenian. Namun di sisi lain, setidaknya dari bulan Maret-Mei, IVAA mengarsipkan berbagai bentuk aktivitas seni budaya yang berupaya terus hidup. Berbagai pameran dan pertunjukan tetap digelar, yang tentu saja dengan banyak penyesuaian. Istilah pameran atau pertunjukan virtual menjadi sangat tidak asing. Praktik presentasi artistik seniman menggunakan medium online bisa dikatakan semacam fenomena viral yang menyebar dan menggandakan diri sebagai siasat bersama dan upaya penyesuaian situasi hari ini. 

Situasi ini seperti menjadi ilustrasi dari yang pernah ditulis Slavoj Zizek dalam buku Pandemic! (2020). Zizek menyebut bahwa sebelumnya definisi virus dan viral kerap merujuk pada virus digital yang tanpa disadari menginfeksi web-space. Dalam keseharian istilah viral juga kerap dikaitkan dengan berita atau informasi yang menyebar luas dalam media digital. Maka ada situasi yang barangkali tepat jika disebut kontras, dunia nyata yang sempat sunyi, bersanding dengan dunia maya yang ramai. Masing-masing dari kita tentu bisa menuliskan lebih dari satu acara, baik diskusi via live instagram, webinar, hingga live streaming music yang terlewatkan entah karena lupa atau jadwal yang bertabrakan. Masing-masing dari kita pasti memiliki cerita yang berbeda-beda, tetapi untuk mengawali tulisan, kami ingin memberikan beberapa pameran virtual yang terarsipkan.

Pameran Tunggal Yaksa Agus, “Titir
Titir adalah alarm sosial yang dibunyikan ketika akan datang suatu pageblug, baik bencana alam maupun wabah penyakit. Pameran diadakan secara virtual, dengan menggunakan akun sosial media yaitu laman facebook (Yaksa), instagram (@yaksapedia), dan twitter (Yaksapedia@studioBodo). 

“Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing”
Menurut Farid keterbatasan adalah sumber dari segala kreativitas. Social-physical distancing seharusnya jadi privilese besar bagi para kreator yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menjadi abnormal adalah normal yang baru. Social-physical distancing yang membuat para kreator terpaksa mengambil jarak itu biasa. Farid mengajak teman-teman untuk “stay action” lewat berbagai kreasi dalam menghadirkan karya baru. Proyek seni “Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing” dilaksanakan dari 22 hingga 27 Maret 2020.

Jaga Jarak Vituart Solo Exhibition Kuart Kuat
Pameran tunggal Kuart Kuat ini berjudul Jaga Jarak, menampilkan karya Kuart melalui akun instagram @kuartkuat. Konsep ruang pamer virtual sengaja dipilih karena merespon situasi pandemi covid 19 ini. 

Pameran Tunggal Temanku Lima Benua “May Day” 
Pameran Tunggal Temanku Lima Benua berjudul May Day. Diselenggarakan pada 1 Mei melalui akun instagram @genz.exhibition, bertepatan dengan hari buruh internasional. Judul pameran yang dipilih disesuaikan dengan momentumnya dan karya-karya yang ditampilkan berusaha merepresentasikan isu tersebut.

Pameran Amal Covid-19
Dalam rangka menyikapi dampak pandemi Covid- 19, Ruang Dalam, NalarRoepa dan Lesbumi DIY menggelar pameran seni rupa virtual. Pameran ini bertujuan untuk amal/ membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Sebanyak 82 seniman-perupa memamerkan 130-an karya dua-tiga matranya. Pameran amal ini dilaksanakan mulai 15 Mei-15 Juni 2020 menggunakan sistem online (virtual) di akun instagram @pameranamalc19

Pameran Online Seni Rupa “Tahun Kembar”
Pameran komunitas seniman Gunungkidul, ABDW ini secara garis besar mencatat proses manusia beradaptasi dengan situasi pandemi, sekaligus refleksinya. Judul pameran Tahun Kembar, mengambil refleksi atas catatan arsip soal keberadaan “kejadian” di masa lampau, yang kadang terlupa. Piweling dalam serat Joyoboyo mengingatkan pada rujukan tahun-tahun dengan angka sama, dimulai tahun 1212 sampai tahun 2020. Tahun 2020 ini manusia mengalami Pandemi covid-19, perubahan besar kehidupan manusia yang melambat secara fisik karena wabah yang menyebar di seluruh dunia. Pameran ini bisa disaksikan di instagram @abdwproject dan ruang virtualnya di https://bit.ly/36gStoi 

Yayasan Mitra Museum Jakarta Peduli
Menghadapi dampak dari Covid19, Yayasan Mitra Museum Jakarta @mitramuseumjkt , berinisiatif melakukan gerakan dukungan kepada para seniman dan komunitas melalui gerakan #YMMJpeduli pada 12-22 Mei 2020, mengusung 40 karya dari 30 seniman asal Bali, Bandung, dan Yogyakarta. Hasil dari penjualan koleksi lukisan akan 100% diberikan kepada para seniman, artisan, dan para pekerjanya. 

Covid Affects Art 2020
Seni yang dianggap sebagai catatan jaman beserta konteks yang mengiringinya, merasa perlu juga mencatat situasi krisis karena pandemi ini. Pameran ini berkonsep virtual exhibition tour, jadi menggunakan e-katalog sebagai media sekaligus ruang pamer lebih dari 180 seniman. Tidak ada akun tersendiri untuk pameran ini. Karya dipamerkan pada masing-masing akun sosial media seniman.

Pameran Virtual Fotografi Historis Bung Karno: Budaya/Seni
Dilaksanakan guna turut serta memperingati bulan Sukarno dan Pancasila pada Juni 2020. Pameran ini menyajikan 30 foto terkait Sukarno dan budaya/seni, ditambah dengan 15 karya seni rupa sebagai konten pendukung pendukung, seperti karya Basoeki Abdullah, Dullah, Lee Mang Fong, Dukut Hendronoto, F. Sigit Santoso, Galam Zulkifli, Galuh Tajimalela, Maspoor Ponorogo, Rina Lukis Kaca, dan lain-lain. Pameran virtual ini dibuka dengan sambutan dari Hilmar Farid, Mikke Susanto, dan Judi Wahjudin. Acara ini menyelenggarakan pameran virtual di akun IG dan FB balaikirti. Selain itu juga diadakan kompetisi imagi digital Bung Karno.

Pameran “Virtual Affordable ’07”
Pameran ini merupakan bentuk solidaritas dari perupa seni lukis ISI Yogyakarta angkatan 2007. Pameran virtual di akun instagram @virtualartexhibition ini juga bertujuan untuk amal untuk seniman terdampak covid-19.

Pameran di Rumah Saja
Sica.asia menggelar pameran online sebagai respon atas situasi covid-19. Pameran ini memanfaatkan media digital sebagai ruang pamer yang bisa diakses semua kalangan. Karya-karya yang ada dalam pameran virtual ini tidak secara eksplisit membicarakan situasi pandemi Covid-19.

Pameran Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang
Ada banyak wacana mengenai praktik melukis maupun membuat potret yang dicatat para ahli, mulai dari patung batu hingga fotografi, yang klasik hingga yang kini. Maka meneropong praktek seni lukis potret dari jaman ke jaman berarti juga menelaah dan merefleksikan kondisi manusia pada konteksnya. Dua seniman: @jamilsupriatna7694 dan @toni_antoniuz seolah menyumbang nilai berbeda pada seni lukis potret. Pameran ini bisa dilihat di instagram @orbitaldago

Peace in Chaos
Pameran ini berawal dari art project yang sudah berjalan pada beberapa bulan sebelumnya. Lahir dari keresahan tatanan sosial atas dunia seni khususnya bagi seniman difabel. Seiring berjalannya waktu beberapa rencana harus berubah dan menyesuaikan kondisi yang tengah terjadi dan memunculkan tema Peace in Chaos. Pameran Virtual ini ingin tetap menjaga asa dan berdamai dalam kondisi pandemi.

Sumur di Ladang
Sumur di Ladang menerapkan pola berbeda dari yang pernah dikerjakan. Pola tersebut yaitu seseorang menggambar sketsa, selanjutnya sketsa difoto atau di-scan dan dikirimkan melalui WhatsApp (WA) ke Sanggar Cetak Gen Druwo (SCGD) untuk dibuatkan klise cetak hingga proses cetak. Pembuat sketsa dengan penyetak adalah dua pihak atau orang yang berbeda. Metode ini dipilih sengaja karena alasan pembatasan sosial di era pandemi.

Inside Maya
Sebuah pameran yang digelar oleh Adhik Kristianto dan Agus Cavalera yang akan diselenggarakan secara online dan offline. Pameran ini mencoba merespon situasi yang kerap digaungkan, yaitu new normal. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @barbaradoz dan linktr.ee/INSIDE.MAYA.2020

Montage: Found Object
Situasi pandemi yang memaksa orang berdiam di dalam rumah, membuat orang mengingat kembali bahwa ruang-ruang privat menyimpan artefak kultural penghuninya. Pameran fotografi ini menampilkan benda-benda rumahan yang dipotret menjadi bahasa visual. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @milisifilem 

klik gambar di atas untuk melihat infografis dengan lebih jelas

Setiap pameran tentu memiliki narasi masing-masing, terutama jika melihat karyanya secara formalis. Ada yang memang secara tegas menjadikan covid-19 sebagai tema, ada yang tidak, tetapi ada juga yang memanfaatkan (dalam artian positif) situasi berjarak ini seperti proyek Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing. Berbeda kasus jika jadwal pameran memang sudah lama dirancang jauh-jauh hari. Tetapi tidak sedikit pula yang dilaksanakan semata-mata untuk bereaksi terhadap situasi pandemi. Apakah para seniman memiliki ketakutan untuk hilang dari peredaran di masa pandemi ini? Atau semata karena kebutuhan praktis untuk memenuhi kebutuhan? 

Selain guliran perhelatan seni berbasis virtual, penulis dan pengamat seni juga kemudian banyak membaca praktik artistik perubahan medium presentasi ini. Sejauh yang bisa kami arsipkan barulah yang membandingkan ruang pameran/ pertunjukan online/ offline-streaming/ live. Beberapa di antaranya bisa diakses pada tautan ini. Kami juga mengumpulkan arsip kliping media cetak dan digital tentang seni masa corona secara umum, daftarnya bisa diakses pada link berikut.

Argumen yang beredar atas situasi ini memang menarik, terutama pendalaman atas perubahan medium dan perbandingannya. Tetapi jika direnungkan kembali, dalam situasi pandemi yang mengakibatkan pembatasan sosial dan kerumunan, masih relevankah membandingkan keduanya? Dengan kata lain, orang bukannya tidak mau menggelar pameran offline/ fisik, atau live performance, tetapi tidak bisa. Mau tidak mau, maka siasat yang dilakukan adalah memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan media sosial untuk tetap mempertemukan karya-karya seniman dengan publik. Ada persoalan jarak yang coba diretas dengan teknologi. Lantas benarkah kehadiran teknologi telekomunikasi dan medium virtual menjawab persoalan jarak ini?

 

Interaktivitas dan Kolaborasi

Demi merefleksikan praktik artistik dengan medium virtual ini, menjadi menarik untuk melihat sedikit ke belakang sejauh apa seni berbasis medium digital ini telah dipilih oleh seniman sebagai media presentasi. Dari beberapa peristiwa seni, setidaknya IVAA memiliki catatan arsip bahwa presentasi karya berbasis virtual bukanlah hal baru. Pertama adalah Agan Harahap.

Agan menempatkan akun instagramnya @aganharahap sebagai ruang pamer pribadinya, sebagaimana pemaknaan publik atas fungsi Instagram, layaknya jurnal aktivitas pribadi yang terbuka untuk publik. Agan melakukan self-curating dan menentukan karya seperti apa yang bisa ditampilkan untuk dua pilihan ruang pamer, offline dan online. Lebih jauh Agan menempatkan karya fotonya sesuai logika kerja sosial media hari ini hingga interaktivitas penggunanya. Dengan kata lain, instagramnya digunakan untuk memberi tahu orang tentang aktivitas sehari-hari, namun dengan sentuhan manipulasi foto dan caption yang naratif.

Jika salah satu dampak dari pandemi ini adalah membuat orang mencoba mempermainkan keadaan dengan teknologi, pameran Influx: Strategi Seni Multimedia di Indonesia tahun 2011 bisa menjadi contoh kedua tentang bagaimana teknologi menjangkau wilayah-wilayah personal, termasuk kerja para pelaku seni. Acara yang digelar di Taman Ismail Marzuki ini bertepatan dengan peringatan 10 tahun Ruangrupa. Influx menampilkan berbagai macam karya seperti seni bunyi, seni instalasi, dan yang terbanyak adalah seni video dengan berbagai media presentasi. Memang sulit membandingkan pameran yang masih bisa diselenggarakan secara fisik, dengan situasi sekarang yang memaksa pameran hanya bisa digelar secara online/ virtual. Namun satu yang tampaknya bisa menambah panjang nafas obrolan tentang seni masa pandemi adalah wacana estetik pada media dan teknologi. 

Salah satu peserta pameran, Krisna Murti, menilai bahwa gagasan utama dari multimedia adalah interaktivitas (keterlibatan langsung dengan publik). Keterlibatan ini dilakukannya melalui karya (Miss) Call Me Please. Sebuah karya yang mengajak publik untuk melakukan miss call pada ponsel yang terpasang pada unit karya instalasinya untuk menghasilkan bunyi angklung. Pada masa pandemi ini, interaktivitas melalui teknologi semacam ini juga dilakukan oleh Papermoon Puppet Theatre pada karya (In Your Pocket) Story Tailor. Dikutip dari harian Kompas 1 April 2020, Papermoon mengajak penonton dari rumah untuk mengusulkan satu tema cerita sesuai keinginannya. Tema ini kemudian akan dijahit oleh Papermoon dengan dua tema lainnya menjadi sebuah pementasan pendek selama 5-7 hari. Pementasan ini direkam dan dikirimkan langsung ke ponsel setiap penonton.

Selain soal interaktivitas, hal lain yang bisa mulai diretas atas adalah kolaborasi. Sapto Rahardjo menandai jaman perkembangan teknologi ini pada Multimedia Performance “Seni untuk Bumi, Membawa Tradisi Menuju Pencerahan” dengan kolaborasi lintas bidang. Pertunjukan tersebut mengkombinasikan antara live dengan tidak live. Sapto berkolaborasi dengan suara pesinden Bei Mardusari, penulis berkebangsaan Perancis Elizabet, seniman asal Amerika Ray Weisling, komponis Alex Dea, siswa kelas VI SD Berbah Panggah, pemain kendang tunggal Sujud Sutrisno, Jompet Kuswidananto, “tarian” lampu senter dan layar ponsel dari ratusan penonton yang duduk di tribun. Seluruh atraksi dimunculkan di layar dengan alunan musik campur, plus aneka sound effect dari komputer. 

Kurang lebih demikian jalannya pertunjukan yang diliput oleh harian Kompas, yang terbit pada Selasa 14 November 2006. Pertunjukan yang merupakan bagian dari Festival Seni Pertunjukan Internasional tahun 2006 ini mencoba ingin senantiasa mengeksplorasi seni tradisi melalui kolaborasi dengan bantuan multimedia untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ambisi demikian bisa saja terwujud pada masa pandemi ini. 

 

Tuntutan Pandemi = Replikasi Ruang Nyata ke Ruang Virtual?

Contoh praktik yang memuat kata kunci interaktivitas dan kolaborasi tentu masih sangat banyak jika mau ditelusuri. Bisa diartikan praktik seni berbasis teknologi ini bukan hal baru. Praktik presentasi ini menjadi seperti virus yang viral karena tuntutan situasi hari ini. Barangkali tuntutan situasi lah yang membuat orang seolah melihatnya sebagai temuan baru. 

Brigitta Isabella dalam webinar Estetik dan Politik: Kontinum di Ruang Krisis, mengamati bahwa ada upaya mereplikasi white-cube dalam pameran virtual. Artinya seniman memiliki bayangan interaksi karya dengan publiknya, bahkan dalam pameran virtual pun masih mereplikasi logika white cube. Dengan kata lain, imajinasinya dilandasi atas ruang virtual yang hadir untuk mereplikasi ruang nyata. Coba lihat lagi contoh-contoh pameran di atas, masih digunakannya tanggal pembukaan-penutupan, seremonial pembukaan dan sambutan, hingga dibuatnya ruang pamer virtual. Belum ditemukan upaya memanfaatkan fitur-fitur khas yang dimiliki oleh media sosial ini. Bahwa benar tema dan narasi pameran berusaha kontekstual, namun jika wacana mengenai teknologi bisa diperdalam tidak hanya soal peretas jarak, wacana seni masa pandemi nampaknya bisa lebih reflektif dan beragam. Interaksi publik dan kolaborasi pada karya rasanya perlu semakin dielaborasi pada masa pandemi ini, yang sekali lagi harus diingatkan bahwa, pembatasan sosial membuat manusia dipaksa berinteraksi melalui medium teknologi, khususnya ponsel.

Namun dibalik itu semua sebenarnya apa yang ada di benak para pelaku seni di masa pandemi ini? Apakah secara tidak sadar ada tuntutan bahwa seniman adalah orang yang bertugas harus dengan cepat merespon situasi aktual secara artistik? Atau semata-mata karena hal praktis soal pemenuhan kebutuhan finansial? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja digunakan sebagai afirmasi bahwa aktivitas seni di ruang-ruang virtual ini hanyalah P3K di masa krisis. Bahwa benar kita semua harus berpikir positif bahwa pandemi akan berlalu. Tetapi interaksi manusia dengan teknologi telekomunikasi dan media sosial tidaklah akan ikut berlalu. Olah-alih medium bukan fenomena baru dan semata-mata penyelamatan atas situasi darurat. Kita akan mencatat bagaimana ekosistem kesenian bisa bertahan atau justru melakukan serangan balik mematikan pada situasi krisis kesehatan ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Stay Safe, Stay Tune

Satu hal yang jelas di tengah ketidakjelasan situasi ini adalah jauhi keramaian. Ada yang bekerja dan belajar di rumah, namun ada pula yang terpaksa tetap beraktivitas di luar dengan segala keterbatasan. Kadar kebosanan jadi membuncah. Untuk itu, tim redaksi IVAA memberi rekomendasi koleksi arsip video yang dapat ditonton di rumah atau di sela jam kerja. Semoga beberapa video berikut dapat menemani teman-teman sekalian. 

Wawancara dengan Gina Lubis
“Bapak saya itu tipe orang yang rajin mengarsip,” ujar Gina, putri seorang pelukis kenamaan Batara Lubis. Semenjak kepergian bapaknya, tanpa tahu banyak kisah masa lalu beliau secara detail, Gina memulai merawat arsip-arsip yang ditinggalkan, dari lukisan, sketsa, hingga tulisan-tulisan. Gina banyak bercerita tentang salah satu anggota Sanggar Pelukis Rakyat ini. Mulai dari sosok beliau yang rapi, kebiasaan baca, kisah kasih dengan istrinya, kemandirian & kesederhanaan, hingga persahabatannya dengan para maestro seperti Hendra Gunawan, Affandi, hingga Joko Pekik.  Sebagai anak, Gina bangga dengan ayahnya yang membuktikan pemikiran dengan karya. Meski dulu tidak diperbolehkan belajar di ISI, Gina yakin bahwa peduli dengan seni itu tidak harus sekolah seni. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #1
Mitha Budhyarto dalam Seri Ceramah/ Diskusi Guru-Guru Muda sesi 5, bertempat di Langgeng Art Foundation, 13 Desember 2014, memaparkan kajiannya mengenai ‘kekinian/ kontemporer’ secara filosofis. Dengan gagasan Peter Osborne dan Giorgio Agamben, ia menempatkan Sejarah_X karya Agan Harahap sebagai studi kasus. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #2 
Mitha Budhyarto (1983) adalah dosen dan kurator yang berbasis di Jakarta. Setelah menyelesaikan studi magisternya di bidang Filsafat Estetika di University of Sussex (2005) ia mendapat gelar doktoral di bidang Humaniora dan Kajian Budaya di University of London, Birkbeck College. Ia terlibat di beberapa pameran, seperti “Bandung New Emergence Vol. 5” (Selasar Sunaryo Art Space), “Swatata” (ruangrupa), “1 x 25 jam” (Rumah Seni Cemeti), dan “Exi(s)t” (Dia.lo.gue Art Space). 

 

Presentasi Prison Art Programs (PAPs)
PAPs adalah sebuah program seni kolektif  yang mempunyai ikatan kuat dengan memori penjara sebagai ide dasarnya untuk mengembangkan segala konsep dan teknik di seni rupa. Inisiatif program ini dibangun oleh Angki Purbandono dengan beberapa Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lainnya (Berli Doni, Fatoni, Herman Yoseph, Irien Afianto, Agung Rusmawan, Amir Danial, Gunawan Wirdana dan Ridwan Fatkhurodin) yang bekerja sama dengan pembina utama (Bpk. Yhoga Aditya Ruswanto) dan pembina lainnya (Bpk. Marjiyanto, Bpk M. Syukron A., Bpk. Mulya Adiguna) di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Yogyakarta pada bulan Mei 2013.

 

Gerakan dari Dalam – Seni Inkubasi Performatif
Acara ini diinisiasi sebagai sebuah ephemeral platform dengan basis pertukaran interdisipliner dan lintas budaya melalui beberapa rancangan program. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pertukaran pengetahuan dan melakukan introspeksi ke dalam diri, dan melakukan eksplorasi nilai kritis terhadap permasalahan di sekitar kita dengan tetap menjaga sikap dan kesadaran sebagai manusia. Perkembangan mesin, sains dan teknologi dalam peradaban manusia hari ini berdampak kompleks, menciptakan ketidakselarasan walaupun bertujuan untuk memajukan kehidupan manusia di bumi. Pertambahan populasi manusia begitu cepat berkejaran dengan kebutuhan dasar yang membengkak, berkaitan dengan politik, ekonomi global, kekuasaan dan modal, perebutan sumber-sumber energi dengan memperalat ideologi, HAM, demokrasi, agama, dan hal-hal rasial.

 

MAKASSAR BIENNALE 2015 – TRAJECTORY
Sebuah video dokumentasi Makassar Biennale 2015 – Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, beranggotakan Faisal MRA, Nur Abdiansyah, Arham Rahman, dan Irfan Palippui. Bertempat di Gedung Kesenian Makassar, Rumata Artspace Makassar dan Gedung Celebes Convention Centre (CCC) Makasar, perhelatan seni ini digelar pada 17-31 Oktober 2015. 

Menggambar sambil Mengelilingi Dunia

oleh Jafar Suryomenggolo

Apa jadinya jika 20 pelukis ikut serta dalam pelayaran kapal laut mengelilingi dunia? Pertanyaan tersebut adalah tema pameran “Nuestra Isla de Las Especias“ (Pulau Rempah-Rempah Milik Kami) yang bertempat di gedung Archivo de Indias, di Kota Sevilla (baca: Seviya), Spanyol. Pameran ini berlangsung sejak 5 September 2019 hingga 31 Maret 2020 (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/).

Gambar 1. Poster pameran di gedung Archivo de Indias

Pameran ini tergolong unik. Pasalnya, 20 pelukis tersebut benar-benar ikut serta dalam pelayaran kapal “Fleur de Passion“ (Bunga Hasrat) selama 4 tahun mengelilingi dunia. Pelayaran ini dimulai sejak 12 April 2015 hingga 4 September 2019, dengan dukungan Fondation Pacifique, suatu lembaga nirlaba yang bermarkas di Jenewa, Swiss.

Menariknya pula, pelayaran Fleur de Passion adalah perjalanan napak-tilas pelayaran Magellan-Elcano. Pelayaran Magellan-Elcano adalah pelayaran perdana mengelilingi dunia, yang terjadi 500 tahun silam (1519-1522), dalam mencari rute menuju Pulau Rempah-Rempah (yakni, Maluku). Dimulai dari kota Sevilla, Magellan-Elcano berlayar melintasi Samudra Atlantik hingga ke Amerika Selatan, lalu melintasi Samudra Pasifik hingga akhirnya tiba di Cebu (Filipina), untuk kemudian lanjut ke Maluku, dan menyeberangi Samudra Hindia dalam perjalanan kembali ke Sevilla. Fleur de Passion mengikuti rute yang sama, dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi abad ke-21. Misalnya: mampir di Kaledonia Baru, mampir di Brisbane dan Cairns (Australia), tiba di Maluku untuk menuju ke Cebu, dan mampir di Singapura.  Pelayaran Fleur de Passion juga mengemban misi ilmiah dalam memantau zat gas rumah kaca di permukaan laut.

Pelayaran Fleur de Passion melintasi Indonesia selama Oktober-November 2017 (di Sorong, Maluku dan Menado), dan Maret-April 2018 (melalui kepulauan Riau menuju Jakarta).  Fleur de Passion tiba di bandar Jakarta pada 2 April 2018, berlabuh selama 10 hari, dan melanjutkan perjalanan pada 12 April menuju Madagaskar lewat Samudra Hindia. 

 

Gambar 2. Peta pelayaran Fleur de Passion

Dua puluh pelukis ini terdiri dari 10 perempuan dan 10 laki-laki. Mereka adalah seniman grafis, penggambar komik, dan ilustrator. Mereka ikut serta dalam pelayaran seperti layaknya para pelukis yang ikut serta dalam pelayaran masa lalu. Di dalam pelayaran kapal-kapal di masa lalu, selalu ada pelukis (minimal satu orang) yang ikut serta untuk merekam perjalanan kapal dan tempat-tempat singgah, juga menggambar alam, tumbuhan, hewan dan penduduk setempat. Misalnya, Conrad Martens (1801-1878) yang ikut serta dalam pelayaran HMS Beagle, kapal yang membawa Charles Darwin ke Galapagos.

Berbeda dari para pelukis-kapal masa lalu, kedua puluh pelukis ini bebas merekam dan menggambar apapun selama pelayaran kapal Fleur de Passion. Sebagai pelukis, mereka dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri, dan menuangkannya dalam bentuk seni rupa/ visual apapun. Ikut serta dalam pelayaran kapal ini menjadi sumber inspirasi bagi mereka.

Gambar 3. Panel karya Mirjana Farkas

Secara khusus, setidaknya ada 4 pelukis yang menggambar berdasarkan pelayaran kapal selama melintasi Indonesia. Mereka adalah Cécile Koepfli (kelahiran 1976), Mirjana Farkas (kelahiran 1970), Alex Baladi (kelahiran 1969), dan Aloys Lolo alias Yves Robellaz (kelahiran 1953).  Beberapa dari karya-karya mereka dapat dinikmati di situs resmi (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/programmes/cultural/illustrators).

Kiranya akan sangat berguna bila pameran ini bisa diselenggarakan juga di tanah air kita, baik di Jakarta, Maluku, Sorong atau kota-kota lainnya. Kami mendorong kedutaan besar Swiss di Jakarta untuk bekerja sama dengan Fondation Pacifique agar menyelenggarakan pameran ini di tanah air kita. Pameran ini bisa menjadi pemantik bagi para pelukis/ seniman visual kita untuk mengembangkan karya-karya mereka. Ini juga bisa membuka pintu kolaborasi seni rupa/ visual bagi seniman kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Menjelajahi “Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti”

Judul Buku : Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti
Penulis : Wahyudin
Penyunting : Zulkarnaen Ishak
Pemeriksa Aksara : Reza Nufa
ISBN/ISSN : 978-602-5783-66-1
Resensi oleh : Sukma Smita Brillianesti

Suatu sore sebuah pesan singkat muncul dari notifikasi hape, “Ada pembukaan pameran nanti malam. Mau berangkat nggak?” Bagi saya, pesan tersebut terbaca tidak sebagai pertanyaan namun ajakan. Saya sudah sangat tahu bahwa kawan yang mengirim pesan itu ingin datang namun enggan datang sendiri. Sedetik kemudian terbayang oleh saya situasi pembukaan pameran. Mungkin akan ada performance art sebagai tanda dibukanya pameran, karya seni yang memenuhi ruang pajang beserta teks kuratorialnya, bertemu teman-teman pecinta seni tua-muda yang mungkin sebagian besar saya tidak kenal dan obrolan yang menyertainya, membuat saya ragu mengiyakan ajakan kawan tadi. Bukan apa-apa, namun bayangan suasana pembukaan pameran memang terkadang membuat saya canggung. Pengalaman rasa canggung itu saya kira cukup relate dengan judul buku berisi kumpulan tulisan Wahyudin ini. Paling tidak karena saya juga merasa cukup canggung pada nama besar dan karisma Cemeti, karya seni yang ditampilkan komplit dengan tulisan kuratorialnya serta rentetan obrolan dengan orang-orang yang akan saya temui pada saat hadir dalam semua perhelatannya. 

Judul ‘Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti’ untuk sesaat mampu mewakili keraguan saya atas ajakan kawan untuk berkunjung ke pembukaan pameran, bertemu banyak orang dan membicarakan seni rupa dengan berbagai versi pandangan. Pengertian omong kosong merujuk pada sesuatu yang kurang bermakna, dianggap tidak serius dan sambil lalu saja. Namun di Rumah Seni Cemeti. Masa sih? Bagaimana mungkin di Rumah Seni Cemeti yang memiliki reputasi, sejarah panjang dan peran besar dalam perkembangan seni rupa kontemporer ada hal tidak bermakna dan kurang serius? Saya tahu jika judul buku ini diambil dari salah satu judul tulisan Wahyudin yang mengulas rangkaian Pameran Omong Kosong di Cemeti tahun 2005. Namun, menjadikannya sebuah judul buku pasti merupakan hal lain. Pertanyaan dan penasaran saya lalu muncul, mendorong untuk memilih membaca kemudian mengulas buku ini.

Buku setebal 251 halaman ini berisi 30 tulisan Wahyudin, yang dituliskan dalam rentang 2003-2017 dan dimuat di berbagai media baik daring maupun luring. Dalam pengantar tulisannya, Wahyudin menyebut bahwa buku ini merampai catatan-catatan polemis tentang peristiwa, pameran dan buku seni rupa. Tiga puluh tulisan dalam buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, “Di Rumah Seni Cemeti”, bersisi 14 esai ulasan pameran yang berlangsung di Rumah Seni Cemeti pada 2003-2006. Bagian kedua, “Di Sekitar Rumah Seni Cemeti”, terdiri atas 11 esai yang seperti judul bagian ini, berisi ulasan pameran dan proyek seni di ruang-ruang seni sekitar Rumah Seni Cemeti. Bagian ketiga, “Kecap Jauhari”, diisi dengan 5 esai yang mengulas empat buah buku seni rupa. 

———-

Beberapa kali, ketika membaca buku yang berisi kumpulan esai, saya dengan tidak sabar langsung menuju halaman daftar isi. Rentetan judul beserta nomor halaman dalam daftar isi menjadi panduan saya untuk langsung menuju tulisan atau penulis yang saya anggap menarik. Kebiasaan ini tidak berlaku ketika saya membaca buku ini, atau paling tidak di awal saya mulai membaca buku ini. 

Melalui pengantarnya, Wahyudin menuliskan bahwa bagian pertama dari buku ini merupakan ulasan yang dibuat dengan kesadaran kritis bahwa karya seni rupa kontemporer bukan hanya produk artistik yang perlu dikademati dalam permenungan sunyi insani, melainkan juga produk pengetahuan yang harus dicermati, diinterpretasi dan dievaluasi secara saksama dalam tempo secukup-cukupnya. Ia juga menambahkan bahwa hal tersebut yang membuatnya, setiap kali bertandang ke Rumah Seni Cemeti untuk suatu pameran seni rupa, meniatkan untuk tak sekedar menikmati setiap karya yang tersaji, namun juga berikhtiar penuh untuk memahami dengan nalar kritis. Yaitu dengan memeriksa secara saksama pilar artistik karya, menguji gagasan kuratorial dan mencermati pernyataan perupa terkait.

Hal-hal itulah yang kemudian menjadi kunci, yang digunakan Wahyudin, yang bermanfaat untuk lebih dari menikmati dan memahami seni rupa kontemporer, melainkan juga untuk memproduksi pengetahuan kritis yang beredar sebagai wacana publik. Kunci itu pula yang digunakan Wahyudin untuk meresepsi peristiwa seni rupa yang berlangsung di galeri-galeri partikelir, ruang seni rupa atau ruang gagas perupa di sekitar Rumah Seni Cemeti, yang terulas dalam kumpulan esai di bagian kedua dari buku ini. Disebutkan pula bahwa bagian kedua dalam buku ini merupakan refleksi pergeseran perhatian kritisnya dari Rumah Seni Cemeti, yang dianggap involutif dan letih menjaga api ‘revolusi dari ruang tamu’, ke inisiatif ruang-ruang seni di sekitar Rumah Seni Cemeti.

Dari refleksi pergeseran perhatian Wahyudin serta asumsi keterkaitan bagian pertama dan bagian kedua, saya mulai membaca buku ini secara runtut, dari awal. Beberapa tulisan awal pada bagian satu buku ini sudah pernah saya baca dari kliping yang dikumpulkan dan bisa diakses melalui online archive IVAA. Adalah ulasan kritis Wahyudin tentang perhelatan pameran di Rumah Seni Cemeti. 

Wahyudin menepati janjinya, ia menggunakan kunci-kunci ajaibnya untuk membuka dan melakukan pembacaan kritis pada perhelatan pameran di Rumah Seni Cemeti, atau setidaknya beberapa. Misal, dalam ulasannya yang berjudul “Ada Dinosaurus…”, Wahyudin dengan gamblang memblejeti secara detail elemen artistik dalam pameran ini kemudian menawarkan pembacaan baru, hingga mengkritisi kegagalan kurator yang tidak mampu membangun ulang nilai atau makna karya yang kontekstual. Melalui kritiknya, Wahyudin menyangsikan bahwa penonton belum tentu bisa menarasikan ulang jajaran instalasi visual yang dipajang di ruang pamer. Ia bahkan menyebut bahwa teks kuratorial yang naratif dalam pameran itu terlihat mengabaikan dan tak memberi ruang pada penonton untuk melakukan interpretasi. Beberapa perspektif kritisnya dalam ulasan pameran tersebut bagi saya seolah menyiratkan bahwa Wahyudin merasa lebih mampu menarasikan ulang instalasi-instalasi tersebut, lebih baik dari sang kurator. 

Berbeda dengan “Naif dan Sia-sia”, dalam ulasan pameran Counter Attract dan Playground di Rumah Seni Cemeti ini, ulasan Wahyudin di sini tak se-elaboratif “Ada Dinosaurus…”. Ia tak menggunakan kuncinya secara maksimal. Sebagai ulasan pameran, alih-alih mengupas elemen artistik karya ataupun bingkai kuratorial pameran, Wahyudin malah banyak menebarkan asumsi atas tingginya ekspektasi penonton pada pameran ini melalui premis grundelan sinis penonton yang menganggap kedua pameran ini naif dan sia-sia. Selain tidak banyak gambaran detail tentang elemen artistik karya, tulisan ini juga tidak disertai foto karya, sehingga saya sulit untuk merelasikan atau bahkan membayangkan grundelan penonton seperti yang dibicarakan Wahyudin. Mengutip kalimat paling pertama dalam tulisan ini, “Barangkali terlalu gegabah untuk meringkus rampung suatu proyek seni rupa yang belum sudah ke dalam prasangka: naif dan sia-sia”, saya sangat sepakat dengan ini, bahwa Wahyudin terlihat cukup gegabah dan terburu-buru dalam mengomentari kedua pameran tersebut.

———-

Setelah sekitar 6 atau 7 ulasan di bagian pertama buku ini tandas saya baca, saya mulai penasaran dengan bagaimana pergeseran perhatian yang dimaksud Wahyudin dalam pengantarnya. Akhirnya saya mengkhianati niat awal untuk membaca satu per satu dari awal hingga akhir dan langsung melompat ke esai pertama pada bagian kedua. Dalam ulasan pameran When I think about the death of painting, I play, saya lumayan kaget karena periode dalam pameran ini lumayan loncat jauh dari periode ulasan Wahyudin pada pameran-pameran di Rumah Seni Cemeti, lebih dari 10 tahun jaraknya. Meski demikian, kritik dalam ulasan pertama bagian kedua buku ini cukup jelas. Wahyudin banyak melontarkan data untuk memperkuat perspektif pembacaannya. Secara terang ia mengemukakan bahwa pameran ini lebih besar wacana ketimbang karya, bahwa pencapaian artistik para seniman tak sepadan dengan canggihnya wacana yang diusung sang kurator.

Masuk dalam esai kedua di bagian kedua buku. Adalah cerita naratif rencana perjalanan pameran sebuah kelompok seniman fotografi, Mes 56 ke Seoul, Korea Selatan. Berjudul “Keren dan Beken di Negeri Gingseng”, yang ditulisnya pada 2016. Paragraf demi paragraf saya jelajahi dengan seksama, sambil menahan rasa penasaran tentang bagaimana atau di sebelah mana Wahyudin akan menancapkan kunci kritis nan tajamnya. Hingga masuk ke beberapa paragraf akhir, dalam sebuah kutipan obrolan dengan salah satu anggota Mes 56, Angki Purbandono, saya menyadari bahwa tidak ada yang akan diblejeti. Tidak ada kunci yang akan digunakan. Dalam paragraf itu Angki menyebut bahwa kesempatan untuk memamerkan proyek Keren dan Beken di Korea Selatan tersebut merupakan suatu kehormatan untuk Mes 56. Dan atas dasar pernyataan ‘kehormatan’ tersebut Wahyudin urung menggunakan kuncinya. 

Pertanyaan tentang bagaimana proses ‘refleksi pergeseran perhatian’ yang ditulis oleh Wahyudin dalam pengantar buku ini membuat saya mengubah cara membaca buku ini. Yakni dengan secara bergantian membaca bagian satu dan bagian dua buku berdasar tahun tulisan dibuat. Pada bagian kedua buku saya menemukan satu ulasan pameran yang isinya hampir mirip dengan ulasan pameran di bagian pertama, pameran di Rumah Seni Cemeti. Dalam pameran berjudul Mudah-mudahan Pameran (2004), dengan sindiran yang halus, Wahyudin menuruti disclaimer awal peserta pameran untuk memaklumi bagaimana kedangkalan gagasan yang hendak disampaikan melalui karya. Wahyudin juga menyebut bahwa meski benda-benda di dalam ruang tersebut telah dilegitimasi dengan nilai estetik oleh sang kurator, para peserta pameran toh gagal untuk mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan karya tersebut secara estetik.

Melalui esai-esai yang ada di bagian kedua buku ini, Wahyudin tidak hanya mengulas perhelatan pameran, namun juga sebuah diskusi tentang polemik imitasi karya antara Arahmaiani Feisal dengan Syagini Ratna Wulan. 

Perbedaan rentang waktu antara tulisan-tulisan di bagian pertama dan kedua buku menandai pergeseran perhatian Wahyudin dalam perhelatan seni rupa di Cemeti dan sekitarnya. Lebih dari itu, meski tetap memeriksa elemen artistik, bingkai kuratorial dan pernyataan seniman sebagai kunci pembacaan kritisnya, saya melihat bahwa cara pandang Wahyudin mengulas karya pun sedikit banyak juga bergeser. Pergeseran ini nampak dari cara dia mengulas pameran pada kurun waktu 2015 ke atas lebih menggunakan teori-teori sosial-humaniora secara dominan; tidak lagi berat di elemen formalisnya. Hal ini menurut saya tidak lepas dari perkembangan praktik seni rupa kala itu. 

Membaca puluhan ulasan pameran dan peristiwa dalam buku ini sedikit banyak membuat saya kesulitan untuk memaknai dan lebih banyak berusaha membayang-bayangkan situasi pameran, bentuk karya dan situasi perkembangan seni rupa era itu. Minimnya foto dokumentasi dalam ulasan-ulasan di buku ini yang membawa saya pada situasi itu. Mungkin saya terlanjur menjadi milenial tulen yang tumbuh besar bersama budaya digital yang memuja jargon no pic hoax

———-

Seusai rampung membaca dua bagian dari buku ini, saya kembali teringat penasaran awal saya atas isi buku ini, berdasar judul buku yang tersemat. Asumsi saya bahwa ada hal lain tentang dasar pemilihan judul dalam buku ini juga tidak terjawab ketika jari saya mulai membalik halaman bagian ketiga buku ini. Seperti yang ditulis Wahyudin dalam pengantarnya, bagian ketiga buku ini berisi telaah saksama yang dilakukannya dalam membedah 4 buku seni rupa. Yang saya rasa, perspektif Wahyudin dalam mengulas buku ini sangat tajam, cermat dan detail, meskipun diakuinya bahwa kedetailan serta ketajamannya melukai hati tim penyusun hingga pemuja buku-buku tersebut. 

Ketiga pembabakan dalam buku telah beres saya baca. Dan saya tetap belum bisa menemukan benang merah yang mampu mengaitkan ketiga puluh tulisan ini dalam satu judul ‘Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti’. Apakah saya terlalu naif karena mengamini sebuah petikan masyhur “don’t judge book by its cover”, di mana saya memahami bahwa judul adalah elemen tak terpisahkan dari cover? Hal ini membawa saya pada pertanyaan lain tentang apa dasar penentuan judul buku ini? Seperti apa pula pertimbangan penjudulan ketiga bagian dalam buku ini? Karena bagi saya, judul bagian pertama “Di Rumah Seni Cemeti” lalu bagian kedua “Di Sekitar Rumah Seni Cemeti” ini mengesankan hierarki Rumah Seni Cemeti sebagai pusat dan galeri atau ruang-ruang partikelir di sekitarnya yang  tidak lebih dari penyangga. 

Tentu saja pertanyaan dan kesan yang saya tangkap tersebut pasti terbaca sangat dangkal. Tapi bagaimanapun dangkalnya keingintahuan saya ini mungkin adalah wujud usaha saya untuk tidak hanya menikmati dan memahami tulisan demi tulisan dari buku ini, namun juga berusaha menelaahnya lebih jauh. Meski demikian, saya banyak menemukan cara pandang baru untuk melihat perhelatan, karya, buku hingga peristiwa seni di dalam buku ini. Saya juga memuji cara Wahyudin menggunakan kunci nalar kritisnya dengan penuh kedetailan dan ketajaman. Setidaknya, 30 catatan ini telah dengan baik dibekukan dalam sebuah buku untuk menjaga agar kritik pada masa lalu tidak luntur dan hilang begitu saja. Ulasan-ulasan dalam buku ini paling tidak mampu dijadikan kaca spion untuk sesekali menengok ke belakang demi menjaga laju dan merelasikannya dengan kerja hari ini.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Sekaten: Pengultusan Hubungan Raja-Agama atas Rakyat

Judul buku : Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta
Pengarang : Iwan Setiawan dan Widiyastuti
Penerbit : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun terbit : 2010
Halaman : 137
Resensi oleh : Rosa Pinilih

Berbicara tentang Sekaten tidak bisa lepas dari sejarah budaya masyarakat Jawa pada khususnya, yakni terjadinya proses Islamisasi yang dilakukan Wali Sanga dengan menggunakan sarana budaya dalam menjalankan dakwahnya. Sekaten hanyalah salah satu tradisi keagamaan yang dilakukan oleh penguasa pada saat itu, yaitu pada masa kerajaan Mataram Kuno. Dalam kerajaan tradisional, raja sebagai penguasa tunggal memiliki 3 kiat utama untuk mempertahankan kekuasaannya. Pertama, pemberian otonomi yang luas kepada penguasa daerah yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dukungan atas kedudukan raja. Kedua, menjaga selalu kultur dan kebesaran diri dan istananya. Ketiga, kekuatan militer yang tangguh.

Raja juga berperan sebagai pemegang kendali kekuasaan tunggal, baik dalam bidang pemerintahan maupun keagamaan. Oleh karena itu banyak upaya-upaya yang dilakukan baik secara politis maupun religius, seperti penyelenggaraan upacara keagamaan secara besar-besaran untuk lebih menegaskan fungsi tersebut. Bahkan seorang raja sering disebut juga dewa raja, karena dianggap sebagai penguasa dunia sekaligus berkedudukan sebagai wakil dewa di dunia. Tetapi fenomena ini tidak semata-mata menempatkan raja sebagai dewa, tetapi lebih kepada pengkultusan kedudukan raja di antara yang lain dan yang paling memiliki kekuasaan dalam melakukan upacara pemujaan.

Seorang raja merupakan penghubung antara dewa dengan manusia, sehingga ada anggapan bahwa melalui rajalah anugerah dewa mengalir kepada manusia yang lainnya. Konsep hubungan antara kekuasaan dengan religi ini menjadi jelas karena kekuasaan dipandang sebagai kekuatan alam raya, mempertahankan kehidupan, serta sebagai kekuasaan dominasi yang diperkuat dengan adanya upacara-upacara yang sifatnya ritual. Religi dapat digunakan sebagai jaminan legitimasi di mana hal ini banyak digunakan untuk memenangkan pertarungan politik. Bukti-bukti tentang kekuasaan raja yang diungkapkan melalui upacara-upacara religius dapat ditemukan dalam prasasti-prasasti. Isi dari prasasti-prasasti ini menunjukkan bahwa bentuk kuasa dan kemaharajaan seorang raja dapat diukur dan diwujudkan dalam pemberiannya.

Sedangkan hubungan kultus magis antara raja dan rakyat di kerajaan Mataram Kuno dicerminkan dalam pendirian bangunan suci kerajaan, yaitu candi. Pembangunan candi dan pembebasan daerah di sekitarnya sering dianggap sebagai usaha suci seorang raja dalam menuntut penduduk yang bertempat tinggal di atasnya agar bertanggung jawab terhadap kelangsungan bangunan suci tersebut.

AWAL MUNCULNYA UPACARA SEKATEN

Masuknya Islam ke pulau Jawa sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Jawa. Dalam perkembangannya tidak banyak goncangan yang ditimbulkan dalam pelbagai sendi kehidupan masyarakat, tetapi justru saling terbuka untuk berinteraksi dalam praktik kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari cara-cara pendekatan yang dilakukan para penyebar Islam di wilayah Jawa. Sikap toleransi terhadap budaya Jawa yang sudah ada yang dilakukan para pendakwah bisa dibilang cukup berhasil. Para pendakwah tetap membiarkan budaya lama hidup, akan tetapi diisi dengan nilai-nilai keislaman.

Pendekatan ini sangat sesuai dengan karakteristik orang Jawa yang cenderung bersikap moderat tetapi tetap mengutamakan keselarasan dalam hidupnya. Begitu pula ketika budaya Hindu dan Budha datang, budaya Jawa masih tetap dapat mempertahankan keasliannya.

Perpaduan Islam dan budaya Jawa memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan budaya Jawa, yang semakin diperkaya dengan nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi sumber inspirasi dan pedoman kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Salah satu wujud ekspresi manusia dalam mengungkapkan kehendak atau pikirannya adalah melalui upacara, di mana akan diketahui nilai-nilai kehidupan dan budaya yang dimilikinya.

Upacara-upacara ini sudah dilaksanakan dari masa kerajaan Hindu di Jawa, salah satunya adalah upacara kurban raja atau lebih dikenal dengan nama upacara Rajamedha atau Rajawedha. Ini adalah upacara pemberian berkah raja kepada rakyatnya yang bertujuan agar kerajaan dan seluruh isinya mendapatkan keselamatan, kesejahteraan dan terhindar dari mara bahaya. Akan tetapi pada waktu berdirinya Kerajaan Demak Bintara sebagai Kerajaan Islam di Jawa, raja pertamanya yaitu Raden Patah berniat menghapus semua upacara keagamaan yang sudah ada sebelumnya. Namun upaya itu tidak berhasil karena rakyat merasa asing dengan ajaran baru dan budaya yang mereka lakukan selama ini. Raden Patah berharap masyarakat Jawa dapat memeluk agama Islam secara sempurna dan kafah serta terlepas dari penganut animisme dan Hindu. Namun justru banyak masyarakat Jawa yang tidak tertarik dan habkan meninggalkan agama Islam.

Dengan dihapusnya upacara kurban raja oleh Kerajaan Demak, muncul akibat yang tidak baik bagi masyarakat. Misalnya kehidupan mereka menjadi resah, tidak tenang dan diliputi perasaan bersalah, karena meninggalkan tradisi leluhur mereka. Bahkan masyarakat mengalami berbagai wabah penyakit.

Melihat situasi ini, Sunan Kalijaga berusaha menarik kembali simpati masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam dan menghidupkan kembali upacara kurban raja yang sudah dilakukan oleh raja-raja Hindu sebelumnya. Atas kesepakatan para walimaka upacara kurban raja dilanjutkan kembali tetapi disesuaikan dengan ajara Islam. Dari sinilah upacara kurban raja atau upacara Rajamedha diganti dengan upacara Sekaten, yang berasal dari bahasa Arab Shakatain yang artinya dermawan, suka menanamkan budi pekerti luhur dan menghambakan diri pada Tuhan.

Sekaten merupakan upaya para wali dalam menyebarkan ajaran agama Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat, dengan cara merekonstruksi tradisi lama yaitu upacara Rajamedha menjadi upacara Sekaten yang disesuaikan dengan peringatan hari-hari besar agama Islam. Upacara Sekaten pertama kali dilaksanakan di Kerajaan Bintara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, yang bersamaan dengan penobatan Raden Patah sebagai Sultan Demak.

Sampai sekarang, pelaksanaan upacara Sekaten di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tidak berbeda dengan pelaksanaan upacara Sekaten sebelum-sebelumnya. Prosesi upacara Sekaten dimulai dari upacara Miyos Gangsa Sekaten Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Naga Wilaga dari Kraton ke Pagongan Masjid Gedhe, dilanjutkan Upacara Numplak Wajik yang diteruskan dengan pembuatan Gunungan (Pareden), kemudian dilanjutkan Upacara Tedhak Dalem ke Masjid Gedhe, kemudian Upacara Kondur Gangsa dan diakhiri dengan Upacara Garebeg yang ditandai dengan keluarnya Hajad Dalem berupa Gunungan yang dibawa dari Kraton ke Masjid Gedhe.

 

NILAI BUDAYA DAN FILOSOFI UPACARA SEKATEN DI YOGYAKARTA

Dalam masa Sultan Agung, Sekaten mengalami perkembangan. Tujuan diadakannya upacara Sekaten yaitu untuk mendekatkan dirinya terhadap rakyat, guna mengokohkan kedudukannya. Sekaten merupakan simbol pengayoman Sultan kepada rakyatnya dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran hidup dan keharmonisan serta ketenangan dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Sekaten juga disimbolkan dengan pengeluaran 5 gunungan, yang mengandung makna kewajiban menjalankan Rukun Islam. Seiring berjalannya waktu muatan tujuan diadakannya Sekaten bertambah, yaitu sebagai hiburan untuk masyarakat dengan ditambahkan adanya pasar malam sebelum Sekaten resmi diselenggarakan. Jadi upacara Sekaten di Yogyakarta dimulai dari diselenggarakannya pasar malam sampai dengan upacara Grebeg Mulud, dan diakhiri dengan keluarnya Hajad Dalem Gunungan dari Kraton ke Masjid Gedhe. Inti dari upacara Sekaten adalah keluarnya Gangsa Sekaten dari Keraton ke Masjid Gedhe yang terdiri dari seperangkat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu sebagai simbol anugerah besar yang turun kepada manusia, dan Kangjeng Kyai Naga Wilaga sebagai simbol dari kekuatan.

Upacara Sekaten pada dasarnya adalah budaya religi; produk budaya masyarakat yang memeluk agama, dalam hal ini adalah agama Islam. Sebagai budaya religi Sekaten menyimpan beberapa aspek, yakni wisata religi, ajang silaturahmi antar masyarakat, fasilitas hiburan, dan kesatuan antara raja dan rakyat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Sebuah Landasan Pacu untuk Melaju, Jalan di Tempat, atau Balik Kanan?

Judul : Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film (2007-2012) (Seri Wacana Sinema)
Editor : Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan
No. Panggil : 790 jay t
ISBN/ISSN : 987-979-1219-11-2
Penerbit : Dewan Kesenian Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Jakarta, Indonesia
Deskripsi Fisik : 15 x 22 cm, 1616 halaman
Resensi oleh : Hardiwan Prayogo

Pertama, saya akan melakukan disclaimer pada buku berjudul “Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012” yang berjumlah 1616 halaman ini. Saya tidak membaca semuanya. Buku kumpulan tulisan yang pernah dimuat di website Rumah Film tahun 2007-2012 ini saya perlakukan seperti Toko Serba Ada (Toserba), atau lebih tepatnya warung makan prasmanan. Tidak perlu kita santap semua menu, cukup ambil yang sekiranya menggairahkan untuk dimakan. Wajar jika muncul banyak ekspektasi ketika melihat buku setebal 16 cm ini. Terdiri dari 205 tulisan dengan panjang dan bobot tulisan yang beragam dan terbagi dalam 5 bab. Masing-masing bab mewakili ulasan atau review film, laporan pandangan mata festival-festival film di Eropa, wawancara dengan pelaku dunia perfilman, dan dua bab terakhir berisi kumpulan esai-esai tentang film dan konteks-konteks yang menyertainya. 

Dari ratusan tulisan yang disajikan, ketertarikan pertama saya tertuju pada tulisan terakhir yang berjudul “Memulai Tradisi Arsip Visual” oleh Ekky Imanjaya, yang dimuat pada bab 5 bertajuk “Berburu Shu Qi, Madonna Lari: Filmsiana, dan Lain-Lain”. Alasannya mudah ditebak, karena saya sendiri berprofesi sebagai arsiparis, jadi rasanya atensi mudah terpikat melihat kata arsip.

Maka saya langsung melompat ke halaman 1602. Pada intinya, tulisan ini seperti reportase Ekky mengunjungi pameran “24 Hours Indonesia” di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda yang diselenggarakan pada 26 Juni-16 November 2008. Pameran ini menampilkan rekaman aktivitas sehari-hari warga yang tinggal di Payakumbuh, Kawal, Jakarta, Sintang, Delanggu, Surabaya, Bittuang, dan Ternate. Pameran ini merupakan bagian dari proyek “Recording the Future”. Sebuah proyek yang memiliki spirit bahwa kisah-kisah kecil perlu direkam, karena itulah dasar kehidupan kita. Singkatnya, kita tidak akan menemukan rekaman seperti peristiwa politik atau demonstrasi besar, justru kita disuguhi aktivitas sehari-hari seperti ibu-ibu berjilbab berjalan melewati lorong, aktivitas jual beli di pasar, hingga lalu lalang manusia di terminal bus. 

Henk Schulte Nordholt, salah satu pencetus ide proyek ini mengklaim bahwa ini adalah format arsip baru, dan menganggap ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan intelektual. Sementara itu Nuraini Juliastuti menandai bahwa proyek ini memerlukan konsistensi agar rekaman-rekaman tersebut bisa ‘dibunyikan’, tidak sekadar menjadi data mentah. Merujuk pada laman https://www.kitlv.nl/research-projects-recording-the-future/, projek ini nampaknya masih berjalan. Jika melihat dari praktiknya, barangkali sulit menyetujui klaim bahwa rekaman audio visual adalah format arsip baru. Bangsa kolonial sudah melakukannya sejak ditemukan alat perekam foto dan video, hanya saja secara eksplisit tidak disertai klaim atau narasi bahwa mereka sedang melakukan kerja pengarsipan. Dengan demikian sudah barang tentu kita berhak mencurigai maksud di balik kenapa klaim bahwa ini adalah kerja pengarsipan dimunculkan belakangan. Dan tentu juga kecurigaan tersebut tidak bisa dituntaskan oleh buku Tilas Kritik ini.

Saya kembali ke halaman daftar pustaka, memindai kembali sekiranya manalagi judul-judul yang menarik hati. Ada 4 tulisan yang mengulas film-film bikinan Edwin. Secara pribadi saya cukup mendalami karya-karya Edwin, karena pernah menelitinya dalam tesis yang saya tulis beberapa tahun silam. Seluruhnya ulasan film Edwin dalam buku ini termuat dalam bab pertama yang berjudul “Mencari Yang Nyata, dan Lain-Lain: Ulasan dan Kritik Rumah Film”. 

Tulisan pertama ada di halaman 153, berjudul “Katalog Keluarga Edwin” karangan Eric Sasono. Tulisan ini tidak hanya membahas satu film, tetapi empat film pendek buatan Edwin. Keempat film tersebut adalah “A Very Slow Breakfast” (2003), “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” (2004), “Kara, Anak Sebatang Pohon” (2005), dan “A Very Boring Conversation” (2006). Seluruhnya dinilai memaknai ulang konstruksi normalitas keluarga. Anggapan keluarga ideal terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, yang melahirkan komunikasi yang baik nan harmonis, diwujudkan secara sinis dan pincang dalam film-film Edwin. 

“Kara, Anak Sebatang Pohon” dan “A Very Boring Conversation” menceritakan ketidakutuhan keluarga. Gambaran keluarga utuh diwujudkan dalam “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” dan “A Very Slow Breakfast” namun dengan penggambaran yang penuh konflik, ganjil, komunikasi yang menyakitkan dan serba canggung. Di bagian penutup, Eric menafsirkan bahwa film-film pendek ini adalah daftar pertanyaan atas relevansi struktur keluarga ideal dengan standar kebahagiaan. Eric memberikan nilai yang tinggi pada pertanyaan-pertanyaan ini. Eric menilai bahwa Edwin sedang menyusun sebuah katalog keluarga kontemporer. 

Saya melanjutkan ke halaman 324 dan 329. Tulisan pertama dari Ekky Imanjaya, berjudul “Babi-Babi yang Membabi Buta Ingin Dicintai”. Dari judulnya sudah dapat ditebak, bahwa tulisan ini pasti akan mengulas film panjang pertama Edwin yang berjudul “Babi Buta yang Ingin Terbang” (selanjutnya akan disebut Babi Buta) yang rilis tahun 2008. Ekky mengawali tulisan dengan penggalan lirik lagu “I Just Call to Say I Love You” dari Stevie Wonder. Lagu ini memang beberapa kali dinyanyikan pada film Babi Buta. Ekky menilai justru lagu ini secara filosofis merepresentasikan nilai persaudaraan yang ingin disampaikan oleh film. Bahwa apapun identitasnya, semua orang pada dasarnya ingin dicintai dan mencintai. Babi Buta memang mengangkat isu sensitif, yaitu identitas Tionghoa dengan segala represi dan diskriminasi yang diterimanya. Ekky mengkritik film ini karena memasukkan adegan vulgar threesome laki-laki. Adegan ini terlalu lama dan merusak atensi publik atas isu minoritas Tionghoa sebagai benang merah cerita. Ekky berpendapat bahwa tahun 2008 isu Tionghoa sudah kehilangan momentum, karena pasca 98 sudah banyak film mengangkat tema tersebut. Dan adegan vulgar yang tidak perlu itu semakin membuat penonton lebih mengingat scene threesome-nya, daripada esensi pada persoalan Tionghoa. Ini argumen utama yang saya tangkap dari ulasan Ekky. 

Mari kita beralih pada ulasan film Babi Buta yang kedua, kali ini dari Eric Sasono yang berjudul “Mencari Babi Cemas dalam Diri”. Sama seperti ulasan Eric tentang empat film pendek Edwin, Eric kembali menggarisbawahi kehadiran keluarga dalam Babi Buta. Dari sini bisa kita melihat starting point yang berbeda antara tulisan Ekky dan Eric. Perbedaan kedua adalah tafsir atas mata tokoh utama yang bernama Halim. Ekky beranggapan bahwa Halim benar-benar buta karena menyilet matanya sendiri. Berbeda bagi Eric yang tidak mempersoalkan Halim benar-benar buta atau tidak, karena yang penting baginya adalah memaknai ‘kebutaan’ Halim sebagai wakil dari perasaan tidak nyaman dan ingin lari dari kenyataan. 

Perbedaan yang lain juga ada dalam tafsir atas lagu “I Just Call to Say I Love You”. Ketimbang membedah makna liriknya secara filosofis, Eric lebih menekankan bahwa lagu ini difungsikan sebagai elemen pengganggu, yang ditujukan untuk mempertegas kecemasan. Eric membedah aspek-aspek formalis film Babi Buta dengan melihat bahwa plot-plot yang tidak linier ini menjadi representasi atas racauan gagap Edwin atas persoalan identitas. Eric menutup dengan ajakan untuk berefleksi bahwa kita jangan lagi menolak kecemasan dalam diri. 

Jika dibandingkan secara umum, ulasan Ekky lebih memiliki bobot kritis terhadap film Babi Buta ketimbang Eric. Bagi saya, ulasan Eric lebih bersifat ‘menjelaskan’ setiap adegan-adegan tidak lazim pada film Babi Buta. Tentu ini sah-sah saja dilakukan. Namun secara pribadi saya menilai ulasan Ekky lebih luwes karena kritiknya pada Babi Buta lebih mudah dikontekstualisasikan jika kita ingin mengulas film-film yang lain. Tulisan Eric memang memperluas wawasan kita terkait konsep identitas, tetapi sepertinya memerlukan usaha lebih jika ingin digunakan untuk semata-mata mengevaluasi aspek formalis film. Penilaian saya pada ulasan Eric terhadap film-film Edwin, tidak banyak berubah ketika membaca “Identitas Tanpa Wilayah” pada halaman 436, tulisan ketiga Eric yang mengulas film Edwin. Kali ini ia mengupas film panjang kedua Edwin yang berjudul “Kebun Binatang (Postcard from The Zoo)”. 

Kebun Binatang bercerita tentang seorang perempuan bernama Lana, yang sejak usia 3 tahun ditinggal oleh ayahnya di kebun binatang. Dari paragraf pembuka, Eric sudah menafsirkan Lana sebagai wakil sempurna ketercerabutan manusia dari kenangan kolektif, salah satu landasan terpenting bagi pembentukan badan politik bernama negara bangsa. Lebih lanjut, Eric memuji film ini sebagai salah satu film terpenting di Indonesia tahun 2012. Alasannya? Karena ini adalah film pertama yang tegas membicarakan pemisahan identitas manusia Indonesia dari kenangan kolektif yang membentuknya. Padahal kenangan kolektif adalah basis pembentuk nasionalisme. Demikian klaim yang disampaikan oleh Eric atas film Kebun Binatang

Apakah filmnya memang sengaja bernarasi seperti itu? Bisa jadi tidak, tetapi ya kurang lebih seperti itulah kerja kritikus film. Membuka tabir dan tafsir ‘baru’ atas suatu karya. Yang lebih penting adalah argumen dan perspektif apa yang ditawarkan di balik tafsir ‘baru’-nya itu. 

Kembali pada tulisan Eric, ia menyebutkan bahwa dunia sinema Indonesia adalah salah satu corong penting indoktrinasi ideologi militerisme di Indonesia. Ini mengakibatkan narasi nasionalisme menemui titik jenuhnya, karena selalu tidak beranjak dari perkara perjuangan militeristik. Sebenarnya film melalui kesadaran atas mediumnya, berpotensi membawa pemaknaan baru atas nasionalisme yang selalu dibatasi atas teritori dan kenangan kolektif. Karena sejarah membuktikan dua aspek itu justru melahirkan represi, diskriminasi dan pengingkaran atas hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan membuang konsep teritori (deteritorialisasi), ingatan personal atau kewargaan lebih berpeluang memiliki hak representasi. Ini adalah argumen kenapa Eric menempatkan Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Meski sebenarnya cukup sedikit porsi Eric mengulas hal-hal teknis film, bahkan lebih sedikit dibanding ulasan Eric atas film-film pendek Edwin dan Babi Buta. Setidaknya dari ketiga ulasan Eric atas film-film Edwin, kita dapat menangkap satu gaya penulisan Eric, yaitu menarik pembacaan pada konteks yang lebih luas. 

Buku ini menjadi rekaman yang penting atas sumbangan gagasan dan perspektif demikian. Pada dasarnya ulasan-ulasan atas karya Edwin ini mudah dipahami karena saya sendiri sudah menyaksikan seluruh film Edwin. Namun lain cerita bagi orang yang asing dengan film-film Edwin. Masih menjadi persoalan ketika kita membaca sebuah ulasan karya seni (dalam hal ini film), yang belum pernah kita saksikan sendiri.

Mungkin ini hanya persoalan selera dan kebutuhan belajar yang berbeda, bahwa tidak semua orang nyaman dengan analisis seperti Eric. Bisa jadi orang lebih mencari temuan-temuan yang lebih dekat dengan hal teknis seperti ulasan Ekky. Untuk sebuah tulisan pendek, sekitar 800-1000 kata, saya lebih menikmati cara analisis Ekky. Tanpa mengurangi rasa terima kasih pada tulisan-tulisan Eric yang sudah memperluas wawasan, tapi kembali lagi, penilaian saya atas beberapa tulisan dalam buku ini seperti memilih menu pada warung makan prasmanan. Selera dan kebutuhan belajar menjadi pertimbangan utama. Jika suatu ketika rasa lapar dan nafsu makan saya berubah, menu yang dipilih dan dirasa menggairahkan juga akan berubah. 

Buku ini memang memberikan banyak sajian. Selain beberapa yang saya baca secara mendalam, banyak tulisan-tulisan “bucket list” 100 film terbaik dunia dalam satu dekade 2000-2009, 33 film Indonesia terpenting dekade 2000-2009, film-film apokaliptik terbaik, 10 film komik non-superhero terbaik, 10 film warkop terbaik, Eric juga menandai Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Klaim-klaim ‘terpenting’, dan ‘terbaik’, yang ditawarkan buku ini sangat menarik untuk dibaca lebih dalam. Karena di balik yang terpenting dan terbaik, tentu ada yang tidak penting dan tidak baik. Dari buku ini, dengan kritis dan skeptis kita bisa sedikit memetakan gagasan apa yang sedang dominan, bagaimana perkembangan, dan akan dibawa ke mana kajian sinema Indonesia. Akan melaju kencang, jalan di tempat, atau justru balik kanan karena jalan terlalu berlubang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Menjerat Gus Dur

Judul : Menjerat Gus Dur – Mengungkap Rencana Penggulingan Gus Dur
Pengarang : Virdika Rizky Utama
Penerbit : PT. Numedia Digital Indonesia
Tahun Terbit : 2019
Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Dokumentasi yang dipaparkan tidak hanya soal keadaan dan kekuatan yang menjatuhkan Gus Dur dengan konteks yang lebih luas dari masa kepemimpinannya yang transformasional. Misal, data-data secara panjang dikupas mulai dari pemilihan umum 1999 dengan kemenangan PDI, walau tidak otomatis memenangkan pemilihan presiden lewat suara parlemen, hingga pemerintahan Habibie. Rujukan data-data yang digunakan termasuk dari media massa cetak maupun elektronik. 

Orde Baru mengubah paradigma ‘politik sebagai panglima’ menjadi ‘ekonomi sebagai panglima’. Orde baru menyerahkan mekanisme pasar, akan tetapi mekanisme pasar yang terjadi dalam perjalanannya Soeharto membentuk  sebuah sistem patron-klien dengan pengusaha melalui militer dan atau teman-teman terdekat. Soeharto juga membuat pondasi untuk kekayaan keluarganya dengan menciptakan sistem  yang berskala nasional yang mempertahankan selnya. Rezim Orde Baru juga ditopang  oleh struktur politik ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar). 

Menjelang 1990, Soeharto mulai menganggap ABRI tak lagi solid mendukungnya, karena diisukan Benny Moerdani akan melakukan kudeta. Soeharto menggalang kekuatan baru untuk mendukung kekuasaannya dengan mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang menempatkan Habibie sebagai presidiumnya. Gus Dur bersama 40 intelektual lintas agama mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk melakukan perlawanan gagasan Soeharto dengan ICMI-nya yang sektarian. Selain mendirikan ICMI untuk menopang kekuasaan, Orde Baru juga mengintervensi PDI dengan dualisme kepemimpinan; Megawati hasil kongres Surabaya dan Soerjadi Hasil kongres Medan. Sedangkan yang diakui pemerintah adalah hasil kongres Medan yang tidak mengakui PDI pimpinan Megawati. Akhirnya kubu Megawati mengganti nama PDI-nya menjadi PDIP agar dapat mengikuti pemilu 1999. 

Pada masa akhir kekuasaan Soeharto, muncul perlawanan di mana-mana, gelombang unjuk rasa dari kalangan mahasiswa dan intelektual yang menuntut ia untuk lengser. Kerusuhan terjadi di mana-mana, khususnya di Jakarta yang mengakibatkan stabilitas negara tidak kondusif dibarengi dengan krisis ekonomi yang mengakibatkan daya beli masyarakat rendah. Akhirnya di tahun 1998 Presiden Soeharto berpidato menyatakan mengundurkan diri dari jabatan presiden RI.

Di sisi lain, setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, kelompok sipil yang merepresentasikan kelompok Islam politik yang dimotori Habibie meminta diberikan kewenangan menjadi presiden yang baru. Habibie lalu dilantik menjadi presiden, sesaat setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Pada saat itu masyarakat memiliki dua pilihan, yakni reformasi atau revolusi. Golkar sebagai partai politik yang masih dominan memilih reformasi dengan tujuan masih bisa berkonsolidasi untuk pemilu tahun 1999 yang akan segera berlangsung.

Pada pemilu pertama tahun 1999, setelah 32 tahun di bawah Orde Baru, dari total 462 kursi di parlemen PDIP mendapatkan 153 kursi, Golkar 120, dan 51 kursi untuk partai Gus Dur (PKB), sisanya partai yang lainnya. Harapan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden dengan partainya, PDIP, mendapat dukungan mayoritas di parlemen. Tetapi koalisi dari kelompok Islam radikal-konservatif dan kaum demokrat muslim melahirkan koalisi “Poros Tengah“ yang memilih Gus Dur ketimbang Megawati.

Pemilihan presiden lewat parlemen akhirnya memenangkan Gus Dur sebagai presiden RI. Seiring waktu belum genap dua tahun skandal Buloggate dan Bruneigate muncul, dan itu melatarbelakangi dilengserkannya Gus Dur. Dengan pengadilan politik mulai hak angket, interpelasi hingga membentuk pansus Buloggate dan Bruneigate, sebenarnya bukan pengadilan hukum yang dikedepankan. 

Kebijakan Gus Dur untuk mencopot Yusuf Kalla dan Laksamana Sukardi sebagai menteri, dengan tujuan mempreteli basis ekonomi Golkar dan PDIP di BUMN dan lembaga penting adalah pemicu ketidaksukaan Golkar dan PDIP sebagai pemenang pemilu 1999. Pengikisan kekuatan lama dan berakhirnya dwi fungsi ABRI yang mengakibatkan dukungan militer terhambat, kebijakan pluralisme terkait dengan etnis minoritas Cina dan Kristen-Katolik menunjukkan bahwa Gus Dur, yang dianggap sebagai representasi kekuatan Islam politik,  malah cenderung berpihak pada minoritas. Kelompok Islam radikal-konservatif menjadi kecewa.

Gus Dur terbentur dan terjungkal sebelum melewati dua tahun masa jabatannya. Walaupun demikian Gus Dur telah meletakkan dasar penting dengan mengakhiri dwi fungsi ABRI, menguatkan pengakuan atas hak-hak orang Tionghoa di Indonesia, warga Papua, Kristen dan minoritas lainnya sebagai sesama warga Indonesia, melindungi kebebasan pers, mengharapkan akan demokrasi dan menghancurkan kultus “presiden super kuat”.

Pembaca bisa belajar dengan gaya kepemimpinan Orde Baru dengan militerisme, sektarianisme, kolusi dan nepotisme untuk melanggengkan kekuasaan, atau gaya Gus Dur dengan demokrasi dan kebijakan pluralisme yang dikedepankan walau hanya selama kurang dari dua tahun masa kepemimpinannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Nostalgia Solidaritas untuk Hari Ini

Judul : RETHINKING SOLIDARITY IN GLOBAL SOCIETY – The Challenge of Globalisation for Social and Solidarity Movements 50 Years after Bandung Asian African Conference 1955
Tahun : 2007
Editor : Darwis Khudori
Editor bahasa : John Lannon
Penerbit : SIRD (Strategic Information and Research Development Centre), Malaysia; YPR (Yayasan Pondok Rakyat), Indonesia; FTM/ TWF (Forum du Tiers Monde/ Third World Forum), Senegal; CETRI (Centre Tricontinental), Belgia; DCLI (Development et Civilisations LEBRET-IRFED), Prancis/ Swiss; AAPSO (African-Asian People’s Solidarity Organisation), Mesir. 
ISBN : 983-3782-13-2
Sampul : Darwis Khudori & Kong Siew Har
Desain grafis : Kong Siew Har
Halaman : 193
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Tinjauan berikut memang bukan mengulas sebuah buku terbitan baru sebagaimana resensi pada umumnya dilakukan. Ada dua alasan mengapa saya memilih buku ini: pertama, bulan April adalah bulannya Konferensi Asia-Afrika; kedua, topik solidaritas banyak dibicarakan di situasi pandemi ini. Solidaritas global menjadi salah satu isu yang digaungkan sekaligus direfleksikan ulang oleh publik, baik lembaga internasional seperti WHO dan beberapa individu seperti Yuval Noah Harari, Slavoj Zizek, dll. 

Pembicaraan seputar solidaritas global memang bukan hal baru. Sejak dekade pertama abad ke-21 solidaritas global sudah direnungkan sebagai upaya merespon globalisasi (ekonomi). Buku ini hadir sebagai salah satu bukti empiris. Sebagai peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), pada 2005 para akademisi dan aktivis merefleksikan solidaritas Asia-Afrika ke dalam konteks yang lebih luas, yakni masyarakat global. Ketika saya coba memantulkan perenungan mereka dengan situasi saat ini, serangkaian tantangan dan rekomendasi yang diajukan seolah menemukan momentum untuk segera dijawab. 

Buku ini terdiri dari 21 esai yang setidaknya merefleksikan solidaritas global ke dalam lima aspek: politik, ekonomi, kebudayaan/agama/spiritualitas, lingkungan dan pendidikan/komunikasi. Namun, keinginan sepihak untuk membuat resensi buku secara kontekstual mendorong saya untuk mengulas beberapa esai saja. 

Sekilas KAA dan Kritik Terhadapnya

Hersri Setiawan melalui tulisannya yang berjudul Learning from History: “The Bandung Spirit” menceritakan sekilas sejarah KAA. Konferensi ini lahir dari ide dan inisiatif Perdana Menteri Sri Lanka pada waktu itu, Sir John Kotelawala melalui konferensi regional negara-negara koloni Inggris, yakni India, Pakistan, dan Myanmar. Indonesia kemudian diundang untuk bergabung. Meski tidak sebagai koloni Inggris, tetapi pengalaman perjuangan kemerdekaannya dinilai sebagai hal penting yang perlu dibagikan. KAA memiliki hubungan historis yang kuat dengan dua konferensi sebelumnya, yakni Konferensi Relasi Inter-Asia di New Delhi pada 1946 dan konferensi pemuda Asia Tenggara di Calcutta setahun kemudian. 

Perluasan cakupan geografis berbasis nasib yang sama nampak menjadi salah satu ciri dari gerakan solidaritas. Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia pada waktu itu, mengusulkan perluasan lingkup dari Asia Selatan-Asia Tenggara menjadi Asia-Afrika pada saat Konferensi Colombo, 28 April-2 Mei 1954 di Sri Lanka. Ide ini kemudian terealisasi melalui Konferensi Bogor pada 22-29 Desember 1954. 

Konsolidasi kekuatan antar negara-negara bekas jajahan itu telah menghasilkan basis dekolonisasi yang total, cepat, dan efektif, jaminan hak untuk berkembang dan memiliki pilihan bebas dalam integrasi global dengan logika polisentrisme untuk kedamaian dunia. Meski demikian, bukan berarti capaian ini lahir tanpa konsekuensi logis. Bernard Founou-Tchuigoua dari Kamerun, melalui esainya yang berjudul Solidarity of Afro-Asian Peoples against Terror and the Empire of Chaos mengkritik bahwa kebangkitan Dunia Ketiga ini juga memunculkan fenomena kontrol dari partai komunis patriotik atas sumber daya alam seperti yang terjadi di Cina dan Vietnam. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa imperialisme kolektif muncul sebagai respon atas kebangkitan tersebut. Amerika Serikat bersama aliansinya (Prancis, Inggris, Jepang, Israel, dan rezim rasis Afrika Selatan) lebih memilih memainkan peran korporasi transnasional dan menciptakan kekacauan melalui teror (konflik etnis dan relijius) untuk menciptakan polarisasi. 

Tantangan Baru dan Kemungkinan yang Dibayangkan

Di bawah roda globalisasi situasi berubah drastis, setidaknya selama 50 tahun setelah KAA digelar. Darwis Khudori dalam esainya yang berjudul Identity-based Social Movements facing Globalisation: Challenge and Response, Resistance and Alternative menjelaskan bahwa gerakan sosial di era pasca industri tidak lagi soal perjuangan kelas pekerja, melainkan basis identitas. Kondisi masyarakat jejaring yang nir ruang dan waktu, yang dikonstruksi sedemikian rupa untuk mendukung laju kapitalisme lanjut, telah mendistorsi persoalan kelas menjadi identitas. 

Dengan merujuk gagasan Manuel Castell, ia merekomendasikan suatu bentuk gerakan sosial yang bersifat ‘dari dalam’ ke ‘luar’, dengan peralihan dari bentuk ‘kenabian’ (seperti yang dilakukan oleh Marcos dalam gerakan Zappatista di Meksiko) menuju bentuk ‘jejaring’ seperti yang telah dilakukan oleh gerakan feminis dan ekologis. Tantangannya adalah mencari spirit yang sama (common points) dari begitu banyak ragam identitas, tanpa meninggalkan lokalitasnya masing-masing. 

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai perangkat ‘normal’ dari masyarakat jejaring juga menjadi tantangan untuk gerakan sosial. Melalui tulisannya yang berjudul Information and Communication Technologies: new Global Challenges and Opportunities for Social and Solidarity Movements, John Lannon melanjutkan bahwa ada tiga risiko yang muncul. Pertama, ketimpangan akses teknologi membuat gerakan sosial dapat terkesan eksklusif jika tidak ada strategi yang inklusif. Kedua, masalah kepercayaan yang tidak mudah terbentuk; artinya modal sosial melalui ‘dunia nyata’ masih penting. Terakhir, potensi penguasa yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat kontrol masyarakat termutakhir. Meski demikian, perkembangan teknologi dapat mendukung gerakan sosial itu sendiri. 

Parichart Suwanbubbha melalui Bandung 2005 and Educational Challenges in the Age of Globalisation menambahkan bahwa pendidikan harus menjadi bagian penting dari gerakan sosial. Tentu, pendidikan yang ia maksud adalah pendidikan yang mengutamakan perjuangan hak kemerdekaan manusia, bukan berorientasi profit dan status sosial semata. Gagasannya ini dilandaskan atas kontribusi perkembangan teknologi terhadap pendidikan yang makin mudah dioperasikan. 

Dalam bidang ekonomi, Yves Berthelot melalui Bandung Fifty Years Later: Toward Another Development Model for the Post Globalisation Era berpendapat bahwa tantangan baru yang perlu disadari adalah sebuah tren regionalisasi. Ia berangkat dari interpretasinya atas solidaritas Asia-Afrika yang tidak revolusioner untuk persoalan ekonomi. Memang, mereka menolak hegemoni politik imperialis, tetapi penolakan ini tidak tercermin di dalam aspek ekonominya. Solidaritas ini lebih bergerak pada tuntutan aliran finansial, stabilisasi harga komoditas, dan diversifikasi ekspor (bank regional, perusahaan asuransi, joint ventures) untuk wilayah Asia-Afrika dalam percaturan internasional. 

Gagasan tersebut cukup terdengar sinis, tetapi di satu sisi realistis. Berthelot ingin menunjukkan bahwa regionalisme, di samping aspek ekonominya, justru dapat menjadi instrumen yang tepat untuk operasionalisasi solidaritas di era pasca globalisasi ini. Ia mengambil contoh negara-negara di Timur Tengah dan Afrika. Tanpa regionalisme yang kuat mereka akan tetap tergantung pada kekuatan-kekuatan negara kaya. Namun ia juga menambahkan bahwa peran Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organization) menjadi penting sebagai kontrol. Beberapa NGO dengan kapasitas yang mapan dapat mempengaruhi keputusan internasional.

Solidaritas Global atas Ultimatum Hari Ini

Para penulis melalui buku ini rasa-rasanya ingin melebarkan solidaritas Asia-Afrika ke dalam cakupan yang lebih luas, solidaritas global. Secara historis KAA sendiri lahir dari perluasan demi perluasan. Tawaran regionalisme, pendidikan berorientasi kemanusiaan, penggunaan teknologi dengan segala risikonya, hingga pencarian spirit yang sama (common points) untuk gerakan solidaritas adalah elemen-elemen yang mewakili upaya itu. 

Apa yang mereka bayangkan seolah menemukan momentumnya untuk segera dijawab, ketika saat ini peradaban manusia sedang berhadapan dengan pandemi global. Solidaritas dengan logika polisentrisme kiranya sudah tidak relevan lagi. Refleksi 50 tahun KAA mungkin menjadi salah satu jejak yang menyiratkan hasrat beragam praktik dekolonisasi regional yang lahir untuk melebur diri menjadi satu.  

Begitu menyedihkan jika manusia, seperti apa yang ditulis oleh Yukio Kamino dalam Time for Change of Heart: Facing the Global Environmental Crisis, tidak kunjung menindaklanjuti rekonsiliasinya; bahwa krisis global sebagai ultimatum nampaknya tidak merubah perilaku manusia. Manusia telah menjadi entitas yang korup, tidak rasional, dan tidak imajinatif di hadapan alam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.