Category Archives: Kabar IVAA

Semesta di Balik Punggung Buku

Oleh Gabriela Melati Putri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku        : Semesta di Balik Punggung Buku
Pengarang         : Muhidin M. Dahlan
Penerbit              : I:Boekoe
Tahun Terbit      : 2018
Deskripsi Fisik : 13x19cm, 444 hlm.
Nomor Panggil : 300 Dah D

Nah, tahulah kita bahwa buku tak sekadar soal laba-rugi, adu syahwat proyek buku ajar di sekolah, dan serangkaian pidato dengan mengutip angka-angka presentase minat baca yang jeblok. Buku melampaui kisah fraktal macam itu.
        Semesta di Balik Punggung Buku, hlm. 21–

Melalui kumpulan ulasan buku yang ditulis Muhidin M. Dahlan, kita diajak untuk melihat “Semesta Dibalik Punggung Buku” (sebagaimana judul buku ini dituliskan). Disusun dalam enam bab, kita diajak mengupas sedikit demi sedikit luasnya semesta di balik buku yang berjejer di rak-rak toko buku. Penulis yang akrab disapa Gus Muh ini mengajak pembaca mengenal para (bukan) pembaca buku yang menggerakkan pasar dan tergila-gila dengan buku. Para penerbit yang terlibat dalam proses produksi buku sebelum sampai di tangan para pembaca. Para penulis yang menuangkan rekaman realitas dan ingatan mereka di dalam tulisan. Dan tidak terlewat juga pegiat pustaka yang berusaha membangun semangat budaya literasi di tengah masyarakat. Tidak jarang, di antara subjek-subjek yang hidup di dalam semesta tersebut, ada relasi kuasa yang terjadi: antara negara dengan para pegiat literasi, antara para penerbit yang tengah bersaing, dan bahkan lebih sering di dalam relasi sosial kita di dalam keseharian–beragama dan bernegara. Semakin jauh melangkah di dalam buku ini, kita diajak untuk membaca buku sebagai catatan pemaknaan atas peristiwa sosial, sejarah, politik, dan budaya yang ada di sekitar kita yang kompleks dan tidak linear, apalagi netral.

Sebagaimana disebut Ratih Fernandez di dalam pengantar, “Ada begitu banyak buku yang terbit, tetapi hanya sedikit yang diulas. Akhirnya, buku-buku yang tidak diulas itu, tidak benar-benar sampai ke pembaca.” Padahal, seperti kutipan Gus Muh yang disebut di awal tulisan, persoalan buku tidak lagi hanya menjadi laba-rugi atau sebagai komoditas pasar. Bukan juga sebagai bacaan yang terpisah begitu saja dari masyarakat. Justru, sebagai sumbangsih literatur yang perlu tetap hidup, gagasan-gagasan yang tertuang di dalam buku perlu dibaca dan dimaknai secara kontekstual. Dengan memperbincangkan buku di dalam ulasan-ulasan, kita ikut merayakan buku sebagai peristiwa literasi agar selalu bertemu dengan pembaca-pembaca yang baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Nakal Harus, Goblok Jangan

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Nakal Harus, Goblok Jangan
Pengarang           : Muhidin M. Dahlan
Penerbit                : I:Boekoe
Tahun                      : 2018
Deskripsi Fisik   : 451 Hlm
No. Panggil           : 300 Dah D

Dalam profilnya di laman tirto.id, Muhidin M. Dahlan atau yang akrab disapa Gus Muh ini dikategorikan sebagai penulis yang tulisan-tulisannya agak kontroversi di masyarakat. Pengalaman membaca buku ini agaknya membuat pengkategorian tersebut tidak sepenuhnya keliru. Jalan kepenulisan yang dipilih Muhidin mungkin memang mengarah ke sana, dan itu juga yang membuat tulisannya menjadi berkesan.

Salah satu ciri kontroversi tersebut dapat ditemui dalam salah satu seri buku 20 Tahun Menulis Muhidin M: Nakal Harus Goblok Jangan. Dahlan. Bagaimana banyak menyinggung (kalau tidak ingin disebut membela) nasib kaum yang disebutnya sebagai kaum Kuminis (plesetan Muhidin dari Komunis) yang posisinya selalu termarjinalisasi, ketimbang mengamini stigma negatif yang kadung mengakar. Kutipan berikut dari salah satu tulisannya dalam buku ini mungkin bisa memperkenalkan kita kemana sebetulnya jihat(d) Muhidin;

“Sebab, keinginan kuat mengingat amal baik dari sebuah kaum paling terkutuk di NKRI inilah, tulisan ini menemui Anda. Dakwah bil-hikmah ini berpretensi, bahwa di tengah kegelapan pikir memandang kuminis dalam segala aspeknya, kuminis adalah selapisan kaum politikon yang melihat lebaran sebagai bulan kemenangan; bulan perdamaian” (hlm. 194).

Buku ini merupakan salah satu seri dari total empat seri yang diterbitkan. Berisi sebanyak 69 esai yang akan membuat pembaca bertamasya menyalami ragam persoalan. Tidak hanya persoalan sebetulnya, tetapi pengetahuan pembaca akan sejarah juga akan tercerahkan atau minimal bertambah. Melihat dalam satu seri terdapat puluhan esai, dapat dibayangkan jika Muhidin merupakan tipe orang dengan banyak keresahan. Sebab konon, tulisan-tulisan atau produk pikiran apapun itu lahir dari keresahan.

Patut dihaturkan pula terima kasih kepada editor buku ini, Safar Banggai yang telah memilah-kelompokkan puluhan esai tersebut ke dalam bab-bab yang dinamainya dari potongan teks Proklamasi. Total ada lima bab yakni; “Kami Bangsa Indonesia”, “Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”, “Mengenai Pemindahan Kekuasaan”, “D.L.L.”, dan “Wakil-Wakil Bangsa Indonesia”. Seperti yang disebutkan di awal, topik-topik yang terangkum dalam buku kumpulan esai ini beragam, mulai dari bahasan soal Raffi Ahmad, hingga Bung Karno, mulai dari konflik sosial, hingga perjalanan sejarah bangsa dan identitas tokoh-tokoh. Meminjam kata editor, mungkin kita kagumi (dan mungkin kita benci). Tidak ketinggalan pula tentu saja, topik yang gurih-gurih sedap dibahas tiap esais yaitu rezim pemerintahan sekarang, dan hal-hal di luar yang telah disebutkan tadi, tetapi masih masuk dalam hitungan butuh untuk pembaca ketahui.

Ditulis dalam periode waktu 2014-2018, hampir semua esai dalam buku ini pernah dipublikasikan di beberapa media seperti, Mojok.co, Jawa Pos, Koran Tempo, Muhidindahlan.radiobuku.com, Solopos, Media Indonesia, Tirto.id, dan Geotimes.co.id.

Bagi tipikal pembaca yang lebih dulu menguap sebelum membaca paragraf pertama sebuah esai atau “tulisan yang tidak ringan”, buku ini mungkin cocok untuk Anda. Sebab 54 esai dalam buku ini diambil dari tulisan Muhidin yang pernah dipublikasikan di Mojok.co, yang artinya adalah Anda akan maklum menemui beberapa kata cakapan di tengah-tengah bahasan yang seharusnya “serius” seperti misalnya ena, menye-menye, unyu, selo, dan lain-lain: tulisan-tulisan yang menggelitik sekaligus getir. Ini juga mungkin sebuah upaya mengetuk pintu kesadaran kita bahwa persoalan yang rumit jangan melulu dibawa kaku.

Akhir kata, yakin usaha sampai!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Pada Sebuah Kapal Buku – Membangun Budaya Literasi dalam Tarikan Kekuasaan

Oleh Gabriela Melati Putri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku         : Pada Sebuah Kapal Buku
Penulis                  : Muhidin M. Dahlan
Tahun Terbit      : 2017
Penerbit               : I:Boekoe
Nomor Panggil : 300 Dah D

Masih dalam rangkaian seri 20 Tahun Menulis Muhidin M. Dahlan, bagian ini membicarakan posisi buku sebagai instrumen politik, demikian dunia buku pun politis. Sebagai sebuah tempat tersimpannya gagasan (dan ingatan kolektif) masyarakat, buku berada dalam pusaran rumit dengan negara dan pemangku kuasa. Belum lagi korporasi buku dengan kelompok elit-intelektual, serta dengan berbagai lapisan kelas di masyarakat. Untuk merangkum narasi tersebut, buku ini diberi tajuk Pada Sebuah Kapal Buku.

Pelarangan buku (“penjagalan buku”, sebagaimana Muhidin menyebutnya) dan sensor barangkali menjadi salah satu topik yang paling sering kita simak dalam lini masa dunia perbukuan di Indonesia–terutama ketika membicarakan keterlibatan penguasa. Balai Pustaka, yang didirikan pada masa kolonialisme sebagai contoh, melakukan penertiban ”buku-buku liar”; apa yang “baik” dan “tidak baik” untuk dibaca para bumiputera. Menengok ke belakang, negara pun tidak jarang melakukan “bersih-bersih” terhadap buku-buku kiri, melanggengkan ketakutan dan kebencian terhadap komunisme (bersama Marxisme dan Leninisme).

Tentu, kelindan lain antara negara dan buku tak hanya terkait pelarangan dan sensor; bacaan yang “layak” dan “tidak layak”, tetapi terkait erat pula dengan kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh negara, juga dengan irisan-irisan kepentingan perniagaan buku. Infrastruktur buku menjadi salah satu yang cukup banyak dikupas dalam buku ini. Perpustakaan menjadi salah satu fokus perhatian Muhidin. Perpustakaan adalah ruang bagi memori kolektif untuk dicatat dan diarsipkan, dan pustakawan adalah pengawalnya; garda depan yang menjaga dan diberi kesempatan “berinteraksi” secara intensif dengan buku-buku. Akan tetapi, ruang-ruang ini pun memiliki keterbatasan untuk mencapai masyarakat lapisan terbawah. Ia ada di ruang-ruang kota, bukan di daerah-daerah lain yang terpencil. Dalam salah satu kritikan yang dilontarkan Muhidin, tak jarang perpustakaan menjadi sehambar tata kelola administratif. Tak jarang pula, perpustakaan bukan menjadi ruang dialog antara berbagai macam pikiran, tetapi justru telah dipilihkan apa “yang sesuai” dan “tidak sesuai”. Mencontoh Soekarno yang malang-melintang dalam berbagai gagasan (bacaan) yang bertentangan satu dengan yang lain, demikian pulalah seyogyanya negara memberikan bacaan-bacaan kepada masyarakat. Beruntungnya, membangun ruang baca ini menjadi kerja kolektif. Kelompok-kelompok arsip, perpustakaan-perpustakaan mandiri yang dibuka dan dikelola secara kolektif maupun individu justru yang memberi sumbangsih.

Membangun budaya membaca memang bukan hal yang mudah. Ada berbagai persoalan ekonomi dan politik yang melingkupinya. Ketersediaan bacaan dan akses terhadap bacaan adalah salah satu contoh. Mengutip puisi Wiji Thukul, Catatan, buku sering menjadi komoditas yang harganya tak dapat dijangkau oleh masyarakat di lapisan bawah. Tak jarang, toko-toko itu pun hanya tersedia di perkotaan, dengan dikte bacaan-bacaan “bagus” yang tak menyentuh masyarakat pembacanya. Maka, persoalan utama dari rendahnya minat baca  terletak pada ketersediaan dan akses terhadap bacaan tersebut.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Politik Tanpa Dokumen

Oleh Senjang Martani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku : Politik Tanpa Dokumen
Penulis          : Muhidin M. Dahlan
Tahun             : 2018
Penerbit       : I:Boekoe
No panggil  : 300 Dah D

..”jangan pernah mimpi memanen kejayaan peradaban (indonesia Jaya 2030) jika tak siap berjalan dalam kesunyian merawat, memupuk, dan menjaga warisan masa silam dengan segenap kesadaran. Bila tidak, aparat pemerintah hari ini akan dikutuk generasi berikutnya sebagai kutu bagi buku, rayap bagi dokumen, dan hama bagi padi yang menghancurkan harapan “petani-petani peradaban.” (Hlm 16)

Arsip selama ini dipahami sebagai kumpulan kertas usang dan berdebu tanpa dipahami informasi penting yang terkandung di dalamnya. Arsip sebagai sumber ingatan atau informasi haruslah dikelola secara serius, tidak asal-asalan apabila kita tidak mau kehilangan jati diri sebagai bangsa karena tidak mampu merawat rekaman peristiwa masa lalu.

Dalam esai-esainya pada buku berjudul Politik Tanpa Dokumen ini, Muhidin sangat jeli dalam menggunakan dan memilih data sebagai referensinya. Ada banyak sekali koran-koran lama yang dijadikannya sebagai data. Seperti dalam esainya yang berjudul “Setengah Abad Teror Kanigoro”, menggunakan kliping di Harian Rakjat edisi 11, 13 Februari 1965 untuk menampilkan narasi lain soal Tragedi Kanigoro. Esai-esai di buku ini juga ditebari oleh bibliografi media dan tokoh yang tidak hanya kaya atau terkemuka tapi juga serius: Bintang Timur, Kompas, Tempo, Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Pramoedya Ananta Toer, Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, dan banyak nama lain.

Bagi para pecandu buku, membaca buku ini akan menjadi pengalaman menarik dan mungkin bisa mengubah cara pandang dalam melihat sejarah Indonesia. Ada banyak peristiwa yang luput atau jarang muncul dalam pembahasan buku-buku sejarah, ada di buku ini. Namun perlu kehati-hatian saat membaca setiap esai di buku ini karena pembacaan yang tergesa-gesa dan tidak hati-hati rawan menimbulkan kesalahan pemahaman.

Melalui esai-esai yang terkumpul dalam buku ini, Muhidin seolah ingin menebarkan “teror” bagi pembaca. Sepakat dengan editor buku ini bahwa esai-esai itu dibuat agar orang lain tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana tidak, separuh buku ini rasanya seperti makian muhidin. Makian-makian itu dibahasakan sedemikian rupa dan dibumbui data-data. Membuat pembacaan terhadap buku menjadi cukup eksploratif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Begitu Ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu

Oleh: Haling Ratih (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Begitu Ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu
Pengarang           : Danarto
Penerbit                : Diva Press
Tahun                      : 2016
Deskripsi Fisik   : 416 halaman, 14×20 cm
No. Panggil           : 300 dan B

Begitu ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu adalah kumpulan esai yang fantastis-surealistik. Danarto memang seorang penyentil yang luar biasa. Melalui cerita-ceritanya, Danarto mengajarkan kebiasaan manusia yang selalu tergesa-gesa dalam mencari kepuasan dunia. Nampaknya buah pikir Danarto sebagai seorang penulis surealis par-excellence dalam refleksi-refleksi ini adalah waktu merenungi fenomena-fenomena kekerasan dan sadisme, kekuasaan serta ketamakan. Dalam buku Begitu Ya Begitu, Tapi Mbok Jangan Begitu kita diberikan contoh betapa seorang yang tamak akan kekuasaan, orang yang selalu tergesa-gesa dalam pekerjaan tidak akan bertahan dalam kesenangannya, cerpen yang seakan mengajak pembaca agar lebih bijak dalam bertindak.

Melalui Danarto, kita bisa membayangkan sastra absurd yang khas Indonesia. Di Eropa, sastra absurd adalah kejengahan akan realisme dan rasionalisme. Sedangkan cerita pendek Danarto mencerminkan betapa masyarakat kita –yang dicerminkan oleh tokoh-tokoh cerita pendeknya– menjalani apa yang dalam bahasa Jawa disebut mulur-mungkret, yaitu silih berganti menjauhi dan mendekati modernitas. Absurditas sastra Eropa bersifat kelam, serius dan negatif, sedangkan absurditas Danarto berwarna-warni, penuh kelakar nan positif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Bergerak dari Pinggir

Oleh: Nur Sista Senja Wiragasari  (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Bergerak dari Pinggir
Pengarang           : Wahyudin
Penerbit                : Basa Basi
Tahun                      : 2018
Deskripsi Fisik   : 268 Halaman
No. Panggil           : 701 WAH b

Buku kumpulan tulisan berjudul Bergerak dari Pinggir ini berasal dari ulasan-ulasan seni rupa dari Wahyudin. Tentang produksi, peristiwa, kehidupan artistik lokal, perkembangan estetik dan pencapaian artistik seseorang atau sekelompok perupa di  sejumlah kota Jawa Timur sekitar 13 tahun berakhir. Cerita pada buku ini patut untuk diriwayatkan bukan lantaran di Jawa Timur tak banyak periwayat, tukang cerita, atau kritikus seni rupa, melainkan guna utamanya untuk menunjukkan bahwa “perupa hebat berasal dari mana pun”.

Demikian, hal tersebut dapat membijaksanai posisi seni rupa Jawa Timur di dunia seni kontemporer Indonesia yang ambisius dan demokratis. Keserbajenisan karya yang diusung dalam sebuah perhelatan dapat ditandai lewat realisme. Sebuah gagrak estetik yang kelihatan paling bersahaja tetapi dominan dalam medan kreatif seni rupa Malang yang konon telah berkembang sejak dasawarsa 1930-an. Medan seni rupa di Jawa Timur mampu melahirkan perupa-perupa yang istimewa dengan kecakapan artistik tinggi, esai-esai dalam buku ini nampaknya tidak ingin membiarkan situasi ini menguap begitu saja.

Dalam buku ini menyoroti beberapa aktor penting dan menarik dalam semesta dunia artistik, salah satunya museum seni rupa. Tak ada museum seni rupa di Jawa Timur yang mengoleksi, menyimpan, dan mendidik publik serta menunjukkan kualitas dan nilai seni rupa. Pada akhirnya, buku ini lebih jauh ingin menggambarkan Jawa Timur sebagai harapan bagi dunia seni rupa kontemporer.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Becoming; 20 Tahun Galang Kangin

Oleh Senjang Martani  (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku   : Becoming; 20 Tahun Galang Kangin
Editor              : Hardiman, Wayan Setem
Tahun               : 2018
Penerbit         : Arti Foundation [Buku Arti]
No . Panggil  : Becoming; 20 Tahun Galang Kangin

Becoming 20 Tahun Galang Kangin, merupakan kumpulan tulisan yang membahas tentang kelompok perupa Bali Galang Kangin (GK). Berisi kumpulan tulisan dari kuratorial pameran, media cetak, serta testimoni (seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat) terhadap fenomena yang muncul terkait perjalanan GK. Selain membahas dalam persoalan artistik, kreativitas, dan profil anggotanya, buku ini juga membicarakan berbagai aktivitas dan kreativitas seni yang dikaitkan dengan masalah-masalah sosio-kultural dan politik.

Ada semacam kekuasaan yang bermain dalam penciptaan buku. GK sangat memahami betapa pentingnya seorang seniman atau kelompoknya mengarsipkan perjalanan kesenian, pemikiran, dan catatan ihwal eksistensinya. Pun sebagai bahan kajian, buku ini bisa sangat membantu untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa Bali melalui sepak terjang GK.

Melalui karya-karya dalam pameran yang sudah sekian kali pernah GK selenggarakan, ada beberapa hal yang dapat dicatat. Bahwa pada periode tertentu GK pernah sangat dekat dengan kecenderungan karya-karya formalistik. Fase ini muncul di masa awal  eksplorasi visual GK. Dalam fase berikutnya, sejarah mengantar ke arah lain, dengan karya-karya yang mencoba keluar dari batas-batas medium mereka selama ini. Eksplorasi pada wilayah karya-karya instalasi/ tiga dimensi pernah hadir mewarnai dinamika pergulatan GK.

Secara teknis, layout buku ini sangat kaku (lebih mirip layout jurnal), buku ini menuntut kesabaran mata untuk membacanya. Kumpulan tulisan kuratorial dan media cetak dalam buku ini memang tidak diedit. Maka tidak heran jika ditemukan banyak kesalahan pengetikan.

Bagian lain dari buku ini adalah perihal siapa saja individu dalam tubuh GK. ini menarik karena tidak hanya pembaca dapat menelusuri perjalan setiap seniman, juga menjadi bagian penting dalam metodologi penelitian kesenian. Tak kalah pentingnya adalah teks visual dalam bab terakhir buku ini. Gambar tentang aktivitas dan karya seniman GK ditampilkan sebagai alat-alat baca. Karena gambar atau foto hakikatnya juga teks yang melahirkan keterbacaan, semacam kombinasi pemantik yang menarik dalam proses pembacaannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”

Oleh Rachma Aprillian Kusuma Wardhani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku: Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”
Pengarang : Wildan Sena Utama
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun : Desember 2017
No. Panggil : 300 UTA K

 

Konferensi Asia Afrika tidak asing ditelinga publik. Buku setebal 281 halaman ini bercerita lebih dalam tentang Konferensi Asia-Afrika 1955 dengan judul Konferensi Asia Afrika 1955 Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme. Beberapa pernyataan dalam buku ini membenarkan bahwa pada April 1955, delegasi dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung, Indonesia, untuk perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Para peserta konferensi, yang kala itu tidak banyak memiliki kekuatan militer atau ekonomi, mencoba mencapai sasaran kebijakan luar negerinya melalui langkah-langkah performatif –yang simbolik–, yang lebih jauh memperluas kemungkinan seluruh peserta memiliki posisi tawar di negerinya masing-masing dan panggung politik internasional sebagai pemerintahan sah dan berdaulat.

KAA adalah suatu peristiwa yang belum ada bandingannya. Mengingat peristiwa ini terjadi ketika negara-negara Asia-Afrika, yang baru dan hampir merdeka, memonopoli panggung politik dunia di pertengahan abad 20. Ini adalah momentum ketika aktor-aktor non-Barat menggunakan pengaruh yang terpadu dan konstruktif untuk menempatkan diri dalam tatanan internasional. Tujuan utamanya adalah agar lebih mengakomodasi persoalan-persoalan Asia-Afrika, baik di bidang ekonomi, politik, hingga sosial.

Gagasan solidaritas Asia-Afrika mencapai puncaknya lewat pertemuan pertama KAA. Meskipun KAA baru berlangsung pada pertengahan 1950an, akar-akar intelektualnya telah malang-melintang sejak awal abad 20. Terutama ketika wacana Westernism masa kolonial dikritik oleh jaringan kaum internasionalis dan gerakan anti imperialisme Asia-Afrika. Dengan demikian KAA adalah buah dari perjuangan panjang jejaring gerakan global.

Pada 18-24 April 1955, KAA berlangsung di Bandung. Dihadiri perwakilan 29 negara merdeka dan hampir merdeka dari kawasan Asia-Afrika. Seperti telah diuraikan sebelumnya, KAA adalah kulminasi dari banyak aspirasi: solidaritas  Asia-Afrika, dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kemungkinan membentuk aliansi baru. Hari-hari terakhir KAA pada Sabtu malam, 23 April 1955, komite pengurus tanpa pembahasan bertele-tele menerima naskah yang merekomendasikan 8 negara Asia-Afrika untuk menjadi anggota PBB. Atas dasar prinsip universalitas, direkomendasikan bahwa negara-negara peserta KAA, yaitu Kamboja, Jepang, Yordania, Libya, Nepal, Sri Lanka dan “Vietnam Bersatu” harus diterima sebagai anggota.

Dengan demikian, KAA adalah forum yang penting. Ia mempengaruhi legitimasi politik, pemerintahan, dan masyarakat. Pergulatan simbolik dalam konferensi tersebut dimainkan di hadapan dunia. Sekaligus memiliki konsekuensi nyata bagi diplomasi politiknya. Di sisi lain, Bandung menjadi saksi penting atas bertemunya para pejuang kebebasan dan gerakan anti kolonial. Mewakili kepentingan negaranya, dan masyarakatnya masing-masing. Kepentingan masyarakat yang bebas dari belenggu dan hegemoni kolonial. Kepentingan yang direpresentasikan sendiri, bukan ditafsir oleh dunia Barat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

“Sanggar Bambu Tidak Akan Dibubarkan, dan Akan Dipertahankan Hingga Anggota Terakhir!”: Koleksi Arsip Sanggar Bambu

Oleh: Hardiwan Prayogo

Ungkapan di atas muncul dalam surat bertanda tangan Soenarto Pr. tertanggal 9 April 1998. Dalam surat yang juga dilampirkan formulir pendaftaran anggota baru ini, adalah tindak lanjut atas pasang-surutnya eksistensi Sanggar Bambu. Soenarto Pr. dengan segala upayanya mengirim surat ini pada anggota-anggota Sanggar Bambu di berbagai daerah untuk merubah pasang-surut menjadi pasang-naik.

Sejak berdiri pada 1 April 1959, Sanggar Bambu aktif melakukan pameran keliling ke berbagai kota. Mulai dari Bogor, Pekalongan, Purwokerto, Balapulang (Tegal), Banyumas, Banjarnegara, Ngawi, Ponorogo, Mojokerto, Situbondo, Malang, Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, dan lain sebagainya. Kota-kota yang oleh publik seni ketahui bersama bukan melulu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam satu artikel tulisan Kartosudirjo, Sanggar Bambu memiliki 3 komisariat, sebagai “djiwa” (komisariat Yogyakarta), sebagai “napas” (komisariat Jakarta), dan sebagai “tubuh” (komisariat muhibah keliling). Fungsi utama dari tersebarnya komisariat ini adalah menjadikan seluruh pelosok nusantara sebagai persembahan pameran keliling, sekaligus tempat belajar, berdialog, dan bergaul. Misi ini memang implementasi dari mukadimah (ikrar) angkatan dasar Sanggar Bambu 59. Intisari dari ikrar ini juga mengungkapkan keberpihakan pada masyarakat sosialis, yang seirama dengan wacana revolusi pada masa itu.

Satu statement menarik dari artikel terbitan tahun 1964 ini adalah Sanggar Bambu menjadi bukti jika ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak mengenal seni abstrak, maka itu adalah kekeliruan. Jawa, Kalimantan, Toraja, hingga Papua, semua identik dengan corak seni abstrak. Sanggar Bambu menjadi pertemuan antara corak seni abstrak dengan realis. Dengan anggapan bahwa seni abstrak tetap berangkat dari titik tolak realitas objektif. Itu pandangan dari sisi formalis karya-karya seniman Sanggar Bambu. Mengenai pandangan politiknya, meskipun tetap menjadikan politik sebagai panglima,  Sanggar Bambu menolak disebut berafiliasi pada partai politik tertentu. Dan sikap tegasnya menolak manifesto kebudayaan (manikebu).

Ikrar ini semacam “diperbarui”, tercatat dalam dokumen tertanggal 15 Desember 1993. Ikrar pertama yang disampaikan pada 1963 dicetuskan sebagai pernyataan sikap di tengah hiruk-pikuk dan gontok-gontokan partai politik hingga lembaga kebudayaannya. Memasuki dekade 1990-an, dimana suhu, iklim, dan perjuangan politik kepartaian sangat berbeda, ikrar Sanggar Bambu diupayakan tetap aktual dengan asas kemandirian politik, kesatuan sikap budayawan, dan seniman untuk menghadapi globalisasi.

Dalam posisi politis dan situasi zaman demikian, Sanggar Bambu nyatanya masih aktif di masa orde baru. Sejauh apa pengaruhnya terhadap presentasi karya seniman-senimannya, tentu bisa diperdebatkan dan membutuhkan penelitian lebih jauh. Namun dalam beberapa liputan media, pameran lukisan Sanggar Bambu tahun 1990-an mencatat hampir seluruhnya menampilkan gaya dekoratif, surealis, dan impresionis, dengan dominasi lukisan tentang figur kuda, alam, lautan, kematian, hingga kitab suci. Di samping itu, teknik dan gaya lukisan mereka cukup matang dan berciri khas.  Pada sebuah pembukaan pameran Sanggar Bambu di Solo, Erik Purnomo mengakui bahwa di tahun 1990-an eksistensi Sanggar Bambu mengalami pasang surut, meski pada masanya pernah memiliki nama besar. Maka setiap pamerannya kini menjadi semacam ujian bagi kelompok ini. Ujian untuk bertahan atau bahkan membawa angin segar dalam kancah seni rupa yang situasi zamannya terus bergerak dinamis. Agus Dermawan T. pernah menyebutkan bahwa Sanggar Bambu berhasil menunjukkan keindonesiaan dalam bentuk dan spirit, dengan kata lain banyak menceritakan peristiwa keseharian yang merakyat.

Tim arsip IVAA pada bulan Oktober ini mendapat donasi arsip Sanggar Bambu dari keluarga seniman, Rusdi. Rusdi adalah seniman dari Solo yang merantau ke Bali untuk menapaki karir kesenimanannya. Rusdi adalah anggota Sanggar Bambu untuk komisariat muhibah keliling daerah Bali. Rusdi pernah berpameran tunggal di Bandung, dan terlibat dalam Pameran Besar Seni Lukis Ke-IV. Selain itu, ikut serta pameran bersama di Tokyo tahun 1976 dalam acara 12th The Asia Modern Art Exhibition.

Dalam perjalanannya sebagai anggota Sanggar Bambu, Rusdi juga aktif dalam kegiatan organisasi. Banyak membantu terselenggaranya berbagai pameran Sanggar Bambu, hingga bertukar kabar dengan pendiri Sanggar Bambu, Soenarto Pr. Sedangkan dalam karir kesenimanannya, Rusdi adalah seniman yang sepenuhnya menyerahkan diri pada aktivitas berkesenian. Seniman yang mencurahkan seluruh waktunya pada kepentingan seni lukis, merenungkan diri dalam rangka perkembangan kekaryaannya. Rusdi punya filosofi bahwa musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri, prinsip ini yang dibawanya dalam berkarya, bahwa lukisannya adalah pengabdian, bukan pesanan seseorang. Entah sejauh apa filosofi berkeseniannya ini berjalan bersama dengan spirit Sanggar Bambu. Tentu menarik jika pertanyaan ini dielaborasi lebih jauh melalui catatan dan koleksi arsip Rusdi yang bisa dijelajahi dengan tautan di bawah ini.

Profil Rusdi dan Sanggar Bambu

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Pengantar Sorotan Magang

Di edisi kali ini, kami menghadirkan Sorotan Magang sebagai sub-rubrik baru dari Kabar IVAA. Sorotan Magang menjadi ruang bagi kawan-kawan magang atau internship untuk berbagi gagasan atau pengalamannya selama berproses bersama IVAA. Tulisan yang dimuat bisa berbentuk refleksi kerja atau esai singkat sebagai bagian dari penelitian selama bekerja di IVAA. Untuk edisi ini terdapat dua tulisan, masing-masing dari Tessel Janse dan Putri R. A. E. Harbie, kawan-kawan magang yang pernah ikut bekerja bersama dengan IVAA.

Tessel, dalam rangka penelitian untuk studi doktoralnya, membagikan sedikit temuan penelitian mengenai dinamika dunia seni Yogyakarta yang fokus pada persoalan interseksi antara yang lokal dan global. Sedangkan Putri, lebih menyuguhkan refleksi pribadi selama bekerja di IVAA, khususnya di bidang pengarsipan dan dokumentasi.

Artikel ini merupakan pengantar Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.