Category Archives: Kabar IVAA

[sorotan dokumentasi] Serial Diskusi Agraria #3: Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan: Diskusi Agraria, Seni untuk Melawan

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) Fisipol UGM menggelar Serial Diskusi Agraria #3 di Selasar Barat Fisipol UGM, Senin (19/3). “Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari serial diskusi sebelumnya. Jadi diskusi diadakan tiga kali, pertama 19 Februari dengan tema Dasar-Dasar Agraria, kedua 5 Maret Agraria dan Industrailisasi, dan terakhir Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan.” ungkap Suci selaku ketua bidang keilmuan. Pada diskusi kali ini KAPSTRA menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andrew (Teman Temon), Dwi Rahmanto (Indonesia Visual Art Archive/ IVAA), dan Pitra Ayu (peneliti dan project coordinator Engage Media Yogyakarta).

Diskusi dibuka dengan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dipopulerkan oleh Fajar Merah, dibawakan salah seorang mahasiswa UGM. Lagu tersebut begitu relevan dengan keadaan sekarang di mana perampasan tanah atas nama pembangunan marak dilakukan, begitu sedikit pengantar dari moderator diskusi Asri Widayanti.

Andrew mengawali pembicaraan dengan menceritakan keadaan warga terdampak penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Untuk merespon itu, menurut Andrew, Teman Temon sering melakukan kegiatan. Selain itu seni berperan penting dalam menjalin komunikasi antar warga. “Seni berperan sebagai medium komunikasi dengan warga, dan juga mengomunikasikannya keluar” ungkap Andrew. Andrew mencontohkan, saat mereka membuat mural di salah satu rumah, warga lainnya menyambut dengan ingin juga dibuatkan mural. Andrew dan kawan-kawan mengatakan bahwa tidak menyarankan warga harus ikut seni tertentu, itu hanyalah salah satu cara. Namun, alih-alih seni, Andrew lebih sepakat dengan menyebutnya sebagai produk kreatif.

Pembicara kedua, Dwi Rahmanto yang menguasai seni dan kaitannya dengan agraria mencoba membeberkan catatan-catatan di IVAA, di antaranya merespon isu-isu agraria dan kebutuhan air di kota yang dibalut dalam bentuk aksi dan festival. Menurutnya pembangunan mall dan bangunan vertikal lainnya di Yogyakarta sebenarnya sudah dibayangkan sebelumnya, dan sekarang isu-isu tersebut benar adanya. Dwi menambahakan adanya dorongan karya seni untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya ada unsur-unsur bagaimana masyarakat juga berperan, sehingga memang karya seni harus kontekstual dengan masyarakatnya. “Dari hampir semua kemunculan karya-karya itu, kemudian banyak hal yang muncul di sana, salah satunya adalah forum-forum dengan pembahasan spesifik mengenai seni rupa dan sosial” ungkapnya.

Sedang menurut Pitra, ada upaya untuk menggiring orang pada sesuatu. Terkadang menemukan proses pembekuan kerja seni tanpa mengajak pihak-pihak yang mengaksesnya memahami, dan bersama-sama memetakan persoalan. Ini memang, menempatkan seni dalam strata lebih rendah, sehingga jadi betul-betul bisa menjadi alat peraga. “Ada suatu masa yang mempersoalkan seni sebagai alat sehingga ia dihaluskan menjadi medium atau sarana.” Ungkap Pitra. Ia membagi karya menjadi ilustratif, dokumentatif, dan kontemplatif. Katanya, mungkin masalahnya ada pada yang ketiga, ketika mencoba melepaskan diri dari persoalan.

Dari serial diskusi agraria tersebut Suci menyatakan bahwa, tujuan acara ini diadakan agar civitas akademik bisa sadar terhadap berbagai macam isu mengenai agraria. Peserta yang hadir pun tergolong banyak, terdiri dari berbagai macam latar belakang. Suci mengungkapkan bahwa secara akumulatif, diskusi dalam tiga hari ini diikuti total sebanyak 250 peserta.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #7 Agoni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Nama Agoni diambil dari kata dasar Agonia yang merujuk pada salah satu tulisan St. Sunardi berjudul “Suara Sang Kala di Tepi Sungai Gajahwong” dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi. Kata Agoni dipilih sebagai representasi dari lagu-lagu mereka. Awalnya ada beberapa rekomendasi dari pemilihan nama, akhirnya dipilih nama Agoni, karena yang dibicarakan banyak mengenai persoalan tentang makna dari kata itu. Diambil dari tiga fase berkesenian; agonia, ekstase, dan joy. Agonia adalah kondisi di mana saat sedang sangat gelisah dan ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa. Fase kedua, Ekstase berarti fase di mana si seniman mencurahkan keresahannya lewat media seni. Sedangkan joy adalah satu fase saat sudah selesai membahasakan soal kegelisahan itu.

Mereka merasakan lagu yang lahir dari Agoni itu berasal dari keresahan yang awalnya sulit dibicarakan. Dengan membicarakannya lewat lagu, diharapkan dapat mencapai fase ekstase dan joy. Pendengar diajak untuk merasakan pengalaman yang sama dengan musisi. Akhirnya dipilih fase yang pertama, karena orang cenderung berambisi mencapai joy tanpa melewati fase ekstase dan agoni. Fase agoni cukup penting karena tidak banyak dibicarakan dalam konteks masa sekarang.

Band ini digawangi oleh muda-mudi asal Yogyakarta yakni Fafa (vokal & gitar), Erda (bass), dan Dimas (drum). Agoni dipilih oleh IVAA bukan hanya karena relasi pertemanan saja, melainkan juga ide-ide lewat lagunya yang menarik untuk masyarakat dengar. Lagu-lagu Agoni adalah jelmaan dari perjalanan hidup yang peristiwanya tidak mudah diceritakan. Sejak 2010, Erda dan Fafa hanya sekadar band-band-an, tidak pernah terbayangkan untuk terus ditekuni. Ternyata, Fafa sudah berbakat dalam menulis sejak masih duduk dibagku SMP, dan kemudian mencoba merangkai lirik lebih mendalam. Pada awalnya, Agoni hanya terdiri dua orang, dalam perjalanannya, perlu materi yang lebih lengkap dengan kehadiran drummer. Untuk Musary #7 ini, diajak pula Dicky dan Adam sebagai additional player. Mereka justru menemukan keasyikan dengan berganti-ganti additional player, sebab memiliki warna musik yang beragam.

Musrary #7 merupakan kali pertama IVAA terlibat dalam sebuah acara peluncuran album musik. Berlangsung di Rumah IVAA, Sabtu, 9 Desember 2017. Pertunjukan musik bertajuk Mencari Matahari dilaksanakan dalam launching mini album berjudul Merajut Badai dari Agoni. Sama dengan event-event Musrary yang telah terselenggara sebelumnya, penonton disuguhkan penampilan musik dengan suasana yang intim. Penonton bisa berinteraksi langsung dengan sang musisi.

Malam minggu syahdu penonton disuguhkan 7 lagu dari mini album Merajut Badai, dan satu lagu yang akan ada dalam album full album perdana mereka. Penampilan pertama dibuka dengan “Aku Harap Laguku” yang menyejukan. Lagu kedua adalah “Jantung Kota” yang bercerita tentang keresahan pada kota sendiri. Lagu ini didedikasikan warga Temon, Kulonprogo, masyarakat terdampak proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport. Selain perform, juga dijual beberapa merchandise yang keuntungannya disumbangkan pada petani-petani di Kulonprogo yang sedang berjuang mempertahankan hak hidup bersama “Jogja Darurat Agraria”. Lagu berikutnya berjudul “Jurnalis Palsu”, mewakili Fafa dan Erda yang pada saat kuliah aktif dalam pers mahasiswa. Lagu ini terilhami dari pengalaman saat melakukan liputan dan intens bergulat dengan isu-isu yang diangkat.

Musik dipilih sebagai ruang aktualisasi. Menurut Erda, dengan bermusik, ia merasakan apa yang dinamakan katarsis, dan membutuhkannya dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan karir bermusiknya, mereka sempat “merasa kecil” karena pernah tampil di depan orang-orang yang mereka lawan. Mereka pun pernah mendapat persekusi dari ormas tertentu. Penampilan Sabtu malam itu ditutup dengan lagu “Merajut Badai” yang berkolaborasi dengan Danto (Sisir Tanah), Gonjes (KePAL SPI/ Keluarga Seni Pinggiran Anti-Kapitalisasi Serikat Pengamen Indonesia), Fitri (Dendang Kampungan). Sudah hampir tiga tahun Agoni konsisten mengangkat tema tentang kehidupan manusia, baik dalam masa kegelisahan maupun suka cita. Momentum ini sekaligus dijadikan sebagai penutupan simbolis pada proses penggarapan panjang mini album Merajut Badai.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #9 Rio Satrio

Oleh: Dwi Rahmanto

Rio Satrio, sejujurnya nama ini masih asing di kancah musik Jogja. Tetapi setelah mendengarkan karyanya, saya yakin musisi ini layak diapresiasi lebih. Dikenal dengan nama panggung Rio Satrio, singer-songwriter asal Samarinda kelahiran 21 Januari 1994 ini bernama asli Muhammad Janwar Rien Satrio. Memulai karir bermusik di usia muda dengan bergabung di berbagai band bermacam aliran. Rio akhirnya menemukan jalur terbaiknya dengan bersolo karir.

Malam 19 Februari 2018 lalu menjadi spesial bagi Musrary #9 dengan kehadiran Rio Satrio. Kali kedua berkunjung ke Yogyakarta sekaligus melakukan mini tour dan mini konser di sejumlah gigs Jogja. Berpakaian serba hitam, dan konser mini dimulai dengan cerita dongeng tentang pengembara dan hujan, juga sosok pria tua dan gubug yang sangat jelek. Dalam kisahnya pengembara dan pria tua saling bertanya setelah melihat hujan sangat lebat, dalam gubug tidak layak huni itu si pengembara melihat si pria tua sangat bahagia dan berteriak. Pria tua sepakat bahwa hujan membawa keberuntungan bagi tanah kita, dan gubug yang hancur bisa dibuat lagi hingga ratusan kali.

Rio Satrio telah merilis sebuah album berjudul Cerita Daun dan Bumi, single dengan judul yang sama menjadi andalan album pertamanya ini. Sisanya berisi 8 single yang menarik untuk didengarkan. Rio membawakan musik folk yang sederhana namun kaya nada. Lirik lagu yang diciptakan biasanya bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, persoalan dan pelajaran hidup, serta kecintaan pada alam. Di akhir mini konsernya, Rio ditantang untuk membuat lagu secara spontan tentang apapun, khususnya yang dia temukan di Rumah IVAA. Lagu dadakan tentang IVAA menjadi penutup meriah dan semakin mencairkan suasana, dibalas dengan tepuk-tangan panjang dan bahagia hadirin Musrary kali ini.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Pelatihan Menulis Wikipedia: Bias Gender Dalam Seni

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Sebelum 23 maret 2018, Wikipedia Indonesia baru memiliki 46 halaman pelukis dan pematung Indonesia. Terlebih hanya ada tiga profil seniman perempuan. Beranjak dari kegelisahan bahwa pengetahuan harus bisa diakses siapapun secara bebas dan gratis, Wikimedia selaku lembaga yang menangani produksi artikel di laman wikipedia indonesia, bersama IVAA dan Kunci Cultural Studies mengadakan acara untuk menaikan seniman perempuan Indonesia ke permukaan. Kemudian digelarlah kegiatan Edit-A-Thon: Wikipedia Seni dan Perempuan. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah IVAA. Pemilihan tema perempuan pelaku seni tidak hanya pertimbangan akan kurangnya jumlah halaman tentang seni di Wikipedia Indonesia, namun juga mempersoalkan bias gender dalam dinamik dunia seni.

Kegiatan tersebut dihelat pada Jumat, 23 Maret 2018 dan diikuti sekitar 21 peserta umum. Lisis mengungkapkan latarbelakang acara tersebut adalah berangkat dari penulisan sejarah seni rupa yang bias gender. “Acara ini bagi IVAA sebagai pengingat, karena kita mengarsipkan dan lumayan berpartisipasi dalam penulisan sejarah. Kalau kita tidak diingatkan, penulisan sejarah seni rupa Indonesia itu sexist, nah itu lumayan bahaya,” ungkapnya,” saat memberi sambutan pada acara tersebut, Jumat (23/3). Lisis berharap bahwa acara tersebut tidak cuma di sini, tetapi didorong kelanjutannya oleh semua pihak. Dalam acara ini IVAA bertindak sebagai fasilitator ruang, dan referensi baik buku maupun tautan digital.

Argumen juga dilontarkan Gita dari perwakilan Kunci. Gita berpendapat bahwa peran perempuan di dalam ranah seni seperti dilupakan begitu saja. “Mungkin standar-standar yang diciptakan dunia seni cukup patriarkis,” katanya. Bagi Gita dunia secara umum membuat perempuan tidak dapat berperan aktif sebagai seniman, misalnya karena urusan-urusan domestik. Harapannya, lanjut Gita, selain menulis lebih banyak seniman perempuan, juga harus terus bersama-sama memikirkan aktifitas kehidupan sehari-hari, misalnya pembagian kerja domestik tadi.

Peserta cukup antusias dalam mengikuti alur kegiatan yang dipandu oleh mentor dari wikimedia. Acara yang berlangsung selama 4 jam ini menarik perhatian khalayak luas, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Peserta yang hadir pun tidak hanya datang dari perempuan, tetapi ada pula kaum adam ikut serta dalam kegiatan tersebut. Setelah peserta berlatih step by step menulis di Wikipedia Indonesia, dilakukan diskusi pendek yang membahas peran seniman perempuan di Indonesia.

Obrolan berjalan cukup intens ketika terjadi tarik menarik soal konsistensi penggunanaan istilah, apakah mau menggunakan seniman perempuan, pelaku seni perempuan, perempuan pelaku seni, ataru justru seniwati. Akhirnya setelah berdiskusi, istilah yang disepakati adalah perempuan pelaku seni. Dengan pertimbangan bahwa istilah pelaku seni mencakup lebih banyak profesi di bidang seni, tidak hanya seniman namun juuga kurator, manajer seni, wartawan dan lain-lain. juga meletakkan kata perempuan di depan sebagai rujukan orangnya, bukan orientasi karyanya. Acara berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Perempuan pelaku seni yang di-input adalah sebagai berikut: Yustina Neni, Tamara Pertamina, Mary Northmore, Tintin Wulia, Mia Bustam, Marida Nasution, I GAK Murniasih, Nunung WS, Erna Pirous, Siti Adiyati, Hildawati Soemantri, Kelompok Nuansa, Umi Dachlan, Edith Ratna, Trijoto Abdullah.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Mozaik Mimpi Koalisi Seni

Oleh: Hardiwan Prayogo

Berangkat dari semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan ekosistem kesenian di Indonesia, Koalisi Seni Indonesia (KSI) pada 17-18 Maret 2018 berlokasi di Westlake Resto mengadakan pertemuan yang diberi tajuk Mozaik Mimpi Koalisi Seni. Dengan agenda utama berupa Focus Group Dicussion (FGD) antara anggota KSI di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. IVAA diwakili oleh Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayoga berkesempatan untuk terlibat dalam diskusi antara berbagai sektor pelaku seni ini.

Pada Sabtu 17 Maret 2018, diskusi terbagi dalam beberapa sesi, pertama adalah sesi “Percakapan #1 Pembelajaran”. Tujuan dari sesi ini adalah mendengar capaian dan strategi masing-masing pelaku seni, baik individu maupun kolektif dalam praktek kesenimanannya. Lingkungan seni, khususnya di Yogyakarta, tidak membentuk kultur/ perilaku seniman yang berpikir panjang. Dengan kata lain strategi yang ditempuh adalah kerja-kerja yang taktis, bukan strategis. Maka secara organik akan lahir jarak antara kebutuhan pelaku seni yang jangka pendek dengan logika kerja KSI yang cenderung jangka panjang. Kemudian diskusi bergulir hingga kondisi bahwa sebenarnya sumber dana selalu ada di sekitar kita, salah satunya adalah dana desa. Perlu dibangun kesadaran bahwa persoalan mengenai dana tidak melulu harus diselesaikan di pusat. Dengan demikian, pelaku seni sekaligus akan menjadi salah satu pilar yang aktif dalam struktur masyarakat, tampil sebagai salah satu kontributor utama dalam sektor riil. Para anggota berharap bahwa KSI menjadi jembatan atau platform akan akses ini. Bahwa seniman bukan hanya soal berkarya, tetapi juga memikirkan posisi sosial dari kerja infrastruktur.

Sesi kedua berjudul “Percakapan #2 Inspirasi”. Setelah saling berbagi tentang bagaimana selama pelaku seni bertahan hidup dengan berbagai macam cara, para anggota mencoba mencari bentuk ideal dari cara kerja KSI yang implementatif dengan kebutuhan anggotanya. Diawali dengan kesadaran bahwa kesenian kini semakin multidisiplin, KSI perlu menjadi wadah yang inklusif antar anggota untuk saling berbagai pengetahuan dan potensi. Pada dasarnya pelaku seni dimanapun senantiasa membutuhkan jejaring dalam lingkup regional, terutama dalam rangka memperkaya refrensi tekstualnya. Lebih lanjut agar semua sektor kesenian ikut terlibat dalam peningkatan daya apresiasi seni dari publik.
Sesi ketiga hari pertama ini ditutup dengan sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UUPK). Undang-Undang ini adalah kebijakan yang secara aktif dikawal oleh KSI dalam 5 tahun terakhir. Disampaikan bahwa UUPK bersifat ofensif, dengan tidak menganggap globalisasi sebagai ancaman, namun justru peluang untuk pengkayaan teks dan jejaring. Objek UUPK ada 10, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat, ritus, pengetahuan tradisi, seni, bahasa, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pemilahan ini tidak bersifat kategoris, tetapi tagging, artinya satu produk/bidang bisa terdiri lebih dari satu objek. UUPK menggunakan logika pemajuan, bukan pelestarian karena menuntut untuk dikembangkan, tidak hanya dilestarikan. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah relasi antara kajian dan penciptaan, memberikan kesempatan berkesenian yang sama, dan lain-lain.

UUPK dimulai dengan dokumen perencanaan bernama Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disusun dari partisipasi masyarakat di tingkat kabupatan/kota, lalu diajukan ke tingkat provinsi, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rumusan strategi kebudayaan nasional. Ini adalah tahap pertama dari implementasi UUPK berskala nasional namun dilaksanakan berdasar pada potensi dan urgensi setiap daerah.

Hari kedua, 18 Maret 2018, dimulai dengan sesi “Percakapan #3 Aspirasi”. Sesi ini membagi peserta dalam kelompok diskusi yang lebih kecil, 2-3 orang per kelompok. Antar kelompok diberi tugas berbeda yang secara garis besar menyusun strategi dan program ideal KSI untuk periode 2017-2022. Kelompok yang bertugas merumuskan strategi mengawali dengan bahasan bahwa secara umum publik seni masih canggung untuk mengartikulasikan bahwa seni adalah klaim politik. Berkaca pada fakta bahwa seni di Indonesia tidak pernah kritis secara jumlah, menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada sumber dana, tetapi keberanian publik seni mengeksplisitkan klaim politiknya. Dalam kerangka ini KSI perlu menjadi lembaga yang juga bisa mengadvokasi, memberi perlindungan dan solidaritas jika ada anggotanya yang tertekan akibat klaim politik tertentu. Diakui bahwa kultur berkoalisi secara organik sudah tumbuh di daerah-daerah, terutama daerah yang infrastruktur seninya terbilang minim. Dengan kata lain KSI perlu mendorong sosialisasi paralegal, agar anggotanya memiliki kesadaran hukum. Di sisi lain, KSI sangat perlu untuk memperluas/ menambah anggota, dengan tidak melupakan syarat yaitu jejaring yang solid. Kemudian secara program, KSI perlu membuat peta, atau mapping kebutuhan infrastruktur seni setiap daerah, dan menyasar tokoh strategis sebagai sasaran audiensi. Dengan asumsi bahwa setiap responden akan aktif dan dapat mengidentifikasi problem, yang lebih penting adalah melakukan campaign apa keuntungan terbesar dari anggota yang aktif.

Hari kedua yang sekaligus menjadi hari penutup ini berlangsung dengan lebih cair. Semua gagasan yang mencuat dalam 2 hari ini akan dijadikan pegangan oleh para pengurus KSI. Pegangan agar KSI menjadi lembaga inklusif yang menjembatani keterbatasan dan kepanjangan tangan dari publik seni di Indonesia. KSI sendiri melanjutkan agenda serupa di daerah lain, yaitu Temu Anggota Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, dan Temu Anggota Indonesia Timur dan Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Pengumuman Kantor: Menakar Kuasa Ingatan

Pertangah Maret lalu, akhirnya terbit buku dari Festival Arsip IVAA berjudul Menakar Kuasa Ingatan: Catatan Kritis Festival Arsip IVAA 2017. Buku ini terbit setelah festival ini selesai Oktober 2017. Untuk memperkaya sudut pandang, kami mengundang sejumlah penulis untuk terlibat dalam buku ini, mereka adalah Alia Swastika, Zuhdi Sang, Erie Setiawan, Elia Nurvista, Brigita Isabella, Taufiq Nur Rachman, Eliesta Handitya, Jonet Suryatmoko, Nisa Ramadani, Barasub, Helly Minarti, Fiky Daulay, M. Margareth Ratih Fernandez, Ikun SK, juga tidak ketinggalan para penyelenggara, mulai dari Direktur Festival Arsip, Tim Artistik, Tim Seminar, dan Tim Edukasi Publik. Buku ini di harapkan menjadi modal untuk melakukan pembacaan kritis terhadap posisi festival, arsip, dan dinamikanya. Sekaligus menjadi bagian dari refleksi atas terselenggaranya festival yang pertama di lakukan IVAA.

Tidak jauh berselang, kami mengungah video dokumentasi Festival Arsip berjudul Pirsa Kuasa Ingatan. Rekaman audio visual tentang momen-momen terbaik, memperihatkan irisan-irisan penting dari pembahasan dan isu yang di kelola oleh festival. Dalam video ini diperlihatkan aktivitas festival dengan ragam arsip yang dihidupkan, melalui bermacam instrumen tanpa membuatnya kehilangan konteks jamannya. Video ini dikerjakan oleh Muhammad Dzulqurnain bersama penanggung jawab dokumentasi Dwi Rahmanto, beserta Tim Konten IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Tangannya Putus Satu: Edit-a-thon Wikipedia Seni dan Perempuan

Sejauh ini halaman Wikipedia Indonesia memiliki 46 entri mengenai profil pelukis dan pematung Indonesia. Hanya tiga entri di antaranya merupakan profil tentang seniman perempuan. Di satu sisi, lanskap informasi dan pengetahuan tentang seni Indonesia yang sudah terkumpul dalam halaman Wikipedia Indonesia memang jauh dari komprehensif dan masih belum dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan yang valid. Di sisi lain, kesenjangan gender dalam entri yang sudah ada saat ini merupakan simptom dalam produksi pengetahuan sejarah seni Indonesia secara umum.

Heidi Arbuckle, yang meneliti sosok seniman Emiria Sunassa (1891-1964), pernah menulis: “Jika kita menyimak betul perjalanan sejarah seni rupa Indonesia, absennya seniman wanita seperti sebuah kesengajaan” (Arbuckle, 2004). Yang dimaksud dengan “kesengajaan” di sini mengandung argumen bahwa bukannya tidak ada cukup banyak perempuan dalam dunia seni di Indonesia. Melainkan, terdapat struktur patriarkis yang seperti dengan sengaja mengabaikan dan menyingkirkan peran perempuan dalam perkembangan seni Indonesia. Mulai dari konsep “Bapak” dalam penciptaan kanon seni modern, politik Ibuisme rezim Orde Baru yang menginfantilisasi praktik seni perempuan sebagai “hobi” semata, sampai pewajaran kekerasan berbasis gender yang berlangsung dalam berbagai level di ruang-ruang seni kontemporer.

Judul Tangannya Putus Satu diambil dari karya IGAK Murni Asih (1966-2006), seniman perempuan Bali yang karya-karyanya mengeksplorasi seksualitas di luar narasi hegemonik tentang feminitas. Dalam konteks kegiatan Wikipedia Edit-a-thon kali ini, Tangannya Putus Satu dijadikan sebagai penanda kepincangan gender, yang kemudian memantik upaya bersama dalam mengerahkan tangan-tangan para Wikipediawan untuk menuliskan lebih banyak entri tentang perempuan dalam seni di Indonesia.

Kegiatan menulis Wikipedia dengan perspektif feminis secara marathon dan bersama-sama, lebih dari sekedar niat untuk menambahkan jumlah entri tentang seniman perempuan Indonesia di Wikipedia. Bersedekap dengan berbagai inisiatif Feminist Wikipedia Edit-a-thon yang digelar di berbagai belahan dunia sepanjang bulan Maret, kegiatan ini diharapkan dapat menghembuskan napas panjang dialog tentang ketidakadilan gender dalam konteks praktik seni di Indonesia, dengan pertama-tama menjadikan Wikipedia sebagai situs bersama dalam mengklaim kembali posisi perempuan dalam sejarah seni.

Kegiatan ini merupakan kerjasama Kunci Cultural Studies Center, Indonesian Visual Art Archive dan Wikimedia Indonesia. Akan dilangsungkan pada:
Jumat, 23 Maret 2018,
Pukul 13.00 – Pk. 17.00
di Indonesian Visual Art Archive, Yogyakarta

Informasi kegiatan:

  • Terbuka untuk umum untuk partisipasi dari berbagai disiplin, namun terbatas untuk 20 orang peserta. Untuk mendaftar klik http://bit.ly/Tangannyaputus1 
  • Tidak dibutuhkan keahlian khusus mengedit halaman Wikipedia untuk mengikuti kegiatan ini. Satu jam pertama akan diisi dengan pelatihan dasar membuat dan mengedit halaman Wikipedia yang difasilitasi oleh tim Wikimedia Indonesia.
  • Peserta harus membawa laptop dan charger sendiri.
  • Perpustakaan IVAA memiliki bahan-bahan berupa dokumen, katalog dan buku yang dapat digunakan sebagai sumber penulisan. Peserta juga dapat membawa bahan-bahan penulisan lain.

PROGRAM MAGANG IVAA – 2018

 

Mengawali tahun 2018, IVAA kembali membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum untuk menambah pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa.
Dalam kesempatan kali ini, kawan-kawan dapat memilih 4 bidang kerja yaitu:

 

  1. Dokumentasi
  2. Perpustakaan
  3. Pengarsipan
  4. Program Keredaksian

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

#SOROTANDOKUMENTASI Januari-Februari 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Sekitar 13 peristiwa seni yang tercatat di penerimaan dokumentasi IVAA dalam periode ini, di antaranya kerjasama dengan Museum Taman Tino Sidin berkaitan dengan pameran Sketsa Mengenang Batara Lubis (salah satu pelukis angkatan sanggar pelukis rakyat tahun 1960-an). Di bulan Februari juga berlangsung “Festival Guyub Murub, festival berlokasi di pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Diikuti beberapa seniman dari berbagai bidang; seni rupa, seni pertunjukan, seni media, dan sebagainya, acara ini merupakan bentuk solidaritas seniman pada isu agraria di Yogyakarta.

Tiga kawan magang di bidang dokumentasi banyak membantu kami di bulan Desember 2017-Februari 2018, yaitu Lauren Paterson dari Australia yang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies), Sebastian Advent mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sagita Rani mahasiswi Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan Media Rekam – Fotografi. Kawan-kawan kami ini berkontribusi dalam kerja dokumentasi, pencatatan arsip, pengolahan arsip, hingga pengelolaan berbasis online IVAA.

Beberapa hasil dokumentasi yang kami kerjakan bersama ini, diantaranya ialah; video tentang pameran bertajuk “900 MDPL”, program yang di kuratori oleh Mira Asriningtyas (Lir Space) ini, merupakan sebuah proyek seni site-specific di Kaliurang, sebuah desa di selatan kaki Gunung Merapi. Bertujuan merespon ruang dan mengumpulkan cerita, program ini berharap bisa menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan antara seniman dan warga setempat.

Sedangkan dalam sektor internal IVAA, guna meningkatkan kerja-kerja dan pelayanan pengarsipan, kami menyelesaikan catatan Standard Operating Procedures (SOP) untuk bidang dokumentasi, pengarsipan, pengelolaan portal online, dan perpustakaan. SOP ini akan mempermudah kami dalam memahami kronologis dan mengevaluasi workflow yang selama ini berlangsung. Dalam diskusi dan penyusunanya, kami di bantu oleh Melisa Angela.

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Benih 900 Mdpl

Oleh: Dwi Rachmanto

Pagi itu saya berangkat bersama Advent, kawan magang IVAA yang menangani dokumentasi foto, menempuh dua jam perjalanan dari tengah Kota Yogyakarta menuju acara yang berlokasi di Kaliurang, kaki bukit kecil di selatan Gunung Merapi. Kaliurang sendiri termasuk wilayah Kabupaten Sleman yang kurang lebih berjarak 25 Km dari pusat kota. Para geolog Belanda mengatakan bahwa dulu Kaliurang difungsikan sebagai situs peristirahatan di zaman kolonial. Kini, Kaliurang menjadi tempat wisata alam yang populer dengan udaranya yang sejuk, dan potensi alam dari hasil erupsi Gunung Merapi.

Anggun Priambodo, Dimaz Maulana, Dito Yuwono, Edita Atmaja, Eva Olthof, Maryanto, Mella Jaarsma, Sandi Kalifadani, Simon Kentgens adalah 9 seniman dari berbagai bidang yang terlibat dalam proyek seni dengan bertajuk “900 mdpl” ini. Tajuk ini terinspirasi dari letak Kaliurang yang berada di ketinggian rata-rata 900 meter di atas permukaan laut. Proyek seni ini ingin merespon ruang dan mengumpulkan cerita, dengan harapan mewujudkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang melibatkan komunitas warga lokal melalui kerja seni kolaboratif.

Udara yang sejuk di Kaliurang membuat kami bersemangat menghadiri pembukaan ini, meskipun menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Kami langsung bertemu Mira Asriningtyas (kurator, sekaligus penggagas proyek ini). Mira merupakan akamsi  (anak kampung sendiri) di wilayah kaki bukit Merapi. Dia juga mendirikan dan mengelola art space bernama Lir Space di Kota Yogyakarta. Kemudian Mira menyambut kami dengan sepasang cangkir teh panas sebagai penawar dingin, sekaligus teman percakapan tentang rangkaian proyek ini.

“900mdpl” terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, masa residensi yang menghasilkan proyek seni tunggal dari masing-masing seniman. Di sini setiap seniman melakukan riset di tengah-tengah masyarakat untuk memperdalam gagasannya. Bagian kedua yaitu presentasi karya secara bersamaan di beberapa lokasi berbeda di Kaliurang. Konsep ini menarik karena dinikmati dengan berjalan kaki mengunjungi setiap sudut lokasi. Jalan kaki menjadi aspek partisipatif yang kemudian melahirkan ruang pengalaman yangsecara aktif menjalin narasi antar karya setiap seniman.

Acara ini diawali dengan perkenalan project “900mdpl” di Rumah Makan Joyo. Pengunjung digiring untuk mengikuti narasi pertama dengan mengunjungi lokasi dari karya seni Maryanto. Berada ada di bekas rumah Lik Sigun, yang dipenuhi dengan memori kolektif dan anekdot lokal tentang seorang pria unik. Selama hidupnya, Lik Sigun hidup damai di rumah tersebut, terbebas dari dunia yang riuh dan bising. Kini, rerumputan liarmemenuhi seluruh ruang rumah yang lama tak terpakai itu. Namun, Maryanto yang merapikan rumah itu dan menemukan peninggalan-peninggalan patung serta barang menarik lain.

Kemudian, setelah Maryanto, kami diajak ke sebuah penginapan dan cafe yang melegenda, yaitu Vogels. Seniman yang berkarya di sana adalah Mella Jaarsma. Mella adalah warga Belanda yang menetap di Yogyakarta sejak tahun 80an. Mella menuntaskan rindu terhadap negaranya yang dingin dengan mengunjungi Kaliurang. Dalam proyek seni ini dia membuat karya performatif memasak coklat dan susu yang bisa dinikmati tiap pengunjung dan pemilik cafe. Selanjutnya secara berurutan kami diajak mengunjungi karya Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Dimaz Maulana, Sandi Kalifadani, Edita Atmaja, Eva Olthof, Simon Kentgens. Di akhir kami kembali ke Rumah Makan Joyo.

“900mdpl” diproyeksikan sebagai benih dari proyek seni site-specific yang berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya. Dengan gagasan utama menawarkan ruang yang penuh dengan berbagai potensi kemungkinan, sekaligus meleburkan batasan subjek dan objek seni dengan seniman ditantang untuk berkolaborasi dengan masyarakat/publik secara langsung.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.