Category Archives: Kabar IVAA

Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi

Oleh: Willy Alfarius (Kawan Magang IVAA)

Jumat sore 18 Mei 2018, bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi hari dibukanya Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi. Merupakan pameran arsip berisi kliping dan foto-foto peristiwa unjuk rasa menuntut Reformasi dan mundurnya Soeharto yang terjadi di UGM. Dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. R. Suharyadi, M.Sc dengan sedikit seremoni di halaman Gedung PKKH. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan pagelaran musik yang menghadirkan John Tobing, Sande Monink, Sastra Budaya, Orkes Melayu Dangdut Pembangunan, dan Forum Musik Fisipol.

Acara yang berlangsung selama 18-20 Mei 2018 ini tidak hanya menampilkan foto-foto yang menggambarkan mahasiswa turun ke jalan, tetapi menunjukkan kalangan akademisi hingga Rektor UGM menyatakan sikap mendukung segera dilaksanakannya Reformasi. Hampir semua aksi yang berlangsung di seputaran UGM diakhiri bentrokan dengan aparat keamanan. Berbagai aksi berlangsung di Yogyakarta pada minggu-minggu menjelang Mei 1998. Hingga puncaknya pada acara Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara, sehari menjelang Reformasi bergulir yang dihadiri langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagian besar foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini berasal dari koleksi Arsip UGM. Sedangkan kliping berita yang dipamerkan hampir semua berasal dari majalah mahasiswa Balairung, serta beberapa surat kabar lokal.

Lengsernya Suharto dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 21 Mei 1998 menjadi babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gelombang reformasi menjadi penanda dimulainya penataan kembali berbagai struktur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan berbagai elemen mendasar lainnya. Tahun 2018 ini menjadi momentum 20 tahun Reformasi yang kemudian dirayakan dengan bermacam-macam acara yang digelar oleh berbagai pihak di Indonesia. Tidak terkecuali Forum Komunikasi (Forkom) Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga mengadakan kegiatan peringatan dua dekade Reformasi dengan judul 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi.

Forkom sendiri adalah sebuah perkumpulan dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa di UGM yang bermarkas di Gelanggang Mahasiswa. Ide acara peringatan ini muncul dengan dilandasi gagasan bahwa dua dekade lalu, reformasi lahir salah satunya dari pergerakan mahasiswa di kampus. Gelanggang Mahasiswa menjadi salah satu titik kumpul bagi pergerakan mahasiswa di Yogyakarta untuk merumuskan aksi, strategi, hingga benteng pertahanan ketika aksi unjuk rasa dilangsungkan di berbagai titik seperti Boulevard, Bunderan, dan Gedung Pusat UGM. Dalam rilis pers yang dikeluarkan panitia, disebutkan bahwa acara ini bertujuan untuk membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa dalam mengawal pemerintahan sekarang. Acara ini sekaligus sebagai penegasan bahwa unit kegiatan mahasiswa juga memiliki andil dalam berbagai pergerakan mahasiswa.

Selain pameran arsip, juga digelar acara bincang-bincang yang menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan akademisi yang mengalami langsung peristiwa bersejarah tersebut. Para hari kedua acara, bincang-bincang dengan tema “Mengenang 1998” dimulai pada pukul 20.00 dengan menghadirkan Ika Dewi Ana (mantan aktivis mahasiswa ’98), Peter Kasenda (sejarawan), dan Muhammad Nurkhoiron (alumnus UGM dan anggota Komnas HAM). Ketiga pembicara menghadirkan kisah berupa kesaksian mereka yang mengalami secara langsung berbagai aksi dan peristiwa dalam proses Reformasi 1998. Sedangkan pada hari ketiga sekaligus penutupan acara menghadirkan Agus Suwignyo (Dosen Sejarah UGM), Max Lane (peneliti di Fisipol UGM), dan Agus Wahyudi (Dosen Filsafat UGM). Tema dari talkshow ini adalah “Indonesia Setelah 20 Tahun Reformasi”. Ketiganya memberikan ulasan dan pandangannya bagaimana kemudian Reformasi ini berjalan, dan berbagai perubahan maupun stagnasi yang terjadi pasca-Orde Baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945

Oleh: Hardiwan Prayoga

Masih dalam rangkaian perjalanan di Jakarta, kali ini Tim Arsip IVAA mengikuti seluruh rangkaian acara 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 yang bertempat di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Benang merah yang diangkat dari acara ini adalah pengaruh yang ditinggalkan Jepang pada pasa pendudukannya selama 3,5 tahun di Indonesia. Acara yang berlangsung dari 7-10 Mei 2018 ini pada dasarnya berbasis arsip, yang lebih lanjut dijadikan sandaran untuk eksplorasi seni. Dari situ, hasil eksplorasi dimunculkan dalam bentuk presentasi hasil riset, lini masa pendudukan Jepang dari segi sosial politik dan seni-budaya, seni pertunjukan, pemutaran film dan simposium.

Kita dapat langsung melihat poster-poster propaganda, lukisan-lukisan seniman Jepang pada masa itu, ruang gelap yang berisi profil-profil seniman Indonesia di masa itu, hingga video. Koleksi ini diambil dari keluarga Saseo Ono, salah satu seniman Jepang, dan dari

The NIOD (Institute for War, Holocaust and Genocide Studies is an organisation in the Netherlands). Sedangkan lini masa dicetak dalam kursi-kursi yang tersebar di sekitar lokasi pameran. Pameran riset ini berjalan penuh dari pembukaan acara tanggal 7 Mei hingga penutupan tanggal 10 Mei.

Sementara itu, pertunjukan berlangsung pada tanggal 9 Mei 2018. Dengan mengangkat cerita berjudul Ayahkoe Poelang. Kemudian ditanggal 10 Mei sebelum penutupan dipentaskan juga dramatic reading. Pentas teater ini masih dielaborasi dalam upaya menampilkan arsip yang lebih performatif tanpa kehilangan konteksnya. Selain itu juga diadakan screening film, pada tanggal 9-10 Mei. Dengan mengambil jeda waktu antara simposium dan pertunjukan teater, yaitu dari pukul 18.00-19.00. Film yang di-screening adalah film-film yang diproduksi Jepang sebagai salah satu media propaganda. Maka film-film ini tidak jauh dari kisah seputar cara membuat dan menggunakan bambu runcing, keuntungan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), hingga janji dan citra bahwa Jepang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa Eropa.

Kemudian satu sub acara yang cukup menjadi perhatian dari Tim Arsip IVAA adalah simposium. Simposium diadakan sebanyak 3 kali, pada tanggal 8-10 Mei. Simposium hari pertama yang dimoderatori oleh JJ Rizal mempresentasikan 3 riset berjudul “Riset dan Pengembangan Bekraf” oleh Wawan Rusiawan, “Media Massa Pada Masa Pendudukan Jepang Kasus Djawa Baroe” oleh Ignatius Haryanto, dan Surat Menyurat Pada Masa Perang: Kasus Survival Komunitas Gerejani Pada Masa Jepang” Oleh G. Budi Subanar, SJ. Dilanjutkan pada simposium II dihari berikutnya, oleh Antariksa dan Fandy Hutari yang masing-masing mempresentasikan penelitiannya dengan judul “Kemakmuran Bersama: Seni Rupa dan Desain Pada Masa Pendudukan Jepang”, dan “Sandiwara Pada Masa Pendudukan Jepang”, dengan moderator Ugeng T. Moetidjo. Simposium III sekaligus salah satu penutup rangkaian acara ini berjudul “Arsip dan Praktik Seni di Luar Tubuh Sejarah” oleh Antariksa, Fandy Hutari, Dendi Madya, Haryo Hutomo, dan Riosadja. Simposium III lebih mengarah pada wicara penyelenggara, yang banyak bicara seputar proses kreatif hingga akhirnya terlaksana acara ini. Mulai dari ide dari komite teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membuat suatu program pameran, hingga kemudian mengajak Antariksa untuk menjadi kurator sekaligus ruang untuk memamerkan dan mendiskusikan hasil risetnya. Dari sekian banyak ide yang terlontar, akhirnya diputuskan bahwa acara berbasis arsip ini direspon dengan berbagai bentuk seni kontemporer, sebagai upaya mengkontekstualisasi arsip-arsip masa lalu dengan praksis masa kini tanpa menghilangkan esensi dan nilai peristiwanya.

Dari tiga kali simposium, IVAA cukup menyoroti simposium II yang lebih fokus pada praktik seni pada masa pendudukan Jepang. Antariksa mempresentasikan bagaimana masa singkat pendudukan Jepang berpengaruh pada perkembangan seni rupa indonesia. Antariksa mengawali presentasi dengan kedatangan Jepang ke Indonesia yang disambut gembira dikarenakan keyakinan bahwa Jepang akan memerdekakan Indonesia. Keputusan yang juga didukung elit politik ini berimbas pada seniman yang akhirnya bekerja pada lembaga-lembaga propaganda Jepang. Jepang adalah negara yang sangat sadar pada kekuatan seni sebagai media propaganda. Berbeda dengan barat, Jepang menggunakan propaganda dengan prinsip kejujuran, hanya saja kejujuran yang sudah melalui skema filtering.

Jepang yang ketika itu diembargo oleh Amerika dan sekutunya, membuat poros segitiga dengan Nazi dan Italia. Kondisi yang kemudian sangat mempengaruhi ketersediaan material dan bahan baku seni rupa yang menjadi terbatas. Pada masa perang ini, Jepang mengirim senimannya ke negara jajahan hingga lokasi-lokasi konflik. Seniman-seniman inilah yang banyak melukiskan kondisi perang sebagai salah satu narasi propaganda. Seniman-seniman Jepang ini tinggal di berbagai daerah di Indonesia, seperti Saburo Miyamoto yang pernah pameran tunggal di Manado tahun 1943, Suro Tagoro seorang pengajar seni dari Tokyo yang pernah tinggal di Bukittinggi. Kehadiran seniman ke daerah-daerah ini menciptakan desentralisasi seni dengan tidak hanya di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, tetapi menyebar hingga ke Jember, Dili, Manado, Bukittingi dan lain-lain. Selain itu, mereka yang didatangkan ke Indonesia adalah Takashi Kono, Rintaro Takeda, Seizen Minami, Saseo Ono, Soichi Oya, Eitaro Hinatsu, dan Ryohei Koso. Takashi Kono adalah seniman yang bekerja di agensi propaganda Jepang, memperkenalkan teknik-teknik grafis, montase, hingga stopmotion pada seniman Indonesia. Banyak bekerja sama dengan Soichi Oya sebagai copywriternya. Kemudian Yonosuke Natori, yang disebut sebagai bapak foto jurnalisitik Jepang, menerbitkan majalah Nippon, majalah seni visual pertama di Asia dan didistribusikan dalam 5 bahasa ke seluruh dunia. Nippon versi Indonesia berjudul Djawa Baroe. Selain mendatangkan seniman, Jepang juga membentuk lembaga-lembaga seperti Keimin Bunka Shidoso, secara singkat dapat diartikan sebagai institusi pemandu seni dan budaya.

Berbeda dari Belanda, Jepang membuat seni menjadi populis, mulai dari akses ruang pamer, hingga edukasi gratis. Ini mengakibatkan meledaknya perkembangan estetika dengan gagasan seni rupa barat. Kenapa barat? Karena Jepang ingin menunjukkan bahwa mereka menguasai teknik barat lebih baik dari barat itu sendiri. Dengan kata lain mengakuisisi keahlian barat yang kemudian digunakan ulang untuk kepentingan bangsa, artinya Jepang dan Indonesia saling diuntungkan. Jepang membebaskan seniman Indonesia menggunakan gaya estetik apapun asal tidak mengkritik Jepang. Pengaruh Jepang pada seni rupa memberikan narasi baru, bahwa kepentingan Jepang di Indonesia tidak hanya soal militer dan perang. Seni yang berhasil dibuat populis ini menyadarkan publik saat itu akan pekerjaan yang tidak melulu kerja kasar/ buruh tetapi juga bisa menjadi seniman. Periode ini sekaligus mengenalkan bahwa seni mulai digunakan sebagai pernyataan politik.

*Dokumentasi pameran ini dapat diakses di Archive Online IVAA, dan buku program 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 dapat diakses di perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Mengenal Catatan dan Arsip dalam Pameran Namaku Pram

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Pameran catatan dan arsip yang bertajuk Namaku Pram mengingatkan kita akan pentingnya arsip, catatan, dan menulis. Suasana galeri dengan iringan musik instrumental membawa pengunjung mengingatkan kembali fase-fase era kehidupan Pram. Pameran catatan dan arsip ini berlangsung di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, 17 April – 3 Juni 2018.

Publik akan disuguhi berbagai macam artefak kehidupan Pram. Pertama melalui lini masa perjalanan saat beliau masih kecil hingga menjelang wafatnya. Membaca secara kronologis jejak hidup Pram mulai dari pertemuannya dengan dunia penulisan, hingga pilihan ideologi politik yang membawanya terasing di tanahnya sendiri.

Semua benda catatan dan arsip yang dipamerkan adalah koleksi keluarga Pram, dan ini adalah pertama kalinya untuk dipertunjukkan di hadapan publik. Berbagai macam catatan ikut dipamerkan, termasuk tulisan Pram di atas kertas semen, karena dalam pengasingan di Pulau Buru tahanan politik dilarang memegang kertas, sehingga Pram hanya bisa menulis di kertas semen.  Surat–surat untuk Pram pada masa pengasingan dari anak dan istri juga masih tersimpan rapi dan ikut dipamerkan. Surat-surat yang menyentuh perasaan karena berisi mulai dari cerita kerinduan hingga nilai rapor dan kenaikan kelas anak-anaknya. Juga yang tentu saja ikut dipajang adalah foto – foto Pram bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Maemunah bagi Pram adalah belahan jiwanya, meskipun ia adalah istri kedua. Maemunah adalah sosok perempuan hebat. Perempuan yang tidak pernah menuntut apapun dari Pram, membebaskan kehendak Pram, setia dalam masa pengasingan, dan selalu menerima apa adanya. Beberapa barang pribadi, pemberian teman, penghargaan cukup memuaskan dan akan menghabiskan waktu yang cukup panjang jika ingin diperhatikan satu per satu. Satu yang menarik juga adalah replika ruang kerja Pram, lengkap dengan mesin tik yang selalu ia gunakan saat menulis, pakaian putih, sarung, celana, asbak, kacamata, meja, kursi, sampai beberapa piagam penghargaan.

Himbauan yang paling penting pada pameran catatan dan arsip ini adalah larangan untuk memotret arsip–arsip Pram. Khusus untuk arsip yang terdiri dari teks, dikarenakan permintaan dari pihak keluarga. Catatan harian Pram di Pulau Buru, surat-surat dari keluarga Pram, foto-foto keluarga, dan lini masa dilarang untuk diabadikan melalui lensa kamera. Pameran ini dihadirkan sebagai pengenalan kembali jejak panjang karya sastrawan besar Indonesia ini. Harus diakui bahwa masuknya buku-buku Pram dalam daftar buku putih di masa orde baru membuat namanya hanya dikenal sebatas nama. Sementara itu karya sastra Pram memiliki kekayaan narasi yang bisa menjadi penanda zaman, penanda atas cerita tentang kekuasaan, perlawanan, kesetiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Made of: Stories of the Material

Oleh Dwi Rahmanto

5 Mei 2018 di Yogyakarta menawarkan beberapa pembukaan pameran dalam waktu hampir berbarengan, selain yang paling dekat dengan Galeri Lorong yaitu Gadjah Galeri dengan pameran seni rupa dan performance art, Medium at Play. Dari sekian banyak pameran seni rupa di bulan April – Mei, saya tertarik datang ke pameran Made of: Stories of the Material, pameran ini di gagas oleh Galeri Lorong. Galeri Lorong merupakan salah satu galeri seni yang didirikan oleh Alloysius Suko Widigdo, Maria Ambar Sulistyowati dan Yoshi Fajar Kresno Mukti. Galeri yang didirikan di akhir tahun 2013 ini merupakan ruang pamer yang menjadikan kriya sebagai konsep dan titik tekan. Galeri ini berlokasi di Dusun Jeblok, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau jalan utama Kampung Nitiprayan dan Jeblok. Dusun yang memang dikenal sebagai dusun seniman, karena banyaknya seniman yang bertempat tinggal di situ.  

Pameran dibuka pada pukul 5.30 WIB oleh Arham Rahman (kurator Galeri Lorong) dan Adelina Luth (Kurator lepas). Pameran ini juga merupakan kerjasama dengan ARCOLABS, yang berdiri tahun 2014 sebagai The Center for Art and Community Management yang merupakan bagian dari Universitas Surya di Tangerang.Project kerjasama ini mengundang lima perupa muda dengan pendekatan karya yang beragam. Mereka adalah Abud Andri William, FJ Kunting, Gintani Swastika & Yahya Dwi Kurniawan, Julian Abraham ‘Togar’, Yosefa Aulia. Mereka bukanlah seniman yang bermain di ranah seni kriya, tetapi nampaknya justru menjadi tantangan tersendiri. Juga dalam pameran ini tidak menampilkan secara spesifik apa itu kriya, tetapi mengambil gagasan-gagasan seni kriya dalam bentuk seni rupa kontemporer. Dalam sambutanya, Arham berkata bahwa pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik-praktik kerajinan tidak hanya tunduk pada materialitas, tetapi lebih pada aspek relasional dari prosesnya. Pameran bersama ini mengeksplorasi tiga elemen inti kerajinan sebagai cara berpikir dan membuat -bahan, asal-usulnya, dan prosesnya tersirat- untuk mengungkapkan cerita yang tak terhitung jumlahnya dari dimensi sosial dan budaya yang melekat.

Hal ini terlihat dalam presentasi karya yang beragam, mulai dari instalasi, performance art, keramik, video dan sebagainya. FJ Kunting dalam pembukaan mempresentasikan karya instalasi dan performance art. Kunting menciptakan alat untuk membuat batu cincin, dan memajang berbagai model batu dan bentuk cincin yang sudah siap di pakai. Proses membuat batu cincin ini dipadukan dengan efek-efek suara, yang kemudian memunculkan narasi suara-suara beragam, saling beradu baik dari alat pembuat batu cincin hingga interaksi Kunting saat melakukan performance art. Perpaduan alat manual membuat batu akik dan sound noise/delay menggambarkan bagaimana situasi saat itu dengan dinamika yang sangat mengambang.

Dalam wawancara saya dengan Kunting, dia menjelaskan banyak aspek pencarian data dan cerita soal batu akik. Mulai dari booming yang terjadi di berbagai kelas ekonomi masyarakat hingga cerita soal batu akik pacitan yang dijadikan pemberian kepada Barack Obama, oleh SBY sewaktu keduanya merupakan presiden hingga eksploitasi alam. Kemudian Togar juga bermain-main dengan efek suara. Dari karyanya, dia berbentuk Gong dan Air, suara bergema yang muncul saat suara gong di dalam air cukup menggelitik, seperti suara bergerumuh saat gempa. Eksplorasi lain yang bisa dijumpai dari kolaborasi Gintani Yahya yang menarasikan sejarah minuman keras oplosan dengan nama “Santoso”, yang sangat terkenal di kalangan Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2008.

Pameran ini merupakan satu dari serial program berjudul ‘Back to Craftmanship Series’, Galeri ini berupaya mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan kriya. Seniman-seniman yang dipilihnya merupakan seniman lintas generasi, dengan bermacam pendekatan, yang sengaja dihadirkan agar muncul percakapan dan pertukaran pengetahuan. Di awal kehadirannya pun, galeri ini juga sempat menghadirkan karya-karya dari seniman yang dekat dengan pendekatan tradisi, seperti seniman wayang Sulasno, pelukis kaca yang sangat kuat dalam bertungkus lumus dengan mediumnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2: Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa

Oleh Elis dan Rossella (Kawan Magang IVAA)

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 digelar pada  9-13 Mei 2018 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini diikuti oleh 40 peserta hasil seleksi terbuka dan 46 peserta undangan, dengan menampilkan 110 karya yang tersaji dalam karya yang sifatnya utuh dan instalasi. Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 merupakan program dari Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik lndonesia. Pameran bertema “Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa” ini merupakan lanjutan dari kegiatan pameran Undagi #1 yang digelar dua tahun lalu. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah pameran Undagi #2 karena sebagai wilayah dengan memiliki tradisi pengembangan ilmu seni kriya yang didukung keberadaan lembaga pendidikan tinggi seni kriya tertua di lndonesia, yakni Jurusan Kriya Institut Seni lndonesia (lSI) Yogyakarta, 5 Sekolah Menengah lndustri Kerajinan (SMIK), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan komunitas-komunitas seni kriya, mulai dari Keramik Kasongan, Batik lmogiri, Perak Kota Gedhe, Batik Pandak Bantul, Keris Banyusumurup, dan lainnya.

Pembukaan pameran ini diramaikan dengan berbagai macam aksi, mulai dari tari-tarian hingga peragaan busana, yang menampilkan karya-karya bercorak etnik berbahan lurik, tile, spon ati dan bahkan tikar mendong. Desainer-desainer yang meramaikan acara ini antara lain Phillip Iswardono, Isyanto, Novi Bamboo.Dalam katalognya, dituliskan bahwa pameran ini ingin merefleksikan kekayaan alam dan budaya lndonesia yang beragam, yang selama ini menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni kriya. Seni-budaya peninggalan nenek moyang adalah hasil kesenian tradisi yang memiliki nilai keindahan dan filosofis. Pameran ini menekankan resepsi atas karya-karya masa lalu yang dielaborasi oleh para kriyawan, sehingga memiliki nilai artistik dan nilai guna yang tinggi.

Sedangkan istilah ‘undagi’ biasanya dipakai untuk menyebut profesi yang selama ini kita kenal sebagai arsitek. Menurut tradisi, sebelum menekuni profesi undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan diri lahir-batin. Syarat ini wajib dijalani seorang undagi, agar dalam proses perancangan dan penciptaannya selaras dengan alam, tradisi dan religi. Ia harus paham filosofi yang mendasari konsep desain dan fungsi dari setiap bagian produk seni kriya yang mengekspresikan dimensi estetis dan etis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Metafora #4 “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Metafora merupakan pameran seni kriya tahunan dari jurusan Kriya ISI Surakarta. Metafora edisi ke 4 ini bertema “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”. Diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang berarti mengetahui atau melihat, mengakrabi, dan menjiwai dalam bekeria. Tema ini, mengutip dari katalog pameran, dimaksudkan untuk merangkum narasi praktek kesenimanan kriya secara utuh dan mendalam. Kriya sebagai seni yang masih mengutamakan sentuhan langsung antara tubuh dengan mediumnya, memang menuntut relasi khusus antara seniman dengan tekniknya, yang pada tahap lebih lanjut bisa dimaknai sebagai pilihan-pilihan politis.

Melalui spirit ini, Metafora #4 memberanikan diri untuk unjuk gigi dengan mendatangkan partisipan dari pihak dosen dan mahasiswa, meskipun tidak sejurusan namun pihak panitia masih membuka kesempatan bagi mereka yang mempunyai keahlian dan keterampilan di bidang itu. Pameran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 3 – 5 Mei 2018, bertempat di Museum Keris Solo. Kurator membagi dua kategori utama wujud presentasi karya dalam pameran ini. Pertama yang tergolong kekaryaan media dwimatra (kain, kertas, kulit). Kedua adalah kekaryaan bersifat trimatra (topeng, panil, benda hias, keramik). Selama pameran berlangsung panitia memberi suguhan beberapa kegiatan seperti Workshop Batuk Bandana, Workhsop Keramik, Workshop Transfer Paper, Workshop Nempa Keris, Workshop Pyrography, Workshop Key Chain, Bedah Karya, dan Mural. Museum Keris Solo yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu kini mulai dipadati dengan kegiatan kesenian yang mulai ramai, dari kegiatan masyarakat hingga instansi kampus.

Pameran yang dibuka oleh Rektorat kampus, Dinas Pariwisata, dan Soegeng Toekio ini menghadirkan lebih dari 70 karya dari berbagai instansi kampus undangan. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Bali namun panitia tetap membuka siapapun bagi yang ingin mengikuti. Spirit ini tetap dibawa dengan kesadaran bahwa pameran bagi penggiat seni adalah kebutuhan yang wajib, dan arena bagi pertanggungjawaban karya seninya. Karya-karya dalam pameran ini menunjukkan berbagai macam teknik dalam kriya, seniman-seniman yang aktif merespon bagaimana perkembangan di era sekarang, yang bahkan tidak terbatas hanya pada teknik, tetapi juga wacana. Dengan hadirnya delegasi dari beberapa kampus ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, Universitas Brawijaya Malang, ISI Padang Panjang, IKJ Jakarta, UNS Solo, UNY Yogyakarta, ASDI Surakarta, dan ISI Denpasar semakin merekatkan relasi sosial antara perupa muda dan jejaringnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Rangkaian kunjungan ke Rumah IVAA Studi Ekskursi Program Studi Arsitektur UTY  dan Balai Penelitian Batik

Oleh Elis Sriwahyuni (Kawan Magang IVAA)

IVAA adalah suatu lembaga arsip yang membuka peluang informasi bagi setiap masyarakat, baik dari lembaga hingga universitas, dan berbagai kalangan (peneliti, mahasiswa, waratan, seniman, kurator, dan lain-lain) dengan tidak membatasi siapa saja yang mau berkunjung. Seperti halnya pada tanggal 3 mei 2018, IVAA mendapatkan kunjungan sekitar 80 mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dari program studi Arsitektur, Fakultas Sains & Teknologi dalam rangka kegiatan Studi Ekskursi mata kuliah Sejarah Arsitektur Indonesia.

Kunjungan ini menjadi kesempatan berbagi pengalaman, cerita tentang ruang seni, konsep ruang, dan pengarsipan. Para mahasiswa ini cukup antusias dan merespon dengan baik penjelasan dari IVAA, yang diwakili oleh Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayoga, dan Santosa. Mereka bertiga bercerita cukup panjang tentang sejarah berdirinya IVAA, lengkap dengan dinamika ruangnya. IVAA yang berdiri pada 1995 telah melakukan 2 kali perpindahan, pertama di Ngadisuryan, kemudian pindah ke Patehan Tengah, dan sejak 2011 mulai menempati “rumah” sendiri di Dipowinatan. Dwi Rachmanto dan Santosa yang sudah bergabung dengan IVAA sejak 2003 bercerita bahwa konsep Rumah IVAA yang sekarang, disebut sebagai yang paling ideal karena sudah milik sendiri. Dengan kata lain, desain ruang IVAA dibuat senyaman mungkin untuk kegiatan belajar dan diskusi. Namun sekaligus tidak melupakan standar keamanan, karena juga berfungsi sebagai rumah penyimpan arsip. Desain rumah yang didominasi oleh bahan kayu, dimaksudkan agar Rumah IVAA jauh dari kesan mewah yang dapat membuat sungkan publik untuk berkunjung. Setelah sesi “kuliah” singkat ini, para mahasiswa ini berkeliling melihat-lihat setiap ruangan yang ada di IVAA. Mereka melihat dengan cukup detail mulai dari perpustakaan di lantai 1 dan 2, ruang arsip, ruang server, dan ruang editing dokumentasi.

Dalam kesempatan berbeda 18 Mei 2018, IVAA juga mendapat kunjungan dari Balai Penelitian Batik. Kunjungan ini lebih dalam tujuan melihat IVAA mengelola arsip dan hal-hal teknis yang berkaitan dengannya. Balai Penelitian Batik dalam waktu dekat ini sedang akan membangun basis kerja kearsipan, yang sesuai dengan kebutuhan baik secara penelitian maupun kelembagaan. IVAA sebagai lembaga yang bekerja untuk publik, selalu membuka kesempatan bertukar pengalaman dan cerita dengan siapapun tentang bagaimana mengelola ruang seni sebagai salah satu wadah diseminasi pengetahuan.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Musrary #11 Stickman

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Musrary sebagai agenda bulanan Rumah IVAA kembali hadir untuk menyajikan penampilan dan membuka ruang interaktif antara musisi dan pendengarnya. Musrary #11 berlangsung pada hari Kamis, 25 April 2018 pukul 19.00-selesai. Menampilkan live session dari band asal Yogyakarta, Stickman. Mereka tampil di Rumah IVAA setelah merilis album pertamanya Lawan Diri, pada bulan Februari lalu dibawah label Otakotor Record. Stickman terdiri dari Kiat Istiqomah (lead vocal & bass), Muhammad Rifqi Rihza Rahman (gitar & backing vocal), Satya Chandra (gitar), Riska Nopitawati (backing vocal) dan Aditya Nugraha Surya Saputra (drum). Format dari kelima personil ini awalnya adalah trio yang sudah beberapa tahun dipertahankan. Nama “Stickman” diperoleh dari ketiga pendiri band ini yang kesemuanya adalah drummer. Trio drummer ini berinisiatif untuk membentuk satu grup musik. Kini, ketiganya justru tidak memainkan drum, beralih ke instrumen lain.

 

Seiring berjalan nya waktu, mereka bertemu dengan kawan-kawan dari satu lingkup yang turut membantu dalam proses eksplorasi musik Stickman. Kemudian menciptakan format yang lebih luas dengan bertambahnya personil. Dipertemukan dalam satu organisasi musik kampus, Riska hadir menjadi bagian dari para mantan drummer ini. Kehadiran Riska sebagai backing vocal perempuan, menambah daya tarik tersendiri bagi Stickman. Suara vokal yang dibawakan memiliki warna dan ciri tersendiri yang merupakan sinkronisasi dari lead dan backing vocal. Mereka mengklaim sebagai band yang beraliran indiepop, namun tidak memberi batasan pada pendengar nya untuk menafsirkan sendiri jenis musik apa yang mereka mainkan. Stickman mengusung lirik-lirik yang religius, magis dan puitis yang dikemas secara apik. Sudut pandang mereka mengutarakan tentang pesan dan perjalanan hidup yang direpresentasikan melalui setiap lagu dalam album Lawan Diri

Penampilan di gelaran Musrary #11 merupakan kali pertama bagi Stickman berformat akustik. Malam itu tidak semua personil hadir dan diganti dengan additional player. Lagu yang mereka bawakan diambil dari album pertama yang baru dirilis, berisikan tujuh buah lagu. Seperti yang berjudul “Iyakan Yang Tidak dan Sebaliknya”. Lagu ini sangat unik karena lirik nya yang repetitif dan durasi lagu yang singkat namun sarat akan makna. Kemudian lagu “Lawan Diri” yang diambil dari album perdana nya dengan judul yang sama. “Kembalikan Indonesia” dibawakan pula oleh mereka. Lagu ini adalah single pertama dari Stickman yang dirilis pada 2014, dan menjadi bagian dari album kompilasi Mabes Musik UAD. Lagu ini sebenarnya diciptakan tahun 2013, terinspirasi dari puisi sastrawan Taufik Ismail yang berjudul Kembalikan Indonesia Kepadaku.

Setelah “Kembalikan Indonesia”, mereka merilis lagu berjudul “A.T.N.I.C” pada tahun 2017, yang juga dibawakan pada malam itu. Lagu ini bahkan sudah memiliki video music, dan dapat disaksikan di kanal YouTube Otakotor Record. Dalam video musicnya, “A.T.N.I.C” menampilkan performing art hasil arahan Vikri Ihsan Rohmadi. “A.T.N.I.C” sendiri merupakan kebalikan dari kata C.I.N.T.A.. Lagu yang diciptakan Kiat, sang vokalis, berceritakan tentang hubungan dengan sang pencipta dan sesama manusia. Cinta yang dimaksudkan disini bermakna secara universal. Kiat mempersilahkan pendengar nya untuk memaknai sendiri tentang lagu ini. Stickman akan terus berkarya, meskipun pasti ada rintangan yang menghadang ditengah karir bermusik nya. Setidaknya, karya yang pernah dihasilkan Stickman merupakan artefak dari perjalanan hidup.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Musrary #10 Sombanusa

Oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sombanusa ialah nama panggung dari pria bernama asli Muhammad Asy’ari. Pria kelahiran Ambon ini menggunakan bahasa Tana, bahasa asli daerah-daerah Maluku, untuk menamai proyeknya ini. Sombanusa sendiri terdiri atas dua kata yaitu, Somba yang berarti ‘menyembah atau berbakti’ serta Nusa yang memiliki arti ‘pulau atau tanah’. Bimbim, panggilan Muhammad Asy’ari, lantas berpendapat bahwa Sombanusa dapat diartikan sebagai ‘berbakti pada tanah yang kita tinggali’. Sempat memiliki sebuah band di periode 2017 dengan nama Asteroidea, bahkan membuat grup hiphop di tahun 2009. Bimbim kini lebih memantapkan diri untuk bermusik seorang diri agar tak perlu lagi menemui permasalahan-permasalahan internal dalam sebuah kelompok.

Malam itu, Kamis, 29 Maret 2018, Sombanusa bekesempatan hadir mengisi Musrary #10. Membawakan lima lagu dalam penampilannya, Sombanusa juga menyuarakan pandangannya terkait isu hangat yang sedang terjadi di Kulonprogo. Sebagai salah satu aktivis yang ikut terlibat membela petani Temon, Sombanusa cukup sering terlibat dalam beberapa kegiatan yang menyangkut isu penggusuran Kulonprogo. Hal ini pula yang menginspirasi salah satu karya Sombanusa yang berjudul “Gadis dan Telaga”.

Dengan berdiri memegang gitar akustik serta diterangi cahaya lampu, Sombanusa memulai penampilan sederhananya dengan lagu bertajuk “Menyulam Renjana”. Judul yang cukup romantis meskipun tidak demikian dengan alasan di baliknya. Lagu ini tercipta atas keresahan Sombanusa pada sikap pemuda-pemudi yang melupakan diri untuk peduli pada hal yang terjadi di sekitarnya. Di masa kini, masa yang menurut Sombanusa tidak baik-baik saja, orang-orang lebih memilih untuk bersenang-senang memuaskan eksistensi diri daripada peduli tentang hal-hal yang tidak benar.

Selanjutnya, “Hikayat Nelayan” lantas lalu dimainkan. Sebuah lagu yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Sombanusa. Sebagai seorang yang besar di Pulau Buru, Sombanusa merasakan terdapat pergeseran kebudayaan di sana. Keresahan atas sikap yang mulai melupakan kegiatan yang bersifat adat membuat Sombanusa menciptakan lagu “Hikayat Nelayan” dengan harapan memunculkan instropeksi atas sikap yang telah dipilih. Dimainkan secara apik dengan ciri khas suaranya, Sombanusa kemudian memainkan lagu ciptaan rekannya.

Sebelum penampilannya ditutup dengan lagu “Bahagia Melawan Lupa”, “Gadis dan Telaga” dimainkan terlebih dahulu. Dengan semangat perlawanan atas isu penggusuran yang terjadi, Sombanusa menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi oleh peristiwa di Kulonprogo. Berisikan narasi tentang cinta yang memiliki makna sangat dekat dengan perdamaian, lagu ini memiliki lirik yang sangat tegas menginginkan perdamaian itu dengan frasa “perlawanan abadi” yang berulang.

Sombanusa ialah sebuah kesatuan utuh tentang perlawanan yang menginginkan perdamaian bagi yang tertindas. Di luar itu, pada Musrary ini pula, selain penampilan musik yang dibawakan dengan sederhana nan intim oleh Sombanusa, diselingi pula dengan sedikit dialog terkait isu yang terjadi di Kulonprogo dari beberapa aktivis yang terlibat. Akhir yang adil tentu yang diharapkan atas peristiwa ini. Mengutip kalimat yang sering dibaca dalam media sosial Sombanusa, “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

 

Diskusi Lintas Generasi “Setelah Dua Dekade: Seni Setelah 20 Tahun Reformasi”

Oleh Putri R.A.E. Harbie (Kawan Magang IVAA)

Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengadakan diskusi dengan tema seni sebelum dan pasca-reformasi, Senin (27/5) di Rumah IVAA. Sesi diskusi pertama, yang berlangsung dari pukul 13.00-15.30, fokus pada praktik seni pada masa sebelum hingga transisi reformasi dengan moderator Alia Swastika. Muhamad “Ucup” Yusuf, Gunawan Maryanto, Aji Wartono dan Yustina Neni adalah pembicara dalam sesi pertama ini. Sesi kedua lebih membicarakan praktik seni setelah 1998 dengan moderator Brigitta Isabella dari Kunci Cultural Studies. Sesi ini juga menghadirkan 4 pembicara yaitu Fitri DK, Wok The Rock, Heni Matalalang dan Linda Mayasari. Peserta yang hadir juga beragam, dari yang sepantaran usia dengan pembicara di sesi pertama, hingga generasi sesi kedua yang fokus berkarir pada periode tahun 2000an. Diskusi ini diharapkan menjadi jembatan untuk mengatasi kekhawatiran atas gap generasi.

Setelah uraian singkat dari FX Harsono tentang profil KSI, Alia Swastika membuka sesi pertama dimulai dengan mmepersilakan menceritakan kisahnya bersama ASRI, sikapnya dalam menghadapi kerusuhan tahun 1998 hingga terbentuknya Taring Padi generasi pertama. “Ternyata di ruangan tersebut, masih ada teman-teman yang muncul dan kami membuat sebuah organisasi kesenian dan kebudayaan dengan modal buku-buku putih milik kami. Saat itu diberi nama Komite Pemuda Rakyat Perjuangan atau KPRP”, cerita Ucup tentang awal terbentuknya organisasi yang kemudian disebut Taring Padi.

Pembicara kedua yaitu Gunawan Maryanto dari Teater Garasi, yang aktif berpraktik di ranah seni pertunjukan. Gunawan aktif di dunia berkesenian sejak 1994. Saat itu dia tidak begitu mengerti dan menyadari situasi politik yang bergejolak. Gunawan hanya teringat kenangan masa kecilnya, saat disuruh melambaikan tangan pada iringan rombongan presiden Soeharto. Perkenalannya dengan Teater Garasi menjadi permulaan dirinya menjadi lebih peka terhadap politik. Sebagai salah satu aktivitas di kampus, kegiatan Teater Garasi diawali dengan naskah-naskah adaptasi yang kemudian ditampilkan dalam Malam Apresiasi Seni dan Politik sejak tahun 1993. Meski melalui banyak regulasi dan proses pra-sensor terhadap naskah teater mereka, pertunjukan tersebut menjadi katarsis karena didominasi dialog yang tidak mungkin diizinkan berada di luar gedung pertunjukan.

Aji Wartono sebagai pembicara ketiga menceritakan problem represi yang tidak jauh berbeda. Pada masa sebelum reformasi, seluruh musisi wajib memberikan daftar lagu-lagu yang dinyanyikan, tema acara, serta panitia yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. Setiap acara musik selalu dijaga satuan pengamanan. Beberapa teman musisi yang dianggap melanggar, bisa tiba-tiba digiring ke kantor polisi setempat.

Pembicara keempat yaitu Yustina Neni, yang aktif sebagai manajer dan produsen acara seni sejak 1990 dan dikenal sebagai pemilik Kedai Kebun Forum (KKF). Neni bercerita bahwa perencanaan kegiatan kesenian sebelum reformasi tidak selalu wajib mengurus perizinan kepada pihak pemerintah secara formal. Lewat publikasi acara, pihak kepolisian pasti sudah mengetahui pelaksanaan acara tersebut dengan sendirinya. Neni juga menceritakan pengalaman mendapat ancaman misterius via telepon sebelum pembukaan sebuah pameran di KKF.

Sesi ini ditutup dengan tanya jawab. Satu yang menarik, ketika salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalamannya menerima kartu pos hasil fotokopi karya Taring Padi saat terjadi konflik horizontal di Sulawesi. Akunya, banyak siswa sekolah menengah di lokasi konflik merasa memiliki harapan baru dari menerima gambar tersebut. Tanggapan berbeda muncul dari Nindityo Adipurnomo, yang juga merupakan seniman pada masa transisi reformasi. Menurutnya seniman tidak melulu merespon tragedi 1998 secara politik. Ada kecenderungan beberapa seniman yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang mencari sensasi dan meningkatkan popularitas. Nindityo menekankan bahwa memaknai reformasi seharusnya lebih dalam dari sekedar bumbu-bumbu, tetapi bagaimana fenomena makro ini direfleksikan dalam praktik yang paling mikro.

Tanpa jeda yang terlalu lama, sesi kedua mulai dibuka oleh Brigitta Isabella. Fitri DK menjadi pembicara pertama dalam sesi kedua ini. Fitri menceritakan pengalamannya bergabung dalam organisasi kesenian Sanggar Caping hingga Taring Padi. Meski berkarir pada masa pasca reformasi, Fitri dan rekan-rekannya masih mengalami perlakuan traumatis dari organisasi masyarakat saat pameran Lady Fast 2016 di Survive Garage, Yogyakarta. Mereka disebut melakukan kegiatan asusila dan berbagai kata-kata merendahkan lainnya. Namun pada masa itu, pihak aparat juga tidak memberikan solusi selain mengunci diri di tempat pameran tersebut tanpa melindungi mereka dari oknum-oknum yang mengancam.

Selanjutnya, Wok The Rock membagi perspektif musik setelah reformasi. Wok adalah seniman instalasi dan video, namun dalam diskusi ini lebih fokus membahas kancah musik pada masa tersebut. Di masa awal pasca reformasi, musisi mengalami titik jenuh dari pertunjukan musik yang harus seremonial, akses untuk sampai ke dapur rekaman harus mahal serta banyak lirik yang penuh restriksi. Akhirnya muncul semangat independen untuk membuat pertunjukan kecil seadanya, rekaman dan penggandaan dengan jumlah dan kualitas terbatas, serta distribusi berbasis komunitas.

Kemudian, Heni Matalalang menceritakan perkembangan film pasca reformasi, khususnya film dokumenter. Diakuinya, perkenalannya dengan film cukup traumatis. Saat kelas 3 SD, Heni diwajibkan pemerintah untuk pergi ke bioskop dan menonton film propaganda militer. Heni yang aktif di masa-masa awal berdirinya Festival Film Dokumenter (FFD), menyadari peran film khususnya dokumenter identik  dengan propaganda. Kemudian Heni mencetuskan kegiatan School Docs dengan menontonkan film-film dokumenter ke sekolah-sekolah. Upaya ini dilakukan dengan misi memperkenalkan ulang bahwa dokumenter tidak melulu soal propaganda seperti yang dilakukan oleh Orde Baru. Misi lain yang dibawa adalah menstimulasi lahirnya dokumentaris Indonesia di masa mendatang.

Linda Mayasari menjadi pembicara penutup sesi kedua. Pengalamannya di bidang seni pertunjukan diperoleh dengan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), hingga terlibat sebagai peneliti dan kurator Indonesian Dance Festival (IDF). Memori Linda tentang 1998 tidak terlalu jelas karena saat itu masih duduk di bangku SMP, Linda hanya ingat bahwa teman-temannya yang beretnis Tionghoa diamankan oleh aparat saat pecah kerusuhan. Selebihnya Linda justru tidak terlalu menandai reformasi sebagai momentum praktik berkeseniannya secara pribadi.

Sesi ini juga ditutup dengan tanya jawab. Brigita sebagai moderator lebih memprioritaskan respon dari pelaku seni yang segenerasi dengan pembicara-pembicara di sesi kedua. Respon yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar sejauh apa reformasi benar-benar menjadi tonggak titik balik praktik kesenian yang lebih ekspresif. Dan sejauh apa momentum reformasi dimaknai di seluruh wilayah Indonesia, terutama hingga pelosok daerah Indonesia bagian timur.

Pada akhirnya, reformasi masih menjadi topik yang begitu menarik untuk terus direfleksikan dan dikontekstualisasi. Terlebih memasuki Mei 2018 yang bertepatan dengan 20 tahun reformasi. Begitu banyak acara diskusi mengambil tema serupa, baik dengan irisan politik, sosial, agama, hingga termasuk seni. KSI melihat momentum ini juga sekaligus sebagai ajang sosialisasi peran-peran strategisnya dalam medan kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.