Category Archives: Kabar IVAA

Indonesia Philanthropy Festival

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari 15 hingga 17 November 2018 di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, tim IVAA mengunjungi Indonesia Philanthropy Festival. Acara ini adalah semacam pameran produk CSR dari lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Selain itu juga terdapat lembaga-lembaga independen (non pemerintah) yang berpotensi mendapat bantuan philanthropy. Lembaga ini beragam, mulai dari yang bergerak di ranah lingkungan, pengelolaan sampah plastik, peternakan, perjuangan hak disabilitas hingga seni-budaya. Acara berlangsung selama 3 hari dengan rangkaian acara mulai dari pameran, talkshow, hingga diskusi kelompok terarah.

IVAA bergabung dalam booth milik Koalisi Seni Indonesia (KSI), lembaga yang menaungi pelaku seni baik kelompok maupun individu. Booth ini menampilkan video profil dari para pelaku seni, hingga rilisan dan buku terbitannya. Melalui booth tersebut KSI berharap atensi dari lembaga-lembaga philanthropy dalam mendukung kegiatan seni-budaya yang selama ini masih minim dapat meningkat.

KSI mendapat satu slot di panggung utama untuk menggelar talkshow sekaligus peluncuran buku pada hari ketiga. Buku yang diluncurkan berjudul Dampak Seni di Masyarakat, menampilkan 12 Gerakan dan Komunitas Seni, sekaligus ingin menunjukkan sedikit dari banyak komunitas seni budaya yang tersebar di Indonesia dan melahirkan inisiatif-inisiatif lokal. Bersama dengan peluncuran buku, talkshow diisi oleh perwakilan dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan Pasa Harau.

Sebagai bagian dari upaya menyambut Kongres Kebudayaan Indonesia yang akan digelar pada 5-9 Desember 2018, KSI juga mendapat slot untuk menggelar FGD. Diskusi intensif ini mempertemukan antara perwakilan lembaga seni-budaya dengan lembaga philanthropy. Masing-masing berdiskusi untuk saling mempertemukan persoalan. Inti persoalan dari kedua pihak itu adalah masih sulitnya mengakses informasi tentang philanthropy dalam negeri, perlunya basis data terpadu soal potensi seni-budaya yang mendesak dan perlu dukungan, dan cara menakar tingkat efektivitas dan kesuksesan seni-budaya yang tentu tidak bisa semata menggunakan kuantifikasi ekonomi. Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, menyampaikan sebuah pidato sebagai penutup FGD dan menyatakan bahwa poin-poin dalam acara ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia.

Rangkaian Indonesia Philanthropy Festival akhirnya ditutup di malam hari pada 17 November 2018. Acara ini memiliki tagline “From Innovation To Impact”. Titik temu agar benar-benar memiliki “impact” antara lembaga seni-budaya dan lembaga philanthropy tentu akan sulit terealisasi dalam satu kali perhelatan. Perjalanannya bisa panjang dan berliku, atau bahkan jika ukuran yang digunakan hanya soal komoditas ekonomi, pertemuan itu bisa menjadi semakin utopis, atau hanya beredar dalam lingkaran yang kecil.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Selamatan Rumah IVAA

Oleh Sukma Smita

Tumpeng nasi kuning komplit dengan lauk-pauk yang diletakkan di tengah amphiteater mengiringi rangkaian acara pembukaan Selamatan Rumah IVAA, pada petang 21 Desember 2018. Dalam bahasa Jawa, tumpeng merupakan akronim dari yen metu kudu mempeng, atau secara bebas dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan ‘harus penuh kesungguhan jika muncul’. Nasi kuning kerap menjadi menu hidangan utama dalam suatu kegiatan perayaan. Juga tumpeng nasi kuning merupakan simbol rasa syukur, doa untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan. Acara selamatan yang diselenggarakan selama 2 hari, yaitu 21-22 Desember 2018 dengan mengundang publik seni dan warga sekitar untuk turut merayakan dan mendoakan, adalah wujud rasa syukur IVAA atas selesai dan dibukanya ruang baru serta doa keselamatan untuk beberapa rencana program mendatang IVAA.

Pada pembukaannya, acara selamatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Rini Widarti selaku Lurah Keparakan dan Yoshi Fajar selaku Ketua Yayasan IVAA. Dalam sambutannya Yoshi menyampaikan bahwa IVAA perlu melakukan refleksi dan penguatan posisi terutama dalam kerja-kerja pengarsipan seni budaya yang sudah dilakukan lebih dari 23 tahun. Penguatan posisi perlu diambil selain karena melihat situasi politik dan kaitannya dengan seni budaya hari ini, juga karena kerja pengarsipan IVAA memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi yang lain, terutama di tengah 3 rezim yang tengah berlangsung yaitu Wisata, Percepatan Pembangunan dan Industri Kreatif. Selepas beberapa sambutan yang diutarakan, Gunawan Maryanto diundang untuk memimpin refleksi sederhana serta doa keselamatan yang kemudian disambung oleh pertunjukan Sahita, kelompok teater ibu-ibu dari Surakarta yang diundang secara khusus untuk melakukan pementasan. Pembukaan selamatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Lisistrata yang kemudian diserahkan kepada perwakilan warga Dipowinatan, dilanjutkan dengan dhahar kembul atau memakan nasi kuning bersama-sama.

Sebagai penanda dibukanya ruang baru, yaitu ruang pamer, IVAA mengadakan pameran arsip dan tafsirnya. Dalam pameran yang bertajuk Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA mengajak Ipeh Nur -seniman muda perempuan yang tertarik merespon situasi di sekitarnya melalui karya-karya yang interaktif-, Piring Tirbing -kelompok seniman yang fokus bekerja dengan medium audio-visual-, serta Arga Aditya –kurator muda yang pernah terlibat dalam Festival Arsip IVAA 2017 sebagai asisten direktur artistik-. Melalui pameran tersebut, Ipeh Nur dan Piring Tirbing ditantang untuk merespon arsip menjadi karya artistik dan melakukan eksplorasi atas tema Tradisi dan Identitas, yaitu eksplorasi berjalan tim Newsletter IVAA yang tertuang dalam 3 edisi terakhir selama Mei hingga Oktober 2018. Reading Identity menjadi judul karya Ipeh Nur, dan Out of the Circle menjadi judul karya Piring Tirbing.

Selain pameran, juga diadakan peluncuran kembali IVAA Shop, yaitu salah satu bidang usaha IVAA yang muncul atas semangat kemandirian pada segi pendanaan. Kali ini IVAA Shop mengajak 3 orang seniman untuk berkerja bersama dalam merancang, memproduksi dan menjual produk merchandise melalui tema Fashion as Statement. Tiga seniman yang diajak yaitu Agan Harahap, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani dan Vendy Methodos. Selama dua hari acara, diajak pula beberapa komunitas untuk terlibat yaitu teman-teman pegiat zine, antara lain Asal kelihatan Boleh Dibicarakan, Indischzine Partij, Kios 5A, Demi Sesuap Nasi, dan pameran buku oleh Pojok Cerpen serta lapak musik oleh Jogja Record Store Day.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua diawali dengan pemutaran 2 film pendek untuk anak-anak oleh Bioscil. Ini merupakan kali kedua IVAA sengaja mengundang Biocil untuk memutarkan film pilihannya. IVAA mengajak anak-anak sekitar untuk terlibat. Mereka adalah anak-anak sekitar yang selama liburan sekolah biasa menghabiskan waktu untuk bermain game online menggunakan wifi Rumah IVAA. Aktifitas lain di hari kedua yaitu workshop merawat kaset oleh Jogja Record Store Day, tur pameran, serta diskusi dan peluncuran buku berjudul Nu’u. Buku ini berisi tulisan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di Nusa Tenggara Timur. Acara Selamatan Rumah IVAA ditutup dengan semarak dalam Musrary yang menampilkan 3 kelompok music, yaitu Doa Ibu, Help Me Touch Me dan Didi Kempits Hits Collection.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Sistem Magang yang Baru

Oleh Sukma Smita

Sepanjang tahun 2018 total peserta Program Magang IVAA berjumlah 39 orang, dengan latar belakang yang berbeda-beda mulai dari mahasiswa hingga peneliti. Peserta magang membantu kerja-kerja harian IVAA melalui beberapa bidang magang yaitu Pengarsipan, Dokumentasi, Perpustakaan dan Keredaksian. Meski beberapa peserta magang hanya terlibat dalam waktu yang sangat singkat dan membuat beberapa capaian dan target magang menjadi kurang maksimal, banyaknya kawan magang dalam tiap bulan juga membuat tim IVAA cukup kewalahan untuk mengkoordinir. Meski demikian, tim IVAA sangat terbantu dan senang dengan antusiasme para peserta magang.

Tahun 2019 mendatang IVAA kembali membuka kesempatan untuk Kawan IVAA yang tertarik bekerja dan belajar tentang pengarsipan IVAA. Untuk mengantisipasi beberapa kekurangan dalam penyelenggaraan seperti pada tahun ini, tim IVAA melakukan evaluasi dan memperbaiki sistem penerimaan dan pengelolaan Program Magang IVAA.

Berikut adalah beberapa ketentuan tentang Program Magang IVAA mulai Januari 2019:
1. Penerimaan Program Magang IVAA akan dilakukan 4 kali dalam satu tahun, yaitu bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Calon peserta magang bisa mendaftar sebelum awal bulan tersebut.
2. Periode keikutsertaan dalam Program Magang IVAA minimal 3 bulan dengan minimal kehadiran 4 hari kerja atau 32 jam dalam satu minggu.
3. Dalam satu periode penerimaan, Program Magang IVAA hanya akan menerima peserta magang maksimal 5 orang dengan beberapa tahap seleksi.
4. Selain seleksi berkas administratif, peserta Magang IVAA akan melewati masa percobaan magang dengan durasi seminggu, yang menjadi penentu seleksi magang.
5. Bidang magang yang tersedia yaitu: a. Pengarsipan yang meliputi kerja dokumentasi, pencatatan hingga pengolahan material dan data; b. Perpustakaan yang meliputi kerja pengisian katalog perpustakaan online hingga menulis ringkasan buku koleksi perpustakaan IVAA.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Detail persyaratan dan pertanyaan-pertanyaan mengenai Program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org.

Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Rumah IVAA Selesai Berbenah

Oleh Sukma Smita

Suasana Rumah IVAA sudah kembali nyaman seperti sediakala. Sejak Juli hingga Oktober lalu Rumah IVAA menjalani proses renovasi. Selama itu pula berbagai suara hingga banyak debu yang seperti tiada habis menempel di seluruh piranti menjadi ‘backsound dan background’ keseharian IVAA. Saat ini perpustakaan IVAA, sebagai ruang baca dan kerja, sudah kembali nyaman untuk dikunjungi, karena proses renovasi sudah lengkap!

Meski belum sepenuhnya paripurna karena masih ada beberapa bagian kecil yang masih harus dibenahi, secara keseluruhan Rumah IVAA sudah siap untuk menjadi sarana pendukung program kerja IVAA mendatang. Rampungnya proses renovasi yang bersamaan dengan berakhirnya tahun 2018 menjadi tahap awal untuk kami mulai merealisasikan berbagai program yang telah dirancang.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Kawan IVAA yang tetap loyal berkunjung ke perpustakaan dan Rumah IVAA selama proses renovasi. Tentu tak lupa, kami berterima kasih kepada seluruh warga Kampung Dipowinatan yang telah memaklumi 3 bulan penuh debu dan bising akibat pembenahan, serta atas dukungan Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) yang telah memfasilitasi pengembangan ruang dan sarana Rumah IVAA. Dengan kondisi ini, semoga kami dapat semakin menghidupi kerja-kerja pengarsipan.

Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Re-aktivasi IVAA Shop

Oleh Sukma Smita

Membangun satu bidang usaha untuk mendukung kebutuhan operasional harian IVAA merupakan semangat awal mengaktifkan kembali IVAA Shop. Berbagai program re-aktivasi dan menata ulang sistem kerja telah dilakukan, dari membenahi secara fisik ruang IVAA Shop yang berada di pojok utara Rumah IVAA, membuat akun sosial media khusus jual-beli, hingga rajin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pameran buku merupakan hal-hal yang dilakukan selama tahun 2018 ini.

Selain memproduksi sendiri berbagai produk merchandise, salah satu program lain berbasis sistem kerjasama titip-jual yang dirancang adalah dengan mengajak seniman, crafter, maker, desainer, dan yang lain untuk berkolaborasi merancang, memproduksi dan menjual produk merchandise bersama. Sebagai awalan program tersebut IVAA Shop mengajak Agan Harahap, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani dan Vendy Methodos.

“Fashion as Statement” merupakan tema yang dipakai sebagai pijakan dalam merancang produk. Fashion sebagai penanda budaya, meski tidak bisa seutuhnya benar, dapat dilihat dari model rambut, musik yang didengarkan, tata cara berpakaian, hingga aksesoris yang melekat pada tubuh. Pilihan aksesoris maupun model pakaian yang dikenakan secara tidak langsung membentuk identitas diri dan bagaimana kita ingin dilihat oleh publik.

Agan, Blankon dan Vendy telah merancang produk yang digunakan sehari-hari, entah dalam bentuk pakaian, tas, hingga kantong penyimpan barang. Ketertarikan mengajak ketiga seniman tersebut didasarkan pada bagaimana mereka selalu bekerja menggunakan medium yang berlainan namun memiliki intensi sama yaitu kebutuhan untuk menyatakan satu pandangan. Diskusi tentang penggunaan fashion sebagai cara untuk menyatakan sikap juga menjadi nilai yang menarik. Pilihan model pakaian hingga aksesoris sehari-hari bisa dilihat sangat universal maupun spesifik; bagaimana ‘barang’ yang sebenarnya sangat umum dan bisa ditemui di berbagai toko lain bisa menjadi sesuatu yang mampu mencitrakan diri sekaligus terbaca sebagai sebuah pernyataan diri.

Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

MUSRARY – MUSIC ON LIBRARY

Music on Library penutup tahun 2018 menampilkan musisi lintas-genre yang super spesial. Diadakan tepat pada hari ibu maka kami mengundang band pop DOA IBU, lalu untuk merespon cuaca dingin di bulan Desember kami memberi sentuhan kehangatan dari band HELP ME TOUCH ME, dan terakhir adalah kolaborasi kontemporer antara RD HITS SELECTION dan DIDI KEMPIT. Save the date!

Sabtu, 22 Desember 2018
18:30 – 21:30

di Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU NU’U

Nu’u adalah kumpulan tujuh cerita (tulisan), merupakan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di 16 lokasi, di Pulau Timor Barat dan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan ini adalah bagian dari rangkaian Sarinah Apa Kabarmu?, sebuah penelusuran atas ideologi gender dari sudut pandang lokal, bekerja sama dengan Birmingham Open Media, serta mendapat dukungan dari British Council.
.
Bagi yang ingin mengunduh bukunya,

klik link: http://bit.ly/NU-U-IND
.
catat tempat dan tanggalnya:
Sabtu, 22 Desember 2018
Pukul 15:00-18:00
Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B. Jl. Ireda, Dipowinatan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

LAPAK – ZINE/BUKU/RILISAN FISIK

Jangan lewatkan kesempatan membeli kado untuk diri sendiri, keluarga hingga kolega di akhir pekan ini! IVAA menghandirkan lapak-lapak unik penyongsong tahun baru. Ada buku dari Pojok Cerpen; rilisan fisik dari Jogja Record Store Club; Zine dari Indisczinepartij, Kios 5A, Demisesuapnasi dan Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan. Lapak ini mulai bertransaksi dari tanggal 21 hingga 22 Desember 2018.

Jumat, 21 Desember 2018
18:00 – 22:00

Sabtu, 22 Desember 2018
10:00 – 22:00

di Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

BIOSCIL

Ada Bioscil lagi di Rumah IVAA!!

Libur akhir tahun sudah datang, kami memanggil anak-anak untuk datang juga Rumah IVAA. Karena untuk kedua kalinya Bioscil akan berkunjung dan memutar 2 film pilihannya. Bukan hanya menonton film, anak-anak yang penasaran juga bisa ngobrol dan tanya-tanya langsung dengan pembuat filmnya.

– Bawang Kembar (2016, dir. Gangsar Waskito)
– Golek Balung Butho (2018, dir. Khusnul Khitam)

Jangan lupa datang dan
bawa uang 2000 untuk beli karcis. Sampai ketemu di Rumah IVAA!!

Sabtu, 22 Desember 2018
10:00-12:00

Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

WORKSHOP RAWAT COMPACT DISK DAN KASET

Jogja Record Store Club (JSRC) merupakan sebuah komunitas yg mewadahi para penjaja dan juga kolektor rilisan fisik musik (kaset, cd, piringan hitam dan perangkat putarnya) di Yogyakarta. Serangkaian dengan acara Selamatan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) bertajuk “Waktu & Ingatan tak Pernah Diam”, kami mengundang para peserta untuk belajar bersama melakukan konservasi, restorasi dan digitalisasi material kaset dan CD bersama Jogja Record Store Club (JRSC). Diharapkan hasil workshop ini dapat berguna untuk menyelamatkan arsip audio yang sangat berharga di masa depan. Peserta dalam workshop ini dibatasi hanya untuk 10 orang. Workshop akan diadakan pada:

Sabtu, 22 Desember 2018
13:00-15:00 WIB

di Rumah IVAA
Jalan Ireda Gang Hiperkes 188 A-B , Dipowinatan,
Keparakan, Mergangsan,
D.I. Yogyakarta
——————————————-
Jogja Record Store Club (JSRC) is a community consist of seller and collector of physical music release (such as casette, compact disk, vinyl record, and music player devices) in Yogyakarta. As a series of Indonesian Visual Art Archive (IVAA) ‘s selametan event “Time & Memories were Never Muted”, we are inviting participant to learn together by doing conservation, restoration and digitalisation from casette and CD material with Jogja Record Store Club (JSRC) in this workshop. We wish the result of this workshop would save valuable audio archive in the future. The participant for this workshop was limited to 10 person. The workshop will be held on:

Saturday, December 22nd 2018
1:00 – 3:00 PM

at Rumah IVAA
Jalan Ireda Gang Hiperkes 188 A-B , Dipowinatan,
Keparakan, Mergangsan,
D.I. Yogyakarta

Limk pendaftaran Http://Bit.ly/RawatKaset