Sebuah Teater Bernama Indonesia

Judul buku : Pasfoto Sang Iblis
Penyunting dan Esai Pengantar : Hendro Wiyanto 
Penerbit : Gang Kabel 
Tahun terbit : Juni 2020
Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

“Adalah bangsa yang besar – bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan–pekerjaan biasa.” 

Petikan di atas menjadi akhir dari esai berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Satu dari sekian banyak esai yang menarik perhatian saya. Ketika sampai di titik ini, seketika saya ‘mak deg’ karena kedahsyatan penutup esai tersebut. Penggunaan bahasanya sangat sederhana dan mengena. Saya deg-degan senang sekaligus menyesal. Menyesal karena kenapa tidak dari dulu saya membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang sudah banyak disebut-sebut sebagai kritikus seni rupa di Indonesia. Memang buku kumpulan esai Pasfoto Sang Iblis ini baru terbit, tetapi sebelum-sebelumnya sudah ada kumpulan esai Dua Seni Rupa dan Estetika yang Merabunkan. Kita bersyukur ada kerja keras yang telah mewujudkan penyusunan buku ini. 

Kembali ke esai yang membuat saya deg-degan. Ia berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Dipublikasikan pertama kali pada 25 Februari 1968, di Mahasiswa Indonesia, Sanento Yuliman menyoroti nilai heroisme yang pada masa itu kian menguat. Penanaman nilai heroisme itu dilakukan sejak kita, masyarakat Indonesia, masih berada dalam kandungan. Artinya, penanaman nilai ini dilangsungkan sebagai proyek kebudayaan di periode yang tidak singkat, dalam suatu pertunjukan teater bernama Indonesia. Mengapa teater Indonesia? Karena dalam proses pembangunan kebudayaannya, ia menekankan penggunaan berbagai elemen teater patriotik; mulai dari penggunaan kostum-kostum, penyelenggaraan upacara-upacara dalam melegitimasi kekuasaan, penekanan pada retorika yang mampu menyihir kerumunan, kehadiran dramaturgi konflik, penggunaan iring-iringan musik, hingga kehadiran penonton yang ditempatkan sebagai subjek yang menangkap pesona dan keagungan ‘sang pahlawan’ dalam teater bernama Indonesia. 

Jika sekilas kita baca demikian, maka jelas, esai ini merupakan sindiran atas hegemoniknya politik retoris ala bung besar. Akan tetapi, kritik ala Sanento Yuliman tidak berhenti pada kritik kekuasaan. Lebih jauh ia mengembangkan esainya sebagai kritik kebudayaan. Ia menyasar pada nilai heroisme yang menjadi penyakit dari masyarakat kita, yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk aku, kamu, dan kita semua.

Problemnya sudah jelas, bahwa kebesaran nilai heroisme ini menempatkan gerakan massa sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Pada saat yang bersamaan, ia menelan kekuatan individu yang sesungguhnya berperan penting sebagai subjek politik. Sanento Yuliman sangat keberatan jika kehadiran subjek hanya ditempatkan sebagai perantara kebenaran. Sementara politik retoris yang hidup pada saat itu, menempatkan masyarakat di posisi tersebut. Di tengah politik yang kebesaran mulut itu, ia menekankan pentingnya hal-hal yang sifatnya keseharian, kecil dan rutin, yakni kerja-kerja konkret yang dilakukan dan dinikmati oleh individu, sehingga memunculkan kualitas kerja. Bagi Sanento Yuliman, di situlah letak kesenian. Seni sebagai kualitas kerja, yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Sekali lagi, siapa saja yang melakukan kerja-kerja konkret! 

Dari satu esai ini saja, kita mendapati daya analitis sekaligus kemarahan seorang aktivis yang reflektif. Saya sebut aktivis karena sorotan tajamnya pada kekuasaan, sekaligus reflektif karena ketajamannya untuk sensitif pada bahasa-bahasa kekuasaan yang berpotensi menjadi virus-virus sosial. Dan YA, tulisan dengan nada semarah ini ditulis oleh Sanento Yuliman, yang kelak dikenal sebagai kritikus seni rupa Indonesia. 

Pasfoto Sang Iblis ini merupakan bunga rampai esai-esai yang pernah dipublikasikan pada 1966-1990. Dari sini, kita bisa menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman sebelum ‘seni rupa banget’. Tulisan-tulisan dengan nada marah. Tulisan-tulisan yang sudah sangat peka pada cara-cara subtil kekuasaan beroperasi atau bekerja. Tulisan-tulisan yang sudah menunjukkan ketajaman sikap politik sebelum masuk ke ranah kuasa yang lebih subtil, yakni seni.

Membaca kumpulan esai ini, saya seperti diingatkan bahwa pendekatan lintas disiplin dalam membaca fenomena sosial tidak hanya dikenalkan oleh para teorisi kajian budaya. Sejak 1960-an, esai-esai ini sudah menunjukkan bahwa tradisi meneropong dan menulis lintas disiplin sudah hidup sejak kita dipaksa untuk hidup di tengah berbagai tantangan dan konflik. Hanya saja, disiplin ilmu kadang khilaf, sering lupa untuk melibatkan unsur ‘heteronomi kehidupan’ kita dalam tradisi belajar yang sudah terlalu nyaman berada dalam kotaknya. 

Selebihnya, catatan baca ini hanyalah remah-remah dari keripik kenikmatan yang muncul dari lembar demi lembar hingga halaman 232. Tentu saja tidak ada pembacaan yang sempurna. Sama halnya dengan tulisan. Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dibuat. Untuk itulah buku hadir dalam kehidupan kita, agar ia bisa menemani heteronomi keseharian kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Buku dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.