Pengarsipan dan Keberpihakan: Upaya Mengurai Lapis Kekerasan

Dokumentasi Workshop Pengarsipan Kontekstual bersama Diah Kusumaningrum, dilaksanakan secara daring pada 15 Mei 2023

Praktik pengarsipan juga merupakan praktik keberpihakan. Keberpihakan pada mereka yang terpinggirkan, tertindas, underdog, dan tak punya akses terhadap sistem.

 

Mbak Diah Kusumaningrum atau yang akrab dipanggil Dikei membuka Workshop Pengarsipan Kontekstual Ephemera #3 dengan pertanyaan. “Apa artefak perdamaian dan apa artefak kekerasan yang berada di sekitar teman-teman?”. Pertanyaan ini menjadi pemantik diskusi tentang perdamaian, arsip, dan praktik seni berbasis perdamaian sebagai materi pertama workshop.

Mbak Dikei mengawali workshop dengan wawasan tentang perdamaian dan kekerasan dari Johan Vincent Galtung, sosiolog dan matematikawan Norwegia, perintis disiplin studi perdamaian dan konflik. Galtung yang mendirikan Peace Research Institute Oslo (PRIO) pada tahun 1959, menemukan bahwa jumlah orang yang meninggal di masa damai lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang meninggal saat masa perang. Ternyata, dalam konteks tahun 1960-an, bukan perang yang menjadi musuh utama kemanusiaan tetapi kelaparan dan penyakit-penyakit yang bisa sebenarnya dapat diobati dengan mudah.

Galtung kemudian membagi kekerasan menjadi tiga: kekerasan langsung (direct violence), kekerasan struktural (structural violence), dan kekerasan kultural (cultural/symbolic violence). Kekerasan langsung adalah yang aksinya terlihat jelas dan efeknya dapat langsung dirasakan seperti perang. Sedangkan kekerasan struktural adalah yang subjeknya tidak jelas, kata kerjanya juga tak terlihat, sehingga objeknya pun tidak sadar mendapatkan kekerasan. Atau dengan bahasa lain, SPOK-nya tidak jelas. Kekerasan struktural adalah sebuah sistem yang tidak memberikan akses terhadap air bersih, upah layak, waktu istirahat bagi pekerja. Sistem yang membagi masyarakat menjadi dua: yang memiliki akses/privilege/topdog dan yang tidak memiliki akses/pecundang/underdog.

Sementara kekerasan kultural merupakan aspek sosial kebudayaan yang melanggengkan terjadinya dua model kekerasan sebelumnya. Misalnya interpretasi agama dan norma adat yang mengarah pada rasisme, sexisme, dan homophobia.  Ketiganya saling berkaitan dan berkontribusi pada ketimpangan sosial yang masih terjadi hingga saat ini.

Kekerasan, Ketimpangan, dan Keberpihakan 

Pemahaman terhadap tiga model kekerasan ala Galtung tersebut juga dapat menjadi basis kesadaran dalam kerja-kerja pengarsipan. Kerja pengarsipan maupun praktik seni berbasis kearsipan, hendaknya tak hanya fokus pada permasalahan yang kasatmata tetapi juga berusaha membongkar persoalan yang samar seperti ketimpangan akses yang dinormalisasi dengan berbagai dalih. Arsip dan karya dapat digunakan sebagai alat untuk mengurai lapis-lapis kekerasan yang selama ini ada tetapi terabaikan.

Isu lain yang menjadi penekanan adalah potensi kekerasan baru/second trauma dari karya seni yang diproduksi. Bergelut dengan arsip dan isu-isu sensitif, seniman perlu berefleksi secara terus menerus dalam setiap tahap proses produksi karya. Kata kuncinya adalah konsen. Seniman dan subjek harus saling terbuka akan visi masing-masing sejak awal proses sebagai bagian dari konsen. Proses saling memahami tersebut bisa digunakan seniman untuk menemukan irisan visi dengan subjek yang dapat dieksplorasi bersama-sama. Kesetaraan adalah nilai yang perlu dijaga dalam proses ini.

Upaya refleksi juga bisa dilakukan seniman dengan mengukur segitiga fasilitasi: substansi – proses – hubungan yang bisa diurai dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Substansi: (1) Apakah substansi karya ini mengandung kekerasan? (2) Apa pesan yang tersirat dalam karya ini?. Proses: (1) Bahan, ide, suara, aspirasi siapa yang digunakan dalam karya? (2) Apakah bahan-bahan karya tersebut mengukuhkan suara topdog atau berpihak pada underdog? (3) Apakah bahan-bahan karya (material maupun non material) melanggengkan kekerasan, baik struktural maupun kultural?. Hubungan: (1) Bagaimana hubungan/relasi seniman dengan narasumber sebelum dan sesudah membuat karya? (2) Apakah hubungan antara seniman dengan narasumber setara atau malah timpang?.

Jika upaya-upaya refleksi sudah dilakukan, maka keberpihakan seniman dapat terukur lewat karya seni yang berbasis kerja-kerja pengarsipan tersebut. Sebab dalam kondisi ketidakjelasan SPOK dalam konteks kekerasan struktural/kultural, peran seniman adalah berpihak kepada mereka yang tidak diuntungkan oleh sistem.

 

***

Catatan di atas berangkat dari Workshop Pengarsipan Kontekstual, rangkaian kegiatan di Ephemera #3 – Museum of Untranslatable Stories, yang dilaksanakan pada tanggal 15-17 Mei 2023. Ditulis oleh Rheisnayu Cyntara.