Pengarsipan Bersama Masyarakat: Relasi Subjek-Subjek dan Bunuh Diri Kelas

Dokumentasi Workshop Pengarsipan Kontekstual bersama Moelyono. Dilaksanakan secara daring pada 16 Mei 2023.

Kerja pengarsipan bersama masyarakat bukan hal yang bisa dianggap sepele. Persoalan kesadaran kelas dan kesetaraan adalah sedikit tantangan yang akan dihadapi di lapangan.

Bagaimana cara bekerja setara dengan subjek? Siapa subjek? Pertanyaan-pertanyaan itu umum dijumpai dalam kerja-kerja lapangan yang melibatkan masyarakat sebagai partisipan. Pertanyaan-pertanyaan yang juga digeluti oleh Pak Moelyono, seniman rupa  yang dikenal lewat keterlibatan jangka panjang dan berkelanjutan dengan komunitas masyarakat di berbagai daerah sejak 1980-an.

Dari Teluk Brumbun Tulungagung hingga Papua, Pak Moel bekerja bersama masyarakat dengan metode riset partisipatoris Seni Rupa Penyadaran. Dalam metode yang merupakan kombinasi dari penelitian sosial, kerja pendidikan, dan aksi politis ini, seni rupa diposisikan sebagai media riset. Media riset artinya, seni rupa menjadi alat yang ia gunakan untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat.

Penyadaran dilakukan dengan metode dialog yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif untuk menciptakan peluang, membentuk ruang, dan menghasilkan pengetahuan. Dalam proses dialog ini, seluruh pihak yang terlibat memiliki posisi yang setara sebagai subjek. Masyarakat sebagai subjek dipercaya mampu berpikir kritis untuk memahami kontradiksi sosial politik dan ekonomi yang mereka alami dan mencari solusi atas problem sosial di komunitasnya. Sedangkan posisi periset sebagai subjek, memungkinkan Pak Moel mengembangkan kapasitas yang dimilikinya sebagai perupa untuk menawarkan solusi yang disepakati bersama. Sehingga keduanya bisa mencari alternatif pemecahan masalah berbasis potensi budaya lokal.

Relasi Subjek-Subjek dan Pengarsipan Bersama Masyarakat

Metode riset partisipatoris Seni Rupa Penyadaran ini lahir dari kerja-kerja Pak Moel bersama berbagai LSM. Sehingga bahasa kesetaraan, komitmen egalitarian, upaya dialog, dan pemberdayaan masyarakat terasa sangat kental.

Julukannya sebagai Pak Moel Guru Gambar juga muncul dari model kerja ini. Pasalnya, keterlibatan Pak Moel dengan masyarakat selalu dimulai dengan mengajar menggambar bagi anak-anak. Baginya, anak-anak bisa menjadi pintu masuk (entry point) yang paling tepat untuk terlibat dengan masyarakat. Ia sadar, anak-anak selalu berkaitan dengan seluruh aspek dan persoalan masyarakat desa. Gambar anak-anak dapat menjadi medium yang menghubungkan Pak Moel dengan problem komunitas mereka.

Meskipun dikenal sebagai guru gambar, Pak Moel tidak menempatkan dirinya lebih tinggi atau lebih tahu dibandingkan dengan anak-anak. Relasi yang ia jalin dengan anak-anak adalah relasi antar subjek, bukan relasi subjek (guru) dan objek (anak-anak). Anak-anak sebagai subjek artinya menganggap semua anak bisa menggambar. Pak Moel tidak hadir untuk memberi instruksi anak-anak untuk menggambar sesuatu tetapi memfasilitasi mereka untuk mengembangkan kemampuannya.

Maka, yang pertama ia lakukan adalah membongkar tahapan gambar dengan mulai menggambar garis dan bentuk. Menggambar dilakukan di mana saja dengan bahan/alat apapun. Di Teluk Brumbun misalnya, Pak Moel bersama anak-anak menggambar di pasir pantai menggunakan batu, ranting, bahkan tangan dan kaki. Dari gambar-gambar sederhana itu, Pak Moel mulai melakukan stimulasi imajinasi anak-anak dengan berdialog tentang apa yang mereka gambar. Misalnya “Ini gambar siapa ya?”, “Bagaimana cara menggambarnya?”, “Coba ceritakan gambarnya”.

Dari dialog bersama anak-anak itu, Pak Moel dapat menginterpretasikan gambar yang mereka buat. Gambar diposisikan sebagai data yang mengungkap memori anak sebagai cerapan mereka atas apapun yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dalam kesehariannya. Sehingga gambar atau karya tersebut bisa menjadi arsip atas memori sejarah desa mereka. Dengan kata lain, ini adalah cara Pak Moel untuk melakukan pengarsipan bersama masyarakat. Pengalaman Pak Moel tersebut bisa jadi kontekstual dengan apa yang dihadapi oleh para partisipan Ephemera #3 Museum of Untranslatable Stories. Ephemera #3 berusaha mendekatkan pengetahuan-pengetahuan lokal yang selama ini terpinggirkan kepada pemiliknya, yaitu masyarakat. Sebuah upaya untuk menempatkan masyarakat sebagai subjek pengetahuan.

Bias Periset dan Bunuh Diri Kelas 

Namun sebagai wakil dari LSM, Pak Moel juga sadar bias yang mungkin terjadi pada periset sebagai fasilitator. Apalagi dalam konteks tahun 1980-an, waktu ia mulai terjun di tengah masyarakat, banyak aktivis yang terlibat di LSM. Pada masa itu, para aktivis yang kebanyakan adalah mahasiswa tentu punya bias kelas. Fasilitator yang biasanya berasal dari kelas sosial menengah, kalangan terpelajar, dan hidup di kota, rawan merasa heroik dan paling tahu sebagai pendamping masyarakat. Jika hal itu yang terjadi, maka relasi subjek – subjek tak mungkin berlangsung.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Menurut Pak Moel, periset sebagai fasilitator yang berasal dari kelas sosial yang berbeda harus melakukan bunuh diri kelas. Bunuh diri kelas artinya saat terjun di lapangan untuk bekerja bersama masyarakat, periset harus memosisikan diri melampaui kesadaran sosialnya. Periset harus mampu melepas semua label, tidak merasa paling tahu, dan bersikap transenden.

Dalam konteks Pak Moel sebagai seniman (baca: pihak yang selalu tampil), kesadaran untuk melakukan bunuh diri kelas semacam ini penting dilakukan. Sebab menurutnya, bias kelas dan kesenimanan tersebut bisa memunculkan perbedaan ukuran estetika karya. Guna mengatasi kendala tersebut, Pak Moel mengaku selalu berpegang pada pendapat Romo Mangun bahwa estetika Jawa adalah kagunan. Artinya, seni bagi masyarakat Jawa harus memiliki nilai guna. Berkesenian adalah bagian dari kehidupan dan selalu punya kegunaan dalam keseharian. Pemahaman atas konteks seperti ini penting dimiliki oleh seniman sebagai periset dan atau fasilitator.

Setelah mampu melakukan bunuh diri kelas dan menempatkan masyarakat sebagai subjek, kedua belah pihak baru bisa sejajar berdialog sebagai sesama subjek. Posisi tersebut memungkinkan periset untuk dapat mengeksplorasi diri dan tetap menghargai pengetahuan masyarakat. Sehingga keduanya dapat membangun kesadaran kritis bersama-sama sesuai kapasitas masing-masing. Dengan kesadaran kritis, periset dan masyarakat dapat bertindak bersama untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat.

***

Catatan: bunuh diri kelas merupakan terma yang diungkapkan oleh Arief Budiman dalam training yang Pak Moel dapatkan sebelum terjun mendampingi masyarakat Kedung Ombo pada tahun 80-an.

Tulisan di atas berangkat dari Workshop Pengarsipan Kontekstual, rangkaian kegiatan di Ephemera #3 – Museum of Untranslatable Stories, yang dilaksanakan pada tanggal 15-17 Mei 2023. Ditulis oleh Rheisnayu Cyntara.