Arsip dan Dekolonisasi: Praktik Penyadaran dan Pembebasan

Dokumentasi Workshop Pengarsipan Kontekstual bersama Ikun SK pada 17 Mei 2023. Ikun SK didampingi salah satu fasilitator, Sita Sari, di RumahIVAA.

Upaya pengumpulan, pemaknaan, dan penyuaraan kembali arsip harus didasari dengan kesadaran kritis. Kehati-hatian menjadi kata kuncinya. 

 

Arsip bukan hanya dokumen, rekaman audio/visual, atau tulisan yang menceritakan hal-hal yang sudah berlalu. Lebih dari itu, arsip adalah seluruh teks yang merekam berbagai gejala kebudayaan. Teks dalam hal ini bukanlah tulisan, tetapi dimaknai sebagai rajutan/tenunan atau strukturisasi yang relatif otonom. Mitologi adalah teks, sejarah lisan adalah teks, karya seni adalah teks, sebuah peristiwa juga merupakan teks.

Dalam pemahaman tersebut, seniman sebagai pembaca sekaligus penyusun teks harus peka dan mempunyai kesadaran kritis. Seniman perlu terus menerus mempertanyakan paradigma penyusunan teks. Misalnya siapa yang paling diuntungkan dari teks tersebut, siapa yang dirugikan, dan kepentingan apa yang dibawa oleh teks.

Melalui teks, seniman dapat membaca ketimpangan struktur kuasa. Sebab, penyusunan teks tidak pernah terlepas dari kepentingan tertentu. Hal tersebut dapat dibaca dari elemen kecil dan subtil pada teks, yaitu pilihan penggunaan bahasa bahkan pemilihan kata. Misalnya, alih-alih memakai kata waria yang berkonotasi negatif, seniman bisa menggunakan kata transpuan yang menunjukkan keberpihakan dan pengakuan.

Praktik Seni yang Membebaskan 

Bagi Ikun Sri Kuncoro (pemerhati sastra, aktor, dan sutradara), setiap teks hendaknya berpihak pada kebebasan. Sebentuk kebebasan yang tidak menindas atau me-liyan-kan pihak tertentu. Oleh sebab itu, kepekaan adalah satu kualitas penting yang harus dimiliki oleh seorang seniman. Tidak hanya dalam membaca teks tetapi juga saat menyusun atau mengontruksinya. Dalam konteks penyusunan teks berupa karya seni misalnya, seniman yang peka terhadap kemungkinan adanya praktik penindasan dalam sebuah teks tertentu, dapat menawarkan teks alternatif yang membebaskan dari kondisi tersebut.

Maka, ada beberapa langkah yang perlu diambil seniman sebelum menciptakan sebuah karya seni. Pertama, mempertanyakan posisi politis dalam melihat teks. Dari posisi tersebut, seniman perlu bertanya apakah karya seni yang akan dibuat berpotensi menindas atau membebaskan? Problematis atau emansipatif? Atau bahkan lewat karya seni tersebut, seniman sedang menajamkan paradigma yang intimidatif?

Kedua, mengetahui metode yang akan digunakan dalam penciptaan karya seni. Jika menggunakan metode kolaboratif, seniman harus berhati-hati agar tidak menjadi otoritatif dalam kerja bersama tersebut. Sehingga tidak terjadi praktik penindasan estetika. Ketiga, menyadari bahwa kondisi atau nilai yang ditawarkan dari penciptaan karya seni tersebut tidak pernah final, selalu berada dalam ketegangan dan upaya negosiasi, oleh sebab itu harus terus diperjuangkan.

Ingatan, Arsip, dan Dekolonisasi 

Ketiga prinsip penciptaan karya seni tersebut penting sebagai upaya menghindari indoktrinasi paradigma. Menurut Ikun SK, tradisi indoktrinasi paradigma bermula dari tradisi tulis. Artinya, pengetahuan ataupun arsip hanya dapat dipercaya jika tertulis, bukan hanya terucap lewat lisan. Kecenderungan inilah yang lantas mengarah pada empirisme sebagai standar ilmiah, bahwa segala sesuatu harus dapat dialami semua orang agar bisa dipercaya.

Sementara dalam konteks Ephemera #3 Museum of Untranslatable Stories, arsip adalah seluruh pengetahuan lokal yang terpinggirkan dan tidak dipahami oleh logika modern. Pengetahuan-pengetahuan yang muncul dari kontur geografis dan kondisi alam tertentu. Artinya, apa yang dipahami sebagai pengetahuan bisa saja berasal dari sejarah lisan, upacara adat komunitas tertentu, atau bahkan ingatan personal. Ingatan memang rapuh, tetapi bukan berarti ia tidak bisa dipercaya sebagai sebuah teks pengetahuan.

Tugas seniman adalah mengumpulkan teks-teks yang berserak itu, memaknainya dengan berpegang pada prinsip yang sudah disebutkan di atas, kemudian menyuarakannya kembali lewat karya. Sebuah karya yang mampu menawarkan kondisi alternatif, yang selalu berada di ambang, dan tidak terpaku pada sebuah nilai universal yang berpotensi memunculkan penindasan antar kelas.

Maka, bisa jadi dalam pemahaman ini, dekolonisasi adalah pembebasan dari indoktrinasi paradigma dan universalitas. Sedangkan lewat karya seni, seniman tengah terlibat untuk mengusulkan masa depan berupa dunia baru yang setara dan emansipatif.

***

Catatan di atas berangkat dari Workshop Pengarsipan Kontekstual, rangkaian kegiatan di Ephemera #3 – Museum of Untranslatable Stories, yang dilaksanakan pada tanggal 15-17 Mei 2023. Ditulis oleh Rheisnayu Cyntara.