Category Archives: Kabar IVAA

Mozaik Mimpi Koalisi Seni

Oleh: Hardiwan Prayogo

Berangkat dari semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan ekosistem kesenian di Indonesia, Koalisi Seni Indonesia (KSI) pada 17-18 Maret 2018 berlokasi di Westlake Resto mengadakan pertemuan yang diberi tajuk Mozaik Mimpi Koalisi Seni. Dengan agenda utama berupa Focus Group Dicussion (FGD) antara anggota KSI di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. IVAA diwakili oleh Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayoga berkesempatan untuk terlibat dalam diskusi antara berbagai sektor pelaku seni ini.

Pada Sabtu 17 Maret 2018, diskusi terbagi dalam beberapa sesi, pertama adalah sesi “Percakapan #1 Pembelajaran”. Tujuan dari sesi ini adalah mendengar capaian dan strategi masing-masing pelaku seni, baik individu maupun kolektif dalam praktek kesenimanannya. Lingkungan seni, khususnya di Yogyakarta, tidak membentuk kultur/ perilaku seniman yang berpikir panjang. Dengan kata lain strategi yang ditempuh adalah kerja-kerja yang taktis, bukan strategis. Maka secara organik akan lahir jarak antara kebutuhan pelaku seni yang jangka pendek dengan logika kerja KSI yang cenderung jangka panjang. Kemudian diskusi bergulir hingga kondisi bahwa sebenarnya sumber dana selalu ada di sekitar kita, salah satunya adalah dana desa. Perlu dibangun kesadaran bahwa persoalan mengenai dana tidak melulu harus diselesaikan di pusat. Dengan demikian, pelaku seni sekaligus akan menjadi salah satu pilar yang aktif dalam struktur masyarakat, tampil sebagai salah satu kontributor utama dalam sektor riil. Para anggota berharap bahwa KSI menjadi jembatan atau platform akan akses ini. Bahwa seniman bukan hanya soal berkarya, tetapi juga memikirkan posisi sosial dari kerja infrastruktur.

Sesi kedua berjudul “Percakapan #2 Inspirasi”. Setelah saling berbagi tentang bagaimana selama pelaku seni bertahan hidup dengan berbagai macam cara, para anggota mencoba mencari bentuk ideal dari cara kerja KSI yang implementatif dengan kebutuhan anggotanya. Diawali dengan kesadaran bahwa kesenian kini semakin multidisiplin, KSI perlu menjadi wadah yang inklusif antar anggota untuk saling berbagai pengetahuan dan potensi. Pada dasarnya pelaku seni dimanapun senantiasa membutuhkan jejaring dalam lingkup regional, terutama dalam rangka memperkaya refrensi tekstualnya. Lebih lanjut agar semua sektor kesenian ikut terlibat dalam peningkatan daya apresiasi seni dari publik.
Sesi ketiga hari pertama ini ditutup dengan sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UUPK). Undang-Undang ini adalah kebijakan yang secara aktif dikawal oleh KSI dalam 5 tahun terakhir. Disampaikan bahwa UUPK bersifat ofensif, dengan tidak menganggap globalisasi sebagai ancaman, namun justru peluang untuk pengkayaan teks dan jejaring. Objek UUPK ada 10, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat, ritus, pengetahuan tradisi, seni, bahasa, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pemilahan ini tidak bersifat kategoris, tetapi tagging, artinya satu produk/bidang bisa terdiri lebih dari satu objek. UUPK menggunakan logika pemajuan, bukan pelestarian karena menuntut untuk dikembangkan, tidak hanya dilestarikan. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah relasi antara kajian dan penciptaan, memberikan kesempatan berkesenian yang sama, dan lain-lain.

UUPK dimulai dengan dokumen perencanaan bernama Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disusun dari partisipasi masyarakat di tingkat kabupatan/kota, lalu diajukan ke tingkat provinsi, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rumusan strategi kebudayaan nasional. Ini adalah tahap pertama dari implementasi UUPK berskala nasional namun dilaksanakan berdasar pada potensi dan urgensi setiap daerah.

Hari kedua, 18 Maret 2018, dimulai dengan sesi “Percakapan #3 Aspirasi”. Sesi ini membagi peserta dalam kelompok diskusi yang lebih kecil, 2-3 orang per kelompok. Antar kelompok diberi tugas berbeda yang secara garis besar menyusun strategi dan program ideal KSI untuk periode 2017-2022. Kelompok yang bertugas merumuskan strategi mengawali dengan bahasan bahwa secara umum publik seni masih canggung untuk mengartikulasikan bahwa seni adalah klaim politik. Berkaca pada fakta bahwa seni di Indonesia tidak pernah kritis secara jumlah, menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada sumber dana, tetapi keberanian publik seni mengeksplisitkan klaim politiknya. Dalam kerangka ini KSI perlu menjadi lembaga yang juga bisa mengadvokasi, memberi perlindungan dan solidaritas jika ada anggotanya yang tertekan akibat klaim politik tertentu. Diakui bahwa kultur berkoalisi secara organik sudah tumbuh di daerah-daerah, terutama daerah yang infrastruktur seninya terbilang minim. Dengan kata lain KSI perlu mendorong sosialisasi paralegal, agar anggotanya memiliki kesadaran hukum. Di sisi lain, KSI sangat perlu untuk memperluas/ menambah anggota, dengan tidak melupakan syarat yaitu jejaring yang solid. Kemudian secara program, KSI perlu membuat peta, atau mapping kebutuhan infrastruktur seni setiap daerah, dan menyasar tokoh strategis sebagai sasaran audiensi. Dengan asumsi bahwa setiap responden akan aktif dan dapat mengidentifikasi problem, yang lebih penting adalah melakukan campaign apa keuntungan terbesar dari anggota yang aktif.

Hari kedua yang sekaligus menjadi hari penutup ini berlangsung dengan lebih cair. Semua gagasan yang mencuat dalam 2 hari ini akan dijadikan pegangan oleh para pengurus KSI. Pegangan agar KSI menjadi lembaga inklusif yang menjembatani keterbatasan dan kepanjangan tangan dari publik seni di Indonesia. KSI sendiri melanjutkan agenda serupa di daerah lain, yaitu Temu Anggota Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, dan Temu Anggota Indonesia Timur dan Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Pengumuman Kantor: Menakar Kuasa Ingatan

Pertangah Maret lalu, akhirnya terbit buku dari Festival Arsip IVAA berjudul Menakar Kuasa Ingatan: Catatan Kritis Festival Arsip IVAA 2017. Buku ini terbit setelah festival ini selesai Oktober 2017. Untuk memperkaya sudut pandang, kami mengundang sejumlah penulis untuk terlibat dalam buku ini, mereka adalah Alia Swastika, Zuhdi Sang, Erie Setiawan, Elia Nurvista, Brigita Isabella, Taufiq Nur Rachman, Eliesta Handitya, Jonet Suryatmoko, Nisa Ramadani, Barasub, Helly Minarti, Fiky Daulay, M. Margareth Ratih Fernandez, Ikun SK, juga tidak ketinggalan para penyelenggara, mulai dari Direktur Festival Arsip, Tim Artistik, Tim Seminar, dan Tim Edukasi Publik. Buku ini di harapkan menjadi modal untuk melakukan pembacaan kritis terhadap posisi festival, arsip, dan dinamikanya. Sekaligus menjadi bagian dari refleksi atas terselenggaranya festival yang pertama di lakukan IVAA.

Tidak jauh berselang, kami mengungah video dokumentasi Festival Arsip berjudul Pirsa Kuasa Ingatan. Rekaman audio visual tentang momen-momen terbaik, memperihatkan irisan-irisan penting dari pembahasan dan isu yang di kelola oleh festival. Dalam video ini diperlihatkan aktivitas festival dengan ragam arsip yang dihidupkan, melalui bermacam instrumen tanpa membuatnya kehilangan konteks jamannya. Video ini dikerjakan oleh Muhammad Dzulqurnain bersama penanggung jawab dokumentasi Dwi Rahmanto, beserta Tim Konten IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Tangannya Putus Satu: Edit-a-thon Wikipedia Seni dan Perempuan

Sejauh ini halaman Wikipedia Indonesia memiliki 46 entri mengenai profil pelukis dan pematung Indonesia. Hanya tiga entri di antaranya merupakan profil tentang seniman perempuan. Di satu sisi, lanskap informasi dan pengetahuan tentang seni Indonesia yang sudah terkumpul dalam halaman Wikipedia Indonesia memang jauh dari komprehensif dan masih belum dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan yang valid. Di sisi lain, kesenjangan gender dalam entri yang sudah ada saat ini merupakan simptom dalam produksi pengetahuan sejarah seni Indonesia secara umum.

Heidi Arbuckle, yang meneliti sosok seniman Emiria Sunassa (1891-1964), pernah menulis: “Jika kita menyimak betul perjalanan sejarah seni rupa Indonesia, absennya seniman wanita seperti sebuah kesengajaan” (Arbuckle, 2004). Yang dimaksud dengan “kesengajaan” di sini mengandung argumen bahwa bukannya tidak ada cukup banyak perempuan dalam dunia seni di Indonesia. Melainkan, terdapat struktur patriarkis yang seperti dengan sengaja mengabaikan dan menyingkirkan peran perempuan dalam perkembangan seni Indonesia. Mulai dari konsep “Bapak” dalam penciptaan kanon seni modern, politik Ibuisme rezim Orde Baru yang menginfantilisasi praktik seni perempuan sebagai “hobi” semata, sampai pewajaran kekerasan berbasis gender yang berlangsung dalam berbagai level di ruang-ruang seni kontemporer.

Judul Tangannya Putus Satu diambil dari karya IGAK Murni Asih (1966-2006), seniman perempuan Bali yang karya-karyanya mengeksplorasi seksualitas di luar narasi hegemonik tentang feminitas. Dalam konteks kegiatan Wikipedia Edit-a-thon kali ini, Tangannya Putus Satu dijadikan sebagai penanda kepincangan gender, yang kemudian memantik upaya bersama dalam mengerahkan tangan-tangan para Wikipediawan untuk menuliskan lebih banyak entri tentang perempuan dalam seni di Indonesia.

Kegiatan menulis Wikipedia dengan perspektif feminis secara marathon dan bersama-sama, lebih dari sekedar niat untuk menambahkan jumlah entri tentang seniman perempuan Indonesia di Wikipedia. Bersedekap dengan berbagai inisiatif Feminist Wikipedia Edit-a-thon yang digelar di berbagai belahan dunia sepanjang bulan Maret, kegiatan ini diharapkan dapat menghembuskan napas panjang dialog tentang ketidakadilan gender dalam konteks praktik seni di Indonesia, dengan pertama-tama menjadikan Wikipedia sebagai situs bersama dalam mengklaim kembali posisi perempuan dalam sejarah seni.

Kegiatan ini merupakan kerjasama Kunci Cultural Studies Center, Indonesian Visual Art Archive dan Wikimedia Indonesia. Akan dilangsungkan pada:
Jumat, 23 Maret 2018,
Pukul 13.00 – Pk. 17.00
di Indonesian Visual Art Archive, Yogyakarta

Informasi kegiatan:

  • Terbuka untuk umum untuk partisipasi dari berbagai disiplin, namun terbatas untuk 20 orang peserta. Untuk mendaftar klik http://bit.ly/Tangannyaputus1 
  • Tidak dibutuhkan keahlian khusus mengedit halaman Wikipedia untuk mengikuti kegiatan ini. Satu jam pertama akan diisi dengan pelatihan dasar membuat dan mengedit halaman Wikipedia yang difasilitasi oleh tim Wikimedia Indonesia.
  • Peserta harus membawa laptop dan charger sendiri.
  • Perpustakaan IVAA memiliki bahan-bahan berupa dokumen, katalog dan buku yang dapat digunakan sebagai sumber penulisan. Peserta juga dapat membawa bahan-bahan penulisan lain.

PROGRAM MAGANG IVAA – 2018

 

Mengawali tahun 2018, IVAA kembali membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum untuk menambah pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa.
Dalam kesempatan kali ini, kawan-kawan dapat memilih 4 bidang kerja yaitu:

 

  1. Dokumentasi
  2. Perpustakaan
  3. Pengarsipan
  4. Program Keredaksian

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

#SOROTANDOKUMENTASI Januari-Februari 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Sekitar 13 peristiwa seni yang tercatat di penerimaan dokumentasi IVAA dalam periode ini, di antaranya kerjasama dengan Museum Taman Tino Sidin berkaitan dengan pameran Sketsa Mengenang Batara Lubis (salah satu pelukis angkatan sanggar pelukis rakyat tahun 1960-an). Di bulan Februari juga berlangsung “Festival Guyub Murub, festival berlokasi di pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Diikuti beberapa seniman dari berbagai bidang; seni rupa, seni pertunjukan, seni media, dan sebagainya, acara ini merupakan bentuk solidaritas seniman pada isu agraria di Yogyakarta.

Tiga kawan magang di bidang dokumentasi banyak membantu kami di bulan Desember 2017-Februari 2018, yaitu Lauren Paterson dari Australia yang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies), Sebastian Advent mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sagita Rani mahasiswi Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan Media Rekam – Fotografi. Kawan-kawan kami ini berkontribusi dalam kerja dokumentasi, pencatatan arsip, pengolahan arsip, hingga pengelolaan berbasis online IVAA.

Beberapa hasil dokumentasi yang kami kerjakan bersama ini, diantaranya ialah; video tentang pameran bertajuk “900 MDPL”, program yang di kuratori oleh Mira Asriningtyas (Lir Space) ini, merupakan sebuah proyek seni site-specific di Kaliurang, sebuah desa di selatan kaki Gunung Merapi. Bertujuan merespon ruang dan mengumpulkan cerita, program ini berharap bisa menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan antara seniman dan warga setempat.

Sedangkan dalam sektor internal IVAA, guna meningkatkan kerja-kerja dan pelayanan pengarsipan, kami menyelesaikan catatan Standard Operating Procedures (SOP) untuk bidang dokumentasi, pengarsipan, pengelolaan portal online, dan perpustakaan. SOP ini akan mempermudah kami dalam memahami kronologis dan mengevaluasi workflow yang selama ini berlangsung. Dalam diskusi dan penyusunanya, kami di bantu oleh Melisa Angela.

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Benih 900 Mdpl

Oleh: Dwi Rachmanto

Pagi itu saya berangkat bersama Advent, kawan magang IVAA yang menangani dokumentasi foto, menempuh dua jam perjalanan dari tengah Kota Yogyakarta menuju acara yang berlokasi di Kaliurang, kaki bukit kecil di selatan Gunung Merapi. Kaliurang sendiri termasuk wilayah Kabupaten Sleman yang kurang lebih berjarak 25 Km dari pusat kota. Para geolog Belanda mengatakan bahwa dulu Kaliurang difungsikan sebagai situs peristirahatan di zaman kolonial. Kini, Kaliurang menjadi tempat wisata alam yang populer dengan udaranya yang sejuk, dan potensi alam dari hasil erupsi Gunung Merapi.

Anggun Priambodo, Dimaz Maulana, Dito Yuwono, Edita Atmaja, Eva Olthof, Maryanto, Mella Jaarsma, Sandi Kalifadani, Simon Kentgens adalah 9 seniman dari berbagai bidang yang terlibat dalam proyek seni dengan bertajuk “900 mdpl” ini. Tajuk ini terinspirasi dari letak Kaliurang yang berada di ketinggian rata-rata 900 meter di atas permukaan laut. Proyek seni ini ingin merespon ruang dan mengumpulkan cerita, dengan harapan mewujudkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang melibatkan komunitas warga lokal melalui kerja seni kolaboratif.

Udara yang sejuk di Kaliurang membuat kami bersemangat menghadiri pembukaan ini, meskipun menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Kami langsung bertemu Mira Asriningtyas (kurator, sekaligus penggagas proyek ini). Mira merupakan akamsi  (anak kampung sendiri) di wilayah kaki bukit Merapi. Dia juga mendirikan dan mengelola art space bernama Lir Space di Kota Yogyakarta. Kemudian Mira menyambut kami dengan sepasang cangkir teh panas sebagai penawar dingin, sekaligus teman percakapan tentang rangkaian proyek ini.

“900mdpl” terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, masa residensi yang menghasilkan proyek seni tunggal dari masing-masing seniman. Di sini setiap seniman melakukan riset di tengah-tengah masyarakat untuk memperdalam gagasannya. Bagian kedua yaitu presentasi karya secara bersamaan di beberapa lokasi berbeda di Kaliurang. Konsep ini menarik karena dinikmati dengan berjalan kaki mengunjungi setiap sudut lokasi. Jalan kaki menjadi aspek partisipatif yang kemudian melahirkan ruang pengalaman yangsecara aktif menjalin narasi antar karya setiap seniman.

Acara ini diawali dengan perkenalan project “900mdpl” di Rumah Makan Joyo. Pengunjung digiring untuk mengikuti narasi pertama dengan mengunjungi lokasi dari karya seni Maryanto. Berada ada di bekas rumah Lik Sigun, yang dipenuhi dengan memori kolektif dan anekdot lokal tentang seorang pria unik. Selama hidupnya, Lik Sigun hidup damai di rumah tersebut, terbebas dari dunia yang riuh dan bising. Kini, rerumputan liarmemenuhi seluruh ruang rumah yang lama tak terpakai itu. Namun, Maryanto yang merapikan rumah itu dan menemukan peninggalan-peninggalan patung serta barang menarik lain.

Kemudian, setelah Maryanto, kami diajak ke sebuah penginapan dan cafe yang melegenda, yaitu Vogels. Seniman yang berkarya di sana adalah Mella Jaarsma. Mella adalah warga Belanda yang menetap di Yogyakarta sejak tahun 80an. Mella menuntaskan rindu terhadap negaranya yang dingin dengan mengunjungi Kaliurang. Dalam proyek seni ini dia membuat karya performatif memasak coklat dan susu yang bisa dinikmati tiap pengunjung dan pemilik cafe. Selanjutnya secara berurutan kami diajak mengunjungi karya Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Dimaz Maulana, Sandi Kalifadani, Edita Atmaja, Eva Olthof, Simon Kentgens. Di akhir kami kembali ke Rumah Makan Joyo.

“900mdpl” diproyeksikan sebagai benih dari proyek seni site-specific yang berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya. Dengan gagasan utama menawarkan ruang yang penuh dengan berbagai potensi kemungkinan, sekaligus meleburkan batasan subjek dan objek seni dengan seniman ditantang untuk berkolaborasi dengan masyarakat/publik secara langsung.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Tribute to Tino Sidin

Oleh: Dwi Rachmanto

Acara Tribute to Tino Sidin ini mengambil judul “92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Tino Sidin adalah nama yang lekat di era 80-an dengan ungkapan “Ya, bagus”. Sebuah pelajaran penting bagaimana kita menghargai sebuah coretan/gambar, yang apapun Tino Sidin akan bilang itu bagus. Tino Sidin sangat akrab dengan pelajaran menggambar khususnya untuk anak TK sampai SD. Caranya menggambar tidak bisa dipungkiri, telah menginspirasi dan mendorong anak-anak di masanya untuk berani, dan tidak merasa bersalah kalau gambarnya dirasa kurang proporsional.
Tino Sidin lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925. Dia adalah seorang pelukis sekaligus guru gambar yang populer melalui program di TVRI. Tino Sidin menemukan metode pelajaran seni menggambar kepada anak-anak dengan santai, menyenangkan, dan mudah. Metode ini membuat anak-anak tertarik untuk selalu menyaksikan program televisinya. Tino Sidin meninggal pada 25 Desember 1995 pada usia 70 tahun.
Pasca kepergianya, keluarga menginisiasi museum, yang terletak di Jalan Tino Sidin 297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Provinsi Yogyakarta. 4 Oktober 2014 menjadi tanggal dibukanya museum bernama “Museum Tino Sidin”. Peresemian dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Muhammad Nuh. Museum ini dibangun tanpa merubah desain asli dari rumah tinggal Tino Sidin, hanya menambah beberapa ruangan yang dijadikan sebagai sanggar dan perpustakaan. Desain arsitekturalnya dikerjakan oleh Yoshi Fajar.

Museum Tino Sidin menyimpan memorabilia Tino Sidin mulai dari kacamata, cat, kuas, dan tak ketinggalan koleksi baretnya yang khas. Museum ini juga menampilkan karya lukis, sketsa, buku, termasuk arisp-arsip pribadi. Juga menampilkan koleksi foto-foto, kliping media massa, surat-surat pribadi, selebaran peristiwa, sertifikat maupun penghargaan yang pernah diterimanya, lengkap dengan testimoni para sahabat dan murid beliau. Berbagai koleksinya masih tersimpan rapih, dan kemudian dipresentasikan dengan baik. Kesadaran akan arsip sangat diperhatikan di museum ini.
Kemudian di penghujung 2017, tepatnya pada 14 Desember diadakan acara bertajuk “Tribute to Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Salah satu dari rangkaian acara ini adalah Peresmian Patung Tino Sidin dan Pembukaan Pameran, yang dihadiri oleh beberapa pejabat negara, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, M.pd., Mantan Kapolda DIY, Purn. Irjen Haka Atana, BBPH H. Gusti Prabu Kusumo, Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, seniman-seniman dan Ikatan Istri Senirupawan Yogyakarta (Ikaisyo), para panitia Parallel Event Biennale Jogja XIV, IVAA dan tamu undangan. Pembuatan patung Tino Sidin ini merupakan buah karya dari seniman bernama Yusman.

Selain persemian dan pameran lukisan, diadakan pula serangkaian acara berkonsep sarasehan, diselenggarakan pada 23 Desember 2017 dan menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani. Berbagai acara dalam sarasehan tersebut adalah tour museum dan pameran, dialog dengan seniman-seniman terlibat, dan tak lupa menggambar bersama dengan anak-anak sambil mengikuti arahan bapak Tino Sidin seperti era 80an di TVRI.

Sudah barang tentu museum memang memberi satu pelajaran, tentang bagaimana proses-proses kreatif dan berkesenian. Museum Tino Sidin dapat menjadi salah satu wujud dari museum pribadi seniman yang mampu mengeksperikan, mempresentasikan pengalaman dan pengetahuan dari proses tersebut. Tino Sidin dengan peninggalan semangat estetiknya telah mengajarkan, bahwa yang utama bukan melulu soal gedung besar nan megah, tetapi temuan isi dari museum tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#sorotanpustaka Januari-Februari 2018

Oleh: Santosa

Dalam dua bulan ini perpustakaan IVAA berbenah, melakukan penataan kembali, membuat sign system dan merapikan koleksi agar semakin mudah dan cepat ditemukan. Tiga orang kawan magang membantu dalam proses entri data ke dalam Senayan Library Management System (SLIMS)  dan meletakkan buku sesuai dengan kode rak-nya masing-masing. Sedangkan publik, yang mengakses koleksi pustaka memiliki kecenderungannya, Beberapa koleksi yang banyak diakses dalam dua bulan ini diantaranya ialah referensi seputar fotografi, film, teori dan sejarah seni, biografi seniman terutama Affandi.  Ada juga yang membaca ataupun meminjam dengan topik – topik tertentu, umumnya sebagai bahan penulisan skripsi hingga tesis. Topik mengenai Desember hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) masih banyak dicari. Dengan tinjauan-tinjauan buku serta katalog yang melingkupinya seperti, Biennnale Jakarta, Outlet: Peta Seni Rupa Yogyakarta, Sejarah Seni Rupa Indonesia, Lekra Tak Membakar Buku, Tuan Tanah Kawin Muda. Topik lain yang berkenaan dengan mural, yang dikaji antara lain Katalog Mural Sama Sama, Mural Rasa Jogja, Kode Art Project, buku tentang ruang kota, Jalan Seni Jalanan Yogyakarta, dan  beberapa skripsi berkenaan dengan mural dan pertarungan  seni di ruang publik.

Untuk tambahan pustaka kali ini berdasar jenis terdapat 15 Buku, 3 Jurnal, 25 Majalah dan 55 Katalog. Sedangkan berdasar subyek terdapat Performance Art, Film, Musik, Ilmu Sosial, Seni Rupa. Dalam tambahan pustaka baru ada 3 yang kita tampilkan ulasannya di sini, pertama “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, kedua buku kumpulan tulisan “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968 – 2017”. Kemudian yang ketiga adalah “Journal Southeast Of Now Directions in Contemporary and Modern Art In Asia” No 1 tahun 2017. Khusus untuk buku ketiga sorotan ditulis dalam bahasa Inggris oleh kontributor Angela Wittwer.

Oleh: Santosa, Eka Chintya Putri, dan Angela Wittwer

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017

Penulis; Bambang Bujono
Editor: Ardi Yunanto
Esai pengantar: Hendro Wiyanto
Peneliti dan pengarsip: Berto Tukan
Editor bahasa: Ninus D. Andarnuswari
Desain: Andang Kelana
Diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale
Cetakan pertama, November 2017
Tebal: xxxii + 576 hlm; 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santosa

“Melampaui Citra dan Ingatan” adalah kumpulan tulisan Bambang Boejono dari berbagai media massa, buku, katalog ataupun makalah dirangkum dan diklasifikasikan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan seni rupa tahun 1968 hingga 2017, total 432 tulisan Bambang Boejono terkumpul hingga Oktober 2017. Terseleksi 101 tulisan yang kemudian dibagi dalam lima bab, disajikan dalam buku setebal dari 576 halaman. Tulisan-tulisan dalam buku ini disusun secara diakronik dan diberi kerangka bab sebagai bagian dari pembingkaian esai.

Bab pertama membicarakan peristiwa seni rupa selama lebih dari empat dekade- khususnya di Jakarta- diawali apresiasi lukisan Affandi dengan revolusi bentuk dan penemuan teknik sebagai bagian dari seni lukis modern. Pembaca juga disuguhi cara analisis, telaah karya dengan beberapa contoh pelukis dengan sapuan yang khas seperti Srihadi Sudarsono, Fadjar Sidik, dan Nazar di Pameran Seni Lukis Indonesia 1972.

Bab kedua mencermati karya pameran dan seniman secara urut. Mengenali sosok yang berpengaruh dalam sejarah seni rupa, dari pameran kelompok, pameran tunggal dan beberapa tonggak perjalanan seni rupa seperti Pameran Besar Seni Lukis Indonesia, Biennale Jakarta, momentum yang disebut melahirkan Seni Lukis Modern, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), hingga Seni Rupa Kontemporer.

Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini menggambarkan landskap sejarah seni rupa, khususnya di Jakarta sejak Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi pusat seni rupa di Jakarta. Perkembangannya mulai dari sejak masih didominasi lukisan dan patung, sampai muncul objek instalasi, video art hingga new media art. Juga perjalanan pameran yang dulunya dikerjakan secara mandiri oleh seniman dan galeri, hingga kini populer profesi kurator sebagai pengawal sebuah pameran.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)

Judul Buku : Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)
Penulis : Aiko Kurasawa, Ajip Rosidi, Akba Yumni, Bonnie Triyana, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale
Penerbit : Forum Lenteng
Tebal : xxiv + 112
Ukuran : 14,8×21 cm

Oleh: Eka Chintya Putri 

Sebuah memoar seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfilman Indonesia, dengan buah karyanya yaitu Sinematek Indonesia. Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)” adalah buku yang menceritakan Misbach Yusa Biran, tokoh yang memutuskan berhenti sebagai sutradara dan memilih menjadi pengarsip film.

Misbach Yusa Biran, lahir di Rangkasbitung 11 September 1933. Saat di bangku sekolah, Misbach sudah mempunyai jiwa kesenimanan. Banyak tokoh kebudayaan Indonesia yang sudah Misbach jumpai, yang kemudian mendorongnya untuk menghasilkan beberapa karya dan masuk di majalah Merdeka. Tahun 1952, Misbach yang kala itu masih SMA berusaha masuk dunia film. Usaha yang ia lakukan sendiri dan dianggapnya sebagai sesuatu yang agak nekat. Tekad Misbach tidak pernah padam untuk dapat terjun ke dunia film. Dorongan Misbach di dunia film, banyak dilatari oleh film Pulang karya Basuki Effendi. Pekerjaan pertama Misbach di dunia yaitu pencatat skrip pada film Nya’ Abbas Akup, berjudul Heboh (1954).

Menurut pemikiran Misbach, Sinematek Indonesia (SI) menjadi pusat pengarsipan film pertama sekaligus terbesar di Asia Tenggara. SI tidak bisa dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak bersejarah, namun sebagai ruang pelestarian sejarah dan film Indonesia. Karena sejarah jika tidak dikelola secara baik, situasinya memburuk dan mengancam sejarah itu sendiri. SI sendiri merupakan lembaga ilmiah yang bergerak dalam kegiatan pengarsipan film, dengan cara dokumentasi, perpustakaan dan penelitian. Buku ini memiliki 2 sudut pandang dari generasi yang berbeda. Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana cara memaknai arsip dan gagasan film Indonesia. Dari hal tersebut didapat sebuah benturan dan kolaborasi dengan mengkonstuksikan masalah, kemudian menafsir catatan sejarah untuk kemungkinan yang terjadi dimasa kini. Sebagai kaum terpelajar, diharapkan generasi muda dapat melanjutkan cita-cita Misbach terhadap Sinematek Indonesia. Sekaligus menjadikan Sinematek sebagai tempat belajar menghasilkan karya-karya bermutu, agar dapat memberikan kontribusi positif khususnya bagi perfilman.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.