Tag Archives: yogyakarta

Pembangunan Hotel dan Mall di Yogyakarta Rugikan Lingkungan

Sebuah Kota dan Waktu Yang Berlalu - 2004 - Melodia
Sebuah Kota dan Waktu Yang Berlalu. Melodia. 2004 –arsip dokumentasi IVAA

Oleh : Martha Lusiana

[Tulisan ini sebelumnya dimuat di situs web SatuHarapan, pada Kamis, 23 April 2015]

*****

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Maraknya pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan (mall) di Yogyakarta ternyata lebih banyak menimbulkan sejumlah masalah serius, terutama pada lingkungan. Hal itu disampaikan Dadok Putera Bangsa, aktivis Jogja Asat, dalam diskusi bertajuk ‘Yogya Sold Out (?)’ (Jogja sudah terjual, Red), di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (22/4).

Dadok mengungkapkan kondisi yang terjadi di Miliran, kampung tempat tinggalnya yang mengalami kekeringan akibat pendirian Fave Hotel Jalan Kusumanegara, Yogyakarta. “Kami jadi korban pembangunan Fave Hotel. Sejak beroperasi 2012 silam, sumur warga menjadi kering. Padahal, sejak saya hidup di sini dari kecil, sumur tidak pernah kering meski musim kemarau,” ujarnya, seperti yang dilaporkan dalam laman resmi ugm.ac.id.

Menyikapi hal tersebut, ia bersama warga setempat telah mengajukan protes ke manajemen hotel, sayangnya tak mendapatkan respon yang jelas. Mereka juga menyambangi Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta agar melakukan pengawasan penggunaan sumur dalam hotel tersebut.

“Ironisnya, argumen Pemkot melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) membenarkan operasional hotel karena dinilai sudah tepat mengambil sumber air dalam yang tidak akan mengganggu sumber air dangkal masyarakat, sementara jelas-jelas sumur warga terdampak menjadi kering,” ungkapnya menyayangkan.

Oleh sebab itu, Dadok mengajak seluruh masyarakat, termasuk kaum muda, untuk memperjuangkan kepentingan rakyat yang telah kehilangan kebutuhan dasar, yakni air. Salah satunya dengan melakukan riset terkait analisis dampak lingkungan (amdal) pembangunan hotel dan mall di Yogyakarta.

“Saya takut Jogja nantinya benar-benar menjadi kering,” kata Dadok.

Hal senada juga disampakian R.M. Aji Kusumo, aktivis anti pembangunan apartemen utara, yang menilai bahwa pembangunan hotel dan mall tidak banyak memberikan nilai positif bagi masyarakat. Namun sebaliknya, lebih banyak menimbulkan dampak negarif yang tidak memberikan keuntungan bagi warga.

“Pembangunan hotel dan mall dengan modal investor tidak menguntungkan warga, sebab keuntungannya hanya masuk ke kantong mereka sendiri,” ujarnya.

Meskipun merugikan masyarakat, lanjutnya, kebanyakan usaha pembangunan komersil tersebut tetap berjalan karena telah mendapat dukungan dari sejumlah pihak, sepeti aparat kepolisian. Bahkan, persetujuan itu juga didapat melalui dukungan ilmiah dari kalangan akademisi.

“Sekarang ini pengusaha, negara, dan kaum intelektual bekerja sama menyengsarakan rakyat,” tutur Aji.

Sementara itu, Francis Wahono, Direktur Center for Integrated Development and Rural Studies menilai maraknya pembangunan hotel dan mall telah merusak keistimewaan Yogyakarta.

Tidak ada hal yang khas lagi di Yogyakarta, misalnya citra rakyat yang ramah semakin pudar seiring dengan sering meletusnya konflik bernuansa sara. Lalu, cara berjualan yang tidak jujur, nuthuk harga semakin dipraktikkan di berbagai kawasan objek wisata dan sejumlah hal lainnya.

“Kalau dulu warung-warung kampung dan dusun hidup, sekarang sepi digilas supermarket. Kalau dulu tanpa polisi saja orang tidak saling mendahului, kini seolah-olah berebut jalan, tak berbeda dengan di kota besar seperti Jakarta. Jadi apa yang istimewa?” ujarnya.

Kondisi Yogyajarta, menurutnya, akan berjalan harmonis dan lestari apabila jagad pakeliran geo-ekologis dijadikan sebagai acuan pertumbuhan, penghidupan, dan pembangunan Yogyakarta. Sebab, ciri khas yang istimewa dari Yogyakarta tidak hanya terletak pada bentuk pemerintahan dan penguasa tanahnya, tetapi justru dari geo-ekologis yang ditopang oleh inisiatif rakyatnya.

“Hanya dengan itu ‘Jogja Sold Out‘ tidak akan terjadi,” ujarnya.[]

Kebudayaan dan Kearifan Lokal dalam Mengelola Lingkungan dan Sumberdaya Air Kawasan Kars Gn. Sewu

1417694930 - Batupun Mencair - Afdhal - 2008
Batupun Mencair . Afdhal. 2008 –arsip IVAA

Oleh : Petrasa Wacana – Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

[Tulisan ini sebelumnya dimuat di situs web Lembaga Penelitian & Pengabdian MasyarakatUPN “Veteran” Yogyakarta, pada hari 2 Juli 2008]

*****

Abstrak
Kabupaten Gunung Kidul DI Yogyakarta merupakan kawasan Pegunungan Seribu (Gunung Sewu) adalah kawasan yang memiliki keunikan tatanan geologi dan hidrologi, dikenal sebagai kawasan kars yang dikenal sebagai kawasan yang kering dan tandus, hal ini diakibatkan oleh sifat batuan yang mudah larut (batugamping) apabila bereaksi dengan air sehingga air yang berada di atas permukaan akan mengalir dan tersimpan di bawah permukaan menjadi sungai-sungai bawah permukaan yang berada di dalam gua-gua. Kekeringan menjadi permasalahan utama bagi masyarakat Gunung Kidul selama beratus-ratus tahun, kawasan ini telah dihuni oleh masyarakatnya selama berabad-abad lamanya bahkan dari jaman batu (megalithikum). Munculnya peradaban manusia yang berkembang di kawasan ini menggambarkan bahwa masyarakat di kawasan ini mampu beradaptasi dengan kondisi alamnya yang menyediakan sumberdaya alam untuk dapat dimanfaatkan, salah satu sumberdaya yang utama adalah air,  pola perkembangan pemukiman di wilayah ini akan selalu mendekati pada sumberdayanya dimana air akan menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan untuk pertanian bagi masyarakat di sekitar Kawasan Kars Gunung Sewu. Dalam menjalankan kelangsungan hidupnya masyarakat memiliki cara dan tradisi tersendiri dalam mengelola sumberdaya air yang ada, serta mengolah lahan kering di sekitarnya menjadi lahan pertaniaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan masyarakat lokal, kearifan lingkungan menjadi pilar utama dalam pengelolaan kawasan bagi masyarakat lokal untuk menjaga dan melestarikan sumberdaya yang ada, kebudayaan lokal berkembang dan terus dijalankan sebagai dasar bagi masyarakat lokal untuk menjalankan kehidupannya di wilayah kars Gunung Sewu. Pergeseran kebudayaan dalam pembangunan mengakibatkan permasalahan lingkungan di kawasan kars menjadi objek utama dalam tulisan ini, sehingga perlu  adanya penggalian kembali kearifan lokal yang ada untuk mengelola kembali lingkungan menjadi lebih baik dan berkelanjutan.
Kata Kunci: kars, kearifan lokal/lingkungan, kawasan kars, sumberdaya air, gua.

I. Pendahuluan
Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta merupakan kawasan Pegunungan Seribu (Gunung Sewu) adalah kawasan yang memiliki keunikan tatanan geologi dan hidrologi, dikenal sebagai kawasan kars yang disusun oleh Batugamping bersifat karbonatan (mengandung CaCO3) sehingga mudah mengalami proses pelarutan oleh adanya reaksi kimia dengan air hujan yang bersifat asam

Proses pelarutan yang terjadi secara terus menerus akan membentuk bentang alam eksokars yang terbentuk di permukaan dan memiliki fenomena yang khas, yaitu  karren atau lapies (lubang-lubang pada batuan hasil pelarutan), bukit kerucut (conical hill), lembah yang berada di antara bukit-bukit kerucut (doline), telaga kars, sungai periodik yang berujung pada mulut gua vertical (sinkhole), lubang air masuk (ponour), sungai permukaan yang menghilang masuk ke mulut gua horizontal (shallow hole), dan lembah-lembah tidak teratur yang buntu (blind Valey), dan proses pelarutan berkembang di bawah permukaan menghasilkan bentukan lahan bawah permukaan (endokars) yang menghasilkan jaringan lorong lorong vertikal dan horizontal dengan ukuran dan jenis bervariasi yang membentuk sistem perguaan (cave system) atau sistem sungai bawah tanah. Kondisi ini mengakibatkan kawasan kars memiliki keunikan sistem hidrologi yang terakumulasi di bawah permukaan sehingga kurangnya sumberdaya air di atas permukaan menjadi permasalahan utama di kawasan ini yang dapat mengakibatkan bencana kekeringan berkelanjutan.

Kawasan Kars Gunung Kidul telah dihuni oleh masyarakatnya selama berabad-abad lamanya bahkan dari zaman batu (megalithikum). Munculnya peradaban manusia yang berkembang di kawasan ini menggambarkan bahwa masyarakat di kawasan ini mampu beradaptasi dengan kondisi alamnya yang menyediakan sumberdaya alam untuk dapat dimanfaatkan, salah satu sumberdaya yang utama adalah air,  pola perkembangan pemukiman di wilayah ini akan selalu mendekati pada sumberdayanya dimana air akan menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan untuk pertanian bagi masyarakat di sekitar Kawasan Kars Gunung Sewu. Kemajuan teknologi memberikan tantangan kepada para peneliti karstologi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di kawasan kars untuk menjawab tantangan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan kekeringan di kawasan kars, sehingga banyak program-program atau proyek-proyek yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu untuk mengelola kawasan kars dan menaikkan sumber air bawah tanah ke permukaan agar dapat didistribusikan kepada seluruh  masyarakat yang membutuhkan air, dalam program-program yang telah dijalankan ada yang menunjukkan keberhasilan namun banyak juga yang mengalami kegagalan, yang sering menjadi permasalahan adalah para peneliti dari berbagai bidang ilmu keteknikan sering lupa, bahwa kondisi tatanan geologi kawasan kars yang unik tidak bisa diperlakukan seperti kawasan non-karstik sehingga banyak proyek-proyek pengembangan sumberdaya air justru mematikan sumber air itu sendiri dan menjadikan masyarakat ketergantungan akan sistem-sistem perpipaan yang dibangun sehingga menghilangkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat dalam mengelola sumber daya air dan lingkungan yang sudah dimiliki dari jaman nenek moyangnya terdahulu dalam bertahan hidup di wilayahnya. Kearifan lokal sering dimaknai sebagai suatu pemikiran yang tidak berdasarkan pada teori-teori yang ada, yang dipahami sebagai kepercayaan dan suatu tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat, tanpa mengkaji secara mendalam pemaknaan manfaat dari adanya kearifan lokal yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Untuk itu kita perlu menggali kembali kearifan lingkungan masyarakat, peran serta dari semua disiplin ilmu karstologi, speleology, teknik, geologi, geografi dan hidrologi dalam mengelola kawasan kars Gunung Sewu secara berkelanjutan.

II. Pendekatan Ekologi
Hubungan timbal-balik antara manusia dan lingkungannya sangat berkaitan erat dengan pola perkembangan suatu wilayah dimana segala sesuatu yang dilakukan kepada lingkungannya akan berpengaruh balik terhadap ekologi yang ada di sekitarnya dapat bernilai positif dan bernilai negatif tergantung dari bagaimana pengelolaan yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Manusia mempunyai tanggung jawab dan pengaruh yang besar terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya, perkembangan dan kemajuan teknologi dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola penggunaan lahan, pertumbuhan masyarakat, urbanisasi, pertanian, ekonomi dan sosial budaya.

Masyarakat di Kawasan Kars Gunung Kidul sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani yang memanfaatkan lahan-lahan di sekitar cekungan-cekungan kars (doline) sebagai lahan pertanian yang dikelola oleh masyarakat. Lahan pertanian dikelola secara swadaya oleh masyarakat dengan teknologi-teknologi konvensional yang telah mereka pelajari dari zaman nenek moyangnya secara turun-temurun dan dikembangkan secara tradisional untuk mencapai hasil yang lebih baik sesuai dengan perkembangan dan perubahan lahan. Kebutuhan akan air sebagai penyubur lahan pertanian di kawasan ini menjadi permasalahan yang dialami oleh para petani dalam mengelola lahannya, ketersediaan sumberdaya alam yang ada memberikan pilihan kepada masyarakat untuk dapat mengelolanya secara manual, kondisi ini mengakibatkan adanya usaha-usaha masyarakat dalam mengelola sumber daya air yang ada di permukaan dan bawah permukaan secara tradisional dengan memanfaatkan kearifan-kearifan lokal baik yang mengandung unsur  mitos atau kepercayaan dan kebudayaan-kebudayaan sebagai tatanan kehidupan masyarakat yang berlaku di sekitar kawasan Gunung Kidul.

Manusia harus memperlakukan lingkungan di sekitarnya sebagai tempat tinggal yang telah memberikan segalanya untuk kita, sehingga ada tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan mengelolanya, pengembangan teknologi sederhana di dalam mengelola sumberdayanya akan selalu dipertahankan untuk menjaga tradisi, memberi motivasi dan menjaga kepercayaan masyarakat dalam mengelola wilayahnya sehingga peran masyarakat sebagai kunci utama dalam menjaga keseimbangan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya. Kearifan lokal harus menjadi yang terdepan dalam menjalankan program-program pengembangan wilayah di kawasan kars untuk mendorong masyarakat sebagai pelaku utama dalam usaha mengembangkan sumberdaya alamnya.

III. Kebudayaan dan Kearifan Lokal Dalam Masyarakat
Kearifan lingkungan atau kearifan lokal masyarakat (local wisdom) sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman pra-sejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat (Wietoler, 2007), yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun, secara umum, budaya lokal atau budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah itu. Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan oleh adanya kemajuan teknologi membuat orang lupa akan pentingnya tradisi atau kebudayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, seringkali budaya lokal dianggap sesuatu yang sudah ketinggalan di abad sekarang ini, sehingga perencanaan pembangunan seringkali tidak melibatkan masyarakat.

Di Gunung Kidul masyarakat sudah hidup selama bertahun-tahun dengan kondisi wilayah yang kekeringan dan kekurangan air walaupun memiliki cadangan air bawah permukaan yang sangat besar jumlahnya, faktor geologis pada wilayah ini sebagai kawasan batugamping yang mengalami proses pelarutan, mengakibatkan pada bagian permukaan kawasan ini merupakan daerah yang kering, masyarakat memanfaatkan sumber-sumber air dari telaga-telaga kars dan gua-gua yang memiliki sumber-sumber air. Kearifan lingkungan masyarakat Gunung Kidul dalam mengelola lingkungannya dilakukan secara bergotong royong untuk menjaga sumber-sumber air yang ada dengan melakukan perlindungan dan membuat aturan-aturan adat yang memberikan  larangan-larangan kepada masyarakat ayang memberikan penilaian negatif dari dampak yang akan ditimbulkan bila tidak dilakukan, untuk dapat menjaga dan mengelola sumber-sumber air yang ada. Kebudayaan lokal pada suatu daerah harus tetap dijaga kelestariannya agar kondisi alamiah dari lingkungannya tetap terjaga, banyak program-program pemerintah yang dilakukan di wilayah Gunung Kidul dalam usaha pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air bawah permukaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Gunung Kidul, tapi program-program yang telah dijalankan oleh pemerintah tidak menjadikan budaya lokal masyarakat sebagai referensi dalam menjalankan program pembangunan di wilayah ini, kawasan kars memiliki karateristik yang berbeda dari kondisi wilayah lainnya, proses pelarutan yang terjadi mengakibatkan adanya perubahan karakteristik dari batugamping, banyak pembangunan infrastruktur sistem perpipaan yang seharusnya dapat menyuplai kebutuhan air untuk masyarakat menjadi tidak berfungsi pada waktu tertentu akibat dari penyumbatan-penyumbatan aliran pipa yang di sebabkan oleh adanya proses pelarutan, pada batuan yang di lewati sumber airnya.

Banyak danau-danau kars yang tidak dapat berfungsi lagi akibat adanya pembangunan waduk di sekitar danau dan dilakukan pengerukan untuk memperdalam tampungan air dengan asumsi akan dapat menambah jumlah persediaan air, tapi justru hal ini harus di bayar mahal dengan hilangnya atau tidak berfungsinya danau akibat dari hilangnya sumber air yang ada masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan batuan hal ini disebabkan oleh hilangnya lapisan lumpur (terarosa) yang berfungsi sebagai penahan air. Sehingga banyak sistem perpipaan dan penampung air yang dibangun hanya menjadi sebuah monumen yang tidak dapat berfungsi. Sejak zaman dahulu masyarakat di wilayah Gunung Kidul telah hidup dalam kondisi kekeringan, namun mereka punya cara tersendiri untuk beradaptasi dengan alam di sekitarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk kebutuhan sehari-hari dan lahan pertanian, ini terus berlangsung hingga sampai saat ini walaupun banyak orang yang sudah mulai meninggalkannya untuk mencari penghidupan di tempat lain yang biasanya di kota-kota besar, tetapi masyarakat di Kawasan Kars Gunung Kidul tetap melakukan kearifan lingkungan yang sudah menjadi budaya lokal yang masih tetap dikembangkan oleh masyarakat setempat. Banyak kearifan lingkungan di wilayah ini yang menjadi program bagi masyarakat untuk mengelola lingkungan dan sumberdaya air serta untuk mengembangkan pariwisata di kawasan kars baik wisata alam maupun wisata minat khusus gua.

Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pengelolaan kawasan lingkungan di kawasan kars dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat untuk menjadi lebih baik. Kebudayaan masyarakat dan kearifan lingkungan masyarakat menjadi pilar utama dalam pengelolaan lingkungan kawasan kars berkelanjutan yang harus didorong bersama oleh masyarakat dan pemerintah dalam menata lingkungan dan sumberdaya air sehingga menjadi lebih baik.

IV. Kearifan Lingkungan Masyarakat Gunung Kidul Dalam Mengelola Sumberdaya Air
Sumberdaya air yang ada di kawasan Gunung Kidul memiliki nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari baik untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga maupun untuk pertanian, banyak cara yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat di daerah yang memiliki sumberdaya air dengan melakukan penjagaan dan pengelolaan secara konvensional, ini berjalan seiring dengan kebutuhan bersama. Pola kehidupan masyarakat yang berpusat pada daerah yang memiliki sumber air baik itu air danau maupan air dari sungai bawah permukaan yang ada di dalam gua menyebabkan adanya rasa tanggung jawab bersama dalam mengelolanya agar dapat dimanfaatkan bersama. Pada saat hujan, air permukaan akan masuk melalui lubang-lubang vertikal (sinkhole) yang biasanya berada di lembah-lembah kars (doline) dan mengalir ke bawah permukaan melalui sungai bawah permukaan dan mengalir melalui sistem perguaan (cave system) sebagian akan keluar melalui mata air ataupun melalui mulut gua yang lain dalam satu sistem yang sama, proses infiltrasi air juga akan membawa sedimentasi ke dalam gua melalui aliran dan akan dapat mempengaruhi air yang ada di bawah permukaan yang keluar di tempat lain untuk menjaga sedimentasi perlu dilakukan pengelolaan sinkhole dan gua-gua kars dengan baik, hal ini telah dilakukan oleh masyarakat di banyak wilayah kars yang memiliki sinkhole pada suatu dolena yang ada pada suatu wilayah.

Dari dulu masyarakat sudah mengetahui bahwa sedimentasi yang terjadi pada saat infiltrasi air, sangat mempengaruhi kualitas air di tempat air itu keluar sebagai sumber mata air, karena pada saat hujan terjadi sesuai dengan hukum gravitasi bahwa air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terakumulasi ke suatu cekungan dengan membawa material-material sedimen yang ikut bersama dengan aliran air. Kearifan lingkungan yang sudah ada adalah bagaimana masyarakat mengelola sinkhole-sinkhole, dengan menyusun tumpukan batuan di sekitar bibir sinkhole itu, batuan ini akan berfungsi sebagai penyaring sedimen pada saat air masuk sehingga pada saat musim hujan sumber air yang berada di dalam sistem itu tidak keruh dan tetap dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, dari berbagai tempat yang memiliki sinkhole yang berada di kawasan Gunung Kidul yang pernah saya temui selalu dalam kondisi tertata rapi dan biasanya selalu ditanami tumbuh-tumbuhan di sekitarnya, masyarakat setempat mempercayai dengan menjaga sinkhole ini akan memberikan manfaat yang baik bagi sumber air yang ada di sekitar wilayahnya, selain itu setiap musim hujan banyak masyarakat yang menampung air hujan ke dalam penampungan air agar dapat tersimpan dan menabung air untuk memenuhi kebutuhan air pada waktu musim kemarau tiba.

Kearifan lingkungan yang lain yang ada adalah pengelolaan danau-danau kars di kawasan Gunung Kidul, sebagai contoh yang pernah saya ketahui bagaimana cara masyarakat mengelola suatu danau dimana danau ini merupakan sumber air yang ada di wilayah Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, berdasarkan cerita dari masyarakat setempat  masyarakat mengelola kembali danau kars yang sudah mati dan tidak berfungsi lagi, masyarakat melihat bahwa danau ini memiliki potensi yang besar sebagai penampung air hujan dengan melihat sejarah desa dimana danau ini pernah menjadi pusat sumber air bagi masyarakat sekitarnya kemudian masyarakat secara bergotong-royong dengan membuat susunan batuan di setiap tepian danau yang berfungsi sebagai penyaring air yang masuk, kemudian memberi lapisan tanah lempung di setiap sisi danau yang berfungsi sebagai penahan air agar tidak masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan yang ada dan menanam berbagai macam tumbuhan di sekitar danau seperti Jarak, Jati dan lain-lain berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air, setelah melakukan ini masyarakat harus menunggu sampai tiga periode musin hujan selama tiga tahun untuk menjadikan danau ini berfungsi kembali. Karena danau ini dibangun berdasarkan kearifan lingkungan yang ada dan dimanfaatkan bersama maka masyarakat memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan mengelola danau ini sehingga masyarakat lebih memandang budaya lokal yang ada untuk mengelolanya dengan membuat aturan-aturan adat tentang pelestarian dan pengelolaan danau ini.

Aturan adat yang berlaku adalah budaya-budaya masyarakat yang ada dan dipadukan dengan sisi kepercayaan yang mengatur semua tatanan sosial terhadap lingkungannya, mulai dari adanya hukuman adat dari masyarakat bila terbukti merusak sumber-sumber air baik itu masyarakat lokal ataupun masyarakat dari luar mereka mempercayai jika dilakukan perusakan terhadap sumber air yang ada maka mereka akan mendapatkan malapetaka seperti sebelum sumber danau itu di fungsikan kembali yaitu adanya bencana kekeringan, gagal panen dan kelaparan. Sebagian masyarakat Gunung Kidul mempercayai adanya suatu pertanda buruk apabila terjadi perusakan terhadap sumber airnya, hal ini akan diberlakukan aturan-aturan adat untuk memberikan hukuman baik itu yang dilakukan oleh masyarakat lokal ataupun oleh masyarakat luar.

Masih banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Gunung Kidul dalam mengelola kawasan kars, untuk mengembangkan pertanian lokal masyarakat memanfaatan lahan datar disekitar cekungan-cekungan doline sebagai lahan-lahan pertanian, namun dibeberapa tempat ada juga masyarakat yang menutup lubang-lubang vertikal tempat masuknya air permukaan pada saat hujan, ini dilakukan sebagai upaya agar air yang terakumulasi ke dalam cekungan tidak langsung hilang ke bawah permukaan tapi dapat berfungsi sebagai air irigasi untuk lahan pertanian di sekitarnya.

V. Kesimpulan
Pengelolaan lingkungan berkelanjutan (environmental management) dapat berjalan dengan baik apabila ada interaksi seimbang antara kebutuhan akan alam dan sistem pengelolaan terpadu yang dijalankan, baik oleh masyarakat setempat ataupun pemerintah. Budaya masyarakat memberikan gambaran yang nyata bagaimana suatu wilayah yang memiliki sumberdaya akan tetap terjaga sebagai aset berharga yang dapat dimanfaatkan secara terus-menerus, kearifan lingkungan akan menjadi suatu pegangan bagi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan sehingga pemerintah perlu menjadikan kearifan lingkungan sebagai bahan referensi rencana kerja dalam pembangunan dan pada akhirnya pembangunan berkelanjutan akan berjalan dengan sempurna dengan adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama mencapai masyarakat adil dan makmur.

VI. Daftar Pustaka

    • Acintyacunyata Speleological Club, 1999, Gua, Air dan Permasalahannya, ASC DI Yogyakarta.
    • Gadgil. M and F. Berkes, 1991, Traditional Resouce Management System, Resource Management and Optimization 8 (3/4): 127 – 41
    • Smit, K, 1996, Environmental Hazards: Asessing Risk and Reducing Disaster, London, Routledge, second edition.
    • Mitchell B, 1997, Resource and Environmental Management, First Edition is Published by Arrangement With Pearson Education Limited

Video: Apa Kata Penggagas Festival Hariyadi?

Festival ini untuk memberikan tanda alert (bahaya) bahwa Kota Yogyakarta sudah tidak nyaman lagi. Kemacetan, sampah visual, Pembangunan Hotel- hotel besar yang kian menggusur keberlangsungan keberadaan hotel melati, dan sebagainya. Namun, Walikota orang yang bertanggungjawab terhadap kota ini sulit sekali untuk ditemui.

Wawancara dengan Agung Kurniawan, Penggagas “Festival Mencari Haryadi” memang singkat, namun cukup untuk mengenal festival ini. Festival ini memberikan inspirasi kepada semua orang untuk peduli dengan kotanya. kota yang ramah, kota yang manusiawi.

Dipublikasikan oleh: Tunjukan Aksimu! pada tanggal 30 Oktober 2013.

Ketika Ratu Hemas Dilawan Rakyatnya Sendiri: Sebuah Analisis Kelas

Ilustrasi: “Salah Tangkap Pangeran Diponegoro,” lukisan Heri Dono, 2007, sumber: Arsip IVAA.

Disalin dari Kompasiana

oleh: Joko Lodhang
24 Sep 2013 | 14:25

 

Tulisan ini akan menggunakan analisis kelas untuk melihat geliat politik lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertarungan politik antara Keraton Yogyakarta dengan “wong cilik” yang selama ini bernaung di bawah payung PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta menarik untuk kita kaji bersama.

Analisis Kelas

Secara singkat dan sederhana, analisis kelas ala Marx mengatakan bahwa sejarah manusia di dunia ini adalah sejarah tentang pertentangan kelas yaitu antara kelas proletar dan kelas pemodal. Kelas pemodal adalah mereka yang menguasai alat-alat produksi dan kelas proletar adalah mereka yang menjadi bagian dari mesin produksi itu. Yang mewakili kelas proletar ini adalah misalnya buruh atau petani. Relasi antara kelas pemodal dan kelas buruh adalah yang disebut dengan relasi kapitalistik. Yang pertama menyedot tenaga dari yang kedua dan yang kedua cukup mendapatkan upah tetapi profit paling banyak diberikan kepada pihak pemodal. Relasi sosial dalam sistem kapitalisme yang demikian adalah relasi yang asimetris, timpang, dan jelas tidak adil.

Salah satu alat produksi yang dikuasai oleh Keraton Yogyakarta adalah tanah. Setelah diberlakukannya Undang-Undang Keistimewaan DIY tahun lalu, Keraton memiliki legalitas otoritas politik penuh untuk menentukan hal-hal yang dianggap istimewa (dan mana yang tidak). Salah satu persoalan keistimewaan yang cukup gencar diatur oleh Keraton pasca-UUK DIY itu adalah soal pertanahan. Keraton memiliki wewenang untuk me-reorganisasi tanahnya yang disebut Sultan Ground yang bertebaran di banyak lokasi di bumi Mataram ini.

Dalam perdebatan tentang Rancangan Peraturan Daerah Istimewa (Raperdais) DIY sekarang ini, tidak mustahil bahwa wewenang Keraton dalam kredo UUK DIY ini akan menampakkan wajah aslinya seperti ketika jaman kolonial. Di jaman kolonial, dikatakan bahwa tanah dimanapun di DIY yang tidak bersertifikat maka hak kepemilikannya adalah milik Keraton. “Tidak bersertifikat” ini artinya tanah-tanah yang “no man’s land” alias yang sedang bersengketa, bahkan termasuk tanah kas desa, bisa akan diambil alih oleh Keraton bersenjatakan UUK DIY tadi itu.

Keraton sebagai representasi lembaga feodal semakin jelas akan mengambil alih tanah-tanah yang dianggap tidak jelas statusnya (secara sepihak tersebut) untuk kemudian dijadikan alat produksi untuk mengakumulasi kapital bagi pelestarian Keraton sendiri. Tanah-tanah yang selama ini diklaim milik Sultan Ground hampir pasti telah direncanakan untuk menggenjot akumulasi tersebut dengan cara menyerahkannya kepada para pengembang (developer) atau pemilik modal yang lain yang bisa menjamin bahwa tanah Keraton itu akan membawa profit.

Berjalanlah berbagai macam proyek untuk mendorong mesin akumulasi kapital melalui tanah Sultan ini di berbagai daerah di DIY. Beberapa contoh misalnya yang terjadi di Kulonprogo. Tanah yang diklaim milik Sultan-Pakualaman Ground akan dijadikan lahan tambang bijih besi dengan menggandeng perusahaan dari Australia. Tanah Sultan di jalan Solo diperuntukkan hotel dan mall terbesar di Yogyakarta. Tidak menutup kemungkinan bahwa berjamurnya hotel-hotel di jalan-jalan besar di Yogyakarta sejak disahkannya UUK DIY juga karena dikebutnya mesin produksi tanah Sultan ini untuk mengakumulasi kapital.

Lalu, siapa yang dirugikan dengan agresi kapitalisme oleh Keraton Yogyakarta ini? Ternyata ini yang menarik untuk kita kaji lebih dalam. Mereka yang selama ini menempati dan bertinggal di tanah Keraton adalah mereka ‘wong cilik’ yang menjadi representasi kelas proletariat. Selain buruh, mereka adalah yang termasuk kelompok marjinal yang selama ini jadi korban pembangunan Yogyakarta seperti misalnya tukang becak, tukang tambal ban, buka toko kelontong, dan pedagang PKL.

Keraton yang bersenjatakan UUK DIY untuk me-reorganisasi tanah-tanah yang diklaim miliknya sebagai tanah Sultan harus melakukan dislokasi warga yang selama ini hidup numpang tersebut. Kebutuhan Keraton untuk mempercepat alat produksinya, yaitu tanah, agar menjadi mesin akumulasi capital dalam bentuk mall, hotel, property, rumah sakit, lahan tambang, dan lahan bisnis lainnya, mengharuskan kelompok proletariat Yogyakarta dan kelompok marginal tadi menyingkir dari tanah-tanah Sultan. Kasus di Suryowijayan, dimana ada lima warga yang mewakili kelompok pinggiran ini diusir oleh Keraton beberapa bulan yang lalu, hanya sedikit contoh dari berbagai operasi bawah tanah Keraton yang terus melakukan penyingkiran warga yang tak punya kuasa resmi untuk memiliki tanah Sultan tersebut.

Menjelang pemilihan legislative ini, banyak kerabat Keraton yang maju untuk pemilu. GKR Hemas (istri Sultan) maju untuk nyalon DPD RI yang ketiga kalinya. Menantunya, Wironegoro, maju untuk DPR RI. Menantunya yang lain, Purbodiningrat, maju untuk DPRD Propinsi DIY. Mereka maju dalam suasana yang sebenarnya tidak adil. Di saat UUK DIY yang diperjuangkan oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta, termasuk para kelompok marginal tadi itu, sudah berhasil, sekarang malah Keraton menyia-nyiakan mereka dan seolah-olah tak ada masalah dengan gampangnya mencalonkan diri sebagai DPD, DPR, dan DPRD DIY. Secara hokum, nyalon memang hak setiap warga negara. Tapi secara etis politik, Keraton tidak peka.

Kelompok-kelompok proletariat Yogyakarta tadi itu selama ini lebih banyak menyalurkan aspirasinya melalui PDIP DIY. Kasus Suryowijayan adalah mereka yang selama ini menjadi aktivis dan pembela PDIP. Dan sekarang Keraton punya pilihan politik sendiri dan harus berhadapan dengan warganya. Disinilah pertarungan politik antara jago-jago PDIP untuk tingkat pusat, propinsi, maupun kota melawan jago-jago dari Keraton.

PDIP menjadi kendaraan bagi mereka-mereka yang terusir dari tanah Keraton dan PDIP menjadi partai yang paling sakit hati dengan GKR Hemas dan keluarganya. Dulu sudah mati-matian membela penetapan gubernur, sekarang begitu sudah berhasil malah PDIP dan basis pendukungnya dihabisi oleh Keraton untuk kepentingan akumulasi modal para aristocrat Jawa itu. Hasilnya, pertempuran di lapangan terasa panas: Hemas terancam akan kehilangan kursi pimpinan di DPD RI kelak ketika jadi karena PDIP sudah mengusung ketua MPR sekarang, Sidarto, sebagai calon DPD RI. Jika PDIP menang pasti tidak akan mengusung Hemas, tapi Sidarto yang dianggap lebih mewakili rakyat Yogyakarta. Wironegoro membuyarkan basis-basis PDIP di Yogyakarta dengan senjata ‘keistimewaan’, sementara Purbodiningrat juga mengalami tekanan hebat dari para pendukung caleg PDIP di level propinsi.

Hemas, sebagai komandan panglima perang di lapangan yang harus mengasuh anak-anak menantunya, mulai khawatir dengan berbagai maneuver PDIP yang diasuh oleh mantan bupati Bantul, Idham Samawi. Bisa jadi pada akhirnya Hemas hanya akan jadi anggota DPD biasa, bukan lagi sebagai wakil pimpinan DPD seperti sekarang ini.

Jika hal ini benar, maka ini benar-benar bukti nyata bahwa kekuasaan kaum feodal dibangun atas dasar penderitaan kaum proletar yang telah setia mendukung tanpa pamrih. Lalu, salah siapa?

Semoga Kasih Tuhan selalu memberkati mereka yang berjuang melawan penindasan..

Editorial: Menggembosi Jogja

Yogyakarta telah gembos. Daya angin yang menjadi kekuatan dari dalam telah pergi. Ironisnya, gembosnya Yogyakarta justru terjadi dengan kuat sejak keistimewaan Yogyakarta menjadi wacana politik nasional dan gejolak identitas lokal yang menguat. Serentak dengan menguatnya wacana Keiistimewaan Yogyakarta di dalam realitas justru memperlihatkan lansekap kota yang berubah secara masif dengan tanda hadirnya pembangunan hotel, mall, apartemen, kondotel, dan lain sebagainya. Pertumbuhan perumahan, mal, hotel, apartemen, dll, semakin pesat berbareng dengan privatisasi kepemilikan tanah dan komodifikasi ruang kota, hancurnya lingkungan dan merapuhnya tatanan sosial pertetanggaan. Keistimewaan Yogyakarta sebagai jargon identitas tempat merupakan istilah menarik bagi Yogyakarta yang berbeda dengan kota-kota lain, namun juga mengandung pisau bermata dua: di satu sisi bisa menggerakkan orang banyak dalam berbagai level mempunyai kepekaan keruangan yang cukup merata di sebuah kewilayahan; di sisi yang lain ia mengokohkan secara jelas keberadaan Yogyakarta sebagai destinasi, sebagai lokasi – dan itu akan mempercepat hancurnya ruang hidup bersama. Sebagai destinasi, lokasi, dan tempat (place),… tanah-tanah dan ruang-ruang Kota Yogyakarta mengalami privatisasi dan komodifikasi tidak terkendali, menancap seperti paku besar yang membuat gembos daya hidup (keistimewaan) lingkungan dan warganya. Tanah, seperti halnya ruang, merupakan dasar hidup orang banyak, benih dari persemaian kesejahteraan, budaya, dan berkembang-biaknya kemanusiaan. Privatisasi tanah dan komodifikasi ruang menggembosi dasar-dasar hidup orang banyak dan mematikan dayanya.

Menggembosi Yogya merupakan proyek mengumpulkan tulisan sekaligus melakukan pembacaan ulang terhadap Yogyakarta. Kata gembos dan menggembosi dirasa cukup representatif untuk menggambarkan situasi dan gagasan perubahan daya hidup Yogyakarta. Hal-hal yang menjadi sumber menggembos-nya daya hidup tersebut perlu disingkap terus-menerus. Menggembosi Yogya ini bertujuan untuk mendokumentasikan, membagikan dan menyebarluaskan cara membaca dan gagasan mengenai Yogyakarta yang beragam. Dengan cara seperti ini, kami mengikutsertakan diri sebagai bagian dari kegelisahan warga Yogyakarta yang aktif untuk melakukan kerja-kerja resistensi Yogyakarta yang gembos. Melalui website, kami mengumpulkan sekaligus membagikan kembali beragam tema-isu-gagasan orang dari berbagai refleksi amupun basis kerja-kerja yang dilakukan bersama sebagai reaksi maupun aksi atas perubahan-perubahan yang terjadi di sebuah lokasi yang bernama Yogyakarta. Berbagai gagasan, reaksi maupun aksi ini penting dibagikan bersama, di(re)presentasikan, dan direfleksikan sebagai upaya membangun “keruangan yang telah hilang”, melakukan permainan, dan semoga bisa memberi daya dorong dan inspirasi bagi perjumpaan antarorang dalam konteks resistensi keruangan sebuah kota.