Tag Archives: #sorotanpustaka

Bergerak dari Pinggir

Oleh: Nur Sista Senja Wiragasari  (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Bergerak dari Pinggir
Pengarang           : Wahyudin
Penerbit                : Basa Basi
Tahun                      : 2018
Deskripsi Fisik   : 268 Halaman
No. Panggil           : 701 WAH b

Buku kumpulan tulisan berjudul Bergerak dari Pinggir ini berasal dari ulasan-ulasan seni rupa dari Wahyudin. Tentang produksi, peristiwa, kehidupan artistik lokal, perkembangan estetik dan pencapaian artistik seseorang atau sekelompok perupa di  sejumlah kota Jawa Timur sekitar 13 tahun berakhir. Cerita pada buku ini patut untuk diriwayatkan bukan lantaran di Jawa Timur tak banyak periwayat, tukang cerita, atau kritikus seni rupa, melainkan guna utamanya untuk menunjukkan bahwa “perupa hebat berasal dari mana pun”.

Demikian, hal tersebut dapat membijaksanai posisi seni rupa Jawa Timur di dunia seni kontemporer Indonesia yang ambisius dan demokratis. Keserbajenisan karya yang diusung dalam sebuah perhelatan dapat ditandai lewat realisme. Sebuah gagrak estetik yang kelihatan paling bersahaja tetapi dominan dalam medan kreatif seni rupa Malang yang konon telah berkembang sejak dasawarsa 1930-an. Medan seni rupa di Jawa Timur mampu melahirkan perupa-perupa yang istimewa dengan kecakapan artistik tinggi, esai-esai dalam buku ini nampaknya tidak ingin membiarkan situasi ini menguap begitu saja.

Dalam buku ini menyoroti beberapa aktor penting dan menarik dalam semesta dunia artistik, salah satunya museum seni rupa. Tak ada museum seni rupa di Jawa Timur yang mengoleksi, menyimpan, dan mendidik publik serta menunjukkan kualitas dan nilai seni rupa. Pada akhirnya, buku ini lebih jauh ingin menggambarkan Jawa Timur sebagai harapan bagi dunia seni rupa kontemporer.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Becoming; 20 Tahun Galang Kangin

Oleh Senjang Martani  (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku   : Becoming; 20 Tahun Galang Kangin
Editor              : Hardiman, Wayan Setem
Tahun               : 2018
Penerbit         : Arti Foundation [Buku Arti]
No . Panggil  : Becoming; 20 Tahun Galang Kangin

Becoming 20 Tahun Galang Kangin, merupakan kumpulan tulisan yang membahas tentang kelompok perupa Bali Galang Kangin (GK). Berisi kumpulan tulisan dari kuratorial pameran, media cetak, serta testimoni (seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat) terhadap fenomena yang muncul terkait perjalanan GK. Selain membahas dalam persoalan artistik, kreativitas, dan profil anggotanya, buku ini juga membicarakan berbagai aktivitas dan kreativitas seni yang dikaitkan dengan masalah-masalah sosio-kultural dan politik.

Ada semacam kekuasaan yang bermain dalam penciptaan buku. GK sangat memahami betapa pentingnya seorang seniman atau kelompoknya mengarsipkan perjalanan kesenian, pemikiran, dan catatan ihwal eksistensinya. Pun sebagai bahan kajian, buku ini bisa sangat membantu untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa Bali melalui sepak terjang GK.

Melalui karya-karya dalam pameran yang sudah sekian kali pernah GK selenggarakan, ada beberapa hal yang dapat dicatat. Bahwa pada periode tertentu GK pernah sangat dekat dengan kecenderungan karya-karya formalistik. Fase ini muncul di masa awal  eksplorasi visual GK. Dalam fase berikutnya, sejarah mengantar ke arah lain, dengan karya-karya yang mencoba keluar dari batas-batas medium mereka selama ini. Eksplorasi pada wilayah karya-karya instalasi/ tiga dimensi pernah hadir mewarnai dinamika pergulatan GK.

Secara teknis, layout buku ini sangat kaku (lebih mirip layout jurnal), buku ini menuntut kesabaran mata untuk membacanya. Kumpulan tulisan kuratorial dan media cetak dalam buku ini memang tidak diedit. Maka tidak heran jika ditemukan banyak kesalahan pengetikan.

Bagian lain dari buku ini adalah perihal siapa saja individu dalam tubuh GK. ini menarik karena tidak hanya pembaca dapat menelusuri perjalan setiap seniman, juga menjadi bagian penting dalam metodologi penelitian kesenian. Tak kalah pentingnya adalah teks visual dalam bab terakhir buku ini. Gambar tentang aktivitas dan karya seniman GK ditampilkan sebagai alat-alat baca. Karena gambar atau foto hakikatnya juga teks yang melahirkan keterbacaan, semacam kombinasi pemantik yang menarik dalam proses pembacaannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”

Oleh Rachma Aprillian Kusuma Wardhani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku: Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”
Pengarang : Wildan Sena Utama
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun : Desember 2017
No. Panggil : 300 UTA K

 

Konferensi Asia Afrika tidak asing ditelinga publik. Buku setebal 281 halaman ini bercerita lebih dalam tentang Konferensi Asia-Afrika 1955 dengan judul Konferensi Asia Afrika 1955 Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme. Beberapa pernyataan dalam buku ini membenarkan bahwa pada April 1955, delegasi dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung, Indonesia, untuk perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Para peserta konferensi, yang kala itu tidak banyak memiliki kekuatan militer atau ekonomi, mencoba mencapai sasaran kebijakan luar negerinya melalui langkah-langkah performatif –yang simbolik–, yang lebih jauh memperluas kemungkinan seluruh peserta memiliki posisi tawar di negerinya masing-masing dan panggung politik internasional sebagai pemerintahan sah dan berdaulat.

KAA adalah suatu peristiwa yang belum ada bandingannya. Mengingat peristiwa ini terjadi ketika negara-negara Asia-Afrika, yang baru dan hampir merdeka, memonopoli panggung politik dunia di pertengahan abad 20. Ini adalah momentum ketika aktor-aktor non-Barat menggunakan pengaruh yang terpadu dan konstruktif untuk menempatkan diri dalam tatanan internasional. Tujuan utamanya adalah agar lebih mengakomodasi persoalan-persoalan Asia-Afrika, baik di bidang ekonomi, politik, hingga sosial.

Gagasan solidaritas Asia-Afrika mencapai puncaknya lewat pertemuan pertama KAA. Meskipun KAA baru berlangsung pada pertengahan 1950an, akar-akar intelektualnya telah malang-melintang sejak awal abad 20. Terutama ketika wacana Westernism masa kolonial dikritik oleh jaringan kaum internasionalis dan gerakan anti imperialisme Asia-Afrika. Dengan demikian KAA adalah buah dari perjuangan panjang jejaring gerakan global.

Pada 18-24 April 1955, KAA berlangsung di Bandung. Dihadiri perwakilan 29 negara merdeka dan hampir merdeka dari kawasan Asia-Afrika. Seperti telah diuraikan sebelumnya, KAA adalah kulminasi dari banyak aspirasi: solidaritas  Asia-Afrika, dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kemungkinan membentuk aliansi baru. Hari-hari terakhir KAA pada Sabtu malam, 23 April 1955, komite pengurus tanpa pembahasan bertele-tele menerima naskah yang merekomendasikan 8 negara Asia-Afrika untuk menjadi anggota PBB. Atas dasar prinsip universalitas, direkomendasikan bahwa negara-negara peserta KAA, yaitu Kamboja, Jepang, Yordania, Libya, Nepal, Sri Lanka dan “Vietnam Bersatu” harus diterima sebagai anggota.

Dengan demikian, KAA adalah forum yang penting. Ia mempengaruhi legitimasi politik, pemerintahan, dan masyarakat. Pergulatan simbolik dalam konferensi tersebut dimainkan di hadapan dunia. Sekaligus memiliki konsekuensi nyata bagi diplomasi politiknya. Di sisi lain, Bandung menjadi saksi penting atas bertemunya para pejuang kebebasan dan gerakan anti kolonial. Mewakili kepentingan negaranya, dan masyarakatnya masing-masing. Kepentingan masyarakat yang bebas dari belenggu dan hegemoni kolonial. Kepentingan yang direpresentasikan sendiri, bukan ditafsir oleh dunia Barat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

#SOROTANPUSTAKA JULI-AGUSTUS 2018

Oleh: Santosa

Dalam periode Juli – Agustus 2018 renovasi rumah IVAA sedikit mengganggu kenyamanan pengunjung. Meski demikian, aktivitas membaca dan meminjam buku masih banyak dilakukan. Beberapa adalah referensi tentang Affandi, Hendra Gunawan, hingga seni rupa di ruang publik. Sedangkan Aktivitas input database pustaka  ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS), dibantu  oleh 1 kawan magang dari Universitas Telkom Bandung, dan 2 Kawan Magang dari Fakultas Psikologi UGM. Secara keseluruhan, pustaka yang diinput pada Juli – Agustus 2018 sebanyak 68 katalog, 60 majalah, 20 buku  dan 1 komik. Terdapat 4 tambahan koleksi pustaka baru yang diulas, yaitu Bentang Tubuh Batu Dan Hasrat, Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya, Soulscape: the Treasure of Spiritual Art, dan Dansaekhwa: 1960-2010 Primary Documents on Korean Abstract Painting. Serta dalam upaya mendukung tema penelitian baca arsip, kami mengulas 1 koleksi lama, yaitu Majalah Budaya Edisi 6 Juni 1954.

Artikel ini merupakan pengantar Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Bentang Tubuh Batu Dan Hasrat: Sejumlah Esai Seni Rupa

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Kris Budiman
Penerbit: Nyala
Tahun: 2018
Deskripsi Fisik: 104 Hlm
No. Panggil: 701 Bud B

Praktek penciptaan karya seni pada dasarnya memiliki regularitas yang didasari oleh common sense (nalar wajar), dalam proses permulaan, produksi, hingga pada apresiasinya. Agaknya begitu pula yang menjadi dasar mengenai apa yang dibahas Kris Budiman melalui bukunya Bentang Tubuh Batu Dan Hasrat. Dari buku yang berisi kumpulan esai seni tersebut, kita dapat menilik suatu garis besar kekaryaan yang memanfaatkan citra tubuh sebagai significant form, sebagai suatu tanda, seperti yang dibahasnya pada karya Putu Sutawijaya. Citra tubuh yang dihadirkan melalui gestikulasi, akan memunculkan suatu pemaknaan tersendiri melalui karya seninya. Selain kehadiran gestikulasi citra tubuh pada karyanya, Putu Sutawijaya juga menghadirkan rangkaian dialog atas konstruksi identitas sebagai warga dari kebudayaan tertentu. Tidak hanya melalui citra tubuh, refleksi batin atas sebuah perjalanan yang dilakukan kerap menghadirkan ekspresi artistik visual yang menarik. Seperti yang dilakukannya bersama Pande Ketut Taman ke tempat-tempat ibadah seperti kuil, akhirnya diterapkan dalam karya dan kemudian dipamerkan. Dalam esai yang lain, Kris membicarakan Nyoman Masriadi yang juga menggunakan citra tubuh sebagai hasrat untuk berkarya. Dalam hal ini Masriadi menghadirkan ironi yang lebih condong membahas konjungsi antara identitas gender maskulinitas dan femininitas. Dengan demikian, agaknya lukisan Masriadi  menimbulkan pesan linguistik.

Rupanya bentang tubuh batu dan hasrat yang dibahas Kris tidak hanya berkutat pada lukisan saja. Karya sinematografi pun dibahas dalam 2 esai terakhirnya, melalui film Opera Jawa. Opera Jawa garapan Garin Nugroho ini menggandeng sekian banyak maestro seni dengan beragam media seni, salah satunya instalasi. Jika dilihat lebih jeli, karya seni yang dihadirkan menjadi elemen ruang sinematik Opera Jawa. Bukan hanya sebatas genre instalasi saja, melainkan patung dan juga objek-objek lain. Opera jawa menampilkan adegan yang sarat dengan kualitas bahasa puitik melalui permainan metafora-metafora visual. Terlihat dalam karya Nindityo yang berjudul Labirin Serabut. Objek-objek mulai dari sabut kelapa, sapu lidi, kukusan, ditambah dengan citra-citra yang dihadirkan oleh efek api dan asap. Perpaduannya dicangkokkan pada representasi latar spasial yang realistik, mampu menyugesti kualitas irasional sebuah mimpi. Selain Labirin Serabut, karya Tita Rubi yang bertajuk Vagina Brokat dapat menimbulkan hasrat tersendiri. Vagina Brokat yang menjadi set lokasi dicumbu dan dibunuhnya Siti oleh Setio, menekankan bagaimana sosok wanita yang terbunuh oleh hasratnya sendiri. ‘Ruang’ yang dibentuk menyerupai vagina ini mengisyaratkan banyak hal, tentang hasrat perempuan, kuasa atas tubuh, hingga didominasi lawan jenisnya. Menyimak relasi yang terjalin melalui Opera Jawa tersebut, seperti penggabungan antara karya seni, musik dan yang lain, agaknya common sense juga dipertimbangkan dalam proses penciptaannya. Melalui pendekatan sosiologis, buku yang merupakan kumpulan esai dari Kris Budiman ini mencoba membangun ruang pandang penciptaan seni yang lebih luas. Tentu dengan tawaran sudut pandang yang multidisiplin, Kris menawarkan pendekatan mulai dari semiotik hingga linguistik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Sihir Rumah Ibu; Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Agus Dermawan T.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2015
Deskripsi Fisik: x+317 Hlm
No. Panggil: 701 Der S

Sebagai seorang pengamat yang biasa mengerjakan kritik seni, laporan, esai, dan juga features, Agus Dermawan T. memandang bahwa kegiatan tulis-menulisnya adalah sebagai aktivitas berekspresi. Buku Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya ini berisi tentang kajian yang dilakukan oleh Agus terhadap persoalan isu sosial dan politik melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Ada sejumlah figur (orang lain) yang sengaja dibicarakan dalam buku ini, karena bagi Agus orang yang dibicarakan itu telah melahirkan sebuah peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini kemudian disampaikan kepada pembaca melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Setiap situasi dalam peristiwa itu Agus simbolkan melalui beberapa contoh karya seni dan cerita pewayangan. Agus juga memainkan kode semiotik dalam setiap paragrafnya, sehingga pembaca akan merasa ada keterhubungan antara karya seni dengan peristiwa yang sedang dibahas.

Penjelasan kondisi politik Indonesia dari waktu ke waktu dijabarkan secara renyah di dalam buku ini. Agus juga menceritakan citra seni yang turun akibat pemikiran sempit seniman, dimana mereka menganggap bahwa politik posisinya lebih tinggi dari seni. Pemikiran ini memunculkan seniman yang secara tiba-tiba, dalam kondisi buta politik dan hanya mengandalkan modal keartisannya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Hal itu cukup untuk membuat gusar Agus terhadap kondisi kesenian saat ini. Selain itu juga terdapat beberapa esai yang mengulas tentang ketidakadilan terhadap pelukis istana yang masa tuanya tidak diperlakukan layaknya staf istana yang lain. Hal tersebut menjadi sebuah keprihatinan tersendiri di mata penulis kelahiran 1952 ini. Agus merasa para pelukis ini berkontribusi bagi negara dalam durasi yang panjang.

Sebagian tulisan dalam buku ini telah dimuat di beberapa media massa, seperti Kompas, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Intisari, Visual Arts, dan sebagainya. Beberapa tulisan ada juga yang berstatus ineditum atau tidak/ belum dipublikasikan. Buku ini merupakan seleksi dari ratusan artikel yang ditulisnya sejak 2008. Tentu telah melalui tahap penyuntingan, pengembangan, aktualisasi, hingga kontekstualisasi. Buku ini membicarakan segala ihwal yang terbuka lebar. Berbagai sisi sudut pandang disediakan, mulai dari tulisan-tulisan dengan ulasan jenaka, ironis, dramatis, parodi, gila, waras, estetis, politis, bahkan mungkin juga nihilis. Semua tulisan dalam buku ini dipayungi sikap kritis terhadap persoalan sosial politik dari kacamata kesenian dan kebudayaan. Sebaliknya, buku ini akan membuat pembacanya merefleksikan kesenian dan kebudayaan dari perspektif sosial politik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

SOULSCAPE ‘The Treasure of Spiritual Art’

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Sulebar M. Soekarman, AA. Nurjaman, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, ANton Larenz
Penerbit: Yayasan Seni Visual Indonesia
Tahun: 2009
Deskripsi Fisik: 246 Hlm
No. Panggil: 701 Soe S

Buku ini merupakan seri buku abstrak Indonesia yang kedua. Menceritakan pameran seni lukis abstrak yang dilaksanakan sejak 2005, dan diikuti oleh 7 perupa abstrak Indonesia yaitu AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Notok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi, dan Yusron Mudhakir. Pameran ini berlangsung di beberapa tempat seperti Taman Budaya Yogyakarta, Galeri Nasional Indonesia, dan Tony Raka Art Gallery, Bali.

Buku ini disusun menjadi suatu rangkuman holistik, tentang pemahaman dan keyakinan para perupa abstrak di Indonesia berkaitan dengan prosesnya berkesenian. Buku ini ditulis oleh dua orang dari dalam pameran, yaitu Sulebar M. Soekarman dan Netok Sawiji_Rusnoto Susanto yang menguraikan tentang keyakinan, semangat, perjalanan spiritual, pemikiran serta impian dan kerja keras perupa abstrak. Selain itu ada dua orang dari ‘luar’ yaitu AA Nurjaman dan Anton Larenz, bercerita tentang latar belakang kesejarahan seni abstrak Indonesia. Keduanya juga mengulas karya seni dan pemikiran dibalik proses penciptaan karya seni secara personal.

Ide dasar dari judul Soulscape adalah ‘pemandangan-jiwa’ yang tentunya sangat bertolak belakang dengan pemandangan alam (landscape) atau pemandangan laut (seascape) ataupun lainnya yang mengangkat sesuatu yang kasat mata, materi yang ada di alam, yang secara visual dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indera kita. Dalam pembahasannya, soulscape lebih cenderung kepada hati nurani, perasaan yang paling mendalam (inner feeling). Lebih lanjut, gagasan pemikiran secara intelektual tentang kemurnian penciptaan yang memiliki kandungan keindahan pribadi sekaligus universal.  Soulscape menjadi sebuah pendalaman materi dan tantangan. Sekaligus proses pengakraban, pencerahan dan penyerahan diri secara total dari 7 perupa abstrak tersebut yang saling berinteraksi untuk melakukan transmisi budaya serta penggalian kreativitas pribadi masing-masing. Kemudian menjadi kesadaran tertinggi, dan menjadi sebuah konsep tentang kembali ke timur.

Dalam akhir bab buku ini terdapat sebuah rangkuman laku kerja 7 perupa abstrak soulscape, dimana perubahan dan perkembangan zaman akan selalu melahirkan kaidah baru, ungkapan baru, situasi dan lingkungan yang berbeda. Tetapi bagaimanapun berubah dan berkembangnya zaman, ada suatu nilai spiritual yang menjadi benang merah untuk penghubung semua itu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Koo Jin-Kyung, Yoon Jin Sup, Lee Phil, Chung Moojeong
Penerbit: Korean Art Management Service
Tahun: 2017
Deskripsi Fisik: 303 Hlm
No. Panggil: 701 Ufa D

Dansaekhwa lahir dari tradisi masa lalu dan menjadi kecenderungan gaya baru dalam periode waktu yang signifikan dalam sejarah sosio-politik Korea. Secara permukaan, karakteristiknya mengarah pada asimilasi dan persaingan modernisme Barat, dan ‘pembebasan’ dari tradisi yang ketat dari warisan seni Korea. Lantas Apa itu yang disebut-sebut sebagai Dansaekhwa? secara harfiah berarti ‘lukisan monokrom’ dalam bahasa Korea, dan mengacu pada gaya lukisan yang muncul selama paruh kedua tahun 1970-an di Korea Selatan. Dansaekhwa tumbuh menjadi wajah internasional seni kontemporer Korea, dan menjadi landasan seni kontemporer Asia. Hal ini terjadi karena banyak dipromosikan. KAMS (Korean Art Management Service) salah satunya, mempromosikan seni kontemporer Korea. Publikasi pertama adalah Resonance of Dansaekhwa, menyajikan berbagai sudut pandang dari genre Dansaekhwa. Kemudian sumber kedua hadirlah buku Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting untuk memperluas pemahaman internasional dari Dansaekhwa, atau yang dikenal sebagai seni lukis monochrome yang mewakili corak dari seni abstrak di Korea. Juga dengan harapan agar menyebarluaskan estetika dan nilai sejarah Dansaekhwa dan memperluas pemahaman global tentang gaya seni di kawasan Korea. Dansaekhwa masih hidup dalam seni masa kini, dan masih digunakan meskipun telah berlangsung lebih dari 40 tahun.

Dalam menjabarkan tentang Dansaekhwa, buku ini terbagi dalam 4 periode. Mencangkup di dalamnya sebaran artikel-artikel dan teks. Periode pertama yang merupakan tahap pertumbuhan Dansaekhwa, yaitu awal tahun 1960an hingga pertengahan tahun 1970an. Dalam periode kedua, yang mencakup periode antara pertengahan tahun 1970an hingga pertengahan 1980an, ketika Dansaekhwa mulai berkembang. Tulisan-tulisan dari seniman– seniman penting seperti: Lee Ufan, Park Seo-Bo, Chung Sang-Hwa, Ha Chong Hyun, Yun Hyong keun, Kwon Young-Woo, Kim Guiline, Suh Seung Won, dan Choi Myoung Young pada periode kedua cenderung membahas estetika yang hidup pada masa itu. Catatan menarik adalah wacana pameran penting di Tokyo-Korea, yaitu Five Artist, Five Whites, sebuah pameran yang diselenggarakan di Tokyo Galeri tahun 1975, dan Korea : Facet of Contemporary Art yang diselenggarakan tahun 1977 di Tokyo Central Museum Art. Hal ini menarik karena memungkinkan kita untuk membandingkan pandangan kritikus seni Korea dan Jepang. Periode ketiga membahas fase kedewasaan Dansaekhwa, yaitu antara pertengahan tahun 1980-an dan 1999, pada periode ini mencakup tahap ketika seniman Dansaekhwa mengadakan sejumlah pameran besar , memajukan metodologi referensi mereka, dan menjelajahi beragam media. Periode ini lebih mengacu pada teks-teks dari kritik seni, karena mencakup pemeriksaan tajam terhadap estetika Dansaekhwa. Periode keempat  membahas tentang tahun 2000-an, lebih mengeksplorasi meningkatnya minat dan keuntungan dari Dansaekhwa, baik dalam komunitas seni internasional maupun domestik. Di Korea, keinginan untuk memeriksa kembali Dansaekhwa telah menghasilkan banyak proyek penelitian akademis. Pada periode keempat ini juga termuat beberapa teks yang memberi kesaksian tentang internasionalisasi Dansaekhwa sejak awal tahun 2000an. Melalui buku ini kita dapat memahami sejarah Dansaekhwa dari tahap pertumbuhannya hingga go international. Buku ini bisa jadipenting dalam rujukan mempelajari perkembangan seni di Korea.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Majalah Budaya | Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III

Oleh: Santosa Werdoyo

Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III
Pengarang: Kusnadi
Jumlah: 41 Halaman

Majalah Budaya adalah terbitan bulanan dari Djawatan Kebudayaan Kementerian P.P.K  selama tahun 1953-1962. Edisi No. 6, Djuli 1954 Tahun III, Kusnadi menulis kesan–kesannya tentang eksposisi Seni Rupa International di kota Sao Paulo, Brazil. Dalam rangka perayaan Biennale  II tanggal 12 Desember 1953 – 12 Maret 1954. Terangkum secara baik dalam 41 halaman.

Dalam Biennale Sao Paulo ini, Kusnadi memaparkan karya – karya yang dipamerkan  lebih dari 75% seni setelah era kubisme Picasso, seni yang kubistik dan abstrak , surealistik dan futuristik. Sisanya berbentuk realis, dari impresionisme hingga ekspresionisme. Selain itu, terdapat satu karya naturalis di ruang Norwegia, 1 di ruang Belgia, 3 di ruang Indonesia, dan 10 lukisan sejarah di ruang Brasil. Ruang lainnya seperti Perancis, Inggris, Belanda, Israel Yugoslavia, Argentina, Mexico, dan Amerika Serikat, menampilkan seni abstrak. Ruang lainnya yaitu Italia, Spanyol, Portugal, Swis, Brazil, Venezuela, Jerman, Austria, Norwegia separuh realistik, separuh abstrak. Sedangkan ruang Indonesia  dengan 95% impresionisme dan ekspresionisme, dan 5% sisanya naturalisme.

Ini adalah kali pertama Indonesia turut serta dalam ajang Biennale International. Menghadirkan 34 karya dari 25 seniman Indonesia. 25 seniman itu antara lain Affandi, S.Sudjojono, Harijadi, Suromo, Rusli, Wakidjan, Hendra Gunawan, Trubus, Sudarso, Rustamadji, Sholihin, Kusnadi, Sesongko, Sjahri, Zaini, Oesman Effendi, Basuki Resobowo, Trisno Sumardjo, Handrijo, Nasjah, Agus Djaya, Supini, Kartono, Ida Bagus Made dan Ida Bagus Togog. Affandi pada kesempatan ini menampilkan 20 lukisannya. Dalam hal ini tidak dijelaskan bagaimana seniman – seniman dan karya – karya itu bisa terpilih dan mewakili Indonesia. Dari pengamatan sekilas terhadap karya – karyanya, ditemukan hubungan antara karya seni rupa baik teknik dengan gaya yang  dimiliki beberapa seniman, serta bagaimana antara seniman sezaman saling mempengaruhi.

Majalah Budaya edisi 6 Juli tahun 1954 ini secara runut menceritakan bagaimana pengalaman seniman-seniman Indonesia ‘go internasional’. Meski tulisan Kusnadi ini cenderung deskriptif, cukup menjadi gambaran tentang kancah seni rupa dipertemukan dalam arena pameran yang lebih luas. Catatan ini menjadi penting mengingat konteks tahun 1954 yang ramai digalakkan misi-misi kebudayaan oleh Sukarno. Ini bisa menjadi pendamping referensi bagi peneliti untuk memperkaya literatur dalam pencarian nilai-nilai dan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah karya seni. 

Koleksi pustaka ini dapat diakses dengan datang ke Perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

#Sorotanpustaka Mei-Juni 2018

Oleh: Santosa

IVAA sebagai perpustakaan alternatif, mempunyai koleksi katalog pameran seni yang dihimpun sejak IVAA berdiri tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Katalog–katalog tersebut ditata dan disimpan dalam 4 rak dengan jumlah katalog pameran seni 7237, seluruhnya bisa diakses oleh publik dan ditelusuri di http://library.ivaa-online.org/index.php. Katalog – Katalog tersebut berasal dari kontribusi individu maupun pameran. Terdiri dari katalog pameran tunggal maupun pameran bersama yang diselenggarakan di dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, koleksi katalog pameran yang dikoleksi IVAA masih didominasi katalog pameran yang berlangsung di sekitar pulau Jawa terutama Yogyakarta mengingat lokasi dan keterbatasan jangkauan IVAA.

Sementara basis data yang dimiliki IVAA juga telah dibaca dan dijadikan katalog, dihimpun pada tahun 2011 dalam buku Seri Katalog Data IVAA yang terdiri dari  4 tema, yaitu Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942 – 2011), Reka Alam: Praktek Seni Visual Dan Isu Lingkungan Indonesia Dari Mooi Indie Hingga Reformasi, Kolektif Kreatif: Dinamika Seni Rupa Dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan Dan Ekonomi (Kreatif) (1938-2011), Interkultur: Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keragaman (1935 – 2011). Sedangkan tahun 2017 IVAA juga menerbitkan buku Katalog Data IVAA: Seni, Aksi Dan Jogja Sebagai Ruang Urban dirangkai dan dikumpulkan dari berbagai peristiwa seni dan budaya atau yang berkaitan dengannya, yang mengiringi perubahan dan pergeseran arah gerak Yogyakarta sebagai ruang urban pasca-1998. Secara sengaja, beberapa peristiwa yang terhimpun tidak melulu peristiwa yang sudah begitu saja diterima sebagai peristiwa seni visual. Tema-tema ini dibingkai dalam katalog data IVAA sebagai produk pengetahuan kerja dokumentasi IVAA, lebih lanjut sebagai upaya pengembangan wacana pengetahuan dan pemantik untuk penelitian kedepan.

Newsletter edisi kali ini mengulas dua buku, pertama Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro, yang ditulis oleh OPée Wardany dan Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005. Karena pembahasan di kedua buku tersebut berada pada kisaran dua nama seniman, yakni Ugo Untoro dan Semsar Siahaan, kami kemudian membuka koleksi yang juga terkait dengan kedua nama itu, beberapa diantaranya ialah: Ugo Untoro Menggugat… Sisipus tertawa, Papers and Ugo Untoro, Ugo Untoro My Lonely Riot, Sciascia|Untoro, Solo Show By Ugo Untoro, Melupa, Passage Ugo Untoro: Retropective Exhibition, Corat – Coret 91 – 95. Sedangkan yang berkenaan dengan Semsar Siahaan perpustakaan IVAA juga mempunyai antara lain: Semsar Siahaan: Art Liberation dan beberapa katalog pameran kelompok. Selain kedua buku tersebut, satu koleksi baru yang diulas pada edisi ini ialah Tesis berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian, yang ditulis oleh Stanislaus Yangni dalam menuntaskan kuliahnya di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.