Tag Archives: #sorotanpustaka

Tahun ke Tahun Scumbag dan Perlawanan

Judul Buku : Myself: Scumbag Beyond Life and Death
Penulis : Kimung
Penyunting : Yusandi
Penerbit : Minor Books
Tahun Terbit : 2007
Jumlah halaman : 368
Ukuran Buku : 14 x 21 cm

Resensi oleh Dwi Rahmanto

Pada 19 April 1978 telah lahir anak laki-laki bernama Ivan Firmansyah dari pasangan Aam Rusyana Suhandi dan Dedeh Herawati. Ivan Firmansyah bukanlah sembarang nama. ‘Ivan’ mengandung makna spiritual, mistik, kepercayaan pada roh, sedangkan ‘Firmansyah’ bermakna pembawa wahyu dan berasal dari istilah islami. Ia lahir di Ujungberung, sebuah kota kecamatan di Bandung bagian paling timur. Daerah ini berada pada ketinggian 668 m di atas permukaan laut, berbatasan dengan Kecamatan Cibiru di sisi timur, Kecamatan Arcamanik di sisi barat dan selatan, serta Kecamatan Cilengkrang di sisi utara. Sejak dulu, Ujungberung terkenal dengan seni tradisionalnya, terutama seni bela diri benjang, pencak silat, angklung, bengberokan, dan kacapi suling. Selain itu kota ini terkenal dengan pemandangan indah dan banyaknya pesantren.

Sebagai seorang bocah, Ivan menikmati masa kecilnya dengan sangat lurus, seperti belajar secara formal, mengaji, tamasya rutin bersama keluarga yang harmonis. Di tingkat SD, semua pejaran agama telah masuk ke dalam kesehariannya. Bisa dikata, Ivan cukup pintar karena selalu masuk 10 besar dari 30-an murid. Sewaktu SMP, ia mulai tertarik dengan kesenian. Musik heavy metal era 90-an seperti Metallica telah menjadi lagu sehari-hari. Ia pun menemukan Sepultura yang menginspirasinya melalui musik mereka yang lantang dan garang.  

Tidak muncul dengan sendirinya, darah musik telah mengalir dari ayah dan pamannya yang pernah mempunyai band. Seolah mendapat warisan, masa remaja Ivan telah dipenuhi dengan dunia band dan gaya hidup di sekitarnya. Ketika duduk di bangku SMP ia mulai mengenal banyak hal. Di masa itulah ia mengenal Bebi (pemain drum), alkohol, dan beragam musik dari Sepultura serta aliran Grindcore seperti Morbit Angel, Terrorizer, Carcass, dan yang lain. Di masa ini ia juga membuat sebuah perkumpulan bernama CGFB (Corpse Grinder Foundation Bandung). Perkumpulan ini terdiri dari anak-anak metal dari SMP 12, 2, dan 5.

Ivan memang terlahir dari keluarga yang sangat terbuka, terutama soal pilihan masa muda seperti apa yang akan dihidupi. Salah satu faktor keterbukaan ini adalah karena Ivan tidak terlalu dekat dengan orang tuanya. Selama masa akhir di SMP, ia tinggal bersama Uwak-nya (istilah Medan untuk menyebut orang yang lebih tua) di Kampung Sarijadi, sejak keluarganya pindah ke Kampung Rancaekek.

Keterbukaan ini membuat Ivan memilih mewarnai kehidupan remajanya dengan gaya hidup ala anak band. Tetapi, Ivan memiliki dimensi keyakinan relijius yang kuat layaknya pondasi jiwa, mengingat ia sangat akrab dengan pelajaran agama ketika masih SD. Oleh sebab itu, di tengah dinamikanya sebagai anak band yang tidak asing dengan alkohol, ia tetap menjalin interaksi akrab dengan teman-teman sebaya yang agamis.

Ivan sangat aktif di lingkungan sosialnya, di keluarga, organisasi kepemudaan, dan tentu saja di lingkungan musik (meski secara fisik ia nampak tidak meyakinkan untuk menyandang status sebagai vokalis dengan postur tubuhnya yang kecil, wajah manis dan perilaku kalem, pendiam dan taat dengan agamanya). Namun, ia memiliki kekurangan dalam hal cara berkomunikasi, “ill communication”, sejak masih kecil. Apa yang ia bicarakan sering tidak sesuai dengan nada dan intonasi suara; tidak jelas antara pernyataan atau pertanyaan, sedih atau bahagia. Tak jarang pula ia kebingungan untuk memulai sebuah cerita, memilih bahasa yang tepat dan mengungkapkannya. Teman-temannya saat itu sering menyamakannya dia dengan Moerdiono, menteri sekretariat Negara jaman Soeharto yang sering tidak jelas jika bicara. Ini semua sedikit membuat Ivan tertekan secara psikologis.

Buku ini cukup membuat saya bingung karena tidak ada periodisasi yang kronologis. Oleh karena itu, bolehlah saya sedikit memberikan rangkuman secara kronologis dengan menyoroti peristiwa pentingnya. Oleh karena itu, berikut saya mencoba membuat kronik sederhana dengan menyoroti beberapa peristiwa termasuk dinamika sebuah band yang digeluti oleh Ivan, Burgerkill.

 

1995, Kemunculan Burgerkill

Sebuah band hardcore bernama Burgerkill dibentuk pada awal 1995 oleh Eben, Kimung, dan Ivan. Berawal dari memainkan lagu orang lain, Burgerkill telah melahirkan lagu pertama mereka berjudul “Revolt” dan menahbiskan nama Scumbag. Meski sangat merepresentasikan aspek personal dari seorang Ivan, lagu ini mewakili kondisi sosial saat itu; bagaimana kegundahan, keterasingan, pencarian identitas dan menjadi mandiri, keluar dari lingkungan keluarga yang nyaman. Burgerkill semakin mumpuni ketika mereka meluncurkan lagu mereka yang berjudul “Homeless Crew”.

Pada era ini, gaya bohemian sedang melanda anak-anak komunitas musik Ujungberug. Pada era ini pula, Ivan masih duduk di bangku SMA dan banyak mengikuti gigs di luar Jakarta dan beberapa kali di Bandung. Ia juga bertemu dengan banyak komunitas.

 

1996-1997, Kejayaan Burgerkill

Di tahun 1996, Burgerkill telah merilis kompilasi pertamanya oleh 401204 dengan tajuk MasaIndahBangetSekaliPisan. Era ini juga sekaligus menjadi masa emas Burgerkill sebelum krisis moneter terjadi. Hampir setiap Minggu panggung besar mereka jelajahi. Tidak hanya di Jakarta, kibaran bendera mereka bahkan sampai ke Malang. Beberapa acara yang mereka jelajahi adalah Gorong-gorong II, Strum, Minoritas, Novest, Badung Bawah Tanah II, Parade Musik STIEKN Jayanegara Malang, Putra Underground, Benteng Underground.

Pada masa ini pula Ivan mulai tertarik dengan lirik satanis. Dia selalu mencari hal pembeda dari musik underground lainnya. Ketika lirik band underground biasanya memunculkan semangat persatuan, perjuangan, tema sosial, maka ia lebih senang dengan tema-tema kelam yang mencerminkan kediriannya.

 

27 Oktober 1997, Ayah Meninggal

Krisis moneter terjadi. Dunia musik pun terkena imbasnya. Banyak pagelaran, baik penonton dan musisinya terpaksa harus tiarap. Di masa ini pula, Ivan mengalami situasi keterpukulan yang menyedihkan. Ayahnya meninggal dunia. Situasi ini membawa dirinya ke dalam dunia kelam seperti mengonsumsi alkohol, putau, dan ganja yang berlebihan. Kisah percintaannya yang mungkin menjadi sandaran berikutnya setelah keluarga juga semakin memperparah situasi.

 

2011-2016, Tekat Kemandirian Ivan dan Burgerkill

Periode ini dibagi menjadi tiga bagian: bagaimana Ivan banyak bersinggungan dengan narkoba, kehidupannya dengan Mery (kekasihnya), dan tekat besar atas kemandirian seorang Ivan dan Burgerkill. Tapi saya hanya akan menyoroti soal bagian terakhir. Menarik untuk melihat  seorang Ivan yang mencari sumber kehidupan dengan bekerja serabutan sebagai shopkeeper, merintis usaha clothing, menjadi ilustrator, dsb. Upayanya seperti itu menggambarkan energi besarnya yang tidak hanya nampak dari panggung. Selain itu, ia banyak mencurahkan ide brilian ke dalam tulisan dan lirik lagu yang merepresentasikan kehidupan pribadi serta sosialnya. Lagu-lagu yang ia buat telah mewakili dinamika pemuda-pemuda di era krisis moneter.

Tekat kemandirian Burgerkill nampak dari pertarungan idealisme soal musik indie dan label komersial. Tidak banyak band underground yang menarik perhatian label komersial sekelas Sony. Burgerkill merupakan salah satu band musik cadas yang sempat bekerja sama dengan label berkelas tersebut. Namun, karena pro kontra yang terus terjadi, mengingat bahwa Burgerkill adalah band dengan spirit bawah tanah, kerja sama tersebut berakhir pada 2005. Burgerkill memutuskan untuk keluar dari label Sony. Bukan menjadi suatu kerugian, dari kerja sama itu band ini telah belajar soal distribusi dan jejaring musik di tingkat nasional. Tak dapat dipungkiri, nama Burgerkill pun semakin dikenal oleh khalayak. Berkat kontrak 6 album dengan Sony pula, Burgerkill telah mendapatkan penghargaan dalam ajang Anugerah Musik Indonesia 2004 dengan menyabet kategori Best Metal Production untuk album “Berkarat”.

Seperti itulah kisah Ivan dan Burgerkill yang disampaikan melalui buku ini, sangat personal tanpa lepas dari konteks sosialnya. Meski demikian, bagi saya buku ini memiliki beberapa kekurangan. Pertama, latar waktu yang cukup ulang alik dalam penulisan barangkali membuat pembaca bingung. Akan sangat membantu jika penulis menyertakan lini masa periodisasi atau infografis, khususnya yang menekankan soal bagaimana dinamika musik bawah tanah berlangsung.

Kedua, penggunaan bahasa asing dalam skena musik underground atau khususnya Burgerkill juga sebenarnya bisa menjadi satu topik yang menarik untuk diulas. Apakah penggunaan bahasa asing dalam lirik memproyeksikan bayangan mereka 10-20 tahun ke depan yang semakin internasional? Penggunaan bahasa asing ini menjadi unik ketika dihubungkan dengan konteks wilayah Ujungberung yang berada di pinggiran Kota Bandung. Meski di pinggiran, kegiatan kampung seperti karangtaruna justru digerakkan oleh kelompok-kelompok musik.

Selain itu, salah satu aspek kehidupan Ivan yang tidak asing dengan dunia visual justru kurang digambarkan secara visual. Seperti aktivitasnya sebagai ilustrator dan dunia clothing, tidak ada arsip foto yang ditampilkan, yang sebenarnya bisa memberi gambaran kepada pembaca mengenai konteks sosial pemuda Bandung pada waktu itu.

Akhir kata, bolehlah saya berpendapat bahwa mungkin hanya ada beberapa sosok seperti Ivan dalam skena musik underground di Indonesia. Dengan tekad dan caranya yang unik, bersama Burgerkill dia menjadi penggedor dinamika musik bawah tanah Indonesia.

 

Beberapa catatan masa muda Ivan:

Lini masa dengan keluarga:

  1. 1978-1989 tinggal bersama keluarga inti
  2. 1989-1990 tinggal bersama  Nenek Mak Uun
  3. 1990-1993 tinggal Bersama Uwak
  4. 1994 tinggal bersama Mak Uun dan Pak Yayat

Organisasi yang dia geluti:

  1. Ikatan Remaja Nurul Islam (SD
  2. Ikatan Remaha Masjiw SMP 12 (SMP)
  3. CGFB (Corpse Grinder Foundation Bandung) (SMP)
  4. ENG (Extreem Noise Greencore) 1994 (SMA)

Hobi:

  1. Sepeda BMX
  2. Boxer
  3. Berenang

Beberapa band yang ia ikuti:

  1. Cannibalism (1992)
  2. Analvomit (1993)
  3. Blashphemete Nazarene (1994)
  4. Disinherit (1994)
  5. Hatred (1994)
  6. Infamy (1994)
  7. Burgerkill (1995)

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

Dari Krajan ke Bangsa, Kesenian dan Mitos Baru Bernama Indonesia

Judul Buku : Seni, Tradisi, Masyarakat
Penulis : Umar Kayam
Tahun Terbit : 1981, Cetakan Pertama
Penerbit : Sinar Harapan, Jakarta
Halaman : 184
No. Panggil : 701 Kay S

Resensi oleh Krisnawan Wisnu Adi

“Kadang-kadang orang ragu terhadap identitas karena identitas itu memberikan kesan yang asing kepadanya. Ia ragu-ragu karena gambaran serta simbol-simbol yang dia harapkan akan muncul pada obyeknya itu tidak muncul dalam bentuk seperti dia harapkan. Maka dia menjadi ragu dan was-was.”

-Umar Kayam dalam “Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni: Dua Wajah dalam Kehidupan Kebudayaan Kita”-

Keraguan atas identitas, situasi was-was, dan bahkan rawan adalah latar suasana yang dihadirkan melalui buku Seni, Tradisi, Masyarakat karya Umar Kayam ini. Buku yang berisi 13 tulisan Umar Kayam selama kurang lebih 10 tahun itu (akhir 1969-pertengahan 1981) berusaha menghadirkan dialog antara dirinya sebagai warganegara dengan beragam fenomena kesenian di tanah air secara mengalir. Isu besar yang kiranya tersari dari buku ini adalah soal korelasi seni dan masyarakat, yang masih hangat-hangatnya berbaju ‘Indonesia’, beserta ketegangan-ketegangan yang muncul sebagai konsekuensinya. Ragu, seperti kutipan di atas, nampaknya menjadi perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan kecenderungan sekaligus tantangan dalam kehidupan kebudayaan masyarakat dengan mitos baru bernama Indonesia.

Secara sosiologis, Umar Kayam hendak mengatakan bahwa seni, sebagai bagian dari kebudayaan, tidak akan terpisah dari masyarakat. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi di dalam struktur sosial masyarakat akan mempengaruhi bagaimana dinamika seni itu berjalan. Masyarakat yang ia maksud adalah masyarakat Indonesia. Sebagai pondasi untuk berlanjut ke tulisan-tulisan yang lain, gagasan ini dihadirkan melalui tiga tulisan pertama, yakni “Kebudayaan Indonesia dan Kepribadian Bangsa”, “Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni”, dan “Kreativitas Seni dan Masyarakat”.

Pada tulisannya yang berjudul “Kebudayaan Indonesia dan Kepribadian Bangsa”, dilletakkan di bagian awal buku ini, ia menekankan bahwa kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini nampak dari konstruksi ‘kepribadian Indonesia’, sebagai satu hal homogen yang dibangun atas proses sosialisasi dalam ‘kurungan kultur’ yang benar-benar berbeda satu sama lain. Secara lebih detail, dalam “Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni”, proses sosialisasi tersebut ia jelaskan dengan fenomena peleburan krajan (istilah Jawa yang berarti kerajaan di mana raja memerintah) menuju kosmos yang lebih besar, yakni bangsa. Peleburan ini digerakkan oleh dua jalur: westernisasi (kolonialisme) dan gerakan nasionalisme. Perubahan struktur sosial tersebut mempengaruhi situasi kesenian. Dalam tulisannya yang berjudul “Kreativitas Seni dan Masyarakat”, Umar Kayam bercerita tentang intervensi asing terhadap estetika Tari Cak di Bali dan seni lukis di Banjar Sangging, Kamasan. Posisi seni yang dulu, dalam konteks krajan atau ‘masyarakat lama’ jika mengacu istilah dari Geertz, sebagai bagian fungsional dari ritus masyarakat yang holistik, telah mulai mempertimbangkan logika hukum penawaran dan permintaan.

Secara lebih makro, Umar Kayam mengaitkan pergeseran ini dengan konteks Asia Tenggara. Melalui tulisannya yang berjudul “Peranan Seni Tradisional dalam Modernisasi dan Integrasi di Asia Tenggara”, ia melihat bahwa peleburan juga terjadi pada kesenian di kawasan ini. Peleburan krajan menuju bangsa tidak semata karena pengintegrasian unsur tradisional ke dalam solidaritas nasional. Modernisasi nampaknya juga menjadi faktor yang kuat yang mengagendakan peleburan sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Posisi kawasan sebagai persimpangan telah melahirkan semangat sintesis atas beragam unsur kebudayaan (India, Arab), yang membuat mereka mampu membuka pintu bagi modernisasi. Seni tradisional telah menjadi seni-kota, kitsch, yang komersial.

Namun, modernisasi dengan jalur kolonialisme telah meninggalkan tradisi maecenas yang tanggung bagi perkembangan kesenian di Indonesia. Melalui “Maecenas-maecenas dan Jaringan Dewan Kesenian”, Umar Kayam mengatakan bahwa ekonomi kolonial Belanda tidak menumbuhkan satu kelas borjuasi yang kuat untuk mendukung dinamika kesenian. Maka, ia berpendapat bahwa Dewan Kesenian adalah perantara yang bonafide di tengah migrasi-kebudayaan saat itu.

Selanjutnya, Umar Kayam berusaha mengelaborasi pembicaraan seputar korelasi antara seni dan masyarakat yang melibatkan pergeseran atau perubahan struktur sosial dengan beberapa kasus dan bentuk kesenian. Di tulisannya yang berjudul “Tradisi Baru Teater Kita”, “Membangun Kehidupan Teater Kontemporer di Yogyakarta”, dan “Sang Lenong”, ia membicarakan tegangan yang terjadi dalam kesenian teater. Bahwa teater, sebagai bentuk kesenian yang dahulu pernah mengalami masa kejayaan di dalam ritual masyarakat holistik, sekarang menjadi wahana pembangunan solidaritas yang cair dan harus selalu mencari bentuk kontekstualnya.

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada seni wayang. Melalui “Wayang, Ke Manakah Kau?” ia menyampaikan bahwa dengan usia tua dan posisinya di persimpangan jalan, seni wayang mau tidak mau harus sampai pada dua konsekuensi. Pertama, ia harus sampai kepada satu idiom yang baru, karena dimensi dan bahasa-waktu menuntutnya demikian. Kedua, ia harus sampai pada pergeseran image dan identifikasi baru.

Tidak hanya teater dan wayang, Umar Kayam juga menyinggung kesenian film. Topik ini dihadirkan melalui “Film sebagai Sarana Hiburan dan Ekspresi Dramatik”, dan “Pembinaan Perfilman Nasional yang Menunjang Pembangunan Nasional”. Sebuah kritik ia lontarkan bahwa persoalan dalam kesenian film bukan terletak pada dikotomi komersial versus idealis, melainkan masalah format pertumbuhan dengan kondisi masyarakat. Film belum menjadi wahana solidaritas kultur yang baru. Bagi Umar Kayam, pemerintah lagi-lagi adalah kunci untuk mengatur strategi pembinaan film yang butuh sifat luwes, persuasif, dan kreatif.

Selain teater, wayang, dan film, Umar Kayam juga menyinggung persoalan lain yang terkait dengan kebudayaan, yakni isu tenaga kerja dan pariwisata. Melalui “Masalah Sosial Tenaga Kerja Indonesia sebagai Masalah Kebudayaan” ia mengilustrasikan tiga masalah sosial tenaga kerja, yakni: keadaan tenaga kerja di pedesaan, urbanisasi, dan penempatan tenaga untuk pekerja menengah. Selanjutnya, melalui “Tentang Pengaruh Pariwisata terhadap Perkembangan Masyarakat”, dengan latar Bali, ia mau menjelaskan kemunculan situasi rawan sebagai implikasi dari industri pariwisata. Kemerosotan mutu kesenian menjadi bagian dari dialog, konfrontasi, dan proses negosiasi antar nilai yang sedang gencar. Masalah tenaga kerja dan pariwisata pada akhirnya merupakan masalah kebudayaan, karena di dalamnya telah terjadi konfrontasi nilai yang lama dengan yang baru.

Kumpulan tulisan dari Umar Kayam ini, seperti yang sudah ia singgung di Pengantar, memang bernuansa sosiologis. Kalau boleh saya berpendapat, gaya analisis yang ia hadirkan ini sangat durkheimian. Dengan membahas kesenian sebagai bagian dari masyarakat yang sedang dalam proses peleburan dari yang lama ke yang baru (krajan ke bangsa), sebenarnya ia juga sedang bicara soal pergeseran dari solidaritas mekanik ke organik. Tetapi perlu diingat juga, bahwa pendekatan yang makro semacam ini, dalam sejarah pemikiran sosiologi telah melahirkan kritik. Posisi individu, atau setidaknya entitas sosial yang lebih mikro, cenderung terhimpit oleh analisis durkheimian yang sangat positivistik. Dalam konteks buku “Seni, Tradisi, Masyarakat”, kecenderungan ini cukup terlihat dari gagasan Umar Kayam yang selalu memandang pemerintah sebagai kunci utama mengendalikan nasib kebudayaan. Mungkin, analisis makro yang telah ia lakukan telah menghasilkan gagasan bahwa ketegangan sebagai konsekuensi dari pergeseran struktur sosial hanya bisa dikendalikan oleh entitas yang besar pula. Kita tahu bahwa masyarakat juga terdiri dari individu, bahwa negara tidak hanya terdiri dari ragam departemen pemerintahan dan lembaga formal lainnya.

Tidak hanya pada satu hal di atas, nuansa sosiologis juga muncul dari tulisannya yang berjudul “Film sebagai Sarana Hiburan dan Ekspresi Dramatik”. Poin utama yang ia tawarkan adalah bahwa masalah yang terjadi di dunia kesenian film pada waktu itu sebenarnya tidak terletak pada dikotomi pendekatan komersial versus idealis, melainkan format pertumbuhan film dengan kondisi masyarakat yang sedang melebur. Ia memberi contoh: Perfini (Perusahaan Produksi Film Indonesia) di bawah pimpinan Usmar kurang memperhitungkan kondisi tersebut, sehingga film-film yang bagus itu pada prakteknya hanya bisa dinikmati oleh lapisan yang tipis saja dari kota. Bagi saya, mungkin ini cukup berat sebelah. Tidak sepenuhnya dunia perfilman beroperasi di bawah payung konstruksi sosial masyarakat. Secara dialektis, sebenarnya dunia perfilman juga turut menyumbang wujud konstruksi sosial tersebut.

Sebuah buku berjudul “Mempertimbangkan Tradisi”-kumpulan tulisan W. S. Rendra dapat menjadi pembanding yang saya pikir tepat. Di dalam tulisannya yang berjudul “Menyadari Kedudukan Drama Modern di Indonesia” yang ditulis pada November 1967, dengan konteks yang kurang lebih sama yakni soal masa transisi masyarakat ‘tradisional’ ke modern, Rendra mengacu gagasan dari sosiolog McLuhan. Bahwa media itu membentuk kebiasaan dan adat istiadat orang. Pemberontakan tradisi dimulai karena faktor kebudayaan ala barat, seperti buku dan pencarian otentisitas yang telah mengintervensi struktur sosial masyarakat kita. Dengan memakai definisi media seluas-luasnya, ada poin kekuatan media yang ditampilkan di situ.

Saya jadi berpikir, barangkali Perfini, seperti yang dicontohkan oleh Umar Kayam, memang sengaja memproduksi film (media) untuk lapisan yang tipis saja dari kota. Maksud saya adalah ketika kita bicara soal korelasi seni (sebagai media solidaritas) dan masyarakat, dikotomi strategi film (atau kesenian pada umumnya), yang komersial atau idealis tetap masih relevan untuk dipertimbangkan sebagai kekuatan media mengkonstruksi struktur sosial masyarakat.

Gagasan Rendra melalui bukunya di atas bisa juga mengisi lubang di dalam gagasan Umar Kayam, khususnya soal posisi individu atau entitas mikro yang terhimpit oleh analisis bergaya durkheimian. Salah satunya dalam tulisan yang berjudul “Alternatif dari Parangtritis”, melalui perkemahan kaum urakan yang digelar pada Oktober 1971, Rendra bersama kawan-kawannya membuat ruang kolektif yang memberi porsi pada spontanitas peserta. Dengan latar belakang situasi inisiasi aktivitas sosial yang pada waktu itu selalu mengharapkan bantuan pemerintah, bergantung pada biaya besar, dan selalu dengan panitia yang rumit susunannya, perkemahan kaum urakan justru dilaksanakan dengan situasi yang berkebalikan. Ekspresi diri dalam upaya memaknai kemerdekaan adalah poin yang ingin mereka eksplorasi. Bagi Rendra, alternatif ini memberi input yang besar bagi Bengkel Teater-nya. Bisa jadi, alternatif semacam inilah yang membuat Bengkel Teater melihat kondisi masyarakat saat itu bukanlah yang cair, tetapi justru yang kaku tak berjiwa, dan perlu diberontak. Poin semacam ini tidak saya temukan dari buku “Seni, Tradisi, Masyarakat” karangan Umar Kayam.

Umar Kayam, melalui bukunya ini, telah memberi perspektif yang luas dalam pembicaraan seputar hubungan seni dan masyarakat. Dengan nuansa sosiologis, ia telah menghantar kita untuk melihat posisi kesenian secara makro, ketika struktur sosial masyarakat telah melebur dari krajan menuju bangsa. Meski kurang memberi ruang bagi dimensi mikro, buku ini cukup memancing kita untuk selalu ragu dan berefleksi, mencari segala kemungkinan baru guna menghidupi mitos ‘Indonesia’ sebagai bagian dari identitas kesenian dan kehidupan sosial kita.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

Benarkah Sejarah Lisan Berangkat dari Bawah?

Judul Buku : Sejarah Lisan di Asia Tenggara: Teori dan Metode
Penulis : Asvi Warman Adam, James Morrison, Kwa Chong Guan, Hong Lysa, Daniel Chew, Lim How Seng, Yos Santasombat, Nirmala, Puru Shotam, Lai Ah Eng, P. Lim Pui Huen, Azizah Mokhzani.
Editor : P. Lim Pui Huen, James H. Morrison, Kwa Chong Guan
Tahun Terbit : 2000, Cetakan Pertama
Penerbit : LP3ES, Jakarta
Halaman : xxiii + 311 hlm
No. Panggil : 901 Pui s

Resensi oleh Krisnawan Wisnu Adi

…. catatan dokumenter telah kehilangan keluguannya (bila memang pernah ada) dan kini dilihat sebagai mengandung nilai propaganda untuk masa datang atau pembenaran diri.

(Paul Thompson, dalam Voice of the Past: Oral History)

Sejarah Lisan di Asia Tenggara: Teori dan Metode merupakan sebuah buku berisi kumpulan esai yang sebagian besar pernah disajikan dalam Lokakarya Sejarah Lisan yang diselenggarakan oleh ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) pada 1990. Dengan ukuran layaknya buku saku, buku ini berisi perihal teori serta metode dalam kerja-kerja penelitian sejarah lisan dalam konteks Asia Tenggara.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, yakni Pengantar, Teori, dan Metode. Pada bagian Pengantar, selain terdapat pengantar dari editor terdapat juga pengantar dari James H. Morrison dan Asvi Warman Adam. Dengan judul “Perspektif Global Sejarah Lisan di Asia Tenggara”, James H. Morrison memberikan gambaran makro mengenai kemunculan studi sejarah lisan beserta terma-terma yang cukup problematis di dalamnya. Asvi Warman Adam, melalui “Pengantar: Sejarah Lisan di Asia Tenggara, Sejarah Korban di Indonesia”, memberikan gambaran mengenai studi sejarah lisan secara lebih spesifik dalam konteks Indonesia, dengan meletakkan pembentukan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YKPP 65/66) sebagai aktivitas baru di bidang sejarah lisan.

Pada bagian Teori, terdapat dua tulisan. Pertama, tulisan dari Kwa Chong Guan dengan judul “Manfaat Kesaksian Lisan: Teks dan Kelisanan dalam Rekonstruksi Masa Lampau”. Melalui tulisan ini Kwa Chong Guan menjelaskan dua versi sejarah lisan terbentuknya Malaka, yakni Suma Oriental (perspektif Portugis) dan Sejarah Melayu (perspektif kerajaan Goa di Sulawesi Selatan). Berbeda dengan Suma Oriental yang hanya difungsikan sebagai sumber informasi masa lampau Malaka, Sejarah Melayu lebih dimaknai sebagai narasi sejarah yang memuat pernyataan kekuasaan; bahwa tradisi lisan yang dicatat bukan sekadar informasi yang diingat, tetapi pernyataan mengenai apa Malaka itu, dan hak moral Sultan untuk memerintah. Kedua, tulisan dari Hong Lysa dengan judul “Ideologi dan Lembaga Sejarah Lisan di Asia Tenggara”. Ia menggambarkan masalah klasik sejarah lisan yang berkaitan dengan ideologi atau orientasi dari lembaga peneliti. Bahwa sebenarnya spirit sejarah lisan adalah bukan soal objektivitas, melainkan soal ‘sejarah dari bawah’, keanekaragaman pandangan, subjektivitas pencerita, dan kemungkinan demokratis dalam historiografi.

Kemudian pada bagian Metode, terdapat tujuh tulisan. Daniel Chew, dengan tulisannya yang berjudul “Metodologi Sejarah Lisan: Pendekatan Pengalaman Hidup”, mengulas metodologi sejarah lisan berdasarkan pandangan Pusat Sejarah Lisan di Singapura. Ada dua struktur wawancara yang dapat dibedakan ke dalam dua bagian, yakni fokus terhadap topik dan sejarah hidup. Kedua, dengan judul “Mewawancarai Para Elite Bisnis dan Politik di Singapura: Metode dan Problem”, Lim How Seng menitikberatkan pada poin sejarah lisan yang tidak melulu bicara soal kisah masa lalu. Kisah sekarang yang terkait dengan politik dan identitas menjadi poin yang harus disadari pula.

Selanjutnya, melalui tulisan dengan judul “Sejarah Lisan dan Potret Diri: Mewawancarai Elite Thai”, Yos Santasombat mengatakan bahwa jurang antara realitas, pengalaman dan ungkapan, serta kontradiksi yang terkandung di dalamnya merupakan masalah utama dalam sejarah lisan atau sejarah pengalaman hidup. Peneliti harus membedakan antara realitas (hidup yang dihidupi), pengalaman (hidup seperti yang dialami), dan ungkapan (hidup seperti yang diceritakan).

Masih berkaitan dengan potret diri atau pengalaman hidup seseorang, melalui tulisannya yang berjudul “Proses Wawancara Naratif”, Nirmala Puru Shotan menulis bahwa sebagai bagian dari sejarah lisan, wawancara naratif bukan hanya soal pengumpulan biografi, melainkan tujuannya adalah untuk membangkitkan narasi. Perhatian utamanya tertuju pada pemberian suara kepada subjektivitas dan kreativitas manusia, dan dari sana mengaktualisasikan realitas kehidupan sehari-hari.

Perihal memunculkan narasi ini juga berkaitan dengan gagasan P. Lim Pui Huen dengan tulisannya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pengalaman Hidup”. Lim Pui Huen mengutip perkataan Paul Thompson bahwa sekali berbagai pengalaman hidup orang dapat digunakan sebagai bahan mentah, suatu dimensi baru telah dimunculkan dalam sejarah. Dengan kasus profil Wong Fook, seorang imigran Tionghoa yang menjadi wirausahawan terkenal di Malaysia, ia berpendapat bahwa cerita yang dihasilkan dari wawancara menggambarkan kebutuhan untuk menyaring fakta dari fiksi. Penyaringan ini ia gambarkan dengan proses verifikasi cerita berdasarkan dokumen; dari tradisi lisan menjadi sejarah lisan.

Bagian Metode juga diperkaya dengan tulisan Azizah Mokhzani yang berjudul “Penulisan Biografi Tan Sri Fatimah Hashim”. Lagi-lagi soal biografi, dengan mengangkat sosok Tan Sri Fatimah Hashim, ia mau membicarakan dinamika seorang perempuan di dunia politik dan keluarga.

Dari kebanyakan tulisan yang membicarakan biografi, buku ini juga memuat sebuah tulisan mengenai problem peneliti sejarah lisan. Lai Ah Eng, dalam tulisannya yang berjudul “Pengalaman dan Persoalan Penelitian Lapangan Lintas-Budaya di Singapura”, membicarakan isu kehidupan lintas-budaya. Dengan penelitiannya di pemukiman Marine Parade, Singapura, ia mengutarakan bahwa peneliti antropologi dan sejarawan lisan harus mampu melampaui etnisitasnya untuk memahami kehidupan multietnis. Isu multietnis bisa dikatakan menjadi bagian dari sejarah lisan, ketika studi ini memiliki spirit membangkitkan keberagaman narasi dari bawah.  

Dari beberapa tulisan tersebut, meski saya yakin masing-masing penulisnya memiliki pandangan yang mungkin kontradiktif satu sama lain, ada beberapa benang merah yang bisa saya tempatkan sebagai poin penting dalam sejarah lisan. Pertama adalah soal narasi sejarah sebagai pernyataan kekuasaan. Layaknya Sejarah Melayu sebagai salah satu versi sejarah lisan pembentukan Malaka, sejarah lisan bukan hanya berisi peristiwa-peristiwa yang diingat, melainkan menyimpan pernyataan kekuasaan dari pihak tertentu. Kedua, sejarah lisan memiliki spirit ‘sejarah dari bawah’, dalam arti ia dipakai untuk mengakomodasi subjektivitas dalam keanekaragaman versi, untuk membangkitkan narasi sejarah yang lebih demokratis. Kritik terhadap historiografi yang melulu berangkat dari perspektif elit menjadi latar belakang spirit ini. Ketiga, lebih pada perihal metode, adalah soal permasalahan utama dalam sejarah lisan, yakni jurang antara realitas, pengalaman, dan ungkapan serta kontradiksi di dalamnya. Hal ini berhubungan dengan kecenderungan untuk menyaring fakta dari fiksi, semacam verifikasi data.

Berdasarkan poin-poin di atas, saya menemukan beberapa kontradiksi yang barangkali bisa menjadi kritik atas buku ini, atau setidaknya atas beberapa tulisan di dalamnya. Pertama, terkait tulisan P. Lim Pui Huen yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Pengalaman Hidup”. Ia menulis bahwa wawancara menghasilkan hal-hal yang bisa ditelusuri secara lebih jauh. Para pengkisah mungkin tidak banyak mengetahui mengenai berbagai peristiwa, tetapi mereka bisa mengingat bahwa peristiwa itu memang terjadi. Peristiwa Wong Fook yang menuntut pemerintah Johor di pengadilan menjadi contoh peristiwa yang ia teliti. Menurut Huen, kebenaran dari pernyataan itu dapat dibuktikan melalui arsip. Bahwa hal ini memperlihatkan fungsi lain dari sejarah lisan yaitu menyediakan petunjuk kepada sumber-sumber dokumenter, dari keterangan lisan ke keterangan tertulis. Dia menyimpulkan, cerita itu, yang setelah diverifikasi ternyata ada benarnya juga, tampaknya bisa beralih dari tradisi lisan menjadi sejarah lisan.

Bagi saya, Gagasan Huen di atas cukup bertolak belakang dengan gagasan Paul Thompson dalam “Voice of the Past: Oral History”, yang mempertanyakan keluguan dokumen. Tulisan Huen saya maknai demikian: sejarah lisan lebih terpercaya dari pada tradisi lisan, karena Huen menempatkan sejarah lisan sebagai hasil akhir dari tradisi lisan yang telah diverifikasi dengan dokumen sebagai bukti faktual. Dokumen tetap menjadi bagian yang menentukan validitas peristiwa. Sementara, seperti yang Thompson gagas, dokumen tidak sepenuhnya lugu. Artinya, fungsinya sebagai penentu validitas peristiwa pun perlu diragukan. Saya jadi berpikir bahwa ‘yang lisan’ tetap berkedudukan lebih rendah dari pada ‘yang tertulis’. Dan kesimpulan ini cukup tidak sesuai dengan spirit ‘sejarah dari bawah’, apalagi dalam konteks tradisi tutur masyarakat Asia Tenggara yang terus berkontestasi dengan peninggalan arsip dan pola pikir kolonial dari para penjajah.

Selanjutnya adalah sebuah kritik atas tulisan Yos Santasombat yang berjudul “Sejarah Lisan dan Potret Diri: Mewawancarai Elite Thai”. Santasombat menulis bahwa sebagai teks yang dilakoni, sejarah lisan harus memfokuskan perhatian pada pengalaman yang dialami setiap individu. Sejarah lisan menampilkan hasi studi dari sejarah pengalaman hidup mereka, menceritakan pada orang lain bagaimana mereka itu, bagaimana mereka melukiskan potret-diri mereka dan cara mereka menyajikan diri sendiri. Saya jadi berpikir apakah sejarah lisan memang hanya soal pengalaman individu? Apa bedanya dengan biografi pada umumnya? Lantas, mengapa perlu ada kategori ‘sejarah lisan’ dalam disiplin sejarah jika fokus perhatiannya hanya pengalaman individu?

Tidak hanya tulisan dari Yos Santasombat, hampir seluruh tulisan di bagian Metode dalam buku ini menggunakan biografi sebagai metode sejarah lisan. Kebanyakan juga didasarkan atas perspektif elit bisnis dan politik. Hanya Lai Ah Eng yang tidak menggunakan perspektif elit ketika ia meneliti kehidupan multietnis penduduk pemukiman Marine Parade, Singapura. Kecenderungan untuk menggunakan perspektif elit ini juga bertolak belakang dengan gagasan R. Lockhead dalam tulisannya yang berjudul “Three Approaches to Oral History”. Ia menjelaskan bahwa sejarah lisan muncul karena para sejarawan ingin mengangkat sejarah non-elit, sebagai kritik atas tradisi sejarah yang selalu berbasis elit sebagai subjek.

Ketika saya membaca bagian Pengantar dan Teori, poin penting yang saya dapat adalah bahwa sejarah lisan merupakan satu arus lain dalam ilmu sejarah yang mencoba berangkat dari bawah. Dengan spirit ‘sejarah dari bawah’ yang berusaha membangkitkan narasi, ia dimaksudkan untuk menciptakan sejarah yang lebih demokratis. Sifat catatan dokumenter yang hanya menjadi alat propaganda dan pembenaran diri menjadi latar belakang mengapa sejarah lisan lahir. Namun, poin di atas tidak begitu muncul pada bagian Metode, ketika sebagian besar penelitian sejarah lisan yang diangkat justru berangkat dari perspektif elit. Selain itu, konteks Asia Tenggara juga tidak sepenuhnya muncul dari kumpulan tulisan di buku ini, karena hanya Malaysia, Thailand, dan Singapura yang menjadi fokus.

Meski demikian, buku ini cukup bisa membantu kita untuk melihat kemungkinan lain dalam historiografi, setidaknya dalam tahap perkenalan dalam konteks Asia Tenggara. Bahwa ungkapan populer dari Leopold von Ranke sebagai bapak sejarah ilmiah yang berbunyi, “no documents, no history”, tidak sepenuhnya relevan.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

Membaca Seni sebagai Mediator

Judul Buku : Unjuk Rasa: Seni-Performativitas-Aktivisme
Penulis : Alia Swastika, Asri Saraswati, Cholil Mahmud, Dede Pramayoza, Diah Kusumaningrum, Egbert Wits, Erni Aladjal, hikmat Darmawan, Ismal Muntaha & Bunga Siagian, Joned Suryatmoko, Manuel Alberto Mala, Muchammad Cora, Muhammad Sibawaihi, Morika Telepta, Rachmi Diah Larasati, Yuli Andari Merdikaningtyas
Editor : Brigitta Isabella
ISBN/ISSN : 978-602-61396-4-1
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Yayasan Kelola
Tahun Terbit : 2018
Tempat Terbit : Jakarta, Indonesia

Resensi oleh : Sukma Smita Grah Brillianesti

There is much to discover that’s not on the back cover!

Ungkapan populer ini, tentu saja selain profil penulis atau harga buku, selalu menjadi pertimbangan saya dalam memutuskan untuk membaca atau membeli sebuah buku. Hal yang sama juga terjadi ketika saya memutuskan untuk membaca sampai habis dan kemudian mengulas buku ini. Saya merasa terdorong untuk menjelajahi tiap kata dan istilah hingga tandas. Dengan tebal 237 halaman, bersampul hardcover berwarna tanah nan artsy, format tata letak isi dan pilihan font yang cantik, serta kertas isi yang membuat nyaman dibaca, terlihat sedikit kontras dengan judul yang disematkan. Saya semakin dibuat penasaran tentang apa saja yang mungkin termuat di dalam buku ini.

‘Buku ini menerjemahkan istilah unjuk rasa sebagai suatu wacana estetiko-politik dalam proses demokratisasi di Indonesia.

Unjuk Rasa, satu istilah yang sekilas cukup provokatif. Terbayang sebuah aktivitas gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang untuk melakukan penekanan politik, didasari oleh kegelisahan yang umumnya atas kebijakan pemerintah, berarak di jalan protokol, membawa banner atau berbagai alat peraga lain, dipimpin oleh satu orator dengan penjagaan ketat oleh aparat.

Unjuk Rasa: Seni-Performativitas-Aktivisme, merupakan wujud lain atas pengertian unjuk rasa yang lazim dipahami sebagai aksi demonstrasi. Memanfaatkan istilah unjuk rasa, buku ini menawarkan pembacaan atas tindakan ekspresi estetis dalam seni dan aktivisme. Penerbitan buku ini berawal dari sebuah ide menyusun publikasi yang berisi kumpulan pengetahuan yang diproduksi selama penyelenggaraan Program Hibah Cipta Perdamaian yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Kelola. Gagasan publikasi berkembang seiring masuknya Brigitta Isabella sebagai editor buku, yaitu menjadi rampai atas catatan tentang seni dan aktivisme yang bahasannya diperluas pada praktik-praktik seni dan aktivisme di Indonesia saat ini.

 

Sebentuk Unjuk Rasa yang Lain

Melalui pengantarnya Brigitta merentangkan secara detail sketsa pembacaannya atas proses intervensi artistik seniman, komunitas seni, hingga  kelompok masyarakat dan kontribusinya dalam mendorong terjadinya upaya rekonsiliasi dan penguatan kultural komunitas masyarakat dalam wilayah tertentu. Berpijak pada istilah unjuk rasa, Brigitta menawarkan pembacaan atas proses kreatif seniman melalui wacana estetiko-politik. Unjuk rasa dimaknai berbeda tanpa menghilangkan pemahaman atas pengertian unjuk rasa yang umum digunakan. Estetiko-politik dalam unjuk rasa mengandung makna kreatif dalam medan visual serta aspek penginderaan tekstur pengetahuan yang sensibel.

Proses ‘menunjukkan’ atau ‘memperlihatkan’ dalam aktivitas seni yang tidak berhenti pada seni sebagai pertunjukan atau bahkan seni sebagai tontonan dijabarkan melalui perspektif performativitas. Bahwa berbagai praktik kreatif seniman yang bekerja dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara demokratis. Partisipasi masyarakat dan masalah yang tengah dihadapi menjadi prioritas utamanya. Perspektif performativitas juga menyodorkan keragaman ruang dan medium aktivisme dalam proses demokratisasi. Sebagai laku menubuh, makna pelibatan tidak berhenti pada partisipasi masyarakat, namun masuk ke dalam ruang-ruang hidup. Tidak hanya terbatas pada ruang-ruang unjuk rasa yang sangat tipikal, seperti jalan protokol atau halaman kantor pemerintah, dengan tangan terkepal dan diiringi orator, kebutuhan menunjukkan rasa melalui kegiatan kreatif diwujudkan melalui ruang yang lebih dekat dengan aktivitas keseharian masyarakat.

Brigitta menulis pengertian unjuk rasa sebagai praktik estetiko-politik yang akan diketengahkan buku ini ialah: berbagai cara tutur menubuh yang mengaktifkan sensibilitas dan agensi politik kolektif untuk berpikir kritis, menunjukkan realitas empiris dan mengambil peran dalam pengorganisasian transformasi sosial.

Konteks waktu dan geopolitik Indonesia secara tidak langsung mempengaruhi keragaman alur pemikiran serta titik berangkat para penulis dalam buku ini. Berbagai persoalan yang dialami masyarakat Indonesia hari ini tidak lepas dari sejarah panjang yang dibentuk oleh pemerintah. Selepas melewati era penjajahan, masyarakat Indonesia dihadapakan pada euforia modernisasi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran sebagai negara baru. Ideologi pembangunan yang dihembuskan pemerintah Orde Baru menimbulkan dampak ketimpangan ekonomi yang cukup tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, modernisasi yang tidak berpijak pada budaya lokal juga berdampak pada munculnya pergulatan serta konflik seperti perebutan lahan maupun pelupaan etos adat dan tradisi kerakyatan.

Luasnya bentang alam Indonesia dan kondisi perekonomian yang semakin timpang menciptakan kesenjangan ekonomi dan sosial yang tinggi antara Jawa, sebagai pusat segalanya, dengan daerah lain di luar Jawa. Pengutamaan pengembangan infrastruktur yang terpusat di Jawa, yang memunculkan gelembung kota pusat kebudayaan, telah melahirkan kecenderungan masyarakat yang abai dan mengesampingkan berbagai masalah di daerah ‘luar Jawa’.

 

Laku Unjuk Rasa dalam Keseharian

Keberagaman studi kasus dan cara tutur 16 kontributor dalam buku ini mengisahkan berbagai analisis dan refleksi yang dibagi menjadi 6 tema berdasar intensi masing-masing. Beragam artikel dengan beragam cara pemaparan itu juga menghadirkan keberagaman pengalaman praktik performativitas dalam relasi sosial dengan masyarakat melalui berbagai praktik artistik nan politis.

Tulisan pertama pada bagian “Mengasah Tubuh” ditulis oleh Diah Kusumaningrum. Diah mengamati bagaimana upaya rekonsiliasi di daerah pasca konflik melalui kacamata performativitas. Melalui pengamatannya, berbagai upaya rekonsiliasi yang dilakukan pasca konflik dapat dilihat sebagai sebuah laku performans dan performativitas. Sebagai upaya rekonsiliasi, performans dilihat sebagai simbol yang dipertontonkan, seperti berjabat tangan, saling berpelukan dan ucapan penyesalan. Seharusnya upaya rekonsiliasi bisa menjadi sebuah laku performativitas, bahwa ada produksi dan reproduksi pemahaman bersama soal bagaimana menghilangkan jurang pemisah antara masa lalu dan masa kini, hingga trauma antar korban pada masa konflik. Performativitas dimaknai sebagai laku yang menubuh dalam kehidupan sehari-hari. Melalui perspektif performativitas Diah mengambil contoh bagaimana anggota Maluku Photo Club (MPC) , yang terdiri dari para pemuda dengan berbagai latar belakang agama, melakukan kegiatan hunting foto melintas batas desa Muslim-Kristen, ketika terdengar rumor bahwa kedua kelompok keagamaan tersebut akan saling serang dan menutup jalan-jalan desa. Kegiatan tersebut dapat dibaca sebagai komitmen dan upaya saling melindungi dan menjaga aspirasi hidup damai antar umat beragama.

Bagian kedua, “Setelah Penyadaran dan Pemberdayaan”, diawali dengan tulisan Alia Swastika yang menyoroti perjalanan ‘seni rupa penyadaran’ Moelyono.  Praktik seni aktivisime melalui metode live in atau tinggal bersama rakyat yang dilakukan Moelyono sejak pertengahan 1980-an merupakan strategi Moelyono membangun kesadaran sosial dan cara pandang kritis masyarakat. Perjalanan Moelyono tidak lepas dari kerentanan pengarusutamaan kompleksitas perkembangan seni rupa kontemporer hari ini.

Cholil Mahmud dalam tulisannya yang berjudul “Musik dan Peristiwa Musik sebagai Medium Aktivisme” menyoroti betapa musik memiliki karisma yang unik dan mampu menjadi alat propaganda untuk menyuarakan kritik-kritik pada pemerintah, hingga bagaimana pemerintah sejak era Soekarno merasa terancam dan perlu membatasi ekspresi berkarya para musisi. Musik sebagai alat propaganda yang nyata mampu menjadi penggerak sekaligus ancaman bagi pemerintah. Sebagai penggerak politik musik tidak hanya dipakai sebagai latar gerakan sosial atau alat sarana mengkritik. Pertunjukan musik juga digunakan sebagai cara menggalang suara saat pemilihan umum hingga medium untuk mengkampanyekan program pemerintah.

Rancangan Undang-undang permusikan yang baru-baru ini ramai dibicarakan dan menyulut berbagai kontroversi dari musisi, pengamat hingga penikmat musik adalah contoh kecil betapa musik masih menjadi medium unjuk rasa kesayangan masyarakat Indonesia. Tidak jauh beda dengan praktik seni aktivisme dalam seni rupa, praktik bermusik di Indonesia juga masih rentan dengan dilema pengarusutamaan. Menumbuhkan kesadaran kolektif atas produksi musik harus terus dipupuk agar medium musik, dengan konten kritik terhadap situasi sosial masyarakat hingga kebijakan pemerintahnya, tidak sekedar menjadikan isu sebagai komoditas demi mengangkat popularitas. Selain itu musisi dan masyarakat penikmat musik juga selayaknya tidak terjebak dalam relasi hirarkis bersekat pengidolaan.

Pada bagian “(ME)RUANG”, Morika Tetelepta menceritakan pengalam dan refleksinya atas penyelenggaraan #AmbonArtWalk, sebagai satu tawaran proyek seni untuk perdamaian. Berangkat dari kegelisahan pasca konflik agama yang terjadi di Ambon, yang berdampak pada semakin terpisah-pisahnya ruang tinggal warga berdasar agama, dibangunlah satu melting pot, sebuah ruang interaksi bersama sebagai upaya pemulihan kondisi sosial masyarakat Ambon pasca konflik. Sebagai rumah yang memiliki fungsi tempat bertemu dan berinterksi, Paparisa Ambon menyediakan internet gratis, studio musik, perpustakaan dan ruang yang bisa dipakai untuk hanya sekedar mampir atau tidur-tiduran. Pada bangunan dua lantai dengan berbagai fasilitas tersebut digagas pula berbagai kegiatan bersama yang diupayakan mampu merobohkan sekat tinggi berbagai perbedaan pemicu konflik, salah satunya yakni #AmbonArtWalk. #AmbonArtWalk merupakan kegiatan berjalan bersama menyusuri kampung-kampung bekas lokasi konflik. Berbagai aktivitas kesenian dibuat bersamaan dengan kegiatan susur kampung. Dengan mengajak anak muda dan memanfaatkan kecanduan atas sosial media dan swafoto, memanfaatkan ruang-ruang saksi sejarah serta melibatkan berbagai interaksi peserta dan penduduk kampung, #AmbonArtWalk menjadi satu ide yang efektif dalam mengupayakan rekonsiliasi sekaligus refleksi.

 

Unjuk Rasa yang Nyeni

Refleksi dan analisis ‘unjuk rasa’ yang dirangkum melalui sebentuk buku ini seolah menjadi jalan pintas saya untuk memahami bagaimana laku artistik dapat menjadi perantara dalam upaya rekonsiliasi; bahwa tindak estetis mampu berjalan harmonis sekaligus politis. Dengan menyajikan berbagai cerita dan pengalaman nyata tentang beragam inisiasi dan intervensi artistik demi upaya rekonsiliasi dan penguatan kultural masyarakat, isi buku ini lebih dari sekedar kesan pertama yang saya tangkap dari wujud fisik buku, judul dan teks pada sampul belakang.

Melalui berbagai jenis cara tutur dan gaya bahasa atas refleksi penyelenggaraan kegiatan hingga analisis laku unjuk rasa dalam ranah artistik, bagi saya buku ini asyik untuk terus dibaca dan banyak memberikan kejutan. Sebagai tulisan refleksi, saya cukup nyaman dan mudah memahami isi. Rasanya seperti membaca satu lakon yang lengkap dengan gambaran atas apa yang dirasakan serta pengalaman yang didapatkan penulis. Selain itu dalam beberapa tulisan, saya dibuat cukup terkejut dan kesulitan untuk memahami istilah-istilah asing maupun kutipan atas teori-teori tertentu yang digunakan untuk membingkai suatu cara pandang. Pada tataran teknis saya tidak mengerti kenapa satu artikel milik Morika Tetelepta ditulis secara keseluruhan menggunakan font italic dan tidak mengindahkan beberapa aturan penulisan yang selama ini saya pahami. Hal ini membuat saya kesulitan untuk menangkap beberapa nama atau istilah yang digunakan. Mungkin saja teknik penulisan ini sengaja dibuat atas dasar kebutuhan artistik dan saya yang terlalu kagok, terlanjur terpaku pada aturan baku.

Terlepas dari kesulitan saya menerjemahkan istilah maupun hal teknis terkait penulisan, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapapun. Alasannya adalah karena buku ini sangat membantu saya melihat berbagai upaya yang dilakukan, tidak hanya pekerja seni namun juga kelompok-kelompok masyarakat untuk lebih dari mengupayakan rekonsiliasi, namun juga menumbuhkan cara pikir kritis, sensivitivitas serta kesadaran masyarakat atas situasi politik-sosial-budaya melalui kegiatan kesenian. Buku ini mampu memperlihatkan proses demokratisasi dalam konteks kerja-kerja kebudayaan dengan lebih melibatkan masyarakat dan memanfaatkan ruang-ruang keseharian masyarakat; menempatkan seni sebagai mediator dalam mengakomodir dan mengurai berbagai pertanyaan dan persoalan.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

SOROTAN PUSTAKA | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Santosa Werdoyo

Salah satu hasil dari revitalisasi Rumah IVAA untuk perpustakaan adalah adanya balkon yang terletak di lantai dua. Dengan bertambahnya ruang, harapan yang tentu muncul adalah agar para pengguna pustaka dapat lebih nyaman mencari tempat untuk membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

Selama ini, aktivitas membaca dan meminjam dari para pengguna perpustakaan IVAA banyak berkenaan dengan pustaka yang berhubungan dengan seniman progresif, seni rupa modern dan Biennale Jogja. Sementara, ada beberapa tambahan koleksi pustaka yang kami peroleh dari hibah, hunting pameran, dan pembelian. Ada 30 katalog, 15 majalah, dan 53 buku yang diinventarisasi dan diinput ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS).

Untuk newsletter edisi ini, ada beberapa buku baru yang diulas, yakni Soembawa, 1900-1950; Gunungkidulan; Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990; dan Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.

Sorotan Pustaka November-Desember 2018
Oleh: Santosa, Esha Jain, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990

Title : Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990
Edited : Stephen H Whiteman, Sarena Abdullah, Yvonne Low, Phoebe Scott
Book Description : 248 x 172 mm, 335 pages
Publisher: Power Publications and National Gallery Singapore
Originally published July 2018
Call Number: 701 Whit A

Reviewed by : Esha Jain

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990 seeks to separate the art of the Southeast Asian countries from the stereotypes, expectations, and assumptions traditionally “Western” societies hold about it that are byproducts of the Cold War. It consists of ten essays created in partnership between “eastern” and “western” institutions such as the National Gallery Singapore and the University of Sydney’s Power Institute. The pretense of the book in itself is unique. It created “a regional network of emerging and senior scholars” in one year, with an emphasis on archiving. The archival lens provides a unique historical and cultural perspective throughout the book.

As a result of returning to the art of the era long after the influential events have occurred, the authors are able to explore the lasting impact the era had on the country, artist, and culture. Not only does the basis of archiving allow the reader to have an enhanced reading experience with visual aids, but it also enables both the audience and author to explore a facet of culture from the perspective of an often overlooked historical context in conjunction with the examination of artwork. The archiving and documenting aspect allows the audience to understand the cultural implication both during the time period, as well as the impacts on preservation and expression today.

For example, the process of collecting research and archiving was heavily reflective of the impact of the Cold War on countries in the region. For instance, Cambodia’s art experienced mass and systematic destruction at the hands of the Khmer Rouge. In the essay “‘The Work the Nation Depends On’: Landscapes and Women in the Paintings of Nhek Dim,” Roger Nelson describes the difficulties he faced in trying to obtain documents pertaining to the work of Dim. However, because Nelson has a background in archiving, he was able to provide an underrepresented perspective into the impact foreign involvement in Cambodia had on cultural preservation.

The book’s strength lies not only in its archival lens, but in that it does not attempt to broadly generalize “Southeast Asian art” during 1945-1990. Rather, each author investigates in depth one person, topic, or event. This allows for specific issues to be explored from a fresh, focused lens. Specifically, in terms of Indonesia, the book explores both the impact of Indonesia remaining neutral during the Cold War as well as art movements after the 1965 killings. Especially regarding the incidents of 1965, the author was able to explore a taboo topic. Even today, communism and the acts of 1965 are still widely left out of conversation. The essay investigates how, “…this traumatic period impacted Indonesian modern art history from the perspective of those who witnessed it firsthand.” As an archivist and art historian, Wulan Dirgantoro was able to review a largely untouched subject through art, providing a perspective on the emotional toll of a national tragedy.

Ultimately the book attempts to remove the western lens from Southeast Asian art. Each author attempts to separate themselves from what they have been taught through traditional Eurocentric education. Too often, parts of history are written over by hegemonic powers. Stories are left unread and undiscovered, creating a single narrative, often unrepresentative of large swaths of the world. This collection of essays seeks to share these overlooked stories.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Gunungkidulan

Judul : Gunungkidulan
Pengarang : Wonggunung
Penerbit : BaturAgung
Tahun : 2018
Deskripsi : 823 Halaman + XVI ; 17,6 x 25 Cm
No Panggil : 300 Won g

Resensi oleh : Muhammad Indra Maulana

Mitos adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (arbitrer) sehingga sesuatu dianggab alamiah. Mitos, melalui fakta yang bisa digambarkan konsekuensinya, adalah Bahasa. Mitos adalah bentuk wicara” – Roland Barthes

Lahirnya kumpulan tulisan “gunungkidulan” ini hanya pemenuhan-emosional atas panguda-rasa penulis terhadap pawacana, atau paralambang purwa yang telah tergelar dengan cetha-ngegla di bumi Gunungkidul khususnya dan Jawa umumnya. Berdasarkan ilmu para winasis yang ia pahami, penulis membuat jejaring secara ala kadarnya. Cukup menarik bagi saya, ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membaca kumpulan tulisan ini. Jika membacanya terlalu serius, bisa jadi isinya menjadi tak serius dan banyak yang ngawur.

Terdapat banyak kumpulan mitos-mitos Gunungkidul di buku yang berhalaman 823 ini, yang akan membuat Anda mengantuk pada lembar-lembar awal. Jadi masuk akal ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membacanya. Salah satu mitos yang menarik untuk dibaca adalah “Gadhung”. Mitos ini dibungkus dalam sebuah esai yang membahas pohon sebagai materi yang ingin hidup. Artinya, oleh kapedal yang mewakili opini sekelompok orang atau masyarakat umum, dianggap mati. Aneh, bukan? Ya, itulah mitos.

Mitos adalah sistem komunikasi. Di dalamnya tersimpan pesan-pesan. Mitos merupakan sebentuk Bahasa. Bahasa mitos tak hanya berbentuk Bahasa yang berasal dari tulisan. Benda-benda, mahkluk, foto, dsb bias dimaknai sebagai tulisan, asalkan memiliki  ‘kosa kata’. Kata-kata, khususnya dalam kebudayaan kulawangsa Gunungkidul (Jawa), tentu memiliki sejarah epistemologinya sendiri. Maka inilah ikatan temalinya: mitos Gunungkidulan adalah pengungkapan kata-kata atas berbagai gambar, bentuk, benda, konsep hingga pemikiran Gunungkidulan.

Sempat terpikir kenapa sang penulis ini menggunakan dua bahasa dalam buku ini, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu guru dan murid dalam khasanah pengetahuan Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah tunggal guru: sama-sama berguru pada bahasa induk atau indung Nusantara. Artinya kedua bahasa ini memiliki sifat universal dari sesuatu yang disebut bahasa, yakni komunikatif. Bahwa bahasa adalah penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam seluruh kegiatannya.

Nalar penokohan si simbok seperti Dewi Sri, Nawang Wulan, Talang Warih, R(L)embayung, Rara Resmi, Rara Sudarmi, Rara kuning, Gadhung Mlati, dan penyebutan lainnya adalah gambaran penalaran peradaban Gunungkidul yang telah terikat kuat dengan ‘sejarah’ Siti atau Bumi Gunungkidul. Gambaran ini juga sekaligus metafora atas kontrak sosial masyarakat Gunungkidul dengan paralambang atau simbol yang amat dihormati dan ditinggikan: indu(k/ng).

Ketika di Eropa, pada dekade 40-an, Barthes selama dua tahun menulis tentang mitos-mitos (pos)modern orang Perancis seperti bubuk sabun dan deterjen, mainan anak-anak, otak Einstein dan lain-lain. Penulis, lewat pepenthan tulisan ini, mencoba bercerita tentang mitos-mitos wangsa tradisional Gunungkidul yang beberapa di antaranya berhubungan erat dengan bidang kerja keseharian para simbok (perempuan) di desa, seperti dhudhuh, tela, gathot, endhang-endhang, laron, weksa, menthol, pencok, thiwul, tempe, jangan lombok, ngliwet, utri dan lainnya. Tentu, topik-topik yang diinterpretasikan melalui buku ini bisa diasumsikan menggambarkan penalaran kehidupan wanita Jawa yang muncul dari beraneka totem tersebut, yang seakan-akan berbeda kutub dengan apa yang dilakukan Barhes. Seolah seperti mitos pramodern versus mitos (pos)modern.

Mitos bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk diselami agar kita selalu ingat bahwa kita senantiasa hidup berdambingan dengannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal

Judul : Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal
Penulis : Yuli Andari Merdikaningtyas
Penerbit : CV. Esa Media Tama, bekerjasama dengan Sumbawa, dan didukung oleh Lembaga Adat Tana Samawa
Halaman dan Ukuran : 120 hlm; 13 x 20 cm

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini ditulis berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bala Kuning (1931-1952).  Komunitas Sumbawa Cinema Society dan KITLV Digital Image Library adalah pihak yang mengoleksi katalog foto-foto tersebut. Dari dua sumber arsip foto yang berbeda, digunakan dua perspektif untuk meresponnya. Untuk sumber arsip foto pertama kacamata orang Eropa yang melihat dan mengimajinasikan Sumbawa sebagai tempat tinggal di Hindia Belanda menjadi perspektif yang digunakan. Sedangkan untuk sumber arsip kedua, perspektif yang digunakan lebih untuk membaca representasi Indonesia. Seleksi foto dilakukan dengan memilah foto-foto berangka tahun yang sama dengan sumber pertama.

Mengacu pada metodologi disiplin sejarah, posisi arsip dilihat sebagai sumber sejarah yang menempati kedudukan  tertinggi dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, atau dapat dikatakan sebagai sumber sejarah primer. Dalam pengantar buku ini,  disampaikan bahwa penulisan sejarah lokal sangat kering karena jauh dari pusat kekuasaan. Juga, tidak banyak yang berminat menulis sejarah lokal. Selanjutnya, pembicaraan tentang sejarah lokal Sumbawa yang bersumber dari foto dibicarakan di halaman 34 dengan berdirinya studio foto Sinar di Kota Sumbawa Besar. Tentu, untuk mampu membaca arsip foto, kita memerlukan konteks. Oleh karena itu,  diperlukan sumber-sumber lain, seperti teks foto, catatan harian penulis, maupun arsip lain yang mendukung dan relevan dengan arsip foto yang dimaksud.

Dalam halaman-halaman terakhir, foto-foto bernarasi dipaparkan. Foto-foto itu banyak tentang keluarga, pejabat-pejabat pemerintahan Belanda dan Kerajaan Sumbawa, dan sebuah perayaan maupun aktivitas yang diselenggarakan oleh kerajaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan

Judul : Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan
Penyusun : Agus Aris Munandar, Joko Madsono, Aris Ibnu Darodjad, Irna Trilestari, Linda Sunarti, dan Budi Eriyoko
Penerbit : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Basoeki Abdullah

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini merupakan salah satu kajian tentang karya lukis Basoeki Abdullah yang dilakukan oleh Museum Basoeki Abdullah. Dengan berangkat dari tema-tema lukisan Basoeki Abdullah secara berkesinambungan pada 2009, kajian pertama diterbitkan dengan judul Lukisan Basoeki Abdullah: Tema Dongeng, Legenda, Mitos, dan Tokoh Kajian. Kajian kedua, pada 2011, berjudul Lukisan Potret Basoeki Abdullah. Sedangkan kajian ketiga, dituangkan ke dalam buku pada 2018, bertema Perjuangan Bangsa, Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan.

Secara singkat, buku ini terdiri atas dua bagian. Pertama, lebih kepada penjelasan soal kerangka dan metode-metode kajian. Selanjutnya, baru mengulas soal tema yang dikaji beserta objek lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, baik yang disimpan di museum, perorangan, ataupun tempat lain yang masih berada di Indonesia.

Dalam buku ini lukisan-lukisan yang dikaji telah dikumpulkan dan dikelompokkan secara tematis, disertai tabel beserta deskripsi lukisan. Dari ketiga tema yang disuguhkan, untuk tema Perjuangan terdapat 7 lukisan dengan 2 peristiwa yang digambarkan yaitu 4 Gerakan Non Blok dan 2 Sketsa Revolusi. Untuk tema Sosial dan Kemanusiaan terdapat 16 lukisan, antara lain lukisan aktifitas di sawah, di pasar, di pelabuhan, figur nenek dan monyet, dan figur anak. Selain itu, beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah juga dibandingkan dengan lukisan-lukisan karya pelukis lain dengan kriteria kesamaan objek yang digambar.

Penutup dalam buku ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang dijelaskan sebelumnya, bahwa lukisan-lukisan Basoeki Abdullah cenderung realis. Dengan tidak melepaskan unsur keindahan dalam objek yang dilukis, pada perbandingan karya lukis Basoeki Abdulah dengan Dullah, Henk Ngantung, dan Rustamaji, hakekatnya adalah sama; bahwa lukisan mereka itu menyampaikan peristiwa sejarah dan visualisasi keadaan sosial.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

#SOROTANPUSTAKA SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Oleh: Santosa

Pengunjung perpustakaan memiliki kecenderungannya membaca bahan pustaka yang masih beragam, keragaman tersebut antara lain: seni di ruang publik, hukum berkenaan dengan hak cipta dari produk seni, pemikiran Marxis di Asia Tenggara dengan penekanan pada Indonesia khususnya di sekitar rentang waktu 1965, maupun penelitian tentang seniman seperti Trubus Sudarsono hingga Ugo Untoro. Sumber-sumber pustaka ini dijadikan bahan penulisan, baik untuk skripsi dan  tesis.

Dalam aktivitas input buku baru, telah dimasukkan metadata ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) dengan dibantu  oleh 2 kawan magang. Satu berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta dan satu dari Sanata Dharma Yogyakarta. Baik pustaka baru maupun pustaka lama yang telah diinput sepanjang bulan Agustus – September 2018   yaitu: 35 Majalah, 47 Katalog, 40 Buku, 7 Komik, dan 1 Skripsi. Dalam tambahan pustaka baru kali ini ada 8 yang akan diulas, mereka adalah Nakal Harus Goblok Jangan, Politik Tanpa Dokumen, Pada Sebuah Kapal Buku, Semesta Dibalik Punggung Buku, Konferensi Asia Afrika 1955, Becoming 20 Tahun Galang Kangin, Begitu ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu, Bergerak dari Pinggir.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.