Tag Archives: sorotanpustaka

Menjerat Gus Dur

Judul : Menjerat Gus Dur – Mengungkap Rencana Penggulingan Gus Dur
Pengarang : Virdika Rizky Utama
Penerbit : PT. Numedia Digital Indonesia
Tahun Terbit : 2019
Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Dokumentasi yang dipaparkan tidak hanya soal keadaan dan kekuatan yang menjatuhkan Gus Dur dengan konteks yang lebih luas dari masa kepemimpinannya yang transformasional. Misal, data-data secara panjang dikupas mulai dari pemilihan umum 1999 dengan kemenangan PDI, walau tidak otomatis memenangkan pemilihan presiden lewat suara parlemen, hingga pemerintahan Habibie. Rujukan data-data yang digunakan termasuk dari media massa cetak maupun elektronik. 

Orde Baru mengubah paradigma ‘politik sebagai panglima’ menjadi ‘ekonomi sebagai panglima’. Orde baru menyerahkan mekanisme pasar, akan tetapi mekanisme pasar yang terjadi dalam perjalanannya Soeharto membentuk  sebuah sistem patron-klien dengan pengusaha melalui militer dan atau teman-teman terdekat. Soeharto juga membuat pondasi untuk kekayaan keluarganya dengan menciptakan sistem  yang berskala nasional yang mempertahankan selnya. Rezim Orde Baru juga ditopang  oleh struktur politik ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar). 

Menjelang 1990, Soeharto mulai menganggap ABRI tak lagi solid mendukungnya, karena diisukan Benny Moerdani akan melakukan kudeta. Soeharto menggalang kekuatan baru untuk mendukung kekuasaannya dengan mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang menempatkan Habibie sebagai presidiumnya. Gus Dur bersama 40 intelektual lintas agama mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk melakukan perlawanan gagasan Soeharto dengan ICMI-nya yang sektarian. Selain mendirikan ICMI untuk menopang kekuasaan, Orde Baru juga mengintervensi PDI dengan dualisme kepemimpinan; Megawati hasil kongres Surabaya dan Soerjadi Hasil kongres Medan. Sedangkan yang diakui pemerintah adalah hasil kongres Medan yang tidak mengakui PDI pimpinan Megawati. Akhirnya kubu Megawati mengganti nama PDI-nya menjadi PDIP agar dapat mengikuti pemilu 1999. 

Pada masa akhir kekuasaan Soeharto, muncul perlawanan di mana-mana, gelombang unjuk rasa dari kalangan mahasiswa dan intelektual yang menuntut ia untuk lengser. Kerusuhan terjadi di mana-mana, khususnya di Jakarta yang mengakibatkan stabilitas negara tidak kondusif dibarengi dengan krisis ekonomi yang mengakibatkan daya beli masyarakat rendah. Akhirnya di tahun 1998 Presiden Soeharto berpidato menyatakan mengundurkan diri dari jabatan presiden RI.

Di sisi lain, setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, kelompok sipil yang merepresentasikan kelompok Islam politik yang dimotori Habibie meminta diberikan kewenangan menjadi presiden yang baru. Habibie lalu dilantik menjadi presiden, sesaat setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Pada saat itu masyarakat memiliki dua pilihan, yakni reformasi atau revolusi. Golkar sebagai partai politik yang masih dominan memilih reformasi dengan tujuan masih bisa berkonsolidasi untuk pemilu tahun 1999 yang akan segera berlangsung.

Pada pemilu pertama tahun 1999, setelah 32 tahun di bawah Orde Baru, dari total 462 kursi di parlemen PDIP mendapatkan 153 kursi, Golkar 120, dan 51 kursi untuk partai Gus Dur (PKB), sisanya partai yang lainnya. Harapan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden dengan partainya, PDIP, mendapat dukungan mayoritas di parlemen. Tetapi koalisi dari kelompok Islam radikal-konservatif dan kaum demokrat muslim melahirkan koalisi “Poros Tengah“ yang memilih Gus Dur ketimbang Megawati.

Pemilihan presiden lewat parlemen akhirnya memenangkan Gus Dur sebagai presiden RI. Seiring waktu belum genap dua tahun skandal Buloggate dan Bruneigate muncul, dan itu melatarbelakangi dilengserkannya Gus Dur. Dengan pengadilan politik mulai hak angket, interpelasi hingga membentuk pansus Buloggate dan Bruneigate, sebenarnya bukan pengadilan hukum yang dikedepankan. 

Kebijakan Gus Dur untuk mencopot Yusuf Kalla dan Laksamana Sukardi sebagai menteri, dengan tujuan mempreteli basis ekonomi Golkar dan PDIP di BUMN dan lembaga penting adalah pemicu ketidaksukaan Golkar dan PDIP sebagai pemenang pemilu 1999. Pengikisan kekuatan lama dan berakhirnya dwi fungsi ABRI yang mengakibatkan dukungan militer terhambat, kebijakan pluralisme terkait dengan etnis minoritas Cina dan Kristen-Katolik menunjukkan bahwa Gus Dur, yang dianggap sebagai representasi kekuatan Islam politik,  malah cenderung berpihak pada minoritas. Kelompok Islam radikal-konservatif menjadi kecewa.

Gus Dur terbentur dan terjungkal sebelum melewati dua tahun masa jabatannya. Walaupun demikian Gus Dur telah meletakkan dasar penting dengan mengakhiri dwi fungsi ABRI, menguatkan pengakuan atas hak-hak orang Tionghoa di Indonesia, warga Papua, Kristen dan minoritas lainnya sebagai sesama warga Indonesia, melindungi kebebasan pers, mengharapkan akan demokrasi dan menghancurkan kultus “presiden super kuat”.

Pembaca bisa belajar dengan gaya kepemimpinan Orde Baru dengan militerisme, sektarianisme, kolusi dan nepotisme untuk melanggengkan kekuasaan, atau gaya Gus Dur dengan demokrasi dan kebijakan pluralisme yang dikedepankan walau hanya selama kurang dari dua tahun masa kepemimpinannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Nostalgia Solidaritas untuk Hari Ini

Judul : RETHINKING SOLIDARITY IN GLOBAL SOCIETY – The Challenge of Globalisation for Social and Solidarity Movements 50 Years after Bandung Asian African Conference 1955
Tahun : 2007
Editor : Darwis Khudori
Editor bahasa : John Lannon
Penerbit : SIRD (Strategic Information and Research Development Centre), Malaysia; YPR (Yayasan Pondok Rakyat), Indonesia; FTM/ TWF (Forum du Tiers Monde/ Third World Forum), Senegal; CETRI (Centre Tricontinental), Belgia; DCLI (Development et Civilisations LEBRET-IRFED), Prancis/ Swiss; AAPSO (African-Asian People’s Solidarity Organisation), Mesir. 
ISBN : 983-3782-13-2
Sampul : Darwis Khudori & Kong Siew Har
Desain grafis : Kong Siew Har
Halaman : 193
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Tinjauan berikut memang bukan mengulas sebuah buku terbitan baru sebagaimana resensi pada umumnya dilakukan. Ada dua alasan mengapa saya memilih buku ini: pertama, bulan April adalah bulannya Konferensi Asia-Afrika; kedua, topik solidaritas banyak dibicarakan di situasi pandemi ini. Solidaritas global menjadi salah satu isu yang digaungkan sekaligus direfleksikan ulang oleh publik, baik lembaga internasional seperti WHO dan beberapa individu seperti Yuval Noah Harari, Slavoj Zizek, dll. 

Pembicaraan seputar solidaritas global memang bukan hal baru. Sejak dekade pertama abad ke-21 solidaritas global sudah direnungkan sebagai upaya merespon globalisasi (ekonomi). Buku ini hadir sebagai salah satu bukti empiris. Sebagai peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), pada 2005 para akademisi dan aktivis merefleksikan solidaritas Asia-Afrika ke dalam konteks yang lebih luas, yakni masyarakat global. Ketika saya coba memantulkan perenungan mereka dengan situasi saat ini, serangkaian tantangan dan rekomendasi yang diajukan seolah menemukan momentum untuk segera dijawab. 

Buku ini terdiri dari 21 esai yang setidaknya merefleksikan solidaritas global ke dalam lima aspek: politik, ekonomi, kebudayaan/agama/spiritualitas, lingkungan dan pendidikan/komunikasi. Namun, keinginan sepihak untuk membuat resensi buku secara kontekstual mendorong saya untuk mengulas beberapa esai saja. 

Sekilas KAA dan Kritik Terhadapnya

Hersri Setiawan melalui tulisannya yang berjudul Learning from History: “The Bandung Spirit” menceritakan sekilas sejarah KAA. Konferensi ini lahir dari ide dan inisiatif Perdana Menteri Sri Lanka pada waktu itu, Sir John Kotelawala melalui konferensi regional negara-negara koloni Inggris, yakni India, Pakistan, dan Myanmar. Indonesia kemudian diundang untuk bergabung. Meski tidak sebagai koloni Inggris, tetapi pengalaman perjuangan kemerdekaannya dinilai sebagai hal penting yang perlu dibagikan. KAA memiliki hubungan historis yang kuat dengan dua konferensi sebelumnya, yakni Konferensi Relasi Inter-Asia di New Delhi pada 1946 dan konferensi pemuda Asia Tenggara di Calcutta setahun kemudian. 

Perluasan cakupan geografis berbasis nasib yang sama nampak menjadi salah satu ciri dari gerakan solidaritas. Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia pada waktu itu, mengusulkan perluasan lingkup dari Asia Selatan-Asia Tenggara menjadi Asia-Afrika pada saat Konferensi Colombo, 28 April-2 Mei 1954 di Sri Lanka. Ide ini kemudian terealisasi melalui Konferensi Bogor pada 22-29 Desember 1954. 

Konsolidasi kekuatan antar negara-negara bekas jajahan itu telah menghasilkan basis dekolonisasi yang total, cepat, dan efektif, jaminan hak untuk berkembang dan memiliki pilihan bebas dalam integrasi global dengan logika polisentrisme untuk kedamaian dunia. Meski demikian, bukan berarti capaian ini lahir tanpa konsekuensi logis. Bernard Founou-Tchuigoua dari Kamerun, melalui esainya yang berjudul Solidarity of Afro-Asian Peoples against Terror and the Empire of Chaos mengkritik bahwa kebangkitan Dunia Ketiga ini juga memunculkan fenomena kontrol dari partai komunis patriotik atas sumber daya alam seperti yang terjadi di Cina dan Vietnam. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa imperialisme kolektif muncul sebagai respon atas kebangkitan tersebut. Amerika Serikat bersama aliansinya (Prancis, Inggris, Jepang, Israel, dan rezim rasis Afrika Selatan) lebih memilih memainkan peran korporasi transnasional dan menciptakan kekacauan melalui teror (konflik etnis dan relijius) untuk menciptakan polarisasi. 

Tantangan Baru dan Kemungkinan yang Dibayangkan

Di bawah roda globalisasi situasi berubah drastis, setidaknya selama 50 tahun setelah KAA digelar. Darwis Khudori dalam esainya yang berjudul Identity-based Social Movements facing Globalisation: Challenge and Response, Resistance and Alternative menjelaskan bahwa gerakan sosial di era pasca industri tidak lagi soal perjuangan kelas pekerja, melainkan basis identitas. Kondisi masyarakat jejaring yang nir ruang dan waktu, yang dikonstruksi sedemikian rupa untuk mendukung laju kapitalisme lanjut, telah mendistorsi persoalan kelas menjadi identitas. 

Dengan merujuk gagasan Manuel Castell, ia merekomendasikan suatu bentuk gerakan sosial yang bersifat ‘dari dalam’ ke ‘luar’, dengan peralihan dari bentuk ‘kenabian’ (seperti yang dilakukan oleh Marcos dalam gerakan Zappatista di Meksiko) menuju bentuk ‘jejaring’ seperti yang telah dilakukan oleh gerakan feminis dan ekologis. Tantangannya adalah mencari spirit yang sama (common points) dari begitu banyak ragam identitas, tanpa meninggalkan lokalitasnya masing-masing. 

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai perangkat ‘normal’ dari masyarakat jejaring juga menjadi tantangan untuk gerakan sosial. Melalui tulisannya yang berjudul Information and Communication Technologies: new Global Challenges and Opportunities for Social and Solidarity Movements, John Lannon melanjutkan bahwa ada tiga risiko yang muncul. Pertama, ketimpangan akses teknologi membuat gerakan sosial dapat terkesan eksklusif jika tidak ada strategi yang inklusif. Kedua, masalah kepercayaan yang tidak mudah terbentuk; artinya modal sosial melalui ‘dunia nyata’ masih penting. Terakhir, potensi penguasa yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat kontrol masyarakat termutakhir. Meski demikian, perkembangan teknologi dapat mendukung gerakan sosial itu sendiri. 

Parichart Suwanbubbha melalui Bandung 2005 and Educational Challenges in the Age of Globalisation menambahkan bahwa pendidikan harus menjadi bagian penting dari gerakan sosial. Tentu, pendidikan yang ia maksud adalah pendidikan yang mengutamakan perjuangan hak kemerdekaan manusia, bukan berorientasi profit dan status sosial semata. Gagasannya ini dilandaskan atas kontribusi perkembangan teknologi terhadap pendidikan yang makin mudah dioperasikan. 

Dalam bidang ekonomi, Yves Berthelot melalui Bandung Fifty Years Later: Toward Another Development Model for the Post Globalisation Era berpendapat bahwa tantangan baru yang perlu disadari adalah sebuah tren regionalisasi. Ia berangkat dari interpretasinya atas solidaritas Asia-Afrika yang tidak revolusioner untuk persoalan ekonomi. Memang, mereka menolak hegemoni politik imperialis, tetapi penolakan ini tidak tercermin di dalam aspek ekonominya. Solidaritas ini lebih bergerak pada tuntutan aliran finansial, stabilisasi harga komoditas, dan diversifikasi ekspor (bank regional, perusahaan asuransi, joint ventures) untuk wilayah Asia-Afrika dalam percaturan internasional. 

Gagasan tersebut cukup terdengar sinis, tetapi di satu sisi realistis. Berthelot ingin menunjukkan bahwa regionalisme, di samping aspek ekonominya, justru dapat menjadi instrumen yang tepat untuk operasionalisasi solidaritas di era pasca globalisasi ini. Ia mengambil contoh negara-negara di Timur Tengah dan Afrika. Tanpa regionalisme yang kuat mereka akan tetap tergantung pada kekuatan-kekuatan negara kaya. Namun ia juga menambahkan bahwa peran Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organization) menjadi penting sebagai kontrol. Beberapa NGO dengan kapasitas yang mapan dapat mempengaruhi keputusan internasional.

Solidaritas Global atas Ultimatum Hari Ini

Para penulis melalui buku ini rasa-rasanya ingin melebarkan solidaritas Asia-Afrika ke dalam cakupan yang lebih luas, solidaritas global. Secara historis KAA sendiri lahir dari perluasan demi perluasan. Tawaran regionalisme, pendidikan berorientasi kemanusiaan, penggunaan teknologi dengan segala risikonya, hingga pencarian spirit yang sama (common points) untuk gerakan solidaritas adalah elemen-elemen yang mewakili upaya itu. 

Apa yang mereka bayangkan seolah menemukan momentumnya untuk segera dijawab, ketika saat ini peradaban manusia sedang berhadapan dengan pandemi global. Solidaritas dengan logika polisentrisme kiranya sudah tidak relevan lagi. Refleksi 50 tahun KAA mungkin menjadi salah satu jejak yang menyiratkan hasrat beragam praktik dekolonisasi regional yang lahir untuk melebur diri menjadi satu.  

Begitu menyedihkan jika manusia, seperti apa yang ditulis oleh Yukio Kamino dalam Time for Change of Heart: Facing the Global Environmental Crisis, tidak kunjung menindaklanjuti rekonsiliasinya; bahwa krisis global sebagai ultimatum nampaknya tidak merubah perilaku manusia. Manusia telah menjadi entitas yang korup, tidak rasional, dan tidak imajinatif di hadapan alam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Mendokumentasikan adalah Menanam 

Judul buku : Dolorosa Sinaga; Tubuh, Bentuk, Substansi
Editor : Alexander Supartono dan Sony Karsono 
Penerbit : Somalaing Art Studio, Red and White Publishing dan IKJ Press. 
Tahun terbit : 2019
Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

Seorang seniman patung, perjalanan hidup dan kekaryaannya dituangkan dalam sebuah buku. Lengkap dengan pembacaan yang telah dilakukan atas kiprah dan karya demi karyanya, buku setebal 497 halaman ini hadir. Belum banyak buku tentang seni patung di Indonesia dihasilkan. Literatur seni patung kita barangkali berserakan di liputan media atau di rubrik-rubrik seni budaya ataupun rubrik opini di media massa. Sehingga, upaya penyusunan buku ini bisa kita lihat sebagai upaya kerja dokumentasi, yang di tengah kehidupan kita berkesenian dan bermasyarakat adalah perlu. 

Saya rasa, saya tidak perlu berpanjang lebar menggarisbawahi pentingnya kerja dokumentasi dan pengarsipan. Ungkapan ‘no document, no history’ sudah banyak diamini. Barangkali yang kini menjadi pertanyaan adalah soal upaya apa saja yang telah dilakukan? Dan sejauh mana upaya-upaya tersebut bisa dikatakan memadai, di tengah kebutuhan kita untuk menuliskan sejarah kita sendiri, mendefinisikan kebudayaan kita sendiri, sebagai bangsa bekas jajahan. Di antara pertanyaan dan asumsi-asumsi saya tersebut, saya membaca kehadiran buku ini sebagai salah satu solusi atas minimnya buku terkait dengan seni patung Indonesia. Terlebih lagi ketika buku ini menempatkan pematung perempuan sebagai subjek utamanya.

Tidak banyak basa-basi, buku berjudul “Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi” ini terdiri dari pengantar dan empat bagian atau bab isi; bagian biografi, galeri, ragam pandang dan katalog karya. Di bagian Biografi terdapat tulisan berjudul “Perjalanan Hidup, Seni dan Politik Dolorosa Sinaga”, yang ditulis oleh Sony Karsono. Di bagian galeri terdiri dari 122 karya terpilih yang diseleksi dari 620 karya yang menjadi isi dari bagian IV (Katalog). Ragam Pandang merupakan bab yang berisi 30 tulisan yang diambil sebagian besar dari katalog pameran tunggal Dolorosa. Sementara bagian terakhir, Katalog karya, terdiri atas 620 foto karya patung Dolorosa yang disusun secara kronologis. 

Sebagai upaya dokumentasi, penyusunan buku ini menghimpun sekian ragam informasi yang bertebaran di sekitar kehidupan Dolorosa Sinaga, mulai dari foto-foto koleksi keluarga, foto aktivitas yang berlangsung di studio Somalaing ataupun aksi protes di ruang publik, foto-foto karya dan keterangannya, liputan media, sumber pustaka hingga wawancara atau sumber lisan yang dilakukan langsung dengan Dolorosa atau terkait karyanya dan beberapa individu yang bersangkutan. Sehingga bagi pembaca yang sedang melakukan kajian atas karya-karyanya, akan sangat terbantu dengan info yang mampu menunjukkan karir panjang Dolorosa Sinaga ini. Dari bentangan perjalanan hidup dan kekaryaan yang dituangkan di buku ini, kita akan dapat melihat kecenderungan dan arah berkarya sang seniman yang dinamis, dan terkait dengan konteks sosio-historis yang juga menjadi latar kehidupan Dolorosa Sinaga. 

Selain menampilkan foto-foto karya, di buku ini terdapat satu tulisan induk, yang berupaya menarik lini masa karir dan kehidupan Dolorosa Sinaga, yang ditulis oleh Sony Karsono. Tulisan induk ini sangat membantu kita untuk mendapat gambaran ruang dan waktu yang melahirkan kiprah dari seorang perempuan yang terlahir dari keluarga Batak dan mengalami beberapa rezim pemerintahan. Bagi saya gambaran tersebut sangat penting untuk dibaca, apalagi jika kita memiliki kebutuhan untuk masuk ke dalam detail pembacaan karya. 

Setelah membaca buku ini hingga di halaman terakhir, saya menggarisbawahi beberapa catatan. Catatan pertama terkait dengan arsip dan dokumentasi. Dari tulisan Sony Karsono, di halaman 72 dan 74, di sub bahasan “Karya dan Aktivisme Dolorosa di Era Orde Baru” terdapat komentar argumentatif yang merespon kajian atau amatan sebelumnya yang telah ditulis oleh Heidi Arbuckle dan Citra Smara Dewi, 

“Karena dokumentasi keseluruhan karya Dolorosa tak kunjung lengkap dan sistematis, kita belum bisa mencapai pemahaman jitu tentangnya. Kondisi dokumentasi yang memprihatinkan ini adalah batu sandungan terbesar bagi semua riset atas karya-karya Dolorosa dekade 1980-an. Jadi, segala tafsir yang telah ditawarkan para kritikus atas patung-patung Dolorosa periode itu berdiri di atas pondasi empiris yang ringkih, dan, karena itu, harus ditanggapi dengan hati-hati. 

Sebagai ilustrasi, mari kita pertimbangkan pendapat sejarawan seni rupa Heidi Arbuckle (lahir 1970). Ia pernah berpendapat bahwa karya-karya Dolorosa pada awal sampai pertengahan dasawarsa 1980-an memperlihatkan suatu fase “feminin.” Satu-satunya bukti yang diajukannya untuk mendukung pendapat itu adalah Ombak Liar dari Timur (lihat gbr. 22), patung yang dibuat Dolorosa pada 1985 dan yang paling sering disebut-sebut para pengamat. Meski sebagai patung perunggu pertama Dolorosa karya ini memang berbobot historis, ia hanya salah satu dari begitu banyak karya Dolorosa dekade 1980-an. Kalau kita sudi mencermati karya-karyanya dari masa itu (lihat gbr. 23-27), kita akan tiba pada kesimpulan-kesimpulan yang lebih kompleks dan bernuansa. Mungkin Arbuckle ada benarnya ketika berpendapat bahwa patung-patung tersebut memperlihatkan ikhtiar Dolorosa untuk menemukan sebuah “jati diri feminis” dan menancapkan diri dalam sebuah “jagat seni patung” yang terlanjur didominasi lelaki. Sebaliknya, sukar bagi kita untuk menerima pendapat Citra Smara Dewi bahwa alam, budaya dan kehidupan sehari-hari adalah tema-tema yang mendominasi karya-karya Dolorosa dasawarsa 1980-an. Untuk melampaui argumen Arbuckle dan Citra Dewi, saya telah menyelidiki periode 1980-an dalam biografi dan karya Dolorosa (walau sebagian besar via foto-foto). Riset itu mengantarkan saya pada temuan ini: Dengan jelas dan tegas patung-patung Dolorosa periode itu membuktikan bahwa ia adalah anak kandung tradisi “patung dari tubuh” a la St. Martin’s. Karya-karya perunggu 1980-an tersebut menyingkapkan bahwa sebagai pematung Indonesia Dolorosa bukan hanya memanfaatkan tetapi juga memperkaya tradisi Inggris itu.”  

Dari dua paragraf ini kita mendapat gambaran konkret bagaimana kehadiran kerja pengarsipan yang lebih sistematis akan memunculkan pendapat atau menguatkan argumentasi yang sebelumnya belum pernah muncul, atau bahkan argumentasi yang baru sifatnya tidak hanya mengomentari argumen lama, namun mengoreksi dan mengevaluasi. Dari percakapan antar argumentasi tersebut, wacana seni rupa pun berkembang. Dari ilustrasi ini kita sekaligus bisa melihat bahwa kehadiran arsip karya patung yang mendekati lengkap yang disusun tim membuat wacana bergulir. 

Selain sebagai sumber informasi dan dokumentasi, saya juga menempatkan buku ini sama seperti bahan buku lainnya. Saya berusaha mencerna informasi yang ada di buku itu, termasuk menggarisbawahi catatan pribadi saya, yang tidak bisa dilepaskan dari subjektivitas dan pendapat pribadi. Di sini tulisan yang terutama saya beri catatan adalah catatan induk yang ditulis oleh Sony Karsono. Sementara dua catatan dari tulisan induk tersebut ialah terkait dengan ‘overdosis Indonesiasentris’ dan perihal ambivalensi. 

Perihal penggunaan perspektif Indonesiasentris dalam pembacaan karya (seni rupa) yang disayangkan dalam tulisan Sony Karsono, karena sudah dipergunakan secara berlebihan dan bahkan disebut dengan ‘overdosis’, seperti yang tertulis di halaman 74-75. 

“Kendati asimetris, afinitas artistik Inggris-Indonesia ini akan mencolok mata jika kita bandingkan karya-karya Dolorosa dekade 1980-an dengan karya-karya alumni St. Martin’s lainnya, misalnya sebuah patung perunggu karya Robert Persey pada 1985 (gbr. 29) dan bahkan salah sebuah patung baja karya mutakhir Katherine Gili (gbr. 28). Pemahaman kita atas biografi dan laku seni rupa Dolorosa akan menjadi kompleks, kaya dan bernuansa jika keduanya kita kaji dalam dua konteks sekaligus: 1) Konteks seni rupa Indonesia sendiri, dan 2) jalinan interaksi yang berlangsung dalam “ecumene (global) seni patung Inggris” kontemporer. Misalnya, strategi analitis ini membuahkan sebuah temuan: bahwa menjadi modern bagi perupa Indonesia seperti Dolorosa berarti berpartisipasi bukan saja dalam jagat seni rupa Indonesia melainkan juga dalam sebuah ecumene seni patung internasional.

Sayang seribu kali sayang, partisipasi lintas budaya macam itu belum ditelaah secara optimal-dan sebaliknya kadang justru diabaikan-oleh tradisi historiografi seni rupa di tanah air yang mengandalkan (kadang secara overdosis) lensa analitis Indonesia-sentris. Lensa analitis ini kadang dipakai dengan sikap sembrono seakan-akan kita bisa paham sejarah seni rupa Indonesia secara memadai tanpa mengaitkannya dengan pelbagai perkembangan dalam seni rupa dunia. Alih-alih menimbang kekuatan dan kelemahan lensa ini (serta mempersoalkan asumsi dasar yang menjiwainya), banyak penulis seni rupa di tanah air menyikapinya secara tak kritis dan malah memperlakukannya sebagai perkakas pamungkas. Salah satu gejala dari tendensi ini bisa kita lihat pada, misalnya, seruan Agus Burhan baru-baru ini agar kajian seni rupa Indonesia mengerahkan disiplin sejarah seni rupa sebagai perkakas pembangun identitas nasional. Sementara itu, para penulis seni rupa Indonesia tak kunjung menguji hipotesis bahwa seni patung modern dan kontemporer Indonesia adalah produk percakapan lintas-tradisi yang intens (meski mungkin asimetris) antara Indonesia dan dunia. Lensa analitis Indonesiasentris terus beroperasi juga dalam sebagian besar esai yang mengupas karya Dolorosa di semua katalog pamerannya. Overdosis dalam penggunaan lensa ini bisa bikin kita gagal sadar bahwa budaya modern Indonesia adalah buah ikhtiar seniman Indonesia meramu sintesis kreatif antara tradisi lokal dan khazanah global.” 

Lahirnya kritik atas para penulis dan sejarawan seni yang Indonesiasentris menunjukkan kehadiran argumentasi yang sudah melampaui kemunculan data. Argumentasi tersebut bahkan lebih banyak disokong oleh gabungan dua konteks yang dilebur jadi satu, yakni konteks Indonesia dan konteks jalinan interaksi yang berlangsung dalam “ecumene (global) seni patung Inggris”. 

Meski demikian, kritiknya atas apa yang disebut dengan overdosis Indonesiasentris ini bisa kita perhatikan dengan lebih seksama, ketika menghadirkan ujaran Agus Burhan sebagai contoh, yang menyerukan “agar kajian seni rupa Indonesia mengerahkan disiplin sejarah seni rupa sebagai perkakas pembangun identitas nasional”. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah dengan seruan tersebut lantas meniadakan keterkaitan dinamika seni rupa Indonesia dan interaksinya dengan tradisi seni rupa, baik modern ataupun kontemporer, di berbagai belahan bumi lain? Apakah benar bahwa para penulis Indonesia yang sebagian besar berdomisili di tanah air ini, di jaman kosmopolit 4.0 ini, lantas tidak mengakses data-data terkait dinamika dan pergerakan seni rupa di luar sana? 

Catatan kedua ialah perihal ambivalensi, yang seketika langsung menarik perhatian saya. Perihal ambivalensi yang ditemukan dari diri Dolorosa Sinaga juga berhasil disingkap melalui penelusuran interpretive biography, yang di bagian kesimpulan menunjukkan ambivalensi Dolorosa dalam menghadapi Orde Baru dan budaya Batak, (di hal. 86) yang kehadirannya sudah melampaui arsip, dan sudah melibatkan pembacaan. Poin ambivalensi ini juga membuat buku ini tidak jatuh pada lubang klise, yang melakukan glorifikasi atas tokoh. Namun justru menghadirkan profil yang dinamis, yang hidup di tengah situasi politik yang juga rumit dan membutuhkan strategi serta siasat dalam melangkah. Buku ini berhasil menghadirkan itu. 

“Lebih jauh, analisis biografis dapat menyingkap sejumlah ambivalensi dalam perjalanan hidup tokoh yang dikajinya. Kita dibantu melihat, misalnya, ambivalensi Dolorosa vis-à-vis masyarakat Indonesia Orde Baru dan Budaya Batak. Dolorosa memanfaatkan pelbagai peluang -tetapi juga mengecam-kutuk berbagai kekejian- dalam masyarakat kapitalis “semu” dan otoriter ciptaan elit borjuis Indonesia yang merajalela di masa Orde Baru. Jika ayahnya, K. M. Sinaga, mencapai sukses berkat partisipasinya dalam masyarakat tersebut dengan mengoperasikan sebuah maskapai asuransi jiwa swasta yang membantu kelas menengah Indonesia “menjinakkan” risiko-risiko kehidupan modern, maka Dolorosa merebut sukses sebagai seniman profesional berkat sumbangsihnya pada –dan pemanfaatannya atas– pasar seni rupa borjuis, yang turut diciptakan rezim Orde Baru. Sebagai anggota borjuasi metropolitan Indonesia, ia mengizinkan para kawan, pencinta seni, kolektor, pemilik galeri dan pedagang seni rupa di kelas sosial itu untuk membeli, mengoleksi dan mengapresiasi karya-karyanya sebagai sumber kenikmatan, prestise dan profit. Ambivalensi Dolorosa terhadap –serta interaksi strategisnya dengan– masyarakat Orde Baru mengejawantah dalam, antara lain, karya-karya “pragmatis” seperti Monumen Gerakan 66 (1996) dan Piala Ibu Tien Soeharto (1995). 

Selain tulisan induk tersebut, juga terdapat 30 tulisan pendek lainnya, yang pernah dipublikasikan atau dicetak menjadi satu sebagai katalog pameran, yang saya lebih tempatkan sebagai mozaik pembacaan, yang susunannya justru bisa dinikmati karena keberagaman pembacaannya. Sebatas itu saya menikmatinya.

Selebihnya, kehadiran buku ini telah menunjukkan bahwa kerja dokumentasi adalah kerja untuk masa depan, kerja keras untuk mendukung produksi pengetahuan yang akan dilakukan generasi selanjutnya di masa sekarang atau masa yang akan datang. Buku ini telah hadir sebagai prasyarat penelitian lanjutan atas karya ataupun kajian tentang kesenimanan Dolorosa. Sehingga saya melihat bahwa penyusunan buku ini sama seperti upaya menanam pohon, yang manfaatnya tidak hanya mampu membuat hari-hari ini rindang, tetapi juga memberikan kesempatan generasi penerus untuk memetik buahnya. Selain itu, buku ini juga hadir sebagai bukti yang memperkuat keberpihakan Dolorosa Sinaga pada produksi pengetahuan yang berjalan setelah karya bertemu dengan publiknya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Sarekat Islam sejak Semaoen, untuk Buruh dan Tani

Judul Buku : Di Bawah Lentera Merah
Pengarang : Soe Hok Gie
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : Februari 1999
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya.
Halaman : 108 Halaman
Resensi oleh : Edy Suharto 

Selamanja saja hidoep, selamanja
Saja akan berichtiar menjerahkan djiwa
saya goena keperloean ra’jat
Boeat orang jang merasa perboetanja baik
goena sesama manoesia,, boeat orang seperti
itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes
TETAP menerangkan ichtiarnya mentjapai
maksoenja jaitoe
HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT
SAMA RATA SAMA KAJA
SEMOEA RA’JAT HINDIA
(Semaoen, 24 Djuli 1919)

Awal mula pergerakan kaum marxis dimulai pada 1926 di Indonesia. Dan dalam hal ini kita harus mulai dengan Sarekat Islam (SI) Semarang. Permulaan di abad ke-20 merupakan salah satu periode yang menarik dalam sejarah Indonesia, karena di tahun-tahun itulah terjadi perubahan-perubahan sosial yang besar di tanah air kita. Dengan berbaju modern, pada awal abad ke-20 kita jumpai banyak aliran yang kadang-kadang saling bertentangan. Kita temui partai-partai yang saling cakar, di samping sarikat-sarikat buruh, gerakan pemuda, gerakan perempuan dan lain-lain. 

Dan jika mulai sedikit saja mengorek “kulit modern” itu, kita akan menemukan makna yang sesungguhnya dari gerakan-gerakan itu. Mereka tidak lain dari padanya merupakan kelanjutan bentuk dari kelompok-kelompok yang sudah ada dalam masyarakat tradisional. Apa memangnya secara kebetulan saja, maka kaum priyayi bergabung ke dalam Boedi Oetomo dan Kaum Santri ke dalam Sarekat Islam di sementara tempat? Apakah ini bukan merupakan perwujudan dari struktur masyarakat yang lebih tua dari kaum priyayi dan santri itu sendiri? 

Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya. Hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuh dengan baik. Demikian juga halnya dengan gerakan sosialistik Sarekat Islam Semarang. Saya pikir, bukanlah hal yang kebetulan saja hebatnya gerakan-gerakan Samin di tahun 1917. 

“Di Bawah Lentera Merah” hanyalah sebuah usaha kecil yang mencoba melihat salah satu bentuk pergerakan rakyat Indonesia di awal abad ke-20. Dan untuk membatasi persoalan, ia memilih pergerakan Sarekat Islam di Semarang di dalam masa antara tahun 1917-1920. Mengapa dengan tahun 1917? Karena mulai tahun itulah tendensi-tendensi sosialistik mulai jelas, sedang batas Mei 1920, adalah bulan didirikannya Partai Komunis Indonesia. 

Pada tanggal 6 Mei 1917, Presiden Sarekat Islam Semarang yang lama, Moehammad Joesoef, menyatakan kedudukanya kepada presiden yang baru, Semaoen, yang pada waktu itu baru berumur sembilan belas tahun. Pada hari itu juga diumumkan komposisi yang baru, terdiri dari:

Presiden : Semaoen 
Wakil Presiden : Noorsalam
Sekretaris : Kadarisman
Komisaris : Soepardi, Aloei, Jahja Aldjoeffri, Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, Kasrin

Peristiwa pergantian pengurus ini mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat pendukung SI di Semarang. Pada mulanya SI Semarang dipimpin oleh mereka dari kalangan kaum menengah dan pegawai negeri yang mulai keluar dari Sarekat Islam, termasuk Soedjono. Kini di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung SI berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang. Dari gerakan menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu sangat penting artinya bagi sejarah modern indonesia, karena dari sini lahirlah gerakan kaum MARXIS pertama di indonesia.

Sejak Mei 1917, golongan marxis di bawah kepemimpinan Semaoen sudah berhasil menguasai SI Semarang. Sebelum dipimpin Semaoen, SI Semarang dikenal sebagai organisasi yang lembek dan yang menyatakan ini adalah INSULINDE, sebuah organisasi yang juga “lembek”. Perlahan-lahan Semaoen mempengaruhi para pemimpin SI Semarang. Dan lama-kelamaan ia berhasil membawa gerakan ini bergeser ke arah sosialis revolusioner. Sebagai puncak usahanya, mulai 19 November 1917, organ SI Semarang yakni harian Sinar Hindia (kemudian berganti nama menjadi Sinar Djawa) berhasil dikuasainya. Perubahan-perubahan redaksi, dipimpin oleh Semaoen, dengan dibantu oleh Moh. Joesoef (berita-berita Indonesia dan  Semarang), Kadarsiam (telegram), Notowidjojo (ekonomi), Aloei (rapat-rapat reserve), Alimin (berita kesewenang-wenangan dan luar negeri) dan Semaoen sendiri menjadi redaktur politik. Dalam pengantarnya mereka menyatakan bahwa haluan Sinar Djawa akan lebih radikal dan terhadap pemerintah mereka menilainya secara jujur, sedangkan terhadap kaum kapitalis dan kaum priyayi yang memeras akan dimusuhi. 

Pemerintah seyogyanya memperhatikan kepentingan rakyat terbanyak, tidak malah memihak kepada kaum kapitalis. Dari berbagai pajak yang dibayar rakyat jelata, pemerintah membangun irigasi-irigasi. Tetapi airnya di pagi hari diberikan untuk mengairi perkebunan dan malam harinya baru kemudian untuk sawah rakyat. Tanpa malu-malu kaum kapitalis/ pemerintah menganjurkan adanya milisi Bumiputera. Padahal milisi ini bertujuan untuk melindungi kapital mereka sendiri, dengan menjadikan orang Indonesia sebagai umpan peluru. Jam kerja dan syarat-syarat perburuhan tidak ditetapkan. Tetapi kaum buruh bertindak sendiri menuntut dan memperjuangkan nasibnya. Pemerintah lalu turun tangan membela “setan uang” dengan mendatangkan tentara untuk menangkapi pemogok (rakyat).

Dalam pernyataan-pernyataannya, pemerintah menggunakan bahasa etis, selalu menjanjikan bahwa suatu ketika rakyat Indonesia akan mendapat Zelfbestuur. Tetapi waktunya bukan sekarang sehingga rakyat Indonesia harus bersabar. Untuk sampai taraf ini, yang diperlukan ialah pendidikan. Dan pemerintah tidak pernah sebenarnya mendidik rakyat Indonesia. Yang banyak didirikan hanya sekolah-sekolah guru dan pertanian; mendirikan Stovia dan KWSPHS. Guru-guru yang ada sengaja dibayar murah, sehingga minat menjadi guru tidak besar. 

Sadar akan pentingnya pendidikan inilah, maka di dalam rencana-rencana kerja Sarekat Islam (dan juga organisasi-organisasi lainnya) mencantumkan pendidikan sebagai program perjuangan. Pemerintah kaum kapitalis juga membuat pasal-pasal hukum pidana yang bersifat karet untuk menjerat tokoh-tokoh pergerakan dan wartawan yang berani mengkritik dan mengungkapkan ketidakadilan di dalam kehidupan masyarakat yaitu pasal 63 b dan 66 b yang berbunyi:

“Barang siapa dengan perkataan atau dengan tanda-tanda atau dengan pertunjukan atau dengan cara-cara lainnya bertujuan menimbulkan atau menunjukkan perasaan permusuhan, benci atau mencela di antara berbagai golongan rakyat Belanda atau penduduk Hindia Belanda akan dihukum.”

Pasal-pasal yang bersifat karet ini telah merintangi kemajuan rakyat dan karena itu harus dilawan tanpa peduli akibat-akibatnya. Kenyataan-kenyataan itu menunjukan bahwa justru dari pemerintah sendiri yang merupakan wakil kapitalis, penindasan-penindasan itu berasal. Dan ini menyadarkan mereka bahwa di pundak rakyat itu sendiri terletak kewajiban untuk mencapai cita-cita perbaikan. Dengan persatuan yang teguh antara rakyat yang tertindas, dapat diciptakan kekuatan yang mampu memaksa pemerintah/ kapitalis tunduk pada tuntutan rakyat. 

Pimpinan Sarekat Islam Semarang menjadi selalu menekankan betapa pentingnya persatuan antar buruh dan tentara (istilah mereka, buruh berseragam). Antara kaum buruh dan tentara pada hakikatnya tidak ada perbedaan, karena keduanya ialah rakyat miskin, yang diperas oleh kaum kapitalis. Pada waktu itu tentara hanya digaji 25 sen sehari. 

Dengan persatuan yang kuat kaum kapitalis dapat dihadapi, dapat dipaksa untuk menerima tuntutan-tuntutan kaum buruh. Misalnya ketika Gubernur Jenderal menolak untuk pengurangan area tebu sebanyak 50%, Darsono menganjurkan pemogokan sebagai demonstrasi kekuatan. Masyarakat mulai sadar bahwa untuk melawan penindasan kalau perlu menjalankan gerakan-gerakan bawah tanah dan secara samar-samar menganjurkan teror. Dan selama mereka belum sadar, semua usaha akan gagal. Cara menyadarkannya hanya satu, yaitu bicara blak-blakan nyata dan jelas, agar dimengerti oleh rakyat. Rakyat Jawa masih bodoh, kata Darsono. dan untuk menyatukannya diperlukan cambuk, yaitu artikel-artikel (tulisan) yang berani. Tulisan-tulisan yang logis dan ilmiah tidak ada gunanya, karena tidak dimengerti oleh rakyat. Sekarang ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani. 

Pergerakan menentang kapitalis dan pemerintah yang bersolidaritas dengan mereka terus dilakukan oleh Sarekat Islam untuk membela kepentingan-kepentingan rakyat. Beberapa anggota Sarekat Islam dipenjara dan dibuang ke daerah lain, karena dianggap berbahaya bagi para kapitalis.

Pergerakan untuk kepentingan rakyat masih berlangsung sampai sekarang. Tetapi rakyat senantiasa dibuat bodoh oleh pemerintah. Buku-buku yang dianggap “kiri” disita tanpa sebab yang masuk akal. Aparat pun tidak sendirian, mereka menjadikan laskar/ organisasi masyarakat sebagai garda depan. Pemutaran film yang tidak sesuai denan narasi penguasa dipaksa berhenti, tanpa tahu apa isinya secara sungguh-sungguh. Semua menjadi tanda tanya. Kebodohan tentang sejarah sengaja dibentuk oleh beberapa pemangku kepentingan. Laskar hanya dijadikan alat. Darsono dan Semaoen kalau masih hidup mungkin akan menangis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

#GILAVINYL: Obat keusangan, racun untuk pencintanya

Judul : #GILAVINYL Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Penulis : Wahyu Acum
Editor : Dandy Nugraha.
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 268
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati 

Benarlah jika kata usang merupakan kata sifat bagi segala sesuatu yang lekang jaman layaknya batu bara sebagai bahan bakar kereta api, lontar sebagai medium tulis, dan pak pos sebagai penghantar surat cinta kepada yang tersayang. Yang usang seringkali tak bertahan bukan tanpa alasan, karena sesuatu menjadi usang biasanya disebabkan kegunaannya yang tak lagi efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan manusia. Tetapi ada paham yang mampu membuat keusangan bertahan hingga kini, paham itu sering disebut romantisme.

Romantisme secara umum adalah perasaan yang amat takjub terhadap sesuatu, tidak peduli apapun keadaannya baik itu murah, mahal, usang, kekinian, dan sebagainya. Perasaan itu cenderung membuat orang yang ternaung di dalamnya menjadi penuh harapan serta berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan biasanya juga disertai imajinasi yang tinggi terhadap segala hal yang ia sukai tersebut. Ketika ketakjuban ini menjadi kegilaan dalam mengakses hingga pengumpulan (mengoleksi) objek-objek kesayangannya, maka ini sering disebut sebagai hobi. Hobi sendiri muncul pada diri seseorang karena pengaruh internal atau eksternal yang sengaja maupun tidak sengaja, seperti dari memori masa lampau, pertukaran pengalaman antar pribadi, hingga pengaruh/ hasutan (dalam konteks kekinian sering disebut sebagai racun). Seringkali sikap-sikap seperti itu tersemat pada suatu objek dan objek yang terpengaruh oleh romantisme ini biasanya mengalami sebuah transformasi dari fungsi awalnya. Salah satunya yaitu vinyl record atau yang sering kita sebut sebagai piringan hitam.

Vinyl merupakan media penyimpanan suara analog yang ditemukan oleh Emile Berliner dan dipatenkan pada 1887. Hingga tulisan ini ditulis, bisa dibilang penemuan ini bertahan selama 133 tahun sebagai medium penyimpanan suara analog, terlebih sebagai media rekam musik. Sebelum kaset, CD, hingga kini yang hanya berupa file, vinyl lebih banyak berfungsi sebagai medium pemuas akan kebutuhan hati dan telinga penikmatnya. Pada awalnya pun vinyl dikoleksi untuk pengkayaan bank data musik atau dokumen rekaman penggunanya. Tetapi kini kegiatan pengoleksiannya bertransformasi menjadi sebuah hobi yang tak hanya sebagai wujud pemuasan diri akan kekhasan suara, melainkan juga pada bentuknya yang eksotis. Bentuk piringan hitam ini tanpa perlu dieksotisasi sudahlah eksotis. Sehingga seringkali vinyl dijadikan pajangan dan ornamen dekorasi. Maka dari itu tidak mengherankan jika objek ini sangat prestisius bagi orang yang menenteng atau memamerkannya kepada orang lain.

Buku #GILAVINYL karya Wahyu Acum ini secara tersirat menggambarkan apa yang saya jabarkan sebelumnya yakni bagaimana hobi vinyl kini sudah masuk ke tataran romantisme yang menggugah nurani pencintanya dalam mencapai sebuah romansa. Melalui buku ini Wahyu Acum menjelaskan apa itu definisi gila dan hobi dalam konteks #GILAVINYL yang memiliki arti: terlanda perasaan sangat suka akan vinyl/ piringan hitam. Judul #GILAVINYL pun juga terintegrasi dengan sosial media yakni Twitter dan Instagram di mana khalayak bisa mengakses tagar tersebut ketika sedang membaca sembari bersosial media guna menambah pemahaman tentang isi buku atau meracuni diri agar masuk ke hobi ini. 

Selain menjelaskan arti #GILAVINYL di track (bab) awal, Wahyu juga menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke dalam hobi vinyl ini. Ia menceritakan dinamika perjalanannya berpindah-pindah hobi dari mengoleksi perangko, kartu basket, korek kayu, kaset, CD, hingga akhirnya menemukan kecintaannya, yakni vinyl. Hobi bagi penulis dalam buku #GILAVINYL ini merupakan sebuah pertanda perjalanan manusia yang bahagia. Saya sangat setuju dengan penulis, yakni ketika bisa memiliki sekaligus melakukan hobi itu sangatlah membahagiakan. Mengapa? Karena bagi saya hobi adalah kunci dari segala kunci dalam menemukan waktu tersendiri yang intim bahkan sangat meditatif saat menyatu di dalamnya, dan waktu khusus yang didapatkan saat berhobi ini kerennya disebut “Me time”. Tentunya, “Me Time” ini akan sukses ketika beberapa kewajiban seperti deadline pekerjaan, tugas kuliah, skripsi, dan nafkah bulanan kita sudah tuntas semuanya. Tanpa ketuntasan itu, hobi hanyalah seonggok batu neraka sarat dosa. Percayalah…

Setelah menguak perjalanan spiritualnya akan hobi vinyl, Wahyu selanjutnya memberikan pengantar tentang seluk beluk teknis vinyl meliputi jenis material apa saja yang digunakan dalam pembuatan vinyl, ukuran, fungsi, dan lainnya. Pengantar teknis yang diberikan sudahlah cukup sebagai pengetahuan awal ketika ingin masuk ke dalam hobi ini. Poin menarik adalah penjelasan setelahnya, yakni perihal kenapa vinyl layak dipilih sebagai hobi. Di sini ia menjelaskan beberapa alasan yang umumnya menghinggapi khalayak sehingga mau terikat dengan vinyl ini, seperti putaran vinylnya serta kerepotannya dalam memutar vinyl yang sebenarnya alasan-alasan tersebut sangat personal menurut saya. Tetapi apalah arti hobi jika tidak menghadirkan pengalaman personal bukan?

Setelah berkutat dengan pengantar singkat tentang seluk beluk vinyl, di track (bab) berikutnya Wahyu mengajak pembaca untuk ikut ke dalam petualangannya menyusuri berbagai lokasi penyedia vinyl, dan penelusurannya ini ia sebut dengan istilah “piknik”. Di sini ia memberikan beberapa lokasi penyedia vinyl beserta pengalaman yang ia dapat ketika mencari vinyl-vinyl tercintanya itu. Beberapa lokasi yang ia ceritakan ada di beberapa daerah baik di dalam negeri dan luar negeri seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bali, Jakarta, Singapura, dan Thailand. Tak hanya offline store yang ia informasikan, melainkan juga bagaimana mendapatkan vinyl melalui online store seperti Ebay dan Stockroom. Ada yang unik dengan Stockroom yakni soal bagaimana online store ini membuat hari Kamis menjadi hari yang sakral bagi para penghobi vinyl dalam mendapatkan objek kecintaan mereka.

Tak hanya itu, Wahyu juga menjelaskan bagaimana serunya Record Fair sebagai perhelatan di mana setiap aktor peng-#GILAVINYL berkumpul dalam perputaran ekonomi serta pengetahuan akan vinyl. Berbagai pengalaman demi pengalaman ia jelaskan, terkesan personal tapi influentif menurut saya. Salah satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah tentang bagaimana ketika “piknik” ia mampu menemukan 20 nama artis dan 10 album baru yang belum pernah ia dengar dalam waktu sehari. Dari pengalamannya tersebut ia menyadari jika kegiatan ini bukan tentang collecting vinyl saja, melainkan perihal penemuan kembali terhadap sesuatu yang lampau namun terlupakan dan ini salah satu kerja pengarsipan.

Track selanjutnya sangat jelas jika tak akan lengkap tanpa menyuguhkan pengalaman personal tiap penghobinya. Di bab ini yaitu “track III: Mereka”, Wahyu mengajak untuk membaca pembacaan yang dilakukan tiap peng-#GILAVINYL dalam membaca hobi mereka ini. Baik tentang pengalaman mereka dalam mendapatkan nilai lebih dalam mengakses vinyl hingga transformasi diri yang didapatkan setelah menggeluti hobi ini. Rata-rata yang diangkat adalah para public figure industri hiburan tanah air. Di sini saya merasa ada yang kurang terhadap pemetaan pelaku yang dilakukan oleh Wahyu, mengingat banyak sekali pelaku di luar kategori tersebut yang bisa dikatakan legend di dunia per-vinyl-an dan saya yakin itu. Dengan pemetaan yang menyeluruh pastilah pembacaan tentang vinyl akan semakin luas beserta kemungkinan-kemungkinan lain yang pasti mengiringinya. Kecuali jika Wahyu memang hanya ingin menstimulasi pembacanya dari tahap interest menuju tahap action selayaknya iklan produk dengan artis-artis sebagai presenternya. Bagi saya sah-sah saja, namanya juga meng-influence. Melakukan hobi jika sendirian juga tidak asik karena cenderung tidak akan ada perputaran pengetahuan yang empiris.

Setelah semua track tersebut terjabarkan, Wahyu menutup dengan bab/ track bertajuk bonus. Di dalam track ini ia menyertakan direktori berbagai penyedia vinyl di Indonesia dan glosarium istilah-istilah yang sering digunakan dalam hobi ini. Ditambah foto-foto dokumentasi selama ia melakukan pencarian vinyl-vinyl di berbagai daerah  yang memicu imajinasi para penggila atau nyaris gila vinyl. Jelas, penutup ini semakin mempersiapkan, bahkan benar-benar berniat mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hobi ini. Bagaimana dengan saya? Ya.. Tunggu saja ketika saya dapat rejeki nanti. Apakah saya akan ingat atau lupa pada hobi ini, pokoknya tergantung restu istri.

Bagi saya membaca buku ini seperti dihadapkan pada aplikasi katalog hotel. Ketika memutuskan ingin menginap kita akan disuguhkan profil berbagai hotel beserta lokasi-lokasinya lengkap dengan testimoni para pelanggan yang pernah menginap di sana. Bedanya ada pada pengalaman estetik yang menyentuh nurani manusianya. Sekali lagi, ini perihal pencapaian romansa dan ini kelebihan buku #GILAVINYL. Romansa-romansa ini disajikan dengan bahasa yang ringan tanpa membuat pembaca berpusing-pusing kembali ke teks sebelumnya guna mengartikan bahasa-bahasa tulis yang canggih.

“The whole experience of vinyl is what we’re after. If we don’t see something moving, we lose romance. There’s no romance for me to sing to you about an iPod. But why? Because nothing is moving.”—Jack White

Dengan romantisme pada akhirnya sangat tidak tepat jika menyebut vinyl adalah medium rekaman suara yang usang. Di luar kelebihan dan kekurangannya dalam teknologi, piringan vinyl memiliki sisi romantisnya yang mampu membuatnya sebagai objek yang layak dicintai hingga kini. Di lain sisi proses transmisi vinyl pun mengalami transformasi karena romantisme ini, dari medium rekam suara saja, kini berubah fungsi menjadi objek kolektif bahkan sangat prestisius bagi pencintanya. Transmisi vinyl berlanjut bukan sebagai medium penyimpan lagu dan suara yang ingin kita dengar saja, tetapi kini bertransformasi menjadi vinyl yang memiliki peran dalam menyajikan “rasa” yang membahagiakan kolektornya, bahkan hingga ke ranah yang sangat meditatif.

Memang buku ini terkesan hanya menjabarkan romantisme yang dirasakan penulis beserta penghobi lainnya tentang bagaimana awal hobi mulai bersemi; mengakses berbagai tempat yang menyediakan koleksi piringan vinyl yang tersebar di berbagai tempat. Namun terlihat jelas jika penulis juga memetakan medan sosial dari hobi vinyl ini sehingga kita tahu siapa saja, di mana saja, dan bagaimana kita bisa mengakses medium tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki harapan besar jika komunitas pecinta vinyl ini dapat meluas hingga menyentuh berbagai kalangan. Tetapi barangkali ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat digali dari hobi koleksi vinyl, misalnya sebagai medium pembacaan arsip. Entah ada berapa banyak pengetahuan yang terserak di luar ruang penyimpanan arsip formal yang barangkali justru ada di tangan para penggila vinyl ini. Sehingga tak hanya #GILAVINYL yang menyertai, tapi juga #VINYLGILA yang memberkati hobi ini guna menunjukkan potensialitasnya sebagai laku pengetahuan. Aminnnn!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bersama Dullah, Melihat Bung Karno dari Sudut Pandang yang Lain

Judul : BUNG KARNO Pemimpin, Presiden, Seniman
Penulis : Dullah
Editor : Mike Susanto
Penerbit : Museum Dullah
Tahun Terbit : 2019
Resensi Oleh : Ganesha Baja Utama

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dimuat di harian Minggu Merdeka, yang mana merupakan ingatan dan catatan ketika Dullah tinggal di Istana. Catatan-catatan tersebut berisi banyak hal yang apabila dibaca akan memunculkan sudut pandang, imajinasi, fantasi lain mengenai kehidupan seorang presiden, kehidupan pribadi seorang Dullah, dan kehidupan yang terjadi di Istana pada masa itu. Dullah sendiri adalah seorang pelukis yang berperan penting dalam dunia seni rupa di Indonesia. 

Buku ini tidak hanya menyoroti perihal seni. Hal-hal kecil lain yang ternyata merupakan peristiwa penting, seperti keseharian Bung Karno dengan anak-anaknya, Bung Karno dalam menyiapkan pidatonya, kisah cinta, dan bahkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Bung Karno dibahas dalam buku ini. Membaca buku ini akan membawa seseorang seolah terjun untuk berfantasi dan membayangkan apa yang dialami Dullah pada saat itu.

Catatan-catatan ini menjadi sebuah warisan karya yang penting bukan hanya untuk dunia seni, melainkan juga untuk sejarah bangsa, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri. Bukan semata-mata tulisan yang dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah buku, kumpulan tulisan ini menjadi jembatan penting bagi kita dalam memahami apa yang telah dilakukan oleh Dullah selain sebagai ahli gambar. Disertai dengan sejumlah foto keterangan terkait hal yang diceritakan dalam tulisan tersebut, membuat saya mudah untuk membayangkan dan seolah mampu menarik mundur waktu, pergi ke situasi di saat foto-foto itu diambil. 

Disebutkan bahwa kumpulan tulisan ini merupakan catatan-catatan selama satu dekade Bung Karno, yaitu pada 1950-1960. Rangkaian catatan yang juga bisa dikatakan sebagai bentuk romantisme seorang Dullah kepada Istrinya. “Ibune Kenung”, begitu panggilan romantis Dullah kepada istrinya dalam catatan-catatan di buku ini. Dullah melukis Fatimah atau Ibune Kenung secara simultan sepanjang waktu, dan benar saja dalam lukisan Dullah tidak ada model yang sering dilukis terkecuali istrinya sendiri. Terlepas dari hubungan antara Dullah dengan Bung Karno ataupun dengan istrinya, buku ini memberi keterangan bahwa sebenarnya hanya terdapat 59 artikel. Bahwa terdapat kekeliruan penomoran oleh redaksi Harian Merdeka pada artikel nomor 23 yang sebenarnya tidak ada. Selain itu judul-judul yang ada pada setiap artikel di buku ini sebenarnya juga tidak ada. Judul-judul ini diberikan digunakan sebagai penanda apa yang akan dibaca oleh pembaca pada setiap artikel.

Setiap catatan benar-benar menggambarkan bagaimana suatu hubungan terjalin. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara Dullah dan Bung Karno. Pada beberapa artikel Dullah menggambarkan bagaimana dirinya bisa menjadi akrab dengan presiden pertama Indonesia ini. Dullah digambarkan seperti bayangan seorang Sukarno. Bagaimana tidak, di setiap catatan Dullah selalu menceritakan bagaimana dirinya diajak Sukarno bepergian, melukis, menata panggung pentas 17-an, dan banyak kegiatan yang melibatkannya. Setiap pagi seniman besar ini menemani Bung Karno berolahraga, jalan kaki mengelilingi istana. Hubungan ini membuat Dullah dekat dengan keluarga Bung Karno serta paham betul bagaimana si presiden memiliki jiwa seni.

Hal menarik lainnya bagi saya ketika membaca buku ini adalah bahwa Dullah tidak hanya menceritakan tentang Bung Karno, istana, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Dullah juga selalu memberikan gambaran bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang Bung Karno ketika mengunjungi daerah-daerah. Catatan-catatan yang telah dituliskan dengan lengkap oleh Dullah ini menjadi tulisan yang layak untuk dibaca dalam rangka memahami Bung Karno dari sudut pandang yang lain.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Menjelajah Relasi: Medium dengan Persentuhan Problematika Seni Rupa Era Kontemporer

 Judul : Relasi dan Ekspansi Medium Seni Rupa
Penulis : Para staf pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB
Penerbit : Direktorat Pengembangan Seni Rupa, ITB
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun : 2018
Resensi oleh : Prima Abadi Sulistyo

Memahami dan membaca seni rupa kiranya juga tak hanya menyoal karya seni rupa yang berdiri sendiri. Membaca seni rupa juga melibatkan persoalan relasi medium. Rizki A. Zaelani, dalam tulisannya mengutip gagasan Achille Bonito Olivia, “Tidak ada kesadaran intelektual terhadap seni”. Tentunya ungkapan tadi ingin menjelaskan adanya sikap ragu bahwa seni mampu merumuskan maknanya secara menyeluruh. Rizki pun mengungkapkan, istilah “medium” bukan hanya sebatas permasalahan bahan/ material seni rupa, tapi lebih soal makna (ekspresi) seni rupa itu sendiri. 

Buku ini seolah dihadirkan karena selama ini peristiwa seni cenderung dipandang sebagai cipta seni, hasil akhir/ produk dari seorang seniman. Buku ini hadir sebagai salah satu alternatif; soal bagaimana untuk meningkatkan dan memahami proses apresiasi yang mempunyai makna, diperlukan perangkat pengetahuan yang memadai. Sebagai bagian proses pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya seni oleh apresiatornya, yaitu pengetahuan seni (art knowledge).

Terbit pada 2018, buku ini digarap oleh staf pengajar perwakilan studio yang ada di Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Ditulis oleh 12 penulis yang secara garis besar bicara dalam ranah medium seni rupa, macam-macam seni rupa dan kajiannya, sejarah seni rupa, refleksi seni rupa Indonesia, serta seni rupa kontemporer. Berterbalkan 322 halaman, buku ini dibagi ke dalam beberapa sub tema yang mereka tulis dan kembangkan dari pemikiran mereka.

Tulisan pertama oleh A. Rikrik Kusmara membahas tentang medium seni rupa: konsep, struktur dan perkembangannya. Sedikit banyak membahas tentang fungsi medium, medium dan estetika, serta tipologi medium. Rikrik membagi tipologi medium seni rupa ini ke dalam perspektif modern dan tradisional. Secara deskriptif-naratif ia  juga menjelaskan macam-macam medium seni rupa mulai dari drawing, seni lukis, patung, seni media baru, mixed media, fotografi, video art, sampai seni instalasi.

Di tulisan selanjutnya Didik Sayahdikumullah membahas soal mooi indie dan seni lukis bentang alam. Ia menuliskan bagaimana sejarah seni Indonesia seakan beranggapan bahwa relasi antar manusia dan alam sering dikategorikan sebagai lukisan bentang alam atau mooi indie. Hal ini terasa ketika para pemikir Indonesia dalam menggambarkan “beauty” selalu sebagai fenomena yang merujuk pada seni rupa barat. Fenomena lukisan mooi indie dianggap sebagai sebuah kedangkalan pelukis barat dalam memahami realitas kehidupan sehari-hari negeri tropis ini. Dalam perbedaan cara pandang memahami mooi indie inilah yang kemudian seolah mempresentasikan awal mula konflik estetik yang dipertentangkan oleh sebagian pelukis indonesia. Didik mencoba menelaah dari segi sejarah bagaimana perkembangan lukisan bentang alam ala eropa di masa East India Company, yang selanjutnya menimbulkan pemaknaan dan terminologi lukisan mooi indie di negeri jajahan Belanda. Didik juga membahas ruang lingkup lukisan bentang alam dan mooi indie, serta kemunculan mooi-scape pasca lukisan bentang alam. Tulisan ini kemudian disusul oleh Bambang Ernawan yang mengulas seputar seni lukis abstrak. Dia lebih bercerita soal pengalaman pribadinya yang empiris ketika mencoba melukis lukisan abstrak.

Lain lagi dengan Willy Himawan, ia mencoba mengejawantahkan topik pilar kultural dalam seni lukis Indonesia. Diawali dengan tulisan kunci dari Sanento Yuliman yang berjudul “Seni Lukis Indonesia: persoalan-persoalannya, dulu dan sekarang”, Willy mencoba mendedah seni lukis dari ranah tradisi dan kultur suatu wilayah, semisal seni lukis diaspora Bali. Ia juga menambahkan terkait seni lukis (yang) kultural, yang menurut hemat saya berarti bahwa seni lukis berposisi sebagai sebuah hal yang dinamis dan aplikatif. Seni lukis juga menjadi bagian kultural (relief di candi) dan bagian modern dalam perhelatan di ruang seni rupa macam ARTJOG.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Seni dan Ruang Publik, Budi Adi Nugroho mencoba mengejawantahkan persoalan seni di ruang publik sebagai seni yang lahir direncanakan dan diproduksi untuk dimiliki oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan gagasannya dengan konsep piramida terbalik. Awalnya ia menjelaskan soal sejarah seni dan ruang publik. Kemudian ia menyebutkan macam-macam tipologi seni ruang publik. Melalui pengambilan contoh general genealogi seni ruang publik di Indonesia, Budi kemudian membahas genealogi seni ruang publik di Bandung sebagai salah satu studi kasus seni dan ruang publik. 

Pada tulisan selanjutnya, Setiawan Sabana melalui Seni Grafis di Indonesia dan Tantangannya mencoba menelaah definisi seni grafis dan irisannya dengan cabang seni rupa lainnya. Setiawan Sabana juga mengambil banyak studi seni grafis yang berada di Indonesia. Seni keramik kontemporer juga tak luput dari pembahasan. Lalu Nurdian Ichsan mencoba merunut perkembangan seni keramik dari paradigma craft, paradigma seni modern, lalu paradigma seni kontemporer. Dalam tulisannya yang lain ia juga ingin bicara soal Refleksi Kritis Seni Rupa Kontemporer di Indonesia pada 1990-an. Dilanjutkan oleh Asmudjo J. Irianto dengan judul Fotografi Seni: Modern, Postmodern, Kontemporer yang mencoba menjelaskan bagaimana fotografi berkembang dan menjadi sebuah pertanyaan. Soal bagaimana akhirnya peran dan posisi fotografi di dalam perkembangan seni rupa dewasa ini. 

Tisna Sanjaya dengan tulisannya yang berjudul Imah Budaya (IBU) Cigondewah membahas riset seni atau artistic research yang acap kali sering dianggap oleh seniman sebagai bagian yang jarang dibahas dan diungkapkan. Melalui studi kasus riset seni budaya (IBU) Cigondewah, ia mencoba menjelaskan bagaimana pada akhirnya ,melalui riset, seni juga bisa membuat sebuah alternatif penciptaan dan solusi permasalahan lingkungan hidup. Hemat saya, hal ini difokuskan pada revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui seni lingkungan. Senada dengan Tisna Sanjaya yang berkenaan dengan riset seni berbasis lingkungan, Muksin Md memilih tema unsur-unsur tradisi sebagai inspirasi. Muksin mengatakan di dalam seni rupa kontemporer, pemanfaatan unsur-unsur tradisi juga bisa diolah. Sebut saja unsur-unsur tradisi seperti material/ benda tradisi (lokal), kesenian maupun budaya dan tema tema di dalamnya.

Setiawan Sabana melalui Refleksi Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer ingin memberikan tanggapan atas situasi dan perkembangan “era ekonomi” ASEAN yang ditandai dengan kegiatan bersama dan bebas dalam bidang perdagangan (AFTA). Adapun dampak dari kebijakan itu juga berpengaruh pada dimensi seni maupun budaya yang sangat terkait dengan aktivitas perdagangan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh beliau. Bahwa seni itu lebih merujuk kepada nilai batin pada diri manusia, sedangkan perdagangan sebaliknya. Ia menggambarkan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan budaya dengan ciri-ciri yang hampir sama. Ia mencoba menjelaskan secara singkat tentang kebangkitan kebudayaan Asia Tenggara yang juga terjadi dalam dunia seni rupa Asia Tenggara. Pada poin terakhir kemudian dituliskan mengenai refleksi dalam pencarian nilai (spiritualitas) dalam memahami ekspresi seni rupa kiwari ini.

Pada sub tema lainnya, Dadang Sudrajat menulis soal spiritualitas dalam seni. Ia beranggapan bahwa seniman adalah juga penempuh jalan spiritual, penempuh laku Suluk. Dengan contoh bagan, Dadang mencoba menghubungkan seni, mistisisme, dan keindahan. Penjelasan spiritual dan hubungan dengan salah satu sisi agama juga dijelaskan olehnya dalam memahami spiritualitas seni dan hubungannya dengan individu yang bersifat personal.

Tulisan terakhir dari Rizki A. Zaelani dengan judul yang menarik perhatian, Melihat dengan Ibarat. Dengan pendekatan mistisisme Islam/ tasawuf, Rizki mengatakan bahwa “melihat dengan ibarat” pada prakteknya bukan hanya persoalan melihat (seeing). Lebih dari itu, ia juga soal mengingat (remembering, remembrance) dengan Tuhan sebagai pusat ingatannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

SOROTAN PUSTAKA | November-Desember 2019

Sejauh ini koleksi perpustakaan IVAA bertambah begitu signifikan, yakni sebanyak 1823 koleksi. Dari koleksi-koleksi tersebut, 176 buku adalah hibah dari Daniel Viko; 879 komik dari Akademi Samali; 134 koleksi dari KUNCI Study Forum & Collective, dan sisanya berasal dari pembelian buku, kunjungan pameran, dan anjang sana ke beberapa komunitas seni dan budaya di beberapa lokasi. 

Pengunjung perpustakaan masih terdiri dari mahasiswa, peneliti dan kurator. Mereka mengakses koleksi perpustakaan sebanyak 316 pustaka (174 buku literatur, 107 katalog, dan sisanya 35 koleksi seperti majalah, makalah dan skripsi/ tesis). 

Selain peminjaman reguler, beberapa koleksi perpustakaan IVAA yang terdiri dari buku, katalog, kliping, hingga majalah juga digunakan sebagai materi resource room pameran seni rupa Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019, Biennale Jogja Equator #5 2019 untuk materi dengan tema seputar gender, komunitas, dan aktivisme di kawasan Asia Tenggara. Selain dua kegiatan itu, pameran tunggal Ugo Untoro juga menggunakan khazanah arsip IVAA tentang Ugo Untoro. Terdiri dari 60 lembar kliping, katalog, foto, dan DVD dokumentasi yang berkaitan dengan Ugo Untoro menjadi materi yang dikaji untuk memperkaya narasi pameran. 

Selanjutnya, di dalam edisi penutup tahun 2019 ini, ada 4 buku yang kami ulas, yaitu

Yogyakarta dalam Bingkai Kisah Ki Juru Taman

Judul : Mata Air, Air Mata Kota
Penulis : G. Budi Subanar
Penerbit : Abhiseka Dipantara & LogPustaka
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 181 
Resensi Oleh : Fika Khoirunnisa

Mata Air, Air Mata Kota berisi kisah manusia, kesederhanaan, perkembangan dan perubahan ritme hidup Kota Yogyakarta. Membacanya berarti melihat lebih jauh sendi-sendi kehidupan kota Yogyakarta yang terbagi menjadi dua dekade; tahun ‘70-an yang tersaji melalui pangkalan gerobak, industri batik, peristiwa ontran-ontran, kali code, hingga pasar sebagai pusat kehidupan, serta tahun ‘80-an ketika becak, gerobak, dan sepeda mulai terganti oleh truk dan mobil angkutan, juga taman yang mulai tergusur dan beralih fungsi menjadi pompa bensin.

Mengutip Benedict R.O’G Anderson, dalam bukunya yang berjudul Imagined Communities (1983), “Novel dilihat sebagai penubuhan naratif kesadaran berbangsa. Jika bangsa harus dipertimbangkan lebih sebagai ‘artefak budaya’ ketimbang suatu entitas politik, maka novel menjadi semacam jalur istimewa untuk menelusuri landasan budaya kebangsaan.” Sebuah novel dapat memuat berbagai macam kemungkinan alur yang mampu memadukan keragaman isi suatu bangsa, sedangkan narasi yang tersusun secara kronologis dapat menyajikan ‘pengalaman berbangsa’ masyarakat dengan berbagai keragaman latar belakangnya. Pengalaman tersebut yang hendak dibagikan penulis melalui timeline Kota Yogyakarta selama dua dekade.

  1. Budi Subanar memulai menulis sejarah Kota Yogyakarta melalui perspektif  hidup keluarga Pak Seto, seorang juru taman yang tinggal bersama ketiga anaknya serta istri yang merupakan seorang pembatik. Fase demi fase perkembangan Kota Yogyakarta telah dicitrakan melalui penguasaan bahasa, kekuatan gaya, serta imajinasi yang organik sehingga berhasil mentransformasikan cerita menjadi sebuah buku yang tidak hanya sederhana dan ringan, namun juga jujur. Kejujuran tersebut yang membuat citra revolusi yang disajikan menjadi meyakinkan. 

Dalam diskusi buku yang diadakan di Universitas Sanata Dharma, G. Budi Subanar selaku penulis mengatakan, “Tidak ada konflik dalam cerita ini, saya menulis hanya untuk membandingkan dan menggambarkan potret Jogja zaman dahulu, sehingga pembaca benar-benar akan merasakan suasana yang tidak dapat ditemukan pada zaman sekarang.” Dalam kesederhanaan visinya, Romo Banar menyajikan karya sastra yang memuat segala aspek revolusi, baik fisik maupun batin dan sosial. Buku ini merupakan sebuah bentuk aktualisasi dari kemampuan mengamati dan mengalami dari penulis yang kemudian dituangkan menjadi narasi-narasi kehidupan masyarakat Yogyakarta secara umum, seperti: perjuangan hidup kepala keluarga yang bekerja keras demi memenuhi kewajiban menafkahi keluarga, si sulung yang bersekolah dengan pekerjaan sampingan sebagai perantara di pasar hewan, peristiwa ontran-ontran yang berdampak pada lemahnya kondisi perekonomian masyarakat, hingga tergusurnya para bajingan dari taman yang mulai beralih fungsi menjadi bangunan pompa bensin. 

Tokoh rekaan dalam buku ini, masing-masing dengan caranya sendiri, telah ikut terlibat dalam perkembangan dan peralihan kultural Kota Yogyakarta selama dua dekade. Kerja keras orang tua demi menghidupi keluarga serta kesederhanaan hidup yang ditanamkan pada anak-anak sejak kecil, tidak lantas membuat cita-cita mereka sederhana. Mereka tetap berupaya untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi sehingga dapat terbebas dari kungkungan ketentuan garis hidup yang telah berlangsung turun-temurun. Potret keluarga Pak Seto adalah representasi dari kita semua. Kita dapat menemuinya di sudut-sudut kecil kota Jogja dan dalam kemegahan bangunan bintang lima sekalipun. Potret keluarga Pak Seto adalah representasi dari hal-hal yang kita usahakan dan upayakan untuk keadilan, kesetaraan, dan kebebasan.

Pada akhirnya perubahan zaman tidak terjadi secara serta merta, disadari atau tidak, direncanakan atau tidak, demikianlah yang terjadi pada Yogyakarta dan masyarakatnya. Dari situlah kita dapat memaknai revolusi sebagai sebuah proses yang utuh dan konkret dalam suatu fase kehidupan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.