Tag Archives: #sorotanpustaka

#SOROTANPUSTAKA Maret-April 2018

Perpustakaan dan Arsip adalah salah satu bidang garap di IVAA yang saling terkait, bahan-bahan konten yang ada di archive.ivaa-online.org beberapa sumber dari katalog, buku, klipping surat kabar ataupun makalah yang  fisiknya berada di perpustakaan.

Dalam  bulan maret 2018 kami dibantu 3 kawan magang dari Program Studi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM untuk memilah, menata, dan menyimpan arsip. Dalam penataannya kita bedakan  menurut jenisnya: Undangan, Poster, Brosur, Pustaka, Administrasi Kantor dan Keuangan. Undangan dan poster diurutkan dan dikelompokkan berdasar tahun, sedangkan brosur dikelompokkan menurut institusi, baik Institusi Seni, maupun Institusi Pendidikan, sedangkan berkas administrasi kantor dan keuangan akan ditinjau ulang jangka waktu penyimpanannya, apakah akan dimusnahkan, dinilai kembali, atau dipermanenkan. Sedangkan makalah ataupun tulisan seni akan dibendel dijadikan bahan pustaka. Kemudian untuk  majalah, katalog, komik dan bahan pustaka lainnya akan diinventarisasi, diklasifikasi, dan di-input ke library.ivaa-online.org.

Dalam input  memasukkan metadata yang ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) di bantu juga oleh 2 kawan magang, baik pustaka baru maupun pustaka lama yang belum di-input. Dalam tambahan pustaka baru ada 4 yang akan diulas di sini, pertama Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernur PKI, kedua Komik Merebut Kota Perjuangan: Sebagai Politik Pencitraan Soeharto, ketiga Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz dan terakhir Andy Warhol The King of Pop.

Oleh: Santosa, Khanza Putri, Diatami Muftiarini

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Henk Ngantung, Saya bukan gubernurnya PKI

Penulis : Obed Bima Wicandra
Penerbit : CV Budi Utama
Tebal : XXVI,154 Halaman
Ukuran : 14×20 cm

Oleh: Santosa

Buku ini merupakan hasil dari penelitian-penilitian riwayat Gubernur DKI Jakarta, yang pada khususnya Henk Ngantung, dengan nama lengkap Hendrik Joel Hermanus Ngantung. Buku ini menggunakan rujukan primer catatan pers. Awal buku ini menceritakan ikhwal perjalanan berkesenian Henk Ngantung. Henk di usia 15 tahun sudah menekuni satu bidang seni rupa, orang pada zaman itu menyebutnya “Tukang Gambar”. Di usia sebelia itu, dia sudah berpameran atas dorongan guru dan mantan kepala sekolah, menjual lukisan dari rumah ke rumah. Ketekunan dan etos kerja ini yang mengantarkannya ke Jakarta. Dalam perjalanan berkesenian, kematangan seni gambarnya diperoleh dalam rentang tahun 1937-1940 saat menetap di Bandung. Di sini Henk belajar melukis, satu satunya murid dari Professor Zrudolf wengkart, seorang akademisi dan pelukis dari Wina, Austria. Juga di kota Bandung-lah Henk berkenalan dengan pelukis besar Affandi, yang kemudian mengantar lukisannya pameran di toko milik orang Italy di jalan Braga. Henk termasuk salah satu dari sedikit kaum bumiputra yang berkesempatan pameran di sana.

Tahun 1940 Henk Ngantung hijrah ke Jakarta mengikuti pameran pameran yang diselenggarakan oleh Gabungan Lingkaran Seni Batavia, sejak didirikan 1916 banyak melukis pemandangan dan potret diri. Henk menjadi bagian dari kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi ) yang dimotori oleh S. Sudjojono, seiring itu didirikan Pusat Kebudayaan oleh penguasa Jepang di Indonesia yang dinamakan Keimin Bunka Sidhoso. Pada periode yang sama, tahun 1942 Henk ikut menandai Pameran Besar Seni Lukis. Salah satu karya karya terbaik yang mendapat penghargaan adalah Henk Ngantung. Pada tahun 1943 membuat karya monumental yang menjadi saksi revolusi Indonesia Karya dengan media tripleks berukuran 152 cm x 152 cm berjudul Memanah. Karya ini mengantar kedekatan Henk dengan Sukarno.

Henk juga berorganisasi dan terjun ke dunia politik. Tahun 1959 di Solo, Henk tercatat sebagai sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sedangkan di salah satu bidang Lekra, yaitu Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Henk menjabat sebagai ketua. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Pertimbangan Agung. Namanya perlahan merangkak dan menjadi panitia anggota Sayembara Tugu Nasioanal yang melibatkan seniman – seniman Lekra. Sayembara ini banyak ditentang oleh oposan Sukarno. Kemudian Henk menjadi anggota parlemen Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Henk Ngantung juga merupakan anggota parlemen dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal tersebut membuktikan bila Henk lihai dalam melukis tetapi juga piawai dalam berorganisasi, terutama politik.

Henk Ngantung menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta selama 3 tahun setelah ditunjuk oleh Sukarno. Henk kemudian menjadi gubernur selama 9 Bulan, diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965, dan Dr. Soemarno (Gubernur lama) kembali menjabat sebagai Gubernur yang kali ini dirangkapnya dengan jabatan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah sejak 16 Juli 1965. Dalam buku ini tidak disebutkan secara jelas mengapa Henk diberhentikan menjadi Gubernur, hanya disebutkan karena tenaga dan pikiran Henk diperlukan pada bidang lain.

Dalam masa baktinya yang singkat, Henk berkontribusi dalam capaian artistik tata kota, tentu saja ini merupakan buih dari latar belakangnya sebagai seniman. Henk terlibat dalam perencanaan pembuatan Patung Selamat Datang yang berdiri megah di depan Hotel Indonesia (HI) tahun 1959. Patung yang dibuat dalam rangka Asian Games 1962 dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Patung yang terletak dibundaran HI dengan tinggi 20 meter. Dengan ide dari Sukarno, sketsa dikerjakan oleh Edhi Soenarso, Trubus dan Henk Ngantung. Pengerjaan dilakukan oleh Edhi Soenarso dengan pengawas Henk Ngantung. Landskap lain yang dibuat dalam periode kepemimpinan Henk adalah pembuatan air mancur tahun 1962. Termasuk pembuat lambang baru Provinsi DKI Jakarta. Diawali dengan diadakannya sayembara yang diikuti 93 peserta, namun tidak ada satupun yang masuk kriteria. Akhirnya Henk menangani sendiri pembuatan lambang Jakarta Raya dengan ilustrasi Jakarta sebagai kota revolusi, kota proklamasi kemerdekaan, dan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain di ranah artistik, pembangunan dibidang ruang publik, industri dan birokrasi juga dilakukan. Mulai dari pembenahan kawasan kumuh, mendorong dibangunnya rumah-rumah sederhana untuk ditempati masyarakat kurang mampu, membangun Masjid Istiqal, Kantor Pencatatan Sipil, dan Kantor Perekonomian. Proyek pembangunan Jakarta by Pass, meskipun praktiknya terjadi penggusuran penggusuran yang pastinya menimbulkan kecaman dari masyarakat. Industrialisasi dan modernisasi pasar-pasar tradisional diwujudkan dengan renovasi pasar menjadi lebih modern. Melakukan sensus industri yang diharapkan akan menjadi proyek percontohan kota-kota besar di Indonesia, Sensus industri ini meliputi perusahaan Industri kecil maupun besar, asing maupun dalam negeri, milik pemerintah ataupun swasta. Ide-ide ini diperoleh dari lawatan Henk ke luar negeri, dengan menyediakan fasilitas hiburan bagi masyarakat Jakarta, salah satunya mendirikan Nigcht Club dan departement store.

Henk Ngantung diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965. Pasca Gerakan 30 September 1965 nama Henk Ngantung tidak luput dari pemeriksaan militer, walaupun tidak pernah sampai mendekam di balik jeruji besi. Cap komunis karena keterlibatannya secara aktif di Lekra yang merupakan underbow PKI mau tidak mau tetap melekat. Henk tinggal di rumah kecil di gang Cawang, Jakarta Timur hingga akhir hayatnya di bulan Desember 1991. Kehadiran buku ini menjadi salah satu upaya untuk berkontribusi dalam penulisan sejarah. Henk Ngantung sebagai seniman yang terlibat aktif dalam politik dan pernah memiliki jabatan strategis di pemerintahan, tidak banyak dibekukan kiprahnya baik di bidang politik maupun seni.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Andy Warhol; Andy Warhol, The King of Pop Art

Penulis : Florentia Senojati
Penerbit : Tomato Books
Tebal : XVII + 337 Hal.
Ukuran : 13 x 19 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Buku Andy Warhol, The King of Pop Art ditulis oleh Florentia Senojati, merupakan biografi Andy Warhola—kemudian lebih dikenal Andy Warhol–yang dimulai dari lingkungan masa kecil di Pittsburgh sampai gemerlap kehidupan glamor di New York. Dalam 16 BAB, buku ini bercerita tentang fragmen-fragmen sepanjang hidup Warhol yang sangat tertutup, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Penulis mengumpulkan data dari berbagai publikasi di media massa. Jejak-jejak Warhol tersebut dikumpul dan disusun, kemudian paling tidak memberi sekelebat informasi mengenai kehidupan dingin Warhol, dari perihal seksualitas, musik, film, politik, dan tentu saja seni rupa.

Warhol dikenal sebagai seorang seniman jenius dan ikon dari gerakan Pop Art yang mendobrak perspektif seni rupa pada tahun 1960. Jika pada tahun ’60-an seni rupa memiliki citra serius dan eksklusif, oleh Warhol seni rupa diubah menjadi barang yang dapat diproduksi massal, seperti mesin, dengan teknik blotted line (sablon). Ia menyalin desain-desain sampul produk sehari-hari yang biasa ditemukan di supermarket, baliho di sepanjang jalan, atau potret selebritas yang muncul setiap hari di media massa. Campbell Soup Cans, Coca Cola, potret Marilyn Monroe, dan Elvis Parsley adalah segelintir dari karya-karyanya yang dipamerkan dan melejit pada tahun tersebut.

Karya Warhol yang dinilai ‘dangkal’ dan sederhana oleh banyak seniman dan kritikus, sejatinya menyimpan banyak suara kritis yang ditujukan pada budaya kapitalisme dan konsumerisme di Amerika saat itu. Pola repetisi yang digunakan Warhol dalam karya-karyanya mengingatkan kita pada citra yang terpapar lewat konsumsi media massa sehari-hari. Konten media massa yang sepanjang hari ditujukan pada kita, biasanya hanya menampilkan beberapa pilihan realita yang serupa. Sehingga kerapkali, produk media massa kehilangan makna realita itu sendiri.

Gerakan Pop Art yang dipelopori oleh Warhol pada tahun produktifnya sepanjang 1960-1970 berhasil meruntuhkan dikotomi antara high-art dan low-art, meruntuhkan anggapan bahwa karya seni diperuntukan hanya untuk kalangan elit dan eksklusif. Dengan begitu, penting rasanya untuk memahami Andy Warhol sebagai seniman Pop Art yang berpengaruh dalam sejarah seni dunia.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Komik Merebut Kota Perjuangan Sebagai Politik Pencitraan Soeharto

Penulis : Aldino Widya Putra
Penerbit : PolGov
Tebal : XXIV+140 Halaman
Ukuran : 14, 5 x 21 cm

Oleh Santosa

Dalam bab awal, buku ini mengulik sejarah komik di Indonesia, teori-teori penelitian, analisa ataupun cara pandang membaca komik dari sisi politik dan membandingkan dari media dan tokoh lain dengan tujuan yang sama, yaitu mengemas citra tokoh kepada publik. Latar cerita ini tentang kiprah Letnan Kolonel Soeharto dalam serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta dengan topik perang bernarasi bersifat politis, komik dibangun sebagai narasi historis, sedangkan sejarah dilihat dari fenomena politik.

Kemunculan komik Merebut Kota Perjuangan di tahun 1984 merupakan imbas dari krisis energi minyak, penerimaan sektor migas yang menurun, serta defisit anggaran yang meningkat. Menyadari posisinya tidak aman, Soeharto mengambil langkah strategis guna mengangkat pamornya sebagai pemimpin. Diantaranya membangun citra pribadi melalui beberapa lewat karya seni, dalam bahasan buku ini adalah komik Merebut Kota Perjuangan.

Menurut runutan hasil penelitian komik Merebut Kota Perjuangan adalah cerita latar, yaitu latar waktu terjadi peristiwa benar-benar ada atau bukan fiksi. Sedangkan kejangggalan pada cerita komik ini adalah menghilangkan tokoh penting dalam sejarah, terkait Serangan Umum 1 Maret 1949 yakni kontribusi kolonel Bambang Sugeng yang secara hirarki adalah atasan langsung dari Letkol Soeharto. Kolonel Bambang Sugeng adalah aktor dibalik keluarnya surat untuk melancarkan serangan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta. Selain itu juga menghilangkan peran penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mengkerdilkan peran Sultan yang disinyalir sebagai salah satu pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah bukti nyata, bagaimana citra Soeharto sebagai aktor tunggal di balik keberhasilan Serangan Umum 1 Maret ingin dikonstruksi.

Analisa politik yang kemudian muncul adalah adanya upaya penggambaran Soeharto sebagai komandan yang bijaksana. Soeharto adalah pribadi pemberani. Soeharto adalah pahlawan, adalah tokoh utama dalam porsi kemunculan yang lebih banyak diantara tokoh-tokoh lain. Sejatinya sudah menjadi rahasia umum dimana seni juga dijadikan salah satu medium pembentuk citra elit politik. Konstruksi ini bisa dibentuk secara dogmatis atau dengan cara yang jauh lebih subtil. Komik ini merupakan sejumput perwujudan bahwa karya seni bagaimanapun tetap menjadi representasi ideologi dominan pada masanya.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz

Penulis : Arinta Agustina Hamid, Citra Aryandari, Indiria Maharsi, Irwandi, Kasidi Hadiprayitno, M. Dwi Maryanto, Mikke Susanto, Sumaryono, Timbul Raharjo
Penerbit : Ombak
Tebal : X+137 Halaman
Ukuran : 16 X 24 Cm

Nomor panggil IVAA Library: 701 Mar K

Oleh Khanza Putri  (Kawan Magang IVAA)

Buku ini adalah kumpulan dari 9 tulisan yang berbicara dalam disiplin tata kelola seni. Bisa disebut sebagai salah satu wantah atas perkembangan dunia seni, ranah tata kelola menjadi bahasan yang semakin banyak dibicarakan. Manajemen seni semakin dibutuhkan karena secara filosofis, pengelolaan seni mengalami sublimasi pemikiran dari ranah teknik menuju seni sebagai strategi pemikiran. Sehingga, mengelola seni bukan saja persoalan bersifat fisik seperti penataan ruang, pemasangan karya, menyosialisasikan karya tapi juga meliputi strategi dalam mengolah persepsi, imajinasi dan intuisi penonton. Lebih jauh lagi, dunia manajemen seni juga dapat difungsikan sebagai pencipta tren, style maker, penggubah peristiwa sampai sebagai analis budaya.

Penyunting menganggap bahwa sembilan artikel yang ada di dalam bunga rampai ini memerlukan klasifikasi khusus. Buku ini tidak bisa digolongkan dalam dua klasifikasi seperti Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, karena masing-masing artikel memiliki keterkaitan antar jenis kesenian. Maka dari itu buku ini terbagi menjadi dua bagian yakni bagian pertama yang membahas ranah teoritis dan bagian kedua yang membahas ranah empiris. Tulisan mengenai ranah teoritis memuat empat tulisan yang ditulis oleh M. Dwi Marianto, Sumaryono, Kasidi dan Mikke Susanto. Sedangkan tulisan mengenai ranah empiris, akan memayungi isu yang menjadikan jenis seni tertentu atau perhelatan khusus sebagai kasus dalam penelitian atau kajian tersebut. Lima tulisan itu ditulis oleh Timbul Rahardjo, Citra Aryandari, Irwandi, Miria Maharsi, dan Arinta Agustina Hamid.

Semua artikel di buku ini menarik karena disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan mengangkat peristiwa ataupun karya yang masih hangat di masyarakat. Seperti misalnya tulisan “SITI: Ketika Film Indie Bertarung di Pasar Mainstream”, ditulis oleh Arinta Agustina Hamid. Menceritakan bagaimana SITI yang mengusung spirit independen, lebih populer dengan sebutan film indie. Mencoba mematahkan stigma bahwa film indie sulit bahkan tidak akan pernah memasuki pasar mainstream. Strategi dan format pemasaran film SITI dikupas oleh penulis untuk memahami bagaimana SITI bisa bermain di pasar mainstream dan meraih banyak penghargaan baik di dalam dan luar negeri. Penulis memaparkan bahwa film ini didistribusikan melalui kantong-kantong komunitas, bioskop alternatif, hingga festival. Pergerakan distribusi melalui jalur festival paling banyak ditempuh karena dinilai akan memberikan poin lebih terhadap karya mereka. Terbukti setelah film SITI melanglang buana di berbagai festival, berbagai tulisan yang mengulas baik dari juri, pengamat, kritikus film membawa perjalanan SITI masuk pasar mainstream.

Gaya penulisan yang mudah dimengerti juga tampak dalam tulisan teoritis di bagian pertama. Tulisan “Kesadaran Sebagai Subjek”, dibuka oleh M. Dwi Marianto yang mengeluhkan gersangnya jalan utama di kawasan Bantul, terutama semenjak Pemda Bantul menginstruksikan penebangan pepohonan di sepanjang jalan. Dalam tulisan ini, M. Dwi Marianto menyampaikan bahwa seseorang yang bermental subjek adalah orang yang berani memimpikan sesuatu dan berusaha mewujudkannya. Penulis kemudian mengkritik mental “wis ngene wae ra papa” (sudah begini saja tidak apa-apa) yang terjadi di aktivitas pameran membuat penyelenggara kurang memperhatikan perbaikan hal-hal kecil yang kerap terjadi seperti pengunjung yang merokok di dekat karya, sound system yang baik tidak disediakan, orang-orang yang seenaknya berbicara dan bergurau saat sambutan yang seharusnya suasana hening dan sebagainya. Di bidang penciptaan, pengkajian, dan tata kelola seni seseorang yang bermental subjek adalah seorang pelaku yang berani merencanakan, mencari upaya dan jalan untuk merealisasikan hal yang digagas.

Secara keseluruhan buku ini cukup memberikan gambaran awal kajian teori dan praktik tata kelola seni, sekaligus “berita” tentang tren pemikiran manajemen seni. Buku ini bisa membantu mahasiswa, pegiat, pecinta, dan segala pilar yang berada di ruang seni-budaya, sosial, manajemen, komunikasi, hingga permuseuman. Mengenali tata kelola seni berarti juga mengenali “medan tempur” dunia kesenian.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#sorotanpustaka Januari-Februari 2018

Oleh: Santosa

Dalam dua bulan ini perpustakaan IVAA berbenah, melakukan penataan kembali, membuat sign system dan merapikan koleksi agar semakin mudah dan cepat ditemukan. Tiga orang kawan magang membantu dalam proses entri data ke dalam Senayan Library Management System (SLIMS)  dan meletakkan buku sesuai dengan kode rak-nya masing-masing. Sedangkan publik, yang mengakses koleksi pustaka memiliki kecenderungannya, Beberapa koleksi yang banyak diakses dalam dua bulan ini diantaranya ialah referensi seputar fotografi, film, teori dan sejarah seni, biografi seniman terutama Affandi.  Ada juga yang membaca ataupun meminjam dengan topik – topik tertentu, umumnya sebagai bahan penulisan skripsi hingga tesis. Topik mengenai Desember hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) masih banyak dicari. Dengan tinjauan-tinjauan buku serta katalog yang melingkupinya seperti, Biennnale Jakarta, Outlet: Peta Seni Rupa Yogyakarta, Sejarah Seni Rupa Indonesia, Lekra Tak Membakar Buku, Tuan Tanah Kawin Muda. Topik lain yang berkenaan dengan mural, yang dikaji antara lain Katalog Mural Sama Sama, Mural Rasa Jogja, Kode Art Project, buku tentang ruang kota, Jalan Seni Jalanan Yogyakarta, dan  beberapa skripsi berkenaan dengan mural dan pertarungan  seni di ruang publik.

Untuk tambahan pustaka kali ini berdasar jenis terdapat 15 Buku, 3 Jurnal, 25 Majalah dan 55 Katalog. Sedangkan berdasar subyek terdapat Performance Art, Film, Musik, Ilmu Sosial, Seni Rupa. Dalam tambahan pustaka baru ada 3 yang kita tampilkan ulasannya di sini, pertama “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, kedua buku kumpulan tulisan “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968 – 2017”. Kemudian yang ketiga adalah “Journal Southeast Of Now Directions in Contemporary and Modern Art In Asia” No 1 tahun 2017. Khusus untuk buku ketiga sorotan ditulis dalam bahasa Inggris oleh kontributor Angela Wittwer.

Oleh: Santosa, Eka Chintya Putri, dan Angela Wittwer

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017

Penulis; Bambang Bujono
Editor: Ardi Yunanto
Esai pengantar: Hendro Wiyanto
Peneliti dan pengarsip: Berto Tukan
Editor bahasa: Ninus D. Andarnuswari
Desain: Andang Kelana
Diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale
Cetakan pertama, November 2017
Tebal: xxxii + 576 hlm; 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santosa

“Melampaui Citra dan Ingatan” adalah kumpulan tulisan Bambang Boejono dari berbagai media massa, buku, katalog ataupun makalah dirangkum dan diklasifikasikan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan seni rupa tahun 1968 hingga 2017, total 432 tulisan Bambang Boejono terkumpul hingga Oktober 2017. Terseleksi 101 tulisan yang kemudian dibagi dalam lima bab, disajikan dalam buku setebal dari 576 halaman. Tulisan-tulisan dalam buku ini disusun secara diakronik dan diberi kerangka bab sebagai bagian dari pembingkaian esai.

Bab pertama membicarakan peristiwa seni rupa selama lebih dari empat dekade- khususnya di Jakarta- diawali apresiasi lukisan Affandi dengan revolusi bentuk dan penemuan teknik sebagai bagian dari seni lukis modern. Pembaca juga disuguhi cara analisis, telaah karya dengan beberapa contoh pelukis dengan sapuan yang khas seperti Srihadi Sudarsono, Fadjar Sidik, dan Nazar di Pameran Seni Lukis Indonesia 1972.

Bab kedua mencermati karya pameran dan seniman secara urut. Mengenali sosok yang berpengaruh dalam sejarah seni rupa, dari pameran kelompok, pameran tunggal dan beberapa tonggak perjalanan seni rupa seperti Pameran Besar Seni Lukis Indonesia, Biennale Jakarta, momentum yang disebut melahirkan Seni Lukis Modern, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), hingga Seni Rupa Kontemporer.

Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini menggambarkan landskap sejarah seni rupa, khususnya di Jakarta sejak Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi pusat seni rupa di Jakarta. Perkembangannya mulai dari sejak masih didominasi lukisan dan patung, sampai muncul objek instalasi, video art hingga new media art. Juga perjalanan pameran yang dulunya dikerjakan secara mandiri oleh seniman dan galeri, hingga kini populer profesi kurator sebagai pengawal sebuah pameran.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)

Judul Buku : Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)
Penulis : Aiko Kurasawa, Ajip Rosidi, Akba Yumni, Bonnie Triyana, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale
Penerbit : Forum Lenteng
Tebal : xxiv + 112
Ukuran : 14,8×21 cm

Oleh: Eka Chintya Putri 

Sebuah memoar seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfilman Indonesia, dengan buah karyanya yaitu Sinematek Indonesia. Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)” adalah buku yang menceritakan Misbach Yusa Biran, tokoh yang memutuskan berhenti sebagai sutradara dan memilih menjadi pengarsip film.

Misbach Yusa Biran, lahir di Rangkasbitung 11 September 1933. Saat di bangku sekolah, Misbach sudah mempunyai jiwa kesenimanan. Banyak tokoh kebudayaan Indonesia yang sudah Misbach jumpai, yang kemudian mendorongnya untuk menghasilkan beberapa karya dan masuk di majalah Merdeka. Tahun 1952, Misbach yang kala itu masih SMA berusaha masuk dunia film. Usaha yang ia lakukan sendiri dan dianggapnya sebagai sesuatu yang agak nekat. Tekad Misbach tidak pernah padam untuk dapat terjun ke dunia film. Dorongan Misbach di dunia film, banyak dilatari oleh film Pulang karya Basuki Effendi. Pekerjaan pertama Misbach di dunia yaitu pencatat skrip pada film Nya’ Abbas Akup, berjudul Heboh (1954).

Menurut pemikiran Misbach, Sinematek Indonesia (SI) menjadi pusat pengarsipan film pertama sekaligus terbesar di Asia Tenggara. SI tidak bisa dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak bersejarah, namun sebagai ruang pelestarian sejarah dan film Indonesia. Karena sejarah jika tidak dikelola secara baik, situasinya memburuk dan mengancam sejarah itu sendiri. SI sendiri merupakan lembaga ilmiah yang bergerak dalam kegiatan pengarsipan film, dengan cara dokumentasi, perpustakaan dan penelitian. Buku ini memiliki 2 sudut pandang dari generasi yang berbeda. Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana cara memaknai arsip dan gagasan film Indonesia. Dari hal tersebut didapat sebuah benturan dan kolaborasi dengan mengkonstuksikan masalah, kemudian menafsir catatan sejarah untuk kemungkinan yang terjadi dimasa kini. Sebagai kaum terpelajar, diharapkan generasi muda dapat melanjutkan cita-cita Misbach terhadap Sinematek Indonesia. Sekaligus menjadikan Sinematek sebagai tempat belajar menghasilkan karya-karya bermutu, agar dapat memberikan kontribusi positif khususnya bagi perfilman.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[Sorotan Pustaka] Journal Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia

by: Angela Wittwer (Peserta Magang IVAA)

Discomfort in the framework of regionalism forms the theme of the first volume of “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia”, a scholarly journal on art and visual culture. “What comfort might there be in discomfort? Might the sensations of being at ease and ill at ease—for the scholar, the artist, the curator, the reader—be as inextricable as is history from historiography, as the “southeast” from the “north” and the “west”, as the “now” from the past, and the yet to be?,” the editorial collective asks in the editorial. Addressing these questions, the publication offers a range of perspectives informed by recent discourses of the art of the region referred to as Southeast Asia. Its contributing writers and researchers engage a particular focus on a regional context or artist/s, their analysis informed by a historical approach.

The topics discussed in the issue include a queer and postnational “Thainess” in contemporary Thai art (Brian Curtin), the notion of a “third avant-garde” in Southeast Asia that unshackles the Euro-American concept of “avant-garde” (Leonor Veiga), or artistic responses to recent street protests in Kuala Lumpur (Fiona Lee), among others. Two authors focus on the context of Indonesian Modern Art:

Brigitta Isabella from KUNCI Cultural Studies Center and member of the journal’s editorial collective provides a translation of the text “Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Akan Kami Bawa” (“We Know Where We Will Be Taking Indonesian Art”) by Indonesian artist, writer and activist S. Sudjojono. The text dated from 1946 marks a crucial moment in the self-definition of Indonesian Modern Art during Indonesia’s struggle for independence. “About the future of Indonesian art, we as Indonesians are quite capable of deciding for ourselves. […] If the Dutch writer […] wishes to interfere with this matter, we do not need them to meddle in our affairs. They have never really proven to be competent in this matter for the past 350 years,” Sudjojono flamingly writes.

Australian scholar and curator Matt Cox contributes an article on “The Painting of Prostitutes in Indonesian Modern Art”, focusing on works by S. Sudjojono, Otto Djaya and Mohammed Hadi. Cox describes their paintings depicturing so-called “base” women, as a site of self-primitivising. His captivating observation: Even though these paintings disrupt both elite Javanese and Dutch bourgeois sensibilities, they reinforce the myth of the heroic and authentic anti-colonial modern artist. As such, the paintings stand both for discomfort and the search for an alternative male subjectivity, as well as for the re-assuring desire for the untamed other.

In the journal, Matt Cox also provides a translation of the “Untitled Letter to Editor”, another resonating text for today’s artistic practice by S. Sudjojono, written in fragmentary manner in 1942. The contributions by Cox and Isabella can be seen as inquiries into anxieties und potentials regarding societal change in Indonesia observed in reference to key figures in Indonesian Modern Art. They also open a broader reception and discussion: Both texts authored by S. Sudjojono were previously unavailable in English.

((Additional detail))

The journal “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia” is published online and in print twice yearly. The published articles are selected on the basis of a call for papers on a different theme for each issue.

Issue: Volume 1, Number 2, October 2017
Title : Into the un/comfort zone
Editorial Collective: Isabel Ching, Brigitta Isabella, Yvonne Low, Roger Nelson, Vuth Lyno, Thanavi Chotpradit, Eileen Legaspi-Ramirez, Vera Mey, Simon Soon
Authors: Yin Ker, Matt Cox, Fiona Lee, Leonor Veiga, Brian Curtin, S. Sudjojono, Brigitta Isabella, Clare Veal, Fiona Amundsen
Publisher: NUS Press Pte Ltd, Singapore
Language: English
ISSN: 2424-9947
E-ISSN: 2425-0147

Download free digital issue: https://muse.jhu.edu/issue/37275

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#Sorotan Pustaka September-Desember 2017

Judul Buku: Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru sampai Medayu Agung
Penulis: Heru Kridianto (ed.)
Penerbit: PT. Wastu Lanas Grafika
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: x + 258
Ukuran: 16,5 x 21,5 cm

Cerita atas peristiwa, tokoh yang berhubungan dengannya atau rekaman tentang pengalaman hidupnya yang bisa menjelma menjadi pelurusan sejarah ataupun sebagai sejarah, penting bagi sebuah negeri. Hal inilah yang tampak pada Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung.

Oei Hiem Hwie Lahir 26 November 1935 walau dalam surat dokumentasi tertulis 26 Nop 1938, dilahirkan di Malang, Jawa Timur. Indonesia adalah negara dan kebangsaan yang diperolehnya secara susah payah dan getir. Oei Hiem Hwie memilih menjadi orang Indonesia meskipun ia adalah putra dari seorang papa kelahiran Nan An, Hokkian, Tiongkok.

Kenangan masa kanak-kanaknya di Kota Malang ketika zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Menjalani zaman ini, bukan perkara mudah bagi seorang yang berasal dari kaum ‘minoritas’ Tionghoa. Kisah-kisah ini mengawali bagian pertama buku tersebut.

Bagian kedua memoar, Hwie yang sudah remaja mulai tumbuh kesadaran politiknya. Ia masuk ke dalam organisasi Baperki dan PPI (1965). Dua organisasi tersebut menjadi ‘rumah’ sekaligus alat untuk mewujudkan isi kepalanya tentang perjuangan menghilangkan diskriminasi, serta bagaimana berintegrasi dengan rakyat lainnya.

Oei Hiem Hwei juga sempat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Aktivitasnya  sebagai wartawan Trompet Masjarakat terhenti berbarengan dengan pecahnya gerakan 1 Oktober 1965. Wartawan-wartawan pengurus PWI pun dipecat dan ditangkap dengan tuduhan sebagai pendukung G30S.

Tanggal 24 November 1965, Hwie ditangkap tentara dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan wartawan Trompet Masjarakat yang berhaluan Soekarnois. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu. 12 Januari 1966, ia dipindah ke Penjara Lowak waru, Malang, Masuk Blok 10-11. Selama 1970-1978 ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Di pembuangan dan penjara ini, ia dipertemukan dengan Pramoedya Ananta Toer. Di masa akhir hukumannya, ia bertemu dengan Haji Masagung dan bekerja di perusahaannya setelah bebas.

Kita bisa belajar dari Pak Hwie bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana menjalani hidup setelah dibebaskan dari penahanan tanpa pengadilan di Pulau Buru, membangun kembali kehidupan pribadi dan sosialnya, serta bagaimana Pak Hwie berkontribusi pada pembangunan untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Satu di antara upaya-upayanya adalah mendirikan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Judul Buku: Film, Ideologi, dan Militer
Penulis: Budi Irawanto
Penerbit: Warning Books & Jalan Baru
Cetakan: Kedua, Juli 2017
Tebal: xxxiii + 266
Ukuran: 13×19 Cm

Buku ini berisi kajian semiotik atas tiga ‘film sejarah’, yakni Enam Djam di Jogja (1951) yang diproduksi pada masa Orde Lama, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar yang diproduksi di masa Orde Baru. Dalam bab awal buku ini, banyak mengulik teori-teori penelitian, metode ataupun cara pandang menggunakan kajian semiotik atas film, khususnya di Indonesia. Penulis juga mengulas teori film dari perspektif substansi film, yaitu film tidak lagi dimaknai sekadar sebagai karya seni, tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi masa.

Buku ini menuturkan bahwa persebaran film pada 1900 dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Industri film Barat itu kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia pada 1920-an. Sementara pihak yang berwenang melakukan sensor atas film yang masuk ataupun yang diproduksi di Indonesia diatur oleh Belanda. Sistem sensor buatan penjajah ini bahkan dipakai sampai Indonesia merdeka.

Masa-masa awal perkembangan perfilman Indonesia banyak diproduksi oleh etnis Cina. Pada perkembangannya, terutama awal 1960, dua organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada partai politik, memainkan peran penting dalam perjuangan dan ketegangan di dunia perfilman Indonesia. Yaitu antara LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

Melalui film-film yang diklaim oleh penguasa sebagai film sejarah, keunggulan militer atas sipil sengaja diproduksi. Tiga film sejarah di atas dengan gamblang merepresantasikan keunggulan modus perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh militer dibandingkan dengan modus perjuangan diplomasi yang dilakukan elit politik sipil.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.