Tag Archives: sorotanpustaka

Bersama Dullah, Melihat Bung Karno dari Sudut Pandang yang Lain

Judul : BUNG KARNO Pemimpin, Presiden, Seniman
Penulis : Dullah
Editor : Mike Susanto
Penerbit : Museum Dullah
Tahun Terbit : 2019
Resensi Oleh : Ganesha Baja Utama

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dimuat di harian Minggu Merdeka, yang mana merupakan ingatan dan catatan ketika Dullah tinggal di Istana. Catatan-catatan tersebut berisi banyak hal yang apabila dibaca akan memunculkan sudut pandang, imajinasi, fantasi lain mengenai kehidupan seorang presiden, kehidupan pribadi seorang Dullah, dan kehidupan yang terjadi di Istana pada masa itu. Dullah sendiri adalah seorang pelukis yang berperan penting dalam dunia seni rupa di Indonesia. 

Buku ini tidak hanya menyoroti perihal seni. Hal-hal kecil lain yang ternyata merupakan peristiwa penting, seperti keseharian Bung Karno dengan anak-anaknya, Bung Karno dalam menyiapkan pidatonya, kisah cinta, dan bahkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Bung Karno dibahas dalam buku ini. Membaca buku ini akan membawa seseorang seolah terjun untuk berfantasi dan membayangkan apa yang dialami Dullah pada saat itu.

Catatan-catatan ini menjadi sebuah warisan karya yang penting bukan hanya untuk dunia seni, melainkan juga untuk sejarah bangsa, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri. Bukan semata-mata tulisan yang dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah buku, kumpulan tulisan ini menjadi jembatan penting bagi kita dalam memahami apa yang telah dilakukan oleh Dullah selain sebagai ahli gambar. Disertai dengan sejumlah foto keterangan terkait hal yang diceritakan dalam tulisan tersebut, membuat saya mudah untuk membayangkan dan seolah mampu menarik mundur waktu, pergi ke situasi di saat foto-foto itu diambil. 

Disebutkan bahwa kumpulan tulisan ini merupakan catatan-catatan selama satu dekade Bung Karno, yaitu pada 1950-1960. Rangkaian catatan yang juga bisa dikatakan sebagai bentuk romantisme seorang Dullah kepada Istrinya. “Ibune Kenung”, begitu panggilan romantis Dullah kepada istrinya dalam catatan-catatan di buku ini. Dullah melukis Fatimah atau Ibune Kenung secara simultan sepanjang waktu, dan benar saja dalam lukisan Dullah tidak ada model yang sering dilukis terkecuali istrinya sendiri. Terlepas dari hubungan antara Dullah dengan Bung Karno ataupun dengan istrinya, buku ini memberi keterangan bahwa sebenarnya hanya terdapat 59 artikel. Bahwa terdapat kekeliruan penomoran oleh redaksi Harian Merdeka pada artikel nomor 23 yang sebenarnya tidak ada. Selain itu judul-judul yang ada pada setiap artikel di buku ini sebenarnya juga tidak ada. Judul-judul ini diberikan digunakan sebagai penanda apa yang akan dibaca oleh pembaca pada setiap artikel.

Setiap catatan benar-benar menggambarkan bagaimana suatu hubungan terjalin. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara Dullah dan Bung Karno. Pada beberapa artikel Dullah menggambarkan bagaimana dirinya bisa menjadi akrab dengan presiden pertama Indonesia ini. Dullah digambarkan seperti bayangan seorang Sukarno. Bagaimana tidak, di setiap catatan Dullah selalu menceritakan bagaimana dirinya diajak Sukarno bepergian, melukis, menata panggung pentas 17-an, dan banyak kegiatan yang melibatkannya. Setiap pagi seniman besar ini menemani Bung Karno berolahraga, jalan kaki mengelilingi istana. Hubungan ini membuat Dullah dekat dengan keluarga Bung Karno serta paham betul bagaimana si presiden memiliki jiwa seni.

Hal menarik lainnya bagi saya ketika membaca buku ini adalah bahwa Dullah tidak hanya menceritakan tentang Bung Karno, istana, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Dullah juga selalu memberikan gambaran bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang Bung Karno ketika mengunjungi daerah-daerah. Catatan-catatan yang telah dituliskan dengan lengkap oleh Dullah ini menjadi tulisan yang layak untuk dibaca dalam rangka memahami Bung Karno dari sudut pandang yang lain.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Menjelajah Relasi: Medium dengan Persentuhan Problematika Seni Rupa Era Kontemporer

 Judul : Relasi dan Ekspansi Medium Seni Rupa
Penulis : Para staf pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB
Penerbit : Direktorat Pengembangan Seni Rupa, ITB
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun : 2018
Resensi oleh : Prima Abadi Sulistyo

Memahami dan membaca seni rupa kiranya juga tak hanya menyoal karya seni rupa yang berdiri sendiri. Membaca seni rupa juga melibatkan persoalan relasi medium. Rizki A. Zaelani, dalam tulisannya mengutip gagasan Achille Bonito Olivia, “Tidak ada kesadaran intelektual terhadap seni”. Tentunya ungkapan tadi ingin menjelaskan adanya sikap ragu bahwa seni mampu merumuskan maknanya secara menyeluruh. Rizki pun mengungkapkan, istilah “medium” bukan hanya sebatas permasalahan bahan/ material seni rupa, tapi lebih soal makna (ekspresi) seni rupa itu sendiri. 

Buku ini seolah dihadirkan karena selama ini peristiwa seni cenderung dipandang sebagai cipta seni, hasil akhir/ produk dari seorang seniman. Buku ini hadir sebagai salah satu alternatif; soal bagaimana untuk meningkatkan dan memahami proses apresiasi yang mempunyai makna, diperlukan perangkat pengetahuan yang memadai. Sebagai bagian proses pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya seni oleh apresiatornya, yaitu pengetahuan seni (art knowledge).

Terbit pada 2018, buku ini digarap oleh staf pengajar perwakilan studio yang ada di Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Ditulis oleh 12 penulis yang secara garis besar bicara dalam ranah medium seni rupa, macam-macam seni rupa dan kajiannya, sejarah seni rupa, refleksi seni rupa Indonesia, serta seni rupa kontemporer. Berterbalkan 322 halaman, buku ini dibagi ke dalam beberapa sub tema yang mereka tulis dan kembangkan dari pemikiran mereka.

Tulisan pertama oleh A. Rikrik Kusmara membahas tentang medium seni rupa: konsep, struktur dan perkembangannya. Sedikit banyak membahas tentang fungsi medium, medium dan estetika, serta tipologi medium. Rikrik membagi tipologi medium seni rupa ini ke dalam perspektif modern dan tradisional. Secara deskriptif-naratif ia  juga menjelaskan macam-macam medium seni rupa mulai dari drawing, seni lukis, patung, seni media baru, mixed media, fotografi, video art, sampai seni instalasi.

Di tulisan selanjutnya Didik Sayahdikumullah membahas soal mooi indie dan seni lukis bentang alam. Ia menuliskan bagaimana sejarah seni Indonesia seakan beranggapan bahwa relasi antar manusia dan alam sering dikategorikan sebagai lukisan bentang alam atau mooi indie. Hal ini terasa ketika para pemikir Indonesia dalam menggambarkan “beauty” selalu sebagai fenomena yang merujuk pada seni rupa barat. Fenomena lukisan mooi indie dianggap sebagai sebuah kedangkalan pelukis barat dalam memahami realitas kehidupan sehari-hari negeri tropis ini. Dalam perbedaan cara pandang memahami mooi indie inilah yang kemudian seolah mempresentasikan awal mula konflik estetik yang dipertentangkan oleh sebagian pelukis indonesia. Didik mencoba menelaah dari segi sejarah bagaimana perkembangan lukisan bentang alam ala eropa di masa East India Company, yang selanjutnya menimbulkan pemaknaan dan terminologi lukisan mooi indie di negeri jajahan Belanda. Didik juga membahas ruang lingkup lukisan bentang alam dan mooi indie, serta kemunculan mooi-scape pasca lukisan bentang alam. Tulisan ini kemudian disusul oleh Bambang Ernawan yang mengulas seputar seni lukis abstrak. Dia lebih bercerita soal pengalaman pribadinya yang empiris ketika mencoba melukis lukisan abstrak.

Lain lagi dengan Willy Himawan, ia mencoba mengejawantahkan topik pilar kultural dalam seni lukis Indonesia. Diawali dengan tulisan kunci dari Sanento Yuliman yang berjudul “Seni Lukis Indonesia: persoalan-persoalannya, dulu dan sekarang”, Willy mencoba mendedah seni lukis dari ranah tradisi dan kultur suatu wilayah, semisal seni lukis diaspora Bali. Ia juga menambahkan terkait seni lukis (yang) kultural, yang menurut hemat saya berarti bahwa seni lukis berposisi sebagai sebuah hal yang dinamis dan aplikatif. Seni lukis juga menjadi bagian kultural (relief di candi) dan bagian modern dalam perhelatan di ruang seni rupa macam ARTJOG.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Seni dan Ruang Publik, Budi Adi Nugroho mencoba mengejawantahkan persoalan seni di ruang publik sebagai seni yang lahir direncanakan dan diproduksi untuk dimiliki oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan gagasannya dengan konsep piramida terbalik. Awalnya ia menjelaskan soal sejarah seni dan ruang publik. Kemudian ia menyebutkan macam-macam tipologi seni ruang publik. Melalui pengambilan contoh general genealogi seni ruang publik di Indonesia, Budi kemudian membahas genealogi seni ruang publik di Bandung sebagai salah satu studi kasus seni dan ruang publik. 

Pada tulisan selanjutnya, Setiawan Sabana melalui Seni Grafis di Indonesia dan Tantangannya mencoba menelaah definisi seni grafis dan irisannya dengan cabang seni rupa lainnya. Setiawan Sabana juga mengambil banyak studi seni grafis yang berada di Indonesia. Seni keramik kontemporer juga tak luput dari pembahasan. Lalu Nurdian Ichsan mencoba merunut perkembangan seni keramik dari paradigma craft, paradigma seni modern, lalu paradigma seni kontemporer. Dalam tulisannya yang lain ia juga ingin bicara soal Refleksi Kritis Seni Rupa Kontemporer di Indonesia pada 1990-an. Dilanjutkan oleh Asmudjo J. Irianto dengan judul Fotografi Seni: Modern, Postmodern, Kontemporer yang mencoba menjelaskan bagaimana fotografi berkembang dan menjadi sebuah pertanyaan. Soal bagaimana akhirnya peran dan posisi fotografi di dalam perkembangan seni rupa dewasa ini. 

Tisna Sanjaya dengan tulisannya yang berjudul Imah Budaya (IBU) Cigondewah membahas riset seni atau artistic research yang acap kali sering dianggap oleh seniman sebagai bagian yang jarang dibahas dan diungkapkan. Melalui studi kasus riset seni budaya (IBU) Cigondewah, ia mencoba menjelaskan bagaimana pada akhirnya ,melalui riset, seni juga bisa membuat sebuah alternatif penciptaan dan solusi permasalahan lingkungan hidup. Hemat saya, hal ini difokuskan pada revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui seni lingkungan. Senada dengan Tisna Sanjaya yang berkenaan dengan riset seni berbasis lingkungan, Muksin Md memilih tema unsur-unsur tradisi sebagai inspirasi. Muksin mengatakan di dalam seni rupa kontemporer, pemanfaatan unsur-unsur tradisi juga bisa diolah. Sebut saja unsur-unsur tradisi seperti material/ benda tradisi (lokal), kesenian maupun budaya dan tema tema di dalamnya.

Setiawan Sabana melalui Refleksi Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer ingin memberikan tanggapan atas situasi dan perkembangan “era ekonomi” ASEAN yang ditandai dengan kegiatan bersama dan bebas dalam bidang perdagangan (AFTA). Adapun dampak dari kebijakan itu juga berpengaruh pada dimensi seni maupun budaya yang sangat terkait dengan aktivitas perdagangan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh beliau. Bahwa seni itu lebih merujuk kepada nilai batin pada diri manusia, sedangkan perdagangan sebaliknya. Ia menggambarkan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan budaya dengan ciri-ciri yang hampir sama. Ia mencoba menjelaskan secara singkat tentang kebangkitan kebudayaan Asia Tenggara yang juga terjadi dalam dunia seni rupa Asia Tenggara. Pada poin terakhir kemudian dituliskan mengenai refleksi dalam pencarian nilai (spiritualitas) dalam memahami ekspresi seni rupa kiwari ini.

Pada sub tema lainnya, Dadang Sudrajat menulis soal spiritualitas dalam seni. Ia beranggapan bahwa seniman adalah juga penempuh jalan spiritual, penempuh laku Suluk. Dengan contoh bagan, Dadang mencoba menghubungkan seni, mistisisme, dan keindahan. Penjelasan spiritual dan hubungan dengan salah satu sisi agama juga dijelaskan olehnya dalam memahami spiritualitas seni dan hubungannya dengan individu yang bersifat personal.

Tulisan terakhir dari Rizki A. Zaelani dengan judul yang menarik perhatian, Melihat dengan Ibarat. Dengan pendekatan mistisisme Islam/ tasawuf, Rizki mengatakan bahwa “melihat dengan ibarat” pada prakteknya bukan hanya persoalan melihat (seeing). Lebih dari itu, ia juga soal mengingat (remembering, remembrance) dengan Tuhan sebagai pusat ingatannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

SOROTAN PUSTAKA | November-Desember 2019

Sejauh ini koleksi perpustakaan IVAA bertambah begitu signifikan, yakni sebanyak 1823 koleksi. Dari koleksi-koleksi tersebut, 176 buku adalah hibah dari Daniel Viko; 879 komik dari Akademi Samali; 134 koleksi dari KUNCI Study Forum & Collective, dan sisanya berasal dari pembelian buku, kunjungan pameran, dan anjang sana ke beberapa komunitas seni dan budaya di beberapa lokasi. 

Pengunjung perpustakaan masih terdiri dari mahasiswa, peneliti dan kurator. Mereka mengakses koleksi perpustakaan sebanyak 316 pustaka (174 buku literatur, 107 katalog, dan sisanya 35 koleksi seperti majalah, makalah dan skripsi/ tesis). 

Selain peminjaman reguler, beberapa koleksi perpustakaan IVAA yang terdiri dari buku, katalog, kliping, hingga majalah juga digunakan sebagai materi resource room pameran seni rupa Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019, Biennale Jogja Equator #5 2019 untuk materi dengan tema seputar gender, komunitas, dan aktivisme di kawasan Asia Tenggara. Selain dua kegiatan itu, pameran tunggal Ugo Untoro juga menggunakan khazanah arsip IVAA tentang Ugo Untoro. Terdiri dari 60 lembar kliping, katalog, foto, dan DVD dokumentasi yang berkaitan dengan Ugo Untoro menjadi materi yang dikaji untuk memperkaya narasi pameran. 

Selanjutnya, di dalam edisi penutup tahun 2019 ini, ada 4 buku yang kami ulas, yaitu

Yogyakarta dalam Bingkai Kisah Ki Juru Taman

Judul : Mata Air, Air Mata Kota
Penulis : G. Budi Subanar
Penerbit : Abhiseka Dipantara & LogPustaka
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 181 
Resensi Oleh : Fika Khoirunnisa

Mata Air, Air Mata Kota berisi kisah manusia, kesederhanaan, perkembangan dan perubahan ritme hidup Kota Yogyakarta. Membacanya berarti melihat lebih jauh sendi-sendi kehidupan kota Yogyakarta yang terbagi menjadi dua dekade; tahun ‘70-an yang tersaji melalui pangkalan gerobak, industri batik, peristiwa ontran-ontran, kali code, hingga pasar sebagai pusat kehidupan, serta tahun ‘80-an ketika becak, gerobak, dan sepeda mulai terganti oleh truk dan mobil angkutan, juga taman yang mulai tergusur dan beralih fungsi menjadi pompa bensin.

Mengutip Benedict R.O’G Anderson, dalam bukunya yang berjudul Imagined Communities (1983), “Novel dilihat sebagai penubuhan naratif kesadaran berbangsa. Jika bangsa harus dipertimbangkan lebih sebagai ‘artefak budaya’ ketimbang suatu entitas politik, maka novel menjadi semacam jalur istimewa untuk menelusuri landasan budaya kebangsaan.” Sebuah novel dapat memuat berbagai macam kemungkinan alur yang mampu memadukan keragaman isi suatu bangsa, sedangkan narasi yang tersusun secara kronologis dapat menyajikan ‘pengalaman berbangsa’ masyarakat dengan berbagai keragaman latar belakangnya. Pengalaman tersebut yang hendak dibagikan penulis melalui timeline Kota Yogyakarta selama dua dekade.

  1. Budi Subanar memulai menulis sejarah Kota Yogyakarta melalui perspektif  hidup keluarga Pak Seto, seorang juru taman yang tinggal bersama ketiga anaknya serta istri yang merupakan seorang pembatik. Fase demi fase perkembangan Kota Yogyakarta telah dicitrakan melalui penguasaan bahasa, kekuatan gaya, serta imajinasi yang organik sehingga berhasil mentransformasikan cerita menjadi sebuah buku yang tidak hanya sederhana dan ringan, namun juga jujur. Kejujuran tersebut yang membuat citra revolusi yang disajikan menjadi meyakinkan. 

Dalam diskusi buku yang diadakan di Universitas Sanata Dharma, G. Budi Subanar selaku penulis mengatakan, “Tidak ada konflik dalam cerita ini, saya menulis hanya untuk membandingkan dan menggambarkan potret Jogja zaman dahulu, sehingga pembaca benar-benar akan merasakan suasana yang tidak dapat ditemukan pada zaman sekarang.” Dalam kesederhanaan visinya, Romo Banar menyajikan karya sastra yang memuat segala aspek revolusi, baik fisik maupun batin dan sosial. Buku ini merupakan sebuah bentuk aktualisasi dari kemampuan mengamati dan mengalami dari penulis yang kemudian dituangkan menjadi narasi-narasi kehidupan masyarakat Yogyakarta secara umum, seperti: perjuangan hidup kepala keluarga yang bekerja keras demi memenuhi kewajiban menafkahi keluarga, si sulung yang bersekolah dengan pekerjaan sampingan sebagai perantara di pasar hewan, peristiwa ontran-ontran yang berdampak pada lemahnya kondisi perekonomian masyarakat, hingga tergusurnya para bajingan dari taman yang mulai beralih fungsi menjadi bangunan pompa bensin. 

Tokoh rekaan dalam buku ini, masing-masing dengan caranya sendiri, telah ikut terlibat dalam perkembangan dan peralihan kultural Kota Yogyakarta selama dua dekade. Kerja keras orang tua demi menghidupi keluarga serta kesederhanaan hidup yang ditanamkan pada anak-anak sejak kecil, tidak lantas membuat cita-cita mereka sederhana. Mereka tetap berupaya untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi sehingga dapat terbebas dari kungkungan ketentuan garis hidup yang telah berlangsung turun-temurun. Potret keluarga Pak Seto adalah representasi dari kita semua. Kita dapat menemuinya di sudut-sudut kecil kota Jogja dan dalam kemegahan bangunan bintang lima sekalipun. Potret keluarga Pak Seto adalah representasi dari hal-hal yang kita usahakan dan upayakan untuk keadilan, kesetaraan, dan kebebasan.

Pada akhirnya perubahan zaman tidak terjadi secara serta merta, disadari atau tidak, direncanakan atau tidak, demikianlah yang terjadi pada Yogyakarta dan masyarakatnya. Dari situlah kita dapat memaknai revolusi sebagai sebuah proses yang utuh dan konkret dalam suatu fase kehidupan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Hidup sang Pemahat: Kiprah Harijadi serta Kontribusinya dalam SIM dan Sangsela 

Judul : Andesit untuk Bangsa
Penulis : Ireng Laras Sari
Penerbit : Pohon Cahaya
Tahun terbit : 2015
Tempat terbit : Yogyakarta
Halaman : 352 hlm
Resensi oleh : Firda Rihatusholihah

Andesit. Jenis batuan beku vulkanik ini dapat ditemukan di  Pegunungan Andes di sepanjang pantai barat Amerika Selatan. Batuan Andesit juga ditemukan di jalur gunung berapi di Indonesia. Dibanding jenis batuan lainnya, batu andesit seringkali ditemukan penggunaannya pada bangunan atau benda megalitik: punden berundak, sarkofagus, lumpang, dan lainnya. Ribuan tahun setelahnya, pada 1962-1964, sekelompok seniman dari Sanggar Selabinangun menggunakan batuan tersebut untuk mengukir relief yang saat ini berada di Hotel Indonesia. Harijadi, seorang pengamat cuaca-tentara pelajar-pelukis-pemahat yang menjadi pengurus sanggar turut terlibat dalam proyek tersebut.  

Berkat sang anak, yaitu Ireng Laras Sari, lika-liku kehidupan Harijadi sebagai pemuda, kepala keluarga, serta seniman kini bisa diketahui secara luas melalui buku yang disusun Ireng. Tetapi sebagai sebuah biografi, aspek yang ia masukkan terlalu luas sehingga perlu dipilah-pilah untuk menentukan aspek utama dalam review ini. Penulis memilih untuk mereview buku dengan melihat sisi kehidupan Harijadi sebagai seorang seniman pahat. Dimulai dari awal karir Harijadi sebagai pengamat cuaca, keterlibatannya dalam Seniman Indonesia Muda (SIM), mendirikan Sanggar Selabinangun (Sangsela), lalu tentang pesanan relief yang ia kerjakan bersama dengan seniman SIM juga Sangsela. Berikut kisahnya.

Selain sebagai pemahat, Harijadi juga seorang pelukis serta pernah menjalani profesi sebagai pengamat cuaca pada 1941 dan mendaftar sebagai tentara pelajar saat Agresi Militer II. Seorang multitalenta ini lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah pada 25 Juli 1919. Sedari muda ia dikenal sebagai pribadi yang kreatif juga memiliki beragam minat. Ia pertama kali menggeluti seni rupa, khususnya lukis, saat masih bekerja sebagai pengamat cuaca. Pada 1944 ia ikut mendirikan Seni Rupa Masyarakat, lalu pada 1946 berganti nama menjadi Seniman Indonesia Muda (SIM) yang bermarkas di Pekapalan, Alun-alun Utara, Yogyakarta. SIM di Yogyakarta dan Madiun kemudian menjadi cabang, sementara SIM Solo menjadi pusat. 

Keuangan SIM Yogya selama Agresi Militer I (1948) dan II (1949) tersendat karena tidak lagi mendapat pendanaan dari SIM Pusat. Hal itu juga berarti secara administrasi keduanya sudah terpisah. Walaupun kemudian SIM Yogya mendapat subsidi dari Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, kekayaan SIM Yogya, Solo, maupun Madiun dirampas oleh tentara Belanda seusai Agresi Militer. Sudjojono yang sebelumnya memimpin SIM Solo pindah ke Yogyakarta, menghidupkan kembali SIM Yogya bersama dengan Harijadi, Surono, Dullah, Ramli, Suromo, dan Hendrodjasmoro. Sudjojono kemudian ditetapkan sebagai ketua SIM pada 2 Februari 1950, dengan Harijadi sebagai bendahara. Sanggar SIM pun pindah Pekapalan ke Bangirejo Taman No. 20, seberang rumah Harijadi

Usai Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta resmi dibuka pada 1950, SIM berencana mendirikan sekolah seni swasta. Sayangnya, rencana tersebut tidak dapat direalisasikan. Walaupun demikian, SIM terbuka bagi siapapun yang ingin belajar di sanggar. Siswa-siswa SIM pula yang nantinya turut membantu pengerjaan pesanan relief pada 1957 di Bandara Kemayoran. 

Pada tahun yang sama seusai proyek relief Kemayoran, Harijadi dan Sumilah meninggalkan SIM. Diakui Harijadi bahwa ia tidak sepakat dengan Sudjojono yang saat itu menggerakkan para siswa SIM untuk membuat poster-poster politik. Ia pun mendirikan Sanggar Selabinangun (Sangsela) sekitar 1957-1958. Melalui sanggar yang baru Harijadi justru kebanjiran pesanan relief. Sangsela diminta untuk mengerjakan relief beton di bandara Adisucipto sejak Oktober 1958 hingga satu tahun berikutnya. Akan tetapi relief hanya dikerjakan sampai 70 % dari target yang ditentukan karena kekurangan dana. Dari memahat relief di bandara, Harijadi bersama seniman Sangsela memahat relief di Hotel Indonesia, Ambarukmo Palace Hotel, serta Samudra Beach Hotel selama kurun 1962-1965. Pasca peristiwa G30S, Sangsela tidak luput dari tuduhan keterlibatan. Meski pada akhirnya tidak terbukti, proyek relief di Bali Beach Hotel terkena imbasnya. Sesudah kucuran dana dihentikan, para seniman mengusahakan pendanaan swadaya walaupun terseok-seok. Akan tetapi pembuatan relief berjudul Indonesia yang akan datang dipaksa diakhiri dan Sangsela diperintah untuk meninggalkan barak di sekitar hotel. 

Harijadi tidak menghadapi dinamika dunia seni rupa dan seni pahat selama kurun 1950-an hingga 1960-an seorang diri. Ia bersama dengan istri keduanya, Sumilah, aktif mengurus kegiatan-kegiatan di SIM. Misalnya perihal rencana SIM untuk menggunakan kembali bangunan di Pekapalan, Sumilah menjadi “juru bicara” kepada pihak Keraton untuk memohon ijin. Keduanya juga kompak meninggalkan SIM sekitar 1957 lalu mendirikan Sanggar Selabinangun pada 1957-1958. Begitu pula saat Sangsela mengerjakan proyek pahatan relief, Sumilah turut menyertai Harijadi dalam pengerjaan proyek tersebut. 

Keistimewaan buku ini ialah bahwa Ireng tidak dengan dingin hanya bercerita mengenai sosok Harijadi sebagai seniman multitalenta, tetapi juga menceritakan Harijadi sebagai ayah dan suami pemarah yang tidak segan memaki anaknya. Barangkali karena ditulis oleh sang anak, biografi ini menangkap cerita-cerita pribadi yang tentu saja tidak banyak diketahui orang. Di sisi lain, sebagai sebuah buku, Andesit untuk Bangsa cukup menyulitkan pembaca karena ketiadaan daftar istilah juga indeks. Beberapa akronim seperti SIM, KBW, KBS, Sangsela juga istilah asing semisal glass in load, steleng, akan lebih mudah dicari artinya apabila ditempatkan dalam satu bagian khusus. Pada akhirnya, usaha Ireng mengumpulkan memori, arsip, dan wawancara guna menyusun Andesit untuk Bangsa setidaknya telah mengingatkan pembaca mengenai kiprah Harijadi sebagai seniman yang turut dibanggakan Sukarno. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Saya dan Tiga Venus: Monumen yang Abadi

Judul : Tiga Venus dan Tentang Seni yang Enggan Selesai
Penulis : Stanislaus Yangni
Penerbit : Penerbit Nyala
Tahun terbit : 2019
Halaman : 70
Ukuran : 12 cm x 19 cm
ISBN : 978-602-52504-7-7
Resensi oleh : Aisha Shifa Mutiyara

Pada suatu malam di ruang arsip IVAA, di tengah-tengah obrolan kami yang tentang apa saja itu, seorang teman seperjuangan magang sempat mengutarakan kegelisahannya terhadap beberapa karya seni kontemporer, terutama yang terkesan dibuat seadanya – dalam artian tanpa banyak sentuhan artistik – dari readymade objects namun memiliki konsep yang ‘luar biasa’. Karya-karya yang demikian dianggapnya telah mengaburkan batas antara kemalasan dan talenta, terutama karena wujud fisiknya yang minim nilai otentisitas. Menurutnya, ada tiga aspek yang harus dipenuhi oleh karya seni yang baik, yaitu skillfulness, statement, dan astonishment. Dengan demikian, seni kontemporer yang seolah menomorsatukan gagasan dan meniadakan pentingnya proses penciptaan itu hanya memenuhi aspek statement, sehingga lebih tepat disebut sebagai ekspresi kreativitas. Pada saat itu saya tidak menganggap persoalan itu sebagai suatu persoalan yang layak digelisahkan. ‘Asal gagasannya bisa dipertanggungjawabkan, sepertinya tidak masalah,’ begitu pikir saya, sebelum saya membaca Tiga Venus dan Tentang Seni yang Enggan Selesai.

Kegelisahan yang sama rupanya telah dirasakan Sudjojono sejak tahun 1970an. Karyanya yang berjudul Saya dan Tiga Venus tercipta sebagai tanggapan ketika aliran kontemporer mulai diamini di Indonesia, terutama oleh sekelompok seniman muda yang menamai dirinya GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru). Mereka menganggap praktik seni rupa para seniman tua terlalu modernis, terlalu terpaku pada pakem. Mereka menolak dikotomi “seni tinggi” dan “seni rendah” dan menciptakan dikotomi baru: pemisahan antara “tubuh” dan “jiwa”. Pemisahan ini mengesampingkan proses penciptaan, berlawanan dengan prinsip “jiwa ketok” Sudjojono. Karena keteguhannya pada prinsip ini, mereka juga menuduh Sudjojono sebagai pelukis yang “kembali pada mooi indie”. Mereka berkeyakinan bahwa kontemporer adalah solusi dari ‘kemunduran’ ini karena kontemporer seakan memberi kebebasan yang selama ini tidak mereka dapatkan dalam berkesenian. GSRB memang telah berhasil membuka sudut pandang baru dalam melihat karya seni dengan mengesampingkan “seni tinggi” dan “seni rendah”, namun ada beberapa kesalahan pemahaman yang membuat ‘pemberontakan’ ini dianggap “klenik” oleh Sudjojono.

Kesalahan pertama mereka adalah menganggap Sudjojono kembali pada mooi indie. Mooi indie adalah kelompok seniman realis-naturalis yang karyanya berupa pemandangan alam yang indah dipandang dan dapat memanjakan mata para turis asing yang berkunjung ke Indonesia. Karena hanya berfokus pada keindahan, maka para pelukis ini “cenderung memperhalus, memperindah, menjadikannya ideal”, hingga berakibat pada penghilangan objek yang dianggap mengganggu. Gaya lukisan seperti ini dianggap Sudjojono sebagai lukisan yang “sonder jiwa” karena konsep realis diterapkan hanya sebatas teknik melukis, dan karena yang dilukis adalah “yang dipikirkan”, bukan yang “dilihat” dan dirasakan. Realisme yang sesungguhnya menurut Sudjojono adalah yang berhasil menangkap suasana yang tidak terlihat mata. Tiap seniman pasti memiliki penangkapan yang berbeda terhadap suasana dan oleh sebab itu menghasilkan penggambaran atau ekspresi yang berbeda pula. Inilah yang disebut “jiwa ketok”, yaitu ketika jiwa seniman atau ekspresi dari penangkapan yang berbeda itu diwujudkan dalam lukisan. “Jiwa ketok” dalam lukisan Sudjojono dapat dilihat dari goresan kuasnya. Bertolak belakang dengan lukisan mooi indie yang cenderung terlihat sama, tidak ada ciri khasnya. Sudjojono tidak akan kembali pada mooi indie, karena dari awal mereka jauh berbeda.

Tuduhan GSRB terhadap Sudjojono menunjukkan ketidakpahaman (atau lebih tepatnya keacuhan) terhadap prinsip “jiwa ketok”. Sudjojono dengan tegas membedakan “tema” atau konsep dengan “proses kreasi yang berkaitan langsung dengan jiwa seniman”. Sedangkan dalam pemahaman kontemporer, semua bisa menjadi karya seni, bahkan barang sehari-hari yang dari awal sudah diciptakan. Proses penciptaan karya tidaklah penting selama ‘karya’ tersebut ada konsepnya. Oleh sebab itu, kontemporer yang mereka serukan malah menjadi “klenik”. Kontemporer seakan menjadi label sakti yang bisa mengubah apapun menjadi karya seni. 

Ini mungkin alasan yang tepat ketika mengatakan “kontemporer” itu klenik karena sekadar “mem-pas-kan” tema. Maka, “Klenik” dalam konteks ini bisa berarti karya seni yang terjebak pada tema, meniadakan cara.

Karya seni yang meniadakan cara akan menjadi karya yang mudah diproduksi ulang oleh siapapun dan di manapun. Contoh yang paling baru adalah karya kontemporer berupa pisang yang dilakban ke tembok yang harganya milyaran rupiah. Ketiadaan cara atau “jiwa ketok” memungkinkan karya tersebut untuk ‘direproduksi’ oleh para netizen yang gemas. Namun sebenarnya tanpa usaha para netizen pun, karya itu memang harus direproduksi karena pisangnya akan membusuk. Dilihat dari sudut pandang kontemporer, hal ini bukanlah masalah, karena peran seniman dalam karya itu memang sebatas pada konsepnya. Pisang dan lakban tidak dibuat oleh seniman itu sendiri – dia hanya ‘merakitnya’ menjadi sesuatu yang baru, menjadi karya seni. Oleh Sudjojono dalam Saya dan Tiga Venus, kontemporer yang seperti ini disimbolkan dengan Venus von Willendorf yang merupakan penanda zaman pra sejarah namun berdiri di atas buku yang berjudul “Kontemporer” dan kakinya terbungkus koran dengan tulisan “klenik”. Wujudnya usang dan mati. Ia digambarkan dengan tone yang gelap, opaque, dan di belakangnya terdapat sebatang pohon tanpa daun. Suasananya seperti di kuburan. 

Namun analisis Stanislaus Yangni terhadap Saya dan Tiga Venus tidak berhenti sampai di sini. Sudjojono tidak hanya mengkritik dan mengatakan bahwa kontemporer sebenarnya sudah lebih dulu mati. Dia juga menawarkan opsi pemahaman lain mengenai ‘kontemporer’ melalui figur Sudjojono, Rose, dan Venus de Milo yang digambarkan dengan warna yang hidup namun transparan, menyatu dengan latar. Lebih jauh, dapat juga dilihat bahwa figur Rose dan Venus de Milo memiliki pose yang hampir sama. Yangni juga menyebutkan bahwa ada cahaya yang “datang seperti dari kiri agak ke tengah,” sehingga mereka berdualah yang paling terang. Cahaya ini menggarisbawahi keberadaan zona yang tak terbedakan, atau dalam istilah Deleuze: “zone of indiscernibility”. Istilah ini digunakan untuk “menjelaskan pengalaman “menjadi”, becoming, yaitu antara yang mati dan hidup”, dalam lukisan ini adalah “antara manusia dan patung”. Venus de Milo dan Rose seakan “saling menjadi” atau “passing one another”. Mereka nampak seperti hantu yang berusaha memperlihatkan wujudnya, berusaha “ngetok”. Komitmen untuk “ngetok”, “menjadi”, atau “mem-figur” inilah yang menawarkan pemaknaan kontemporer yang sebenarnya. Yang lebih tepat dikatakan sebagai ‘kontemporer’ adalah ‘kemunculannya’, bukan “apa yang muncul”.

Lebih jauh lagi, dengan meminjam istilah Deleuze bahwa seni adalah “mendirikan monumen”, dan “monumen adalah pengalaman ngetok, becoming: melahirkan Figur”, Yangni menyimpulkan bahwa Saya dan Tiga Venus yang membicarakan tentang “realisme jiwa ketok” itu adalah “monumen dari yang sekarang, becoming-now”. Karena membicarakan tentang “realisme jiwa ketok” yang seharusnya selalu ada dalam karya seni, Saya dan Tiga Venus akan terus hadir selama manusia terus berkesenian. Terlebih lagi, karena Saya dan Tiga Venus telah mengingatkan kita yang dulu pernah “terlanjur salah kaprah dan percaya”.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Believing in a Different Tomorrow

Believing in a Different Tomorrow
Title : CURATING AFTER THE GLOBAL: ROADMAPS FOR THE PRESENT
Editor : Paul O’ Neill, Simon Sheikh, Lucy Steeds, Mick Wilson
Paperback : 544 pages
Publisher : The MIT Press (October 22, 2019)
Language : English
Reviewed by : Grady Trexler

Curating After the Global: Roadmaps for the Present is a recently published collection of essays reproduced from presentations at a symposium of the same name in 2017 in France. As Gerrie Van Noord, the managing editor, remarks at the end of this lengthy volume, “speaking at a conference is not the same as writing a text to be published,” and this proves to be both the book’s strength and weakness. On the one hand, as Van Noord points out, it provides a range of viewpoints and a snapshot of current discourse in the curatorial field; on the other hand, the book is dense, and difficult to read as an entire volume cover-to-cover. Furthermore, Curating offers no map between the various entries, except for grouping the essays into three different sections. In this review, I seek to merely provide a brief overview of each section, and mention the entries that I see as being particularly strong, as well as highlighting any themes that arise.

Section I is entitled “After the Global: Diagnoses of the Current Conjecture.” Contributions here deal with the meaning of “After the Global,” and in general provide a brief overview of the state of affairs in current decades with regards to globalization. Some essays mention curatorial theory and the art scene; others barely touch the topic. In general – and this holds throughout the whole anthology – contributions are stronger if they pick a specific event/ example and develop it throughout the whole essay.  

I was transfixed by Kristin Ross’ “The Seventh Wonder of the Zad,” which develops a theory of commune living as a way into a new, better internationalism. Ross takes as a case study the “zad,” a group of people inhabiting and working together on a group of farmlands and wetlands which are the target of a government project to create a new international airport. The zad, according to Ross, is a good example of the sort of communal living which is necessary in the face of “the global” – the act of staying as a political act. Ross’ contribution succeeds where others fail because it strikes the right balance between theoretical ideas about “After the Global” and the specific example of the zad (and related historical events.) I also enjoyed Qalandar Bux Memon’s “Zone of Being and Non-Being,” and Nkule Mabaso’s “Globaphobia,” which both deal with specific contemporary artists, mostly ignored by the “global art scene,” as examples of the kind of art that curators should be interested in. 

Section II, “After the Global: Exhibition Histories,” presents a series of entries about past exhibitions and their ramifications in an increasingly globalized world. This section is the most interesting and digestible. Every contribution is linked by a study of previous curatorial action, both good and bad. Lucy Steeds “Projeto Terra” tracks a single piece of art backwards through time and interrogates the legitimacy of the Biennale/ Triennale system in finding and defining “good” art. A few entries present positive or negative examples of past international art events. Grace Samboh’s “What Does the Elephant Remember? How Did the Ant Win?” examines Indonesia’s contemporary art scene and wonders if the state’s institutions provide an accessible and accurate look at art history, and whether or not artist-run spaces provide an adequate solution.

In the introduction to Section II, Steeds writes, “I don’t believe any of the contributors … would comfortably own the label ‘historian,’” but indeed, they have come together to challenge the current understanding of “Global Art History.” In this way, Section II provides the reader with a good mix of festivals and art events and what current art lovers and curators can take away from the past. 

“After the Global: Institutional Re-Positioning” is the final section of the anthology, Section III. It’s the culmination of everything else touched on previously in the book, and poses the question: what sort of better world can we imagine through curatorial theory? What sorts of changes need to take place in order to create a globally better art world? The entries ponder new forms of “global art”, as opposed to the traditional systems already in place. Hajnalka Somogyi presents the OFF-Biennale Budapest, now approaching its third iteration, which is entirely devoid of government funding – a rarity in Hungary. Marwa Arsanios and Alison Steeds discuss ways to move toward a more feminist international art system, specifically by discussing the work of “care” and asking who is doing the work that supports the international art system – mostly un(der)paid women. Paul-Emmanuel Odin discusses how la compagnie, a collective in Marseille, interacts with both the local neighborhood and international artists. 

Curating After the Global is a dense volume which still leaves many stones unturned, many voices unheard, many stories untold: the project of creating a better, more equitable, and more just global art system is an immense one. Curating instead holds value in its ability to provide alternate art histories and viewpoints, allowing the reader to more easily believe in a tomorrow other than the status quo. As Alison Green writes in Section III, “[Y]ou have to be able to imagine, and believe in, a future which is radically different.”

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Timurliar: Kesadaran atas Perubahan melalui Pameran

Judul : Timurliar, Serawung Kolektif: Unfine Art Exhibition Report  Book
Penyusun : Dwiki Nugroho Mukti
Penerbit : Serbukayu
Tahun terbit : 2019
Tempat terbit : Surabaya
Halaman : 210 hlm
Resensi oleh : Firda Rihatusholihah

Perubahan perilaku masyarakat turut dipengaruhi oleh perubahan lingkungan di sekitarnya. Misal, pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, pembangunan apartemen/ hotel di tengah kawasan pemukiman, menjamurnya kedai kopi, tercemarnya aliran sungai yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, serta perubahan lainnya. Akibat perubahan-perubahan tersebut, perilaku masyarakat dapat berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Contohnya ialah pergesaran perilaku masyarakat di Banyuwangi, bahwa pesatnya laju arus informasi memudahkan masyarakat untuk mencari dan membeli suatu barang, tetapi di sisi lain menyebabkan meningkatnya perilaku konsumtif. Fenomena-fenomena demikian diangkat menjadi tema pameran seni Timurliar, yaitu perubahan pada “folks” atau orang-orang, yang diinisiasi oleh komunitas seni Serbukayu di Surabaya, dari Januari hingga April 2019. Pameran tersebut diikuti oleh 13 kolektif maupun  komunitas seni lainnya dan diadakan di beberapa kota di Jawa Timur, yakni Malang, Banyuwangi, Pasuruan, Sidarjo, Pare, Lamongan, Kediri, Surabaya, Jember, dan terakhir Tuban. 

Persiapan dimulai pada bulan Januari. Selama sebulan penuh para seniman diberi kesempatan untuk melalukan pengamatan, salah satunya mengenai perubahan perilaku masyarakat di wilayah tempat tinggalnya hingga merealisasikannya dalam suatu karya. Kota Malang, melalui Kolekjos, menjadi tuan rumah pertama rangkaian pameran pada 9-11 Februari 2019. Para seniman yang terlibat dalam pameran di Malang sepakat untuk mengangkat isu pencemaran Sungai Brantas yang diwujudkan melalui medium yang cukup beragam, mulai dari video, resin, gabungan dari benda temuan, hingga simulator penampakan kondisi  sungai. Tur pameran ditutup di Tuban pada 20 Maret 2019. Berbeda dengan pameran di Malang, pameran yang diadakan oleh komunitas Tubgraff merespon situasi di Tuban melalui seni grafitti. Setelahnya, karya-karya yang telah dipamerkan di masing-masing kota kembali diperlihatkan dalam pameran utama Timurliar di Surabaya, 8-10 April 2019. 

Selain Kolekjos di Malang dan Tubgraff di Tuban, masih ada 11 kolektif seni lainnya yang juga mengadakan pameran di berbagai kota. Beberapa kolektif maupun komunitas secara lugas menyertakan isu-isu perubahan lingkungan dan perilaku masyarakat di wilayah mereka sebagai tema pameran. Misalnya seperti yang dilakukan kolektif Sesendang Rasa, Lamongan, dalam merespon gap generasi tua dan muda  terkait perkembangan teknologi digital dan seni. Ada pula Villa Art Space di Kediri yang menyoroti masalah-masalah yang bermunculan setelah beroperasinya pabrik rokok Gudang Garam. Termasuk di antaranya ialah penduduk sekitar yang terjangkit ISPA akibat polusi pabrik. Di sisi lain, Darjo Club dari Sidoarjo mengangkat masalah tata ruang kota, seperti perebutan ruang dan kemacetan.

Sebagai sebuah laporan kegiatan, buku ini cukup informatif. Meski demikian, tidak semua pameran membicarakan isu perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan. Misalnya seperti kolektif Kuas Patis dan Jare yang lebih mengangkat kesenian lokal yang sudah lama tidak digiatkan kembali. Dengan begitu, pameran Timurliar telah menjadi pembangkit kesadaran masyarakat. Tidak hanya sadar atas perubahan lingkungan, tetapi juga sadar terhadap kurangnya aktivitas kesenian di daerah masing-masing sehingga dibangkitkan kembali melalui pameran.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Kemurnian Lisan Tak Lepas dari Tulisan?

Judul : Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi Revisi)
Editor : Pudentia, MPSS.
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Cetakan pertama, Edisi Keempat
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 542
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati

Tradisi lisan berarti sebuah sistem wacana yang bukan aksara. Sehingga sebuah lisan identik dengan wacana yang diucapkan baik itu yang murni lisan maupun yang dari tulisan/ aksara. Demikian arti tradisi lisan menurut buku ini.

Buku yang memuat kumpulan metodologi berbagai pakar dalam mengkaji tradisi lisan ini terinisiasi dari terbitnya hasil penelitian seni tradisi lisan Nusantara delapan belas tahun yang lalu (1993) oleh Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Uraian yang disajikan terkesan bertentangan satu sama lain, tetapi hal tersebut justru membuktikan jika memang diskusi serta pengkajian tradisi lisan ini tidak akan pernah usai. 

Buku ini sudah empat kali diterbitkan, yakni dari 1998 hingga 2015. Semua informasi yang tertuang di dalam buku terbitan pertama, kedua, dan ketiga masih memiliki uraian informasi yang sama, hanya saja terdapat perbaikan beberapa kekurangan dan rata-rata pada kesalahan cetaknya. Tetapi di terbitan terkini, yakni terbitan keempat (2015), terdapat tambahan satu artikel karya Aone van Engelenhoven dari Universitas Leiden yang berjudul “Mengenai Falsafah Folklor: Tinjauan dan Usulan”.

Buku ini memiliki dua bagian. Bagian pertama meliputi bahan diskusi pada Pelatihan Peneliti muda ATL dan beberapa artikel dari lokakarya internasional Metodologi Kajian Tradisi Lisan yang diselenggarakan pada tahun yang berbeda yakni pertengahan 1998. Lalu, bagian kedua merupakan tambahan kumpulan tulisan multidisiplin dari para pakar berbagai bidang keilmuan yang tentunya membahas metodologi kajian tradisi lisan.

Tradisi lisan yang dikaji pun tak hanya meliputi tradisi dari beberapa suku di Indonesia saja misal Dayak dan Jawa, melainkan hingga Kelantan dan Siberia. Dari beberapa kajian tersebut bisa dimengerti bagaimana peran tradisi lisan dalam membentuk makna kelisanan tiap budaya di lain daerah yang bisa terlihat sama tetapi memiliki makna hingga rasa yang berbeda.

Buku ini mengajak kita memahami bagaimana tradisi lisan berlaku dan berjalan melalui kumpulan metodologi ilmiah hasil pengamatan para ahli. Salah satu pemahaman akan tradisi lisan yang didapat dari buku ini adalah bagaimana bahasa suara, bahasa gerak, dan bahasa visual memiliki perbedaan makna berdasarkan konteks demografinya. Lain ladang lain belalang; istilah yang sangat tepat menggambarkan keberagaman makna tradisi lisan tiap daerah. Dengan kata lain, tidak bisa digeneralisasi makna dari bunyi, intonasi, mimik, gesture, dan guratan antar daerah dengan ragam tradisinya.

Hampir seluruh peneliti dalam buku ini membahas tradisi lisan berdasar dari pengamatan ketika menonton seni pertunjukan dan sastra. Dalam pengamatannya tak ayal para peneliti juga menghadapi problematika metodologis. Salah satu yang menarik adalah saat bagaimana seorang peneliti menemukan bahwa lisan murni yang notabene berasal dan berakhir tanpa keaksaraan pun pada akhirnya membutuhkan aksara/ tulisan juga dalam mereproduksi tradisi lisannya. Bahkan dalam pengkajiannya tetap membutuhkan tulisan karena mau tak mau, mengkaji tradisi lisan adalah bentuk usaha keberaksaraan dari tradisi lisan itu sendiri. Uraian metodologi dari salah satu peneliti tersebut sangat menggugah akal sehat karena menyuguhkan realita bagaimana sulitnya di abad ke 21 ini menemukan wacana-wacana lisan yang murni dan tidak terpengaruh oleh tulisan. Bahkan banyak tradisi lisan yang diucapkan merupakan manifestasi dari teks yang sebelumnya dipersiapkan oleh si pengarang.

Yang tak kalah penting, buku ini bukan hanya membahas tentang simbolisasi sebuah wacana yang terucap (tradisi lisan) ke dalam bentuk aksara, melainkan juga betapa pentingnya peran diskusi panjang dan mendalam antara pikiran serta perasaan guna memindahkan rasa ke dalam bentuk aksara seperti yang identik dilakukan dalam sastra Jawa. Itu adalah hal yang sangat sulit; bagaimana mengaksarakan bermacam rasa yang fungsinya sangat bisa mempengaruhi makna suatu wacana walau terucap sama.

Dua contoh uraian di atas hanyalah sebagian kecil. Masih banyak metodologi yang secara ilmiah teraksara oleh para pakar dari berbagai lintas disiplin ilmu di dalam edisi revisi dari buku Metodologi kajian Tradisi Lisan ini. Mungkin sekilas terasa ada pertentangan antara metodologi yang satu dengan lainnya, tetapi hal itu tidak mengurangi bobot keilmiahan dari para pakar yang menuangkan hasil penelitian mereka tentang tradisi lisan ini. Buku ini menegaskan soal bagaimana metode lisan sebagai cara transfer pengetahuan yang sudah terjadi turun temurun dari abad terdahulu, khususnya pada pengetahuan akan seni dan budaya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.