Tag Archives: #sorotanpustaka

Bentang Tubuh Batu Dan Hasrat: Sejumlah Esai Seni Rupa

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Kris Budiman
Penerbit: Nyala
Tahun: 2018
Deskripsi Fisik: 104 Hlm
No. Panggil: 701 Bud B

Praktek penciptaan karya seni pada dasarnya memiliki regularitas yang didasari oleh common sense (nalar wajar), dalam proses permulaan, produksi, hingga pada apresiasinya. Agaknya begitu pula yang menjadi dasar mengenai apa yang dibahas Kris Budiman melalui bukunya Bentang Tubuh Batu Dan Hasrat. Dari buku yang berisi kumpulan esai seni tersebut, kita dapat menilik suatu garis besar kekaryaan yang memanfaatkan citra tubuh sebagai significant form, sebagai suatu tanda, seperti yang dibahasnya pada karya Putu Sutawijaya. Citra tubuh yang dihadirkan melalui gestikulasi, akan memunculkan suatu pemaknaan tersendiri melalui karya seninya. Selain kehadiran gestikulasi citra tubuh pada karyanya, Putu Sutawijaya juga menghadirkan rangkaian dialog atas konstruksi identitas sebagai warga dari kebudayaan tertentu. Tidak hanya melalui citra tubuh, refleksi batin atas sebuah perjalanan yang dilakukan kerap menghadirkan ekspresi artistik visual yang menarik. Seperti yang dilakukannya bersama Pande Ketut Taman ke tempat-tempat ibadah seperti kuil, akhirnya diterapkan dalam karya dan kemudian dipamerkan. Dalam esai yang lain, Kris membicarakan Nyoman Masriadi yang juga menggunakan citra tubuh sebagai hasrat untuk berkarya. Dalam hal ini Masriadi menghadirkan ironi yang lebih condong membahas konjungsi antara identitas gender maskulinitas dan femininitas. Dengan demikian, agaknya lukisan Masriadi  menimbulkan pesan linguistik.

Rupanya bentang tubuh batu dan hasrat yang dibahas Kris tidak hanya berkutat pada lukisan saja. Karya sinematografi pun dibahas dalam 2 esai terakhirnya, melalui film Opera Jawa. Opera Jawa garapan Garin Nugroho ini menggandeng sekian banyak maestro seni dengan beragam media seni, salah satunya instalasi. Jika dilihat lebih jeli, karya seni yang dihadirkan menjadi elemen ruang sinematik Opera Jawa. Bukan hanya sebatas genre instalasi saja, melainkan patung dan juga objek-objek lain. Opera jawa menampilkan adegan yang sarat dengan kualitas bahasa puitik melalui permainan metafora-metafora visual. Terlihat dalam karya Nindityo yang berjudul Labirin Serabut. Objek-objek mulai dari sabut kelapa, sapu lidi, kukusan, ditambah dengan citra-citra yang dihadirkan oleh efek api dan asap. Perpaduannya dicangkokkan pada representasi latar spasial yang realistik, mampu menyugesti kualitas irasional sebuah mimpi. Selain Labirin Serabut, karya Tita Rubi yang bertajuk Vagina Brokat dapat menimbulkan hasrat tersendiri. Vagina Brokat yang menjadi set lokasi dicumbu dan dibunuhnya Siti oleh Setio, menekankan bagaimana sosok wanita yang terbunuh oleh hasratnya sendiri. ‘Ruang’ yang dibentuk menyerupai vagina ini mengisyaratkan banyak hal, tentang hasrat perempuan, kuasa atas tubuh, hingga didominasi lawan jenisnya. Menyimak relasi yang terjalin melalui Opera Jawa tersebut, seperti penggabungan antara karya seni, musik dan yang lain, agaknya common sense juga dipertimbangkan dalam proses penciptaannya. Melalui pendekatan sosiologis, buku yang merupakan kumpulan esai dari Kris Budiman ini mencoba membangun ruang pandang penciptaan seni yang lebih luas. Tentu dengan tawaran sudut pandang yang multidisiplin, Kris menawarkan pendekatan mulai dari semiotik hingga linguistik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Sihir Rumah Ibu; Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Agus Dermawan T.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2015
Deskripsi Fisik: x+317 Hlm
No. Panggil: 701 Der S

Sebagai seorang pengamat yang biasa mengerjakan kritik seni, laporan, esai, dan juga features, Agus Dermawan T. memandang bahwa kegiatan tulis-menulisnya adalah sebagai aktivitas berekspresi. Buku Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya ini berisi tentang kajian yang dilakukan oleh Agus terhadap persoalan isu sosial dan politik melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Ada sejumlah figur (orang lain) yang sengaja dibicarakan dalam buku ini, karena bagi Agus orang yang dibicarakan itu telah melahirkan sebuah peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini kemudian disampaikan kepada pembaca melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Setiap situasi dalam peristiwa itu Agus simbolkan melalui beberapa contoh karya seni dan cerita pewayangan. Agus juga memainkan kode semiotik dalam setiap paragrafnya, sehingga pembaca akan merasa ada keterhubungan antara karya seni dengan peristiwa yang sedang dibahas.

Penjelasan kondisi politik Indonesia dari waktu ke waktu dijabarkan secara renyah di dalam buku ini. Agus juga menceritakan citra seni yang turun akibat pemikiran sempit seniman, dimana mereka menganggap bahwa politik posisinya lebih tinggi dari seni. Pemikiran ini memunculkan seniman yang secara tiba-tiba, dalam kondisi buta politik dan hanya mengandalkan modal keartisannya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Hal itu cukup untuk membuat gusar Agus terhadap kondisi kesenian saat ini. Selain itu juga terdapat beberapa esai yang mengulas tentang ketidakadilan terhadap pelukis istana yang masa tuanya tidak diperlakukan layaknya staf istana yang lain. Hal tersebut menjadi sebuah keprihatinan tersendiri di mata penulis kelahiran 1952 ini. Agus merasa para pelukis ini berkontribusi bagi negara dalam durasi yang panjang.

Sebagian tulisan dalam buku ini telah dimuat di beberapa media massa, seperti Kompas, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Intisari, Visual Arts, dan sebagainya. Beberapa tulisan ada juga yang berstatus ineditum atau tidak/ belum dipublikasikan. Buku ini merupakan seleksi dari ratusan artikel yang ditulisnya sejak 2008. Tentu telah melalui tahap penyuntingan, pengembangan, aktualisasi, hingga kontekstualisasi. Buku ini membicarakan segala ihwal yang terbuka lebar. Berbagai sisi sudut pandang disediakan, mulai dari tulisan-tulisan dengan ulasan jenaka, ironis, dramatis, parodi, gila, waras, estetis, politis, bahkan mungkin juga nihilis. Semua tulisan dalam buku ini dipayungi sikap kritis terhadap persoalan sosial politik dari kacamata kesenian dan kebudayaan. Sebaliknya, buku ini akan membuat pembacanya merefleksikan kesenian dan kebudayaan dari perspektif sosial politik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

SOULSCAPE ‘The Treasure of Spiritual Art’

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Sulebar M. Soekarman, AA. Nurjaman, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, ANton Larenz
Penerbit: Yayasan Seni Visual Indonesia
Tahun: 2009
Deskripsi Fisik: 246 Hlm
No. Panggil: 701 Soe S

Buku ini merupakan seri buku abstrak Indonesia yang kedua. Menceritakan pameran seni lukis abstrak yang dilaksanakan sejak 2005, dan diikuti oleh 7 perupa abstrak Indonesia yaitu AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Notok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi, dan Yusron Mudhakir. Pameran ini berlangsung di beberapa tempat seperti Taman Budaya Yogyakarta, Galeri Nasional Indonesia, dan Tony Raka Art Gallery, Bali.

Buku ini disusun menjadi suatu rangkuman holistik, tentang pemahaman dan keyakinan para perupa abstrak di Indonesia berkaitan dengan prosesnya berkesenian. Buku ini ditulis oleh dua orang dari dalam pameran, yaitu Sulebar M. Soekarman dan Netok Sawiji_Rusnoto Susanto yang menguraikan tentang keyakinan, semangat, perjalanan spiritual, pemikiran serta impian dan kerja keras perupa abstrak. Selain itu ada dua orang dari ‘luar’ yaitu AA Nurjaman dan Anton Larenz, bercerita tentang latar belakang kesejarahan seni abstrak Indonesia. Keduanya juga mengulas karya seni dan pemikiran dibalik proses penciptaan karya seni secara personal.

Ide dasar dari judul Soulscape adalah ‘pemandangan-jiwa’ yang tentunya sangat bertolak belakang dengan pemandangan alam (landscape) atau pemandangan laut (seascape) ataupun lainnya yang mengangkat sesuatu yang kasat mata, materi yang ada di alam, yang secara visual dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indera kita. Dalam pembahasannya, soulscape lebih cenderung kepada hati nurani, perasaan yang paling mendalam (inner feeling). Lebih lanjut, gagasan pemikiran secara intelektual tentang kemurnian penciptaan yang memiliki kandungan keindahan pribadi sekaligus universal.  Soulscape menjadi sebuah pendalaman materi dan tantangan. Sekaligus proses pengakraban, pencerahan dan penyerahan diri secara total dari 7 perupa abstrak tersebut yang saling berinteraksi untuk melakukan transmisi budaya serta penggalian kreativitas pribadi masing-masing. Kemudian menjadi kesadaran tertinggi, dan menjadi sebuah konsep tentang kembali ke timur.

Dalam akhir bab buku ini terdapat sebuah rangkuman laku kerja 7 perupa abstrak soulscape, dimana perubahan dan perkembangan zaman akan selalu melahirkan kaidah baru, ungkapan baru, situasi dan lingkungan yang berbeda. Tetapi bagaimanapun berubah dan berkembangnya zaman, ada suatu nilai spiritual yang menjadi benang merah untuk penghubung semua itu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Koo Jin-Kyung, Yoon Jin Sup, Lee Phil, Chung Moojeong
Penerbit: Korean Art Management Service
Tahun: 2017
Deskripsi Fisik: 303 Hlm
No. Panggil: 701 Ufa D

Dansaekhwa lahir dari tradisi masa lalu dan menjadi kecenderungan gaya baru dalam periode waktu yang signifikan dalam sejarah sosio-politik Korea. Secara permukaan, karakteristiknya mengarah pada asimilasi dan persaingan modernisme Barat, dan ‘pembebasan’ dari tradisi yang ketat dari warisan seni Korea. Lantas Apa itu yang disebut-sebut sebagai Dansaekhwa? secara harfiah berarti ‘lukisan monokrom’ dalam bahasa Korea, dan mengacu pada gaya lukisan yang muncul selama paruh kedua tahun 1970-an di Korea Selatan. Dansaekhwa tumbuh menjadi wajah internasional seni kontemporer Korea, dan menjadi landasan seni kontemporer Asia. Hal ini terjadi karena banyak dipromosikan. KAMS (Korean Art Management Service) salah satunya, mempromosikan seni kontemporer Korea. Publikasi pertama adalah Resonance of Dansaekhwa, menyajikan berbagai sudut pandang dari genre Dansaekhwa. Kemudian sumber kedua hadirlah buku Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting untuk memperluas pemahaman internasional dari Dansaekhwa, atau yang dikenal sebagai seni lukis monochrome yang mewakili corak dari seni abstrak di Korea. Juga dengan harapan agar menyebarluaskan estetika dan nilai sejarah Dansaekhwa dan memperluas pemahaman global tentang gaya seni di kawasan Korea. Dansaekhwa masih hidup dalam seni masa kini, dan masih digunakan meskipun telah berlangsung lebih dari 40 tahun.

Dalam menjabarkan tentang Dansaekhwa, buku ini terbagi dalam 4 periode. Mencangkup di dalamnya sebaran artikel-artikel dan teks. Periode pertama yang merupakan tahap pertumbuhan Dansaekhwa, yaitu awal tahun 1960an hingga pertengahan tahun 1970an. Dalam periode kedua, yang mencakup periode antara pertengahan tahun 1970an hingga pertengahan 1980an, ketika Dansaekhwa mulai berkembang. Tulisan-tulisan dari seniman– seniman penting seperti: Lee Ufan, Park Seo-Bo, Chung Sang-Hwa, Ha Chong Hyun, Yun Hyong keun, Kwon Young-Woo, Kim Guiline, Suh Seung Won, dan Choi Myoung Young pada periode kedua cenderung membahas estetika yang hidup pada masa itu. Catatan menarik adalah wacana pameran penting di Tokyo-Korea, yaitu Five Artist, Five Whites, sebuah pameran yang diselenggarakan di Tokyo Galeri tahun 1975, dan Korea : Facet of Contemporary Art yang diselenggarakan tahun 1977 di Tokyo Central Museum Art. Hal ini menarik karena memungkinkan kita untuk membandingkan pandangan kritikus seni Korea dan Jepang. Periode ketiga membahas fase kedewasaan Dansaekhwa, yaitu antara pertengahan tahun 1980-an dan 1999, pada periode ini mencakup tahap ketika seniman Dansaekhwa mengadakan sejumlah pameran besar , memajukan metodologi referensi mereka, dan menjelajahi beragam media. Periode ini lebih mengacu pada teks-teks dari kritik seni, karena mencakup pemeriksaan tajam terhadap estetika Dansaekhwa. Periode keempat  membahas tentang tahun 2000-an, lebih mengeksplorasi meningkatnya minat dan keuntungan dari Dansaekhwa, baik dalam komunitas seni internasional maupun domestik. Di Korea, keinginan untuk memeriksa kembali Dansaekhwa telah menghasilkan banyak proyek penelitian akademis. Pada periode keempat ini juga termuat beberapa teks yang memberi kesaksian tentang internasionalisasi Dansaekhwa sejak awal tahun 2000an. Melalui buku ini kita dapat memahami sejarah Dansaekhwa dari tahap pertumbuhannya hingga go international. Buku ini bisa jadipenting dalam rujukan mempelajari perkembangan seni di Korea.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Majalah Budaya | Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III

Oleh: Santosa Werdoyo

Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III
Pengarang: Kusnadi
Jumlah: 41 Halaman

Majalah Budaya adalah terbitan bulanan dari Djawatan Kebudayaan Kementerian P.P.K  selama tahun 1953-1962. Edisi No. 6, Djuli 1954 Tahun III, Kusnadi menulis kesan–kesannya tentang eksposisi Seni Rupa International di kota Sao Paulo, Brazil. Dalam rangka perayaan Biennale  II tanggal 12 Desember 1953 – 12 Maret 1954. Terangkum secara baik dalam 41 halaman.

Dalam Biennale Sao Paulo ini, Kusnadi memaparkan karya – karya yang dipamerkan  lebih dari 75% seni setelah era kubisme Picasso, seni yang kubistik dan abstrak , surealistik dan futuristik. Sisanya berbentuk realis, dari impresionisme hingga ekspresionisme. Selain itu, terdapat satu karya naturalis di ruang Norwegia, 1 di ruang Belgia, 3 di ruang Indonesia, dan 10 lukisan sejarah di ruang Brasil. Ruang lainnya seperti Perancis, Inggris, Belanda, Israel Yugoslavia, Argentina, Mexico, dan Amerika Serikat, menampilkan seni abstrak. Ruang lainnya yaitu Italia, Spanyol, Portugal, Swis, Brazil, Venezuela, Jerman, Austria, Norwegia separuh realistik, separuh abstrak. Sedangkan ruang Indonesia  dengan 95% impresionisme dan ekspresionisme, dan 5% sisanya naturalisme.

Ini adalah kali pertama Indonesia turut serta dalam ajang Biennale International. Menghadirkan 34 karya dari 25 seniman Indonesia. 25 seniman itu antara lain Affandi, S.Sudjojono, Harijadi, Suromo, Rusli, Wakidjan, Hendra Gunawan, Trubus, Sudarso, Rustamadji, Sholihin, Kusnadi, Sesongko, Sjahri, Zaini, Oesman Effendi, Basuki Resobowo, Trisno Sumardjo, Handrijo, Nasjah, Agus Djaya, Supini, Kartono, Ida Bagus Made dan Ida Bagus Togog. Affandi pada kesempatan ini menampilkan 20 lukisannya. Dalam hal ini tidak dijelaskan bagaimana seniman – seniman dan karya – karya itu bisa terpilih dan mewakili Indonesia. Dari pengamatan sekilas terhadap karya – karyanya, ditemukan hubungan antara karya seni rupa baik teknik dengan gaya yang  dimiliki beberapa seniman, serta bagaimana antara seniman sezaman saling mempengaruhi.

Majalah Budaya edisi 6 Juli tahun 1954 ini secara runut menceritakan bagaimana pengalaman seniman-seniman Indonesia ‘go internasional’. Meski tulisan Kusnadi ini cenderung deskriptif, cukup menjadi gambaran tentang kancah seni rupa dipertemukan dalam arena pameran yang lebih luas. Catatan ini menjadi penting mengingat konteks tahun 1954 yang ramai digalakkan misi-misi kebudayaan oleh Sukarno. Ini bisa menjadi pendamping referensi bagi peneliti untuk memperkaya literatur dalam pencarian nilai-nilai dan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah karya seni. 

Koleksi pustaka ini dapat diakses dengan datang ke Perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

#Sorotanpustaka Mei-Juni 2018

Oleh: Santosa

IVAA sebagai perpustakaan alternatif, mempunyai koleksi katalog pameran seni yang dihimpun sejak IVAA berdiri tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Katalog–katalog tersebut ditata dan disimpan dalam 4 rak dengan jumlah katalog pameran seni 7237, seluruhnya bisa diakses oleh publik dan ditelusuri di http://library.ivaa-online.org/index.php. Katalog – Katalog tersebut berasal dari kontribusi individu maupun pameran. Terdiri dari katalog pameran tunggal maupun pameran bersama yang diselenggarakan di dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, koleksi katalog pameran yang dikoleksi IVAA masih didominasi katalog pameran yang berlangsung di sekitar pulau Jawa terutama Yogyakarta mengingat lokasi dan keterbatasan jangkauan IVAA.

Sementara basis data yang dimiliki IVAA juga telah dibaca dan dijadikan katalog, dihimpun pada tahun 2011 dalam buku Seri Katalog Data IVAA yang terdiri dari  4 tema, yaitu Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942 – 2011), Reka Alam: Praktek Seni Visual Dan Isu Lingkungan Indonesia Dari Mooi Indie Hingga Reformasi, Kolektif Kreatif: Dinamika Seni Rupa Dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan Dan Ekonomi (Kreatif) (1938-2011), Interkultur: Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keragaman (1935 – 2011). Sedangkan tahun 2017 IVAA juga menerbitkan buku Katalog Data IVAA: Seni, Aksi Dan Jogja Sebagai Ruang Urban dirangkai dan dikumpulkan dari berbagai peristiwa seni dan budaya atau yang berkaitan dengannya, yang mengiringi perubahan dan pergeseran arah gerak Yogyakarta sebagai ruang urban pasca-1998. Secara sengaja, beberapa peristiwa yang terhimpun tidak melulu peristiwa yang sudah begitu saja diterima sebagai peristiwa seni visual. Tema-tema ini dibingkai dalam katalog data IVAA sebagai produk pengetahuan kerja dokumentasi IVAA, lebih lanjut sebagai upaya pengembangan wacana pengetahuan dan pemantik untuk penelitian kedepan.

Newsletter edisi kali ini mengulas dua buku, pertama Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro, yang ditulis oleh OPée Wardany dan Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005. Karena pembahasan di kedua buku tersebut berada pada kisaran dua nama seniman, yakni Ugo Untoro dan Semsar Siahaan, kami kemudian membuka koleksi yang juga terkait dengan kedua nama itu, beberapa diantaranya ialah: Ugo Untoro Menggugat… Sisipus tertawa, Papers and Ugo Untoro, Ugo Untoro My Lonely Riot, Sciascia|Untoro, Solo Show By Ugo Untoro, Melupa, Passage Ugo Untoro: Retropective Exhibition, Corat – Coret 91 – 95. Sedangkan yang berkenaan dengan Semsar Siahaan perpustakaan IVAA juga mempunyai antara lain: Semsar Siahaan: Art Liberation dan beberapa katalog pameran kelompok. Selain kedua buku tersebut, satu koleksi baru yang diulas pada edisi ini ialah Tesis berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian, yang ditulis oleh Stanislaus Yangni dalam menuntaskan kuliahnya di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 -2005

Penulis : Semsar Siahaan, Melati Suryodarmo,Halim HD,
Yayak Yatmaka, Mohamad Cholid, Sanento Yuliman, Danarto, Sujiwo Tejo, Yvonne
Owens, Bre Redana, Astri Wright
Penerbit : Yayasan Jakarta Biennale 2017 dan Penerbit Nyala Yogyakarta
Tebal : x+196 halaman
Ukuran   : 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santoso

Buku  Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005 terbagi dalam beberapa tulisan sebagai pembuka buku, yang ditulis oleh sahabat Semsar Siahaan di ITB, yaitu Yayak Yatmaka dan Halim HD, kemudian tulisan – tulisan Semsar sendiri dan 6 esai tentang Semsar yang dilengkapi dengan arsip gambar dan arsip kliping surat kabar.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale dan Nyala ini menunjukkan cara Semsar melihat peran seni secara kritis dan kaitannya terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM). Dari sini juga kemudian kita bisa melihat keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial politik, lingkungan hidup, hingga pendidikan anak. Catatan biografis, esai dan ulasan kritis ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah seni rupa Indonesia. Salah satunya dengan melihat Semsar Siahaan dari aspek kesejarahan melalui perspektif biografi personal, dan perjalanan proses kreatif yang berkaitan dengan posisi serta sumbangsih seniman pada jamannnya.

Semsar Siahaan adalah ikon seniman yang dekat dengan isu-isu sosial politik di Indonesia. Ia menempatkan seni sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Keindahan seni justru muncul dari upaya pembebasan yang dilakukan oleh seniman. Pada 1981, Semsar menggegerkan dunia seni rupa Indonesia dengan mengabukan patung karya Sunaryo, gurunya. Karya itu baru saja kembali dari pameran seni patung internasional di Fukuoka, Jepang. Semsar membakar hangus patung itu, membungkusnya dengan daun pisang, dan menyajikan nasi kuning. Ia menyebutnya “seni kejadian” dan kena skors dari kampus. Bagi Semsar, seni modern Indonesia memuja keindahan estetik. Para seniman memanipulasi seni tradisi untuk kepentingan ego mereka sendiri. Estetika modern ini abai terhadap kenyataan sosial di negeri sendiri, yang sebagian besar terdiri atas kaum agraris miskin (petani dan nelayan). Pada masa Orde Baru, hak-hak dasar rakyat itu dihilangkan dan kemanusiaan mereka ditindas. Semsar meninggal dunia pada 25 Februari 2005 di Bali dan dibawa ke Jakarta untuk disemayamkan di Taman Ismail Marzuki, dan kemudian dimakamkan di Bengkel Teater yang terletak di belakang rumah Rendra.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sebab Jalan Belum Berujung: Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro

Penulis : OPée Wardany
Penerbit : Pustaka Sempu
Tebal : xi + 213 halaman
Ukuran : 17 x 24 cm

oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sebagai seniman, Ugo Untoro bisa dikatakan telah berproses dengan kesenian sedari kecil. Hal ini tidak lepas dari peran kakeknya yang seorang dalang. Meskipun demikian, Ugo Untoro baru bisa dikatakan mulai berkarir sebagai seniman ketika mulai dan selesai mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Lulus perkuliahan di tahun 1995, Ugo Untoro telah melakukan banyak pameran serta meraih beberapa penghargaan bidang kesenian selama periode perkuliahan sampai saat ini. Tidak hanya berkarya secara individu, ia juga menginisiasi ruang seni bernama Museum Dan Tanah Liat (MDTL).

Di luar itu, dari banyak pameran tunggal atau pameran kolektif yang diikuti oleh Ugo, OPée Wardany menyoroti satu pameran tunggal Ugo yang bertajuk Melupa. Pameran Melupa, oleh Ugo Untoro, ini diselenggarakan pada tahun 2013 di Ark Galerie, Yogyakarta. Pameran Melupa ini menjadi menarik karena mengetengahkan teks dengan berbagai macam material sebagai lukisan. Adapun lukisan-lukisan itu berisikan teks-teks Ugo yang berbentuk parafrase, kalimat pendek, atau kumpulan kalimat panjang dalam paragraf-paragraf utuh. Mengingat karya-karya Ugo sebelum pameran ini cenderung menyuguhkan obyek alam, benda, dan manusia. Proses kreatif munculnya obyek teks dalam pameran Melupa tentunya hal yang sangat menarik ditelusuri lebih dalam. Hal inilah yang dipilih penulis sebagai landasan bukunya yang berjudul Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro.

Penjelasan proses kreatif tidak hanya seputar proses Ugo Untoro berkarya, tetapi juga dijelaskan pula tentang proses kreatif sebagai sebuah konsep sehingga terdapat batasan jelas yang bisa didapatkan. Selain itu, unsur-unsur yang juga hadir dan terlibat dalam proses kreatif pameran Melupa Ugo Untoro juga dipaparkan. Adapun cara pandang yang digunakan untuk menjelaskan unsur-unsur itu ialah teori yang dituliskan Howard Saul Becker dalam Art World. Dengan menggunakan paradigma Sosiologi, teori ini memperlihatkan bahwa proses kreatif seniman juga dapat dipengaruhi oleh unsur di luar tubuh seniman.

Lebih lanjut, buku ini juga menjelaskan tentang tahapan-tahapan di dalam proses kekaryaan Melupa. OPée Wardany, selaku penulis buku ini, beranggapan bahwa proses kreatif seni merupakan sebuah proses penciptaan, sehingga cara kerjanya seharusnya tidak berbeda jauh dengan proses penciptaan semesta. Oleh karenanya, penjelasan tahapan-tahapan proses kreatif Melupa menggunakan dasar teori proses dari Alfred North Whitehead. Sebuah teori yang menjelaskan bahwa ada fase-fase yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah kesatuan baru yang utuh. Di dalam banyaknya proses yang ada, pengaruh dari banyak tulisan, pengetahuan, pengalaman hidup, kepribadian ataupun eksplorasi material yang dilalui Ugo di periode sebelum berlangsungnya pameran Melupa, merupakan peristiwa aktual yang melebur menjadi kesatuan baru sampai memunculkan lukisan teks Melupa.

Proses kreatif yang dialami oleh Ugo dalam karya lukisan teks Melupa tidak hadir secara sepintas lalu melalui kekosongan. Akan tetapi, proses kreatif yang terjadi merupakan sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman masa lalu Ugo serta adanya interaksi sosial oleh Ugo sebagai seniman. Meskipun demikian, di samping proses kreatif yang turut menjadi kunci kekaryaan Ugo, keberadaan ideologi yang dimiliki seniman juga memiliki peranan penting sebagai pengarah orientasi seniman. Tentunya proses kreatif seniman satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Apabila anggapan yang lalu muncul bersesuai dengan judul yang dipilih oleh buku ini, mengibaratkan proses kreatif dengan jalan, maka jalan itu tidak akan menemui ujung selama seniman masih terus melakukan proses berkesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian

Penulis : Stanislaus Yangni
Tesis : Pengkajian Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Tebal : x + 216 Halaman
Ukuran : 29×20,5 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Riset estetika seni rupa ini bermula dari kegelisahan peneliti, Stanislaus Yangni, terhadap karya seni lukis Indonesia yang kehilangan ekspresi atau gregetnya—meminjam istilah Sanento Yuliman (2001). Ini tertuang dalam tesisnya yang berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian. Seniman Indonesia pada tahun 1940-1960, antara lain Affandi, S. Sudjojono, Kartono, Hendra Gunawan, Nyoman Gunarsa, Widayat, Martian Sagara, Lim Keng, Sudjana Kerton, Butet, Henk Ngantung, Krijono dan Ipe Ma’aruf, mampu membuat sketsa dengan garis spontan atau goresan di atas kertas maupun kanvas. Sketsa menjadi embrio atau ancangan dari melukis, secara tidak langsung merekam gerak seniman yang peka terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Sementara pelukis saat ini cenderung takut untuk menggores secara spontan, serta kehadiran teknologi representasi (kamera, komputer, proyektor, dan sebagainya) seakan telah menggantikan posisi dan fungsi sketsa. Juga mengubah irama berkesenian dan mentalitas seniman. Goresan dalam sketsa ini kemudian menjadi apa yang disebut greget oleh Sanento, telah hilang di jagad seni lukis saat ini.

Melangkanya seniman yang sketching secara langsung dan on the spot, menumpulkan pengalaman estetik yang berasal dari pengalaman tubuh seniman. Pengalaman ini dalam kajian estetika dikenal dengan pengalaman haptic, yang merujuk pada pengalaman estetik, pengalaman visual yang terjadi pada mata, bukan sekadar merujuk pada yang manual taktikal. Tetapi, lebih dari sekadar perihal sentuhan tangan pada kanvas, sentuhan fisik, melainkan pengalaman yang dihasilkan oleh mata ketika ia merasa menjadi tangan.

Pengalaman estetis-kreatif dalam sketsa, diuraikan Deleuze melalui diagram. Sketsa sebagai diagram, mengeksplorasi proses kreatif seniman lewat elemen garis spontannya. Sketsa mampu melampaui bentuk-bentuk klise, lalu menggantinya dengan apa yang ada di depan mata. Konsepsi oleh Deleuze ini dikenal dengan paradigma estetika Deleuzian, yang kemudian digunakan peneliti sebagai limitasi dalam penelitian.

Tesis ini menjawab hipotesa awal penulis bahwa sketsa sebagai embrio, sebagai ancangan, dari melukis hingga ia menjadi bagian vital dalam seni lukis. Meski tidak semua sketsa, terdapat syarat-syarat yang memungkinkannya menjadi embrio. Pada bagian ini, menjadi letak kekuatan sketsa dalam menghidupkan seni lukis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SOROTANPUSTAKA Maret-April 2018

Perpustakaan dan Arsip adalah salah satu bidang garap di IVAA yang saling terkait, bahan-bahan konten yang ada di archive.ivaa-online.org beberapa sumber dari katalog, buku, klipping surat kabar ataupun makalah yang  fisiknya berada di perpustakaan.

Dalam  bulan maret 2018 kami dibantu 3 kawan magang dari Program Studi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM untuk memilah, menata, dan menyimpan arsip. Dalam penataannya kita bedakan  menurut jenisnya: Undangan, Poster, Brosur, Pustaka, Administrasi Kantor dan Keuangan. Undangan dan poster diurutkan dan dikelompokkan berdasar tahun, sedangkan brosur dikelompokkan menurut institusi, baik Institusi Seni, maupun Institusi Pendidikan, sedangkan berkas administrasi kantor dan keuangan akan ditinjau ulang jangka waktu penyimpanannya, apakah akan dimusnahkan, dinilai kembali, atau dipermanenkan. Sedangkan makalah ataupun tulisan seni akan dibendel dijadikan bahan pustaka. Kemudian untuk  majalah, katalog, komik dan bahan pustaka lainnya akan diinventarisasi, diklasifikasi, dan di-input ke library.ivaa-online.org.

Dalam input  memasukkan metadata yang ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) di bantu juga oleh 2 kawan magang, baik pustaka baru maupun pustaka lama yang belum di-input. Dalam tambahan pustaka baru ada 4 yang akan diulas di sini, pertama Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernur PKI, kedua Komik Merebut Kota Perjuangan: Sebagai Politik Pencitraan Soeharto, ketiga Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz dan terakhir Andy Warhol The King of Pop.

Oleh: Santosa, Khanza Putri, Diatami Muftiarini

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.