Tag Archives: #sorotanpustaka

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul: S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya
Penulis: S. Sudjojono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 304 hal
ISBN: 987-602-424-307-4

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sud S

Kisahnya tidak hanya sebagai seorang pelukis saja tetapi dalam dunia politik mengantarkannya sebagai perwakilan PKI dalam anggota parlemen. Sayang kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi membuat dirinya harus berpisah dengan PKI.

Sudjojono dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia yang namanya masih harum hingga kini. Meskipun sudah tiada namun keberadaannya sebagai pelukis Indonesia masih terasa hingga saat ini. Melalui lukisan-lukisannya yang hingga kini masih terpajang dengan rapi dalam bekas sanggarnya yang telah menjadi S. Sudjojono Center. Bahkan kini lewat autobografinya ini S. Sudjojono kembali hidup di tengah-tengah sejarah seni lukis Indonesia.

Sebagai seorang pelukis sekaligus politikus, karya-karya Sudjojono berbeda dari yang lain di masa itu. Di masa penjajahan Belanda minat pelukis Indonesia didominasi oleh tema-tema Mooi Indie, di mana mereka melukiskan keindahan alam Hindia Belanda.  Namun lain bagi seorang Sudjojono yang sama-sama hidup pada masa penjajahan Belanda, Sudjojono mengatakan ia anti terhadap tema-tema Mooi Indie. Kedekatan Sudjojono terhadap politik seperti kedekatannya dengan Soekarno dan Adam Malik membuat Sudjojono kemudian memiliki minat untuk menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia di dalam lukisan-lukisannya.

Kedekatan Sudjojono tidak hanya sebatas pada Soekarno dan Adam Malik saja tetapi juga dengan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian mengantarkannya menjadi guru. Sebelum menjadi pelukis yang dikenal, Sudjojono merupakan seorang guru di Taman Siswa hingga mengantarkannya ke Rogojampi sebagai guru pembantu di desa terpencil di Banyuwangi itu (hlm 25).

Bagi Sudjojono pekerjaannya sebagai guru sangat diminatinya meskipun dia juga menyambinya dengan melukis. Hal ini tidak terlepas dari dua kata yang diucapkan langsung oleh Ki Hadjar Dewantara kepada Sudjojono “Djon, bekerjalah!” dua kata yang menjadi inspirasi Sudjojono dalam melakukan pekerjaannya sebagai guru (hlm 29). Dididik langsung di bawah arahan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa ia pun terilhami bahwa pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak.

Namun pada akhirnya Sudjojono tidak melanjutkan minatnya dalam bidang pendidikan melainkan memilih untuk berkonsentrasi pada minatnya sebagai pelukis. Pilihannya ini pun tak salah,  Sudjojono bersama teman-temannya berhasil mengadakan pameran lukisan oleh pelukis bangsa Indonesia tanpa campur tangan orang Belanda. Hal ini malahan mengejutkan banyak pihak bagi orang Belanda sendiri bahkan pameran mereka ditolak banyak pihak terutama orang Belanda.

Hal ini menimbulkan kebencian Sudjojono terhadap perlakuan pihak Belanda kepada pelukis-pelukis pribumi ini. Hingga suatu hari Sudjojono bersama teman-temannya mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Sebuah perkumpulan yang sama-sama menyuarakan kemerdekaan namun Persagi lewat lukisan. Sebuah perkumpulan yang sangat politis menyuarakan kemerdekaan mengingat nama perkumpulan tersebut memakai nama Indonesia yang cukup berani pada masa penjajahan Belanda.

Tidak hanya melalui Persagi saja, perjuangan Sudjojono berlanjut pada masa Jepang dengan keberadaan pusat kebudayaan yang dibentuk oleh Jepang. Jepang sangatlah pandai dalam menyuarakan propagandanya melalui kesenian (hlm 72). Bahkan beberapa seniman Persagi begitu pun Sudjojono tergabung secara langsung dalam pusat kebudayaan tersebut. Layaknya Poetera yang diisi oleh Soekarno dan kawan-kawan. Pusat kebudayaan yang dibuat Jepang dimanfaatkan Sudjojono untuk menyuarakan kemerdekaan.

Minat Sudjojono kepada politik juga mengantarkannya masuk ke dalam PKI. Bahkan mengantarkan Sudjojono ke dalam panggung politik yakni ke dalam anggota parlemen mewakili PKI. Namun, Sudjojono kemudian berpisah di tengah jalan dengan PKI karena perbedaan pendapat mengenai keberadaan Tuhan, posisi anggota partai dengan partai yang lain dan rasa cintanya terhadap Rose Pandanwangi yang kemudian menjadi istrinya (hlm 100).

Bagi Sudjojono hal yang paling krusial ketika dia harus berpisah jalan dengan PKI adalah kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi. Sudjojono dan Rose telah sama-sama memiliki pasangan yang sah dan anak. Hal inilah yang ditentang oleh Aidit pemimpin PKI saat itu. Namun Sudjojono membalas perkataan Aidit “Tidak adakah rupanya dalam benak Das Kapital tentang cinta?” perkataan yang cukup berani yang dilontarkan Sudjojono kepada Aidit hingga membuat Sudjojono keluar dari PKI (hlm 104).

Setelah keluar dari PKI kemudian Sudjojono menikahi Rose Pandanwangi dan dimulailah petualangan mereka sebagai sepasang suami istri. Pasang surut kehidupan keluarga mereka terus dijalani bersama, apalagi kini Sudjojono tidak berpolitik lagi dan hanya fokus dengan profesinya sebagai pelukis. Bahkan gonjang-ganjing keluarga mereka ketika lukisan-lukisan Sudjojono tidak laku dipasaran akibat fitnahan yang berasal dari anggota PKI. Namun, mereka tetap sabar dan tetap semangat dalam mengarungi kehidupan keluarga mereka.

Bahkan kesabaran mereka mengantarkan Sudjojono kepada karya ciptanya yang besar yakni lukisan “Pertempuran Sultan Agung dan J.P. Coen” yang kini tersimpan baik di Museum Nasional Jakarta. Mahakarya Sudjojono ini menjadi sebuah karya terbaik Sudjojono yang bahkan diminati oleh para pemimpi  negara sahabat. Tidak hanya itu saja, Sudjojono juga sering mengadakan pameran lukisan yang langsung dikoordinir oleh Rose Pandanwangi.

Buku ini menceritakan dengan detail kisah perjalanan Sudjojono untuk menjadi pelukis yang dikenal hingga kini. Bahkan perjalanannya ini dia tulis sendiri. Ssesuatu hal yang sangat perlu diperhatikan lebih detail dalam memperlajari sejarah seni rupa Indonesia. Buku ini menjadi salah satu peninggalan Sudjojono yang akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, tidak hanya lukisan-lukisannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] Kisah Mawar Pandanwangi

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul:  Kisah Mawar Pandanwangi
Penulis: Sori Siregar & Tim S. Sudjojono Center
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal:  68 hal
ISBN: 978-602-424-317-3

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sir K

Kisah cintanya dengan Sudjojono membuat sosok perempuan ini menjadi inspirasi Sudjojono dalam setiap lukisannya.

Rose Pandanwangi begitulah nama panggungnya sebagai penyanyi seriosa kebanggaa Indonesia bahkan kebanggaan Soekarno sendiri. Nama awalnya adalah Rose namun kemudian hari ditambah Pandanwangi oleh Sudjojono dengan alasan bahwa Rose janganlah mendompleng nama Sudjojono untuk menjadi terkenal. Sudjojono ingin Rose dikenal dengan namanya sendiri bukan numpang ketenaran nama Sudjojono.

Rose dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Namanya mulai bersinar ketika mengikuti Festival Pemuda di luar negeri mewakili Indonesia. Bahkan namanya juga tidak pernah absen dalam pagelaran bintang radio sehingga membuat dia terus-terusan menjadi langganan juara. Suaranya juga dipuji oleh Soekarno ketika diundang bernyanyi di istana “Apakah kalian dengar? Ini namanya bernyanyi” (hlm 48).

Sama dengan para seniman yang lainnya pada masa awal-awal kemerdekaan di mana kesenian sebagai alat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Rose pun ketika awal kemerdekaan Indonesia juga turut memperjuangkan kemerdekaan lewat suaranya di kancah internasional yakni dalam Forum Pemuda. Hal inilah yang menarik bahwa ketika awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih menenteng senjata mempertahankan kemerdekaan bagi Rose perjuangannya adalah lewat menyanyi.

Pencapaian Rose dalam seni suara membuat nama Indonesia dikenal oleh kalangan internasional. Tidak hanya itu tetapi nama Rose juga dikenal dalam dunia tarik suara secara internasional. Hal ini tidak terlepas dari latihan-latihannya yang keras dalam bernyanyi seriosa. Bakat seriosanya ketika itu berbeda dengan kebanyakan penyanyi lainnya. Suara seriosa Rose memiliki suara yang khas Indonesia begitulah yang dipuji oleh kebanyakan orang yang mendengarkannya.

Perjuangan Rose dalam mengenalkan Indonesia dalam kancah internasional juga mengantarkannya Rose dalam pertemuan pertama dengan Sudjojono. Ketika itu delegasi Indonesia yang juga terdapat Sudjojono berangkat ke Berlin untuk mengikuti festival kesenian. Pada saat itulah pertemuan pertama mereka secara tidak sengaja yakni ketika Rose meminta tanda tangan Sudjojono, namun ketika itu Rose masih belum mengenal siapa itu Sudjojono. Ketika meminta tanda tangan Sudjojono pulpen dari Rose tertinggal dan dibawa oleh Sudjojono. Inilah yang membuat mereka semakin lama semakin dekat.

Kedekatan Sudjojono dengan Rose ditentang banyak pihak salah satunya adalah PKI yang di mana Sudjojono adalah anggota partai tersebut bahkan menjadi wakil dalam dewan. Hal ini dikarenakan bahwa Rose dan Sudjojono sama-sama memiliki pasangan yang sah dan juga sama-sama memiliki anak. Mereka berdua berkeinginan untuk menikah dan menceraikan pasangannya.

Meskipun kisah cintanya banyak ditentang banyak orang, namun kisah cinta mereka mampu mengalahkannya. Meskipun cinta mereka yang menang akibat yang ditanggung pun cukup besar. Salah satunya adalah Sudjojono harus keluar dari PKI yang sebelumnya berbeda pendapat mengenai pilihan cinta Sudjojono. Sehingga Sudjojono harus menghidupi keluarganya hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis (hlm 58).

Tidak hanya itu saja tetapi Sudjojono sampai difitnah oleh beberapa anggota PKI sehingga membuatnya harus kehilangan banyak pelanggan untuk melukis. Hal ini membuat Rose semakin marah atas fitnahan yang dilontarkan oleh anggota PKI. Bahkan Rose sampai harus menantang fitnahan PKI karena rasa cintanya terhadap Sudjojono.

Rasa cinta Rose yang besar terhadap Sudjojono pun juga terlihat ketika penangkapan simpatisan PKI setelah geger 1965. Rose tidak terima dengan penangkapan Sudjojono, hal ini dikarenakan bahwa Sudjojono sudah lama keluar dari PKI dan tidak tahu menahu dengan peristiwa 1965 itu. Sehingga Rose meminta Adam Malik teman dari Sudjojono yang masuk dalam pemerintahan untuk mencari tahu keberadaan Sudjojono. Tidak berselang lama Sudjojono pun kembali ke keluarga.

Rose menjadi salah satu inspirasi Sudjojono dalam melukis. Kadangkala Sudjojono melukis Rose dengan berbagai aktivitasnya ketika Sudjojono kesusahan dalam menuangkan ide-idenya itu. Tidak hanya itu bahkan Rose sampai menunggui Sudjojono ketika melukis bahkan sampai malam menjelang Rose dengan setia mendampingi Sudjojono.

Kisah cinta Sudjojono dengan Rose tergambarkan dengan baik dalam buku ini. Rose tidak hanya dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi Rose juga sebagai inspirator bagi Sudjojono dalam segala karya-karyanya. Inilah sebuah kisah Rose yang mengantarkan Sudjojono hingga namanya menjadi harum semerbak.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Sorotan Pustaka | Mei – Juni 2017

1. Sanggar Melati Suci (1974 – 1994)
Oleh: Santosa

Judul Buku: Sanggar Melati Suci (1974-1994)
Redaksi: A.Hari Santosa, Drs. Rakhmat Supriyono, St Nyoman Sigit, Asbiyantoro
Halaman: 98
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Sanggar Melati Suci

Sanggar Melati didirikan tahun 1979 sebagai sanggar lukis bagi anak-anak. Pendirinya adalah A. Hari Santosa, Moralistyo, dan Wahyu Hardianto. Beberapa pameran yang diikuti dan prestasi yang telah dicapai sanggar Melati Suci di ceritakan dalam halaman awal dalam buku ini.

Buku ini diterbitkan di tahun 1994, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Sanggar Melati Suci yang ke-15. Buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh beberapa penulis baik yang berasal dari kalangan seniman maupun akademisi, dalam tujuan saling mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman tentang situasi pendidikan kesenian usia TK dan SD di Indonesia dan sekaligus mengajak kita memikirkan berbagai skenario usaha peningkatan mutunya.

Buku ini berusaha disusun berdasarkan klasifikasi masalah dan urutan artikel yang membahas kiat-kiat, jurus-jurus, maupun telaah cara pendidikan kesenian. Walaupun ada beberapa artikel yang terulang atau hampir sama sebut saja di halaman 31 dan 39 tentang gaya corat-coret pada periodisasi anak usia 2-4 tahun.

Bagian selanjutnya berisi catatan-catatan tentang data penyelenggaraan lomba seni lukis anak-anak tahun 80-an khususnya di Jakarta. Fakta menarik yang dipaparkan di sini adalah bahwa jumlah peserta lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan di tahun 80-an senantiasa mencapai angka yang fantastis. Di tahun 1982 misalnya, sekitar 20.000 karya anak-anak masuk ke meja panitia. Sayangnya tidak ditemukan data untuk kota-kota lain di Indonesia. Buku ini juga mencurigai adanya sebuah kencenderungan bahwa dunia seni lukis anak dieksploitasi sebagai komoditas. Dengan mengampanyekan seni lukis sebagai media pengembangan kreativitas anak, sekaligus sebagai sarana hiburan bermanfaat “pebisnis lomba seni lukis anak” lantas menata taktik untuk meraup keuntungan.

Anak-anak belajar melukis ternyata sudah merupakan barang lama di Indonesia. Di Museum Sono Budoyo tersimpan segepok lukisan anak-anak bertarikh 1939 dan 1959. Di tahun 1978 ada pameran 84 buah lukisan anak-anak yang telah 29 tahun di simpan oleh gurunya, Dullah. Kemunculan sanggar-sanggar lukis anak ditengarai sejak tahun 1970-an dan tumbuh subur pada dekade berikutnya. Tercatat pernah ada 30 sanggar lukis anak hanya di wilayah DIY saja. Dari data itu lantas muncul pertanyaan, ke manakah sekarang pelukis-pelukis cilik itu?

2. Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010
Oleh : Prastica Malinda

Judul buku : “Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010”
Kurator : A. Agung Suryahadi dan M. Dwi Marianto
Artistik : Basuki Sumariono
Diproduksi oleh : PPPG Kesenian Yogyakarta Vedac, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006

Ketika melihat lukisan anak-anak, yang terbayangkan adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya dan di ujugnya terdapat jalan menurun ataupun persawahan yang terkadang dilengkapi rumah atau pohon kelapa. Pola ini seperti pada umumnya terbentuk sejak anak-anakmulai mengenyam bangku sekolah dasar. Barangkali pola ini ada lantaran para guru pendidikan kesenian pun memiliki pola yang sama..

Dalam buku berjudul “Decade for Culture of Peace and Non Violence for The Children of The World 2001-2010,” kita bisa menjumpai lukisan anak-anak dari berbagai negara anggota Unesco. Khususnya yang menjadi peserta pameran lukisan anak berjudul sama, yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 11-17 November 2006. Gambar-gambar atau lukisan yang dihasilkan oleh anak-anak peserta pameran ini merefleksikan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di negaranya masing-masing. Dari mengamati lukisan-lukisan tersebut, saya melihat betapa besar daya imajinasi dan kreatifitas anak-anak. Anak-anak itu memiliki konsep tersendiri yang jujur dan unik. Mereka juga sudah mampu memadupadankan warna dan berani bermain dengan warna-warna cerah, sehingga menjadi satu lukisan atau gambar yang hidup dan memiliki cerita.

Melihat lukisan para peserta dari Indonesia kita bisa langsung mudah saja terhubung dengan kondisi nyata anak-anak Indonesia. Menarik ketika mengamati karya anak-anak dari Paraguai yang menggambarkan situasi konflik atau peperangan mencekam, namun di lukisan lain mereka ingin memperlihatkan  betapa tabahnya orang-orang Paraguai melalui lukisan matahari yang tersenyum berwarna cerah.

Anak-anak selalu mengisyaratkan kejujuran melalui lukisan, tetapi banyak orang tua abai atas kondisi tersebut. Perlu adanya dukungan dan pendekatan lebih dari orang tua terhadap anak-anaknya termasuk pada aktivitasnya saat melukis untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka.

3. Aditya Novali
Oleh: Prastica Malinda

Judul buku : Aditya Novali
Penyunting : Agus Darmawan T.
Penerbit : Yayasan Seni Rupa AIA, Jakarta
Tahun terbit : 1996
Dicetak oleh : Graphos Prima, Jakarta

Buku setebal 99 halaman ini menjelaskan tentang bagaimana gaya lukisan Aditya Novali kecil menjelma menjadi Aditya Novali remaja. Buku ini terdiri dari 14 halaman uraian, dan di 85 halaman berikutnya kita bisa menjumpai kumpulan foto karya Aditya Novali.

Pada bagian uraian terdapat narasi pengantar yang ditulis oleh pengamat seni rupa, Agus Dermawan T., di situ ia bercerita soal perjalanan karir melukis Aditya Novali semenjak seniman itu masih kanak-kanakhingga beranjak remaja. Disusul kata pengantar dari Direktur Eksekutif penyelenggara. Selain itu beberapa pihak lain sebutlah sederet nama pelukis hingga pengajar seni pun juga ikut memberikan kata sambutan terhadap karya lukisan Aditya Novali

Gaya lukisan Aditya Novali tak jauh dari kegiatan sehari-hari. Kemampuan melukisnya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut bisa dilihat semasa ia kecil hingga beranjak dewasa. Semasa kecil, lukisan Aditya Novali banyak dipengaruhi tema religi, budaya, dan wayang. Aditya Novali kecil memang gemar mendalang, ini yang banyak mempengaruhi gaya lukisannya.

Saat memasuki usia remaja, lukisan Aditya Novali mengajak kita kembali pada ingatan indah pada masa kecil yang secara ironis telah berubah. Di satu sisi terdapat pemandangan yang indah permai, namun di sisi yang lain terlihat adegan kekacauan masyarakat yang ketakutan. Seperti karyanya yang berjudul “Banjir” (1985). Ada pula lukisan yang menggambarkan gelapnya peperangan, seperti dalam lukisan berjudul “Karya Tanding” dan  “Arjuna Wiwaha”, dua lukisan pewayangannya yang ia lukis pada tahun 1989, dan sisi lain kita bisa melihat sisi religius Aditya Novali pada lukisan-lukisannya berjudul “Yesus Naik Ke Surga”,dan “Yesus Memanggul Salib” yang ia hasilkan pada tahun 1983.

Buku ini menceritakan perjalanan seni Aditya Novali sejak ia kecil hingga beranjak remaja, terangkum rapi dalam semacam katalog ini. Membaca buku ini terbilang tidak memakan waktu lama karena buku ini lebih banyak terdiri dari foto-foto karya. Namun saya mengalami sedikit kesulitan untuk memahami beberapa karya Aditya Novali, karena tidak ada penjelasan yang menyertai setiap lukisannya. Meski lukisan Aditya Novali cukup mudah dipahami dengan mengamati obyek apa yang ia lukiskan, namun bagi orang yang awam dengan dunia seni lukis seperti saya, teks penjelasan barangkali akan membantu saya memahami lukisan tanpa harus mengerutkan kening terlalu lama.


*Prastica Malinda Putri (l.1991) adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia. Linda magang di IVAA atas inisiasi pribadi, bukan karena kewajiban dari pihak kampus. Dan ini bukan kali pertama Linda menjadi sukarelawan, karena ia pernah juga melakukannya untuk Greenpeace. Di luar itu ia memang suka berkegiatan, terlibat pada penyelenggaraan acara seni dan pensi juga tidak hanya sekali dilakoninya. Sejak awal Mei lalu, Linda tekun membantu kerja pengelolaan koleksi pustaka IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Ace House Collective Workbook

Oleh: Wibi Palgunadi

Penerbit: Ace House Collective
Tahun: 2016
Bahasa: Inggris

Buku setebal 70 halaman ini merupakan buku program sebuah kolektif seniman seni rupa muda bernama Ace House Collective. Kolektif yang berdiri di Yogyakarta sejak 2011 ini banyak bergerak di wilayah konteks budaya pop dan budaya anak muda. Nama-nama seperti Rudy ‘Atjeh’, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan, serta Gintani Nur Apresia Swastika adalah beberapa anggota dari Ace House Collective. Kebanyakan dari mereka merupakan satu angkatan di kampus ISI Yogyakarta serta teman nongkrong. Kemudian di 2014, mereka mengelola sebuah ruang fisik bernama “Ace House”, bertempat di Jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Dalam mengelola ruang ini mereka menekankan pada pendekatan eksperimental dan eksploratif. Selain itu mereka juga menggali berbagai celah kemungkinan dalam seni rupa melalui berbagai program dan aktivitas, seperti presentasi diskusi, pameran, residensi hingga proyek seni lintas disiplin. Dan buku program ini semacam katalog dari kegiatan apa saja yang telah mereka lakukan. Namun sangat disayangkan saya kesulitan menelusuri buku ini maupun mencari tahu ada berapa banyak kegiatan yang terangkum di dalam buku program ini, karena di buku ini tidak dijumpai daftar isi.  Kata pengantar dan daftar nama penyusun buku ini pun juga tidak saya temukan. Bahkan saya merasa kesulitan mencari tahun kapan tepatnya buku ini dicetak.

Meski demikian di buku program ini kita dapat membaca dan melihat-lihat foto dokumentasi dari proyek ataupun program yang tercetus dari buah pikiran dari Ace House Collective, seperti misalnya “Tak Ada Rotan, Akar Punjabi” (bagian dari Jogja Biennale 2011), “Museum Realis Tekno” (ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2013), “Three Musketeers Project” (2014), “Komisi Nasional Pemurnian Seni” (ditampilkan dalam Jogja Biennale 2016), dll. Beberapa dari proyek-proyek seni tersebut sudah pernah dibawa hingga kancah internasional yaitu ke Taiwan dan Korea Selatan.
Salah satu kegiatan menarik yang berhasil diselenggarakan oleh Ace House Collective adalah “Acemart,” yakni bagaimana mereka mampu menghadirkan konsep ruang pamer dengan kemasan minimarket. Karya seni dipajang sedemikian rupa menyerupai barang dagangan yang sering kita jumpai di minimarket waralaba yang menjangkiti banyak kota di Indonesia. Pastinya merupakan pengalaman tersendiri melihat karya seni dipamerkan berdampingan dengan jajanan bocah, gula pasir, kopi instan, deterjen, sikat gigi, dll. “Acemart” agaknya berusaha menjungkirbalikkan pandangan terhadap galeri seni rupa yang umumnya bernuansa ekslusif dan mewah.


*Wibi Palgunadi (l. 1995) tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta. Saat ini Wibi sedang mengikuti program magang di bagian kajian arsip IVAA, terhitung sejak awal Maret 2017.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sebuah Renungan di tengah Pertempuran Politik Harian

Judul Buku: Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Penulis: Marsen Sinaga
Pengantar: Yuli Kusworo, Saleh Abdullah
Penyunting: Prima S. Wardhani
Ilustrator Sampul: Lintang Rembulan
Edisi: I, Januari 2017
Penerbit: INSISTPress & ArkomJogja

“Kekuatan-kekuatan kapitalisme itu berjuang mendefinisikan semua aspek kehidupan harian setiap orang seturut bayangan idealnya sendiri. Dia diam-diam mendefinisikan apa yang kita sukai, benci, nikmati, kagumi; dia menuntun kita dengan bujuk rayu iklan tentang apa yang hebat, apa yang keren, dan bagaimana semestinya kita menghabiskan uang dan memakai waktu luang kita. Musuh kita, kapitalisme neoliberal itu, bukan melulu ide atau konsep, melainkan juga mesin pembentuk kebiasaan (habit) dan budaya (culture) yang sistematis dan canggih. Pengaruhnya merasuk jauh dan dalam pada relung-relung sanubari setiap orang.” …  (hal. 105)

Penggalan dari sebuah paragraf di atas sengaja saya kutip untuk pembuka, karena spirit tersebut beberapa kali saya temukan di buku setebal 162 halaman ini. Bukan semata asumsi, pemaknaan di atas merangkum cara baca kita dalam melihat siapa dan bagaimana musuh kita bekerja.

Dibuka dengan dua pengantar yang tidak kalah reflektifnya oleh Yuli Kusworo dan Saleh Abdullah, buku ini terdiri dari himpunan beberapa artikel yang berupaya merefleksikan tiap elemen kerja yang hadir dalam proses kerja pengorganisasian yang mengagendakan perubahan sosial. Setiap elemen yang saling menghidupi dalam kerja pengorganisasian dibongkar, dipertanyakan ulang dan diceritakan, sebagai pembelajaran. Kata kunci dari semua ulasan dan kisah dalam buku ini minimal selalu berupa dua hal; yakni refleksi dan pembelajaran bersama.

Bagi pekerja yang kesehariannya beririsan dengan pengorganisasian ataupun terlibat dalam pengelolaan komunitas yang utamanya bergerak bukan untuk profit, membaca buku ini seperti berbincang dengan diri. Sekali dalam dua atau tiga paragraf, kita akan dibawa meloncat keluar dari teks, karena kita akan kontekstualisasikan dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena buku ini mendaftar beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Terdapat beberapa poin yang dijadikan kategori pembahasan, di antaranya ialah; dinamika masyarakat dalam politik ruang (pembangunan) dan dinamika masyarakat atau komunitas terdampak pembangunan dengan kelas menengah. Landasannya jelas, bahwa rumah, lahan atau tempat di mana kita hidup, bukan semata tempat atau ruang fisik, namun juga kehormatan. Di sisi itulah dimulai pembicaraan soal ruang, tidak berhenti pada yang fisik, namun yang mental dan kultural. Pada poin ini, politik identitas menjadi bagian tak terpisah dari definisi ruang sebagai arena kontestasi. Tepat di bagian ini juga, persoalan pengorganisasian juga tidak cukup dibicarakan dengan kajian konteks, namun juga pembicaraan soal posisi subyek dan bahasa.

Dari tiap pengalaman refleksi yang ditorehkan di tiap lembarnya, nampak suatu usaha untuk menguak kontradiksi dari rezim yang menguasai keseharian dari pekerja NGO. Dari rezim makro kapitalisme neoliberal beserta turunannya; yang mewujud melalui rezim manajerialisme, politik pendanaan hingga pola konsumsi. Akhir kata, membaca buku ini, seperti diajak untuk selalu menakar tiap sikap, entah berupa optimisme ataupun pesimisme pada sebuah perubahan; agar terhindar dari pembusukan yang dirayakan!


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese

Oleh: David Ganap

Penulis: Brian Arnold
Pengantar: Aminuddin Th. Siregar
Penyunting: Ellen Avril
Ilustrator Sampul: Diandra Galih
Edisi: I, Februari 2017
Penerbit: Afterhours Book (Lans Brahmantyo)
Bahasa: Inggris
Halaman: 134

Buku berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese” adalah satu dari hasil akhir penelitian Brian Arnold selama tiga tahun tentang fotografi kontemporer di Pulau Jawa. Hasil lain dari penelitiannya adalah pameran dengan judul sama di Herbert F. Johnson Museum of Art di Universitas Cornell yang dibuka awal Februari lalu. Sehingga buku ini bisa juga disebut sebagai katalog dari pameran tersebut. Sebagai kuratornya, Brian memilih sederet nama seniman Indonesia untuk diikut sertakan karyanya. Ada 10 seniman yang tercatat di dalam buku ini: Krisna Murti, Jim Allen Abel, Wimo Ambala Bayang, Angki Purbandono, Dito Yuwono, Deden Hendan Durahman, Henrycus Napit Sunargo, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Amran Malik Hakim, dan Tino Djumini. Tak kalah menarik, ada catatan pendek dari sejarawan seni rupa Aminuddin Th. Siregar yang memaparkan sejarah seni fotografi di Indonesia yang bisa dijumpai di bagian akhir buku ini.

Brian Arnold, seorang seniman fotografi yang tinggal di New York, mengajar seni di Alfred University dan beberapa universitas lain di Amerika Serikat. Brian yang pada mulanya mendalami etnomusikologi jatuh hati pada fotografi untuk pertama kalinya saat berada di Indonesia. Tak hanya hanya itu, kesempatannya untuk belajar gamelan di Jawa waktu itu juga membuatnya jatuh hati pada kebudayaan Indonesia. Petualangan studinya di tahun 1992 tersebut berdampak signifikan bagi penemuan identitas daya cipta dan kesadaran intelektualnya di kemudian hari.

Menyadari betapa kompleksnya perbedaan atmosfir negeri Paman Sam dan Ibu Pertiwi, Brian memprakarsai riset histori mengenai latar belakang dan dampak kolonialisme, serta peran kesenian dalam proses pembangunan peradaban. Riset tersebut mengerucut pada skeptisisme hebat atas fotografi yang bertahan selama beberapa dekade pada negara-negara bekas jajahan yang baru mekar. Masyarakat di era tersebut, dalam kondisi yang traumatis berspekulasi bahwa fotografi terlalu kebarat-baratan dan kerap dimitoskan sebagai mesin kekuatan kolonial.

Berbicara tentang jati diri bangsa, sudut pandang yang Brian gunakan sebagai pendekatan terhadap imaji arsipelago hari ini adalah konsorsium pegiat seni foto Indonesia dengan berbagai materi karya yang representatif. Salah satu di antaranya adalah trilogi “Uniform Code” milik Jim Allen Abel. Jimbo, sapaan akrabnya menarasikan seragam sebagai konsep identitas yang cenderung taksa. Ambiguitas yang ia suarakan berlatar kesadarannya tentang fungsi seragam sebagai “kamuflase” yang mampu menyamarkan sifat personal suatu individu ke dalam kejamakan komunitas.

Untuk memperjelas, Jimbo mengisahkan insiden jenaka ketika dia terpaksa dicegat polisi atas perkara yang tidak begitu penting. Dalam suatu kesempatan, ia mengendaraai sepeda motor tanpa atribut proteksi standar yang berlaku. Saya membayangkan petugas yang menyaksikan momentum ini sumringah merespon kelakuan Jimbo. Tanpa basa-basi, Jimbo dianggap melanggar prosedur keamanan berkendara. Jimbo yang merupakan anggota Mes 56, kolektif seniman fotografi, membaca peluang konseptual dari peristiwa ini. Dia menyadari unsur metaforis tentang nilai dari seragam korporat. Ketika ia berargumentasi dengan oknum aparat yang bersangkutan, ia mengenali anggota kepolisian negara tersebut sebagai seorang pribadi, insan manusiawi dengan kehidupan personalnya dibalik fungsi seragam yang ia gunakan. Akan tetapi, dalam waktu yang relatif berdekatan, ketika ia mencari aparatus negara tersebut, seketika juga identitas pribadi yang tadinya ia kenali, tersublimasi menjadi komponen dari pasukan pengayom masyarakat dalam citra divisi yang utuh.

Pada akhirnya melalui pameran ini, Brian Arnold kembali menegaskan multikulturalisme sebagai penanda eksistensi masyarakat modern. Di mana ‘pencangkokan’ budaya (apalagi di era digital ini) tidak lagi dibatasi oleh persoalan spasial dan waktu. Di samping itu juga memperkokoh makna simbolik bahasa visual sebagai bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat leksikal. Segala proyek serta dedikasi Brian Arnold terhadap Indonesia semakin memperkaya khazanah pemikiran kita tentang citra bangsa ini di masa lampau, saat ini, dan gambaran kemungkinan masa yang akan datang.


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanPustaka Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Oleh: Lisis dan Santosa

Rubrik Sorotan Pustaka ini akan mengabarkan perkembangan Perpustakaan IVAA sejak buletin yang lalu terbit. Koleksi perpustakaan kini telah bertambah sebanyak 21 katalog, 10 majalah, 13 buku, dan 1 skripsi. Di antara koleksi baru ini, banyak yang berasal dari sumbangsih anggota perpustakaan dan mitra/jaringan kerja IVAA yang telah bermurah hati mengkontribusikan terbitan baru maupun koleksi pustaka mereka.

Ada tiga koleksi baru yang akan kami soroti kali ini, yakni buku berjudul “Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic 1945-1965,” sebuah buku yang diterbitkan oleh Prestel Publishing di tahun 2016. Buku ini dikirimkan oleh Dr. Damian Lentini dan Daniel Milnes dari Haus der Kunst, sebuah museum seni non-koleksi di Munich, Jerman. Kedua kurator ini sempat menggunakan arsip IVAA sebagai bahan penulisannya di dalam buku ini. Buku kedua yang kami soroti adalah buku yang kami kira pasti mempesonakan banyak pecinta sejarah, berjudul “Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia,” buku ini ditulis oleh sejumlah penulis sejarah yang diberi kesempatan untuk menggali data di KITLV Leiden, diterbitkan Yayasan Obor di tahun 2013. Sedangkan buku ketiga yang kami tampilkan berjudul “Menjadi Jogja,” terbitan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tahun 2016.


1. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965 846 Halaman
Penerbit: Prestel Publishing
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: English

Buku yang apabila judulnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Pascaperang: Seni Antara Pasifik dan Atlantik, 1945-1965” ini mengkaji seni era pascaperang dari berbagai perspektif; timur dan barat, utara dan selatan, penjajah dan terjajah, Pasifik dan Atlantik. Buku ini diterbitkan berbarengan dengan penyelenggaraan sebuah pameran yang diselenggarakan sejak 14 Oktober 2016 lalu dan masih berlangsung hingga 26 Maret 2017 mendatang di Haus der Kunst, Munich, Jerman. Di dalam pameran ini ditampilkan lukisan, patung, instalasi, performance, film, fotografi, otobiografi seniman, dan dokumen-dokumen, total lebih dari 350 karya dari 218 seniman yang berasal dari 65 negara. Baik pameran maupun buku ini memberikan gambaran mengenai periode sejarah setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, dengan memahami wacana dan sejarah seni yang muncul secara global, mengeksplorasi persepsi individu dan formulasi pada perkembangan seni, struktur politik, pola ekonomi, dan pola kerja institusional di negara-negara Pasifik dan Atlantik yang membentang dari Jerman, Jepang, sampai Amerika Selatan. Buku ini melibatkan 35 kontributor untuk menulis baik itu sejarawan seni, kurator, ataupun akademisi.

2. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia

446 Halaman
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Indonesia

Seperti judul bab pendahuluannya, buku ini berusaha mengajak kita memikirkan ulang historiografi Indonesia. Telah makin kita yakini bersama bahwa menulis sejarah nasional bukanlah sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga politis. Sehingga patutlah kita mempertanyakan kembali klaim akan kebenaran (truth-claims) yang kita konsumsi selama ini dari penulisan sejarah di masa lalu khususnya di masa Orde Baru. Pasca tumbangnya Orde Baru, penulisan ulang sejarah mulai diupayakan. Dalam meninjau historiografi Indonesia, buku ini berusaha menghindari narasi-narasi besar (grand naratives) dan membaca narasi-narasi alternatif yang dimunculkan kaum intelektual dan anggota masyarakat yang berada di pinggir kekuasaan. Selain itu buku ini juga mempertimbangkan banyak faktor, seperti menyadari pentingnya masa kini dalam mempelajari masa lalu, serta berupaya kritis terhadap upaya-upaya yang dilakukan sekarang untuk menulis sejarah-sejarah lokal yang bertujuan mendukung otonomi daerah tertentu dan melegitimasi kekuasaan elit lokal.

Sebagian besar penulis di dalam buku ini mendapat kesempatan untuk bekerja di KITLV Leiden dan menikmati segala fasilitas yang ada, baik perpustakaan, arsip, maupun koleksi foto lembaga. Pada bagian pendahuluan dikemukakan perlunya dekolonisasi historiografi Indonesia. Bagian kedua menyoroti berbagai arti yang diberikan kepada waktu sejarah (historical time), peristiwa, dan pelaku sejarah. Bagian ketiga membahas persoalan narasi sejarah dan peranan ingatan, baik ingatan kolektif maupun ingatan perorangan dalam membentuk narasi sejarah tersebut. Berkaitan dengan ini, maka bagian keempat membahas relevansi sejarah populer, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana sejarawan menghadapi fenomena yang tampaknya sulit ditangkap ini. Sedangkan bagian kelima melihat berbagai genre penulisan sejarah, interpretasi sejarah, peranan film, dan fotografi dalam historiografi.

3. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta377 Halaman
Penerbit Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Buku dengan sampul tebal dengan nuansa klasik ini mendedahkan berbagai aspek sejarah yang menjadi bagian dari bangunan narasi bernama Jogja. Diterbitkan dalam rangka ulang tahun ke 250 Kota Yogyakarta, buku ini disusun oleh Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang bekerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Dibuka dengan beberapa prolog yang memperkuat narasi keistimewaan Yogyakarta, buku ini menuliskan Jogja dari awal mula berdirinya, yang terkait dengan dinamika kerajaan Mataram hingga perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi dua kedudukan, di Surakarta dan di Yogyakarta.

Gambaran pada masa sebelum kemerdekaan juga terdapat dalam buku ini. Masa ketika banyak tumbuh organisasi-organisasi tokoh-tokoh kebangsaan, yang kelak menjadi embrio dari sistem pendidikan nasional yang kita kenal hingga kini, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Taman Siswa (1922). Selain itu, organisasi yang berbasis agama dan pendidikan seperti Perserikatan Muhamadiyah dan NU juga lahir di Jogja dan diceritakan di buku ini.

Kemudian dari sisi arsitektur dan tata ruang kota, narasinya tidak jauh beda dengan narasi sejarah pada umumnya, yang menempatkan keraton sebagai pusat pembangunan.

Selebihnya, kita akan menemukan beberapa narasi romantis lain, perihal posisi Jogja di tengah semesta dan dunia, namun buku ini kosong dari wacana-wacana baru yang lebih mencerdaskan serta menjawab kebutuhan untuk ‘Menjadi Jogja’, bagaimana mengidentifikasi diri secara kolektif serta menentukan posisi politis.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sorotan Pustaka | November – Desember 2016

2016-international-symposium-on-art-archives

1. 2016 International Symposium on Art Archives
Katalog
28 Halaman
Penerbit: National Taiwan University of Arts
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Terbitan ini merupakan buklet yang berisi daftar para pemateri serta urutan acara International Symposium on Art Archives 2016 (ISOAA 2016) yang diselenggarakan di Taiwan pada 10-11 November yang lalu. Simposium internasional ini diselenggaakan oleh National Taiwan University of Arts dan bekerjasama dengan Kementrian Kebudayaan Taiwan. Para pembicara dalam simposium tersebut adalah para arsiparis yang mewakili institusi ataupun pelaku arsip individu (pengumpul arsip), serta para ahli arsip kebudayaan yang berprofesi sebagai peneliti, dosen, maupun perwakilan dari museum. Selain negara penyelenggara yakni Taiwan, di dalam simposium ini dihadirkan perwakilan dari berbagai negara antara lain Kamboja, Singapura, Indonesia, Prancis, Swis, dan Amerika Serikat.

2. Taiwan Annual #1taiwan-annual-2016
Katalog
383 Halaman
Penerbit: Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT)
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Sejak berdiri pertama kali pada tahun 2001, Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT) telah mengorganisir ARTIST FAIR dan membuatnya menjadi platform pameran alternatif untuk para seniman individu dan bukan seperti model galeri-galeri yang kita biasa lihat pada pameran biasanya. Ketika mereka merayakan peringatan hari jadi ke-15 tahun, mereka  mengganti nama itu dan membuatnya menjadi TAIWAN ANNUAL, sebuah pembeda bagi tren seni kontemporer yang biasanya menamai pameran internasional dengan nama “biennale” atau “trienniale”.

Pada edisi terakhir ARTIST FAIR tahun 2015, mereka telah memetakan sebuah masa depan berkesenian bagi Taiwan Annual: sesi “art project call for proposals”, mereka sangat terbuka bagi projek pameran free-style untuk lebih mempromosikan eksplorasi seni kontemporer. Mereka juga menaikkan jumlah proposal yang diterima dalam “Curators Program” dan “Cinema” untuk mendorong para kurator lokal supaya lebih semangat berkarya.

3. Betbetween-declararions-and-dreamsween Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century
Katalog
291 Halaman
Penerbit: National Gallery Singapore
Tahun Terbit: 2015
Bahasa: English

Katalog ini berisi kumpulan karya seni rupa di Asia Tenggara. Katalog bertajuk “Between Declarations and Dreams” ini berisi perjalanan sejarah negara-negara di Asia Tenggara dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga paska kemerdekaan. Katalog ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di kawasan Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain. Bagaimana kita melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut. Katalog yang diterbitkan tahun 2015 oleh National Gallery Singapore ini berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

skripta-vol-4

4. Skripta Volume 04/Semester 2/2016
Jurnal
74 Halaman
Penerbit: Soap (Study on Art Practices)
Tahun Terbit:  Volume 04/Semester 2, 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia

Jurnal Skripta edisi ke empat ini mengemukakan perihal praktik kuratorial dan perkembangan wacana di sekitarnya. Terdiri dari empat esai. Esai pertama, yang ditulis oleh Arham Rahman, mengulik soal tradisi kritik seni yang salah satunya melahirkan kurator. Serta dijelaskan bagaimana terjadinya pergeseran tradisi kritik, dari kritik seni ke kritik kuratorial. Esai kedua yang ditulis oleh Irham Anshari mengenai kelindan wacana pasar seni dan politik pendanaan yang sering kali luput dibicarakan oleh kurator atau seringkali sengaja dibuat absen dari wacana kekuratoran. Sementara esai ketiga yang ditulis oleh Lisistrata Lusandiana merupakan pembacaan teks kuratorial beberapa pameran bertema gender, yang biasanya diikuti oleh sekelompok seniman perempuan. Melalui pembacaan yang ditempatkan dalam frame perjuangan identitas gender, beberapa teks tersebut justru menunjukkan ketidakmampuannya lepas dari jebakan esensialisme identitas. Pada esai terakhir, Sita Magfira mengulas soal fenomena kemunculan kurator dan kondisi kultural yang membuatnya semakin berkembang. Keunikan kondisi kultural di Indonesia inilah yang diulas. Mulai dari kemunculan forum-forum kurator muda, lokakarya dan pelatihannya serta model kerja kurator yang juga beragam dan dekat dengan eksperimentasi.

galeri-edisi-20

5. GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20
Majalah
96 Halaman
Edisi: 20/2016
Penerbit: Galeri Nasional Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Majalah Galeri edisi 20 ini memberitakan keberlangsungan WCF (World Culture Forum) 2016 ke-2, yang dihelat di bulan Oktober silam di Bali. WCF 2016 terdiri dari berbagai acara yaitu seminar, kunjungan wisata, karnaval, pertunjukan kesenian, mural dan lukisan, serta reproduksi karya dua maestro Indonesia Raden Saleh dan Affandi. Sementara di rubrik selanjutnya, tersaji laporan soal Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2016 yang diselenggarakan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang melibatkan sekitar 80 pelajar dan mahasiswa serta berbagai komunitas di Manado. Ulasan soal Pameran 100 Tahun Otto Djaya pada bulan September hingga Oktober lalu juga dihadirkan di sini. Dalam ulasan tersebut juga disebutkan bahwa pameran tersebut berhasil menghadirkan 171 lukisan Otto Djaya.

Pada bagian selanjutnya terdapat ulasan yang menengahkan soal sudut pandang romantik dalam lukisan-lukisan Basoeki Abdullah dan Fernando Amorsolo. Sudut pandang romantik yang ditemukan dari keduanya didapat karena adanya perubahan lingkungan di istana negara, dari istana negara yang ekslusif menjadi lebih inklusif dengan berbagai sentuhan kultural. Sementara di Bangkok, Raja menurunkan puluhan lukisan karya seniman Eropa yang ada di Istana Popporo, Istana Chakri, Istana Chitralada, serta gedung pemerintahan Ananda Samakhom. Menariknya, semua lukisan itu kemudian diganti dengan karya karya Basoeki Abdullah (1915-1993). Pemasangan lukisan-lukisan Basoeki tersebut dipertahankan sampai raja yang dicintai rakyatnya ini mangkat beberapa waktu lalu.

Selebihnya masih ada beberapa rubrik menarik yang mengulas dinamika seni budaya di berbagai tempat dengan skala yang juga beragam.