Tag Archives: #sorotanpustaka

#Sorotanpustaka Mei-Juni 2018

Oleh: Santosa

IVAA sebagai perpustakaan alternatif, mempunyai koleksi katalog pameran seni yang dihimpun sejak IVAA berdiri tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Katalog–katalog tersebut ditata dan disimpan dalam 4 rak dengan jumlah katalog pameran seni 7237, seluruhnya bisa diakses oleh publik dan ditelusuri di http://library.ivaa-online.org/index.php. Katalog – Katalog tersebut berasal dari kontribusi individu maupun pameran. Terdiri dari katalog pameran tunggal maupun pameran bersama yang diselenggarakan di dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, koleksi katalog pameran yang dikoleksi IVAA masih didominasi katalog pameran yang berlangsung di sekitar pulau Jawa terutama Yogyakarta mengingat lokasi dan keterbatasan jangkauan IVAA.

Sementara basis data yang dimiliki IVAA juga telah dibaca dan dijadikan katalog, dihimpun pada tahun 2011 dalam buku Seri Katalog Data IVAA yang terdiri dari  4 tema, yaitu Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942 – 2011), Reka Alam: Praktek Seni Visual Dan Isu Lingkungan Indonesia Dari Mooi Indie Hingga Reformasi, Kolektif Kreatif: Dinamika Seni Rupa Dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan Dan Ekonomi (Kreatif) (1938-2011), Interkultur: Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keragaman (1935 – 2011). Sedangkan tahun 2017 IVAA juga menerbitkan buku Katalog Data IVAA: Seni, Aksi Dan Jogja Sebagai Ruang Urban dirangkai dan dikumpulkan dari berbagai peristiwa seni dan budaya atau yang berkaitan dengannya, yang mengiringi perubahan dan pergeseran arah gerak Yogyakarta sebagai ruang urban pasca-1998. Secara sengaja, beberapa peristiwa yang terhimpun tidak melulu peristiwa yang sudah begitu saja diterima sebagai peristiwa seni visual. Tema-tema ini dibingkai dalam katalog data IVAA sebagai produk pengetahuan kerja dokumentasi IVAA, lebih lanjut sebagai upaya pengembangan wacana pengetahuan dan pemantik untuk penelitian kedepan.

Newsletter edisi kali ini mengulas dua buku, pertama Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro, yang ditulis oleh OPée Wardany dan Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005. Karena pembahasan di kedua buku tersebut berada pada kisaran dua nama seniman, yakni Ugo Untoro dan Semsar Siahaan, kami kemudian membuka koleksi yang juga terkait dengan kedua nama itu, beberapa diantaranya ialah: Ugo Untoro Menggugat… Sisipus tertawa, Papers and Ugo Untoro, Ugo Untoro My Lonely Riot, Sciascia|Untoro, Solo Show By Ugo Untoro, Melupa, Passage Ugo Untoro: Retropective Exhibition, Corat – Coret 91 – 95. Sedangkan yang berkenaan dengan Semsar Siahaan perpustakaan IVAA juga mempunyai antara lain: Semsar Siahaan: Art Liberation dan beberapa katalog pameran kelompok. Selain kedua buku tersebut, satu koleksi baru yang diulas pada edisi ini ialah Tesis berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian, yang ditulis oleh Stanislaus Yangni dalam menuntaskan kuliahnya di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 -2005

Penulis : Semsar Siahaan, Melati Suryodarmo,Halim HD,
Yayak Yatmaka, Mohamad Cholid, Sanento Yuliman, Danarto, Sujiwo Tejo, Yvonne
Owens, Bre Redana, Astri Wright
Penerbit : Yayasan Jakarta Biennale 2017 dan Penerbit Nyala Yogyakarta
Tebal : x+196 halaman
Ukuran   : 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santoso

Buku  Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005 terbagi dalam beberapa tulisan sebagai pembuka buku, yang ditulis oleh sahabat Semsar Siahaan di ITB, yaitu Yayak Yatmaka dan Halim HD, kemudian tulisan – tulisan Semsar sendiri dan 6 esai tentang Semsar yang dilengkapi dengan arsip gambar dan arsip kliping surat kabar.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale dan Nyala ini menunjukkan cara Semsar melihat peran seni secara kritis dan kaitannya terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM). Dari sini juga kemudian kita bisa melihat keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial politik, lingkungan hidup, hingga pendidikan anak. Catatan biografis, esai dan ulasan kritis ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah seni rupa Indonesia. Salah satunya dengan melihat Semsar Siahaan dari aspek kesejarahan melalui perspektif biografi personal, dan perjalanan proses kreatif yang berkaitan dengan posisi serta sumbangsih seniman pada jamannnya.

Semsar Siahaan adalah ikon seniman yang dekat dengan isu-isu sosial politik di Indonesia. Ia menempatkan seni sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Keindahan seni justru muncul dari upaya pembebasan yang dilakukan oleh seniman. Pada 1981, Semsar menggegerkan dunia seni rupa Indonesia dengan mengabukan patung karya Sunaryo, gurunya. Karya itu baru saja kembali dari pameran seni patung internasional di Fukuoka, Jepang. Semsar membakar hangus patung itu, membungkusnya dengan daun pisang, dan menyajikan nasi kuning. Ia menyebutnya “seni kejadian” dan kena skors dari kampus. Bagi Semsar, seni modern Indonesia memuja keindahan estetik. Para seniman memanipulasi seni tradisi untuk kepentingan ego mereka sendiri. Estetika modern ini abai terhadap kenyataan sosial di negeri sendiri, yang sebagian besar terdiri atas kaum agraris miskin (petani dan nelayan). Pada masa Orde Baru, hak-hak dasar rakyat itu dihilangkan dan kemanusiaan mereka ditindas. Semsar meninggal dunia pada 25 Februari 2005 di Bali dan dibawa ke Jakarta untuk disemayamkan di Taman Ismail Marzuki, dan kemudian dimakamkan di Bengkel Teater yang terletak di belakang rumah Rendra.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sebab Jalan Belum Berujung: Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro

Penulis : OPée Wardany
Penerbit : Pustaka Sempu
Tebal : xi + 213 halaman
Ukuran : 17 x 24 cm

oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sebagai seniman, Ugo Untoro bisa dikatakan telah berproses dengan kesenian sedari kecil. Hal ini tidak lepas dari peran kakeknya yang seorang dalang. Meskipun demikian, Ugo Untoro baru bisa dikatakan mulai berkarir sebagai seniman ketika mulai dan selesai mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Lulus perkuliahan di tahun 1995, Ugo Untoro telah melakukan banyak pameran serta meraih beberapa penghargaan bidang kesenian selama periode perkuliahan sampai saat ini. Tidak hanya berkarya secara individu, ia juga menginisiasi ruang seni bernama Museum Dan Tanah Liat (MDTL).

Di luar itu, dari banyak pameran tunggal atau pameran kolektif yang diikuti oleh Ugo, OPée Wardany menyoroti satu pameran tunggal Ugo yang bertajuk Melupa. Pameran Melupa, oleh Ugo Untoro, ini diselenggarakan pada tahun 2013 di Ark Galerie, Yogyakarta. Pameran Melupa ini menjadi menarik karena mengetengahkan teks dengan berbagai macam material sebagai lukisan. Adapun lukisan-lukisan itu berisikan teks-teks Ugo yang berbentuk parafrase, kalimat pendek, atau kumpulan kalimat panjang dalam paragraf-paragraf utuh. Mengingat karya-karya Ugo sebelum pameran ini cenderung menyuguhkan obyek alam, benda, dan manusia. Proses kreatif munculnya obyek teks dalam pameran Melupa tentunya hal yang sangat menarik ditelusuri lebih dalam. Hal inilah yang dipilih penulis sebagai landasan bukunya yang berjudul Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro.

Penjelasan proses kreatif tidak hanya seputar proses Ugo Untoro berkarya, tetapi juga dijelaskan pula tentang proses kreatif sebagai sebuah konsep sehingga terdapat batasan jelas yang bisa didapatkan. Selain itu, unsur-unsur yang juga hadir dan terlibat dalam proses kreatif pameran Melupa Ugo Untoro juga dipaparkan. Adapun cara pandang yang digunakan untuk menjelaskan unsur-unsur itu ialah teori yang dituliskan Howard Saul Becker dalam Art World. Dengan menggunakan paradigma Sosiologi, teori ini memperlihatkan bahwa proses kreatif seniman juga dapat dipengaruhi oleh unsur di luar tubuh seniman.

Lebih lanjut, buku ini juga menjelaskan tentang tahapan-tahapan di dalam proses kekaryaan Melupa. OPée Wardany, selaku penulis buku ini, beranggapan bahwa proses kreatif seni merupakan sebuah proses penciptaan, sehingga cara kerjanya seharusnya tidak berbeda jauh dengan proses penciptaan semesta. Oleh karenanya, penjelasan tahapan-tahapan proses kreatif Melupa menggunakan dasar teori proses dari Alfred North Whitehead. Sebuah teori yang menjelaskan bahwa ada fase-fase yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah kesatuan baru yang utuh. Di dalam banyaknya proses yang ada, pengaruh dari banyak tulisan, pengetahuan, pengalaman hidup, kepribadian ataupun eksplorasi material yang dilalui Ugo di periode sebelum berlangsungnya pameran Melupa, merupakan peristiwa aktual yang melebur menjadi kesatuan baru sampai memunculkan lukisan teks Melupa.

Proses kreatif yang dialami oleh Ugo dalam karya lukisan teks Melupa tidak hadir secara sepintas lalu melalui kekosongan. Akan tetapi, proses kreatif yang terjadi merupakan sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman masa lalu Ugo serta adanya interaksi sosial oleh Ugo sebagai seniman. Meskipun demikian, di samping proses kreatif yang turut menjadi kunci kekaryaan Ugo, keberadaan ideologi yang dimiliki seniman juga memiliki peranan penting sebagai pengarah orientasi seniman. Tentunya proses kreatif seniman satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Apabila anggapan yang lalu muncul bersesuai dengan judul yang dipilih oleh buku ini, mengibaratkan proses kreatif dengan jalan, maka jalan itu tidak akan menemui ujung selama seniman masih terus melakukan proses berkesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian

Penulis : Stanislaus Yangni
Tesis : Pengkajian Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Tebal : x + 216 Halaman
Ukuran : 29×20,5 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Riset estetika seni rupa ini bermula dari kegelisahan peneliti, Stanislaus Yangni, terhadap karya seni lukis Indonesia yang kehilangan ekspresi atau gregetnya—meminjam istilah Sanento Yuliman (2001). Ini tertuang dalam tesisnya yang berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian. Seniman Indonesia pada tahun 1940-1960, antara lain Affandi, S. Sudjojono, Kartono, Hendra Gunawan, Nyoman Gunarsa, Widayat, Martian Sagara, Lim Keng, Sudjana Kerton, Butet, Henk Ngantung, Krijono dan Ipe Ma’aruf, mampu membuat sketsa dengan garis spontan atau goresan di atas kertas maupun kanvas. Sketsa menjadi embrio atau ancangan dari melukis, secara tidak langsung merekam gerak seniman yang peka terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Sementara pelukis saat ini cenderung takut untuk menggores secara spontan, serta kehadiran teknologi representasi (kamera, komputer, proyektor, dan sebagainya) seakan telah menggantikan posisi dan fungsi sketsa. Juga mengubah irama berkesenian dan mentalitas seniman. Goresan dalam sketsa ini kemudian menjadi apa yang disebut greget oleh Sanento, telah hilang di jagad seni lukis saat ini.

Melangkanya seniman yang sketching secara langsung dan on the spot, menumpulkan pengalaman estetik yang berasal dari pengalaman tubuh seniman. Pengalaman ini dalam kajian estetika dikenal dengan pengalaman haptic, yang merujuk pada pengalaman estetik, pengalaman visual yang terjadi pada mata, bukan sekadar merujuk pada yang manual taktikal. Tetapi, lebih dari sekadar perihal sentuhan tangan pada kanvas, sentuhan fisik, melainkan pengalaman yang dihasilkan oleh mata ketika ia merasa menjadi tangan.

Pengalaman estetis-kreatif dalam sketsa, diuraikan Deleuze melalui diagram. Sketsa sebagai diagram, mengeksplorasi proses kreatif seniman lewat elemen garis spontannya. Sketsa mampu melampaui bentuk-bentuk klise, lalu menggantinya dengan apa yang ada di depan mata. Konsepsi oleh Deleuze ini dikenal dengan paradigma estetika Deleuzian, yang kemudian digunakan peneliti sebagai limitasi dalam penelitian.

Tesis ini menjawab hipotesa awal penulis bahwa sketsa sebagai embrio, sebagai ancangan, dari melukis hingga ia menjadi bagian vital dalam seni lukis. Meski tidak semua sketsa, terdapat syarat-syarat yang memungkinkannya menjadi embrio. Pada bagian ini, menjadi letak kekuatan sketsa dalam menghidupkan seni lukis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SOROTANPUSTAKA Maret-April 2018

Perpustakaan dan Arsip adalah salah satu bidang garap di IVAA yang saling terkait, bahan-bahan konten yang ada di archive.ivaa-online.org beberapa sumber dari katalog, buku, klipping surat kabar ataupun makalah yang  fisiknya berada di perpustakaan.

Dalam  bulan maret 2018 kami dibantu 3 kawan magang dari Program Studi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM untuk memilah, menata, dan menyimpan arsip. Dalam penataannya kita bedakan  menurut jenisnya: Undangan, Poster, Brosur, Pustaka, Administrasi Kantor dan Keuangan. Undangan dan poster diurutkan dan dikelompokkan berdasar tahun, sedangkan brosur dikelompokkan menurut institusi, baik Institusi Seni, maupun Institusi Pendidikan, sedangkan berkas administrasi kantor dan keuangan akan ditinjau ulang jangka waktu penyimpanannya, apakah akan dimusnahkan, dinilai kembali, atau dipermanenkan. Sedangkan makalah ataupun tulisan seni akan dibendel dijadikan bahan pustaka. Kemudian untuk  majalah, katalog, komik dan bahan pustaka lainnya akan diinventarisasi, diklasifikasi, dan di-input ke library.ivaa-online.org.

Dalam input  memasukkan metadata yang ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) di bantu juga oleh 2 kawan magang, baik pustaka baru maupun pustaka lama yang belum di-input. Dalam tambahan pustaka baru ada 4 yang akan diulas di sini, pertama Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernur PKI, kedua Komik Merebut Kota Perjuangan: Sebagai Politik Pencitraan Soeharto, ketiga Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz dan terakhir Andy Warhol The King of Pop.

Oleh: Santosa, Khanza Putri, Diatami Muftiarini

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Henk Ngantung, Saya bukan gubernurnya PKI

Penulis : Obed Bima Wicandra
Penerbit : CV Budi Utama
Tebal : XXVI,154 Halaman
Ukuran : 14×20 cm

Oleh: Santosa

Buku ini merupakan hasil dari penelitian-penilitian riwayat Gubernur DKI Jakarta, yang pada khususnya Henk Ngantung, dengan nama lengkap Hendrik Joel Hermanus Ngantung. Buku ini menggunakan rujukan primer catatan pers. Awal buku ini menceritakan ikhwal perjalanan berkesenian Henk Ngantung. Henk di usia 15 tahun sudah menekuni satu bidang seni rupa, orang pada zaman itu menyebutnya “Tukang Gambar”. Di usia sebelia itu, dia sudah berpameran atas dorongan guru dan mantan kepala sekolah, menjual lukisan dari rumah ke rumah. Ketekunan dan etos kerja ini yang mengantarkannya ke Jakarta. Dalam perjalanan berkesenian, kematangan seni gambarnya diperoleh dalam rentang tahun 1937-1940 saat menetap di Bandung. Di sini Henk belajar melukis, satu satunya murid dari Professor Zrudolf wengkart, seorang akademisi dan pelukis dari Wina, Austria. Juga di kota Bandung-lah Henk berkenalan dengan pelukis besar Affandi, yang kemudian mengantar lukisannya pameran di toko milik orang Italy di jalan Braga. Henk termasuk salah satu dari sedikit kaum bumiputra yang berkesempatan pameran di sana.

Tahun 1940 Henk Ngantung hijrah ke Jakarta mengikuti pameran pameran yang diselenggarakan oleh Gabungan Lingkaran Seni Batavia, sejak didirikan 1916 banyak melukis pemandangan dan potret diri. Henk menjadi bagian dari kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi ) yang dimotori oleh S. Sudjojono, seiring itu didirikan Pusat Kebudayaan oleh penguasa Jepang di Indonesia yang dinamakan Keimin Bunka Sidhoso. Pada periode yang sama, tahun 1942 Henk ikut menandai Pameran Besar Seni Lukis. Salah satu karya karya terbaik yang mendapat penghargaan adalah Henk Ngantung. Pada tahun 1943 membuat karya monumental yang menjadi saksi revolusi Indonesia Karya dengan media tripleks berukuran 152 cm x 152 cm berjudul Memanah. Karya ini mengantar kedekatan Henk dengan Sukarno.

Henk juga berorganisasi dan terjun ke dunia politik. Tahun 1959 di Solo, Henk tercatat sebagai sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sedangkan di salah satu bidang Lekra, yaitu Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Henk menjabat sebagai ketua. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Pertimbangan Agung. Namanya perlahan merangkak dan menjadi panitia anggota Sayembara Tugu Nasioanal yang melibatkan seniman – seniman Lekra. Sayembara ini banyak ditentang oleh oposan Sukarno. Kemudian Henk menjadi anggota parlemen Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Henk Ngantung juga merupakan anggota parlemen dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal tersebut membuktikan bila Henk lihai dalam melukis tetapi juga piawai dalam berorganisasi, terutama politik.

Henk Ngantung menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta selama 3 tahun setelah ditunjuk oleh Sukarno. Henk kemudian menjadi gubernur selama 9 Bulan, diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965, dan Dr. Soemarno (Gubernur lama) kembali menjabat sebagai Gubernur yang kali ini dirangkapnya dengan jabatan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah sejak 16 Juli 1965. Dalam buku ini tidak disebutkan secara jelas mengapa Henk diberhentikan menjadi Gubernur, hanya disebutkan karena tenaga dan pikiran Henk diperlukan pada bidang lain.

Dalam masa baktinya yang singkat, Henk berkontribusi dalam capaian artistik tata kota, tentu saja ini merupakan buih dari latar belakangnya sebagai seniman. Henk terlibat dalam perencanaan pembuatan Patung Selamat Datang yang berdiri megah di depan Hotel Indonesia (HI) tahun 1959. Patung yang dibuat dalam rangka Asian Games 1962 dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Patung yang terletak dibundaran HI dengan tinggi 20 meter. Dengan ide dari Sukarno, sketsa dikerjakan oleh Edhi Soenarso, Trubus dan Henk Ngantung. Pengerjaan dilakukan oleh Edhi Soenarso dengan pengawas Henk Ngantung. Landskap lain yang dibuat dalam periode kepemimpinan Henk adalah pembuatan air mancur tahun 1962. Termasuk pembuat lambang baru Provinsi DKI Jakarta. Diawali dengan diadakannya sayembara yang diikuti 93 peserta, namun tidak ada satupun yang masuk kriteria. Akhirnya Henk menangani sendiri pembuatan lambang Jakarta Raya dengan ilustrasi Jakarta sebagai kota revolusi, kota proklamasi kemerdekaan, dan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain di ranah artistik, pembangunan dibidang ruang publik, industri dan birokrasi juga dilakukan. Mulai dari pembenahan kawasan kumuh, mendorong dibangunnya rumah-rumah sederhana untuk ditempati masyarakat kurang mampu, membangun Masjid Istiqal, Kantor Pencatatan Sipil, dan Kantor Perekonomian. Proyek pembangunan Jakarta by Pass, meskipun praktiknya terjadi penggusuran penggusuran yang pastinya menimbulkan kecaman dari masyarakat. Industrialisasi dan modernisasi pasar-pasar tradisional diwujudkan dengan renovasi pasar menjadi lebih modern. Melakukan sensus industri yang diharapkan akan menjadi proyek percontohan kota-kota besar di Indonesia, Sensus industri ini meliputi perusahaan Industri kecil maupun besar, asing maupun dalam negeri, milik pemerintah ataupun swasta. Ide-ide ini diperoleh dari lawatan Henk ke luar negeri, dengan menyediakan fasilitas hiburan bagi masyarakat Jakarta, salah satunya mendirikan Nigcht Club dan departement store.

Henk Ngantung diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965. Pasca Gerakan 30 September 1965 nama Henk Ngantung tidak luput dari pemeriksaan militer, walaupun tidak pernah sampai mendekam di balik jeruji besi. Cap komunis karena keterlibatannya secara aktif di Lekra yang merupakan underbow PKI mau tidak mau tetap melekat. Henk tinggal di rumah kecil di gang Cawang, Jakarta Timur hingga akhir hayatnya di bulan Desember 1991. Kehadiran buku ini menjadi salah satu upaya untuk berkontribusi dalam penulisan sejarah. Henk Ngantung sebagai seniman yang terlibat aktif dalam politik dan pernah memiliki jabatan strategis di pemerintahan, tidak banyak dibekukan kiprahnya baik di bidang politik maupun seni.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Andy Warhol; Andy Warhol, The King of Pop Art

Penulis : Florentia Senojati
Penerbit : Tomato Books
Tebal : XVII + 337 Hal.
Ukuran : 13 x 19 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Buku Andy Warhol, The King of Pop Art ditulis oleh Florentia Senojati, merupakan biografi Andy Warhola—kemudian lebih dikenal Andy Warhol–yang dimulai dari lingkungan masa kecil di Pittsburgh sampai gemerlap kehidupan glamor di New York. Dalam 16 BAB, buku ini bercerita tentang fragmen-fragmen sepanjang hidup Warhol yang sangat tertutup, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Penulis mengumpulkan data dari berbagai publikasi di media massa. Jejak-jejak Warhol tersebut dikumpul dan disusun, kemudian paling tidak memberi sekelebat informasi mengenai kehidupan dingin Warhol, dari perihal seksualitas, musik, film, politik, dan tentu saja seni rupa.

Warhol dikenal sebagai seorang seniman jenius dan ikon dari gerakan Pop Art yang mendobrak perspektif seni rupa pada tahun 1960. Jika pada tahun ’60-an seni rupa memiliki citra serius dan eksklusif, oleh Warhol seni rupa diubah menjadi barang yang dapat diproduksi massal, seperti mesin, dengan teknik blotted line (sablon). Ia menyalin desain-desain sampul produk sehari-hari yang biasa ditemukan di supermarket, baliho di sepanjang jalan, atau potret selebritas yang muncul setiap hari di media massa. Campbell Soup Cans, Coca Cola, potret Marilyn Monroe, dan Elvis Parsley adalah segelintir dari karya-karyanya yang dipamerkan dan melejit pada tahun tersebut.

Karya Warhol yang dinilai ‘dangkal’ dan sederhana oleh banyak seniman dan kritikus, sejatinya menyimpan banyak suara kritis yang ditujukan pada budaya kapitalisme dan konsumerisme di Amerika saat itu. Pola repetisi yang digunakan Warhol dalam karya-karyanya mengingatkan kita pada citra yang terpapar lewat konsumsi media massa sehari-hari. Konten media massa yang sepanjang hari ditujukan pada kita, biasanya hanya menampilkan beberapa pilihan realita yang serupa. Sehingga kerapkali, produk media massa kehilangan makna realita itu sendiri.

Gerakan Pop Art yang dipelopori oleh Warhol pada tahun produktifnya sepanjang 1960-1970 berhasil meruntuhkan dikotomi antara high-art dan low-art, meruntuhkan anggapan bahwa karya seni diperuntukan hanya untuk kalangan elit dan eksklusif. Dengan begitu, penting rasanya untuk memahami Andy Warhol sebagai seniman Pop Art yang berpengaruh dalam sejarah seni dunia.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Komik Merebut Kota Perjuangan Sebagai Politik Pencitraan Soeharto

Penulis : Aldino Widya Putra
Penerbit : PolGov
Tebal : XXIV+140 Halaman
Ukuran : 14, 5 x 21 cm

Oleh Santosa

Dalam bab awal, buku ini mengulik sejarah komik di Indonesia, teori-teori penelitian, analisa ataupun cara pandang membaca komik dari sisi politik dan membandingkan dari media dan tokoh lain dengan tujuan yang sama, yaitu mengemas citra tokoh kepada publik. Latar cerita ini tentang kiprah Letnan Kolonel Soeharto dalam serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta dengan topik perang bernarasi bersifat politis, komik dibangun sebagai narasi historis, sedangkan sejarah dilihat dari fenomena politik.

Kemunculan komik Merebut Kota Perjuangan di tahun 1984 merupakan imbas dari krisis energi minyak, penerimaan sektor migas yang menurun, serta defisit anggaran yang meningkat. Menyadari posisinya tidak aman, Soeharto mengambil langkah strategis guna mengangkat pamornya sebagai pemimpin. Diantaranya membangun citra pribadi melalui beberapa lewat karya seni, dalam bahasan buku ini adalah komik Merebut Kota Perjuangan.

Menurut runutan hasil penelitian komik Merebut Kota Perjuangan adalah cerita latar, yaitu latar waktu terjadi peristiwa benar-benar ada atau bukan fiksi. Sedangkan kejangggalan pada cerita komik ini adalah menghilangkan tokoh penting dalam sejarah, terkait Serangan Umum 1 Maret 1949 yakni kontribusi kolonel Bambang Sugeng yang secara hirarki adalah atasan langsung dari Letkol Soeharto. Kolonel Bambang Sugeng adalah aktor dibalik keluarnya surat untuk melancarkan serangan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta. Selain itu juga menghilangkan peran penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mengkerdilkan peran Sultan yang disinyalir sebagai salah satu pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah bukti nyata, bagaimana citra Soeharto sebagai aktor tunggal di balik keberhasilan Serangan Umum 1 Maret ingin dikonstruksi.

Analisa politik yang kemudian muncul adalah adanya upaya penggambaran Soeharto sebagai komandan yang bijaksana. Soeharto adalah pribadi pemberani. Soeharto adalah pahlawan, adalah tokoh utama dalam porsi kemunculan yang lebih banyak diantara tokoh-tokoh lain. Sejatinya sudah menjadi rahasia umum dimana seni juga dijadikan salah satu medium pembentuk citra elit politik. Konstruksi ini bisa dibentuk secara dogmatis atau dengan cara yang jauh lebih subtil. Komik ini merupakan sejumput perwujudan bahwa karya seni bagaimanapun tetap menjadi representasi ideologi dominan pada masanya.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz

Penulis : Arinta Agustina Hamid, Citra Aryandari, Indiria Maharsi, Irwandi, Kasidi Hadiprayitno, M. Dwi Maryanto, Mikke Susanto, Sumaryono, Timbul Raharjo
Penerbit : Ombak
Tebal : X+137 Halaman
Ukuran : 16 X 24 Cm

Nomor panggil IVAA Library: 701 Mar K

Oleh Khanza Putri  (Kawan Magang IVAA)

Buku ini adalah kumpulan dari 9 tulisan yang berbicara dalam disiplin tata kelola seni. Bisa disebut sebagai salah satu wantah atas perkembangan dunia seni, ranah tata kelola menjadi bahasan yang semakin banyak dibicarakan. Manajemen seni semakin dibutuhkan karena secara filosofis, pengelolaan seni mengalami sublimasi pemikiran dari ranah teknik menuju seni sebagai strategi pemikiran. Sehingga, mengelola seni bukan saja persoalan bersifat fisik seperti penataan ruang, pemasangan karya, menyosialisasikan karya tapi juga meliputi strategi dalam mengolah persepsi, imajinasi dan intuisi penonton. Lebih jauh lagi, dunia manajemen seni juga dapat difungsikan sebagai pencipta tren, style maker, penggubah peristiwa sampai sebagai analis budaya.

Penyunting menganggap bahwa sembilan artikel yang ada di dalam bunga rampai ini memerlukan klasifikasi khusus. Buku ini tidak bisa digolongkan dalam dua klasifikasi seperti Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, karena masing-masing artikel memiliki keterkaitan antar jenis kesenian. Maka dari itu buku ini terbagi menjadi dua bagian yakni bagian pertama yang membahas ranah teoritis dan bagian kedua yang membahas ranah empiris. Tulisan mengenai ranah teoritis memuat empat tulisan yang ditulis oleh M. Dwi Marianto, Sumaryono, Kasidi dan Mikke Susanto. Sedangkan tulisan mengenai ranah empiris, akan memayungi isu yang menjadikan jenis seni tertentu atau perhelatan khusus sebagai kasus dalam penelitian atau kajian tersebut. Lima tulisan itu ditulis oleh Timbul Rahardjo, Citra Aryandari, Irwandi, Miria Maharsi, dan Arinta Agustina Hamid.

Semua artikel di buku ini menarik karena disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan mengangkat peristiwa ataupun karya yang masih hangat di masyarakat. Seperti misalnya tulisan “SITI: Ketika Film Indie Bertarung di Pasar Mainstream”, ditulis oleh Arinta Agustina Hamid. Menceritakan bagaimana SITI yang mengusung spirit independen, lebih populer dengan sebutan film indie. Mencoba mematahkan stigma bahwa film indie sulit bahkan tidak akan pernah memasuki pasar mainstream. Strategi dan format pemasaran film SITI dikupas oleh penulis untuk memahami bagaimana SITI bisa bermain di pasar mainstream dan meraih banyak penghargaan baik di dalam dan luar negeri. Penulis memaparkan bahwa film ini didistribusikan melalui kantong-kantong komunitas, bioskop alternatif, hingga festival. Pergerakan distribusi melalui jalur festival paling banyak ditempuh karena dinilai akan memberikan poin lebih terhadap karya mereka. Terbukti setelah film SITI melanglang buana di berbagai festival, berbagai tulisan yang mengulas baik dari juri, pengamat, kritikus film membawa perjalanan SITI masuk pasar mainstream.

Gaya penulisan yang mudah dimengerti juga tampak dalam tulisan teoritis di bagian pertama. Tulisan “Kesadaran Sebagai Subjek”, dibuka oleh M. Dwi Marianto yang mengeluhkan gersangnya jalan utama di kawasan Bantul, terutama semenjak Pemda Bantul menginstruksikan penebangan pepohonan di sepanjang jalan. Dalam tulisan ini, M. Dwi Marianto menyampaikan bahwa seseorang yang bermental subjek adalah orang yang berani memimpikan sesuatu dan berusaha mewujudkannya. Penulis kemudian mengkritik mental “wis ngene wae ra papa” (sudah begini saja tidak apa-apa) yang terjadi di aktivitas pameran membuat penyelenggara kurang memperhatikan perbaikan hal-hal kecil yang kerap terjadi seperti pengunjung yang merokok di dekat karya, sound system yang baik tidak disediakan, orang-orang yang seenaknya berbicara dan bergurau saat sambutan yang seharusnya suasana hening dan sebagainya. Di bidang penciptaan, pengkajian, dan tata kelola seni seseorang yang bermental subjek adalah seorang pelaku yang berani merencanakan, mencari upaya dan jalan untuk merealisasikan hal yang digagas.

Secara keseluruhan buku ini cukup memberikan gambaran awal kajian teori dan praktik tata kelola seni, sekaligus “berita” tentang tren pemikiran manajemen seni. Buku ini bisa membantu mahasiswa, pegiat, pecinta, dan segala pilar yang berada di ruang seni-budaya, sosial, manajemen, komunikasi, hingga permuseuman. Mengenali tata kelola seni berarti juga mengenali “medan tempur” dunia kesenian.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#sorotanpustaka Januari-Februari 2018

Oleh: Santosa

Dalam dua bulan ini perpustakaan IVAA berbenah, melakukan penataan kembali, membuat sign system dan merapikan koleksi agar semakin mudah dan cepat ditemukan. Tiga orang kawan magang membantu dalam proses entri data ke dalam Senayan Library Management System (SLIMS)  dan meletakkan buku sesuai dengan kode rak-nya masing-masing. Sedangkan publik, yang mengakses koleksi pustaka memiliki kecenderungannya, Beberapa koleksi yang banyak diakses dalam dua bulan ini diantaranya ialah referensi seputar fotografi, film, teori dan sejarah seni, biografi seniman terutama Affandi.  Ada juga yang membaca ataupun meminjam dengan topik – topik tertentu, umumnya sebagai bahan penulisan skripsi hingga tesis. Topik mengenai Desember hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) masih banyak dicari. Dengan tinjauan-tinjauan buku serta katalog yang melingkupinya seperti, Biennnale Jakarta, Outlet: Peta Seni Rupa Yogyakarta, Sejarah Seni Rupa Indonesia, Lekra Tak Membakar Buku, Tuan Tanah Kawin Muda. Topik lain yang berkenaan dengan mural, yang dikaji antara lain Katalog Mural Sama Sama, Mural Rasa Jogja, Kode Art Project, buku tentang ruang kota, Jalan Seni Jalanan Yogyakarta, dan  beberapa skripsi berkenaan dengan mural dan pertarungan  seni di ruang publik.

Untuk tambahan pustaka kali ini berdasar jenis terdapat 15 Buku, 3 Jurnal, 25 Majalah dan 55 Katalog. Sedangkan berdasar subyek terdapat Performance Art, Film, Musik, Ilmu Sosial, Seni Rupa. Dalam tambahan pustaka baru ada 3 yang kita tampilkan ulasannya di sini, pertama “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, kedua buku kumpulan tulisan “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968 – 2017”. Kemudian yang ketiga adalah “Journal Southeast Of Now Directions in Contemporary and Modern Art In Asia” No 1 tahun 2017. Khusus untuk buku ketiga sorotan ditulis dalam bahasa Inggris oleh kontributor Angela Wittwer.

Oleh: Santosa, Eka Chintya Putri, dan Angela Wittwer

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.