Tag Archives: #sorotanpustaka

#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Ace House Collective Workbook

Oleh: Wibi Palgunadi

Penerbit: Ace House Collective
Tahun: 2016
Bahasa: Inggris

Buku setebal 70 halaman ini merupakan buku program sebuah kolektif seniman seni rupa muda bernama Ace House Collective. Kolektif yang berdiri di Yogyakarta sejak 2011 ini banyak bergerak di wilayah konteks budaya pop dan budaya anak muda. Nama-nama seperti Rudy ‘Atjeh’, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan, serta Gintani Nur Apresia Swastika adalah beberapa anggota dari Ace House Collective. Kebanyakan dari mereka merupakan satu angkatan di kampus ISI Yogyakarta serta teman nongkrong. Kemudian di 2014, mereka mengelola sebuah ruang fisik bernama “Ace House”, bertempat di Jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Dalam mengelola ruang ini mereka menekankan pada pendekatan eksperimental dan eksploratif. Selain itu mereka juga menggali berbagai celah kemungkinan dalam seni rupa melalui berbagai program dan aktivitas, seperti presentasi diskusi, pameran, residensi hingga proyek seni lintas disiplin. Dan buku program ini semacam katalog dari kegiatan apa saja yang telah mereka lakukan. Namun sangat disayangkan saya kesulitan menelusuri buku ini maupun mencari tahu ada berapa banyak kegiatan yang terangkum di dalam buku program ini, karena di buku ini tidak dijumpai daftar isi.  Kata pengantar dan daftar nama penyusun buku ini pun juga tidak saya temukan. Bahkan saya merasa kesulitan mencari tahun kapan tepatnya buku ini dicetak.

Meski demikian di buku program ini kita dapat membaca dan melihat-lihat foto dokumentasi dari proyek ataupun program yang tercetus dari buah pikiran dari Ace House Collective, seperti misalnya “Tak Ada Rotan, Akar Punjabi” (bagian dari Jogja Biennale 2011), “Museum Realis Tekno” (ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2013), “Three Musketeers Project” (2014), “Komisi Nasional Pemurnian Seni” (ditampilkan dalam Jogja Biennale 2016), dll. Beberapa dari proyek-proyek seni tersebut sudah pernah dibawa hingga kancah internasional yaitu ke Taiwan dan Korea Selatan.
Salah satu kegiatan menarik yang berhasil diselenggarakan oleh Ace House Collective adalah “Acemart,” yakni bagaimana mereka mampu menghadirkan konsep ruang pamer dengan kemasan minimarket. Karya seni dipajang sedemikian rupa menyerupai barang dagangan yang sering kita jumpai di minimarket waralaba yang menjangkiti banyak kota di Indonesia. Pastinya merupakan pengalaman tersendiri melihat karya seni dipamerkan berdampingan dengan jajanan bocah, gula pasir, kopi instan, deterjen, sikat gigi, dll. “Acemart” agaknya berusaha menjungkirbalikkan pandangan terhadap galeri seni rupa yang umumnya bernuansa ekslusif dan mewah.


*Wibi Palgunadi (l. 1995) tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta. Saat ini Wibi sedang mengikuti program magang di bagian kajian arsip IVAA, terhitung sejak awal Maret 2017.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sebuah Renungan di tengah Pertempuran Politik Harian

Judul Buku: Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Penulis: Marsen Sinaga
Pengantar: Yuli Kusworo, Saleh Abdullah
Penyunting: Prima S. Wardhani
Ilustrator Sampul: Lintang Rembulan
Edisi: I, Januari 2017
Penerbit: INSISTPress & ArkomJogja

“Kekuatan-kekuatan kapitalisme itu berjuang mendefinisikan semua aspek kehidupan harian setiap orang seturut bayangan idealnya sendiri. Dia diam-diam mendefinisikan apa yang kita sukai, benci, nikmati, kagumi; dia menuntun kita dengan bujuk rayu iklan tentang apa yang hebat, apa yang keren, dan bagaimana semestinya kita menghabiskan uang dan memakai waktu luang kita. Musuh kita, kapitalisme neoliberal itu, bukan melulu ide atau konsep, melainkan juga mesin pembentuk kebiasaan (habit) dan budaya (culture) yang sistematis dan canggih. Pengaruhnya merasuk jauh dan dalam pada relung-relung sanubari setiap orang.” …  (hal. 105)

Penggalan dari sebuah paragraf di atas sengaja saya kutip untuk pembuka, karena spirit tersebut beberapa kali saya temukan di buku setebal 162 halaman ini. Bukan semata asumsi, pemaknaan di atas merangkum cara baca kita dalam melihat siapa dan bagaimana musuh kita bekerja.

Dibuka dengan dua pengantar yang tidak kalah reflektifnya oleh Yuli Kusworo dan Saleh Abdullah, buku ini terdiri dari himpunan beberapa artikel yang berupaya merefleksikan tiap elemen kerja yang hadir dalam proses kerja pengorganisasian yang mengagendakan perubahan sosial. Setiap elemen yang saling menghidupi dalam kerja pengorganisasian dibongkar, dipertanyakan ulang dan diceritakan, sebagai pembelajaran. Kata kunci dari semua ulasan dan kisah dalam buku ini minimal selalu berupa dua hal; yakni refleksi dan pembelajaran bersama.

Bagi pekerja yang kesehariannya beririsan dengan pengorganisasian ataupun terlibat dalam pengelolaan komunitas yang utamanya bergerak bukan untuk profit, membaca buku ini seperti berbincang dengan diri. Sekali dalam dua atau tiga paragraf, kita akan dibawa meloncat keluar dari teks, karena kita akan kontekstualisasikan dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena buku ini mendaftar beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Terdapat beberapa poin yang dijadikan kategori pembahasan, di antaranya ialah; dinamika masyarakat dalam politik ruang (pembangunan) dan dinamika masyarakat atau komunitas terdampak pembangunan dengan kelas menengah. Landasannya jelas, bahwa rumah, lahan atau tempat di mana kita hidup, bukan semata tempat atau ruang fisik, namun juga kehormatan. Di sisi itulah dimulai pembicaraan soal ruang, tidak berhenti pada yang fisik, namun yang mental dan kultural. Pada poin ini, politik identitas menjadi bagian tak terpisah dari definisi ruang sebagai arena kontestasi. Tepat di bagian ini juga, persoalan pengorganisasian juga tidak cukup dibicarakan dengan kajian konteks, namun juga pembicaraan soal posisi subyek dan bahasa.

Dari tiap pengalaman refleksi yang ditorehkan di tiap lembarnya, nampak suatu usaha untuk menguak kontradiksi dari rezim yang menguasai keseharian dari pekerja NGO. Dari rezim makro kapitalisme neoliberal beserta turunannya; yang mewujud melalui rezim manajerialisme, politik pendanaan hingga pola konsumsi. Akhir kata, membaca buku ini, seperti diajak untuk selalu menakar tiap sikap, entah berupa optimisme ataupun pesimisme pada sebuah perubahan; agar terhindar dari pembusukan yang dirayakan!


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanPustaka Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Oleh: Lisis dan Santosa

Rubrik Sorotan Pustaka ini akan mengabarkan perkembangan Perpustakaan IVAA sejak buletin yang lalu terbit. Koleksi perpustakaan kini telah bertambah sebanyak 21 katalog, 10 majalah, 13 buku, dan 1 skripsi. Di antara koleksi baru ini, banyak yang berasal dari sumbangsih anggota perpustakaan dan mitra/jaringan kerja IVAA yang telah bermurah hati mengkontribusikan terbitan baru maupun koleksi pustaka mereka.

Ada tiga koleksi baru yang akan kami soroti kali ini, yakni buku berjudul “Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic 1945-1965,” sebuah buku yang diterbitkan oleh Prestel Publishing di tahun 2016. Buku ini dikirimkan oleh Dr. Damian Lentini dan Daniel Milnes dari Haus der Kunst, sebuah museum seni non-koleksi di Munich, Jerman. Kedua kurator ini sempat menggunakan arsip IVAA sebagai bahan penulisannya di dalam buku ini. Buku kedua yang kami soroti adalah buku yang kami kira pasti mempesonakan banyak pecinta sejarah, berjudul “Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia,” buku ini ditulis oleh sejumlah penulis sejarah yang diberi kesempatan untuk menggali data di KITLV Leiden, diterbitkan Yayasan Obor di tahun 2013. Sedangkan buku ketiga yang kami tampilkan berjudul “Menjadi Jogja,” terbitan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tahun 2016.


1. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965 846 Halaman
Penerbit: Prestel Publishing
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: English

Buku yang apabila judulnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Pascaperang: Seni Antara Pasifik dan Atlantik, 1945-1965” ini mengkaji seni era pascaperang dari berbagai perspektif; timur dan barat, utara dan selatan, penjajah dan terjajah, Pasifik dan Atlantik. Buku ini diterbitkan berbarengan dengan penyelenggaraan sebuah pameran yang diselenggarakan sejak 14 Oktober 2016 lalu dan masih berlangsung hingga 26 Maret 2017 mendatang di Haus der Kunst, Munich, Jerman. Di dalam pameran ini ditampilkan lukisan, patung, instalasi, performance, film, fotografi, otobiografi seniman, dan dokumen-dokumen, total lebih dari 350 karya dari 218 seniman yang berasal dari 65 negara. Baik pameran maupun buku ini memberikan gambaran mengenai periode sejarah setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, dengan memahami wacana dan sejarah seni yang muncul secara global, mengeksplorasi persepsi individu dan formulasi pada perkembangan seni, struktur politik, pola ekonomi, dan pola kerja institusional di negara-negara Pasifik dan Atlantik yang membentang dari Jerman, Jepang, sampai Amerika Selatan. Buku ini melibatkan 35 kontributor untuk menulis baik itu sejarawan seni, kurator, ataupun akademisi.

2. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia

446 Halaman
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Indonesia

Seperti judul bab pendahuluannya, buku ini berusaha mengajak kita memikirkan ulang historiografi Indonesia. Telah makin kita yakini bersama bahwa menulis sejarah nasional bukanlah sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga politis. Sehingga patutlah kita mempertanyakan kembali klaim akan kebenaran (truth-claims) yang kita konsumsi selama ini dari penulisan sejarah di masa lalu khususnya di masa Orde Baru. Pasca tumbangnya Orde Baru, penulisan ulang sejarah mulai diupayakan. Dalam meninjau historiografi Indonesia, buku ini berusaha menghindari narasi-narasi besar (grand naratives) dan membaca narasi-narasi alternatif yang dimunculkan kaum intelektual dan anggota masyarakat yang berada di pinggir kekuasaan. Selain itu buku ini juga mempertimbangkan banyak faktor, seperti menyadari pentingnya masa kini dalam mempelajari masa lalu, serta berupaya kritis terhadap upaya-upaya yang dilakukan sekarang untuk menulis sejarah-sejarah lokal yang bertujuan mendukung otonomi daerah tertentu dan melegitimasi kekuasaan elit lokal.

Sebagian besar penulis di dalam buku ini mendapat kesempatan untuk bekerja di KITLV Leiden dan menikmati segala fasilitas yang ada, baik perpustakaan, arsip, maupun koleksi foto lembaga. Pada bagian pendahuluan dikemukakan perlunya dekolonisasi historiografi Indonesia. Bagian kedua menyoroti berbagai arti yang diberikan kepada waktu sejarah (historical time), peristiwa, dan pelaku sejarah. Bagian ketiga membahas persoalan narasi sejarah dan peranan ingatan, baik ingatan kolektif maupun ingatan perorangan dalam membentuk narasi sejarah tersebut. Berkaitan dengan ini, maka bagian keempat membahas relevansi sejarah populer, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana sejarawan menghadapi fenomena yang tampaknya sulit ditangkap ini. Sedangkan bagian kelima melihat berbagai genre penulisan sejarah, interpretasi sejarah, peranan film, dan fotografi dalam historiografi.

3. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta377 Halaman
Penerbit Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Buku dengan sampul tebal dengan nuansa klasik ini mendedahkan berbagai aspek sejarah yang menjadi bagian dari bangunan narasi bernama Jogja. Diterbitkan dalam rangka ulang tahun ke 250 Kota Yogyakarta, buku ini disusun oleh Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang bekerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Dibuka dengan beberapa prolog yang memperkuat narasi keistimewaan Yogyakarta, buku ini menuliskan Jogja dari awal mula berdirinya, yang terkait dengan dinamika kerajaan Mataram hingga perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi dua kedudukan, di Surakarta dan di Yogyakarta.

Gambaran pada masa sebelum kemerdekaan juga terdapat dalam buku ini. Masa ketika banyak tumbuh organisasi-organisasi tokoh-tokoh kebangsaan, yang kelak menjadi embrio dari sistem pendidikan nasional yang kita kenal hingga kini, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Taman Siswa (1922). Selain itu, organisasi yang berbasis agama dan pendidikan seperti Perserikatan Muhamadiyah dan NU juga lahir di Jogja dan diceritakan di buku ini.

Kemudian dari sisi arsitektur dan tata ruang kota, narasinya tidak jauh beda dengan narasi sejarah pada umumnya, yang menempatkan keraton sebagai pusat pembangunan.

Selebihnya, kita akan menemukan beberapa narasi romantis lain, perihal posisi Jogja di tengah semesta dan dunia, namun buku ini kosong dari wacana-wacana baru yang lebih mencerdaskan serta menjawab kebutuhan untuk ‘Menjadi Jogja’, bagaimana mengidentifikasi diri secara kolektif serta menentukan posisi politis.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sorotan Pustaka | November – Desember 2016

2016-international-symposium-on-art-archives

1. 2016 International Symposium on Art Archives
Katalog
28 Halaman
Penerbit: National Taiwan University of Arts
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Terbitan ini merupakan buklet yang berisi daftar para pemateri serta urutan acara International Symposium on Art Archives 2016 (ISOAA 2016) yang diselenggarakan di Taiwan pada 10-11 November yang lalu. Simposium internasional ini diselenggaakan oleh National Taiwan University of Arts dan bekerjasama dengan Kementrian Kebudayaan Taiwan. Para pembicara dalam simposium tersebut adalah para arsiparis yang mewakili institusi ataupun pelaku arsip individu (pengumpul arsip), serta para ahli arsip kebudayaan yang berprofesi sebagai peneliti, dosen, maupun perwakilan dari museum. Selain negara penyelenggara yakni Taiwan, di dalam simposium ini dihadirkan perwakilan dari berbagai negara antara lain Kamboja, Singapura, Indonesia, Prancis, Swis, dan Amerika Serikat.

2. Taiwan Annual #1taiwan-annual-2016
Katalog
383 Halaman
Penerbit: Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT)
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Sejak berdiri pertama kali pada tahun 2001, Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT) telah mengorganisir ARTIST FAIR dan membuatnya menjadi platform pameran alternatif untuk para seniman individu dan bukan seperti model galeri-galeri yang kita biasa lihat pada pameran biasanya. Ketika mereka merayakan peringatan hari jadi ke-15 tahun, mereka  mengganti nama itu dan membuatnya menjadi TAIWAN ANNUAL, sebuah pembeda bagi tren seni kontemporer yang biasanya menamai pameran internasional dengan nama “biennale” atau “trienniale”.

Pada edisi terakhir ARTIST FAIR tahun 2015, mereka telah memetakan sebuah masa depan berkesenian bagi Taiwan Annual: sesi “art project call for proposals”, mereka sangat terbuka bagi projek pameran free-style untuk lebih mempromosikan eksplorasi seni kontemporer. Mereka juga menaikkan jumlah proposal yang diterima dalam “Curators Program” dan “Cinema” untuk mendorong para kurator lokal supaya lebih semangat berkarya.

3. Betbetween-declararions-and-dreamsween Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century
Katalog
291 Halaman
Penerbit: National Gallery Singapore
Tahun Terbit: 2015
Bahasa: English

Katalog ini berisi kumpulan karya seni rupa di Asia Tenggara. Katalog bertajuk “Between Declarations and Dreams” ini berisi perjalanan sejarah negara-negara di Asia Tenggara dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga paska kemerdekaan. Katalog ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di kawasan Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain. Bagaimana kita melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut. Katalog yang diterbitkan tahun 2015 oleh National Gallery Singapore ini berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

skripta-vol-4

4. Skripta Volume 04/Semester 2/2016
Jurnal
74 Halaman
Penerbit: Soap (Study on Art Practices)
Tahun Terbit:  Volume 04/Semester 2, 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia

Jurnal Skripta edisi ke empat ini mengemukakan perihal praktik kuratorial dan perkembangan wacana di sekitarnya. Terdiri dari empat esai. Esai pertama, yang ditulis oleh Arham Rahman, mengulik soal tradisi kritik seni yang salah satunya melahirkan kurator. Serta dijelaskan bagaimana terjadinya pergeseran tradisi kritik, dari kritik seni ke kritik kuratorial. Esai kedua yang ditulis oleh Irham Anshari mengenai kelindan wacana pasar seni dan politik pendanaan yang sering kali luput dibicarakan oleh kurator atau seringkali sengaja dibuat absen dari wacana kekuratoran. Sementara esai ketiga yang ditulis oleh Lisistrata Lusandiana merupakan pembacaan teks kuratorial beberapa pameran bertema gender, yang biasanya diikuti oleh sekelompok seniman perempuan. Melalui pembacaan yang ditempatkan dalam frame perjuangan identitas gender, beberapa teks tersebut justru menunjukkan ketidakmampuannya lepas dari jebakan esensialisme identitas. Pada esai terakhir, Sita Magfira mengulas soal fenomena kemunculan kurator dan kondisi kultural yang membuatnya semakin berkembang. Keunikan kondisi kultural di Indonesia inilah yang diulas. Mulai dari kemunculan forum-forum kurator muda, lokakarya dan pelatihannya serta model kerja kurator yang juga beragam dan dekat dengan eksperimentasi.

galeri-edisi-20

5. GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20
Majalah
96 Halaman
Edisi: 20/2016
Penerbit: Galeri Nasional Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Majalah Galeri edisi 20 ini memberitakan keberlangsungan WCF (World Culture Forum) 2016 ke-2, yang dihelat di bulan Oktober silam di Bali. WCF 2016 terdiri dari berbagai acara yaitu seminar, kunjungan wisata, karnaval, pertunjukan kesenian, mural dan lukisan, serta reproduksi karya dua maestro Indonesia Raden Saleh dan Affandi. Sementara di rubrik selanjutnya, tersaji laporan soal Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2016 yang diselenggarakan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang melibatkan sekitar 80 pelajar dan mahasiswa serta berbagai komunitas di Manado. Ulasan soal Pameran 100 Tahun Otto Djaya pada bulan September hingga Oktober lalu juga dihadirkan di sini. Dalam ulasan tersebut juga disebutkan bahwa pameran tersebut berhasil menghadirkan 171 lukisan Otto Djaya.

Pada bagian selanjutnya terdapat ulasan yang menengahkan soal sudut pandang romantik dalam lukisan-lukisan Basoeki Abdullah dan Fernando Amorsolo. Sudut pandang romantik yang ditemukan dari keduanya didapat karena adanya perubahan lingkungan di istana negara, dari istana negara yang ekslusif menjadi lebih inklusif dengan berbagai sentuhan kultural. Sementara di Bangkok, Raja menurunkan puluhan lukisan karya seniman Eropa yang ada di Istana Popporo, Istana Chakri, Istana Chitralada, serta gedung pemerintahan Ananda Samakhom. Menariknya, semua lukisan itu kemudian diganti dengan karya karya Basoeki Abdullah (1915-1993). Pemasangan lukisan-lukisan Basoeki tersebut dipertahankan sampai raja yang dicintai rakyatnya ini mangkat beberapa waktu lalu.

Selebihnya masih ada beberapa rubrik menarik yang mengulas dinamika seni budaya di berbagai tempat dengan skala yang juga beragam.

Sorotan Pustaka | Oktober-November 2016

Katalog “Seni dan Politik Posisi”

Oleh: Sukma & Lisistrata

Di tengah meluasnya rezim pergeseran batas yang telah menguatkan ilusi adanya warga dunia, baik melalui sarana wisata, ekonomi dan budaya, sekali lagi kita dihadapkan pada soal identitas, posisi diri di tengah konstelasi global. Posisi diri yang dimaksud di sini ialah diri yang kolektif. Diri yang selalu menjadi bagian dari. Baik kesatuan kultural, sejarah atau apapun yang sifatnya tidak terberi.

Dalam konteks nasional, kesenian tidak lepas dari proyek bersama pengentalan keindonesiaan. Dalam waktu yang bersamaan, proyek pengentalan identitas dalam cakupan regional juga berlangsung dari waktu ke waktu. Usaha ini bisa terlihat dari model kolaborasi yang dilakukan antar negara Asia, Asia Tenggara atau bahkan dalam lingkup nusantara bahkan propinsi.

Sorotan Pustaka kali ini menyajikan kumpulan katalog pameran seni rupa yang mengangkat spirit tersebut. Spirit kolaborasi antar wilayah dalam cakupan yang beragam, dengan identitas yang jamak, namun bisa dilihat sebagai bagian dari proyek pengentalan identitas. Soal identitas ini tentu menjadi persoalan yang politis ketika kita tempatkan dalam konteks global, yang sarat dengan nuansa geopolitik, bahwa terdapat negara yang lebih kuat, sementara di sisi lain, terdapat yang subordinat. Ada sejarah panjang yang menempatkan perihal geografis, menjadi persoalan yang politis. Agar tidak terburu-buru menyebutnya sebagai upaya dekolonisasi, kita bisa menundanya dengan tanya; sejauh apa upaya-upaya yang ditempuh oleh masyarakat seni ini mampu melampaui dikotomi antara yang lokal dan internasional? Beberapa koleksi yang sudah di seleksi terkait dengan tema ini sempat kami tampilkan di Pojok Katalog dalam acara Buku Andalan, Kedai Kebun Forum, 8-24 September 2016. Kali ini beberapa koleksi ‘andalannya’ kami hadirkan kembali dalam bentuk ringkasan singkatnya, untuk menunjukkan bahwa proyek politik identitas dalam dinamika seni rupa menjadi perjalanannya sendiri yang penting untuk kita catat, baik dalam rangka melanjutkan atau sekadar menangkap spiritnya.  

art-in-southeast-asia-resize1.Katalog “Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future”

“Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future,” merupakan sebuah pameran yang diselenggarakan bersama antara Museum of Contemporary Art, Tokyo, Hiroshima City Museum of Contemporary Art and Japan Foundation Asia Center. Menampilkan kurang lebih 80 karya seniman dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, dan menyoroti keragaman seni di Asia Tenggara saat ini

Dalam pameran ini perwakilan dari penyelenggara melakukan kunjungan ke lima negara yang terlibat dan melakukan wawancara kepada sedikitnya 100 seniman serta berdialog dengan kurator dan kritikus seni lokal untuk mencari gambaran tentang situasi seni rupa di negara-negara tersebut, hingga kemudian terpilihlah 17 seniman dan kelompok seni. Seniman-seniman yang terpilih kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kategori menurut subyek-subyek utama dalam konten karya mereka. Ketiga kategori tersebut diyakini dapat memberikan panduan untuk melihat gambaran masalah yang dihadapi seniman-seniman Asia Tenggara saat ini dan memahami bagaimana mereka mengkonstruksi bentuk ekspresi mereka dalam karya.

changing-states_resize2. Katalog “Changing States-Contemporary Art and Ideas in an Era of Globalisation”

Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluh Institute of International Visual Arts (inIVA), menampilkan lebih dari 100 karya seniman dan penulis, antologi ini memang lebih dari katalog, karena upayanya dalam memetakan perubahan lansekap seni dan budaya kontemporer selama satu dekade terakhir dalam konteks ekonomi global dan politik lokal. Terdiri dari berbagai macam ulasan, deskripsi dan esai dari karya-karya seniman dari seluruh dunia yang terlibat dalam proyek-proyek bersama inIVA, baik proyek pameran, penerbitan, multimedia, pendidikan, penelitian, diskusi dan lain sebagainya.

Disusun berdasarkan sepuluh tema bagian, Metropolis, Site, Nation, Performance, Global, Identity, Translation, Making, Archive dan Modern, didalamnya terdapat esai, katalog dan publikasi, reproduksi karya seni, dokumentasi dan berbagai bentuk arsip lainnya.

sumatra-biennale_resize3. Katalog “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering”

Merupakan katalog pameran seni rupa Biennale Sumatra tahun 2012 yang diadakan di Sumatera Barat. Seperti katalog pada umumnya, katalog ini juga memuat dokumentasi karya dan biografi seniman yang terlibat serta teks pengantar kuratorial. “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering,” adalah pameran seni rupa dua tahunan pertama yang mempresentasikan karya-karya seniman Aceh hingga Lampung. Diikuti oleh 30 seniman dan satu kelompok seni, dikuratori oleh Kuss Indarto yang saat itu merupakan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Sumatra Biennale mengambil tema Self Discovering. Tema tersebut diambil demi upaya membangun ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an. Tema kuratorial tersebut diharapkan mampu mengajak para seniman yang terlibat untuk melakukan pembacaan, pemetaan, penyikapan, dan pelontaran komitmen personal melalui bahasa visual yang merupakan perangkat utama perupa. Di sini soal identitas ditekankan sekali lagi, untuk digali dan jika perlu dibentuk.  

modernisme-asia_resize4. Katalog “Modernisme Asia: Perkembangannya yang Beragam di Indonesia, Filipina, dan Thailand”

Merupakan katalog yang diterbitkan dalam rangka pameran seni rupa “Asian Modernism” yang melibatkan serta diselenggarakan di tiga Negara yaitu Filipina, Thailand dan Indonesia. Katalog ini berisi dokumentasi 139 karya terpilih dari ketiga negara yang dipamerkan di Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada 21 Juni hingga 7 Juli 1996.

Pameran Asian Modernism diadakan dengan maksud memperlihatkan bagaimana modernisme yang selama ini dipercaya hadir dari barat, berkembang di Asia. Yang menjadi titik tekan disini ialah dinamika modernisme yang terjadi di Indonesia, Filipina dan Thailand, untuk menunjukkan coraknya dan ragam perkembangan modernisme di beberapa bangsa yang berbeda. Kaitan antara seni rupa modern di Asia ditekankan dengan modernisme, yang menunjukkan bahwa dalam dinamikanya, seni rupa di Asia tidak hanya terkait dengan modernitas, namun juga modernisme. Para kurator yang melakukan pengkajian pada perkembangan seni rupa dengan awal modernisasi di Asia pada Abad ke 18/19 (melalui karya-karya Raden saleh, Juan Luna, Hidalgi dan Lozano) menemukan bahwa modernisme di Asia muncul akibat perkembangannya sendiri dan bukan semata karena pengaruh modernisme Barat. Dekonstruksi atas modernisme dalam konteks Asia menunjukkan bahwa di Asia terdapat dimensi berbeda dalam perkembangan modernisme. Di titik inilah, pameran ini menebalkan spiritnya, bahwa modernisme di Asia berbeda dengan modernisme Eropa-Amerika.

idealokal-seni-rupa_resize5. Katalog “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara”

Merupakan katalog untuk “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara,” sebuah pameran lanjutan dari “Pameran Seni Rupa Nusantara I” yang diadakan tahun 2001. Pameran ini diprakarsai Galeri Nasional Indonesia dan Bagian Proyek Wisma Seni Nasional, menjadi ajang pertemuan, tatap muka serta silih asah bagi para perupa dari seluruh pelosok negeri.

Dikutip dari pengantar kuratorial yang ditulis oleh Mamanoor, Pameran Seni Rupa Nusantara II masih terfokus kepada citra dan pencitraan azas kepulauan (bukan kewilayahan atau provinsi sebagai mana dipahami selama ini). Kendati kemodernan seni rupa selalu identik dengan fokus perhatian ke wilayah perkotaan (umumnya lingkungan urban) yang berada di suatu provinsi, tetapi citra dan pencitraan ini bisa diperluas dengan wilayah kepulauan sebagaimana termaktub dalam pemahaman istilah Nusantara. Hal ini dipikirkan sebagai upaya untuk membongkar citra birokrasi kekuasaan yang telah mengkooptasi pencitran (adanya sentralisasi, relasi pusat dan daerah, dsb) yang selama ini turut melanda dunia seni rupa Indonesia. Oleh sebab itu, tak pelak apabila karya-karya yang terpilih tidak diartikan untuk mewakili kota, provinsi, atau wilayah tertentu di sebuah pulau di nusantara dengan latar sosial-budaya dan mengungkapkan idealokal sub-kultur yang diusungnya.

malaya-and-indonesia_resize6. Buku “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought”

Buku ini diterbitkan sebagai pelengkap kegiatan “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought,” berisi panduan dan informasi, serta esei dari setiap pembicara konferensi.

Konferensi ini berlangsung selama dua hari dan terdiri atas empat panel: (1) Identitas Melayu dan Kemelayuan di Nusantara, (2) Literatur dan Kebudayaan Melayu, (3) Perjuangan-perjuangan ideologis, (4) Pergerakan rakyat dalam membuat konstitusi; di mana masing-masing panel berusaha menunjukkan pemikiran politik dan kultural pada periode sejarah yang berbeda. Konferensi Revisiting Malaya ke dua ini diharapkan mampu menjadi pengingat hubungan-hubungan historis antara Malaya dan Indonesia lewat bentuk pandangan spasial yang berbeda. Baik di masa lalu maupun masa kini, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Komunitas imajiner yang diproyeksikan dalam istilah Melayu Raya, Indonesia Raya, atau Maphilindo memperlihatkan inklusivitas dan ekslusivitas batas-batas geografis di dunia Nusantara, di mana identitas bersama dari “Melayu” Malay atau Kemelayuan selanjutnya diwujudkan di dalam wacana yang relevan.

katalog concept context contestation7. Katalog “Concept Context Contestation: Art and The Collective in Southeast Asia”

Merupakan katalog pameran seni rupa yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Exhibition Department, Bangkok Art and Culture Centre. Katalog ini berisi tulisan lepas dari ketiga kurator pameran, sejarawan seni, seniman dan lain-lain serta arsip dan dokumentasi karya dari seniman yang terlibat pameran. Pameran “Concept Context Contestation” dikuratori oleh tiga kurator pilihan dari Asia Tenggara (Singapura, Indonesia dan Thailand), pameran ini berusaha memberi stimulasi visual untuk masyarakat luas, selain juga menawarkan wawasan sejarah seni ke dalam budaya kekinian kita. Melalui karya-karya seniman dari Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Myanmar, dan Kamboja, pameran ini berusaha memetakan seni kontemporer dalam suatu kawasan, berakar pada pemikiran konseptual lokal untuk sebagai sarana membentuk ide-ide tentang dan untuk kolektif itu sendiri. Dengan memamerkan hampir 50 karya dari kurang lebih 40 seniman, pameran ini berusaha menunjukkan gagasan bahwa pendekatan konseptual yang digunakan dalam seni kontemporer Asia Tenggara belum tentu diimpor melainkan bersumber dari kebudayaan kita sendiri.

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref