Tag Archives: #sorotanpustaka

SOROTAN PUSTAKA | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Santosa Werdoyo

Salah satu hasil dari revitalisasi Rumah IVAA untuk perpustakaan adalah adanya balkon yang terletak di lantai dua. Dengan bertambahnya ruang, harapan yang tentu muncul adalah agar para pengguna pustaka dapat lebih nyaman mencari tempat untuk membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

Selama ini, aktivitas membaca dan meminjam dari para pengguna perpustakaan IVAA banyak berkenaan dengan pustaka yang berhubungan dengan seniman progresif, seni rupa modern dan Biennale Jogja. Sementara, ada beberapa tambahan koleksi pustaka yang kami peroleh dari hibah, hunting pameran, dan pembelian. Ada 30 katalog, 15 majalah, dan 53 buku yang diinventarisasi dan diinput ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS).

Untuk newsletter edisi ini, ada beberapa buku baru yang diulas, yakni Soembawa, 1900-1950; Gunungkidulan; Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990; dan Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.

Sorotan Pustaka November-Desember 2018
Oleh: Santosa, Esha Jain, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990

Title : Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990
Edited : Stephen H Whiteman, Sarena Abdullah, Yvonne Low, Phoebe Scott
Book Description : 248 x 172 mm, 335 pages
Publisher: Power Publications and National Gallery Singapore
Originally published July 2018
Call Number: 701 Whit A

Reviewed by : Esha Jain

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990 seeks to separate the art of the Southeast Asian countries from the stereotypes, expectations, and assumptions traditionally “Western” societies hold about it that are byproducts of the Cold War. It consists of ten essays created in partnership between “eastern” and “western” institutions such as the National Gallery Singapore and the University of Sydney’s Power Institute. The pretense of the book in itself is unique. It created “a regional network of emerging and senior scholars” in one year, with an emphasis on archiving. The archival lens provides a unique historical and cultural perspective throughout the book.

As a result of returning to the art of the era long after the influential events have occurred, the authors are able to explore the lasting impact the era had on the country, artist, and culture. Not only does the basis of archiving allow the reader to have an enhanced reading experience with visual aids, but it also enables both the audience and author to explore a facet of culture from the perspective of an often overlooked historical context in conjunction with the examination of artwork. The archiving and documenting aspect allows the audience to understand the cultural implication both during the time period, as well as the impacts on preservation and expression today.

For example, the process of collecting research and archiving was heavily reflective of the impact of the Cold War on countries in the region. For instance, Cambodia’s art experienced mass and systematic destruction at the hands of the Khmer Rouge. In the essay “‘The Work the Nation Depends On’: Landscapes and Women in the Paintings of Nhek Dim,” Roger Nelson describes the difficulties he faced in trying to obtain documents pertaining to the work of Dim. However, because Nelson has a background in archiving, he was able to provide an underrepresented perspective into the impact foreign involvement in Cambodia had on cultural preservation.

The book’s strength lies not only in its archival lens, but in that it does not attempt to broadly generalize “Southeast Asian art” during 1945-1990. Rather, each author investigates in depth one person, topic, or event. This allows for specific issues to be explored from a fresh, focused lens. Specifically, in terms of Indonesia, the book explores both the impact of Indonesia remaining neutral during the Cold War as well as art movements after the 1965 killings. Especially regarding the incidents of 1965, the author was able to explore a taboo topic. Even today, communism and the acts of 1965 are still widely left out of conversation. The essay investigates how, “…this traumatic period impacted Indonesian modern art history from the perspective of those who witnessed it firsthand.” As an archivist and art historian, Wulan Dirgantoro was able to review a largely untouched subject through art, providing a perspective on the emotional toll of a national tragedy.

Ultimately the book attempts to remove the western lens from Southeast Asian art. Each author attempts to separate themselves from what they have been taught through traditional Eurocentric education. Too often, parts of history are written over by hegemonic powers. Stories are left unread and undiscovered, creating a single narrative, often unrepresentative of large swaths of the world. This collection of essays seeks to share these overlooked stories.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Gunungkidulan

Judul : Gunungkidulan
Pengarang : Wonggunung
Penerbit : BaturAgung
Tahun : 2018
Deskripsi : 823 Halaman + XVI ; 17,6 x 25 Cm
No Panggil : 300 Won g

Resensi oleh : Muhammad Indra Maulana

Mitos adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (arbitrer) sehingga sesuatu dianggab alamiah. Mitos, melalui fakta yang bisa digambarkan konsekuensinya, adalah Bahasa. Mitos adalah bentuk wicara” – Roland Barthes

Lahirnya kumpulan tulisan “gunungkidulan” ini hanya pemenuhan-emosional atas panguda-rasa penulis terhadap pawacana, atau paralambang purwa yang telah tergelar dengan cetha-ngegla di bumi Gunungkidul khususnya dan Jawa umumnya. Berdasarkan ilmu para winasis yang ia pahami, penulis membuat jejaring secara ala kadarnya. Cukup menarik bagi saya, ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membaca kumpulan tulisan ini. Jika membacanya terlalu serius, bisa jadi isinya menjadi tak serius dan banyak yang ngawur.

Terdapat banyak kumpulan mitos-mitos Gunungkidul di buku yang berhalaman 823 ini, yang akan membuat Anda mengantuk pada lembar-lembar awal. Jadi masuk akal ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membacanya. Salah satu mitos yang menarik untuk dibaca adalah “Gadhung”. Mitos ini dibungkus dalam sebuah esai yang membahas pohon sebagai materi yang ingin hidup. Artinya, oleh kapedal yang mewakili opini sekelompok orang atau masyarakat umum, dianggap mati. Aneh, bukan? Ya, itulah mitos.

Mitos adalah sistem komunikasi. Di dalamnya tersimpan pesan-pesan. Mitos merupakan sebentuk Bahasa. Bahasa mitos tak hanya berbentuk Bahasa yang berasal dari tulisan. Benda-benda, mahkluk, foto, dsb bias dimaknai sebagai tulisan, asalkan memiliki  ‘kosa kata’. Kata-kata, khususnya dalam kebudayaan kulawangsa Gunungkidul (Jawa), tentu memiliki sejarah epistemologinya sendiri. Maka inilah ikatan temalinya: mitos Gunungkidulan adalah pengungkapan kata-kata atas berbagai gambar, bentuk, benda, konsep hingga pemikiran Gunungkidulan.

Sempat terpikir kenapa sang penulis ini menggunakan dua bahasa dalam buku ini, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu guru dan murid dalam khasanah pengetahuan Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah tunggal guru: sama-sama berguru pada bahasa induk atau indung Nusantara. Artinya kedua bahasa ini memiliki sifat universal dari sesuatu yang disebut bahasa, yakni komunikatif. Bahwa bahasa adalah penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam seluruh kegiatannya.

Nalar penokohan si simbok seperti Dewi Sri, Nawang Wulan, Talang Warih, R(L)embayung, Rara Resmi, Rara Sudarmi, Rara kuning, Gadhung Mlati, dan penyebutan lainnya adalah gambaran penalaran peradaban Gunungkidul yang telah terikat kuat dengan ‘sejarah’ Siti atau Bumi Gunungkidul. Gambaran ini juga sekaligus metafora atas kontrak sosial masyarakat Gunungkidul dengan paralambang atau simbol yang amat dihormati dan ditinggikan: indu(k/ng).

Ketika di Eropa, pada dekade 40-an, Barthes selama dua tahun menulis tentang mitos-mitos (pos)modern orang Perancis seperti bubuk sabun dan deterjen, mainan anak-anak, otak Einstein dan lain-lain. Penulis, lewat pepenthan tulisan ini, mencoba bercerita tentang mitos-mitos wangsa tradisional Gunungkidul yang beberapa di antaranya berhubungan erat dengan bidang kerja keseharian para simbok (perempuan) di desa, seperti dhudhuh, tela, gathot, endhang-endhang, laron, weksa, menthol, pencok, thiwul, tempe, jangan lombok, ngliwet, utri dan lainnya. Tentu, topik-topik yang diinterpretasikan melalui buku ini bisa diasumsikan menggambarkan penalaran kehidupan wanita Jawa yang muncul dari beraneka totem tersebut, yang seakan-akan berbeda kutub dengan apa yang dilakukan Barhes. Seolah seperti mitos pramodern versus mitos (pos)modern.

Mitos bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk diselami agar kita selalu ingat bahwa kita senantiasa hidup berdambingan dengannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal

Judul : Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal
Penulis : Yuli Andari Merdikaningtyas
Penerbit : CV. Esa Media Tama, bekerjasama dengan Sumbawa, dan didukung oleh Lembaga Adat Tana Samawa
Halaman dan Ukuran : 120 hlm; 13 x 20 cm

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini ditulis berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bala Kuning (1931-1952).  Komunitas Sumbawa Cinema Society dan KITLV Digital Image Library adalah pihak yang mengoleksi katalog foto-foto tersebut. Dari dua sumber arsip foto yang berbeda, digunakan dua perspektif untuk meresponnya. Untuk sumber arsip foto pertama kacamata orang Eropa yang melihat dan mengimajinasikan Sumbawa sebagai tempat tinggal di Hindia Belanda menjadi perspektif yang digunakan. Sedangkan untuk sumber arsip kedua, perspektif yang digunakan lebih untuk membaca representasi Indonesia. Seleksi foto dilakukan dengan memilah foto-foto berangka tahun yang sama dengan sumber pertama.

Mengacu pada metodologi disiplin sejarah, posisi arsip dilihat sebagai sumber sejarah yang menempati kedudukan  tertinggi dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, atau dapat dikatakan sebagai sumber sejarah primer. Dalam pengantar buku ini,  disampaikan bahwa penulisan sejarah lokal sangat kering karena jauh dari pusat kekuasaan. Juga, tidak banyak yang berminat menulis sejarah lokal. Selanjutnya, pembicaraan tentang sejarah lokal Sumbawa yang bersumber dari foto dibicarakan di halaman 34 dengan berdirinya studio foto Sinar di Kota Sumbawa Besar. Tentu, untuk mampu membaca arsip foto, kita memerlukan konteks. Oleh karena itu,  diperlukan sumber-sumber lain, seperti teks foto, catatan harian penulis, maupun arsip lain yang mendukung dan relevan dengan arsip foto yang dimaksud.

Dalam halaman-halaman terakhir, foto-foto bernarasi dipaparkan. Foto-foto itu banyak tentang keluarga, pejabat-pejabat pemerintahan Belanda dan Kerajaan Sumbawa, dan sebuah perayaan maupun aktivitas yang diselenggarakan oleh kerajaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan

Judul : Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan
Penyusun : Agus Aris Munandar, Joko Madsono, Aris Ibnu Darodjad, Irna Trilestari, Linda Sunarti, dan Budi Eriyoko
Penerbit : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Basoeki Abdullah

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini merupakan salah satu kajian tentang karya lukis Basoeki Abdullah yang dilakukan oleh Museum Basoeki Abdullah. Dengan berangkat dari tema-tema lukisan Basoeki Abdullah secara berkesinambungan pada 2009, kajian pertama diterbitkan dengan judul Lukisan Basoeki Abdullah: Tema Dongeng, Legenda, Mitos, dan Tokoh Kajian. Kajian kedua, pada 2011, berjudul Lukisan Potret Basoeki Abdullah. Sedangkan kajian ketiga, dituangkan ke dalam buku pada 2018, bertema Perjuangan Bangsa, Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan.

Secara singkat, buku ini terdiri atas dua bagian. Pertama, lebih kepada penjelasan soal kerangka dan metode-metode kajian. Selanjutnya, baru mengulas soal tema yang dikaji beserta objek lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, baik yang disimpan di museum, perorangan, ataupun tempat lain yang masih berada di Indonesia.

Dalam buku ini lukisan-lukisan yang dikaji telah dikumpulkan dan dikelompokkan secara tematis, disertai tabel beserta deskripsi lukisan. Dari ketiga tema yang disuguhkan, untuk tema Perjuangan terdapat 7 lukisan dengan 2 peristiwa yang digambarkan yaitu 4 Gerakan Non Blok dan 2 Sketsa Revolusi. Untuk tema Sosial dan Kemanusiaan terdapat 16 lukisan, antara lain lukisan aktifitas di sawah, di pasar, di pelabuhan, figur nenek dan monyet, dan figur anak. Selain itu, beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah juga dibandingkan dengan lukisan-lukisan karya pelukis lain dengan kriteria kesamaan objek yang digambar.

Penutup dalam buku ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang dijelaskan sebelumnya, bahwa lukisan-lukisan Basoeki Abdullah cenderung realis. Dengan tidak melepaskan unsur keindahan dalam objek yang dilukis, pada perbandingan karya lukis Basoeki Abdulah dengan Dullah, Henk Ngantung, dan Rustamaji, hakekatnya adalah sama; bahwa lukisan mereka itu menyampaikan peristiwa sejarah dan visualisasi keadaan sosial.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

#SOROTANPUSTAKA SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Oleh: Santosa

Pengunjung perpustakaan memiliki kecenderungannya membaca bahan pustaka yang masih beragam, keragaman tersebut antara lain: seni di ruang publik, hukum berkenaan dengan hak cipta dari produk seni, pemikiran Marxis di Asia Tenggara dengan penekanan pada Indonesia khususnya di sekitar rentang waktu 1965, maupun penelitian tentang seniman seperti Trubus Sudarsono hingga Ugo Untoro. Sumber-sumber pustaka ini dijadikan bahan penulisan, baik untuk skripsi dan  tesis.

Dalam aktivitas input buku baru, telah dimasukkan metadata ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) dengan dibantu  oleh 2 kawan magang. Satu berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta dan satu dari Sanata Dharma Yogyakarta. Baik pustaka baru maupun pustaka lama yang telah diinput sepanjang bulan Agustus – September 2018   yaitu: 35 Majalah, 47 Katalog, 40 Buku, 7 Komik, dan 1 Skripsi. Dalam tambahan pustaka baru kali ini ada 8 yang akan diulas, mereka adalah Nakal Harus Goblok Jangan, Politik Tanpa Dokumen, Pada Sebuah Kapal Buku, Semesta Dibalik Punggung Buku, Konferensi Asia Afrika 1955, Becoming 20 Tahun Galang Kangin, Begitu ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu, Bergerak dari Pinggir.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Semesta di Balik Punggung Buku

Oleh Gabriela Melati Putri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku        : Semesta di Balik Punggung Buku
Pengarang         : Muhidin M. Dahlan
Penerbit              : I:Boekoe
Tahun Terbit      : 2018
Deskripsi Fisik : 13x19cm, 444 hlm.
Nomor Panggil : 300 Dah D

Nah, tahulah kita bahwa buku tak sekadar soal laba-rugi, adu syahwat proyek buku ajar di sekolah, dan serangkaian pidato dengan mengutip angka-angka presentase minat baca yang jeblok. Buku melampaui kisah fraktal macam itu.
        Semesta di Balik Punggung Buku, hlm. 21–

Melalui kumpulan ulasan buku yang ditulis Muhidin M. Dahlan, kita diajak untuk melihat “Semesta Dibalik Punggung Buku” (sebagaimana judul buku ini dituliskan). Disusun dalam enam bab, kita diajak mengupas sedikit demi sedikit luasnya semesta di balik buku yang berjejer di rak-rak toko buku. Penulis yang akrab disapa Gus Muh ini mengajak pembaca mengenal para (bukan) pembaca buku yang menggerakkan pasar dan tergila-gila dengan buku. Para penerbit yang terlibat dalam proses produksi buku sebelum sampai di tangan para pembaca. Para penulis yang menuangkan rekaman realitas dan ingatan mereka di dalam tulisan. Dan tidak terlewat juga pegiat pustaka yang berusaha membangun semangat budaya literasi di tengah masyarakat. Tidak jarang, di antara subjek-subjek yang hidup di dalam semesta tersebut, ada relasi kuasa yang terjadi: antara negara dengan para pegiat literasi, antara para penerbit yang tengah bersaing, dan bahkan lebih sering di dalam relasi sosial kita di dalam keseharian–beragama dan bernegara. Semakin jauh melangkah di dalam buku ini, kita diajak untuk membaca buku sebagai catatan pemaknaan atas peristiwa sosial, sejarah, politik, dan budaya yang ada di sekitar kita yang kompleks dan tidak linear, apalagi netral.

Sebagaimana disebut Ratih Fernandez di dalam pengantar, “Ada begitu banyak buku yang terbit, tetapi hanya sedikit yang diulas. Akhirnya, buku-buku yang tidak diulas itu, tidak benar-benar sampai ke pembaca.” Padahal, seperti kutipan Gus Muh yang disebut di awal tulisan, persoalan buku tidak lagi hanya menjadi laba-rugi atau sebagai komoditas pasar. Bukan juga sebagai bacaan yang terpisah begitu saja dari masyarakat. Justru, sebagai sumbangsih literatur yang perlu tetap hidup, gagasan-gagasan yang tertuang di dalam buku perlu dibaca dan dimaknai secara kontekstual. Dengan memperbincangkan buku di dalam ulasan-ulasan, kita ikut merayakan buku sebagai peristiwa literasi agar selalu bertemu dengan pembaca-pembaca yang baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Nakal Harus, Goblok Jangan

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Nakal Harus, Goblok Jangan
Pengarang           : Muhidin M. Dahlan
Penerbit                : I:Boekoe
Tahun                      : 2018
Deskripsi Fisik   : 451 Hlm
No. Panggil           : 300 Dah D

Dalam profilnya di laman tirto.id, Muhidin M. Dahlan atau yang akrab disapa Gus Muh ini dikategorikan sebagai penulis yang tulisan-tulisannya agak kontroversi di masyarakat. Pengalaman membaca buku ini agaknya membuat pengkategorian tersebut tidak sepenuhnya keliru. Jalan kepenulisan yang dipilih Muhidin mungkin memang mengarah ke sana, dan itu juga yang membuat tulisannya menjadi berkesan.

Salah satu ciri kontroversi tersebut dapat ditemui dalam salah satu seri buku 20 Tahun Menulis Muhidin M: Nakal Harus Goblok Jangan. Dahlan. Bagaimana banyak menyinggung (kalau tidak ingin disebut membela) nasib kaum yang disebutnya sebagai kaum Kuminis (plesetan Muhidin dari Komunis) yang posisinya selalu termarjinalisasi, ketimbang mengamini stigma negatif yang kadung mengakar. Kutipan berikut dari salah satu tulisannya dalam buku ini mungkin bisa memperkenalkan kita kemana sebetulnya jihat(d) Muhidin;

“Sebab, keinginan kuat mengingat amal baik dari sebuah kaum paling terkutuk di NKRI inilah, tulisan ini menemui Anda. Dakwah bil-hikmah ini berpretensi, bahwa di tengah kegelapan pikir memandang kuminis dalam segala aspeknya, kuminis adalah selapisan kaum politikon yang melihat lebaran sebagai bulan kemenangan; bulan perdamaian” (hlm. 194).

Buku ini merupakan salah satu seri dari total empat seri yang diterbitkan. Berisi sebanyak 69 esai yang akan membuat pembaca bertamasya menyalami ragam persoalan. Tidak hanya persoalan sebetulnya, tetapi pengetahuan pembaca akan sejarah juga akan tercerahkan atau minimal bertambah. Melihat dalam satu seri terdapat puluhan esai, dapat dibayangkan jika Muhidin merupakan tipe orang dengan banyak keresahan. Sebab konon, tulisan-tulisan atau produk pikiran apapun itu lahir dari keresahan.

Patut dihaturkan pula terima kasih kepada editor buku ini, Safar Banggai yang telah memilah-kelompokkan puluhan esai tersebut ke dalam bab-bab yang dinamainya dari potongan teks Proklamasi. Total ada lima bab yakni; “Kami Bangsa Indonesia”, “Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”, “Mengenai Pemindahan Kekuasaan”, “D.L.L.”, dan “Wakil-Wakil Bangsa Indonesia”. Seperti yang disebutkan di awal, topik-topik yang terangkum dalam buku kumpulan esai ini beragam, mulai dari bahasan soal Raffi Ahmad, hingga Bung Karno, mulai dari konflik sosial, hingga perjalanan sejarah bangsa dan identitas tokoh-tokoh. Meminjam kata editor, mungkin kita kagumi (dan mungkin kita benci). Tidak ketinggalan pula tentu saja, topik yang gurih-gurih sedap dibahas tiap esais yaitu rezim pemerintahan sekarang, dan hal-hal di luar yang telah disebutkan tadi, tetapi masih masuk dalam hitungan butuh untuk pembaca ketahui.

Ditulis dalam periode waktu 2014-2018, hampir semua esai dalam buku ini pernah dipublikasikan di beberapa media seperti, Mojok.co, Jawa Pos, Koran Tempo, Muhidindahlan.radiobuku.com, Solopos, Media Indonesia, Tirto.id, dan Geotimes.co.id.

Bagi tipikal pembaca yang lebih dulu menguap sebelum membaca paragraf pertama sebuah esai atau “tulisan yang tidak ringan”, buku ini mungkin cocok untuk Anda. Sebab 54 esai dalam buku ini diambil dari tulisan Muhidin yang pernah dipublikasikan di Mojok.co, yang artinya adalah Anda akan maklum menemui beberapa kata cakapan di tengah-tengah bahasan yang seharusnya “serius” seperti misalnya ena, menye-menye, unyu, selo, dan lain-lain: tulisan-tulisan yang menggelitik sekaligus getir. Ini juga mungkin sebuah upaya mengetuk pintu kesadaran kita bahwa persoalan yang rumit jangan melulu dibawa kaku.

Akhir kata, yakin usaha sampai!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Pada Sebuah Kapal Buku – Membangun Budaya Literasi dalam Tarikan Kekuasaan

Oleh Gabriela Melati Putri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku         : Pada Sebuah Kapal Buku
Penulis                  : Muhidin M. Dahlan
Tahun Terbit      : 2017
Penerbit               : I:Boekoe
Nomor Panggil : 300 Dah D

Masih dalam rangkaian seri 20 Tahun Menulis Muhidin M. Dahlan, bagian ini membicarakan posisi buku sebagai instrumen politik, demikian dunia buku pun politis. Sebagai sebuah tempat tersimpannya gagasan (dan ingatan kolektif) masyarakat, buku berada dalam pusaran rumit dengan negara dan pemangku kuasa. Belum lagi korporasi buku dengan kelompok elit-intelektual, serta dengan berbagai lapisan kelas di masyarakat. Untuk merangkum narasi tersebut, buku ini diberi tajuk Pada Sebuah Kapal Buku.

Pelarangan buku (“penjagalan buku”, sebagaimana Muhidin menyebutnya) dan sensor barangkali menjadi salah satu topik yang paling sering kita simak dalam lini masa dunia perbukuan di Indonesia–terutama ketika membicarakan keterlibatan penguasa. Balai Pustaka, yang didirikan pada masa kolonialisme sebagai contoh, melakukan penertiban ”buku-buku liar”; apa yang “baik” dan “tidak baik” untuk dibaca para bumiputera. Menengok ke belakang, negara pun tidak jarang melakukan “bersih-bersih” terhadap buku-buku kiri, melanggengkan ketakutan dan kebencian terhadap komunisme (bersama Marxisme dan Leninisme).

Tentu, kelindan lain antara negara dan buku tak hanya terkait pelarangan dan sensor; bacaan yang “layak” dan “tidak layak”, tetapi terkait erat pula dengan kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh negara, juga dengan irisan-irisan kepentingan perniagaan buku. Infrastruktur buku menjadi salah satu yang cukup banyak dikupas dalam buku ini. Perpustakaan menjadi salah satu fokus perhatian Muhidin. Perpustakaan adalah ruang bagi memori kolektif untuk dicatat dan diarsipkan, dan pustakawan adalah pengawalnya; garda depan yang menjaga dan diberi kesempatan “berinteraksi” secara intensif dengan buku-buku. Akan tetapi, ruang-ruang ini pun memiliki keterbatasan untuk mencapai masyarakat lapisan terbawah. Ia ada di ruang-ruang kota, bukan di daerah-daerah lain yang terpencil. Dalam salah satu kritikan yang dilontarkan Muhidin, tak jarang perpustakaan menjadi sehambar tata kelola administratif. Tak jarang pula, perpustakaan bukan menjadi ruang dialog antara berbagai macam pikiran, tetapi justru telah dipilihkan apa “yang sesuai” dan “tidak sesuai”. Mencontoh Soekarno yang malang-melintang dalam berbagai gagasan (bacaan) yang bertentangan satu dengan yang lain, demikian pulalah seyogyanya negara memberikan bacaan-bacaan kepada masyarakat. Beruntungnya, membangun ruang baca ini menjadi kerja kolektif. Kelompok-kelompok arsip, perpustakaan-perpustakaan mandiri yang dibuka dan dikelola secara kolektif maupun individu justru yang memberi sumbangsih.

Membangun budaya membaca memang bukan hal yang mudah. Ada berbagai persoalan ekonomi dan politik yang melingkupinya. Ketersediaan bacaan dan akses terhadap bacaan adalah salah satu contoh. Mengutip puisi Wiji Thukul, Catatan, buku sering menjadi komoditas yang harganya tak dapat dijangkau oleh masyarakat di lapisan bawah. Tak jarang, toko-toko itu pun hanya tersedia di perkotaan, dengan dikte bacaan-bacaan “bagus” yang tak menyentuh masyarakat pembacanya. Maka, persoalan utama dari rendahnya minat baca  terletak pada ketersediaan dan akses terhadap bacaan tersebut.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Politik Tanpa Dokumen

Oleh Senjang Martani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku : Politik Tanpa Dokumen
Penulis          : Muhidin M. Dahlan
Tahun             : 2018
Penerbit       : I:Boekoe
No panggil  : 300 Dah D

..”jangan pernah mimpi memanen kejayaan peradaban (indonesia Jaya 2030) jika tak siap berjalan dalam kesunyian merawat, memupuk, dan menjaga warisan masa silam dengan segenap kesadaran. Bila tidak, aparat pemerintah hari ini akan dikutuk generasi berikutnya sebagai kutu bagi buku, rayap bagi dokumen, dan hama bagi padi yang menghancurkan harapan “petani-petani peradaban.” (Hlm 16)

Arsip selama ini dipahami sebagai kumpulan kertas usang dan berdebu tanpa dipahami informasi penting yang terkandung di dalamnya. Arsip sebagai sumber ingatan atau informasi haruslah dikelola secara serius, tidak asal-asalan apabila kita tidak mau kehilangan jati diri sebagai bangsa karena tidak mampu merawat rekaman peristiwa masa lalu.

Dalam esai-esainya pada buku berjudul Politik Tanpa Dokumen ini, Muhidin sangat jeli dalam menggunakan dan memilih data sebagai referensinya. Ada banyak sekali koran-koran lama yang dijadikannya sebagai data. Seperti dalam esainya yang berjudul “Setengah Abad Teror Kanigoro”, menggunakan kliping di Harian Rakjat edisi 11, 13 Februari 1965 untuk menampilkan narasi lain soal Tragedi Kanigoro. Esai-esai di buku ini juga ditebari oleh bibliografi media dan tokoh yang tidak hanya kaya atau terkemuka tapi juga serius: Bintang Timur, Kompas, Tempo, Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Pramoedya Ananta Toer, Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, dan banyak nama lain.

Bagi para pecandu buku, membaca buku ini akan menjadi pengalaman menarik dan mungkin bisa mengubah cara pandang dalam melihat sejarah Indonesia. Ada banyak peristiwa yang luput atau jarang muncul dalam pembahasan buku-buku sejarah, ada di buku ini. Namun perlu kehati-hatian saat membaca setiap esai di buku ini karena pembacaan yang tergesa-gesa dan tidak hati-hati rawan menimbulkan kesalahan pemahaman.

Melalui esai-esai yang terkumpul dalam buku ini, Muhidin seolah ingin menebarkan “teror” bagi pembaca. Sepakat dengan editor buku ini bahwa esai-esai itu dibuat agar orang lain tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana tidak, separuh buku ini rasanya seperti makian muhidin. Makian-makian itu dibahasakan sedemikian rupa dan dibumbui data-data. Membuat pembacaan terhadap buku menjadi cukup eksploratif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.