Tag Archives: sorotanpustaka

Perayaan Akhir-akhir Ini: Sebuah Impresi Awal

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana

Biasanya semester kedua itu dipenuhi oleh perayaan-perayaan seni-budaya, entah pameran, pertunjukan, seminar, festival dan lain-lainnya. Juga, semester kedua identik dengan bulan-bulan wisata. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang piknik menikmati waktu luang. Wisata dan perayaan seolah menjadi paket liburan yang menyenangkan. 

Wabah corona kemudian memukul berat dunia perayaan dan wisata sejak awal 2020. Meski begitu, pada semester kedua ini suasananya agak beda. Wisata memang masih belum seramai biasanya, tapi tidak untuk perayaan. Ada beberapa hajatan seni-budaya yang tetap digelar dengan menyesuaikan situasi yang serba terbatas. Sebagian besar mengandalkan wahana daring, sebagian lainnya mencoba luring. Dua-duanya seolah sama-sama gagap. Yang daring susah payah mengupayakan komunikasi virtual secara maksimal, yang luring kesulitan menghadapi publik yang tidak sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan dan pendaftaran kunjungan. 

Kami cukup penasaran, membayangkan bagaimana perayaan yang biasanya dipenuhi kerumunan orang di suatu tempat tertentu, harus berhadap-hadapan dengan perubahan saat ini. Dinamika keruangan macam apa yang muncul? 

Merayakan Yang Virtual

Festival Sumonar bisa dibilang cukup getol menyambut perubahan sosial akhir-akhir ini. Secara khusus, melalui tema ‘Mantra Lumina’ (5-13 Agustus 2020) festival seni cahaya ini mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari ruang maya. Kemungkinan baru yang dimaksud adalah interaktivitas. 

Melalui “Optimisme dalam Hiperteks” dalam e-katalognya, Sujud Dartanto sebagai kurator mengurai bahwa acara ini bukan acara dokumentasi dari karya-karya yang terekam, namun, melalui wahana ‘online’ ini makna ritual akses sesungguhnya sudah berbeda dengan ritual akses dalam cara ‘offline’. Ritual akses secara ‘online’ menandai cara mengada (ontologi) acara ini yang berbeda dengan cara mengada ‘offline’. Cara mengada berdampak pada bentuk presentasi dan interaksi yang terjadi. Pengakses akan membuka laman situs, berselancar di dalamnya, dan menikmati karya-karya ‘architectural projection/ video mapping’ dan instalasi cahaya dengan kebebasan melakukan ‘play’ kapan saja, di mana saja. 

Festival Sumonar memandang kultur digital macam ini sebagai peluang dan inspirasi dari keniscayaan perubahan. Menegaskan pengalaman estetika baru, ketika karya bisa terus direproduksi, disebarkan secara massif, dan bahkan direspon oleh pengunjung. 

Galeri Nasional melalui pameran dua tahunannya, Manifesto, juga tak kalah ketinggalan merespon perubahan besar ini. Untuk perayaan Manifesto VII (8 Agustus-6 Desember 2020), Galeri Nasional menggelar pameran daring bertema ‘Pandemi’ yang menyuguhkan 217 karya video dari 204 peserta lolos seleksi. Semua berupa karya video. Melalui pameran ini, Galeri Nasional ingin melebarkan sebaran peserta pameran. Selain mereka yang punya karir seni, boleh mengirimkan karya. Harapannya, Manifesto VII mampu menjadi saksi sejarah, menandai zaman. 

Serentak virtual nampaknya jadi pemantik untuk mempertegas kultur teknologi era 2000-an ini. Bicara soal itu, ada tulisan menarik dari Antariksa, Nuraini Juliastuti dan Djudjur T. Susilo (2000) berjudul “NetArt: Penyelidikan Awal”. Tulisan yang dibuat untuk acara diskusi NetArt di Galeri Benda Yogyakarta pada 12 Juni 2000 ini bicara soal virtualitas dalam konteks pertemuan internet dan seni. 

Dengan merujuk gagasan Nicholas Mirzoeff, mereka menulis bahwa virtualitas merupakan ruang yang tidak nyata tapi tampak (that is not real but appears to be). Sesuatu yang berada di antara, seperti halnya ketika kita sedang bertelepon. Peralihan dari realitas eksternal tiga dimensional ke realitas internal poli-dimensi. Dalam konteks ruang sosial pameran, peralihan ini bergerak dari ruang sosial di mana pengunjung dapat mengakses karya (virtual antiquity), lalu representasi dari karya (pictorial space), hingga ruang mental pengunjung ketika representasi bertemu persepsi. 

Seiring berjalannya waktu, virtualitas bergeser dari ruang mental ke ruang arsitektur virtual, utamanya ketika internet hadir. Perbedaan menonjol terletak pada interaksinya. Pengunjung punya kontrol untuk merespon karya. Pengalaman estetik bukan lagi perihal kontemplasi, melainkan aksi. Otentisitas dan orisinalitas sang seniman diruntuhkan. 

Sepertinya menarik kalau kita coba hadapkan penyelidikan awal 20 tahun silam itu dengan fenomena hari ini. Mari kita lihat kembali Festival Sumonar. Ada sekitar 25 seniman yang terlibat: 11 untuk projection mapping dan 14 untuk instalasi cahaya. Semua karya itu ditampilkan secara daring melalui website Festival Sumonar. Jika kita lihat dengan paradigma virtualitas dalam pengertian ruang arsitektur virtual, kebebasan pengunjung memang menonjol. Kita dapat leluasa menentukan kapan akan menyaksikan karya-karya tersebut. Ruang pamer virtualnya pun begitu artifisial; berdiri di tengah perempatan 0 km Jogja melalui layar, bebas mau dari kiri atau kanan sembari memilih ruang mana yang mau kita tengok. Festival Sumonar nampak betul-betul menyambut perubahan besar ini secara serius. Mereka membangun secanggih mungkin arsitektur ruang virtualnya. 

Akan tetapi dalam hal interaksi dengan karya, setidaknya hanya ada satu karya yang betul-betul menunjukkan aspek itu. “E-xorcism: A Self Digital Exorcism” dari Krack Studio. Karya berwujud video ini menampilkan ‘mantra’ yang diambil dari percakapan keseharian yang disesuaikan dengan aura pengunjung. Masing-masing penglihat akan melihat warna aura yang berbeda, begitu pula mantra-mantra dan musik yang muncul setelah mengklik tombol ‘interact with artwork’. Namun, jika kita cermati keseluruhan karya dalam pameran ini, rasa-rasanya belum menciptakan interaktivitas yang betul-betul melahirkan reproduksi lanjut oleh pengunjung. Seolah, Festival Sumonar belum terlalu ikhlas kalau orisinalitas karya dicabut begitu saja. Memang ini perkara rumit, apalagi berkaitan dengan teknologi digital yang butuh kemahiran berbeda dari produksi seni non-NetArt. 

Manifesto VII dari Galeri Nasional, meski juga ada dalam posisi yang sama, punya fokus yang agak lain. Mereka memanfaatkan metode daring untuk menghapus sekat antara seniman profesional dengan yang bukan. Ada karya-karya yang dibuat oleh dokter, guru, pegawai, ibu rumah tangga, perawat dan pelajar. Tepat sekali kalau gebyar virtual ini dipandang sebagai momen menghapus sekat. Akan tetapi entah kenapa hanya karya berbentuk video yang diterima. Argumen ‘mengutamakan durasi’ seperti yang dijelaskan di pengantar-pengantarnya terasa kurang meyakinkan, dan agak bertabrakan dengan kemungkinan-kemungkinan lain dari wacana seni dan internet. 

Dua perayaan di atas, dan mungkin juga beberapa perayaan lainnya, menyambut ‘yang virtual’ secara lebih tegas. Jika perubahan ini menjadi rezim ke depan, nalar keruangan seni tentu akan semakin kompleks. Memang, interaktivitas baru sebagai kemungkinan yang dibayangkan mungkin belum sepenuhnya NetArt, kalau meminjam gagasan dalam tulisan Antariksa dkk. Akan tetapi, atas nama eksperimentasi seni, perayaan ‘yang virtual’ ini sangat patut diapresiasi. 

Arus Balik: Refleksi dan Kritik atas Ruang yang Timpang

Tak semua perayaan getol menyambut gebyar virtual. Ada beberapa perayaan yang bergerak dengan dinamika keruangan yang berbeda. 

ArtJog dengan tema ‘Resiliensi’ mencoba menempatkan hajatan pada 2020 ini sebagai momentum refleksi, memikirkan ulang perjalanan mereka selama 12 tahun. “Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih pada upaya untuk menguji kembali ketahanan kita, melihat lagi apa-apa yang sudah kami capai sebagai sebuah festival yang telah 12 tahun berjalan. Kami juga ingin melihat apa yang bisa kami perbuat di tengah situasi yang masih tidak menentu ini. Kami harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, bahkan di masa yang sulit sekalipun”, ungkap Heri Pemad dalam press release

Selain menggunakan platform online untuk menampilkan karya, mereka tetap menyiapkan mekanisme pameran secara fisik di Jogja National Museum dengan protokol kesehatan. Nampaknya mereka belum mau terlalu yakin bahwa ruang arsitektur virtual betul-betul menjamin pengalaman estetik. Pembauran luring dan daring jadi pilihan.

Kehati-hatian mereka ini begitu nampak dari pembukaan pamerannya. Dikemas dalam bentuk videotaping, sudut-sudut ruang Jogja National Museum tetap menjadi latar tempatnya, bukan green screen. Diawali dengan ruang demi ruang yang kosong, pernyataan dan sambutan dari kurator, seniman, hingga pejabat pemerintah dipantulkan ke tembok menggunakan proyektor. Elemen fisik seolah tetap ingin dihadirkan, sebagai kehati-hatian sekaligus kerinduan. 

Sikap untuk tidak terburu-buru itu semakin dipertegas dengan refleksi yang muncul dari beberapa seniman yang bicara. Salah satunya adalah Ugo Untoro, “Karya seni memang tidak bisa langsung berhubungan atau memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Sekarang ketika perkembangan teknologi demikian cepatnya, saya melihat ada gejala makin menjauhnya perupa dengan masyarakatnya. Perupa lebih banyak terlibat atau melibatkan diri dalam art market daripada melibatkan diri dengan masyarakat, walaupun ada beberapa komunitas yang turun langsung ke masyarakat.” Di tengah gebyar virtual ini, ArtJog mengajak publik seni untuk selain berefleksi juga mengkritik jagat seni itu sendiri. 

Sikap yang lain juga muncul dari kolaborasi biennale (Jakarta, Jogja, dan Makassar). Ketika solidaritas global dielu-elukan bersamaan dengan gebyar virtual yang serentak, mereka tetap mencoba untuk mengajukan kritik atas internasionalisme. Kritik yang sempat panas pada awal masa pandemi mereka teruskan melalui jalan kesenian. Secara spesifik tawaran ini muncul dari narasi yang dibawa oleh Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Kalau Jogja mengusulkan ‘menggeser pusat’ dari ketimpangan sumber daya alam dan ekonomi dunia (melanjutkan agenda Biennale Equator-nya), Makassar mengajak merespon lebih lanjut praktik-praktik pengobatan lokal yang muncul kembali sebagai tanda kerentanan sistem global. Jakarta, lebih menarik problem pandemi ini ke ranah yang luas, seperti disrupsi digital, krisis lingkungan, hak asasi manusia, dsb. 

Semacam arus balik, tak mau terburu-buru menyambut virtualitas baru. Entah karena memang tak mau dicap latah atau tidak, perayaan-perayaan dalam wilayah ini justru ingin mengajak publik untuk merayakan optimisme dengan cara lain. Bahwa ada persoalan ketimpangan dan perebutan ruang yang terus bergulir, seiring dengan gerak maju kultur teknologi digital. 

Berada di frekuensi yang sama, beberapa bulan yang lalu (Juni hingga pertengahan Agustus 2020) juga telah digelar Kongres Kebudayaan Desa di Panggungharjo, Bantul, DIY. Acara ini digelar oleh Sanggar Inovasi Desa yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendesa (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), dan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit). Pandemi memantik inisiatif perlawanan dan perumusan tatanan baru kemasyarakatan. Desa menjadi titik awal gerakan ini, karena desa diyakini sebagai entitas terdekat dengan pemerintahan. 

Berawal dari riset dan diperkaya dengan serangkaian diskusi webinar, kongres ini berupaya untuk membayangkan tatanan baru yang berangkat dari desa dengan segala persoalannya. Langkah konkret yang disasar adalah pembentukan RPJMDes. Festival Kebudayaan Nusantara sebagai sebuah perayaan juga digelar untuk memeriahkan niat ini, sekaligus menguatkan representasi desa-desa sebagai ruang yang dipinggirkan. 

Kita tahu bahwa desa sempat mendapatkan angin segar dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Bertriliun-triliun uang digelontorkan untuk mendukung gerak hidup masyarakat desa yang telah lama terpinggirkan. Bukan tanpa persoalan, kehadiran UU itu juga tak menyiutkan jumlah kasus korupsi di birokrasi pemerintah desa. Ditambah lagi, perkembangan infrastruktur dan pemasukan dari sektor wisata seolah sudah sah mewakili inisiatif dari bawah. 

Melalui Kongres Kebudayaan Desa, warga berupaya untuk mendobrak tekanan-tekanan ini, menempatkan kembali desa sebagai subjek negara. Tak hanya mengutamakan sektor wisata dan infrastruktur, problem kesenian dan ruang turut dibicarakan. Salah satunya, dalam diskusi webinar “Mengkonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara sebagai Basis Peradaban dan Tata Nilai Indonesia Baru” pada 6 Juli 2020, Rachmi Diyah Larasati mengutarakan opininya yang relevan dengan konteks perayaan dan dinamika keruangan saat ini. Bahwa seni dalam konteks gebyar virtual harus betul-betul dicermati; seberapa jauh mampu menjawab tantangan di dalam konteks konstituen desa. 

Setidaknya ada dua kecenderungan. Pertama, perubahan sosial yang ditandai dengan serentak virtual disambut dengan cukup tegas. Bahwa kultur teknologi digital sebagai keniscayaan harus ditanggapi dengan pencarian segala kemungkinan. Ruang arsitektur virtual menjadi eksperimentasi awal untuk mengupayakan interaktivitas baru dalam jagat perayaan kebudayaan. Meski, kecurigaan-kecurigaan soal klaim, latah, dan lain-lainnya tetap penting untuk mengawal hasrat ini. Kedua, lebih pada suasana peralihan, perubahan sosial ini ditanggapi dengan begitu hati-hati. Bahwa wacana dan praktik alih wahana tak melulu soal ruang arsitektur virtual, melainkan juga persoalan ruang sosial yang timpang hingga kritik atas ekosistem seni itu sendiri yang jangan-jangan memang bobrok, arogan tapi rentan. 

Masing-masing perayaan mungkin sudah menentukan posisinya yang beda satu sama lain. Yang jelas, ada satu benang merah. Semegah atau secanggih apapun perayaannya, persoalan kedekatan dunia seni-budaya dengan ruang sosialnya akan terus jadi pekerjaan rumah, tak cukup hanya jargon. Kurang lebih seperti itulah impresi awal kami setelah mencermati perayaan dan dinamika keruangannya akhir-akhir ini. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Hibah Pustaka dan Arsip

oleh Santosa Werdoyo

Koleksi perpustakaan IVAA, bisa diperoleh dari membeli buku atau menerima hibah. Pembelian buku baru akan berdasar pada kebutuhan penelitian hingga melengkapi referensi dan literatur, yang berkait dan memperdalam wawasan seni-budaya. Sedangkan hibah diperoleh dari kolega dekat IVAA, baik dari perorangan maupun lembaga. 

Hibah pustaka dan arsip bulan Juli-Agustus 2020 dari Melani Setiawan dan Irsan Aditya. Irsan adalah lulusan Pendidikan Seni Kerajinan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pernah mengikuti program magang di IVAA tahun 2015 silam. Irsan sekarang menjadi  guru Seni dan Budaya di MTS Negeri 1 Kendal, Jawa Tengah. Sumbangan dari Irsan berjumlah 29 buku. Empat belas di antaranya berkenaan dengan buku pendidikan untuk tingkat SMA. Selain itu juga ada beberapa buku pegangan tentang kriya keramik dan batik tingkat mahasiswa/ perguruan tinggi. Tentu buku ini dihibahkan tidak hanya agar dirawat lebih baik, tetapi juga pengetahuan di dalamnya bisa diakses orang lebih banyak. Terlebih koleksi pustaka IVAA terkait tema kriya keramik dan batik memang belum terlalu banyak.

Sedangkan hibah dari Melani Setiawan berupa jenis arsip yang beragam. Di antaranya, 49 kliping yang bersumber dari majalah dan surat kabar. Selain itu juga ada beberapa arsip undangan dan 9 katalog pameran seni rupa. Hibah katalog dari Bu Melani ini berasal dari dalam dan luar negeri, seperti Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Belanda dan beberapa dari Amerika Serikat.

Bicara mengenai koleksi katalog, sebaran yang dimiliki IVAA memang masih didominasi koleksi dari Yogyakarta. Maka dari itu, katalog hibah sangat membantu IVAA untuk  bisa menjangkau koleksi dari wilayah yang lebih luas. Mengoleksi katalog juga merupakan langkah yang penting mengingat di dalamnya terdapat berbagai potensi pengetahuan. Mulai dari catatan atau pengantar kuratorial, profil seniman, hingga dokumentasi dan deskripsi karya. Memang setiap katalog memiliki kelengkapan informasi yang berbeda-beda. Tetapi kehadirannya tetap penting sebagai bagian dari arsip-arsip ephemera.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Tegur Sapa untuk Pak Warno

Judul : KURATORIAL Hulu Hilir Ekosistem Seni
Penulis : Suwarno Wisetrotomo
Editor : Desy Novita Sari
Penerbit : Penerbit Nyala
Tahun terbit : 2020
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Saya belum pernah menjadi murid Suwarno Wisetrotomo. Tapi ketika baca buku ini, saya merasa sejenak ikut kelas Pak Warno untuk mata kuliah Kuratorial, jurusan Tata Kelola Seni. Bagaimana tidak, buku ini berisi kumpulan penjelasan tentang kuratorial, mulai dari apa itu kurator, bagaimana kerjanya, hingga kiat sukses menghadapi kritik. Sangat cocok untuk siapa saja yang baru pertama kali tahu istilah kurator dan ingin mengenalnya lebih jauh. 

Apa saja isinya? Saya tidak akan mengulas semuanya. Kalau ingin tahu detailnya, silakan beli buku ini. Cukup dengan 70 ribu rupiah, teman-teman bisa mendapatkannya di IVAA Shop. Oleh karena itu, tulisan ini lebih merupakan tegur sapa saya sebagai pembaca atas isi buku, seperti yang diharapkan Pak Warno melalui Pengantar-nya. 

Buku ini dibagi ke dalam 6 bab: “Kurator dan Tata Kelola Seni”, “Seni dan Ekosistemnya”, “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, serta “Kurator dan Masa Depannya”. Pada bab “Kurator dan Tata Kelola Seni”, Pak Warno begitu menekankan pentingnya merumuskan tata kelola seni ala Indonesia. Urgensinya adalah ketika tata kelola seni modern semakin meminggirkan praktik-praktik gotong royong, yang menurut beliau menjadi basis penting model tata kelola seni kita. Sejak dari bab ini, saya sudah lumayan ragu dengan gagasan itu. Jangan-jangan tata kelola seni ‘gotong royong’ yang dibayangkan tidak bisa jauh dari kontrak sosial, sebuah konsep klasik tentang dasar pembentukan komunitas politik modern. Keraguan ini sebenarnya berkaitan dengan apa yang disampaikan di Pengantar; bahwa penting melihat dengan saksama praktik tata kelola seni model ‘kita’, dengan mengedepankan profesionalitas, efektivitas, efisiensi, transparansi, dan tanggung jawab. Jelas itu semua atribut modern. 

Lanjut pada bab “Seni dan Ekosistemnya”, Pak Warno banyak menulis tentang perbedaan seni modern dan kontemporer. Ia juga menekankan pentingnya tata kelola seni yang mumpuni, seiring dengan perkembangan ekosistem kesenian yang makin beragam juga kepentingannya. Tak luput juga secara khusus mengulas kritik seni. Bahwa sekarang medan seni lebih suka menghindari perdebatan. Para perupa cenderung tidak membaca kritik seni, dan akhirnya kritik seni sepi peminat. 

Dalam hal atribut identitas, mungkin memang tidak banyak atau belum ada yang mendaku diri sebagai kritikus seni. Tapi dalam hal praktik, saya kira aktor-aktor medan seni cukup gemar berkritik ria. Hanya saja, kadang sulit membedakan mana yang kritik seni, mana yang kritik populer. Yang kedua bisa disebut sebagai penghalusan dari praktik nyinyir cum sentimen personal. 

Pak Warno menganalogikan kurator itu seperti konduktor dalam sebuah orkestra. Layaknya konduktor, kurator adalah ujung tombak sebuah pameran atau pertunjukan seni. Karena itu, kurator harus memenuhi standar ideal. Paparan ini begitu nampak pada bab “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, serta “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”. Apa saja syarat menjadi seorang kurator, bagaimana bentuk ideal produknya, serta langkah-langkah menyusun pameran, semua dibahas di sini. 

Sangat modern, profesional dan formal nampaknya menjadi impresi yang saya dapat dari paparan tersebut. Misal, pada bab “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, ada beberapa indikator untuk keberhasilan suatu perhelatan seni. Mulai dari jumlah pengunjung, jumlah liputan media massa, polemik yang muncul, serta serapan pasar (jika memang komersil). Cukup kontradiktif dengan gagasan awal, bahwa buku ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya merumuskan tata kelola seni yang Indonesia banget (baca: Indonesia yang alamiah), tidak jauh dari konsep dan praktik gotong royong. Saya justru membayangkan, anggota tim manajemen yang bebas dari kambuhnya asam lambung selama proses kreatif, juga indikator keberhasilan yang penting. 

Meski demikian, saya setuju dengan pernyataan beliau tentang manajemen konflik pada bab “Kurasi dan Pendekatannya”. Utamanya konflik ketika menghadapi kebobrokan anggota tim manajemen yang meraih keuntungan pribadi di tikungan proses, serta ketika menghadapi segala bentuk kritik. Kita tahu, bahwa perhelatan seni-budaya sudah umum menjadi rutinitas untuk mengawinkan kepentingan serapan anggaran serta komodifikasi sana-sini, banyak mafia bertopeng pegiat seni yang siap menikung. “Langkah terbaik adalah tim manajemen mendepak dari tim kerja, karena akan merusak tatanan dan tujuan.” 

Soal bagaimana kurator menghadapi kritik atas suatu perhelatan, ada satu hal yang saya rasa luput. Memang, “jangan grogi dan hiraukan kritik bernada sentimen personal” menjadi pesan beliau. Tapi pesan itu secara khusus dirancang untuk menghadapi kritik yang dilemparkan melalui kanal-kanal formal seperti media massa atau forum diskusi. Bagaimana dengan kritik nyinyir netizen? Menurut saya ini penting, karena tentu banyak calon kurator muda generasi kini yang semakin sering menjumpai modus kritik demikian. Tidak semudah itu diabaikan seperti saran Pak Warno. Model manajemen konfliknya berbeda. Tidak lucu kalau mereka jadi depresi, sakit mental, amit-amit bunuh diri karena urusan seni-senian.

Pak Warno menutup buku ini dengan bab “Kurator dan Masa Depannya”. Kalau ditilik dari sub judul buku, “Hulu Hilir Ekosistem Seni”, saya membayangkan bahwa bab terakhir akan cenderung berarus tenang dan tak banyak bebatuan besar. Layaknya hilir sungai sebelum menuju ke laut lepas. Tapi ternyata tidak. Beliau justru memilih melemparkan perahunya ke samudera. Wabah Covid-19 menjadi ombak-ombak besarnya sekaligus titik perubahan tata kelola seni. Kurator harus menyesuaikan diri. 

Sebagai pembaca yang juga belum lama mengenal istilah kurator, saya jadi makin ragu dengan berbagai materi kuliah Kuratorial dan wejangan-wejangan Pak Warno dalam buku ini. Tapi saya, dan mungkin teman-teman sekalian, perlu untuk membaca buku beliau selanjutnya, Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Barangkali ada cerita menarik tentang bagaimana perahu kuratorial menerka gelombang samudera. 

Sekian tegur sapa dari saya. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Cek Ombak (Perubahan)

Judul Buku : Ombak Perubahan: Problem Sekitar Seni dan Kritik Kebudayaan
Penulis : Suwarno Wisestrotomo
Penerbit : Nyala
Tahun Terbit : 2020
Resensi oleh : Sukma Smita

Perubahan, satu kata yang sungguh populer beberapa dekade belakangan. Reformasi 1998 menandai perubahan sistem pemerintahan Indonesia. Perkembangan teknologi turut mendorong perubahan perilaku hidup masyarakat. Termasuk digunakannya kembali istilah Revolusi Mental oleh pemerintah saat ini, seturut diikuti jargon Revolusi Teknologi, Reformasi Birokrasi dan sebagainya. Hingga hari ini, wabah Covid-19 ikut mendongkrak popularitas diksi ‘perubahan’ pada level tertinggi. Bulan demi bulan sepanjang tahun 2020 tidak dilalui dengan hal yang bisa dikatakan sebagai rutinitas. Semua orang harus berjaga-jaga untuk memulai hal baru. Selalu bersiap untuk beradaptasi pada tata kebiasaan yang sewaktu-waktu berubah. 

“Ombak Perubahan”, adalah judul utama buku. “Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan” lalu menggenapinya sebagai sub judul buku karya Suwarno Wisetrotomo ini. Pada bagian sampulnya, ada lukisan Entang Wiharso, yang dalam pengantar buku dituliskan bahwa karya tersebut mampu mengilustrasikan situasi saat ini yang penuh gejolak, mampu menggarisbawahi berbagai gelombang yang bergulung-gulung di sekitar dunia seni dan budaya hari ini.

——

Suwarno mengilustrasikan situasi seni dan budaya kita sebagai laut lepas, samudra yang tidak lepas dari berbagai ombak dan badai. Buku ini bermula dari obsesi Suwarno untuk melanjutkan diskusi pidato orasi yang disampaikan dalam Dies Natalis ISI Yogyakarta. Dengan huruf tebal, ia juga menyebut bahwa orasi tersebut diwarnai dengan spirit mencambuk atau secara sarkastis dibilang menghardik para dosen dan generasi muda. Bermula dari orasi, diteruskan menjadi buku yang dibagi dalam beberapa judul-judul pembahasan.

Memasuki halaman buku, pada bagian pengantar dan prolog saya merasa sedikit terasing. Buku ini merupakan bukti cinta kepada seluruh warga ISI Yogyakarta, begitu Suwarno menuliskannya. Dari dua sub bab tersebut, saya sempat merasa bahwa sebagai orang yang hanya berteman dengan mahasiswa ISI Yogyakarta, tidak ada rasa cinta yang ditujukan pada saya. Tapi saya putuskan tetap melanjutkan ke halaman berikutnya untuk mencari tahu lebih jauh, dan cek ombak dulu sebelum lebih jauh menyimpulkan atau baper.

Sesuai pembabakan judul, Bab I: Zaman Bergerak, adalah cerita panjang tentang bagaimana dunia dan peradaban manusia selalu bergerak, bergeser dan berubah yang kemudian memunculkan disrupsi. Suwarno mengutip dari buku Rhenald Kasali bahwa disrupsi adalah sebuah inovasi yang menggantikan sistem lama. Ia menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan efektif namun juga bersifat kreatif dan destruktif. Dari kutipan tersebut, Suwarno melanjutkan dalam paragraf`-paragraf berikutnya bahwa berbagai kemajuan menunjukkan sisi ironisnya, karena disertai hasrat dan ketamakan. Ia menyebut bahwa para pengguna berbagai kemajuan teknologi digital hari ini berada dalam posisi rentan dan cepat atau lambat akan menjadi korban.

Dari bab pertama, saya membayangkan rasa cinta seperti apa yang dimaksud Suwarno di awal tulisan. Kurang lebih seperti rasa khawatir orang tua pada anak remajanya yang selalu asik sendiri dengan gawai dan berbagai aplikasinya. Kemudian pada bab kedua, saya melihat banyak pernyataan asumtif dengan mengedepankan subjektivitas perspektifnya. Suwarno menyebut berbagai perubahan hari ini berjalan beriringan dengan sejumlah ironi serta paradoks. Situasi tersebut menurutnya terjadi karena rendahnya literasi, minat baca dan miskinnya nalar masyarakat kita. Dipaparkan pula berbagai tulisan dan artikel ilmiah tentang brutalitas dunia maya dalam era post truth yang kerap menjerembabkan warganet dalam kubangan hoax maupun fake news. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh seni dan dunia pendidikan (tinggi) seni? Apakah fungsi dan posisi seni atau karya seni hari ini? Hingga apa yang bisa kita pikir dan lakukan terkait dengan organisasi, kepemimpinan, gerak dan kritik kebudayaan? Rangkaian pertanyaan tersebut menarik saya untuk mulai sedikit demi sedikit berenang dan menyelami buku ini setelah cek-cek ombak di pengantar dan prolog buku. 

Bab ketiga buku ini seolah berisi pendalaman atas rasa cinta dan kedekatan Suwarno pada dunia pendidikan tinggi seni. Suwarno memulai dengan pertanyaan tentang situasi dunia pendidikan seni hari ini. Bahwa pendidikan tinggi seni hari ini berhadapan dengan ragam realitas. Secara runut dipaparkan, berangkat dari pemikiran tentang seni interdisiplin, multidisiplin dan transdisipliner, sesungguhnya seni adalah sains. Dua hal tersebut tidak terpisah. Ini bisa diartikan bahwa penciptaan seni merupakan implementasi pengetahuan. Dari runutan tersebut, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang kesiapan pendidikan seni hari ini pada perubahan. Beberapa paragraf menerangkan tentang terobosan yang harus dilakukan dunia pendidikan seni. Kemudian dilanjutkan dengan kritik pada situasi birokrasi dunia pendidikan, salah satunya tentang pimpinan yang alergi terhadap kata terobosan. Paragraf-paragraf berikutnya menuliskan 3 poin asumsi atas situasi mental tenaga pendidik, diikuti serangkaian nasehat dan saran.

Pada bab keempat Suwarno memaparkan satu klaim bahwa komik dan animasi merupakan dua ekspresi seni yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Komik dianggap berada dalam puncak piramida influencer bagi khalayak muda hari ini. Berbagai komik dan animasi yang mudah didistribusikan melalui platform digital mampu mengekspresikan dan mengampanyekan pesan-pesan sosial untuk kawula muda. Bab-bab berikutnya berisi uraian pentingnya positioning bagi seorang seniman. Bahwa berkesenian selayaknya memiliki kesadaran memihak: ‘ke atas atau ke bawah’. Ketika para pegiat seni telah memutuskan keberpihakannya, itulah yang menggerakan praktik berkesenian. Pentingnya keberpihakan ini diulas lebih jauh pada bab terakhir dengan mencontohkan beberapa nama kelompok seni dan seniman yang memiliki titik pijak mantap dalam praktiknya dan tergolong dalam kategori ‘seni menggerakkan’. 

——

Suwarno menyatakan bahwa buku ini merupakan upayanya untuk memaparkan realitas hari ini dengan analogi lautan lepas. Situasi hari ini bagaikan gelombang lautan, pasang surut, tidak pernah stabil dan selalu bergantung pada besaran dan arah angin. Ia juga menyebut bahwa buku ini adalah bentuk perhatian atau catatan atas fenomena mutakhir, mulai dari merebaknya pandemi Covid 19 serta pembahasan ulang perkara pergeseran dan perubahan ketimbang perkara kemajuan. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah sedikit banyak dapat menangkap perubahan seperti apa yang dimaksud Suwarno, tentang bagaimana pandemi menjungkirbalikan laku dan tata kehidupan kita hari ini. Namun ketika menggunakan laut lepas sebagai analogi, bagi saya laut lepas dan samudra lebih dari badai dan gelombang ombak yang bergulung tinggi. Laut juga berisi beragam kekayaan biota, pemandangan indah, angin yang menyegarkan dan berbagai hal menyenangkan lainnya. “Laut yang tenang tidak melahirkan pelaut yang tangguh”. Saya menemukan pepatah tersebut suatu hari melalui cuitan di Twitter. Tidak tahu siapa yang menciptakannya, saya  langsung merasa ‘pas’ saja. Pepatah tersebut tentu bisa menjadi perspektif lain atas situasi penuh gelombang besar hari ini. 

Dengan sub judul buku Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan, sebenarnya cukup samar untuk bisa menangkap permasalahan pada praktik seni-budaya yang dimaksud. Kritik memang banyak ditujukan untuk dunia pendidikan seni dan seluruh elemennya, namun ini pun tidak banyak dielaborasi. Perubahan praktik dan pertanyaan tentang fungsi seni juga lebih banyak dijabarkan melalui pendapat. Memuat nasehat maupun arahan tentang seperti apa seharusnya seni bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Di satu sisi, saya sepakat bahwa beberapa nama pelaku yang disebut memang dapat digolongkan sebagai seni menggerakkan. 

Selain kata perubahan yang tentu bertebaran dalam buku ini, setidaknya kata milenial disebut lebih dari 6 halaman. Milenial merujuk pada pengertian umum atas kata ini, yaitu generasi hari ini, pemuda, seniman muda, mahasiswa dan lain sebagainya. Dalam pendapat pribadi saya, buku ini memposisikan generasi milenial seni sebagai generasi beruntung karena lahir di era yang serba dimudahkan oleh teknologi, memiliki kuasa penuh atas akses informasi namun tidak begitu peka sejarah, sembrono dan memerlukan dukungan institusi pendidikan tinggi (seni) agar tidak terjerembab dan menjadi korban kemajuan teknologi. Di sini Suwarno seolah melihat pergeseran dan perubahan hari ini terutama kaitannya dengan teknologi seperti sebuah palung laut, tampak aman untuk direnangi namun membahayakan, menjebak dan menenggelamkan. 

Kembali pada pepatah yang saya temukan di Twitter. Mungkin kita bisa melihat segala perubahan hari ini, mulai dari tata kehidupan yang dijungkir balikan oleh virus, cepatnya kemajuan teknologi seiring dengan perubahan perilaku dan praktik seni generasi milenial dan generasi Z melalui perspektif yang lain. Bagi saya beberapa pernyataan Suwarno dalam buku ini sedikit terburu-buru, klise dan seperti yang telah saya sebut sebelumnya, subjektif. Melihat pergerakan, perkembangan dan perubahan hari ini, seharusnya tidak bisa lepas dari ragam eksperimentasi dan siasat generasi muda tersebut untuk bertahan pada gelombang tinggi perubahan melalui teknologi. Kita bisa menyebut beberapa nama populer seperti Greta Thunberg atau Malala Yousafzai. Atau lebih dekat dalam skena seni budaya, kelompok seni yang berisi anak zaman now, yang juga memiliki prestasi dan karya besar, tersebar di seluruh Indonesia. Taruhlah para pelaku seni seperti Ketjilbergerak, HONF, Piring Tirbing, Tromarama, Milisi Film atau Ipeh Nur yang karya-karyanya selalu kritis berangkat dari kegelisahan personal, mengambil banyak sumber sejarah namun tetap kontekstual dengan situasi hari ini. Kritikan atau komentar atas situasi sosial politik budaya hari ini juga banyak dilontarkan melalui meme di sosial media, karya audio visual di YouTube hingga aplikasi TikTok.

Saya sebenarnya membayangkan buku ini memberi penawaran dan cara pandang lain dalam melihat dan menikmati lautan luas. Generasi milenial dan generasi Z, di luar segala hardikan dari generasi sebelumnya, memiliki tantangan hidup yang jauh lebih kompleks. Mulai dari minimnya ruang hidup karena okupasi industri, sampai harus berhadapan dengan berbagai kerentanan kesehatan mental, eksploitasi kerja dunia kreatif, dan lain sebagainya. Bagi saya risiko bahaya atas perubahan situasi hidup dan perkembangan teknologi hari ini bukan hanya mengancam generasi muda, namun semua orang yang menggunakan teknologi, lintas generasi. Perubahan situasi hidup kita hari ini berjalan lurus dengan segala inovasi teknologi yang juga beriringan dengan adaptasi dan siasat hidup. 

Sampai kapanpun situasi sosial politik budaya dalam lautan kehidupan kita akan terus bergerak dan berubah. Generasi hari ini adalah yang turut berinovasi pada teknologi hingga memaksimalkannya dalam kehidupan keseharian, maupun sebagai medium praktik seni. Justru inilah bentuk nyata menyiasati jaman. Kita tidak harus bergantung dan pasrah saja pada pasang surut laut. Kita bisa menurunkan layar dan jangkar untuk tak terombang-ambing angin dan badai-badai, bertahan dari gelombang besar dengan meningkatkan sistem aerodinamis kapal, dan berbagai kendali siasat yang lain. Entah dengan berenang, berselancar, menyelam atau bahkan hanya diam menikmati pemandangan laut di senja hari juga merupakan bentuk penyesuaian. Memang, untuk memilih dan menyiasati cara mengarungi lautan lepas kehidupan kiwari, harus dengan cek-cek ombak dulu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Sebuah Teater Bernama Indonesia

Judul buku : Pasfoto Sang Iblis
Penyunting dan Esai Pengantar : Hendro Wiyanto 
Penerbit : Gang Kabel 
Tahun terbit : Juni 2020
Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

“Adalah bangsa yang besar – bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan–pekerjaan biasa.” 

Petikan di atas menjadi akhir dari esai berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Satu dari sekian banyak esai yang menarik perhatian saya. Ketika sampai di titik ini, seketika saya ‘mak deg’ karena kedahsyatan penutup esai tersebut. Penggunaan bahasanya sangat sederhana dan mengena. Saya deg-degan senang sekaligus menyesal. Menyesal karena kenapa tidak dari dulu saya membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang sudah banyak disebut-sebut sebagai kritikus seni rupa di Indonesia. Memang buku kumpulan esai Pasfoto Sang Iblis ini baru terbit, tetapi sebelum-sebelumnya sudah ada kumpulan esai Dua Seni Rupa dan Estetika yang Merabunkan. Kita bersyukur ada kerja keras yang telah mewujudkan penyusunan buku ini. 

Kembali ke esai yang membuat saya deg-degan. Ia berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Dipublikasikan pertama kali pada 25 Februari 1968, di Mahasiswa Indonesia, Sanento Yuliman menyoroti nilai heroisme yang pada masa itu kian menguat. Penanaman nilai heroisme itu dilakukan sejak kita, masyarakat Indonesia, masih berada dalam kandungan. Artinya, penanaman nilai ini dilangsungkan sebagai proyek kebudayaan di periode yang tidak singkat, dalam suatu pertunjukan teater bernama Indonesia. Mengapa teater Indonesia? Karena dalam proses pembangunan kebudayaannya, ia menekankan penggunaan berbagai elemen teater patriotik; mulai dari penggunaan kostum-kostum, penyelenggaraan upacara-upacara dalam melegitimasi kekuasaan, penekanan pada retorika yang mampu menyihir kerumunan, kehadiran dramaturgi konflik, penggunaan iring-iringan musik, hingga kehadiran penonton yang ditempatkan sebagai subjek yang menangkap pesona dan keagungan ‘sang pahlawan’ dalam teater bernama Indonesia. 

Jika sekilas kita baca demikian, maka jelas, esai ini merupakan sindiran atas hegemoniknya politik retoris ala bung besar. Akan tetapi, kritik ala Sanento Yuliman tidak berhenti pada kritik kekuasaan. Lebih jauh ia mengembangkan esainya sebagai kritik kebudayaan. Ia menyasar pada nilai heroisme yang menjadi penyakit dari masyarakat kita, yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk aku, kamu, dan kita semua.

Problemnya sudah jelas, bahwa kebesaran nilai heroisme ini menempatkan gerakan massa sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Pada saat yang bersamaan, ia menelan kekuatan individu yang sesungguhnya berperan penting sebagai subjek politik. Sanento Yuliman sangat keberatan jika kehadiran subjek hanya ditempatkan sebagai perantara kebenaran. Sementara politik retoris yang hidup pada saat itu, menempatkan masyarakat di posisi tersebut. Di tengah politik yang kebesaran mulut itu, ia menekankan pentingnya hal-hal yang sifatnya keseharian, kecil dan rutin, yakni kerja-kerja konkret yang dilakukan dan dinikmati oleh individu, sehingga memunculkan kualitas kerja. Bagi Sanento Yuliman, di situlah letak kesenian. Seni sebagai kualitas kerja, yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Sekali lagi, siapa saja yang melakukan kerja-kerja konkret! 

Dari satu esai ini saja, kita mendapati daya analitis sekaligus kemarahan seorang aktivis yang reflektif. Saya sebut aktivis karena sorotan tajamnya pada kekuasaan, sekaligus reflektif karena ketajamannya untuk sensitif pada bahasa-bahasa kekuasaan yang berpotensi menjadi virus-virus sosial. Dan YA, tulisan dengan nada semarah ini ditulis oleh Sanento Yuliman, yang kelak dikenal sebagai kritikus seni rupa Indonesia. 

Pasfoto Sang Iblis ini merupakan bunga rampai esai-esai yang pernah dipublikasikan pada 1966-1990. Dari sini, kita bisa menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman sebelum ‘seni rupa banget’. Tulisan-tulisan dengan nada marah. Tulisan-tulisan yang sudah sangat peka pada cara-cara subtil kekuasaan beroperasi atau bekerja. Tulisan-tulisan yang sudah menunjukkan ketajaman sikap politik sebelum masuk ke ranah kuasa yang lebih subtil, yakni seni.

Membaca kumpulan esai ini, saya seperti diingatkan bahwa pendekatan lintas disiplin dalam membaca fenomena sosial tidak hanya dikenalkan oleh para teorisi kajian budaya. Sejak 1960-an, esai-esai ini sudah menunjukkan bahwa tradisi meneropong dan menulis lintas disiplin sudah hidup sejak kita dipaksa untuk hidup di tengah berbagai tantangan dan konflik. Hanya saja, disiplin ilmu kadang khilaf, sering lupa untuk melibatkan unsur ‘heteronomi kehidupan’ kita dalam tradisi belajar yang sudah terlalu nyaman berada dalam kotaknya. 

Selebihnya, catatan baca ini hanyalah remah-remah dari keripik kenikmatan yang muncul dari lembar demi lembar hingga halaman 232. Tentu saja tidak ada pembacaan yang sempurna. Sama halnya dengan tulisan. Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dibuat. Untuk itulah buku hadir dalam kehidupan kita, agar ia bisa menemani heteronomi keseharian kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Buku dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Pandemi dan Dunia Literasi Hari Ini

oleh Santoso Werdoyo

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah yang muncul sangat mempengaruhi semua lini kehidupan, salah satu di antaranya adalah dunia literasi, muladi dari penerbitan hingga perpustakaan. Kami berusaha meraba situasi dunia literasi semasa pandemi ini dengan mengumpulkan informasi secara online dan bertegur sapa dengan beberapa pegiat literasi, dari pemerintah dan komunitas. 

Dampak pandemi bagi dunia literasi yang banyak dibicarakan adalah pasar buku konvensional yang anjlok. Himbauan jaga jarak mengakibatkan sebagian besar industri perbukuan mandek. Penjualan buku-buku di berbagai negara turun drastis. Di Indonesia turun sekitar 40-70 persen sejak Maret 2020. Sedangkan untuk penerbit, rata-rata dari April bisa bertahan setidaknya tiga sampai enam bulan, sisanya hanya 4-5 persen yang dapat bertahan satu tahun ke depan. 

Ikatan Penerbit Indonesia berupaya menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah, melalui Kemenparekraf. Mereka berharap pemerintah dapat memfasilitasi penerbit agar bisa menjual buku melalui platform digital. Pemerintah di beberapa negara di Eropa, seperti Inggris, Irlandia, Republik Ceko sudah melakukan upaya tersebut. Mereka membeli buku-buku berformat digital (e-book) dari para penerbit untuk kemudian didistribusikan ke masyarakat secara gratis melalui perpustakaan-perpustakaan negara. 

Di Indonesia, pasar e-book tercatat naik 55% sejak Januari hingga Maret 2020, jika dibandingkan dengan periode 2019. Namun memang masih belum maksimal, pasalnya produksi e-book masih dominan topik pendidikan. Permasalahan lainnya adalah belum ada perlindungan hak cipta secara legal bagi penulis yang menulis buku langsung dengan format digital. 

Selain pasar buku, himbauan jaga jarak juga membuat para pegiat literasi, khususnya perpustakaan merubah mekanisme pelayanan publik atau bahkan menutup untuk sementara waktu. Salah satunya perpustakaan yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY. Sampai sekarang layanan secara fisik hanya diberlakukan untuk pengembalian buku, dengan mekanisme drive-through. Untuk peminjaman buku, perpustakaan pemerintah DIY sudah memiliki mekanisme daring. Publik dapat mengakses buku elektronik melalui aplikasi i-jogja. Selain perpustakaan pemerintah DIY, beberapa perpustakaan lain seperti iPusnas, iJakarta, iJabar, dan iJatim juga melakukan model pelayanan yang sama. 

Selain pelayanan peminjaman buku digital, cara lain yang dilakukan perpustakaan pemerintah adalah menggelar beberapa webinar. Salah satunya adalah webinar bertajuk Bangkit dari Pandemi dengan Literasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta pada 17 Juni 2020. Topik-topik yang dibicarakan adalah seputar lompatan pemanfaatan teknologi digital untuk pertukaran informasi, seperti pemanfaatan kanal youtube untuk produksi konten edukatif dan sumber ekonomi, serta penguasaan bahasa yang melampaui teritori. 

Perpustakaan non-pemerintah atau komunitas tentu lebih terdampak karena tidak semua memiliki infrastruktur yang mendukung untuk menghadapi pandemi ini. Sejak pertengahan Maret 2020 layanan onsite perpustakaan IVAA untuk publik ditutup. Baru pada awal Mei 2020, dengan situasi ‘new normal’, layanan onsite kembali dibuka tapi dengan mekanisme janjian, dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Publik yang hendak meminjam buku dapat terlebih dahulu melihat koleksi di katalog online

Selain IVAA ada juga perpustakaan Yayasan Umar Kayam. Perpustakaan yang memiliki beragam koleksi pribadi milik almarhum Umar Kayam, yang sebagian besar berisi buku-buku, makalah dan kertas kerja bidang sastra dan sosial-budaya, saat ini juga memberlakukan protokol Covid untuk layanan publik. 

Mau tidak mau, pembatasan akses publik jadi tindakan yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai virus. Meski tidak ada pengunjung yang mengakses ruang perpustakaan, deretan buku yang berjejer tetap harus diperhatikan. Kerja inventarisasi, klasifikasi, dan perawatan tetap dilakukan. Buku-buku tetap harus dibersihkan dari debu, harus dibuka-buka agar tidak lengket serta mengantisipasi jamur karena ruangan yang lembab. 

Dan tentu saja seorang pustakawan, atau pecinta buku bisa memanfaatkan waktu ini untuk mengolak-alik koleksi, mempertajam subjek klasifikasi, sembari membaca apa yang belum dibaca atau mengulang baca untuk merawat ingatan. Situasi pandemi ini dapat melahirkan berbagai imajinasi literasi pustakawan yang mungkin dapat dibagikan kepada publik, sebagai bagian dari kerja merawat buku. Salah satunya adalah dengan menulis, karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan pustakawan punya amunisi besar untuk hal itu. 

Untuk melihat sebaran data Potret Pustaka, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Menggambar sambil Mengelilingi Dunia

oleh Jafar Suryomenggolo

Apa jadinya jika 20 pelukis ikut serta dalam pelayaran kapal laut mengelilingi dunia? Pertanyaan tersebut adalah tema pameran “Nuestra Isla de Las Especias“ (Pulau Rempah-Rempah Milik Kami) yang bertempat di gedung Archivo de Indias, di Kota Sevilla (baca: Seviya), Spanyol. Pameran ini berlangsung sejak 5 September 2019 hingga 31 Maret 2020 (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/).

Gambar 1. Poster pameran di gedung Archivo de Indias

Pameran ini tergolong unik. Pasalnya, 20 pelukis tersebut benar-benar ikut serta dalam pelayaran kapal “Fleur de Passion“ (Bunga Hasrat) selama 4 tahun mengelilingi dunia. Pelayaran ini dimulai sejak 12 April 2015 hingga 4 September 2019, dengan dukungan Fondation Pacifique, suatu lembaga nirlaba yang bermarkas di Jenewa, Swiss.

Menariknya pula, pelayaran Fleur de Passion adalah perjalanan napak-tilas pelayaran Magellan-Elcano. Pelayaran Magellan-Elcano adalah pelayaran perdana mengelilingi dunia, yang terjadi 500 tahun silam (1519-1522), dalam mencari rute menuju Pulau Rempah-Rempah (yakni, Maluku). Dimulai dari kota Sevilla, Magellan-Elcano berlayar melintasi Samudra Atlantik hingga ke Amerika Selatan, lalu melintasi Samudra Pasifik hingga akhirnya tiba di Cebu (Filipina), untuk kemudian lanjut ke Maluku, dan menyeberangi Samudra Hindia dalam perjalanan kembali ke Sevilla. Fleur de Passion mengikuti rute yang sama, dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi abad ke-21. Misalnya: mampir di Kaledonia Baru, mampir di Brisbane dan Cairns (Australia), tiba di Maluku untuk menuju ke Cebu, dan mampir di Singapura.  Pelayaran Fleur de Passion juga mengemban misi ilmiah dalam memantau zat gas rumah kaca di permukaan laut.

Pelayaran Fleur de Passion melintasi Indonesia selama Oktober-November 2017 (di Sorong, Maluku dan Menado), dan Maret-April 2018 (melalui kepulauan Riau menuju Jakarta).  Fleur de Passion tiba di bandar Jakarta pada 2 April 2018, berlabuh selama 10 hari, dan melanjutkan perjalanan pada 12 April menuju Madagaskar lewat Samudra Hindia. 

 

Gambar 2. Peta pelayaran Fleur de Passion

Dua puluh pelukis ini terdiri dari 10 perempuan dan 10 laki-laki. Mereka adalah seniman grafis, penggambar komik, dan ilustrator. Mereka ikut serta dalam pelayaran seperti layaknya para pelukis yang ikut serta dalam pelayaran masa lalu. Di dalam pelayaran kapal-kapal di masa lalu, selalu ada pelukis (minimal satu orang) yang ikut serta untuk merekam perjalanan kapal dan tempat-tempat singgah, juga menggambar alam, tumbuhan, hewan dan penduduk setempat. Misalnya, Conrad Martens (1801-1878) yang ikut serta dalam pelayaran HMS Beagle, kapal yang membawa Charles Darwin ke Galapagos.

Berbeda dari para pelukis-kapal masa lalu, kedua puluh pelukis ini bebas merekam dan menggambar apapun selama pelayaran kapal Fleur de Passion. Sebagai pelukis, mereka dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri, dan menuangkannya dalam bentuk seni rupa/ visual apapun. Ikut serta dalam pelayaran kapal ini menjadi sumber inspirasi bagi mereka.

Gambar 3. Panel karya Mirjana Farkas

Secara khusus, setidaknya ada 4 pelukis yang menggambar berdasarkan pelayaran kapal selama melintasi Indonesia. Mereka adalah Cécile Koepfli (kelahiran 1976), Mirjana Farkas (kelahiran 1970), Alex Baladi (kelahiran 1969), dan Aloys Lolo alias Yves Robellaz (kelahiran 1953).  Beberapa dari karya-karya mereka dapat dinikmati di situs resmi (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/programmes/cultural/illustrators).

Kiranya akan sangat berguna bila pameran ini bisa diselenggarakan juga di tanah air kita, baik di Jakarta, Maluku, Sorong atau kota-kota lainnya. Kami mendorong kedutaan besar Swiss di Jakarta untuk bekerja sama dengan Fondation Pacifique agar menyelenggarakan pameran ini di tanah air kita. Pameran ini bisa menjadi pemantik bagi para pelukis/ seniman visual kita untuk mengembangkan karya-karya mereka. Ini juga bisa membuka pintu kolaborasi seni rupa/ visual bagi seniman kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Menjelajahi “Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti”

Judul Buku : Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti
Penulis : Wahyudin
Penyunting : Zulkarnaen Ishak
Pemeriksa Aksara : Reza Nufa
ISBN/ISSN : 978-602-5783-66-1
Resensi oleh : Sukma Smita Brillianesti

Suatu sore sebuah pesan singkat muncul dari notifikasi hape, “Ada pembukaan pameran nanti malam. Mau berangkat nggak?” Bagi saya, pesan tersebut terbaca tidak sebagai pertanyaan namun ajakan. Saya sudah sangat tahu bahwa kawan yang mengirim pesan itu ingin datang namun enggan datang sendiri. Sedetik kemudian terbayang oleh saya situasi pembukaan pameran. Mungkin akan ada performance art sebagai tanda dibukanya pameran, karya seni yang memenuhi ruang pajang beserta teks kuratorialnya, bertemu teman-teman pecinta seni tua-muda yang mungkin sebagian besar saya tidak kenal dan obrolan yang menyertainya, membuat saya ragu mengiyakan ajakan kawan tadi. Bukan apa-apa, namun bayangan suasana pembukaan pameran memang terkadang membuat saya canggung. Pengalaman rasa canggung itu saya kira cukup relate dengan judul buku berisi kumpulan tulisan Wahyudin ini. Paling tidak karena saya juga merasa cukup canggung pada nama besar dan karisma Cemeti, karya seni yang ditampilkan komplit dengan tulisan kuratorialnya serta rentetan obrolan dengan orang-orang yang akan saya temui pada saat hadir dalam semua perhelatannya. 

Judul ‘Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti’ untuk sesaat mampu mewakili keraguan saya atas ajakan kawan untuk berkunjung ke pembukaan pameran, bertemu banyak orang dan membicarakan seni rupa dengan berbagai versi pandangan. Pengertian omong kosong merujuk pada sesuatu yang kurang bermakna, dianggap tidak serius dan sambil lalu saja. Namun di Rumah Seni Cemeti. Masa sih? Bagaimana mungkin di Rumah Seni Cemeti yang memiliki reputasi, sejarah panjang dan peran besar dalam perkembangan seni rupa kontemporer ada hal tidak bermakna dan kurang serius? Saya tahu jika judul buku ini diambil dari salah satu judul tulisan Wahyudin yang mengulas rangkaian Pameran Omong Kosong di Cemeti tahun 2005. Namun, menjadikannya sebuah judul buku pasti merupakan hal lain. Pertanyaan dan penasaran saya lalu muncul, mendorong untuk memilih membaca kemudian mengulas buku ini.

Buku setebal 251 halaman ini berisi 30 tulisan Wahyudin, yang dituliskan dalam rentang 2003-2017 dan dimuat di berbagai media baik daring maupun luring. Dalam pengantar tulisannya, Wahyudin menyebut bahwa buku ini merampai catatan-catatan polemis tentang peristiwa, pameran dan buku seni rupa. Tiga puluh tulisan dalam buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, “Di Rumah Seni Cemeti”, bersisi 14 esai ulasan pameran yang berlangsung di Rumah Seni Cemeti pada 2003-2006. Bagian kedua, “Di Sekitar Rumah Seni Cemeti”, terdiri atas 11 esai yang seperti judul bagian ini, berisi ulasan pameran dan proyek seni di ruang-ruang seni sekitar Rumah Seni Cemeti. Bagian ketiga, “Kecap Jauhari”, diisi dengan 5 esai yang mengulas empat buah buku seni rupa. 

———-

Beberapa kali, ketika membaca buku yang berisi kumpulan esai, saya dengan tidak sabar langsung menuju halaman daftar isi. Rentetan judul beserta nomor halaman dalam daftar isi menjadi panduan saya untuk langsung menuju tulisan atau penulis yang saya anggap menarik. Kebiasaan ini tidak berlaku ketika saya membaca buku ini, atau paling tidak di awal saya mulai membaca buku ini. 

Melalui pengantarnya, Wahyudin menuliskan bahwa bagian pertama dari buku ini merupakan ulasan yang dibuat dengan kesadaran kritis bahwa karya seni rupa kontemporer bukan hanya produk artistik yang perlu dikademati dalam permenungan sunyi insani, melainkan juga produk pengetahuan yang harus dicermati, diinterpretasi dan dievaluasi secara saksama dalam tempo secukup-cukupnya. Ia juga menambahkan bahwa hal tersebut yang membuatnya, setiap kali bertandang ke Rumah Seni Cemeti untuk suatu pameran seni rupa, meniatkan untuk tak sekedar menikmati setiap karya yang tersaji, namun juga berikhtiar penuh untuk memahami dengan nalar kritis. Yaitu dengan memeriksa secara saksama pilar artistik karya, menguji gagasan kuratorial dan mencermati pernyataan perupa terkait.

Hal-hal itulah yang kemudian menjadi kunci, yang digunakan Wahyudin, yang bermanfaat untuk lebih dari menikmati dan memahami seni rupa kontemporer, melainkan juga untuk memproduksi pengetahuan kritis yang beredar sebagai wacana publik. Kunci itu pula yang digunakan Wahyudin untuk meresepsi peristiwa seni rupa yang berlangsung di galeri-galeri partikelir, ruang seni rupa atau ruang gagas perupa di sekitar Rumah Seni Cemeti, yang terulas dalam kumpulan esai di bagian kedua dari buku ini. Disebutkan pula bahwa bagian kedua dalam buku ini merupakan refleksi pergeseran perhatian kritisnya dari Rumah Seni Cemeti, yang dianggap involutif dan letih menjaga api ‘revolusi dari ruang tamu’, ke inisiatif ruang-ruang seni di sekitar Rumah Seni Cemeti.

Dari refleksi pergeseran perhatian Wahyudin serta asumsi keterkaitan bagian pertama dan bagian kedua, saya mulai membaca buku ini secara runtut, dari awal. Beberapa tulisan awal pada bagian satu buku ini sudah pernah saya baca dari kliping yang dikumpulkan dan bisa diakses melalui online archive IVAA. Adalah ulasan kritis Wahyudin tentang perhelatan pameran di Rumah Seni Cemeti. 

Wahyudin menepati janjinya, ia menggunakan kunci-kunci ajaibnya untuk membuka dan melakukan pembacaan kritis pada perhelatan pameran di Rumah Seni Cemeti, atau setidaknya beberapa. Misal, dalam ulasannya yang berjudul “Ada Dinosaurus…”, Wahyudin dengan gamblang memblejeti secara detail elemen artistik dalam pameran ini kemudian menawarkan pembacaan baru, hingga mengkritisi kegagalan kurator yang tidak mampu membangun ulang nilai atau makna karya yang kontekstual. Melalui kritiknya, Wahyudin menyangsikan bahwa penonton belum tentu bisa menarasikan ulang jajaran instalasi visual yang dipajang di ruang pamer. Ia bahkan menyebut bahwa teks kuratorial yang naratif dalam pameran itu terlihat mengabaikan dan tak memberi ruang pada penonton untuk melakukan interpretasi. Beberapa perspektif kritisnya dalam ulasan pameran tersebut bagi saya seolah menyiratkan bahwa Wahyudin merasa lebih mampu menarasikan ulang instalasi-instalasi tersebut, lebih baik dari sang kurator. 

Berbeda dengan “Naif dan Sia-sia”, dalam ulasan pameran Counter Attract dan Playground di Rumah Seni Cemeti ini, ulasan Wahyudin di sini tak se-elaboratif “Ada Dinosaurus…”. Ia tak menggunakan kuncinya secara maksimal. Sebagai ulasan pameran, alih-alih mengupas elemen artistik karya ataupun bingkai kuratorial pameran, Wahyudin malah banyak menebarkan asumsi atas tingginya ekspektasi penonton pada pameran ini melalui premis grundelan sinis penonton yang menganggap kedua pameran ini naif dan sia-sia. Selain tidak banyak gambaran detail tentang elemen artistik karya, tulisan ini juga tidak disertai foto karya, sehingga saya sulit untuk merelasikan atau bahkan membayangkan grundelan penonton seperti yang dibicarakan Wahyudin. Mengutip kalimat paling pertama dalam tulisan ini, “Barangkali terlalu gegabah untuk meringkus rampung suatu proyek seni rupa yang belum sudah ke dalam prasangka: naif dan sia-sia”, saya sangat sepakat dengan ini, bahwa Wahyudin terlihat cukup gegabah dan terburu-buru dalam mengomentari kedua pameran tersebut.

———-

Setelah sekitar 6 atau 7 ulasan di bagian pertama buku ini tandas saya baca, saya mulai penasaran dengan bagaimana pergeseran perhatian yang dimaksud Wahyudin dalam pengantarnya. Akhirnya saya mengkhianati niat awal untuk membaca satu per satu dari awal hingga akhir dan langsung melompat ke esai pertama pada bagian kedua. Dalam ulasan pameran When I think about the death of painting, I play, saya lumayan kaget karena periode dalam pameran ini lumayan loncat jauh dari periode ulasan Wahyudin pada pameran-pameran di Rumah Seni Cemeti, lebih dari 10 tahun jaraknya. Meski demikian, kritik dalam ulasan pertama bagian kedua buku ini cukup jelas. Wahyudin banyak melontarkan data untuk memperkuat perspektif pembacaannya. Secara terang ia mengemukakan bahwa pameran ini lebih besar wacana ketimbang karya, bahwa pencapaian artistik para seniman tak sepadan dengan canggihnya wacana yang diusung sang kurator.

Masuk dalam esai kedua di bagian kedua buku. Adalah cerita naratif rencana perjalanan pameran sebuah kelompok seniman fotografi, Mes 56 ke Seoul, Korea Selatan. Berjudul “Keren dan Beken di Negeri Gingseng”, yang ditulisnya pada 2016. Paragraf demi paragraf saya jelajahi dengan seksama, sambil menahan rasa penasaran tentang bagaimana atau di sebelah mana Wahyudin akan menancapkan kunci kritis nan tajamnya. Hingga masuk ke beberapa paragraf akhir, dalam sebuah kutipan obrolan dengan salah satu anggota Mes 56, Angki Purbandono, saya menyadari bahwa tidak ada yang akan diblejeti. Tidak ada kunci yang akan digunakan. Dalam paragraf itu Angki menyebut bahwa kesempatan untuk memamerkan proyek Keren dan Beken di Korea Selatan tersebut merupakan suatu kehormatan untuk Mes 56. Dan atas dasar pernyataan ‘kehormatan’ tersebut Wahyudin urung menggunakan kuncinya. 

Pertanyaan tentang bagaimana proses ‘refleksi pergeseran perhatian’ yang ditulis oleh Wahyudin dalam pengantar buku ini membuat saya mengubah cara membaca buku ini. Yakni dengan secara bergantian membaca bagian satu dan bagian dua buku berdasar tahun tulisan dibuat. Pada bagian kedua buku saya menemukan satu ulasan pameran yang isinya hampir mirip dengan ulasan pameran di bagian pertama, pameran di Rumah Seni Cemeti. Dalam pameran berjudul Mudah-mudahan Pameran (2004), dengan sindiran yang halus, Wahyudin menuruti disclaimer awal peserta pameran untuk memaklumi bagaimana kedangkalan gagasan yang hendak disampaikan melalui karya. Wahyudin juga menyebut bahwa meski benda-benda di dalam ruang tersebut telah dilegitimasi dengan nilai estetik oleh sang kurator, para peserta pameran toh gagal untuk mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan karya tersebut secara estetik.

Melalui esai-esai yang ada di bagian kedua buku ini, Wahyudin tidak hanya mengulas perhelatan pameran, namun juga sebuah diskusi tentang polemik imitasi karya antara Arahmaiani Feisal dengan Syagini Ratna Wulan. 

Perbedaan rentang waktu antara tulisan-tulisan di bagian pertama dan kedua buku menandai pergeseran perhatian Wahyudin dalam perhelatan seni rupa di Cemeti dan sekitarnya. Lebih dari itu, meski tetap memeriksa elemen artistik, bingkai kuratorial dan pernyataan seniman sebagai kunci pembacaan kritisnya, saya melihat bahwa cara pandang Wahyudin mengulas karya pun sedikit banyak juga bergeser. Pergeseran ini nampak dari cara dia mengulas pameran pada kurun waktu 2015 ke atas lebih menggunakan teori-teori sosial-humaniora secara dominan; tidak lagi berat di elemen formalisnya. Hal ini menurut saya tidak lepas dari perkembangan praktik seni rupa kala itu. 

Membaca puluhan ulasan pameran dan peristiwa dalam buku ini sedikit banyak membuat saya kesulitan untuk memaknai dan lebih banyak berusaha membayang-bayangkan situasi pameran, bentuk karya dan situasi perkembangan seni rupa era itu. Minimnya foto dokumentasi dalam ulasan-ulasan di buku ini yang membawa saya pada situasi itu. Mungkin saya terlanjur menjadi milenial tulen yang tumbuh besar bersama budaya digital yang memuja jargon no pic hoax

———-

Seusai rampung membaca dua bagian dari buku ini, saya kembali teringat penasaran awal saya atas isi buku ini, berdasar judul buku yang tersemat. Asumsi saya bahwa ada hal lain tentang dasar pemilihan judul dalam buku ini juga tidak terjawab ketika jari saya mulai membalik halaman bagian ketiga buku ini. Seperti yang ditulis Wahyudin dalam pengantarnya, bagian ketiga buku ini berisi telaah saksama yang dilakukannya dalam membedah 4 buku seni rupa. Yang saya rasa, perspektif Wahyudin dalam mengulas buku ini sangat tajam, cermat dan detail, meskipun diakuinya bahwa kedetailan serta ketajamannya melukai hati tim penyusun hingga pemuja buku-buku tersebut. 

Ketiga pembabakan dalam buku telah beres saya baca. Dan saya tetap belum bisa menemukan benang merah yang mampu mengaitkan ketiga puluh tulisan ini dalam satu judul ‘Omong Kosong di Rumah Seni Cemeti’. Apakah saya terlalu naif karena mengamini sebuah petikan masyhur “don’t judge book by its cover”, di mana saya memahami bahwa judul adalah elemen tak terpisahkan dari cover? Hal ini membawa saya pada pertanyaan lain tentang apa dasar penentuan judul buku ini? Seperti apa pula pertimbangan penjudulan ketiga bagian dalam buku ini? Karena bagi saya, judul bagian pertama “Di Rumah Seni Cemeti” lalu bagian kedua “Di Sekitar Rumah Seni Cemeti” ini mengesankan hierarki Rumah Seni Cemeti sebagai pusat dan galeri atau ruang-ruang partikelir di sekitarnya yang  tidak lebih dari penyangga. 

Tentu saja pertanyaan dan kesan yang saya tangkap tersebut pasti terbaca sangat dangkal. Tapi bagaimanapun dangkalnya keingintahuan saya ini mungkin adalah wujud usaha saya untuk tidak hanya menikmati dan memahami tulisan demi tulisan dari buku ini, namun juga berusaha menelaahnya lebih jauh. Meski demikian, saya banyak menemukan cara pandang baru untuk melihat perhelatan, karya, buku hingga peristiwa seni di dalam buku ini. Saya juga memuji cara Wahyudin menggunakan kunci nalar kritisnya dengan penuh kedetailan dan ketajaman. Setidaknya, 30 catatan ini telah dengan baik dibekukan dalam sebuah buku untuk menjaga agar kritik pada masa lalu tidak luntur dan hilang begitu saja. Ulasan-ulasan dalam buku ini paling tidak mampu dijadikan kaca spion untuk sesekali menengok ke belakang demi menjaga laju dan merelasikannya dengan kerja hari ini.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Sekaten: Pengultusan Hubungan Raja-Agama atas Rakyat

Judul buku : Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta
Pengarang : Iwan Setiawan dan Widiyastuti
Penerbit : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun terbit : 2010
Halaman : 137
Resensi oleh : Rosa Pinilih

Berbicara tentang Sekaten tidak bisa lepas dari sejarah budaya masyarakat Jawa pada khususnya, yakni terjadinya proses Islamisasi yang dilakukan Wali Sanga dengan menggunakan sarana budaya dalam menjalankan dakwahnya. Sekaten hanyalah salah satu tradisi keagamaan yang dilakukan oleh penguasa pada saat itu, yaitu pada masa kerajaan Mataram Kuno. Dalam kerajaan tradisional, raja sebagai penguasa tunggal memiliki 3 kiat utama untuk mempertahankan kekuasaannya. Pertama, pemberian otonomi yang luas kepada penguasa daerah yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dukungan atas kedudukan raja. Kedua, menjaga selalu kultur dan kebesaran diri dan istananya. Ketiga, kekuatan militer yang tangguh.

Raja juga berperan sebagai pemegang kendali kekuasaan tunggal, baik dalam bidang pemerintahan maupun keagamaan. Oleh karena itu banyak upaya-upaya yang dilakukan baik secara politis maupun religius, seperti penyelenggaraan upacara keagamaan secara besar-besaran untuk lebih menegaskan fungsi tersebut. Bahkan seorang raja sering disebut juga dewa raja, karena dianggap sebagai penguasa dunia sekaligus berkedudukan sebagai wakil dewa di dunia. Tetapi fenomena ini tidak semata-mata menempatkan raja sebagai dewa, tetapi lebih kepada pengkultusan kedudukan raja di antara yang lain dan yang paling memiliki kekuasaan dalam melakukan upacara pemujaan.

Seorang raja merupakan penghubung antara dewa dengan manusia, sehingga ada anggapan bahwa melalui rajalah anugerah dewa mengalir kepada manusia yang lainnya. Konsep hubungan antara kekuasaan dengan religi ini menjadi jelas karena kekuasaan dipandang sebagai kekuatan alam raya, mempertahankan kehidupan, serta sebagai kekuasaan dominasi yang diperkuat dengan adanya upacara-upacara yang sifatnya ritual. Religi dapat digunakan sebagai jaminan legitimasi di mana hal ini banyak digunakan untuk memenangkan pertarungan politik. Bukti-bukti tentang kekuasaan raja yang diungkapkan melalui upacara-upacara religius dapat ditemukan dalam prasasti-prasasti. Isi dari prasasti-prasasti ini menunjukkan bahwa bentuk kuasa dan kemaharajaan seorang raja dapat diukur dan diwujudkan dalam pemberiannya.

Sedangkan hubungan kultus magis antara raja dan rakyat di kerajaan Mataram Kuno dicerminkan dalam pendirian bangunan suci kerajaan, yaitu candi. Pembangunan candi dan pembebasan daerah di sekitarnya sering dianggap sebagai usaha suci seorang raja dalam menuntut penduduk yang bertempat tinggal di atasnya agar bertanggung jawab terhadap kelangsungan bangunan suci tersebut.

AWAL MUNCULNYA UPACARA SEKATEN

Masuknya Islam ke pulau Jawa sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Jawa. Dalam perkembangannya tidak banyak goncangan yang ditimbulkan dalam pelbagai sendi kehidupan masyarakat, tetapi justru saling terbuka untuk berinteraksi dalam praktik kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari cara-cara pendekatan yang dilakukan para penyebar Islam di wilayah Jawa. Sikap toleransi terhadap budaya Jawa yang sudah ada yang dilakukan para pendakwah bisa dibilang cukup berhasil. Para pendakwah tetap membiarkan budaya lama hidup, akan tetapi diisi dengan nilai-nilai keislaman.

Pendekatan ini sangat sesuai dengan karakteristik orang Jawa yang cenderung bersikap moderat tetapi tetap mengutamakan keselarasan dalam hidupnya. Begitu pula ketika budaya Hindu dan Budha datang, budaya Jawa masih tetap dapat mempertahankan keasliannya.

Perpaduan Islam dan budaya Jawa memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan budaya Jawa, yang semakin diperkaya dengan nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi sumber inspirasi dan pedoman kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Salah satu wujud ekspresi manusia dalam mengungkapkan kehendak atau pikirannya adalah melalui upacara, di mana akan diketahui nilai-nilai kehidupan dan budaya yang dimilikinya.

Upacara-upacara ini sudah dilaksanakan dari masa kerajaan Hindu di Jawa, salah satunya adalah upacara kurban raja atau lebih dikenal dengan nama upacara Rajamedha atau Rajawedha. Ini adalah upacara pemberian berkah raja kepada rakyatnya yang bertujuan agar kerajaan dan seluruh isinya mendapatkan keselamatan, kesejahteraan dan terhindar dari mara bahaya. Akan tetapi pada waktu berdirinya Kerajaan Demak Bintara sebagai Kerajaan Islam di Jawa, raja pertamanya yaitu Raden Patah berniat menghapus semua upacara keagamaan yang sudah ada sebelumnya. Namun upaya itu tidak berhasil karena rakyat merasa asing dengan ajaran baru dan budaya yang mereka lakukan selama ini. Raden Patah berharap masyarakat Jawa dapat memeluk agama Islam secara sempurna dan kafah serta terlepas dari penganut animisme dan Hindu. Namun justru banyak masyarakat Jawa yang tidak tertarik dan habkan meninggalkan agama Islam.

Dengan dihapusnya upacara kurban raja oleh Kerajaan Demak, muncul akibat yang tidak baik bagi masyarakat. Misalnya kehidupan mereka menjadi resah, tidak tenang dan diliputi perasaan bersalah, karena meninggalkan tradisi leluhur mereka. Bahkan masyarakat mengalami berbagai wabah penyakit.

Melihat situasi ini, Sunan Kalijaga berusaha menarik kembali simpati masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam dan menghidupkan kembali upacara kurban raja yang sudah dilakukan oleh raja-raja Hindu sebelumnya. Atas kesepakatan para walimaka upacara kurban raja dilanjutkan kembali tetapi disesuaikan dengan ajara Islam. Dari sinilah upacara kurban raja atau upacara Rajamedha diganti dengan upacara Sekaten, yang berasal dari bahasa Arab Shakatain yang artinya dermawan, suka menanamkan budi pekerti luhur dan menghambakan diri pada Tuhan.

Sekaten merupakan upaya para wali dalam menyebarkan ajaran agama Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat, dengan cara merekonstruksi tradisi lama yaitu upacara Rajamedha menjadi upacara Sekaten yang disesuaikan dengan peringatan hari-hari besar agama Islam. Upacara Sekaten pertama kali dilaksanakan di Kerajaan Bintara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, yang bersamaan dengan penobatan Raden Patah sebagai Sultan Demak.

Sampai sekarang, pelaksanaan upacara Sekaten di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tidak berbeda dengan pelaksanaan upacara Sekaten sebelum-sebelumnya. Prosesi upacara Sekaten dimulai dari upacara Miyos Gangsa Sekaten Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Naga Wilaga dari Kraton ke Pagongan Masjid Gedhe, dilanjutkan Upacara Numplak Wajik yang diteruskan dengan pembuatan Gunungan (Pareden), kemudian dilanjutkan Upacara Tedhak Dalem ke Masjid Gedhe, kemudian Upacara Kondur Gangsa dan diakhiri dengan Upacara Garebeg yang ditandai dengan keluarnya Hajad Dalem berupa Gunungan yang dibawa dari Kraton ke Masjid Gedhe.

 

NILAI BUDAYA DAN FILOSOFI UPACARA SEKATEN DI YOGYAKARTA

Dalam masa Sultan Agung, Sekaten mengalami perkembangan. Tujuan diadakannya upacara Sekaten yaitu untuk mendekatkan dirinya terhadap rakyat, guna mengokohkan kedudukannya. Sekaten merupakan simbol pengayoman Sultan kepada rakyatnya dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran hidup dan keharmonisan serta ketenangan dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Sekaten juga disimbolkan dengan pengeluaran 5 gunungan, yang mengandung makna kewajiban menjalankan Rukun Islam. Seiring berjalannya waktu muatan tujuan diadakannya Sekaten bertambah, yaitu sebagai hiburan untuk masyarakat dengan ditambahkan adanya pasar malam sebelum Sekaten resmi diselenggarakan. Jadi upacara Sekaten di Yogyakarta dimulai dari diselenggarakannya pasar malam sampai dengan upacara Grebeg Mulud, dan diakhiri dengan keluarnya Hajad Dalem Gunungan dari Kraton ke Masjid Gedhe. Inti dari upacara Sekaten adalah keluarnya Gangsa Sekaten dari Keraton ke Masjid Gedhe yang terdiri dari seperangkat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu sebagai simbol anugerah besar yang turun kepada manusia, dan Kangjeng Kyai Naga Wilaga sebagai simbol dari kekuatan.

Upacara Sekaten pada dasarnya adalah budaya religi; produk budaya masyarakat yang memeluk agama, dalam hal ini adalah agama Islam. Sebagai budaya religi Sekaten menyimpan beberapa aspek, yakni wisata religi, ajang silaturahmi antar masyarakat, fasilitas hiburan, dan kesatuan antara raja dan rakyat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Sebuah Landasan Pacu untuk Melaju, Jalan di Tempat, atau Balik Kanan?

Judul : Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film (2007-2012) (Seri Wacana Sinema)
Editor : Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan
No. Panggil : 790 jay t
ISBN/ISSN : 987-979-1219-11-2
Penerbit : Dewan Kesenian Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Jakarta, Indonesia
Deskripsi Fisik : 15 x 22 cm, 1616 halaman
Resensi oleh : Hardiwan Prayogo

Pertama, saya akan melakukan disclaimer pada buku berjudul “Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012” yang berjumlah 1616 halaman ini. Saya tidak membaca semuanya. Buku kumpulan tulisan yang pernah dimuat di website Rumah Film tahun 2007-2012 ini saya perlakukan seperti Toko Serba Ada (Toserba), atau lebih tepatnya warung makan prasmanan. Tidak perlu kita santap semua menu, cukup ambil yang sekiranya menggairahkan untuk dimakan. Wajar jika muncul banyak ekspektasi ketika melihat buku setebal 16 cm ini. Terdiri dari 205 tulisan dengan panjang dan bobot tulisan yang beragam dan terbagi dalam 5 bab. Masing-masing bab mewakili ulasan atau review film, laporan pandangan mata festival-festival film di Eropa, wawancara dengan pelaku dunia perfilman, dan dua bab terakhir berisi kumpulan esai-esai tentang film dan konteks-konteks yang menyertainya. 

Dari ratusan tulisan yang disajikan, ketertarikan pertama saya tertuju pada tulisan terakhir yang berjudul “Memulai Tradisi Arsip Visual” oleh Ekky Imanjaya, yang dimuat pada bab 5 bertajuk “Berburu Shu Qi, Madonna Lari: Filmsiana, dan Lain-Lain”. Alasannya mudah ditebak, karena saya sendiri berprofesi sebagai arsiparis, jadi rasanya atensi mudah terpikat melihat kata arsip.

Maka saya langsung melompat ke halaman 1602. Pada intinya, tulisan ini seperti reportase Ekky mengunjungi pameran “24 Hours Indonesia” di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda yang diselenggarakan pada 26 Juni-16 November 2008. Pameran ini menampilkan rekaman aktivitas sehari-hari warga yang tinggal di Payakumbuh, Kawal, Jakarta, Sintang, Delanggu, Surabaya, Bittuang, dan Ternate. Pameran ini merupakan bagian dari proyek “Recording the Future”. Sebuah proyek yang memiliki spirit bahwa kisah-kisah kecil perlu direkam, karena itulah dasar kehidupan kita. Singkatnya, kita tidak akan menemukan rekaman seperti peristiwa politik atau demonstrasi besar, justru kita disuguhi aktivitas sehari-hari seperti ibu-ibu berjilbab berjalan melewati lorong, aktivitas jual beli di pasar, hingga lalu lalang manusia di terminal bus. 

Henk Schulte Nordholt, salah satu pencetus ide proyek ini mengklaim bahwa ini adalah format arsip baru, dan menganggap ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan intelektual. Sementara itu Nuraini Juliastuti menandai bahwa proyek ini memerlukan konsistensi agar rekaman-rekaman tersebut bisa ‘dibunyikan’, tidak sekadar menjadi data mentah. Merujuk pada laman https://www.kitlv.nl/research-projects-recording-the-future/, projek ini nampaknya masih berjalan. Jika melihat dari praktiknya, barangkali sulit menyetujui klaim bahwa rekaman audio visual adalah format arsip baru. Bangsa kolonial sudah melakukannya sejak ditemukan alat perekam foto dan video, hanya saja secara eksplisit tidak disertai klaim atau narasi bahwa mereka sedang melakukan kerja pengarsipan. Dengan demikian sudah barang tentu kita berhak mencurigai maksud di balik kenapa klaim bahwa ini adalah kerja pengarsipan dimunculkan belakangan. Dan tentu juga kecurigaan tersebut tidak bisa dituntaskan oleh buku Tilas Kritik ini.

Saya kembali ke halaman daftar pustaka, memindai kembali sekiranya manalagi judul-judul yang menarik hati. Ada 4 tulisan yang mengulas film-film bikinan Edwin. Secara pribadi saya cukup mendalami karya-karya Edwin, karena pernah menelitinya dalam tesis yang saya tulis beberapa tahun silam. Seluruhnya ulasan film Edwin dalam buku ini termuat dalam bab pertama yang berjudul “Mencari Yang Nyata, dan Lain-Lain: Ulasan dan Kritik Rumah Film”. 

Tulisan pertama ada di halaman 153, berjudul “Katalog Keluarga Edwin” karangan Eric Sasono. Tulisan ini tidak hanya membahas satu film, tetapi empat film pendek buatan Edwin. Keempat film tersebut adalah “A Very Slow Breakfast” (2003), “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” (2004), “Kara, Anak Sebatang Pohon” (2005), dan “A Very Boring Conversation” (2006). Seluruhnya dinilai memaknai ulang konstruksi normalitas keluarga. Anggapan keluarga ideal terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, yang melahirkan komunikasi yang baik nan harmonis, diwujudkan secara sinis dan pincang dalam film-film Edwin. 

“Kara, Anak Sebatang Pohon” dan “A Very Boring Conversation” menceritakan ketidakutuhan keluarga. Gambaran keluarga utuh diwujudkan dalam “Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing” dan “A Very Slow Breakfast” namun dengan penggambaran yang penuh konflik, ganjil, komunikasi yang menyakitkan dan serba canggung. Di bagian penutup, Eric menafsirkan bahwa film-film pendek ini adalah daftar pertanyaan atas relevansi struktur keluarga ideal dengan standar kebahagiaan. Eric memberikan nilai yang tinggi pada pertanyaan-pertanyaan ini. Eric menilai bahwa Edwin sedang menyusun sebuah katalog keluarga kontemporer. 

Saya melanjutkan ke halaman 324 dan 329. Tulisan pertama dari Ekky Imanjaya, berjudul “Babi-Babi yang Membabi Buta Ingin Dicintai”. Dari judulnya sudah dapat ditebak, bahwa tulisan ini pasti akan mengulas film panjang pertama Edwin yang berjudul “Babi Buta yang Ingin Terbang” (selanjutnya akan disebut Babi Buta) yang rilis tahun 2008. Ekky mengawali tulisan dengan penggalan lirik lagu “I Just Call to Say I Love You” dari Stevie Wonder. Lagu ini memang beberapa kali dinyanyikan pada film Babi Buta. Ekky menilai justru lagu ini secara filosofis merepresentasikan nilai persaudaraan yang ingin disampaikan oleh film. Bahwa apapun identitasnya, semua orang pada dasarnya ingin dicintai dan mencintai. Babi Buta memang mengangkat isu sensitif, yaitu identitas Tionghoa dengan segala represi dan diskriminasi yang diterimanya. Ekky mengkritik film ini karena memasukkan adegan vulgar threesome laki-laki. Adegan ini terlalu lama dan merusak atensi publik atas isu minoritas Tionghoa sebagai benang merah cerita. Ekky berpendapat bahwa tahun 2008 isu Tionghoa sudah kehilangan momentum, karena pasca 98 sudah banyak film mengangkat tema tersebut. Dan adegan vulgar yang tidak perlu itu semakin membuat penonton lebih mengingat scene threesome-nya, daripada esensi pada persoalan Tionghoa. Ini argumen utama yang saya tangkap dari ulasan Ekky. 

Mari kita beralih pada ulasan film Babi Buta yang kedua, kali ini dari Eric Sasono yang berjudul “Mencari Babi Cemas dalam Diri”. Sama seperti ulasan Eric tentang empat film pendek Edwin, Eric kembali menggarisbawahi kehadiran keluarga dalam Babi Buta. Dari sini bisa kita melihat starting point yang berbeda antara tulisan Ekky dan Eric. Perbedaan kedua adalah tafsir atas mata tokoh utama yang bernama Halim. Ekky beranggapan bahwa Halim benar-benar buta karena menyilet matanya sendiri. Berbeda bagi Eric yang tidak mempersoalkan Halim benar-benar buta atau tidak, karena yang penting baginya adalah memaknai ‘kebutaan’ Halim sebagai wakil dari perasaan tidak nyaman dan ingin lari dari kenyataan. 

Perbedaan yang lain juga ada dalam tafsir atas lagu “I Just Call to Say I Love You”. Ketimbang membedah makna liriknya secara filosofis, Eric lebih menekankan bahwa lagu ini difungsikan sebagai elemen pengganggu, yang ditujukan untuk mempertegas kecemasan. Eric membedah aspek-aspek formalis film Babi Buta dengan melihat bahwa plot-plot yang tidak linier ini menjadi representasi atas racauan gagap Edwin atas persoalan identitas. Eric menutup dengan ajakan untuk berefleksi bahwa kita jangan lagi menolak kecemasan dalam diri. 

Jika dibandingkan secara umum, ulasan Ekky lebih memiliki bobot kritis terhadap film Babi Buta ketimbang Eric. Bagi saya, ulasan Eric lebih bersifat ‘menjelaskan’ setiap adegan-adegan tidak lazim pada film Babi Buta. Tentu ini sah-sah saja dilakukan. Namun secara pribadi saya menilai ulasan Ekky lebih luwes karena kritiknya pada Babi Buta lebih mudah dikontekstualisasikan jika kita ingin mengulas film-film yang lain. Tulisan Eric memang memperluas wawasan kita terkait konsep identitas, tetapi sepertinya memerlukan usaha lebih jika ingin digunakan untuk semata-mata mengevaluasi aspek formalis film. Penilaian saya pada ulasan Eric terhadap film-film Edwin, tidak banyak berubah ketika membaca “Identitas Tanpa Wilayah” pada halaman 436, tulisan ketiga Eric yang mengulas film Edwin. Kali ini ia mengupas film panjang kedua Edwin yang berjudul “Kebun Binatang (Postcard from The Zoo)”. 

Kebun Binatang bercerita tentang seorang perempuan bernama Lana, yang sejak usia 3 tahun ditinggal oleh ayahnya di kebun binatang. Dari paragraf pembuka, Eric sudah menafsirkan Lana sebagai wakil sempurna ketercerabutan manusia dari kenangan kolektif, salah satu landasan terpenting bagi pembentukan badan politik bernama negara bangsa. Lebih lanjut, Eric memuji film ini sebagai salah satu film terpenting di Indonesia tahun 2012. Alasannya? Karena ini adalah film pertama yang tegas membicarakan pemisahan identitas manusia Indonesia dari kenangan kolektif yang membentuknya. Padahal kenangan kolektif adalah basis pembentuk nasionalisme. Demikian klaim yang disampaikan oleh Eric atas film Kebun Binatang

Apakah filmnya memang sengaja bernarasi seperti itu? Bisa jadi tidak, tetapi ya kurang lebih seperti itulah kerja kritikus film. Membuka tabir dan tafsir ‘baru’ atas suatu karya. Yang lebih penting adalah argumen dan perspektif apa yang ditawarkan di balik tafsir ‘baru’-nya itu. 

Kembali pada tulisan Eric, ia menyebutkan bahwa dunia sinema Indonesia adalah salah satu corong penting indoktrinasi ideologi militerisme di Indonesia. Ini mengakibatkan narasi nasionalisme menemui titik jenuhnya, karena selalu tidak beranjak dari perkara perjuangan militeristik. Sebenarnya film melalui kesadaran atas mediumnya, berpotensi membawa pemaknaan baru atas nasionalisme yang selalu dibatasi atas teritori dan kenangan kolektif. Karena sejarah membuktikan dua aspek itu justru melahirkan represi, diskriminasi dan pengingkaran atas hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan membuang konsep teritori (deteritorialisasi), ingatan personal atau kewargaan lebih berpeluang memiliki hak representasi. Ini adalah argumen kenapa Eric menempatkan Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Meski sebenarnya cukup sedikit porsi Eric mengulas hal-hal teknis film, bahkan lebih sedikit dibanding ulasan Eric atas film-film pendek Edwin dan Babi Buta. Setidaknya dari ketiga ulasan Eric atas film-film Edwin, kita dapat menangkap satu gaya penulisan Eric, yaitu menarik pembacaan pada konteks yang lebih luas. 

Buku ini menjadi rekaman yang penting atas sumbangan gagasan dan perspektif demikian. Pada dasarnya ulasan-ulasan atas karya Edwin ini mudah dipahami karena saya sendiri sudah menyaksikan seluruh film Edwin. Namun lain cerita bagi orang yang asing dengan film-film Edwin. Masih menjadi persoalan ketika kita membaca sebuah ulasan karya seni (dalam hal ini film), yang belum pernah kita saksikan sendiri.

Mungkin ini hanya persoalan selera dan kebutuhan belajar yang berbeda, bahwa tidak semua orang nyaman dengan analisis seperti Eric. Bisa jadi orang lebih mencari temuan-temuan yang lebih dekat dengan hal teknis seperti ulasan Ekky. Untuk sebuah tulisan pendek, sekitar 800-1000 kata, saya lebih menikmati cara analisis Ekky. Tanpa mengurangi rasa terima kasih pada tulisan-tulisan Eric yang sudah memperluas wawasan, tapi kembali lagi, penilaian saya atas beberapa tulisan dalam buku ini seperti memilih menu pada warung makan prasmanan. Selera dan kebutuhan belajar menjadi pertimbangan utama. Jika suatu ketika rasa lapar dan nafsu makan saya berubah, menu yang dipilih dan dirasa menggairahkan juga akan berubah. 

Buku ini memang memberikan banyak sajian. Selain beberapa yang saya baca secara mendalam, banyak tulisan-tulisan “bucket list” 100 film terbaik dunia dalam satu dekade 2000-2009, 33 film Indonesia terpenting dekade 2000-2009, film-film apokaliptik terbaik, 10 film komik non-superhero terbaik, 10 film warkop terbaik, Eric juga menandai Kebun Binatang sebagai salah satu film terpenting tahun 2012. Klaim-klaim ‘terpenting’, dan ‘terbaik’, yang ditawarkan buku ini sangat menarik untuk dibaca lebih dalam. Karena di balik yang terpenting dan terbaik, tentu ada yang tidak penting dan tidak baik. Dari buku ini, dengan kritis dan skeptis kita bisa sedikit memetakan gagasan apa yang sedang dominan, bagaimana perkembangan, dan akan dibawa ke mana kajian sinema Indonesia. Akan melaju kencang, jalan di tempat, atau justru balik kanan karena jalan terlalu berlubang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.