Tag Archives: #sorotanpustaka

Timurliar: Kesadaran atas Perubahan melalui Pameran

Judul : Timurliar, Serawung Kolektif: Unfine Art Exhibition Report  Book
Penyusun : Dwiki Nugroho Mukti
Penerbit : Serbukayu
Tahun terbit : 2019
Tempat terbit : Surabaya
Halaman : 210 hlm
Resensi oleh : Firda Rihatusholihah

Perubahan perilaku masyarakat turut dipengaruhi oleh perubahan lingkungan di sekitarnya. Misal, pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, pembangunan apartemen/ hotel di tengah kawasan pemukiman, menjamurnya kedai kopi, tercemarnya aliran sungai yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, serta perubahan lainnya. Akibat perubahan-perubahan tersebut, perilaku masyarakat dapat berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Contohnya ialah pergesaran perilaku masyarakat di Banyuwangi, bahwa pesatnya laju arus informasi memudahkan masyarakat untuk mencari dan membeli suatu barang, tetapi di sisi lain menyebabkan meningkatnya perilaku konsumtif. Fenomena-fenomena demikian diangkat menjadi tema pameran seni Timurliar, yaitu perubahan pada “folks” atau orang-orang, yang diinisiasi oleh komunitas seni Serbukayu di Surabaya, dari Januari hingga April 2019. Pameran tersebut diikuti oleh 13 kolektif maupun  komunitas seni lainnya dan diadakan di beberapa kota di Jawa Timur, yakni Malang, Banyuwangi, Pasuruan, Sidarjo, Pare, Lamongan, Kediri, Surabaya, Jember, dan terakhir Tuban. 

Persiapan dimulai pada bulan Januari. Selama sebulan penuh para seniman diberi kesempatan untuk melalukan pengamatan, salah satunya mengenai perubahan perilaku masyarakat di wilayah tempat tinggalnya hingga merealisasikannya dalam suatu karya. Kota Malang, melalui Kolekjos, menjadi tuan rumah pertama rangkaian pameran pada 9-11 Februari 2019. Para seniman yang terlibat dalam pameran di Malang sepakat untuk mengangkat isu pencemaran Sungai Brantas yang diwujudkan melalui medium yang cukup beragam, mulai dari video, resin, gabungan dari benda temuan, hingga simulator penampakan kondisi  sungai. Tur pameran ditutup di Tuban pada 20 Maret 2019. Berbeda dengan pameran di Malang, pameran yang diadakan oleh komunitas Tubgraff merespon situasi di Tuban melalui seni grafitti. Setelahnya, karya-karya yang telah dipamerkan di masing-masing kota kembali diperlihatkan dalam pameran utama Timurliar di Surabaya, 8-10 April 2019. 

Selain Kolekjos di Malang dan Tubgraff di Tuban, masih ada 11 kolektif seni lainnya yang juga mengadakan pameran di berbagai kota. Beberapa kolektif maupun komunitas secara lugas menyertakan isu-isu perubahan lingkungan dan perilaku masyarakat di wilayah mereka sebagai tema pameran. Misalnya seperti yang dilakukan kolektif Sesendang Rasa, Lamongan, dalam merespon gap generasi tua dan muda  terkait perkembangan teknologi digital dan seni. Ada pula Villa Art Space di Kediri yang menyoroti masalah-masalah yang bermunculan setelah beroperasinya pabrik rokok Gudang Garam. Termasuk di antaranya ialah penduduk sekitar yang terjangkit ISPA akibat polusi pabrik. Di sisi lain, Darjo Club dari Sidoarjo mengangkat masalah tata ruang kota, seperti perebutan ruang dan kemacetan.

Sebagai sebuah laporan kegiatan, buku ini cukup informatif. Meski demikian, tidak semua pameran membicarakan isu perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan. Misalnya seperti kolektif Kuas Patis dan Jare yang lebih mengangkat kesenian lokal yang sudah lama tidak digiatkan kembali. Dengan begitu, pameran Timurliar telah menjadi pembangkit kesadaran masyarakat. Tidak hanya sadar atas perubahan lingkungan, tetapi juga sadar terhadap kurangnya aktivitas kesenian di daerah masing-masing sehingga dibangkitkan kembali melalui pameran.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Kemurnian Lisan Tak Lepas dari Tulisan?

Judul : Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi Revisi)
Editor : Pudentia, MPSS.
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Cetakan pertama, Edisi Keempat
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 542
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati

Tradisi lisan berarti sebuah sistem wacana yang bukan aksara. Sehingga sebuah lisan identik dengan wacana yang diucapkan baik itu yang murni lisan maupun yang dari tulisan/ aksara. Demikian arti tradisi lisan menurut buku ini.

Buku yang memuat kumpulan metodologi berbagai pakar dalam mengkaji tradisi lisan ini terinisiasi dari terbitnya hasil penelitian seni tradisi lisan Nusantara delapan belas tahun yang lalu (1993) oleh Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Uraian yang disajikan terkesan bertentangan satu sama lain, tetapi hal tersebut justru membuktikan jika memang diskusi serta pengkajian tradisi lisan ini tidak akan pernah usai. 

Buku ini sudah empat kali diterbitkan, yakni dari 1998 hingga 2015. Semua informasi yang tertuang di dalam buku terbitan pertama, kedua, dan ketiga masih memiliki uraian informasi yang sama, hanya saja terdapat perbaikan beberapa kekurangan dan rata-rata pada kesalahan cetaknya. Tetapi di terbitan terkini, yakni terbitan keempat (2015), terdapat tambahan satu artikel karya Aone van Engelenhoven dari Universitas Leiden yang berjudul “Mengenai Falsafah Folklor: Tinjauan dan Usulan”.

Buku ini memiliki dua bagian. Bagian pertama meliputi bahan diskusi pada Pelatihan Peneliti muda ATL dan beberapa artikel dari lokakarya internasional Metodologi Kajian Tradisi Lisan yang diselenggarakan pada tahun yang berbeda yakni pertengahan 1998. Lalu, bagian kedua merupakan tambahan kumpulan tulisan multidisiplin dari para pakar berbagai bidang keilmuan yang tentunya membahas metodologi kajian tradisi lisan.

Tradisi lisan yang dikaji pun tak hanya meliputi tradisi dari beberapa suku di Indonesia saja misal Dayak dan Jawa, melainkan hingga Kelantan dan Siberia. Dari beberapa kajian tersebut bisa dimengerti bagaimana peran tradisi lisan dalam membentuk makna kelisanan tiap budaya di lain daerah yang bisa terlihat sama tetapi memiliki makna hingga rasa yang berbeda.

Buku ini mengajak kita memahami bagaimana tradisi lisan berlaku dan berjalan melalui kumpulan metodologi ilmiah hasil pengamatan para ahli. Salah satu pemahaman akan tradisi lisan yang didapat dari buku ini adalah bagaimana bahasa suara, bahasa gerak, dan bahasa visual memiliki perbedaan makna berdasarkan konteks demografinya. Lain ladang lain belalang; istilah yang sangat tepat menggambarkan keberagaman makna tradisi lisan tiap daerah. Dengan kata lain, tidak bisa digeneralisasi makna dari bunyi, intonasi, mimik, gesture, dan guratan antar daerah dengan ragam tradisinya.

Hampir seluruh peneliti dalam buku ini membahas tradisi lisan berdasar dari pengamatan ketika menonton seni pertunjukan dan sastra. Dalam pengamatannya tak ayal para peneliti juga menghadapi problematika metodologis. Salah satu yang menarik adalah saat bagaimana seorang peneliti menemukan bahwa lisan murni yang notabene berasal dan berakhir tanpa keaksaraan pun pada akhirnya membutuhkan aksara/ tulisan juga dalam mereproduksi tradisi lisannya. Bahkan dalam pengkajiannya tetap membutuhkan tulisan karena mau tak mau, mengkaji tradisi lisan adalah bentuk usaha keberaksaraan dari tradisi lisan itu sendiri. Uraian metodologi dari salah satu peneliti tersebut sangat menggugah akal sehat karena menyuguhkan realita bagaimana sulitnya di abad ke 21 ini menemukan wacana-wacana lisan yang murni dan tidak terpengaruh oleh tulisan. Bahkan banyak tradisi lisan yang diucapkan merupakan manifestasi dari teks yang sebelumnya dipersiapkan oleh si pengarang.

Yang tak kalah penting, buku ini bukan hanya membahas tentang simbolisasi sebuah wacana yang terucap (tradisi lisan) ke dalam bentuk aksara, melainkan juga betapa pentingnya peran diskusi panjang dan mendalam antara pikiran serta perasaan guna memindahkan rasa ke dalam bentuk aksara seperti yang identik dilakukan dalam sastra Jawa. Itu adalah hal yang sangat sulit; bagaimana mengaksarakan bermacam rasa yang fungsinya sangat bisa mempengaruhi makna suatu wacana walau terucap sama.

Dua contoh uraian di atas hanyalah sebagian kecil. Masih banyak metodologi yang secara ilmiah teraksara oleh para pakar dari berbagai lintas disiplin ilmu di dalam edisi revisi dari buku Metodologi kajian Tradisi Lisan ini. Mungkin sekilas terasa ada pertentangan antara metodologi yang satu dengan lainnya, tetapi hal itu tidak mengurangi bobot keilmiahan dari para pakar yang menuangkan hasil penelitian mereka tentang tradisi lisan ini. Buku ini menegaskan soal bagaimana metode lisan sebagai cara transfer pengetahuan yang sudah terjadi turun temurun dari abad terdahulu, khususnya pada pengetahuan akan seni dan budaya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Jogja Agro Pop: Jalan Alternatif Membongkar Oposisi Biner Seni Rupa Indonesia

Judul : Jogja Agro Pop: Negosiasi Identitas Kultural dalam Seni Visual 
Editor : M. Rain Rosidi
Penulis : Nano Warsono
Penerbit : Jogja Agro Pop
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : xii + 226
Resensi oleh : Bian Nugroho

Ruangan ukuran 3×3 ini tak tertata rapi. Kertas berserakan di pojok ruangan dekat sebuah cermin yang digantung. Pakaian-pakaian tertumpuk di sudut lain. Ada aroma sambel pecel, menyatu dengan bau keringat pada kasur. Ada setumpuk piring dan gelas di bawah rak buku yang mulai berdebu. Saya tidak tahu itu barang bersih atau kotor. Di sisi tembok ruang bagian timur, sebuah gorden warna hijau lusuh, kelihatan tidak pernah dicuci beserta beberapa poster-poster yang nge-pop sangat kontras dari suasana lembab kamarnya. Makin postmo saja orang ini gumam saya. Memang tujuan utama saya datang ke sana adalah untuk berbincang mengenai postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. Entah karena main saya kurang jauh, lebih suka bermalas-malasan di kos dan yang terpenting saya lebih mementingkan kebutuhan biologis saya dari pada kebutuhan estetika. Karena saya bukan tergolong anak muda dunia ketiga yang terseret arus kesenian indie yang terdepan dalam seni tapi lunglai secara ekonomi. Saya tidak pernah melihat gaungan wacana postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. “Mainmu kurang jauh, Yan”, begitu katanya dia menyebutkan sebuah nama Jogja Agro Pop. Sebuah kolektif seni rupa yang menurutnya sering bermain di dalam wacana postmodern.

Jogja Agro Pop adalah istilah yang dipakai seorang kurator bernama Rain Rosidi dalam sebuah katalog pameran untuk merujuk beberapa seniman Jogja yang memiliki kesamaan dalam mengadopsi tanda-tanda yang beragam, yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari, budaya pop, lokal dan global dalam setiap karya mereka. Komunitas ini muncul dan berkembang melalui semangat independen dan underground yang berakar dari wacana-wacana subkultur yang mereka konsumsi. 

Meminjam pemikiran Benedict Anderson, Jogja Agro Pop secara intrinsik terbentuk karena proses komunikasi. Proses komunikasi ini berlangsung secara organik karena kesamaan wacana yang mereka konsumsi selama ini; apa yang mereka baca, dengar dan lihat. Kesamaan ini akan mempermudah komunikasi para seniman karena ada imajinasi tentang sesuatu yang sama-sama dipercayai sebagai tujuan dalam berkesenian. Hal ini secara tidak langsung membentuk sebuah identitas komunitas tersebut. Dalam hal ini identitas mereka akan terlihat dalam produksi maknanya, yaitu karya seni.

Dalam perjalanannya terlihat bagaimana wacana yang dibawa oleh Jogja Argo Pop agak berbau postmodern. Mereka berusaha mendekonstruksi oposisi biner yang ada sejak dulu di dalam perkembangan dunia seni di Jogja. Jogja Agro Pop berusaha membongkar oposisi biner yang selama ini terbangun, seperti pakem-bermain. Jogja Agro Pop berusaha mengangkat terma pertama yaitu bermain untuk mengusik status quo pakem yang selama ini dianggap sudah final, seperti dalam tradisi Metafisika Kehadiran Dunia barat dari jaman Klasik sampai Modern yang sangat terobsesi untuk mencari genealogi dan finalitas terhadap realitas. Mulai dari Platon mengenai “dunia ide”-nya sampai dengan dealektika Hegelian. 

Jogja Agro Pop akan lebih merespon realitas sosial dengan semangat bermain agar tidak terjebak dalam oposisi biner yang secara tidak langsung akan menegasikan predikat kedua dalam sebuah oposisi biner. Contoh, dalam sebuah fenomena sosial politik, dengan cara yang berbeda mereka akan mengolah sebuah ketegangan menjadi lebih lunak. Sehingga karya yang terlihat tidak berbau amarah, tetapi menjadikannya sebagai semangat perlawanan yang berbeda. 

Dalam sudut pandang lain, hal ini akan menciptakan sebuah dualisme-paradoksal yang hampir mirip dengan prinsip logika Wittgenstenian, yaitu bipolaritas. Jogja Agro Pop mengandung makna sebagai proposisi bipolar yang menghadirkan dua kata berlawanan dalam satu proposisi, sehingga proses pemaknaan dalam setiap karya Jogja Agro Pop tidak akan pernah menuju sebuah finalitas yang dapat mengusik status quo yang sejak dulu menjadi pakem dalam perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Jean Michel Basquiat: Seni Kontemporer, Seni Pembebasan

Judul : Jean-Michel Basquiat – Raja Seni Jalanan
Penulis : Drajat T Jatmiko, Riska Kahiyang
Penerbit : Phospene  Art Book
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Halaman : 233
ISBN : 987-602-53746-2-3
Resensi oleh : Fika Khoirunnisa

Banyak yang mengenal Basquiat melalui gaya hidupnya yang glamour, bersahabat dengan Andy Warhol, karyanya yang nyentrik, hingga gambar-gambar yang tersemat pada beberapa brand ternama, seperti Uniqlo, Reebook, hingga Supreme. Namun, di balik itu semua Basquiat harus melalui jalan panjang penuh liku. Perjalanannya dimulai dari lorong-lorong kota Manhattan ketika ia mulai menggambar grafiti bersama karibnya, Al Diaz. Dua serangkai itu selalu menyertakan simbol SAMO di setiap karya mereka. Meski hal ini terbilang lumrah dalam dunia seni kontemporer, namun Basquiat merupakan salah satu contoh paling spektakuler yang berhasil menaklukkan jalanan untuk menduduki singgasananya sebagai “seniman galeri” dengan nama yang cukup besar di New York.

Basquiat muncul sebagai seniman di saat rakyat Amerika mengalami ketegangan dengan berbagai krisis dan kekhawatiran, khususnya yang dialami oleh orang-orang kulit hitam. Dalam keadaan seperti ini orang membutuhkan cara pandang, ungkapan dan perumpamaan baru guna memahami keadaan sekaligus sebagai solusi bagi persoalan yang muncul. Sementara itu, seharusnya seni rupa memiliki ruang yang dapat menampung itu semua, bukan malah dikotak-kotakkan berdasarkan gender, strata sosial, apalagi menyangkut isu SARA. Jean-Michel Basquiat tentu dengan tegas menolak hal itu. Ia enggan dikaitkan dengan kelompok dan kepentingan politis tertentu, serta menginginkan kebebasan. Melalui karya-karyanya, kita dapat melihat kritik mengenai isu diskriminasi, ketidaksetaraan ras, hingga isu perbudakan yang banyak dikaitkan sebagai produk neo-kolonialisme; yang tanpa disadari telah mengontrol negara-negara bekas jajahan seperti yang terjadi di Afrika dan Asia.

Dalam sebuah wawancara Basquiat berkata, “I’m not a black artist, I am an artist.”

Jelaslah dari pernyataan tersebut kita dapat melihat sekaligus mengenal bagaimana perjuangan pemuda kulit hitam ini dalam meyakini ideologi artistiknya. Basquiat ingin melepaskan diri dari kungkungan diskriminasi, jerat perbudakan, dan berbagai praktik rasial yang selama ini menjerat dirinya dan sebagian besar kaum kulit hitam lainnya. Kemunculan Basquiat di kancah seni tahun 1980-an bertepatan dengan munculnya gerakan neo-ekspresionisme yang ditandai dengan pemakaian material kasar sebagai medium untuk melukis. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, karya-karya yang dihasilkan oleh Basquiat sangatlah konsisten. 

Seperti yang dikatakan penulis, unsur-unsur linguistik dalam lukisan Basquiat tidak hanya melibatkan karya dalam wacana sejarah dan budaya, tetapi juga menampilkan harmonisasi mengenai ekonomi-puitis yang memikat, sekaligus kritik terhadap wacana tersebut. Ia kerap memakai unsur bahasa sehari-hari, seperti penggunaan nama merk dagang, citra rasisme, budaya konsumen, dan slogan politik. Basquiat ingin menyampaikan kritiknya terhadap struktur kekuasaan laten yang merujuk pada ironi kesewenang-wenangan dalam satu lembaga sosial masyarakat. Selain itu, ia juga banyak menyorot isu rasisme seperti yang tampak pada lukisannya yang tanpa judul: Untitled/ Rinso (1982).

Dalam liku hidupnya, Basquiat banyak dibenci karena kesuksesannya. Hidupnya penuh dengan fitnah dan celaan yang datang dari para kritikus, dan ia juga harus terisolasi dalam lingkungan yang buruk. Popularitas merupakan tujuan hidupnya sejak awal, maka segala hal buruk yang menimpanya ia anggap sebagai konsekuensi dari itu semua. Dengan latar belakang yang ia miliki seperti image berkulit hitam, muda, dan pecandu heroin, tidak sedikit yang memandangnya sebagai lelucon dan menganggapnya remeh. Namun di balik itu semua, kematian dan kehidupannya, Basquiat tetaplah menjadi komoditas.

Sebagai buku biografi, buku ini mampu menampilkan secara lengkap perjalanan Jean Michel Basquiat sejak kanak-kanak hingga akhir hidupnya. Kisah hidupnya secara pribadi, keluarga, keterlibatannya sebagai minoritas sekaligus seniman dengan nama yang besar, analisis karya, hingga bagaimana ingatan orang terdekat pada detik-detik akhir hidupnya. Beberapa sindiran sarkastik hingga pujian yang dilontarkan para kritikus hingga seniman yang berperan dalam karir Basquiat mampu dihadirkan dengan baik.

Selebihnya, buku ini dapat diposisikan sebagai referensi untuk menelaah lebih jauh praktik hingga liku berkesenian dalam bingkai politis progresif, bersifat provokatif dan dalam ranah kontemporer. Dalam ideologi artistik yang Basquiat anut, paparan kisah hidupnya menitikberatkan pada interkoneksi isu SARA dengan medan kesenirupaan yang ia selami. Pada titik yang cukup agung, seni telah berhasil menjalankan fungsi besarnya sebagai bentuk kritik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Catatan Program Sandiolo

Judul buku : SANDIOLO
Penulis : Dwiki Nugroho Mukti
Editor : Ayunin Widya Risya
Penerbit : AJRIE Publisher
Tahun terbit : 2016
Tempat terbit : Bukittinggi
Halaman : x+188
ISBN : 978-602-69435-6-9
Resensi oleh : Uray Nadha Nazla

SERBUK KAYU adalah sebuah kolektif seni di Surabaya yang terbentuk pada 2011, yang berangkat dari kalangan mahasiswa. Dwiki Nugroho Mukti, Dwi Janurtanto, Dyan Condro, Indra Prayhogi, RM Mahendra Pradipta, dan Zalfa Robby membentuk kolektif ini sebagai respon atas harga bahan bakar minyak yang naik pada 2011. Melalui aksi seni pertunjukan mereka membuat instalasi mobil kayu yang kemudian dikendarai dengan cara berjalan kaki dari UNESA kampus Lidah Wetan menuju Taman Bungkul. Dalam melakukan praktik keseniannya mereka bermarkas di Sandiolo. 

Buku Sandiolo berisi uraian program-program yang pernah dijalankan oleh SERBUK KAYU sebagai bagian dari gerakan estetika di Surabaya. Kontennya cukup lengkap, dari rancangan program, profil pengisi acara, notulensi, hingga review program. Buku ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pembaca untuk melihat perkembangan skena seni di Surabaya pada 2016. 

Beberapa program yang dicatat adalah sebagai berikut:

1. Imgesprach
Program diskusi berkala yang bisa diikuti oleh semua orang secara gratis sebagai upaya distribusi pengetahuan seni bagi masyarakat luas. Dengan berfokus pada materi seni rupa dan berbagai bidang yang memiliki korelasi, selama 2016 telah berlangsung sebanyak 5 kali dengan tema Art Collectivity, As an Artist, Perspektif Seni Rupa dalam Islam, Performative Photography and Performance Art, dan Workshop Penulisan Kritik Seni “Seni Rupa Kelas Terbang”.

2. Surabaya Move On #3
Bentuk edukasi kesenian yang dilakukan di Surabaya dengan memaparkan ritme kesenian tradisional, modern, maupun kontemporer kepada masyarakat. Selain sebagai upaya peleburan seni dengan masyarakat, apresiasi karya seni juga menjadi titik penting. 

3. Servis Vol. 2
Kompetisi bagi para pelaku seni di Universitas Negeri Surabaya untuk menciptakan iklim kompetitif dan peningkatan mutu bagi lingkungan kampus dengan persaingan yang sehat antar mahasiswa seni melalui beragam media dalam karya mereka.

4. SADAP (Sandiolo Residency Program)
Program residensi yang pertama kali dilakukan Sandiolo untuk menghadirkan seniman dari beberapa kota untuk tinggal dan melakukan riset selama satu bulan dengan tema “Surabaya dan Ramadhan”. Hasil riset mereka kemudian diolah menjadi karya dan dipamerkan di Sandiolo. 

5. Gelagat Buruk Remaja 6
Acara gigs musik noise yang diinisiasi oleh kolektif Melawan Kebisingan Kota, yang tidak dirancang secara rapi. Tujuan acara ini memang untuk meluapkan ke-ugal-ugal-an muda-mudi. Biasanya acara ini bisa digelar di mana saja, tetapi untuk kali ini Sandiolo menjadi ruang yang digunakan.

6Pameran Kartini
Pameran seni sebagai pemantik gerakan perempuan untuk berani menunjukkan potensi mereka. 

Kebetulan sekali, rutinitas saya juga tidak jauh dari apa yang disebut sebagai program seni. Sehari-hari saya bekerja bersama Canopy Center, sebuah ruang kolektif di Pontianak, Kalimantan Barat. Uraian berbagai program di dalam buku ini bisa saya tempatkan sebagai referensi untuk menyusun dan menata program di tempat saya bekerja. Bukan semata meniru, tetapi justru meletakkan daya kritis dalam menjalankan suatu program seni secara kontekstual sesuai situasi komunitas yang bersangkutan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Affandi, Pelukis Besar yang Sederhana

Judul                            : Affandi Pelukis
Penulis                        : Nasjah Djamin
Penerbit                     : Penerbit Nyala
Tahun terbit             : 2017
Jumlah halaman    : 98
Ukuran                        : 12 cm x 19 cm
ISBN                             : 978-602-60855-6-6
Resensi oleh            : Aisha Shifa Mutiyara

Agus suka menggambar. Gambarnya bagus, bahkan bisa dibilang sangat bagus jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pujian dari Ibu Guru dan decak kagum teman sekelasnya selalu terdengar saat mereka melihat gambar Agus. Kemampuan luar biasa Agus dalam menggambar ini membuat Ibu Guru mendoakannya agar bisa sesukses Affandi, pelukis legendaris Indonesia yang mendapat gelar “doktor”.

Namun sayangnya Agus salah mendengar kata “doktor” menjadi “dokter”. Hal ini membuatnya bingung. Jadi, sebenarnya Affandi itu pelukis atau dokter yang mengobati orang sakit? Agus bertanya pada orang tuanya, tetapi mereka tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Mereka lalu menyarankan Agus untuk bertanya pada Paman saat berkunjung ke rumah nanti. Pamannya adalah seorang mahasiswa, berbeda dengan mereka yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Mereka yakin bahwa Paman dapat menjawab pertanyaan Agus.

Pada saat Agus sedang membantu ayahnya di sawah, Paman berkunjung ke rumah sambil membawa kabar gembira: lukisan Agus dimuat di majalah di Jakarta. Agus mendapat banyak hadiah dan uang sebanyak lima ribu rupiah, yang jumlahnya cukup besar saat itu. Kabar dimuatnya karya Agus segera menyebar ke seluruh desa. Pujian datang silih berganti dari tetangganya, teman-teman, dan gurunya. Bahkan Pak Lurah dan Pak Carik pun menyempatkan diri mengunjungi Agus untuk memberi selamat. Semua ikut merasa bangga dengan prestasi Agus.

Di sela-sela obrolannya dengan Paman, ayah Agus menanyakan tentang gelar “doktor” yang membingungkan itu. Pamannya menjelaskan bahwa gelar tersebut merupakan gelar doktor yang didapat oleh seseorang yang “besar jasanya dalam bidang kerjanya”. Gelar kehormatan itu diperoleh Affandi dari Universitas Singapura atas jasanya dalam dunia seni lukis. Paman juga berjanji akan mengajak Agus ke Yogyakarta pada hari Minggu untuk mengunjungi museum dan rumah pelukis Affandi.

Hari yang ditunggu Agus tiba. Pada hari Minggu, Paman menjemput Agus dengan motor bututnya. Mereka berboncengan dari Desa Besi ke Yogyakarta untuk mengunjungi museum Affandi. Agus membawa serta lukisan-lukisannya untuk ditunjukkan kepada Affandi nanti.

Sayangnya, mereka kurang beruntung. Hari itu Affandi dan istrinya sedang tidak ada di rumah dan Pak Tris, yang memegang kunci museum, sedang sakit. Mereka hanya bertemu dengan Pak Karso, yang bertanggungjawab atas rumah Affandi. Akhirnya, mereka hanya dapat singgah di ruang tamu rumah dan berkeliling di sekitar museum.

Agus terheran-heran dengan kesederhanaan Affandi. Yang ia lihat berbeda dengan harapannya. Perabotan Affandi sangatlah sederhana. Di ruang tamu yang dikunjungi tamu-tamu dari mancanegara kursinya terbuat dari bambu, bukan sofa yang empuk. Tidak hanya itu, cerita Paman tentang hidup Affandi yang serba sederhana dan cara melukisnya yang “gembel”; melukis di jalanan bukan di studio lukis, juga tidak dapat dipahami Agus. Bagaimana bisa orang sehebat itu memilih untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang biasa?

Untuk mengobati rasa kecewa Agus karena belum dapat memasuki museum Affandi dan untuk memberinya pengantar supaya nantinya bisa lebih menghayati lukisan-lukisan Affandi, Paman mengajak Agus untuk menemui temannya, Juminten. Ia membuat karangan tentang Affandi untuk anak-anak. Karangan itu menceritakan kehidupan Affandi sejak ia kecil hingga sekarang. Rencananya, karangan ini akan dikirimkan ke majalah anak-anak atau ke penerbit, dan Pamanlah yang mengetik teksnya. Mereka bertemu di warung bakso langganan Paman. Juminten, yang biasa disapa Mbak Jum, mempersilakan Agus untuk membaca karangannya. Sekalian sebagai koreksi, begitu katanya.

Setelah itu, Agus dibawa Paman ke pondokannya. Di sana Agus membaca karangan Mbak Jum yang sudah diketik dengan rapi oleh Paman. Setelah membaca karangan itu, kini Agus lebih bisa memahami Affandi. Bisa dibilang, masa kecil Affandi sangatlah pahit. Ia tidak seberuntung Agus. Tidak ada yang mendukung bakatnya. Ayah dan kakaknya ingin Affandi menjadi akademisi supaya kelak menjadi orang sukses, bertentangan dengan keinginannya untuk menjadi pelukis. Saat itu pun di Indonesia tidak ada sekolah menggambar. Affandi harus memelajarinya sendiri.

Namun kesulitan-kesulitan tersebut bukanlah penghalang bagi Affandi. Ia memang sempat melanjutkan sekolah hingga AMS (Algemeene Middelbare School, setingkat SMA) di Jakarta sesuai dengan keinginan ayah dan kakaknya. Namun, ia tidak menyelesaikannya dan memutuskan untuk melanjutkan dan memperdalam hobi menggambarnya, walaupun dengan konsekuensi hidup mandiri tanpa dibiayai kakaknya.

Begitulah Affandi, yang teguh pendiriannya dan keras kepalanya, yang berani hidup susah demi memenuhi panggilan hatinya. Awalnya, ia memaksakan diri untuk bekerja sebagai guru guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginannya untuk menggambar masih membara. Pada tahun 1933, Affandi menikah dengan muridnya, Maryati. Hasrat menggambarnya semakin menjadi, dan didukung pula oleh istrinya. Akhirnya, jika ada pekerjaan kasar yang membutuhkan kemampuan menggambarnya seperti membuat papan nama toko, mengecat pintu, atau membuat poster reklame, ia memilih untuk mengerjakannya dari pada menjadi guru. Walaupun bayarannya jauh lebih kecil, Affandi dengan senang hati melakukannya. Dianggapnya pekerjaan itu sebagai latihan. Mengajar hanya dilakukannya sesekali, jika terpaksa.

Affandi menikmati hidupnya yang melarat itu. Ia mengamati, merasakan, dan terlibat langsung dalam kehidupan rakyat yang melarat. Pengalamannya ini yang menjadikan dasar lukisan-lukisannya. Affandi berbeda dengan Basuki Abdullah, yang hidup di kalangan para konglomerat dan melukis “yang indah-indah”. Affandi lebih suka menggambar sesuai kenyataan, tanpa ada usaha untuk meng-indah-kan. Bentuk-bentuk ekspresif dari cat yang dioleskan langsung dari tubenya adalah ciri khasnya.

Perjuangannya tidak sia-sia. Setelah lebih dari 15 tahun, kemampuannya diakui dunia. Ia mendapat beasiswa untuk belajar di India, yang pada akhirnya ia gunakan sebagai kesempatan untuk mengadakan pameran hingga ke Eropa. Setelah menerima banyak penghargaan, ia tidak lupa untuk pulang ke Indonesia, dan memilih Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya.

Begitulah Nasjah Djamin mengisahkan Affandi. Agus adalah refleksi para pembaca yang tidak begitu mengenal Affandi dan awam dengan sejarah seni rupa di Indonesia, namun hidup di masa yang jauh lebih bersahabat dari masa muda Affandi dulu. Biografi Affandi diceritakan dengan sedemikian hidup, supaya pembacanya dapat dengan mudah menghayatinya, dan juga supaya semangat dan keteguhan hati Affandi dapat terbangkitkan dalam jiwa anak-anak muda.

Dan tentu saja, cerita Agus berakhir bahagia. Beberapa hari kemudian, ia bersama Paman dan Mbak Jum pergi ke museum Affandi dan bertemu dengan pelukis besar itu. Agus sangat senang. Pesan Affandi untuknya terus terngiang-ngiang, “Yang rajin belajar. Seperti kakek ini. Sudah tua masih belajar, dan ingin belajar terus.”

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

SOROTAN PUSTAKA | JULI-AGUSTUS 2019

Selama 2 bulan, Juli-Agustus 2019, perpustakaan IVAA melakukan inventarisasi pustaka. Material-material tersebut adalah hibah dari Akademi Samali (269 komik), Singapore Art Museum (6 buku) serta oleh-oleh anjangsana tim IVAA di Pontianak, Filipina dan Myanmar (17 buah). Inventarisasi ini dikerjakan dengan bantuan rekan-rekan magang, yakni Roy, Vicky, dan Ratri. Selain inventarisasi, peminjaman juga tetap berlangsung. Secara khusus Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) meminjam 96 koleksi (katalog, bendel dokumentasi, dan laporan program) sebagai bahan riset mereka. Buku-buku dengan topik etnis Tionghoa dan Lekra juga menjadi koleksi yang dipinjam oleh Kawan IVAA yang lain. Di dalam e-newsletter kali ini, melalui rubrik Sorotan Pustaka, ada 3 buku yang diulas: “Sekolah Salah Didik Uji Coba 1” dari KUNCI Cultural Studies Center; “Cilik-cilik Cina Suk Gedhe Meh Dadi Apa?” karangan Anne Shakka (juga disertakan review acara diskusi buku ini di IVAA); “Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan” karya Agus Dermawan T.; dan “Play and Display: Dua Moda Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur” karya Lono Simatupang.

Sekolah yang Lain

Judul : Sekolah Salah Didik Uji Coba 1
Editor : Antariksa, Brigitta Isabella, Fiky Daulay, Gatari Surya Kusuma, Khoril Maqin, Nuraini Juliastuti, Rifki Afwakhoir, dan Zita Laras
Penerbit : KUNCI Publication
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Halaman : 223
ISBN : 978-602-19692-4-3
Resensi oleh : Muhammad Ziauddin Rosyad Arroyhan

Apa yang terbayangkan di benak kita ketika mendengar kata “sekolah”? Sebagian mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah bangunan atau ruang kelas di mana proses belajar mengajar dilakukan dengan tuntunan seorang guru. Barangkali selama ini guru seolah menjadi titik sentral dari proses transfer informasi dan pengetahuan kepada murid-muridnya. Hubungan mereka menjadi hirarkis. Lantas, apakah kita pernah membayangkan sebuah sekolah di mana hubungan guru-murid itu benar-benar sejajar, teman-teman sekelas yang sama-sama tidak tahu materi apa yang akan dibahas? Sebuah situasi yang mengkondisikan kita untuk belajar sesuatu yang baru. Kira-kira kacau atau tidak?

Itu adalah apa yang coba dilakukan oleh KUNCI Cultural Studies Center melalui program Sekolah Salah Didik (SSD) yang diikuti oleh beberapa partisipan dari latar belakang masyarakat yang berbeda. Hasil dari program tersebut ialah rapor yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul SSD Uji Coba 1. Buku ini berisi esai, gambar, puisi, peta, transkrip, dan hasil diskusi dari kegiatan mereka selama 1,5 tahun dari November 2016 sampai April 2018. 

Kejemuan terhadap model sekolah yang telah membentuk murid-murid selama ini menjadi latar belakang program SSD. Apa yang dilakukan KUNCI bagi saya cukup unik, karena mereka berusaha mencari model-model sekolah atau produksi pengetahuan alternatif yang berada di luar model dominan, yang ternyata telah eksis dan bahkan telah dipraktikkan di Indonesia pada masa lalu. 

Salah satu metode yang digunakan adalah metode Jacotot. Sebuah metode yang mengacu pada buku karangan Jacques Ranciere berjudul The Ignorant School Master. Metode ini merupakan satu bentuk produksi pengetahuan di mana hirarki antara guru-murid, antara yang tahu dan yang tidak tahu, berusaha dibongkar. Dalam prosesnya KUNCI hanya berperan  sebagai fasilitator penyedia ruang dan perkakas belajar yang turut berproses secara setara sebagai sesama murid yang ingin belajar mengenai cara belajar. Apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya ditentukan secara bersama-sama. Para partisipan semula menjalani proses adaptasi guna memahami satu sama lain. Lalu dalam praktiknya mereka menggunakan beragam medium untuk belajar seperti bahasa isyarat, youtube, film, dll. 

Setelah metode Jacotot, metode kedua yang digunakan adalah ‘turba’ (turun ke bawah), salah satu metode penciptaan seni yang dipratikkan oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Banyak seniman pada tahun 50-an bekerja dengan metode ini, pergi ke desa-desa untuk melihat dan memahami kondisi aktual masyarakat pada jaman itu.  turba sendiri memiliki prinsip 1-5-1, yaitu meluas dan meninggi; tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi yang baik dan kekinian yang revolusioner, memadukan kreativitas individu dan kearifan massa, serta memadukan realisme sosialis dan romantik revolusioner, melalui cara kerja turun ke bawah. Metode ini juga punya konteks sejarah pada era Soeharto. Kita mengenal Kuliah Kerja Nyata (KKN) di mana mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah pelosok, biasanya desa-desa, untuk melihat realitas dan memahaminya. Dalam konteks SSD, metode ini digunakan untuk menguji kembali relevansi ‘turun ke bawah’ dalam artian turun ke masyarakat. 

Pada praktiknya para partisipan SSD dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai minat yang ingin dipelajari. Ada yang pergi menjadi petani, tukang ojek online, turun ke lokasi konflik di Kulon Progo, berdinamika di kampung seniman Cilekong, Bandung, serta bersekolah di Ponorogo. Setelah melakukan praktik turba, banyak diskusi dan pelajaran yang muncul. Secara umum topik yang banyak dibahas adalah tentang kerentanan sosial dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman itu kemudian ditulis ulang dan direfleksikan kembali melalui buku ini.

Banyak temuan-temuan yang ditemukan dan lalu dituliskan oleh para murid SSD dengan latar belakang berbeda. Ada yang memulai tulisan dengan ketertarikan mereka terhadap kelas SSD, pengalaman dan hambatan saat proses belajar, hingga perubahan yang terjadi pada masing-masing peserta setelah mengikuti kelas. Berbagai pengalaman tersebut juga dibahas secara personal dengan berbagai perspektif. Beberapa di antaranya adalah pengalaman peserta yang belajar cara menanam padi, bagaimana kondisi guru honorer mendapat cap sebagai pekerjaan kelas bawah, serta soal bagaimana pendidikan formal hari ini yang cenderung menutup pintu eksplorasi dan berjarak dengan realitas kehidupan. 

Banyak pengalaman dari mereka yang dapat kita renungkan dan kita banding-bandingkan dengan pengalaman personal kita masing-masing. Hubungan guru-murid yang begitu cair, kebebasan memilih tempat, waktu, cara belajar dan materi yang ingin dipelajari berdasarkan asas kebersamaan terasa sangat berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya. Pendidikan formal cenderung menyeragamkan, mulai dari pakaian, potongan rambut, materi ajar beserta waktu kapan diajarkan, dan peraturan antara guru dan murid. Penyeragaman ini barangkali telah mewariskan ingatan bahwa sekolah itu selalu identik dengan nilai rapor, bangku-bangku, dan papan tulis. Selain itu, kebutuhan industri cenderung lebih diutamakan dari pada masyarakat luas. Lantas, bagaimana jika para lulusan sekolah formal itu dihadapkan dengan realitas bersama masyarakat? 

Buku dengan ilustrasi lucu dari Onyenho ini memuat proses SSD yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun. Alih-alih jawaban, sebagai rapor buku ini justru menyuguhkan berbagai pertanyaan yang nampak sepele tapi hampir selalu luput untuk dibicarakan. Apa itu sekolah? Apa itu ruang belajar? Seiring dengan doa dan harapan yang tak sengaja terucap dalam hati seusai membaca buku ini, muncul sebuah refleksi: bukankah pertanyaan adalah awal dari usaha manusia untuk belajar?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Ketika Mereka Berseru “Cina!”

Judul  : Cilik-cilik Cina Suk Gedhe Meh Dadi Apa? – Autoetnografi Politik Identitas
Penulis  : Anne Shakka
Penerbit  : Sanata Dharma University Press
Tahun Terbit  : 2019
Tempat Terbit   : Yogyakarta
Halaman  : 138
ISBN  : 978-602-5607-92-9
Resensi buku dan diskusi oleh  Gladhys Elliona Syahutari dan Ratri Ade Prima Puspita

“Kecil-kecil sudah Cina! Besok besar mau jadi apa?”, begitu seruan seseorang di lingkungan sekitar Anne pada saat ia kecil. Sejak Anne masih kanak-kanak, ia semacam dipaksa familiar dengan label etnis yang ada pada dirinya, walaupun tak dipungkiri kemudian, ia memang seorang keturunan Tionghoa yang besar di Jawa. Anne di usia sekolah dasar tidak pernah mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya sering memberinya label “Cina”. Anne hanya tahu kalau ia selalu bicara dengan bahasa Jawa dan besar bersama orang-orang Jawa. Baginya ia itu sama dengan yang lain. Tetapi pertanyaan mulai muncul seiring waktu: jika orang di sekitar Anne mempunyai julukan tersendiri untuknya, adakah perbedaan yang berarti pada dirinya dibandingkan orang lain? Apakah maksud “Cina” yang sering digaungkan padanya?

Berangkat dari kegelisahan Anne yang begitu personal, ia kemudian menuliskan riset autoetnografi tentang pengalamannya tersebut. Buku “Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Meh Dadi Apa?” adalah tulisan berdasarkan tesis Anne Shakka sewaktu menempuh studi di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam penelitian tesisnya, ia menjadikan dirinya sendiri dan pengalaman budayanya yang spesifik sebagai subyek penelitian. Begitulah bagaimana autoetnografi umumnya bekerja; memberikan sudut pandang yang bersifat dekat dengan penulis dan mengedepankan aspek penting dari subjektivitas dalam penulisannya. Keberpihakan dan kepemilikan Anne terhadap identitas budaya yang ia teliti ini membuat data dan paparan yang ditawarkan menjadi komprehensif, seakan membuat penelitian lebih hidup karena tidak berjarak.

Buku dan tesis Anne menjadi pelengkap di antara sekian banyak penelitian akademis maupun non-akademis yang mengangkat tema utama diaspora keturunan Tiongkok di Indonesia. Dalam penelitiannya, Anne mengambil contoh tulisan dan penelitian tentang bagaimana dinamika kehidupan orang keturunan Tionghoa pasca rezim Orde Baru. Salah satunya adalah tulisan I. Wibowo berjudul “Setelah Air Mata Kering”. Dari sana terlihat bagaimana keberadaan orang-orang keturunan Tionghoa benar-benar terkait erat dengan bagaimana rezim politik memperlakukan mereka. 

Melalui buku ini Anne juga memperjelas bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia akan terus memiliki krisis identitas dan pengakuan keberadaan. Misalnya dengan bagaimana perlunya ada surat ganti nama atau surat pernyataan melepas kewarganegaraan Tiongkok dan menjadi warga negara Indonesia. Bahkan sedekat dengan kehidupan sehari-hari, di mana secara fisik ia terlihat berbeda dan cukup distingtif dari kebanyakan orang sekitar, tetapi secara kultural dan afektif ia punya rasa memiliki terhadap lingkungan Jawa Tengah atau secara lebih besar, Indonesia. 

Anne juga sedikit banyak mengangkat bagaimana keberadaan dan dinamika kehidupan orang-orang keturunan Tionghoa tidak lepas dari label yang disebabkan oleh relasi mayoritas-minoritas dan stereotipe tertentu yang sudah melekat sejak zaman kolonial. Adanya penilaian sepihak dan kecurigaan antar kelompok ini kemudian menimbulkan keberjarakan berarti. Orang-orang keturunan Tionghoa dipandang sebagai liyan, padahal sama-sama berbicara dan bernaung di bawah satu keterikatan sebagai Indonesia. 

Mungkin ini juga yang kemudian membuat Anne mengambil metode autoetnografi dan mengantar pembaca ke narasi yang begitu pribadi. Tidak seperti penelitian objektif atau ilmu sosial lainnya, membaca tulisan Anne seperti mengintip buku harian seseorang yang sedang mencoba mengenal identitas dan akar dirinya. Anne bahkan tidak ragu mengekspresikan perasaannya sebagai bagian dari pendokumentasian, seperti bagaimana ia merasa ada ketakutan sebagai orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Cina. Ia gelisah atas apa yang terjadi: diskriminasi di era kepemimpinan Donald Trump serta kasus persekusi Ahok. 

Anne menggunakan kata ganti orang pertama dalam setiap ceritanya. Bagi kami ini adalah sebuah pernyataan tegas. Karena mengedepankan subjektivitas dalam penulisannya, isi yang ditawarkan nampak seperti curahan hati yang diilmiahkan. Kadang di beberapa kalimat dan bagian jurnal muncul kegelisahan yang meletup-letup. Walau di sisi lain hal ini menampakkan ekspresi sejujur-jujurnya. Anne menawarkan sebuah cara yang menarik, mengajak pembaca untuk ikut merasakan, namun tetap dengan usaha ilmiah di waktu yang sama. Ia mengajak kita menelusuri sebuah sudut pandang ilmiah yang baru: bagaimana ilmu dan budaya tidak terikat pada pandangan objektif dan keberjarakan, tapi justru melekat pada apa yang ada di sekitar kita secara aktual.

Walau ia sering mengangkat tulisan Fratz Fanon yang berjudul “Black Skin White Mask” sebagai salah satu referensi utama, Anne menyadari betul bahwa ada perbedaan konteks relasi mayoritas-minoritas antara orang keturunan Tionghoa dan Jawa dengan orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Orang Cina sering dianggap kaya dan mayoritas Jawa mempersekusi dengan alasan-alasan yang berhubungan dengan ekonomi, pencapaian, dan privilese. Padahal, sama seperti kelompok etnis lain, ada orang-orang keturunan Tionghoa yang hidup berbeda, tidak seindah atribut yang ditambatkan kepada mereka. Anne mengajak pembacanya untuk berpikir keluar kotak dan perlahan menghapus stereotipe yang mengakar. 

Buku yang menarik ini juga didiskusikan di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) pada Selasa, 30 Agustus 2019, mulai jam 15.00 hingga selesai jam 17.30. Melalui diskusi itu, Anne mengungkapkan latar belakang penulisan yang lebih tanpa tedeng aling-aling. Meskipun tidak mengalami masa-masa kelam yang menimpa etnis minoritas seperti yang dialami oleh orang tuanya, tetapi, bagi Anne, menjadi seorang keturunan Cina bukanlah hal yang menyenangkan. Salah satunya adalah bayangan akan dikucilkan atau akan mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai PNS. Ia juga pernah punya keinginan untuk sebisa mungkin berkulit cokelat, membiasakan diri berkomunikasi dengan bahasa lokal, hingga hasrat mencari pasangan hidup orang Jawa supaya kecinaannya tidak tampak.

Diskusi ini juga dihadiri oleh FX. Harsono, seniman yang sudah akrab bekerja dengan isu seputar Tionghoa. Ia mengulas sejarah hitam keturunan Tionghoa sejak peristiwa Geger Pecinan, masa Orde Lama, hingga pemerintahan Orde Baru. Runutan sejarah yang seolah terwariskan pada diri Anne. Setidaknya ada dua poin utama yang muncul: pertama, masing-masing orang memiliki trauma sendiri-sendiri di tengah aneka perbedaan; kedua, diskusi menjadi ruang temu menghilangkan stereotipe tentang Cina. Bahwa Cina itu bukan setan. Tidak semua Cina itu setan dan tidak semua Cina itu dewa

Kami rasa memang tepat jika Anne mengangkat banyak teori pascakolonialisme dalam penelitian ini. Keberadaan stereotipe terhadap keturunan Tionghoa yang terbentuk sejak zaman kolonial dan sampai sekarang masih terus direproduksi itu menandakan bahwa apa yang disebut colonial hangover masih dilanggengkan. Secara tidak disadari, masih terdapat keterjajahan pikiran dan perasaan rendah diri akan identitas bangsa yang dilestarikan lewat label-label serta praktik meliyankan kelompok etnis tertentu. Tentu, buku ini adalah salah satu usaha kecil dekolonisasi yang penting dimulai dengan perlahan namun pasti. Maka suatu hari, jika seseorang berseru “Cina!” dengan tujuan menjatuhkan dan meliyankan, semestinya kita bisa menatap mereka balik dengan pandangan tegas dan penuh kasihan karena masih terkungkung pada keterjajahan pikiran dan identitasnya sendiri.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Kesenian, Karir, dan Cinta Sang Hanoman

Judul : Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan 
Penulis : Agus Dermawan T
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit : 2015
Tempat Terbit : Jakarta
Halaman : 280 hlm; 15 cm x 23 cm 
ISBN : 978-978-91-0904-0
Resensi oleh : Vicky Ferdian Saputra

Sejak bangsa Indonesia merasa memiliki seni lukis, nama Basoeki Abdullah (1915-1993) termasuk paling sering disebut sebagai pelukis bangsa. Popularitasnya menyandingi kenangan sebagian besar masyarakat atas Raden Saleh dan Affandi, juga atas S. Sudjojono yang pernah menjadi “musuh” dalam perbedaan pandangan ideologi seni. Basoeki Abdullah memang telah memilih jalan kesenilukisannya sendiri. Jalan naturalisme (yang diromantisasi) membuat Basoeki tidak duduk di kursi terdepan, tidak pula di belakang, tapi menjadikannya pusat penglihatan banyak orang.

Raden Basoeki Abdullah lahir di desa Sriwedari, Solo, pada 27 Januari 1915, atau Rabu Legi, 10 Rabiulawal (Mulud) dalam kalender Jawa. Ia adalah anak dari Raden Abdullah Suriosubroto, seorang pelukis naturalis yang mencatatkan nama tebal dalam sejarah seni lukis Indonesia. Ibunya adalah Raden Ayu Sukarsih, istri kedua Abdullah. Sukarsih tercatat sebagai salah seorang keluarga Kasunanan Solo yang di kemudian hari memperoleh nama keningratan: Raden Nganten Ngadisah. R.N. Ngadisah memiliki keterampilan dalam membatik. Ia sanggup menghasilkan karya-karya batik yang halus dan memikat. Itu sebabnya anak-anak Abdullah dan Ngadisah sebagian menjadi pelaku seni, termasuk Basoeki Abdullah.

Sejak dini Basoeki hidup dikelilingi tradisi istana Kasunanan Solo. Kehidupan ini jelas membawa pengaruh kepada jiwa pribadinya untuk menjadi aristokratis. Jiwa aristokratis ini kemudian terjelaskan oleh apa yang ia ciptakan lewat pensil atau cat minyak, sebagai bagian dari kecenderungan melukis bangsawan dan para tokoh bangsa terkemuka di sekitarnya. Salah satu figur yang sering ia gambar tentulah sang kakek, dokter Wahidin Sudirohusodo.

Singkat cerita, Basoeki mulai beranjak dewasa. Petualangannya dimulai dengan dirinya yang dipermandikan sebagai seorang Katolik. Ia harus memilih nama sakramen yang dalam tradisi Katolik dianggap sebagai materai bahwa ia sudah disahkan sebagai umat. Fransiscus Xaverius Agustinus Raden Basoeki Abdullah adalah nama sakramen yang ia pilih dengan tujuan agar menjadi pelukis yang (akan) berjalan jauh mengembara, dengan berbekal jiwa kuat penuh toleransi, berpikiran cerdas dan terbuka dengan kritik-kritik. 

Setelah dipermandikan ia kembali ke rumah ayah dan ibunya di Solo. Namun ia tak lama berada di situ, karena tiba-tiba dipanggil ke Bandung oleh keluarga Drs. R.M.P. Sosrokartono, kakak kandung pejuang emansipasi wanita Indonesia R.A. Kartini. Di dalam keluarga ini Basoeki Abdullah dibesarkan. Ia sering mendengarkan pembicaraan Sosrokartono dengan para tamu yang notabene para cendekiawan dan tokoh pergerakan. Basoeki sangat mengagumi pemikiran Sosrokartono. Banyak prinsip hidup yang ia dapat dari Sosrokartono. Pada masa-masa ini pula karir Basoeki dipertaruhkan sekaligus dicerahkan, karena untuk pertama kalinya lukisan Basoeki dibeli orang.

Pada akhir 1933, Basoeki Abdullah berkesempatan bertolak ke negeri Belanda. Di Belanda Basoeki langsung menuju ke kota Den Haag dan mendaftarkan diri sebagai murid Koninklijke Academie van Beeldenden Kunsten, akademi seni lukis yang dikelola Kerajaan Belanda. Masa-masa awal di akademi dia gunakan sepenuhnya untuk melihat-lihat galeri dan museum di sejumlah kota di Belanda, sehingga ia pun memiliki sejumlah pelukis idola, seperti Gerrit Dou, Frans Snyders, Pieter Janzs S., Anthony van Dyck dan lain sebagainya. Basoeki resmi menempuh pendidikan di akademi pada Januari 1935 dan selesai pada Maret 1937, lebih cepat 10 bulan dibanding ketentuan akademik yang menuntut tiga tahun masa studi.

Di Belanda pula Basoeki muda bertemu dengan “malaikat buku”, sosok wanita Belanda bernama Josephine yang pada akhirnya menjadi istri pertama Basoeki Abdullah. Pada 1937, Basoeki yang berusia 22 tahun memberanikan diri untuk menikahi Josephine yang berumur 20 tahun di sebuah gereja Katolik di Den Haag. Setelah melakukan perjalanan tamasya ke Batavia, pengantin baru ini tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di Indonesia saja. Josephine ingin jauh ayah-ibunya yang sesungguhnya kurang setuju dengan pernikahan mereka. Namun, lantaran iklim dan cuaca di Batavia kurang cocok dengan orang Belanda, mereka pun pindah ke Bandung yang lebih sejuk. Di kota ini, Josephine melahirkan anak pertamanya, Saraswati, pada 1938.

Sampai suatu ketika, Basoeki memutuskan untuk kembali ke Batavia dan tinggal di Jalan Gambir Buntu. Di Batavia kehidupan seni lukis Basoeki mulai menyala secara profesional. Lukisannya banyak dikoleksi orang, sehingga ia mampu membeli mobil Ford Cabriolet yang lumayan keren. Kemampuan Basoeki makin diperhatikan komunitas seni kelas atas. Karena itu ia lantas disponsori untuk berpameran di galeri toko buku Kolff, Jalan Noordwijk, Jakarta pada 21-31 Januari 1939. Sambutan yang datang di luar dugaan. Bahkan pada pameran tersebut para pejabat tinggi Belanda menyempatkan diri untuk hadir. Peristiwa yang langka untuk pelukis bumiputera Indonesia.

Namun, reputasi Basoeki yang kian mengemuka dalam pameran itu sepertinya tidak berkenan bagi sebagian publik seni rupa di Indonesia. Serangan dari sejumlah pelukis dan kritikus dilontarkan kepada lukisan-lukisan Basoeki dan lukisan ayah serta kakaknya. Mereka menilai konsep dan gaya lukis Abdullah Suriosubroto, Basoeki Abdullah, Sudjono Abdullah, serta para pelukis Hindia Belanda lainnya menganut “Mooi Indie” (Hindia Jelita) yang cuma menghamba pada selera turis. Kritik pedas yang ia terima lantas tidak menjadikannya patah dalam berkarya. Justru Basoeki menjadi tambah semangat untuk membuka jalannya sendiri di medan seni rupa Indonesia.

Pada 1939 ia memulai muhibahnya. Berbekal puluhan karya, ia berkunjung dan berpameran di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, hingga Medan. Pameran muhibah itu memunculkan kekaguman, pujian, sekaligus aneka kritik. Menurut dia, sebuah perjalanan seni memang bukan sekadar mencari pengakuan, tetapi juga menatap panorama kritis yang dapat melucuti semangat kemajuan. Secara umum, respon positif atas karir Basoeki muncul dari pers. Bersamaan dengan kesibukan Basoeki memetik pujian, kritik dan popularitas, kehidupan bahagia Basoeki dan Josephine tampak mengalami erosi. Setelah melewati berbagai peristiwa keluarga, pada akhir 1941 mereka sepakat bercerai.

Babak baru perjalanan hidup Basoeki Abdullah diceritakan bersamaan dengan kekuatan baru yang menguasai Indonesia. Terselubungi oleh dalih mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, kini giliran Jepang yang memegang kendali. Di Jakarta, Basoeki diceritakan bergabung dengan Poetera (Poesat Tenaga Rakjat). Di organisasi ini, ia lantas diserahi tugas memegang bagian kebudayaan bersama Affandi dan S. Sudjojono, rekan seprofesi yang menjadi sparring partner-nya. Pada jaman Jepang dunia kesenilukisan Basoeki tetap meluncur lancar. Kegiatan organisasi yang ia ikuti menjadikannya semakin dekat dengan sosok Soekarno, yang menurut Agus Dermawan, Basoeki dan Sukarno ini ibarat dua kutub magnet yang saling tarik-menarik.

Di punggung buku ini dijelaskan bahwa Basoeki Abdullah menyebut dirinya sebagai “Hanoman keloyongan” atau Hanoman yang berjalan ke mana-mana karena hampir separuh umur Basoeki digunakan untuk mengembara dan berkarya di luar negeri. Namun, sesungguhnya sosok Hanoman muncul karena permintaan seorang wanita. Dalam kesibukannya mengurus persiapan pameran di Amsterdam, Basoeki berjumpa dengan seorang wanita belanda bernama Maria Michel. Ia adalah seorang penyanyi seriosa yang telah mengenal Basoeki sebelumnya. Di dalam pertemuan tersebut, mereka saling berbalas kisah mulai dari musik klasik sampai cerita tokoh pewayangan. Dari situ Maria sangat terkesan kepada Hanoman dan menyebut Basoeki sebagai Hanoman. “Basoeki harus jadi Hanoman”, kata wanita itu.

Basoeki melamar Michel dan mereka akhirnya menikah. Karena pelafalan nama Maria sangat mirip dengan bunyi “maya”, Basoeki mengindonesiakan Maria menjadi Maya. Maria senang dengan nama ini karena artinya misterius; ada tetapi tidak ada. Basoeki hidup bahagia dengan Maya. Mereka hidup berpindah-pindah, dari Belanda, Singapura, lalu Jakarta. Namun, lagi-lagi pernikahan mereka harus kandas oleh isu politik yang memicu perselisihan antara Basoeki dan Maya, ditambah fakta bahwa Basoeki diam-diam mengagumi wanita Jepang yang pada akhirnya gagal ia nikahi karena tidak memegang restu dari ayah wanita Jepang tersebut.

Sebelum bercerai dengan Maya, karir kesenian Basoeki semakin menuju puncak, sampai pada akhirnya ia diminta untuk menjadi pelukis Istana Kerajaan Thailand. Keluarga istana sangat mencintai Basoeki dan karyanya. Ia mendapat studio yang nyaman dan upah yang lebih dari cukup. Basoeki yang jomblo itu hidup enak dan hedonis. Statusnya sebagai pelukis Istana ia manfaatkan untuk menarik perhatian seorang wanita. Somwang Noi adalah gadis bar yang akhirnya terpikat oleh figur Basoeki. Namun, hubungan mereka tidak mendapat restu oleh keluarga Istana. Meskipun demikian, cinta akhirnya mengalahkan segalanya. Basoeki nekat menikahi Noi. Dan benar adanya, hubungan mereka hanya berlangsung dua tahun. Lagi-lagi Basoeki ditinggalkan karena alasan playboy.

Pernikahan keempat dan kelima Basoeki dilakukan bersama satu wanita Bangkok bernama Nataya Nareerat. Pernikahan keempatnya harus dimanipulasi demi mengelabuhi regulasi hukum Thailand yang melarang kewarganegaraan asing untuk memiliki tanah di Thailand. Perceraian pun dilakukan sebagai siasat Basoeki dan Nataya agar mereka dapat membeli tanah di Thailand. Setelah mereka memiliki sebidang tanah, mereka kembali menikah secara hukum dan hidup bahagia bersama. Pada 13 Oktober 1972, Nataya melahirkan seorang anak bernama Cicilia Sidhawati.

Sampai di sini, lika-liku kisah cinta Basoeki tidak lagi menjadi sorotan. Nataya adalah cinta terakhir Basoeki. Topik pembahasan berganti menjadi kegelisahan Basoeki atas kondisi di negaranya, Indonesia. Situasi kesenian sedang tidak kondusif. Ketika itu muncul lembaga-lembaga kebudayaan kiri maupun kanan. Gesekan-gesekan politik di antara kedua kubu membuat ia gundah untuk kembali tinggal di Indonesia. Secara pribadi Basoeki sependapat dengan Manifesto Kebudayaan, namun ia tidak ingin terlalu mencampuri perbedaan pendapat tersebut. Ia takut kalau hubungan persahabatannya dengan Sukarno yang sangat tidak sependapat dengan Manifesto Kebudayaan akan terganggu.

Basoeki melanjutkan karirnya di luar negeri seperti biasa. Ia bertolak dari satu negara ke negara lain. Setelah Thailand, ia sempat menjadi pelukis Sultan Brunei Darussalam, Istana Presiden Filipina, sampai akhirnya ia bisa kembali berkesenian di Indonesia. Kembalinya ia ke Indonesia berawal karena paksaan Presiden Soeharto yang menginginkannya untuk melukis potret di Istana dengan alasan bahwa Basoeki Abdullah adalah satu-satunya pelukis potret terbaik yang dimiliki Indonesia. 

Bagian-bagian akhir dari buku ini adalah bagian paling menarik yang akhirnya melengkapi kisah kehidupan Basoeki yang keloyongan. Menyenangkan dan lega rasanya mengetahui rivalitas Basoeki dengan S. Sudjojono berakhir dengan canda tawa, terkejut ketika pertemanannya dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berakhir kurang baik, dan sedih rasanya harus mengetahui bahwa Raden Basoeki Abdullah (Hanoman) harus mengakhiri kisahnya dengan tragis.

Agus Dermawan T, melalui buku ini menceritakan perjalanan hidup Basoeki Abdullah dengan cukup detail. Alur cerita yang kronologis memudahkan pembaca dalam memahami isi cerita dan peristiwa yang ada. Kisah yang dimuat tidak melulu soal seni (lukis), tapi juga kisah cinta dan pernikahan Basoeki yang berkali-kali gagal, serta hal-hal mistis yang ia jalin dengan Nyi Roro Kidul. Buku ini yang seolah sangat personal ini bagi saya memberikan pandangan lebar dalam melihat figur Basoeki Abdullah sebagai seorang pelukis maupun Sang Hanoman yang “keloyongan”.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.