Tag Archives: #sorotanmagang

Terlibat Langsung Mencipta Arsip

oleh Ahmad Muzakki

Perkembangan seni budaya di Yogyakarta sangat dinamis. Yogyakarta banyak melahirkan seniman-seniman baru yang mampu berkontribusi dalam perkembangan seni budaya di Indonesia. Selain dengan banyaknya lembaga pendidikan kondisi ini juga didukung oleh banyaknya ruang alternatif yang berguna bagi para seniman muda untuk berproses dan berkarya. Seorang budayawan bernama Goenawan Mohammad, dalam sebuah diskusi sastra di Yogyakarta, pernah menyatakan bahwa Yogyakarta merupakan ibu kota seni rupa di Asia Tenggara. Pernyataan ini semakin menebalkan anggapan bahwa Yogyakarta menjadi sebuah lingkungan yang sangat mendukung proses kreatif seni di dalamnya.

Inilah satu alasan kenapa saya menginjakkan kaki di kota ini. Selain untuk menimba ilmu saya juga memiliki keinginan untuk ikut berproses secara langsung dalam proses kreatif suatu penciptaan karya seni. Secara personal, saya juga tertarik dengan tulisan-tulisan mengenai seni-budaya di media massa. Akhirnya saya memutuskan untuk menanggapi ketertarikan ini ke dalam proses tugas akhir kuliah. 

Pada pertengahan 2018, di tengah proses pencarian sumber untuk penelitian skripsi, saya melihat pengumuman program magang dari Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Akhirnya pada April 2019 saya memutuskan untuk mengikuti program tersebut selama tiga bulan. Beruntung sekali karena saya diterima dan bergabung bersama kawan-kawan magang lainnya. Perpustakaan menjadi bidang yang kemudian saya kerjakan. 

IVAA didirikan pada April 2007 sebagai organisasi nirlaba yang berkembang dari Yayasan Seni Cemeti (YSC) (1995-2007). Pengumpulan dan eksplorasi arsip menjadi aktivitas utama organisasi ini. Beragam koleksi arsip serta buku yang dimiliki juga dapat difungsikan sebagai sumber penelitian. Dalam catatan biografinya IVAA menyatakan percaya bahwa seni, dalam hal ini seni rupa, mampu membuka wawasan dan pemahaman atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Pemikiran kritis dan aspirasi warga perlu dicatat, ditelaah, dan disosialisasikan. Sebagai salah satu upaya eksplorasi arsip, IVAA menyadari pentingnya membawa kisah-kisah yang terkandung dalam arsip kepada khalayak. Melalui pameran arsip, sejarah dihadirkan sebagai pengalaman yang cair dan hangat.

Selama kurang lebih tiga bulan bergabung dengan keluarga IVAA, saya mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa. Tidak hanya teori namun juga keterlibatan langsung dalam sebuah proses pengarsipan maupun pendokumentasian proses penciptaan karya seni. Saya percaya bahwa dalam seni dan sastra, pengalaman secara langsung menjadi kebutuhan wajib di samping mendengar teori. Berangkat dari hal tersebut saya memantapkan diri berproses di IVAA. 

Bekerja di bidang perpustakaan sangat menguntungkan bagi saya, karena wacana mengenai kesenian yang saya miliki semakin bertambah. Walaupun berbeda bidang dengan empat kawan magang lainnya, pada dasarnya pekerjaan yang kami tekuni masih berkesinambungan. Artinya secara tidak langsung saya dapat menyimpulkan bahwa perpustakaan dan arsip adalah dua hal penting yang saling terhubung.

Banyak orang mengira arsip adalah sebuah hal yang kurang menarik. Mungkin arsip hanya dibutuhkan oleh orang-orang seperti para mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan studinya. Namun, sebenarnya arsip merupakan catatan sejarah dan bukti paling konkret atas suatu peristiwa. Begitu juga dalam ranah seni rupa maupun bidang seni lainnya. Seorang seniman dan karyanya tidak akan selamanya bertahan di dunia ini. Akan tiba masa di mana mereka mati secara fisik. Di titik ini, arsip punya peran penting. Ia akan menjadi bukti kehidupan dan saksi semangat dari sebuah proses penciptaan karya seni. Artinya, dengan keterlibatan arsip, ruh dari seni yang telah mati secara fisik akan senantiasa hidup mewakili olah raga dan rasa dari penciptanya. 

Era digital seperti saat ini memberikan dimensi kemudahan sekaligus tantangan. Para pekerja kebudayaan dan pengarsipan dituntut untuk selalu dapat memposisikan diri secara kontekstual mendekatkan kerja-kerja tersebut dengan publik. Salah satu hal yang secara konsisten diupayakan IVAA adalah memproduksi media daring berisi tulisan-tulisan seni-budaya yang juga menyuguhkan koleksi arsipnya. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa lingkarang seni rupa yang sudah ada menjadi modal IVAA. Melalui e-newsletter yang rutin diterbitkan, IVAA menjaga eksistensinya di tengah jaman digital yang serba praktis dan instan ini. Tulisan-tulisan di dalamnya akan ikut membangun wacana untuk masyarakat luas dan menjadi media baca alternatif di tengah minat baca yang masih rendah. 

Saya dan empat kawan magang lainnya dilibatkan secara langsung dalam proses penulisan e-newsletter tersebut. Kami menjadi kontributor tulisan untuk dua edisi terbitan Maret-April dan Mei-Juni. Proses ini membuka ruang pengalaman baru bagi para kawan magang untuk turun ke lapangan secara langsung; melakukan riset literatur hingga lapangan, serta berdialog dengan seniman yang bersangkutan. 

Khusus untuk edisi Maret-April, saya melakukan dialog dengan para aktivis JES (Jembatan Edukasi Siluk) di Imogiri, Bantul. Bersama kawan magang lainnya, saya menjadi tahu bagaimana perjuangan warga Jembatan Siluk mendidik anak-anak sekaligus merawat kreativitas mereka di tengah kondisi pendidikan yang semakin menjemukan. Melalui dialog dengan Mas Kuart, sebagai penggagas ruang kreatif ini, kami dapat mendengar suka-duka yang mereka alami.

Pada edisi selanjutnya, Mei-Juni, saya juga berkesempatan untuk menulis artikel tentang Gerilya Project, sebuah program edukasi para pelajar di Yogyakarta yang pernah dilaksanakan YSC. Kesempatan ini juga memberikan saya pengalaman untuk berdialog dengan salah satu pengajar yang terlibat pada masa itu, dan dengan Aisyah Hilal. Ia adalah salah satu pendiri IVAA sekaligus salah satu penggagas Gerilya Project. 

Selain keterlibatan di proses produksi e-newsletter, saya juga melakukan kerja-kerja liputan acara-acara kesenian seperti pameran. Tapi saya tidak akan menuliskan secara detail pada kesempatan kali ini. Yang jelas, banyak sekali ilmu serta pengalaman yang saya dapat ketika mengikuti program magang di IVAA. Jika diberi kesempatan lagi, tentu saya akan bersedia untuk berproses di sana kembali. Saya punya harapan besar agar IVAA dapat menjadi media alternatif yang mampu memberikan wawasan soal pentingnya pengarsipan bagi khalayak. Terima kasih untuk kesempatan ini. Salam budaya!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

8 Months at IVAA: A Reflection on Internship

Konten Sorotan Magang kali ini berisi satu tulisan refleksi selama menjalankan proses magang dari Esha Jain. Esha Jain adalah peserta Bridge Year Program, sebuah program pelayanan selama sembilan bulan yang memungkinkan mahasiswa baru Universitas Princeton terlibat dalam pekerjaan pelayanan masyarakat di cakupan internasional. Sejak Oktober 2018 hingga Mei 2019 melalui lembaga Where There Be Dragons, Esha menjalankan proses magang di IVAA. 

By Esha Jain

Before coming to Indonesia, I had very little experience with the arts and archiving, which is why I was so excited to get to work with IVAA. At first, I was interested in IVAA because it had so many different components: archiving, documenting, and the public library, each of which was very new to me.  It also seemed like a great way to learn more about Jogja through a unique medium, as Jogja has more art—both formal and informal—than any other city that I have experienced. 

Working at IVAA for such an extended period of time allowed me to experience the different departments within the organization. The first few months of IVAA, I worked on documenting events and writing summaries of English books for the library. This was a fun introduction to the work that IVAA does. I enjoyed getting to go to different events, and read more about the art scene in Jogja.

However, my exposure to Jogja’s art scene grew starting in January I started walking around Jogja to document street art. This was one of my favorite parts of my time in Jogja. You can see much more detail when walking on foot around a city than when you’re zipping around in a car or on a bike.  Because I was walking with the intention of taking pictures, it forced me to slow down and take time to wander along streets and alleys I normally would not have gone down. 

The process of sorting the pictures into different categories was also really interesting. In the end, the categories of pictures ranged from soccer to tolerance to tags. The sorting process was a bit difficult at first because I did not understand all the references or topics being discussed, but with translation help I was able to learn about the topics and issues that people in the city cared about. This was another organic way to learn more about the cultural nuances of Jogja, and Indonesia at large. For example, I learned about topics ranging from the impact of increasing tourism on the city to political tensions related to the presidential election. 

This was my first time seeing a city with as much street art as Jogja. Where I live in America, it’s illegal to have street art without permission. But, in Jogja since everyone can make street art there is such a wide variety of topics and quality of art. There were some sections of the city where one person had tagged almost every store door with just his name, almost as if he or she were marking territory. Just one street over, meters-long murals tackled climate change. The longer I walked around, the more I noticed the differences in the way the art was created, whether it was by using paint, spray paint, or even stencils. As a whole, it was interesting just to observe what subjects people chose to depict, especially because everyone was able to without needing permits or approval, which could have censored their work. 

Throughout the year, I also worked on organizing the archives from Karta Pustaka. The first box I worked on contained twenty three albums with photographs from the 1970s to the 1990s. The most difficult part of this job  was translating the captions from Dutch (because they were from a Dutch organization), so that the location, event information, and date could be recorded. It was fascinating seeing the influence that the Dutch had on the types of events being held. For example, there were photographs of Christmas parties and competitions where students would create miniature fairy gardens—something not often seen in Jogja. After this first box, I then organized a bunch of film by date, and put them into binders. This was the first time I had ever seen hard film and again, it was interesting to see which specific things were deemed worthy of documenting. Then, I moved onto sorting DVD covers and VHS tapes. This was my favorite thing to sort through because I got to see the covers of Dutch movies, Indonesian visual art performances, and even American movies. The sheer magnitude of archives to sort through was striking. 

IVAA, along with other organizations, had preserved so much. Many of the materials were created before I was born, and sorting through them felt like I was touching history. Previously, I always thought of archiving as something that was done by museums and for a very select historical events. Working with IVAA’s archives illustrated to me the importance of archiving a variety of different subjects and mediums in order to get a more holistic view of history and culture. 

During my time at IVAA, I was also a part of the book club. This book club was unlike any book club that I was a part of in America. To begin, it was the first non-fiction book that I had read in a group setting. Along the Archival Grain was a book that examined the Dutch colonization of Indonesia through a lens of archiving. Reading the book not only helped me understand the history of colonization in Indonesia and the impact that it has on current issues, but detailed the broader issues of colonization and western-centric way of thinking. 

One of my favorite parts of interning at IVAA was meeting all of the other interns. Especially in the last couple of months, when I had stronger language skills in comparison to the beginning of the year, it was really fun getting to know my peers and understand why they wanted to work at IVAA. I think the one criticism that I would have for IVAA is how the events are planned. At times, it felt like the publicity was done last minute. 

Learning how to document, organizing the archives, writing for the newsletter all allowed me to gain an understanding of how an NGO functions and why cultural preservation is important, especially in a world that is rapidly changing and growing—and in the process, overriding  certain art forms. I am leaving IVAA with a greater appreciation for the necessity of archiving, and am looking forward to exploring similar opportunities back in America.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Catatan Magang Nurul Fajri

Oleh: Nurul Fajri

Brooks was here… tulis salah satu pemeran dalam film The Shawsank Redemption di dinding kamar apartemen tuanya. Saya mengutipnya bukan karena saya merasa tak berguna, kesepian, tua dan ingin mati, seperti aktor yang berperan menulis kalimat tersebut. Saya mengutipnya dengan intensi menyorot pada …was here, bahwa saya juga pernah berada di suatu tempat, dan bagi saya tempat itu berarti banyak.

Agustus lalu, saya mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan Profesi (KKLP) di kampus. KKLP pada dasarnya adalah program magang yang harus dilakukan mahasiswa di instansi pilihannya masing-masing. Untuk dapat meraih gelar sarjana, KKLP adalah wajib. Karena tanpa lulus mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak bisa mengajukan judul skripsi, proposal, dan seterusnya. KKLP selanjutnya dalam tulisan ini akan saya sebut sebagai magang.

Di tengah kebingungan menentukan tempat magang, pada suatu malam di awal bulan Juli, saya browsing di internet lalu menemukan IVAA. Saya kemudian mencari tahu soal IVAA, membuka lamannya, men-stalking akun Instagramnya, dan mencoba menemukan apakah ada bidang pekerjaan di IVAA yang bersesuaian dengan konsentrasi jurusan saya di kampus, yakni jurnalistik. Ternyata, IVAA mempunyai program magang untuk bidang keredaksian. Singkat cerita, saya akhirnya menjalani masa magang di keredaksian IVAA untuk periode Agustus-Oktober 2018.

Di keredaksian, saya banyak diperbantukan untuk melengkapi teks profil seniman untuk laman arsip online IVAA. Saya, yang sebelumnya hanya tahu Affandi dari buku pelajaran Seni Budaya ketika sekolah, akhirnya menemui banyak sekali nama-nama seniman lain yang begitu asing bagi saya. Menulis profil seniman ini juga membuat saya mau tidak mau membaca sepak terjang mereka, yang semakin menambah kekaguman saya tentang bagaimana mereka melihat kehidupan sekitar, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri melalui karya seni. Dulu saya berpikir, seniman itu mestilah hanya mementingkan diri sendiri, tetapi persepsi saya ternyata tak sepenuhnya benar. Mereka keren. Itu sudah!

Bersama dengan seorang rekan dari bidang dokumentasi, saya juga terlibat dalam peliputan peristiwa seni. Saya belum pernah menghadiri agenda-agenda kesenian di kota asal saya, Makassar, sebanyak yang saya lakukan ketika meliput peristiwa seni di Yogyakarta selama periode magang. Mungkin karena agenda kesenian di Makassar tidak seintens di Yogyakarta, atau mungkin karena saya yang terlalu malas keluar rumah.

Bidang keredaksian IVAA bertanggungjawab untuk mengerjakan buletin dwibulanan IVAA. Sebagai anak magang, saya dan kawan magang lainnya turut dilibatkan sebagai kontributor tulisan untuk buletin tersebut. Saya menulis tentang dua peristiwa seni dan satu tulisan review buku untuk buletin IVAA edisi September-Oktober 2018. Beberapa waktu lalu, ketiga tulisan tersebut mendapat respon positif dari dosen penguji saya ketika seminar untuk ujian magang ini, saya merasa diapresiasi karenanya.

Sebagai pribadi yang tertutup, staf IVAA yang hangat dan gemar guyon cukup membantu proses adaptasi saya selama magang. Pun staf IVAA yang sehari-harinya berkomunikasi dengan bahasa Jawa, adalah salah satu tantangan terbesar saya selama magang. Ya, saya berlatarbelakang Bugis dan sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa. Acapkali saya kadang tertawa untuk hal yang tidak saya mengerti hanya karena sekeliling saya semua tertawa. Pengalaman yang sungguh lucu untuk dikenang.

Tidak berlebihan jika saya katakan membawa pulang banyak pengalaman yang berkesan. Sepulangnya ke Makassar, teman-teman saya langsung menodong dengan rentetan pertanyaan seputar pengalaman magang saya dan hal-hal tentang IVAA. Mereka menyambut antusias apa yang saya ceritakan kendati saya bukan tipikal pencerita yang baik.

Semoga IVAA ke depan semakin maksimal dalam digitalisasi koleksi arsipnya, teks untuk profil senimannya semakin lengkap, dan besar harapan saya juga, IVAA bisa meng-cover lebih banyak lagi peristiwa seni di luar Yogyakarta dan pulau Jawa. Di luar sana, para pegiat seni mestilah sedang bergerilya juga untuk menghidupkan kesenian di daerah mereka. Akhir kata, kepada mbak/ mas staf IVAA, terima kasih atas kesempatan mengenal dan mengalami kerja-kerja IVAA yang mungkin kesempatan seperti ini tidak datang setiap saat dalam hidup saya.

Panjang umur, IVAA!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Pengantar Sorotan Magang

Di edisi kali ini, kami menghadirkan Sorotan Magang sebagai sub-rubrik baru dari Kabar IVAA. Sorotan Magang menjadi ruang bagi kawan-kawan magang atau internship untuk berbagi gagasan atau pengalamannya selama berproses bersama IVAA. Tulisan yang dimuat bisa berbentuk refleksi kerja atau esai singkat sebagai bagian dari penelitian selama bekerja di IVAA. Untuk edisi ini terdapat dua tulisan, masing-masing dari Tessel Janse dan Putri R. A. E. Harbie, kawan-kawan magang yang pernah ikut bekerja bersama dengan IVAA.

Tessel, dalam rangka penelitian untuk studi doktoralnya, membagikan sedikit temuan penelitian mengenai dinamika dunia seni Yogyakarta yang fokus pada persoalan interseksi antara yang lokal dan global. Sedangkan Putri, lebih menyuguhkan refleksi pribadi selama bekerja di IVAA, khususnya di bidang pengarsipan dan dokumentasi.

Artikel ini merupakan pengantar Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Intersections Between the Local and the Global: Intercultural Dynamics in the Yogyakarta Art World

By Tessel Janse

To a Dutch student of postcolonialism and contemporary art, Yogyakarta, as a crossroads where local and international art worlds converge, brings many relevant topics together.[1] My fascination for the city started when my aunt and uncle, both artists, took part in an artist in residence (AiR) programme with Cemeti in 2008. Their fellow AiR was local artist Wimo Bayang, who made a series of photographs of Jogja locals with water pistols, with the title “Belanda Sudah Dekat!”, or “the Dutch are near!” This references the common Indonesian colonial expression “calm down, the Dutch are still far away,” and I interpreted Bayang’s project as a tongue-in-cheek comment on the presence of my aunt and uncle and perhaps even Cemeti. I became curious about where exactly the friction between the local and the international lay.

During my short stay with the IVAA, I spoke with over twenty artists and art managers from Jogja as well as from some international institutions that call Jogja home. Soon, it became clear to me that the dynamic between the local and the global art worlds is a topic increasingly discussed amongst Jogja’s local artists. In this article, I will shortly present some of my findings on this topic. Implicit in this, I will be speaking for others and therefore inflicting ‘epistemic violence’, by Gayatri Spivak defined as the repressing of another’s voice by ‘overwriting’ it with your own perception of it.[2] Therefore, I will limit myself to asking relevant questions and posing some possible options to move forward, drawn from suggestions by interviewees, rather than presenting set conclusions. Before anything can be said about the dynamics between local and Western international in Jogja, the complexity of its art scene needs to be emphasized: every gallery has a different management structure and approach to power relations or collaboration. The same counts for individuals. Moreover, many power dynamics are not simply traceable along an axis of ‘outsider’ versus Indonesian, but, as anywhere, also run along the divisions between gender, class, ethnicity, age and occupation. Any comprehensive conclusions would require a long-term intersectional study of the micro-politics of Jogja’s art world, which is beyond the scope of this study. However, there are some recurring issues that are specific to the encounter between the local and the international, which have been identified as a pattern of power relations by multiple interviewees.

Without doubt, the international aspect to the Jogja art world brings considerable benefits. Besides its contribution in shaping Jogja as a unique place of cultural exchange and a hotbed for artistic enterprise and international relations, international institutions bring funding and the many visitors generate an economy to the profit of locals. The international audience for Jogja’s artists provides some with the opportunity to travel, take part in international AiRs and address sensitive topics more freely than at home. It is safe to say that the Jogja arts culture would not have been as diverse and outspoken as it is today, without this international collaboration. However, this utopia of intercultural inspiration, as it is portrayed by some international galleries, is not free from the interplay of global relations that are still heavily influenced by colonialism.

Though branding the current dynamic in Jogja as neocolonial may be too rigorous, many local interviewees have expressed that they see similarities between colonial inequality and the Western presence in Jogja’s art scene today. First of all, there is an inequality in opportunity. Though international art spaces in Jogja present themselves as promotors of mutual exchange, this is in practice often slightly one-sided. The funding from home governments means that AiRs are mostly in the benefit of the home country. The result is that artists from that country are supported in travelling to Indonesia, but Indonesian artists rarely have the opportunity to travel the other way. General thresholds like the difficulty of obtaining a visa to Western countries, the difference in exchange rates, and the lack of government funding for the contemporary art sector in Indonesia, mean that accumulating the required time and money is a steep task for local artists. Moreover, as one internationally renowned local artist explained, when Indonesian artists do travel, it is often at the mercy of host organization. This because the devaluation of their money in the West makes them completely reliant on funding, in practice rendering these artists “poor and homeless cosmopolitans.”

Another issue lies in the contrast between how Western visitors to Jogja perceive their role, and how they are perceived by locals. To many locals, Western visiting artists or long-term art managers represent access to international networks and careers and signify a pathway of funding. Therefore, they have a powerful position as people are eager to collaborate and build connections, which entails the risk of exploitation. Western visitors often do not realize this, and misinterpret help and being accommodating for friendship, whilst locals do expect something in return such as fair payment, or an equal return of the favour. One could also ask oneself whether some actors in Jogja become gatekeepers: through their international connections, they could possibly control who becomes internationally successful, and indirectly affect art-historical developments. At the same time, expecting artists to remain culturally authentic would be a patronizing myth.

A third and often mentioned shadow of colonial relations is the presence of orientalist stereotypes in the discourse of Western institutions and artists. In interviews and in gallery publications, the experience of culture shock is very often romanticized, and Jogja and its locals are represented as ‘cultural’, friendly, close to nature and to the past. Several locals expressed their issue with the fact that visitors are invariably intrigued by stereotypically exotic features, but pay no attention to the complexity and modernity of Jogja’s culture. Another problem exists with visitors bringing preconceived ideas, such as the suspicion that locals will try to ‘rip them off’, or are and lazy and unreliable, which in some cases has led to serious conflict. At the same time, it was explained to me that self-exoticization is also a defense mechanism, a way to maintain a ‘right to opacity’ and only show certain aspects to visitors, as Indonesians would be foolish to fully open up to the West again after what happened in the past. Representation thus works both ways.

Though Jogja as a hotbed of creative intercultural exchange definitely rests on a more complex underlying structure, this is not a univocal story of Western perpetrators and the Jogja locals as ‘victims’ without agency. There is much to be said about the power relations in Jogja’s art scene, but its members often have the best intentions but are caught in a complex web of unequal international relations. Limitations to travel and mutual exchange, like difference in currencies or in chances of obtaining a visa or funding, are out of the hands of Jogja’s art world. On a deeper level, the traces of epistemological Eurocentrism in Indonesia invest international visitors with the aforementioned significance and resulting privileges. In this context, both parties have an approach to the other that is influenced by often unnoted colonial representations. Several internationals I spoke with about power relations referred to their own relation with local co-workers or assistants as one of true friendship, and thus devoid of any inequality. At the same time, almost all locals I interviewed spoke of the Javanese culture of being overly hospitable, and of an “inferiority complex” towards Westerners specifically that leads to measuring the ‘own’ culture against the West, which prevents them from saying no and setting boundaries. Is the term friendship in some cases too swiftly applied, with the effect of circumnavigating discussions of inequality?

The complex network of influences on Jogja’s art world makes it difficult to envision straightforward solutions. Nevertheless, several practical recommendations were voiced that could lead to improvement. A key aspect is better communication and self-reflexivity, between the locals and internationals, but also as part of the AiR policy of expat institutions. Visitors’ awareness of their own significance, Jogja’s culture, intercultural communication and fair payment could be increased, for instance by institutions providing more information before visiting artists commence their AiR. It was also explained that the inferiority complex and being overly accommodating towards Westerners could be circumnavigated, if Westerners took a more pro-active stance by asking questions about what is appropriate regarding payment or asking for assistance, rather than sit back and enjoy. Structural changes such as the discouragement of personal assistants to AiR visitors could be beneficial, since having a local assistant is reminiscent of the colonial hierarchy, and often involves misconceptions about proper payment. Also, when AiRs communicate directly with the institution and locals and are more self-reliant, they get to know Jogja’s society better, learn new things and approach the other more as equal.

Following from these suggestions, the way forward for now lies in individual and institutionalized self-reflexivity, communication, some structural changes, and in making the problematic visible and discussable. These solutions are small-scale but within reach, as the extensive problems of global inequality are not so easily tackled. Importantly, they require participation from both the internationals and locals of Jogja.

 

[1] This article is the result of a research placement with the Indonesian Visual Art Archives in April 2018, and can be read as an excerpt of a larger dossier for the Masters program Postcolonial Culture and Global Policy at Goldsmiths, University of London.

[2] Spivak, Gayatri Chakravorty. 1998. Can the Subaltern Speak? In Marxism and the Interpretation of Culture, edited by Cary Nelson and Lawrence Grossberg, 271-313. Urbana, Illinois: University of Illinois Press. Pp. 279-283.

Laporan Naratif Magang di Indonesian Visual Art Archive periode Mei-Agustus

oleh Putri R.A.E. Harbie

Saya memutuskan untuk magang di Indonesian Visual Art Archive karena rasa ingin tahu yang besar tentang pengarsipan seni. Selain itu saya diarahkan untuk mengunjungi IVAA oleh mantan dosen saya di Tangerang. Kebetulan film tugas akhir saya memang melibatkan arsip dan memanfaatkan archival look, sehingga menurut beliau IVAA bisa menjadi wadah yang tepat untuk ketertarikan saya terhadap arsip dan kompleksitasnya. Selain untuk alasan tersebut, saya juga ingin memperluas pengetahuan dan pengalaman sebelum masuk kuliah di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mempelajari dinamika seni di Yogyakarta tidak cukup jika hanya mengandalkan perkuliahan saja, saya yakin kesempatan observasi 3 bulan di IVAA akan sangat berguna untuk saya.

Secara pribadi, saya lebih suka menganalisa arsip daripada sekedar membaca buku untuk meneliti suatu karya, fenomena atau perhelatan seni. Menurut saya, arsip memiliki aktualitas yang tidak dimiliki beberapa tulisan penulis atau peneliti dengan subjektivitas dan kepentingan masing-masing. Terdapat kesempatan untuk menikmati arsip sebagai sebuah pengalaman yang dapat diinterpretasikan berbeda seiring berjalannya waktu.

Umumnya pengarsipan seni hanya dilakukan masing-masing organisasi dengan akses yang terbatas. Pendekatan IVAA sangat berbeda dengan organisasi lainnya, usaha aktivasi arsip benar-benar ditujukan untuk masyarakat luas. Sebagai perwujudan usaha tersebut, tahun lalu IVAA pernah menggelar Festival Arsip untuk membangun kepedulian masyarakat tentang arsip secara umum maupun arsip seni. Saya tidak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, namun ada beberapa dokumentasi yang saya edit agar bisa menjadi arsip yang utuh. Melalui proses tersebut saya merasa IVAA telah berhasil membangun jembatan pengetahuan dan hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Beberapa peneliti dan seniman residensi dari seluruh dunia sering datang ke IVAA untuk membaca fenomena seni yang terjadi di Indonesia. Mahasiswa seni juga sering datang untuk menyelesaikan karya ilmiahnya. Ada juga anak-anak dari sekitar IVAA yang datang untuk memanfaatkan akses internet yang ada (meskipun bukan untuk kegiatan literasi). Orang-orang yang datang ke IVAA cukup beragam dan lintas generasi, sehingga selalu ada dialog-dialog menarik yang terjadi di IVAA.

Selama magang, saya berada di bagian pengarsipan dan dokumentasi. Tanggung jawab saya kurang lebih adalah merekam dan mengedit materi audio visual (beberapa sudah bisa diakses di Youtube channel @rsip IVAA dan Instagram ivaa_id), terkadang juga membantu mengunggah materi arsip online untuk newsletter dan menulis. Setelah 2 minggu melakukan magang, kantor IVAA mulai dipenuhi kawan magang dari berbagai universitas di Indonesia. Akhirnya saya bisa fokus mengolah audio visual saja. Pekerjaan dokumentasi bisa dilakukan kawan magang lainnya. Namun ada kendala lain ketika melibatkan terlalu banyak personel dokumentasi di lapangan yaitu kesulitan mengontrol kebutuhan teknis dan distribusi alat. Setiap hari banyak peristiwa seni yang terjadi di Yogyakarta, sehingga sangat sulit mendokumentasikan semuanya. Untuk melengkapi arsip dan dokumentasi, IVAA membuka peluang donasi.

Seluruh video yang saya edit memiliki kesannya masing-masing, tapi ada satu video paling berkesan yaitu video promosional untuk Archive Showcase “Jiwa Kita”. Video ini melibatkan beberapa arsip video art, performance dan dokumentasi peristiwa seni yang dirangkai menjadi satu. Saya mengalami dialog yang sangat kuat antara elemen visual dengan audio yang berasal dari arsip berbeda tanpa saling menutupi potensi dan intensinya.  Tujuan saya membuat video ini adalah karena menyadari bahwa masih ada jarak antara pengunjung perpustakaan IVAA dengan Archive Showcase, meskipun berada dalam satu ruangan. Pengunjung masih ‘takut-takut’ untuk melihat isi komputer dan arsip-arsip yang dipamerkan. Saya harap arsip bisa lebih approachable dengan cara tersebut.

Secara keseluruhan, IVAA sangat baik dalam bertukar  pengalaman, ilmu dan pemikiran. Banyak kegiatan yang diinisiasi untuk memenuhi kebutuhan para kawan magang, seperti kunjungan ke museum OHD, kunjungan untuk melihat koleksi Istana RI Yogyakarta dan kunjungan ke studio seniman (Pak Subandi Giyanto). Kegiatan magang di IVAA sangat bermanfaat dan membuka pikiran terutama bagi teman-teman yang hendak mengenali situasi seni rupa dan acara seni di Yogyakarta.

Saran saya antara lain adalah agar IVAA bisa mulai berafiliasi dengan lini-lini di seluruh Indonesia, supaya tidak hanya seni rupa Yogyakarta saja yang bisa dicakup tapi seluruh Indonesia. Saya harap setelah IVAA selesai renovasi, IVAA bisa menambah program-program baru di ruang yang baru dan menambah SDM yang lebih banyak. Semoga rasa cinta seluruh staff IVAA terhadap arsip bisa terus ditularkan kepada seluruh individu di dunia seni.