Tag Archives: #sorotandokumentasi

Katalis Art Forum

Membicarakan Ali Umar sebagai seniman patung tidaklah lengkap tanpa melihat kiprahnya di bidang sosial organisasi. Pintu rumah Ali Umar dan keluarga selalu terbuka pada siapa saja, yang datang untuk sekadar mampir dan ngobrol.

Dalam salah satu kunjungan santai yang kami lakukan beberapa waktu lalu, Pak Umar salah satunya menceritakan seputar Katalis Art Forum, sebuah platform pertukaran yang menjadi ruang berbagai seniman, tidak hanya seni rupa, untuk saling berjejaring dan memperluas kemungkinan kolaborasi.  

Pewawancara: Lisistrata Lusandiana, Dwi Rahmanto, dan Esha Jain

Wawancara ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Ivan Sagita dan Surealisme Etnografis

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

….. “surealisme etnografis” adalah gagasan utopis, sebuah pernyataan tentang kemungkinan masa lalu dan sekaligus kemungkinan masa depan untuk analisis budaya.

(James Clifford dalam On Ethnographic Surrealism, 1981: 540)

Ketika saya membaca arsip IVAA mengenai Ivan Sagita, entah itu dari liputan media massa, catatan kuratorial, dan buku, surealisme menjadi atribut yang paling banyak dilekatkan pada seniman asal Lawang, Jawa Timur ini. Dwi Marianto (2001) dalam “Surealisme Yogyakarta”, Sanento Yuliman (2001) dalam “Surealisme Yogya” di “Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman”, dan M. Agus Burhan (2015) dalam penelitiannya mengenai lukisan “Makasih Kollwitz” meletakkan sosok Ivan Sagita sebagai bagian dari seniman surealis Yogyakarta era 1980-an bersama Agus Kamal, Effendi, Lucia Hartini, Totok Buchori, dan Kubu Surawan. Untuk era ini, secara spesifik, Sanento Yuliman menyebutkan bahwa ‘surealisme Yogya’ telah menjadi arus yang nyata.

Selain surealisme, atribut lain yang kerap muncul adalah asosiasi karya Ivan Sagita dengan idiom-idiom kefanaan, kematian, dan hal-hal liris lainnya. Tony Godfrey, melalui tulisan kuratorialnya untuk pameran “they lay their heads on a soft place” di Equator Art Project pada 2014 di Singapura, berpendapat bahwa Ivan sering mengangkat tema kematian, karena baginya hidup dan mati adalah dua sisi yang selalu berhubungan. Memang, idiom-idiom tersebut begitu nampak ketika kita melihat karya-karyanya, seperti Women and Mask, Kefanaan, Makasih Kollwitz, Letakkan Kepala di Tubuh, dll, yang kerap memakai ikon wayang, wanita, dan nenek-nenek. Meski terkesan sangat personal dan seolah hanya bermain di ruang imajinasi, seperti yang Jumaldi Alfi katakan, karya Ivan memberi penekanan berbeda dari surealisme (barat); bukan hanya seni yang surealis, tetapi juga situasi lokalnya.

Kedekatan antara pribadi Ivan dengan situasi lokal (atau barangkali saya sebut basis empiris) sudah muncul sejak ia memulai meniti karir sebagai seniman di Lawang. Sebuah catatan penting ada pada wawancaranya dengan Naima Morelli di cobosocial pada 2016. Dalam wawancara itu Ivan mengatakan bahwa ia bertemu dengan Bambang Soegeng, seorang pelukis yang pindah ke Lawang karena gejolak politik ’65 di Bali. Ada satu nilai penting yang Ivan peroleh dari pelukis yang cukup dekat dengan Affandi ini (ada dalam catatan Oei Hong Djien, 2012, di “Seni dan Mengoleksi Seni: Kumpulan Tulisan”), yakni seniman harus dekat dengan orang-orang dan masyarakat; seni seharusnya tidak hanya tentang estetika. Dalam wawancara tim IVAA (saya, Yoga dan Zaki) dengan Ivan Sagita pada 16 April 2019, ia mengatakan,

“Kami tinggal di Kota Lawang. Beliau tinggal sebagai seorang seniman dari Bali. Saya saat itu masih SMP. … Kemudian saya dekat dan cukup banyak belajar masalah kesenimanan, tidak di dalam masalah aliran tetapi melihat pola hidup. … Bahwa jalan satu-satunya adalah kesenimanan. … Suara seniman masih bisa dipakai dengan efektif.”

Kedekatan antara dirinya dengan situasi sekitar semakin kental ketika ia pindah ke Yogyakarta. Pada waktu ia mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta, 1980-an, ia gemar membaca novel-novel bernada eksistensialis, seperti “Khotbah di Atas Bukit” karangan Kuntowijoyo, serta novel-novel karangan Iwan Simatupang dan Sartre. Di samping itu, ia tinggal di sekitaran Gondolayu yang dekat dengan kehidupan masyarakat kolong jembatan. Hal ini membuat Ivan merasakan suatu kesadaran baru, kesadaran atas dunia ‘atas dan bawah’; bahwa ada situasi yang kering dan merah yang ingin diungkapkan. Sementara itu, gaya kesenian yang diterapkan di ISI Yogyakarta pada waktu itu adalah abstrak; form sebagai form tanpa menginterpretasikan hal lain. Barangkali, kecenderungan ke surealisme adalah hasil dari negosiasi Ivan dengan hasrat mengungkapkan keadaan sekitar.

Pulung Gantung dan Surealisme Etnografis: Sebuah Riset Artistik

Selama 5-6 tahun terakhir Ivan Sagita menggeluti sebuah fenomena ‘pulung gantung’ sebagai bagian dari kekaryaannya. ‘Pulung gantung’ merupakan sebuah mitos masyarakat Gunungkidul yang erat kaitannya dengan fenomena bunuh diri. Belum ada yang tahu pasti kebenaran apa yang mendasari fenomena tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ini terkait dengan mitos, faktor sosial-ekonomi, bahkan depresi. Alih-alih mengungkapkan kebenaran objektif, Ivan justru ingin mengungkapkan kerumitan realitas ini secara artistik.

Layaknya narasi-narasi di seputar surealisme, Ivan tertarik dengan alam bawah sadar. Namun, dalam konteks ini ia tidak sedang mengelaborasi alam bawah sadar psikologis yang personal, tetapi sosial.

“Surealisme di dalam konteks yang bawah sadar …. Saat itu saya mencari-cari di mana sebetulnya yang disebut dengan bawah sadar. Bawah sadar yang faktual betul. Kita tidak mengatakan di dalam sebuah gagasan secara person, yang tentunya ada di dalam psikologi. Dalam secara etnografi, bawah sadar yang sosial itu bagaimana? Karena itu juga menjadi salah satu basic, basic yang disebut sebagai suatu genre kesenian.” (wawancara pada 16 April 2019)

Ivan mempersoalkan serangkaian asumsi yang dilontarkan oleh publik terhadap fenomena ‘pulung gantung’. Bagi dia tidak cukup jika fenomena ini disebut sebagai mitos, karena ada fakta yang memang benar-benar terjadi. Untuk asumsi-asumsi lain, ia berpendapat demikian:

“Fatalisme? Gak bisa juga. Kita ini bukan suatu masyarakat yang terbentuk di dalam pola yang fatalisme. Di dalam pola komunikasi secara tradisional seperti itu masalah adaptasi sangat kuat. Masalah harmoni juga kuat.  Terus nihilisme? Ah, gak juga, karena landasan religiusitas sangat tinggi. Faktor ekonomi sosial? Gak juga, apalagi itu. Banyak akademisi yang mengatakan alasan sosial ekonomi, sehingga sebuah sikap untuk mengakhiri hidupnya di masa muda.”

Pameran tunggalnya dengan tajuk “they lay their heads on a soft place” di Equator Art Project pada 2014 di Singapura menjadi satu titik penanda proses elaborasi ini. Bolehlah saya mengatakan bahwa apa yang sedang dikerjakan oleh Ivan adalah sebuah proses riset artistik. Argumen saya: apa yang dilakukan oleh Ivan saya maknai sebagai sebuah upaya mengeksplisitkan kerumitan fenomena dengan melibatkan cara kerja disiplin ilmu lain, yakni etnografi.  

Saya tidak mengatakan bahwa riset yang dilakukan oleh Ivan adalah sebuah riset ilmiah yang memperhitungkan objektivitas dan validitas. Justru, poin yang ingin saya tekankan adalah adanya upaya untuk menghadirkan kemungkinan pendekatan lain untuk mengungkap suatu fenomena; sebentuk upaya yang berusaha keluar dari pagar besi rationale.

Surealisme dan etnografi sepertinya menjadi kesatuan penting yang hadir di sini. Seorang Ivan yang selalu diidentifikasi sebagai pelukis surealis, dan praktik riset artistiknya mengenai ‘pulung gantung’ dengan pendekatan etnografis. Dalam melakukan riset artistiknya tentang ‘pulung gantung’, ia telah menghabiskan waktu 5-6 tahun. Ia mengatakan bahwa pernah 2-3 kali dalam seminggu pergi ke lokasi untuk melayat. Ketika ada kasus penculikan anak di Gunungkidul, ia sempat dituduh sebagai penculik. Barangkali, sebutan ‘surealisme etnografis’ bisa mewakili metode yang Ivan lakukan.

Surealisme etnografis sebenarnya bukan barang baru. Secara khusus, gagasan mengenai ini sudah ditulis oleh James Clifford (1981) melalui tulisannya yang berjudul On Ethnographic Surrealism. Ia menjelaskan bahwa surealisme etnografis sebagai gagasan dan praktik muncul pada 1920-1930an di Perancis. Awalnya, ia hadir sebagai respon atas hasrat untuk menyelidiki ‘yang lain (other)’ di luar hirarki pemikiran rasional. Koleksi artefak yang berkembang dari Afrika dan Oseania di Museum Trocadéro mewakili awal yang sederhana dari penyelidikan yang lebih menyeluruh terhadap budaya lain, melalui Misi Dakar-Djibouti (ekspedisi etnografi terkenal yang dilakukan di Afrika, di bawah arahan Marcel Griaule, dari 1931 hingga 1933).

Clifford meneruskan bahwa surealisme, dalam praktek etnografi, berfungsi untuk memprovokasi manifestasi realitas ‘yang lain’ yang diambil dari domain erotis, eksotis, dan ketidaksadaran. Pernyataan ini diamini sekaligus ditekankan oleh DeBouzek (1989) dalam The “ethnographic surrealism” of Jean Rouch, bahwa manifestasi ‘para-artistik’ dari era ekspedisi etnografis, dalam meruntuhkan sistem hirarki pemikiran rasional melalui penyajian estetika yang berbeda, dengan mudah digolongkan di bawah mentalitas surealisme.

Poin penting yang saya tangkap dari gagasan ‘surealisme etnografis’ adalah bahwa ada realitas ‘lain (other/ surreality)’ yang tidak bisa disentuh oleh rationale. Etnografi dengan menempatkan surealisme dalam posisi yang istimewa memberikan sumbangan alternatif untuk memahami partisipan dan realitas ‘lain’ dalam kehidupan kolektifnya. Bagi saya, poin ini sesuai dengan spirit dan praktik yang sedang digeluti oleh Ivan terhadap fenomena ‘pulung gantung’.

Lantas, bagaimana teknik yang dilakukan oleh Ivan? Secara detail dan spesifik, bahasa tubuh menjadi pintu masuk bagi Ivan untuk memaknai ‘pulung gantung’. Ia menjelaskan demikian:

“Bahasa tubuh yang saya baca dari sekelompok masyarakat itu. Tipikal bahasa tubuh yang bagaimana yang akan membedakan? Adakah tipikal bahasa tubuh tertentu yang membuat sebuah sikap yang berbeda? Atau sikap yang berbeda terwujud dalam bahasa tubuh? Di Gunungkidul itu bahasa tubuh yang banyak dilakukan entah itu secara otomatis itu ya semacam begini, sehingga di karya saya ada gambar kepala, dan lain-lain.” (wawancara pada 16 April 2019)

Pendekatan surealisme etnografis tidak hadir tanpa kritik. Hal Foster (1996) melalui tulisannya yang berjudul The Artist as Ethnographer menyebutkan implikasi lain dari pendekatan ini. Bahaya self-fashioning yang berkaitan dengan fantasi primitifisme dapat muncul ketika peneliti atau seniman cenderung merasa ahli atas suatu kebudayaan tertentu; ketika kebudayaan hanya dibaca sebagai otentisitas pribumi (asli). Lebih ironis, ketika praktik surealisme etnografis masuk ke dalam mekanisme institusional, kebudayaan ‘yang lain (other/ surreality)’ akan dipandang sebagai sesuatu yang inovatif secara politis. Yang terakhir ini akan lebih nampak ketika praktik surealisme etnografis pada titik tertentu bekerja dalam sistem pasar.

Fantasi primitifisme mungkin membayangi praktik yang Ivan lakukan. Ia sempat mengatakan, “Saya ingin yang purba, untuk mengetahui clue-clue ini”. Meski demikian, saya juga melihat suatu refleksi lain yang muncul, yakni kesadaran atas batas antara Ivan dan masyarakat yang sedang ia pahami. Ia menjelaskan, “Meskipun kita sudah masuk di dalam, tetap ada layer yang mengatakan, ah, kamu orang luar, kamu orang berbeda. …. Paling-paling kita melihat selubang kecil saja dari permasalahan yang di dalam”. Mungkin saja, kesadaran atas batas ini adalah bentuk kesadaran estetis -persepsi atas ‘yang lain’- yang mampu menjadi alarm dalam praktik riset artistik, terutama yang berhubungan dengan suatu kelompok masyarakat.

Apa yang dilakukan Ivan adalah satu contoh dari praktek riset artistik yang mungkin memiliki ragam bentuk lain. Alih-alih berjalan dalam koridor ilmiah, riset artistik justru menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya di luar hirarki rasionalitas. Seperti halnya surealisme etnografis, sejauh-jauhnya menyentuh kemungkinan masa lalu dan masa depan untuk sebuah analisis budaya, ia adalah pernyataan utopis.

Sumber bacaan:

Clifford, James. 1981. On Ethnographic Surrealism. James Clifford. Comparative Studies in Society and History, 23(4): 539-564

DeBouzek, Jeanette. 1989. The “ethnographic surrealism” of Jean Rouch. Visual Anthropology, 2(3-4): 301-315

Foster, Hal. 1996. The Artist as Ethnographer. The Return of the Real. Cambridge: The MIT Press.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

SOROTAN DOKUMENTASI | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Dwi Rahmanto

Dari empat puluh acara seni-budaya yang telah kami kumpulkan dan seleksi, acara yang kami pilih untuk dokumentasikan adalah Undisclosed Territory (festival seni pertunjukkan skala internasional di Surakarta), diskusi dan presentasi proyek seni dengan isu gender dari penerima hibah Cipta Media Ekspresi, simposium dengan isu seni dan teknologi yang digagas oleh HONF, Kongres Kebudayaan Indonesia di Jakarta, ARISAN Tenggara (forum dan jejaring antar kolektif seni lingkup Asia Tenggara), pameran arsip dan seni rupa-seni politik oleh ISI Yogyakarta dan Taring Padi yang bertajuk Bara Lapar Jadikan Palu, kemudian Penanda Kosong pameran tunggal Nindityo Adipurnomo, pameran tiga seniman dari Asia (Arahmaiani, Lee Mingwei, dan On Kawara ) berjudul The Past Has Not Passed yang diselenggarakan oleh Museum MACAN, proyek seni “situs seni” di kampung petilasan Keraton Mataram di Bantul, pameran arsip sejarah kelompok sepak bola PSIM This Is Away oleh Dimaz Maulana di Kedai Kebun Forum, pementasan teater Selamatan Anak Cucu Sumilah, sebuah proyek seni untuk rekonsiliasi yang melibatkan penyintas 65 di Fisipol UGM oleh Teater Tamara, dan diskusi buku Cita-Cita Seni Lukis Indonesia Modern 1900-1995 karya Helena Spanjaard.

Banyak sekali isu yang menjadi muatan dari acara-acara seni-budaya di atas, seperti gender, politik, teknologi, sejarah komunitas dan kampung, aktivisme, lingkungan, kesetaraan, dan HAM. Beragam isu ini menjadi catatan penting bagi kami untuk mengetahui lebih jauh kerja-kerja kesenian yang muncul di bulan-bulan ini; sejauh mana kesenian memunculkan perkembangannya.

Selain itu, beberapa kawan kami di Bali, Malang, Jakarta, dan Yogyakarta yang berbagi arsip untuk kami kelola, di Bali dari Kulden Art Space Bali, pameran oleh Firmansyah berjudul Suka Ria, Di Kota Batu dan Malang kita mendapat dokumentasi pameran September Art Project oleh Studio Jaring Malang, dari Galeri Semarang kita mendapatkan dokumentasi aktifitas mereka selama tahun 2018, di Yogyakarta kawan kawan seni rupa mengadakan acara Serufo Day Anagata di Jogja National Museum.

Di sepanjang proses pembacaan dan pengelolaan arsip, beberapa dari kami berkesempatan untuk menjadi pemantik diskusi dalam beberapa forum, yakni Festival Film Dokumenter di IFI Yogyakarta, peluncuran buku Yayasan Kelola di UGM, Urban Social Forum di Lokananta Record Surakarta. Semua informasi singkat seputar kegiatan tersebut dapat dilihat di sosial media kami (www.instagram.com/ivaa_id).

Tentu kami tidak lupa bahwa dalam mengelola arsip kami dibantu oleh beberapa kawan magang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan satu kawan dari New Jersey, Amerika Serikat. Kerja-kerja mengelola arsip beserta masalah-masalah yang menyertainya kami diskusikan baik secara rutin maupun dalam pertemuan-pertemuan yang mendadak. Semoga proses ini menjadi pembelajaran yang mampu diterapkan oleh kawan-kawan magang, sekaligus membangun kesadaran pengarsipan secara lebih luas.

Di samping itu kami juga masih terlibat dalam kerja-kerja lain seperti, workshop, perancangan sistem pengarsipan offline, pengelolaan beberapa permintaan arsip onsite dan online melalui online archive, dan kunjungan para mahasiswa kearsipan UGM, peneliti, serta para kolega lain yang tentu menambah riuh senang pekerjaan kami. Akhir kata, keriuhan yang menyenangkan ini beriringan dengan upaya kami, secara khusus pada bagian Arsip, untuk bereflekai dan merancang program kerja selama lima tahun mendatang.

Sorotan Dokumentasi November-Desember 2018
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Undisclosed Territory #11: We Are What We Eat

Oleh: Hardiwan Prayogo

Undisclosed Territory tahun 2018 ini telah memasuki gelaran ke 11. Event performance art ini mengawali rangkaian acaranya dengan berbagai macam diskusi hingga kuliah umum. Dengan mengambil tema We Are What We Eat, gagasan mengenai performance art dibawa dalam melihat ulang relasi manusia dengan makanan. Bagaimana makanan menjadi salah satu penanda dalam ritus-ritus hidup manusia. Bagaimana makanan menjadi elemen tradisi yang penting dan mewujud dalam simbol-simbol dalam makanan. Lebih jauh, seniman-seniman performance menampilkan karya dengan merespon isu-isu tersebut.

Berlangsung dari 6 hingga 11 November 2018 di studio Plesungan, Karanganyar. 6-8 November berlangsung PALA Project dan Sound Scoring Workshop. Diskusi panel pada 9 November. Kemudian pertunjukan dimulai dari 9 sampai 11 November. Tim IVAA berkesempatan hadir menyaksikan langsung pada hari Minggu, 11 November.

Meskipun bernama studio, Studio Plesungan bukanlah berbentuk bangunan, tapi didominasi oleh tanah lapang dengan pohon rimbun di sekelilingnya. Pertunjukan pertama dimulai pada pukul 15.00, bertajuk “Pseudo Delight” dari Fransisca Retno, yang mereka ulang postingan makanan-makanan mewah di Instagram. Dengan membuat instalasi satu set meja makan lengkap dengan menu makanannya, dengan dikelilingi kursi yang diatasnya diletakkan makanan. Menu makanan yang ditampilkan seperti serabi, gembus, pukis, dan lain-lain. Disampaikan Fransisca bahwa karya ini semacam “rasa iri” memandang kawan-kawan karibnya yang hampir setiap hari memamerkan santapannya di sosial media. Maka pertunjukan ini pun bersifat interaktif, mengajak audiens untuk membuat menu makanannya sendiri, kemudian diunggah ke sosial media masing-masing. Set makanan ini dipertahankan hingga malam.

Sementara itu, dalam waktu yang berdekatan, dimulai juga pertunjukan dari Sakinah Alatas dengan judul “Sekarang Saya Sudah Mau Makan Itu?”. Sakinah menggantung kain putih transparan di satu ranting pohon. Pada kain tersebut dijahitnya suatu benda berwarna coklat berukuran kecil. Seluruh performance menampilkan Sakinah menjahit yang berlangsung selama sekitar 60 menit.

Di tempat lain, Jef Carnay sudah memulai pertunjukannya yang berjudul “Sweet Dreams”. Berbeda dari yang lain, pertunjukan Jef menggunakan iringan musik dan berlokasi di dalam ruangan. Dengan hanya menampung sekitar 20 orang dalam ruang terbatas, pertunjukan ini terasa lebih intens. Jef menampilkan tubuh yang didalam mulutnya sedang menyimpan sesuatu dan berusaha mengeluarkannya. Di akhir pertunjukan, apa yang di dalam mulutnya dikeluarkan dan diletakkan di atas tumpukan yang tampak seperti gula.

Usai pertunjukan Jef, langsung disambut oleh performance dari Ragil Dwi Putra, yang berjudul “I Trace Myself”. Kembali mengambil lokasi di luar ruang, berdekatan dengan instalasi pertunjukan Fransisca Retno. Ragil menampilkan tubuh yang berjongkok di bawah meja. Di atas meja terdapat piring dan gelas yang berisi minyak. Ragil mencoba berdiri sambil membopong meja tersebut. Dalam kesulitannya untuk menyeimbangkan diri, kakinya juga disibukkan dengan melipat-lipat kertas minyak. Pertunjukan ini berakhir ketika Ragil sudah melipat kertas dengan ukuran terkecil.

Tidak lama, penonton diajak berpindah lagi ke satu spot yang memang nampak seperti “panggung” pertunjukan. Graciela Ovejero Postigo, dengan performancenya yang berjudul “Why An Elm Should Give Pears?”. Pertunjukan ini juga menggunakan unsur makanan, yaitu jagung, juga properti lain seperti kain putih, kursi, sapu lidi, dan beberapa bilah bambu. Graciela seperti ingin menunjukan relasi antara makanan dan perempuan pekerja. Penampilannya dilakukan tanpa iringan musik, suara hanya berasal dari aktivitas Graciela menyeret karung berisi jagung, memainkan kain putih dan bambu, membenamkan diri dalam tumpukan jagung. Graciela adalah penutup dari sesi pertama pada hari itu.

Pertunjukan kembali dilanjutkan setelah jeda 60 menit. Dimulai dari Retno Sulistyorini, tampil di lokasi yang sama dengan Graciela. Penonton bisa menyaksikan dengan jarak lebih dekat, berada satu area dengan panggung pertunjukan, melingkari Retno yang tampil berdua dengan seorang pria. Retno lebih menampilkan koreografi tari ketimbang performance seperti penampil-penampil lainnya. Menggunakan iringan musik bersuasana mistis, tarian Retno dan rekannya memperlihatkan intensitas yang cukup dalam. Dengan gerakan sederhana namun terlihat sangat menguras tenaga. Terlihat dari deras keringat yang mengalir dari keduanya. Pertunjukan berakhir setelah 15 menit yang terlihat sangat melelahkan. Penonton pun kembali ke tempat duduknya, sementara panitia bergegas menyiapkan properti pertunjukan performer berikutnya.

Wilawan Wiangthong, seniman asal Thailand ini membawa streamer berisi air berwarna putih, dan satu potongan ranting pohon.  Wilawan membasuhkan air tersebut ke kepalanya, mengangkat satu tempat nasi berisi air ke atas kepalanya, dan berjalan menyeimbangkan diri di atas ranting pohon. Wilawan terus mengulangi aktivitas ini sampai ranting pohon tersebut patah. Alhasil, panggung pertunjukan menjadi penuh tumpahan air dan patahan ranting pohon.

Penampil terakhir adalah Skank. Melati Suryodharmo memperkenalkannya sebagai seniman performance dari Jepang yang sudah sering terlibat proyek kerjasama dengan Studio Plesungan. Skank tidak menggunakan banyak properti, hanya satu pengeras suara berukuran besar yang dibawanya. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya yang melibatkan dialog. Skank mengajak satu rekan yang beradegan menanyakan seputar kewarganegaraan, kepercayaan agama, hingga orientasi seksual. Pertanyaan berbahasa Indonesia ini hanya dijawab Skank dengan “Yes” atau “No”. Antara Skank dengan si penanya, selalu dipisahkan jarak antara penonton dan panggung. Jika Skank di panggung, maka si penanya ada di barisan penonton, begitu sebaliknya. Total ada sekitar 50 pertanyaan yang diajukan yang terbagi dalam 3 bagian. Setiap bagian selalu diakhiri dengan Skank yang melompat hingga kelelahan. Pertunjukan diakhiri ketika keduanya bertemu di panggung. Skank menjadi penampil terakhir sekaligus menutup rangkaian acara Undisclosed Territory #11.

Narasi pergelaran festival performance art ini secara umum ingin membicarakan tentang posisi makanan tradisi dan struktur masyarakat tertentu. Sebelum hari pertunjukan, seniman juga diajak untuk berkunjung ke pasar-pasar di Karanganyar. Makanan diyakini sebagai bagian organik dari sebuah tatanan masyarakat. Mulai dari makanan sebagai kebutuhan primer, sebagai mata pencaharian, sebagai gaya hidup, hingga pemaknaan filosofis tentang makanan sebagai metafora atas proses identifikasi diri. Ini jelas nampak dari beragamnya tafsir masing-masing seniman atas makanan. Harus diakui meski publik penikmat kesenian ini terbatas. Namun upaya Undisclosed Territory dalam mendekatkan narasinya melalui persoalan yang relational dengan publik, yaitu makanan, bisa dimaknai secara reflektif sebagai upaya menghadirkan kesenian secara lebih dekat dengan publiknya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Penanda Kosong: Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo

Oleh: Hardiwan Prayogo

Nindityo Adipurnomo, seniman yang bermain dengan berbagai medium. Ini yang tampak dari pameran tunggalnya Penanda Kosong. Pameran yang dilangsungkan di Gallery Semarang dari 22 November-30 Desember 2018 ini memamerkan karya-karya 2 dan 3 dimensional. Pameran ini dibuka dengan sambutan dari beberapa orang, yang intinya ingin membicarakan tentang posisi Nindityo sebagai seniman dengan refleksi dan pemaknaan ulang mendalam atas realitas yang terwujud dalam karya-karyanya.

Dengan menggunakan 2 lantai galeri, audiens akan disuguhkan lebih banyak karya 3 dimensional di lantai pertama. “Penanda Kosong #13” adalah karya yang dibuat dari konstruksi rotan pirit dan kasur lurik. Berjumlah 5 karya, didesain sedemikian rupa, dengan display menggantung dan diletakkan di lantai. Selain itu karya 3 dimensional lainnya berjudul “Gamelan Toa”. Karya ini ingin mengedepankan pengalaman aural audiens. Dengan menampilkan 7 kain batik berukuran besar, dan di antaranya terdapat semacam cetakan wajah. Karya ini mengajak kita untuk berinteraksi, dengan meletakkan kepalanya di cetakan wajah, maka audiens tidak akan bisa melihat apapun, hanya mendengar suaranya sendiri. Karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di pameran Serupa Bunyi Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 2018.

Karya lainnya didominasi karya 2 dimensional. Hampir seluruhnya diberi judul “Penanda Kosong” yang diikuti dengan tanda pagar. “Penanda Kosong #11”, bermedium cetak flat bed di atas tikar mendong. Medium ini tentu bukan yang lazimnya digunakan untuk karya 2 dimensional, khususnya seni lukis. Karya lain berjudul “Penanda Kosong #1”, dengan medium charcoal, gouache, dan cetak flat bed di atas kertas. Kemudian medium charcoal, gouache, pastel, dan cetak flat bed di atas kertas untuk karya berjudul “Penanda Kosong #3” dan “Penanda Kosong #5”. Selain itu masih banyak karya dengan bahan serupa. Satu yang juga menarik adalah disediakannya 3 album foto yang berisi kliping, potongan pamflet, hingga dokumentasi yang berkaitan dengan isu yang dominan diangkat Nindityo, yaitu religiusitas. Total terdapat 22 seri karya berjudul “Penanda Kosong”. Dari sedemikian banyak karya, “Penanda Kosong #17” bisa dikatakan yang paling provokatif dan eksplisit. Pesan dan isu yang diangkat sangat jelas, yaitu agama.

Pameran Tunggal Nindityo kali ini nampaknya ingin lebih dekat dengan isu aktual, meski tidak seluruh karyanya secara eksplisit mewujudkan itu. Bisa jadi ini bagian dari cara tutur Nindityo dalam membahasakan ulang realitas. Seperti seri karya Konde, yang dibuatnya untuk membicarakan tentang perempuan, jawa, dan sensualitas. Maka Penanda Kosong, tidak hanya ingin dimaknai dari aspek kesenian yaitu eksplorasi medium, tetapi juga menyentuh konteks yang lebih aktual, yaitu agama dan kepercayaan. Kewajiban beragama seolah hanya menjadi penanda kosong dalam kolom KTP. Lebih jauh, Nindityo tidak hanya ingin mewujudkan gagasan melalui karya seni, tetapi melalui konstruksi kompleksitas pameran dan keterkaitannya dengan sistem kerja medan seni rupa kontemporer saat ini. Penanda kosong juga merupakan upaya pemaknaan ulang atas tanda-tanda yang diklaim secara sepihak dan melekat pada diri dan sekitar kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Seni Politik Taring Padi

Oleh Dwi Rahmanto

Bara Lapar Jadikan Palu, judul pameran Taring Padi (TP) yang cukup provokatif di antara sekian banyak pameran yang berseliweran di bulan-bulan ini. Pameran yang digagas oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merupakan rangkaian pameran yang menampilkan kelompok/komunitas seni di Indonesia, setelah sebelumnya menghadirkan Sanggar Bambu pada 7 Desember 2017 di tempat yang sama yakni Galeri RJ Katamsi Yogyakarta. Dalam sambutannya Arya Sucitra (Kepala Galeri Katamsi ISI Yogyakarta) menyebutkan beberapa unsur yang mendasari pemilihan Taring Padi, yaitu karya mereka teruji prestasi dan keilmuan, kemampuan komunitas berkontribusi secara akademik di medan seni rupa, dan kesesuaian dengan fungsi Galeri RJ Katamsi sebagai ruang transfer pengetahuan khususnya di ranah pendidikan.

Taring Padi, kelompok yang dibentuk pada 21 Desember 1998, sebagai sebuah organisasi budaya progresif, menetapkan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali “Budaya Kerakyatan”, dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong perubahan demokratik yang berwatak populer di Indonesia. Mukadimah Taring Padi ditandatangani sejumlah aktivis budaya, mahasiswa, pekerja seni, dan pelukis otodidak. (https://www.taringpadi.com/)

Kembali ke judul pameran ini, dengan frasa ‘bara lapar’, saya jadi membayangkan gerakan 1998. Ketika mereka bersama anak-anak muda yang benar-benar haus atas nilai-nilai keadilan berhadapan dengan musuh bersama (Orde Baru), tidak sekali dua kali saja mereka terlibat aksi. Dengan memilih Lembaga Bantuan Hukum sebagai tempat mendeklarasikan diri, kehadiran Taring Padi menjadi satu tanda bahwa tarik-menarik antara pemerintah dan masyarakat sipil menjadi tanda perlawanan atas kegagalan rezim otoriter Orde Baru. Mereka tegas menggunakan istilah seni untuk rakyat dan menentang istilah seni untuk seni.

Banyak sekali aksi yang mereka rancang. Salah satu yang sering dilakukan adalah terlibat aktifnya mereka di dalam gerakan menurunkan Soeharto di sepanjang Malioboro dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aksi seni budaya dengan membuat propaganda visual berbentuk rontek, boneka, poster, wayang dan instalasi dengan kolaborasi bersama kawan-kawan aktivis memberi nilai dalam cara-cara menyuarakan pendapatnya.

Di pembukaan pameran ini saya sempat bertemu dengan Muhammad Yusuf dan Setu Legi sebagai anggota pendiri yang masih aktif sampai hari ini. Terkait tentang apa yang membuat Taring Padi sangat progresif di tahun itu, dengan sedikit berkelakar, dia menyebut bahwa di zaman itu memang kepentingannya tidak sebanyak sekarang. Bahwa kelompok ini hadir dengan ideologi yang sangat dipegang teguh, memilih di mana mereka harus bergerak, berani menolak yang berseberangan dengan ideologi mereka, dan pastinya para anak muda ini tidak terbanjiri kepentingan keluarga dan sosial media yang seperti sekarang ini menyibukkan orang-orang. Mungkin juga, Bara dan Lapar akan berbeda bunyinya ketika dikontekstualisasikan dengan jaman sekarang.

Di saat generasi pertama sudah cukup dengan pertarungan di dalam dirinya sendiri, pameran retrospektif Taring Padi ini dikelola oleh generasi kedua dari mereka. Masih dengan anak-anak muda yang mempunyai energi bara dan lapar, Taring Padi tetap menganut sistem keanggotaan terbuka yang prasyaratnya adalah komitmen terhadap garis kerakyatan seperti sejak awal mereka berdiri. Merujuk kepada Bayu Widodo, Fitri DK dengan Survive Garage-nya, pameran 20 Tahun Taring Padi ini menjadi penanda pergeseran dan perubahan kepentingan para anggota di dalamnya. Meski demikian, mereka tetap menawarkan isu-isu kerakyataan di dalam kesenian sampai saat ini.

Seorang pematung Dolorosa Sinaga dalam sambutannya menyebutkan bahwa Taring Padi merupakan contoh bagaimana sebuah kelompok yang menajamkan wilayah seni rupa ke ‘seni politik’ menjadi inspirasi bagi banyak kelompok seniman di luar Yogyakarta dengan serangkaian isu kemanusiaan. Disposisi semacam ini dilakukan sejak sebelum dan pasca reformasi. Dolorosa merupakan satu dari sekian orang yang ikut menyaksikan deklarasi TP 20 tahun yang lalu.

Indonesia sendiri mengalami banyak periode gerakan di ranah visual. Peristiwa Desember Hitam (1974), pameran Kepribadian APA (1975, 1979), dan Gerakan Seni Rupa Baru (1975-1979) adalah sebagian dari aksi-aksi ketidakpuasan paling fenomenal yang tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia era 1970-an. Ketiganya bisa dibilang sebagai upaya mengembalikan muatan sosial-politik ke dalam seni rupa, sekaligus memperluas “kemungkinan berkarya” dengan merontokkan sekat-sekat kategoris dalam seni rupa Indonesia selama ini (http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3878). Taring Padi merupakan generasi selanjutnya yang punya metode sendiri dalam membicarakan isu sosial politik di Indonesia sebelum reformasi dan sesudah reformasi.

Pameran Taring Padi ini dibagi menjadi dua lantai. Di lantai bawah mereka menampilkan karya-karya poster, banner, dsb yang menjadi saksi kehadiran mereka di gerakan seni dan budaya. Di lantai ini kita akan dituntun untuk menyaksikan propaganda-propaganda menarik yang dikerjakan secara kolektif. Ada satu ruangan khusus yang didedikasikan untuk Eks Presiden Taring Padi, yakni Almarhum Yustoni Volunteero.

Kemudian di lantai atas merupakan karya baru kolaborasi mereka, menampilkan arsip-arsip sebagai bagian dari pameran. Arsip-arsip ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang kelompok ini. Bambang Toko sebagai kurator menyebut bahwa karya dan arsip yang dipamerkan sangat fungsional dan menjadi refleksi Taring Padi. Juga, kita bisa tahu bagaimana isu kerakyatan dan sepenggal situasi sosial politik Indonesia selama 20 tahun disampaikan secara visual.

Pameran ini mungkin bisa menjadi pemantik atau palu bagi Taring padi sendiri dan kawan kawan yang bergerak di isu sosial politik. Setiap zaman pasti berbeda dan akan memberikan tantangan lain dalam gerakan sosial politik dan seni rupa secara spesifik. Akan ada banyak metode gerakan/ aktivisme yang bisa dipelajari, dan tentunya harus mengarah pada capaian-capaian yang nyata di masyarakat. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa pameran ini menjadi bagian dari pembelajaran bersama merenungkan daya yang bisa merubah bara lapar menjadi palu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara

Oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Keprihatinan atas ketidakterhubungan satu dengan yang lain, terutama mengenai bagaimana kolektif bekerja, menjadi latar belakang dibentuknya Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara (selanjutnya disebut Arisan). Ace House Collective, sebuah kolektif yang menempatkan diri sebagai laboratorium seni bergaya visual popular dan merespon konsumerisme visual, menjadi inisiator dari proyek Arisan ini. Tujuan dari Arisan adalah membentuk forum dialog sebagai katalisator untuk membuka rahasia dapur beberapa kolektif, dengan intensi yang saling dipelajari dan dikritisi. Sebagai platform awal, beberapa hal yang ingin diupayakan adalah perumusan pengetahuan tata kelola ruang, modus untuk tetap eksis, dan jejaring kolektif seni se-Asia Tenggara.

Arisan ini diikuti oleh sebelas kolektif yang berasal dari Yogyakarta dan wilayah lain di Asia Tenggara. Dari Yogyakarta, beberapa kolektif itu adalah Krack! Studio, Lifepatch, Ruang Gulma, Ruang MES 56, dan SURVIVE! Garage. Lalu dari wilayah Asia Tenggara, ada Tentacles (Bangkok, Thailand), Tanah Indie (Makassar, Indonesia), WSK! (Manila, Filipina), Rumah Api (Kuala Lumpur, Malaysia), Rekreatif (Dili, Timor Leste), dan Gembel Art Collective (Dili, Timor Leste). Selain kolektif-kolektif partisipan di atas, proyek ini didukung oleh tim lain seperti penanggung jawab program, fasilitator, dan pencatat proses. IVAA dalam kesempatan kali ini mendapat peran sebagai dokumentator.

Proyek yang bisa dikatakan cukup ambisius ini, mengingat cakupan wilayah Asia Tenggara yang hanya diwakilkan oleh sebelas kolektif saja, digelar selama kurang lebih 7 minggu, dari 10 Oktober-26 November 2018. Dalam waktu yang cukup singkat ini, Arisan dibingkai dengan 4 topik, yakni dasar gagasan (ideologi) pembentukan kolektif, pengelolaan program (modal kultural), pembangunan jaringan (modal sosial), dan strategi ekonomi (modal ekonomi).

Dari keempat topik di atas, rencana pelaksanaan Arisan semula diproyeksikan dengan format presentasi dan diskusi interaktif oleh masing-masing kolektif dengan arahan fasilitator. Berdasarkan 4 topik pembingkai, presentasi dan diskusi akan dilakukan selama 4 minggu. Namun, format semacam ini hanya bertahan selama 2 minggu pertama, untuk kerangka topik ideologi dan modal kultural. Beberapa hal yang dibicarakan adalah alasan dan gagasan pembentukan kolektif beserta garis perjuangannya (politis ataupun artistik), serta aliansi seperti apa yang dibangun untuk menopang aktivitas kolektif dan bagaimana kolektif menghidupinya.

Format presentasi dan diskusi, meski interaktif dan dilengkapi minuman fermentasi sebagai stimulus antusiasme, ternyata membuat beberapa partisipan merasa bosan. Seolah menjadi hambar ketika Arisan, sebagai platform awal pembentukan kolektif seni Asia Tenggara, tidak melibatkan dimensi praktik. Kebosanan ini nampak ketika dalam proses diskusi, muncul obrolan-obrolan kecil (obrolan di dalam obrolan) dari beberapa partisipan. Tak jarang juga ketika diskusi berlangsung cukup lama, beberapa orang nampak tidur atau sekedar melamun. Oleh karena itu, pada minggu 3 dan 4, mekanisme atau format Arisan diubah menjadi diskusi dan perumusan proyek bersama. Jika pada minggu 1 dan 2 sudah membicarakan topik ideologi dan modal kultural, pada tahap ini lebih menekankan penerapan topik modal sosial dan ekonomi.

Ada beberapa poin penting yang muncul di tahap kedua. Pertama, mengenai pendanaan program Arisan. Pendanaan yang berasal dari Dana Keistimewaan Provinsi DIY ini sempat menjadi sumber perhatian. Ruang Gulma, kolektif muda dengan spirit kemandiriannya, bersikap hati-hati dengan pendanaan ini. Selain itu, Rumah Api, sebagai kolektif yang anti otoritarianisme, semula mengira bahwa pendanaan Arisan dilakukan dengan etos DWO (do it with others).

Kedua, dengan metode kocokan (lotre), layaknya acara arisan pada umumnya, dirumuskanlah 6 proyek yang akan dikerjakan secara kolaboratif. Enam proyek dengan komponen anggota yang sudah campur antar kolektif ini, menjadi manifestasi penyelarasan topik dengan praktik, sekaligus peleburan hubungan tuan rumah (kolektif-kolektif dari Yogyakarta) dan residen (kolektif dari Makassar dan wilayah lain di Asia Tenggara). Proyek-proyek itu adalah Pusing-pusing, Commons Credit Cooperative (CCC), pameran fotografi, Trashure, Arisan-lab, dan Spirit Tenggara.

Pusing-pusing adalah sebuah proyek panggung musik keliling yang akan tampil di empat titik di Kota Yogyakarta. Keempat titik itu adalah perempatan Taman Siswa, Pakualaman, Kridosono, dan Tugu. Dengan hanya berbekal ijin dari warga sekitar, tanpa mengajukan ijin ke pihak kepolisian, Pusing-pusing ingin menguji keamanan ruang publik Yogyakarta sebagai ruang ekspresi.

Commons Credit Cooperative (CCC) adalah sebuah proyek koperasi yang menekankan sistem pertukaran keahlian dan alat dari para anggotanya. Setiap sumber daya yang diinvestasikan akan dihitung atau diukur sebagai kredit. Kredit itu selanjutnya bisa ditukarkan dengan sumber daya lain. Tujuan dari CCC adalah untuk memetakan dan mengatur sumber daya dalam rangka mendukung produksi artistik para anggota.

Selanjutnya adalah pameran fotografi. Dengan tema mobilitas, para seniman partisipan Arisan yang terlibat didorong untuk menafsirkan dan mengkontekstualisasikan konsep mobilitas ruang dan waktu ke dalam material foto.

Isu lingkungan juga menjadi perhatian khusus dari Arisan. Hal ini termanifestasikan ke dalam Trashsure. Trashsure adalah sebuah proyek pengumpulan sampah hasil dari aktivitas seni, yang kemudian dikelola melalui Workshop Trashsure.  Melalui workshop itu sampah direspon ulang menjadi instrumen musik yang nanti akan digunakan untuk mendukung pertunjukkan musik yang mereka gelar.

Selanjutnya adalah Arisan-lab. Gagasan untuk membantu pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste menjadi dasar proyek ini. Arisan-lab, yang bisa dikatakan sebagai proyek perpustakaan, dilakukan dengan dua mekanisme kerja. Pertama, untuk jangka pendek, diterapkan mekanisme bagi setiap pengunjung di proyek-proyek Arisan yang lain untuk membawa satu buku sebagai tiket. Buku itu selanjutnya akan disumbangkan untuk pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste. Untuk mendukung mekanisme jangka pendek ini digelar juga workshop membajak dan mencetak buku, serta pembuatan zine kolektif. Sedangkan untuk mekanisme jangka panjang, akan dibuat buku audio dan sebuah platform berbagi secara digital berupa database buku elektronik beserta review dari buku-buku yang relevan.

Terakhir, sebagai penguat simpul ikatan kolektif Arisan, Spirit Tenggara hadir. Pada dasarnya proyek ini merupakan usaha untuk berbagai pengetahuan berbasis potensi lokal. Salah satunya adalah proses pembuatan minuman fermentasi sebagai respon atas ekspansi industri modern yang menggerus proses produksi rumahan. Resep dari minuman ini juga dirumuskan agar dapat diimplementasikan sesuai konteks geo-spasial dari masing-masing kolektif partisipan Arisan. Untuk lebih mempererat ikatan kolektif ini, Spirit Tenggara juga membuat anthem secara kolaboratif, baik dari lirik hingga nadanya.

Sebagai sebuah platform awal, tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh Arisan. Salah satunya adalah persoalan keberlanjutan. Tidak sekedar melanjutkan proyek saja, masalah hubungan antara kemandirian kerja forum dan modal ekonomi menjadi kekhawatiran yang terus dipertimbangkan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

#SOROTANDOKUMENTASI | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Intensitas aktivitas dokumentasi memasuki bulan September tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Namun kami terus melengkapi arsip dari luar Yogyakarta, beberapa yang sempat kami datangi adalah, Pameran Biennale Jateng #2 The Future of History di Kawasan Kota Lama, Semarang, Festival Nusasonic di Magelang, dan Pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo dengan judul SSAS/AS/Ideas dan Lawangkala. Sedangkan untuk donasi kami menerima dari pameran tunggal Achmad Krisgatha Channel Of Light, Pameran Kembang Goyang Mahasiswa Universitas Telkom di Cemara 6 Galeri Jakarta, Pameran Tunggal Hari Prast Hari Bahagia di Uma Seminyak Bali, Pameran Merajut Bentuk Menebar Warna di Museum Sonobudoyo, dan Kuliah Umum Komunitas Hysteria dan Jaringan Kota: dari soal manajemen sampai dengan produk kebudayaan bersama Halim HD dan Adin Hysteria.

Sampai bulan Oktober kami mengumpulkan 43 peristiwa seni dengan penambahan 2587 file arsip foto dan video 47 file, audio 37 file. Di  luar mengerjakan peliputan, tim arsip yang diwakili oleh Dwi Rahmanto dan Lisistrata Lusandiana menjadi narasumber dalam acara Ulang Tahun ke 38 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan yang tidak kalah pentingnya kami sedang menyempurnakan sistem database (pencatatan arsip) dalam bentuk offline. Kami memaksimalkan sistem ini agar setiap arsip semakin mudah ditemukan kembali. Proses ini dibantu oleh 2 kawan magang dari Jurusan Tata Kelola Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Hal-hal yang Usai dan Tidak dalam Memetakan Arus Bawah di INF 3.0

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Tim IVAA berkesempatan untuk hadir diskusi bertajuk Memetakan Arus Bawah pada Sabtu, 18 Agustus 2018. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam Indonesia Netaudio Festival (INF) 3.0 yang mengusung tema Sharing Over Netizen Explosion. Beragam acara dihadirkan seperti performative talk, lokakarya, pertunjukan musik, dan tentu saja pameran seni rupa.

Memetakan Arus Bawah dibungkus dalam bentuk gelar wicara performatif yang tidak hanya interaktif tetapi juga atraktif. Secara umum, benang merah dari sesi diskusi ini membicarakan tentang bagaimana ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya penggemar, dan perkembangan musik di jagad maya. Topik utama tersebut ditinjau dan dibahas dari tiga studi kasus yakni perkembangan netlabel, seni media, dan dangdut koplo yang disampaikan oleh tiga narasumber; Nuraini Juliastuti, Manshur Zikri, dan Irfan Darajat.

Lokasi acara berada di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Sekeliling berlatar hitam dengan suasana biru-merah dari lampu sorot juga dari tiga layar besar di atas panggung. Di tengah-tengah berderet kursi yang dibentuk serupa sirkuit―meminjam istilah Syafiatudina, selaku moderator diskusi. Pada lingkar inti adalah wilayah moderator dan ketiga pembicara, kemudian di lingkar kedua adalah tempat duduk para audiens, lingkar selanjutnya keempat layar yang menampilkan materi bahasan dari para pembicara.

Menarik untuk melihat bagaimana kemasan dari diskusi ini yang keluar dari aturan-aturan konvensional diskusi pada umumnya. Menurut Manshur Zikri, ketika dalam diskusi melihat ponsel adalah tabu, justru di sini dianjurkan. Para peserta diskusi dapat bergabung ke dalam grup WhatsApp yang telah dibuat oleh panitia. Dalam grup itu mereka saling bertukar gagasan terkait dengan bahasan-bahasan diskusi yang tengah berlangsung. Para pembicara juga memiliki layarnya masing-masing untuk menampilkan materinya, alih-alih hanya bergantung pada satu layar besar seperti umumnya forum diskusi dan seminar.

Diskusi yang dimulai pukul tiga hingga jelang pukul enam sore itu dibuka oleh Nuraini Juliastuti. Nuning, sapaan akrabnya, membahas mengenai perkembangan netlabel dan segala hal yang berada di pusaran itu. Bahwa peranan atau fungsi netlabel tidak hanya sebagai “rumah” bagi musik yang bersirkulasi di dalamnya, tetapi juga ada praktek pengarsipan. Pendokumentasian atau pengarsipan dilakukan agar musik-musik yang dibagikan (sharing) melalui netlabel tidak sia-sia. Musik tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga artefak dimana energi suatu zaman turut bersamanya. Nuning juga menyinggung pentingnya sosialisasi praktik sharing, dan pengorganisasian festival semacam INF merupakan salah satu bentuk sosialisasi tersebut.

Manshur Zikri sebagai pembicara kedua membahas seni media dan kebudayaan baru yang timbul bersamanya. Zikri menggali topik diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Misal tentang bagaimana praktik copying dicap ilegal, sementara repost justru menaikkan posisi seseorang di media sosial. Zikri mengetengahkan meledaknya video kiki challenge di media sosial sebagai pertanyaan, apakah konten ataukah musiknya yang membuat challenge ini meledak di kalangan warganet? Bagaimana konten Youtube dan para youtuber menjadi sedemikian populer dibanding aktris/aktor di layar kaca? Pertanyaan-pertanyaan ini digali dengan tiga poin, yakni; ilusi keaslian, relatibilitas, dan independensi. Zikri mengakhiri sesi dengan merekomendasikan perlunya metode baru dalam literasi media, sebab situasi dan media yang ada kini juga sama sekali baru.

Sesi Irfan Drajat diawali dengan mengajak audiens menyimak sudut pandang baru soal dangdut koplo. Friksi yang terjadi antara dangdut koplo dan dangdut klasik. Ia memetakan tiga wacana yang menekan eksistensi dangdut koplo yakni, moralitas, identitas, dan juga keaslian. Ia menghadirkan studi kasus antara Rhoma Irama yang datang dari kubu dangdut klasik, dengan Inul Daratista dari kubu dangdut koplo. Rhoma Irama yang digelari sebagai Raja Dangdut, menyebut dangdut Inul sama sekali bukan dangdut.

Hal menarik dari pernyataan Irfan ketika ia mengatakan bahwa semua persoalan ada lagu dangdutnya. Lagu dangdut yang berangkat dari isu-isu sosial, politik, budaya yang ada, tetapi tata cara penuturannya selalu dalam bentuk gugatan khas akar rumput. Menurutnya, hingga saat ini Irfan mencatat belum ada lagu dangdut yang dijadikan sebagai medium perlawanan/protes.

Catatan lain dari bahasan Irfan, bahwa dangdut koplo mengguncang moda distribusi, juga mengguncang secara estetis dan gaya. Para pelaku dangdut koplo hidup dari panggung ke panggung, syuting dengan teknologi seadanya namun ekonomi tetap berputar. Tetapi belakangan, setelah dangdut koplo menjadi tren di layar kaca, ada indikasi bahwa dangdut koplo sedang coba “dijinakkan”.

Memang begitu banyak pertanyaan muncul dan tidak sempat untuk mengerucut apalagi terjawab tuntas hingga sesi diskusi berakhir. Termasuk pertanyaan pada detik-detik akhir yakni peranan warganet dalam menjaga kelestarian praktik berbagi (sharing), baik daring (online) maupun luring (offline). Persoalan dalam diskusi ini bisa jadi satu hal yang dirasa penting bagi para audiens dan pembicara, tetapi mungkin ini tidak (atau mungkin belum) menjadi perhatian di tingkat akar rumput.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.