Tag Archives: #sorotandokumentasi

Metafora #4 “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Metafora merupakan pameran seni kriya tahunan dari jurusan Kriya ISI Surakarta. Metafora edisi ke 4 ini bertema “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”. Diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang berarti mengetahui atau melihat, mengakrabi, dan menjiwai dalam bekeria. Tema ini, mengutip dari katalog pameran, dimaksudkan untuk merangkum narasi praktek kesenimanan kriya secara utuh dan mendalam. Kriya sebagai seni yang masih mengutamakan sentuhan langsung antara tubuh dengan mediumnya, memang menuntut relasi khusus antara seniman dengan tekniknya, yang pada tahap lebih lanjut bisa dimaknai sebagai pilihan-pilihan politis.

Melalui spirit ini, Metafora #4 memberanikan diri untuk unjuk gigi dengan mendatangkan partisipan dari pihak dosen dan mahasiswa, meskipun tidak sejurusan namun pihak panitia masih membuka kesempatan bagi mereka yang mempunyai keahlian dan keterampilan di bidang itu. Pameran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 3 – 5 Mei 2018, bertempat di Museum Keris Solo. Kurator membagi dua kategori utama wujud presentasi karya dalam pameran ini. Pertama yang tergolong kekaryaan media dwimatra (kain, kertas, kulit). Kedua adalah kekaryaan bersifat trimatra (topeng, panil, benda hias, keramik). Selama pameran berlangsung panitia memberi suguhan beberapa kegiatan seperti Workshop Batuk Bandana, Workhsop Keramik, Workshop Transfer Paper, Workshop Nempa Keris, Workshop Pyrography, Workshop Key Chain, Bedah Karya, dan Mural. Museum Keris Solo yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu kini mulai dipadati dengan kegiatan kesenian yang mulai ramai, dari kegiatan masyarakat hingga instansi kampus.

Pameran yang dibuka oleh Rektorat kampus, Dinas Pariwisata, dan Soegeng Toekio ini menghadirkan lebih dari 70 karya dari berbagai instansi kampus undangan. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Bali namun panitia tetap membuka siapapun bagi yang ingin mengikuti. Spirit ini tetap dibawa dengan kesadaran bahwa pameran bagi penggiat seni adalah kebutuhan yang wajib, dan arena bagi pertanggungjawaban karya seninya. Karya-karya dalam pameran ini menunjukkan berbagai macam teknik dalam kriya, seniman-seniman yang aktif merespon bagaimana perkembangan di era sekarang, yang bahkan tidak terbatas hanya pada teknik, tetapi juga wacana. Dengan hadirnya delegasi dari beberapa kampus ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, Universitas Brawijaya Malang, ISI Padang Panjang, IKJ Jakarta, UNS Solo, UNY Yogyakarta, ASDI Surakarta, dan ISI Denpasar semakin merekatkan relasi sosial antara perupa muda dan jejaringnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI Maret-April 2018

oleh Dwi Rachmanto

Satu pekerjaan penting di periode ini adalah menyeleksi dan mengedit hasil dokumentasi dari tahun 2005-2017, di bantu oleh Sebastian Advent (mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Era digital memang membuat pengambilan foto atau video semakin mudah, kemudian berikutnya yang sangat penting adalah menyeleksi dokumen dengan kriteria standar yang kami terapkan di arsip IVAA. Kami juga dibantu kawan magang bernama Sagita Rani (mahasiswa jurusan fotografi Institut Seni Indonesia Surakarta), secara khusus membantu peliputan dan dokumentasi foto-video. Rani juga mengerjakan repro dokumentasi keluarga Batara Lubis yang berjumlah kurang lebih 800 foto.

Tercatat hingga 10 April kami memperoleh 52 dokumentasi peristiwa seni yang kami rekam sejak awal tahun 2018. Selain peristiwa yang belangsung di Rumah IVAA, kami juga secara aktif meliput acara di luar IVAA sebagai pengayaan arsip IVAA. Pada saat bersamaan, kami juga menginisiasi kerja sama dengan lembaga lain dalam kontribusi arsip mereka. Kami bekerjasama dengan Tyaga Art Management Malang dan Redbase Foundation untuk mengirimkan dokumentasi Pameran Tunggal Citra Sasmita pada IVAA. Sinergi dengan keinginan IVAA untuk aktif dalam distribusi informasi, baik arsip lampau hingga sekarang. Kami menampilkannya di halaman Peristiwa Seni di Online Archive IVAA, diharapkan ini bisa menjembatani penyebaran informasi peristiwa seni yang digagas kawan-kawan perupa dan galeri.

Beberapa highlight peristiwa yang kami catat adalah antara lain Launching Buku Henk Ngantung di Sekolah Pascasarjana UGM, Akuisisi Arsip Keluarga Batara Lubis, Diskusi Gagal 1 Tumbuh 1000 di Mes56, Diskusi Ngaji Dewa Ruci bersama ST Sunardi dan Katrine Bandel di Pondok Pesantren Kaliopak, Pameran Titik Temu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), Pameran Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Pameran Tunggal Dian Suci Rahmawati di Kedai Kebun Forum, Diskusi Peristiwa dan Romantika di ISI Yogyakarta, Pameran Lukisan Abstrak Ronald Effendi dan Santi Ardi di Musem dan Tanah Liat (MDTL), Pameran Bersama Estetika Domestika di IFI-LIP, Diskusi Buku Melampaui Citra dan Ingatan di Universitas Sanata Dharma, Pameran Tunggal Alie Gopal dan Pameran Tungggal Jupri Abdullah di Taman Budaya Yogyakarta, Pameran Bersama Pengilon dan Pameran Tunggal Budiyono Kampret di Bentara Budaya Yogyakarta.

Dalam periode ini, tidak lupa kami juga aktif upload video dokumentasi di channel Youtube IVAA. 25 video telah bertambah dalam daftar koleksi video kami, antara lain seri diskusi forum Made In Common yang diinisiasi oleh Kunci Cultural Studies dan kolega, wawancara Ong Harry Wahyu, wawancara Keluarga Batara Lubis,  Wawancara dengan Alie Gopal, Musrary #7-#9, Aksi Seni ISI Tolak HTI, Survive Garage – Merayakan Keberagaman, dan Pirsa Kuasa Ingatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Ngaji Dewa Ruci: Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini

Oleh: Hardiwan Prayoga

Ngaji Dewa Ruci, adalah acara diskusi berkonsep sarasehan setiap Selasa malam di Pesantren Kali Opak, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Acara bertajuk “Ngaji” ini adalah diskusi ilmiah tentang persoalan yang bersinggungan dengan kajian budaya hingga pascakolonial. Tidak mengherankan jika tagline dari acara acara ini adalah “Mendialogkan Ilmu-Ilmu Pesantren, Kaweruh Jawa, dan Humaniora Barat”. “Pengajian” pertama 13 Maret 2018 dengan pembicara St. Sunardi dengan tema “Quo Vadis Kajian Budaya Indonesia?”, kemudian pada 20 Maret 2018 bersama Katrin Bandel dengan topik kajian “Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini”. Catatan berikut khusus mengulas tentang edisi diskusi bersama Katrin Bandel yang berbicara mengenai colonial present.

Katrin Bandel adalah salah satu pengajar di Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Karir akademiknya fokus pada kajian seputar pascakolonial, gender, dan kesusastraan. Diskusi malam itu berangkat dari pembacaan atas buku Derek Gregory yang berjudul The Colonial Present. Katrin mengawali dengan bagaimana kajian pascakolonial umumnya diajarkan, yaitu seputar bagaimana kolonialisme dan implikasi kolonialisme terhadap budaya. Tentang bagaimana hubungan yang tidak imbang antara negara-negara terjajah dengan negara penjajah, dengan imbas yang cukup panjang di sektor budaya dan ekonomi. Dalam buku The Colonial Present, ditemukan bahwa peristiwa 11 September (9/11) sebagai momen penting atas apa yang disebut sebagai kolonial atau imperialisme baru. Pasca 9/11 retorika dari Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai digencarkan. Retorika ini disebut war on teror.

Menurut Gregory, tindakan menjajah, to colonize, masih terjadi dalam bentuk sangat nyata. Jadi bukan sekadar ideologi imperialis, tetapi memang penjajahan secara fisik masih terjadi. Gregory yang berlatar belakang pendidikan geografi, melihat bahwa batasan geografis bukan sesuatu yang terberi, melainkan berkaitan dengan bagaimana sebuah tempat diambil, yang tidak jarang dengan kekerasan. Salah satu konsepnya yang terpengaruh Edward Said adalah Imaginative Geography. Ini terkait dengan konstruksi stereotype, selalu dikonstruksi bahwa oposisi antara modernitas, yang dikaitkan dengan Barat (kolonial), dihadapkan dengan budaya liyan. Jadi narasi yang muncul selalu “kita vs mereka”. Wilayah-wilayah geografi ini dianggap sebagai papan catur, di mana orang harus berstrategi dengan mengambil, memasuki wilayah tertentu, menguasai manusianya. Gregory mengawalinya dengan melihat ke masa lalu, di mana batas negara selalu warisan kolonial, dan sebagian masalah yang ada sampai saat ini selalu berasal dari momen-momen awal itu. Masalah-masalah yang ada di saat ini sebenarnya berawal dari penarikan garis batas antar Negara, yang berawal dari hanya mengikuti kepentingan kolonial, bukan mengikuti realitas masyarakat setempat.

Barat selalu dikonstruksikan sebagai pusat dunia, dengan kata lain memposisikan diri sebagai pusat dunia yang harus membawa kemajuannya ke tempat-tempat lain. Sementara itu, salah satu spirit dari paskakolonial adalah bahwa masa lalu belum berlalu. Masa lalu yang belum berlalu ini selalu bersifat plural, dalam arti, ada sekian narasi tentang masa lalu. Sekian kejadian di masa lalu, dan pemahaman orang tentangnya kemudian hadir secara riil memengaruhi perilaku orang di masa kini.  Wacana war on terror menjadi usaha baru untuk membuat sebuah narasi tunggal. Di mana otoritas untuk penarasi ada pada pihak tertentu. Dalam kasus pasca 9/11 adalah Amerika Serikat. Jadi ada persoalan penting yaitu narasi tentang geografi, tentang siapa kita-siapa mereka, siapa diri Barat, siapa Timur yang menjadi the Other, juga tentang masa lalu hingga masa kini, dan kemudian persoalan siapa yang punya otoritas untuk bercerita. Ini adalah persoalan relasi kuasa yang sangat penting. Sejak zaman kolonial hingga kini, ruang-ruang tertentu digambarkan/ diwacanakan sebagai asing. Di sini kemudian, Gregory merujuk konsep Edward Said tentang Orientalisme. Orientalisme adalah sebuah repertoar atas sekian imaji yang digunakan sesuai kebutuhan. Pada tingkat lebih lanjut menjadi bangunan arsitektur permusuhan yang performatif. Performatif dalam artian terus-menerus melalui praktik keseharian.

Gregory kemudian fokus membahas bentuk-bentuk awal wacana yang bereaksi terhadap 9/11 di Amerika. Dengan memposisikan diri sebagai korban, Amerika mengajukan pertanyaan, “Why do they hate us?”. Jawaban atas ini dicari pada mereka, pada the Other. Dalam wacana kolonial, selalu penjajah berbicara tentang the Other, yang dijajah, memandang yang lain, memutuskan atau memikirkan bagaimana the Other harus disikapi dengan pandangan yang sangat searah. Pada level selanjutnya, the Other dilihat bukan sebagai manusia dengan kompleksitas historis tertentu, tapi sebagai satu kesatuan yang buruk, yang seakan-akan seperti iblis. Retorika ini kemudian menjadi legitimasi kekejaman, hingga kemudian narasi retorika-retorika berikutnya selalu terasa masuk akal. Dari sekian banyak kelompok manusia dengan ideologi-ideologi yang berbeda, tujuannya berbeda, sejarahnya berbeda, semuanya oleh media Barat disebut sebagai “Islamis”.

Katrin kemudian menyinggung tentang konteks di Indonesia, di mana saat ini pembicaraan tentang ekstremisme cukup mengemuka. Sering kali ada diskusi publik tentang bahaya ekstremisme tidak secara spesifik membedakan antara sekian kelompok dan gejala terkait. Kelompok ini sebetulnya sangat beragam dengan sejarah dan tujuan masing-masing, yang juga berbeda-beda. Katrin mengungkapkan akan jauh lebih menarik kalau dalam hal ini Derek Gregory bisa dijadikan contoh, dengan melihat secara kritis fenomena-fenomena ini, dengan lebih spesifik melihat sejarah dan detail-detail orang/ kelompok yang terlibat di situ. Membaca aspek historisitas kecenderungan retorika masing-masing pelaku, sehingga bisa terlihat konstruksi apa yang sedang dibangun.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Tunggal Alie Gopal: Main

Oleh: Sagita Rani (Kawan Magang IVAA)

“Main, Bermain, Main-Main” adalah tema dari pameran tunggal Alie Gopal yang diselenggarakan pada 15 Maret – 22 Maret 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Alie adalah perupa yang terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2008. Semenjak itu, Alie merasa memiliki hutang yang harus dilunasi. Berawal dari celotehan beberapa teman saat pembukaan pameran tunggalnya Januari 2008 lalu, bahwa mungkin Alie bisa berpameran tunggal dengan karya-karya khasnya sepuluh tahun lagi. Kalimat itu terngiang terus dalam benaknya, Alie terus berupaya untuk merealisasikannya.

Akhirnya Maret 2018 ini, Alie berhasil melangsungkan pameran tunggal ketiganya, seperti apa yang dibayangkannya sepuluh tahun silam. Pameran bertajuk Main ini menceritakan tentang dunia Alie bermain-main. Bermain dalam berbagai presentasi karya seni rupa dua dan tiga dimensi, dengan medium dan ukuran yang beragam tersaji dalam pameran ini. Karya-karya ini dibuat dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018. Dalam hal karya, Alie mengakui jika dirinya lebih nyaman dengan cara berkarya yang bebas dan tidak berpatok. Ia mengaku sangat senang bereksperimen dengan berbagai media. Bereksperimen melalui berbagai media rupanya telah di lakukan oleh Alie jauh sebelum menjadi seorang seniman. Sejak kecil ia mengakui sering membuat benda-benda di rumahnya menjadi bahan eksperimen. Sedikit banyak inilah yang mengilhami judul dan tema pameran tunggalnya kali ini. Alie bercerita bahwa dengan orang tua berlatar belakang militer, sulit baginya untuk tidak mendapat penolakan keras tentang kecintaan dan gairahnya pada dunia seni. Hingga akhirnya, Alie bersekolah di Yogyakarta untuk mendalami seni rupa, perlahan-lahan dukungan dari keluarga datang juga, hingga akhirnya keluarga kemudian sangat mendukung karirnya.

Jarak tahun antar pameran tunggal yang cukup jauh ini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Di samping Alie tetap berusaha konsisten dengan setiap hari terus menerus menghasilkan karya berbentuk apapun. Tetapi, banyaknya ajakan pameran bersama membuatnya bimbang, di satu sisi tidak ingin dianggap sombong jika menolak ikut serta, di sisi lain dia harus mengumpulkan karya untuk pameran tunggal yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri. Adanya kesadaran bahwa eksistensi seorang seniman harus tetap terwujud dalam karya-karyanya, membuat Alie memutuskan beberapa kali “mencomot” karya yang sudah disiapkannya untuk diikutsertakan dalam beberapa pameran bersama.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini pula, Alie lebih sering berperan sebagai partner seniman berkarya. Saat mengikuti pameran bersama pun, karya Alie lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan karya-karya seniman lainnya. Membantu kawan-kawannya untuk mempersiapkan karya dan pameran dalam diskusi yang insentif, bisa jadi membuat Alie kehilangan banyak waktunya sendiri untuk berkarya. Namun, Alie mengakui justru ini adalah proses mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman untuk menghasilkan karya-karya baru. Pameran tunggal ketiganya ini merupakan perwujudan dari proses panjang dan berliku ini, dengan tetap meletakkan imaji-imajinya yang khas.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Fotografi Sukarno, Pemuda & Seni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Suatu galeri seni di sudut Alun-Alun Utara menyuguhkan pameran yang tidak biasa. Dianggap tidak biasa karena subjek yang diangkat dalam pameran ini adalah bapak revolusi Indonesia. Tepatnya di Jogja Galery, Seminar dan Pameran Sukarno, Pemuda, dan Seni yang digelar oleh Komunitas Kinara Vidya, resmi dibuka pada 27 September 2017 lalu. Pameran bisa dinikmati pengunjung pada 27-30 September 2017 pukul 09.00-21.00 WIB. Seminar dan pembukaan diisi oleh Mikke Susanto sebagai pembicara sekaligus kurator. Sukarno merupakan pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Selain negarawan dengan pidatonya yang menggelegar, Ia menaruh perhatian besar dalam dunia seni. Gairahnya diwujudkan dalam koleksinya yang berjumlah ratusan.

Menurutnya karya seni bukan hanya sebagai hiasan saja, namun juga sebagai wujud perjuangan bangsa. Ia tak hanya berjuang untuk kemerdekaan bangsa, namun juga membuka peluang ruang kreativitas. Sukarno pun turut bergelut dalam pusaran seni rupa Indonesia. Tidak hanya sekadar mengagumi keindahan hasil karya seni rupa, Ia juga bisa menggambar. Siapa sangka jika founding father yang dikenal sebagai orator ulung ini pernah berkata bahwa Ia ingin menjadi pelukis ketimbang presiden.

Perjalanan estetikanya tidak lepas dari peranan sang ibunda, perempuan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Ra. Selain itu, Sukarno mulai bergaul dengan banyak seniman sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng, atau sekarang lebih dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejumlah seniman terkenal Indonesia dan berbagai penjuru dunia menjadi kawan akrabnya. Beberapa seniman bahkan didapuk langsung untuk menjadi pelukis istana, sepeti Basuki Abdullah, Dullah, dan Lee Man Fong. Angan-angan nya untuk menjadi pelukis memang tak terwujud, namun koleksinya memberikan makna pada dinamika seni Indonesia. Koleksinya berjumlah ribuan dan masih banyak yang belum sempat terekspos. Koleksi lukisan Sukarno berjumlah ribuan, sampai-sampai Mikke Susanto yang menjadi konsultan kurator lukisan istana kepresidenan, baru mampu mengidentifikasi dua ratusan karya saja. Hal itu dikarenakan senimannya bukan hanya dari Indonesia saja, melainkan dari seluruh penjuru dunia.

Pameran ini menampilkan 130 potret yang menjadi saksi hidup Sukarno, mulai dari kehidupan sehari-hari di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, kegiatan bernegara di istana kepresidenan, maupun lawatan ke luar negeri. Dibalik setiap foto menampilkan kisah yang beragam, seolah-seolah barisan potret yang bercerita pada pengunjung. Koleksi ini merangkum peristiwa dalam periode 1940-1960an. Selain foto-foto reproduksi, buku-buku literatur yang memuat tentang Sukarno dan seni rupa juga ikut serta dalam pameran ini. Pameran ini dihadiri sejumlah pengunjung baik dari pelajar, mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan dengan sosok Sukarno dan seni rupa.

Hal menarik ditandai dalam salah satu rangkaian foto, yaitu ketika istana presiden mendapat kunjungan dari tamu-tamu kenegaraan. Sukarno sendiri yang memandu mereka. Ia menjelaskan tiap detil lukisan yang terpampang di ruangan istana. Tamu akan diberi informasi mengenai kisah-kisah dibalik lukisan-lukisan itu mulai dari proses kreatif, siapa senimannya, makna objek lukisannya, hingga perjuangan mendapat lukisan itu. Hal menarik lain perihal interaksi antara Sukarno dan seni rupa adalah dalam kunjungan Sukarno ke luar negeri, Ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke museum seni atau studio milik seniman di negara setempat.

Sukarno juga melibatkan seniman dalam pembuatan ikon-ikon kenegaraan. Langkah ini dimulai dengan menggaet pematung Edhi Sunarso untuk merancang Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat. Edhi Sunarso merupakan seorang perupa alumni Akademi Seni Rupa Indonesia/ ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta yang diibaratkan sebagai tangan terampil Sukarno. Dalam sub kurasi, ditampilkan foto-foto saat peresmian Patung Pembebasan Irian Barat. Hal ini menujukan seni rupa menjadi bagian penting dalam negara. Oleh Sukarno, melalui seni, bangsa Indonesia diimajinasikan sebagai bangsa yang besar dan kuat.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Serial Diskusi Agraria #3: Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan: Diskusi Agraria, Seni untuk Melawan

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) Fisipol UGM menggelar Serial Diskusi Agraria #3 di Selasar Barat Fisipol UGM, Senin (19/3). “Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari serial diskusi sebelumnya. Jadi diskusi diadakan tiga kali, pertama 19 Februari dengan tema Dasar-Dasar Agraria, kedua 5 Maret Agraria dan Industrailisasi, dan terakhir Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan.” ungkap Suci selaku ketua bidang keilmuan. Pada diskusi kali ini KAPSTRA menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andrew (Teman Temon), Dwi Rahmanto (Indonesia Visual Art Archive/ IVAA), dan Pitra Ayu (peneliti dan project coordinator Engage Media Yogyakarta).

Diskusi dibuka dengan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dipopulerkan oleh Fajar Merah, dibawakan salah seorang mahasiswa UGM. Lagu tersebut begitu relevan dengan keadaan sekarang di mana perampasan tanah atas nama pembangunan marak dilakukan, begitu sedikit pengantar dari moderator diskusi Asri Widayanti.

Andrew mengawali pembicaraan dengan menceritakan keadaan warga terdampak penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Untuk merespon itu, menurut Andrew, Teman Temon sering melakukan kegiatan. Selain itu seni berperan penting dalam menjalin komunikasi antar warga. “Seni berperan sebagai medium komunikasi dengan warga, dan juga mengomunikasikannya keluar” ungkap Andrew. Andrew mencontohkan, saat mereka membuat mural di salah satu rumah, warga lainnya menyambut dengan ingin juga dibuatkan mural. Andrew dan kawan-kawan mengatakan bahwa tidak menyarankan warga harus ikut seni tertentu, itu hanyalah salah satu cara. Namun, alih-alih seni, Andrew lebih sepakat dengan menyebutnya sebagai produk kreatif.

Pembicara kedua, Dwi Rahmanto yang menguasai seni dan kaitannya dengan agraria mencoba membeberkan catatan-catatan di IVAA, di antaranya merespon isu-isu agraria dan kebutuhan air di kota yang dibalut dalam bentuk aksi dan festival. Menurutnya pembangunan mall dan bangunan vertikal lainnya di Yogyakarta sebenarnya sudah dibayangkan sebelumnya, dan sekarang isu-isu tersebut benar adanya. Dwi menambahakan adanya dorongan karya seni untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya ada unsur-unsur bagaimana masyarakat juga berperan, sehingga memang karya seni harus kontekstual dengan masyarakatnya. “Dari hampir semua kemunculan karya-karya itu, kemudian banyak hal yang muncul di sana, salah satunya adalah forum-forum dengan pembahasan spesifik mengenai seni rupa dan sosial” ungkapnya.

Sedang menurut Pitra, ada upaya untuk menggiring orang pada sesuatu. Terkadang menemukan proses pembekuan kerja seni tanpa mengajak pihak-pihak yang mengaksesnya memahami, dan bersama-sama memetakan persoalan. Ini memang, menempatkan seni dalam strata lebih rendah, sehingga jadi betul-betul bisa menjadi alat peraga. “Ada suatu masa yang mempersoalkan seni sebagai alat sehingga ia dihaluskan menjadi medium atau sarana.” Ungkap Pitra. Ia membagi karya menjadi ilustratif, dokumentatif, dan kontemplatif. Katanya, mungkin masalahnya ada pada yang ketiga, ketika mencoba melepaskan diri dari persoalan.

Dari serial diskusi agraria tersebut Suci menyatakan bahwa, tujuan acara ini diadakan agar civitas akademik bisa sadar terhadap berbagai macam isu mengenai agraria. Peserta yang hadir pun tergolong banyak, terdiri dari berbagai macam latar belakang. Suci mengungkapkan bahwa secara akumulatif, diskusi dalam tiga hari ini diikuti total sebanyak 250 peserta.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI Januari-Februari 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Sekitar 13 peristiwa seni yang tercatat di penerimaan dokumentasi IVAA dalam periode ini, di antaranya kerjasama dengan Museum Taman Tino Sidin berkaitan dengan pameran Sketsa Mengenang Batara Lubis (salah satu pelukis angkatan sanggar pelukis rakyat tahun 1960-an). Di bulan Februari juga berlangsung “Festival Guyub Murub, festival berlokasi di pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Diikuti beberapa seniman dari berbagai bidang; seni rupa, seni pertunjukan, seni media, dan sebagainya, acara ini merupakan bentuk solidaritas seniman pada isu agraria di Yogyakarta.

Tiga kawan magang di bidang dokumentasi banyak membantu kami di bulan Desember 2017-Februari 2018, yaitu Lauren Paterson dari Australia yang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies), Sebastian Advent mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sagita Rani mahasiswi Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan Media Rekam – Fotografi. Kawan-kawan kami ini berkontribusi dalam kerja dokumentasi, pencatatan arsip, pengolahan arsip, hingga pengelolaan berbasis online IVAA.

Beberapa hasil dokumentasi yang kami kerjakan bersama ini, diantaranya ialah; video tentang pameran bertajuk “900 MDPL”, program yang di kuratori oleh Mira Asriningtyas (Lir Space) ini, merupakan sebuah proyek seni site-specific di Kaliurang, sebuah desa di selatan kaki Gunung Merapi. Bertujuan merespon ruang dan mengumpulkan cerita, program ini berharap bisa menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan antara seniman dan warga setempat.

Sedangkan dalam sektor internal IVAA, guna meningkatkan kerja-kerja dan pelayanan pengarsipan, kami menyelesaikan catatan Standard Operating Procedures (SOP) untuk bidang dokumentasi, pengarsipan, pengelolaan portal online, dan perpustakaan. SOP ini akan mempermudah kami dalam memahami kronologis dan mengevaluasi workflow yang selama ini berlangsung. Dalam diskusi dan penyusunanya, kami di bantu oleh Melisa Angela.

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Benih 900 Mdpl

Oleh: Dwi Rachmanto

Pagi itu saya berangkat bersama Advent, kawan magang IVAA yang menangani dokumentasi foto, menempuh dua jam perjalanan dari tengah Kota Yogyakarta menuju acara yang berlokasi di Kaliurang, kaki bukit kecil di selatan Gunung Merapi. Kaliurang sendiri termasuk wilayah Kabupaten Sleman yang kurang lebih berjarak 25 Km dari pusat kota. Para geolog Belanda mengatakan bahwa dulu Kaliurang difungsikan sebagai situs peristirahatan di zaman kolonial. Kini, Kaliurang menjadi tempat wisata alam yang populer dengan udaranya yang sejuk, dan potensi alam dari hasil erupsi Gunung Merapi.

Anggun Priambodo, Dimaz Maulana, Dito Yuwono, Edita Atmaja, Eva Olthof, Maryanto, Mella Jaarsma, Sandi Kalifadani, Simon Kentgens adalah 9 seniman dari berbagai bidang yang terlibat dalam proyek seni dengan bertajuk “900 mdpl” ini. Tajuk ini terinspirasi dari letak Kaliurang yang berada di ketinggian rata-rata 900 meter di atas permukaan laut. Proyek seni ini ingin merespon ruang dan mengumpulkan cerita, dengan harapan mewujudkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang melibatkan komunitas warga lokal melalui kerja seni kolaboratif.

Udara yang sejuk di Kaliurang membuat kami bersemangat menghadiri pembukaan ini, meskipun menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Kami langsung bertemu Mira Asriningtyas (kurator, sekaligus penggagas proyek ini). Mira merupakan akamsi  (anak kampung sendiri) di wilayah kaki bukit Merapi. Dia juga mendirikan dan mengelola art space bernama Lir Space di Kota Yogyakarta. Kemudian Mira menyambut kami dengan sepasang cangkir teh panas sebagai penawar dingin, sekaligus teman percakapan tentang rangkaian proyek ini.

“900mdpl” terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, masa residensi yang menghasilkan proyek seni tunggal dari masing-masing seniman. Di sini setiap seniman melakukan riset di tengah-tengah masyarakat untuk memperdalam gagasannya. Bagian kedua yaitu presentasi karya secara bersamaan di beberapa lokasi berbeda di Kaliurang. Konsep ini menarik karena dinikmati dengan berjalan kaki mengunjungi setiap sudut lokasi. Jalan kaki menjadi aspek partisipatif yang kemudian melahirkan ruang pengalaman yangsecara aktif menjalin narasi antar karya setiap seniman.

Acara ini diawali dengan perkenalan project “900mdpl” di Rumah Makan Joyo. Pengunjung digiring untuk mengikuti narasi pertama dengan mengunjungi lokasi dari karya seni Maryanto. Berada ada di bekas rumah Lik Sigun, yang dipenuhi dengan memori kolektif dan anekdot lokal tentang seorang pria unik. Selama hidupnya, Lik Sigun hidup damai di rumah tersebut, terbebas dari dunia yang riuh dan bising. Kini, rerumputan liarmemenuhi seluruh ruang rumah yang lama tak terpakai itu. Namun, Maryanto yang merapikan rumah itu dan menemukan peninggalan-peninggalan patung serta barang menarik lain.

Kemudian, setelah Maryanto, kami diajak ke sebuah penginapan dan cafe yang melegenda, yaitu Vogels. Seniman yang berkarya di sana adalah Mella Jaarsma. Mella adalah warga Belanda yang menetap di Yogyakarta sejak tahun 80an. Mella menuntaskan rindu terhadap negaranya yang dingin dengan mengunjungi Kaliurang. Dalam proyek seni ini dia membuat karya performatif memasak coklat dan susu yang bisa dinikmati tiap pengunjung dan pemilik cafe. Selanjutnya secara berurutan kami diajak mengunjungi karya Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Dimaz Maulana, Sandi Kalifadani, Edita Atmaja, Eva Olthof, Simon Kentgens. Di akhir kami kembali ke Rumah Makan Joyo.

“900mdpl” diproyeksikan sebagai benih dari proyek seni site-specific yang berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya. Dengan gagasan utama menawarkan ruang yang penuh dengan berbagai potensi kemungkinan, sekaligus meleburkan batasan subjek dan objek seni dengan seniman ditantang untuk berkolaborasi dengan masyarakat/publik secara langsung.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Tribute to Tino Sidin

Oleh: Dwi Rachmanto

Acara Tribute to Tino Sidin ini mengambil judul “92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Tino Sidin adalah nama yang lekat di era 80-an dengan ungkapan “Ya, bagus”. Sebuah pelajaran penting bagaimana kita menghargai sebuah coretan/gambar, yang apapun Tino Sidin akan bilang itu bagus. Tino Sidin sangat akrab dengan pelajaran menggambar khususnya untuk anak TK sampai SD. Caranya menggambar tidak bisa dipungkiri, telah menginspirasi dan mendorong anak-anak di masanya untuk berani, dan tidak merasa bersalah kalau gambarnya dirasa kurang proporsional.
Tino Sidin lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925. Dia adalah seorang pelukis sekaligus guru gambar yang populer melalui program di TVRI. Tino Sidin menemukan metode pelajaran seni menggambar kepada anak-anak dengan santai, menyenangkan, dan mudah. Metode ini membuat anak-anak tertarik untuk selalu menyaksikan program televisinya. Tino Sidin meninggal pada 25 Desember 1995 pada usia 70 tahun.
Pasca kepergianya, keluarga menginisiasi museum, yang terletak di Jalan Tino Sidin 297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Provinsi Yogyakarta. 4 Oktober 2014 menjadi tanggal dibukanya museum bernama “Museum Tino Sidin”. Peresemian dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Muhammad Nuh. Museum ini dibangun tanpa merubah desain asli dari rumah tinggal Tino Sidin, hanya menambah beberapa ruangan yang dijadikan sebagai sanggar dan perpustakaan. Desain arsitekturalnya dikerjakan oleh Yoshi Fajar.

Museum Tino Sidin menyimpan memorabilia Tino Sidin mulai dari kacamata, cat, kuas, dan tak ketinggalan koleksi baretnya yang khas. Museum ini juga menampilkan karya lukis, sketsa, buku, termasuk arisp-arsip pribadi. Juga menampilkan koleksi foto-foto, kliping media massa, surat-surat pribadi, selebaran peristiwa, sertifikat maupun penghargaan yang pernah diterimanya, lengkap dengan testimoni para sahabat dan murid beliau. Berbagai koleksinya masih tersimpan rapih, dan kemudian dipresentasikan dengan baik. Kesadaran akan arsip sangat diperhatikan di museum ini.
Kemudian di penghujung 2017, tepatnya pada 14 Desember diadakan acara bertajuk “Tribute to Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Salah satu dari rangkaian acara ini adalah Peresmian Patung Tino Sidin dan Pembukaan Pameran, yang dihadiri oleh beberapa pejabat negara, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, M.pd., Mantan Kapolda DIY, Purn. Irjen Haka Atana, BBPH H. Gusti Prabu Kusumo, Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, seniman-seniman dan Ikatan Istri Senirupawan Yogyakarta (Ikaisyo), para panitia Parallel Event Biennale Jogja XIV, IVAA dan tamu undangan. Pembuatan patung Tino Sidin ini merupakan buah karya dari seniman bernama Yusman.

Selain persemian dan pameran lukisan, diadakan pula serangkaian acara berkonsep sarasehan, diselenggarakan pada 23 Desember 2017 dan menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani. Berbagai acara dalam sarasehan tersebut adalah tour museum dan pameran, dialog dengan seniman-seniman terlibat, dan tak lupa menggambar bersama dengan anak-anak sambil mengikuti arahan bapak Tino Sidin seperti era 80an di TVRI.

Sudah barang tentu museum memang memberi satu pelajaran, tentang bagaimana proses-proses kreatif dan berkesenian. Museum Tino Sidin dapat menjadi salah satu wujud dari museum pribadi seniman yang mampu mengeksperikan, mempresentasikan pengalaman dan pengetahuan dari proses tersebut. Tino Sidin dengan peninggalan semangat estetiknya telah mengajarkan, bahwa yang utama bukan melulu soal gedung besar nan megah, tetapi temuan isi dari museum tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#Sorotan Dokumentasi September – Desember 2017

Seni Sibuk di Akhir Tahun 2017;
Sekilas Sorotan Dokumentasi

Oleh: Dwi Rachmanto

Salah satu agenda dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XIV 2017 adalah program bersama komunitas dan galeri seni di Yogyakarta, yang dirangkum dalam Paralel Event. Agenda ini bercabang menjadi 47 program dalam 30 ruang dan melibatkan 300 seniman sepanjang putaran satu purnama lebih, 29 Oktober – 03 Desember 2017.

Kuantitatif event ini cukup membuktikan bahwa Yogyakarta sebagai pusat perhelatan seni rupa di Indonesia. Apresiasi pun tak pernah surut, baik oleh penyelenggara event, seniman, penikmat seni maupun masyarakat umum atas presentasi karya seni yang tanpa henti.

Berjalan mundur dari penyelenggaraan Paralel event Biennale Jogja XIV, kita bisa melihat berbagai kegiatan dengan turunan program dalam jumlah cukup besar. Sebut saja Jogja International Art Festival pada 22 – 26 Oktober 2017. Sejumlah seniman dari Asia –Eropa turut terlibat dalam pameran bersama ini.

Keterlibatan seniman internasional juga terlihat dalam Jogja Street Sculpture Project #2, yang dimulai bersamaan dengan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Event yang dikelola oleh Asosisasi Pematung Indonesia (API) ini, melibatkan seniman patung dari Yogyakarta sendiri, luar kota, dan luar negeri. 54 karya dari 50 pematung menghias wilayah heritage Kotabaru, Yogyakarta.

Sementara itu, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) juga urun dalam meramaikan seni di Yogyakarta sejak 19 September – 1 Oktober 2017. Selama 12 putaran matahari itu, IVAA menyelenggarakan Festival Arsip di Pusat Kebudayaan Hadisoemantri (PKKH) dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rangkaiannya, selain pameran seni rupa berbasis Arsip yang melibatkan 15 seniman atau kelompok, juga ada pameran komunitas, bursa arsip, dan Seminar Internasional. Secara kuantitatif, keterlibatan seniman, pekerja seni, serta komunitas seni dan budaya tidak kurang dari angka 300.

Dua bulan sebelum IVAA, Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyita perhatian warga Yogyakarta selama 18 – 31 Juli 2017. Mereka menggelar Pekan Seni Grafis Yogyakarta untuk kali pertamanya di Jogja Nasional Museum.

522 KM dari Yogyakarta, di Jakarta ada Inaugurasi Museum MACAN dengan judul “Seni Berubah. Dunia Berubah.” Melalui pameran ini, kita diajak menjelajahi koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang memajang 90 karya seniman Indonesia dan internasional sebagai koleksi dari museum itu sendiri. Dikurasi bersama oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi narasi sejarah seni Indonesia dengan dunia dalam kurun waktu 178 tahun.

Di sisi lain ibu kota, perhelatan Jakarta Biennale 2017 dengan judul “JIWA” digelar. Penyelenggaraan event tahunan ini berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Sepanjang 4 November – 10 Desember 2017, rangkaian event ini ingin mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Beberapa museum pun digaet demi keberhasilan kegiatan Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto. Biennale kali ini melibatkan 52 seniman dari dalam negeri maupum mancanegara.

Selain Yogyakarta dan Jakarta, beberapa kota lain juga menggelar event yang serupa dan waktunya tidak terlalu terpaut jauh. Di Makassar kita mengenal Makassar Biennale, yang tahun ini bertajuk Maritim. Event ini dibuka di Pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ada juga Biennale Jatim yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Tidak kurang dari 55 event yang berhasil dirangkum oleh Tim Dokumentasi IVAA sepanjang Oktober – November 2017. Dokumentasi itu kini disimpan dan dikelola secara rapi dan tertata. Dari seluruh kegiatan tersebut, Festival Arsip menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah agenda, yakni 103 agenda. Pendokumentasi sekian banyak kegiatan itu tidak dilakukan oleh awak IVAA sendiri, melainkan dibantu oleh mahasiswa magang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari Jurusan Tata Kelola Seni maupun Media Rekam.



Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.