Tag Archives: #sorotandokumentasi

Penanda Kosong: Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo

Oleh: Hardiwan Prayogo

Nindityo Adipurnomo, seniman yang bermain dengan berbagai medium. Ini yang tampak dari pameran tunggalnya Penanda Kosong. Pameran yang dilangsungkan di Gallery Semarang dari 22 November-30 Desember 2018 ini memamerkan karya-karya 2 dan 3 dimensional. Pameran ini dibuka dengan sambutan dari beberapa orang, yang intinya ingin membicarakan tentang posisi Nindityo sebagai seniman dengan refleksi dan pemaknaan ulang mendalam atas realitas yang terwujud dalam karya-karyanya.

Dengan menggunakan 2 lantai galeri, audiens akan disuguhkan lebih banyak karya 3 dimensional di lantai pertama. “Penanda Kosong #13” adalah karya yang dibuat dari konstruksi rotan pirit dan kasur lurik. Berjumlah 5 karya, didesain sedemikian rupa, dengan display menggantung dan diletakkan di lantai. Selain itu karya 3 dimensional lainnya berjudul “Gamelan Toa”. Karya ini ingin mengedepankan pengalaman aural audiens. Dengan menampilkan 7 kain batik berukuran besar, dan di antaranya terdapat semacam cetakan wajah. Karya ini mengajak kita untuk berinteraksi, dengan meletakkan kepalanya di cetakan wajah, maka audiens tidak akan bisa melihat apapun, hanya mendengar suaranya sendiri. Karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di pameran Serupa Bunyi Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 2018.

Karya lainnya didominasi karya 2 dimensional. Hampir seluruhnya diberi judul “Penanda Kosong” yang diikuti dengan tanda pagar. “Penanda Kosong #11”, bermedium cetak flat bed di atas tikar mendong. Medium ini tentu bukan yang lazimnya digunakan untuk karya 2 dimensional, khususnya seni lukis. Karya lain berjudul “Penanda Kosong #1”, dengan medium charcoal, gouache, dan cetak flat bed di atas kertas. Kemudian medium charcoal, gouache, pastel, dan cetak flat bed di atas kertas untuk karya berjudul “Penanda Kosong #3” dan “Penanda Kosong #5”. Selain itu masih banyak karya dengan bahan serupa. Satu yang juga menarik adalah disediakannya 3 album foto yang berisi kliping, potongan pamflet, hingga dokumentasi yang berkaitan dengan isu yang dominan diangkat Nindityo, yaitu religiusitas. Total terdapat 22 seri karya berjudul “Penanda Kosong”. Dari sedemikian banyak karya, “Penanda Kosong #17” bisa dikatakan yang paling provokatif dan eksplisit. Pesan dan isu yang diangkat sangat jelas, yaitu agama.

Pameran Tunggal Nindityo kali ini nampaknya ingin lebih dekat dengan isu aktual, meski tidak seluruh karyanya secara eksplisit mewujudkan itu. Bisa jadi ini bagian dari cara tutur Nindityo dalam membahasakan ulang realitas. Seperti seri karya Konde, yang dibuatnya untuk membicarakan tentang perempuan, jawa, dan sensualitas. Maka Penanda Kosong, tidak hanya ingin dimaknai dari aspek kesenian yaitu eksplorasi medium, tetapi juga menyentuh konteks yang lebih aktual, yaitu agama dan kepercayaan. Kewajiban beragama seolah hanya menjadi penanda kosong dalam kolom KTP. Lebih jauh, Nindityo tidak hanya ingin mewujudkan gagasan melalui karya seni, tetapi melalui konstruksi kompleksitas pameran dan keterkaitannya dengan sistem kerja medan seni rupa kontemporer saat ini. Penanda kosong juga merupakan upaya pemaknaan ulang atas tanda-tanda yang diklaim secara sepihak dan melekat pada diri dan sekitar kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Seni Politik Taring Padi

Oleh Dwi Rahmanto

Bara Lapar Jadikan Palu, judul pameran Taring Padi (TP) yang cukup provokatif di antara sekian banyak pameran yang berseliweran di bulan-bulan ini. Pameran yang digagas oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merupakan rangkaian pameran yang menampilkan kelompok/komunitas seni di Indonesia, setelah sebelumnya menghadirkan Sanggar Bambu pada 7 Desember 2017 di tempat yang sama yakni Galeri RJ Katamsi Yogyakarta. Dalam sambutannya Arya Sucitra (Kepala Galeri Katamsi ISI Yogyakarta) menyebutkan beberapa unsur yang mendasari pemilihan Taring Padi, yaitu karya mereka teruji prestasi dan keilmuan, kemampuan komunitas berkontribusi secara akademik di medan seni rupa, dan kesesuaian dengan fungsi Galeri RJ Katamsi sebagai ruang transfer pengetahuan khususnya di ranah pendidikan.

Taring Padi, kelompok yang dibentuk pada 21 Desember 1998, sebagai sebuah organisasi budaya progresif, menetapkan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali “Budaya Kerakyatan”, dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong perubahan demokratik yang berwatak populer di Indonesia. Mukadimah Taring Padi ditandatangani sejumlah aktivis budaya, mahasiswa, pekerja seni, dan pelukis otodidak. (https://www.taringpadi.com/)

Kembali ke judul pameran ini, dengan frasa ‘bara lapar’, saya jadi membayangkan gerakan 1998. Ketika mereka bersama anak-anak muda yang benar-benar haus atas nilai-nilai keadilan berhadapan dengan musuh bersama (Orde Baru), tidak sekali dua kali saja mereka terlibat aksi. Dengan memilih Lembaga Bantuan Hukum sebagai tempat mendeklarasikan diri, kehadiran Taring Padi menjadi satu tanda bahwa tarik-menarik antara pemerintah dan masyarakat sipil menjadi tanda perlawanan atas kegagalan rezim otoriter Orde Baru. Mereka tegas menggunakan istilah seni untuk rakyat dan menentang istilah seni untuk seni.

Banyak sekali aksi yang mereka rancang. Salah satu yang sering dilakukan adalah terlibat aktifnya mereka di dalam gerakan menurunkan Soeharto di sepanjang Malioboro dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aksi seni budaya dengan membuat propaganda visual berbentuk rontek, boneka, poster, wayang dan instalasi dengan kolaborasi bersama kawan-kawan aktivis memberi nilai dalam cara-cara menyuarakan pendapatnya.

Di pembukaan pameran ini saya sempat bertemu dengan Muhammad Yusuf dan Setu Legi sebagai anggota pendiri yang masih aktif sampai hari ini. Terkait tentang apa yang membuat Taring Padi sangat progresif di tahun itu, dengan sedikit berkelakar, dia menyebut bahwa di zaman itu memang kepentingannya tidak sebanyak sekarang. Bahwa kelompok ini hadir dengan ideologi yang sangat dipegang teguh, memilih di mana mereka harus bergerak, berani menolak yang berseberangan dengan ideologi mereka, dan pastinya para anak muda ini tidak terbanjiri kepentingan keluarga dan sosial media yang seperti sekarang ini menyibukkan orang-orang. Mungkin juga, Bara dan Lapar akan berbeda bunyinya ketika dikontekstualisasikan dengan jaman sekarang.

Di saat generasi pertama sudah cukup dengan pertarungan di dalam dirinya sendiri, pameran retrospektif Taring Padi ini dikelola oleh generasi kedua dari mereka. Masih dengan anak-anak muda yang mempunyai energi bara dan lapar, Taring Padi tetap menganut sistem keanggotaan terbuka yang prasyaratnya adalah komitmen terhadap garis kerakyatan seperti sejak awal mereka berdiri. Merujuk kepada Bayu Widodo, Fitri DK dengan Survive Garage-nya, pameran 20 Tahun Taring Padi ini menjadi penanda pergeseran dan perubahan kepentingan para anggota di dalamnya. Meski demikian, mereka tetap menawarkan isu-isu kerakyataan di dalam kesenian sampai saat ini.

Seorang pematung Dolorosa Sinaga dalam sambutannya menyebutkan bahwa Taring Padi merupakan contoh bagaimana sebuah kelompok yang menajamkan wilayah seni rupa ke ‘seni politik’ menjadi inspirasi bagi banyak kelompok seniman di luar Yogyakarta dengan serangkaian isu kemanusiaan. Disposisi semacam ini dilakukan sejak sebelum dan pasca reformasi. Dolorosa merupakan satu dari sekian orang yang ikut menyaksikan deklarasi TP 20 tahun yang lalu.

Indonesia sendiri mengalami banyak periode gerakan di ranah visual. Peristiwa Desember Hitam (1974), pameran Kepribadian APA (1975, 1979), dan Gerakan Seni Rupa Baru (1975-1979) adalah sebagian dari aksi-aksi ketidakpuasan paling fenomenal yang tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia era 1970-an. Ketiganya bisa dibilang sebagai upaya mengembalikan muatan sosial-politik ke dalam seni rupa, sekaligus memperluas “kemungkinan berkarya” dengan merontokkan sekat-sekat kategoris dalam seni rupa Indonesia selama ini (http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3878). Taring Padi merupakan generasi selanjutnya yang punya metode sendiri dalam membicarakan isu sosial politik di Indonesia sebelum reformasi dan sesudah reformasi.

Pameran Taring Padi ini dibagi menjadi dua lantai. Di lantai bawah mereka menampilkan karya-karya poster, banner, dsb yang menjadi saksi kehadiran mereka di gerakan seni dan budaya. Di lantai ini kita akan dituntun untuk menyaksikan propaganda-propaganda menarik yang dikerjakan secara kolektif. Ada satu ruangan khusus yang didedikasikan untuk Eks Presiden Taring Padi, yakni Almarhum Yustoni Volunteero.

Kemudian di lantai atas merupakan karya baru kolaborasi mereka, menampilkan arsip-arsip sebagai bagian dari pameran. Arsip-arsip ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang kelompok ini. Bambang Toko sebagai kurator menyebut bahwa karya dan arsip yang dipamerkan sangat fungsional dan menjadi refleksi Taring Padi. Juga, kita bisa tahu bagaimana isu kerakyatan dan sepenggal situasi sosial politik Indonesia selama 20 tahun disampaikan secara visual.

Pameran ini mungkin bisa menjadi pemantik atau palu bagi Taring padi sendiri dan kawan kawan yang bergerak di isu sosial politik. Setiap zaman pasti berbeda dan akan memberikan tantangan lain dalam gerakan sosial politik dan seni rupa secara spesifik. Akan ada banyak metode gerakan/ aktivisme yang bisa dipelajari, dan tentunya harus mengarah pada capaian-capaian yang nyata di masyarakat. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa pameran ini menjadi bagian dari pembelajaran bersama merenungkan daya yang bisa merubah bara lapar menjadi palu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara

Oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Keprihatinan atas ketidakterhubungan satu dengan yang lain, terutama mengenai bagaimana kolektif bekerja, menjadi latar belakang dibentuknya Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara (selanjutnya disebut Arisan). Ace House Collective, sebuah kolektif yang menempatkan diri sebagai laboratorium seni bergaya visual popular dan merespon konsumerisme visual, menjadi inisiator dari proyek Arisan ini. Tujuan dari Arisan adalah membentuk forum dialog sebagai katalisator untuk membuka rahasia dapur beberapa kolektif, dengan intensi yang saling dipelajari dan dikritisi. Sebagai platform awal, beberapa hal yang ingin diupayakan adalah perumusan pengetahuan tata kelola ruang, modus untuk tetap eksis, dan jejaring kolektif seni se-Asia Tenggara.

Arisan ini diikuti oleh sebelas kolektif yang berasal dari Yogyakarta dan wilayah lain di Asia Tenggara. Dari Yogyakarta, beberapa kolektif itu adalah Krack! Studio, Lifepatch, Ruang Gulma, Ruang MES 56, dan SURVIVE! Garage. Lalu dari wilayah Asia Tenggara, ada Tentacles (Bangkok, Thailand), Tanah Indie (Makassar, Indonesia), WSK! (Manila, Filipina), Rumah Api (Kuala Lumpur, Malaysia), Rekreatif (Dili, Timor Leste), dan Gembel Art Collective (Dili, Timor Leste). Selain kolektif-kolektif partisipan di atas, proyek ini didukung oleh tim lain seperti penanggung jawab program, fasilitator, dan pencatat proses. IVAA dalam kesempatan kali ini mendapat peran sebagai dokumentator.

Proyek yang bisa dikatakan cukup ambisius ini, mengingat cakupan wilayah Asia Tenggara yang hanya diwakilkan oleh sebelas kolektif saja, digelar selama kurang lebih 7 minggu, dari 10 Oktober-26 November 2018. Dalam waktu yang cukup singkat ini, Arisan dibingkai dengan 4 topik, yakni dasar gagasan (ideologi) pembentukan kolektif, pengelolaan program (modal kultural), pembangunan jaringan (modal sosial), dan strategi ekonomi (modal ekonomi).

Dari keempat topik di atas, rencana pelaksanaan Arisan semula diproyeksikan dengan format presentasi dan diskusi interaktif oleh masing-masing kolektif dengan arahan fasilitator. Berdasarkan 4 topik pembingkai, presentasi dan diskusi akan dilakukan selama 4 minggu. Namun, format semacam ini hanya bertahan selama 2 minggu pertama, untuk kerangka topik ideologi dan modal kultural. Beberapa hal yang dibicarakan adalah alasan dan gagasan pembentukan kolektif beserta garis perjuangannya (politis ataupun artistik), serta aliansi seperti apa yang dibangun untuk menopang aktivitas kolektif dan bagaimana kolektif menghidupinya.

Format presentasi dan diskusi, meski interaktif dan dilengkapi minuman fermentasi sebagai stimulus antusiasme, ternyata membuat beberapa partisipan merasa bosan. Seolah menjadi hambar ketika Arisan, sebagai platform awal pembentukan kolektif seni Asia Tenggara, tidak melibatkan dimensi praktik. Kebosanan ini nampak ketika dalam proses diskusi, muncul obrolan-obrolan kecil (obrolan di dalam obrolan) dari beberapa partisipan. Tak jarang juga ketika diskusi berlangsung cukup lama, beberapa orang nampak tidur atau sekedar melamun. Oleh karena itu, pada minggu 3 dan 4, mekanisme atau format Arisan diubah menjadi diskusi dan perumusan proyek bersama. Jika pada minggu 1 dan 2 sudah membicarakan topik ideologi dan modal kultural, pada tahap ini lebih menekankan penerapan topik modal sosial dan ekonomi.

Ada beberapa poin penting yang muncul di tahap kedua. Pertama, mengenai pendanaan program Arisan. Pendanaan yang berasal dari Dana Keistimewaan Provinsi DIY ini sempat menjadi sumber perhatian. Ruang Gulma, kolektif muda dengan spirit kemandiriannya, bersikap hati-hati dengan pendanaan ini. Selain itu, Rumah Api, sebagai kolektif yang anti otoritarianisme, semula mengira bahwa pendanaan Arisan dilakukan dengan etos DWO (do it with others).

Kedua, dengan metode kocokan (lotre), layaknya acara arisan pada umumnya, dirumuskanlah 6 proyek yang akan dikerjakan secara kolaboratif. Enam proyek dengan komponen anggota yang sudah campur antar kolektif ini, menjadi manifestasi penyelarasan topik dengan praktik, sekaligus peleburan hubungan tuan rumah (kolektif-kolektif dari Yogyakarta) dan residen (kolektif dari Makassar dan wilayah lain di Asia Tenggara). Proyek-proyek itu adalah Pusing-pusing, Commons Credit Cooperative (CCC), pameran fotografi, Trashure, Arisan-lab, dan Spirit Tenggara.

Pusing-pusing adalah sebuah proyek panggung musik keliling yang akan tampil di empat titik di Kota Yogyakarta. Keempat titik itu adalah perempatan Taman Siswa, Pakualaman, Kridosono, dan Tugu. Dengan hanya berbekal ijin dari warga sekitar, tanpa mengajukan ijin ke pihak kepolisian, Pusing-pusing ingin menguji keamanan ruang publik Yogyakarta sebagai ruang ekspresi.

Commons Credit Cooperative (CCC) adalah sebuah proyek koperasi yang menekankan sistem pertukaran keahlian dan alat dari para anggotanya. Setiap sumber daya yang diinvestasikan akan dihitung atau diukur sebagai kredit. Kredit itu selanjutnya bisa ditukarkan dengan sumber daya lain. Tujuan dari CCC adalah untuk memetakan dan mengatur sumber daya dalam rangka mendukung produksi artistik para anggota.

Selanjutnya adalah pameran fotografi. Dengan tema mobilitas, para seniman partisipan Arisan yang terlibat didorong untuk menafsirkan dan mengkontekstualisasikan konsep mobilitas ruang dan waktu ke dalam material foto.

Isu lingkungan juga menjadi perhatian khusus dari Arisan. Hal ini termanifestasikan ke dalam Trashsure. Trashsure adalah sebuah proyek pengumpulan sampah hasil dari aktivitas seni, yang kemudian dikelola melalui Workshop Trashsure.  Melalui workshop itu sampah direspon ulang menjadi instrumen musik yang nanti akan digunakan untuk mendukung pertunjukkan musik yang mereka gelar.

Selanjutnya adalah Arisan-lab. Gagasan untuk membantu pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste menjadi dasar proyek ini. Arisan-lab, yang bisa dikatakan sebagai proyek perpustakaan, dilakukan dengan dua mekanisme kerja. Pertama, untuk jangka pendek, diterapkan mekanisme bagi setiap pengunjung di proyek-proyek Arisan yang lain untuk membawa satu buku sebagai tiket. Buku itu selanjutnya akan disumbangkan untuk pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste. Untuk mendukung mekanisme jangka pendek ini digelar juga workshop membajak dan mencetak buku, serta pembuatan zine kolektif. Sedangkan untuk mekanisme jangka panjang, akan dibuat buku audio dan sebuah platform berbagi secara digital berupa database buku elektronik beserta review dari buku-buku yang relevan.

Terakhir, sebagai penguat simpul ikatan kolektif Arisan, Spirit Tenggara hadir. Pada dasarnya proyek ini merupakan usaha untuk berbagai pengetahuan berbasis potensi lokal. Salah satunya adalah proses pembuatan minuman fermentasi sebagai respon atas ekspansi industri modern yang menggerus proses produksi rumahan. Resep dari minuman ini juga dirumuskan agar dapat diimplementasikan sesuai konteks geo-spasial dari masing-masing kolektif partisipan Arisan. Untuk lebih mempererat ikatan kolektif ini, Spirit Tenggara juga membuat anthem secara kolaboratif, baik dari lirik hingga nadanya.

Sebagai sebuah platform awal, tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh Arisan. Salah satunya adalah persoalan keberlanjutan. Tidak sekedar melanjutkan proyek saja, masalah hubungan antara kemandirian kerja forum dan modal ekonomi menjadi kekhawatiran yang terus dipertimbangkan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

#SOROTANDOKUMENTASI | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Intensitas aktivitas dokumentasi memasuki bulan September tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Namun kami terus melengkapi arsip dari luar Yogyakarta, beberapa yang sempat kami datangi adalah, Pameran Biennale Jateng #2 The Future of History di Kawasan Kota Lama, Semarang, Festival Nusasonic di Magelang, dan Pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo dengan judul SSAS/AS/Ideas dan Lawangkala. Sedangkan untuk donasi kami menerima dari pameran tunggal Achmad Krisgatha Channel Of Light, Pameran Kembang Goyang Mahasiswa Universitas Telkom di Cemara 6 Galeri Jakarta, Pameran Tunggal Hari Prast Hari Bahagia di Uma Seminyak Bali, Pameran Merajut Bentuk Menebar Warna di Museum Sonobudoyo, dan Kuliah Umum Komunitas Hysteria dan Jaringan Kota: dari soal manajemen sampai dengan produk kebudayaan bersama Halim HD dan Adin Hysteria.

Sampai bulan Oktober kami mengumpulkan 43 peristiwa seni dengan penambahan 2587 file arsip foto dan video 47 file, audio 37 file. Di  luar mengerjakan peliputan, tim arsip yang diwakili oleh Dwi Rahmanto dan Lisistrata Lusandiana menjadi narasumber dalam acara Ulang Tahun ke 38 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan yang tidak kalah pentingnya kami sedang menyempurnakan sistem database (pencatatan arsip) dalam bentuk offline. Kami memaksimalkan sistem ini agar setiap arsip semakin mudah ditemukan kembali. Proses ini dibantu oleh 2 kawan magang dari Jurusan Tata Kelola Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Hal-hal yang Usai dan Tidak dalam Memetakan Arus Bawah di INF 3.0

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Tim IVAA berkesempatan untuk hadir diskusi bertajuk Memetakan Arus Bawah pada Sabtu, 18 Agustus 2018. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam Indonesia Netaudio Festival (INF) 3.0 yang mengusung tema Sharing Over Netizen Explosion. Beragam acara dihadirkan seperti performative talk, lokakarya, pertunjukan musik, dan tentu saja pameran seni rupa.

Memetakan Arus Bawah dibungkus dalam bentuk gelar wicara performatif yang tidak hanya interaktif tetapi juga atraktif. Secara umum, benang merah dari sesi diskusi ini membicarakan tentang bagaimana ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya penggemar, dan perkembangan musik di jagad maya. Topik utama tersebut ditinjau dan dibahas dari tiga studi kasus yakni perkembangan netlabel, seni media, dan dangdut koplo yang disampaikan oleh tiga narasumber; Nuraini Juliastuti, Manshur Zikri, dan Irfan Darajat.

Lokasi acara berada di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Sekeliling berlatar hitam dengan suasana biru-merah dari lampu sorot juga dari tiga layar besar di atas panggung. Di tengah-tengah berderet kursi yang dibentuk serupa sirkuit―meminjam istilah Syafiatudina, selaku moderator diskusi. Pada lingkar inti adalah wilayah moderator dan ketiga pembicara, kemudian di lingkar kedua adalah tempat duduk para audiens, lingkar selanjutnya keempat layar yang menampilkan materi bahasan dari para pembicara.

Menarik untuk melihat bagaimana kemasan dari diskusi ini yang keluar dari aturan-aturan konvensional diskusi pada umumnya. Menurut Manshur Zikri, ketika dalam diskusi melihat ponsel adalah tabu, justru di sini dianjurkan. Para peserta diskusi dapat bergabung ke dalam grup WhatsApp yang telah dibuat oleh panitia. Dalam grup itu mereka saling bertukar gagasan terkait dengan bahasan-bahasan diskusi yang tengah berlangsung. Para pembicara juga memiliki layarnya masing-masing untuk menampilkan materinya, alih-alih hanya bergantung pada satu layar besar seperti umumnya forum diskusi dan seminar.

Diskusi yang dimulai pukul tiga hingga jelang pukul enam sore itu dibuka oleh Nuraini Juliastuti. Nuning, sapaan akrabnya, membahas mengenai perkembangan netlabel dan segala hal yang berada di pusaran itu. Bahwa peranan atau fungsi netlabel tidak hanya sebagai “rumah” bagi musik yang bersirkulasi di dalamnya, tetapi juga ada praktek pengarsipan. Pendokumentasian atau pengarsipan dilakukan agar musik-musik yang dibagikan (sharing) melalui netlabel tidak sia-sia. Musik tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga artefak dimana energi suatu zaman turut bersamanya. Nuning juga menyinggung pentingnya sosialisasi praktik sharing, dan pengorganisasian festival semacam INF merupakan salah satu bentuk sosialisasi tersebut.

Manshur Zikri sebagai pembicara kedua membahas seni media dan kebudayaan baru yang timbul bersamanya. Zikri menggali topik diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Misal tentang bagaimana praktik copying dicap ilegal, sementara repost justru menaikkan posisi seseorang di media sosial. Zikri mengetengahkan meledaknya video kiki challenge di media sosial sebagai pertanyaan, apakah konten ataukah musiknya yang membuat challenge ini meledak di kalangan warganet? Bagaimana konten Youtube dan para youtuber menjadi sedemikian populer dibanding aktris/aktor di layar kaca? Pertanyaan-pertanyaan ini digali dengan tiga poin, yakni; ilusi keaslian, relatibilitas, dan independensi. Zikri mengakhiri sesi dengan merekomendasikan perlunya metode baru dalam literasi media, sebab situasi dan media yang ada kini juga sama sekali baru.

Sesi Irfan Drajat diawali dengan mengajak audiens menyimak sudut pandang baru soal dangdut koplo. Friksi yang terjadi antara dangdut koplo dan dangdut klasik. Ia memetakan tiga wacana yang menekan eksistensi dangdut koplo yakni, moralitas, identitas, dan juga keaslian. Ia menghadirkan studi kasus antara Rhoma Irama yang datang dari kubu dangdut klasik, dengan Inul Daratista dari kubu dangdut koplo. Rhoma Irama yang digelari sebagai Raja Dangdut, menyebut dangdut Inul sama sekali bukan dangdut.

Hal menarik dari pernyataan Irfan ketika ia mengatakan bahwa semua persoalan ada lagu dangdutnya. Lagu dangdut yang berangkat dari isu-isu sosial, politik, budaya yang ada, tetapi tata cara penuturannya selalu dalam bentuk gugatan khas akar rumput. Menurutnya, hingga saat ini Irfan mencatat belum ada lagu dangdut yang dijadikan sebagai medium perlawanan/protes.

Catatan lain dari bahasan Irfan, bahwa dangdut koplo mengguncang moda distribusi, juga mengguncang secara estetis dan gaya. Para pelaku dangdut koplo hidup dari panggung ke panggung, syuting dengan teknologi seadanya namun ekonomi tetap berputar. Tetapi belakangan, setelah dangdut koplo menjadi tren di layar kaca, ada indikasi bahwa dangdut koplo sedang coba “dijinakkan”.

Memang begitu banyak pertanyaan muncul dan tidak sempat untuk mengerucut apalagi terjawab tuntas hingga sesi diskusi berakhir. Termasuk pertanyaan pada detik-detik akhir yakni peranan warganet dalam menjaga kelestarian praktik berbagi (sharing), baik daring (online) maupun luring (offline). Persoalan dalam diskusi ini bisa jadi satu hal yang dirasa penting bagi para audiens dan pembicara, tetapi mungkin ini tidak (atau mungkin belum) menjadi perhatian di tingkat akar rumput.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menyelami Ruang dan Waktu dalam Selebrasi Dua Dekade Selasar Sunaryo Art Space

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Sosok Sunaryo dikenal dan sangat berperan dalam perkembangan kancah seni rupa Bandung. Tampil sebagai seniman lukis di era 1970-an. Seiring dengan aktivitas keseniannya, Selasar Seni Sunaryo, yang kini bernama Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikannya pada 5 September 1998. Baginya, SSAS adalah manifestasi dari angan-angan Sunaryo untuk menyediakan wadah bagi seniman-seniman muda dalam belajar dan berkarya. SSAS juga hadir sebagai ruang alternatif, pertemuan antara seniman dengan publik. SSAS lahir bertepatan dengan momentum pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Peresmian SSAS dibuka oleh pameran Titik Nadir dan tidak ada selebrasi yang meriah. Kala itu, Sunaryo membungkus karya-karyanya sendiri dan sebagian ruang pamer dengan kain hitam. Kain hitam adalah representasi dari situasi nasional yang dirundung pilu, kekalutan, dan kegelapan.

Dua puluh tahun setelah Titik Nadir, Sunaryo kembali mempersembahkan karya-karyanya melalui pameran tunggal berjudul Lawangkala. Pergolakan sosial-politik pada 1998 menjadi kekuatan dari isu-isu yang diangkat dalam karya-karya instalasi Sunaryo sepanjang dekade 2000-an. Namun, dalam memperingati usia SSAS ke 20 ini, Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Agung Hujatnikajennong, dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan bahwa, “Untuk Sunaryo, pameran yang nyaris seluruh ruang pamer SSAS ini tidak digarap sekadar untuk memperingati ulang tahun ruang seni yang ia dirikan, tetapi sebagai sebuah proyek tersendiri yang mendorongnya melakukan eksplorasi baru.”

Lawangkala memiliki arti sebuah mantra dimana ruang dan waktu menyatu. Lawangkala terdiri atas dua kata yaitu lawang (gerbang) dan kala (waktu). Berbicara tentang salah satu hal yang mendasari kehidupan manusia, yakni kesementaraan. Sunaryo memaknai falsafah Jawa urip iku mung mampir ngombe (hidup itu hanya mampir minum), yang sejatinya usia manusia tidak berarti dihadapan jutaan tahun usia semesta. Gagasan yang diangkat dalam Lawangkala adalah momen-momen saat Sunaryo berhadapan dengan fenomena alam. Termasuk pandangan mengenai kesadaran manusia akan ruang dan waktu.

Perjalanan artistiknya sejak awal tahun 1990-an, Sunaryo mulai bereksplorasi menggunakan pendekatan material alami seperti bambu, padi, rotan, batu, dan kayu. Material-material alami yang tidak bertahan lama mewakili sifat kesementaraan itu sendiri. Hal lain yang menunjukkan ciri khas dari karya Sunaryo adalah ketrampilan tangan. Selain melukis, karya seninya dibuat dengan teknik anyaman, jahitan, tempelan, dan ikatan. Seri lukisan Lawangkala yang terdapat di ruang pamer B dan sayap menampilkan karya-karya lukisannya dengan cara menyayat, merobek kanvas, lalu menjahit dan menambal kembali robekannya. Sunaryo menganalogikan cara menyayat dan menjahit kembali seperti sebuah kesia-siaan manusia yang ingin mengulang waktu yang telah berjalan. Selain karya lukis, instalasi berbentuk terowongan bambu digarap sebagai tubuh utama Lawangkala. Sunaryo membuat sebuah bubu raksasa terbuat dari anyaman bambu yang mengikuti struktur anatomi ruang pamer A.

Perayaan 20 tahun SSAS juga menghadirkan pameran bersama bertajuk SSAS/AS/Ideas yang digelar oleh Bale Project dan dikuratori Hendro Wiyanto. Pameran berlangsung di Bale Tonggoh, menampilkan karya-karya 20 seniman asal Bandung dan luar kota. Mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan SSAS, serta terlibat dalam program residensi dan pameran. Program residensi melibatkan seniman-seniman muda yang tinggal dan bekerja di Bandung. Namun, tak menutup kemungkinan bagi seniman-seniman dari luar Bandung. Seniman yang pernah mengikuti program residensi diantaranya, Made Wiguna Valasara dalam program transit #1 (2011), Iwan Yusuf program transit #2 (2013), dan Hedi Soetardja program transit #4 (2018). Dua seniman asal Jogja, Agus Suwage dan Mella Jaarsma namanya turut berjajar diantara 20 seniman pameran SSAS/AS/Ideas. Karya-karya 20 seniman ini mengangkat tema yang merespon gagasan artistik Sunaryo. Salah satunya instalasi berupa manusia yang diikat dan dibalut kain hitam berjudul “Teduh Dari Paparan. Karya seniman Bandu Darmawan ini merupakan respon dari karya proyek Titik Nadir.

Hal yang menarik diantara karya-karya pameran ini adalah ketika Sunaryo berkolaborasi dengan Hedi Soetardja. Hedi adalah seniman otodidak asal desa Jelekong, Bandung Selatan yang mengikuti program residensi transit #4 2018. Desa asal Hedi, Jelekong terkenal sebagai sentra pengrajin cinderamata dan lukisan pemandangan. Dalam karya kolaborasi “Luruh Hitam dalam Perayaan”, Hedi mengeksplorasi karyanya dari pengalaman yang diperoleh selama residensi. Ia menampilkan abstraksi melalui isyarat kecil yang menyerupai huruf tidak beraturan. Kurator muda SSAS, Chabib Duta Hapsoro menyebut bahasa visual Hedi dengan gumam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menjelajahi Arsip: Mengenal Bagong Kussudiardja

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dalam rangka memperingati 90 tahun Bagong Kussudiardja, 60 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, dan 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), digelarlah pameran arsip bertajuk Ruang Waktu Bagong Kussudiardja yang dihelat pada 29 September – 3 November 2018 di PSBK. Suwarno Wisetrotomo didapuk sebagai kurator pameran ini. Dalam catatan kuratorialnya menekankan Bagong sebagai seniman yang sadar pengarsipan, telah meninggalkan jejak penanda zaman bagi dunia kesenian. Dengan melihat arsip Bagong mulai dari catatan perjalanan, liputan media, dokumentasi peristiwa kesenian, hingga surat-menyurat, dapat kembali memperkenalkan kiprah kesenimanan Bagong dengan konteks masa kini. Pameran ini menggunakan dua lantai ruang pamer PSBK.

Lantai pertama dari pameran ini menampilkan lini masa kehidupan Bagong. Diawali dari tahun kelahiran, yaitu 9 Oktober 1928 sekaligus latar belakang keluarganya yang dekat dengan aktivitas kesenian. Krida Beksa Wirama menjadi tempat pertamanya menempuh pendidikan seni tari pada 1946. Memasuki masa Orde Lama, dimana Sukarno banyak menggalakan misi-misi kebudayaan ke mancanegara, Bagong bersama dengan seniman-seniman lainnya banyak menciptakan karya-karya tari baru. Dalam salah satu highlight lini masa yaitu tahun 1958 yang menandai berdirinya Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja. Arsip-arsip pada masa orde lama ini, ingin secara lebih dalam ingin menandai Bagong sebagai penari yang melahirkan banyak eksperimentasi, salah satunya dengan perpaduan ritmik antara pantomime dengan gerak tari secara dramatik.

Sebuah kliping tertanggal 23 Juli 1960 dari surat kabar Star Weekly menjadi arsip pertama yang menuliskan karir Bagong sebagai pelukis. Secara garis besar mengetengahkan kehadiran antara seni rupa dan seni musik, dimana diantaranya terdapat seni tari yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tulisan ini ditutup dengan kritik pada karya lukis Bagong, yang dinilai meskipun temanya beragam, menunjukan luasnya wawasan, namun belum menonjol secara teknik pewarnaan dan komposisi.

Jika diperhatikan, lini masa dekade 60-an terdapat tahun-tahun yang hilang, yaitu di antara tahun 1963-1966. Sama sekali tidak terdapat arsip di sekitar peristiwa peralihan kekuasaan tahun 1965. Kekosongan ini menjadi menarik mengingat ini adalah salah satu momen-momen paling krusial bagi eksistensi seniman melalui afiliasi politiknya. Memasuki masa orde baru, secara tegas disampaikan bahwa Bagong banyak menangani pesanan dari pemerintah, mulai dari BUMN, korporat, dan lembaga-lembaga lain. Ini bisa dilihat sebagai langkah negosiasi seniman menghadapi pemerintahan yang represif, terlepas dari kontroversinya.

Selain momentum berdirinya PSBK tahun 1978, terlihat banyak arsip yang menunjukkan kedekatan dengan militer. Memasuki dekade 1990-an, dimana usianya menginjak 60 tahun, Surabaya Post menyebut Bagong sebagai koreografer yang menularkan “isme”-nya. Meski Bagong sendiri menolak sebutan bahwa karyanya menuju proses menemukan “tari Indonesia”. Di lain sisi, Bagong juga dikritik sebagai seniman yang sangat dekat dengan pemerintah, menerima karya pesanan, hingga karyanya dianggap murahan. Namun Bagong berdalih bahwa aspek terpenting adalah membuat karya yang komunikatif bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan misi, isi dan estetikanya. Dalam tulisan-tulisannya di media massa, terlihat Bagong juga beredar dalam wacana kesenian, terutama di ranah persinggungan antara pembaharuan nilai dan filosofi seni tradisi, dan profesionalitas seniman dengan dorongan turistik. Di samping masih banyak catatan menarik mulai dari protes Bagong terhadap KIAS (Festival Kebudayaan Indonesia Di Amerika Serikat) 1990) karena dianggap melibatkan seniman Lekra, hingga klaimnya bahwa berkesenian adalah berpolitik, namun masih malu-malu mengakui bahwa karyanya menyinggung kritik terhadap politik praktis. “Ujung” dari lini masa ini adalah tahun 2004, dimana Bagong berpulang pada 15 Juni 2004 di usia 76.

Selain lini masa yang disajikan di lantai pertama, lantai kedua ruang pamer juga masih menampilkan koleksi arsip Bagong. Namun lebih fokus pada catatan kliping dan foto dokumentasi. Seluruh arsip yang dipamerkan memang sengaja ditunjukkan untuk dibaca secara lebih mendalam. Maka dari itu di seluruh ruang pamer menyediakan “ruang baca” sederhana. Meski sayangnya beberapa kliping tidak lengkap, baik dari sumber dan tanggal penerbitan, hingga teks yang terpotong. Suwarno dalam penutup catatan kuratorialnya mengharapkan bentangan arsip-arsip Bagong menjadi pemantik atau bahkan rujukan utama dalam penelitian baik sejarah, seni, politik, dan lain-lain.

Harapan ini menjadi semacam “free pass” bagi publik untuk menafsir ulang praktik kesenimanan Bagong. Terlebih pameran arsip ini menekankan pada tahun-tahun yang dianggap menjadi tonggak karir Bagong. Apa yang dianggap penting dalam pameran ini bisa jadi berbeda dari interpretasi publik. Perluasan konteks dan perspektif memang harus muncul secara kritis dalam benak publik ketika dihadapkan pada arsip-arsip ini. Sebagaimana layaknya kerja arsip yang terus memperpanjang usianya dengan terus diaktivasi. Terlihat pameran arsip ini sedang menuju kesana.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Nusasonic: Melintas Batas Bunyi

Oleh: Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Perhelatan Nusasonic berlangsung pada 2-13 Oktober 2018 di beberapa lokasi di Yogyakarta, dan Magelang. Nusasonic diprakarsai oleh Goethe-Institut Asia Tenggara, dan menggandeng kolaborator lintas negara yaitu Yes No Klub (Indonesia – Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Filipina – Manilla), Playfreely/BlackKaji (Singapore) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (German – Berlin) mengusung tajuk utama yaitu Crossing Aural Geographies. Nusasonic yang mengelaborasi wacana multikultur bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara, silang pendapat dalam kawasan tersebut, dengan Eropa dan negara-negara lainnya. Diskusi, lokakarya, dan pertunjukan seni musik menjadi program yang dihadirkan dalam Nusasonic.

Minggu, 7 Oktober 2018, 14 pelaku seni dipertemukan dalam satu ruang diskusi. Satu dari serangkaian program diskusi Nusasonic digelar di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta pukul 14.30 – 20.30 WIB. Mengangkat empat topik pembahasan yaitu “Interlacing Networks” yang dimoderatori oleh Anna-Maria Strauss dan menghadirkan Erick Calilan, Jan Rholf, Tengal, Wok the Rock, Yuen Chee Wai sebagai pembicara. Inti dari diskusi ini adalah banyak cara dalam menjalin jaringan. Erick Calilan menuturkan bahwa dalam berjejaring, bermula dari bergabung dengan komunitas berbasis seni. Dengan latar belakang yang tidak menempuh pendidikan formal dibidang teknik elektronik, Calilan mengeksplorasi aktivitasnya dengan melakukan eksperimen dan riset mandiri melalui minat khusus yang berkaitan dengan bebunyian sebagai medium artistik.  Kemudian, ia mengembangkan kiprah artistiknya dengan berpartisipasi aktif dalam pertukaran gagasan dan kolaborasi terutama di ranah seniman visual, praktisi seni media baru, peretas, musisi eksperimental, dan seniman bunyi (sound art).

Sesi kedua dimulai pukul 16.00-16.45 WIB dengan pembicaraan tentang “The Cyborg in the River : Sewing Machines to the Ethnic Body” yang diutarakan oleh Tad Ermitaño. Tad Ermitaño yang merupakan tokoh kunci seni media baru di Filipina menyoroti bahwa “teknologi itu penting, karena manusia butuh mesin untuk melanjutkan kehidupan dan bersosial”.

“Self-Organising Structures and Maker Culture” menjadi topik diskusi pada sesi ketiga yang dimulai pukul 17.00-18.00. Andreas Siagian, Arnont Nongyao, Lintang Raditya, Peter Kirn, Yab Sarpote turut angkat bicara tentang topik diskusi pada sesi ini. Berlanjut pada sesi keempat yang merupakan sesi terakhir pada program diskusi Nusasonic kali ini, yang melibatkan Gunawan Maryanto, Yennu Ariendra dan J Mo’ong Santoso sebagai pembicara pada topik “Music and Politic through Raja Kirik”.

Jaranan buto merupakan bentuk kesenian tradisional yang ada di Banyuwangi atau Blambangan. Tarian rakyat yang sebenarnya adalah bentuk dari tiruan atas kebudayaan Mataram yang dilakukan orang Banyuwangi. Namun yang menarik adalah tiruan dari kebudayaan Mataram atau Jogja ini, kemudian digunakan oleh orang Banyuwangi untuk melakukan sebuah bentuk perlawanan kebudayaan. Banyuwangi atau Blambangan adalah satu kerajaan Hindu yang cukup tua di Jawa yang teramat sulit untuk ditaklukan oleh Belanda, Mataram, dan Bali. Banyuwangi diibaratkan seperti daerah yang terus menerus otonom dan melakukan perlawanan. Bentuk kebudayaan Banyuwangi sebenarnya adalah varian dari kebudayaan Jawa yang paling tua yang masih terus dilakukan sampai sekarang. Itu salah satu pijakan utama dari project Yennu dan Moong yaitu Jaranan Buto. Akan tetapi, secara tematik Yennu dan Moong mencoba mengangkat Raja Kirik sebagai suatu bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh Mataram kepada Banyuwangi atau Blambangan yang tidak bisa ditaklukan. Maka itu, Mataram mencoba menaklukan dengan cara kebudayaan atau membangun mitologi yang memperburuk citra orang Banyuwangi” tandas Yennu setelah pemutaran Film tentang Jaranan Buto.

Program diskusi lainnya berlokasi di MES 56, adalah “Resonances-Fractures between Kuala Lumpur, Cairo, Yogyakarta”. Dengan menggandeng Nadah el Shazly, dan Sudarshan Chandra Kumar sebagai pemateri dan di moderator oleh Grace Samboh. Diskusi ini membicarakan tentang apa saja tantangan yang dihadapi oleh mereka (pemateri) dalam hal audiens, kancah dan jaringan, lokasi, tradisi lokal dan iklim sosio-politik, hubungan kultural atau historis yang tercipta antara Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah. Selain itu, tak lupa pula membicarakan apakah pengalaman dan warisan lokal mereka berpengaruh terhadap praktik musiknya.

Terlalu banyak kontrol yang dilakukan oleh pemerintah di Kairo yang cenderung membatasi kegiatan bermusik, menjadi permasalahan utama disana yang pada akhirnya membuat banyak orang gugup bahkan takut untuk berekspresi melalui musik. “Baiknya, seniman musik harus diberikan dukungan  oleh produser, bagaimana cara mereka mempromosikan karyanya di media.” Ungkap Nadah el Shazy mengenai musik dan iklim sosio-politik. Sudarshan angkat bicara tentang hubungan kultural yang tercipta antara Indonesia dengan Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak kemiripan antara Indonesia dan Malaysia termasuk dalam hal musik. Indonesia memiliki dangdut yang menjadi ciri khas musiknya. Banyak orang-orang Malaysia menyukai genre musik ini. Bahkan ada salah satu lagu dangdut Indonesia, “Keong Racun” dinyanyikan kembali oleh penyanyi Malaysia dengan menggunakan bahasa Malaysia. Tidak cukup sampai disitu, bahkan “Keong Racun” versi Malaysia memiliki versi video musiknya sendiri. Hal ini menjadi salah satu bukti ketertarikan dan hubungan kultural antara Indonesia dengan Malaysia.

Beralih ke program pertunjukan. Dengan menggunakan beberapa lokasi di Eloprogo Art House, panggung 2 dimeriahkan oleh seniman-seniman seperti Wilderness-AGF, Asa Rahmana, Ayu Saraswati, Joee & I,  Menstrual Syndrome, dan Sarana dengan kolaborasi yang luar biasa sebagai warming up acara tersebut. Pertunjukan ini dilaksanakan pada  13 Oktober pukul 15.00 dengan iringan lantunan aliran sungai desa Wanurejo. Sore itu, seniman-seniman dari berbagai daerah silih berganti hilir mudik berdatangan meramaikan pertunjukan tersebut. Sebelum menuju panggung utama, panggung 3 dengan gaya circle  menampilkan penampilan dari Jogja Noise Bombing.

Menjelang malam, sebelum menikmati panggung utama, para penonton juga disuguhi beberapa karya karya seni rupa di galeri sebelum menuju panggung utama. Ada beberapa penampil, seperti The Music Makers Hacklab, mereka adalah laboratorium kolaboratif selama seminggu yang diselenggarakan oleh Peter Kirn dari CDM (cdm.link). Kemudian juga ada Hacklab dari Yogyakarta dengan co-host Andreas Siagian dan Lintang Radittya, merefleksikan aspek bermain musik yang menyenangkan dan kolaboratif, mereka yang terlibat adalah Erick Calilan dan Duto Hardono, Peter Kirn, Lintang Radittya, Storm, Amont Nongyao, Tad Ermitaño, Mica Agregado. Setelah pengunjung berdesakan menikmati musik di galeri, panggung utama pun dibuka oleh Nadah el Shazly. Suara El Shazly sangat berani namun lembut, dieksekusi dengan terampil dari awal sampai akhir. Liriknya puitis dan tajam, membentuk gambar melalui frasa.

Nusasonic sudah berhasil memperpadukan kolaborasi lintas musik Negara secara kreatif dan inovatif. Setiap seniman dari masing-masing negara, dengan latar belakang konteks kultural, sosial, dan politik telah unjuk gigi di hadapan audiens yang beragam pula. Melalui eksperimentasi seni (khususnya seni media baru), teknologi, dan bunyi, kekakuan karena antara batas geografis mencair dalam perhelatan ini. Nusasonic menunjukkan perlintasan dan saling silang batas bebunyian dalam pengalaman personal, hingga global.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2018

oleh : Dwi Rahmanto

Periode Juli-Agustus ini, tim arsip dibantu oleh 8 kawan magang dari berbagai perguruan tinggi merekam sekitar 18 peristiwa seni. Khusus untuk newsletter edisi ini kami menyoroti beberapa peristiwa yang kami bagi kedalam 3 tema, yaitu Keragaman lokasi, Keragaman lintas medium, dan Terkait dengan tema ‘Nusantara/ Lokalitas’.  Selain yang tertulis dalam newsletter kali ini, dokumentasi lainnya dapat dijelajahi di kanal-kanal online kami http://archive.ivaa-online.org/, dan https://www.youtube.com/user/IVAAVideoArchive. Dan sebagai upaya kontribusi memperluas jaringan publikasi peristiwa seni, dapat diakses di tautan http://ivaa-online.org/art-events-calendar/.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.