Tag Archives: #sorotandokumentasi

Berkaca Pada Kaca dan Buka Tutup

Oleh: Hardiwan Prayogo

Layang-layang berukuran 2,7 meter berdiri gagah di depan ruang pameran Bentara Budaya Yogyakarta. Layang-layang ini berjudul ‘Kumbakarna Bela Negara’, karya Iskandar. Pameran lukisan duo wayang, Iskandar dan Agus Nuryanto ini berjudul Buka Tutup bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta 14-22 Juli 2018. Sejujurnya, menghadiri pameran bertema wayang, terbayang dalam benak adalah gambaran kisah-kisah dan nasihat-nasihat filosofis. Menariknya, bagaimana kisah-kisah ini diwujudkan dalam pameran seni rupa, dalam karya rupa yang statis. Iskandar yang banyak menggunakan medium lukis kaca, lukisan berjudul ‘Serakah’, menggambarkan sosok raksasa yang menghisap gunungan. Lukisan lainnya berjudul ‘Pasar’, menggambarkan Semar dan Punokawan berada di keramaian pasar. Karya Iskandar banyak menggunakan warna-warna yang mencolok. Selain itu, Iskandar juga memamerkan ‘Wayang Uwuh’, wayang berbahan botol mineral dan kardus bekas, karya ini diberinya judul ‘Dilepas Diikat‘.

Jika iskandar hadir dengan wayang uwuhnya, beda lagi dengan Agus Nuryanto. Agus menampilkan figur wayang yang disebutnya sebagai ‘Wayang Jewer’. Alhasil, wayang tampil dalam presentasi yang berbeda (lihat gambar). Paling kentara dalam lukisannya berjudul ‘Pandawa 5’, lukisan 5 panel di atas tutup tong/drum dengan diameter masing-masing 55 cm. Juga lukisan berjudul ‘Face’, berisikan 21 panel di atas tutup tong/drum berdiameter 30 cm. Agus lebih banyak menyandingkan figur wayang dengan persoalan masa kini. Terlihat dalam lukisan ‘Love’, mewujudkan sosok figur wayang perempuan memegang selembar uang 1000 rupiah. Kemudian lukisan ‘Keinginan’, tentang raksasa dengan background gedung tinggi dan langit jingga.

Wayang uwuh dan wayang jewer dalam pameran menjadi upaya dari kedua seniman untuk mem-‘Buka Tutup’ kisah masa lalu yang dikontekstualisasi dengan masa kini. Kisah masa lalu yang seolah ditutup, namun dibuka kembali dengan dengan narasi masa kini. Setidaknya demikian yang ingin diartikulasikan dalam pameran ini, tertulis pula dalam catatan pameran yang ditulis Ons Untoro. Juga disebutkan bahwa kedua seniman kali ini memamerkan ‘pertunjukan wayang’. Melalui keberagaman macam medium namun dengan keseragaman corak, yaitu wayang. Tentu wayang ini dihadirkan oleh kedua seniman dengan interpretasi yang berbeda.

‘Pertunjukan wayang’ rupanya hadir kembali di antara bulan Juli-Agustus ini. Berlokasi di Tahunmas Artroom, pameran lukis kaca bertajuk Berkaca Pada Kaca berlangsung selama 4-10 Agustus 2018. Hampir seluruh seniman yang tergabung dalam kelompok lukis kaca Gedah Sinangling ini, menggunakan sosok wayang dalam karyanya. Meski corak wayang bukan sosok yang terhitung asing muncul dalam karya seni rupa, lukis kaca bukanlah medium yang populer digunakan pada karya seni rupa sekarang. Menengok ke belakang, Hermanu dalam tulisan pengantar pameran, menyebutkan bahwa lukisan kaca yang identik dengan corak tradisional sudah marak sejak 1937 di Yogyakarta. Penelitian terhadap ini dilakukan oleh J.H. Hooykaas-Van Leeuwen Boomkamp, dengan menyambangi toko souvenir hingga pasar malam sekaten. Dia membagi gambar kaca dalam 3 tema, antara lain Wayang Purwa, Legenda Rakyat, dan gambar kaca Islami. Pameran yang diinisiasi oleh kelompok seniman lukis kaca Gedah Sinanggling dan disponsori Dinas Kebudayaan Provinsi Yogyakarta ini ingin kembali menunjukan kekhasan dari lukis kaca.

Sedikit banyak tidak berbeda dengan pameran Buka Tutup, lukis kaca memang cukup identik dengan tema wayang. Baik wayang dengan cerita asli tentang pewayangan, hingga wayang sebagai kritik sosial kehidupan masa kini. Lukis kaca dengan objek wayang sebagai kritik sosial muncul dalam karya Subandi Giyanto dan Agus Nuryanto. Selain itu, Rina Kurniyati melukis realis roda hingga spion mobil, lukisan wayang beber dengan detail isen-isen rumit dari Primadi Priyo Laksono dan Rapanda, Titis dengan gambar ikan koi, Bajra Bagaskara yang melukis ‘Anoman Obong’, komik 4 panel karya Prasetia Pradana, dan berbagai eksplorasi lukis kaca lainnya. Total ada 12 seniman yang ikut pameran pada kesempatan ini.

 

Bajra Bagaskara
ANOMAN OBONG
45x30cm
Acrylic Under Glass
2018
Primadi Priyo
WAYANG BEBER
50x40cm
Acrylic Under Glass
Rapanda
WAYANG BEBER
50x40cm
Acrylic Under Glass
2017

Timbul Raharjo yang juga menulis catatan pameran, menyebutkan pameran ini merupakan upaya membangun literasi yang dinilai langka dalam bidang seni lukis kaca. Pertanyaan lebih lanjut adalah, kenapa perlu dibangun literasi dalam bidang seni lukis kaca? Apa yang dimiliki oleh medium ini dan tidak dimiliki oleh medium lainnya?. Alih-alih hanya menitikberatkan pada pilihan medium, Pameran Berkaca pada Kaca sebenarnya bisa beranjak lebih jauh dari menjadikan momentum ini ajang berefleksi diri (sebagaimana kaca secara fungsional bisa digunakan sebagai cermin). Pameran seni rupa menjadi ajang refleksi diri tampaknya menjadi narasi yang banal. Di lain hal, dominannya sosok-sosok wayang yang dilukis dengan teknik sungging dan isen-isen yang rumit sebenarnya mampu membuat lukis kaca menemukan posisi yang lebih krusial. Sosok-sosok yang kerap diidentikan dengan terma ‘tradisional’ ini dikreasikan ulang dengan konteks yang lebih aktual. Apa yang disebut tradisional pun selalu melalui berbagai persilangan yang rumit. Persilangan ini juga ada dalam tataran teknis, dari pilihan medium pada kaca, pencampuran cat/ warna, berpadu dengan teknik sungging dan isen-isen yang biasa muncul dalam wayang kulit. Nampaknya ada upaya dari seniman untuk melampauinya lebih dari sekedar objek dan teknis kebendaanya saja.

Dualitas antara benda dan pikiran akan selalu melekat dalam terma apapun, termasuk tradisional. Hubungan dualitas memang tidak selamanya bertentang, bisa jadi tarik-menariknya justru saling menguatkan. Pameran Buka Tutup dan Berkaca Pada Kaca, melalui karya-karya yang dihadirkan, tampaknya ingin menuju upaya tersebut. Jika pada pameran Buka Tutup bisa dipertanyakan ulang mana yang masa lalu dan kini, apakah yang lalu adalah figur wayangnya dan kekinian adalah konteks persoalan sosialnya? Atau justru sebaliknya?. Dalam situasi yang tidak jauh berbeda, pameran Berkaca Pada Kaca, sosok wayang dan medium kaca bisa jadi hanya aspek kebendaan, sejauh apa sebuah pameran bertema wayang dan pameran bertema lukis kaca menyentuh aspek pikiran?. Rentetan pertanyaan ini bisa menjadi pengantar tidur bagi siapapun yang tidak ingin terpenjara dalam pikatan citra visual karya-karya seni rupa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Sisi Heroik Pelukis Rustamadji

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Klaten, 04 Juli 2018. Memperbincangkan sosok Rustamadji agaknya menjadi bahasan yang menarik dalam diskusi sore yang diadakan oleh Pasren Street Art Klaten. Dalam diskusi ini, Mikke Susanto sebagai pembicara mengulik banyak hal tentang sosok Rustamadji . Bergelar maestro menjadi sisi yang menarik untuk dibahas. Bagaimana bisa Rustamadji tercatat sebagai salah satu dari tiga pelukis maestro yang berasal dari Klaten?, menurut Mikke Susanto sosok Rustamadji sangat eksis melalui kekaryaan juga dalam jaringan sosialnya.

Rustamadji merupakan pria kelahiran Klaten tahun 1920.  Dalam karirnya sebagai seorang seniman, Rustamadji menempuhnya sejak tahun 1938 dan hal itu ditempuh dengan cara belajar sendiri atau dalam istilahnya disebut sebagai seniman otodidak. Sebelum bergabung dalam kelompok seninya di Yogyakarta, Rustamadji sempat bermukim di kota Malang. Perpindahan Rustamadji ke Yogyakarta tidak lain karena pada masa itu terjadi pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Gonjang-ganjing situasi politik pemerintah tersebut membuat banyak seniman berbondong–bondong ikut pindah ke Yogyakarta, salah satunya Rustamadji , itu terjadi pada tahun 1946-an. Pada masa itu sekumpulan seniman – seniman yang hijrah ke Yogyakarta membentuk Seniman Indonesia Muda (SIM), namun Hendra Gunawan tidak bertahan lama di SIM sehingga dibentuklah Sanggar Pelukis Rakyat yang didirikannya bersama Affandi. Melalui bekal melukis kerakyatanlah Rustamadji mengalami perkembangan kekaryaan. Dalam pelukis rakyat, mereka lebih  mengutamakan rakyat dan mengesampingkan pemerintahan. Ini menjadi salah satu sebab banyaknya seniman-seniman pelukis rakyat yang tergabung dalam keanggotaan PKI. Dalam mewujudkan misinya untuk kerakyatan, didirikanlah sanggar pelukis rakyat untuk mengajarkan kesenian pada anak-anak. Dalam diskusi, Mikke menunjukkan salah satu foto dimana terdapat sosok Rustamadji yang ikut serta mengajar kesenian.

Seniman sebagai pencatat sejarah merupakan salah satu konsep yang melebur pada pelukis kerakyatan, karena pelukis rakyat dalam proses berkaryanya terjun langsung ke lapangan sehingga mereka bisa merasakan kondisi rakyat. Nampaknya konsep itu diterapkan Rustamadji dalam konsep kekaryaannya. Kita sering mendengar bahwa Rustamadji menghabiskan waktu berkesenian secara total, akan tetapi tidak ada data yang menunjukkan penghasilan Rustamadji selain dari penjualan karya seninya. Bagaimana sosok Rustamadji menghabiskan waktu berkarya secara detail belum sempat diteliti lebih lanjut, namun tentang ranah hubungan sosialnya dengan seniman–seniman hingga presiden Soekarno terekam dalam dokumentasi-dokumentasi pelukis rakyat.

Dari pelukis rakyat, terdapat berbagai realitas yang menarik seperti pengerjaan monumen tugu Semarang karya Rustamadji dan kawan-kawan. Dalam hal ini Edhi Sunarso sangat berjasa dalam proses pengarsipan dari monumen tugu Semarang hingga patung-patung pesanan Soekarno. Monumen tugu Semarang diresmikan langsung oleh Soekarno, dan pada hasil dokumentasi foto yang ditunjukkan oleh Mikke, jelas terlihat ada hubungan antara Soekarno dan seniman yang terlibat dalam pengerjaan monumen tugu Semarang termasuk juga Rustamadji . Lantas bagaimana hubungan Rustamadji dengan Soekarno?. Mikke menemukan bahwa terdapat 2 karya Rustamadji yang dikoleksi oleh Soekarno yaitu lukisan pohon nangka dan lukisan kapal selam, terlihat dalam foto hasil dokumentasi bahwa karya tersebut dibeli saat Soekarno berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat. Hal itu dapat menyimpulkan bahwa Rustamadji cukup eksis dalam jejaring sosialnya.

Sosok Rustamadji berhasil menjalankan misi sebagai seniman dengan publikasi yang baik, dimana dulu untuk tercatat dalam media-media seperti koran sangatlah susah, jika bisa tercatat di surat kabar merupakan suatu hal yang mewah. Tetapi Rustamadji nyatanya banyak tercatat dalam media koran seperti Star Weekly dan sebagainya. Rustamadji juga banyak tercatat di media lewat pameran-pameran yang diadakan bersama kawan-kawannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

PERIHAL KEDIAMAN DAN JOGJA

Oleh: Apriani Kukuh Dwi Pertiwi (Kawan Magang IVAA)

Kamis, 12 Juli 2018. Teater Garasi pukul 18.00-21.00 WIB, digelar pertunjukan dan diskusi bertajuk ‘Con(tra)ceptual Art: Real And Unreal’ yang merupakan bagian dari program Cabaret Chairil Vol.1. Cabaret Chairil adalah ruang transit untuk menampilkan repertoar pertunjukan lintas medium dan disiplin. Tahun ini, dalam beberapa edisinya yang dikuratori oleh Taufik Darwis, bermaksud menelaah isu ‘Kediaman’ sebagai sang alterego dari ‘Kemajuan’. Menghadirkan tiga orang seniman/kelompok untuk membahas tentang isu tersebut, yaitu teater Ghanta (Jakarta), Roka Teater (Yogyakarta), dan Aliansyah Chaniago (Bandung).

Pada hari kedua Program Cabaret Chairil Vol.1 ini, Alin (Aliansyah Chaniago) menampilkan pertunjukan dengan durasi yang cukup panjang. Pertunjukan dimulai dengan disajikannya sekumpulan benda-benda yang dibuang atau sudah tidak terpakai oleh pemiliknya di dalam ruang hitam (black box). Dilanjutkan pemutaran video saat Alin berburu barang-barang yang dibuang atau sudah tidak terpakai dengan cara membujuk atau mempersuasi, bukan hanya barang-barang yang berada di luar rumah tetapi juga barang-barang di dalam rumah yang tidak berpenghuni. Lalu, dibukalah sesi diskusi yang dimoderatori langsung oleh Taufik.

Suasana Diskusi

Taufik mengawali diskusi ini dengan penjelasan singkat tentang tema kediaman yang baru saja ditampilkan oleh Alin. Berangkat dari upaya melihat (sebagian) persepsi warga atas Kota Jogja sebagai ruang tinggal. Sebagai seniman dari luar kota, Alin bermaksud mencoba membuka lagi percakapan mengenai kewargaan seni dengan menggambar sketsa dari pertanyaan, ‘Apa artinya menjadi masyarakat kontemporer dan menjadi masyarakat seni kontemporer Jogja?’. Kota yang sangat identik dengan kesenian yang begitu canggih, di sisi lain Alin juga melihat Jogja seperti tidak bergerak untuk membicarakan hal-hal di sekelilingnya. Bagaimana seni bertautan dengan masyarakat sekitar yang hidup bertetangga?

Cukup singkat pemaparan yang disampaikan oleh Taufik, diskusi kemudian mulai dipantik oleh pernyataan dari John yang melihat ‘Jogja’ lebih jelas melalui video. John mengharapkan adanya desain ulang pada benda-benda temuan itu, ‘Kalau ini kan tetap kursi sebagai kursi yang hanya direlokasi dengan lebih rapi di sini’ tuturnya. John juga mengajukan pertanyaan perihal boleh tidaknya kita berinteraksi dengan karya Alin, contohnya dipegang atau diduduki. Menurutnya, saat datang ke sini seperti layaknya datang ke pameran, kita punya batas dan jarak antara audiens dengan karya yang tidak boleh disentuh.

Kemudian Taufik menimpali pernyataan John, menerangkan bahwasanya situasi yang diharapkan Alin pada pertunjukannya kali ini adalah menjalin percakapan antara audiens dan dirinya selama durasi tiga jam tersebut. Makna itu yang justru ingin dibangun Alin melalui dialognya dengan audiens yang menghasilkan pendapat ataupun kritik terhadap karyanya. ‘Sebenarnya karya ini dibangun atas respon juga ekspektasi publik terhadap karya itu sendiri. Justru ini tantangan buat saya, biar audiens tertarik untuk mendiskusikan karya ini, sekedar bertanya atau menanggapi.’ ujar Alin saat menanggapi harapan penonton tentang desain yang ‘menyusun ruang tinggal baru’. Alin juga menyebutkan bahwa berinteraksi dengan karyanya, entah itu menyentuh atau bahkan memindahkan adalah diperbolehkan.

Di saat pertunjukan berlangsung, perhatian mata penonton tertuju pada Alin yang memperlihatkan pantatnya dengan memakai celana berlubang di bagian belakang. Ide ini baru Alin lakukan setelah ada yang meminta videonya ditayangkan. ‘Saya menganggap benda-benda ini ada di depan rumah seperti saat buang air besar lalu disimpan di muka’ ujarnya merespon pertanyaan dari salah satu penonton. Di bagian selatan Jogja orang-orang menyimpan barang-barang yang tidak terpakai karena tidak ada ruang, akhirnya benda itu disimpan di muka (depan). Layaknya jemuran yang melintang di depan pintu rumah yang menurut Alin tidak seharusnya berada di depan. Hal ini kemudian ditransformasikan oleh Alin yang mencoba melihat situasi Teater Garasi yang sudah mempunyai default dan standarnya, yakni saat masuk akan ada jarak antara karpet hitam ini dengan ruang yang lebih luas. Dalam tayangan video pertunjukannya, Alin hadir sebagai orang dari luar Jogja yang matanya diwakilkan oleh lensa kamera. Alin ingin memainkan sudut pandang orang yang seperti ‘Aku liat ke sini, tapi orang liat pantat.’ Dalam hal logika tontonan dan ditonton, pantat Alin adalah hal yang menghadap ke publik dan hanya sebagai gimmick.

Proses editing pengambilan benda-benda yang dilakukan Alin murni total improve menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Alin mengambil benda-benda yang mewakili kondisi masyarakat Jogja dan identitas ruang. Menurut Alin, pengaruh blackbox ke karya sangat besar, mempunyai jimat dan karisma sendiri. Lighting yang terang dan redup pun sedikit men-distract  walaupun tidak fatal.

Membicarakan tentang wacana kediaman memang tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi, mendekati akhir diskusi ada penonton yang berpendapat bahwa menurutnya penampilan Alin akan lebih menarik jika celana berlubang yang digunakannya itu adalah celana yang juga ditemukannya saat berburu barang bekas. Menurutnya juga, peran Alin tadi adalah sebagai tetangga yang justru kontras dengan pernyataan Alin tadi sebagai tamu yang datang dari luar Jogja.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

#Sorotandokumentasi Mei-Juni 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Dalam ramainya agenda seni di Yogyakarta, bersamaan dengan acara tahunan ArtJog, Tim arsip Hardiwan Prayoga dan Kawan Magang M. Hanif Arikhoh berkesempatan berkunjung ke Bandung dan Jakarta pada 7-10 Mei 2018. Di sana kami mengikuti satu acara bertajuk 3 1/2 Tahun Bekerja, dengan mata acara simposium dan pameran arsip yang menggaris bawahi seni dan propaganda Jepang pada 1942-1945. Kurasi dikerjakan oleh Antariksa, dan berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.  Selagi di Ibukota, kami sekaligus menyambangi Pameran Manifesto 6.0 Multipolar di Galeri Nasional, dan Pameran Arsip Namaku Pram: Catatan dan Arsip di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta.

Sementara itu di Yogyakarta riuh pameran juga kami rasakan, beruntung banyak kawan-kawan magang yang aktif terlibat dalam praktik-praktik pengarsipan, terutama dalam tahap perekaman. Kawan-kawan ini berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), juga Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Tercatat hingga 30 Mei 2018 kami mendokumentasikan 41 acara seni sejak mulai 28 April 2018.

Dalam rentang waktu ini, kami juga menjadi saksi banyaknya kemunculan pameran-pameran bertema kriya, pameran berbasis arsip terutama dalam merespon momentum 20 tahun reformasi, Aksi Tari Warga Berdaya dengan judul Bedhaya Banyu Neng Segara, Festival Sketsa Imajiner Malioboro, hingga Festival Kathok Abang di Gunungkidul Yogyakarta.

Selain mendokumentasikan, Tim Arsip juga mendapat hibah koleksi poster Film dan Iklan tahun 1920-1995 dalam bentuk digital dari Christoper Woodrich. Koleksinya terdiri dari poster Iklan, sampul buku, selebaran film, dengan jumlah sekitar 1800 file digital. Informasi lebih detail mengenai arsip hibah ini akan ada dalam rubrik sorotan arsip.

Di samping mengerjakan dokumentasi, kami masih secara rutin melakukan proses olah data yang konsisten. Mulai dari tahap olah data; penyuntingan foto, video, dan menambah meta data, hingga pengayaan khazanah, soal wacana dan pembicaraan yang berkembang dari berbagai peristiwa yang muncul dalam medan seni budaya. Proses olah data dan pengayaan khazanah ini merupakan satu ciri yang menunjukkan model pengarsipan IVAA yang cenderung mengedepankan nilai informatif.

Pada kesempatan ini kami Tim Arsip ingin sekaligus mengumumkan kembali bahwa IVAA mengundang siapa saja untuk bersama berkontribusi dalam kerja pengarsipan. Kami membuka pintu seluasnya bagi kawan-kawan yang ingin mendonasikan dokumen, khususnya peristiwa seni/ agenda seni. Tidak dapat dipungkiri bahwa kami selalu bersahabat dengan keterbatasan ketika melihat cakupan wilayah kerja IVAA, yang berambisi melakukan pencatatan atas wacana dan dinamika seni yang sedang berlangsung di berbagai sudut penjuru Indonesia. Untuk itu, mari selalu terhubung dengan kami melalui email archive@ivaa-online.org atau documentation@ivaa-online.org dengan kontak Hardiwan Prayoga dan Dwi Rahmanto. Untuk link bagaimana cara berkontribusi silahkan cek tautan ini : https://docs.google.com/forms/d/1qO1DgYdt1n_SW49N4iU7hdHA5tLfM1g5qIEMiwtBifY/edit?ts=5ad444f5

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi

Oleh Hardiwan Prayoga

Tim arsip IVAA yang diwakili oleh Hardiwan Prayoga dan M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA) berkesempatan untuk mengunjungi beberapa pameran di Jakarta pada 7-10 Mei 2018 lalu. Salah satunya adalah pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional, yaitu Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi. Manifesto adalah pameran dwi tahunan yang dimulai sejak tahun 2008. Untuk gelaran keenam ini, yang bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi, pameran ini menghadirkan tajuk “Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi”. Menghadirkan tidak kurang dari 60 seniman, karya-karya yang dipamerkan adalah yang dianggap mewakili perkembangan dan penanda zaman atas 20 tahun reformasi. Maka kesan pertama yang akan muncul adalah keragaman atas tema, narasi, hingga pilihan medium karya. Inilah yang sedikit banyak menjadi latar belakang atas dipilihnya Multipolar sebagai judul pameran Manifesto edisi ini.

Pameran yang menggunakan 4 gedung Galeri Nasional mempresentasikan tidak hanya karya seni, tetapi juga Lini Masa Peristiwa Seni Rupa 1990-2017, lebih tepatnya terletak di pintu masuk Gedung A. Menandai tidak hanya peristiwa seni seperti semaraknya gerakan dan kelompok seni kolektif dan pameran seniman indonesia di luar negeri, tetapi juga terbukanya akses teknologi yang melahirkan google hingga youtube, dan fenomena budaya pop seperti lahirnya MTV (Music Television) hingga kematian Michael Jackson.

Dalam hal karya seni, meski bertema seni rupa setelah 20 tahun reformasi, karya terlama yang dipamerkan berasal dari tahun 2012, yaitu The Procces #1, merupakan seni instalasi karya I Wayan Upadana. Selebihnya didominasi karya yang lahir tahun 2016-2018. Secara tema dari setiap karya, akan sangat sulit untuk ditarik satu kesimpulan. Hal ini disebabkan beragamnya isu yang diangkat dalam setiap karya, mulai dari populisme agama karya Jauh Di Hati Dekat Di Mata dari Rudy Atjeh D., kritik terhadap kapitalisme dan indutrialisasi yang terlihat dalam Hore karya Farid Stevy Asta, im obsessed with these culture but i hate it karya Muklay, dan Ketagihan Dikibulin Bandar karya Syaiful Ardianto, yang sangat personal yaitu seni instalasi interaktif karya Putri Ayu Lestari tentang pengalaman menjadi joki three in one yang berjudul Joki-Jokian, dan Photo Shoppu Scrinium karya Nurrachmat Widyasena, hingga lukisan abstrak Menjaga Sunyi yang Perlahan Liar karya Iabadiou Piko. Sebaran tema ini pada dasarnya cukup menarik bagi pengunjung, meski harus diakui pada akhirnya publik akan kesulitan mencari narasi utama dari seni rupa pasca orde baru ini selain kata keragaman atau yang oleh pameran ini dibahasakan sebagai Multipolar. Terlebih karya yang ditampilkan juga hanya dalam rentang waktu 2012-2018.

Merujuk pada catatan kuratorial, seniman yang dipilih dalam pameran ini adalah mereka yang proses karir berkeseniannya dimulai pasca 1998, dan yang dianggap cukup mewakili semangat zaman. Pasca reformasi, selalu ada pertanyaan reflektif seputar kesadaran dan laku seni apa saja yang tengah berlangsung dari generasi yang lahir pada tahun 80-an ke tahun sesudahnya? Pameran ini nampaknya lahir dari gagasan kurasi untuk menghadirkan arkeologi karya-karya seniman pasca 98. Menarik untuk ditandai adalah terjadi berbagai pemikiran dan praktik yang beragam, terutama karena pengaruh dan dinamika sosial budaya melalui lingkungan media dan teknologi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi

Oleh: Willy Alfarius (Kawan Magang IVAA)

Jumat sore 18 Mei 2018, bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi hari dibukanya Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi. Merupakan pameran arsip berisi kliping dan foto-foto peristiwa unjuk rasa menuntut Reformasi dan mundurnya Soeharto yang terjadi di UGM. Dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. R. Suharyadi, M.Sc dengan sedikit seremoni di halaman Gedung PKKH. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan pagelaran musik yang menghadirkan John Tobing, Sande Monink, Sastra Budaya, Orkes Melayu Dangdut Pembangunan, dan Forum Musik Fisipol.

Acara yang berlangsung selama 18-20 Mei 2018 ini tidak hanya menampilkan foto-foto yang menggambarkan mahasiswa turun ke jalan, tetapi menunjukkan kalangan akademisi hingga Rektor UGM menyatakan sikap mendukung segera dilaksanakannya Reformasi. Hampir semua aksi yang berlangsung di seputaran UGM diakhiri bentrokan dengan aparat keamanan. Berbagai aksi berlangsung di Yogyakarta pada minggu-minggu menjelang Mei 1998. Hingga puncaknya pada acara Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara, sehari menjelang Reformasi bergulir yang dihadiri langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagian besar foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini berasal dari koleksi Arsip UGM. Sedangkan kliping berita yang dipamerkan hampir semua berasal dari majalah mahasiswa Balairung, serta beberapa surat kabar lokal.

Lengsernya Suharto dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 21 Mei 1998 menjadi babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gelombang reformasi menjadi penanda dimulainya penataan kembali berbagai struktur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan berbagai elemen mendasar lainnya. Tahun 2018 ini menjadi momentum 20 tahun Reformasi yang kemudian dirayakan dengan bermacam-macam acara yang digelar oleh berbagai pihak di Indonesia. Tidak terkecuali Forum Komunikasi (Forkom) Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga mengadakan kegiatan peringatan dua dekade Reformasi dengan judul 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi.

Forkom sendiri adalah sebuah perkumpulan dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa di UGM yang bermarkas di Gelanggang Mahasiswa. Ide acara peringatan ini muncul dengan dilandasi gagasan bahwa dua dekade lalu, reformasi lahir salah satunya dari pergerakan mahasiswa di kampus. Gelanggang Mahasiswa menjadi salah satu titik kumpul bagi pergerakan mahasiswa di Yogyakarta untuk merumuskan aksi, strategi, hingga benteng pertahanan ketika aksi unjuk rasa dilangsungkan di berbagai titik seperti Boulevard, Bunderan, dan Gedung Pusat UGM. Dalam rilis pers yang dikeluarkan panitia, disebutkan bahwa acara ini bertujuan untuk membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa dalam mengawal pemerintahan sekarang. Acara ini sekaligus sebagai penegasan bahwa unit kegiatan mahasiswa juga memiliki andil dalam berbagai pergerakan mahasiswa.

Selain pameran arsip, juga digelar acara bincang-bincang yang menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan akademisi yang mengalami langsung peristiwa bersejarah tersebut. Para hari kedua acara, bincang-bincang dengan tema “Mengenang 1998” dimulai pada pukul 20.00 dengan menghadirkan Ika Dewi Ana (mantan aktivis mahasiswa ’98), Peter Kasenda (sejarawan), dan Muhammad Nurkhoiron (alumnus UGM dan anggota Komnas HAM). Ketiga pembicara menghadirkan kisah berupa kesaksian mereka yang mengalami secara langsung berbagai aksi dan peristiwa dalam proses Reformasi 1998. Sedangkan pada hari ketiga sekaligus penutupan acara menghadirkan Agus Suwignyo (Dosen Sejarah UGM), Max Lane (peneliti di Fisipol UGM), dan Agus Wahyudi (Dosen Filsafat UGM). Tema dari talkshow ini adalah “Indonesia Setelah 20 Tahun Reformasi”. Ketiganya memberikan ulasan dan pandangannya bagaimana kemudian Reformasi ini berjalan, dan berbagai perubahan maupun stagnasi yang terjadi pasca-Orde Baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945

Oleh: Hardiwan Prayoga

Masih dalam rangkaian perjalanan di Jakarta, kali ini Tim Arsip IVAA mengikuti seluruh rangkaian acara 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 yang bertempat di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Benang merah yang diangkat dari acara ini adalah pengaruh yang ditinggalkan Jepang pada pasa pendudukannya selama 3,5 tahun di Indonesia. Acara yang berlangsung dari 7-10 Mei 2018 ini pada dasarnya berbasis arsip, yang lebih lanjut dijadikan sandaran untuk eksplorasi seni. Dari situ, hasil eksplorasi dimunculkan dalam bentuk presentasi hasil riset, lini masa pendudukan Jepang dari segi sosial politik dan seni-budaya, seni pertunjukan, pemutaran film dan simposium.

Kita dapat langsung melihat poster-poster propaganda, lukisan-lukisan seniman Jepang pada masa itu, ruang gelap yang berisi profil-profil seniman Indonesia di masa itu, hingga video. Koleksi ini diambil dari keluarga Saseo Ono, salah satu seniman Jepang, dan dari

The NIOD (Institute for War, Holocaust and Genocide Studies is an organisation in the Netherlands). Sedangkan lini masa dicetak dalam kursi-kursi yang tersebar di sekitar lokasi pameran. Pameran riset ini berjalan penuh dari pembukaan acara tanggal 7 Mei hingga penutupan tanggal 10 Mei.

Sementara itu, pertunjukan berlangsung pada tanggal 9 Mei 2018. Dengan mengangkat cerita berjudul Ayahkoe Poelang. Kemudian ditanggal 10 Mei sebelum penutupan dipentaskan juga dramatic reading. Pentas teater ini masih dielaborasi dalam upaya menampilkan arsip yang lebih performatif tanpa kehilangan konteksnya. Selain itu juga diadakan screening film, pada tanggal 9-10 Mei. Dengan mengambil jeda waktu antara simposium dan pertunjukan teater, yaitu dari pukul 18.00-19.00. Film yang di-screening adalah film-film yang diproduksi Jepang sebagai salah satu media propaganda. Maka film-film ini tidak jauh dari kisah seputar cara membuat dan menggunakan bambu runcing, keuntungan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), hingga janji dan citra bahwa Jepang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa Eropa.

Kemudian satu sub acara yang cukup menjadi perhatian dari Tim Arsip IVAA adalah simposium. Simposium diadakan sebanyak 3 kali, pada tanggal 8-10 Mei. Simposium hari pertama yang dimoderatori oleh JJ Rizal mempresentasikan 3 riset berjudul “Riset dan Pengembangan Bekraf” oleh Wawan Rusiawan, “Media Massa Pada Masa Pendudukan Jepang Kasus Djawa Baroe” oleh Ignatius Haryanto, dan Surat Menyurat Pada Masa Perang: Kasus Survival Komunitas Gerejani Pada Masa Jepang” Oleh G. Budi Subanar, SJ. Dilanjutkan pada simposium II dihari berikutnya, oleh Antariksa dan Fandy Hutari yang masing-masing mempresentasikan penelitiannya dengan judul “Kemakmuran Bersama: Seni Rupa dan Desain Pada Masa Pendudukan Jepang”, dan “Sandiwara Pada Masa Pendudukan Jepang”, dengan moderator Ugeng T. Moetidjo. Simposium III sekaligus salah satu penutup rangkaian acara ini berjudul “Arsip dan Praktik Seni di Luar Tubuh Sejarah” oleh Antariksa, Fandy Hutari, Dendi Madya, Haryo Hutomo, dan Riosadja. Simposium III lebih mengarah pada wicara penyelenggara, yang banyak bicara seputar proses kreatif hingga akhirnya terlaksana acara ini. Mulai dari ide dari komite teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membuat suatu program pameran, hingga kemudian mengajak Antariksa untuk menjadi kurator sekaligus ruang untuk memamerkan dan mendiskusikan hasil risetnya. Dari sekian banyak ide yang terlontar, akhirnya diputuskan bahwa acara berbasis arsip ini direspon dengan berbagai bentuk seni kontemporer, sebagai upaya mengkontekstualisasi arsip-arsip masa lalu dengan praksis masa kini tanpa menghilangkan esensi dan nilai peristiwanya.

Dari tiga kali simposium, IVAA cukup menyoroti simposium II yang lebih fokus pada praktik seni pada masa pendudukan Jepang. Antariksa mempresentasikan bagaimana masa singkat pendudukan Jepang berpengaruh pada perkembangan seni rupa indonesia. Antariksa mengawali presentasi dengan kedatangan Jepang ke Indonesia yang disambut gembira dikarenakan keyakinan bahwa Jepang akan memerdekakan Indonesia. Keputusan yang juga didukung elit politik ini berimbas pada seniman yang akhirnya bekerja pada lembaga-lembaga propaganda Jepang. Jepang adalah negara yang sangat sadar pada kekuatan seni sebagai media propaganda. Berbeda dengan barat, Jepang menggunakan propaganda dengan prinsip kejujuran, hanya saja kejujuran yang sudah melalui skema filtering.

Jepang yang ketika itu diembargo oleh Amerika dan sekutunya, membuat poros segitiga dengan Nazi dan Italia. Kondisi yang kemudian sangat mempengaruhi ketersediaan material dan bahan baku seni rupa yang menjadi terbatas. Pada masa perang ini, Jepang mengirim senimannya ke negara jajahan hingga lokasi-lokasi konflik. Seniman-seniman inilah yang banyak melukiskan kondisi perang sebagai salah satu narasi propaganda. Seniman-seniman Jepang ini tinggal di berbagai daerah di Indonesia, seperti Saburo Miyamoto yang pernah pameran tunggal di Manado tahun 1943, Suro Tagoro seorang pengajar seni dari Tokyo yang pernah tinggal di Bukittinggi. Kehadiran seniman ke daerah-daerah ini menciptakan desentralisasi seni dengan tidak hanya di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, tetapi menyebar hingga ke Jember, Dili, Manado, Bukittingi dan lain-lain. Selain itu, mereka yang didatangkan ke Indonesia adalah Takashi Kono, Rintaro Takeda, Seizen Minami, Saseo Ono, Soichi Oya, Eitaro Hinatsu, dan Ryohei Koso. Takashi Kono adalah seniman yang bekerja di agensi propaganda Jepang, memperkenalkan teknik-teknik grafis, montase, hingga stopmotion pada seniman Indonesia. Banyak bekerja sama dengan Soichi Oya sebagai copywriternya. Kemudian Yonosuke Natori, yang disebut sebagai bapak foto jurnalisitik Jepang, menerbitkan majalah Nippon, majalah seni visual pertama di Asia dan didistribusikan dalam 5 bahasa ke seluruh dunia. Nippon versi Indonesia berjudul Djawa Baroe. Selain mendatangkan seniman, Jepang juga membentuk lembaga-lembaga seperti Keimin Bunka Shidoso, secara singkat dapat diartikan sebagai institusi pemandu seni dan budaya.

Berbeda dari Belanda, Jepang membuat seni menjadi populis, mulai dari akses ruang pamer, hingga edukasi gratis. Ini mengakibatkan meledaknya perkembangan estetika dengan gagasan seni rupa barat. Kenapa barat? Karena Jepang ingin menunjukkan bahwa mereka menguasai teknik barat lebih baik dari barat itu sendiri. Dengan kata lain mengakuisisi keahlian barat yang kemudian digunakan ulang untuk kepentingan bangsa, artinya Jepang dan Indonesia saling diuntungkan. Jepang membebaskan seniman Indonesia menggunakan gaya estetik apapun asal tidak mengkritik Jepang. Pengaruh Jepang pada seni rupa memberikan narasi baru, bahwa kepentingan Jepang di Indonesia tidak hanya soal militer dan perang. Seni yang berhasil dibuat populis ini menyadarkan publik saat itu akan pekerjaan yang tidak melulu kerja kasar/ buruh tetapi juga bisa menjadi seniman. Periode ini sekaligus mengenalkan bahwa seni mulai digunakan sebagai pernyataan politik.

*Dokumentasi pameran ini dapat diakses di Archive Online IVAA, dan buku program 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 dapat diakses di perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Mengenal Catatan dan Arsip dalam Pameran Namaku Pram

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Pameran catatan dan arsip yang bertajuk Namaku Pram mengingatkan kita akan pentingnya arsip, catatan, dan menulis. Suasana galeri dengan iringan musik instrumental membawa pengunjung mengingatkan kembali fase-fase era kehidupan Pram. Pameran catatan dan arsip ini berlangsung di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, 17 April – 3 Juni 2018.

Publik akan disuguhi berbagai macam artefak kehidupan Pram. Pertama melalui lini masa perjalanan saat beliau masih kecil hingga menjelang wafatnya. Membaca secara kronologis jejak hidup Pram mulai dari pertemuannya dengan dunia penulisan, hingga pilihan ideologi politik yang membawanya terasing di tanahnya sendiri.

Semua benda catatan dan arsip yang dipamerkan adalah koleksi keluarga Pram, dan ini adalah pertama kalinya untuk dipertunjukkan di hadapan publik. Berbagai macam catatan ikut dipamerkan, termasuk tulisan Pram di atas kertas semen, karena dalam pengasingan di Pulau Buru tahanan politik dilarang memegang kertas, sehingga Pram hanya bisa menulis di kertas semen.  Surat–surat untuk Pram pada masa pengasingan dari anak dan istri juga masih tersimpan rapi dan ikut dipamerkan. Surat-surat yang menyentuh perasaan karena berisi mulai dari cerita kerinduan hingga nilai rapor dan kenaikan kelas anak-anaknya. Juga yang tentu saja ikut dipajang adalah foto – foto Pram bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Maemunah bagi Pram adalah belahan jiwanya, meskipun ia adalah istri kedua. Maemunah adalah sosok perempuan hebat. Perempuan yang tidak pernah menuntut apapun dari Pram, membebaskan kehendak Pram, setia dalam masa pengasingan, dan selalu menerima apa adanya. Beberapa barang pribadi, pemberian teman, penghargaan cukup memuaskan dan akan menghabiskan waktu yang cukup panjang jika ingin diperhatikan satu per satu. Satu yang menarik juga adalah replika ruang kerja Pram, lengkap dengan mesin tik yang selalu ia gunakan saat menulis, pakaian putih, sarung, celana, asbak, kacamata, meja, kursi, sampai beberapa piagam penghargaan.

Himbauan yang paling penting pada pameran catatan dan arsip ini adalah larangan untuk memotret arsip–arsip Pram. Khusus untuk arsip yang terdiri dari teks, dikarenakan permintaan dari pihak keluarga. Catatan harian Pram di Pulau Buru, surat-surat dari keluarga Pram, foto-foto keluarga, dan lini masa dilarang untuk diabadikan melalui lensa kamera. Pameran ini dihadirkan sebagai pengenalan kembali jejak panjang karya sastrawan besar Indonesia ini. Harus diakui bahwa masuknya buku-buku Pram dalam daftar buku putih di masa orde baru membuat namanya hanya dikenal sebatas nama. Sementara itu karya sastra Pram memiliki kekayaan narasi yang bisa menjadi penanda zaman, penanda atas cerita tentang kekuasaan, perlawanan, kesetiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Made of: Stories of the Material

Oleh Dwi Rahmanto

5 Mei 2018 di Yogyakarta menawarkan beberapa pembukaan pameran dalam waktu hampir berbarengan, selain yang paling dekat dengan Galeri Lorong yaitu Gadjah Galeri dengan pameran seni rupa dan performance art, Medium at Play. Dari sekian banyak pameran seni rupa di bulan April – Mei, saya tertarik datang ke pameran Made of: Stories of the Material, pameran ini di gagas oleh Galeri Lorong. Galeri Lorong merupakan salah satu galeri seni yang didirikan oleh Alloysius Suko Widigdo, Maria Ambar Sulistyowati dan Yoshi Fajar Kresno Mukti. Galeri yang didirikan di akhir tahun 2013 ini merupakan ruang pamer yang menjadikan kriya sebagai konsep dan titik tekan. Galeri ini berlokasi di Dusun Jeblok, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau jalan utama Kampung Nitiprayan dan Jeblok. Dusun yang memang dikenal sebagai dusun seniman, karena banyaknya seniman yang bertempat tinggal di situ.  

Pameran dibuka pada pukul 5.30 WIB oleh Arham Rahman (kurator Galeri Lorong) dan Adelina Luth (Kurator lepas). Pameran ini juga merupakan kerjasama dengan ARCOLABS, yang berdiri tahun 2014 sebagai The Center for Art and Community Management yang merupakan bagian dari Universitas Surya di Tangerang.Project kerjasama ini mengundang lima perupa muda dengan pendekatan karya yang beragam. Mereka adalah Abud Andri William, FJ Kunting, Gintani Swastika & Yahya Dwi Kurniawan, Julian Abraham ‘Togar’, Yosefa Aulia. Mereka bukanlah seniman yang bermain di ranah seni kriya, tetapi nampaknya justru menjadi tantangan tersendiri. Juga dalam pameran ini tidak menampilkan secara spesifik apa itu kriya, tetapi mengambil gagasan-gagasan seni kriya dalam bentuk seni rupa kontemporer. Dalam sambutanya, Arham berkata bahwa pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik-praktik kerajinan tidak hanya tunduk pada materialitas, tetapi lebih pada aspek relasional dari prosesnya. Pameran bersama ini mengeksplorasi tiga elemen inti kerajinan sebagai cara berpikir dan membuat -bahan, asal-usulnya, dan prosesnya tersirat- untuk mengungkapkan cerita yang tak terhitung jumlahnya dari dimensi sosial dan budaya yang melekat.

Hal ini terlihat dalam presentasi karya yang beragam, mulai dari instalasi, performance art, keramik, video dan sebagainya. FJ Kunting dalam pembukaan mempresentasikan karya instalasi dan performance art. Kunting menciptakan alat untuk membuat batu cincin, dan memajang berbagai model batu dan bentuk cincin yang sudah siap di pakai. Proses membuat batu cincin ini dipadukan dengan efek-efek suara, yang kemudian memunculkan narasi suara-suara beragam, saling beradu baik dari alat pembuat batu cincin hingga interaksi Kunting saat melakukan performance art. Perpaduan alat manual membuat batu akik dan sound noise/delay menggambarkan bagaimana situasi saat itu dengan dinamika yang sangat mengambang.

Dalam wawancara saya dengan Kunting, dia menjelaskan banyak aspek pencarian data dan cerita soal batu akik. Mulai dari booming yang terjadi di berbagai kelas ekonomi masyarakat hingga cerita soal batu akik pacitan yang dijadikan pemberian kepada Barack Obama, oleh SBY sewaktu keduanya merupakan presiden hingga eksploitasi alam. Kemudian Togar juga bermain-main dengan efek suara. Dari karyanya, dia berbentuk Gong dan Air, suara bergema yang muncul saat suara gong di dalam air cukup menggelitik, seperti suara bergerumuh saat gempa. Eksplorasi lain yang bisa dijumpai dari kolaborasi Gintani Yahya yang menarasikan sejarah minuman keras oplosan dengan nama “Santoso”, yang sangat terkenal di kalangan Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2008.

Pameran ini merupakan satu dari serial program berjudul ‘Back to Craftmanship Series’, Galeri ini berupaya mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan kriya. Seniman-seniman yang dipilihnya merupakan seniman lintas generasi, dengan bermacam pendekatan, yang sengaja dihadirkan agar muncul percakapan dan pertukaran pengetahuan. Di awal kehadirannya pun, galeri ini juga sempat menghadirkan karya-karya dari seniman yang dekat dengan pendekatan tradisi, seperti seniman wayang Sulasno, pelukis kaca yang sangat kuat dalam bertungkus lumus dengan mediumnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2: Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa

Oleh Elis dan Rossella (Kawan Magang IVAA)

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 digelar pada  9-13 Mei 2018 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini diikuti oleh 40 peserta hasil seleksi terbuka dan 46 peserta undangan, dengan menampilkan 110 karya yang tersaji dalam karya yang sifatnya utuh dan instalasi. Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 merupakan program dari Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik lndonesia. Pameran bertema “Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa” ini merupakan lanjutan dari kegiatan pameran Undagi #1 yang digelar dua tahun lalu. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah pameran Undagi #2 karena sebagai wilayah dengan memiliki tradisi pengembangan ilmu seni kriya yang didukung keberadaan lembaga pendidikan tinggi seni kriya tertua di lndonesia, yakni Jurusan Kriya Institut Seni lndonesia (lSI) Yogyakarta, 5 Sekolah Menengah lndustri Kerajinan (SMIK), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan komunitas-komunitas seni kriya, mulai dari Keramik Kasongan, Batik lmogiri, Perak Kota Gedhe, Batik Pandak Bantul, Keris Banyusumurup, dan lainnya.

Pembukaan pameran ini diramaikan dengan berbagai macam aksi, mulai dari tari-tarian hingga peragaan busana, yang menampilkan karya-karya bercorak etnik berbahan lurik, tile, spon ati dan bahkan tikar mendong. Desainer-desainer yang meramaikan acara ini antara lain Phillip Iswardono, Isyanto, Novi Bamboo.Dalam katalognya, dituliskan bahwa pameran ini ingin merefleksikan kekayaan alam dan budaya lndonesia yang beragam, yang selama ini menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni kriya. Seni-budaya peninggalan nenek moyang adalah hasil kesenian tradisi yang memiliki nilai keindahan dan filosofis. Pameran ini menekankan resepsi atas karya-karya masa lalu yang dielaborasi oleh para kriyawan, sehingga memiliki nilai artistik dan nilai guna yang tinggi.

Sedangkan istilah ‘undagi’ biasanya dipakai untuk menyebut profesi yang selama ini kita kenal sebagai arsitek. Menurut tradisi, sebelum menekuni profesi undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan diri lahir-batin. Syarat ini wajib dijalani seorang undagi, agar dalam proses perancangan dan penciptaannya selaras dengan alam, tradisi dan religi. Ia harus paham filosofi yang mendasari konsep desain dan fungsi dari setiap bagian produk seni kriya yang mengekspresikan dimensi estetis dan etis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.