Tag Archives: #sorotandokumentasi

3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945

Oleh: Hardiwan Prayoga

Masih dalam rangkaian perjalanan di Jakarta, kali ini Tim Arsip IVAA mengikuti seluruh rangkaian acara 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 yang bertempat di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Benang merah yang diangkat dari acara ini adalah pengaruh yang ditinggalkan Jepang pada pasa pendudukannya selama 3,5 tahun di Indonesia. Acara yang berlangsung dari 7-10 Mei 2018 ini pada dasarnya berbasis arsip, yang lebih lanjut dijadikan sandaran untuk eksplorasi seni. Dari situ, hasil eksplorasi dimunculkan dalam bentuk presentasi hasil riset, lini masa pendudukan Jepang dari segi sosial politik dan seni-budaya, seni pertunjukan, pemutaran film dan simposium.

Kita dapat langsung melihat poster-poster propaganda, lukisan-lukisan seniman Jepang pada masa itu, ruang gelap yang berisi profil-profil seniman Indonesia di masa itu, hingga video. Koleksi ini diambil dari keluarga Saseo Ono, salah satu seniman Jepang, dan dari

The NIOD (Institute for War, Holocaust and Genocide Studies is an organisation in the Netherlands). Sedangkan lini masa dicetak dalam kursi-kursi yang tersebar di sekitar lokasi pameran. Pameran riset ini berjalan penuh dari pembukaan acara tanggal 7 Mei hingga penutupan tanggal 10 Mei.

Sementara itu, pertunjukan berlangsung pada tanggal 9 Mei 2018. Dengan mengangkat cerita berjudul Ayahkoe Poelang. Kemudian ditanggal 10 Mei sebelum penutupan dipentaskan juga dramatic reading. Pentas teater ini masih dielaborasi dalam upaya menampilkan arsip yang lebih performatif tanpa kehilangan konteksnya. Selain itu juga diadakan screening film, pada tanggal 9-10 Mei. Dengan mengambil jeda waktu antara simposium dan pertunjukan teater, yaitu dari pukul 18.00-19.00. Film yang di-screening adalah film-film yang diproduksi Jepang sebagai salah satu media propaganda. Maka film-film ini tidak jauh dari kisah seputar cara membuat dan menggunakan bambu runcing, keuntungan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), hingga janji dan citra bahwa Jepang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa Eropa.

Kemudian satu sub acara yang cukup menjadi perhatian dari Tim Arsip IVAA adalah simposium. Simposium diadakan sebanyak 3 kali, pada tanggal 8-10 Mei. Simposium hari pertama yang dimoderatori oleh JJ Rizal mempresentasikan 3 riset berjudul “Riset dan Pengembangan Bekraf” oleh Wawan Rusiawan, “Media Massa Pada Masa Pendudukan Jepang Kasus Djawa Baroe” oleh Ignatius Haryanto, dan Surat Menyurat Pada Masa Perang: Kasus Survival Komunitas Gerejani Pada Masa Jepang” Oleh G. Budi Subanar, SJ. Dilanjutkan pada simposium II dihari berikutnya, oleh Antariksa dan Fandy Hutari yang masing-masing mempresentasikan penelitiannya dengan judul “Kemakmuran Bersama: Seni Rupa dan Desain Pada Masa Pendudukan Jepang”, dan “Sandiwara Pada Masa Pendudukan Jepang”, dengan moderator Ugeng T. Moetidjo. Simposium III sekaligus salah satu penutup rangkaian acara ini berjudul “Arsip dan Praktik Seni di Luar Tubuh Sejarah” oleh Antariksa, Fandy Hutari, Dendi Madya, Haryo Hutomo, dan Riosadja. Simposium III lebih mengarah pada wicara penyelenggara, yang banyak bicara seputar proses kreatif hingga akhirnya terlaksana acara ini. Mulai dari ide dari komite teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membuat suatu program pameran, hingga kemudian mengajak Antariksa untuk menjadi kurator sekaligus ruang untuk memamerkan dan mendiskusikan hasil risetnya. Dari sekian banyak ide yang terlontar, akhirnya diputuskan bahwa acara berbasis arsip ini direspon dengan berbagai bentuk seni kontemporer, sebagai upaya mengkontekstualisasi arsip-arsip masa lalu dengan praksis masa kini tanpa menghilangkan esensi dan nilai peristiwanya.

Dari tiga kali simposium, IVAA cukup menyoroti simposium II yang lebih fokus pada praktik seni pada masa pendudukan Jepang. Antariksa mempresentasikan bagaimana masa singkat pendudukan Jepang berpengaruh pada perkembangan seni rupa indonesia. Antariksa mengawali presentasi dengan kedatangan Jepang ke Indonesia yang disambut gembira dikarenakan keyakinan bahwa Jepang akan memerdekakan Indonesia. Keputusan yang juga didukung elit politik ini berimbas pada seniman yang akhirnya bekerja pada lembaga-lembaga propaganda Jepang. Jepang adalah negara yang sangat sadar pada kekuatan seni sebagai media propaganda. Berbeda dengan barat, Jepang menggunakan propaganda dengan prinsip kejujuran, hanya saja kejujuran yang sudah melalui skema filtering.

Jepang yang ketika itu diembargo oleh Amerika dan sekutunya, membuat poros segitiga dengan Nazi dan Italia. Kondisi yang kemudian sangat mempengaruhi ketersediaan material dan bahan baku seni rupa yang menjadi terbatas. Pada masa perang ini, Jepang mengirim senimannya ke negara jajahan hingga lokasi-lokasi konflik. Seniman-seniman inilah yang banyak melukiskan kondisi perang sebagai salah satu narasi propaganda. Seniman-seniman Jepang ini tinggal di berbagai daerah di Indonesia, seperti Saburo Miyamoto yang pernah pameran tunggal di Manado tahun 1943, Suro Tagoro seorang pengajar seni dari Tokyo yang pernah tinggal di Bukittinggi. Kehadiran seniman ke daerah-daerah ini menciptakan desentralisasi seni dengan tidak hanya di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, tetapi menyebar hingga ke Jember, Dili, Manado, Bukittingi dan lain-lain. Selain itu, mereka yang didatangkan ke Indonesia adalah Takashi Kono, Rintaro Takeda, Seizen Minami, Saseo Ono, Soichi Oya, Eitaro Hinatsu, dan Ryohei Koso. Takashi Kono adalah seniman yang bekerja di agensi propaganda Jepang, memperkenalkan teknik-teknik grafis, montase, hingga stopmotion pada seniman Indonesia. Banyak bekerja sama dengan Soichi Oya sebagai copywriternya. Kemudian Yonosuke Natori, yang disebut sebagai bapak foto jurnalisitik Jepang, menerbitkan majalah Nippon, majalah seni visual pertama di Asia dan didistribusikan dalam 5 bahasa ke seluruh dunia. Nippon versi Indonesia berjudul Djawa Baroe. Selain mendatangkan seniman, Jepang juga membentuk lembaga-lembaga seperti Keimin Bunka Shidoso, secara singkat dapat diartikan sebagai institusi pemandu seni dan budaya.

Berbeda dari Belanda, Jepang membuat seni menjadi populis, mulai dari akses ruang pamer, hingga edukasi gratis. Ini mengakibatkan meledaknya perkembangan estetika dengan gagasan seni rupa barat. Kenapa barat? Karena Jepang ingin menunjukkan bahwa mereka menguasai teknik barat lebih baik dari barat itu sendiri. Dengan kata lain mengakuisisi keahlian barat yang kemudian digunakan ulang untuk kepentingan bangsa, artinya Jepang dan Indonesia saling diuntungkan. Jepang membebaskan seniman Indonesia menggunakan gaya estetik apapun asal tidak mengkritik Jepang. Pengaruh Jepang pada seni rupa memberikan narasi baru, bahwa kepentingan Jepang di Indonesia tidak hanya soal militer dan perang. Seni yang berhasil dibuat populis ini menyadarkan publik saat itu akan pekerjaan yang tidak melulu kerja kasar/ buruh tetapi juga bisa menjadi seniman. Periode ini sekaligus mengenalkan bahwa seni mulai digunakan sebagai pernyataan politik.

*Dokumentasi pameran ini dapat diakses di Archive Online IVAA, dan buku program 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 dapat diakses di perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Mengenal Catatan dan Arsip dalam Pameran Namaku Pram

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Pameran catatan dan arsip yang bertajuk Namaku Pram mengingatkan kita akan pentingnya arsip, catatan, dan menulis. Suasana galeri dengan iringan musik instrumental membawa pengunjung mengingatkan kembali fase-fase era kehidupan Pram. Pameran catatan dan arsip ini berlangsung di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, 17 April – 3 Juni 2018.

Publik akan disuguhi berbagai macam artefak kehidupan Pram. Pertama melalui lini masa perjalanan saat beliau masih kecil hingga menjelang wafatnya. Membaca secara kronologis jejak hidup Pram mulai dari pertemuannya dengan dunia penulisan, hingga pilihan ideologi politik yang membawanya terasing di tanahnya sendiri.

Semua benda catatan dan arsip yang dipamerkan adalah koleksi keluarga Pram, dan ini adalah pertama kalinya untuk dipertunjukkan di hadapan publik. Berbagai macam catatan ikut dipamerkan, termasuk tulisan Pram di atas kertas semen, karena dalam pengasingan di Pulau Buru tahanan politik dilarang memegang kertas, sehingga Pram hanya bisa menulis di kertas semen.  Surat–surat untuk Pram pada masa pengasingan dari anak dan istri juga masih tersimpan rapi dan ikut dipamerkan. Surat-surat yang menyentuh perasaan karena berisi mulai dari cerita kerinduan hingga nilai rapor dan kenaikan kelas anak-anaknya. Juga yang tentu saja ikut dipajang adalah foto – foto Pram bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Maemunah bagi Pram adalah belahan jiwanya, meskipun ia adalah istri kedua. Maemunah adalah sosok perempuan hebat. Perempuan yang tidak pernah menuntut apapun dari Pram, membebaskan kehendak Pram, setia dalam masa pengasingan, dan selalu menerima apa adanya. Beberapa barang pribadi, pemberian teman, penghargaan cukup memuaskan dan akan menghabiskan waktu yang cukup panjang jika ingin diperhatikan satu per satu. Satu yang menarik juga adalah replika ruang kerja Pram, lengkap dengan mesin tik yang selalu ia gunakan saat menulis, pakaian putih, sarung, celana, asbak, kacamata, meja, kursi, sampai beberapa piagam penghargaan.

Himbauan yang paling penting pada pameran catatan dan arsip ini adalah larangan untuk memotret arsip–arsip Pram. Khusus untuk arsip yang terdiri dari teks, dikarenakan permintaan dari pihak keluarga. Catatan harian Pram di Pulau Buru, surat-surat dari keluarga Pram, foto-foto keluarga, dan lini masa dilarang untuk diabadikan melalui lensa kamera. Pameran ini dihadirkan sebagai pengenalan kembali jejak panjang karya sastrawan besar Indonesia ini. Harus diakui bahwa masuknya buku-buku Pram dalam daftar buku putih di masa orde baru membuat namanya hanya dikenal sebatas nama. Sementara itu karya sastra Pram memiliki kekayaan narasi yang bisa menjadi penanda zaman, penanda atas cerita tentang kekuasaan, perlawanan, kesetiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Made of: Stories of the Material

Oleh Dwi Rahmanto

5 Mei 2018 di Yogyakarta menawarkan beberapa pembukaan pameran dalam waktu hampir berbarengan, selain yang paling dekat dengan Galeri Lorong yaitu Gadjah Galeri dengan pameran seni rupa dan performance art, Medium at Play. Dari sekian banyak pameran seni rupa di bulan April – Mei, saya tertarik datang ke pameran Made of: Stories of the Material, pameran ini di gagas oleh Galeri Lorong. Galeri Lorong merupakan salah satu galeri seni yang didirikan oleh Alloysius Suko Widigdo, Maria Ambar Sulistyowati dan Yoshi Fajar Kresno Mukti. Galeri yang didirikan di akhir tahun 2013 ini merupakan ruang pamer yang menjadikan kriya sebagai konsep dan titik tekan. Galeri ini berlokasi di Dusun Jeblok, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau jalan utama Kampung Nitiprayan dan Jeblok. Dusun yang memang dikenal sebagai dusun seniman, karena banyaknya seniman yang bertempat tinggal di situ.  

Pameran dibuka pada pukul 5.30 WIB oleh Arham Rahman (kurator Galeri Lorong) dan Adelina Luth (Kurator lepas). Pameran ini juga merupakan kerjasama dengan ARCOLABS, yang berdiri tahun 2014 sebagai The Center for Art and Community Management yang merupakan bagian dari Universitas Surya di Tangerang.Project kerjasama ini mengundang lima perupa muda dengan pendekatan karya yang beragam. Mereka adalah Abud Andri William, FJ Kunting, Gintani Swastika & Yahya Dwi Kurniawan, Julian Abraham ‘Togar’, Yosefa Aulia. Mereka bukanlah seniman yang bermain di ranah seni kriya, tetapi nampaknya justru menjadi tantangan tersendiri. Juga dalam pameran ini tidak menampilkan secara spesifik apa itu kriya, tetapi mengambil gagasan-gagasan seni kriya dalam bentuk seni rupa kontemporer. Dalam sambutanya, Arham berkata bahwa pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik-praktik kerajinan tidak hanya tunduk pada materialitas, tetapi lebih pada aspek relasional dari prosesnya. Pameran bersama ini mengeksplorasi tiga elemen inti kerajinan sebagai cara berpikir dan membuat -bahan, asal-usulnya, dan prosesnya tersirat- untuk mengungkapkan cerita yang tak terhitung jumlahnya dari dimensi sosial dan budaya yang melekat.

Hal ini terlihat dalam presentasi karya yang beragam, mulai dari instalasi, performance art, keramik, video dan sebagainya. FJ Kunting dalam pembukaan mempresentasikan karya instalasi dan performance art. Kunting menciptakan alat untuk membuat batu cincin, dan memajang berbagai model batu dan bentuk cincin yang sudah siap di pakai. Proses membuat batu cincin ini dipadukan dengan efek-efek suara, yang kemudian memunculkan narasi suara-suara beragam, saling beradu baik dari alat pembuat batu cincin hingga interaksi Kunting saat melakukan performance art. Perpaduan alat manual membuat batu akik dan sound noise/delay menggambarkan bagaimana situasi saat itu dengan dinamika yang sangat mengambang.

Dalam wawancara saya dengan Kunting, dia menjelaskan banyak aspek pencarian data dan cerita soal batu akik. Mulai dari booming yang terjadi di berbagai kelas ekonomi masyarakat hingga cerita soal batu akik pacitan yang dijadikan pemberian kepada Barack Obama, oleh SBY sewaktu keduanya merupakan presiden hingga eksploitasi alam. Kemudian Togar juga bermain-main dengan efek suara. Dari karyanya, dia berbentuk Gong dan Air, suara bergema yang muncul saat suara gong di dalam air cukup menggelitik, seperti suara bergerumuh saat gempa. Eksplorasi lain yang bisa dijumpai dari kolaborasi Gintani Yahya yang menarasikan sejarah minuman keras oplosan dengan nama “Santoso”, yang sangat terkenal di kalangan Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2008.

Pameran ini merupakan satu dari serial program berjudul ‘Back to Craftmanship Series’, Galeri ini berupaya mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan kriya. Seniman-seniman yang dipilihnya merupakan seniman lintas generasi, dengan bermacam pendekatan, yang sengaja dihadirkan agar muncul percakapan dan pertukaran pengetahuan. Di awal kehadirannya pun, galeri ini juga sempat menghadirkan karya-karya dari seniman yang dekat dengan pendekatan tradisi, seperti seniman wayang Sulasno, pelukis kaca yang sangat kuat dalam bertungkus lumus dengan mediumnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2: Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa

Oleh Elis dan Rossella (Kawan Magang IVAA)

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 digelar pada  9-13 Mei 2018 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini diikuti oleh 40 peserta hasil seleksi terbuka dan 46 peserta undangan, dengan menampilkan 110 karya yang tersaji dalam karya yang sifatnya utuh dan instalasi. Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 merupakan program dari Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik lndonesia. Pameran bertema “Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa” ini merupakan lanjutan dari kegiatan pameran Undagi #1 yang digelar dua tahun lalu. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah pameran Undagi #2 karena sebagai wilayah dengan memiliki tradisi pengembangan ilmu seni kriya yang didukung keberadaan lembaga pendidikan tinggi seni kriya tertua di lndonesia, yakni Jurusan Kriya Institut Seni lndonesia (lSI) Yogyakarta, 5 Sekolah Menengah lndustri Kerajinan (SMIK), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan komunitas-komunitas seni kriya, mulai dari Keramik Kasongan, Batik lmogiri, Perak Kota Gedhe, Batik Pandak Bantul, Keris Banyusumurup, dan lainnya.

Pembukaan pameran ini diramaikan dengan berbagai macam aksi, mulai dari tari-tarian hingga peragaan busana, yang menampilkan karya-karya bercorak etnik berbahan lurik, tile, spon ati dan bahkan tikar mendong. Desainer-desainer yang meramaikan acara ini antara lain Phillip Iswardono, Isyanto, Novi Bamboo.Dalam katalognya, dituliskan bahwa pameran ini ingin merefleksikan kekayaan alam dan budaya lndonesia yang beragam, yang selama ini menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni kriya. Seni-budaya peninggalan nenek moyang adalah hasil kesenian tradisi yang memiliki nilai keindahan dan filosofis. Pameran ini menekankan resepsi atas karya-karya masa lalu yang dielaborasi oleh para kriyawan, sehingga memiliki nilai artistik dan nilai guna yang tinggi.

Sedangkan istilah ‘undagi’ biasanya dipakai untuk menyebut profesi yang selama ini kita kenal sebagai arsitek. Menurut tradisi, sebelum menekuni profesi undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan diri lahir-batin. Syarat ini wajib dijalani seorang undagi, agar dalam proses perancangan dan penciptaannya selaras dengan alam, tradisi dan religi. Ia harus paham filosofi yang mendasari konsep desain dan fungsi dari setiap bagian produk seni kriya yang mengekspresikan dimensi estetis dan etis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Metafora #4 “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Metafora merupakan pameran seni kriya tahunan dari jurusan Kriya ISI Surakarta. Metafora edisi ke 4 ini bertema “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”. Diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang berarti mengetahui atau melihat, mengakrabi, dan menjiwai dalam bekeria. Tema ini, mengutip dari katalog pameran, dimaksudkan untuk merangkum narasi praktek kesenimanan kriya secara utuh dan mendalam. Kriya sebagai seni yang masih mengutamakan sentuhan langsung antara tubuh dengan mediumnya, memang menuntut relasi khusus antara seniman dengan tekniknya, yang pada tahap lebih lanjut bisa dimaknai sebagai pilihan-pilihan politis.

Melalui spirit ini, Metafora #4 memberanikan diri untuk unjuk gigi dengan mendatangkan partisipan dari pihak dosen dan mahasiswa, meskipun tidak sejurusan namun pihak panitia masih membuka kesempatan bagi mereka yang mempunyai keahlian dan keterampilan di bidang itu. Pameran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 3 – 5 Mei 2018, bertempat di Museum Keris Solo. Kurator membagi dua kategori utama wujud presentasi karya dalam pameran ini. Pertama yang tergolong kekaryaan media dwimatra (kain, kertas, kulit). Kedua adalah kekaryaan bersifat trimatra (topeng, panil, benda hias, keramik). Selama pameran berlangsung panitia memberi suguhan beberapa kegiatan seperti Workshop Batuk Bandana, Workhsop Keramik, Workshop Transfer Paper, Workshop Nempa Keris, Workshop Pyrography, Workshop Key Chain, Bedah Karya, dan Mural. Museum Keris Solo yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu kini mulai dipadati dengan kegiatan kesenian yang mulai ramai, dari kegiatan masyarakat hingga instansi kampus.

Pameran yang dibuka oleh Rektorat kampus, Dinas Pariwisata, dan Soegeng Toekio ini menghadirkan lebih dari 70 karya dari berbagai instansi kampus undangan. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Bali namun panitia tetap membuka siapapun bagi yang ingin mengikuti. Spirit ini tetap dibawa dengan kesadaran bahwa pameran bagi penggiat seni adalah kebutuhan yang wajib, dan arena bagi pertanggungjawaban karya seninya. Karya-karya dalam pameran ini menunjukkan berbagai macam teknik dalam kriya, seniman-seniman yang aktif merespon bagaimana perkembangan di era sekarang, yang bahkan tidak terbatas hanya pada teknik, tetapi juga wacana. Dengan hadirnya delegasi dari beberapa kampus ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, Universitas Brawijaya Malang, ISI Padang Panjang, IKJ Jakarta, UNS Solo, UNY Yogyakarta, ASDI Surakarta, dan ISI Denpasar semakin merekatkan relasi sosial antara perupa muda dan jejaringnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI Maret-April 2018

oleh Dwi Rachmanto

Satu pekerjaan penting di periode ini adalah menyeleksi dan mengedit hasil dokumentasi dari tahun 2005-2017, di bantu oleh Sebastian Advent (mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Era digital memang membuat pengambilan foto atau video semakin mudah, kemudian berikutnya yang sangat penting adalah menyeleksi dokumen dengan kriteria standar yang kami terapkan di arsip IVAA. Kami juga dibantu kawan magang bernama Sagita Rani (mahasiswa jurusan fotografi Institut Seni Indonesia Surakarta), secara khusus membantu peliputan dan dokumentasi foto-video. Rani juga mengerjakan repro dokumentasi keluarga Batara Lubis yang berjumlah kurang lebih 800 foto.

Tercatat hingga 10 April kami memperoleh 52 dokumentasi peristiwa seni yang kami rekam sejak awal tahun 2018. Selain peristiwa yang belangsung di Rumah IVAA, kami juga secara aktif meliput acara di luar IVAA sebagai pengayaan arsip IVAA. Pada saat bersamaan, kami juga menginisiasi kerja sama dengan lembaga lain dalam kontribusi arsip mereka. Kami bekerjasama dengan Tyaga Art Management Malang dan Redbase Foundation untuk mengirimkan dokumentasi Pameran Tunggal Citra Sasmita pada IVAA. Sinergi dengan keinginan IVAA untuk aktif dalam distribusi informasi, baik arsip lampau hingga sekarang. Kami menampilkannya di halaman Peristiwa Seni di Online Archive IVAA, diharapkan ini bisa menjembatani penyebaran informasi peristiwa seni yang digagas kawan-kawan perupa dan galeri.

Beberapa highlight peristiwa yang kami catat adalah antara lain Launching Buku Henk Ngantung di Sekolah Pascasarjana UGM, Akuisisi Arsip Keluarga Batara Lubis, Diskusi Gagal 1 Tumbuh 1000 di Mes56, Diskusi Ngaji Dewa Ruci bersama ST Sunardi dan Katrine Bandel di Pondok Pesantren Kaliopak, Pameran Titik Temu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), Pameran Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Pameran Tunggal Dian Suci Rahmawati di Kedai Kebun Forum, Diskusi Peristiwa dan Romantika di ISI Yogyakarta, Pameran Lukisan Abstrak Ronald Effendi dan Santi Ardi di Musem dan Tanah Liat (MDTL), Pameran Bersama Estetika Domestika di IFI-LIP, Diskusi Buku Melampaui Citra dan Ingatan di Universitas Sanata Dharma, Pameran Tunggal Alie Gopal dan Pameran Tungggal Jupri Abdullah di Taman Budaya Yogyakarta, Pameran Bersama Pengilon dan Pameran Tunggal Budiyono Kampret di Bentara Budaya Yogyakarta.

Dalam periode ini, tidak lupa kami juga aktif upload video dokumentasi di channel Youtube IVAA. 25 video telah bertambah dalam daftar koleksi video kami, antara lain seri diskusi forum Made In Common yang diinisiasi oleh Kunci Cultural Studies dan kolega, wawancara Ong Harry Wahyu, wawancara Keluarga Batara Lubis,  Wawancara dengan Alie Gopal, Musrary #7-#9, Aksi Seni ISI Tolak HTI, Survive Garage – Merayakan Keberagaman, dan Pirsa Kuasa Ingatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Ngaji Dewa Ruci: Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini

Oleh: Hardiwan Prayoga

Ngaji Dewa Ruci, adalah acara diskusi berkonsep sarasehan setiap Selasa malam di Pesantren Kali Opak, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Acara bertajuk “Ngaji” ini adalah diskusi ilmiah tentang persoalan yang bersinggungan dengan kajian budaya hingga pascakolonial. Tidak mengherankan jika tagline dari acara acara ini adalah “Mendialogkan Ilmu-Ilmu Pesantren, Kaweruh Jawa, dan Humaniora Barat”. “Pengajian” pertama 13 Maret 2018 dengan pembicara St. Sunardi dengan tema “Quo Vadis Kajian Budaya Indonesia?”, kemudian pada 20 Maret 2018 bersama Katrin Bandel dengan topik kajian “Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini”. Catatan berikut khusus mengulas tentang edisi diskusi bersama Katrin Bandel yang berbicara mengenai colonial present.

Katrin Bandel adalah salah satu pengajar di Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Karir akademiknya fokus pada kajian seputar pascakolonial, gender, dan kesusastraan. Diskusi malam itu berangkat dari pembacaan atas buku Derek Gregory yang berjudul The Colonial Present. Katrin mengawali dengan bagaimana kajian pascakolonial umumnya diajarkan, yaitu seputar bagaimana kolonialisme dan implikasi kolonialisme terhadap budaya. Tentang bagaimana hubungan yang tidak imbang antara negara-negara terjajah dengan negara penjajah, dengan imbas yang cukup panjang di sektor budaya dan ekonomi. Dalam buku The Colonial Present, ditemukan bahwa peristiwa 11 September (9/11) sebagai momen penting atas apa yang disebut sebagai kolonial atau imperialisme baru. Pasca 9/11 retorika dari Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai digencarkan. Retorika ini disebut war on teror.

Menurut Gregory, tindakan menjajah, to colonize, masih terjadi dalam bentuk sangat nyata. Jadi bukan sekadar ideologi imperialis, tetapi memang penjajahan secara fisik masih terjadi. Gregory yang berlatar belakang pendidikan geografi, melihat bahwa batasan geografis bukan sesuatu yang terberi, melainkan berkaitan dengan bagaimana sebuah tempat diambil, yang tidak jarang dengan kekerasan. Salah satu konsepnya yang terpengaruh Edward Said adalah Imaginative Geography. Ini terkait dengan konstruksi stereotype, selalu dikonstruksi bahwa oposisi antara modernitas, yang dikaitkan dengan Barat (kolonial), dihadapkan dengan budaya liyan. Jadi narasi yang muncul selalu “kita vs mereka”. Wilayah-wilayah geografi ini dianggap sebagai papan catur, di mana orang harus berstrategi dengan mengambil, memasuki wilayah tertentu, menguasai manusianya. Gregory mengawalinya dengan melihat ke masa lalu, di mana batas negara selalu warisan kolonial, dan sebagian masalah yang ada sampai saat ini selalu berasal dari momen-momen awal itu. Masalah-masalah yang ada di saat ini sebenarnya berawal dari penarikan garis batas antar Negara, yang berawal dari hanya mengikuti kepentingan kolonial, bukan mengikuti realitas masyarakat setempat.

Barat selalu dikonstruksikan sebagai pusat dunia, dengan kata lain memposisikan diri sebagai pusat dunia yang harus membawa kemajuannya ke tempat-tempat lain. Sementara itu, salah satu spirit dari paskakolonial adalah bahwa masa lalu belum berlalu. Masa lalu yang belum berlalu ini selalu bersifat plural, dalam arti, ada sekian narasi tentang masa lalu. Sekian kejadian di masa lalu, dan pemahaman orang tentangnya kemudian hadir secara riil memengaruhi perilaku orang di masa kini.  Wacana war on terror menjadi usaha baru untuk membuat sebuah narasi tunggal. Di mana otoritas untuk penarasi ada pada pihak tertentu. Dalam kasus pasca 9/11 adalah Amerika Serikat. Jadi ada persoalan penting yaitu narasi tentang geografi, tentang siapa kita-siapa mereka, siapa diri Barat, siapa Timur yang menjadi the Other, juga tentang masa lalu hingga masa kini, dan kemudian persoalan siapa yang punya otoritas untuk bercerita. Ini adalah persoalan relasi kuasa yang sangat penting. Sejak zaman kolonial hingga kini, ruang-ruang tertentu digambarkan/ diwacanakan sebagai asing. Di sini kemudian, Gregory merujuk konsep Edward Said tentang Orientalisme. Orientalisme adalah sebuah repertoar atas sekian imaji yang digunakan sesuai kebutuhan. Pada tingkat lebih lanjut menjadi bangunan arsitektur permusuhan yang performatif. Performatif dalam artian terus-menerus melalui praktik keseharian.

Gregory kemudian fokus membahas bentuk-bentuk awal wacana yang bereaksi terhadap 9/11 di Amerika. Dengan memposisikan diri sebagai korban, Amerika mengajukan pertanyaan, “Why do they hate us?”. Jawaban atas ini dicari pada mereka, pada the Other. Dalam wacana kolonial, selalu penjajah berbicara tentang the Other, yang dijajah, memandang yang lain, memutuskan atau memikirkan bagaimana the Other harus disikapi dengan pandangan yang sangat searah. Pada level selanjutnya, the Other dilihat bukan sebagai manusia dengan kompleksitas historis tertentu, tapi sebagai satu kesatuan yang buruk, yang seakan-akan seperti iblis. Retorika ini kemudian menjadi legitimasi kekejaman, hingga kemudian narasi retorika-retorika berikutnya selalu terasa masuk akal. Dari sekian banyak kelompok manusia dengan ideologi-ideologi yang berbeda, tujuannya berbeda, sejarahnya berbeda, semuanya oleh media Barat disebut sebagai “Islamis”.

Katrin kemudian menyinggung tentang konteks di Indonesia, di mana saat ini pembicaraan tentang ekstremisme cukup mengemuka. Sering kali ada diskusi publik tentang bahaya ekstremisme tidak secara spesifik membedakan antara sekian kelompok dan gejala terkait. Kelompok ini sebetulnya sangat beragam dengan sejarah dan tujuan masing-masing, yang juga berbeda-beda. Katrin mengungkapkan akan jauh lebih menarik kalau dalam hal ini Derek Gregory bisa dijadikan contoh, dengan melihat secara kritis fenomena-fenomena ini, dengan lebih spesifik melihat sejarah dan detail-detail orang/ kelompok yang terlibat di situ. Membaca aspek historisitas kecenderungan retorika masing-masing pelaku, sehingga bisa terlihat konstruksi apa yang sedang dibangun.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Tunggal Alie Gopal: Main

Oleh: Sagita Rani (Kawan Magang IVAA)

“Main, Bermain, Main-Main” adalah tema dari pameran tunggal Alie Gopal yang diselenggarakan pada 15 Maret – 22 Maret 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Alie adalah perupa yang terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2008. Semenjak itu, Alie merasa memiliki hutang yang harus dilunasi. Berawal dari celotehan beberapa teman saat pembukaan pameran tunggalnya Januari 2008 lalu, bahwa mungkin Alie bisa berpameran tunggal dengan karya-karya khasnya sepuluh tahun lagi. Kalimat itu terngiang terus dalam benaknya, Alie terus berupaya untuk merealisasikannya.

Akhirnya Maret 2018 ini, Alie berhasil melangsungkan pameran tunggal ketiganya, seperti apa yang dibayangkannya sepuluh tahun silam. Pameran bertajuk Main ini menceritakan tentang dunia Alie bermain-main. Bermain dalam berbagai presentasi karya seni rupa dua dan tiga dimensi, dengan medium dan ukuran yang beragam tersaji dalam pameran ini. Karya-karya ini dibuat dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018. Dalam hal karya, Alie mengakui jika dirinya lebih nyaman dengan cara berkarya yang bebas dan tidak berpatok. Ia mengaku sangat senang bereksperimen dengan berbagai media. Bereksperimen melalui berbagai media rupanya telah di lakukan oleh Alie jauh sebelum menjadi seorang seniman. Sejak kecil ia mengakui sering membuat benda-benda di rumahnya menjadi bahan eksperimen. Sedikit banyak inilah yang mengilhami judul dan tema pameran tunggalnya kali ini. Alie bercerita bahwa dengan orang tua berlatar belakang militer, sulit baginya untuk tidak mendapat penolakan keras tentang kecintaan dan gairahnya pada dunia seni. Hingga akhirnya, Alie bersekolah di Yogyakarta untuk mendalami seni rupa, perlahan-lahan dukungan dari keluarga datang juga, hingga akhirnya keluarga kemudian sangat mendukung karirnya.

Jarak tahun antar pameran tunggal yang cukup jauh ini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Di samping Alie tetap berusaha konsisten dengan setiap hari terus menerus menghasilkan karya berbentuk apapun. Tetapi, banyaknya ajakan pameran bersama membuatnya bimbang, di satu sisi tidak ingin dianggap sombong jika menolak ikut serta, di sisi lain dia harus mengumpulkan karya untuk pameran tunggal yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri. Adanya kesadaran bahwa eksistensi seorang seniman harus tetap terwujud dalam karya-karyanya, membuat Alie memutuskan beberapa kali “mencomot” karya yang sudah disiapkannya untuk diikutsertakan dalam beberapa pameran bersama.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini pula, Alie lebih sering berperan sebagai partner seniman berkarya. Saat mengikuti pameran bersama pun, karya Alie lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan karya-karya seniman lainnya. Membantu kawan-kawannya untuk mempersiapkan karya dan pameran dalam diskusi yang insentif, bisa jadi membuat Alie kehilangan banyak waktunya sendiri untuk berkarya. Namun, Alie mengakui justru ini adalah proses mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman untuk menghasilkan karya-karya baru. Pameran tunggal ketiganya ini merupakan perwujudan dari proses panjang dan berliku ini, dengan tetap meletakkan imaji-imajinya yang khas.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Fotografi Sukarno, Pemuda & Seni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Suatu galeri seni di sudut Alun-Alun Utara menyuguhkan pameran yang tidak biasa. Dianggap tidak biasa karena subjek yang diangkat dalam pameran ini adalah bapak revolusi Indonesia. Tepatnya di Jogja Galery, Seminar dan Pameran Sukarno, Pemuda, dan Seni yang digelar oleh Komunitas Kinara Vidya, resmi dibuka pada 27 September 2017 lalu. Pameran bisa dinikmati pengunjung pada 27-30 September 2017 pukul 09.00-21.00 WIB. Seminar dan pembukaan diisi oleh Mikke Susanto sebagai pembicara sekaligus kurator. Sukarno merupakan pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Selain negarawan dengan pidatonya yang menggelegar, Ia menaruh perhatian besar dalam dunia seni. Gairahnya diwujudkan dalam koleksinya yang berjumlah ratusan.

Menurutnya karya seni bukan hanya sebagai hiasan saja, namun juga sebagai wujud perjuangan bangsa. Ia tak hanya berjuang untuk kemerdekaan bangsa, namun juga membuka peluang ruang kreativitas. Sukarno pun turut bergelut dalam pusaran seni rupa Indonesia. Tidak hanya sekadar mengagumi keindahan hasil karya seni rupa, Ia juga bisa menggambar. Siapa sangka jika founding father yang dikenal sebagai orator ulung ini pernah berkata bahwa Ia ingin menjadi pelukis ketimbang presiden.

Perjalanan estetikanya tidak lepas dari peranan sang ibunda, perempuan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Ra. Selain itu, Sukarno mulai bergaul dengan banyak seniman sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng, atau sekarang lebih dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejumlah seniman terkenal Indonesia dan berbagai penjuru dunia menjadi kawan akrabnya. Beberapa seniman bahkan didapuk langsung untuk menjadi pelukis istana, sepeti Basuki Abdullah, Dullah, dan Lee Man Fong. Angan-angan nya untuk menjadi pelukis memang tak terwujud, namun koleksinya memberikan makna pada dinamika seni Indonesia. Koleksinya berjumlah ribuan dan masih banyak yang belum sempat terekspos. Koleksi lukisan Sukarno berjumlah ribuan, sampai-sampai Mikke Susanto yang menjadi konsultan kurator lukisan istana kepresidenan, baru mampu mengidentifikasi dua ratusan karya saja. Hal itu dikarenakan senimannya bukan hanya dari Indonesia saja, melainkan dari seluruh penjuru dunia.

Pameran ini menampilkan 130 potret yang menjadi saksi hidup Sukarno, mulai dari kehidupan sehari-hari di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, kegiatan bernegara di istana kepresidenan, maupun lawatan ke luar negeri. Dibalik setiap foto menampilkan kisah yang beragam, seolah-seolah barisan potret yang bercerita pada pengunjung. Koleksi ini merangkum peristiwa dalam periode 1940-1960an. Selain foto-foto reproduksi, buku-buku literatur yang memuat tentang Sukarno dan seni rupa juga ikut serta dalam pameran ini. Pameran ini dihadiri sejumlah pengunjung baik dari pelajar, mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan dengan sosok Sukarno dan seni rupa.

Hal menarik ditandai dalam salah satu rangkaian foto, yaitu ketika istana presiden mendapat kunjungan dari tamu-tamu kenegaraan. Sukarno sendiri yang memandu mereka. Ia menjelaskan tiap detil lukisan yang terpampang di ruangan istana. Tamu akan diberi informasi mengenai kisah-kisah dibalik lukisan-lukisan itu mulai dari proses kreatif, siapa senimannya, makna objek lukisannya, hingga perjuangan mendapat lukisan itu. Hal menarik lain perihal interaksi antara Sukarno dan seni rupa adalah dalam kunjungan Sukarno ke luar negeri, Ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke museum seni atau studio milik seniman di negara setempat.

Sukarno juga melibatkan seniman dalam pembuatan ikon-ikon kenegaraan. Langkah ini dimulai dengan menggaet pematung Edhi Sunarso untuk merancang Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat. Edhi Sunarso merupakan seorang perupa alumni Akademi Seni Rupa Indonesia/ ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta yang diibaratkan sebagai tangan terampil Sukarno. Dalam sub kurasi, ditampilkan foto-foto saat peresmian Patung Pembebasan Irian Barat. Hal ini menujukan seni rupa menjadi bagian penting dalam negara. Oleh Sukarno, melalui seni, bangsa Indonesia diimajinasikan sebagai bangsa yang besar dan kuat.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Serial Diskusi Agraria #3: Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan: Diskusi Agraria, Seni untuk Melawan

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) Fisipol UGM menggelar Serial Diskusi Agraria #3 di Selasar Barat Fisipol UGM, Senin (19/3). “Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari serial diskusi sebelumnya. Jadi diskusi diadakan tiga kali, pertama 19 Februari dengan tema Dasar-Dasar Agraria, kedua 5 Maret Agraria dan Industrailisasi, dan terakhir Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan.” ungkap Suci selaku ketua bidang keilmuan. Pada diskusi kali ini KAPSTRA menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andrew (Teman Temon), Dwi Rahmanto (Indonesia Visual Art Archive/ IVAA), dan Pitra Ayu (peneliti dan project coordinator Engage Media Yogyakarta).

Diskusi dibuka dengan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dipopulerkan oleh Fajar Merah, dibawakan salah seorang mahasiswa UGM. Lagu tersebut begitu relevan dengan keadaan sekarang di mana perampasan tanah atas nama pembangunan marak dilakukan, begitu sedikit pengantar dari moderator diskusi Asri Widayanti.

Andrew mengawali pembicaraan dengan menceritakan keadaan warga terdampak penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Untuk merespon itu, menurut Andrew, Teman Temon sering melakukan kegiatan. Selain itu seni berperan penting dalam menjalin komunikasi antar warga. “Seni berperan sebagai medium komunikasi dengan warga, dan juga mengomunikasikannya keluar” ungkap Andrew. Andrew mencontohkan, saat mereka membuat mural di salah satu rumah, warga lainnya menyambut dengan ingin juga dibuatkan mural. Andrew dan kawan-kawan mengatakan bahwa tidak menyarankan warga harus ikut seni tertentu, itu hanyalah salah satu cara. Namun, alih-alih seni, Andrew lebih sepakat dengan menyebutnya sebagai produk kreatif.

Pembicara kedua, Dwi Rahmanto yang menguasai seni dan kaitannya dengan agraria mencoba membeberkan catatan-catatan di IVAA, di antaranya merespon isu-isu agraria dan kebutuhan air di kota yang dibalut dalam bentuk aksi dan festival. Menurutnya pembangunan mall dan bangunan vertikal lainnya di Yogyakarta sebenarnya sudah dibayangkan sebelumnya, dan sekarang isu-isu tersebut benar adanya. Dwi menambahakan adanya dorongan karya seni untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya ada unsur-unsur bagaimana masyarakat juga berperan, sehingga memang karya seni harus kontekstual dengan masyarakatnya. “Dari hampir semua kemunculan karya-karya itu, kemudian banyak hal yang muncul di sana, salah satunya adalah forum-forum dengan pembahasan spesifik mengenai seni rupa dan sosial” ungkapnya.

Sedang menurut Pitra, ada upaya untuk menggiring orang pada sesuatu. Terkadang menemukan proses pembekuan kerja seni tanpa mengajak pihak-pihak yang mengaksesnya memahami, dan bersama-sama memetakan persoalan. Ini memang, menempatkan seni dalam strata lebih rendah, sehingga jadi betul-betul bisa menjadi alat peraga. “Ada suatu masa yang mempersoalkan seni sebagai alat sehingga ia dihaluskan menjadi medium atau sarana.” Ungkap Pitra. Ia membagi karya menjadi ilustratif, dokumentatif, dan kontemplatif. Katanya, mungkin masalahnya ada pada yang ketiga, ketika mencoba melepaskan diri dari persoalan.

Dari serial diskusi agraria tersebut Suci menyatakan bahwa, tujuan acara ini diadakan agar civitas akademik bisa sadar terhadap berbagai macam isu mengenai agraria. Peserta yang hadir pun tergolong banyak, terdiri dari berbagai macam latar belakang. Suci mengungkapkan bahwa secara akumulatif, diskusi dalam tiga hari ini diikuti total sebanyak 250 peserta.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.