Tag Archives: #sorotandokumentasi

“Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi

Oleh: David Ganap

“Sebagai catatan, acara ini merupakan ‘pemanasan’, media perkenalan seniman-seniman terpilih perwakilan Indonesia,” ujar Dodo Hartoko, Direktur Biennale Jogja XIV. Puncak acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 2-10 November 2017 mendatang. Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia meminang Brasil sebagai partner ke-4 dalam seri Equator. Terdapat 27 seniman dari berbagai kota di Indonesia yang terpilih. Sementara, dari Brasil akan dipilih 10 seniman.

Brasil merupakan negara terjauh bila disejajarkan dengan posisi Indonesia dalam bentang garis khatulistiwa. Bila ditinjau dari segi kesamaan, sumber daya alam menjadi salah satu ciri utama dari kedua negara ini, terutama dalam hal keragaman hayati. Indonesia menempati posisi kedua tepat setelah Brasil di peringkat pertama dalam deretan negara dengan keanekaragaman hayati terkaya dunia dilansir dari news.unpad.ac.id. Selain itu kedua negara ini juga sama-sama memiliki populasi penduduk yang masif, dengan masing-masing estimasi lebih dari dua ratus juta jiwa.

Berangkat dari persoalan jumlah penduduk, Pius Sigit Kuncoro, kurator terpilih BJ XIV Equator #4 menegaskan bahwa populasi yang padat identik dengan rupa-rupa permasalahan. Brasil memiliki reputasi sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tertinggi di dunia. Akan tetapi Pius Sigit membaca Brasil melalui hubungan timbal balik manusia dengan ekosistem, masyarakat luas dengan lingkungan sekitar. Tentang kehidupan dilematis yang penuh bayang-bayang kecemasan karena hasrat yang tinggi untuk hidup yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan yang dikehendaki. Sedikit demi sedikit luas hutan semakin terpangkas dikarenakan pembangunan pemukiman. Hal sama terjadi juga di tanah Jawa di mana lahan persawahan kini berubah menjadi bangunan-bangunan rumah kaku yang serba monoton.

Dari persoalan di atas, penting bagi kita untuk sejenak merenungkan dampak dari kepadatan yang kian hari kian berkembang. Seperti di masa depan nanti, lingkungan masyarakat seperti apa yang akan tercipta dari kesesakan ruang yang ada? Apakah persoalan ini memiliki dampak psikologis bagi generasi anak-anak kita dikemudian hari? Lingkungan macam apa yang akan mereka tempati? Apakah kemudian minimnya lapangan pekerjaan di masa yang akan datang akan tetap menjadi isu populer?

Kembali ke persoalan teknis acara, bila dibandingkan dengan Venice Biennale ke-57 yang mengundang 120 seniman undangan dari lima puluh satu negara, Pius menjelaskan bahwa alasan kerjasama dengan Brasil sendiri adalah untuk menghadirkan sensasi keintiman yang eksklusif. Mengingat posisi Biennale Jogja yang merupakan pesta seni dua tahunan terpenting di Yogyakarta, maka seyogianya dibutuhkan lebih dari sekedar konsep yang matang sebagai landasan kolaborasi gagasan dengan negara anggota konstelasi geografis Amerika tersebut. Meskipun demikian, ketika ditanyai tentang tema, ternyata hingga saat ini belum ada isu spesifik yang dielaborasi menjadi objek pembahasan. Sepertinya keragaman hayati, populasi penduduk yang terus melesat hanya berfungsi sebagai pemantik untuk bisa masuk ke dalam dialog yang lebih privat dengan calon mempelai.

Metode yang digunakan kurator untuk penentuan tema bersifat lebih responsif dengan realita sehari-hari, mirip merangkai mozaik yakni mencari kepingan yang cocok untuk disematkan bersama. Dalam beberapa forum seni internasional belakangan ini, tema yang diperbincangkan sifatnya memang lebih universal. Salah satu alasannya adalah proses kerja kreatif seniman yang berkolaborasi dengan riset ilmiah para ilmuwan. Seniman di era kontemporer memiliki kecenderungan memulai pekerjaan kreatifnya dengan mencari permasalahan secara mandiri, kemudian membedahnya untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, dalam segi teknis ada perilaku eksperimental yang menjadi karakter seniman untuk menggali potensi media yang digunakan. Arin Dwihartanto, salah satu seniman peserta BJ XIV asal Indonesia bermain-main dengan resin untuk melukis di atas kanvas. Tidak berhenti sampai di situ, seniman lulusan FSRD ITB ini bereksperimentasi dengan serbuk vulkanik yang difungsikan sebagai pewarna bagi resin yang ia gunakan. Lantas yang paling menarik adalah hasil akhir dari karya Arin yang relatif tak terduga karena sifat resin sendiri yang berubah dari zat cair menjadi benda padat.

Berikut daftar nama seniman muda Indonesia yang terpilih menjadi peserta BJ XIV Equator #4, 2017: Adi Dharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanDokumentasi Maret-April 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sampai dengan pertengahan April 2017 Tim Dokumentasi tercatat telah merekam 36 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Tim Dokumentasi yang merupakan bagian dari Bidang Arsip IVAA dalam dua bulan ini dibantu beberapa pemagang dari Modern School of Design Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Gadjah Mada. Para pemagang ini melakukan kerja-kerja mulai dari peliputan, olah data, alih format, dan penyuntingan hingga dokumen tersebut siap diakses publik.

Dalam dua bulan ini kami juga menerima 2 tawaran kerja sama dalam hal media partner dan pendokumentasian acara yang dihelat oleh para mahasiswa seni rupa, antara lain pameran kolaborasi mahasiswa ISI-ITB bertajuk “Bloom in Diversity” di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Kemudian ada pula acara tahunan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yakni “International Visual Art Exhibition Arteducare #8,” yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Kota Solo. Pesta seni tahunan dari-oleh-untuk mahasiswa ini sangat akbar dan patut diacungi jempol, lantaran pesta seni ini mampu menghadirkan kontingen mahasiswa pendidikan seni rupa dari Universitas Negeri di seluruh Indonesia.

Kami juga menjalin kerja sama dalam pendokumentasian “Pameran Pra-Biennale” pada 20-25 Maret lalu di PKKH UGM. Pameran Pra-Biennale ini digelar khusus untuk mengawali perhelatan “Biennale Jogja XIV Equator #4” yang sedianya akan dihelat November mendatang. Mengiringi pameran ini terdapat pula acara-acara lain yakni konferensi pers, focus group dicussion antara kurator dengan seniman partisipan, dan juga acara sosialisasi dari Yayasan Biennale Yogyakarta.

Acara menarik dalam dua bulan ini antara lain pameran seniman kawakan Aming Prayitno yang digagas oleh Sarang Building III, kemudian juga beberapa pameran besar tahunan oleh Sanggar Dewata Indonesia di Jogja Gallery, serta Pameran Sanggar Sakato yang juga mengambil tempat di Jogja Gallery.

Dalam rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami menghadirkan liputan dari sepilihan peristiwa seni rupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


a. Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
Oleh: Grace Ayu Permono Putri

b. Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
Oleh: Pitra Hutomo

c. “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
Oleh: David Ganap

d. Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

e. Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

f. Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru
Oleh: David Ganap


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru

Oleh: David Ganap

Malam itu, Sabtu, 25 Maret 2017 ketika ditemui di Bale Banjar Sangkring di sela-sela acara pembukaan pameran bertajuk “Bloom in Diversity”, Rain Rosidi selaku kurator memberi pendapat bahwa perbedaan ideologi perupa Bandung dan Yogyakarta sudah tidak lagi signifikan; justru pameran ini ingin melampaui pembahasan mengenai relasi dua kampus seni. Kedua kampus yang dimaksudkan Rain adalah Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (FSR ISI Yogyakarta) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), ia mengatakan hal ini tak lain lantaran pameran tersebut merupakan hasil kerja sama mahasiswa kedua kampus seni rupa tertua di Indonesia itu.

Tercatat ada 30 mahasiswa FSR ISI Yogyakarta yang tampil sebagai tuan rumah, sementara itu, Bandung diwakili oleh 25 mahasiswa FSRD ITB. Adapun Pameran “Bloom in Diversity” ini merupakan kerja sama lanjutan. Kerja sama yang pertama diadakan 2014 lalu di Gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) dengan mahasiswa FSRD ITB sebagai tuan rumahnya. Pameran di kota Bandung itu ditajuki “Equal Liberum” dengan mengusung pembicaraan tentang kebebasan yang sama rata atau sepadan. Pihak penyelenggara mengatakan bahwa keinginan untuk menjalin pertemanan di antara mahasiswa kedua kampus itulah yang membuat kerja sama ini dilanjutkan. Tujuan lainnya adalah memberikan ruang apresiasi terhadap sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan seni rupa kini.

Kerja sama mahasiswa ISI-ITB sebetulnya bukan hal baru lagi. Di dekade 70-80-an ada sekelompok mahasiswa ISI-ITB yang menamai diri Seni Rupa Baru Indonesia yang menimbulkan polemik besar berkat eksplorasi medium berkaryanya yang masih tak banyak dikenal di waktu itu; namun justru di kemudian hari gerakan kelompok ini acap kali ditengarai memberi pengaruh besar kepada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Kembali ke “Bloom in Diversity”, salah satu karya yang menarik perhatian saya adalah “Unboxing Box #1” dari Mohammad Zakiy Zulkarnaen. Karya berdimensi 15 x 20 x 35 cm ini berlatar gagasan tentang treatment dan pergeseran makna fungsionalitas kayu di masa sekarang. Dari segi ekologi, kayu memiliki fungsi yang fundamental bagi keberlangsungan hidup manusia. Tetapi pasca-manufakturing, sifat kayu yang semula hidup, natural, organik menjadi kerdil dan ‘terbunuh’. Zakiy menganalogikan karyanya dengan pola perilaku sosial yang sempat terkotak-kotakan oleh ideologi dangkal. Harapannya, melalui berbagai perubahan yang dinamis, sifat-sifat limitatif tersebut sekarang bisa lebih terbuka.

Bagaimanapun, secara kasatmata wujud identitas yang mereka suguhkan di pameran “Bloom in Diversity” mencerminkan realitas permasalahan hari ini – yang tidak lagi mempersoalkan corak lokal maupun global. Kesetaraan dalam berkarya menjadi daya hubung yang memicu lahirnya berbagai kemungkinan baru. Alhasil, semerbak aroma karya yang mekar dalam ruang pamer benar-benar adiwarna, tumbuh subur dalam keberagaman.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Memasuki tahun 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) mulai mempersiapkan perayaan seni rupa internasional, yakni Biennale Jogja XIV Equator #4. Serangkaian acara dihelat, mulai dari konferensi pers, pameran pra-Biennale hingga sosialisasi sekaligus peluncuran Newsletter “The Equator” Volume 5, No. 1, 2017. Uniknya, pada rangkaian tersebut tidak tersiar tema Biennale Jogja XIV Equator #4 dari Pius Sigit Kuncoro (kurator). Berulang kali Pius Sigit mewacanakan gagasan Biennale – “Kecemasan dan Harapan” melalui uraian hasil riset lapangan di Brasil, pemilihan seniman hingga studi pustaka atas kondisi sosial di Indonesia khususnya Yogyakarta, tanpa meleburnya dalam satu premis.

Pada tahun ini, Biennale Jogja bekerja sama dengan Brasil. Pemilihan tersebut meneruskan wacana tema Equator yang menetapkan tahun 2017 sebagai momen untuk berkolaborasi dengan salah satu negara di Amerika Selatan. Wahyudin dan beberapa pengamat seni lain menakar bahwa Biennale Jogja XIV Equator #4 mampu merekatkan kembali hubungan antara Brasil dan Indonesia yang pernah terputus.

Di sisi yang lain, Pius Sigit menyoroti hubungan Indonesia dan Brasil tidak hanya berada di ranah yang terlihat – Biennale Sao Paulo 1951, melainkan juga pada iklim yang mencetak metode pertahanan hidup secara alamiah. Terlebih karena persoalan iklim ini, diperkeruh dengan masalah sejarah bangsa yang membentuk identitas dari pertahanan hidup tiap negara. Masing-masing negara memiliki bayangan kecemasan yang dicoba untuk diselesaikan yang teraplikasi pada bentuk tata kota, perayaan, dan hingga cara memilih benda pertahanan diri.

Perjalanan Pius dari Brasil hingga kunjungan pribadi ke beberapa seniman terpilih, menghasilkan satu konsep dramaturgi pada ruang pamer. Hal ini kemudian dibicarakan kembali dengan para seniman. Ia berupaya mengakomodasi kesan-kesan dari para seniman terpilih dan meramunya menjadi satu tema yang terpublikasi. Pius menggunakan metode aspiratif dalam membangun tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Menarik seniman menjadi subyek perakit tema. Akan tetapi sejauh mana metode kerja ‘dari bawah’ atau akomodatif ini mampu mengakomodasi keseluruhan proses kreatif dan kolaboratif antara seniman dan kurator, antara seniman Indonesia dan seniman Brasil, serta yang tidak kalah penting, bagaimana metode kerja ini mampu memastikan kelahiran karya efektif sebagai medium komunikasi antara seniman dan masyarakat?

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Selasa, 22 Maret 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menggelar Focus Grup Discussion di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) dalam rangka menentukan tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Acara ini dihadiri 27 seniman pilihan kurator biennale, Pius Sigit Kuncoro bersama tim kerjanya. Beberapa tawaran ide, mulai dari dasar seleksi hingga konsep pameran yang mengandung misi membangun harapan dalam situasi ketidakpastian disampaikan di forum itu.

Seleksi seniman didasarkan pada dua perbedaan karakter negara – Indonesia dan Brazil – dalam berekspresi, yang disebabkan latar belakang sejarah kehidupan masyarakat.

Pius Sigit menawarkan konsep pameran yang menduplikasi fase psikologi manusia ketika berhadapan dengan realitas. Hal ini direalisasikan melalui pembagian ruang – gedung Jogja Nasional Museum (JNM) – ke dalam tujuh wilayah.

Wilayah pertama berada di lantai pertama sayap kiri gedung JNM. Wilayah ini dimaknai sebagai ruang penampakan realitas semu manusia. Ruang ini ditujukan untuk seniman yang memiliki karya berkarakter glamour, menyenangkan, dan menggoda.

Wilayah kedua dimaknai sebagai ruang yang menunjukkan sisi terdalam dari bersenang-senang, yakni sebuah kenyataan hidup. Ruangan menampung karya-karya yang menyuguhkan sudut pandang seniman dalam tema keras, radikal, dan mengandung nilai-nilai penolakan. Wilayah kedua berada di lantai kedua sayap kiri gedung JNM.

Puncak dari keseluruhan rangkaian ruang pamer berada di wilayah ketiga, keempat, dan kelima. Ketiganya direncanakan untuk menghadirkan perasaan putus asa, pasrah, dan penghiburan dalam kesenyapan.

Wilayah ketiga mengusung karya-karya yang bertema keputusasaan atas kenyataan hidup yang keras, radikal, dan tertolak. Wilayah keempat, meneruskan perasaan putus asa menjadi pasrah. Kemudian di wilayah kelima, perasaan putus asa dan pasrah diredakan melalui karya-karya bertema menghibur. Ketiga tema tersebut di tampilkan pada lantai tiga gedung JNM.

Setelah selesai dengan persoalan batin, pengunjung pameran diarahkan untuk masuk ke dalam wilayah keeenam. Wilayah keenam, direncanakan menjadi ruang yang membangun kesadaran baru pada diri pengunjung melalui karya-karya yang memiliki kesan menggairahkan.

Pengalaman bergairah kemudian diteruskan menuju suasana haru, melalui karya-karya di wilayah tujuh.

Menurut Pius Sigit, konsep pembagian ruang bertujuan untuk membangun pengalaman menonton sebagai pemurni diri. Pemurnian adalah pengalaman penonton ketika memasuki ruang pamer dan melupakan persoalan pribadi. Pius menyebutnya sebagai ‘drama pelarian dari realitas’. Paparan di atas memancing pertanyaan dari salah satu perupa yang mempertanyakan cara dalam merealisasikan konsep yang ditawarkan. Adapun sampai dengan berakhirnya FGD di hari tersebut, nampaknya forum belum berhasil mendapatkan tema Biennale Jogja XIV Equator #4 itu sendiri.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Annisa Rachmatika Sari (l.1990) mahasiswa semester IV Program Studi Pengkajian Film di Pasca-sarjana ISI Surakarta. Nisa magang di bagian program publik IVAA sejak akhir Maret lalu.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo

Oleh: Pitra Hutomo

Pertemuan dengan Tatuk Marbudi yang menginisiasi Muara Market Solo berlangsung hampir tanpa sengaja. Dokumentator IVAA, Dwi Rahmanto adalah kawan lama Tatuk yang mengajak kami mampir sebelum ke tempat tujuan, lokasi diresmikannya Perjanjian Giyanti tahun 1755 di Karanganyar.

Muara Market Solo diresmikan Agustus 2016 di lokasi bekas ruko di Pasar Legi. Karena kami datang lepas tengah hari, belum nampak bagaimana orang Solo memanfaatkan tempat yang mengidentifikasi dirinya sebagai ruang kreatif tersebut. Tatuk datang sekitar 30 menit setelah kami sampai dan kami bercakap-cakap hingga menjelang sore. Percakapan kami direkam oleh Alex Bloom, mahasiswa asal Australia yang sedang bekerja praktik (magang) pada tim arsip IVAA.

Bagi Alex, tempat seperti Muara yang menyebut dirinya market atau pasar di tengah kondisi seni populer yang ia temui di Indonesia, pasti memiliki motif tersendiri. Apalagi ketika pasar yang dimaksud merujuk pada ekosistem yang mendorong seniman berproduksi tanpa mengarahkannya menjadi hajat seni tinggi atau praktik merchandising.

Dengan antusias Tatuk menjelaskan bahwa Muara Market Solo memang didirikan karena tingginya minat berproduksi anak muda Solo. Terang-terangan dia menyebut bahwa orang Solo itu lebih erat dengan budaya dagang jika dibandingkan Yogya. Karena itu, saat tawaran mendirikan UMKM menjadi solusi dari kanal pemasaran produk dari Solo, para produsen rumahan ini tidak terwadahi karena ukuran maupun indikator UMKM berbeda dengan motif dan cara produksi mereka selama ini.

Generalisasi yang dilakukan pemerintah di sektor kebudayaan ataupun industri ini mendorong penjelajahan segelintir orang yang dianggap senior di kalangan produsen indie, di antaranya Tatuk. Dengan gesit, dia dan kedua rekannya mengambil kesempatan untuk memanfaatkan salah satu kompleks ruko yang belum sempat laku selama beberapa lama. Bagi Tatuk, mimpi mereka sederhana dan kiranya mewakili semangat pekerja seni Solo yang ingin menciptakan iklim produksi kompetitif secara organik. Salah satu cara yang selalu mereka tempuh adalah meminta setiap orang yang berniat menggunakan Muara Market Solo untuk menggali mimpi masing-masing dan bersedia berdiskusi tentang pelaksanaannya.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika yang tergabung dalam Paguyuban Tiyang Biasa (PASTI BISA) mengelar Pameran “Perbedaan Itu Indah” dengan tema “Rukun Agawe Santoso”, di Lapas Narkotika Kelas II A pada 2 hingga 4 Februari 2017 lalu. Berbagai macam karya seni ditampilkan, terdapat lukisan, patung, sablon, dan sebagainya. Rangkaian acara lain yang bisa ditemukan ialah workshop cukil serta aktivitas melukis di atas kanvas yang membentang sepanjang 30 meter dan pertunjukan musik hadroh Al-Taibun.

Selain itu ada diskusi seni dengan tema “Seni Penjara dan Posisinya dalam Diskursus Kesenian Indonesia”. Dalam diskusi itu AC. Andre Tanama serta Iwan Wijono menjadi pemantik, sementara yang menjadi moderator ialah salah seorang narapidana. Dalam diskusi tersebut, Andre Tanama mengatakan bahwa ia tidak berkompeten soal ‘seni penjara’ karena narapidanalah yang dapat merasakan apa itu seni di dalam penjara, maka ia pun menjelaskan dengan perspektif pengamat. Ia mengelaborasi makna penjara dalam arti fisik maupun non-fisik. Di lain pihak Iwan Wijono sebagai pemantik kedua menambahkan tentang bagaimana melihat penjara dalam arti spiritual.

“Acara ini merupakan bukti banyaknya agenda dan program positif serta membangun yang dilangsungkan di lapas sebagai wadah aktivitas dengan kreatifitas seni dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas II Yogyakarta, Erwedi Supriyatno dalam siaran persnya. Erwedi Supriyatno juga kemudian berkisah bahwa ia pernah menjadi pelukis kaki lima Malioboro pada tahun 1989-1990, sehingga ia bisa memahami warga binaannya yang membutuhkan ruang, waktu, dan kesempatan untuk tetap berkreasi.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan ‘makan nasi penjara’ dengan menu berupa sayur, ikan, dan nasi yang menurut beberapa seniman rasanya cukup enak.

Kakanwil Kemenkumham DIY, Dewa Putu Gede, mengatakan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh lapas dan paguyuban seniman-seniman ini dapat mengembangkan segala potensi dalam berkesenian dari setiap warga binaan di lapas. Tujuannya untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan. Harapannya, dengan berkesenian mereka akan kembali mendapatkan dunianya.

Di salah satu rangkaian acaranya yakni mural bersama, seniman senior Kartika Affandi putri dari maestro Indonesia Affandi turut memeriahkannya. “Papi saya jadi seniman besar juga tanpa narkoba, jadi usahakan jangan diulangi lagi ya,” Kartika berpesan.

Pameran yang menampilkan lebih dari 100 karya itu menampilkan cerita dari masing-masing penghuni lapas dengan sebaran tema yang beragam. Dari tema personal yang berbasis pengalaman selama di penjara, lingkungan, hingga tema-tema sosial, yang berupaya menjadi bagian dari kritik atas pembangunan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta Marjiyanto mencatat per 2 Februari 2017 ada 226 penghuni lapas dan 35 di antaranya seniman atau memiliki hobi seni; ada perupa, pematung, dan pemusik. Dari situlah lahir Paguyuban Tiyang Biasa pada Desember 2016, yang diketuai oleh Santoso Ari.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*Grace Ayu Permono Putri (l.1996), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta yang sangat tertarik dengan pengelolaan perhelatan acara seni. Maka Grace banyak terlibat di dalam berbagai kepanitiaan pensi, pameran seni rupa, maupun perhelatan budaya lainnya. Dalam magangnya di IVAA, Grace membantu penyelenggaraan kegiatan di RumahIVAA serta menulis resensi sebagai bagian dari kerja pendokumentasian IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanDokumentasi Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Membuka lembaran daftar perolehan dokumen baru, hingga hari ini tim dokumentasi IVAA tercatat telah merekam sejumlah 27 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada awal tahun ini agaknya khalayak seni rupa Indonesia tengah menyusun persiapan penyelenggaraan perhelatan-perhelatan besar yang akan bermunculan mulai pertengahan hingga akhir tahun seperti ArtJOG, Biennale Jogja, dan Jakarta Biennale. Hal ini kami simpulkan demikian karena tidak terlalu banyak penyelenggaraan pameran, diskusi, maupun performance yang kami jumpai sejak kalender baru dipasang hingga tulisan di rubrik Sorotan Dokumentasi ini dibuat. Keadaan ini memberi kesempatan tim dokumentasi IVAA yang beranggotakan peserta Program Magang IVAA dan dikoordinatori oleh Dwi Rachmanto untuk mengambil nafas, mengingat bahwa biasanya kami bagaikan tanpa jeda merekam banyaknya aktivitas seni budaya. Pada rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami akan menyoroti 4 peristiwa yang kami anggap menarik. Uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya dapat disimak di bawah ini.


1. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
Oleh : Himawan Kurniadi

2. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
Oleh : Brigitta Engla dan Tiatira Saputri

3. Contemporary Art from Bali 2016
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas

4. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul

Oleh: Himawan Kurniadi (Kontributor)

Paduan dua kata, ‘Gunungkidul’ dan ‘pariwisata’ bagi segelintir orang bermakna jalan menuju peningkatan taraf hidup. Bagi mereka yang merasa mampu berkontribusi melihat hal ini dalam kerangka proyek pengembangan potensi, sedangkan yang lain berdalih tidak ingin menjadikan warga Gunungkidul sebagai penonton. Diskusi “Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul” adalah upaya menjajaki persepsi sekelumit putra-putri asal kabupaten di sisi tenggara provinsi DI. Yogyakarta ini, khususnya mereka yang bergiat sebagai pekerja LSM, mahasiswa, hingga langganan penggarap proyek negara atau kabupaten. Tujuan diskusi di Angkringan Mrikiniki, Wonosari yang berlangsung 18 Januari 2017 lalu ini bertumpu pada refleksi dan jajak pendapat kalangan masyarakat sipil yang menguasai konteks politik dan ekonomi setempat.

Beberapa pertanyaan kunci diajukan oleh dua pemantik diskusi, Tri Wahyu dari Indonesia Court Monitoring (ICM) dan M. Thonthowi dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Nahdlatul Ulama Gunungkidul. Forum semakin menarik karena paparan dan diskusi yang gamblang berlangsung antara pihak-pihak non pemerintah yang merasa selama ini bekerja terpisah dari proyek-proyek pemerintah untuk pengembangan kebudayaan.

Saat membahas gencarnya upaya mencitrakan Gunungkidul sebagai wilayah administratif yang paling membutuhkan skema industrialisasi pariwisata alam dan budaya, forum ini mempertanyakan mengapa pemerintah masih menggunakan proksi dinas provinsi atau investor? Sebagian peserta diskusi juga mengeluhkan cara-cara promosi pemerintah yang abai dengan kesiapan warga di lokasi-lokasi yang terlanjur digenjot sebagai tujuan pariwisata. Seolah-olah bagi pemerintah kabupaten, naiknya kunjungan wisata hanya berdampak pada kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari retribusi atau biaya tiket masuk ke klaster area wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan.

Pemerintah memang menyediakan sejumlah anggaran untuk dikelola desa dan terkadang disertai intervensi langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan yang mewakili tubuh provinsi di Kabupaten. Selain menyalurkan anggaran yang dikelola desa, pemerintah menempatkan sejumlah sumber daya manusia sebagai ‘Pendamping Desa Budaya’. Desa Budaya adalah salah satu turunan keistimewaan DIY yang ditetapkan dalam Pergub DIY No.36/2014. Keberadaan para pendamping adalah untuk menyelaraskan misi pengelolaan desa dengan arahan utama pertumbuhan ekonomi, melalui skema permodalan untuk Usaha Kecil dan Menengah hingga promosi lokasi tujuan wisata melalui ekspresi seni rakyat.

Percakapan tentang keberadaan para pendamping sebagai tenaga kontrak yang mendapat Upah Minimum Provinsi dari Dana Keistimewaan menggiring forum untuk menyoroti perihal basis modal di Gunungkidul. Skema industrialisasi pariwisata di bidang kebudayaan dicurigai telah mendorong adanya penyeragaman bentuk-bentuk ekspresi setempat dan malah mencabut akar kebutuhan atas seni rakyat itu sendiri. Ini terjadi misalnya untuk “Sedekah Laut” yang sebelum ‘didampingi’ sebatas menandai momen berkumpul antar warga pedukuhan suatu desa setelah panen raya. Acuan waktu yang khas terpaksa diabaikan karena acara budaya harus masuk kalender event budaya reguler Gunungkidul, dan harus dilakukan saat kunjungan tinggi pariwisata (high season).

| Klik disini untuk melihat video |


*Himawan Kurniadi (l.1986) adalah pegiat Rumah Belajar Rakyat di Siraman, Wonosari. Ia lulus dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa tahun belakangan intens dalam kerja-kerja pengorganisasian terkait isu pendidikan dan pariwisata.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities

Oleh: Brigitta Engla* dan Tiatira Saputri

Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan konferensi internasional bertajuk “International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities” yang dibuka pada Jumat (13/1) bertempat di Auditorium Driyarkara, USD, Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari yakni 13-14 Januari 2017 di Gedung Lembaga Studi Realino, USD. Konferensi ini diadakan khusus untuk mengenang Benedict Anderson, sejarawan Indonesianis asal Amerika Serikat yang dikenal melalui bukunya “Imagined Communities”.

Konferensi ini menghadirkan para dosen, peneliti, juga mahasiswa dari beberapa negara untuk turut serta menjadi pembicara, yakni dari Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Acara dikemas menjadi dua sesi yakni pleno dan paralel, pada tiap sesi paralel diisi oleh enam pembicara. Untuk peserta yang menghadiri acara sebagai pendengar, konferensi dibuka secara gratis.

Acara dimulai tepat waktu pukul 09.00 WIB yang diawali dengan pembukaan, salah satunya dari Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku rektor Universitas Sanata Dharma. Acara dilanjutkan dengan sesi pleno yang menghadirkan dua orang pembicara dari University of the Philippines, Ramon  Guillermo dan Coeli Barry dari Mahidol University yang dimoderatori oleh Melani Budianta dari Universitas Indonesia. Ruangan seminar terlihat penuh dipadati oleh para tamu serta peserta seminar.

Dalam ulasannya, Ramon Guillermo berbicara mengenai bahasa yang merepresentasikan sebuah kultur tidak bisa dengan mudahnya diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa asing. Bagaimana kemudian menghadirkan sebuah istilah dalam sebuah kultur tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga dapat menjadi sebuah refleksi bersama.

Lain halnya dengan Gullermo yang membahas keragaman dalam bahasa, Coeli berbicara mengenai keragaman karakter kelompok, khususnya kelompok konservatif dan kelompok ekstrim, dalam hal komunikasi politik. Coeli berpendapat harus ada upaya pendekatan dan stategi komunikasi yang berbeda dari kedua kelompok, agar benturan antara keduanya bisa diminimalisir.

Wacana kosmopolitan dalam kerangka ‘komunitas terbayang’ ala Ben Anderson ini tidak hanya dibahas dalam hal keragaman kultur bahasa dan karakter kelompok politik. Pada sesi-sesi berikutnya para pembicara juga membahas tentang dinamika masyarakat kelas bawah, penerjemahan, pertunjukan seni, dinamika kelompok-kelompok intoleran, gender serta pengaruh karya-karya Ben terhadap akademisi di Indonesia.

“Bagaimana bisa menjadi kosmopolitan tanpa menerjemahkan?”, pertanyaan pembuka ini sekaligus menjadi bekal untuk kami pikirkan selama konferensi berlangsung. Pengalaman hidup Ben Anderson sebagai penerjemah memperkenalkan bahwa tidak semua kata bisa diterjemahkan ke bahasa lain. Ini dikarenakan setiap kebudayaan memiliki konsep berbeda-beda dalam memaknai sesuatu. Roman Guillermo memberi beberapa contoh kasus dari pengalamannya bekerja bersama Ben Anderson dalam proyek penerjemahan. Misalnya, “rasa” tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Inggris menjadi “feel” karena konsep “rasa” dalam bahasa Indonesia memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Barat. Dalam bahasa Indonesia, “rasa” terkait dengan keberadaan manusia dalam jagad raya, sehingga tidak hanya terdiri dari “feel” tapi juga “sense” dan “means”. Sehingga ketika bicara “feeling” jika dalam bahasa Inggris dipahami sebagai memiliki “feel” dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai kemampuan indrawi seseorang. Sehingga pada kasus kalimat “Perasaanku cair dan bercampur dengan mereka” yang diterjemahkan menjadi “my own feeling dissolve and mix with their” bisa saja mentah diterjemahkan menjadi “my feeling with faculty liquid and dissolve into their feeling”.

Masih bicara mengenai bahasa. Pada sesi paralel, Arief W. Djati membicarakan kuantitas masyarakat Tionghoa Surabaya sebagai masyarakat kosmopolitan dari jumlah bahasa yang mereka gunakan. Arief menggunakan teori Ben Anderson mengenai kosmopolitanisme kolonial, bahwa mereka yang disebut masyarakat kosmopolitan adalah orang-orang yang memahami beragam budaya dari kemampuan mereka menggunakan berbagai bahasa, bukan karena banyak berpergian ke berbagai tempat. Dikatakan bahwa masyarakat Tionghoa Surabaya fasih dalam menggunakan bahasa Belanda, Jawa, Hokkian dan Melayu. Hal yang juga menarik adalah presentasi dari Popi Primadevi mengenai sosial media. Hari ini sosial media memberi kita keleluasaan dalam membangun identitas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Lalu pertanyaannya, komunitas seperti apa yang kita miliki dalam media sosial hingga memerlukan pembentukan identitas yang mungkin saja palsu? Melalui arsip-arsip ‘iseng’nya, Popi mencoba mendokumentasikan dinamika yang terjadi pada sosial media untuk melihat bagaimana image-image identitas ini diterima dan diterjemahkan kembali oleh komunitas maya.


*Brigitta Engla adalah lulusan S1 Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti Program Magang IVAA di bulan Desember 2016 – Januari 2017.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.