Tag Archives: #sorotandokumentasi

#SOROTANDOKUMENTASI Januari-Februari 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Sekitar 13 peristiwa seni yang tercatat di penerimaan dokumentasi IVAA dalam periode ini, di antaranya kerjasama dengan Museum Taman Tino Sidin berkaitan dengan pameran Sketsa Mengenang Batara Lubis (salah satu pelukis angkatan sanggar pelukis rakyat tahun 1960-an). Di bulan Februari juga berlangsung “Festival Guyub Murub, festival berlokasi di pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Diikuti beberapa seniman dari berbagai bidang; seni rupa, seni pertunjukan, seni media, dan sebagainya, acara ini merupakan bentuk solidaritas seniman pada isu agraria di Yogyakarta.

Tiga kawan magang di bidang dokumentasi banyak membantu kami di bulan Desember 2017-Februari 2018, yaitu Lauren Paterson dari Australia yang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies), Sebastian Advent mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sagita Rani mahasiswi Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan Media Rekam – Fotografi. Kawan-kawan kami ini berkontribusi dalam kerja dokumentasi, pencatatan arsip, pengolahan arsip, hingga pengelolaan berbasis online IVAA.

Beberapa hasil dokumentasi yang kami kerjakan bersama ini, diantaranya ialah; video tentang pameran bertajuk “900 MDPL”, program yang di kuratori oleh Mira Asriningtyas (Lir Space) ini, merupakan sebuah proyek seni site-specific di Kaliurang, sebuah desa di selatan kaki Gunung Merapi. Bertujuan merespon ruang dan mengumpulkan cerita, program ini berharap bisa menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan antara seniman dan warga setempat.

Sedangkan dalam sektor internal IVAA, guna meningkatkan kerja-kerja dan pelayanan pengarsipan, kami menyelesaikan catatan Standard Operating Procedures (SOP) untuk bidang dokumentasi, pengarsipan, pengelolaan portal online, dan perpustakaan. SOP ini akan mempermudah kami dalam memahami kronologis dan mengevaluasi workflow yang selama ini berlangsung. Dalam diskusi dan penyusunanya, kami di bantu oleh Melisa Angela.

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Benih 900 Mdpl

Oleh: Dwi Rachmanto

Pagi itu saya berangkat bersama Advent, kawan magang IVAA yang menangani dokumentasi foto, menempuh dua jam perjalanan dari tengah Kota Yogyakarta menuju acara yang berlokasi di Kaliurang, kaki bukit kecil di selatan Gunung Merapi. Kaliurang sendiri termasuk wilayah Kabupaten Sleman yang kurang lebih berjarak 25 Km dari pusat kota. Para geolog Belanda mengatakan bahwa dulu Kaliurang difungsikan sebagai situs peristirahatan di zaman kolonial. Kini, Kaliurang menjadi tempat wisata alam yang populer dengan udaranya yang sejuk, dan potensi alam dari hasil erupsi Gunung Merapi.

Anggun Priambodo, Dimaz Maulana, Dito Yuwono, Edita Atmaja, Eva Olthof, Maryanto, Mella Jaarsma, Sandi Kalifadani, Simon Kentgens adalah 9 seniman dari berbagai bidang yang terlibat dalam proyek seni dengan bertajuk “900 mdpl” ini. Tajuk ini terinspirasi dari letak Kaliurang yang berada di ketinggian rata-rata 900 meter di atas permukaan laut. Proyek seni ini ingin merespon ruang dan mengumpulkan cerita, dengan harapan mewujudkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang melibatkan komunitas warga lokal melalui kerja seni kolaboratif.

Udara yang sejuk di Kaliurang membuat kami bersemangat menghadiri pembukaan ini, meskipun menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Kami langsung bertemu Mira Asriningtyas (kurator, sekaligus penggagas proyek ini). Mira merupakan akamsi  (anak kampung sendiri) di wilayah kaki bukit Merapi. Dia juga mendirikan dan mengelola art space bernama Lir Space di Kota Yogyakarta. Kemudian Mira menyambut kami dengan sepasang cangkir teh panas sebagai penawar dingin, sekaligus teman percakapan tentang rangkaian proyek ini.

“900mdpl” terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, masa residensi yang menghasilkan proyek seni tunggal dari masing-masing seniman. Di sini setiap seniman melakukan riset di tengah-tengah masyarakat untuk memperdalam gagasannya. Bagian kedua yaitu presentasi karya secara bersamaan di beberapa lokasi berbeda di Kaliurang. Konsep ini menarik karena dinikmati dengan berjalan kaki mengunjungi setiap sudut lokasi. Jalan kaki menjadi aspek partisipatif yang kemudian melahirkan ruang pengalaman yangsecara aktif menjalin narasi antar karya setiap seniman.

Acara ini diawali dengan perkenalan project “900mdpl” di Rumah Makan Joyo. Pengunjung digiring untuk mengikuti narasi pertama dengan mengunjungi lokasi dari karya seni Maryanto. Berada ada di bekas rumah Lik Sigun, yang dipenuhi dengan memori kolektif dan anekdot lokal tentang seorang pria unik. Selama hidupnya, Lik Sigun hidup damai di rumah tersebut, terbebas dari dunia yang riuh dan bising. Kini, rerumputan liarmemenuhi seluruh ruang rumah yang lama tak terpakai itu. Namun, Maryanto yang merapikan rumah itu dan menemukan peninggalan-peninggalan patung serta barang menarik lain.

Kemudian, setelah Maryanto, kami diajak ke sebuah penginapan dan cafe yang melegenda, yaitu Vogels. Seniman yang berkarya di sana adalah Mella Jaarsma. Mella adalah warga Belanda yang menetap di Yogyakarta sejak tahun 80an. Mella menuntaskan rindu terhadap negaranya yang dingin dengan mengunjungi Kaliurang. Dalam proyek seni ini dia membuat karya performatif memasak coklat dan susu yang bisa dinikmati tiap pengunjung dan pemilik cafe. Selanjutnya secara berurutan kami diajak mengunjungi karya Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Dimaz Maulana, Sandi Kalifadani, Edita Atmaja, Eva Olthof, Simon Kentgens. Di akhir kami kembali ke Rumah Makan Joyo.

“900mdpl” diproyeksikan sebagai benih dari proyek seni site-specific yang berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya. Dengan gagasan utama menawarkan ruang yang penuh dengan berbagai potensi kemungkinan, sekaligus meleburkan batasan subjek dan objek seni dengan seniman ditantang untuk berkolaborasi dengan masyarakat/publik secara langsung.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN DOKUMENTASI] Tribute to Tino Sidin

Oleh: Dwi Rachmanto

Acara Tribute to Tino Sidin ini mengambil judul “92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Tino Sidin adalah nama yang lekat di era 80-an dengan ungkapan “Ya, bagus”. Sebuah pelajaran penting bagaimana kita menghargai sebuah coretan/gambar, yang apapun Tino Sidin akan bilang itu bagus. Tino Sidin sangat akrab dengan pelajaran menggambar khususnya untuk anak TK sampai SD. Caranya menggambar tidak bisa dipungkiri, telah menginspirasi dan mendorong anak-anak di masanya untuk berani, dan tidak merasa bersalah kalau gambarnya dirasa kurang proporsional.
Tino Sidin lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925. Dia adalah seorang pelukis sekaligus guru gambar yang populer melalui program di TVRI. Tino Sidin menemukan metode pelajaran seni menggambar kepada anak-anak dengan santai, menyenangkan, dan mudah. Metode ini membuat anak-anak tertarik untuk selalu menyaksikan program televisinya. Tino Sidin meninggal pada 25 Desember 1995 pada usia 70 tahun.
Pasca kepergianya, keluarga menginisiasi museum, yang terletak di Jalan Tino Sidin 297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Provinsi Yogyakarta. 4 Oktober 2014 menjadi tanggal dibukanya museum bernama “Museum Tino Sidin”. Peresemian dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kala itu dijabat Muhammad Nuh. Museum ini dibangun tanpa merubah desain asli dari rumah tinggal Tino Sidin, hanya menambah beberapa ruangan yang dijadikan sebagai sanggar dan perpustakaan. Desain arsitekturalnya dikerjakan oleh Yoshi Fajar.

Museum Tino Sidin menyimpan memorabilia Tino Sidin mulai dari kacamata, cat, kuas, dan tak ketinggalan koleksi baretnya yang khas. Museum ini juga menampilkan karya lukis, sketsa, buku, termasuk arisp-arsip pribadi. Juga menampilkan koleksi foto-foto, kliping media massa, surat-surat pribadi, selebaran peristiwa, sertifikat maupun penghargaan yang pernah diterimanya, lengkap dengan testimoni para sahabat dan murid beliau. Berbagai koleksinya masih tersimpan rapih, dan kemudian dipresentasikan dengan baik. Kesadaran akan arsip sangat diperhatikan di museum ini.
Kemudian di penghujung 2017, tepatnya pada 14 Desember diadakan acara bertajuk “Tribute to Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Salah satu dari rangkaian acara ini adalah Peresmian Patung Tino Sidin dan Pembukaan Pameran, yang dihadiri oleh beberapa pejabat negara, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, M.pd., Mantan Kapolda DIY, Purn. Irjen Haka Atana, BBPH H. Gusti Prabu Kusumo, Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, seniman-seniman dan Ikatan Istri Senirupawan Yogyakarta (Ikaisyo), para panitia Parallel Event Biennale Jogja XIV, IVAA dan tamu undangan. Pembuatan patung Tino Sidin ini merupakan buah karya dari seniman bernama Yusman.

Selain persemian dan pameran lukisan, diadakan pula serangkaian acara berkonsep sarasehan, diselenggarakan pada 23 Desember 2017 dan menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani. Berbagai acara dalam sarasehan tersebut adalah tour museum dan pameran, dialog dengan seniman-seniman terlibat, dan tak lupa menggambar bersama dengan anak-anak sambil mengikuti arahan bapak Tino Sidin seperti era 80an di TVRI.

Sudah barang tentu museum memang memberi satu pelajaran, tentang bagaimana proses-proses kreatif dan berkesenian. Museum Tino Sidin dapat menjadi salah satu wujud dari museum pribadi seniman yang mampu mengeksperikan, mempresentasikan pengalaman dan pengetahuan dari proses tersebut. Tino Sidin dengan peninggalan semangat estetiknya telah mengajarkan, bahwa yang utama bukan melulu soal gedung besar nan megah, tetapi temuan isi dari museum tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#Sorotan Dokumentasi September – Desember 2017

Seni Sibuk di Akhir Tahun 2017;
Sekilas Sorotan Dokumentasi

Oleh: Dwi Rachmanto

Salah satu agenda dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XIV 2017 adalah program bersama komunitas dan galeri seni di Yogyakarta, yang dirangkum dalam Paralel Event. Agenda ini bercabang menjadi 47 program dalam 30 ruang dan melibatkan 300 seniman sepanjang putaran satu purnama lebih, 29 Oktober – 03 Desember 2017.

Kuantitatif event ini cukup membuktikan bahwa Yogyakarta sebagai pusat perhelatan seni rupa di Indonesia. Apresiasi pun tak pernah surut, baik oleh penyelenggara event, seniman, penikmat seni maupun masyarakat umum atas presentasi karya seni yang tanpa henti.

Berjalan mundur dari penyelenggaraan Paralel event Biennale Jogja XIV, kita bisa melihat berbagai kegiatan dengan turunan program dalam jumlah cukup besar. Sebut saja Jogja International Art Festival pada 22 – 26 Oktober 2017. Sejumlah seniman dari Asia –Eropa turut terlibat dalam pameran bersama ini.

Keterlibatan seniman internasional juga terlihat dalam Jogja Street Sculpture Project #2, yang dimulai bersamaan dengan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Event yang dikelola oleh Asosisasi Pematung Indonesia (API) ini, melibatkan seniman patung dari Yogyakarta sendiri, luar kota, dan luar negeri. 54 karya dari 50 pematung menghias wilayah heritage Kotabaru, Yogyakarta.

Sementara itu, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) juga urun dalam meramaikan seni di Yogyakarta sejak 19 September – 1 Oktober 2017. Selama 12 putaran matahari itu, IVAA menyelenggarakan Festival Arsip di Pusat Kebudayaan Hadisoemantri (PKKH) dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rangkaiannya, selain pameran seni rupa berbasis Arsip yang melibatkan 15 seniman atau kelompok, juga ada pameran komunitas, bursa arsip, dan Seminar Internasional. Secara kuantitatif, keterlibatan seniman, pekerja seni, serta komunitas seni dan budaya tidak kurang dari angka 300.

Dua bulan sebelum IVAA, Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyita perhatian warga Yogyakarta selama 18 – 31 Juli 2017. Mereka menggelar Pekan Seni Grafis Yogyakarta untuk kali pertamanya di Jogja Nasional Museum.

522 KM dari Yogyakarta, di Jakarta ada Inaugurasi Museum MACAN dengan judul “Seni Berubah. Dunia Berubah.” Melalui pameran ini, kita diajak menjelajahi koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang memajang 90 karya seniman Indonesia dan internasional sebagai koleksi dari museum itu sendiri. Dikurasi bersama oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi narasi sejarah seni Indonesia dengan dunia dalam kurun waktu 178 tahun.

Di sisi lain ibu kota, perhelatan Jakarta Biennale 2017 dengan judul “JIWA” digelar. Penyelenggaraan event tahunan ini berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Sepanjang 4 November – 10 Desember 2017, rangkaian event ini ingin mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Beberapa museum pun digaet demi keberhasilan kegiatan Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto. Biennale kali ini melibatkan 52 seniman dari dalam negeri maupum mancanegara.

Selain Yogyakarta dan Jakarta, beberapa kota lain juga menggelar event yang serupa dan waktunya tidak terlalu terpaut jauh. Di Makassar kita mengenal Makassar Biennale, yang tahun ini bertajuk Maritim. Event ini dibuka di Pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ada juga Biennale Jatim yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Tidak kurang dari 55 event yang berhasil dirangkum oleh Tim Dokumentasi IVAA sepanjang Oktober – November 2017. Dokumentasi itu kini disimpan dan dikelola secara rapi dan tertata. Dari seluruh kegiatan tersebut, Festival Arsip menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah agenda, yakni 103 agenda. Pendokumentasi sekian banyak kegiatan itu tidak dilakukan oleh awak IVAA sendiri, melainkan dibantu oleh mahasiswa magang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari Jurusan Tata Kelola Seni maupun Media Rekam.



Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni

Oleh: Rudi Rinaldi

Biennale Jogja tahun ini fokus bekerja sama dengan negara Brasil, yang secara letak geografisnya sejajar dengan Indonesia, yaitu dilewati oleh garis khatulistiwa. Biennale Equator menjadi upaya nyata untuk membangun definisi baru berkaitan dengan gagasan antarnegara, serta memberikan alternatif terhadap relasi antarnegara dalam kancah globalisasi secara umum.

Pameran Utama

Tujuan dari kerja sama dengan negara dari Benua Amerika tersebut adalah untuk mewujudkan pameran seni rupa sebagai agenda utama dalam gelaran besar dua tahunan ini. Dengan mengangkat tema “Stage Of Hopelessness”, pameran Biennale Jogja XIV: Equator #4 diselenggarakan pada 2 November hingga 10 Desember 2017.

Seluruh gedung pamer Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta digunakan sebagai ruang utama pameran yang melibatkan 39 perupa undangan. 27 di antaranya merupakan perupa WNI yang aktif berkarya dalam enam tahun terakhir, 12 sisanya adalah perupa asal Brasil. Tiga di antaranya kemudian mengikuti residensi di Yogyakarta. Pemilihan perupa dari Brasil tersebut berdasarkan rekomendasi Gabriel Bogossian, seorang kurator dan organisasi video asal Brasil.

Bertindak sebagai kurator adalah Sigit Pius Kuncoro, dibantu oleh Forum Ceblang Ceblung sebagai Direktur Artistik. Keduanya bekerja sama merespon ruang pamer dengan format tujuh poin yang bebas diinterpretasi oleh para perupa peserta pameran. Tujuh poin itu adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan atas Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.

Selain lukisan, pameran utama ini juga menampilkan beragam medium seperti patung, desain grafis, instalasi, video, dan fotografi. Karya-karya itu ditempatkan di ruang-ruang yang dirancang secara strategis untuk menguatkan masing-masing tema yang disampaikan. Sementara di luar gedung, sebuah karya ditampilkan yang secara eksplisit berintegrasi dengan karya-karya di ruang pamer.

Mencermati karya para seniman, nyaris seluruhnya adalah karya baru. Beberapa karya memang pernah tampil di hadapan publik sebelumnya, namun telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema utama pameran. Meski demikian, hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati keseluruhan karya yang dipamerkan.

Agenda Pendukung

Parallel Event diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 3 Desember 2017. Program ini terdiri dari pameran di beberapa titik di Yogyakarta dengan merangkul keterlibatan ruang dan komunitas seni yang lebih luas. Pelibatan ini menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman bahwa seni bisa dilihat sebagai satu produksi pengetahuan yang tidak hanya ‘terpusat’ pada satu titik tertentu.

Selain agenda di atas, dibentuk pula Biennale Forum sebagai penyelenggara diskusi, kuliah umum, simposium, artist talk, dan workshop yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang kritik serta ruang pembacaan. Agenda ini terlaksana dari 4 November hingga 7 Desember 2017 di beberapa titik di Yogyakarta. Biennale Forum selalu mengangkat tema yang berbeda dan aktual pada setiap sesinya. Hal ini dimaksudkan untuk merespon isu-isu peristiwa seni atau berbagai peristiwa yang sehari-hari menjadi perbincangan hangat di masyarakat kita.

Bagian terakhir dari agenda pendukung pameran utama Biennale Jogja adalah Festival Equator. Diagendakan pada 10 Oktober hingga 2 November 2017, Festival Equator menjadi rangkaian peristiwa untuk mengawali sekaligus mendukung acara sebelum pembukaan Biennale Jogja. Festival ini mengundang beberapa seniman untuk membuat karya yang berhadapan langsung dengan kenyataan sosial. Dengan demikian, diharapkan masyarakat merasakan semangat hajatan berkesenian di tengah dinamika kehidupan sosial.

Tiga Narasi Besar

Sigit Pius Kuncoro selaku kurator secara spesifik menjelaskan 3 narasi besar yang dibangun berkenaan pengelenggaran Biennale Jogja XIV tahun ini, yaitu:

  1. Organizing Chaos

Bagian atau mengorganisasi kekacauan ini menjadi permulaan dari seluruh rangkaian acara yang diwujudkan dalam Festival Equator. Organizing chaos dalam hal ini membicarakan tentang ketidaklaziman yang sulit untuk dimengerti di tengah-tengah masyarakat hingga merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan.

2. Stage of Hopelessness

Bentuk dari narasi ini adalah pameran utama Biennale Jogja XIV. Di dalamnya terdapat tujuh poin yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

3. Managing Hope

Bagian ini mengelola harapan, mencoba menawarkan percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen estetik.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia

Dari Grand Launching Musuem Macan
Oleh: Dwi Rahmanto

Haryanto Adikoesoemo, seorang kolektor senior Indonesia, telah menekuni bidangnya kurang lebih 25 tahun. Ia telah mengumpulkan berbagai karya seni rupa, baik dari Indonesia, Asia maupun Eropa. Di antara koleksinya itu, terdapat pula karya-karya dari seniman terkemuka dunia seperti Raden Saleh, I Gusti Nyoman Lempad, Andy warhol sampai Takashi.

Pencapaian selama seperempat abad itu kemudian dipersembahkan dan dipresentasikan dalam Grand Opening The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) di AKR Tower Level MM, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 November 2017 – 15 Maret 2018. Pameran inagurasi yang menghadirkan 90 karya seniman Indonesia dan Internasional ini memilih tajuk, “Seni Berubah. Dunia Berubah. Menjelajahi Koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara”.

Pameran yang dikuratori oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche ini, menyuguhkan karya berdasarkan periode. Pada periode awal, tampil karya-karya maestro seperti Raden Saleh, Miguel Covarubias, dan Walter Spies. Periode selanjutnya adalah periode kemerdekaan yang diwakili oleh karya-karya Dullah, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan Henk Ngantung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya-karya dari A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Andy Warhol, dan Arahmaiani muncul sebagai representasi periode 1950 – 1960-an. Dan sebagai perwakilan untuk melihat perkembangan periode saat ini, kurator memilih karya-karya dari Cai Gou-Qiang, FX Harsono, Ai Weiwei, dan I Nyoman Masriadi. Untuk pelengkap peristiwa sejarahnya, dihadirkan pula arsip-arsip berupa katalog pameran, kliping berita, dan dokumen terkait perjalanan seni rupa Indonesia dari masa ke masa. Dalam kesempatan istimewa ini, IVAA dan DKJ turut diundang dalam melengkapi arsip pameran.

Pembukaan museum ini merupakan langkah besar dari tumbuhnya infrastruktur seni rupa di Indonesia, selain museum asuhan pemerintah seperti Galeri Nasional dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada dalam satu kompleks dengan Museum Fatahilah. Kehadiran museum yang diinisiasi oleh pihak swasta khusus koleksi pribadi ini, juga mengingatkan kita pada Museum OHD yang menyimpan karya-karya seni modern Indonesia.

Tujuan utama dari Museum MACAN adalah sebagai wadah edukasi publik, selain sebagai ruang untuk memamerkan karya. Diharapkan juga, museum tersebut mampu menjadi ikon di level region Asia Tenggara. Kerja keras ini kemudian perlu melihat pada sejauh mana program-program paralelnya mendukung museum tersebut menjadi tempat edukasi yang dinasmis dan eksploratif. Meski sumber dan koleksinya sudah memperlihatkan keberagaman dari sisi sejarah, artistik, dan makna, akan tetapi masih harus dihidup-hidupkan dengan perbagai program.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Batas yang Tidak Ada

Presentasi Penelitian “Gazing at The Other: Orientalism, Dance Bodies and Myth about the Exotic Self”

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

“Selama ini kalo ngomongin sejarah tari modern atau kontemporer, selalu dipisahkan. Ini Barat ini Timur. Saya bilang enggak! Ini dua-duanya berkaitan! Barat dan Timur sebenernya tidak benar-benar berbatas, mereka itu saling berhubungan”

Tuturannya dengan nada bicara yang meninggi disertai gerakan tangan yang menegaskan, telah menunjukkan kegelisahan Helly Minarti dalam wacana sejarah tari modern. Dalam proses penelitiannya yang sedang berlangsung tersebut, Helly menemukan pola yang mengekalkan batas pemisah antara dunia Barat dan Timur. Temuan ini yang kemudian ditiliknya lebih dalam, hingga menemukan premis bahwa tembok pemisah dunia Barat dan Timur sebenarnya tidak ada.   

Pada diskusi di Cemeti Institute For Art and Society tanggal 18 Juli 2017, Helly menyampaikan bahwa tatapan (gaze) kepada liyan, dalam hal ini tatapan bangsa penjajah terhadap kaum terjajah (Indonesia), menjadi peristiwa yang perlu tercatat pada sejarah tari modern. Lebih detailnya, peristiwa tersebut memiliki andil dalam membentuk estetika tari di Indonesia, dan dunia sekarang ini. Seperti datanya pada kasus Tari Kecak di Bali yang mulanya tidak bernarasi, menjadi bernarasi (bercerita) akibat konsep kolonialisme yang menempatkan Bali sebagai wilayah turistik.        

Estetika tari tersebut menjadi reaksi dari tatapan. Reaksi lainnya nampak pula dalam karya Ruth St. Danis, sebagai orang penting yang tercatat dalam sejarah tari modern dunia. Ruth St. Danis menarikan tarian yang terinspirasi dari Srimpi. Helly menegaskan bahwa yang ditarikan Ruth St. Danis adalah ekspresi diri atas tatapan setelah menyaksikan Srimpi ketika berpergian di Yogyakarta.         

Selain itu, ketika penjajahan kaum Barat mencapai puncaknya di tahun 1889, muncul kegandrungan pada “eksotisisme” sebagai reaksi tatapan di kawasan Eropa. Helly menemukan data bahwa pertunjukkan yang menggunakan kata “eksotis” dalam judul dan menampilkan penari beratribut tari-tarian Jawa seperti, Topeng Cirebon dan lain sebagainya ketika pentas, selalu menarik banyak penonton. Kemudian pertunjukkan empat penari asal Wonogiri (Indonesia) di Universal Exibition Paris, tahun 1889, yang mengispirasi beberapa pelukis dalam berkarya.

Peristiwa yang ditampilkan Helly sebagai data ini menunjukkan bahwa dunia khususnya dalam kesenian tidak benar-benar terpisah, menjadi Barat dan Timur. Pertukaran ide sebagai cikal kemunculan produk. Terjadi peristiwa saling tatap baik pada diri maupun Liyan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Pekan Seni Grafis Yogyakarta

Penulis: Dwi Rachmanto

Saat itu (18/7) Yogyakarta diguyur hujan lebat menjelang malam pembukaan Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY). PSGY merupakan pameran karya seni grafis yang digagas oleh Studio Grafis Minggiran yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Pembukaannya dimulai pukul 19.00 WIB di ruang pamer Jogja National Museum, pamerannya sendiri berlangsung 18 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017.

Malam pembukaan PSGY dimeriahkan oleh pertunjukan musik band-band kenamaan asal kota Yogyakarta, yang mana personelnya kebanyakan adalah pegrafis. Sebut saja Sangkakala, Seek Six Sick, Mulyakarya Band, dan Roll Ringtones, kebanyakan dari personel band-band ini pernah mengenyam pendidikan seni grafis di kampus ISI Yogyakarta. Dan seperti biasa, acara dibuka dengan sambutan perwakilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Wacana seni grafis sendiri di Yogyakarta selalu menarik, karena populasi seniman grafis di Yogyakarta bisa dibilang banyak, tetapi aktivitas seni grafis kian menurun. PSGY memiliki harapan untuk bisa menjadi wadah yang mempertemukan para pelaku seni grafis, mempopulerkan kembali seni grafis, sekaligus mewadahi wacana bagaimana mempersatukan antara wilayah seni dan bisnis. Dalam cetak grafis sendiri masyarakat akrab dengan teknik sablon dan stempel karena sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Padahal di dalam seni grafis banyak teknik yang bisa digunakan, dan bisa menjadi bidang eksplorasi seniman. Masuknya seni cetak digital juga menambah satu lembaran teknik cetak yang kini memperkaya eksplorasi seni grafis.

Bambang ‘Toko’ Witjaksono (dosen, kurator, seniman) ditunjuk sebagai kurator PSGY perdana ini. Dalam acara tersebut dipamerkan tak kurang dari 42 karya-karya grafis yang tercipta sejak tahun 1940 hingga 2017. PSGY melibatkan juga Jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta untuk memamerkan 15 karya koleksi kampus.

Menariknya, di dalam pameran ini panitia juga menyuguhkan karya maestro Salvador Dali berjudul “Espana.” Karya ini merupakan koleksi seniman komik dan tato ‘Atonk’ Sapto Raharjo. Menurut keterangan Bambang ‘Toko’ Witjaksono, karya grafis Salvador Dali ini sangat terbatas edisinya karena hanya berjumlah 300. Karya grafis “Espana” ini merupakan duplikat dari karya lukisan Dali sendiri dengan judul yang sama. Lukisan “Espana” diciptakan Dali pada tahun 1938, dan diperbanyak menjadi karya grafis di sekitar tahun 1940-an.

Dalam rangkaian PSGY terdapat pula kegiatan lokakarya 7 teknik cetak dalam seni grafis; yaitu cukil kayu, stensil, alugrafi, photolitografi, etsa, screen printing, dan ukiyo-e (teknik grafis tertua berasal dari Jepang). Program lokakarya ini melibatkan 7 komunitas seni grafis antara lain Grafis Minggiran, Krack! Studio, PQX Studio, Club Etsa, Tori Triastama, Grafis Huruhara,  dan Baren Studio. Digelar pula seminar bertajuk “Perkembangan Seni Grafis dari Teknik Maupun Wacana Seni Grafis di Indonesia” yang sekaligus menjadi kegiatan penutup dari PSGY.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

“Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana

Budaya tidak boleh dikesampingkan karena budaya yang baik adalah Indonesia hebat,” ungkap pria paruh baya Prof. Panut Mulyono yang masih segar-segarnya menjabat rektor UGM yang baru dalam pidato pembukaan simposium kebudayaan.

Ruangan auditorium pasca sarjana UGM dipenuhi oleh para aktivis dan pegiat kebudayaan pada Kamis (15/6). Ruangan yang sedianya muat oleh 200 orang terisi penuh oleh lautan manusia dari berbagai kalangan. Mereka berkumpul untuk mengadakan diskusi bersama dalam tajuk “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simposium kebudayaan kali ini terasa begitu spesial dengan hadirnya Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Kedatangan Hilmar Farid disambut antusias dari para kalangan aktivis dan pegiat kebudayaan yang berkumpul di auditorium. Selama kurang lebih setengah jam Hilmar Farid menyampaikan pidato kebudayaan untuk mengajak setiap lapisan masyarakat lebih peduli dalam mengembangkan kebudayaan nasional.

Menurut Hilmar Farid simposium kebudayaan yang bertajuk strategi kebudayaan ini sudah banyak dibicarakan. Bahkan strategi kebudayaan sudah pernah dicetuskan oleh Ali Moertopo pada masa Orde Baru. Namun, Hilmar beranggapan bahwa strategi kebudayaan ini perlu diadakan terus-menerus karena situasi yang berubah-ubah sehingga perlu dibahas untuk menyesuaikan dengan perubahan keadaan yang sedang terjadi.

“Situasi bangsa kini telah berubah maka strategi kebudayaan juga turut berubah sehingga perlu dibicarakan kembali,” ungkap Aprianus Salam ketua Pusat Studi Kebudayaan UGM. Aprianus setuju bahwa strategi kebudayaan perlu didiskusikan setelah krisis nasionalisme melanda Indonesia. Sehingga bagi Aprianus untuk menanamkan jiwa nasionalisme itu sendiri perlu melakukan pendekatan kebudayaan lewat strategi kebudayaan.

“Strategi kebudayaan berangkat dari Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hal ini yang perlu dikritisi bahwa kebudayaan itu berkembang bebas jangan diatur oleh undang-undang,” ungkap Hilmar dalam pidatonya. Ini menunjukkan bahwa Himar beranggapan bahwa kebudayaan tidak perlu diatur sedemikian rupa seperti gerak tari yang detail sehingga gerakan tari sama semua. Tetapi pemerintah cukup mendukungnya saja dengan tidak mengekang kebudayaan tersebut.

Dalam pidatonya Hilmar juga menyampaikan strategi kebudayaan yang sangat relevan menurutnya. Bagi Hilmar yang diperlukan dalam strategi kebudayaan adalah mengembangkan budaya literasi dalam masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah berita-berita bohong yang dapat memecah bangsa Indonesia. Sehingga dengan membiasakan masyarakat dengan budaya literasi mereka mampu mengurangi kebiasaan untuk percaya dengan berita bohong. Inilah strategi kebudayaan yang disampaikan Hilmar dalam pidato kebudayaannya.

Mukhtasar Syamsuddin dosen filsafat UGM menyampaikan materi dalam simposium beranggapan senada bahwa kebudayaan itu tidak statis tetapi bersifat dinamis. Sehingga kebudayaan selalu berubah-ubah seturut perkembangan zaman dan tidak bisa diatur. Bagi Mukhtasar melihat kebudayaan yang bersifat dinamis ini perlu adanya strategi kebudayaan untuk mencapai Indonesia yang mandiri.

Hermin Indah Wahyuni seorang dosen ilmu komunikasi UGM dalam materinya di simposium kebudayaan menawarkan strategi kebudayaan lewat Pancasila. Hermin berpendapat bahwa strategi kebudayaan dapat dilakukan dengan cara mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Pancasila sendiri merupakan cerminan dari kebudayaan Indonesia. Sehingga bagi Hermin dengan mengimplementasikan Pancasila dalam strategi kebudayaan juga turut serta mengajarkan tentang nasionalisme.

Salah satu peserta dalam simposium kebudayaan yakni Faiza Mardzoeki seorang pegiat seni menyampaikan gagasannya mengenai strategi kebudayaan. “Untuk memudahkan anak-anak mengetahui tentang Pancasila perlu didekatkan pada sastra, lewat sastra anak-anak dapat belajar untuk mengetahui berbagai macam karakter,” ungkapnya. Bagi Faiza mendekatkan anak-anak pada nasionalisme lewat budaya literasi.

Wening Udasmoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM juga menyampaikan materinya tentang strategi kebudayaan. Bagi Wening sudah saatnya nasionalisme perlu dikembangkan dan dibicarakan kembali dalam menetapkan strategi kebudayaan. Hal ini dikarenakan sudah lama Indonesia tidak pernah berbicara tentang nasionalisme hanya seputaran demokrasi saja hingga dampaknya saat ini krisis akan nasionalisme menurut Wening.

Wening juga berpendapat bahwa intolerasansi saat ini berkembang karena lunturnya nasionalisme itu sendiri kurang digelorakan. “Intoleransi berkembang karena para nasionalis sendiri masih belum mau bernarasi sehingga mereka dikalahkan oleh kelompok intoleran yang berteriak begitu kencang,” ungkap Wening. Dalam hal ini Wening mengajak setiap lapisan berani bernarasi menyuarakan nasionalisme untuk mencegah intoleransi.

Hairus Salim yang juga ditunjuk untuk menyampaikan materi dalam simposium kebudayaan ini juga punya pendapat lain. Bagi Hairus perlu diganti dalam penamaan strategi kebudayaan menjadi kebijakan kebudayaan. Hal ini dilakukan Hairus karena strategi kebudayaan kental kaitannya dengan Orde Baru. Supaya tidak terjadi pengulangan dan kesamaan dengan Orde Baru, papar Hairus, maka sebaiknya strategi kebudayaan diganti nama menjadi kebijakan kebudayaan. Sebab kebudayaan saat ini sangatlah berbeda dengan kebudayaan pada masa Orde Baru menurut Hairus.

Sudah banyak strategi kebudayaan yang disampaikan oleh para akademisi yang ditunjuk sebagai pemateri dalam simposium kebudayaan ini. Tujuannya jelas bahwa dengan adanya simposium kebudayaan ini ditawarkan mengenai strategi-strategi kebudayaan dalam menghadapi situasi zaman saat ini. Tawaran-tawaran strategi kebudayaan sudah disampaikan kini tinggal para pegiat kebudayaan bersama masyarakat menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanDokumentasi Mei-Juni 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sepanjang Mei-Juni, Yogyakarta menjelma sebagai kota seni super sibuk. Momentum bursa seni rupa megah—Artjog, digunakan banyak pelaku seni sebagai ‘bulan baik’ penyelenggaraan kegiatan. Selama sepuluh tahun penyelenggaraannya, Artjog telah memantik bertumbuhnya kegiatan hingga ruang-ruang seni rupa baru di Yogyakarta. Tak ayal, jika banyak para seniman atau pelaku seni lainnya menyebut moment Artjog sebagai “Lebaran Seni Jogja”. Momen ini menjadi titik bertemunya seluruh penghuni medan seni, mulai dari pelaku, pemerhati, dan pendukung seni rupa hingga pelaku industri kreatif seperti musik dan craft.

Di Rumah IVAA sendiri sejak pertengahan Mei telah berlangsung “Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa”. Acara yang menjadi pembuka dari Festival Arsip di September mendatang, telah menunjukkan partisipasi IVAA pada momentum Yogyakarta kala itu. Lokakarya ini diikuti sekitar 13 partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa sejarah hingga komikus. Acara berlangsung selama kurang lebih dua minggu, dari pukul 15:00 hingga malam hari, disesuaikan dengan kebutuhan pembahasan. Setelah itu para peserta lokakarya melakukan penelitian mandiri dan beberapa sesi penyuntingan.

Kami selaku Tim Dokumentasi bekerja untuk mengumpulkan dan merekam berbagai peristiwa kesenian. Tidak hanya itu, kami juga bertugas untuk mengelola materi-materi hasil perolehan dari kerja pengumpulan dan perekaman, baik berupa dokumen video, foto, audio, maupun tekstual hingga siap dikelola oleh Tim Arsip dan Pelayanan Publik. Kali ini kami dibantu dua kawan magang, yang sedang kuliah di Universitas Islam Indonesia dan Modern School of Desain. Sejak awal Mei sampai dengan pertengahan Juni 2017 ini kami mencatat telah merekam 63 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan beberapa kota lain.

Dari serangkaian acara dan peristiwa seni budaya yang kami coba dokumentasikan, terdapat satu rapor merah, yakni peristiwa pembredelan pameran drawing “Tribute to Wiji Thukul” oleh Andreas di PUSHAM UII. Sebuah peristiwa yang menandai masih adanya pemberangusan kebebasan berekspresi melalui seni tentu penting untuk kami abadikan. Di sisi lain, ada juga demonstrasi oleh sejumlah aktivis perempuan Yogyakarta atas pameran tunggal Sitok Srengenge yang di laksanakan di Langit Art Space. Sitok seperti kita ketahui, terlibat kasus tindakan asusila yang proses peradilannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah muncul pertanyaan, apakah pribadi semacam ini patut diamini sebagai seniman, sedangkan seni itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari sisi kemanusiaan. Kami juga merekam acara demonstrasi para alumnus dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memprotes keberadaan kelompok Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) di ranah civitas akademi ISI Yogyakarta. Demo ini bukan yang pertama, setelah pada tahun 2016 pernah berlangsung demo serupa di kampus tersebut. Dokumentasi dari peristiwa-peristiwa tersebut tersedia di IVAA, dan bisa diakses dengan terlebih dahulu menghubungi Arsiparis IVAA.

Di Rubrik Sorotan Dokumentasi edisi ini kami berbagi rekaman tiga peristiwa (1) “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom” pameran oleh kartunis GM Sudarta di Bentara Budaya Yogyakarta; (2) seminar bertajuk “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya” dengan menghadirkan tiga pembicara: Agan Harahap (seniman), Budi Irawanto (dosen program studi Ilmu Komunikasi UGM), Seno Gumira Ajidarma (dosen Institut Kesenian Jakarta/IKJ) dan dimoderatori oleh Dyna Herlina (dosen Ilmu Komunikasi UNY); dan (3) “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


  1. Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”
  2. Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”
  3. “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.