Tag Archives: #sorotandokumentasi

#SOROTANDOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2018

oleh : Dwi Rahmanto

Periode Juli-Agustus ini, tim arsip dibantu oleh 8 kawan magang dari berbagai perguruan tinggi merekam sekitar 18 peristiwa seni. Khusus untuk newsletter edisi ini kami menyoroti beberapa peristiwa yang kami bagi kedalam 3 tema, yaitu Keragaman lokasi, Keragaman lintas medium, dan Terkait dengan tema ‘Nusantara/ Lokalitas’.  Selain yang tertulis dalam newsletter kali ini, dokumentasi lainnya dapat dijelajahi di kanal-kanal online kami http://archive.ivaa-online.org/, dan https://www.youtube.com/user/IVAAVideoArchive. Dan sebagai upaya kontribusi memperluas jaringan publikasi peristiwa seni, dapat diakses di tautan http://ivaa-online.org/art-events-calendar/.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Siang itu, 5 Juli 2018, ruang galeri museum Sonobudoyo memajang karya-karya seni rupa dengan satu inspirasi cerita, yaitu Panji. 16 seniman dan beberapa koleksi Museum Sonobudoyo meramaikan pameran yang merupakan rangkaian dari Festival Panji Internasional ini. Festival ini sendiri secara keseluruhan digelar pada 27 Juni-13 Juli 2018 di 8 kota di Indonesia (Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta). Yogyakarta menjadi kota kelima dalam festival yang melibatkan 3 negara Asean ini. Indonesia, Kamboja dan Thailand berkolaborasi dalam upaya kerjasama budaya Panji yang lebih erat. Acara ini memang program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk penyelenggaraan di Yogyakarta menggandeng Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pameran ini bertajuk Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni. Berbagai karya seni lukis, patung, topeng, dan naskah-naskah serta buku-buku tentang Panji dipamerkan selama empat hari. Pameran yang dibuka oleh Penasehat Mendikbud RI, Wardiman Djojonegoro ini menginterpretasikan berbagai versi turunan cerita Panji. Diungkapkan dalam pembukaan bahwa pameran ini digelar dengan semangat mempromosikan budaya Panji diantara Negara ASEAN untuk memperkuat jalinan diplomasi kebudayaan.

Dalam pidatonya, Wardiman Djojonegoro memaparkan bahwa pameran ini mengusung tiga pesan utama. Pertama sebagai bentuk perayaan. Terhitung 31 Oktober 2017, UNESCO menerima naskah panji yang ada di Indonesia, Malaysia, Kamboja, hingga yang tersimpan di Museum Belanda dan London sebagai memory of the world atau warisan budaya dunia. Kedua, pameran ini sebagai ajang pelestarian. Harapannya adalah panji mampu membentengi generasi muda dari serbuan budaya asing. Generasi muda Indonesia agaknya dapat membentuk ideologinya melalui identitas lokalnya. Kemudian yang ketiga, keberadaan panji sudah menyeberangi lautan hingga melingkupi hampir semua negara ASEAN, artinya panji telah menjadi warisan bersama sebagai budaya tak benda dari nenek moyang.

Suasana ‘lokal’ sangat terasa ketika memasuki ruang pamer tersebut. Di pintu masuk ruangan sisi utara, kita disuguhkan lukisan-lukisan wayang yang direkonstruksi menjadi wayang kontemporer tanpa melepaskan identitas lokalnya. ‘Gumreg di Tanah Emas‘ karya Subandi Giyanto. Lukisan cat akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm ini menggambarkan seekor kerbau yang di tubuh dan latar belakangnya dipenuhi ornamen dan sosok wayang. Narasi dari lukisan ini adalah bagaimana manusia memuliakan hewan sebagai mitranya bercocok tanam dan mencari nafkah. Kemudian di ruang tengah terdapat patung ‘Cindelaras‘ karya Sumidal dan satu set Wayang Klithik karya Kemiskidi Wikyo Suprapto. ‘Cindelaras‘ adalah patung seorang pria jongkok sambil memegang seekor ayam berukuran 40 x 30 x 40 cm. Patung ini ingin menceritakan kisah hidup Cindelaras. Sedangkan Wayang Klithik ingin menceritakan Majapahit dalam pimpinan Ratu Dewi Suhita yang berhasil menaklukkan banyak daerah. Karya ini menarik karena mediumnya terbuat dari kayu jati.

Ruangan sisi selatan memajang beberapa topeng Panji serta Dewi Sekartaji koleksi dari Museum Sonobudoyo, dan beberapa karakter Panji dalam wujud Wayang Golek dan wujud Wayang Kulit. Selanjutnya ada satu ruangan yang berisi buku serta naskah-naskah yang berkaitan dengan panji. Dan di ruang sebelah selatan pintu masuk, terdapat karya 3 dimensional dari Giring Prihatyasono. Karya yang dibentuk seperti gulungan ini berjudul ‘Puisi Cinta Bait yang Tersisa‘ berukuran 18 x 177 cm berbahan aluminium, etsa, dan kulit kayu. Melalui karya ini, Giring menginterpretasikan cerita panji sebagai kisah asmara yang berbalut dan bernuansa politik.

Cerita Panji  merupakan sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Berisi cerita kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Pameran dengan sebuah tema yang identik dengan cerita pewayangan kini telah direspon dalam berbagai medium seni rupa. Dari lukisan, patung, instalasi, hingga wayang itu sendiri. Menarik dalam pameran ini karena hampir seluruh karya, disertai caption yang tidak hanya berisi nama seniman, judul karya, medium, dimensi, dan tahun pembuatan, tetapi juga dilengkapi dengan narasi singkat cerita yang diangkat dalam karya tertentu. Dalam karya seni rupa yang statis, kehadiran narasi cerita ini bisa sedikit banyak bisa membantu apresiasi yang lebih dalam. Terlebih pameran ini dalam catatan kuratorial yang ditulis Timbul Raharjo, menyebutkan bahwa Pameran ini ingin menumbuhkan kecintaan budaya nusantara melalui pendidikan dengan kegiatan apresiasi dan edukasi budaya seni rupa indonesia. Singkatnya ada upaya literasi visi kebaikan kebudayaan Indonesia dalam pameran ini. Bisa jadi visi ini juga yang mendasari alasan pameran ini digelar di Museum Sonobudoyo, yang berlokasi di salah satu titik keramaian Yogyakarta. Karya-karya dalam pameran ini berusaha merespon cerita panji dengan gayanya masing-masing, termasuk interpretasi dan upaya kontekstualisasinya masing-masing. Dengan gaya yang dominan tentu saja ornamen wayang. Menarik untuk diikuti lebih jauh, apakah pameran panji di daerah lain juga didominasi corak khasnya masing-masing.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Perempuan Modern dan Jiwa Jawa

Oleh Dwi Rahmanto

Seorang perempuan dengan satu set pakaian pernikahan jawa menumbuk bawang merah dan bawang putih di atas cobek. Dilakukannya berulang kali hingga bau bawang menusuk hidung dan air mata. Di punggungnya juga tertulis tegas dengan cat hitam ‘Power Blessing’, ‘Faith Eternal’, ‘Pride’, ‘Dignity’, dan sebagainya. Ini adalah sebuah pertunjukan berjudul ‘Lingga dan Yoni’ dalam rangkaian pembukaan pameran tunggal Fractura Hepatica; Love, Pride and Dignity oleh Andita Purnama Sari. Pameran ini berlangsung di Cemara 6 Galeri-Museum, tanggal 1 – 10 Agustus 2018, dengan kurator Christine Cocca. Andita memajang sekitar 13 karya seni rupa yang meliputi karya-karya lukisan, patung, instalasi dan  performance art. Karya-karyanya memaparkan unsur-unsur yang berpijak pada nilai-nilai perempuan dan tradisi dalam narasi yang penuh simbol dan makna.

Cocca menyebutkan bahwa Andita dalam pameran ini berbicara tentang kemuliaan cinta, harapan tentang hidup dan harga diri serta harkat martabat sebagai perempuan. Andita mencoba merefleksikan dedikasi, cinta yang tulus dan pengorbanan jiwa raga seorang perempuan yang dibalut dalam konsepsi pandangan hidup orang Jawa. Cocca menilai bahwa Andita adalah perempuan modern yang berada dalam momen-momen sakral, dalam situasi tradisi jawa sangat kuat melekat baginya. Ada interseksi antara konsep perempuan idealnya dalam tradisi dengan perempuan modern. Bagaimana keduanya bertemu dengan satu tubuh perempuan, bagaimana ini eksis dan bernegosiasi dalam hidup modern tapi membawa prinsip yang lama. Andita tidak hanya melakukan ini secara personal tetapi mengkontekstualisasikan dengan perempuan di jawa masa kini.

Fenomena kawin siri/kontrak di Indonesia bukan hanya menjadi gosip dan isapan jempol belaka. 2017 lalu terdengar kabar situs nikahsirri.com (kini sudah diblokir oleh Kemenkominfo) yang menggegerkan publik. (sumber: https://www.dream.co.id/news/prostitusi-berkedok-nikah-siri-di-puncak-bogor-1-170926z.html)

Melihat ini, Andita Purnama sebagai seniman tergugah untuk mengadvokasi berbagai kasus dalam praktik nikah siri dan kawin kontrak. Bersama Komnas Perempuan Jakarta, Andita meneliti dan menelusuri, kemudian menjadi lebih banyak tahu resiko-resiko buruk dari praktik ini. Barangkali inilah yang membuat Cocca menyatakan pameran ini sebagai jalan baru dari fase dimana Andita berada dalam situasi ‘heartbreak‘.

Entang Wiharso yang juga membuka pameran ini mengungkapkan bagaimana seni rupa kini tidak terbatas dan sangat universal. Seni tidak mengenal gender, bisa hadir di mana saja, seni sebagai pengait umat manusia. Entang menyoroti bahwa Andita memilih material bukan hanya pertimbangan estetis, tapi juga membicarakan nilai-nilainya secara kritis. Material ini semacam dialog antara yang rapuh dengan yang keras, sekaligus refleksi atas ekualitas gender. Narasi ini yang secara implisit ingin diutarakan dalam pameran ini, dan Entang cukup menggarisbawahi poin tersebut.

Andita sendiri memiliki proses pengkaryaan yang beragam. Mulai dari pemilihan material, cara mengolah material, instalasi, dan isu yang diangkat pun menggunakan berbagai sudut pandang. Sudut pandang ini dikolaborasikan dengan pendekatan idiom idiom jawa. Nilai-nilai  ini sengaja dihadirkan karena menurutnya semua orang akan selalu kembali kepada nilai awal dia berada, dalam hal ini Andita dengan pengalamannya sebagai orang Jawa. Material karyanya juga banyak mengambil dari barang-barang milik pribadi Anditya, seperti stagen, rambut, hingga tempat tidur. Benda-benda personalnya ini dibawa dalam satu rangkaian pintu narasi yang lebih luas, perempuan, modern, dan jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Image Of The Giant Dalam Jejak Tabi Exchange 2018

Oleh: Chusnul Khasanah (Kawan Magang IVAA)

Musik instrumental dengan suara yang khas, kemudian diikuti video tanpa suara dan seorang wanita asing menari ‘Jaranan Buto’ secara kikuk dibawah pendar cahaya merah berlangsung mistis malam itu. Pertunjukan ini adalah salah satu rangkaian pertunjukan dalam Jejak Tabi Exchange 2018. Merujuk pada teks kuratorial, Jejak Tabi Exchange 2018 merupakan sebuah festival keliling yang diprogramkan sebagai bentuk pertukaran dan ajang pertunjukan untuk para seniman kontemporer Asia.  Acara ini fokus pada dua kota di Asia. Untuk tahun 2018, Jejak Tabi Exchange memilih Yogyakarta dan Kuala Lumpur sebagai wadah pertunjukan. Khusus di Yogyakarta, berlangsung pada 13 Juli-11 Agustus 2018. Salah satu rangkaian acara dari Jejak Tabi Exchange adalah mempersembah showcase Image Of The Giant karya Yennu Ariendra. Showcase tersebut digelar pada 19 Juli di Galeri Cemeti-Institut Seni untuk Masyarakat. Dalam showcase ini, tim arsip IVAA diwakili oleh beberapa kawan magang IVAA, diantaranya Chusnul Khasanah, Mega Mahardhika, Nilna Faza dan Apriani Pratiwi.

Pertunjukan yang dipersembahkan dari proyek Image of The Giant berupa komposisi musik tanpa lirik, video art, dan tari ‘Jaranan Buto’. Lebih tepatnya Yennu membuat  sebuah kolaborasi musik digital kontemporer yang dikolaborasikan dengan musik tradisional. Untuk persembahan sebuah komposisi musik, Yennu dibantu oleh Mo’ong S Pribadi. Kolaborasi dari dua komposer ini menghasilkan harmoni sebuah musik tanpa lirik. Musik yang dimainkan Yennu terdengar dramatis dan mengesankan unsur kekerasan. Mo’ong pada proyek ini memainkan alat musik buatannya sendiri. Paralon menjadi salah satu bahan dari alat musik uniknya. Musik yang mengalun pada projek ini diiringi dengan  pemutaran video tanpa suara. Video ini merupakan hasil dokumentasi dari penelitian Yennu terhadap tarian ‘Jaranan Buto’. Tak hanya itu, proyek ini juga menghadirkan pertunjukan tari yang dibawakan oleh seorang bule. Yennu memilih wanita bule karena gestur tubuh penari ini tidak akan bisa segemulai orang Banyuwangi. Ini adalah pilihan sadar atas konsep pertentangan yang ingin ditekankan.

Image Of The Giant ini merupakan lanjutan dari proyek Yennu sebelumnya yaitu Menara Ingatan. Menara Ingatan yang menjadi tema besar proyek ini sudah menghasilkan album bertajuk Raja Kirik. Maka tak heran jika audience melihat sekilas cover Raja Kirik pada video art yang ditampilkan Yennu pada pertunjukan ini. Image of The Giant memuat gagasan resistensi lebih spesifik, yang tak seluas dari proyek Menara Ingatan. Gagasan atas karya ini berasal dari tradisi kesenian tempat Yennu dilahirkan, Banyuwangi. Yennu terinspirasi dengan kekerasan tradisi yang sudah terjadi di keluarga. Beranjak ke proses penciptaan, Yennu mengambil idiom kesenian tradisi ‘Jaranan Buto’. Ketertarikannya pada ‘Jaranan Buto’ membuat Yennu harus kembali ke Banyuwangi untuk penelitian dan mengulik kembali  berbagai cerita dari Jaranan Buto. Kesenian tradisi ini mengisahkan perseteruan antara Kerajaan Mataram yang menaklukkan Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Kesenian Jaranan Buto diciptakan sebagai bentuk kesenian untuk memprotes segala bentuk ketidakadilan pada daerah Blambangan. Kerajaan Mataram membuat asumsi bahwa figur raksasa pada kesenian ini adalah penjahat. Lain halnya dengan masyarakat Blambangan yang menganggap tokoh raksasa adalah sosok pahlawan bukan penjahat. Gagasan besar yang dimuat Yennu pada karya ini intinya merepresentasikan sebuah resistensi ketidakadilan, dan kekerasan atas segala kondisi yang dapat disangkutpautkan dengan kondisi sosial dan budaya saat ini.

Setelah melakukan pertunjukan Image Of The Giant di Cemeti-Institute Seni Untuk Masyarakat, Yennu Ariendra disibukkan dengan proyek barunya. Rencananya komposer muda ini akan melakukan comeback solonya yang rilis pada bulan Agustus. Kesuksesan Yennu menjadi seorang pemusik dan komposer tidak bisa terlepas dari Bandnya Melancholic Bitch, Belkastrelka, dan teman-teman terdekatnya. Sebelum membuat proyek Menara Ingatan-Image Of The Giant dan Album Raja Kirik, Yennu dan Bandnya Melancholic Bitch sudah terlebih dahulu meluncurkan 3 album (2004-2018). Sementara Belkastrelka 1 album.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Berkaca Pada Kaca dan Buka Tutup

Oleh: Hardiwan Prayogo

Layang-layang berukuran 2,7 meter berdiri gagah di depan ruang pameran Bentara Budaya Yogyakarta. Layang-layang ini berjudul ‘Kumbakarna Bela Negara’, karya Iskandar. Pameran lukisan duo wayang, Iskandar dan Agus Nuryanto ini berjudul Buka Tutup bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta 14-22 Juli 2018. Sejujurnya, menghadiri pameran bertema wayang, terbayang dalam benak adalah gambaran kisah-kisah dan nasihat-nasihat filosofis. Menariknya, bagaimana kisah-kisah ini diwujudkan dalam pameran seni rupa, dalam karya rupa yang statis. Iskandar yang banyak menggunakan medium lukis kaca, lukisan berjudul ‘Serakah’, menggambarkan sosok raksasa yang menghisap gunungan. Lukisan lainnya berjudul ‘Pasar’, menggambarkan Semar dan Punokawan berada di keramaian pasar. Karya Iskandar banyak menggunakan warna-warna yang mencolok. Selain itu, Iskandar juga memamerkan ‘Wayang Uwuh’, wayang berbahan botol mineral dan kardus bekas, karya ini diberinya judul ‘Dilepas Diikat‘.

Jika iskandar hadir dengan wayang uwuhnya, beda lagi dengan Agus Nuryanto. Agus menampilkan figur wayang yang disebutnya sebagai ‘Wayang Jewer’. Alhasil, wayang tampil dalam presentasi yang berbeda (lihat gambar). Paling kentara dalam lukisannya berjudul ‘Pandawa 5’, lukisan 5 panel di atas tutup tong/drum dengan diameter masing-masing 55 cm. Juga lukisan berjudul ‘Face’, berisikan 21 panel di atas tutup tong/drum berdiameter 30 cm. Agus lebih banyak menyandingkan figur wayang dengan persoalan masa kini. Terlihat dalam lukisan ‘Love’, mewujudkan sosok figur wayang perempuan memegang selembar uang 1000 rupiah. Kemudian lukisan ‘Keinginan’, tentang raksasa dengan background gedung tinggi dan langit jingga.

Wayang uwuh dan wayang jewer dalam pameran menjadi upaya dari kedua seniman untuk mem-‘Buka Tutup’ kisah masa lalu yang dikontekstualisasi dengan masa kini. Kisah masa lalu yang seolah ditutup, namun dibuka kembali dengan dengan narasi masa kini. Setidaknya demikian yang ingin diartikulasikan dalam pameran ini, tertulis pula dalam catatan pameran yang ditulis Ons Untoro. Juga disebutkan bahwa kedua seniman kali ini memamerkan ‘pertunjukan wayang’. Melalui keberagaman macam medium namun dengan keseragaman corak, yaitu wayang. Tentu wayang ini dihadirkan oleh kedua seniman dengan interpretasi yang berbeda.

‘Pertunjukan wayang’ rupanya hadir kembali di antara bulan Juli-Agustus ini. Berlokasi di Tahunmas Artroom, pameran lukis kaca bertajuk Berkaca Pada Kaca berlangsung selama 4-10 Agustus 2018. Hampir seluruh seniman yang tergabung dalam kelompok lukis kaca Gedah Sinangling ini, menggunakan sosok wayang dalam karyanya. Meski corak wayang bukan sosok yang terhitung asing muncul dalam karya seni rupa, lukis kaca bukanlah medium yang populer digunakan pada karya seni rupa sekarang. Menengok ke belakang, Hermanu dalam tulisan pengantar pameran, menyebutkan bahwa lukisan kaca yang identik dengan corak tradisional sudah marak sejak 1937 di Yogyakarta. Penelitian terhadap ini dilakukan oleh J.H. Hooykaas-Van Leeuwen Boomkamp, dengan menyambangi toko souvenir hingga pasar malam sekaten. Dia membagi gambar kaca dalam 3 tema, antara lain Wayang Purwa, Legenda Rakyat, dan gambar kaca Islami. Pameran yang diinisiasi oleh kelompok seniman lukis kaca Gedah Sinanggling dan disponsori Dinas Kebudayaan Provinsi Yogyakarta ini ingin kembali menunjukan kekhasan dari lukis kaca.

Sedikit banyak tidak berbeda dengan pameran Buka Tutup, lukis kaca memang cukup identik dengan tema wayang. Baik wayang dengan cerita asli tentang pewayangan, hingga wayang sebagai kritik sosial kehidupan masa kini. Lukis kaca dengan objek wayang sebagai kritik sosial muncul dalam karya Subandi Giyanto dan Agus Nuryanto. Selain itu, Rina Kurniyati melukis realis roda hingga spion mobil, lukisan wayang beber dengan detail isen-isen rumit dari Primadi Priyo Laksono dan Rapanda, Titis dengan gambar ikan koi, Bajra Bagaskara yang melukis ‘Anoman Obong’, komik 4 panel karya Prasetia Pradana, dan berbagai eksplorasi lukis kaca lainnya. Total ada 12 seniman yang ikut pameran pada kesempatan ini.

 

Bajra Bagaskara
ANOMAN OBONG
45x30cm
Acrylic Under Glass
2018
Primadi Priyo
WAYANG BEBER
50x40cm
Acrylic Under Glass
Rapanda
WAYANG BEBER
50x40cm
Acrylic Under Glass
2017

Timbul Raharjo yang juga menulis catatan pameran, menyebutkan pameran ini merupakan upaya membangun literasi yang dinilai langka dalam bidang seni lukis kaca. Pertanyaan lebih lanjut adalah, kenapa perlu dibangun literasi dalam bidang seni lukis kaca? Apa yang dimiliki oleh medium ini dan tidak dimiliki oleh medium lainnya?. Alih-alih hanya menitikberatkan pada pilihan medium, Pameran Berkaca pada Kaca sebenarnya bisa beranjak lebih jauh dari menjadikan momentum ini ajang berefleksi diri (sebagaimana kaca secara fungsional bisa digunakan sebagai cermin). Pameran seni rupa menjadi ajang refleksi diri tampaknya menjadi narasi yang banal. Di lain hal, dominannya sosok-sosok wayang yang dilukis dengan teknik sungging dan isen-isen yang rumit sebenarnya mampu membuat lukis kaca menemukan posisi yang lebih krusial. Sosok-sosok yang kerap diidentikan dengan terma ‘tradisional’ ini dikreasikan ulang dengan konteks yang lebih aktual. Apa yang disebut tradisional pun selalu melalui berbagai persilangan yang rumit. Persilangan ini juga ada dalam tataran teknis, dari pilihan medium pada kaca, pencampuran cat/ warna, berpadu dengan teknik sungging dan isen-isen yang biasa muncul dalam wayang kulit. Nampaknya ada upaya dari seniman untuk melampauinya lebih dari sekedar objek dan teknis kebendaanya saja.

Dualitas antara benda dan pikiran akan selalu melekat dalam terma apapun, termasuk tradisional. Hubungan dualitas memang tidak selamanya bertentang, bisa jadi tarik-menariknya justru saling menguatkan. Pameran Buka Tutup dan Berkaca Pada Kaca, melalui karya-karya yang dihadirkan, tampaknya ingin menuju upaya tersebut. Jika pada pameran Buka Tutup bisa dipertanyakan ulang mana yang masa lalu dan kini, apakah yang lalu adalah figur wayangnya dan kekinian adalah konteks persoalan sosialnya? Atau justru sebaliknya?. Dalam situasi yang tidak jauh berbeda, pameran Berkaca Pada Kaca, sosok wayang dan medium kaca bisa jadi hanya aspek kebendaan, sejauh apa sebuah pameran bertema wayang dan pameran bertema lukis kaca menyentuh aspek pikiran?. Rentetan pertanyaan ini bisa menjadi pengantar tidur bagi siapapun yang tidak ingin terpenjara dalam pikatan citra visual karya-karya seni rupa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Sisi Heroik Pelukis Rustamadji

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Klaten, 04 Juli 2018. Memperbincangkan sosok Rustamadji agaknya menjadi bahasan yang menarik dalam diskusi sore yang diadakan oleh Pasren Street Art Klaten. Dalam diskusi ini, Mikke Susanto sebagai pembicara mengulik banyak hal tentang sosok Rustamadji . Bergelar maestro menjadi sisi yang menarik untuk dibahas. Bagaimana bisa Rustamadji tercatat sebagai salah satu dari tiga pelukis maestro yang berasal dari Klaten?, menurut Mikke Susanto sosok Rustamadji sangat eksis melalui kekaryaan juga dalam jaringan sosialnya.

Rustamadji merupakan pria kelahiran Klaten tahun 1920.  Dalam karirnya sebagai seorang seniman, Rustamadji menempuhnya sejak tahun 1938 dan hal itu ditempuh dengan cara belajar sendiri atau dalam istilahnya disebut sebagai seniman otodidak. Sebelum bergabung dalam kelompok seninya di Yogyakarta, Rustamadji sempat bermukim di kota Malang. Perpindahan Rustamadji ke Yogyakarta tidak lain karena pada masa itu terjadi pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Gonjang-ganjing situasi politik pemerintah tersebut membuat banyak seniman berbondong–bondong ikut pindah ke Yogyakarta, salah satunya Rustamadji , itu terjadi pada tahun 1946-an. Pada masa itu sekumpulan seniman – seniman yang hijrah ke Yogyakarta membentuk Seniman Indonesia Muda (SIM), namun Hendra Gunawan tidak bertahan lama di SIM sehingga dibentuklah Sanggar Pelukis Rakyat yang didirikannya bersama Affandi. Melalui bekal melukis kerakyatanlah Rustamadji mengalami perkembangan kekaryaan. Dalam pelukis rakyat, mereka lebih  mengutamakan rakyat dan mengesampingkan pemerintahan. Ini menjadi salah satu sebab banyaknya seniman-seniman pelukis rakyat yang tergabung dalam keanggotaan PKI. Dalam mewujudkan misinya untuk kerakyatan, didirikanlah sanggar pelukis rakyat untuk mengajarkan kesenian pada anak-anak. Dalam diskusi, Mikke menunjukkan salah satu foto dimana terdapat sosok Rustamadji yang ikut serta mengajar kesenian.

Seniman sebagai pencatat sejarah merupakan salah satu konsep yang melebur pada pelukis kerakyatan, karena pelukis rakyat dalam proses berkaryanya terjun langsung ke lapangan sehingga mereka bisa merasakan kondisi rakyat. Nampaknya konsep itu diterapkan Rustamadji dalam konsep kekaryaannya. Kita sering mendengar bahwa Rustamadji menghabiskan waktu berkesenian secara total, akan tetapi tidak ada data yang menunjukkan penghasilan Rustamadji selain dari penjualan karya seninya. Bagaimana sosok Rustamadji menghabiskan waktu berkarya secara detail belum sempat diteliti lebih lanjut, namun tentang ranah hubungan sosialnya dengan seniman–seniman hingga presiden Soekarno terekam dalam dokumentasi-dokumentasi pelukis rakyat.

Dari pelukis rakyat, terdapat berbagai realitas yang menarik seperti pengerjaan monumen tugu Semarang karya Rustamadji dan kawan-kawan. Dalam hal ini Edhi Sunarso sangat berjasa dalam proses pengarsipan dari monumen tugu Semarang hingga patung-patung pesanan Soekarno. Monumen tugu Semarang diresmikan langsung oleh Soekarno, dan pada hasil dokumentasi foto yang ditunjukkan oleh Mikke, jelas terlihat ada hubungan antara Soekarno dan seniman yang terlibat dalam pengerjaan monumen tugu Semarang termasuk juga Rustamadji . Lantas bagaimana hubungan Rustamadji dengan Soekarno?. Mikke menemukan bahwa terdapat 2 karya Rustamadji yang dikoleksi oleh Soekarno yaitu lukisan pohon nangka dan lukisan kapal selam, terlihat dalam foto hasil dokumentasi bahwa karya tersebut dibeli saat Soekarno berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat. Hal itu dapat menyimpulkan bahwa Rustamadji cukup eksis dalam jejaring sosialnya.

Sosok Rustamadji berhasil menjalankan misi sebagai seniman dengan publikasi yang baik, dimana dulu untuk tercatat dalam media-media seperti koran sangatlah susah, jika bisa tercatat di surat kabar merupakan suatu hal yang mewah. Tetapi Rustamadji nyatanya banyak tercatat dalam media koran seperti Star Weekly dan sebagainya. Rustamadji juga banyak tercatat di media lewat pameran-pameran yang diadakan bersama kawan-kawannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

PERIHAL KEDIAMAN DAN JOGJA

Oleh: Apriani Kukuh Dwi Pertiwi (Kawan Magang IVAA)

Kamis, 12 Juli 2018. Teater Garasi pukul 18.00-21.00 WIB, digelar pertunjukan dan diskusi bertajuk ‘Con(tra)ceptual Art: Real And Unreal’ yang merupakan bagian dari program Cabaret Chairil Vol.1. Cabaret Chairil adalah ruang transit untuk menampilkan repertoar pertunjukan lintas medium dan disiplin. Tahun ini, dalam beberapa edisinya yang dikuratori oleh Taufik Darwis, bermaksud menelaah isu ‘Kediaman’ sebagai sang alterego dari ‘Kemajuan’. Menghadirkan tiga orang seniman/kelompok untuk membahas tentang isu tersebut, yaitu teater Ghanta (Jakarta), Roka Teater (Yogyakarta), dan Aliansyah Chaniago (Bandung).

Pada hari kedua Program Cabaret Chairil Vol.1 ini, Alin (Aliansyah Chaniago) menampilkan pertunjukan dengan durasi yang cukup panjang. Pertunjukan dimulai dengan disajikannya sekumpulan benda-benda yang dibuang atau sudah tidak terpakai oleh pemiliknya di dalam ruang hitam (black box). Dilanjutkan pemutaran video saat Alin berburu barang-barang yang dibuang atau sudah tidak terpakai dengan cara membujuk atau mempersuasi, bukan hanya barang-barang yang berada di luar rumah tetapi juga barang-barang di dalam rumah yang tidak berpenghuni. Lalu, dibukalah sesi diskusi yang dimoderatori langsung oleh Taufik.

Suasana Diskusi

Taufik mengawali diskusi ini dengan penjelasan singkat tentang tema kediaman yang baru saja ditampilkan oleh Alin. Berangkat dari upaya melihat (sebagian) persepsi warga atas Kota Jogja sebagai ruang tinggal. Sebagai seniman dari luar kota, Alin bermaksud mencoba membuka lagi percakapan mengenai kewargaan seni dengan menggambar sketsa dari pertanyaan, ‘Apa artinya menjadi masyarakat kontemporer dan menjadi masyarakat seni kontemporer Jogja?’. Kota yang sangat identik dengan kesenian yang begitu canggih, di sisi lain Alin juga melihat Jogja seperti tidak bergerak untuk membicarakan hal-hal di sekelilingnya. Bagaimana seni bertautan dengan masyarakat sekitar yang hidup bertetangga?

Cukup singkat pemaparan yang disampaikan oleh Taufik, diskusi kemudian mulai dipantik oleh pernyataan dari John yang melihat ‘Jogja’ lebih jelas melalui video. John mengharapkan adanya desain ulang pada benda-benda temuan itu, ‘Kalau ini kan tetap kursi sebagai kursi yang hanya direlokasi dengan lebih rapi di sini’ tuturnya. John juga mengajukan pertanyaan perihal boleh tidaknya kita berinteraksi dengan karya Alin, contohnya dipegang atau diduduki. Menurutnya, saat datang ke sini seperti layaknya datang ke pameran, kita punya batas dan jarak antara audiens dengan karya yang tidak boleh disentuh.

Kemudian Taufik menimpali pernyataan John, menerangkan bahwasanya situasi yang diharapkan Alin pada pertunjukannya kali ini adalah menjalin percakapan antara audiens dan dirinya selama durasi tiga jam tersebut. Makna itu yang justru ingin dibangun Alin melalui dialognya dengan audiens yang menghasilkan pendapat ataupun kritik terhadap karyanya. ‘Sebenarnya karya ini dibangun atas respon juga ekspektasi publik terhadap karya itu sendiri. Justru ini tantangan buat saya, biar audiens tertarik untuk mendiskusikan karya ini, sekedar bertanya atau menanggapi.’ ujar Alin saat menanggapi harapan penonton tentang desain yang ‘menyusun ruang tinggal baru’. Alin juga menyebutkan bahwa berinteraksi dengan karyanya, entah itu menyentuh atau bahkan memindahkan adalah diperbolehkan.

Di saat pertunjukan berlangsung, perhatian mata penonton tertuju pada Alin yang memperlihatkan pantatnya dengan memakai celana berlubang di bagian belakang. Ide ini baru Alin lakukan setelah ada yang meminta videonya ditayangkan. ‘Saya menganggap benda-benda ini ada di depan rumah seperti saat buang air besar lalu disimpan di muka’ ujarnya merespon pertanyaan dari salah satu penonton. Di bagian selatan Jogja orang-orang menyimpan barang-barang yang tidak terpakai karena tidak ada ruang, akhirnya benda itu disimpan di muka (depan). Layaknya jemuran yang melintang di depan pintu rumah yang menurut Alin tidak seharusnya berada di depan. Hal ini kemudian ditransformasikan oleh Alin yang mencoba melihat situasi Teater Garasi yang sudah mempunyai default dan standarnya, yakni saat masuk akan ada jarak antara karpet hitam ini dengan ruang yang lebih luas. Dalam tayangan video pertunjukannya, Alin hadir sebagai orang dari luar Jogja yang matanya diwakilkan oleh lensa kamera. Alin ingin memainkan sudut pandang orang yang seperti ‘Aku liat ke sini, tapi orang liat pantat.’ Dalam hal logika tontonan dan ditonton, pantat Alin adalah hal yang menghadap ke publik dan hanya sebagai gimmick.

Proses editing pengambilan benda-benda yang dilakukan Alin murni total improve menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Alin mengambil benda-benda yang mewakili kondisi masyarakat Jogja dan identitas ruang. Menurut Alin, pengaruh blackbox ke karya sangat besar, mempunyai jimat dan karisma sendiri. Lighting yang terang dan redup pun sedikit men-distract  walaupun tidak fatal.

Membicarakan tentang wacana kediaman memang tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi, mendekati akhir diskusi ada penonton yang berpendapat bahwa menurutnya penampilan Alin akan lebih menarik jika celana berlubang yang digunakannya itu adalah celana yang juga ditemukannya saat berburu barang bekas. Menurutnya juga, peran Alin tadi adalah sebagai tetangga yang justru kontras dengan pernyataan Alin tadi sebagai tamu yang datang dari luar Jogja.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

#Sorotandokumentasi Mei-Juni 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Dalam ramainya agenda seni di Yogyakarta, bersamaan dengan acara tahunan ArtJog, Tim arsip Hardiwan Prayoga dan Kawan Magang M. Hanif Arikhoh berkesempatan berkunjung ke Bandung dan Jakarta pada 7-10 Mei 2018. Di sana kami mengikuti satu acara bertajuk 3 1/2 Tahun Bekerja, dengan mata acara simposium dan pameran arsip yang menggaris bawahi seni dan propaganda Jepang pada 1942-1945. Kurasi dikerjakan oleh Antariksa, dan berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.  Selagi di Ibukota, kami sekaligus menyambangi Pameran Manifesto 6.0 Multipolar di Galeri Nasional, dan Pameran Arsip Namaku Pram: Catatan dan Arsip di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta.

Sementara itu di Yogyakarta riuh pameran juga kami rasakan, beruntung banyak kawan-kawan magang yang aktif terlibat dalam praktik-praktik pengarsipan, terutama dalam tahap perekaman. Kawan-kawan ini berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), juga Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Tercatat hingga 30 Mei 2018 kami mendokumentasikan 41 acara seni sejak mulai 28 April 2018.

Dalam rentang waktu ini, kami juga menjadi saksi banyaknya kemunculan pameran-pameran bertema kriya, pameran berbasis arsip terutama dalam merespon momentum 20 tahun reformasi, Aksi Tari Warga Berdaya dengan judul Bedhaya Banyu Neng Segara, Festival Sketsa Imajiner Malioboro, hingga Festival Kathok Abang di Gunungkidul Yogyakarta.

Selain mendokumentasikan, Tim Arsip juga mendapat hibah koleksi poster Film dan Iklan tahun 1920-1995 dalam bentuk digital dari Christoper Woodrich. Koleksinya terdiri dari poster Iklan, sampul buku, selebaran film, dengan jumlah sekitar 1800 file digital. Informasi lebih detail mengenai arsip hibah ini akan ada dalam rubrik sorotan arsip.

Di samping mengerjakan dokumentasi, kami masih secara rutin melakukan proses olah data yang konsisten. Mulai dari tahap olah data; penyuntingan foto, video, dan menambah meta data, hingga pengayaan khazanah, soal wacana dan pembicaraan yang berkembang dari berbagai peristiwa yang muncul dalam medan seni budaya. Proses olah data dan pengayaan khazanah ini merupakan satu ciri yang menunjukkan model pengarsipan IVAA yang cenderung mengedepankan nilai informatif.

Pada kesempatan ini kami Tim Arsip ingin sekaligus mengumumkan kembali bahwa IVAA mengundang siapa saja untuk bersama berkontribusi dalam kerja pengarsipan. Kami membuka pintu seluasnya bagi kawan-kawan yang ingin mendonasikan dokumen, khususnya peristiwa seni/ agenda seni. Tidak dapat dipungkiri bahwa kami selalu bersahabat dengan keterbatasan ketika melihat cakupan wilayah kerja IVAA, yang berambisi melakukan pencatatan atas wacana dan dinamika seni yang sedang berlangsung di berbagai sudut penjuru Indonesia. Untuk itu, mari selalu terhubung dengan kami melalui email archive@ivaa-online.org atau documentation@ivaa-online.org dengan kontak Hardiwan Prayoga dan Dwi Rahmanto. Untuk link bagaimana cara berkontribusi silahkan cek tautan ini : https://docs.google.com/forms/d/1qO1DgYdt1n_SW49N4iU7hdHA5tLfM1g5qIEMiwtBifY/edit?ts=5ad444f5

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi

Oleh Hardiwan Prayoga

Tim arsip IVAA yang diwakili oleh Hardiwan Prayoga dan M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA) berkesempatan untuk mengunjungi beberapa pameran di Jakarta pada 7-10 Mei 2018 lalu. Salah satunya adalah pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional, yaitu Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi. Manifesto adalah pameran dwi tahunan yang dimulai sejak tahun 2008. Untuk gelaran keenam ini, yang bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi, pameran ini menghadirkan tajuk “Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi”. Menghadirkan tidak kurang dari 60 seniman, karya-karya yang dipamerkan adalah yang dianggap mewakili perkembangan dan penanda zaman atas 20 tahun reformasi. Maka kesan pertama yang akan muncul adalah keragaman atas tema, narasi, hingga pilihan medium karya. Inilah yang sedikit banyak menjadi latar belakang atas dipilihnya Multipolar sebagai judul pameran Manifesto edisi ini.

Pameran yang menggunakan 4 gedung Galeri Nasional mempresentasikan tidak hanya karya seni, tetapi juga Lini Masa Peristiwa Seni Rupa 1990-2017, lebih tepatnya terletak di pintu masuk Gedung A. Menandai tidak hanya peristiwa seni seperti semaraknya gerakan dan kelompok seni kolektif dan pameran seniman indonesia di luar negeri, tetapi juga terbukanya akses teknologi yang melahirkan google hingga youtube, dan fenomena budaya pop seperti lahirnya MTV (Music Television) hingga kematian Michael Jackson.

Dalam hal karya seni, meski bertema seni rupa setelah 20 tahun reformasi, karya terlama yang dipamerkan berasal dari tahun 2012, yaitu The Procces #1, merupakan seni instalasi karya I Wayan Upadana. Selebihnya didominasi karya yang lahir tahun 2016-2018. Secara tema dari setiap karya, akan sangat sulit untuk ditarik satu kesimpulan. Hal ini disebabkan beragamnya isu yang diangkat dalam setiap karya, mulai dari populisme agama karya Jauh Di Hati Dekat Di Mata dari Rudy Atjeh D., kritik terhadap kapitalisme dan indutrialisasi yang terlihat dalam Hore karya Farid Stevy Asta, im obsessed with these culture but i hate it karya Muklay, dan Ketagihan Dikibulin Bandar karya Syaiful Ardianto, yang sangat personal yaitu seni instalasi interaktif karya Putri Ayu Lestari tentang pengalaman menjadi joki three in one yang berjudul Joki-Jokian, dan Photo Shoppu Scrinium karya Nurrachmat Widyasena, hingga lukisan abstrak Menjaga Sunyi yang Perlahan Liar karya Iabadiou Piko. Sebaran tema ini pada dasarnya cukup menarik bagi pengunjung, meski harus diakui pada akhirnya publik akan kesulitan mencari narasi utama dari seni rupa pasca orde baru ini selain kata keragaman atau yang oleh pameran ini dibahasakan sebagai Multipolar. Terlebih karya yang ditampilkan juga hanya dalam rentang waktu 2012-2018.

Merujuk pada catatan kuratorial, seniman yang dipilih dalam pameran ini adalah mereka yang proses karir berkeseniannya dimulai pasca 1998, dan yang dianggap cukup mewakili semangat zaman. Pasca reformasi, selalu ada pertanyaan reflektif seputar kesadaran dan laku seni apa saja yang tengah berlangsung dari generasi yang lahir pada tahun 80-an ke tahun sesudahnya? Pameran ini nampaknya lahir dari gagasan kurasi untuk menghadirkan arkeologi karya-karya seniman pasca 98. Menarik untuk ditandai adalah terjadi berbagai pemikiran dan praktik yang beragam, terutama karena pengaruh dan dinamika sosial budaya melalui lingkungan media dan teknologi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi

Oleh: Willy Alfarius (Kawan Magang IVAA)

Jumat sore 18 Mei 2018, bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi hari dibukanya Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi. Merupakan pameran arsip berisi kliping dan foto-foto peristiwa unjuk rasa menuntut Reformasi dan mundurnya Soeharto yang terjadi di UGM. Dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. R. Suharyadi, M.Sc dengan sedikit seremoni di halaman Gedung PKKH. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan pagelaran musik yang menghadirkan John Tobing, Sande Monink, Sastra Budaya, Orkes Melayu Dangdut Pembangunan, dan Forum Musik Fisipol.

Acara yang berlangsung selama 18-20 Mei 2018 ini tidak hanya menampilkan foto-foto yang menggambarkan mahasiswa turun ke jalan, tetapi menunjukkan kalangan akademisi hingga Rektor UGM menyatakan sikap mendukung segera dilaksanakannya Reformasi. Hampir semua aksi yang berlangsung di seputaran UGM diakhiri bentrokan dengan aparat keamanan. Berbagai aksi berlangsung di Yogyakarta pada minggu-minggu menjelang Mei 1998. Hingga puncaknya pada acara Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara, sehari menjelang Reformasi bergulir yang dihadiri langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagian besar foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini berasal dari koleksi Arsip UGM. Sedangkan kliping berita yang dipamerkan hampir semua berasal dari majalah mahasiswa Balairung, serta beberapa surat kabar lokal.

Lengsernya Suharto dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 21 Mei 1998 menjadi babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gelombang reformasi menjadi penanda dimulainya penataan kembali berbagai struktur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan berbagai elemen mendasar lainnya. Tahun 2018 ini menjadi momentum 20 tahun Reformasi yang kemudian dirayakan dengan bermacam-macam acara yang digelar oleh berbagai pihak di Indonesia. Tidak terkecuali Forum Komunikasi (Forkom) Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga mengadakan kegiatan peringatan dua dekade Reformasi dengan judul 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi.

Forkom sendiri adalah sebuah perkumpulan dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa di UGM yang bermarkas di Gelanggang Mahasiswa. Ide acara peringatan ini muncul dengan dilandasi gagasan bahwa dua dekade lalu, reformasi lahir salah satunya dari pergerakan mahasiswa di kampus. Gelanggang Mahasiswa menjadi salah satu titik kumpul bagi pergerakan mahasiswa di Yogyakarta untuk merumuskan aksi, strategi, hingga benteng pertahanan ketika aksi unjuk rasa dilangsungkan di berbagai titik seperti Boulevard, Bunderan, dan Gedung Pusat UGM. Dalam rilis pers yang dikeluarkan panitia, disebutkan bahwa acara ini bertujuan untuk membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa dalam mengawal pemerintahan sekarang. Acara ini sekaligus sebagai penegasan bahwa unit kegiatan mahasiswa juga memiliki andil dalam berbagai pergerakan mahasiswa.

Selain pameran arsip, juga digelar acara bincang-bincang yang menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan akademisi yang mengalami langsung peristiwa bersejarah tersebut. Para hari kedua acara, bincang-bincang dengan tema “Mengenang 1998” dimulai pada pukul 20.00 dengan menghadirkan Ika Dewi Ana (mantan aktivis mahasiswa ’98), Peter Kasenda (sejarawan), dan Muhammad Nurkhoiron (alumnus UGM dan anggota Komnas HAM). Ketiga pembicara menghadirkan kisah berupa kesaksian mereka yang mengalami secara langsung berbagai aksi dan peristiwa dalam proses Reformasi 1998. Sedangkan pada hari ketiga sekaligus penutupan acara menghadirkan Agus Suwignyo (Dosen Sejarah UGM), Max Lane (peneliti di Fisipol UGM), dan Agus Wahyudi (Dosen Filsafat UGM). Tema dari talkshow ini adalah “Indonesia Setelah 20 Tahun Reformasi”. Ketiganya memberikan ulasan dan pandangannya bagaimana kemudian Reformasi ini berjalan, dan berbagai perubahan maupun stagnasi yang terjadi pasca-Orde Baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.