Tag Archives: #sorotandokumentasi

#SOROTANDOKUMENTASI | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Intensitas aktivitas dokumentasi memasuki bulan September tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Namun kami terus melengkapi arsip dari luar Yogyakarta, beberapa yang sempat kami datangi adalah, Pameran Biennale Jateng #2 The Future of History di Kawasan Kota Lama, Semarang, Festival Nusasonic di Magelang, dan Pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo dengan judul SSAS/AS/Ideas dan Lawangkala. Sedangkan untuk donasi kami menerima dari pameran tunggal Achmad Krisgatha Channel Of Light, Pameran Kembang Goyang Mahasiswa Universitas Telkom di Cemara 6 Galeri Jakarta, Pameran Tunggal Hari Prast Hari Bahagia di Uma Seminyak Bali, Pameran Merajut Bentuk Menebar Warna di Museum Sonobudoyo, dan Kuliah Umum Komunitas Hysteria dan Jaringan Kota: dari soal manajemen sampai dengan produk kebudayaan bersama Halim HD dan Adin Hysteria.

Sampai bulan Oktober kami mengumpulkan 43 peristiwa seni dengan penambahan 2587 file arsip foto dan video 47 file, audio 37 file. Di  luar mengerjakan peliputan, tim arsip yang diwakili oleh Dwi Rahmanto dan Lisistrata Lusandiana menjadi narasumber dalam acara Ulang Tahun ke 38 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan yang tidak kalah pentingnya kami sedang menyempurnakan sistem database (pencatatan arsip) dalam bentuk offline. Kami memaksimalkan sistem ini agar setiap arsip semakin mudah ditemukan kembali. Proses ini dibantu oleh 2 kawan magang dari Jurusan Tata Kelola Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Hal-hal yang Usai dan Tidak dalam Memetakan Arus Bawah di INF 3.0

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Tim IVAA berkesempatan untuk hadir diskusi bertajuk Memetakan Arus Bawah pada Sabtu, 18 Agustus 2018. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam Indonesia Netaudio Festival (INF) 3.0 yang mengusung tema Sharing Over Netizen Explosion. Beragam acara dihadirkan seperti performative talk, lokakarya, pertunjukan musik, dan tentu saja pameran seni rupa.

Memetakan Arus Bawah dibungkus dalam bentuk gelar wicara performatif yang tidak hanya interaktif tetapi juga atraktif. Secara umum, benang merah dari sesi diskusi ini membicarakan tentang bagaimana ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya penggemar, dan perkembangan musik di jagad maya. Topik utama tersebut ditinjau dan dibahas dari tiga studi kasus yakni perkembangan netlabel, seni media, dan dangdut koplo yang disampaikan oleh tiga narasumber; Nuraini Juliastuti, Manshur Zikri, dan Irfan Darajat.

Lokasi acara berada di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Sekeliling berlatar hitam dengan suasana biru-merah dari lampu sorot juga dari tiga layar besar di atas panggung. Di tengah-tengah berderet kursi yang dibentuk serupa sirkuit―meminjam istilah Syafiatudina, selaku moderator diskusi. Pada lingkar inti adalah wilayah moderator dan ketiga pembicara, kemudian di lingkar kedua adalah tempat duduk para audiens, lingkar selanjutnya keempat layar yang menampilkan materi bahasan dari para pembicara.

Menarik untuk melihat bagaimana kemasan dari diskusi ini yang keluar dari aturan-aturan konvensional diskusi pada umumnya. Menurut Manshur Zikri, ketika dalam diskusi melihat ponsel adalah tabu, justru di sini dianjurkan. Para peserta diskusi dapat bergabung ke dalam grup WhatsApp yang telah dibuat oleh panitia. Dalam grup itu mereka saling bertukar gagasan terkait dengan bahasan-bahasan diskusi yang tengah berlangsung. Para pembicara juga memiliki layarnya masing-masing untuk menampilkan materinya, alih-alih hanya bergantung pada satu layar besar seperti umumnya forum diskusi dan seminar.

Diskusi yang dimulai pukul tiga hingga jelang pukul enam sore itu dibuka oleh Nuraini Juliastuti. Nuning, sapaan akrabnya, membahas mengenai perkembangan netlabel dan segala hal yang berada di pusaran itu. Bahwa peranan atau fungsi netlabel tidak hanya sebagai “rumah” bagi musik yang bersirkulasi di dalamnya, tetapi juga ada praktek pengarsipan. Pendokumentasian atau pengarsipan dilakukan agar musik-musik yang dibagikan (sharing) melalui netlabel tidak sia-sia. Musik tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga artefak dimana energi suatu zaman turut bersamanya. Nuning juga menyinggung pentingnya sosialisasi praktik sharing, dan pengorganisasian festival semacam INF merupakan salah satu bentuk sosialisasi tersebut.

Manshur Zikri sebagai pembicara kedua membahas seni media dan kebudayaan baru yang timbul bersamanya. Zikri menggali topik diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Misal tentang bagaimana praktik copying dicap ilegal, sementara repost justru menaikkan posisi seseorang di media sosial. Zikri mengetengahkan meledaknya video kiki challenge di media sosial sebagai pertanyaan, apakah konten ataukah musiknya yang membuat challenge ini meledak di kalangan warganet? Bagaimana konten Youtube dan para youtuber menjadi sedemikian populer dibanding aktris/aktor di layar kaca? Pertanyaan-pertanyaan ini digali dengan tiga poin, yakni; ilusi keaslian, relatibilitas, dan independensi. Zikri mengakhiri sesi dengan merekomendasikan perlunya metode baru dalam literasi media, sebab situasi dan media yang ada kini juga sama sekali baru.

Sesi Irfan Drajat diawali dengan mengajak audiens menyimak sudut pandang baru soal dangdut koplo. Friksi yang terjadi antara dangdut koplo dan dangdut klasik. Ia memetakan tiga wacana yang menekan eksistensi dangdut koplo yakni, moralitas, identitas, dan juga keaslian. Ia menghadirkan studi kasus antara Rhoma Irama yang datang dari kubu dangdut klasik, dengan Inul Daratista dari kubu dangdut koplo. Rhoma Irama yang digelari sebagai Raja Dangdut, menyebut dangdut Inul sama sekali bukan dangdut.

Hal menarik dari pernyataan Irfan ketika ia mengatakan bahwa semua persoalan ada lagu dangdutnya. Lagu dangdut yang berangkat dari isu-isu sosial, politik, budaya yang ada, tetapi tata cara penuturannya selalu dalam bentuk gugatan khas akar rumput. Menurutnya, hingga saat ini Irfan mencatat belum ada lagu dangdut yang dijadikan sebagai medium perlawanan/protes.

Catatan lain dari bahasan Irfan, bahwa dangdut koplo mengguncang moda distribusi, juga mengguncang secara estetis dan gaya. Para pelaku dangdut koplo hidup dari panggung ke panggung, syuting dengan teknologi seadanya namun ekonomi tetap berputar. Tetapi belakangan, setelah dangdut koplo menjadi tren di layar kaca, ada indikasi bahwa dangdut koplo sedang coba “dijinakkan”.

Memang begitu banyak pertanyaan muncul dan tidak sempat untuk mengerucut apalagi terjawab tuntas hingga sesi diskusi berakhir. Termasuk pertanyaan pada detik-detik akhir yakni peranan warganet dalam menjaga kelestarian praktik berbagi (sharing), baik daring (online) maupun luring (offline). Persoalan dalam diskusi ini bisa jadi satu hal yang dirasa penting bagi para audiens dan pembicara, tetapi mungkin ini tidak (atau mungkin belum) menjadi perhatian di tingkat akar rumput.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menyelami Ruang dan Waktu dalam Selebrasi Dua Dekade Selasar Sunaryo Art Space

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Sosok Sunaryo dikenal dan sangat berperan dalam perkembangan kancah seni rupa Bandung. Tampil sebagai seniman lukis di era 1970-an. Seiring dengan aktivitas keseniannya, Selasar Seni Sunaryo, yang kini bernama Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikannya pada 5 September 1998. Baginya, SSAS adalah manifestasi dari angan-angan Sunaryo untuk menyediakan wadah bagi seniman-seniman muda dalam belajar dan berkarya. SSAS juga hadir sebagai ruang alternatif, pertemuan antara seniman dengan publik. SSAS lahir bertepatan dengan momentum pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Peresmian SSAS dibuka oleh pameran Titik Nadir dan tidak ada selebrasi yang meriah. Kala itu, Sunaryo membungkus karya-karyanya sendiri dan sebagian ruang pamer dengan kain hitam. Kain hitam adalah representasi dari situasi nasional yang dirundung pilu, kekalutan, dan kegelapan.

Dua puluh tahun setelah Titik Nadir, Sunaryo kembali mempersembahkan karya-karyanya melalui pameran tunggal berjudul Lawangkala. Pergolakan sosial-politik pada 1998 menjadi kekuatan dari isu-isu yang diangkat dalam karya-karya instalasi Sunaryo sepanjang dekade 2000-an. Namun, dalam memperingati usia SSAS ke 20 ini, Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Agung Hujatnikajennong, dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan bahwa, “Untuk Sunaryo, pameran yang nyaris seluruh ruang pamer SSAS ini tidak digarap sekadar untuk memperingati ulang tahun ruang seni yang ia dirikan, tetapi sebagai sebuah proyek tersendiri yang mendorongnya melakukan eksplorasi baru.”

Lawangkala memiliki arti sebuah mantra dimana ruang dan waktu menyatu. Lawangkala terdiri atas dua kata yaitu lawang (gerbang) dan kala (waktu). Berbicara tentang salah satu hal yang mendasari kehidupan manusia, yakni kesementaraan. Sunaryo memaknai falsafah Jawa urip iku mung mampir ngombe (hidup itu hanya mampir minum), yang sejatinya usia manusia tidak berarti dihadapan jutaan tahun usia semesta. Gagasan yang diangkat dalam Lawangkala adalah momen-momen saat Sunaryo berhadapan dengan fenomena alam. Termasuk pandangan mengenai kesadaran manusia akan ruang dan waktu.

Perjalanan artistiknya sejak awal tahun 1990-an, Sunaryo mulai bereksplorasi menggunakan pendekatan material alami seperti bambu, padi, rotan, batu, dan kayu. Material-material alami yang tidak bertahan lama mewakili sifat kesementaraan itu sendiri. Hal lain yang menunjukkan ciri khas dari karya Sunaryo adalah ketrampilan tangan. Selain melukis, karya seninya dibuat dengan teknik anyaman, jahitan, tempelan, dan ikatan. Seri lukisan Lawangkala yang terdapat di ruang pamer B dan sayap menampilkan karya-karya lukisannya dengan cara menyayat, merobek kanvas, lalu menjahit dan menambal kembali robekannya. Sunaryo menganalogikan cara menyayat dan menjahit kembali seperti sebuah kesia-siaan manusia yang ingin mengulang waktu yang telah berjalan. Selain karya lukis, instalasi berbentuk terowongan bambu digarap sebagai tubuh utama Lawangkala. Sunaryo membuat sebuah bubu raksasa terbuat dari anyaman bambu yang mengikuti struktur anatomi ruang pamer A.

Perayaan 20 tahun SSAS juga menghadirkan pameran bersama bertajuk SSAS/AS/Ideas yang digelar oleh Bale Project dan dikuratori Hendro Wiyanto. Pameran berlangsung di Bale Tonggoh, menampilkan karya-karya 20 seniman asal Bandung dan luar kota. Mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan SSAS, serta terlibat dalam program residensi dan pameran. Program residensi melibatkan seniman-seniman muda yang tinggal dan bekerja di Bandung. Namun, tak menutup kemungkinan bagi seniman-seniman dari luar Bandung. Seniman yang pernah mengikuti program residensi diantaranya, Made Wiguna Valasara dalam program transit #1 (2011), Iwan Yusuf program transit #2 (2013), dan Hedi Soetardja program transit #4 (2018). Dua seniman asal Jogja, Agus Suwage dan Mella Jaarsma namanya turut berjajar diantara 20 seniman pameran SSAS/AS/Ideas. Karya-karya 20 seniman ini mengangkat tema yang merespon gagasan artistik Sunaryo. Salah satunya instalasi berupa manusia yang diikat dan dibalut kain hitam berjudul “Teduh Dari Paparan. Karya seniman Bandu Darmawan ini merupakan respon dari karya proyek Titik Nadir.

Hal yang menarik diantara karya-karya pameran ini adalah ketika Sunaryo berkolaborasi dengan Hedi Soetardja. Hedi adalah seniman otodidak asal desa Jelekong, Bandung Selatan yang mengikuti program residensi transit #4 2018. Desa asal Hedi, Jelekong terkenal sebagai sentra pengrajin cinderamata dan lukisan pemandangan. Dalam karya kolaborasi “Luruh Hitam dalam Perayaan”, Hedi mengeksplorasi karyanya dari pengalaman yang diperoleh selama residensi. Ia menampilkan abstraksi melalui isyarat kecil yang menyerupai huruf tidak beraturan. Kurator muda SSAS, Chabib Duta Hapsoro menyebut bahasa visual Hedi dengan gumam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menjelajahi Arsip: Mengenal Bagong Kussudiardja

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dalam rangka memperingati 90 tahun Bagong Kussudiardja, 60 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, dan 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), digelarlah pameran arsip bertajuk Ruang Waktu Bagong Kussudiardja yang dihelat pada 29 September – 3 November 2018 di PSBK. Suwarno Wisetrotomo didapuk sebagai kurator pameran ini. Dalam catatan kuratorialnya menekankan Bagong sebagai seniman yang sadar pengarsipan, telah meninggalkan jejak penanda zaman bagi dunia kesenian. Dengan melihat arsip Bagong mulai dari catatan perjalanan, liputan media, dokumentasi peristiwa kesenian, hingga surat-menyurat, dapat kembali memperkenalkan kiprah kesenimanan Bagong dengan konteks masa kini. Pameran ini menggunakan dua lantai ruang pamer PSBK.

Lantai pertama dari pameran ini menampilkan lini masa kehidupan Bagong. Diawali dari tahun kelahiran, yaitu 9 Oktober 1928 sekaligus latar belakang keluarganya yang dekat dengan aktivitas kesenian. Krida Beksa Wirama menjadi tempat pertamanya menempuh pendidikan seni tari pada 1946. Memasuki masa Orde Lama, dimana Sukarno banyak menggalakan misi-misi kebudayaan ke mancanegara, Bagong bersama dengan seniman-seniman lainnya banyak menciptakan karya-karya tari baru. Dalam salah satu highlight lini masa yaitu tahun 1958 yang menandai berdirinya Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja. Arsip-arsip pada masa orde lama ini, ingin secara lebih dalam ingin menandai Bagong sebagai penari yang melahirkan banyak eksperimentasi, salah satunya dengan perpaduan ritmik antara pantomime dengan gerak tari secara dramatik.

Sebuah kliping tertanggal 23 Juli 1960 dari surat kabar Star Weekly menjadi arsip pertama yang menuliskan karir Bagong sebagai pelukis. Secara garis besar mengetengahkan kehadiran antara seni rupa dan seni musik, dimana diantaranya terdapat seni tari yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tulisan ini ditutup dengan kritik pada karya lukis Bagong, yang dinilai meskipun temanya beragam, menunjukan luasnya wawasan, namun belum menonjol secara teknik pewarnaan dan komposisi.

Jika diperhatikan, lini masa dekade 60-an terdapat tahun-tahun yang hilang, yaitu di antara tahun 1963-1966. Sama sekali tidak terdapat arsip di sekitar peristiwa peralihan kekuasaan tahun 1965. Kekosongan ini menjadi menarik mengingat ini adalah salah satu momen-momen paling krusial bagi eksistensi seniman melalui afiliasi politiknya. Memasuki masa orde baru, secara tegas disampaikan bahwa Bagong banyak menangani pesanan dari pemerintah, mulai dari BUMN, korporat, dan lembaga-lembaga lain. Ini bisa dilihat sebagai langkah negosiasi seniman menghadapi pemerintahan yang represif, terlepas dari kontroversinya.

Selain momentum berdirinya PSBK tahun 1978, terlihat banyak arsip yang menunjukkan kedekatan dengan militer. Memasuki dekade 1990-an, dimana usianya menginjak 60 tahun, Surabaya Post menyebut Bagong sebagai koreografer yang menularkan “isme”-nya. Meski Bagong sendiri menolak sebutan bahwa karyanya menuju proses menemukan “tari Indonesia”. Di lain sisi, Bagong juga dikritik sebagai seniman yang sangat dekat dengan pemerintah, menerima karya pesanan, hingga karyanya dianggap murahan. Namun Bagong berdalih bahwa aspek terpenting adalah membuat karya yang komunikatif bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan misi, isi dan estetikanya. Dalam tulisan-tulisannya di media massa, terlihat Bagong juga beredar dalam wacana kesenian, terutama di ranah persinggungan antara pembaharuan nilai dan filosofi seni tradisi, dan profesionalitas seniman dengan dorongan turistik. Di samping masih banyak catatan menarik mulai dari protes Bagong terhadap KIAS (Festival Kebudayaan Indonesia Di Amerika Serikat) 1990) karena dianggap melibatkan seniman Lekra, hingga klaimnya bahwa berkesenian adalah berpolitik, namun masih malu-malu mengakui bahwa karyanya menyinggung kritik terhadap politik praktis. “Ujung” dari lini masa ini adalah tahun 2004, dimana Bagong berpulang pada 15 Juni 2004 di usia 76.

Selain lini masa yang disajikan di lantai pertama, lantai kedua ruang pamer juga masih menampilkan koleksi arsip Bagong. Namun lebih fokus pada catatan kliping dan foto dokumentasi. Seluruh arsip yang dipamerkan memang sengaja ditunjukkan untuk dibaca secara lebih mendalam. Maka dari itu di seluruh ruang pamer menyediakan “ruang baca” sederhana. Meski sayangnya beberapa kliping tidak lengkap, baik dari sumber dan tanggal penerbitan, hingga teks yang terpotong. Suwarno dalam penutup catatan kuratorialnya mengharapkan bentangan arsip-arsip Bagong menjadi pemantik atau bahkan rujukan utama dalam penelitian baik sejarah, seni, politik, dan lain-lain.

Harapan ini menjadi semacam “free pass” bagi publik untuk menafsir ulang praktik kesenimanan Bagong. Terlebih pameran arsip ini menekankan pada tahun-tahun yang dianggap menjadi tonggak karir Bagong. Apa yang dianggap penting dalam pameran ini bisa jadi berbeda dari interpretasi publik. Perluasan konteks dan perspektif memang harus muncul secara kritis dalam benak publik ketika dihadapkan pada arsip-arsip ini. Sebagaimana layaknya kerja arsip yang terus memperpanjang usianya dengan terus diaktivasi. Terlihat pameran arsip ini sedang menuju kesana.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Nusasonic: Melintas Batas Bunyi

Oleh: Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Perhelatan Nusasonic berlangsung pada 2-13 Oktober 2018 di beberapa lokasi di Yogyakarta, dan Magelang. Nusasonic diprakarsai oleh Goethe-Institut Asia Tenggara, dan menggandeng kolaborator lintas negara yaitu Yes No Klub (Indonesia – Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Filipina – Manilla), Playfreely/BlackKaji (Singapore) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (German – Berlin) mengusung tajuk utama yaitu Crossing Aural Geographies. Nusasonic yang mengelaborasi wacana multikultur bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara, silang pendapat dalam kawasan tersebut, dengan Eropa dan negara-negara lainnya. Diskusi, lokakarya, dan pertunjukan seni musik menjadi program yang dihadirkan dalam Nusasonic.

Minggu, 7 Oktober 2018, 14 pelaku seni dipertemukan dalam satu ruang diskusi. Satu dari serangkaian program diskusi Nusasonic digelar di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta pukul 14.30 – 20.30 WIB. Mengangkat empat topik pembahasan yaitu “Interlacing Networks” yang dimoderatori oleh Anna-Maria Strauss dan menghadirkan Erick Calilan, Jan Rholf, Tengal, Wok the Rock, Yuen Chee Wai sebagai pembicara. Inti dari diskusi ini adalah banyak cara dalam menjalin jaringan. Erick Calilan menuturkan bahwa dalam berjejaring, bermula dari bergabung dengan komunitas berbasis seni. Dengan latar belakang yang tidak menempuh pendidikan formal dibidang teknik elektronik, Calilan mengeksplorasi aktivitasnya dengan melakukan eksperimen dan riset mandiri melalui minat khusus yang berkaitan dengan bebunyian sebagai medium artistik.  Kemudian, ia mengembangkan kiprah artistiknya dengan berpartisipasi aktif dalam pertukaran gagasan dan kolaborasi terutama di ranah seniman visual, praktisi seni media baru, peretas, musisi eksperimental, dan seniman bunyi (sound art).

Sesi kedua dimulai pukul 16.00-16.45 WIB dengan pembicaraan tentang “The Cyborg in the River : Sewing Machines to the Ethnic Body” yang diutarakan oleh Tad Ermitaño. Tad Ermitaño yang merupakan tokoh kunci seni media baru di Filipina menyoroti bahwa “teknologi itu penting, karena manusia butuh mesin untuk melanjutkan kehidupan dan bersosial”.

“Self-Organising Structures and Maker Culture” menjadi topik diskusi pada sesi ketiga yang dimulai pukul 17.00-18.00. Andreas Siagian, Arnont Nongyao, Lintang Raditya, Peter Kirn, Yab Sarpote turut angkat bicara tentang topik diskusi pada sesi ini. Berlanjut pada sesi keempat yang merupakan sesi terakhir pada program diskusi Nusasonic kali ini, yang melibatkan Gunawan Maryanto, Yennu Ariendra dan J Mo’ong Santoso sebagai pembicara pada topik “Music and Politic through Raja Kirik”.

Jaranan buto merupakan bentuk kesenian tradisional yang ada di Banyuwangi atau Blambangan. Tarian rakyat yang sebenarnya adalah bentuk dari tiruan atas kebudayaan Mataram yang dilakukan orang Banyuwangi. Namun yang menarik adalah tiruan dari kebudayaan Mataram atau Jogja ini, kemudian digunakan oleh orang Banyuwangi untuk melakukan sebuah bentuk perlawanan kebudayaan. Banyuwangi atau Blambangan adalah satu kerajaan Hindu yang cukup tua di Jawa yang teramat sulit untuk ditaklukan oleh Belanda, Mataram, dan Bali. Banyuwangi diibaratkan seperti daerah yang terus menerus otonom dan melakukan perlawanan. Bentuk kebudayaan Banyuwangi sebenarnya adalah varian dari kebudayaan Jawa yang paling tua yang masih terus dilakukan sampai sekarang. Itu salah satu pijakan utama dari project Yennu dan Moong yaitu Jaranan Buto. Akan tetapi, secara tematik Yennu dan Moong mencoba mengangkat Raja Kirik sebagai suatu bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh Mataram kepada Banyuwangi atau Blambangan yang tidak bisa ditaklukan. Maka itu, Mataram mencoba menaklukan dengan cara kebudayaan atau membangun mitologi yang memperburuk citra orang Banyuwangi” tandas Yennu setelah pemutaran Film tentang Jaranan Buto.

Program diskusi lainnya berlokasi di MES 56, adalah “Resonances-Fractures between Kuala Lumpur, Cairo, Yogyakarta”. Dengan menggandeng Nadah el Shazly, dan Sudarshan Chandra Kumar sebagai pemateri dan di moderator oleh Grace Samboh. Diskusi ini membicarakan tentang apa saja tantangan yang dihadapi oleh mereka (pemateri) dalam hal audiens, kancah dan jaringan, lokasi, tradisi lokal dan iklim sosio-politik, hubungan kultural atau historis yang tercipta antara Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah. Selain itu, tak lupa pula membicarakan apakah pengalaman dan warisan lokal mereka berpengaruh terhadap praktik musiknya.

Terlalu banyak kontrol yang dilakukan oleh pemerintah di Kairo yang cenderung membatasi kegiatan bermusik, menjadi permasalahan utama disana yang pada akhirnya membuat banyak orang gugup bahkan takut untuk berekspresi melalui musik. “Baiknya, seniman musik harus diberikan dukungan  oleh produser, bagaimana cara mereka mempromosikan karyanya di media.” Ungkap Nadah el Shazy mengenai musik dan iklim sosio-politik. Sudarshan angkat bicara tentang hubungan kultural yang tercipta antara Indonesia dengan Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak kemiripan antara Indonesia dan Malaysia termasuk dalam hal musik. Indonesia memiliki dangdut yang menjadi ciri khas musiknya. Banyak orang-orang Malaysia menyukai genre musik ini. Bahkan ada salah satu lagu dangdut Indonesia, “Keong Racun” dinyanyikan kembali oleh penyanyi Malaysia dengan menggunakan bahasa Malaysia. Tidak cukup sampai disitu, bahkan “Keong Racun” versi Malaysia memiliki versi video musiknya sendiri. Hal ini menjadi salah satu bukti ketertarikan dan hubungan kultural antara Indonesia dengan Malaysia.

Beralih ke program pertunjukan. Dengan menggunakan beberapa lokasi di Eloprogo Art House, panggung 2 dimeriahkan oleh seniman-seniman seperti Wilderness-AGF, Asa Rahmana, Ayu Saraswati, Joee & I,  Menstrual Syndrome, dan Sarana dengan kolaborasi yang luar biasa sebagai warming up acara tersebut. Pertunjukan ini dilaksanakan pada  13 Oktober pukul 15.00 dengan iringan lantunan aliran sungai desa Wanurejo. Sore itu, seniman-seniman dari berbagai daerah silih berganti hilir mudik berdatangan meramaikan pertunjukan tersebut. Sebelum menuju panggung utama, panggung 3 dengan gaya circle  menampilkan penampilan dari Jogja Noise Bombing.

Menjelang malam, sebelum menikmati panggung utama, para penonton juga disuguhi beberapa karya karya seni rupa di galeri sebelum menuju panggung utama. Ada beberapa penampil, seperti The Music Makers Hacklab, mereka adalah laboratorium kolaboratif selama seminggu yang diselenggarakan oleh Peter Kirn dari CDM (cdm.link). Kemudian juga ada Hacklab dari Yogyakarta dengan co-host Andreas Siagian dan Lintang Radittya, merefleksikan aspek bermain musik yang menyenangkan dan kolaboratif, mereka yang terlibat adalah Erick Calilan dan Duto Hardono, Peter Kirn, Lintang Radittya, Storm, Amont Nongyao, Tad Ermitaño, Mica Agregado. Setelah pengunjung berdesakan menikmati musik di galeri, panggung utama pun dibuka oleh Nadah el Shazly. Suara El Shazly sangat berani namun lembut, dieksekusi dengan terampil dari awal sampai akhir. Liriknya puitis dan tajam, membentuk gambar melalui frasa.

Nusasonic sudah berhasil memperpadukan kolaborasi lintas musik Negara secara kreatif dan inovatif. Setiap seniman dari masing-masing negara, dengan latar belakang konteks kultural, sosial, dan politik telah unjuk gigi di hadapan audiens yang beragam pula. Melalui eksperimentasi seni (khususnya seni media baru), teknologi, dan bunyi, kekakuan karena antara batas geografis mencair dalam perhelatan ini. Nusasonic menunjukkan perlintasan dan saling silang batas bebunyian dalam pengalaman personal, hingga global.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2018

oleh : Dwi Rahmanto

Periode Juli-Agustus ini, tim arsip dibantu oleh 8 kawan magang dari berbagai perguruan tinggi merekam sekitar 18 peristiwa seni. Khusus untuk newsletter edisi ini kami menyoroti beberapa peristiwa yang kami bagi kedalam 3 tema, yaitu Keragaman lokasi, Keragaman lintas medium, dan Terkait dengan tema ‘Nusantara/ Lokalitas’.  Selain yang tertulis dalam newsletter kali ini, dokumentasi lainnya dapat dijelajahi di kanal-kanal online kami http://archive.ivaa-online.org/, dan https://www.youtube.com/user/IVAAVideoArchive. Dan sebagai upaya kontribusi memperluas jaringan publikasi peristiwa seni, dapat diakses di tautan http://ivaa-online.org/art-events-calendar/.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Siang itu, 5 Juli 2018, ruang galeri museum Sonobudoyo memajang karya-karya seni rupa dengan satu inspirasi cerita, yaitu Panji. 16 seniman dan beberapa koleksi Museum Sonobudoyo meramaikan pameran yang merupakan rangkaian dari Festival Panji Internasional ini. Festival ini sendiri secara keseluruhan digelar pada 27 Juni-13 Juli 2018 di 8 kota di Indonesia (Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta). Yogyakarta menjadi kota kelima dalam festival yang melibatkan 3 negara Asean ini. Indonesia, Kamboja dan Thailand berkolaborasi dalam upaya kerjasama budaya Panji yang lebih erat. Acara ini memang program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk penyelenggaraan di Yogyakarta menggandeng Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pameran ini bertajuk Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni. Berbagai karya seni lukis, patung, topeng, dan naskah-naskah serta buku-buku tentang Panji dipamerkan selama empat hari. Pameran yang dibuka oleh Penasehat Mendikbud RI, Wardiman Djojonegoro ini menginterpretasikan berbagai versi turunan cerita Panji. Diungkapkan dalam pembukaan bahwa pameran ini digelar dengan semangat mempromosikan budaya Panji diantara Negara ASEAN untuk memperkuat jalinan diplomasi kebudayaan.

Dalam pidatonya, Wardiman Djojonegoro memaparkan bahwa pameran ini mengusung tiga pesan utama. Pertama sebagai bentuk perayaan. Terhitung 31 Oktober 2017, UNESCO menerima naskah panji yang ada di Indonesia, Malaysia, Kamboja, hingga yang tersimpan di Museum Belanda dan London sebagai memory of the world atau warisan budaya dunia. Kedua, pameran ini sebagai ajang pelestarian. Harapannya adalah panji mampu membentengi generasi muda dari serbuan budaya asing. Generasi muda Indonesia agaknya dapat membentuk ideologinya melalui identitas lokalnya. Kemudian yang ketiga, keberadaan panji sudah menyeberangi lautan hingga melingkupi hampir semua negara ASEAN, artinya panji telah menjadi warisan bersama sebagai budaya tak benda dari nenek moyang.

Suasana ‘lokal’ sangat terasa ketika memasuki ruang pamer tersebut. Di pintu masuk ruangan sisi utara, kita disuguhkan lukisan-lukisan wayang yang direkonstruksi menjadi wayang kontemporer tanpa melepaskan identitas lokalnya. ‘Gumreg di Tanah Emas‘ karya Subandi Giyanto. Lukisan cat akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm ini menggambarkan seekor kerbau yang di tubuh dan latar belakangnya dipenuhi ornamen dan sosok wayang. Narasi dari lukisan ini adalah bagaimana manusia memuliakan hewan sebagai mitranya bercocok tanam dan mencari nafkah. Kemudian di ruang tengah terdapat patung ‘Cindelaras‘ karya Sumidal dan satu set Wayang Klithik karya Kemiskidi Wikyo Suprapto. ‘Cindelaras‘ adalah patung seorang pria jongkok sambil memegang seekor ayam berukuran 40 x 30 x 40 cm. Patung ini ingin menceritakan kisah hidup Cindelaras. Sedangkan Wayang Klithik ingin menceritakan Majapahit dalam pimpinan Ratu Dewi Suhita yang berhasil menaklukkan banyak daerah. Karya ini menarik karena mediumnya terbuat dari kayu jati.

Ruangan sisi selatan memajang beberapa topeng Panji serta Dewi Sekartaji koleksi dari Museum Sonobudoyo, dan beberapa karakter Panji dalam wujud Wayang Golek dan wujud Wayang Kulit. Selanjutnya ada satu ruangan yang berisi buku serta naskah-naskah yang berkaitan dengan panji. Dan di ruang sebelah selatan pintu masuk, terdapat karya 3 dimensional dari Giring Prihatyasono. Karya yang dibentuk seperti gulungan ini berjudul ‘Puisi Cinta Bait yang Tersisa‘ berukuran 18 x 177 cm berbahan aluminium, etsa, dan kulit kayu. Melalui karya ini, Giring menginterpretasikan cerita panji sebagai kisah asmara yang berbalut dan bernuansa politik.

Cerita Panji  merupakan sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Berisi cerita kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Pameran dengan sebuah tema yang identik dengan cerita pewayangan kini telah direspon dalam berbagai medium seni rupa. Dari lukisan, patung, instalasi, hingga wayang itu sendiri. Menarik dalam pameran ini karena hampir seluruh karya, disertai caption yang tidak hanya berisi nama seniman, judul karya, medium, dimensi, dan tahun pembuatan, tetapi juga dilengkapi dengan narasi singkat cerita yang diangkat dalam karya tertentu. Dalam karya seni rupa yang statis, kehadiran narasi cerita ini bisa sedikit banyak bisa membantu apresiasi yang lebih dalam. Terlebih pameran ini dalam catatan kuratorial yang ditulis Timbul Raharjo, menyebutkan bahwa Pameran ini ingin menumbuhkan kecintaan budaya nusantara melalui pendidikan dengan kegiatan apresiasi dan edukasi budaya seni rupa indonesia. Singkatnya ada upaya literasi visi kebaikan kebudayaan Indonesia dalam pameran ini. Bisa jadi visi ini juga yang mendasari alasan pameran ini digelar di Museum Sonobudoyo, yang berlokasi di salah satu titik keramaian Yogyakarta. Karya-karya dalam pameran ini berusaha merespon cerita panji dengan gayanya masing-masing, termasuk interpretasi dan upaya kontekstualisasinya masing-masing. Dengan gaya yang dominan tentu saja ornamen wayang. Menarik untuk diikuti lebih jauh, apakah pameran panji di daerah lain juga didominasi corak khasnya masing-masing.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Perempuan Modern dan Jiwa Jawa

Oleh Dwi Rahmanto

Seorang perempuan dengan satu set pakaian pernikahan jawa menumbuk bawang merah dan bawang putih di atas cobek. Dilakukannya berulang kali hingga bau bawang menusuk hidung dan air mata. Di punggungnya juga tertulis tegas dengan cat hitam ‘Power Blessing’, ‘Faith Eternal’, ‘Pride’, ‘Dignity’, dan sebagainya. Ini adalah sebuah pertunjukan berjudul ‘Lingga dan Yoni’ dalam rangkaian pembukaan pameran tunggal Fractura Hepatica; Love, Pride and Dignity oleh Andita Purnama Sari. Pameran ini berlangsung di Cemara 6 Galeri-Museum, tanggal 1 – 10 Agustus 2018, dengan kurator Christine Cocca. Andita memajang sekitar 13 karya seni rupa yang meliputi karya-karya lukisan, patung, instalasi dan  performance art. Karya-karyanya memaparkan unsur-unsur yang berpijak pada nilai-nilai perempuan dan tradisi dalam narasi yang penuh simbol dan makna.

Cocca menyebutkan bahwa Andita dalam pameran ini berbicara tentang kemuliaan cinta, harapan tentang hidup dan harga diri serta harkat martabat sebagai perempuan. Andita mencoba merefleksikan dedikasi, cinta yang tulus dan pengorbanan jiwa raga seorang perempuan yang dibalut dalam konsepsi pandangan hidup orang Jawa. Cocca menilai bahwa Andita adalah perempuan modern yang berada dalam momen-momen sakral, dalam situasi tradisi jawa sangat kuat melekat baginya. Ada interseksi antara konsep perempuan idealnya dalam tradisi dengan perempuan modern. Bagaimana keduanya bertemu dengan satu tubuh perempuan, bagaimana ini eksis dan bernegosiasi dalam hidup modern tapi membawa prinsip yang lama. Andita tidak hanya melakukan ini secara personal tetapi mengkontekstualisasikan dengan perempuan di jawa masa kini.

Fenomena kawin siri/kontrak di Indonesia bukan hanya menjadi gosip dan isapan jempol belaka. 2017 lalu terdengar kabar situs nikahsirri.com (kini sudah diblokir oleh Kemenkominfo) yang menggegerkan publik. (sumber: https://www.dream.co.id/news/prostitusi-berkedok-nikah-siri-di-puncak-bogor-1-170926z.html)

Melihat ini, Andita Purnama sebagai seniman tergugah untuk mengadvokasi berbagai kasus dalam praktik nikah siri dan kawin kontrak. Bersama Komnas Perempuan Jakarta, Andita meneliti dan menelusuri, kemudian menjadi lebih banyak tahu resiko-resiko buruk dari praktik ini. Barangkali inilah yang membuat Cocca menyatakan pameran ini sebagai jalan baru dari fase dimana Andita berada dalam situasi ‘heartbreak‘.

Entang Wiharso yang juga membuka pameran ini mengungkapkan bagaimana seni rupa kini tidak terbatas dan sangat universal. Seni tidak mengenal gender, bisa hadir di mana saja, seni sebagai pengait umat manusia. Entang menyoroti bahwa Andita memilih material bukan hanya pertimbangan estetis, tapi juga membicarakan nilai-nilainya secara kritis. Material ini semacam dialog antara yang rapuh dengan yang keras, sekaligus refleksi atas ekualitas gender. Narasi ini yang secara implisit ingin diutarakan dalam pameran ini, dan Entang cukup menggarisbawahi poin tersebut.

Andita sendiri memiliki proses pengkaryaan yang beragam. Mulai dari pemilihan material, cara mengolah material, instalasi, dan isu yang diangkat pun menggunakan berbagai sudut pandang. Sudut pandang ini dikolaborasikan dengan pendekatan idiom idiom jawa. Nilai-nilai  ini sengaja dihadirkan karena menurutnya semua orang akan selalu kembali kepada nilai awal dia berada, dalam hal ini Andita dengan pengalamannya sebagai orang Jawa. Material karyanya juga banyak mengambil dari barang-barang milik pribadi Anditya, seperti stagen, rambut, hingga tempat tidur. Benda-benda personalnya ini dibawa dalam satu rangkaian pintu narasi yang lebih luas, perempuan, modern, dan jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Image Of The Giant Dalam Jejak Tabi Exchange 2018

Oleh: Chusnul Khasanah (Kawan Magang IVAA)

Musik instrumental dengan suara yang khas, kemudian diikuti video tanpa suara dan seorang wanita asing menari ‘Jaranan Buto’ secara kikuk dibawah pendar cahaya merah berlangsung mistis malam itu. Pertunjukan ini adalah salah satu rangkaian pertunjukan dalam Jejak Tabi Exchange 2018. Merujuk pada teks kuratorial, Jejak Tabi Exchange 2018 merupakan sebuah festival keliling yang diprogramkan sebagai bentuk pertukaran dan ajang pertunjukan untuk para seniman kontemporer Asia.  Acara ini fokus pada dua kota di Asia. Untuk tahun 2018, Jejak Tabi Exchange memilih Yogyakarta dan Kuala Lumpur sebagai wadah pertunjukan. Khusus di Yogyakarta, berlangsung pada 13 Juli-11 Agustus 2018. Salah satu rangkaian acara dari Jejak Tabi Exchange adalah mempersembah showcase Image Of The Giant karya Yennu Ariendra. Showcase tersebut digelar pada 19 Juli di Galeri Cemeti-Institut Seni untuk Masyarakat. Dalam showcase ini, tim arsip IVAA diwakili oleh beberapa kawan magang IVAA, diantaranya Chusnul Khasanah, Mega Mahardhika, Nilna Faza dan Apriani Pratiwi.

Pertunjukan yang dipersembahkan dari proyek Image of The Giant berupa komposisi musik tanpa lirik, video art, dan tari ‘Jaranan Buto’. Lebih tepatnya Yennu membuat  sebuah kolaborasi musik digital kontemporer yang dikolaborasikan dengan musik tradisional. Untuk persembahan sebuah komposisi musik, Yennu dibantu oleh Mo’ong S Pribadi. Kolaborasi dari dua komposer ini menghasilkan harmoni sebuah musik tanpa lirik. Musik yang dimainkan Yennu terdengar dramatis dan mengesankan unsur kekerasan. Mo’ong pada proyek ini memainkan alat musik buatannya sendiri. Paralon menjadi salah satu bahan dari alat musik uniknya. Musik yang mengalun pada projek ini diiringi dengan  pemutaran video tanpa suara. Video ini merupakan hasil dokumentasi dari penelitian Yennu terhadap tarian ‘Jaranan Buto’. Tak hanya itu, proyek ini juga menghadirkan pertunjukan tari yang dibawakan oleh seorang bule. Yennu memilih wanita bule karena gestur tubuh penari ini tidak akan bisa segemulai orang Banyuwangi. Ini adalah pilihan sadar atas konsep pertentangan yang ingin ditekankan.

Image Of The Giant ini merupakan lanjutan dari proyek Yennu sebelumnya yaitu Menara Ingatan. Menara Ingatan yang menjadi tema besar proyek ini sudah menghasilkan album bertajuk Raja Kirik. Maka tak heran jika audience melihat sekilas cover Raja Kirik pada video art yang ditampilkan Yennu pada pertunjukan ini. Image of The Giant memuat gagasan resistensi lebih spesifik, yang tak seluas dari proyek Menara Ingatan. Gagasan atas karya ini berasal dari tradisi kesenian tempat Yennu dilahirkan, Banyuwangi. Yennu terinspirasi dengan kekerasan tradisi yang sudah terjadi di keluarga. Beranjak ke proses penciptaan, Yennu mengambil idiom kesenian tradisi ‘Jaranan Buto’. Ketertarikannya pada ‘Jaranan Buto’ membuat Yennu harus kembali ke Banyuwangi untuk penelitian dan mengulik kembali  berbagai cerita dari Jaranan Buto. Kesenian tradisi ini mengisahkan perseteruan antara Kerajaan Mataram yang menaklukkan Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Kesenian Jaranan Buto diciptakan sebagai bentuk kesenian untuk memprotes segala bentuk ketidakadilan pada daerah Blambangan. Kerajaan Mataram membuat asumsi bahwa figur raksasa pada kesenian ini adalah penjahat. Lain halnya dengan masyarakat Blambangan yang menganggap tokoh raksasa adalah sosok pahlawan bukan penjahat. Gagasan besar yang dimuat Yennu pada karya ini intinya merepresentasikan sebuah resistensi ketidakadilan, dan kekerasan atas segala kondisi yang dapat disangkutpautkan dengan kondisi sosial dan budaya saat ini.

Setelah melakukan pertunjukan Image Of The Giant di Cemeti-Institute Seni Untuk Masyarakat, Yennu Ariendra disibukkan dengan proyek barunya. Rencananya komposer muda ini akan melakukan comeback solonya yang rilis pada bulan Agustus. Kesuksesan Yennu menjadi seorang pemusik dan komposer tidak bisa terlepas dari Bandnya Melancholic Bitch, Belkastrelka, dan teman-teman terdekatnya. Sebelum membuat proyek Menara Ingatan-Image Of The Giant dan Album Raja Kirik, Yennu dan Bandnya Melancholic Bitch sudah terlebih dahulu meluncurkan 3 album (2004-2018). Sementara Belkastrelka 1 album.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.