Tag Archives: #sorotanarsip

Arsip Poster dan Iklan Film

Oleh Hardiwan Prayoga

Tercatat bahwa pemutaran film (dulu disebut gambar idoep) pertama di nusantara ada di Surabaya. Data ini diperoleh dari pamflet iklan film tahun 1896. Poster dan iklan film, dapat digunakan untuk melihat interseksi dunia seni visual mainstream dengan budaya pop. Selain itu, sekaligus gambaran singkat mengenai perkembangan selera penonton. Poster dan iklan film terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tahun 1930an, iklan film menekankan pada jalan cerita. Bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa melayu pasar. Didominasi oleh visual yang ramai dengan teknik kolase.

Film Indonesia mengalami fase mati suri pada awal hingga pertengahan 1940an. Pada masa ini didominasi film propaganda, hingga akhirnya tahun 1948, Darah dan Doa dinyatakan sebagai film nasional pertama. Memasuki 1950an, Indonesia memasuki masa produktif film nasional hingga terjadi persaingan yang ketat dengan film impor. Selebaran iklan koran, dan majalah sangat banyak digunakan kala itu. Setelah mengalami kelesuan tahun 1960an, film nasional kembali menggeliat pada 1970an. Pada masa ini poster dan iklan film masih menggunakan corak lukisan dan fotografi sederhana. Mulai hilang tulisan panjang mengenai jalan cerita, namun lebih ditekankan pada slogan dan gambar yang sensual dan emosional.

Akhirnya kini di era pasca reformasi, merespon keterbukan teknologi dan politik, memungkinkan film diproduksi secara gerilya, bahkan hingga tingkat distribusi. Iklan film kini terpusat pada trailer, dan poster mulai beralih dari cetak ke digital dengan berbagai macam versi. Catatan mengenai dinamika poster dan iklan film dapat dilihat melalui koleksi yang disumbangkan oleh Christopher Allen Woodrich, peneliti yang berdomisili di Yogyakarta. Koleksi digitalnya dapat diakses dengan datang ke Rumah IVAA.

Checklist Arsip Poster dan Iklan Film: https://bit.ly/2sKxNBV

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SorotanArsip | Arsip Batara Lubis

Oleh: Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Ada tujuan dan keinginan tersendiri dari terselenggaranya pameran sketsa Batara Lubis di Museum Taman Tino Sidin pada periode 16 Februari hingga 2 Maret lalu. Dari kembali mengingatkan publik tentang kekaryaan Batara Lubis hingga mengenalkan sosok Batara Lubis dan karyanya kepada generasi masa kini. Dengan suksesnya pameran tersebut, Gina Lubis, putri Batara Lubis, mengakui bahwa sasaran yang sejak semula diinginkan dari terselenggaranya pameran telah tercapai. Tidak berselang lama setelah pameran terselenggara, tim arsip IVAA mengunjungi kediaman Gina Lubis (putri sulung Batara Lubis) dengan beberapa pertanyaan seputar arsip dan sosok ayahnya.

Sedikit membahas tentang penyelenggaraan pameran, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan merupakan suatu hal lain yang menarik. Hal ini dikarenakan sosok Batara Lubis dikenal akan kekhasan lukisan-lukisannya. Akan tetapi, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan tentu memiliki perhitungan tersendiri. Gina Lubis selaku inisiator pameran, mengatakan bahwa pemilihan sketsa didasari atas alasan menghindari rasa bosan publik atas Batara Lubis.

Sebagai seorang seniman, menurut Gina Lubis, ayahnya sudah sangat sadar tentang proses pengarsipan. Hal ini pula yang memudahkan keluarga untuk merawat atau mendata keberadaan karya Batara Lubis. Selain itu, kesadaran Batara Lubis tentang arsip juga tampak pada cerita yang menjelaskan bahwa seputar peristiwa 1965, Batara Lubis menyelamatkan beberapa karya milik sesama seniman yang berada di Sanggar Pelukis Rakyat, yang lalu dititipkan pada tetangga agar karya-karya tersebut tidak dihancurkan. Hal ini menunjukkan kepedulian Batara Lubis sebagai seniman yang sadar tentang arsip.

Meskipun beberapa karya Batara Lubis mengalami kerusakan, tetapi pengarsipan yang telah dilakukan membuat karya tersebut masih bisa dan mudah diakses. Dengan jumlah karya yang lebih dari 500, pengarsipan yang dilakukan keluarga tentu tidak mudah karena keterbatasan ruang simpan yang dimiliki. Ada keinginan dari keluarga untuk melakukan pengelolaan arsip-arsip Batara Lubis secara lebih baik ke depannya. Adapun keinginan lain yang ingin diwujudkan adalah perawatan terhadap karya yang tentunya memakan biaya cukup besar, serta keinginan lain keluarga Batara Lubis untuk bisa memiliki museum yang berisikan karya-karya Batara Lubis.

Dalam 2 kali kunjungan tim arsip IVAA ke rumah keluarga Batara Lubis, kami telah mendigitalisasi 866 arsip Batara Lubis yang terdiri dari sketsa, foto dokumentasi kegiatan/pameran, makalah, hingga catatan perjalanan. Selain itu juga terdigitalisasi 299 arsip pelukis rakyat berupa sketsa, foto, dan sebagainya. Untuk mengakses ini, publik diperkenankan untuk langsung mengunjungi perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#SorotanArsip | Arsip Red District Project

Oleh: Revano Septian (Peserta Magang IVAA)

Red District Project (RDP) merupakan kegiatan bersama dengan warga yang diinisisasi oleh seniman bernama Lashita Situmorang. Kegiatan yang dimaksud meliputi unsur penelitian dan pengorganisasian, berlokasi di kampung Sosrowijayan, lebih tepatnya Sosrowijayan Kulon. Setelah dua kali penyelenggaraannya, dokumentasi dari kegiatan ini sangat melimpah, mulai dari catatan administratif, foto kegiatan, hingga keseharian warga.

Keberadaan dokumentasi tentang Sosrowijayan ini memang tidak selalu disukai warga, karena banyaknya pemberitaan stereotip terhadap mereka. Dimana semata menampilkan Sosrowijayan sebagai wilayah prostitusi, dan menutup diri dari berbagai potensi dan prestasi. Padahal banyak aspek dan elemen kolaborasi warga yang hidup.

Dokumentasi dan data seputar RDP yang telah dikumpulkan oleh Lashita Situmorang saat ini telah terdata dan memungkinkan untuk dijadikan sumber data, sejauh mengetahui secara terukur kerangka dan tujuan dari penelitian ataupun proyek seni kita. Di atas itu, jika ada kebutuhan untuk meninjau dan menggunakan dokumentasi dari RDP ini, baiknya diawali dengan berkomunikasi dengan Lashita Situmorang.

Link Katalog RDP 

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#Sorotan Arsip September-Desember 2017

Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015

Oleh: Putri Alit Mranani

Pada 2016, Tim Arsip IVAA dibantu tenaga outsource Esza Parapaga dan Sujatmiko menata ulang serta mendigitalisasikan koleksi poster peristiwa seni yang tersimpan di ruang storage IVAA. Tercatat ada 2.244 poster dalam kurun 1987 – 2015 yang sudah didigitalisasi. Koleksi arsip poster ini diperoleh dari kiriman yang diterima dan dipasang pada papan pengumuman IVAA, serta beberapa poster merupakan sumbangan.

Koleksi arsip poster IVAA yang paling tua adalah poster Pameran Seni Grafis. Pameran itu diselenggarakan oleh Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI, Yogyakarta, sebagai pameran tugas akhir Suwarno pada 1987. Di tahun yang sama, terdapat poster bertajuk Forum Komunikasi Seni, yang menginfokan adanya pameran oleh Handrio, V.A. Sudiro, dan Aming Prayitno di Sasana Aji Yasa FSRD, ISI, Yogyakarta.

Tidak semua koleksi poster di IVAA tentang pameran seni rupa. Oleh sebab itu, perlu dikategorisasi sesuai peristiwanya seperti pameran, pertunjukkan, undangan residensi, konser musik, artist’s talk, festival, diskusi, presentasi, bedah buku, workshop, hibah, seminar, konferensi, pemutaran film, peluncuran buku, pembukaan galeri/studio, bazaar, sayembara, penggalangan dana, kompetisi, lowongan pekerjaan, poster band, dan propaganda.

Daftar koleksi poster tersebut dapat dilihat melalui tautan  http://bit.ly/2BsLlVY. Sementara untuk mengakses arsip poter dan koleksi lainnya, silakan membuka tautan http://bit.ly/2nc3vrV. Jadilah KawanIVAA!


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA

Penulis:  Melisa Angela

Terhitung tinggal satu bulan lagi Festival Arsip akan dimulai. Tim Program sebagai penanggungjawab utama telah berjibaku melawan waktu yang semakin terasa cepat berlalu, merapatkan barisan, melancarkan strategi, bersiasat, dan tentu saja melihat kembali koleksi dokumentasi yang menjadi materi utama festival ini. Tak ketinggalan, Tim Arsip pun menjadi salah satu pilar dalam menentukan nyawa dari Fest!Sip. Sederet topik pilihan dan rangkaian pembacaan telah ditentukan, fungsinya sebagai pisau pilah, untuk menentukan mana yang menjadi ‘penting’ untuk ditampilkan dan mana yang tidak. Keberadaan pisau pilah ini tentu tidak dapat ditawar. Bila tidak, bagaimana kami akan memilah dan memilih arsip yang akan ditampilkan dari 10 juta berkas digital yang ada dan masih terus bertambah ini?

Pada era informasi saat ini, begitu mudahnya kita menciptakan data. Saat seseorang menulis, tak perlu lagi ia khawatir salah ketik, karena tinggal hapus dan ganti saja tulisan yang salah, revisi bisa dilakukan tak perlu membuang kertas selembar pun. Untuk mengirimkan sebuah dokumen tidak perlu repot untuk pergi ke kantor pos, langsung dikirim dari smartphone di tangannya pun bisa. Undangan pameran dalam sepersekian detik sudah sampai di puluhan kotak penerimaan alamat email yang dituju; di samping itu masih pula ia berkeliaran tidak keruan hingga muncul di notifikasi dan linimasa akun sosial media kita. Belum lagi kita membicarakan undangan yang muncul di layar smartphone tanpa menunggu persetujuan pemiliknya melalui aplikasi chat messenger.

Kami memang melakukan kerja-kerja dokumentasi acara seni setiap hari. Dengan kapasitas dan jangkauan yang kami miliki, akhirnya kami memang harus memilih acara seni mana saja yang direkam. Setelah melalui tahap seleksi, dalam setahun terkumpul sedikitnya 250 rekaman acara seni. Artinya jika dirata-rata, maka dalam 3 hari Tim Dokumentasi merekam 2 acara seni. Bila satu acara seni difoto sebanyak 50 frame, dan direkam sepanjang 1 jam, maka dalam setahun terkumpul 12.500 frame foto, dan 250 jam atau 10 hari 6 jam video. Padahal pada kenyataannya, lantaran menggunakan kamera digital, jumlah frame foto dan durasi video bisa jadi lebih banyak dari hitungan kasar. Kita asumsikan hitungan tersebut hanya dalam satu tahun. Sedangkan kerja pendokumentasian yang dilakukan IVAA dengan perangkat digital sudah berjalan sejak tahun 2005. Untuk mengetahui koleksi IVAA secara kasar, tinggal kita kalikan saja hasil hitungan kasar di atas dengan jumlah tahunnya. Belum lagi jika ditambah dengan data-data yang kami peroleh dengan cara lain, yakni kontribusi. Karena sejauh ini, beberapa seniman, keluarga, penulis, peneliti atau bahkan galeri dan komunitas banyak yang menyumbangkan dokumentasinya. Dan masih ditambah lagi dengan file hasil digitalisasi berkas-berkas kertas seperti kliping, katalog lama, majalah lama, poster, kaset audio, kaset video, slide presentasi dan film negatif yang dikumpulkan sejak awal mula IVAA berdiri.

Lalu bagaimana cara mengolah timbunan dokumen itu? Yang pertama kami lakukan adalah berusaha mengelolanya. Timbunan dokumen yang tidak terkelola bisa menjadi kesulitan besar, oleh sebab itu, untuk menghindarinya maka sejak dari awal kedatangan sebuah dokumen, ia harus tercatat. Jika ada yang penasaran apa sebetulnya kerja yang dilakukan oleh seorang pengarsip, maka jawabannya adalah mencatat. Catatan yang dimaksud ialah catatan yang tersistematisasi dan memiliki konsistensi yang kita sepakati. Apabila tiba waktunya menemukan dokumen yang miskin data, maka inilah yang disebut petaka bagi pengarsip. Dibutuhkan curahan energi spesial untuk melakukan siasat pencatatan dengan semangat ‘arkeologi’, sehingga catatannya akan lebih banyak mengisi kolom deskripsi, baik mengenai penampakannya maupun kontennya (bila berupa arsip tekstual). Catatan yang dibuat oleh pengarsip inilah yang di kemudian hari memudahkan pencarian dan menjadi semacam penunjuk arah bagi peneliti maupun pengarsip sendiri yang sedang membantu peneliti.

Dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, maka IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan. Siapapun di manapun bisa membuka situs ini, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video. Bagi yang membutuhkan resolusi foto lebih besar, durasi video lebih panjang, maka mereka bisa menghubungi pengarsip, melalui prosedur tertentu. Lantas apakah artinya semua yang terkandung di situs archive.ivaa-online.org itu merupakan semua isi perut IVAA? Tentu tidak. Dengan jumlah arsip seperti yang digambarkan di atas, kerja pencatatan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat. Bila tidak percaya, bisa dibuktikan dengan cara mencoba melakukannya, kami selalu membuka lowongan pengarsip sukarelawan. Maka tak heran pengarsip IVAA lebih sering disibukkan mengumpulkan dokumen-dokumen untuk peneliti-peneliti yang menghubungi kami lantaran tak menemukan arsip yang dibutuhkan di arsip online IVAA yang disebut @rsipIVAA itu.

Pekerjaan pencatatan dan pelayanan yang begitu menyita waktu itu tidak melunturkan semangat pembacaan. Meski berbekal catatan yang belum sepenuhnya rapi dan mungkin belum cukup membantu, namun semangat membaca arsip terus kami hidupi. Salah satunya dengan menerbitkan buletin dan menggelar archive showcase sederhana setiap dua bulan sekali, dan yang paling akbar yang akan datang ini adalah serangkaian program dalam Festival Arsip dengan tajuk ‘Kuasa Ingatan’. Mengapa semangat pembacaan ini terus kami pompa? Karena tak urung kami yang berada paling dekat dengan arsip IVAA adalah yang paling paham dengan medan dan liku-likunya. Maka, apa salahnya jika kami terus hidupkan meski dengan cara yang sederhana dan jauh dari sempurna.

Meski demikian, di antara pekerjaan harian dan timbunan arsip tersebut tidak membuat kami merasa cukup. Banyaknya arsip yang kami kelola belumlah sebanding secara lengkap tentu jika berbicara dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikerjakan, masih banyak area kegelapan yang miskin dokumen, bahkan miskin mitos dan gosip dalam perjalanan seni rupa kita. Percayalah, bahwa kita tidak sendiri. Di sekitar kita masih banyak yang memiliki daya dalam membukakan jalan di area-area yang masih gelap tersebut.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Juli – Agustus 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2012 lalu, atas undangan Mary Northmore tim arsip IVAA bertandang ke Seniwati Gallery yang terletak di Jalan Sriwedari 2B, Banjar Taman, Ubud. Atas berbagai pertimbangan Mary Northmore akan menutup Seniwati Gallery. Oleh sebab itu beliau menawarkan arsipnya untuk dialihformatkan IVAA menjadi arsip digital dan disimpan.

Seniwati Gallery merupakan galeri satu-satunya di Bali yang memberi tempat untuk seniman perempuan berkarya. Mulai beroperasi pada tahun 1991, Mary Northmore menginisiasi berdirinya Seniwati Gallery yang ditujukan untuk pelatihan seni dan ruang pamer seniman perempuan yang tinggal di Bali. Sebelum pulang ke negaranya untuk beberapa waktu pada tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. 21 tahun mengelola Seniwati Gallery bukan waktu sebentar, telah banyak seniman perempuan Bali yang belajar melukis di sini hingga menjadi seniman perempuan yang mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, I GAK Murniasih salah satunya. Mendiang dulunya adalah salah satu remaja peserta pelatihan melukis Seniwati Gallery yang memiliki bakat orisinal hingga di kemudian hari karya-karyanya dikenal di kancah internasional. Setelah menutup Seniwati Gallery, Mary Northmore memutuskan energinya yang tidak sebanyak dulu akan difokuskan untuk kehidupan pribadinya sambil mengelola arsip kekaryaan milik almarhum suaminya yang merupakan seniman Indonesia dari era revolusi, Abdul Aziz. Namun demikian beberapa kegiatan yang dulunya menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Arsip Seniwati Gallery yang disumbangkan oleh Mary Northmore terdiri dari kumpulan album foto dan katalog. Arsip foto di sini merupakan foto dokumentasi pameran yang pernah mereka selenggarakan dan foto-foto karya yang dipamerkan. Beberapa foto karya seniman yang ditemui adalah karya oleh Amilia Amini, Cok Mas Astiti, Gusti Ayu Suartini, Sri Haryani, Muntiana Tedja, Ni Made Sriasih. Sedangkan katalog pameran yang menjadi arsip di Seniwati Gallery antara lain Katalog Pameran “Life Style”, Katalog “Great Painters of Indonesia” (Pameran Pelukis Besar Indonesia), Katalog pameran “Fantasi Tubuh” oleh I GAK Munarsih. Selain itu terdapat juga laporan penelitian oleh Tjok Istri Mas Astiti dan beberapa artikel surat kabar.

Seluruh arsip yang disumbangkan oleh Seniwati Gallery telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Seniwati Gallery yang terdiri dari 1.482 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2oMKpph


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing

Sorotan Arsip | Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?

Oleh: Melisa Angela

pasang-air-a
Kalangan atau publik seni senantiasa diharapkan menjadi pengamat sekaligus penantang gagasan pembuat karya (dan penyelenggara program residensi). Rumah Seni Cemeti setidaknya mengadakan 2-3 kali forum terbuka setiap periode residensi. Pertama untuk memperkenalkan seniman peserta, selanjutnya untuk berbagi kesan dan pesan sebelum tiap periode program selesai.
Forum reguler antara penyelenggara program residensi dengan seniman peserta adalah salah satu mekanisme agar kedua belah pihak yakin bahwa program terlaksana sesuai harapan masing-masing.

Dalam sebuah periode residensi, seorang seniman diharapkan mengalami dimensi keruangan yang berbeda dari kesehariannya di tempat asal. Ini adalah tujuan utama dari program residensi. Demikianlah sehingga di dalam program residensi meski terdapat agenda-agenda yang sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara, harapan akan hasil akhir sebuah program residensi seyogyanya dibuat sangat terbuka terhadap segala kemungkinan. Maka dari itu tak tertutup pula bila seorang seniman residensi “tidak mampu” menyelesaikan karyanya di akhir masa residensinya. Inilah yang dialami beberapa seniman residensi Rumah Seni Cemeti, salah satunya Eva Olthof, seniman residensi Pasang Air #1 asal negeri Belanda. Dalam program residensi yang berlangsung di tahun 2015 ini Eva Olthof tertarik dengan fenomena relokasi warga sekitar Gunung Merapi. Sebuah desa secara administratif dihapuskan oleh pemerintah karena menjadi lokasi bencana erupsi di tahun 1960-an. Tapi setelah direlokasi dengan cara dipaksa mengikuti program transmigrasi, para warga pada akhirnya tetap berpulangan ke tempat asalnya di lereng Merapi. Fenomena ini memicu imaji Olthof terhadap simbol-simbol kewenangan yang terhubung dengan gunung berapi pada tingkatan ilmiah, spiritual, dan politis. Selama proses studi kasus relokasi warga Merapi ini, Olthof mengumpulkan sejumlah materi yang akan membantunya menggali memori tentang kasus ini.

Tiba saat presentasi di akhir masa residensi Pasang Air #1, di ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Olthof nyatanya belum selesai mengeksekusi rencana-rencananya. Sehingga untuk berinteraksi dengan publik yang hadir di malam pembukaan Olthof melakukan bincang performatif dengan pengunjung mengenai gagasan-gagasannya. Memamerkan karya yang masih dalam proses atau dengan kata lain belum selesai tentunya dihindari oleh semua penyelenggara program residensi, dalam hal ini Rumah Seni Cemeti. Namun demikian kemungkinan ini tentu tidak terhindarkan. Sekalipun begitu, terlewatnya tenggat waktu dari agenda-agenda yang telah disusun rapi dalam sebuah residensi lantas diartikan sebuah kegagalan, kita pun tidak bisa serta-merta menganggap seniman tersebut tidak profesional, karena toh memang bukan itu yang dicari. Sekali lagi hakikat dari mengikuti sebuah program residensi adalah ‘mengalami’, dan pengalaman baru inilah yang akan membuka perspektif seniman dari hal-hal yang tidak dia lihat ataupun sadari sebelumnya di tempat asal. Proses pembaruan cara pandang ini tidak selamanya berlangsung di sepanjang periode residensi, bisa saja proses itu berlangsung setelah, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya.