Tag Archives: #sorotanarsip

“Sanggar Bambu Tidak Akan Dibubarkan, dan Akan Dipertahankan Hingga Anggota Terakhir!”: Koleksi Arsip Sanggar Bambu

Oleh: Hardiwan Prayogo

Ungkapan di atas muncul dalam surat bertanda tangan Soenarto Pr. tertanggal 9 April 1998. Dalam surat yang juga dilampirkan formulir pendaftaran anggota baru ini, adalah tindak lanjut atas pasang-surutnya eksistensi Sanggar Bambu. Soenarto Pr. dengan segala upayanya mengirim surat ini pada anggota-anggota Sanggar Bambu di berbagai daerah untuk merubah pasang-surut menjadi pasang-naik.

Sejak berdiri pada 1 April 1959, Sanggar Bambu aktif melakukan pameran keliling ke berbagai kota. Mulai dari Bogor, Pekalongan, Purwokerto, Balapulang (Tegal), Banyumas, Banjarnegara, Ngawi, Ponorogo, Mojokerto, Situbondo, Malang, Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, dan lain sebagainya. Kota-kota yang oleh publik seni ketahui bersama bukan melulu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam satu artikel tulisan Kartosudirjo, Sanggar Bambu memiliki 3 komisariat, sebagai “djiwa” (komisariat Yogyakarta), sebagai “napas” (komisariat Jakarta), dan sebagai “tubuh” (komisariat muhibah keliling). Fungsi utama dari tersebarnya komisariat ini adalah menjadikan seluruh pelosok nusantara sebagai persembahan pameran keliling, sekaligus tempat belajar, berdialog, dan bergaul. Misi ini memang implementasi dari mukadimah (ikrar) angkatan dasar Sanggar Bambu 59. Intisari dari ikrar ini juga mengungkapkan keberpihakan pada masyarakat sosialis, yang seirama dengan wacana revolusi pada masa itu.

Satu statement menarik dari artikel terbitan tahun 1964 ini adalah Sanggar Bambu menjadi bukti jika ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak mengenal seni abstrak, maka itu adalah kekeliruan. Jawa, Kalimantan, Toraja, hingga Papua, semua identik dengan corak seni abstrak. Sanggar Bambu menjadi pertemuan antara corak seni abstrak dengan realis. Dengan anggapan bahwa seni abstrak tetap berangkat dari titik tolak realitas objektif. Itu pandangan dari sisi formalis karya-karya seniman Sanggar Bambu. Mengenai pandangan politiknya, meskipun tetap menjadikan politik sebagai panglima,  Sanggar Bambu menolak disebut berafiliasi pada partai politik tertentu. Dan sikap tegasnya menolak manifesto kebudayaan (manikebu).

Ikrar ini semacam “diperbarui”, tercatat dalam dokumen tertanggal 15 Desember 1993. Ikrar pertama yang disampaikan pada 1963 dicetuskan sebagai pernyataan sikap di tengah hiruk-pikuk dan gontok-gontokan partai politik hingga lembaga kebudayaannya. Memasuki dekade 1990-an, dimana suhu, iklim, dan perjuangan politik kepartaian sangat berbeda, ikrar Sanggar Bambu diupayakan tetap aktual dengan asas kemandirian politik, kesatuan sikap budayawan, dan seniman untuk menghadapi globalisasi.

Dalam posisi politis dan situasi zaman demikian, Sanggar Bambu nyatanya masih aktif di masa orde baru. Sejauh apa pengaruhnya terhadap presentasi karya seniman-senimannya, tentu bisa diperdebatkan dan membutuhkan penelitian lebih jauh. Namun dalam beberapa liputan media, pameran lukisan Sanggar Bambu tahun 1990-an mencatat hampir seluruhnya menampilkan gaya dekoratif, surealis, dan impresionis, dengan dominasi lukisan tentang figur kuda, alam, lautan, kematian, hingga kitab suci. Di samping itu, teknik dan gaya lukisan mereka cukup matang dan berciri khas.  Pada sebuah pembukaan pameran Sanggar Bambu di Solo, Erik Purnomo mengakui bahwa di tahun 1990-an eksistensi Sanggar Bambu mengalami pasang surut, meski pada masanya pernah memiliki nama besar. Maka setiap pamerannya kini menjadi semacam ujian bagi kelompok ini. Ujian untuk bertahan atau bahkan membawa angin segar dalam kancah seni rupa yang situasi zamannya terus bergerak dinamis. Agus Dermawan T. pernah menyebutkan bahwa Sanggar Bambu berhasil menunjukkan keindonesiaan dalam bentuk dan spirit, dengan kata lain banyak menceritakan peristiwa keseharian yang merakyat.

Tim arsip IVAA pada bulan Oktober ini mendapat donasi arsip Sanggar Bambu dari keluarga seniman, Rusdi. Rusdi adalah seniman dari Solo yang merantau ke Bali untuk menapaki karir kesenimanannya. Rusdi adalah anggota Sanggar Bambu untuk komisariat muhibah keliling daerah Bali. Rusdi pernah berpameran tunggal di Bandung, dan terlibat dalam Pameran Besar Seni Lukis Ke-IV. Selain itu, ikut serta pameran bersama di Tokyo tahun 1976 dalam acara 12th The Asia Modern Art Exhibition.

Dalam perjalanannya sebagai anggota Sanggar Bambu, Rusdi juga aktif dalam kegiatan organisasi. Banyak membantu terselenggaranya berbagai pameran Sanggar Bambu, hingga bertukar kabar dengan pendiri Sanggar Bambu, Soenarto Pr. Sedangkan dalam karir kesenimanannya, Rusdi adalah seniman yang sepenuhnya menyerahkan diri pada aktivitas berkesenian. Seniman yang mencurahkan seluruh waktunya pada kepentingan seni lukis, merenungkan diri dalam rangka perkembangan kekaryaannya. Rusdi punya filosofi bahwa musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri, prinsip ini yang dibawanya dalam berkarya, bahwa lukisannya adalah pengabdian, bukan pesanan seseorang. Entah sejauh apa filosofi berkeseniannya ini berjalan bersama dengan spirit Sanggar Bambu. Tentu menarik jika pertanyaan ini dielaborasi lebih jauh melalui catatan dan koleksi arsip Rusdi yang bisa dijelajahi dengan tautan di bawah ini.

Profil Rusdi dan Sanggar Bambu

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Koleksi Arsip Lukis Kaca Rastika dan Kusdono

Oleh: Hardiwan Prayogo

Seni lukis kaca dapat mengungkapkan segi-segi kemanusiaan masyarakat kecil yang terpinggirkan. Pernyataan tersebut dikutip dari sambutan Edi Sunaryo untuk pameran Berkaca Pada Lukisan Kaca, tahun 2012 lalu di Galeri Seni ISI Yogyakarta. Dalam pameran yang mempertemukan pelukis-pelukis kaca dari seluruh Jawa dan Bali tersebut, terlibat juga dua seniman dari Gegesik, Cirebon, yaitu Rastika. Dengan teknik melukis yang rumit, dengan figur-figur yang didominasi oleh wayang, lukis kaca bagaikan hidup dalam dunia sendiri pada kancah seni rupa. Aksi-aksi kreatif seniman dalam mengeksplorasi medium kaca, membuatnya lebih dari sekedar benda fungsional. Fungsional dalam artian kaca sebagai properti rumah dan bercermin.

Hermanu dalam tulisan pengantar pameran lukis kaca Berkaca Pada Kaca tahun 2018 di Tahunmas Artroom, menyebutkan bahwa lukisan kaca yang identik dengan corak tradisional sudah marak sejak 1937 di Yogyakarta. Penelitian terhadap ini dilakukan oleh J.H. Hooykaas-Van Leeuwen Boomkamp, dengan menyambangi toko souvenir hingga pasar malam sekaten. Dia membagi gambar kaca dalam 3 tema, antara lain Wayang Purwa, Legenda Rakyat, dan gambar kaca Islami. Pelukis kaca pun biasanya merangkap profesi sebagai pembuat wayang sampai pemain gamelan.

Lukis kaca memang identik dengan tema demikian, tidak terkecuali Rastika dan Kusdono. Dua seniman ini menjadi bahan penelitian Tan Zi Hao, mahasiswa S3 Kajian Asia Tenggara, National University of Singapore. Zi Hao sedang menyelidiki penggambaran hewan-hewan mitos di Nusantara, terutamanya lambang-lambang kerajaan dan keraton di Cirebon, dari segi budaya politik dan kesejarahan simbolnya. Zi hao membaginya dalam 3 poin utama, pertama mengapa hewan-hewan tertentu dipilih dan dimuliakan oleh kerajaan, pelukis, dan pengrajin. Kedua mengapa hewan-hewan sering dijadikan metafora kekuasaan manusia. Dan ketiga apakah filosofi dibalik pemilihan epistemik makhluk setengah hewan. Kendatipun hewan-hewan mitos sering dianggap sebagai satu fragmen ‘imajinasi’, tetapi barangkali terdapat imajinasi kekuasaan penguasa. Melalui penelitian terhadap lukisan-lukisan kaca dari Cirebon, akan  coba dianalisis apa yang sedang ingin dikonstruksikan.

Sebagai salah satu bentuk pertukaran arsip, setelah mengakses arsip IVAA, Zi Hao mendonasikan arsip Kusdono dan Rastika. Terdapat 7 lukisan, dan 1 ukir kayu dari karya Rastika. Sedangkan terdapat 28 lukisan dengan tanda tangan tertulis Kusdono dan Rastika. Kusdono adalah putra keempat dari Rastika, tidak heran karakter lukisan keduanya mirip. Bedanya, jika Rastika masih menggambar wayang dengan ornamen klasik, sedangkan untuk lukisan bertanda Kusdono dan Rastika, menggabungkannya dengan gaya kaligrafi. Arsip karya kedua seniman ini dapat diakses pada tautan http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/rastika

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Arsip Poster dan Iklan Film

Oleh Hardiwan Prayoga

Tercatat bahwa pemutaran film (dulu disebut gambar idoep) pertama di nusantara ada di Surabaya. Data ini diperoleh dari pamflet iklan film tahun 1896. Poster dan iklan film, dapat digunakan untuk melihat interseksi dunia seni visual mainstream dengan budaya pop. Selain itu, sekaligus gambaran singkat mengenai perkembangan selera penonton. Poster dan iklan film terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tahun 1930an, iklan film menekankan pada jalan cerita. Bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa melayu pasar. Didominasi oleh visual yang ramai dengan teknik kolase.

Film Indonesia mengalami fase mati suri pada awal hingga pertengahan 1940an. Pada masa ini didominasi film propaganda, hingga akhirnya tahun 1948, Darah dan Doa dinyatakan sebagai film nasional pertama. Memasuki 1950an, Indonesia memasuki masa produktif film nasional hingga terjadi persaingan yang ketat dengan film impor. Selebaran iklan koran, dan majalah sangat banyak digunakan kala itu. Setelah mengalami kelesuan tahun 1960an, film nasional kembali menggeliat pada 1970an. Pada masa ini poster dan iklan film masih menggunakan corak lukisan dan fotografi sederhana. Mulai hilang tulisan panjang mengenai jalan cerita, namun lebih ditekankan pada slogan dan gambar yang sensual dan emosional.

Akhirnya kini di era pasca reformasi, merespon keterbukan teknologi dan politik, memungkinkan film diproduksi secara gerilya, bahkan hingga tingkat distribusi. Iklan film kini terpusat pada trailer, dan poster mulai beralih dari cetak ke digital dengan berbagai macam versi. Catatan mengenai dinamika poster dan iklan film dapat dilihat melalui koleksi yang disumbangkan oleh Christopher Allen Woodrich, peneliti yang berdomisili di Yogyakarta. Koleksi digitalnya dapat diakses dengan datang ke Rumah IVAA.

Checklist Arsip Poster dan Iklan Film: https://bit.ly/2sKxNBV

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SorotanArsip | Arsip Batara Lubis

Oleh: Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Ada tujuan dan keinginan tersendiri dari terselenggaranya pameran sketsa Batara Lubis di Museum Taman Tino Sidin pada periode 16 Februari hingga 2 Maret lalu. Dari kembali mengingatkan publik tentang kekaryaan Batara Lubis hingga mengenalkan sosok Batara Lubis dan karyanya kepada generasi masa kini. Dengan suksesnya pameran tersebut, Gina Lubis, putri Batara Lubis, mengakui bahwa sasaran yang sejak semula diinginkan dari terselenggaranya pameran telah tercapai. Tidak berselang lama setelah pameran terselenggara, tim arsip IVAA mengunjungi kediaman Gina Lubis (putri sulung Batara Lubis) dengan beberapa pertanyaan seputar arsip dan sosok ayahnya.

Sedikit membahas tentang penyelenggaraan pameran, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan merupakan suatu hal lain yang menarik. Hal ini dikarenakan sosok Batara Lubis dikenal akan kekhasan lukisan-lukisannya. Akan tetapi, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan tentu memiliki perhitungan tersendiri. Gina Lubis selaku inisiator pameran, mengatakan bahwa pemilihan sketsa didasari atas alasan menghindari rasa bosan publik atas Batara Lubis.

Sebagai seorang seniman, menurut Gina Lubis, ayahnya sudah sangat sadar tentang proses pengarsipan. Hal ini pula yang memudahkan keluarga untuk merawat atau mendata keberadaan karya Batara Lubis. Selain itu, kesadaran Batara Lubis tentang arsip juga tampak pada cerita yang menjelaskan bahwa seputar peristiwa 1965, Batara Lubis menyelamatkan beberapa karya milik sesama seniman yang berada di Sanggar Pelukis Rakyat, yang lalu dititipkan pada tetangga agar karya-karya tersebut tidak dihancurkan. Hal ini menunjukkan kepedulian Batara Lubis sebagai seniman yang sadar tentang arsip.

Meskipun beberapa karya Batara Lubis mengalami kerusakan, tetapi pengarsipan yang telah dilakukan membuat karya tersebut masih bisa dan mudah diakses. Dengan jumlah karya yang lebih dari 500, pengarsipan yang dilakukan keluarga tentu tidak mudah karena keterbatasan ruang simpan yang dimiliki. Ada keinginan dari keluarga untuk melakukan pengelolaan arsip-arsip Batara Lubis secara lebih baik ke depannya. Adapun keinginan lain yang ingin diwujudkan adalah perawatan terhadap karya yang tentunya memakan biaya cukup besar, serta keinginan lain keluarga Batara Lubis untuk bisa memiliki museum yang berisikan karya-karya Batara Lubis.

Dalam 2 kali kunjungan tim arsip IVAA ke rumah keluarga Batara Lubis, kami telah mendigitalisasi 866 arsip Batara Lubis yang terdiri dari sketsa, foto dokumentasi kegiatan/pameran, makalah, hingga catatan perjalanan. Selain itu juga terdigitalisasi 299 arsip pelukis rakyat berupa sketsa, foto, dan sebagainya. Untuk mengakses ini, publik diperkenankan untuk langsung mengunjungi perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#SorotanArsip | Arsip Red District Project

Oleh: Revano Septian (Peserta Magang IVAA)

Red District Project (RDP) merupakan kegiatan bersama dengan warga yang diinisisasi oleh seniman bernama Lashita Situmorang. Kegiatan yang dimaksud meliputi unsur penelitian dan pengorganisasian, berlokasi di kampung Sosrowijayan, lebih tepatnya Sosrowijayan Kulon. Setelah dua kali penyelenggaraannya, dokumentasi dari kegiatan ini sangat melimpah, mulai dari catatan administratif, foto kegiatan, hingga keseharian warga.

Keberadaan dokumentasi tentang Sosrowijayan ini memang tidak selalu disukai warga, karena banyaknya pemberitaan stereotip terhadap mereka. Dimana semata menampilkan Sosrowijayan sebagai wilayah prostitusi, dan menutup diri dari berbagai potensi dan prestasi. Padahal banyak aspek dan elemen kolaborasi warga yang hidup.

Dokumentasi dan data seputar RDP yang telah dikumpulkan oleh Lashita Situmorang saat ini telah terdata dan memungkinkan untuk dijadikan sumber data, sejauh mengetahui secara terukur kerangka dan tujuan dari penelitian ataupun proyek seni kita. Di atas itu, jika ada kebutuhan untuk meninjau dan menggunakan dokumentasi dari RDP ini, baiknya diawali dengan berkomunikasi dengan Lashita Situmorang.

Link Katalog RDP 

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#Sorotan Arsip September-Desember 2017

Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015

Oleh: Putri Alit Mranani

Pada 2016, Tim Arsip IVAA dibantu tenaga outsource Esza Parapaga dan Sujatmiko menata ulang serta mendigitalisasikan koleksi poster peristiwa seni yang tersimpan di ruang storage IVAA. Tercatat ada 2.244 poster dalam kurun 1987 – 2015 yang sudah didigitalisasi. Koleksi arsip poster ini diperoleh dari kiriman yang diterima dan dipasang pada papan pengumuman IVAA, serta beberapa poster merupakan sumbangan.

Koleksi arsip poster IVAA yang paling tua adalah poster Pameran Seni Grafis. Pameran itu diselenggarakan oleh Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI, Yogyakarta, sebagai pameran tugas akhir Suwarno pada 1987. Di tahun yang sama, terdapat poster bertajuk Forum Komunikasi Seni, yang menginfokan adanya pameran oleh Handrio, V.A. Sudiro, dan Aming Prayitno di Sasana Aji Yasa FSRD, ISI, Yogyakarta.

Tidak semua koleksi poster di IVAA tentang pameran seni rupa. Oleh sebab itu, perlu dikategorisasi sesuai peristiwanya seperti pameran, pertunjukkan, undangan residensi, konser musik, artist’s talk, festival, diskusi, presentasi, bedah buku, workshop, hibah, seminar, konferensi, pemutaran film, peluncuran buku, pembukaan galeri/studio, bazaar, sayembara, penggalangan dana, kompetisi, lowongan pekerjaan, poster band, dan propaganda.

Daftar koleksi poster tersebut dapat dilihat melalui tautan  http://bit.ly/2BsLlVY. Sementara untuk mengakses arsip poter dan koleksi lainnya, silakan membuka tautan http://bit.ly/2nc3vrV. Jadilah KawanIVAA!


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA

Penulis:  Melisa Angela

Terhitung tinggal satu bulan lagi Festival Arsip akan dimulai. Tim Program sebagai penanggungjawab utama telah berjibaku melawan waktu yang semakin terasa cepat berlalu, merapatkan barisan, melancarkan strategi, bersiasat, dan tentu saja melihat kembali koleksi dokumentasi yang menjadi materi utama festival ini. Tak ketinggalan, Tim Arsip pun menjadi salah satu pilar dalam menentukan nyawa dari Fest!Sip. Sederet topik pilihan dan rangkaian pembacaan telah ditentukan, fungsinya sebagai pisau pilah, untuk menentukan mana yang menjadi ‘penting’ untuk ditampilkan dan mana yang tidak. Keberadaan pisau pilah ini tentu tidak dapat ditawar. Bila tidak, bagaimana kami akan memilah dan memilih arsip yang akan ditampilkan dari 10 juta berkas digital yang ada dan masih terus bertambah ini?

Pada era informasi saat ini, begitu mudahnya kita menciptakan data. Saat seseorang menulis, tak perlu lagi ia khawatir salah ketik, karena tinggal hapus dan ganti saja tulisan yang salah, revisi bisa dilakukan tak perlu membuang kertas selembar pun. Untuk mengirimkan sebuah dokumen tidak perlu repot untuk pergi ke kantor pos, langsung dikirim dari smartphone di tangannya pun bisa. Undangan pameran dalam sepersekian detik sudah sampai di puluhan kotak penerimaan alamat email yang dituju; di samping itu masih pula ia berkeliaran tidak keruan hingga muncul di notifikasi dan linimasa akun sosial media kita. Belum lagi kita membicarakan undangan yang muncul di layar smartphone tanpa menunggu persetujuan pemiliknya melalui aplikasi chat messenger.

Kami memang melakukan kerja-kerja dokumentasi acara seni setiap hari. Dengan kapasitas dan jangkauan yang kami miliki, akhirnya kami memang harus memilih acara seni mana saja yang direkam. Setelah melalui tahap seleksi, dalam setahun terkumpul sedikitnya 250 rekaman acara seni. Artinya jika dirata-rata, maka dalam 3 hari Tim Dokumentasi merekam 2 acara seni. Bila satu acara seni difoto sebanyak 50 frame, dan direkam sepanjang 1 jam, maka dalam setahun terkumpul 12.500 frame foto, dan 250 jam atau 10 hari 6 jam video. Padahal pada kenyataannya, lantaran menggunakan kamera digital, jumlah frame foto dan durasi video bisa jadi lebih banyak dari hitungan kasar. Kita asumsikan hitungan tersebut hanya dalam satu tahun. Sedangkan kerja pendokumentasian yang dilakukan IVAA dengan perangkat digital sudah berjalan sejak tahun 2005. Untuk mengetahui koleksi IVAA secara kasar, tinggal kita kalikan saja hasil hitungan kasar di atas dengan jumlah tahunnya. Belum lagi jika ditambah dengan data-data yang kami peroleh dengan cara lain, yakni kontribusi. Karena sejauh ini, beberapa seniman, keluarga, penulis, peneliti atau bahkan galeri dan komunitas banyak yang menyumbangkan dokumentasinya. Dan masih ditambah lagi dengan file hasil digitalisasi berkas-berkas kertas seperti kliping, katalog lama, majalah lama, poster, kaset audio, kaset video, slide presentasi dan film negatif yang dikumpulkan sejak awal mula IVAA berdiri.

Lalu bagaimana cara mengolah timbunan dokumen itu? Yang pertama kami lakukan adalah berusaha mengelolanya. Timbunan dokumen yang tidak terkelola bisa menjadi kesulitan besar, oleh sebab itu, untuk menghindarinya maka sejak dari awal kedatangan sebuah dokumen, ia harus tercatat. Jika ada yang penasaran apa sebetulnya kerja yang dilakukan oleh seorang pengarsip, maka jawabannya adalah mencatat. Catatan yang dimaksud ialah catatan yang tersistematisasi dan memiliki konsistensi yang kita sepakati. Apabila tiba waktunya menemukan dokumen yang miskin data, maka inilah yang disebut petaka bagi pengarsip. Dibutuhkan curahan energi spesial untuk melakukan siasat pencatatan dengan semangat ‘arkeologi’, sehingga catatannya akan lebih banyak mengisi kolom deskripsi, baik mengenai penampakannya maupun kontennya (bila berupa arsip tekstual). Catatan yang dibuat oleh pengarsip inilah yang di kemudian hari memudahkan pencarian dan menjadi semacam penunjuk arah bagi peneliti maupun pengarsip sendiri yang sedang membantu peneliti.

Dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, maka IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan. Siapapun di manapun bisa membuka situs ini, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video. Bagi yang membutuhkan resolusi foto lebih besar, durasi video lebih panjang, maka mereka bisa menghubungi pengarsip, melalui prosedur tertentu. Lantas apakah artinya semua yang terkandung di situs archive.ivaa-online.org itu merupakan semua isi perut IVAA? Tentu tidak. Dengan jumlah arsip seperti yang digambarkan di atas, kerja pencatatan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat. Bila tidak percaya, bisa dibuktikan dengan cara mencoba melakukannya, kami selalu membuka lowongan pengarsip sukarelawan. Maka tak heran pengarsip IVAA lebih sering disibukkan mengumpulkan dokumen-dokumen untuk peneliti-peneliti yang menghubungi kami lantaran tak menemukan arsip yang dibutuhkan di arsip online IVAA yang disebut @rsipIVAA itu.

Pekerjaan pencatatan dan pelayanan yang begitu menyita waktu itu tidak melunturkan semangat pembacaan. Meski berbekal catatan yang belum sepenuhnya rapi dan mungkin belum cukup membantu, namun semangat membaca arsip terus kami hidupi. Salah satunya dengan menerbitkan buletin dan menggelar archive showcase sederhana setiap dua bulan sekali, dan yang paling akbar yang akan datang ini adalah serangkaian program dalam Festival Arsip dengan tajuk ‘Kuasa Ingatan’. Mengapa semangat pembacaan ini terus kami pompa? Karena tak urung kami yang berada paling dekat dengan arsip IVAA adalah yang paling paham dengan medan dan liku-likunya. Maka, apa salahnya jika kami terus hidupkan meski dengan cara yang sederhana dan jauh dari sempurna.

Meski demikian, di antara pekerjaan harian dan timbunan arsip tersebut tidak membuat kami merasa cukup. Banyaknya arsip yang kami kelola belumlah sebanding secara lengkap tentu jika berbicara dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikerjakan, masih banyak area kegelapan yang miskin dokumen, bahkan miskin mitos dan gosip dalam perjalanan seni rupa kita. Percayalah, bahwa kita tidak sendiri. Di sekitar kita masih banyak yang memiliki daya dalam membukakan jalan di area-area yang masih gelap tersebut.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Juli – Agustus 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2012 lalu, atas undangan Mary Northmore tim arsip IVAA bertandang ke Seniwati Gallery yang terletak di Jalan Sriwedari 2B, Banjar Taman, Ubud. Atas berbagai pertimbangan Mary Northmore akan menutup Seniwati Gallery. Oleh sebab itu beliau menawarkan arsipnya untuk dialihformatkan IVAA menjadi arsip digital dan disimpan.

Seniwati Gallery merupakan galeri satu-satunya di Bali yang memberi tempat untuk seniman perempuan berkarya. Mulai beroperasi pada tahun 1991, Mary Northmore menginisiasi berdirinya Seniwati Gallery yang ditujukan untuk pelatihan seni dan ruang pamer seniman perempuan yang tinggal di Bali. Sebelum pulang ke negaranya untuk beberapa waktu pada tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. 21 tahun mengelola Seniwati Gallery bukan waktu sebentar, telah banyak seniman perempuan Bali yang belajar melukis di sini hingga menjadi seniman perempuan yang mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, I GAK Murniasih salah satunya. Mendiang dulunya adalah salah satu remaja peserta pelatihan melukis Seniwati Gallery yang memiliki bakat orisinal hingga di kemudian hari karya-karyanya dikenal di kancah internasional. Setelah menutup Seniwati Gallery, Mary Northmore memutuskan energinya yang tidak sebanyak dulu akan difokuskan untuk kehidupan pribadinya sambil mengelola arsip kekaryaan milik almarhum suaminya yang merupakan seniman Indonesia dari era revolusi, Abdul Aziz. Namun demikian beberapa kegiatan yang dulunya menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Arsip Seniwati Gallery yang disumbangkan oleh Mary Northmore terdiri dari kumpulan album foto dan katalog. Arsip foto di sini merupakan foto dokumentasi pameran yang pernah mereka selenggarakan dan foto-foto karya yang dipamerkan. Beberapa foto karya seniman yang ditemui adalah karya oleh Amilia Amini, Cok Mas Astiti, Gusti Ayu Suartini, Sri Haryani, Muntiana Tedja, Ni Made Sriasih. Sedangkan katalog pameran yang menjadi arsip di Seniwati Gallery antara lain Katalog Pameran “Life Style”, Katalog “Great Painters of Indonesia” (Pameran Pelukis Besar Indonesia), Katalog pameran “Fantasi Tubuh” oleh I GAK Munarsih. Selain itu terdapat juga laporan penelitian oleh Tjok Istri Mas Astiti dan beberapa artikel surat kabar.

Seluruh arsip yang disumbangkan oleh Seniwati Gallery telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Seniwati Gallery yang terdiri dari 1.482 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2oMKpph


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing