Tag Archives: #sorotanarsip

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2012 lalu, atas undangan Mary Northmore tim arsip IVAA bertandang ke Seniwati Gallery yang terletak di Jalan Sriwedari 2B, Banjar Taman, Ubud. Atas berbagai pertimbangan Mary Northmore akan menutup Seniwati Gallery. Oleh sebab itu beliau menawarkan arsipnya untuk dialihformatkan IVAA menjadi arsip digital dan disimpan.

Seniwati Gallery merupakan galeri satu-satunya di Bali yang memberi tempat untuk seniman perempuan berkarya. Mulai beroperasi pada tahun 1991, Mary Northmore menginisiasi berdirinya Seniwati Gallery yang ditujukan untuk pelatihan seni dan ruang pamer seniman perempuan yang tinggal di Bali. Sebelum pulang ke negaranya untuk beberapa waktu pada tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. 21 tahun mengelola Seniwati Gallery bukan waktu sebentar, telah banyak seniman perempuan Bali yang belajar melukis di sini hingga menjadi seniman perempuan yang mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, I GAK Murniasih salah satunya. Mendiang dulunya adalah salah satu remaja peserta pelatihan melukis Seniwati Gallery yang memiliki bakat orisinal hingga di kemudian hari karya-karyanya dikenal di kancah internasional. Setelah menutup Seniwati Gallery, Mary Northmore memutuskan energinya yang tidak sebanyak dulu akan difokuskan untuk kehidupan pribadinya sambil mengelola arsip kekaryaan milik almarhum suaminya yang merupakan seniman Indonesia dari era revolusi, Abdul Aziz. Namun demikian beberapa kegiatan yang dulunya menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Arsip Seniwati Gallery yang disumbangkan oleh Mary Northmore terdiri dari kumpulan album foto dan katalog. Arsip foto di sini merupakan foto dokumentasi pameran yang pernah mereka selenggarakan dan foto-foto karya yang dipamerkan. Beberapa foto karya seniman yang ditemui adalah karya oleh Amilia Amini, Cok Mas Astiti, Gusti Ayu Suartini, Sri Haryani, Muntiana Tedja, Ni Made Sriasih. Sedangkan katalog pameran yang menjadi arsip di Seniwati Gallery antara lain Katalog Pameran “Life Style”, Katalog “Great Painters of Indonesia” (Pameran Pelukis Besar Indonesia), Katalog pameran “Fantasi Tubuh” oleh I GAK Munarsih. Selain itu terdapat juga laporan penelitian oleh Tjok Istri Mas Astiti dan beberapa artikel surat kabar.

Seluruh arsip yang disumbangkan oleh Seniwati Gallery telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Seniwati Gallery yang terdiri dari 1.482 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2oMKpph


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing

Sorotan Arsip | Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?

Oleh: Melisa Angela

pasang-air-a
Kalangan atau publik seni senantiasa diharapkan menjadi pengamat sekaligus penantang gagasan pembuat karya (dan penyelenggara program residensi). Rumah Seni Cemeti setidaknya mengadakan 2-3 kali forum terbuka setiap periode residensi. Pertama untuk memperkenalkan seniman peserta, selanjutnya untuk berbagi kesan dan pesan sebelum tiap periode program selesai.
Forum reguler antara penyelenggara program residensi dengan seniman peserta adalah salah satu mekanisme agar kedua belah pihak yakin bahwa program terlaksana sesuai harapan masing-masing.

Dalam sebuah periode residensi, seorang seniman diharapkan mengalami dimensi keruangan yang berbeda dari kesehariannya di tempat asal. Ini adalah tujuan utama dari program residensi. Demikianlah sehingga di dalam program residensi meski terdapat agenda-agenda yang sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara, harapan akan hasil akhir sebuah program residensi seyogyanya dibuat sangat terbuka terhadap segala kemungkinan. Maka dari itu tak tertutup pula bila seorang seniman residensi “tidak mampu” menyelesaikan karyanya di akhir masa residensinya. Inilah yang dialami beberapa seniman residensi Rumah Seni Cemeti, salah satunya Eva Olthof, seniman residensi Pasang Air #1 asal negeri Belanda. Dalam program residensi yang berlangsung di tahun 2015 ini Eva Olthof tertarik dengan fenomena relokasi warga sekitar Gunung Merapi. Sebuah desa secara administratif dihapuskan oleh pemerintah karena menjadi lokasi bencana erupsi di tahun 1960-an. Tapi setelah direlokasi dengan cara dipaksa mengikuti program transmigrasi, para warga pada akhirnya tetap berpulangan ke tempat asalnya di lereng Merapi. Fenomena ini memicu imaji Olthof terhadap simbol-simbol kewenangan yang terhubung dengan gunung berapi pada tingkatan ilmiah, spiritual, dan politis. Selama proses studi kasus relokasi warga Merapi ini, Olthof mengumpulkan sejumlah materi yang akan membantunya menggali memori tentang kasus ini.

Tiba saat presentasi di akhir masa residensi Pasang Air #1, di ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Olthof nyatanya belum selesai mengeksekusi rencana-rencananya. Sehingga untuk berinteraksi dengan publik yang hadir di malam pembukaan Olthof melakukan bincang performatif dengan pengunjung mengenai gagasan-gagasannya. Memamerkan karya yang masih dalam proses atau dengan kata lain belum selesai tentunya dihindari oleh semua penyelenggara program residensi, dalam hal ini Rumah Seni Cemeti. Namun demikian kemungkinan ini tentu tidak terhindarkan. Sekalipun begitu, terlewatnya tenggat waktu dari agenda-agenda yang telah disusun rapi dalam sebuah residensi lantas diartikan sebuah kegagalan, kita pun tidak bisa serta-merta menganggap seniman tersebut tidak profesional, karena toh memang bukan itu yang dicari. Sekali lagi hakikat dari mengikuti sebuah program residensi adalah ‘mengalami’, dan pengalaman baru inilah yang akan membuka perspektif seniman dari hal-hal yang tidak dia lihat ataupun sadari sebelumnya di tempat asal. Proses pembaruan cara pandang ini tidak selamanya berlangsung di sepanjang periode residensi, bisa saja proses itu berlangsung setelah, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya.