Tag Archives: PengantarRedaksi

BULETIN IVAA DWI BULANAN | SEPTEMBER-DESEMBER 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi September-Desember 2017

EDISI KHUSUS PASCA FESTIVAL ARSIP
“SETELAH PERAYAAN”

Salam hangat, Pembaca. Pada purnama terakhir setiap tahunnya, Jogja selalu dirubung oleh acara-acara seni budaya yang semakin lama kian beragam dan tersebar di berbagai penjuru kota. Selain acara rutin tahunan, ada juga acara rutin dua tahunan, seperti Biennale Jogja yang tahun ini menyajikan tema “Age of Hope” di perhelatan yang ke XIV. Beberapa festival film juga secara rutin hadir di penghujung tahun, seperti JAFF dan Festival Film Dokumenter.

Pun demikian dengan acara musik seperti Ngayogjazz dan Pasar Keroncong di Kotagede. Belum lagi sebaran acara seni lainnya, baik berupa pameran seni rupa maupun pertunjukan yang berlangsung di berbagai ruang seni, rumah budaya, dan galeri. Seluruh acara itu seolah menandakan bahwa Jogja bergembira menutup tahun ini, juga riang menyambut tahun selanjutnya.

Di waktu yang sama, IVAA juga cukup padat dengan berbagai kewajiban akhir tahun, baik dari sisi kewajiban organisasi maupun program. Berbagai program sedang kami kerjakan saat ini, di antaranya ialah penyusunan buku Post-event Festival Arsip (Fest!Sip) serta Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Jilid II. Kegiatan kelembagaan yang terkait dengan penguatan organisasi dan visi IVAA, juga menjadi agenda penting yang tak dapat digeser.

Di keriuhan momen itulah, kami memutuskan untuk menghadirkan buletin ke ruang baca Anda dengan edisi khusus. Beberapa rubrik yang biasanya Anda temukan, sengaja kami sembunyikan sementara waktu. Hanya sementara. Sebab di antara paralel kegiatan, kami membutuhkan jeda, sebagaimana Anda butuh piknik di sela kesibukan. Tapi sayangnya, jeda itu bukan piknik bagi kami, melainkan menjadi ruang refleksi, baik untuk kerja IVAA secara keseluruhan maupun kerja IVAA dalam Festival Arsip.

Dalam konteks Festival Arsip misalnya, kami merasa perlu untuk memposisikan keberadaan IVAA sebagai lembaga arsip seni rupa yang sedang berupaya mengevaluasi dan berbenah diri. Festival Arsip ialah satu di antara cara-cara untuk memanen berbagai komentar dan masukan dari publiknya. Dua hal itu menjadi satu dasar dari serentetan titik pijak bagi kami untuk merumuskan arah IVAA di tahun-tahun mendatang. Berbagai penilaian yang muncul pada saat penyelenggaraan Festival Arsip tentu kami hargai sebagai bentuk apresiasi.

Sebagai salah satu acara yang menawarkan konten dan berupaya kerja secara kontekstual, tim Festival Arsip berikhitar untuk menjaga agar Fest!Sip dapat mencengkeram kuat dalam ingatan publik. Harapan kami sederhana. Kami ingin Fest!Sip IVAA diingat melalui kompilasi catatan kritisnya, karena kerja kebudayaan merupakan kerja bersama, kerja kolektif. Sehingga kekurangan dan “bolong”nya suatu acara kebudayaan bisa menjadi catatan bersama, sebab kerja kebudayaan akan terus bergulir dan berlanjut secara estafet.  

Semoga kita semua selalu diberi semangat kebersamaan dalam mewujudkan kerja kebudayaan yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan dan pengetahuan. Selamat menyambut tahun yang baru, selamat membaca dan berdinamika!

Lisistrata Lusandiana
Pimpinan Redaksi


Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto

  • Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni
    Oleh: Rudi Rinaldi
  • MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia
    Dari Grand Launching Musuem Macan
    Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Fairuzul Mumtaz ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani ⚫ Kontributor: Rudy Rinaldi  ⚫ Ilustrasi Sampul dan Desain Postcard Natal – Tahun Baru: Dwi Rachmanto ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Juli-Agustus 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Juli-Agustus 2017

EDISI KHUSUS FESTIVAL ARSIP “KUASA INGATAN”

Salam hangat bagi pembaca yang budiman. Memasuki bulan Juli-Agustus 2017 merupakan momen yang genting sekaligus mendebarkan. Pertama karena Festival Arsip yang sudah dipersiapkan beberapa bulan terakhir, kini sudah mulai hitung mundur. Festival ini akan dimulai 18 September s/d 1 Oktober 2017, dan bulan September sudah di depan mata. Kedua, memasuki bulan Juli berarti harus bersiap dengan kesibukan kota Jogja yang biasanya ramai perayaan dan kegiatan, baik berupa festival, pameran dan bahkan Biennale dan segala macam persiapannya. Selain itu, tim program IVAA bersama dengan sahabat IVAA (para alumni Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa jilid I) juga sedang menggagas rencana pelaksanaan lokakarya jilid II. Selain itu tentu saja pekerjaan harian tim arsip dan penyusunan pengembangan program untuk tahun mendatang juga tidak kami lupakan.

Atas dasar pertimbangan itulah, newsletter IVAA Juli-Agustus kali ini sengaja kami susun sebagai edisi khusus. Terdapat satu rubrik yang sengaja kami hilangkan di sini, yakni rubrik Baca Arsip, yang biasanya menyajikan suatu pembacaan atas tema tertentu, mengidentifikasi data yang bisa di dapat dari Arsip IVAA, melengkapinya jika dirasa kurang kemudian menyusunnya menjadi esai utuh dengan sedikit analitis. Rubrik tersebut sengaja kami hilangkan atas pertimbangan manajemen energi dan perhatian. Namun aktivitas yang terkait dengan pemilahan data dan upaya pembacaannya tidak begitu saja kami hilangkan dari kerja-kerja harian. Dalam persiapannya, tim Festival Arsip juga menyusun beberapa desain narasi dan karya yang didukung oleh kerja pendokumentasian, inventarisasi atau bahkan penyusunan sistem basis data baru.

Selain tim Festival Arsip yang berjibaku, kesibukan dan keceriaan Rumah IVAA juga tak luput akan kami bagikan di edisi ini. Aktivitas Rumah IVAA yang lebih banyak berlangsung di bulan Juli sudah kami siapkan juga sebagai sajian. Sementara di bulan Agustus hingga September kami akan mengurangi porsi kegiatan Rumah IVAA, selain yang masih berkaitan dengan persiapan Festival Arsip dan Biennale Jogja. Karena pada penyelenggaraan Biennale Jogja ke XIV kali ini, IVAA sedikit terlibat dalam persiapannya. Tim program IVAA mengambil peran dalam penyusunan dan pelaksanaan Biennale Forum. Selebihnya, aktivitas harian IVAA yang padat di tambah dengan berbagai ragam programnya, menjadi lebih berwarna dan berenergi karena kehadiran teman-teman magang. Bahkan newsletter yang sedang berada di hadapan kita ini merupakan hasil kerja dari magang IVAA yang kami percaya menjadi redaktur pelaksana. Terima Kasih banyak Martinus Danang atas kerja kerasnya.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan gelora yang besar dalam menderivasi mimpi menjadi pekerjaan harian. Selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana, Galih Ristia

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Annisa Rachmatika, Dwi Rahmanto.

Sorotan Arsip
Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Martinus Danang Pratama Wicaksana

Agenda RumahIVAA
Oleh:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana, Era D.S.,


Tim Redaksi Buletin IVAA Juli-Agustus 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫ Penyunting: Melisa Angela ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Melisa Angela, Santosa ⚫Kontributor:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana,   Era D.S, Galih Ristia, Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫Ilustrasi Sampul: Nanda Putri  ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Mei-Juni 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Mei-Juni 2017

Senisono: Bukan Sekedar Romantisme

Pembaca yang baik, Buletin IVAA edisi Mei-Juni 2017 kali ini akan mengajak kita menelusuri berbagai hal dengan ragam nuansa. Mulai dari pemaparan kabar dari riuh rendah kota Yogyakarta selama ArtJog dan keramaian acara yang diinisiasi oleh berbagai ruang seni, hingga penelusuran ruang yang sempat berperan banyak sebagai pusat kegiatan seni, Senisono.

Penelusuran soal Senisono pada edisi ini dituangkan oleh tim peneliti IVAA dalam Rubrik Baca Arsip. Rubrik ini selalu berangkat dengan semangat ‘belajar dari masa lalu’, agar kita selalu ingat dan tidak terburu-buru untuk besar kepala karena merasa telah menciptakan hal baru. Penelusuran atas Senisono kali ini lebih ditekankan pada fungsi, nilai hingga kontroversi soal pembongkarannya dalam konteks tarik-menarik kuasa antara negara dan masyarakat. Di titik inilah penelusuran yang dilakukan tidak berhenti pada romantisme masa lalu, karena terdapat dimensi struktural yang banyak memberi pengaruh pada medan sosial seni. Membahas keberadaan Senisono tentu tidak bisa kita lepaskan dari kekuatan Malioboro sebagai rumah bagi aktivitas sosial dalam berbagai perwajahannya. Ulasan pada edisi kali ini juga didukung dengan Archive Showcase yang menampilkan berbagai peristiwa yang terjadi di jantung kota, hingga menjadi denyut kehidupan seni itu sendiri. Untuk menyaksikan Archive Showcase, silakan mengunjungi salah satu sudut Perpustakaan IVAA.

Selain itu, kita juga menyajikan berbagai kisah dari lapangan, dari hingar bingar perayaan seni rupa di sepanjang perhelatan ArtJog hingga aksi protes menolak pameran tunggal Sitok Srengenge. Kabar dari ruang kerja pengarsipan IVAA juga tak luput kami sajikan di edisi ini. Selain itu, dua arsiparis IVAA juga membagikannya dalam pelatihan yang diselenggarakan Perpustakaan ISI Surakarta, dengan fokus bahasan soal teknologi digital dan dokumentasi.

Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan IVAA yang diikuti oleh 13 peserta, dinamikanya juga sangat menarik dan memberikan energi tersendiri di Rumah IVAA. Pengetahuan yang menjadi dasar dalam mendasari kerja harian pengarsipan dan penelitian, kita bagikan dan eksplorasi bersama teman-teman baru dalam lokakarya pengarsipan dan penelitian. Esai-esai yang dihasilkan melalui proses ini juga sedang dikompilasi dan akan diterbitkan menjadi buku berjudul “Jejak”. Proses ini sekaligus menjadi awal dari serangkaian pra-kegiatan yang mendukung persiapan FestSip IVAA yang akan dilangsungkan pada tanggal 18 September hingga 1 Oktober 2017.

Selebihnya, simak terus kabar di seputar persiapan FestSip Kuasa Ingatan serta berbagai kegiatan Rumah IVAA bersama para sahabat dan kawan-kawan yang semangat dalam berkegiatan dan saling berbagi pengetahuan.

Akhir kata, selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Selamat membaca dan salam budaya!

Pemimpin Redaksi


I. Baca Arsip

Jejak Senisono
Oleh: Tiatira Saputri
Senisono: Ruang Bersama, Hak Siapa?  
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rahmanto, Martinus Danang Pratama Wicaksana, Annisa Rachmatika

Sorotan Arsip
Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Prastica Malinda

Agenda RumahIVAA
Oleh: Tiatira Saputri, Putri Ratna, Padma Kurnia, Melisa Angela

Pengumuman Kantor
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H | Eid Mubarak!

III. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Merajut Arsip Menyulam Penelitian
Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Melisa Angela, Lisistrata ⚫ Peneliti: Tiatira Saputri, Annisa Rachmatika Sari ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani, Tiatira, Melisa, Lisistrata ⚫ Kontributor: Annisa, Martinus Danang Pratama Wicaksana, Prastica Malinda, Putri Ratna Dewi Werdiningsih, Wahyu Padma Kurnia ⚫ Ilustrasi Sampul: Ipeh Nur ⚫ Desain Kartu Lebaran: Anggoro Anwar Prasherio  Tata Letak & Distribusi: Tiatira, Alit

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Maret-April 2017

Ilustrasi GIF oleh Irindhita “Ayash” Laras Putri

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Maret-April 2017

Yogyakarta dan Dinamika Ruang Perupa

Pembaca yang budiman, buletin dwi bulanan IVAA kali ini menyapa kita semua dengan beberapa ulasan serta laporan yang merekam berbagai gelaran seni rupa di sekitar kita.

Ulasan yang hadir melalui Rubrik Baca Arsip di edisi ini mengetengahkan soal dinamika ruang seni, terutama yang diinisiasi oleh para perupa. Penelusuran yang dilakukan oleh tim riset IVAA diawali dengan berbagai rasa penasaran, seperti; kaitan perkembangan ruang dan gejolak pasar (boom pasar lukisan), perluasan pasar hingga ke ruang individu, juga soal pengelolaan ruang, kebutuhan publik dan perluasan kawasan yang disebut ‘kota’. Di kisaran itulah percakapan-percakapan bergulir dengan para pemilik ruang yang secara khusus didatangi oleh tim riset. Selain hadir melalui ulasan dalam buletin ini, berbagai jejak yang menunjukkan dinamika ruang seni rupa di kota Yogyakarta ini juga dihadirkan melalui pameran sederhana yang setiap dua bulan menyertai munculnya buletin ini, yakni Archive Showcase yang digelar di salah satu pojok di RumahIVAA.

Selain ulasan, beberapa laporan dari ‘lapangan’ juga sudah kami siapkan. Kehadiran beberapa teman yang magang di IVAA beberapa minggu ini banyak menghadirkan warna dan nuansa baru, seperti yang bisa kita nikmati dalam tulisan-tulisannya. Kehadiran energi-energi baru ini ternyata juga memancing kami untuk menggulirkan sebuah program baru, Musrary (Music from the Library), sebuah ruang apresiasi sederhana yang digagas oleh Dwi Rachmanto, yang harapannya, kelak akan menjadi embrio dari gerakan pengarsipan skena musik indie di kota ini.

Sementara itu, ada kabar menarik juga dari kamar kerja pengarsipan yang selama ini dianggap senyap. Arsip dari Seniwati Gallery (Bali) yang disumbangkan oleh Mary Northmore juga kini sudah mulai bisa diakses oleh publik. Seluruh arsip tersebut telah melalui serangkaian proses, hingga kini selesai kami pindai dan daftarnya juga bisa diakses oleh publik.

Kehadiran buletin di edisi ini juga tidak akan lengkap tanpa mengabarkan dinamika persiapan Festival Arsip yang tengah kami lakukan. Program terdekatnya ialah workshop pengarsipan dan penulisan yang akan dilakukan bersama 15 teman-teman yang telah mendaftar dan lolos seleksi.

Akhir kata, selamat membaca!

Pemimpin Redaksi


I. Baca Arsip

Perupa dan Ruangnya di Jogja Setelah Boom Pasar Lukisan 2008
Oleh: Pitra Hutomo

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
⦁ Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
⦁ Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
⦁ “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
⦁ Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
⦁ Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru

Sorotan Arsip
Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Sorotan Pustaka
⦁ Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
⦁ Ace House Collective Workbook
⦁ Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Agenda RumahIVAA
⦁ Seni, Bali, dan Identitas Etnis
⦁Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008
⦁ Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Pengumuman Kantor
Program Magang Perpustakaan IVAA 2017

III. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Usaha Menjaring Pengarsip dan Penulis Muda
Oleh: Sita Magfira


Tim Redaksi Buletin IVAA Maret-April 2017

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Melisa Angela, Lisistrata Lusandiana ⚫ Riset: Pitra Hutomo, Tiatira Saputri ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani, Sukma Smita, Pitra Hutomo, Melisa Angela, Lisistrata  ⚫ Kontributor: Sita Magfira, Annisa Rachmatika, Grace Ayu, David Ganap, Wibi Palgunadi, Hertiti Titis ⚫ Ilustrasi Sampul: Irindhita ‘Ayash’ Laras Putri ⚫ Tata letak & Distribusi: Tiatira Saputri, Putri Alit Mranani Continue reading Buletin IVAA Dwi Bulanan | Maret-April 2017

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Jan-Feb 2017 | Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Januari-Februari 2017

Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Salam jumpa untuk pembaca semua. Senang rasanya bisa secara rutin menyapa pembaca sekalian melalui buletin dua bulanan ini. Di edisi pertama tahun 2017, kami telah mempersiapkan beberapa sajian untuk dibagi.

Pada edisi sebelumnya, kami melakukan observasi sederhana dan pembacaan arsip mengenai beragam praktik yang dilakukan oleh seniman, yang sering diasosiasikan sebagai praktik riset. Dengan berbekal beberapa pertanyaan dasar, kami mulai penelusuran dengan langkah yang kecil, pembacaan arsip yang harapannya akan mengantar kami pada penyelidikan dan penelusuran lanjut yang akan kami lakukan bertahap.

Kali ini, kami menyoroti fenomena yang sedikit berbeda. Perhatian tim redaksi pada edisi Januari-Februari ini kami arahkan pada kecenderungan identitas etnis yang muncul dalam aktivitas berkesenian kita. Sudah lama diketahui memang, bahwa kelompok seniman berbasis etnis atau daerah ini banyak mewarnai dinamika kesenian di Yogyakarta. Ragam pameran seni rupa yang dikemas dengan istilah yang memiliki asosiasi etnis tertentu atau dengan nama daerah juga tidak hanya satu dua kali muncul. Pertanyaannya tentu bukan pada keaslian atau kekhasan acara yang hadir ke publik. Justru pernyataan-pernyataan yang secara implisit menekankan pada keaslian tradisi ini yang kita periksa satu persatu, kita pertanyakan lagi, dengan membuka beberapa catatan dari koleksi arsip IVAA.

Banyak pembahasan yang bisa dihasilkan ketika menarik fenomena ini ke dalam beberapa bidang, namun kali ini, kami membatasi pada satu pertanyaan, sejauh mana pameran atau perhelatan seni rupa dengan identitas etnis ini juga menjadi bagian dari produksi pengetahuan?

Ulasan yang kami hadirkan disini tentu bukan merupakan jawaban tuntas, namun lebih hadir sebagai pancingan dan penjaga ingatan, yang mengawal pada berbagai tanya selanjutnya.

Selamat membaca dan salam budaya!

Lisistrata Lusandiana
Kepala Redaksi


Baca Arsip

Memeriksa Kembali Seni dan Bali, Melihat Pengetahuan yang Terbagi
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh : Himawan Kurniadi, Brigitta Engla, Tiatira Saputri, dan Hertiti Titis LW.
a. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
b. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
c. Contemporary Art from Bali 2016
d. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip Moelyono
Oleh : Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Lisistrata
a. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965
b. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia
c. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta

Agenda RumahIVAA
Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul
Oleh: Pitra Hutomo

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
Oleh : Tiatira Saputri

Pengumuman Kantor
Cerita magang di IVAA
Oleh : Alexander Bloom

Program Magang IVAA – 2017
Poster oleh: Beny Wijaya Cahya

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Nov-Des 2016 | Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

unnamed

greeting

Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

Salam jumpa kembali pembaca yang budiman. Dua bulan telah berlalu, di edisi penghujung akhir tahun ini tim redaksi telah menyiapkan beberapa sajian ringan untuk dibagikan. Pada edisi lalu, kami mengupas fenomena residensi. Sebagai istilah, barangkali istilah residensi relatif baru di telinga kita, namun sebagai aktivitas, residensi, pertukaran, mondok atau praktik bermukim sementara ini memiliki kesejarahan yang menarik. Aktivitas ini sudah lama jadi modus produksi bagi para seniman kita. Tentu dengan model dan motivasi yang beragam. Belum lagi ketika dikaitkan dengan konteks diplomasi kebudayaan nasional yang berubah dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Pada edisi kali ini kami berupaya mendekati istilah ‘riset artistik’ dan mempelajarinya pelan-pelan. Dalam rubrik baca arsip, istilah dan fenomena riset artistik ini kami dekati dengan membuka satu persatu halaman masa lalu dari praktik para seniman yang terekam. Pembacaan ini kami lakukan dalam rangka memecahkan kecurigaan kami atas keberadaan usia praktik ini. Sekilas kami melihat, bahwa dalam proses kreatif, sudah hampir pasti, seniman melakukan riset. Jika begitu mengapa penggunaan istilah ini baru marak belakangan? Kemudian, jika kita mau mundur sedikit, sepertinya juga tidak berlebihan jika kita mengembangkan tanya, riset itu kita tempatkan di mana? Apakah pada proses pengolahan karya atau penyajiannya? Posisi ‘artistik’ sendiri juga bisa kita pertanyakan lagi. Apakah subjek, metode, analisis, atau penyajiannya yang bisa dikatakan artistik? Apa yang lantas membedakan riset artistik ini dengan penelitian yang sudah dikenal, dalam sosial humaniora misalnya?

Untuk mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami mulai dari langkah yang paling sederhana. Kami kumpulkan beberapa peristiwa dan proyek seni yang menggunakan istilah riset yang muncul di sekitar kita. Hal ini kami lakukan semata untuk menangkap fenomena ini sebagai gejala. Selanjutnya, kami akan meneruskan penyelidikan. Harapannya, kita bisa ungkap bersama, masalah yang memunculkan gejala tersebut. Bisa jadi fenomena ini merupakan gejala dari dominasi ilmu sosial pada aktivitas kesenian. Bisa jadi. Meski, bagi kami, terlalu prematur untuk mengatakan demikian. Walaupun bolehlah menempatkannya sebagai hipotesa.

Selebihnya, di beberapa rubrik lainnya, kami mengabarkan berbagai kegiatan dan fragmen program yang kami selenggarakan. Kilasan peristiwa seni yang terjadi akhir-akhir ini juga kita bagikan. Selain itu, beberapa tambahan koleksi perpustakaan dan arsip IVAA yang bisa kita gunakan bersama juga dibagikan di sini. Kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada FX. Harsono dan Moelyono yang telah bersedia memberikan arsip koleksinya pada kami.

Di penghujung suatu tahun yang penuh dengan gejolak dan tidak selalu produktif membawa perubahan ini kami sepakat untuk menjaga kekhawatiran. Dengan demikian, dinamika akan tetap terjaga. Terutama ketika menyangkut pelbagai perhelatan budaya yang juga kian marak di Yogyakarta dan sekitarnya.

Akhir kata, kami hanya ingin mengucapkan selamat berdinamika bagi kita semua. Selamat Natal bagi yang merayakannya, dan selamat menyambut tahun baru 2017.

Salam budaya!

Baca Arsip

Sebuah Pengantar untuk Mendekati Fenomena Riset dalam Praktik Artistik
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Sekilas Kabar Pendokumentasian Perhelatan Seni
Oleh : Dwi Rahmanto
Wang Sinawang: Sesrawungan
Bercocok Tanah
Tanah/Impian
Biennale Sumatra Ketiga (oleh Katie Bruhn)
Simposium Khatulistiwa 2016 (oleh K. Wisnu Adi)

Sorotan Arsip
Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Rahma
– Katalog International Symposium on Art Archives 2016, – Katalog Taiwan Annual #1,
– Katalog Between Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century,
– Jurnal Skripta Volume 04/Semester 2/2016,
– Majalah GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20

Agenda RumahIVAA
Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Pengumuman Kantor
Alur Baru Layanan Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017

Buletin Daring IVAA Dwi Bulanan | Sep-Okt 2016 | Menyoal Residensi

en_banner_oct

Menyoal Residensi

Salam jumpa bagi pembaca semua. Senang bisa menyapa kembali melalui buletin dwi-bulanan kami. Di edisi September-Oktober 2016 ini tim redaksi IVAA tengah menyiapkan berbagai sajian untuk dibagikan.

Pada edisi Juli-Agustus lalu, kami menyuguhkan rangkaian analisa dan data terkait dengan sejarah kritik seni rupa di Indonesia, serta menggarisbawahi peran Sanento Yuliman di medan tersebut. Berbagai pergeseran dan patahan yang terdapat dalam sejarah kritik seni rupa Indonesia telah kami suguhkan di situ. Tak lupa kami juga sajikan ragam istilah yang berkelindan di semesta kritik seni rupa. Hal itu kami suguhkan terutama untuk mengingatkan kita akan pentingnya melihat tiap peran demi peran yang turut andil dalam dinamika kritik, di saat kita hidup di tengah zaman yang serba ambigu, merindukan kritikus sekaligus tidak tahan dengan kritik.

Di edisi ini kami mengupas istilah ‘residensi’ yang memiliki asosiasi praktik pekerja seni di luar domisilinya. Beberapa ruang seni bahkan menggunakannya untuk model-model kerja intensif antara pengelola dengan seniman atau pekerja seni lain, tanpa mengharuskan perbedaan domisili. Pelaku residensi seni hari ini telah merangkul keragaman sebutan pelaku selain seniman, misalnya peneliti dan administratur seni. Residensi seni tidak terbatas pada disiplin tertentu dan teknis penyelenggaraannya bisa sangat khas pada keinginan pengampu program. Residensi, live-in, atau mondok yang kami angkat dalam edisi ini, adalah suatu modus operandi seni kontemporer melalui undangan atau kompetisi, yang mengizinkan pekerja seni Indonesia menjalani perannya secara profesional sebagai program suatu inisiatif seni.

Dalam menghadapi ramainya residensi, baik sebagai istilah maupun aktivitas, kami menghadapinya dengan melakukan penelusuran. Penelusuran ini kami lakukan dengan pendekatan sejarah, yang kemudian dikontekstualisasikan dengan dinamika praktik residensi yang hingga kini masih subur dan semakin jauh dari surut. Dimensi pertukaran, interaksi serta pengalaman keterasingan menjadi elemen yang tidak dapat ditinggalkan dari aktivitas budaya tersebut. Dari sinilah kiranya kita bisa melihat kedekatan antara seni dengan mobilitas, yang menjadi kecenderungan manusia jaman sekarang. Harapannya, kita tidak berhenti dan berpuas diri dengan melihat dan menjadi bagian dari residensi, namun turut melancarkan kritik serta berani bertanya pada diri sendiri.

Ulasan dan hasil eksplorasi yang ada di edisi ini sebaiknya memang tidak dipandang sebagai sebuah hasil jadi, namun sebagai bagian dari proses kami dalam berdinamika dengan masyarakat dan kuasa yang berkelindan di sekitar kita, dalam konteks kesenian. Selebihnya, kita tetap perlu jujur bahwa tulisan ataupun produk tulisan semacam ini tidak dapat menggantikan tatap muka, pertemuan dan interaksi antar manusia.

Selamat membaca dan salam budaya.

Baca Arsip

Pekerja Seni Mukim Sementara: Residensi sebagai Modus Operandi Seni Visual Indonesia
Oleh: Pitra Hutomo dan Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi

Sekilas Kabar Pendokumentasian dan Hibah Arsip dari Seniman
Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip

Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka

Katalog “Seni dan Politik Posisi”
Oleh: Sukma & Lisistrata

Agenda RumahIVAA

Bedah Buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi”
oleh: Tiatira Saputri

IVAA dalam Perhelatan Buku Andalan
Oleh: Sukma Smita

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pengumuman Kantor

Kawan-kawan Pemagang IVAA
Oleh: Melisa Angela