Tag Archives: PengantarRedaksi

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Jan-Feb 2017 | Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Januari-Februari 2017

Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Salam jumpa untuk pembaca semua. Senang rasanya bisa secara rutin menyapa pembaca sekalian melalui buletin dua bulanan ini. Di edisi pertama tahun 2017, kami telah mempersiapkan beberapa sajian untuk dibagi.

Pada edisi sebelumnya, kami melakukan observasi sederhana dan pembacaan arsip mengenai beragam praktik yang dilakukan oleh seniman, yang sering diasosiasikan sebagai praktik riset. Dengan berbekal beberapa pertanyaan dasar, kami mulai penelusuran dengan langkah yang kecil, pembacaan arsip yang harapannya akan mengantar kami pada penyelidikan dan penelusuran lanjut yang akan kami lakukan bertahap.

Kali ini, kami menyoroti fenomena yang sedikit berbeda. Perhatian tim redaksi pada edisi Januari-Februari ini kami arahkan pada kecenderungan identitas etnis yang muncul dalam aktivitas berkesenian kita. Sudah lama diketahui memang, bahwa kelompok seniman berbasis etnis atau daerah ini banyak mewarnai dinamika kesenian di Yogyakarta. Ragam pameran seni rupa yang dikemas dengan istilah yang memiliki asosiasi etnis tertentu atau dengan nama daerah juga tidak hanya satu dua kali muncul. Pertanyaannya tentu bukan pada keaslian atau kekhasan acara yang hadir ke publik. Justru pernyataan-pernyataan yang secara implisit menekankan pada keaslian tradisi ini yang kita periksa satu persatu, kita pertanyakan lagi, dengan membuka beberapa catatan dari koleksi arsip IVAA.

Banyak pembahasan yang bisa dihasilkan ketika menarik fenomena ini ke dalam beberapa bidang, namun kali ini, kami membatasi pada satu pertanyaan, sejauh mana pameran atau perhelatan seni rupa dengan identitas etnis ini juga menjadi bagian dari produksi pengetahuan?

Ulasan yang kami hadirkan disini tentu bukan merupakan jawaban tuntas, namun lebih hadir sebagai pancingan dan penjaga ingatan, yang mengawal pada berbagai tanya selanjutnya.

Selamat membaca dan salam budaya!

Lisistrata Lusandiana
Kepala Redaksi


Baca Arsip

Memeriksa Kembali Seni dan Bali, Melihat Pengetahuan yang Terbagi
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh : Himawan Kurniadi, Brigitta Engla, Tiatira Saputri, dan Hertiti Titis LW.
a. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
b. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
c. Contemporary Art from Bali 2016
d. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip Moelyono
Oleh : Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Lisistrata
a. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965
b. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia
c. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta

Agenda RumahIVAA
Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul
Oleh: Pitra Hutomo

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
Oleh : Tiatira Saputri

Pengumuman Kantor
Cerita magang di IVAA
Oleh : Alexander Bloom

Program Magang IVAA – 2017
Poster oleh: Beny Wijaya Cahya

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Nov-Des 2016 | Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

unnamed

greeting

Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

Salam jumpa kembali pembaca yang budiman. Dua bulan telah berlalu, di edisi penghujung akhir tahun ini tim redaksi telah menyiapkan beberapa sajian ringan untuk dibagikan. Pada edisi lalu, kami mengupas fenomena residensi. Sebagai istilah, barangkali istilah residensi relatif baru di telinga kita, namun sebagai aktivitas, residensi, pertukaran, mondok atau praktik bermukim sementara ini memiliki kesejarahan yang menarik. Aktivitas ini sudah lama jadi modus produksi bagi para seniman kita. Tentu dengan model dan motivasi yang beragam. Belum lagi ketika dikaitkan dengan konteks diplomasi kebudayaan nasional yang berubah dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Pada edisi kali ini kami berupaya mendekati istilah ‘riset artistik’ dan mempelajarinya pelan-pelan. Dalam rubrik baca arsip, istilah dan fenomena riset artistik ini kami dekati dengan membuka satu persatu halaman masa lalu dari praktik para seniman yang terekam. Pembacaan ini kami lakukan dalam rangka memecahkan kecurigaan kami atas keberadaan usia praktik ini. Sekilas kami melihat, bahwa dalam proses kreatif, sudah hampir pasti, seniman melakukan riset. Jika begitu mengapa penggunaan istilah ini baru marak belakangan? Kemudian, jika kita mau mundur sedikit, sepertinya juga tidak berlebihan jika kita mengembangkan tanya, riset itu kita tempatkan di mana? Apakah pada proses pengolahan karya atau penyajiannya? Posisi ‘artistik’ sendiri juga bisa kita pertanyakan lagi. Apakah subjek, metode, analisis, atau penyajiannya yang bisa dikatakan artistik? Apa yang lantas membedakan riset artistik ini dengan penelitian yang sudah dikenal, dalam sosial humaniora misalnya?

Untuk mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami mulai dari langkah yang paling sederhana. Kami kumpulkan beberapa peristiwa dan proyek seni yang menggunakan istilah riset yang muncul di sekitar kita. Hal ini kami lakukan semata untuk menangkap fenomena ini sebagai gejala. Selanjutnya, kami akan meneruskan penyelidikan. Harapannya, kita bisa ungkap bersama, masalah yang memunculkan gejala tersebut. Bisa jadi fenomena ini merupakan gejala dari dominasi ilmu sosial pada aktivitas kesenian. Bisa jadi. Meski, bagi kami, terlalu prematur untuk mengatakan demikian. Walaupun bolehlah menempatkannya sebagai hipotesa.

Selebihnya, di beberapa rubrik lainnya, kami mengabarkan berbagai kegiatan dan fragmen program yang kami selenggarakan. Kilasan peristiwa seni yang terjadi akhir-akhir ini juga kita bagikan. Selain itu, beberapa tambahan koleksi perpustakaan dan arsip IVAA yang bisa kita gunakan bersama juga dibagikan di sini. Kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada FX. Harsono dan Moelyono yang telah bersedia memberikan arsip koleksinya pada kami.

Di penghujung suatu tahun yang penuh dengan gejolak dan tidak selalu produktif membawa perubahan ini kami sepakat untuk menjaga kekhawatiran. Dengan demikian, dinamika akan tetap terjaga. Terutama ketika menyangkut pelbagai perhelatan budaya yang juga kian marak di Yogyakarta dan sekitarnya.

Akhir kata, kami hanya ingin mengucapkan selamat berdinamika bagi kita semua. Selamat Natal bagi yang merayakannya, dan selamat menyambut tahun baru 2017.

Salam budaya!

Baca Arsip

Sebuah Pengantar untuk Mendekati Fenomena Riset dalam Praktik Artistik
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Sekilas Kabar Pendokumentasian Perhelatan Seni
Oleh : Dwi Rahmanto
Wang Sinawang: Sesrawungan
Bercocok Tanah
Tanah/Impian
Biennale Sumatra Ketiga (oleh Katie Bruhn)
Simposium Khatulistiwa 2016 (oleh K. Wisnu Adi)

Sorotan Arsip
Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Rahma
– Katalog International Symposium on Art Archives 2016, – Katalog Taiwan Annual #1,
– Katalog Between Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century,
– Jurnal Skripta Volume 04/Semester 2/2016,
– Majalah GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20

Agenda RumahIVAA
Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Pengumuman Kantor
Alur Baru Layanan Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017

Buletin Daring IVAA Dwi Bulanan | Sep-Okt 2016 | Menyoal Residensi

en_banner_oct

Menyoal Residensi

Salam jumpa bagi pembaca semua. Senang bisa menyapa kembali melalui buletin dwi-bulanan kami. Di edisi September-Oktober 2016 ini tim redaksi IVAA tengah menyiapkan berbagai sajian untuk dibagikan.

Pada edisi Juli-Agustus lalu, kami menyuguhkan rangkaian analisa dan data terkait dengan sejarah kritik seni rupa di Indonesia, serta menggarisbawahi peran Sanento Yuliman di medan tersebut. Berbagai pergeseran dan patahan yang terdapat dalam sejarah kritik seni rupa Indonesia telah kami suguhkan di situ. Tak lupa kami juga sajikan ragam istilah yang berkelindan di semesta kritik seni rupa. Hal itu kami suguhkan terutama untuk mengingatkan kita akan pentingnya melihat tiap peran demi peran yang turut andil dalam dinamika kritik, di saat kita hidup di tengah zaman yang serba ambigu, merindukan kritikus sekaligus tidak tahan dengan kritik.

Di edisi ini kami mengupas istilah ‘residensi’ yang memiliki asosiasi praktik pekerja seni di luar domisilinya. Beberapa ruang seni bahkan menggunakannya untuk model-model kerja intensif antara pengelola dengan seniman atau pekerja seni lain, tanpa mengharuskan perbedaan domisili. Pelaku residensi seni hari ini telah merangkul keragaman sebutan pelaku selain seniman, misalnya peneliti dan administratur seni. Residensi seni tidak terbatas pada disiplin tertentu dan teknis penyelenggaraannya bisa sangat khas pada keinginan pengampu program. Residensi, live-in, atau mondok yang kami angkat dalam edisi ini, adalah suatu modus operandi seni kontemporer melalui undangan atau kompetisi, yang mengizinkan pekerja seni Indonesia menjalani perannya secara profesional sebagai program suatu inisiatif seni.

Dalam menghadapi ramainya residensi, baik sebagai istilah maupun aktivitas, kami menghadapinya dengan melakukan penelusuran. Penelusuran ini kami lakukan dengan pendekatan sejarah, yang kemudian dikontekstualisasikan dengan dinamika praktik residensi yang hingga kini masih subur dan semakin jauh dari surut. Dimensi pertukaran, interaksi serta pengalaman keterasingan menjadi elemen yang tidak dapat ditinggalkan dari aktivitas budaya tersebut. Dari sinilah kiranya kita bisa melihat kedekatan antara seni dengan mobilitas, yang menjadi kecenderungan manusia jaman sekarang. Harapannya, kita tidak berhenti dan berpuas diri dengan melihat dan menjadi bagian dari residensi, namun turut melancarkan kritik serta berani bertanya pada diri sendiri.

Ulasan dan hasil eksplorasi yang ada di edisi ini sebaiknya memang tidak dipandang sebagai sebuah hasil jadi, namun sebagai bagian dari proses kami dalam berdinamika dengan masyarakat dan kuasa yang berkelindan di sekitar kita, dalam konteks kesenian. Selebihnya, kita tetap perlu jujur bahwa tulisan ataupun produk tulisan semacam ini tidak dapat menggantikan tatap muka, pertemuan dan interaksi antar manusia.

Selamat membaca dan salam budaya.

Baca Arsip

Pekerja Seni Mukim Sementara: Residensi sebagai Modus Operandi Seni Visual Indonesia
Oleh: Pitra Hutomo dan Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi

Sekilas Kabar Pendokumentasian dan Hibah Arsip dari Seniman
Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip

Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka

Katalog “Seni dan Politik Posisi”
Oleh: Sukma & Lisistrata

Agenda RumahIVAA

Bedah Buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi”
oleh: Tiatira Saputri

IVAA dalam Perhelatan Buku Andalan
Oleh: Sukma Smita

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pengumuman Kantor

Kawan-kawan Pemagang IVAA
Oleh: Melisa Angela