Tag Archives: musrary

Musrary #11 Stickman

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Musrary sebagai agenda bulanan Rumah IVAA kembali hadir untuk menyajikan penampilan dan membuka ruang interaktif antara musisi dan pendengarnya. Musrary #11 berlangsung pada hari Kamis, 25 April 2018 pukul 19.00-selesai. Menampilkan live session dari band asal Yogyakarta, Stickman. Mereka tampil di Rumah IVAA setelah merilis album pertamanya Lawan Diri, pada bulan Februari lalu dibawah label Otakotor Record. Stickman terdiri dari Kiat Istiqomah (lead vocal & bass), Muhammad Rifqi Rihza Rahman (gitar & backing vocal), Satya Chandra (gitar), Riska Nopitawati (backing vocal) dan Aditya Nugraha Surya Saputra (drum). Format dari kelima personil ini awalnya adalah trio yang sudah beberapa tahun dipertahankan. Nama “Stickman” diperoleh dari ketiga pendiri band ini yang kesemuanya adalah drummer. Trio drummer ini berinisiatif untuk membentuk satu grup musik. Kini, ketiganya justru tidak memainkan drum, beralih ke instrumen lain.

 

Seiring berjalan nya waktu, mereka bertemu dengan kawan-kawan dari satu lingkup yang turut membantu dalam proses eksplorasi musik Stickman. Kemudian menciptakan format yang lebih luas dengan bertambahnya personil. Dipertemukan dalam satu organisasi musik kampus, Riska hadir menjadi bagian dari para mantan drummer ini. Kehadiran Riska sebagai backing vocal perempuan, menambah daya tarik tersendiri bagi Stickman. Suara vokal yang dibawakan memiliki warna dan ciri tersendiri yang merupakan sinkronisasi dari lead dan backing vocal. Mereka mengklaim sebagai band yang beraliran indiepop, namun tidak memberi batasan pada pendengar nya untuk menafsirkan sendiri jenis musik apa yang mereka mainkan. Stickman mengusung lirik-lirik yang religius, magis dan puitis yang dikemas secara apik. Sudut pandang mereka mengutarakan tentang pesan dan perjalanan hidup yang direpresentasikan melalui setiap lagu dalam album Lawan Diri

Penampilan di gelaran Musrary #11 merupakan kali pertama bagi Stickman berformat akustik. Malam itu tidak semua personil hadir dan diganti dengan additional player. Lagu yang mereka bawakan diambil dari album pertama yang baru dirilis, berisikan tujuh buah lagu. Seperti yang berjudul “Iyakan Yang Tidak dan Sebaliknya”. Lagu ini sangat unik karena lirik nya yang repetitif dan durasi lagu yang singkat namun sarat akan makna. Kemudian lagu “Lawan Diri” yang diambil dari album perdana nya dengan judul yang sama. “Kembalikan Indonesia” dibawakan pula oleh mereka. Lagu ini adalah single pertama dari Stickman yang dirilis pada 2014, dan menjadi bagian dari album kompilasi Mabes Musik UAD. Lagu ini sebenarnya diciptakan tahun 2013, terinspirasi dari puisi sastrawan Taufik Ismail yang berjudul Kembalikan Indonesia Kepadaku.

Setelah “Kembalikan Indonesia”, mereka merilis lagu berjudul “A.T.N.I.C” pada tahun 2017, yang juga dibawakan pada malam itu. Lagu ini bahkan sudah memiliki video music, dan dapat disaksikan di kanal YouTube Otakotor Record. Dalam video musicnya, “A.T.N.I.C” menampilkan performing art hasil arahan Vikri Ihsan Rohmadi. “A.T.N.I.C” sendiri merupakan kebalikan dari kata C.I.N.T.A.. Lagu yang diciptakan Kiat, sang vokalis, berceritakan tentang hubungan dengan sang pencipta dan sesama manusia. Cinta yang dimaksudkan disini bermakna secara universal. Kiat mempersilahkan pendengar nya untuk memaknai sendiri tentang lagu ini. Stickman akan terus berkarya, meskipun pasti ada rintangan yang menghadang ditengah karir bermusik nya. Setidaknya, karya yang pernah dihasilkan Stickman merupakan artefak dari perjalanan hidup.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Musrary #10 Sombanusa

Oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sombanusa ialah nama panggung dari pria bernama asli Muhammad Asy’ari. Pria kelahiran Ambon ini menggunakan bahasa Tana, bahasa asli daerah-daerah Maluku, untuk menamai proyeknya ini. Sombanusa sendiri terdiri atas dua kata yaitu, Somba yang berarti ‘menyembah atau berbakti’ serta Nusa yang memiliki arti ‘pulau atau tanah’. Bimbim, panggilan Muhammad Asy’ari, lantas berpendapat bahwa Sombanusa dapat diartikan sebagai ‘berbakti pada tanah yang kita tinggali’. Sempat memiliki sebuah band di periode 2017 dengan nama Asteroidea, bahkan membuat grup hiphop di tahun 2009. Bimbim kini lebih memantapkan diri untuk bermusik seorang diri agar tak perlu lagi menemui permasalahan-permasalahan internal dalam sebuah kelompok.

Malam itu, Kamis, 29 Maret 2018, Sombanusa bekesempatan hadir mengisi Musrary #10. Membawakan lima lagu dalam penampilannya, Sombanusa juga menyuarakan pandangannya terkait isu hangat yang sedang terjadi di Kulonprogo. Sebagai salah satu aktivis yang ikut terlibat membela petani Temon, Sombanusa cukup sering terlibat dalam beberapa kegiatan yang menyangkut isu penggusuran Kulonprogo. Hal ini pula yang menginspirasi salah satu karya Sombanusa yang berjudul “Gadis dan Telaga”.

Dengan berdiri memegang gitar akustik serta diterangi cahaya lampu, Sombanusa memulai penampilan sederhananya dengan lagu bertajuk “Menyulam Renjana”. Judul yang cukup romantis meskipun tidak demikian dengan alasan di baliknya. Lagu ini tercipta atas keresahan Sombanusa pada sikap pemuda-pemudi yang melupakan diri untuk peduli pada hal yang terjadi di sekitarnya. Di masa kini, masa yang menurut Sombanusa tidak baik-baik saja, orang-orang lebih memilih untuk bersenang-senang memuaskan eksistensi diri daripada peduli tentang hal-hal yang tidak benar.

Selanjutnya, “Hikayat Nelayan” lantas lalu dimainkan. Sebuah lagu yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Sombanusa. Sebagai seorang yang besar di Pulau Buru, Sombanusa merasakan terdapat pergeseran kebudayaan di sana. Keresahan atas sikap yang mulai melupakan kegiatan yang bersifat adat membuat Sombanusa menciptakan lagu “Hikayat Nelayan” dengan harapan memunculkan instropeksi atas sikap yang telah dipilih. Dimainkan secara apik dengan ciri khas suaranya, Sombanusa kemudian memainkan lagu ciptaan rekannya.

Sebelum penampilannya ditutup dengan lagu “Bahagia Melawan Lupa”, “Gadis dan Telaga” dimainkan terlebih dahulu. Dengan semangat perlawanan atas isu penggusuran yang terjadi, Sombanusa menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi oleh peristiwa di Kulonprogo. Berisikan narasi tentang cinta yang memiliki makna sangat dekat dengan perdamaian, lagu ini memiliki lirik yang sangat tegas menginginkan perdamaian itu dengan frasa “perlawanan abadi” yang berulang.

Sombanusa ialah sebuah kesatuan utuh tentang perlawanan yang menginginkan perdamaian bagi yang tertindas. Di luar itu, pada Musrary ini pula, selain penampilan musik yang dibawakan dengan sederhana nan intim oleh Sombanusa, diselingi pula dengan sedikit dialog terkait isu yang terjadi di Kulonprogo dari beberapa aktivis yang terlibat. Akhir yang adil tentu yang diharapkan atas peristiwa ini. Mengutip kalimat yang sering dibaca dalam media sosial Sombanusa, “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

 

Musrary #7 Agoni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Nama Agoni diambil dari kata dasar Agonia yang merujuk pada salah satu tulisan St. Sunardi berjudul “Suara Sang Kala di Tepi Sungai Gajahwong” dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi. Kata Agoni dipilih sebagai representasi dari lagu-lagu mereka. Awalnya ada beberapa rekomendasi dari pemilihan nama, akhirnya dipilih nama Agoni, karena yang dibicarakan banyak mengenai persoalan tentang makna dari kata itu. Diambil dari tiga fase berkesenian; agonia, ekstase, dan joy. Agonia adalah kondisi di mana saat sedang sangat gelisah dan ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa. Fase kedua, Ekstase berarti fase di mana si seniman mencurahkan keresahannya lewat media seni. Sedangkan joy adalah satu fase saat sudah selesai membahasakan soal kegelisahan itu.

Mereka merasakan lagu yang lahir dari Agoni itu berasal dari keresahan yang awalnya sulit dibicarakan. Dengan membicarakannya lewat lagu, diharapkan dapat mencapai fase ekstase dan joy. Pendengar diajak untuk merasakan pengalaman yang sama dengan musisi. Akhirnya dipilih fase yang pertama, karena orang cenderung berambisi mencapai joy tanpa melewati fase ekstase dan agoni. Fase agoni cukup penting karena tidak banyak dibicarakan dalam konteks masa sekarang.

Band ini digawangi oleh muda-mudi asal Yogyakarta yakni Fafa (vokal & gitar), Erda (bass), dan Dimas (drum). Agoni dipilih oleh IVAA bukan hanya karena relasi pertemanan saja, melainkan juga ide-ide lewat lagunya yang menarik untuk masyarakat dengar. Lagu-lagu Agoni adalah jelmaan dari perjalanan hidup yang peristiwanya tidak mudah diceritakan. Sejak 2010, Erda dan Fafa hanya sekadar band-band-an, tidak pernah terbayangkan untuk terus ditekuni. Ternyata, Fafa sudah berbakat dalam menulis sejak masih duduk dibagku SMP, dan kemudian mencoba merangkai lirik lebih mendalam. Pada awalnya, Agoni hanya terdiri dua orang, dalam perjalanannya, perlu materi yang lebih lengkap dengan kehadiran drummer. Untuk Musary #7 ini, diajak pula Dicky dan Adam sebagai additional player. Mereka justru menemukan keasyikan dengan berganti-ganti additional player, sebab memiliki warna musik yang beragam.

Musrary #7 merupakan kali pertama IVAA terlibat dalam sebuah acara peluncuran album musik. Berlangsung di Rumah IVAA, Sabtu, 9 Desember 2017. Pertunjukan musik bertajuk Mencari Matahari dilaksanakan dalam launching mini album berjudul Merajut Badai dari Agoni. Sama dengan event-event Musrary yang telah terselenggara sebelumnya, penonton disuguhkan penampilan musik dengan suasana yang intim. Penonton bisa berinteraksi langsung dengan sang musisi.

Malam minggu syahdu penonton disuguhkan 7 lagu dari mini album Merajut Badai, dan satu lagu yang akan ada dalam album full album perdana mereka. Penampilan pertama dibuka dengan “Aku Harap Laguku” yang menyejukan. Lagu kedua adalah “Jantung Kota” yang bercerita tentang keresahan pada kota sendiri. Lagu ini didedikasikan warga Temon, Kulonprogo, masyarakat terdampak proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport. Selain perform, juga dijual beberapa merchandise yang keuntungannya disumbangkan pada petani-petani di Kulonprogo yang sedang berjuang mempertahankan hak hidup bersama “Jogja Darurat Agraria”. Lagu berikutnya berjudul “Jurnalis Palsu”, mewakili Fafa dan Erda yang pada saat kuliah aktif dalam pers mahasiswa. Lagu ini terilhami dari pengalaman saat melakukan liputan dan intens bergulat dengan isu-isu yang diangkat.

Musik dipilih sebagai ruang aktualisasi. Menurut Erda, dengan bermusik, ia merasakan apa yang dinamakan katarsis, dan membutuhkannya dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan karir bermusiknya, mereka sempat “merasa kecil” karena pernah tampil di depan orang-orang yang mereka lawan. Mereka pun pernah mendapat persekusi dari ormas tertentu. Penampilan Sabtu malam itu ditutup dengan lagu “Merajut Badai” yang berkolaborasi dengan Danto (Sisir Tanah), Gonjes (KePAL SPI/ Keluarga Seni Pinggiran Anti-Kapitalisasi Serikat Pengamen Indonesia), Fitri (Dendang Kampungan). Sudah hampir tiga tahun Agoni konsisten mengangkat tema tentang kehidupan manusia, baik dalam masa kegelisahan maupun suka cita. Momentum ini sekaligus dijadikan sebagai penutupan simbolis pada proses penggarapan panjang mini album Merajut Badai.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #9 Rio Satrio

Oleh: Dwi Rahmanto

Rio Satrio, sejujurnya nama ini masih asing di kancah musik Jogja. Tetapi setelah mendengarkan karyanya, saya yakin musisi ini layak diapresiasi lebih. Dikenal dengan nama panggung Rio Satrio, singer-songwriter asal Samarinda kelahiran 21 Januari 1994 ini bernama asli Muhammad Janwar Rien Satrio. Memulai karir bermusik di usia muda dengan bergabung di berbagai band bermacam aliran. Rio akhirnya menemukan jalur terbaiknya dengan bersolo karir.

Malam 19 Februari 2018 lalu menjadi spesial bagi Musrary #9 dengan kehadiran Rio Satrio. Kali kedua berkunjung ke Yogyakarta sekaligus melakukan mini tour dan mini konser di sejumlah gigs Jogja. Berpakaian serba hitam, dan konser mini dimulai dengan cerita dongeng tentang pengembara dan hujan, juga sosok pria tua dan gubug yang sangat jelek. Dalam kisahnya pengembara dan pria tua saling bertanya setelah melihat hujan sangat lebat, dalam gubug tidak layak huni itu si pengembara melihat si pria tua sangat bahagia dan berteriak. Pria tua sepakat bahwa hujan membawa keberuntungan bagi tanah kita, dan gubug yang hancur bisa dibuat lagi hingga ratusan kali.

Rio Satrio telah merilis sebuah album berjudul Cerita Daun dan Bumi, single dengan judul yang sama menjadi andalan album pertamanya ini. Sisanya berisi 8 single yang menarik untuk didengarkan. Rio membawakan musik folk yang sederhana namun kaya nada. Lirik lagu yang diciptakan biasanya bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, persoalan dan pelajaran hidup, serta kecintaan pada alam. Di akhir mini konsernya, Rio ditantang untuk membuat lagu secara spontan tentang apapun, khususnya yang dia temukan di Rumah IVAA. Lagu dadakan tentang IVAA menjadi penutup meriah dan semakin mencairkan suasana, dibalas dengan tepuk-tangan panjang dan bahagia hadirin Musrary kali ini.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.