Tag Archives: ivaa

Pengumuman: Kantor IVAA Tutup 1-4 September 2015

Salam KawanIVAA!

Kami mengumumkan bahwa Layanan Perpustakaan dan Arsip IVAA akan tutup selama 4 (empat) hari terhitung mulai 1 s.d. 4 September 2015 (Selasa-Jumat), dikarenakan kami menyelenggarakan pertemuan internal pada hari-hari tersebut.

Bagi kawan-kawan yang butuh mengakses koleksi perpustakaan ataupun ingin mengakses arsip secara langsung di RumahIVAA pada hari-hari tersebut, kami mohon maaf sebesar-besarnya.

IVAA akan kembali beroperasional seperti biasa mulai Senin, 7 September 2015.  IVAA buka setiap Senin-Jumat, mulai pukul 09.00-17.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional/ keagamaan.

Tabik,
IVAA

Proyek Menghidupkan Arsip IVAA di Lima Kota: “Menanam Arsip Pada Tanah”

Menanam Arsip Pada Tanah

#Proyek Menghidupkan Arsip IVAA di lima kota

Pekerjaan arsip dan pengarsipan – merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Selalu ada kemungkinan hal baru ditemukan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Selalu ada kemungkinan hal baru tersebut juga didokumentasikan baik pada peristiwa yang terjadi di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Kemungkinan tak terbatas dari masalah arsip dan kerja pengarsipan ini – mau tidak mau – harus “dibatasi” dengan dasar-dasar konsep dan metodologi yang jelas. Konsep dan metodologi sendiri tidak pernah fiks. Konsep dan metodologi diperlukan sebagai landasan untuk pengambilan posisi. Posisi tersebut (harusnya) lahir dari keterlibatan secara intens dalam gerak hidup bermasyarakat secara terus-menerus: untuk semakin jelas dengan setiap problem yang dihadapi, lalu mengambil posisi diri di setiap problem sosial di dalam konteks atau zaman-nya. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya, memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga kemudian menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Putaran I:

Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015
Klik di sini untuk melihat poster acara di Kota Malang.

Putaran II: Kota Lombok

Putaran III: Kota Padang

Putaran IV: (…)

Putaran V: (…)