Tag Archives: hotel

Nonton Bareng Film “Belakang Hotel” – Kampung Miliran, Jogjakarta

Nonton Bareng Film “Belakang Hotel”

Kampung Miliran

13 Januari 2015

 

Masih dalam rangkaian kegiatan Warga Berdaya untuk membangun pemahaman kritis warga kampung di Jogja terhadap tata kelola ruang dan lingkungan, Warga Berdaya juga mengadakan pemutaran film dokumenter “Belakang Hotel” di Kampung Miliran. Kampung Miliran adalah salah satu kampung yang terkena dampak kekeringan setelah dibangun dua hotel pada kurun waktu 2 tahun ini. Pemutaran ini diikuti oleh warga dari beberapa RT di kampung tersebut.

“Belakang Hotel” adalah film garapan Watchdog yang mengangkat cerita dampak kekeringan di tiga kampung di kota Jogjakarta setelah dibangun beberapa hotel dan bangunan lain. Film berdurasi 40 menit ini menjadi salah satu bentuk konkrit dari respon warga yang sebelumnya merebak dalam bentuk isu “Jogja Asat”.

Dalam pemutaran ini, komunitas Warga Berdaya juga sempat memberikan penjelasan, serta melakukan survey terhadap warga. Survey ini untuk mengetahui bagaimana warga merespon aksi Warga Berdaya dalam mengusahakan tata kelola ruang kota yang lebih baik, juga untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan warga terhadap isu lingkungan di sekitar mereka sendiri.

—————
Blog: https://wargaberdaya.wordpress.com

Twitter: @wargaberdaya

FB: Kota untuk Manusia Youtube: Warga Berdaya

e-mail: wargaberdaya[at]gmail.com
—————

Video koleksi
Indonesian Visual Art Archive
editor Dwi Rahmanto
www.ivaa-online.org
2015

 

 

Melihat Yogyakarta lewat Belakang Hotel – Pemutaran & Diskusi di PKKH UGM

Pemutaran Film “Belakang Hotel” (Watchdoc, 2014); durasi 40 menit
Talkshow tentang kasus “Jogja Asat”

Hari, tanggal : Rabu, 14 Januari 2015
Pukul : 19.00 – 21.30
Tempat : Gedung Pameran Lantai 1
Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (eks. Purna Budaya)
Universitas Gadjah Mada

Pemutaran dan diskusi film “Belakang Hotel” ini adalah rangkaian seri kegiatan komunitas Warga Berdaya yang termasuk dalam kerangka besar isu “Jogja Asat”. Film dokumenter berdurasi 40 menit yang diproduksi secara gotong royong oleh Watchdoc ini memperlihatkan bagaimana dampak kekeringan air yang menimpa sumur warga di kampung Miliran, Gowongan dan Penumping. Ketiga kampung ada di sekitar hotel yang dibangun 1-2 tahun lalu.

Dalam acara ini, juga diadakan diskusi tentang isu “Jogja Asat” yang menghadirkan beberapa narasumber. Salah satunya adalah Dodok, ketua komunitas Warga Berdaya yang dengan sembari berkelakar membahas dengan serius masalah ini. Ratusan penonton hadir memenuhi ruang pemutaran. Diskusipun berlangsung dua arah. Pemutaran film “Belakang Hotel” ini bisa dianggap sebagai salah satu puncak dari memanasnya isu “Jogja Asat” sebagai respon warga terhadap buruknya pengelolaan tata ruang dan sumber daya publik di Jogjakarta.

Film inipun akan diputar diberbagai tempat untuk mengumpulkan dukungan warga terhadap aksi Warga Berdaya selanjutnya. Juga untuk membangun pemahaman kritis warga kampung-kampung di Jogja terhadap pengelolaan tata ruang dan lingkungan di kota mereka.

Seluruh acara yang diselenggarakan Warga Berdaya terbuka untuk diikuti dan didukung oleh semua pihak yang mendukung prinsip dan praktik pembangunan yang lestari dan berkeadilan. Mari, dukung dan bergabung dalam gerakan Warga Berdaya Yogyakarta!

—————
Blog: https://wargaberdaya.wordpress.com

Twitter: @wargaberdaya

FB: Kota untuk Manusia Youtube: Warga Berdaya

e-mail: wargaberdaya[at]gmail.com
—————
Acara ini diselenggarakan oleh warga Yogyakarta secara gotong royong, dengan dukungan dari berbagai pihak:

Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (PKKH UGM)
Kedai Kebun Forum
Yayasan Kampung Halaman
WALHI Yogyakarta
Arsitek Komunitas Jogja
Combine Resource Institution
IVAA
UPC
Jerami
MDMC PP Muhammadiyah
Pemuda Tata Ruang (Petarung)
BEM Fakultas Geografi UGM
serta para relawan; warga, mahasiwa, dll
—————
Video koleksi
Indonesian Visual Art Archive
editor Dwi Rahmanto
www.ivaa-online.org
2015

POGENG – Komunitas Sego Gurih

POGENG
Komunitas Sego Gurih
2 Mei 2015 jam 20.00
di Dusun Prancak Dukuh Panggungharjo Sewon Bantul

Dalam bahasa walikan khas prokem Jogja, “Pogeng” berarti Hotel. Lakon “Pogeng” yang dipentaskan Komunitas Sego Gurih ini juga menyoroti tentang masalah diseputar pembangunan hotel. Dalam pementasan yang dilakukan di Dusun Prancak Panggungharjo, Sewon, Bantul ini, Komunitas Sego Gurih bercerita tentang kecemasankolektif warga kampung Magersari (sistem sewa dengan boleh menumpang untuk bangunan di Jawa). “Pogeng” juga menyoroti berbagai persoalan tentang krisis air yang menjadi salah satu sumber daya pokok kehidupan manusia dan bagaimana air sebagai simbol interaksi sosial tidak lagi dipandang sebagai unsur vital.

Pentas ini sendiri diadakan sebagai bentuk dukungan gerakan komunitas Warga Berdaya, sebuah gerakan mengkritisi bentuk perubahan kota. Lakon garapan Wage Daksinarga dan Elyandra Widharta ini juga masih dalam kerangka besar isu “Jogja Asat” yang selama ini jadi salah satu fokus utama gerakan Warga Berdaya. “Jogja Asat” sendiri adalah isu yang muncul untuk merespon dampak kekeringan yang dialami beberapa kampung di Jogjakarta karena pembangunan hotel dan bangunan komersil lain.

Komunitas Sego Gurih sendiri telah dibentuk sejak tahun 1998 dan konsisten menggunakan Bahasa Jawa dalam pementasannya. Mereka melakukan pentas dalam kampung-kampung dengan mengangkat berbagai isu aktual.

Pemain : Ibnu Gundul, Nuru Jamilah, Elyandra Widharta, Kukuh Prasetyo, Kirun, Wawan, Haryo Prastyawan, Daffa, Ninit, Joko Gilar. Pemusik: Maman, Bagyo, Iwang, Caesar, LikSlenco, Bayu.
Artistik: Beni Susilo, Ujang, Jibna.
Tata Cahaya: Dwi Lgh &Setia Merdeka.
Make up: Joko Gilar. Logistik: Kang Jarwo

____

Video koleksi
Indonesian Visual Art Archive
editor Dwi Rahmanto
www.ivaa-online.org
2015

Video: Jogja Ora Didol (Stop Motion AKINDO ADV 2012)

Stop motion adalah suatu teknik animasi untuk membuat objek yang dimanipulasi secara fisik agar terlihat bergerak sendiri. Setiap pergerakan dari objek tersebut difoto (frame individual), sehingga menciptakan ilusi gerakan ketika serangkaian frame dimainkan berurutan secara berkesinambungan. Dalam video stop motion yang diunggah oleh Dimas Nurendra R menampilkan tentang kondisi kota Yogyakarta yang makin sempit ditambah pula dengan bangunan- bangunan hotel besar, mall dan restoran fast food. Di akhir video tampak sekali Yogyakarta (yang diwakili gambar Tugu) mulai kehilangan identitasnya dan digantikan oleh bangunan- bangunan tersebut.

Dipublikasikan oleh Dimas Nurendra R pada tanggal 12 November 2014.