Tag Archives: festivalarsip2017

Q&A Festival Arsip

Tanya Jawab dengan Panitia Festival Arsip IVAA

Pewawancara: Martinus Danang (Peserta Magang IVAA)

Nama: Elia Nurvista
Tempat, Tanggal Lahir: Yogyakarta, 24 Januari 1983
Alamat: Perumahan Griya Surya Asri I blok G/3 Yogyakarta
Jabatan Panitia: Koordinator Program Edukasi Publik

  • Bagaimana persiapan dari Festival Arsip sejauh ini?
    Sejauh ini berjalan lancar, ya paling ada satu dua kendala adalah hal yang wajar tarik ulur kerja bersama orang-orang yang terlibat di satu perhelatan kan wajar dan justru dari situ kita bisa belajar bekerja dengan tim.
  • Bagaimana konsep yang ingin panitia tunjukkan dalam Festival Arsip?
    Yang ingin ditunjukan dalam festival bertajuk “Kuasa Ingatan” ini adalah pentingnya praktik pengarsipan di mana dari situ kita bisa melihat banyak hal lain; misal politik dan etika pengarsipan. Proses membaca arsip itu kan tidak lepas dari soal memilih dan membuang, mana yang penting dan mana yang tidak penting tergantung visi dan misi. Lewat festival inilah harapannya kita bisa membicarakan potensi praktik pengarsipan beserta dinamika-dinamika dan problemnya, yang semoga berguna baik untuk IVAA sendiri maupun pengarsip lain serta publik yang turut menggunakan arsip-arsip.
  • Apakah ada yang istimewa dari pagelaran Festival Arsip ini dibandingkan dengan festival yang lainnya?
    Mungkin tidak ada yang begitu istimewa tapi perlu dicatat bahwa festival ini penting! Pentingnya ya itu tadi, politik pengarsipan yang jelas dan punya visi misi akan membentuk identitas yang juga jelas. Selain itu  problem kurangnya ketersediaan arsip-arsip kita, sebagai negara bekas jajahan, misalnya lalu dari sini apa yang bisa kita lakukan bersama. Misal kita bisa mendefinisikan bersama-sama apa yang kemudian kita anggap sebagai arsip, yang secara umum masih banyak dibayangkan berupa sesuatu yang sangat tekstual.
  • Mengapa memilih arsip sebagai media untuk festival?
    Banyak yang bilang kerja-kerja pengarsipan adalah kerja yang sunyi dan tidak butuh di-spotlight, sehingga mungkin tidak banyak diapresiasi. Maka festival ini adalah salah satu cara menghargai kerja pengarsipan dan membawanya ke publik yang lebih luas.
  • Apa yang ingin dicapai dari Festival Arsip ini?
    Ada 2 hal yang ingin dicapai dalam Festsip ini. Minimal adalah menunjukan pentingnya kerja-kerja pengarsipan beserta dinamika didalamnya. Selain itu juga untuk saling mengenal, berjejaring, saling berbagi pengetahuan untuk orang-orang yang melakukan pengarsipan dalam berbagai skala dan jenisnya, juga saling kritis agar kerja pengarsipan semakin baik. Yang kedua, tujuan terbesar dari pameran arsip adalah agar publik bisa tergerak akan potensi arsip dan kemudian menggunakannya untuk berbagai kebutuhan dan pengetahuan.
  • Mengapa masyarakat perlu untuk datang ke acara ini?
    Pertama karena kita bisa melihat potensi arsip, misalnya dalam pameran utama di mana ada banyak karya seni yang berbasis arsip. Kemudian dari situ kita bisa bersama-sama belajar soal arsip, mulai dari mendefinisikan arsip hingga membayangkan dan berimajinasi fungsi pengarsipan dalam kehidupan kita.
  • Mengapa masyarakat perlu tahu tentang arsip?
    Arsip adalah sesuatu yang sangat dekat dengan sejarah. Dengan belajar sejarah, baik sejarah yang besar maupun dengan narasi kecil dan personal, tentunya kita bisa mengenal diri kita lebih baik. Bagaimana hal-hal yang mikro selalu menjadi bagian dari sejarah makro.
  • Apa pentingnya arsip seni budaya?
    Arsip seni dan budaya adalah sesuatu yang tertinggal dan tercatat dari peristiwa seni budaya. Pentingnya arsip ini ya tentu saja bisa kita jadikan alat belajar mulai dari hal yang besar seperti bagaimana dinamika seni budaya kita berjalan dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, hingga narasi kecil yang membentuk diri kita sekarang.
  • Ada apa dengan arsip seni budaya selama ini?
    Arsip seni dan budaya kita sangat banyak, meskipun saya dengar-dengar juga bahwa masih banyak peristiwa seni budaya yang tidak ada arsipnya, atau catatan-catatan tentangnya. Mungkin dulu praktek pengarsipan belum dianggap penting. Lalu dari arsip yang banyak itu, problem yang sering terdengar adalah arsip yang terbengkalai, tidak tahu mau diapakan, serta tidak tau ingin ditampilkan ke publik seperti apa. Dengan terus menerus menguji coba kerja-kerja pengarsipan, termasuk dengan menggunakannya kembali, saya pikir kita sedang bersama membenahi dan mencari bentuk yang ideal, yang tentu saja bukan kerja yang jangka pendek dan segera terlihat hasilnya.
  • Acaranya apa saja dari Festival Arsip ini dan tujuannya apa saja dari masing-masing acara?
    Ada Pameran Arsip dimana kita bisa melihat kerja-kerja artistik atau karya berbasis arsip, yang tujuannya agar publik bisa tergerak akan potensi arsip dan kemudian menggunakannya untuk berbagai kebutuhan dan pengetahuan. Ada Seminar Internasional di mana menjadi wadah untuk membicarakan isu-isu termutakhir dalam praktek pengarsipan secara akademis. Ada Pameran Komunitas sebagai tempat bertemu, berjejaring, dan belajar bersama para pelaku pengarsipan dari berbagai skala, institusi, dan bidang.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Merajut Arsip Menyulam Penelitian

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana*

Seorang perempuan muda dengan getol asyik membaca sambil menuangkan pikirannya ke dalam laptop pribadinya. Dia tampak asyik sendiri menuliskan banyak ide-ide yang dia dapatkan. Dengan luwes dan lincah jari-jarinya menari mengetikkan berbagai macam kata-kata dalam laptopnya. Dengan serius dia menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya ini. Dia adalah Annisa Rachmatika Sari (26 tahun) yang kerap disapa Nisa, salah seorang peserta lokakarya IVAA.

Tahun ini IVAA berecana mengadakan Festival Arsip atau FEST!SIP IVAA, yang bertajuk “Kuasa Ingatan”. Dengan tema yang digagas ini IVAA berharap dapat menekankan pada pentingnya ingatan dan masa lalu yang tergambarkan melalui arsip.

Dalam mempersiapkan FEST!SIP tahun ini IVAA secara khusus menyelenggarakan Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. Lokakarya ini sendiri diadakan mulai bulan Mei-Juni 2017 yang lalu di Rumah IVAA. Antusiasme peserta yang mendaftar cukup banyak yakni 32 orang. Namun setelah proses seleksi, panitia meloloskan 13 orang untuk mengikuti lokakarya.

Tujuan dari lokakarya ini sendiri adalah untuk mengajak para peserta belajar melakukan penelitian di bidang seni budaya  dengan menggunakan arsip. Bahkan IVAA juga mengajak peserta untuk berkarya lewat tulisan-tulisan. “Sebenarnya saya ikut lokakarya awalnya ingin belajar nulis dan tertarik dengan kesenian secara khusus,” tutur Nisa.

Banyak dari peserta yang mengikuti program lokakarya IVAA ini berawal dari keinginan untuk belajar menulis. Apalagi dalam proses pembekalannya mereka dibekali langsung oleh Muhidin M. Dahlan yang kondang dalam penulisannya. Dari sana peserta diajak untuk menyalurkan ide-ide penelitian mereka lewat budaya tulis-menulis sehingga menghasilkan sebuah karya penelitian yang baik.

IVAA juga mengajak peserta lokakarya untuk menyentuh arsip sebagai sebuah bahan untuk penelitian. Sesuai dengan misi dan tujuannya di mana IVAA ingin mendekatkan arsip seni rupa sebagai bahan untuk belajar bersama. IVAA sendiri melihat arsip sebagai sebuah bahan yang paling penting untuk dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lagi memandang arsip sebagai benda yang asing yang disimpan dalam lemari dengan suhu yang rendah, namun arsip dihadirkan untuk dekat kepada masyarakat sesuai dengan tujuan lokakarya ini.

Lewat lokakarya ini para peserta diajak untuk bersentuhan dengan arsip dalam melakukan penelitian kesenian. Peserta diajak untuk menggunakan arsip sebagai sumber yang digunakan selama proses penelitian. Selain itu, dalam lokakarya ini peserta juga diajak untuk mengenali sistem pengarsipan ala IVAA, yang disampaikan dalam sesi metodologi pengarsipan seni rupa IVAA. Melalui lokakarya ini, IVAA berharap bisa melanjutkan upaya regenerasi serta melakukan persebaran ilmu dan gagasan yang mendukung produksi pengetahuan. Menariknya, banyak generasi muda yang cukup antusias dengan proses ini. Sehingga banyak pengalaman menarik yang bisa saling dipertukarkan.

Banyak keuntungan yang didapat dari penelitian dengan menggunakan arsip. “Dalam lokakarya ini saya meneliti tentang Ullen Sentalu, dengan menggunakan arsip ternyata didapatkan bahwa konstruksi bangunan Ullen Sentalu memiliki kepentingan tersendiri,” ungkap Nisa ketika menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya kemarin.

Bahkan Nisa beranggapan bahwa penelitian dengan menggunakan arsip sangat membantu sekali dalam penelitian. Arsip sebagai sumber yang sangat penting dalam melakukan proses penelitian. Sehingga dengan menggunakan arsip dapat mengobyektifkan berbagai permasalahan-permasalahan dalam penelitian. Inilah segelintir pengalaman dari Nisa salah satu peserta lokakarya dalam penelitiannya dalam menggunakan arsip.

Kini para peserta lokakarya telah menyelesaikan penelitiannya dan bersiap untuk mengorbitkan pengalamannya dalam penelitian berbasis arsip kepada khalayak umum. Lewat program lokakarya ini, IVAA berupaya agar arsip semakin dekat dengan masyarakat, yang bukan sebatas benda yang disusun secara rapi di lemari pendingin.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Usaha Menjaring Pengarsip dan Penulis Muda

Oleh: Sita Magfira

Sepanjang Februari sampai Maret 2017, IVAA membuka pendaftaran Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. IVAA menerima 32 berkas pendaftar dari berbagai daerah (Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Solo, dan Mataram). Sejak 5 April kemarin, telah terpilih 15 orang peserta lokakarya. Peserta dipilih, khususnya, berdasar contoh tulisan yang mereka kirimkan. Seluruh rangkaian lokakarya ini akan dilangsungkan selama kurang lebih 2 minggu sejak Mei 2017. Selama masa lokakarya, para peserta bukan hanya mendapatkan materi terkait arsip dan pengarsipan seni rupa (praktik dan wacana tentangnya). Mereka juga akan mendapatkan materi-materi lainnya macam sejarah seni rupa, sejarah dan perkembangan sosial humaniora dan seni rupa, serta dasar-dasar penulisan. Selain itu, peserta akan diminta untuk melakukan penelitian mandiri dengan dampingan mentor. Sebagai gong dari pelaksanaan lokakarya, peserta akan diarahkan untuk melakukan kerja-kerja berbasis pengarsipan dan penulisan dalam persiapan Pameran “Kuasa Ingatan” Festival Arsip IVAA (Fest!Sip).

Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa pada dasarnya adalah salah satu rangkaian acara Fest!Sip. Fest!Sip digagas oleh IVAA sebagai usaha untuk memproduksi pengetahuan dan memancing gairah publik pada kerja pengarsipan. Format festival sengaja dipilih untuk menggerus pandangan soal arsip sebagai sesuatu yang kaku dan sangar. Arsip sudah seharusnya dimaksimalkan sebagai sesuatu yang tidak ajeg. Ia bisa diolah untuk memproduksi pengetahuan dan menjadi sumber inspirasi bagi karya/kerja kesenian dan kebudayaan. Sementara pengarsipan sendiri adalah praktik yang perlu ditinjau dan direfleksikan secara terus-menerus guna menemukan metodologi yang sesuai dengan semangat jaman dan kondisi masyarakat bekas jajahan macam Indonesia.

Mengamati dinamika medan sosial seni rupa Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang, lokakarya sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa institusi selain IVAA telah melakukan inisiatif serupa, bahkan sudah dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang membedakan, IVAA secara khusus mengintegrasikan penulisan seni rupa berbasis arsip dan pengetahuan dasar pengarsipan dalam lokakaryanya. Sebagai institusi yang fokus pada arsip dan pengarsipan, IVAA hendak mengenalkan praktik dan wacana terkait arsip dan pengarsipan lewat lokakarya ini, khususnya kepada generasi muda. Dalam lingkup yang lebih luas, IVAA melihat adanya kebutuhan akan tenaga baru sebagai pengarsip dan penulis seni rupa di Indonesia. Lokakarya ini diharapkan bisa jadi wadah bagi munculnya individu-individu baru dalam praktik tersebut. Kehadiran individu-individu baru dalam praktik pengarsipan dan penulisan seni rupa diharapkan bukan saja membuat medan sosial seni rupa Indonesia jadi makin dinamis tapi juga makin segar dan berkualitas.


Sita Magfira (l.1991) adalah kurator paruh waktu, tergabung dalam komunitas Ketjil Bergerak dan Lifepatch. Pada tahun 2014 Sita terpilih menjadi satu dari tiga peserta yang lolos workshop kuratorial yang diselenggarakan oleh Japan Foundation untuk kemudian mengikuti Next Generation Curators of Southeast Asia Program di Jepang. Proyek seni terakhirnya antara lain “Jinayah Sisayah” dan pameran “Arus Bawah”.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.