Tag Archives: #bulletinIVAA_agustus2017

Tutti Art & Seniman Perempuan: Narasi Keperempuanan Dari Perempuan

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

29 Juli 2017, di Rumah IVAA, 16 perempuan baik seniman maupun peserta lain, mendiskusikan persoalan keperempuanan dari sudut pandangnya masing-masing. Acara ini diorganisir oleh Tutti Arts, yakni lembaga yang mendukung seniman disabilitas dalam berkesenian.

Perempuan-perempuan tersebut membuat kolase malalui bahan yang telah disediakan Tutti Arts. Mereka dituntut untuk mendeskripsikan perempuan dan persoalannya melalui karya kolase.

Lashita yang berkolaborasi dengan Uut dan Agnes membuat karya visual performatif berjudul Woman Process. Ketika seniman itu menggabungkan potongan gambar kaki, tangan, dan anggota tubuh manusia yang lain dengan berbagai bagian tubuh hewan bersayap, sebagai personifikasi dari perempuan. Ditambah, pertunjukkan membuat bunga mawar dari kertas krep yang dilipat sedemikian rupa kemudian ditarik, sebagai penanda proses.

Endang, seniman di bidang musik, menciptakan kolase yang menarasikan tentang dirinya sebagai seorang perempuan penyandang disabilitas yang berproses mencapai kesetaraan.

Fitri, seniman di bidang visual, mengkolasekan berbagai gambar perkakas rumah tangga menjadi badan perempuan yang menjinjing satu tas bermerek, dengan potongan gambar keluarga—ayah, ibu, dan anak—sebagai kepalanya. Bagi Fitri, karya ini mewakili kisah perempuan yang mendapatkan tuntutan menikah atas dasar usia yang telah memasuki kepala tiga. Perempuan digambarkan Fitri sebagai figur yang menerima berbagai konstruksi sosial. Diwajibkan bisa memasak, berdandan, dan melayani suami. Konstruksi tersebut dirasa Fitri terlalu merepotkan, namun dirinya sadar bahwa hal ini merupakan sebuah warna-warni kehidupan sosial yang perlu dijalani.

Rika, mengkolasekan gambar gurita dengan berbagai potongan tangan, sebagai ilustrasi tututan wanita yang beragam. Baginya, tuntutan ini tidak proporsional, sebab setiap tubuh manusia memiliki keterbatasan. Terdapat hal-hal yang bisa dikerjakan, dan sebaliknya.

Naomi, dengan karya berjudul Woman’s Match bernarasi soal perempuan yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepantasan dalam berbusana. Bersedia berdesakan dalam antrian atau tempat belanja yang menyediakan diskon besar-besaran. Narasi ini diilustrasikan melalui berbagai potongan tas bermerek yang disusun secara rapi, dan masing-masing potongan tersebut terhubung degan garis mengkilap yang terbuat dari gel glitter.

Restu, menggambarkan wanita yang berada dalam kotak transparant dengan segala bentuk aturan. Disebut kotak transparant karena bentuk dan materi pembuat “kotak” tidak dapat teridentifikasi lebih jelas. Restu menegaskan bahwa, bentuk aturan yang berada dalam kotak ini jika dipandang lebih jauh, bukan hanya menjadi kewajiban dari wanita saja melainkan pihak lain—pria.

Pat Rix melihat bahwa narasi mengenai asal selalu menjadi pembicaraan perempuan. Bahasan nenek moyang, yakni venus—atau ibu pertiwi—digambarkannya melalui berbagai wajah yang disusun berbaris ke bawah terhubung dengan anak panah.

Tiara, pengalamannya sebagai seniman pertunjukkan—tari, menginspirasi karyanya yang menyoal topeng dari perempuan dan mimpi. Bagi Tiara, wanita akan selalu tampil dengan berbagai topeng yang tidak disenanginya akibat tuntutan sosial. Hingga, pada keadaan tertentu menghalanginya dalam meraih mimpi. Tiara menegaskan bahwa, semua perempuan bebas meraih mimpinya dengan atau tanpa melewan struktur sosial.

Selain soal keperempuanan, perhatian mengenai dunia pendidikan menarik perhatian salah satu seniman film, Revita. Perempuan yang kerap berkutat dengan dunia naskah ini melihat gambar-gambar yang disediakan Tutti mengulik kegelisahannya pada dunia keilmuan. Revita mengambil berbagai jenis serangga dan menyusunnya untuk memudahkan anak-anak atau penikmat karya lain melakukan identifikasi.  

Bagi Revita, seluruh persoalan dunia baik keperempuanan atau lainnya, dapat terselesaikan dengan jika pendidikan digerakkan dengan baik. “Mengubah dunia melalui pendidikan”ujarnya dengan mantap.   

Karya Revita seperti merangkum narasi keperempuanan dan hal lainnya dalam diskusi grup ini. Pendidikan menjadi ruang yang memungkinkan penyampaian wacana dalam berbagai persoalan, dalam hal ini, keperempuanan.      


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Update Your City Bersama Kind Magz

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

UPDATE YOUR CITY (UYC) merupakan program terbaru dari KIND MAGZ, mengajak graffiti/mural artist untuk berbagi informasi mengenai proses berkarya, spot gambar serta perkembangan street art di tiap kotanya masing-masing. Karena kami yakin tiap kota memiliki keunikan tersendiri kata salah satu anggota dari Kind Magz. Lokasi ketiga acara UYC adalah Yogyakarta, setelah sebelumnya diselenggarakan di Semarang dan Bali.

Kind Magz dalam rangkaiannya di Yogyakarta memilih IVAA sebagai kolaborator dalam menggagas acara Update Your City ini. Hal ini tidak terlepas dari IVAA sebagai salah satu lembaga pengarsipan seni visual. Kind Magz juga memilih IVAA karena keberadaan Rumah IVAA yang keren untuk menyelenggarakan acara Update Your City di Yogyakarta seperti yang diungkapkan oleh anggota dari Kind Magz.

UYC Yogyakarta mengambil tema City Invasion, di mana kami menginvasi sejumlah titik titik spot di Yogyakarta untuk dijadikan sebagai kanvas publik para artist yang ikut serta dalam acara ini. Selain itu diselenggarakan pula Kelas Graffiti bagi anak-anak dan artist talk. Konsep acara kali ini di IVAA terdiri dari tiga kegiatan yakni #GraffClass,  #GraffTalk, dan #GraffDuel .

(#GraffClass) seperti di tempat sebelumnya (Bali), diadakan kelas graffiti & street art bagi anak anak, kelas ini bertujuan untuk mengenalkan dasar-dasar street art melalui pemutaran video dan memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa street art bukan vandalism. Selain sesi materi terdapat juga sesi praktek di mana anak-anak langsung diberi alat-alat gambar berupa cat, kuas, dan aerosol untuk berkarya sesuai dengan apa yang ia peroleh saat sesi materi. Dipandu oleh dua mentor yakni Astc (Jogja) dan Walcsix (Jakarta), keduanya memiliki pengalaman mengajar kelas graffiti di beberapa sesi.

(#GraffTalk  & #GraffDuel) di sesi ini menjadi serangkaian malam pembukaan acara UYC Jogja, #GraffTalk adalah sesi sharing dan presentasi oleh beberapa artist lokal maupun orang yang mendukung perkembangan skena tsb (fotografer dll). Bertajuk “Dokumentasi street art dulu hingga kini”, tujuannya adalah untuk memberikan wawasan kepada pendatang baru tentang kesejarahan street art di Yogyakarta dan seberapa pentingnya mendokumentasi dan mengarsipkan sebuah karya. Dipandu oleh Yusuf dari Indonesiart Foundation sebagai pranatacara dan moderator, serta Nsideone (graffiti artist), Graforce (otografer), dan Dwi Rahmanto (IVAA) sebagai narasumber.

#GraffDuel merupakan serangkaian kompetisi dalam tiga babak, yakni babak seleksi, babak Sketch Battle, serta babak Live Duel. Di IVAA diselenggarakan babak kedua yakni Sketch Battle. Sketch Battle merupakan kompetisi membuat sketsa kata-kata yang dipilih secara acak oleh juri, serta dibatasi oleh waktu. Pemenangnya akan masuk ke dalam babak terakhir, yakni Live Duel yang bertempat di suatu titik di samping Hotel Indrakila, Jalan Tirtodipuran.

 

 

 

 

Setelah acara dari Update Your City ini rencana Kind Magz ke depan adalah akan terus melakukan tur di berbagai kota-kota di Indonesia serta merilis aplikasi yang sebelumnya sempat mengalami kendala.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA

Penulis:  Melisa Angela

Terhitung tinggal satu bulan lagi Festival Arsip akan dimulai. Tim Program sebagai penanggungjawab utama telah berjibaku melawan waktu yang semakin terasa cepat berlalu, merapatkan barisan, melancarkan strategi, bersiasat, dan tentu saja melihat kembali koleksi dokumentasi yang menjadi materi utama festival ini. Tak ketinggalan, Tim Arsip pun menjadi salah satu pilar dalam menentukan nyawa dari Fest!Sip. Sederet topik pilihan dan rangkaian pembacaan telah ditentukan, fungsinya sebagai pisau pilah, untuk menentukan mana yang menjadi ‘penting’ untuk ditampilkan dan mana yang tidak. Keberadaan pisau pilah ini tentu tidak dapat ditawar. Bila tidak, bagaimana kami akan memilah dan memilih arsip yang akan ditampilkan dari 10 juta berkas digital yang ada dan masih terus bertambah ini?

Pada era informasi saat ini, begitu mudahnya kita menciptakan data. Saat seseorang menulis, tak perlu lagi ia khawatir salah ketik, karena tinggal hapus dan ganti saja tulisan yang salah, revisi bisa dilakukan tak perlu membuang kertas selembar pun. Untuk mengirimkan sebuah dokumen tidak perlu repot untuk pergi ke kantor pos, langsung dikirim dari smartphone di tangannya pun bisa. Undangan pameran dalam sepersekian detik sudah sampai di puluhan kotak penerimaan alamat email yang dituju; di samping itu masih pula ia berkeliaran tidak keruan hingga muncul di notifikasi dan linimasa akun sosial media kita. Belum lagi kita membicarakan undangan yang muncul di layar smartphone tanpa menunggu persetujuan pemiliknya melalui aplikasi chat messenger.

Kami memang melakukan kerja-kerja dokumentasi acara seni setiap hari. Dengan kapasitas dan jangkauan yang kami miliki, akhirnya kami memang harus memilih acara seni mana saja yang direkam. Setelah melalui tahap seleksi, dalam setahun terkumpul sedikitnya 250 rekaman acara seni. Artinya jika dirata-rata, maka dalam 3 hari Tim Dokumentasi merekam 2 acara seni. Bila satu acara seni difoto sebanyak 50 frame, dan direkam sepanjang 1 jam, maka dalam setahun terkumpul 12.500 frame foto, dan 250 jam atau 10 hari 6 jam video. Padahal pada kenyataannya, lantaran menggunakan kamera digital, jumlah frame foto dan durasi video bisa jadi lebih banyak dari hitungan kasar. Kita asumsikan hitungan tersebut hanya dalam satu tahun. Sedangkan kerja pendokumentasian yang dilakukan IVAA dengan perangkat digital sudah berjalan sejak tahun 2005. Untuk mengetahui koleksi IVAA secara kasar, tinggal kita kalikan saja hasil hitungan kasar di atas dengan jumlah tahunnya. Belum lagi jika ditambah dengan data-data yang kami peroleh dengan cara lain, yakni kontribusi. Karena sejauh ini, beberapa seniman, keluarga, penulis, peneliti atau bahkan galeri dan komunitas banyak yang menyumbangkan dokumentasinya. Dan masih ditambah lagi dengan file hasil digitalisasi berkas-berkas kertas seperti kliping, katalog lama, majalah lama, poster, kaset audio, kaset video, slide presentasi dan film negatif yang dikumpulkan sejak awal mula IVAA berdiri.

Lalu bagaimana cara mengolah timbunan dokumen itu? Yang pertama kami lakukan adalah berusaha mengelolanya. Timbunan dokumen yang tidak terkelola bisa menjadi kesulitan besar, oleh sebab itu, untuk menghindarinya maka sejak dari awal kedatangan sebuah dokumen, ia harus tercatat. Jika ada yang penasaran apa sebetulnya kerja yang dilakukan oleh seorang pengarsip, maka jawabannya adalah mencatat. Catatan yang dimaksud ialah catatan yang tersistematisasi dan memiliki konsistensi yang kita sepakati. Apabila tiba waktunya menemukan dokumen yang miskin data, maka inilah yang disebut petaka bagi pengarsip. Dibutuhkan curahan energi spesial untuk melakukan siasat pencatatan dengan semangat ‘arkeologi’, sehingga catatannya akan lebih banyak mengisi kolom deskripsi, baik mengenai penampakannya maupun kontennya (bila berupa arsip tekstual). Catatan yang dibuat oleh pengarsip inilah yang di kemudian hari memudahkan pencarian dan menjadi semacam penunjuk arah bagi peneliti maupun pengarsip sendiri yang sedang membantu peneliti.

Dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, maka IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan. Siapapun di manapun bisa membuka situs ini, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video. Bagi yang membutuhkan resolusi foto lebih besar, durasi video lebih panjang, maka mereka bisa menghubungi pengarsip, melalui prosedur tertentu. Lantas apakah artinya semua yang terkandung di situs archive.ivaa-online.org itu merupakan semua isi perut IVAA? Tentu tidak. Dengan jumlah arsip seperti yang digambarkan di atas, kerja pencatatan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat. Bila tidak percaya, bisa dibuktikan dengan cara mencoba melakukannya, kami selalu membuka lowongan pengarsip sukarelawan. Maka tak heran pengarsip IVAA lebih sering disibukkan mengumpulkan dokumen-dokumen untuk peneliti-peneliti yang menghubungi kami lantaran tak menemukan arsip yang dibutuhkan di arsip online IVAA yang disebut @rsipIVAA itu.

Pekerjaan pencatatan dan pelayanan yang begitu menyita waktu itu tidak melunturkan semangat pembacaan. Meski berbekal catatan yang belum sepenuhnya rapi dan mungkin belum cukup membantu, namun semangat membaca arsip terus kami hidupi. Salah satunya dengan menerbitkan buletin dan menggelar archive showcase sederhana setiap dua bulan sekali, dan yang paling akbar yang akan datang ini adalah serangkaian program dalam Festival Arsip dengan tajuk ‘Kuasa Ingatan’. Mengapa semangat pembacaan ini terus kami pompa? Karena tak urung kami yang berada paling dekat dengan arsip IVAA adalah yang paling paham dengan medan dan liku-likunya. Maka, apa salahnya jika kami terus hidupkan meski dengan cara yang sederhana dan jauh dari sempurna.

Meski demikian, di antara pekerjaan harian dan timbunan arsip tersebut tidak membuat kami merasa cukup. Banyaknya arsip yang kami kelola belumlah sebanding secara lengkap tentu jika berbicara dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikerjakan, masih banyak area kegelapan yang miskin dokumen, bahkan miskin mitos dan gosip dalam perjalanan seni rupa kita. Percayalah, bahwa kita tidak sendiri. Di sekitar kita masih banyak yang memiliki daya dalam membukakan jalan di area-area yang masih gelap tersebut.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Juli – Agustus 2017.

Batas yang Tidak Ada

Presentasi Penelitian “Gazing at The Other: Orientalism, Dance Bodies and Myth about the Exotic Self”

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

“Selama ini kalo ngomongin sejarah tari modern atau kontemporer, selalu dipisahkan. Ini Barat ini Timur. Saya bilang enggak! Ini dua-duanya berkaitan! Barat dan Timur sebenernya tidak benar-benar berbatas, mereka itu saling berhubungan”

Tuturannya dengan nada bicara yang meninggi disertai gerakan tangan yang menegaskan, telah menunjukkan kegelisahan Helly Minarti dalam wacana sejarah tari modern. Dalam proses penelitiannya yang sedang berlangsung tersebut, Helly menemukan pola yang mengekalkan batas pemisah antara dunia Barat dan Timur. Temuan ini yang kemudian ditiliknya lebih dalam, hingga menemukan premis bahwa tembok pemisah dunia Barat dan Timur sebenarnya tidak ada.   

Pada diskusi di Cemeti Institute For Art and Society tanggal 18 Juli 2017, Helly menyampaikan bahwa tatapan (gaze) kepada liyan, dalam hal ini tatapan bangsa penjajah terhadap kaum terjajah (Indonesia), menjadi peristiwa yang perlu tercatat pada sejarah tari modern. Lebih detailnya, peristiwa tersebut memiliki andil dalam membentuk estetika tari di Indonesia, dan dunia sekarang ini. Seperti datanya pada kasus Tari Kecak di Bali yang mulanya tidak bernarasi, menjadi bernarasi (bercerita) akibat konsep kolonialisme yang menempatkan Bali sebagai wilayah turistik.        

Estetika tari tersebut menjadi reaksi dari tatapan. Reaksi lainnya nampak pula dalam karya Ruth St. Danis, sebagai orang penting yang tercatat dalam sejarah tari modern dunia. Ruth St. Danis menarikan tarian yang terinspirasi dari Srimpi. Helly menegaskan bahwa yang ditarikan Ruth St. Danis adalah ekspresi diri atas tatapan setelah menyaksikan Srimpi ketika berpergian di Yogyakarta.         

Selain itu, ketika penjajahan kaum Barat mencapai puncaknya di tahun 1889, muncul kegandrungan pada “eksotisisme” sebagai reaksi tatapan di kawasan Eropa. Helly menemukan data bahwa pertunjukkan yang menggunakan kata “eksotis” dalam judul dan menampilkan penari beratribut tari-tarian Jawa seperti, Topeng Cirebon dan lain sebagainya ketika pentas, selalu menarik banyak penonton. Kemudian pertunjukkan empat penari asal Wonogiri (Indonesia) di Universal Exibition Paris, tahun 1889, yang mengispirasi beberapa pelukis dalam berkarya.

Peristiwa yang ditampilkan Helly sebagai data ini menunjukkan bahwa dunia khususnya dalam kesenian tidak benar-benar terpisah, menjadi Barat dan Timur. Pertukaran ide sebagai cikal kemunculan produk. Terjadi peristiwa saling tatap baik pada diri maupun Liyan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Pekan Seni Grafis Yogyakarta

Penulis: Dwi Rachmanto

Saat itu (18/7) Yogyakarta diguyur hujan lebat menjelang malam pembukaan Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY). PSGY merupakan pameran karya seni grafis yang digagas oleh Studio Grafis Minggiran yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Pembukaannya dimulai pukul 19.00 WIB di ruang pamer Jogja National Museum, pamerannya sendiri berlangsung 18 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017.

Malam pembukaan PSGY dimeriahkan oleh pertunjukan musik band-band kenamaan asal kota Yogyakarta, yang mana personelnya kebanyakan adalah pegrafis. Sebut saja Sangkakala, Seek Six Sick, Mulyakarya Band, dan Roll Ringtones, kebanyakan dari personel band-band ini pernah mengenyam pendidikan seni grafis di kampus ISI Yogyakarta. Dan seperti biasa, acara dibuka dengan sambutan perwakilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Wacana seni grafis sendiri di Yogyakarta selalu menarik, karena populasi seniman grafis di Yogyakarta bisa dibilang banyak, tetapi aktivitas seni grafis kian menurun. PSGY memiliki harapan untuk bisa menjadi wadah yang mempertemukan para pelaku seni grafis, mempopulerkan kembali seni grafis, sekaligus mewadahi wacana bagaimana mempersatukan antara wilayah seni dan bisnis. Dalam cetak grafis sendiri masyarakat akrab dengan teknik sablon dan stempel karena sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Padahal di dalam seni grafis banyak teknik yang bisa digunakan, dan bisa menjadi bidang eksplorasi seniman. Masuknya seni cetak digital juga menambah satu lembaran teknik cetak yang kini memperkaya eksplorasi seni grafis.

Bambang ‘Toko’ Witjaksono (dosen, kurator, seniman) ditunjuk sebagai kurator PSGY perdana ini. Dalam acara tersebut dipamerkan tak kurang dari 42 karya-karya grafis yang tercipta sejak tahun 1940 hingga 2017. PSGY melibatkan juga Jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta untuk memamerkan 15 karya koleksi kampus.

Menariknya, di dalam pameran ini panitia juga menyuguhkan karya maestro Salvador Dali berjudul “Espana.” Karya ini merupakan koleksi seniman komik dan tato ‘Atonk’ Sapto Raharjo. Menurut keterangan Bambang ‘Toko’ Witjaksono, karya grafis Salvador Dali ini sangat terbatas edisinya karena hanya berjumlah 300. Karya grafis “Espana” ini merupakan duplikat dari karya lukisan Dali sendiri dengan judul yang sama. Lukisan “Espana” diciptakan Dali pada tahun 1938, dan diperbanyak menjadi karya grafis di sekitar tahun 1940-an.

Dalam rangkaian PSGY terdapat pula kegiatan lokakarya 7 teknik cetak dalam seni grafis; yaitu cukil kayu, stensil, alugrafi, photolitografi, etsa, screen printing, dan ukiyo-e (teknik grafis tertua berasal dari Jepang). Program lokakarya ini melibatkan 7 komunitas seni grafis antara lain Grafis Minggiran, Krack! Studio, PQX Studio, Club Etsa, Tori Triastama, Grafis Huruhara,  dan Baren Studio. Digelar pula seminar bertajuk “Perkembangan Seni Grafis dari Teknik Maupun Wacana Seni Grafis di Indonesia” yang sekaligus menjadi kegiatan penutup dari PSGY.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.