Tag Archives: #buletinivaa_september2018

BULETIN IVAA DWI BULANAN | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Juli-Agustus 2018

Senyap Boleh, Hambar Jangan!

Salam jumpa pembaca sekalian. Tidak terasa, tahun 2018 hampir berlalu. Di penghujung tahun ini, tim IVAA juga sudah bisa merasakan padatnya acara seni budaya. Tidak hanya kepadatan acara, namun hawa panas dari ibukota yang menyambut tahun politik juga sudah terasa. Belum lagi kepadatan-kepadatan lainnya, berupa acara kejar setoran dan laporan.

Di antara berbagai kepadatan di atas, Rumah IVAA juga tak kalah berisik dalam arti sesungguhnya. Selama beberapa bulan terakhir ini, IVAA mendapat kesempatan untuk membangun rumah serta memperluas fungsi ruangnya. Di tengah gemuruh suara mesin dan hilir mudik para pekerja, serta berbagai macam kepadatan administratif di rumah IVAA, kami menyiapkan serangkaian program kegiatan yang akan menjadi nyawa dari ruang-ruang tersebut, yang semoga berguna tidak sebatas untuk publik seni rupa.  

Di tengah suasana yang sesungguhnya hampir membuat seisi rumah IVAA menjadi lumayan terganggu itu, tim dokumentasi dan arsip IVAA beserta kawan-kawan magang tetap teguh dengan apa yang dilakukannya. Suasana yang bagi saya mengganggu tersebut ternyata tidak membuat semangat kawan-kawan surut. Aktivitas harian Rumah IVAA yang beberapa kepingannya terangkum dalam e-newsletter ini menunjukkan bahwa kerja-kerja pengarsipan memang kerja senyap. Namun senyap bukan berarti lepas dari yang sosial.

Di sela-sela hingar bingar dari pusat untuk menentukan strategi kebudayaan nasional, hawa panas ibu kota menyambut tahun politik, serta suara berisik dari upaya perluasan fungsi ruang rumah IVAA, kami semakin menyadari bahwa kerja pengarsipan memang kerja yang senyap. Berbagai keramaian tersebut juga semakin mengingatkan kita pada tantangan kerja pengarsipan, yang di satu sisi harus menjadi gerakan dan terkonsolidasi secara nasional, tetapi di sisi lain, juga harus tetap memantapkan posisi kecilnya yang sesungguhnya potensial dengan model gerakan pinggiran, bergeliat dari tepian dengan manuver-manuver kecil, tetapi hidup dan intens.

Akhir kata, biarlah pekerjaan harian ini tetap senyap dan memasyarakat. Yang penting tidak hambar, sehingga bisa bernafas panjang.

Selamat membaca dan salam,

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. Pengantar Redaksi
Oleh: Lisistrata Lusandiana

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Nurul Fajri, Andya Sabila, Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa, Gabriela Melati Putri, Nurul Fajri, Senjang Martani, Haling Ratih, Nur Sista Senja Wiragasari, Rachma Aprillian Kusuma Wardhani

Sorotan Arsip

Oleh: Hardiwan Prayogo


Oleh: Tessel Janse, Putri R.A.E. Harbie

III. Agenda RumahIVAA
Oleh: Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi

IV. Baca Arsip
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Tim Redaksi Buletin IVAA September-Oktober 2018

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi ⚫ Penyunting: Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayogo ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Krisnawan Wisnu Adi, Santosa, Hardiwan Prayogo ⚫ Kontributor: Andya Sabila, Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana, Gabriela Melati Putri, Nurul Fajri, Senjang Martani, Haling Ratih, Nur Sista Senja Wiragasari, Rachma Aprillian Kusuma Wardhani, Tessel Janse, Putri R.A.E. Harbie ⚫ Tata Letak & Distribusi: M Fachriza Ansyari

#SOROTANDOKUMENTASI | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Intensitas aktivitas dokumentasi memasuki bulan September tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Namun kami terus melengkapi arsip dari luar Yogyakarta, beberapa yang sempat kami datangi adalah, Pameran Biennale Jateng #2 The Future of History di Kawasan Kota Lama, Semarang, Festival Nusasonic di Magelang, dan Pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo dengan judul SSAS/AS/Ideas dan Lawangkala. Sedangkan untuk donasi kami menerima dari pameran tunggal Achmad Krisgatha Channel Of Light, Pameran Kembang Goyang Mahasiswa Universitas Telkom di Cemara 6 Galeri Jakarta, Pameran Tunggal Hari Prast Hari Bahagia di Uma Seminyak Bali, Pameran Merajut Bentuk Menebar Warna di Museum Sonobudoyo, dan Kuliah Umum Komunitas Hysteria dan Jaringan Kota: dari soal manajemen sampai dengan produk kebudayaan bersama Halim HD dan Adin Hysteria.

Sampai bulan Oktober kami mengumpulkan 43 peristiwa seni dengan penambahan 2587 file arsip foto dan video 47 file, audio 37 file. Di  luar mengerjakan peliputan, tim arsip yang diwakili oleh Dwi Rahmanto dan Lisistrata Lusandiana menjadi narasumber dalam acara Ulang Tahun ke 38 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan yang tidak kalah pentingnya kami sedang menyempurnakan sistem database (pencatatan arsip) dalam bentuk offline. Kami memaksimalkan sistem ini agar setiap arsip semakin mudah ditemukan kembali. Proses ini dibantu oleh 2 kawan magang dari Jurusan Tata Kelola Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Hal-hal yang Usai dan Tidak dalam Memetakan Arus Bawah di INF 3.0

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Tim IVAA berkesempatan untuk hadir diskusi bertajuk Memetakan Arus Bawah pada Sabtu, 18 Agustus 2018. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam Indonesia Netaudio Festival (INF) 3.0 yang mengusung tema Sharing Over Netizen Explosion. Beragam acara dihadirkan seperti performative talk, lokakarya, pertunjukan musik, dan tentu saja pameran seni rupa.

Memetakan Arus Bawah dibungkus dalam bentuk gelar wicara performatif yang tidak hanya interaktif tetapi juga atraktif. Secara umum, benang merah dari sesi diskusi ini membicarakan tentang bagaimana ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya penggemar, dan perkembangan musik di jagad maya. Topik utama tersebut ditinjau dan dibahas dari tiga studi kasus yakni perkembangan netlabel, seni media, dan dangdut koplo yang disampaikan oleh tiga narasumber; Nuraini Juliastuti, Manshur Zikri, dan Irfan Darajat.

Lokasi acara berada di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Sekeliling berlatar hitam dengan suasana biru-merah dari lampu sorot juga dari tiga layar besar di atas panggung. Di tengah-tengah berderet kursi yang dibentuk serupa sirkuit―meminjam istilah Syafiatudina, selaku moderator diskusi. Pada lingkar inti adalah wilayah moderator dan ketiga pembicara, kemudian di lingkar kedua adalah tempat duduk para audiens, lingkar selanjutnya keempat layar yang menampilkan materi bahasan dari para pembicara.

Menarik untuk melihat bagaimana kemasan dari diskusi ini yang keluar dari aturan-aturan konvensional diskusi pada umumnya. Menurut Manshur Zikri, ketika dalam diskusi melihat ponsel adalah tabu, justru di sini dianjurkan. Para peserta diskusi dapat bergabung ke dalam grup WhatsApp yang telah dibuat oleh panitia. Dalam grup itu mereka saling bertukar gagasan terkait dengan bahasan-bahasan diskusi yang tengah berlangsung. Para pembicara juga memiliki layarnya masing-masing untuk menampilkan materinya, alih-alih hanya bergantung pada satu layar besar seperti umumnya forum diskusi dan seminar.

Diskusi yang dimulai pukul tiga hingga jelang pukul enam sore itu dibuka oleh Nuraini Juliastuti. Nuning, sapaan akrabnya, membahas mengenai perkembangan netlabel dan segala hal yang berada di pusaran itu. Bahwa peranan atau fungsi netlabel tidak hanya sebagai “rumah” bagi musik yang bersirkulasi di dalamnya, tetapi juga ada praktek pengarsipan. Pendokumentasian atau pengarsipan dilakukan agar musik-musik yang dibagikan (sharing) melalui netlabel tidak sia-sia. Musik tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga artefak dimana energi suatu zaman turut bersamanya. Nuning juga menyinggung pentingnya sosialisasi praktik sharing, dan pengorganisasian festival semacam INF merupakan salah satu bentuk sosialisasi tersebut.

Manshur Zikri sebagai pembicara kedua membahas seni media dan kebudayaan baru yang timbul bersamanya. Zikri menggali topik diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Misal tentang bagaimana praktik copying dicap ilegal, sementara repost justru menaikkan posisi seseorang di media sosial. Zikri mengetengahkan meledaknya video kiki challenge di media sosial sebagai pertanyaan, apakah konten ataukah musiknya yang membuat challenge ini meledak di kalangan warganet? Bagaimana konten Youtube dan para youtuber menjadi sedemikian populer dibanding aktris/aktor di layar kaca? Pertanyaan-pertanyaan ini digali dengan tiga poin, yakni; ilusi keaslian, relatibilitas, dan independensi. Zikri mengakhiri sesi dengan merekomendasikan perlunya metode baru dalam literasi media, sebab situasi dan media yang ada kini juga sama sekali baru.

Sesi Irfan Drajat diawali dengan mengajak audiens menyimak sudut pandang baru soal dangdut koplo. Friksi yang terjadi antara dangdut koplo dan dangdut klasik. Ia memetakan tiga wacana yang menekan eksistensi dangdut koplo yakni, moralitas, identitas, dan juga keaslian. Ia menghadirkan studi kasus antara Rhoma Irama yang datang dari kubu dangdut klasik, dengan Inul Daratista dari kubu dangdut koplo. Rhoma Irama yang digelari sebagai Raja Dangdut, menyebut dangdut Inul sama sekali bukan dangdut.

Hal menarik dari pernyataan Irfan ketika ia mengatakan bahwa semua persoalan ada lagu dangdutnya. Lagu dangdut yang berangkat dari isu-isu sosial, politik, budaya yang ada, tetapi tata cara penuturannya selalu dalam bentuk gugatan khas akar rumput. Menurutnya, hingga saat ini Irfan mencatat belum ada lagu dangdut yang dijadikan sebagai medium perlawanan/protes.

Catatan lain dari bahasan Irfan, bahwa dangdut koplo mengguncang moda distribusi, juga mengguncang secara estetis dan gaya. Para pelaku dangdut koplo hidup dari panggung ke panggung, syuting dengan teknologi seadanya namun ekonomi tetap berputar. Tetapi belakangan, setelah dangdut koplo menjadi tren di layar kaca, ada indikasi bahwa dangdut koplo sedang coba “dijinakkan”.

Memang begitu banyak pertanyaan muncul dan tidak sempat untuk mengerucut apalagi terjawab tuntas hingga sesi diskusi berakhir. Termasuk pertanyaan pada detik-detik akhir yakni peranan warganet dalam menjaga kelestarian praktik berbagi (sharing), baik daring (online) maupun luring (offline). Persoalan dalam diskusi ini bisa jadi satu hal yang dirasa penting bagi para audiens dan pembicara, tetapi mungkin ini tidak (atau mungkin belum) menjadi perhatian di tingkat akar rumput.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menyelami Ruang dan Waktu dalam Selebrasi Dua Dekade Selasar Sunaryo Art Space

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Sosok Sunaryo dikenal dan sangat berperan dalam perkembangan kancah seni rupa Bandung. Tampil sebagai seniman lukis di era 1970-an. Seiring dengan aktivitas keseniannya, Selasar Seni Sunaryo, yang kini bernama Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikannya pada 5 September 1998. Baginya, SSAS adalah manifestasi dari angan-angan Sunaryo untuk menyediakan wadah bagi seniman-seniman muda dalam belajar dan berkarya. SSAS juga hadir sebagai ruang alternatif, pertemuan antara seniman dengan publik. SSAS lahir bertepatan dengan momentum pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Peresmian SSAS dibuka oleh pameran Titik Nadir dan tidak ada selebrasi yang meriah. Kala itu, Sunaryo membungkus karya-karyanya sendiri dan sebagian ruang pamer dengan kain hitam. Kain hitam adalah representasi dari situasi nasional yang dirundung pilu, kekalutan, dan kegelapan.

Dua puluh tahun setelah Titik Nadir, Sunaryo kembali mempersembahkan karya-karyanya melalui pameran tunggal berjudul Lawangkala. Pergolakan sosial-politik pada 1998 menjadi kekuatan dari isu-isu yang diangkat dalam karya-karya instalasi Sunaryo sepanjang dekade 2000-an. Namun, dalam memperingati usia SSAS ke 20 ini, Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Agung Hujatnikajennong, dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan bahwa, “Untuk Sunaryo, pameran yang nyaris seluruh ruang pamer SSAS ini tidak digarap sekadar untuk memperingati ulang tahun ruang seni yang ia dirikan, tetapi sebagai sebuah proyek tersendiri yang mendorongnya melakukan eksplorasi baru.”

Lawangkala memiliki arti sebuah mantra dimana ruang dan waktu menyatu. Lawangkala terdiri atas dua kata yaitu lawang (gerbang) dan kala (waktu). Berbicara tentang salah satu hal yang mendasari kehidupan manusia, yakni kesementaraan. Sunaryo memaknai falsafah Jawa urip iku mung mampir ngombe (hidup itu hanya mampir minum), yang sejatinya usia manusia tidak berarti dihadapan jutaan tahun usia semesta. Gagasan yang diangkat dalam Lawangkala adalah momen-momen saat Sunaryo berhadapan dengan fenomena alam. Termasuk pandangan mengenai kesadaran manusia akan ruang dan waktu.

Perjalanan artistiknya sejak awal tahun 1990-an, Sunaryo mulai bereksplorasi menggunakan pendekatan material alami seperti bambu, padi, rotan, batu, dan kayu. Material-material alami yang tidak bertahan lama mewakili sifat kesementaraan itu sendiri. Hal lain yang menunjukkan ciri khas dari karya Sunaryo adalah ketrampilan tangan. Selain melukis, karya seninya dibuat dengan teknik anyaman, jahitan, tempelan, dan ikatan. Seri lukisan Lawangkala yang terdapat di ruang pamer B dan sayap menampilkan karya-karya lukisannya dengan cara menyayat, merobek kanvas, lalu menjahit dan menambal kembali robekannya. Sunaryo menganalogikan cara menyayat dan menjahit kembali seperti sebuah kesia-siaan manusia yang ingin mengulang waktu yang telah berjalan. Selain karya lukis, instalasi berbentuk terowongan bambu digarap sebagai tubuh utama Lawangkala. Sunaryo membuat sebuah bubu raksasa terbuat dari anyaman bambu yang mengikuti struktur anatomi ruang pamer A.

Perayaan 20 tahun SSAS juga menghadirkan pameran bersama bertajuk SSAS/AS/Ideas yang digelar oleh Bale Project dan dikuratori Hendro Wiyanto. Pameran berlangsung di Bale Tonggoh, menampilkan karya-karya 20 seniman asal Bandung dan luar kota. Mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan SSAS, serta terlibat dalam program residensi dan pameran. Program residensi melibatkan seniman-seniman muda yang tinggal dan bekerja di Bandung. Namun, tak menutup kemungkinan bagi seniman-seniman dari luar Bandung. Seniman yang pernah mengikuti program residensi diantaranya, Made Wiguna Valasara dalam program transit #1 (2011), Iwan Yusuf program transit #2 (2013), dan Hedi Soetardja program transit #4 (2018). Dua seniman asal Jogja, Agus Suwage dan Mella Jaarsma namanya turut berjajar diantara 20 seniman pameran SSAS/AS/Ideas. Karya-karya 20 seniman ini mengangkat tema yang merespon gagasan artistik Sunaryo. Salah satunya instalasi berupa manusia yang diikat dan dibalut kain hitam berjudul “Teduh Dari Paparan. Karya seniman Bandu Darmawan ini merupakan respon dari karya proyek Titik Nadir.

Hal yang menarik diantara karya-karya pameran ini adalah ketika Sunaryo berkolaborasi dengan Hedi Soetardja. Hedi adalah seniman otodidak asal desa Jelekong, Bandung Selatan yang mengikuti program residensi transit #4 2018. Desa asal Hedi, Jelekong terkenal sebagai sentra pengrajin cinderamata dan lukisan pemandangan. Dalam karya kolaborasi “Luruh Hitam dalam Perayaan”, Hedi mengeksplorasi karyanya dari pengalaman yang diperoleh selama residensi. Ia menampilkan abstraksi melalui isyarat kecil yang menyerupai huruf tidak beraturan. Kurator muda SSAS, Chabib Duta Hapsoro menyebut bahasa visual Hedi dengan gumam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menjelajahi Arsip: Mengenal Bagong Kussudiardja

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dalam rangka memperingati 90 tahun Bagong Kussudiardja, 60 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, dan 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), digelarlah pameran arsip bertajuk Ruang Waktu Bagong Kussudiardja yang dihelat pada 29 September – 3 November 2018 di PSBK. Suwarno Wisetrotomo didapuk sebagai kurator pameran ini. Dalam catatan kuratorialnya menekankan Bagong sebagai seniman yang sadar pengarsipan, telah meninggalkan jejak penanda zaman bagi dunia kesenian. Dengan melihat arsip Bagong mulai dari catatan perjalanan, liputan media, dokumentasi peristiwa kesenian, hingga surat-menyurat, dapat kembali memperkenalkan kiprah kesenimanan Bagong dengan konteks masa kini. Pameran ini menggunakan dua lantai ruang pamer PSBK.

Lantai pertama dari pameran ini menampilkan lini masa kehidupan Bagong. Diawali dari tahun kelahiran, yaitu 9 Oktober 1928 sekaligus latar belakang keluarganya yang dekat dengan aktivitas kesenian. Krida Beksa Wirama menjadi tempat pertamanya menempuh pendidikan seni tari pada 1946. Memasuki masa Orde Lama, dimana Sukarno banyak menggalakan misi-misi kebudayaan ke mancanegara, Bagong bersama dengan seniman-seniman lainnya banyak menciptakan karya-karya tari baru. Dalam salah satu highlight lini masa yaitu tahun 1958 yang menandai berdirinya Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja. Arsip-arsip pada masa orde lama ini, ingin secara lebih dalam ingin menandai Bagong sebagai penari yang melahirkan banyak eksperimentasi, salah satunya dengan perpaduan ritmik antara pantomime dengan gerak tari secara dramatik.

Sebuah kliping tertanggal 23 Juli 1960 dari surat kabar Star Weekly menjadi arsip pertama yang menuliskan karir Bagong sebagai pelukis. Secara garis besar mengetengahkan kehadiran antara seni rupa dan seni musik, dimana diantaranya terdapat seni tari yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tulisan ini ditutup dengan kritik pada karya lukis Bagong, yang dinilai meskipun temanya beragam, menunjukan luasnya wawasan, namun belum menonjol secara teknik pewarnaan dan komposisi.

Jika diperhatikan, lini masa dekade 60-an terdapat tahun-tahun yang hilang, yaitu di antara tahun 1963-1966. Sama sekali tidak terdapat arsip di sekitar peristiwa peralihan kekuasaan tahun 1965. Kekosongan ini menjadi menarik mengingat ini adalah salah satu momen-momen paling krusial bagi eksistensi seniman melalui afiliasi politiknya. Memasuki masa orde baru, secara tegas disampaikan bahwa Bagong banyak menangani pesanan dari pemerintah, mulai dari BUMN, korporat, dan lembaga-lembaga lain. Ini bisa dilihat sebagai langkah negosiasi seniman menghadapi pemerintahan yang represif, terlepas dari kontroversinya.

Selain momentum berdirinya PSBK tahun 1978, terlihat banyak arsip yang menunjukkan kedekatan dengan militer. Memasuki dekade 1990-an, dimana usianya menginjak 60 tahun, Surabaya Post menyebut Bagong sebagai koreografer yang menularkan “isme”-nya. Meski Bagong sendiri menolak sebutan bahwa karyanya menuju proses menemukan “tari Indonesia”. Di lain sisi, Bagong juga dikritik sebagai seniman yang sangat dekat dengan pemerintah, menerima karya pesanan, hingga karyanya dianggap murahan. Namun Bagong berdalih bahwa aspek terpenting adalah membuat karya yang komunikatif bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan misi, isi dan estetikanya. Dalam tulisan-tulisannya di media massa, terlihat Bagong juga beredar dalam wacana kesenian, terutama di ranah persinggungan antara pembaharuan nilai dan filosofi seni tradisi, dan profesionalitas seniman dengan dorongan turistik. Di samping masih banyak catatan menarik mulai dari protes Bagong terhadap KIAS (Festival Kebudayaan Indonesia Di Amerika Serikat) 1990) karena dianggap melibatkan seniman Lekra, hingga klaimnya bahwa berkesenian adalah berpolitik, namun masih malu-malu mengakui bahwa karyanya menyinggung kritik terhadap politik praktis. “Ujung” dari lini masa ini adalah tahun 2004, dimana Bagong berpulang pada 15 Juni 2004 di usia 76.

Selain lini masa yang disajikan di lantai pertama, lantai kedua ruang pamer juga masih menampilkan koleksi arsip Bagong. Namun lebih fokus pada catatan kliping dan foto dokumentasi. Seluruh arsip yang dipamerkan memang sengaja ditunjukkan untuk dibaca secara lebih mendalam. Maka dari itu di seluruh ruang pamer menyediakan “ruang baca” sederhana. Meski sayangnya beberapa kliping tidak lengkap, baik dari sumber dan tanggal penerbitan, hingga teks yang terpotong. Suwarno dalam penutup catatan kuratorialnya mengharapkan bentangan arsip-arsip Bagong menjadi pemantik atau bahkan rujukan utama dalam penelitian baik sejarah, seni, politik, dan lain-lain.

Harapan ini menjadi semacam “free pass” bagi publik untuk menafsir ulang praktik kesenimanan Bagong. Terlebih pameran arsip ini menekankan pada tahun-tahun yang dianggap menjadi tonggak karir Bagong. Apa yang dianggap penting dalam pameran ini bisa jadi berbeda dari interpretasi publik. Perluasan konteks dan perspektif memang harus muncul secara kritis dalam benak publik ketika dihadapkan pada arsip-arsip ini. Sebagaimana layaknya kerja arsip yang terus memperpanjang usianya dengan terus diaktivasi. Terlihat pameran arsip ini sedang menuju kesana.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Nusasonic: Melintas Batas Bunyi

Oleh: Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Perhelatan Nusasonic berlangsung pada 2-13 Oktober 2018 di beberapa lokasi di Yogyakarta, dan Magelang. Nusasonic diprakarsai oleh Goethe-Institut Asia Tenggara, dan menggandeng kolaborator lintas negara yaitu Yes No Klub (Indonesia – Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Filipina – Manilla), Playfreely/BlackKaji (Singapore) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (German – Berlin) mengusung tajuk utama yaitu Crossing Aural Geographies. Nusasonic yang mengelaborasi wacana multikultur bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara, silang pendapat dalam kawasan tersebut, dengan Eropa dan negara-negara lainnya. Diskusi, lokakarya, dan pertunjukan seni musik menjadi program yang dihadirkan dalam Nusasonic.

Minggu, 7 Oktober 2018, 14 pelaku seni dipertemukan dalam satu ruang diskusi. Satu dari serangkaian program diskusi Nusasonic digelar di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta pukul 14.30 – 20.30 WIB. Mengangkat empat topik pembahasan yaitu “Interlacing Networks” yang dimoderatori oleh Anna-Maria Strauss dan menghadirkan Erick Calilan, Jan Rholf, Tengal, Wok the Rock, Yuen Chee Wai sebagai pembicara. Inti dari diskusi ini adalah banyak cara dalam menjalin jaringan. Erick Calilan menuturkan bahwa dalam berjejaring, bermula dari bergabung dengan komunitas berbasis seni. Dengan latar belakang yang tidak menempuh pendidikan formal dibidang teknik elektronik, Calilan mengeksplorasi aktivitasnya dengan melakukan eksperimen dan riset mandiri melalui minat khusus yang berkaitan dengan bebunyian sebagai medium artistik.  Kemudian, ia mengembangkan kiprah artistiknya dengan berpartisipasi aktif dalam pertukaran gagasan dan kolaborasi terutama di ranah seniman visual, praktisi seni media baru, peretas, musisi eksperimental, dan seniman bunyi (sound art).

Sesi kedua dimulai pukul 16.00-16.45 WIB dengan pembicaraan tentang “The Cyborg in the River : Sewing Machines to the Ethnic Body” yang diutarakan oleh Tad Ermitaño. Tad Ermitaño yang merupakan tokoh kunci seni media baru di Filipina menyoroti bahwa “teknologi itu penting, karena manusia butuh mesin untuk melanjutkan kehidupan dan bersosial”.

“Self-Organising Structures and Maker Culture” menjadi topik diskusi pada sesi ketiga yang dimulai pukul 17.00-18.00. Andreas Siagian, Arnont Nongyao, Lintang Raditya, Peter Kirn, Yab Sarpote turut angkat bicara tentang topik diskusi pada sesi ini. Berlanjut pada sesi keempat yang merupakan sesi terakhir pada program diskusi Nusasonic kali ini, yang melibatkan Gunawan Maryanto, Yennu Ariendra dan J Mo’ong Santoso sebagai pembicara pada topik “Music and Politic through Raja Kirik”.

Jaranan buto merupakan bentuk kesenian tradisional yang ada di Banyuwangi atau Blambangan. Tarian rakyat yang sebenarnya adalah bentuk dari tiruan atas kebudayaan Mataram yang dilakukan orang Banyuwangi. Namun yang menarik adalah tiruan dari kebudayaan Mataram atau Jogja ini, kemudian digunakan oleh orang Banyuwangi untuk melakukan sebuah bentuk perlawanan kebudayaan. Banyuwangi atau Blambangan adalah satu kerajaan Hindu yang cukup tua di Jawa yang teramat sulit untuk ditaklukan oleh Belanda, Mataram, dan Bali. Banyuwangi diibaratkan seperti daerah yang terus menerus otonom dan melakukan perlawanan. Bentuk kebudayaan Banyuwangi sebenarnya adalah varian dari kebudayaan Jawa yang paling tua yang masih terus dilakukan sampai sekarang. Itu salah satu pijakan utama dari project Yennu dan Moong yaitu Jaranan Buto. Akan tetapi, secara tematik Yennu dan Moong mencoba mengangkat Raja Kirik sebagai suatu bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh Mataram kepada Banyuwangi atau Blambangan yang tidak bisa ditaklukan. Maka itu, Mataram mencoba menaklukan dengan cara kebudayaan atau membangun mitologi yang memperburuk citra orang Banyuwangi” tandas Yennu setelah pemutaran Film tentang Jaranan Buto.

Program diskusi lainnya berlokasi di MES 56, adalah “Resonances-Fractures between Kuala Lumpur, Cairo, Yogyakarta”. Dengan menggandeng Nadah el Shazly, dan Sudarshan Chandra Kumar sebagai pemateri dan di moderator oleh Grace Samboh. Diskusi ini membicarakan tentang apa saja tantangan yang dihadapi oleh mereka (pemateri) dalam hal audiens, kancah dan jaringan, lokasi, tradisi lokal dan iklim sosio-politik, hubungan kultural atau historis yang tercipta antara Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah. Selain itu, tak lupa pula membicarakan apakah pengalaman dan warisan lokal mereka berpengaruh terhadap praktik musiknya.

Terlalu banyak kontrol yang dilakukan oleh pemerintah di Kairo yang cenderung membatasi kegiatan bermusik, menjadi permasalahan utama disana yang pada akhirnya membuat banyak orang gugup bahkan takut untuk berekspresi melalui musik. “Baiknya, seniman musik harus diberikan dukungan  oleh produser, bagaimana cara mereka mempromosikan karyanya di media.” Ungkap Nadah el Shazy mengenai musik dan iklim sosio-politik. Sudarshan angkat bicara tentang hubungan kultural yang tercipta antara Indonesia dengan Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak kemiripan antara Indonesia dan Malaysia termasuk dalam hal musik. Indonesia memiliki dangdut yang menjadi ciri khas musiknya. Banyak orang-orang Malaysia menyukai genre musik ini. Bahkan ada salah satu lagu dangdut Indonesia, “Keong Racun” dinyanyikan kembali oleh penyanyi Malaysia dengan menggunakan bahasa Malaysia. Tidak cukup sampai disitu, bahkan “Keong Racun” versi Malaysia memiliki versi video musiknya sendiri. Hal ini menjadi salah satu bukti ketertarikan dan hubungan kultural antara Indonesia dengan Malaysia.

Beralih ke program pertunjukan. Dengan menggunakan beberapa lokasi di Eloprogo Art House, panggung 2 dimeriahkan oleh seniman-seniman seperti Wilderness-AGF, Asa Rahmana, Ayu Saraswati, Joee & I,  Menstrual Syndrome, dan Sarana dengan kolaborasi yang luar biasa sebagai warming up acara tersebut. Pertunjukan ini dilaksanakan pada  13 Oktober pukul 15.00 dengan iringan lantunan aliran sungai desa Wanurejo. Sore itu, seniman-seniman dari berbagai daerah silih berganti hilir mudik berdatangan meramaikan pertunjukan tersebut. Sebelum menuju panggung utama, panggung 3 dengan gaya circle  menampilkan penampilan dari Jogja Noise Bombing.

Menjelang malam, sebelum menikmati panggung utama, para penonton juga disuguhi beberapa karya karya seni rupa di galeri sebelum menuju panggung utama. Ada beberapa penampil, seperti The Music Makers Hacklab, mereka adalah laboratorium kolaboratif selama seminggu yang diselenggarakan oleh Peter Kirn dari CDM (cdm.link). Kemudian juga ada Hacklab dari Yogyakarta dengan co-host Andreas Siagian dan Lintang Radittya, merefleksikan aspek bermain musik yang menyenangkan dan kolaboratif, mereka yang terlibat adalah Erick Calilan dan Duto Hardono, Peter Kirn, Lintang Radittya, Storm, Amont Nongyao, Tad Ermitaño, Mica Agregado. Setelah pengunjung berdesakan menikmati musik di galeri, panggung utama pun dibuka oleh Nadah el Shazly. Suara El Shazly sangat berani namun lembut, dieksekusi dengan terampil dari awal sampai akhir. Liriknya puitis dan tajam, membentuk gambar melalui frasa.

Nusasonic sudah berhasil memperpadukan kolaborasi lintas musik Negara secara kreatif dan inovatif. Setiap seniman dari masing-masing negara, dengan latar belakang konteks kultural, sosial, dan politik telah unjuk gigi di hadapan audiens yang beragam pula. Melalui eksperimentasi seni (khususnya seni media baru), teknologi, dan bunyi, kekakuan karena antara batas geografis mencair dalam perhelatan ini. Nusasonic menunjukkan perlintasan dan saling silang batas bebunyian dalam pengalaman personal, hingga global.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

#SOROTANPUSTAKA SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Oleh: Santosa

Pengunjung perpustakaan memiliki kecenderungannya membaca bahan pustaka yang masih beragam, keragaman tersebut antara lain: seni di ruang publik, hukum berkenaan dengan hak cipta dari produk seni, pemikiran Marxis di Asia Tenggara dengan penekanan pada Indonesia khususnya di sekitar rentang waktu 1965, maupun penelitian tentang seniman seperti Trubus Sudarsono hingga Ugo Untoro. Sumber-sumber pustaka ini dijadikan bahan penulisan, baik untuk skripsi dan  tesis.

Dalam aktivitas input buku baru, telah dimasukkan metadata ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) dengan dibantu  oleh 2 kawan magang. Satu berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta dan satu dari Sanata Dharma Yogyakarta. Baik pustaka baru maupun pustaka lama yang telah diinput sepanjang bulan Agustus – September 2018   yaitu: 35 Majalah, 47 Katalog, 40 Buku, 7 Komik, dan 1 Skripsi. Dalam tambahan pustaka baru kali ini ada 8 yang akan diulas, mereka adalah Nakal Harus Goblok Jangan, Politik Tanpa Dokumen, Pada Sebuah Kapal Buku, Semesta Dibalik Punggung Buku, Konferensi Asia Afrika 1955, Becoming 20 Tahun Galang Kangin, Begitu ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu, Bergerak dari Pinggir.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Semesta di Balik Punggung Buku

Oleh Gabriela Melati Putri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku        : Semesta di Balik Punggung Buku
Pengarang         : Muhidin M. Dahlan
Penerbit              : I:Boekoe
Tahun Terbit      : 2018
Deskripsi Fisik : 13x19cm, 444 hlm.
Nomor Panggil : 300 Dah D

Nah, tahulah kita bahwa buku tak sekadar soal laba-rugi, adu syahwat proyek buku ajar di sekolah, dan serangkaian pidato dengan mengutip angka-angka presentase minat baca yang jeblok. Buku melampaui kisah fraktal macam itu.
        Semesta di Balik Punggung Buku, hlm. 21–

Melalui kumpulan ulasan buku yang ditulis Muhidin M. Dahlan, kita diajak untuk melihat “Semesta Dibalik Punggung Buku” (sebagaimana judul buku ini dituliskan). Disusun dalam enam bab, kita diajak mengupas sedikit demi sedikit luasnya semesta di balik buku yang berjejer di rak-rak toko buku. Penulis yang akrab disapa Gus Muh ini mengajak pembaca mengenal para (bukan) pembaca buku yang menggerakkan pasar dan tergila-gila dengan buku. Para penerbit yang terlibat dalam proses produksi buku sebelum sampai di tangan para pembaca. Para penulis yang menuangkan rekaman realitas dan ingatan mereka di dalam tulisan. Dan tidak terlewat juga pegiat pustaka yang berusaha membangun semangat budaya literasi di tengah masyarakat. Tidak jarang, di antara subjek-subjek yang hidup di dalam semesta tersebut, ada relasi kuasa yang terjadi: antara negara dengan para pegiat literasi, antara para penerbit yang tengah bersaing, dan bahkan lebih sering di dalam relasi sosial kita di dalam keseharian–beragama dan bernegara. Semakin jauh melangkah di dalam buku ini, kita diajak untuk membaca buku sebagai catatan pemaknaan atas peristiwa sosial, sejarah, politik, dan budaya yang ada di sekitar kita yang kompleks dan tidak linear, apalagi netral.

Sebagaimana disebut Ratih Fernandez di dalam pengantar, “Ada begitu banyak buku yang terbit, tetapi hanya sedikit yang diulas. Akhirnya, buku-buku yang tidak diulas itu, tidak benar-benar sampai ke pembaca.” Padahal, seperti kutipan Gus Muh yang disebut di awal tulisan, persoalan buku tidak lagi hanya menjadi laba-rugi atau sebagai komoditas pasar. Bukan juga sebagai bacaan yang terpisah begitu saja dari masyarakat. Justru, sebagai sumbangsih literatur yang perlu tetap hidup, gagasan-gagasan yang tertuang di dalam buku perlu dibaca dan dimaknai secara kontekstual. Dengan memperbincangkan buku di dalam ulasan-ulasan, kita ikut merayakan buku sebagai peristiwa literasi agar selalu bertemu dengan pembaca-pembaca yang baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Nakal Harus, Goblok Jangan

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku          : Nakal Harus, Goblok Jangan
Pengarang           : Muhidin M. Dahlan
Penerbit                : I:Boekoe
Tahun                      : 2018
Deskripsi Fisik   : 451 Hlm
No. Panggil           : 300 Dah D

Dalam profilnya di laman tirto.id, Muhidin M. Dahlan atau yang akrab disapa Gus Muh ini dikategorikan sebagai penulis yang tulisan-tulisannya agak kontroversi di masyarakat. Pengalaman membaca buku ini agaknya membuat pengkategorian tersebut tidak sepenuhnya keliru. Jalan kepenulisan yang dipilih Muhidin mungkin memang mengarah ke sana, dan itu juga yang membuat tulisannya menjadi berkesan.

Salah satu ciri kontroversi tersebut dapat ditemui dalam salah satu seri buku 20 Tahun Menulis Muhidin M: Nakal Harus Goblok Jangan. Dahlan. Bagaimana banyak menyinggung (kalau tidak ingin disebut membela) nasib kaum yang disebutnya sebagai kaum Kuminis (plesetan Muhidin dari Komunis) yang posisinya selalu termarjinalisasi, ketimbang mengamini stigma negatif yang kadung mengakar. Kutipan berikut dari salah satu tulisannya dalam buku ini mungkin bisa memperkenalkan kita kemana sebetulnya jihat(d) Muhidin;

“Sebab, keinginan kuat mengingat amal baik dari sebuah kaum paling terkutuk di NKRI inilah, tulisan ini menemui Anda. Dakwah bil-hikmah ini berpretensi, bahwa di tengah kegelapan pikir memandang kuminis dalam segala aspeknya, kuminis adalah selapisan kaum politikon yang melihat lebaran sebagai bulan kemenangan; bulan perdamaian” (hlm. 194).

Buku ini merupakan salah satu seri dari total empat seri yang diterbitkan. Berisi sebanyak 69 esai yang akan membuat pembaca bertamasya menyalami ragam persoalan. Tidak hanya persoalan sebetulnya, tetapi pengetahuan pembaca akan sejarah juga akan tercerahkan atau minimal bertambah. Melihat dalam satu seri terdapat puluhan esai, dapat dibayangkan jika Muhidin merupakan tipe orang dengan banyak keresahan. Sebab konon, tulisan-tulisan atau produk pikiran apapun itu lahir dari keresahan.

Patut dihaturkan pula terima kasih kepada editor buku ini, Safar Banggai yang telah memilah-kelompokkan puluhan esai tersebut ke dalam bab-bab yang dinamainya dari potongan teks Proklamasi. Total ada lima bab yakni; “Kami Bangsa Indonesia”, “Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”, “Mengenai Pemindahan Kekuasaan”, “D.L.L.”, dan “Wakil-Wakil Bangsa Indonesia”. Seperti yang disebutkan di awal, topik-topik yang terangkum dalam buku kumpulan esai ini beragam, mulai dari bahasan soal Raffi Ahmad, hingga Bung Karno, mulai dari konflik sosial, hingga perjalanan sejarah bangsa dan identitas tokoh-tokoh. Meminjam kata editor, mungkin kita kagumi (dan mungkin kita benci). Tidak ketinggalan pula tentu saja, topik yang gurih-gurih sedap dibahas tiap esais yaitu rezim pemerintahan sekarang, dan hal-hal di luar yang telah disebutkan tadi, tetapi masih masuk dalam hitungan butuh untuk pembaca ketahui.

Ditulis dalam periode waktu 2014-2018, hampir semua esai dalam buku ini pernah dipublikasikan di beberapa media seperti, Mojok.co, Jawa Pos, Koran Tempo, Muhidindahlan.radiobuku.com, Solopos, Media Indonesia, Tirto.id, dan Geotimes.co.id.

Bagi tipikal pembaca yang lebih dulu menguap sebelum membaca paragraf pertama sebuah esai atau “tulisan yang tidak ringan”, buku ini mungkin cocok untuk Anda. Sebab 54 esai dalam buku ini diambil dari tulisan Muhidin yang pernah dipublikasikan di Mojok.co, yang artinya adalah Anda akan maklum menemui beberapa kata cakapan di tengah-tengah bahasan yang seharusnya “serius” seperti misalnya ena, menye-menye, unyu, selo, dan lain-lain: tulisan-tulisan yang menggelitik sekaligus getir. Ini juga mungkin sebuah upaya mengetuk pintu kesadaran kita bahwa persoalan yang rumit jangan melulu dibawa kaku.

Akhir kata, yakin usaha sampai!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.