Tag Archives: #buletinivaa_Maret2020

Melebur dalam Kehidupan: Sorotan Arsip Seni dan Lingkungan

oleh Dwi Rahmanto dan Hardiwan Prayogo

Tahun 2018 silam, ketika Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Asian Games, ramai pemberitaan mengenai instalasi seni bambu berjudul “Getah Getih” karya Joko Avianto. Perbincangan mengenai karya ini cukup luas, mulai dari harganya yang mencapai Rp 550 juta, apa esensi dan nilai yang ingin disampaikan dari instalasi karya ini di ruang publik, dan lain sebagainya. Karya  yang dipajang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia ini dibongkar pada Juli 2019. Peristiwa ini mungkin paling diingat publik jika membicarakan isu seputar isu seni dan lingkungan. “Getah Getih” yang bahan materialnya berasal dari bambu, dari alam, dapat ditarik jangkar diskusinya dalam kaitannya dengan isu seputar seni dan lingkungan. Topik sorotan arsip kali ini akan menandai arsip-arsip IVAA yang berhubungan dengan karya-karya berbahan material alam, karya-karya yang mengkampanyekan pelestarian alam, aksi-aksi dan narasi yang beredar di sekitar wacana tersebut.

Sejak 2013 wawancara dengan Firman Djamil dapat diakses melalui online archive, dan kanal youtube IVAA. Kala itu arsiparis IVAA, Dwi Rahmanto, berkesempatan mengunjungi Makassar, kota yang ramai dengan tingginya mobilitas dan perkembangan kota. Peristiwa seni dan pelaku seni juga banyak tersemai di sana. Firman Djamil adalah seniman yang menarik. Profil singkatnya bisa diakses di sini. Perjalanan Dwi berjumpa dengan Firman ini tidaklah mudah. Firman sengaja memilih tidak tinggal di pusat kota. Adalah sebuah rumah tradisional dengan arsitektur berbahan kayu berbentuk rumah panggung tempat Firman tinggal. Dwi dapat bertemu dengan Firman, dibantu seorang kawan dekat yang memahami sudut-sudut kota Makassar, bernama Jaya Liem.

Firman yang tumbuh besar di Bone, Bukaka, sebuah daerah penghasil gerabah dan batu bata, membuatnya sudah akrab dengan material ini sejak dini. Terlebih lagi garis keluarganya juga pengrajin gerabah. Nenek Firman juga seorang penenun, ini juga membuat Firman lihai menenun. Firman mengaku kemampuannya di bidang seni diturunkan langsung dari sang bapak, Muhammad Djamil, yang memang pandai dan fasih dengan media cat air. Berdasarkan ingatannya, Firman bercerita bahwa bapaknya belajar dari orang Jepang semasa pendudukan Jepang.

Tahun 2009, Firman terlibat dalam Jogja Biennale X 2009: Jogja Jamming. Ketika itu Firman membuat karya instalasi patung bertajuk “Tidak Sapu”. Sebuah karya dengan tinggi sekitar 6 meter di Plengkung Gading. Sebelumnya, pada tahun 2003 Firman pernah terbang ke Kota Gongju,  Korea Selatan sebagai salah satu seniman pada perhelatan 2003 Geumgang International Nature Art Exhibition. Di sana Firman membuat karya berjudul “The Breath of Mother Earth on Phallus”, sebuah karya instalasi berukuran 3 x 1,5 meter dengan medium bambu dan kayu. Selain itu, Firman juga menampilkan karya performance dengan judul “The Breathing”. Firman memang lekat dengan karya-karya instalasi berbahan material alam. Wajar jika namanya kerap muncul ketika membicarakan seni lingkungan.

Arsip lain yang dapat dikaitkan dalam pembicaraan atas tema ini adalah Pameran Seni Rupa Lingkungan: Proses ’85. Pameran ini berupaya mengemukakan permasalahan lingkungan hidup di Indonesia supaya terjadi pembahasan yang bergulir antara masyarakat luas, pecinta lingkungan, dan seniman. Mereka yang terlibat adalah Wienardi, Moelyono, Harris Purnama, Gendut Riyanto, FX Harsono, Bonyong Munny Ardhie. Kemudian pada tahun 1999 pernah digelar festival yang mempertontonkan berbagai macam rupa memedi (hantu) sawah yang tidak serta-merta hanya untuk mengusir hama di areal persawahan. Acara ini bertajuk Festival Memedi Sawah. Lalu setidaknya 2-3 tahun terakhir, kita masih dengan cukup mudah menemukan karya-karya yang kental dengan isu lingkungan, salah satunya I Made Bayak. Dia seniman yang aktif membicarakan soal sampah plastik. Proyek ini dinamakan plasticology. IVAA mengumpulkan arsip dengan tema ini melalui Seri Katalog Data IVAA#2: Reka Alam Praktik Seni Visual Dan IsU Lingkungan Di Indonesia (Dari Mooi Indie Hingga Reformasi)

Karya-karya yang bermain pada tema ini bisa selalu relevan dari jaman ke jaman. Namun harus diperhatikan ketika menyentuh nilai etis dan estetisnya. Karya seni yang membawa isu lingkungan sepatutnya menggunakan material yang ekologis, material yang akan hancur dengan sendirinya tanpa menimbulkan masalah pada lingkungan itu sendiri. Selain itu kadang ada tuntutan bahwa karya harus mengedukasi publik soal problem-problem ekologis. Jika manusia memang menjadi aktor perusakan lingkungan, jangan sampai kehadiran seniman dengan karya seninya justru ikut merusak.

Pesan-pesan melalui praktik seni lingkungan masih relevan untuk hari ini, untuk masa pandemi Covid-19. Bahwa manusia dan alam memang harus saling hidup menyatu, tak hanya berdampingan. Ketika suatu wabah menyerang dan membuat manusia berdiam diri di rumah, polusi udara dari asap kendaraan mulai berkurang, kualitas udara setidaknya ikut membaik. Meski tentu saja perkara pencemaran dan perusakan lingkungan yang lain belum bisa sepenuhnya tuntas. Praktik yang dilakukan seniman-seniman seperti Firman, membuka mata bahwa seni tidak harus hadir di ruang galeri, museum seni, atau rumah kolektor. Kehadiran seni dengan tema lingkungan yang kerap ditempatkan di ruang publik bisa membuat kita terlibat langsung mengapresiasi apapun bentuknya. Karya-karya demikian dapat kita temui di taman kota, jalanan kampung, pinggir sungai atau bahkan bisa jadi di tengah-tengah danau! Praktik demikian rupanya ingin mencoba menebalkan spirit, pesan dan filosofinya, bahwa tidak hanya menggunakan material alam, tidak hanya membicarakan relasi manusia dengan keseimbangan alam, tetapi juga meleburkan karyanya di ruang-ruang terbuka dan semenyatu mungkin dengan lingkungan, sedekat mungkin dengan masyarakat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Meruang dalam Maya Museum dan Galeri Seni

oleh Yulius Pramana Jati

Bulan Maret 2020 adalah puncak kepanikan di Indonesia terkait pandemi Corona COVID-19. Kepanikan disertai dengan kelangkaan, bahkan hilangnya stok beberapa APD di pasaran seperti masker medis, sabun cuci tangan, cairan antiseptik, alkohol 70% hingga yang paling miris adalah hilangnya pekerjaan, pemasukan hasil usaha, perkuliahan konvensional, dan kebebasan bepergian-berkumpul secara langsung guna mengisi serta merasakan suatu ruang berikut atmosfernya. Dampak yang diakibatkan pandemi virus ini sangatlah kompleks karena hampir menyentuh segala aspek baik material maupun sosial. Bahkan bisa dikatakan jika virus ini adalah virus yang sangat demokratis karena tidak pandang kelas dalam menjangkiti objeknya. 

Tak tanggung-tanggung, pandemi ini juga telah merubah tatanan sosial masyarakat, seperti hilangnya budaya berjabat tangan sehingga tiap individu pun kini semakin berjarak sembari muncul kecurigaan apakah seseorang yang ditemui terjangkit virus atau tidak. Kecurigaan tersebut lumrah terjadi mengingat tidak semua orang berkesempatan melakukan swab test, ditambah vaksin COVID-19 yang belum ada ekstraknya padahal daya tular sedemikian kuatnya. Jadi jika suatu ketika tersiar kabar ketersediaan swab test yang inklusif dan ditemukan vaksin Corona COVID-19, dapat dipastikan itu adalah suatu kabar gembira

Selama belum ada solusi pasti dalam menuntaskan wabah ini, pada akhirnya tindakan pencegahan adalah satu-satunya solusi untuk menanggulangi. Salah satu langkah penanggulangan yang dilakukan pemerintah adalah dengan melarang masyarakat berkerumun dan berkumpul dalam pertemuan politik, kegiatan hiburan, olahraga, akademik, sosial dan budaya seperti yang tertuang dalam Permenkes 9/2020, Pasal 13 ayat (9) dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar atau sering disebut dengan PSBB. 

Tak main-main, ada sanksi pidana bagi yang melanggar. Apakah peraturan tersebut tepat dan efektif? Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas hal tersebut melainkan lebih kepada dampak penanggulangan pandemi COVID-19 yang mempengaruhi tatanan sosial masyarakat terutama dalam aspek seni dan budaya. Yang jelas, peraturan sudah ditetapkan dan dapat dipastikan masyarakat tak lagi bebas berkumpul seperti biasanya dan muncul tagar #StayAtHome. Tagar tersebut muncul secara global, karena rata-rata seluruh negara menerapkan peraturan serupa bagi masyarakatnya. Pembatasan tersebut juga berdampak pada ruang gerak kesenian masyarakat seperti tampil dalam perhelatan seni, menonton pertunjukan seni, mengamati koleksi-koleksi dari museum dan galeri seni sembari berswafoto di depan karya. Dari semua hal tersebut, ada yang perlu menjadi perhatian, salah satunya tentang keterbatasan akses masyarakat berkunjung ke galeri dan museum seni. Selain karena banyak museum dan galeri seni yang menutup akses kehadiran pengunjungnya, banyak di antara masyarakat yang juga enggan keluar bepergian karena khawatir terjangkit virus COVID-19.

Foto: Dok. IVAA

Tetapi dari keterbatasan itu muncul berbagai strategi alternatif guna memenuhi hasrat masyarakat dalam berkesenian, salah satunya dalam hal mengunjungi galeri dan museum seni. Untuk sekadar mengakses sebenarnya cukup mudah, yakni dengan mengunjungi laman digital/ website dari museum dan galeri seni tersebut. Tetapi ada fitur menarik jika masyarakat ingin seakan-akan berada di dalam ruang pamer koleksi karya-karya tersebut. Salah satunya dengan fitur virtual tour (tur maya) gratis yang dilakukan beberapa museum dan galeri seni baik di dalam maupun luar negeri. Sebenarnya banyak yang telah menyediakan fasilitas tur maya sebelum masa pandemi, tetapi langkah ini seakan menjawab tantangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pada aspek seni tanpa harus takut terpapar wabah. Tetapi apakah tur yang bersifat maya ini dapat memenuhi dan menggantikan kebutuhan masyarakat untuk mengunjunginya secara langsung?

Foto: Dok. IVAA, Design: Y. P. Jati

Realitas maya atau virtual merupakan suatu teknologi yang menghadirkan bentuk realitas lain yang merupakan hasil simulasi dari komputer. Orang yang menggunakannya dapat seakan-akan hadir merasakan pengalaman suatu ruang dan keadaan yang ditampilkan dalam realitas maya tersebut. Bahkan dalam pengembangannya kini, realitas maya tak hanya bisa menghadirkan pengalaman visual saja tetapi juga pengalaman indrawi seperti suara asli suatu lingkungan hingga kontur fisik dari objek yang disimulasikan. Yang ditampilkan realitas maya ini bersifat semu, terlihat nyata tetapi bukanlah kenyataan yang sebenarnya walaupun objek yang disimulasikan merupakan objek yang benar-benar ada atau eksis.

Jika dikontekstualisasi dengan pengalaman maya dalam mengunjungi museum dan galeri seni, maka bisa dikatakan masyarakat hanya dapat mengambil keuntungan semu dari fitur ini, yakni hadir dalam waktu yang singkat tanpa harus mengeluarkan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Tetapi masyarakat tidak dapat merasakan kenyataan ruang secara riil karena realitas yang diakses tidak secanggih realitas maya yang dapat memberikan informasi indrawi lainnya, mengingat rata-rata hanya menyuguhkan realitas maya secara visual berupa dokumentasi foto 360° yang interaktif. Ini seperti keuntungan menonton film secara streaming, sebuah keuntungan ketika film yang ingin ditonton sudah turun layar. Masih dapat diakses tetapi tidak dapat merasakan pengalaman saat menonton film di bioskop beserta segala teknologi indrawinya (suara 5.1, layar lebar, dan kursi yang nyaman) secara langsung.

Dengan fitur ini kita tidak lagi mendapatkan kesempatan berswafoto secara langsung di depan sebuah karya yang wujud materialnya nyata, walaupun mungkin ada yang kreatif dengan berswafoto di depan layar laptop/ PC ketika mengakses fitur realitas maya tersebut. Tetapi bisa dipastikan sungguh berbeda pengalaman yang didapatkan. Namun ada hal paling berharga yang tidak didapatkan ketika mengakses melalui realitas maya, yakni pengalaman meruang guna merasakan atmosfer suatu museum dan galeri seni yang nyata. Sebuah ruang dan karya seperti sebuah kesatuan yang menubuh menjadi satu. Kesesuaian ruang mampu mempengaruhi perasaan, perspektif, hingga persepsi dari orang yang berada di dalamnya secara nyata.

Pengalaman saya selama mengunjungi museum dan galeri seni; gema, bau, suasana dan tata ruang sangat mempengaruhi pembacaan terhadap sebuah karya. Seolah ada interaksi yang sentimentil antara saya dan karya di mana perasaan tersebut selalu didewasakan oleh pikiran. Di saat yang sama, saya sadari jika sebuah ruang turut andil besar dalam proses tersebut. Selain itu, meruang atau menikmati, merasakan, dan memahami ruang secara nyata juga mampu memberikan nilai historis secara pribadi yang sentimentil pula, karena kita secara nyata benar-benar telah hadir dan berinteraksi dengan karya tersebut berikut ruang yang menaunginya. Ini juga bisa menjadi sebuah penanda kehadiran kita pada sebuah ruang yang mungkin juga dialami orang lain di ruang yang sama sehingga mampu menstimulasi sebuah silang pengalaman terhadap ruang beserta segala karya di dalamnya. 

Itulah mengapa swafoto di depan layar laptop/ PC tidak akan mampu mengalahkan swafoto atau dokumentasi pribadi pada ruang yang nyata. Hal tersebut juga dirasa berlaku pada tur museum dan galeri seni secara maya, ketika kita tidak merasakan pengalaman-pengalaman esensial seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Kita memang pernah melihat isi dari suatu ruang seni tetapi tak akan benar-benar menubuh jika kehadiran kita pun bersifat maya, karena yang seakan-akan bukanlah kenyataan.

Kita belum tahu kapan pandemi ini berakhir dan ada banyak prediksi terhadap peristiwa yang akan terjadi pasca pandemi. Tetapi prediksi adalah prediksi, bisa kita jadikan alasan untuk mawas diri tanpa ada tekanan untuk mempercayainya. Termasuk perubahan segala sesuatu yang bersifat fisik akan lebih dilakukan secara daring dan bersifat maya mengingat pandemi ini sangat kuat merubah tatanan sosial masyarakat secara global. Tetapi ada harapan besar jika hal tersebut (maya/ virtual) hanyalah menjadi alternatif saja, bukan yang utama. Kita harus sadar bahwa pandemi ini adalah entitas yang mengajak kita untuk kembali menghargai sebuah interaksi langsung tanpa jarak, di tengah kita yang terlalu lama menghargai sepi dan merindukan peluk serta jabat tangan dari seorang pribadi, dimana masker tak menutupi wajahnya lagi. Semoga wabah ini segera berakhir dengan baik dan ruang gerak berkesenian kita yang terbatasi segera leluasa kembali. Amin!

Foto: Dok. IVAA

Berikut adalah beberapa daftar museum dan galeri seni yang dapat diakses secara daring & gratis:

  1. Galeri Batik YBI
  2. Yayasan Biennale Yogyakarta
  3. Agung Rai Museum of Art
  4. Museum Seni Rupa dan Keramik
  5. Museum Tekstil
  6. Museum Macan
  7. Galeri Nasional
  8. Museum Van Gogh, Amsterdam
  9. Galeri Seni Nasional, Washington D.C.
  10. Museum Guggenheim, New York
  11. National Museum of Modern and Contemporary Art, Seoul

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Reflections on An Internship Cut Short

oleh Grady Textler

I came to IVAA with little experience in art or archiving. Art has always been interesting to me – I’d visit galleries with my dad when I was younger, and tried to go to new exhibitions in the city throughout high school – but it always remained at this surface level interest. I’d never studied or worked in the field of art, and I’d definitely never felt a part of the “art world” in my hometown. Upon coming to Jogja, this inexperience is what drew me to IVAA: the opportunity to learn about something totally new to me, and, moreover, the opportunity to learn about Jogja through the unique window of contemporary art.

In the beginning, I was mostly confused – I read a few large volumes about the history of IVAA and the history of contemporary art in Jogja. I edited pictures from galleries and uploaded them to IVAA’s online archive. But with limited Indonesian language skills, there wasn’t a whole lot I could do. I tried my best to absorb what knowledge I could. Even just being in the office felt like a learning opportunity. Each day offered me a chance to practice Indonesian, or to learn some new thing about art in Jogja.

I proposed my own project – a study of gapura kampung, neighborhood gates – and was able to spend a few days out of the office trekking up and down busy Jogja streets to take photographs of the various ornate gates that the city has to office, each demarcating an RT or an RW, Indonesian neighborhood governmental units. It was hot and sweaty, but interesting to collect these photographs. I was also able to interview one of the Pak RTs, leaders of the neighborhoods. This project culminated in a presentation to the office, in which I contrasted these gates with statues as forms of art in public spaces. This presentation was immensely stressful (I tried my best to do the whole thing in Indonesian, which I’d only had one semester of) but one of the most fun things I did all year. Everyone from the office grilled me on my argument or shared a different perspective and I had a great time talking with everyone.

I was also able to help out with two different exhibitions before the year ended. I helped set up and then “run” a resource room of IVAA-Cuppable-Pryakkum-Pararupayogya at Pekan Budaya Difabel, “Disabled Culture Week.” I also was an exhibition educator for Masa Lalu Belumlah Usai, a showcase of exhibition posters from 1974-2019 by Dicti Art Laboratory. This role had me sitting at the exhibit and helping to answer questions from gallery-viewers about the exhibition. Obviously, language was a limiting factor for me here, but I was grateful to be allowed to help and learned a lot from helping to set up, run and take down an exhibition.

Before my internship was cut short by COVID-19, I had embarked on another (perhaps overly) ambitious task. I wanted to delve into the tattoo culture in Yogyakarta, and so had begun to conduct a series of interviews with tattoo artists about the tattooing community. I had hoped to then string the responses together into one cohesive manuscript that told the story of tattooing in Jogja from community members’ perspectives. I only got through half of the interviews I wanted to, and wasn’t able to complete it. But I’m glad for the work I was able to do – the Indonesian-language interviews helped me develop my language skills and it provided interesting insight into a community I otherwise would have never come across.

This is by no means a comprehensive list of everything I did at IVAA, but these are the things that stand out in my mind as I reflect on my time cut short. I’m immensely grateful to all the staff and interns I met at IVAA. It was quite a challenge to be an intern in a foreign country, and even as I made mistakes I was always met with patience. The organization supported me in pursuing my own independent projects. Even as I’m unsure of the amount of help that I actually provided for the archive, I’m totally sure that I left my internship a different person – someone with a deeper understanding and appreciation of the art world, and someone who can’t wait to be back to Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Arsip Dan Kebencanaan: Alternatif Kerja Pengarsipan di Era Covid-19

Oleh Fathun Karib

Saat ini adalah waktu yang genting dan penting bagi para pekerja arsip untuk merekam berlangsungnya proses sejarah kebencanaan virus Corona atau Covid-19. Para pekerja arsip, baik arsiparis yang terlatih secara formal, kolektor budaya populer, peneliti sosial-budaya,  pencinta sejarah atau orang awam sekalipun memainkan peranan penting dalam merekam dan mendokumentasikan proses sosial, budaya, politik, dan ekonomi terkait bencana epidemi dari aktor non-manusia yaitu sebuah virus.

Esai ini berusaha menawarkan pandangan alternatif bahwa kerja pengarsipan tidak selalu terkait dengan masa yang telah berlalu (historical past) dan arsiparis mengumpulkan kepingan-kepingan dari masa lalu dalam upaya rekonstruksi sejarah. Melalui pandangan sejarah masa kini (history of the present) para pekerja arsip memiliki kesadaran bahwa hari ini dan besok atau selama berlangsungnya bencana virus Corona, pengarsipan dapat dilakukan. Dengan asumsi bahwa masa kini (present) adalah pijakan bagi masa depan (future) dan di masa depan, masa kini akan menjadi masa lalu, maka berlangsungnya bencana Covid-19 akan menjadi sejarah masa lampau. Jika umat manusia berhasil melewatinya, maka kerja pendokumentasian bencana Corona akan menjadi arsip yang berharga di masa depan.

Dalam pemahaman bahwa sejarah tengah berlangsung maka semestinya para pekerja arsip perlu mengaktifkan kegiatan pendokumentasian dan bekerja sama dengan berbagai profesi lintas disiplin dan lintas minat, termasuk mengikutsertakan partisipasi masyarakat umum. Dengan ragam temporalitas (multiple temporalities) sejarah masa lalu-sejarah masa kini-sejarah masa depan (historical past-historical present-historical future) kerja pengarsipan bisa berlangsung pada ruang waktu yang tidak terbatas. Sesuatu yang mengikat kerja arsip tertentu adalah kata kerja (keywords) dan isi (content) yang memandu kerja pendokumentasian dan pengumpulan korpus. 

Pendokumentasian sebagai bagian dari kerja pengarsipan secara tidak langsung tengah berjalan di masyarakat baik oleh institusi formal pemerintahan, entitas swasta, sosial media maupun individu-individu pada umumnya. Terlepas dari kontroversi politik, pemerintah tingkat nasional dan daerah melalui gugus Covid-19 tengah merekam dan mendokumentasikan peristiwa kebencanaan dalam format data kuantitatif (untuk akses data lihat ini). Data ini dapat diakses dan menyediakan jumlah terdampak, angka kematian, kesembuhan dan sebaran wilayah. Bagi pembuat kebijakan data ini diperlukan untuk formulasi solusi, sedangkan bagi arsiparis ini adalah sumber data arsip. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, data-data tersebut setiap harinya diperbarui dan di masa yang akan datang akan menjadi korpus sejarah. Pada level global misalnya, pendokumentasian ini juga dilaksanakan oleh World Health Organization (WHO) yang mengumpulkan data-data dari berbagai negara (lihat ini).

Potensi sumber pengarsipan juga dapat mengacu pada dokumen-dokumen kebijakan atau pernyataan-pernyataan yang dikemukakan pemerintah kepada publik. Untuk menelusuri ini, strategi pendokumentasian melalui kliping pemberitaan bencana Covid-19 merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan oleh para pekerja arsip. Apalagi teknologi digital seperti google, dapat menyimpan jejak digital sebagai ruang simpan arsip digital. 

Perusahan-perusahan media cetak dan online seperti Litbang Kompas misalnya, rutin mengarsipkan terbitan-terbitan berkala mereka secara digital. Salah satu hal menarik di sosial media adalah sebuah kliping video singkat dari Narasi TV yang merekam kontroversi kebijakan dan pernyataan para pejabat publik dari bulan Februari yang lalu. Sebagai korpus, kliping video ini bisa berharga untuk dasar mengambil kebijakan di masa yang akan datang atau menjadi mekanisme demokratis ‘cek & keseimbangan’ warga negara dalam memonitor kinerja para pemimpinnya. Pada masa yang akan datang, arsip audio-visual ini akan menjadi bahan rekonstruksi untuk memahami bagaimana dinamika negara dan masyarakat berlangsung selama masa kebencanaan Covid-19. 

Selain pengarsipan konvensional yang berorientasi pada negara, perubahan sosial-budaya dalam menghadapi Covid-19 merupakan salah satu fenomena yang dapat didokumentasikan. Budaya populer atau keseharian warga masyarakat termasuk netizen, mencerminkan pandangan alternatif dalam merespon bencana. Kita dapat menangkap berbagai macam ekspresi lucu, kecewa, kemarahan atau dukungan yang bertebaran di berbagai media sosial seperti whatsapp group, facebook, twitter, instagram dan platform lainnya. Beberapa fenomena sosial seperti WFH (Work From Home), kegiatan pasar tradisional, aktivitas ojek online,  posko bantuan atau dapur darurat Corona, sampai solidaritas saling bantu antara warga masyarakat memperlihatkan berbagai warna aktivitas sosial budaya yang muncul pada masa kebencanaan ini.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai opsi kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak serta-merta membuat masyarakat mengikutinya. Dalam hal ini respon budaya menghadapi bencana merupakan hal menarik untuk didokumentasikan. Beberapa desa-desa di Jawa menerapkan pembatasan dengan menghadirkan pocong untuk menjaga daerahnya masing-masing. Media asing seperti Reuters misalnya, memberitakan bagaimana mekanisme ini dalam konteks desa tertentu dapat digunakan dan lebih efektif. Mengingat jika membandingkan dengan India, di mana polisi memukul dengan rotan, pocong dan pendekatan budaya lainnya dapat bekerja dengan efektif. Penerapan pocong misalnya belum tentu dapat berjalan baik bila ditempatkan pada konteks sosial yang berbeda seperti di perkotaan. 

Berbagai macam bentuk himbauan, penyuluhan dan sosialisasi dalam bentuk papan bilboard dan medium lainnya menyesuaikan budaya populer warga di pelosok negeri. Papan dengan tulisan “Kanggo sing Ndableg” (untuk mereka yang bebal) di Jember misalnya, menjadi viral dengan memberikan tiga opsi: mengikuti peraturan pemerintah, menetap di IGD, atau foto kita yang ditempelkan di buku yasin. Narasi TV misalnya melakukan wawancara dengan sopir mobil jenazah untuk memberikan sudut pandang yang dapat mengingatkan masyarakat. Meskipun bisa saja wawancara tersebut bukan bagian dari strategi sosialisasi dan himbauan yang dilakukan TV tersebut, namun di beberapa grup WA tersebar dan menjadi viral. Wawancara itu cukup efektif mengingatkan kita semua dan memberikan pendokumentasian alternatif terkait apa yang terjadi di lapangan terkait jumlah banyaknya penguburan mayat melalui penanganan prosedur Covid-19. 

Terakhir, perubahan sosial-budaya di masa Covid-19 ini juga berdampak pada dunia kesenian. Para pekerja seni merupakan kelompok yang rentan. Penundaan pentas seni, konser, galeri dan ekspresi seni lainnya mendorong keprihatinan pemerintah dengan melakukan pendataan (lihat gambar 1). Meskipun belum ada kepastian lanjut, dampak bencana Corona kepada pekerja seni dan aktivitas kesenian perlu didokumentasikan. Pada saat bersamaan, beberapa seniman melakukan kolaborasi #dirumahsaja dengan menggelar konser dengan perangkat online. Para musisi papan atas nasional dan internasional melakukan konser di rumah dan terhubung dengan teknologi video online. Perubahan medium pentas ini merupakan inisiatif yang penting bagi pengarsipan seni. 

Sumber Gambar: Website Kemendikbud

Seniman-seniman memainkan peranan penting untuk merekam realitas kebencanaan dengan berbagai macam medium ekspresinya, dari musik, lukisan, puisi, cerpen dan pertunjukan. Memori akan kebencanaan dapat diabadikan melalui produksi objek kesenian sebagai media penyimpanan. Kita dapat belajar dari Serat Kalatidha karya Ranggawarsita yang masyhur di mana jaman kegelapan, menjadi sumber inspirasi dalam syair-syair yang ia hasilkan. Pada konteks yang berbeda, Covid-19 adalah bencana yang membawa kita pada kegelapan. Kerja-kerja kesenian dapat memberikan secercah sinar terang bagi harapan dan menjadi hiburan bagi kita yang menjalani bencana ini. 

Masih banyak lagi kemungkinan isu, kata kunci dan aspek kehidupan politik, sosial, ekonomi dan budaya di era kebencanaan ini yang dapat menjadi wilayah kerja pengarsipan. Mungkin nanti pada periode pasca bencana kita akan menemukan sebuah karya sastra berjudul “Love in the time of Corona” terinspirasi oleh novel Gabriel Garcia Marquez “Love in the Time of Cholera”. Bisa saja Biennale Yogyakarta atau pentas-pentas seni lainnya di masa yang akan datang mendokumentasikan bencana wabah ini ke dalam berbagai bentuk ragam objek dan pentas kesenian. Semoga kita melewati ini semua sambil mendokumentasikan setiap peristiwa berlangsungnya bencana dalam kerja pusparagam arsip untuk masa depan.


Fathun Karib adalah dosen Sosiologi di Departemen Sosiologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan kandidat doktor di bidang Sosiologi dari Universitas Binghamton – State University of New York (SUNY). Karib menekuni bidang sosiologi bencana, kerusakan lingkungan dan politik-ekonomi bencana sejak menempuh pendidikan S2-nya di Universitas Passau, Jerman pada 2010–2012. Saat ini Karib menggunakan bahan-bahan arsip dalam kerja penelitian disertasinya terkait bencana di Porong, Sidoarjo dan arsip sebagai materi perkuliahan Sosiologi Indonesia dengan fokus pada pendekatan sosiologi historis. Dia dapat dihubungi melalui surel: fathun.karib@uinjkt.ac.id.

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.