Tag Archives: #buletinivaa_Maret2019

Aku-Aktor: Menyelami Kerja Seni Peran

Judul : Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta
Penyunting : Ibed Surgana Yuga
Penerbit : Kalabuku
Cetakan : Juni 2018
Halaman : 239
ISBN : 978-602-19352-9-3
Resensi oleh : Gladhys Elliona Syahutari

Salah satu bentuk seni pertunjukan yang cair adalah seni peran. Bentuk seni ini dianggap menjadi satu dengan teater atau film, walau pada kenyataannya, seni peran dapat menjadi proses yang terpisah dari teater maupun film karena dapat diaplikasikan di berbagai konteks. Buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta yang merupakan terbitan penerbit khusus buku teater, Kalabuku, mencoba membedah cara kerja aktor di Yogyakarta dan mengurai proses pembentukan diri seorang aktor dalam mencipta karakter maupun mengasah kemampuan seni perannya. Buku ini kemudian menjadi pengantar yang baik bagi setiap aktor yang mendambakan sebuah wadah bertukar pikir tentang metode pembangunan karakter. Kita kemudian akan menangkap bahwa, setiap aktor memiliki metode yang terpersonalisasi karena menerapkan campuran berbagai metode pemeranan yang disesuaikan dengan kebutuhan penciptaan atau ideologi pertunjukan tertentu.

Ibed Surgana Yuga, selaku editor buku ini, memberikan sebuah pembuka yang dapat mengantarkan pembaca mengenal maksud dari judul Aku-Aktor. Ibed menerangkan bahwa buku ini merupakan kumpulan catatan proses keaktoran, di mana seorang aktor menciptakan sebuah peran melalui berbagai cara. Terlebih dahulu Ibed menerangkan bahwa aktor memiliki tiga ‘aku’: aku-diri, aku-aktor, dan aku-laku. Perbedaan ini mencakup kedirian seorang aktor sesuai dengan konteksnya yaitu seseorang sebagai dirinya sehari-hari, seseorang yang menjalankan profesinya sebagai aktor, dan seorang aktor yang menjalankan karakter yang telah disematkan padanya. Melalui deskripsi pembuka ini, kita diantar pada pemahaman proses kreatif berbagai aktor Yogyakarta dalam level aku-aktor — sesuai dengan judul besar buku ini.

Terdapat 27 esai — termasuk pengantar — yang ditulis langsung oleh para aktor, secara singkat mengenai proses keaktoran dan metode uniknya masing-masing. Aktor-aktor yang menuliskan prosesnya berasal dari latar belakang genre akting dan penerapan prinsip yang berbeda-beda. Sebaran keberagaman aktor dan aktris juga cukup berimbang, tidak hanya genre akting, tapi juga pada lama pengalaman keaktoran, sampai dengan tempat di mana aktor berkarya. Tiga esai terakhir mencakup pengalaman aktor dari luar Yogyakarta yang diundang menulis sebagai pembanding. Kumpulan esai ini kemudian dibagi lagi dalam lima sub bab. Sub bab Konsep berisikan pemikiran para aktor yang menjelaskan bagaimana keaktorannya dapat memperkuat identitas diri dan idealismenya. Selanjutnya para aktor yang menulis di bagian Metode menjabarkan ragam cara penerapan akting dalam pertunjukan yang akan atau pernah mereka jalani. Dalam sub bab Proses, para aktor menjabarkan lika-liku pelatihan dan jalan menemukan diri masing-masing dalam dunia seni peran. Masuk ke dalam bagian Menengok Ke Depan, terdapat empat tulisan tentang proses keaktoran para aktor senior Yogyakarta yang juga mencakup pandangan mereka tentang generasi aktor penerus. Di bagian terakhir, yaitu Menengok Ke Luar, adalah kumpulan esai keaktoran oleh para pelaku seni peran di luar Yogyakarta.

Penjabaran oleh para aktor begitu beragam, karena ketika kita membaca penulisan dari masing-masing aktor, tidak hanya cara pandang saja tapi gaya bahasanya pun berbeda-beda. Beberapa aktor dapat menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang memang lebih kuat menceritakan konsep yang mereka yakini dalam mendalami seni peran. Misalnya dalam esai pembuka, aktris Agnes Christina menjabarkan bagaimana mengedepankan kenyamanan diri dalam menampilkan sesuatu sebagai bentuk kejujuran dan pandangannya pula mengenai penonton sebagai alam pertunjukan. Esai Agnes kemudian menjadi pembuka yang baik sebab mampu mengemukakan konsep abstrak yang kemudian mampu menghantarkan pembaca ke tulisan-tulisan yang lebih teknis. Contohnya tulisan B.M. Anggana yang menjelaskan tentang metode pelatihan seni peran dan bekal apa saja yang aktor perlukan sebelum pementasan, serta tulisan BaBAM dalam sub bab Metode yang lebih menitikberatkan pada bagaimana para aktor di Cabaret Show menerapkan penampilan dan persiapan apa saja yang diperlukan untuk penampilan cross gender. Melalui ketiga contoh tersebut, kita sudah dapat menangkap bahwa penulisan mengenai proses keaktoran tidak bisa seragam, karena setiap aktor telah melalui proses dan referensi yang beragam — sehingga kekuatan dan kekayaan karya mereka pun memiliki keunikan masing-masing.

Buku kumpulan esai keaktoran ini kemudian diniatkan menjadi salah satu wadah untuk mengarsipkan berbagai bentuk metode seni peran. Usaha pengarsipan ini bisa dibilang cukup berhasil, sebab walau tidak mampu menangkap seluruh pemikiran dan metode aktor Yogyakarta, 27 esai ini nampaknya sudah cukup mewakili pelaku seni peran. Usaha mengarsipkan proses keaktoran sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Teater Satu Lampung, yang mengumpulkan catatan kreatif setiap aktor dalam kelompok teater dan dibukukan. Alhasil, walaupun berada dalam satu kelompok, pandangan yang diambil dalam proses kreatif tetap memiliki warnanya masing-masing. Hal ini juga dapat kita temukan dalam buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta. Jika dalam satu kelompok perbedaan sudut pandang yang diambil beragam, dalam satu ekosistem teater di Yogyakarta diversitas itu kemudian menjelma menjadi sebuah spektrum. Metode pengumpulan tulisan ini kemudian menjadi sebuah rentang warna yang penting dimiliki untuk kolektif arsip dalam mengambil berbagai jenis warna demi merangkai gambaran sejarah, bidang, dan peristiwa yang lebih holistik. Terlebih, seni peran yang identik dengan metode yang berfokus pada penerapan panggung dan kesadaran pengarsipan dalam seni pertunjukan masih belum banyak digalakkan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk melihat bahwa proses kreatif seni peran tidak bisa dilihat dari dua sisi, seperti bagus-jelek, tepat-tidak tepatnya suatu metode, tapi semuanya sangat bergantung pada jenis seni peran apa yang ingin diperjuangkan serta semangat berkarya yang tiada henti — bahwa semua suara dan gaya bercerita dalam seni peran patut diberi ruang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Merawat Kebudayaan Lokal Melalui Seni Kejadian Berdampak: Narasi Perjalanan Proses Penciptaan Karya Seni Bramantyo Prijosusilo

Judul : Seni Kejadian Berdampak
Penulis : Bramantyo Prijosusilo
ISBN/ISSN : 978-602-356-229-9
Penerbit : Kepel Press
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Ahmad Muzakki

Sebuah induk kesenian menjadi sebuah tradisi bangsa kita yang sangat kaya dan berkembang, akan tetapi saat ini hampir tidak mendapatkan perhatian dari dunia pendidikan kesenian. Begitulah bunyi kalimat pembuka pada bab pertama di buku ini,  menggambarkan bagaimana kondisi seni upacara adat sekarang. Meski kurang tersentuh, seni upacara adat tidak mati. “Lingkungan komunitas keagamaan masih menjaga kesuburan upacara adat meski mungkin seninya kurang kreatif”, kata Bramantyo Prijosusilo yang tak lain merupakan penulis buku yang berjudul “Seni Kejadian Berdampak”.

Bramantyo Prijosusilo memiliki latar belakang sebagai seorang seniman. Pria kelahiran 1897 ini pernah bersekolah di SMA Kolese de Britto dan mendapat kesempatan belajar kesenian di bawah asuhan Gregorius Sukadi. Selain itu, Bramantyo juga pernah belajar di Bengkel Teater W. S. Rendra dan mendirikan Teater Akar di Yogyakarta. Walaupun sempat dikeluarkan dari jurusan teater IKJ, Bramantyo Prijosusilo tetap berkarya dan dikenal di dunia seni Indonesia. Lahirnya buku “Seni Kejadian Berdampak” ini menjadi salah satu saksi perjalanan proses penciptaan karya seninya.

Jika dilihat dari bentuk fisiknya, buku ini tidak begitu tebal. Buku karya Bramantyo Prijosusilo ini memiliki tebal tujuh puluh tujuh halaman, diterbitkan pada 2019 oleh Penerbit Kepel Press dari Yogyakarta. Ilustrasi karya Joseph Wiyono yang berjudul “Kebo Ketan Kraton Ngiyom” menjadi gambar sampulnya dan di setiap pergantian bab terdapat ilustrasi yang akan membawa imajinasi pembaca terlibat ke dalam narasi buku ini.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Bramantyo Prijosusilo menuliskan pengalamannya dalam menghidupkan kembali budaya upacara tradisi. Dinamika yang dialaminya sangat beragam, dari mulai harus berurusan dengan kelompok organisasi agama hingga harus bersangkutan dengan pihak kepolisian. Akan tetapi hal itu justru menjadi salah satu bahan pengembangan karya yang akan dibuatnya. Menghidupkan kembali upacara adat seperti yang Bramantyo Prijosusilo lakukan di era modern seperti ini sangat sulit, berbenturan dengan anggapan adanya pelecehan agama hingga menghalalkan kekerasan dengan dalih berjihad. Hal itulah yang dialami Bramantyo Prijosusilo,  yang dituliskan dalam salah satu bab buku ini.

Bramantyo Prijosusilo percaya bahwa penyelenggaraan upacara adat dapat berpengaruh terhadap kondisi sekitar, dari konteks sosial masyarakat hingga keseimbangan alam. Selain itu, Bramantyo Prijosusilo juga percaya bahwa upaya menghidupkan kembali upacara adat dapat selaras dengan cita-cita negara yang terkandung dalam tubuh Pancasila. Sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang ketika keragaman budaya sudah mulai luntur.

Masyarakat Indonesia sudah sangat lama mengenal mitos. Mitos tercipta dari pendahulu kita, menyimpan banyak pesan yang harus selalu dikontekstualisasi. Akan tetapi, tidak jarang orang cenderung memandang mitos sebagai takhayul. Padahal, keberadaan mitos dalam suatu daerah dapat mempengaruhi bagaimana kondisi dan perkembangan sebuah kebudayaan lokal yang ada, termasuk upacara adat.

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Upaya Bramantyo Prijosusilo yang tercatat dalam buku ini dan menjadi salah satu hal yang menarik adalah upayanya dalam menghidupkan kembali mitos-mitos yang sudah hampir tiada. Seperti yang dilakukannya di Sendang Margo, tepatnya di Alas Begal. Bramantyo Prijosusilo memunculkan kembali kisah Peri Setyowati untuk menghubungkannya dengan perbaikan Sendang Margo dan Sendang Ngiyom serta kawasan penyangganya. Narasi mengenai mitos di dalam buku ini dapat memberikan pandangan kepada para pembaca, bahwa percaya karena takut bukanlah sikap yang tepat untuk hidup bersama mitos, melainkan memahami mengapa mitos itu ada di sekitar kita.

Dijelaskan juga secara rinci bagaimana usaha Bramantyo Prijosusilo memunculkan Upacara Kebo Ketan. Upacara Kebo Ketan terinspirasi dari narasi Joko Samudro dan Sri Parwati yang diolah Bramantyo Prijosusilo. Upacara Kebo Ketan yang dilaksanakan dapat merangsang praktik rehabilitasi lingkungan hidup sekitar. Maksud dari rehabilitasi adalah melalui upacara ini masyarakat menjadi sadar akan lingkungan sekitar. Seperti yang Bramantyo Prijosusilo telah lakukan, kondisi Sendang Margo di Alas Begal yang tidak terawat mulai diperhatikan masyarakat sekitar. Teknis pelaksanaan dan hasil evaluasi acara adat ini juga disampaikan Bramantyo Prijosusilo di dalam buku ini. Pada dasarnya Bramantyo Prijosusilo memiliki harapan besar agar Upacara Kebo Ketan dapat menjadi salah satu wahana edukasi.

 

Luanching Buku Seni Kejadian Berdampak di Yogyakarta Lokasi Kedai Kebun Forum – 2019

Buku “Seni Kejadian Berdampak” tidak hanya menyajikan proses perjalanan penciptaan karya Bramantyo Prijosusilo. Ia juga menyajikan bagaimana usaha merawat sebuah kesenian rakyat daerah itu memiliki dampak. Melalui dua bab terakhir dalam buku ini, bersumber dari pengalaman empiris, Bramantyo Prijosusilo menuliskan proses pembuatan sebuah karya kesenian berdampak dengan jelas, “Seni kejadian berdampak memiliki dua fokus yang berbeda dengan kesenian lainnya, yakni fokus kepada dampak yang diupayakan dan fokus pada event yang digelar dan hal ini dilakukan secara berkala”. Selain itu, ia juga menyebutkan dampak lain bahwa sebuah karya seni kejadian berdampak dapat memberikan pelepasan batin jika dilaksanakan secara seksama dan khusyuk. Narasi ini ditulis Bramantyo Prijosusilo setelah melihat fenomena kapitalisme yang mendulang keuntungan di wilayah-wilayah yang seharusnya bersifat sakral.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Situs Gunungwingko, Situs Masyarakat Pesisir

Judul : Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII
Penulis :Dr. Goenadi Nitihaminoto, Drs. Nurhadi Rangkuti, M.Si., Drs. Muhammad Chawari, M.Hum., Alifah, M.A
Penerbit : Dinas Kebudayaan DIY
Cetakan : Desember, 2018
Halaman : 231 halaman
ISBN : 978-602-53183-4-4
Resensi oleh : Najia Nuriyana (Kawan Magang IVAA)

Buku ini merupakan hasil penelitian disertasi Goenadi Nitihaminoto selama kurang lebih 18 tahun, dari 1972 sampai 1990. Goenadi Nitihaminoto lahir di Tuban, 12 November 1971. Ia menjadi peneliti bidang arkeologi prasejarah dari 1989 hingga 2008. Selama 9 tahun, ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja sebagai Kepala di Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku yang diterbitkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta beserta Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta ini dimaksudkan untuk mengapresiasi sosok Goenadi Nitihaminoto.

Buku “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII” menceritakan bagaimana fase kehidupan di pesisir selatan Jawa pada masa prahistori atau awal Masehi. Situs Gunungwingko terletak di area pemukiman di utara objek wisata Pantai Samas, yaitu di Desa Srigading dan Desa Tirtohargo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; diapit oleh dua lembah sungai yaitu Kali Opak dan Kali Progo. Mulanya Gunungwingko adalah nama sebuah desa kuno yang saat ini telah berubah menjadi Desa Tegalrejo. Istilah Gunungwingko berasal dari kata ‘wingko’, yang dalam bahasa Jawa artinya adalah gerabah, sedangkan gunung adalah gunung atau bukit. Di area pegunungan itu banyak ditemukan artefak gerabah.

Masyarakat Gunungwingko memiliki garis dengan ras Mongoloid, ditandai oleh peninggalan kebudayaannya yang hidup sejak awal Masehi hingga abad ke-17. Kehidupan masyarakatnya dibagi menjadi 4 lapisan budaya. Setiap lapisan budaya ditandai oleh penemuan benda yang berbeda. Pada lapisan budaya pertama dan kedua mereka hidup dengan cara semi menetap. Pada lapisan budaya ketiga mereka mulai hidup dengan cara menetap. Karena terdapat 4 lapisan budaya maka terjadi perubahan fisik lingkungan yang berbeda pula. Masyarakat Gunungwingko umumnya hidup sebagai petani garam karena letaknya yang dekat dengan laut dan ditandai oleh artefak gerabah sebagai alat pembuat garam. Selain bermata pencaharian sebagai petani garam, masyarakat Gunungwingko juga berternak binatang seperti sapi, kambing, kerbau, babi, ayam, itik dll. Mereka juga membuat manik-manik, berburu, dan menangkap ikan.

Kehidupan relijius juga menjadi topik yang tidak luput dibicarakan. Masyarakat Gunungwingko mengenal ritual tingkepan dalam kelahiran, upacara tandur dalam pertanian, dan menyakini adanya benda magis yang dapat mengusir roh jahat. Anak-anak memakai gelang yang terbuat dari tulang belakang ikan, manik-manik, biji-bijian, dengan mata kalungnya dari gigi taring binatang, sebagai penolak roh jahat. Gambaran kehidupan relijius masyarakat Gunungwingko juga dijabarkan berdasarkan tata cara penguburan dan perawatan mayat. Urusan kuburan juga menunjukkan stratifikasi sosial, ditandai dengan bekal macam apa yang diberikan di dalam kuburan. Kuburan yang terdapat perhiasan dari logam menunjukkan bahwa mayat di dalamnya memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi, dibanding dengan bekal kuburan yang hanya berwujud gerabah.

Selain kehidupan relijius dan sosial, aspek teknologi dan kesenian menjadi topik yang diulas. Temuan-temuan yang ada menunjukkan perubahan fase teknologi masyarakat Gunungwingko. Hal ini dibuktikan dengan teknologi pembuatan gerabah yang berubah dari metode manual dengan tangan ke metode roda putar cepat. Seni kriya menjadi kesenian yang hidup di masyarakat Gunungwingko, yang ditandai oleh sisa-sia pecahan gerabah yang memiliki beberapa pola dan motif berbeda. Motif yang ditemukan adalah motif duri ikan dan garis-garis vertikal.

Bagi saya buku ini memberi informasi yang cukup padat mengenai situs Gunungwingko, meski sampulnya tidak cukup menarik. Dengan berbagai macam pendekatan, seperti etnografi, ekologi, dan oseanografi, buku ini membantu kita untuk mengenal lebih jauh kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Sorotan Arsip: Karya dalam Peperangan dan Revolusi

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari secuplik kata pengantar bunga rampai yang diterbitkan untuk menandai 15 tahun Sanggar Melati Suci (SMS), secara eksplisit ingin menyatakan bahwa semangat untuk mengajarkan pendidikan/ kelas melukis bagi anak-anak lebih dari sekedar niat, tetapi tekat yang sudah ditunaikan selama bertahun-tahun. Buku ini dalam wilayah yang lebih luas ingin merangkum bagaimana kesenian, khususnya seni lukis, diajarkan kepada anak-anak dalam jenjang pendidikan TK dan SD. Semangat dari sanggar ini adalah mempertemukan anak dari usia dini dengan beragam tata nilai yang ada dalam aktivitas menggambar.

Selain bunga rampai ini, beberapa arsip IVAA baik katalog hingga buku yang berkaitan dengan inisiatif literasi seni. Lebih jauh bisa sejalan dengan bagaimana menanamkan tata nilai, keterampilan, dan pengetahuan dalam medium seni. Salah satunya adalah buku Karya Dalam Peperangan dan Revolusi.  Buku ini sebenarnya sejenis post-event catalogue, karena juga memuat dokumentasi karya-karya lukis yang dibuat oleh 5 orang anak dalam rentang usia 11-15 tahun. Dilukis langsung oleh mereka pada peristiwa agresi militer 1948-1949 di Yogyakarta. Karya-karya 5 bocah Yogyakarta ini dipamerkan di Gedung Agung Yogyakarta pada Mei 1978. Artinya berselang 30 tahun dari sejak awal gambar-gambar ini diciptakan. Karya-karya ini lantas disimpan di Museum Dullah, seniman yang sekaligus guru mereka.

Adam Malik (Wakil Presiden Indonesia 1978-1983) dalam kata sambutan yang tertulis dalam buku, meyakini lukisan-lukisan ini sebagai salah satu dokumen sejarah yang bernilai. Sejarah yang dimaksud tentu adalah momen perjuangan mempertahankan kemerdekaan republik. Satu hal, melalui arsip-arsip ini kita dapat melihat wajah lain dari bentuk-bentuk perjuangan fisik. Lukisan-lukisan anak-anak ini dibuat langsung pada peristiwa mulai dari Yogyakarta diserbu, dikuasai, hingga diambil alih kembali oleh para gerilyawan. Maka tidak mengherankan jika citra-citra yang dilukis tidak jauh dari iringan truck, pesawat tempur, kepulan asap, puing rumah, gerilyawan yang gugur, tentara Belanda, dan lain sebagainya. Melihat arsip-arsip lukisan cat air di atas kertas ini seakan melihat dokumentasi peristiwa secara kronologis dalam corak yang khas dari lukisan anak-anak, dengan kata lain dalam sudut pandang manusia dalam usia yang masih belia.

Apa kaitan anak-anak ini dengan pelukis Dullah? Diceritakan bahwa Dullah yang sempat mengungsi ketika Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda, memutuskan kembali ke kota yang saat itu menjadi Ibukota Republik. Dengan peralatan yang serba terbatas, cat air yang dibuat dari bedak dan lem, dan mengambil sisa-sisa cat kalengan. Dengan alasan keamanan, lukisan -lukisan ini berukuran kecil, hanya 7 x 10,5 cm.

Seluruh anak-anak yang terlibat dalam proyek ini masih berusia dibawah 17 tahun. Mereka adalah Muhammad Affandi (12 tahun), FX Soepono (15 tahun), Sri Suwarno (14 tahun), Sarjito (14 tahun), dan yang termuda diantaranya adalah Muhammad Toha (11 tahun). Muhammad Toha harus menyaru dengan berjualan rokok demi bisa melukis. Maklum, karena Dullah memang mengajarkan anak-anak ini melukis objek langsung ditempat, sehingga terlatih dan selalu mencari cara untuk mencatat peristiwa dalam sketsa-sketsa. Sedangkan Soepono dan Muhammad Affandi, selain melukis, juga menjadi penghubung gerilya dari luar ke dalam kota, dan sebaliknya. Beberapa kisah menarik anak-anak ini diceritakan dalam buku ini. Termasuk nasib malang yang menimpa Sarjito karena tertangkap oleh tentara Belanda, dikirim ke penjara anak-anak di Tangerang, dan divonis kurungan penjara 7 tahun.

Sedangkan Dullah tidak hanya berkontribusi mengajar melukis, tetapi juga menjadi penerima pertama dan mengamankan lukisan-lukisan ini dari penggeledahan serdadu-serdadu Belanda. Pelukis senior, Affandi menjuluki karya anak-anak ini sebagai lukisan dokumenter. Hal yang lumrah ketika anak-anak seusia Toha dan kawan-kawan gemar melukis pesawat atau mobil, namun tentu bukan pesawat tempur yang tengah menggempur lawan, atau mobil yang dibumihanguskan karena tumpahnya adu senjata.

Jika direfleksikan dengan kerja pengarsipan, maka anak-anak pada masa tersebut tengah memproses catatan peristiwa dalam tubuhnya dan dituangkan dalam karya lukis. Hingga akhirnya dari lukisan yang kini kita periksa ulang, terlihat bagaimana setiap zaman dan konteks memiliki caranya masing-masing dalam mencatatkan peristiwa di sekitarnya, membekukan pengalaman, dan memperpanjang usia ingatannya atas setiap peristiwa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Kunjungan dari Partisipan Traveller, Guangzhou

Oleh Ahmad Muzakki (Kawan Magang IVAA)

Bertukar informasi dalam dunia seni sangat dibutuhkan. Tidak hanya antar seniman, pertukaran informasi juga penting dilakukan dengan aktor-aktor dari bidang yang lain. Praktik semacam ini akan mendorong perkembangan kesenian dan bidang lain yang bersentuhan dengannya.

Pada Rabu, 24 April 2019 lalu IVAA mendapat kesempatan untuk berdialog bersama para pegiat seni dari Guangzhou. Rumah IVAA menjadi salah satu tujuan tour mereka di Yogyakarta dalam program Traveller. Traveller merupakan sebuah program yang diprakarsai oleh seniman Li Zhiyong, Ce Zhenhao dan Zhu Jianlin pada 2016. Program ini dimaksudkan untuk membangun atau mentransfer hubungan sementara antara ruang dan waktu, hanya dengan berkeliaran di kota-kota. Dengan menyelidiki apa arti kota hari ini, dan lebih jauh lagi, dengan membedakan pemahaman soal “place”, “on-site”, “native” dan “local”, program ini berusaha mengurai hubungan antara kota dengan praktik/ penciptaan, serta mendorong kemungkinan kolaborasi.

Pada 2016, didukung oleh “Banyan Commune” dari Times Museum dan HB Station, “Banyan Travel Agency” pertama diluncurkan oleh Traveller. Proyek pertama Traveler ini berhasil diselenggarakan dengan tujuan ke Shunde, Tokyo, Shanghai, Shenyang, Wuhan, Hong Kong, Guangzhou, dll. Melalui “Banyan Travel Agency”, para inisiator mengundang seniman, kurator, dan peneliti yang berminat untuk mengulik isu seputar kota.

Mereka terhubung dengan para pegiat seni dan institusi setempat untuk berkolaborasi dalam suatu bentuk kerja. Harapan yang diusung melalui program ini adalah adanya situasi menembus batasan geografis dan stereotip, melepaskan diri dari inersia ruang/ praktik, untuk meningkatkan koneksi, pengembangan, dan wawasan tentang pengalaman praktis.

Dari Maret hingga Juli 2019, dengan dukungan dari HAF, Traveller meluncurkan perjalanan di kawasan Asia Tenggara. Asia Tenggara lebih mereka maknai sebagai konsep kultural dari pada sebentuk wilayah geografis saja, yang memiliki kesamaan dengan Guangzhou. Beberapa wilayah yang dikunjungi adalah Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), Jakarta dan Yogyakarta (Indonesia). IVAA menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi untuk wilayah Yogyakarta.

Saat singgah di Rumah IVAA para pegiat seni dari Guangzhou ini dikenalkan dengan banyak hal mengenai IVAA. Lisistrata Lusandiana, selaku direktur IVAA, memulainya dengan mengajak mereka berkeliling di setiap sudut ruang IVAA. Banyak dari mereka yang mengamati detil ruangan beserta barang-barang yang ada, seperti buku, bentuk arsitektur, hingga papan time table. Setelah berkeliling, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama di amphitheater, mendiskusikan isu kota dan kaitannya dengan arsip serta praktik-praktik kesenian di sekitarnya.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Seni Jalanan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit

Oleh Rully Adi Perdana (Kawan Magang IVAA)

Pada Rabu, 10 April 2019, IVAA menggelar sesi diskusi bertajuk “Seni Jalan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit”. Esha Jain, salah satu peserta magang di IVAA membagi pengalamannya ketika menyusuri jalanan Yogyakarta. Kesempatan diskusi tersebut diikuti oleh seluruh staff IVAA bersama lima orang peserta magang di IVAA. Esha, dengan perhatian lebih pada seni jalanan (street art), menampilkan ragam visual yang ia temui, baik berupa mural, graffiti, maupun bentuk seni jalanan lainnya.

Mural di kantor PKBI Yogyakarta

Sesi yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 10.00 tersebut mengundang percakapan yang hangat di antara seluruh peserta diskusi. Masing-masing staff dan peserta magang membagikan cerita dan pengalamannya mengenal dunia street art. Berbagai nama seniman jalanan yang karyanya berhasil direkam oleh Esha menjadi bahan perbincangan, berikut karya-karya yang pernah mereka buat di waktu dan tempat yang berbeda serta cerita-cerita di balik karya-karya tersebut.

Mural oleh Ketjil Bergerak Jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta

Malioboro, Kotagede, Mantrijeron, dan titik lain yang ditelusuri Esha menghadirkan berbagai macam seni jalanan dengan bentuk dan tafsiran cerita yang berbeda-beda. Sebagian bercerita tentang toleransi, beberapa tentang politik, sementara sebagian lainnya sekadar menjadi penanda area dengan membuat tag. Selain memaparkan tentang seni jalanan di daerah Yogyakarta, Esha juga mengenalkan The High Line yang berada di tepi barat Manhattan di New York City. The High Line dibangun di atas area bekas New York Central Railroad dan desainnya merupakan hasil kolaborasi James Corner Field Operations, Diller Scofidio + Renfro, serta Piet Oudolf. Jalur sepanjang 2.33 kilometer yang dibuka sejak tahun 2009 itu telah menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies tanaman dan karya seni yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung secara gratis.

Sumber tambahan:

https://www.thehighline.org/#

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Kolektor Kontemporer di Indonesia: Preferensi dan Distingsi Selera

Oleh Elok Santi Jesica

Arena seni rupa tidak dapat dipungkiri berhubungan dengan aktivitas ekonomi yang memiliki peran dalam menghidupi dan mengembangkan seni itu sendiri: aktivitas pasar. Di dalam arena seni rupa, terdapat para agen dengan peran dan kepentingan yang meski berbeda namun selalu berkaitan. Kolektor merupakan salah satu agen yang memiliki peran vital, namun seringkali pembicaraan mengenai perannya dalam arena seni rupa tidak beranjak dari ekonomi-materiil semata. Dengan meminjam hubungan konsep field (selanjutnya disebut arena) dan capital (selanjutnya disebut modal) dari Pierre Bourdieu, tulisan ini mencoba memaparkan unsur-unsur lain yang tidak melulu materiil dalam praktik kolektor.

Kolektor, sebuah gelar simbolik yang diberikan publik seni pada individu yang membeli karya sebagai bentuk konsumsi ataupun untuk kepuasan pribadi, kerap dianggap sebagai pihak yang kurang memiliki peran dalam pengembangan pengetahuan seni (dalam konsep Bourdieu disebut sebagai modal kultural). Kolektor yang dimaksud di sini adalah seseorang yang dari awal keterlibatannya di arena seni sudah melakukan kerja koleksi, bukan seniman atau akademisi yang kemudian dalam perjalanannya turut mengoleksi karya seni. Mengingat peran kolektor dalam pasar (khususnya di Indonesia) yang dapat memengaruhi trend, membentuk pola dalam berbagai art fair, hingga melahirkan peristiwa-peristiwa seperti boom seni, keberadaan kolektor dalam arena seni menjadi layak untuk diperhatikan potensinya dalam pembentukan pengetahuan seni.

 

Kelindan Arena dan Agen Seni

Pembentukan pengetahuan seni selama ini didominasi oleh akademisi, kritikus, kurator, hingga publik seni lain yang secara aktif berkontribusi baik dalam pembicaraan tentang seni maupun penulisan kritik seni. Kontribusi ini dilakukan dengan kemampuan mereka dalam memperbincangkan dan menyajikan seni kepada khalayak yang majemuk. Sementara itu, meski kolektor memiliki modal ekonomi yang besar, mereka tidak dapat begitu saja menempati posisi yang ‘tinggi’ karena seringkali dianggap kurang mampu memperbincangkan dan menyajikan seni. Dalam arena seni, kepemilikan modal ekonomi tidak serta-merta memiliki pengaruh pada peningkatan posisi agen, tidak sebesar modal kultural.

Pengetahuan mengenai seni penting dimiliki ketika orang membahas artefak dari seni rupa. Sebagai hasil dari proses produksi, karya seni rupa memiliki nilai fungsi yang cukup minim dalam aktivitas manusia sehari-hari. Namun keutamaan dari karya seni rupa memang bukanlah fungsi praktisnya melainkan nilai-nilai simbolik yang dilekatkan oleh masyarakat pada artefaknya. Pada abad pertengahan, karya seni dapat digunakan sebagai penanda kekayaan dan keistimewaan bagi pemiliknya (Grenfell dan Hardy, 2007: 45). Tentu pemahaman ini tidak hadir dengan begitu saja, melainkan lahir dari praktik yang dilakukan oleh kaum borjuis dalam waktu senggangnya untuk membicarakan seni. Itulah salah satu faktor atas lekatnya seni dengan pengetahuan dan kekayaan.

Pengetahuan tentang seni pada perkembangannya menjadi sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas dari karya seni. Pengetahuan tentang seni seolah menjadi sisi koin dari karya seni itu sendiri. Seringkali dalam memperbincangkan karya, wacana tentang seni muncul lebih dominan daripada karya itu sendiri. Praktik pembicaraan yang dilekatkan inilah yang memiliki peran besar dalam menaikkan nilai dari sebuah karya seni. Nilai tersebut yang kemudian dalam pasar dikonversikan menjadi nilai uang.

Bourdieu menyimpulkan bahwa kaum intelektual mengarahkan masyarakat untuk mempercayai representasi dari sastra, teater, dan lukisan lebih dari apa yang ditampilkan karya itu sendiri, dan menempatkan representasi serta konvensi sebagai perintah untuk mempercayai secara naif apa yang direpresentasikan (Bourdieu dalam Grenfell dan Hardy, 2007: 42). Dalam melihat karya seni, masyarakat diminta untuk melihat, merasakan, dan meyakini hal-hal yang melampaui karya itu sendiri, yaitu wacana serta isu dan pengetahuan yang telah dilekatkan.

Dilihat dari sisi ekonomi, ada dua kegiatan utama dalam arena seni rupa: produksi dan konsumsi. Terdapat dua posisi agen yang yang memiliki peran vital dalam produksi, yaitu seniman sebagai produsen artefak seni dan kurator, kritikus, serta akademisi sebagai agen yang memproduksi pengetahuan seni. Seniman memproduksi karya seni yang nilainya sangat dipengaruhi oleh perbincangan isu yang dilekatkan pada artefak karyanya. Sementara itu, kurator, kritikus dan akademisi memiliki kemampuan untuk memproduksi perbincangan yang melibatkan berbagai pengetahuan yang terkait dengan seni. Penyajian serta besaran harga karya seni tidak dapat begitu saja ditentukan berdasarkan bahan, ukuran, dan tenaga yang dikeluarkan seperti benda hasil produksi pada umumnya. Penentuan harga karya seni melibatkan banyak faktor, seperti siapa yang membuat karya, kapan dibuat, bahan apa yang dipergunakan, isu apa yang diangkat, siapa yang mengkurasi, bagaimana konteksnya, bagaimana karya tersebut dibicarakan, dll. Faktor-faktor inilah yang menentukan daya tarik konsumsi seni, baik dalam menikmati karya sebagai audiens ataupun membeli karya untuk dikoleksi.

Posisi kolektor dibangun berdasarkan praktik yang dilakukannya dengan menggunakan modal ekonomi. Kolektor kerap mendapatkan fasilitas dukungan dari art dealer maupun galeri seni. Galeri seni hadir sebagai sebuah institusi yang mengambil peran untuk memfasilitasi konsumen seni. Fasilitas yang ditawarkan antara lain menempatkan karya seni ke dalam konteks yang relevan dengan campur tangan kurator. Galeri seni dengan kurator juga melakukan upaya lain agar proses konsumsi lebih mudah dilakukan, di antaranya menyediakan tempat dengan kelengkapan berpameran untuk konsumsi artefaknya (pameran secara fisik) dan konsumsi perbincangan mengenai karya tersebut (meletakkan karya dalam tema, isu, atau pengelompokan melalui perspektif tertentu).

Bourdieu menjelaskan bahwa arena produksi kultural, tempat wacana diproduksi, merupakan situs pertarungan; apa yang dipertaruhkan adalah daya untuk memaksakan definisi dominan dari penulis (the writer) serta pembatasan terhadap orang-orang yang berhak mengambil bagian dalam pertarungan untuk mendefinisikan penulis (Bourdieu, 1993: 42) – dalam kasus ini, ‘penulis’ bisa kita ganti menjadi ‘seniman’. Sebagai sebuah arena yang dinamis dan selalu diperebutkan, upaya untuk menstabilkan segala praktik dan wacana mengenai pengetahuan seni terus-menerus dilakukan oleh agen-agen yang berada di dalamnya. Upaya ini mewujud dalam berbagai bentuk strategi yang dilakukan oleh agen yang telah mapan maupun agen baru yang berusaha masuk dalam arena tersebut. Agen dengan strategi konservasi mengambil posisi dan berpraktik untuk mengukuhkan peran agen yang dominan. Misalnya, elemen formal dari karya seni dengan sangat tegas tetap dipertahankan sebagai penentu kualitas meski tidak sejalan dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan seni mutakhir. Penilaian khas seni modern ini terus dihidupi oleh beberapa agen, seperti institut seni, pelukis, pematung, dan akademisi-akademisi yang fokus terhadap kajian-kajian seni modern. Hal ini mendukung berlangsungnya praktik-praktik lain dalam lingkup seni modern, misalnya mengoleksi karya lukis dan penyelenggaraan pameran lukisan.

Selain strategi konservasi untuk menstabilkan arena seni dan agen-agen dominannya, terdapat upaya untuk destabilisasi dengan strategi suksesi dan subversi. Upaya untuk stabilisasi maupun destabilisasi ini, yang dilakukan oleh agen yang punya daya membentuk dan memapankan pengetahuan tentang seni, terus-menerus hadir di dalam arena produksi kultural.

 

Perjuangan Meraih Distingsi

Kolektor memiliki modal ekonomi yang berpotensi untuk membangun modal-modal yang lain. Modal ekonomi merupakan modal yang cukup cair untuk dikonversikan. Dengan menggunakan modal ekonomi seseorang dapat memasuki arena seni, masuk dalam pasar, membeli serta mengoleksi karya seni secara intens dan kemudian mendapatkan pengakuan (recognition) sebagai seorang kolektor dari kegiatan konsumsinya. Pengakuan dari publik seni merupakan pembentuk modal simbolik bagi kolektor. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, yaitu keuntungan sosial, dibutuhkan pengakuan dari pemilik modal-modal yang lain yang telah diakui.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh L. E. A. Branden dari Erasmus University Rotterdam, pengakuan yang berpengaruh secara signifikan adalah pengakuan terhadap kemampuan general dan intelektual serta pengakuan pada aspek sosiologis kolektor. Aspek yang pertama berangkat dari karakteristik-karakteristik dominan atas karya yang dikoleksi, sementara yang kedua dengan melihat bagaimana latar belakang serta kondisi kehidupan sosial dari kolektor itu sendiri. Ekspektasi dari pengakuan yang didapat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: semakin besar pengakuan, semakin baik validasi yang diperoleh (Branden, 2016: 1483-1507). Dalam arena seni rupa, keuntungan sosial bisa didapat dari pengakuan terhadap personal taste yang tampak ataupun mewujud dalam kegiatan seseorang. Personal taste ini membutuhkan pengakuan dari publik seni yang dapat mentahbiskan bahwa selera kolektor tersebut adalah selera yang ‘bagus’. Pengakuan yang dapat diperoleh dengan strategi yang seperti disebut sebelumnya ini bisa dikukuhkan oleh sesama kolektor atau pengamat aktivitas di arena seni, termasuk kritikus, kurator, dan akademisi. Pengakuan juga membutuhkan waktu, proses, dan banyak modal lain, tidak semata modal ekonomi. Beberapa kolektor membutuhkan proses panjang untuk dapat dikenal dan diakui, misalnya Soekarno yang dikenal sebagai kolektor juga Presiden pertama di Indonesia, Oei Hong Djien kolektor senior di Indonesia yang mengoleksi lebih dari 2000 karya seni serta mendirikan museum OHD, Melani Witarsa Setiawan yang secara aktif menghadiri pameran-pameran seni dan mempostingnya melalui akun sosial medianya, Budi Tek (Yu Deyao) yang menjadi satu nama dari daftar “World’s Top 200 Collector” versi ARTnews, dan lain-lain. Upaya-upaya untuk mendapat pengakuan terhadap praktik kolektor mewujud dalam bentuk yang sangat beragam.

Di Indonesia, khususnya di Jakarta, terdapat beberapa kolektor yang memilih untuk secara spesifik mengoleksi karya-karya new media art, antara lain Tom Tandio, Wiyu Wahono, dan Indra Leonardi. Di antara ketiganya, Wiyu Wahono adalah kolektor new media art yang cukup intens memperbincangkan wacana seni dalam forum maupun dalam ranah akademik. Sebagai seorang kolektor, aktivitas Wiyu dalam arena seni rupa tidak terbatas pada pengoleksian karya, namun juga sebagai pembicara di beberapa forum seni seperti “Beginner’s Guide to Collecting South-East Asia Contemporary Art” (Taipei, 2018), “Art Symposium at Asia Society, Asia: New Frontiers in The Art World” (Hong Kong, 2017), “Art Talk The Emergence of Korean and Indonesian Contemporary Art: The Origin of Resilient Identity” (Jakarta, 2018). Wiyu juga menjadi salah satu juri UOB Painting Year 2018, juri untuk Bandung Contemporary Art Awards, mengadakan forum tertutup untuk calon kolektor muda pada akhir tahun 2016, dan sebagai anggota dari Art Stage Jakarta Board of Young Collectors serta Singapore Art Fair Honorary Board of Patrons. Wiyu juga menggunakan platform media sosial Facebook untuk secara aktif berdiskusi dengan pengguna Facebook yang lain, misalnya tentang isu karya lukis Miranti Minggar dengan fotografer Lillian Liu. Dalam perbincangannya dengan kurator pameran Suwarno Wisetrotomo (2018), Wiyu berpendapat bahwa kemampuan seniman untuk mengkontekstualisasikan karya dan mendudukkannya di atas dasar pengetahuan mengenai seni adalah hal yang penting. Dalam unggahan yang sama pula terjadi diskusi mengenai konsep apropriasi seni yang dapat digunakan untuk memperbincangkan karya-karya seni yang mengambil wujud visual dari karya lain. Dari aktivitas memperbincangkan isu seperti itulah Wiyu Wahono menjadi agen yang penting: praktiknya melintasi ranah pasar (konsumsi) ke ranah produksi pengetahuan (produksi kultural).

Wiyu dikenal sebagai kolektor Indonesia yang secara intens membicarakan seni rupa media baru dalam konteks era kontemporer. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan seni, Wiyu mempelajari konsep serta perkembangan seni dari buku-buku serta perbincangan sesama kolektor. Ia bahkan menyarankan berbagai buku untuk dibaca kolektor pemula, yang di antaranya adalah What Is Art karya Arthur C. Danto, Contemporary Art-A Very Short Introduction karya Julian Stallabras, But is it art? An Introduction to Art Theory karya Cynthia Freeland, Contemporary Art-1989 to the present karya Alexander Dumbadze dan Suzanne Hudson (ArtLink). Dari buku-buku yang disarankan, dapat dilihat bagaimana Wiyu menempatkan literatur seni sebagai fondasi atas pemilihannya terhadap karya-karya kontemporer. Wiyu juga secara aktif memproduksi dan mereproduksi pengetahuan mengenai seni, khususnya perkembangan seni mutakhir, dalam forum hingga perkuliahan di akademi seni, di antaranya di ITB dan pada tahun 2018 di Shanghai Academy of Fine Art.

Pada beberapa wawancara dengan media (theartlink.com, cobosocial.com, channelnewsasia.com, dan nytimes.com) Wiyu membicarakan awal mula ketertarikannya mempelajari karya seni serta pemikiran mengenai perkembangan seni. Dimulai dengan rasa penasaran terhadap karya Jackson Pollock yang dilihatnya di Peggy Guggenheim Museum yang menurutnya kurang colorful jika dibandingkan dengan karya-karya seni yang biasa dilihat di Indonesia, muncul pertanyaan dalam diri Wiyu: bagaimana bisa karya tersebut masuk ke dalam museum yang prestisius? Beberapa tahun kemudian Wiyu melihat lukisan Lázló Moholy-Nagy; dia menyukainya dan kemudian membeli poster dari karya tersebut dan memajangnya. Dari sana Wiyu mulai mendatangi pameran-pameran dan belajar mengapresiasi seni. Wiyu bekerja menjadi karyawan sebuah universitas dan pada tahun 1980an mulai membeli karya seni, meski belum mempertimbangkan untuk menjadi seorang kolektor. Pada tahun 1997 Wiyu kembali ke Indonesia dan mendirikan bisnisnya sendiri. Dengan bisnisnya yang berkembang baik, Wiyu mulai mengoleksi karya seni.

Wiyu sering memulai argumen mengenai alasan pemilihan karya-karya yang dikoleksinya dengan membandingkan kecenderungan seni modern dan kontemporer. Menurutnya, spirit seni di era modern adalah mendisiplinkan pemilihan medium karya seni, sementara karya-karya yang dikoleksinya tidak memiliki spesifikasi media yang khusus. Wiyu memiliki karya dengan media berbasis digital, barang ready made, medium cahaya, tumbuhan, DNA, bakteria, dll. Pemilihan karya semacam itu terkait dengan semangat dari era kontemporer. Dalam sebuah wawancara (The Artlink), Wiyu menjelaskan bahwa semangat era kontemporer adalah merayakan kebebasan pilihan medium. Dengan menempatkan semangat tersebut sebagai karakter dominan karya yang dikoleksi, karya seni modern seperti lukis dan patung tidak menjadi bagian dari kecenderungannya (preferences).

Wiyu memang sering menghubungkan karya seni dengan semangat zaman (zeitgeist). Baginya mengoleksi karya seni harus dilakukan dengan mempertimbangkan semangat dari era tertentu. Selain diwujudkan dengan media-medianya, semangat zaman juga dicerminkan dari isu-isu yang diangkat. Beberapa dari isu tersebut antara lain politik identitas, digitalisasi, dan globalisasi. Menurut Wiyu, karya dengan semangat zaman saat ini tidak dapat begitu saja dikatakan sebagai karya yang ‘baik’. Perlu menunggu 50-100 tahun lagi ketika semangat zaman telah berganti dan kemudian melihat kembali (saat ini) sebagai sejarah; barulah tampak apa yang benar-benar menjadi semangat zaman dan karya mana yang mencerminkan semangat zaman tersebut (cobosocial.com). Atau dapat dikatakan, praktiknya saat ini merupakan sebuah upaya prediksi mengenai semangat zaman yang mewujud dalam motif mengoleksi karya seni yang didasarkan pada data, realitas, dan literasi meski menurutnya senimanlah yang memimpin; sementara museum, kolektor, dan art dealer hanya mengikuti (cobosocial.com).

Selain memperkuat sensibilitas terhadap karya seni (terutama kontemporer) dengan bacaan sebagai bentuk pengumpulan modal kultural, Wiyu juga secara aktif memamerkan karyanya.  Beberapa pameran atas karyanya antara lain Zeitgeist (2012), No Painting Today (2014), Spirit Today (2017), dan Beyond Boundaries Globalization and Identity (2017). Wiyu juga tidak segan ambil bagian untuk membiayai pameran serta pengiriman karyanya. Ia menggunakan modal ekonominya tidak hanya untuk konsumsi karya seni, namun juga untuk menyajikan karya seni koleksinya kepada publik.

Aktivitas produksi lainnya yang dilakukan Wiyu adalah membentuk forum untuk kolektor muda dan melakukan kurasi mandiri untuk pameran yang diselenggarakannya. Bersama Suherman dan Paula Dewiyanti ia mengkuratori pameran kelompoknya yang bertajuk “Beyond Boundaries” di sebuah galeri komersial di Jakarta. Selain bertindak sebagai kurator, kelompok ini juga menulis sendiri teks kuratorial pameran (Hamdani dalam Jurriëns, 2017: 211). Wiyu juga menjadi penyelenggara pameran “No Painting Today” (2014) sebagai bentuk protes terhadap pemapanan atas seni modern oleh agen-agen seni Indonesia sehingga menghambat penyebaran seni kontemporer (Wirajuda dalam Jurriëns, 2017: 211).

Stereotyping terhadap kolektor sebagai agen yang bergantung pada campur tangan langsung maupun tidak langsung dari kurator dan aktor-aktor lain yang memiliki modal kultural, yang memiliki kemampuan untuk memperbincangkan wacana seni meliputi pengetahuan serta sejarah perkembangannya, hingga menentukan sendiri karya potensial bernilai untuk dikoleksi, terbantah dengan praktik Wiyu. Apa yang dilakukan Wiyu, entah dengan kesadaran penuh atau tidak, merupakan upaya untuk mengakumulasi modal kultural. Mengakumulasikan modal dapat mempermudah agen untuk mendapatkan pengakuan  dari berbagai pihak termasuk media massa. Pengakuan ini yang kemudian membangun nilai simbolik (symbolic value) sebagai keuntungan dari praktik akumulasinya dan pada tahap selanjutnya menjadikan sebuah distingsi. Distingsi menjadi semakin jelas dan bernilai ketika pelaku-pelaku yang lain tidak begitu saja dapat melakukan hal serupa sehingga praktik-praktik yang dilakukan oleh agen menjadi langka (scarce) (Grenfell dan Hardy, 2007: 44).  

Praktik akumulasi dan konversi modal merupakan bentuk perjuangan untuk berdaya dalam arena. Ketika perjuangan dengan pertaruhan modal tersebut berhasil (dimenangkan), agen akan mendapatkan keuntungan dari praktiknya. Keuntungan tersebut membuat agen mendapatkan nilai surplus pada modal-modal tertentu. Hal inilah yang menimbulkan distingsi  dari yang lain. Distingsi ini selanjutnya akan menjadi preferensi selera (taste) dari kelas-kelas yang lain (Jenkins, 1992:89). Wiyu mengonversi modal ekonominya untuk menopang kerja akumulasi modal kultural. Ia mempelajari pengetahuan seni untuk menunjang aktivitasnya dalam mengoleksi karya seni. Kemudian ia menyampaikan kembali pengetahuan yang telah dikuasai dalam kapasitasnya sebagai kolektor pada agen-agen lain dan mendapatkan pengakuan dari agen yang memiliki kapasitas untuk melakukan penahbisan (pemilik modal simbolik). Kesempatan untuk menyampaikan pengetahuan ini dapat diperoleh seiring dengan didapatnya pengakuan. Akumulasi dan konversi modal yang dipraktikkan Wiyu berjalan dengan saling menyertai.

 

Distingsi Selera dan Heteronomi Arena

Generasi kolektor muda Indonesia percaya bahwa media menjadi bagian representasi yang berarti atas isu-isu penting (Jurriëns, 2017: 221). Bagi kolektor muda, kesesuaian media yang digunakan dengan isu dan konteks karya menjadi sesuatu yang vital. Di era ketika alat-alat reproduksi mekanis dan digitalisasi mulai lazim dalam kehidupan sehari-hari, karya-karya seni yang menggunakan indeks-indeks tersebut akan menarik perhatian kolektor generasi muda. Hal ini berbeda dengan generasi senior yang menempatkan aura karya sebagai indikator ‘kebagusan’ sebuah karya. Aura ini hanya bisa muncul pada eksklusivitas medium yang selaras dengan seni modern: lukis, patung, grafis, dll. Eksklusivitas ini juga muncul dalam karakter goresan ataupun pahatan. Hal serupa tidak dapat muncul dalam media-media yang digunakan dalam seni kontemporer yang banyak menggunakan alat mekanis, digital, maupun rekayasa media.

Wiyu merupakan bagian dari kolektor generasi muda tersebut. Wiyu dan kolektor lain memang sama-sama menerapkan praktik koleksi, namun sebagai kolektor new media art dengan preferensi selera yang berbeda (dengan generasi senior) serta memperkuat argumennya menggunakan dasar literasi, Wiyu memenangkan rekognisi dari agen-agen lain yang juga bertindak dengan preferensi selera yang sama. Atau bahkan ada kemungkinan agen-agen tersebut menempatkan selera Wiyu sebagai preferensi seleranya. Personal taste yang cenderung mengarah pada intelektualitas dan kebaruan media teknologi ternyata mampu mengangkatnya posisi spesifik Wiyu di arena seni. Wiyu tampak memiliki daya untuk menahbiskan karya seni dalam kapasitasnya sebagai kolektor, misalnya apakah karya tersebut baik untuk dikoleksi atau tidak. Lebih jauh lagi, akumulasi modal kultural dan simbolik ini juga membukakan peluang untuk mendapatkan pengakuan dari kolektor lain yang memiliki preferensi selera berbeda.

Praktik Wiyu dalam arena seni, yang melintas dari ranah konsumsi (mengoleksi) ranah dan produksi (produksi kultural/pengetahuan) secara berulang-alik, memperkuat posisinya sebagai kolektor. Dominasi preferensi selera yang cenderung pada seni modern (khususnya di Indonesia) menempatkan Wiyu, sebagai agen yang memiliki preferensi selera seni kontemporer, di posisi berbeda. Ia mendapatkan rekognisi, dan meraih distingsi. Ia punya personal taste yang diakui dan preferensinya menjadi acuan bagi agen-agen baru yang lain – yang menjadikan posisinya semakin stabil. Wiyu seperti memberi gambaran bahwa kini kolektor tidak cukup hanya membeli karya yang sesuai seleranya untuk dapat mapan. Menjelaskan karya, memberikan konteks, selektif, dan aktif mengikuti serta memproduksi pengetahuan mengenai seni juga menjadi indikator yang merepresentasikan personal taste untuk dapat meraih distingsi dan menjadi preferensi selera bagi agen yang lain.

Di sisi lain, dengan melihat bagaimana kolektor dapat melintas dan memasuki arena produksi kultural dengan cara konversi modal, kita mendapatkan gambaran kemungkinan arena seni menjadi lebih heteronom (didominasi modal ekonomi) – meski selalu ada tarik menarik dengan sifat otonomnya (didominasi modal kultural dan bersifat anti-ekonomi). Jika dilihat dengan kacamata arena sebagai tempat berlangsungnya perebutan dan pertarungan, sisi produksi merupakan posisi yang cukup rawan. Campur tangan serta pengaruh yang besar dari kolektor pada sisi produksi dapat membuka kemungkinan lebih besar bagi preferensi selera pasar untuk menjadi daya tarik bagi seniman dan agen produksi kultural. Seniman, kurator, kritikus, dan akademisi, selaku produsen karya seni sekaligus pengetahuannya, tanpa kesadaran mengenai posisi dan pertaruhan mereka, bukan tidak mungkin ke depannya akan lebih kerap lagi melayani selera konsumsi.

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 1993. The Field of Cultural Production Essays on Art and Literature. Columbia: Columbia University Press.

Branden, L. E. A. 2016. “Collectors and Collection: Critical Recognition of The World’s Top Art Collectors”. Article Social Forces 94(4): 1483-1507.

Grenfell, Michael dan Hardy. 2007. Art Rules Pierre Bourdieu and The Visual Art. New York: Berg.

Jenkins, Richard. 1992. Pierre Bourdieu. New York: Routledge.

Jurriëns, Edwin dan Tapsell. 2017. “Digital Art: Hacktivism and Social Engagement”. Digital Indonesia Connectivity and Divergence. Singapore: ISEAS Publishing.

Lechte, John. 2003. Key Contemporary Concept From Abjection to Zeno’s Paradox. London: Sage.

Stallabrass, Julian. 2004. Contemporary Art A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press

 

Data Penelitian

Media Online:

“An Interview with Wiyu Wahono, Indonesia’s Most Cutting-Edge Collector” (https://theartling.com/en/artzine/2016/08/12/interview-wiyu-wahono-indonesias-most-cutting-edge-collector/)

“Young at art: Indonesia’s new breed of patrons give emerging artists a boost” (https://www.channelnewsasia.com/news/lifestyle/young-at-art-indonesia-s-new-breed-of-patrons-give-emerging-arti-7802356)

Wiyu Wahono: Collecting the Spirit of the Times (https://www.cobosocial.com/dossiers/wiyu-wahono-collecting-in-the-spirit-of-the-times/)

In Indonesia, a New Freedom to Explore (https://www.nytimes.com/2013/01/31/arts/31iht-jakarta31.html)

BEYOND BOUNDARIES – Globalisation and Identity (http://www.landesmuseum.li/default.aspx?TabId=214&shmid=770&shact=879011330&shmiid=qE0jQzFEKkA__eql__&Language=en-US)

Sumber video:

Art’s New Patrons | CNA Insider (https://www.youtube.com/watch?v=QKwz_fzsPDo)

Interview with Dr. Wiyu Wahono | Liechtensteinisches Landesmuseum (https://www.youtube.com/watch?v=uhwppZFm4Jk)

Collectors Visions Shaping the Art World | Hong Kong Art Gallery Association (HKAGA) (https://www.youtube.com/watch?v=mtmePP08VAw)

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.