Tag Archives: #buletinivaa_Maret2019

BULETIN IVAA DWI BULANAN | MARET-APRIL 2019

Belajar Sama-Sama!

Salam jumpa pembaca semua. Edisi kedua e-newsletter IVAA 2019 kini hadir kembali ke hadapan kita semua. Tepat di saat masyarakat masih menunggu hasil penghitungan yang dilakukan oleh KPU, sambil menikmati berbagai hidangan drama politik di media, kabar dari masyarakat seni juga tidak kalah dinamis. Berbagai dukungan pada kedua paslon dari para seniman diwujudkan melalui aktivitas kesenimanannya, melalui penyelenggaraan pameran dan panggung pertunjukan yang menjadi peristiwa kolektif. Barangkali sebagian dari kita sudah cukup jenuh dengan berita yang isinya copras capres yang cukup menyedot perhatian khalayak, yang kemudian lupa pada persoalan yang betul-betul terjadi di akar rumput. Belum lagi ramainya respon yang dimunculkan dari film Sexy Killers yang mampu mengambil momen.

Tidak jauh dari berbagai kemeriahan tersebut, kita tetap menyoroti upaya produksi pengetahuan yang berlangsung di sekitar masyarakat seni budaya, terutama yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya, yang sesungguhnya mampu berjalan di atas keberagaman konteks dan urgensi. Keberadaan berbagai ruang yang diinisiasi oleh seniman, budayawan dan akademisi yang kami hadirkan pada edisi ini perlu untuk kita garis bawahi, agar kesadaran kita ketika membicarakan aktivitas seni tidak terbatas pada pameran ataupun penyelenggaraan festival yang hingar-bingar dan menghabiskan banyak biaya. Di luar itu banyak upaya dengan energi yang tidak kecil, kadang berbiaya nol rupiah, tak jarang senyap, namun memiliki potensi pengetahuan yang perlu kita beri perhatian.

Di edisi ini, bersama beberapa kawan yang sedang magang di IVAA, kami menggarisbawahi apa yang untuk sementara kami namai dengan inisiatif literasi (walaupun selanjutnya istilah ini kami persoalkan sendiri). Kami menyoroti berbagai ruang-ruang pengetahuan yang dimunculkan dari bawah jembatan Siluk yang bersama dengan anak-anak membuka ruang belajar dan menggambar selain mengelola koleksi perpustakaan, Kelas Suluk Budaya yang diinisiasi salah satunya oleh Hasan Basri, upaya pengorganisasian yang sempat diupayakan melalui forum katalis Ali Umar, penerbitan jurnal lembar oleh MDTL dan komunitasnya, komunitas Sastra Jawa dengan Babaran Segara Gunung, hingga metode riset artistik yang dipraktikkan oleh Ivan Sagita dan Yogya Open Studio. Berbagai upaya tersebut kami dekati dengan melihat potensi pengetahuan yang bisa dimunculkan, selain di sisi lain, barangkali juga menjadi ruang eksplorasi kapital sosial bagi para senimannya. Akan tetapi, apapun motivasi dan niat baiknya, tidak akan bisa kita rasakan jika tidak ada perwujudan materialnya. Hal-hal yang kita ketengahkan disini tentu memberikan pelajaran bahwa langkah-langkah yang sudah diwujudkan pastinya bisa kita apresiasi sekaligus evaluasi bersama. Karena dari proses tersebut, berbagai discourse kebudayaan mendapatkan tempatnya. Bahwa dari proses itu juga beragam individu memperoleh ruang untuk berkembang dan bertumbuh bersama. Bahwa dari ruang-ruang tersebut suatu kota juga mendapatkan maknanya.

Salam budaya, selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. Pengantar Redaksi
Oleh: Lisistrata Lusandiana

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rahmanto, Lisistrata Lusandiana, Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo, Rully Adi Perdana, Ahmad Muzakki, Najia Nuriyana,, Wahyu Siti Walimah, Nur Rizki Aini, dan Esha Jain.

Sorotan Pustaka
Oleh: Gladhys Elliona Syahutari, Ahmad Muzakki, Najia Nuriyana

Sorotan Arsip
Oleh: Hardiwan Prayogo

III.Agenda RumahIVAA
Oleh: Ahmad Muzakki, Rully Adi Perdana

IV.Esai Telusur
Oleh: Elok Santi Jesica

Tim Redaksi Buletin IVAA Maret-April 2019

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana • Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi • Penyunting: Lisistrata Lusandiana, Krisnawan Wisnu Adi, dan Hardiwan Prayoga • Penulis: Dwi Rahmanto, Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo, Gladhys Elliona Syahutari • Kontributor: Elok Santi Jesica, Rully Adi Perdana, Ahmad Muzakki, Najia Nuriyana, Wahyu Siti Walimah, Nur Rizki Aini, dan Esha Jain • Tata Letak & Distribusi: M Fachriza Ansyari

Sorotan Dokumentasi | Maret-April 2019

Sampai akhir bulan April, Tim Arsip khususnya bagian dokumentasi menerima berbagai rekaman baik berupa liputan pameran, diskusi, presentasi, dan wawancara dengan jumlah sekitar 74 peristiwa seni. Rekaman tersebut hadir dengan berbagai medium, mulai dari foto, video, audio, katalog hingga kliping media.  

Selama dua bulan, Maret-April ini, tim dokumentasi bersama dengan tim redaksi e-newsletter menggagas pengumpulan rekaman dan memperbarui data terkait dengan ruang seni dan seniman yang menginisiasi ruang belajar, kebanyakan yang dilakukan secara kolektif. Sepanjang perjalanan ini pekerjaan kami juga terasa ringan dengan kehadiran kawan-kawan magang, mereka adalah Esha, Najia,  Emma, Kiki, Zaki, dan Rully. Di titik ini, kerja koordinasi menempati garda depan garis pekerjaan.

Berbagai perayaan seni di sekitar pemilu, geliat seni perempuan hingga perayaan ulang tahun Oei Hong Djien dengan beberapa pameran seni rupanya, juga tak luput kami rekam, meski tidak kami garis bawahi di e-newsletter edisi ini.  

Dan berikut adalah beberapa inisiasi runag belajar yang kami liput secara khusus:

Hasan Basri, Suluk, dan Kelas Suluk Kebudayaan

Oleh Rully Adi Perdana dan Esha Jain (Kawan Magang IVAA)

Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan oleh kawan magang IVAA, Rully dan Esha, bersama Hasan Basri mengenai Kelas Suluk Kebudayaan. Kelas Suluk Kebudayaan merupakan sebuah kegiatan belajar gagasan dan praktik ‘suluk’ dalam ajaran Islam bagi generasi muda. Selain sebagai respon atas gerakan Islam ultra-kanan, kelas ini menjadi ruang kebudayaan untuk membangunkan kembali sensibilitas atas tasawuf, sebuah tradisi mistisisme Islam yang telah lama terputus secara intelektual.

Apa itu suluk?

Suluk memiliki banyak pengertian. Untuk mengenal suluk, pintu masuknya dapat melalui kajian tasawuf (kajian tentang aspek-aspek batiniah atau rohaniah dalam Islam). Sebab dalam komponen ilmu keislaman terdapat ilmu bahasa (aspek gramatikal, leksikal, hingga sastra), ilmu hukum/ fiqih, filsafat Islam, hingga yang terakhir ilmu tasawuf. Suluk berasal dari kata ‘salakah’ yang artinya ‘berjalan’. Dalam dunia tasawuf, terdapat pemahaman bahwa ada ilmu yang dapat diterima sebagai hasil proses belajar dan ada ilmu yang diterima karena diamalkan/dijalankan (tanpa melalui pengamalan, seseorang tidak akan mendapatkan hal-hal baru dan tambahan pengetahuan). Menurut Nancy Florida, istilah ‘ilmu suluk’ diadopsi di Jawa, karena terkait dengan genre dalam sastra Jawa. Selain babad dan serat, suluk menjadi salah satu karya sastra Jawa yang lahir dari pesantren. Karena suluk erat kaitannya dengan tasawuf dan mistisisme Islam, suluk sudah pasti berbicara tentang mistisisme Jawa-Islam serta ajaran rohani.

Selanjutnya, yang disebut ‘ilmu’ dalam Bahasa Jawa adalah ilmu yang dikerjakan (ngelmu iku kalakone kanthi laku), sehingga orang yang berilmu adalah orang yang pengetahuannya bersenyawa dengan tindakannya. Harapannya, tingkatan ilmu pengetahuan dan ilmu tindakan berada pada taraf yang sama. Sayangnya, banyak orang yang lebih tahu aspek teoritik, tapi belum tentu mempraktikkannya.

Suluk terdiri dari satu komponen pengetahuan yang stabil, memiliki rujukan intelektual yang dapat diakses oleh orang yang mempelajarinya, dan rujukan tersebut telah mendapat pengakuan terkait bobot intelektualitas dan status mistiknya oleh umat Islam. Karena ada rujukan yang bersifat otoritatif, yang terjadi selanjutnya ialah pola praktik cara mengajar suluk. Seorang salik (orang yang melakukan suluk) pada tahap awal belajar tahap-tahap intelektualitas seperti kecakapan berbahasa, penguasaan pranata sastra, serta akhlak formal (bagaimana bertindak, bersikap pada orang lain, dan memiliki pandangan terhadap alam). Selanjutnya, para salik dibimbing dalam ajaran rohani secara ketat oleh para sufi atau wali. Konon, jika seorang salik belum mendapat pencerahan, ia tidak akan dibiarkan keluar dari pesantren sehingga tetap berada di bawah bimbingan gurunya.

Pada akhir abad kesembilan belas, menjelang berakhirnya masa kolonialisme, hampir seluruh kelompok umat Islam (kalangan Sunni maupun di luar kelompok tersebut) memiliki perubahan pandangan terhadap dunia tasawuf. Salah satu yang Hasan ketahui datanya adalah secara kelompok/ kolektif, hanya Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakui mistisisme Islam (suluk dan tasawuf), sementara kelompok lain menganggap tasawuf adalah komponen asing yang pernah masuk dalam ajaran Islam sehingga harus dibuang. Maka praktis timbul perbedaan pada akhir abad 19 antara kelompok Islam yang mengakui tasawuf dan anti tasawuf. Itulah sebabnya kelompok baru (ultra-nasional) dalam konteks Islam pasti tidak akan mau menyentuh tasawuf/ suluk. NU pada waktu itu tidak hanya memberi respons atas apa yang terjadi di dunia internasional, tetapi NU juga punya kepentingan untuk menyambungkan diri dengan tradisi Islam sebelumnya (misalnya Wali Sanga).

Akibat adanya kolonialisme, sebagian masyarakat terputus dengan tradisi secara intelektual, tetapi tidak terputus secara praktik karena masih memiliki tradisi untuk menyambungkan diri dengan masa lalu. NU melakukannya dengan cara menegaskan bahwa tasawuf tetap bagian terpenting dari keber-Islam-an minimal dua arah: sebagai jawaban pada apa yang terjadi dengan umat Islam saat itu, dan upaya orang NU untuk bercakap dengan tradisi sebelumnya.

Seperti yang kita ketahui, Islam di Indonesia persis dengan klaim orang Pakistan atau Muslim di India bahwa mereka datang dengan membawa mistisisme, sehingga dapat diterima oleh masyarakat setempat. Sama seperti Indonesia, Islam selalu disebut (walau sering mendapat perdebatan oleh banyak kalangan) datang ke Indonesia dengan langgam mistik sehingga dapat lebih toleran terhadap perbedaan, dapat menerima orang lain, karena dalam mistisisme pada puncaknya tidak ada ‘othering’ (yang lain; liyan). Sehingga, jika ingin mencari bentuk toleransi dan sikap moderat pada Islam harus melalui tasawuf. Jika tidak pernah menyentuh tasawuf, maka kita akan dibayangi dengan wajah Islam yang garang, Islam yang marah, dsb.

Lalu, bagaimana dengan Kelas Suluk Kebudayaan?

Kata ‘suluk’ yang digunakan pada Kelas Suluk Kebudayaan memiliki makna yang berbeda. Secara umum, pada masa pendudukan kolonial di Indonesia, para salik melakukan resistensi terhadap kaum penjajah, sehingga pihak Belanda berusaha keras untuk mematikan gerakan tersebut dengan cara mendorong umat islam (sebagai komponen terbesar masyarakat nusantara pada saat itu) untuk beralih ke ranah fiqih yang bersifat formal dan semakin menjauh dari dunia mistik. Sebagai akibat dari strategi Belanda tersebut, hingga saat ini mistisisme Jawa selalu dianggap sebagai anti Islam, sedangkan Hasan yang hidup di dunia pesantren tidak pernah membedakan antara mistisisme Jawa dan mistisme Arab karena keduanya memiliki kekayaan mistik yang luar biasa.

Kelas Suluk Kebudayaan (yang disusun oleh Hasan Basri, Jumadil Alfi, Irfan Afifi, dan Bagus Pradana) mencoba menyusun program untuk membuat serangkaian diskusi intensif dengan tema seputar Islam, Indonesia, dan keberagaman. Hasan dengan beberapa teman dari pesantren yang ada di Yogyakarta sudah lama membuat beberapa kelas dan sejumlah komunitas yang terkait dengan pengembangan kualitas. Inisiatif untuk membuat kelas tersebut timbul karena sudah banyak perubahan yang terjadi di lingkup pengalaman dan kebutuhan generasi muda terhadap ruang diskusi yang lebih terbuka. Kelas-kelas yang bersifat memberikan ruang diskusi tentang hal yang elemental terkait pengembangan intelektualitas. Sebagai dasar, Hasan dan rekannya memberikan kelas menulis, lalu menawarkan tema sesuai minat wacana setiap peserta. Apabila ada peserta yang memiliki minat di luar kapasitas Hasan, biasanya akan disarankan untuk belajar kepada sumber yang kompeten di bidangnya.

Pada bulan puasa tahun 2018, Irfan selalu mengadakan acara yang rutin membahas beberapa aspek Jawa atau naskah tasawuf yang dibaca dalam konteks Jawa, dengan mengundang teman yang memiliki pergulatan mendalam tentang tema tertentu. Irfan, Hasan, dan rekan lainnya yang lama bergulat tentang hal-hal tersebut menangkap ada celah bahwa wacana ‘tasawuf’ sulit diterima kelompok kajian arus utama, karena kelompok tersebut mempelajari Islam statis yang ilmunya datang dari dunia Barat. Unsur-unsur lokal seperti filosofi Jawa, sastra Jawa, bahkan memahami praktik tradisi Islam di Jawa yang sebenarnya memiliki sumbangan yang sangat besar terhadap praktik keislaman sebagian besar umat Islam, saat ini tidak mendapat banyak tempat.

Sebenarnya, banyak teman yang bergulat serius secara intelektual untuk menulis tema tertentu yang terkait dengan Jawa. Akan tetapi, ada kendala ketika membahas Jawa dan menyampaikannya secara diskursif kepada golongan muda. Pertama, sebagai orang Indonesia modern, kita lahir, tumbuh, dan hidup dalam basis epistemologi yang jamak. Sehingga, Irfan dan rekannya harus menghidupkan aspek tradisi melalui medium yang tetap menggunakan diskursus modern. Kedua, seringkali pembicaraan tentang tradisi Indonesia dilakukan dengan mengabaikan batas, sehingga ketika ahli menyampaikan gagasannya, arah pembicaraan menjadi tidak terarah. Berdasarkan pengalaman tersebut, Kelas Suluk Kebudayaan selalu mengambil tema spesifik. Selain adanya batas tentang tema yang diambil, ada pula basis pertanggungjawaban berupa tulisan (makalah), biasanya sekitar 15 halaman.

Pada seri Suluk Kebudayaan pertama, Hasan mendapat tema tentang ajaran Wujudiyah di Pulau Lombok. Wujudiyah adalah salah satu aliran atau ajaran terinti dari dunia suluk yang memandang bahwa segala sesuatu yang kita lihat, termasuk diri kita adalah perwujudan Tuhan. Sebelumnya, kelas tersebut diadakan setiap dua minggu. Akan tetapi, karena dirasa terlalu berdekatan, para penyelenggara kemudian mengadakan kelas menjadi sekali dalam sebulan. Hasan memiliki prinsip bahwa acara semacam itu dapat menjadi alternatif bagi teman-teman yang memiliki perhatian pada tema-tema yang sama. Jika melihat perubahan yang terjadi di dunia intelektual, Hasan merasa harus lebih rendah hati, karena yang dilakukan selama ini bukanlah sesuatu yang istimewa dan semata-mata menjadi upaya untuk meneruskan percakapan intelektual dengan siapa saja dalam lingkup yang kecil tapi banyak dilakukan di berbagai tempat sehingga terjadi persebaran gagasan.

Asal istilah ‘suluk kebudayaan’ berasal dari Irfan. Hasan menyadari, jarang ada orang yang mau membahas tema-tema yang telah disebutkan di atas karena dianggap sebagai tema yang tertinggal. Akan tetapi, kelas tetap berjalan, tema tetap dibahas, karena menantang secara intelektual. Tema-tema yang dipaparkan sudah dipersiapkan sejak lama, begitu pula dengan narasumber yang tidak dipilih begitu saja. Narasumber yang akan memaparkan gagasannya harus mampu bergulat dengan tema yang diberikan, dibuktikan dengan makalah sebanyak (kurang lebih) lima belas halaman.

Bagaimana melihat Suluk dan Kelas Suluk Kebudayaan di masa mendatang?

Melalui pengamatan di media sosial, ada perkembangan yang menarik, yakni ketertarikan generasi muda muslim Indonesia. Terkait suluk, ada peningkatan minat secara intelektual, meskipun belum tentu dipraktikkan – tetapi ada juga sebagian yang mulai mempraktikkannya secara serius. Menurut Hasan, gejala tersebut (mungkin) timbul sebagai respons generasi muda terhadap kelompok-kelompok Islam garis kanan, sehingga salah satu dampaknya ialah hal-hal yang lama tidur (dunia suluk dan lain sebagainya) ‘bangun’.

Terkait wacana yang digagas dalam kelas suluk, dapat menjadi jembatan bagi berbagai kalangan untuk berbicara tentang Indonesia, keislaman, dan pengalaman Indonesia. Karena dirangkai dalam berbagai pendekatan dan beragam tema, serta acuan bahwa pemateri dan narasumber memang memiliki pergulatan dan konsentrasi pada tema yang didalami, kelas suluk memiliki daya tarik bagi banyak kalangan yang memiliki perhatian secara intelektual.

Karena diskusi tersebut direkam dan ditayangkan di kanal Facebook dan YouTube, banyak orang yang menonton dan kemudian menggabungkan diri pada diskusi di kelas selanjutnya. Ketika diadakan di Yogyakarta, ada peserta yang datang dari Surakarta, daerah pantai utara Jawa Tengah, Bandung, hingga Jakarta. Pada akhir sesi, dilakukan evaluasi dan masukan, entah tentang pengelolaan diskusi supaya lebih baik, tema untuk kelas berikutnya, atau hal-hal dalam tema yang tidak selesai dibahas ketika diskusi diadakan. Secara umum, ketertarikan terhadap suluk (sebagai ajaran) dan Kelas Suluk Kebudayaan tumbuh subur.

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

 

Di Kolong Jembatan Kami Juga Bisa Belajar dan Berkarya

Oleh Najia Nuriyana dan Ahmad Muzakki (Kawan Magang IVAA)

Kawasan Imogiri menjadi salah satu akses menuju kawasan pariwisata yang ada di selatan Yogyakarta. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini membuat kuantitas sampah meningkat. Tidak hanya tercecer di pinggir jalan, banyak pihak tidak bertanggung jawab juga membuang sampahnya di sungai maupun jembatan yang dilewatinya. Hal ini juga menimpa Jembatan Siluk Imogiri, salah satu jembatan yang beralih menjadi tempat sampah bagi para pengguna Jalan Imogiri.

Kali Oyo merupakan aliran sungai Jembatan Siluk dan menjadi salah satu sungai yang sering mengalami kebanjiran. Selain, karena sampah dari aliran sungai, banjir di Kali Oyo disebabkan oleh menumpuknya sampah di sekitar Jembatan Siluk. Kondisi inilah yang menggugah Kuat, atau biasa orang mengenal dia dengan nama Kuart, untuk merubah kondisi buruk tersebut. Sampah di Jembatan Siluk yang dinilai sangat meresahkan masyarakat sekitar menjadi alasan utama Kuat untuk berpikir kreatif merubah tempat itu. Perubahan yang dilakukan adalah dengan menciptakan serangkaian kegiatan yang mendorong masyarakat agar sadar terhadap lingkungan, terutama di kawasan Siluk.

Kuat merupakan seorang seniman yang berasal dari Yogyakarta. Ia pernah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Latar belakang sebagai  seorang pelukis membuat aksi Kuat mendapat dukungan dari banyak pihak, khususnya para rekan sesama seniman. Melalui kegiatan yang dicanangkan ini Kuat berbagi ilmunya bersama masyarakat sekitar untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus terhadap seni rupa.

Aksi nyata yang dilakukan Kuat pada mulanya sebatas membersihkan sampah di kolong jembatan, kemudian mengolah hingga menjualnya. Kegiatan tersebut tidak dilakukannya sendiri tetapi dibantu oleh pemuda sekitar. Rasa puas belum menghampiri Kuat atas kegiatan bermanfaat yang dilakukannya. Muncul ide untuk membuat kegiatan edukasi di kolong Jembatan Siluk yang dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Bermula dari inisiasi pria kelahiran Bantul 15 Juni 1978 itu akhirnya Jembatan Siluk dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan JES (Jembatan Edukasi Siluk).

Kuat menyatakan bahwa secara resmi pada Oktober 2016 Jembatan Edukasi Siluk telah berdiri. Kuat bersama timnya mengajak masyarakat sekitar untuk menghidupi kegiatan edukasi di Jembatan Siluk. Beberapa donatur mulai berdatangan, buku sedikit demi sedikit mulai bertambah. Hingga akhirnya tercetus Taman Baca, yang saat ini jumlah koleksinya mencapai 3000 lebih buku dengan berbagai jenis. Para orang tua cukup antusias dengan adanya Taman Baca dan kegiatan yang dilakukan Kuat beserta timnya. Bahkan mereka sangat mendukung anak-anaknya untuk aktif di Jembatan Edukasi Siluk.

Pada 2017 Jembatan Edukasi Siluk semakin menebalkan identitasnya dengan mencoba membuat kegiatan-kegiatan lain. Mulanya terdapat kelas memasak bagi ibu-ibu sekitar. Seiring berkembangnya waktu dan dikarenakan kurangnya relawan, muncul kegiatan baru, seperti kelas senam, kelas sampah, kelas melukis, dan kelas keterampilan yang rutin diadakan pada setiap bulannya.

Kelas pengolahan sampah dilaksanakan dengan cara keliling dusun sekitar untuk mengambil sampah di setiap rumah. Kegiatan ini dilaksanakan bersama para peserta didik, sebagai salah satu proses edukasi serta penyadaran masyarakat sekitar terhadap isu pengelolaan sampah. Sampah yang dikumpulkan kemudian dipilah dan dijual. Hasil penjualan sampah yang diperoleh digunakan untuk membeli dan melengkapi kebutuhan kegiatan edukasi di Jembatan Siluk itu sendiri, seperti membeli cat air, pastel dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu masyarakat mulai sadar akan bahaya sampah. Selain itu, Kuat dan para kontributor di sana juga memasang jaring-jaring di sepanjang Jembatan Siluk dengan tujuan agar para pengendara tidak asal melempar sampahnya ke Kali Oyo.

Selain kegiatan lingkungan, aktivitas kesenian juga berlangsung di jembatan ini. Dengan latar belakang seniman, Kuat tidak lupa menyalurkan bakat seninya. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat sangat mendukung kegiatan positif ini. Proses kesenian yang digelar salah satunya adalah kelas melukis. Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu ke empat, dimana setidaknya ada 30-50 peserta didik. Yuswantoro Adi, salah satu seniman Yogyakarta, juga aktif dan rela meluangkan waktunya untuk mengajar kelas melukis. Begitu juga dengan Bagong Subagyo. Beliau fokus dalam mengajar keterampilan. Wayang kertas, bunga dari botol bekas merupakan salah satu contoh hasil karya dalam kelas keterampilan.

Kegiatan lukis di Jembatan Siluk ini masih menggunakan kertas dan baru sekali menggunakan kanvas. Hasil karya anak-anak ini akan dipamerkan dalam sebuah pameran lukisan di bawah Jembatan Siluk. Pameran perdana Siluk yang diadakan pada 2018 berhasil memamerkan sejumlah 1000 lukisan karya anak-anak. Hasil dari lukisan yang terjual digunakan untuk membeli perlengkapan lukis peserta didik. Rencananya pameran ini akan diadakan lagi pada 2019.

Kegiatan edukasi di Jembatan Siluk berbeda dengan pendidikan formal lainnya. Di sini tidak ada kurikulum yang paten, akan tetapi prinsip yang diterapkan adalah ‘kebahagiaan’. Para mentor yang mengisi materi dituntut untuk membuat para peserta didik menjadi bahagia dan ikhlas dalam berkarya.

“Jika mereka bahagia, gambar mereka akan bagus. Saya tidak akan menilai bagus tidaknya gambar anak. Prinsip keberhasilan saya adalah jika anak-anak menjadi senang menggambar. Jika anak-anak menjadi tidak senang menggambar berarti itu yang menjadi masalah”, ungkap Yuswantoro Adi.

 

Selain dipamerkan, hasil karya para peserta didik juga diarsipkan oleh Kuat dan kawan-kawannya. Praktik ini dilakukan untuk menghargai karya para peserta didiknya. Jika peserta didik ingin membawa karyanya pulang, maka mereka harus menggambar lebih dari satu agar dapat memberi satu karyanya untuk diarsipkan. Itulah prinsip yang ditanamkan Kuat pada peserta didiknya.

Kegiatan Kuat dan pemuda Siluk sangat didukung para orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar. Selain membantu menjaga lingkungan, kegiatan ini juga bermanfaat untuk anak-anak. Di setiap kegiatan banyak para orang tua yang ikut menemani putra-putrinya. Upaya Kuat yang dulu belum mendapat perhatian, lambat laun mulai dikenal masyarakat sekitar. Hingga 2019 ini banyak peserta didik yang berasal dari luar Imogiri. Kegiatan Kuat juga mulai dikenal warga mancanegara, seperti adanya kunjungan dari mahasiswa dari Jepang. Berkat kegigihannya Kuat mendapatkan penghargaan dari pemerintah yaitu “Green Awards” sebagai kategori penyelamatan sumber daya air.

Tiga tahun kerja keras Kuat dan timnya telah membuahkan hasil. Masyarakat mulai merubah kebiasaan buruknya untuk tidak membuang sampah di sungai terutama di Kali Oyo. Sentuhan ekologi yang berdampingan dengan kesenian telah memberikan pemandangan yang berbeda. Wajah baru di kolong Jembatan Siluk mulai sedap dipandang. Warna-warni tembok, tanaman hias, dan aliran sungai yang bersih dari sampah menunjukkan bahwa para seniman telah mampu berkolaborasi bersama masyarakat sekitar. Tentu, Jembatan Edukasi Siluk belum dan tidak akan pernah usai. Wajah kolong jembatan yang mulai sedap dipandang bukanlah indikator yang mampu menentukan keberhasilan edukasi. Justru, ia adalah pintu masuk untuk menyikapi berbagai masalah yang lingkungan dan manusia di sekitarnya yang lebih luas. Setidaknya, Jembatan Edukasi Siluk telah memberi kita contoh bahwa melalui kerja kolaborasi, mengawinkan praktik ekologis dan kesenian, sebuah perubahan bukanlah hal yang tidak mungkin.

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

YOS: Menghubungkan Studio Seniman dengan Publik

Oleh Wahyu Siti Walimah dan Nur Rizki Aini (Kawan Magang IVAA)

Ketika bicara Yogyakarta, seolah belum sah jika belum bicara kesenian. Banyak seniman besar di Indonesia lahir dan bekerja di Yogyakarta. Banyak pameran seni rupa yang digelar di kota ini, baik dari yang kecil hingga yang berskala internasional. Begitu pula dengan para seniman dan karya-karya mereka, tak terhitung lagi jumlahnya. Namun, sayang sekali, Kota Yogyakarta tidak mempunyai sebuah museum khusus untuk memamerkan hasil karya-karya seniman. Oleh karena itu, para seniman memajang karyanya di studio mereka masing-masing.

Terkait dengan situasi yang tersebut di atas, ada seorang seniman berdarah Minangkabau bersama tiga orang temannya memiliki inisiatif untuk menjadikan kota Yogyakarta sebagai museum. Mereka membuat Yogyakarta Open Studio (YOS) dengan alasan dasar bahwa studio seniman merupakan batu kunci infrastruktur seni di Yogyakarta, akan tetapi sebagian besar belum dijelajahi dan tidak didokumentasikan.

YOS merupakan salah satu program tahunan dari PartNER Yogyakarta yang digagas oleh Antena Project dan bekerja sama dengan OFCA International. YOS dibentuk pada 2013 dengan membuka studio-studio seniman dan menampilkan praktik studio kontemporer di Yogyakarta. Tujuan YOS adalah mendokumentasikan praktik studio, di mana studio merupakan soft institution yang dimiliki oleh seniman. Selain mendokumentasikan praktik tersebut YOS juga ingin sekaligus membaca dan membukanya kepada publik sebagai pengetahuan bersama, kemudian didiskusikan bersama dalam forum diskusi yang melibatkan narasumber dalam berbagai kapasitas.

Setiap tahun seniman yang berbasis di Yogyakarta diundang untuk membuka studio mereka kepada publik selama kurang lebih satu bulan dengan waktu yang telah ditentukan. Rata-rata studio yang diundang oleh YOS telah lolos proses kurasi dengan mempertimbangkan tema, peran dan fungsi studio itu sendiri, yang mana fungsinya lebih dari sebagai tempat berkarya. Sebagai contoh: Studio Kalahan yang menyediakan ruangan untuk publik dan seniman lain berpameran di sana; Studio Grafis Minggiran yang membuka kemungkinan kolaborasi dengan banyak seniman, berkegiatan bersama seperti pameran, workshop, dan sebagainnya; Studio Desrat Fianda yang menginisiasi berdirinya PartNER yang turut dalam pengembangan seni rupa di Yogyakarta; atau seperti studio Alfi yang menginisiasi SaRanG; dan studio lainnya. Selain peran dan fungsi studio, tema juga menjadi salah satu kriteria yang menentukan studio tersebut diundang dalam program YOS.

Edisi pertama program YOS 2013 mengusung tema “Peta Pergaulan”. YOS 2013 memfokuskan pada peta pergaulan Yogyakarta atau ‘peta asosiasi’ dengan membuka pintu studio seniman untuk umum dan menyoroti bagaimana praktik artistik seniman dan jaringan hubungan yang ada dan memperkuat komunitas seni. YOS 2013 berlangsung pada 10 November 2013-10 Januari 2014 dengan melibatkan 5 Studio, antara lain Black Goat Studios, PartNER, OFCA International, Studio Yunizar dan Studio Handiwirman.

Pada 2014 YOS kembali hadir dengan tema “Hubungan Internasional” dengan tujuan melihat perkembangan, praktik, dan realitas hubungan internasional untuk seniman yang berbasis di Yogyakarta. Pada tahun ini YOS memperluas jaringan bersama mitra organisasinya yakni Berlin Open Studio (BOS).  YOS 2014 berlangsung pada 24 November-22 Desember 2014 dengan melibatkan 9 studio dan 40 seniman.

Pada tahun 2015 YOS mengangkat tema “Arsip”; tentang bagaimana seniman memperlakukan arsip, dan arsip tersebut sangat membantu untuk mengungkapkan berbagai cerita dalam sejarah seni rupa khususnya di Yogyakarta.

Ada beberapa acara pendukung lain di program YOS, seperti Artist Talk & Malam Kreatifitas, Presentasi Karya & Proses Dokumentasi Berkarya, Screening Talks, Demo Cetak Alugrafi, Performance Art, Menata Arsip Mahasiswa, dan masih banyak lagi. Dengan forum diskusinya, baik secara formal maupun informal, muncul pembicaraan tentang seni rupa secara lebih jauh berdasarkan tema-tema yang telah ditentukan. Kemudian diskusi tersebut diulik kembali, serta didalami, dan akhirnya menjadi tema untuk program YOS di tahun selanjutnya. Jadi pergantian tema di setiap program YOS adalah kelanjutan dari tema-tema sebelumnya.

Setelah berjalan dengan tema “Arsip” pada 2015, YOS kembali hadir pada 2016 dengan tema “Artist’s Engagement with Art History”. Tujuan dalam mengangkat tema ini adalah untuk mendukung pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi studio kontemporer, karena sebenarnya sejarah seni itu penting namun kerap diabaikan. Sama seperti di tahun sebelumnya, YOS kali ini juga memiliki program-program pendukung seperti Studio Tour yang dimulai dari galeri R.J Katamsi ISI menuju studio seniman peserta YOS, dan melakukan diskusi dengan tema “Materials and Form in Art Making”. Tujuan dari tour dan diskusi ini adalah untuk melihat bagaimana seniman menggunakan bahan tertentu dalam proses kreatifnya serta menghasilkan karya yang mengejutkan dan provokatif. Tour selanjutnya bertema “Forms and Images of Collaboration and Community” dengan mengajak publik untuk melihat bagaimana cara seniman berkolaborasi dengan seniman lain, mengenal media seni, dan proses kreatifnya. Selain itu, ada juga tour yang disediakan khusus untuk anak dan keluarga dengan sesi belajar membuat karya cetak timbul di Studio Grafis Minggiran.  

Untuk YOS periode selanjutnya, ada pertimbangan khusus dari penyelenggara. Nissak Latifah menyatakan demikian,

“Setelah YOS secara annual berhasil mencapai empat kali penyelenggaraan (2013-2016), kami mempertimbangkan menyelenggarakannya setiap dua tahun sekali. Kemudian untuk memulai periode dua tahunan, kami berencana melakukannya di tahun 2018. Namun dari segi teknis dan beberapa pertimbangan, dimana kami mulai merencanakan mencari sponsor pendukung, menjelang pemilu, menjadi salah satu pertimbangan juga. Maka, kita undur setelah pemilu usai dan rencana akan dibuat bersamaan dengan agenda Biennale Jogja.”

Salah satu seniman yang berpartisipasi pada program YOS adalah Desrat Fianda. Ia merupakan salah satu seniman yang juga menginisiasi program YOS. Studio yang dimiliki oleh pria berdarah Minang ini juga diundang untuk berpartisipasi ke dalam YOS. Proses- proses yang ia alami pada awal mengikuti YOS yaitu mempresentasikan konsep apa yang akan dia buat pada studionya, karena YOS biasanya memiliki tema dan syarat-syarat tertentu. Seperti salah satu contoh pada YOS 2014, tentang relasi internasional, ada satu keharusan bagi para peserta YOS untuk mengundang minimal dua seniman dari luar negeri, untuk terlibat dalam kegiatan YOS. Karya seniman itu dipresentasikan di setiap studio yang mengundang mereka.

Bagi Desrat, berpartisipasi dalam program YOS merupakan kegiatan yang menyenangkan dan mempunyai konsep yang jelas sehingga membuka peluang pertemuan antara publik dan seniman secara langsung. Bukan bermaksud untuk bersaing dengan pameran di galeri-galeri, program-program YOS membuka peluang yang besar untuk menjalin kedekatan yang lebih intim. Desrat mengatakan, “YOS juga turut serta memperkuat Yogyakarta dalam menjalin hubungan secara Internasional”. Selain itu YOS juga berusaha menebalkan persahabatan antar seniman. Mereka sering bertemu dan berdiskusi tentang apa saja yang memiliki efek bagus. YOS juga menginspirasi banyak seniman untuk lebih aktif dalam memperlakukan studionya lebih dari sekedar tempat berkarya.

YOS berkomitmen untuk meningkatkan apresiasi dan pengetahuan publik terhadap kontribusi seniman pada masyarakat dengan cara memperlihatkan bagaimana praktik seniman yang berhubungan erat dengan peristiwa kontemporer dan infrastruktur global. Seniman yang berpartisipasi dapat langsung berbagi pengetahuan, tidak hanya tentang proses kreatif mereka, tetapi juga tentang strategi yang mengungkapkan aspek penting dari skema seni Yogyakarta sehingga pengunjung dapat mengeksplorasi bagaimana seniman menggunakan ruang mereka untuk membuat karya seni, membangun komunitas, menentukan peran mereka dalam wacana seni dan bernegosiasi dengan dunia luar. Akan tetapi sejauh apa kegiatan membuka studio ini bisa mendekatkan kesenian dengan publik? Atas nama kepentingan pasar atau edukasi? Pertanyaan tersebut agaknya bisa jadi bahan renungan kita bersama.

 

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Babaran Segaragunung, Ngelmu untuk Berkarya

Oleh Dwi Rahmanto

Babaran Segaragunung (BSG) merupakan organisasi seni non-profit yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Ia banyak mengeksplorasi karya-karya sastra, seperti sastra Jawa kuno, dengan menggunakan kesenian sebagai medium. Tujuan utamanya adalah untuk mengeksplorasi ragam tradisi kebudayaan guna memahami kebudayaan saat ini. BSG memfasilitasi kolaborasi dan pertukaran seni, publikasi, pameran, workshop, tour budaya, penelitian dan dokumentasi seni. Berikut adalah hasil wawancara (teks dan video singkat)  antara tim IVAA dengan para aktor BSG, yakni Agus Ismoyo, Miko Malioboro, Ananta O’edan, Alim Bachtiar, Manu J. Widyaseputra, dan beberapa yang lain.

  • Bagaimana proses terbentuknya program Babaran Segaragunung? Apa latar belakang serta tujuannya?

Sejak awal 2000an kami sudah mulai menggali cara untuk membangun metode untuk mengajar proses kreatif yang merupakan bagian budaya tak benda dalam batik dan kesenian lainnya yang tumbuh mengakar di dalam budaya Jawa. Studio kami Brahma Tirta Sari sudah menggunakan proses kreatif ‘Tribawana’ dalam menciptakan karya batik. Dalam hal ini proses Tribawana menggambarkan tatanan hubungan di antara mikro kosmos sebagai kesadaran kami hidup dan makro kosmos sebagai kesadaran hubungan kami dengan alam yang menghidupi kami dan sumber kreatifitas yang menciptakan hidup.

Proses kreatifitas ini pada intinya membangun sinkron di antara jagad-jagad tersebut dan ini berdasar konsep ‘ngilmu kelakone kanti laku’. Secara umum yang terpenting bagi kami adalah untuk tumbuh dan mengakar. Dari sisi ngelmu yang mengakar, kami merasa kurangnya ilmu pengetahuan jika kami ingin berkarya, terlebih untuk selanjutnya membangun program pendidikan demi terwujudnya regenerasi proses yang penting ini.  Oleh karena itu kami berdialog dengan Bapak Manu J. Widyaseputra, seorang filolog di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.

Proses literasi telah kami lakukan secara intensif sejak 2017 bukan untuk menciptakan siswa filologi, tetapi untuk bersama-sama menggali sastra nenek moyang kita yang menerangkan proses kreatif dan hal-hal yang berkaitan seperti arti rasa, estetika, nilai dan makna, juga bagaimana hal semacam ini dikupas dan dipahami dalam sastra kuno. Sungguh, proses ini sangat luar biasa. Semakin lama kami menggali, semakin kami merasa terpesona, terharu, dan mendapat rasa kesatuan untuk tumbuh dengan ilmu yang sudah dicatat secara rinci oleh leluhur bangsa Indonesia.

  • Siapa saja yang telibat di dalam program tersebut?

Fokus program ini memang untuk pemuda yang terlibat dalam proses kreatif. Ada mahasiswa dari program seni, kriya, musik, dan teater.  Juga, ada mahasiswa tingkat pasca sarjana dan seniman yang lebih tua serta masyarakat biasa yang juga tertarik untuk belajar bersama.

  • Format seperti apa saja yang dipakai di program ini, bagaimana melakukannya, dan mengapa memilih format yang demikian?

Kami memakai sistem belajar upanishad, sebentuk format belajar dalam pusat-pusat belajar di Yogya pada zaman kerajaan Hindu. Menurut sastra kuno, wilayah Yogya, khususnya di kaki Gunung Merapi, dulu dipenuhi semacam pesantren-pesantren yang mengajarkan segala macam kesenian, agama, dan teknologi. Cara belajar ini santai dengan berdialog secara langsung bersama guru dan mengutamakan minat belajar murid.

Di dalam setiap upanishad, ada sastra yang dikupas dan diperdalam dengan kegiatan diskusi. Selain itu, peserta kelompok studi ini wajib membuat presentasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana ilmu ini diterapkan dalam keseniannya. Ini kami lakukan dua kali seminggu. Format tersebut didasarkan atas pengarahan dari Pak Manu karena dia sudah lama menjadi dosen dan ingin memberi kontribusi kepada masyarakat dengan kelompok yang ingin menggali ilmu.

  • Bagaimana sistem keanggotaan/ pesertanya?

Bebas, siapa saja yang mau datang boleh bergabung. Ada orang baru, ada yang lama dan selalu datang silih berganti. Ada yang bertahan untuk mendalami sastra kuno, ada yang terlibat hanya sementara untuk mendapatkan dorongan dalam proses kreatifnya. Tetapi dari teman-teman yang bertahan, akhirnya kami memiliki kelompok inti yang sudah belajar sejak awal bersama-sama.

  • Output seperti apa yang dihasilkan dari Babaran Segaragunung?

Pada Desember lalu, kami mengadakan pameran bersama di Studio Kalahan dengan hasil karya yang diciptakan oleh peserta yang intensif ikut dalam program studi ini. Kami menciptakan performance art untuk pembukaannya bersama mereka.  Kami juga sedang merancang untuk membuat sebuah jurnal dan sudah mulai mendaftar tulisan untuk edisi pertama. Selain itu, kami memiliki program internship selama satu bulan dan pada dua minggu terakhir peserta internship akan menciptakan performance art bersama-sama, dan semua temanya berdasar pada teks-teks kuno yang dipelajari bersama Pak Manu. Program internship ini pernah kami terapkan pada mahasiswa-mahasiswa Seoul Institute of Arts.

  • Apa saja tema-tema yang menjadi pokok bahasan di dalam program ini? Apakah ada sesi khusus membahas seni rupa?

Tema-tema pokok yang dibahas adalah seputar proses kreatif dan segala sesuatu yang kami lakukan berkaitan dengan kesenian.

  • Bicara soal kesenian, tidak akan lepas dari kekaryaan; mencipta karya. Lalu, bagaimana kajian sastra Jawa memandang ‘penciptaan’ (khususnya berkaitan dengan karya seni)?

Wah itu cerita yang sangat panjang!!! Ayo ikut belajar!!!! Nanti kami akan kirim journal edisi I jika sudah dicetak. Ternyata leluhur kami mengupas ini secara rinci sekali. Saat ini kami sedang eksplorasi cara untuk menerapkannya bersama teknologi dan bentuk kesenian kontemporer. Sangat seru tantangannya!!

Wawancara dengan salah satu peserta Kelas Sastra Jawa.

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Jurnal Lembar MDTL

Posisi Identitas Seni Rupa Kita” merupakan judul dari jurnal Lembar edisi perdana yang diterbitkan oleh Museum dan Tanah Liat. Di saat nasib penerbitan majalah seni rupa seperti menunjukkan kesulitan bertahan hidup, jurnal Lembar hadir, di tengah keterbatasannya. Memang bukan jurnal yang tebal, akan tetapi kehadirannya perlu dilihat sebagai upaya yang juga mengingatkan kita, bahwa penulisan dan pendefinisian praktik seni rupa kita merupakan agenda yang politis karena perannya dalam memproduksi discourse. Selain hal itu juga turut mewarnai dinamika praktik kekaryaan seniman.

Pewawancara: Lisistrata Lusandiana dan Esha Jain.

Wawancara ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Katalis Art Forum

Membicarakan Ali Umar sebagai seniman patung tidaklah lengkap tanpa melihat kiprahnya di bidang sosial organisasi. Pintu rumah Ali Umar dan keluarga selalu terbuka pada siapa saja, yang datang untuk sekadar mampir dan ngobrol.

Dalam salah satu kunjungan santai yang kami lakukan beberapa waktu lalu, Pak Umar salah satunya menceritakan seputar Katalis Art Forum, sebuah platform pertukaran yang menjadi ruang berbagai seniman, tidak hanya seni rupa, untuk saling berjejaring dan memperluas kemungkinan kolaborasi.  

Pewawancara: Lisistrata Lusandiana, Dwi Rahmanto, dan Esha Jain

Wawancara ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Ivan Sagita dan Surealisme Etnografis

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

….. “surealisme etnografis” adalah gagasan utopis, sebuah pernyataan tentang kemungkinan masa lalu dan sekaligus kemungkinan masa depan untuk analisis budaya.

(James Clifford dalam On Ethnographic Surrealism, 1981: 540)

Ketika saya membaca arsip IVAA mengenai Ivan Sagita, entah itu dari liputan media massa, catatan kuratorial, dan buku, surealisme menjadi atribut yang paling banyak dilekatkan pada seniman asal Lawang, Jawa Timur ini. Dwi Marianto (2001) dalam “Surealisme Yogyakarta”, Sanento Yuliman (2001) dalam “Surealisme Yogya” di “Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman”, dan M. Agus Burhan (2015) dalam penelitiannya mengenai lukisan “Makasih Kollwitz” meletakkan sosok Ivan Sagita sebagai bagian dari seniman surealis Yogyakarta era 1980-an bersama Agus Kamal, Effendi, Lucia Hartini, Totok Buchori, dan Kubu Surawan. Untuk era ini, secara spesifik, Sanento Yuliman menyebutkan bahwa ‘surealisme Yogya’ telah menjadi arus yang nyata.

Selain surealisme, atribut lain yang kerap muncul adalah asosiasi karya Ivan Sagita dengan idiom-idiom kefanaan, kematian, dan hal-hal liris lainnya. Tony Godfrey, melalui tulisan kuratorialnya untuk pameran “they lay their heads on a soft place” di Equator Art Project pada 2014 di Singapura, berpendapat bahwa Ivan sering mengangkat tema kematian, karena baginya hidup dan mati adalah dua sisi yang selalu berhubungan. Memang, idiom-idiom tersebut begitu nampak ketika kita melihat karya-karyanya, seperti Women and Mask, Kefanaan, Makasih Kollwitz, Letakkan Kepala di Tubuh, dll, yang kerap memakai ikon wayang, wanita, dan nenek-nenek. Meski terkesan sangat personal dan seolah hanya bermain di ruang imajinasi, seperti yang Jumaldi Alfi katakan, karya Ivan memberi penekanan berbeda dari surealisme (barat); bukan hanya seni yang surealis, tetapi juga situasi lokalnya.

Kedekatan antara pribadi Ivan dengan situasi lokal (atau barangkali saya sebut basis empiris) sudah muncul sejak ia memulai meniti karir sebagai seniman di Lawang. Sebuah catatan penting ada pada wawancaranya dengan Naima Morelli di cobosocial pada 2016. Dalam wawancara itu Ivan mengatakan bahwa ia bertemu dengan Bambang Soegeng, seorang pelukis yang pindah ke Lawang karena gejolak politik ’65 di Bali. Ada satu nilai penting yang Ivan peroleh dari pelukis yang cukup dekat dengan Affandi ini (ada dalam catatan Oei Hong Djien, 2012, di “Seni dan Mengoleksi Seni: Kumpulan Tulisan”), yakni seniman harus dekat dengan orang-orang dan masyarakat; seni seharusnya tidak hanya tentang estetika. Dalam wawancara tim IVAA (saya, Yoga dan Zaki) dengan Ivan Sagita pada 16 April 2019, ia mengatakan,

“Kami tinggal di Kota Lawang. Beliau tinggal sebagai seorang seniman dari Bali. Saya saat itu masih SMP. … Kemudian saya dekat dan cukup banyak belajar masalah kesenimanan, tidak di dalam masalah aliran tetapi melihat pola hidup. … Bahwa jalan satu-satunya adalah kesenimanan. … Suara seniman masih bisa dipakai dengan efektif.”

Kedekatan antara dirinya dengan situasi sekitar semakin kental ketika ia pindah ke Yogyakarta. Pada waktu ia mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta, 1980-an, ia gemar membaca novel-novel bernada eksistensialis, seperti “Khotbah di Atas Bukit” karangan Kuntowijoyo, serta novel-novel karangan Iwan Simatupang dan Sartre. Di samping itu, ia tinggal di sekitaran Gondolayu yang dekat dengan kehidupan masyarakat kolong jembatan. Hal ini membuat Ivan merasakan suatu kesadaran baru, kesadaran atas dunia ‘atas dan bawah’; bahwa ada situasi yang kering dan merah yang ingin diungkapkan. Sementara itu, gaya kesenian yang diterapkan di ISI Yogyakarta pada waktu itu adalah abstrak; form sebagai form tanpa menginterpretasikan hal lain. Barangkali, kecenderungan ke surealisme adalah hasil dari negosiasi Ivan dengan hasrat mengungkapkan keadaan sekitar.

Pulung Gantung dan Surealisme Etnografis: Sebuah Riset Artistik

Selama 5-6 tahun terakhir Ivan Sagita menggeluti sebuah fenomena ‘pulung gantung’ sebagai bagian dari kekaryaannya. ‘Pulung gantung’ merupakan sebuah mitos masyarakat Gunungkidul yang erat kaitannya dengan fenomena bunuh diri. Belum ada yang tahu pasti kebenaran apa yang mendasari fenomena tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ini terkait dengan mitos, faktor sosial-ekonomi, bahkan depresi. Alih-alih mengungkapkan kebenaran objektif, Ivan justru ingin mengungkapkan kerumitan realitas ini secara artistik.

Layaknya narasi-narasi di seputar surealisme, Ivan tertarik dengan alam bawah sadar. Namun, dalam konteks ini ia tidak sedang mengelaborasi alam bawah sadar psikologis yang personal, tetapi sosial.

“Surealisme di dalam konteks yang bawah sadar …. Saat itu saya mencari-cari di mana sebetulnya yang disebut dengan bawah sadar. Bawah sadar yang faktual betul. Kita tidak mengatakan di dalam sebuah gagasan secara person, yang tentunya ada di dalam psikologi. Dalam secara etnografi, bawah sadar yang sosial itu bagaimana? Karena itu juga menjadi salah satu basic, basic yang disebut sebagai suatu genre kesenian.” (wawancara pada 16 April 2019)

Ivan mempersoalkan serangkaian asumsi yang dilontarkan oleh publik terhadap fenomena ‘pulung gantung’. Bagi dia tidak cukup jika fenomena ini disebut sebagai mitos, karena ada fakta yang memang benar-benar terjadi. Untuk asumsi-asumsi lain, ia berpendapat demikian:

“Fatalisme? Gak bisa juga. Kita ini bukan suatu masyarakat yang terbentuk di dalam pola yang fatalisme. Di dalam pola komunikasi secara tradisional seperti itu masalah adaptasi sangat kuat. Masalah harmoni juga kuat.  Terus nihilisme? Ah, gak juga, karena landasan religiusitas sangat tinggi. Faktor ekonomi sosial? Gak juga, apalagi itu. Banyak akademisi yang mengatakan alasan sosial ekonomi, sehingga sebuah sikap untuk mengakhiri hidupnya di masa muda.”

Pameran tunggalnya dengan tajuk “they lay their heads on a soft place” di Equator Art Project pada 2014 di Singapura menjadi satu titik penanda proses elaborasi ini. Bolehlah saya mengatakan bahwa apa yang sedang dikerjakan oleh Ivan adalah sebuah proses riset artistik. Argumen saya: apa yang dilakukan oleh Ivan saya maknai sebagai sebuah upaya mengeksplisitkan kerumitan fenomena dengan melibatkan cara kerja disiplin ilmu lain, yakni etnografi.  

Saya tidak mengatakan bahwa riset yang dilakukan oleh Ivan adalah sebuah riset ilmiah yang memperhitungkan objektivitas dan validitas. Justru, poin yang ingin saya tekankan adalah adanya upaya untuk menghadirkan kemungkinan pendekatan lain untuk mengungkap suatu fenomena; sebentuk upaya yang berusaha keluar dari pagar besi rationale.

Surealisme dan etnografi sepertinya menjadi kesatuan penting yang hadir di sini. Seorang Ivan yang selalu diidentifikasi sebagai pelukis surealis, dan praktik riset artistiknya mengenai ‘pulung gantung’ dengan pendekatan etnografis. Dalam melakukan riset artistiknya tentang ‘pulung gantung’, ia telah menghabiskan waktu 5-6 tahun. Ia mengatakan bahwa pernah 2-3 kali dalam seminggu pergi ke lokasi untuk melayat. Ketika ada kasus penculikan anak di Gunungkidul, ia sempat dituduh sebagai penculik. Barangkali, sebutan ‘surealisme etnografis’ bisa mewakili metode yang Ivan lakukan.

Surealisme etnografis sebenarnya bukan barang baru. Secara khusus, gagasan mengenai ini sudah ditulis oleh James Clifford (1981) melalui tulisannya yang berjudul On Ethnographic Surrealism. Ia menjelaskan bahwa surealisme etnografis sebagai gagasan dan praktik muncul pada 1920-1930an di Perancis. Awalnya, ia hadir sebagai respon atas hasrat untuk menyelidiki ‘yang lain (other)’ di luar hirarki pemikiran rasional. Koleksi artefak yang berkembang dari Afrika dan Oseania di Museum Trocadéro mewakili awal yang sederhana dari penyelidikan yang lebih menyeluruh terhadap budaya lain, melalui Misi Dakar-Djibouti (ekspedisi etnografi terkenal yang dilakukan di Afrika, di bawah arahan Marcel Griaule, dari 1931 hingga 1933).

Clifford meneruskan bahwa surealisme, dalam praktek etnografi, berfungsi untuk memprovokasi manifestasi realitas ‘yang lain’ yang diambil dari domain erotis, eksotis, dan ketidaksadaran. Pernyataan ini diamini sekaligus ditekankan oleh DeBouzek (1989) dalam The “ethnographic surrealism” of Jean Rouch, bahwa manifestasi ‘para-artistik’ dari era ekspedisi etnografis, dalam meruntuhkan sistem hirarki pemikiran rasional melalui penyajian estetika yang berbeda, dengan mudah digolongkan di bawah mentalitas surealisme.

Poin penting yang saya tangkap dari gagasan ‘surealisme etnografis’ adalah bahwa ada realitas ‘lain (other/ surreality)’ yang tidak bisa disentuh oleh rationale. Etnografi dengan menempatkan surealisme dalam posisi yang istimewa memberikan sumbangan alternatif untuk memahami partisipan dan realitas ‘lain’ dalam kehidupan kolektifnya. Bagi saya, poin ini sesuai dengan spirit dan praktik yang sedang digeluti oleh Ivan terhadap fenomena ‘pulung gantung’.

Lantas, bagaimana teknik yang dilakukan oleh Ivan? Secara detail dan spesifik, bahasa tubuh menjadi pintu masuk bagi Ivan untuk memaknai ‘pulung gantung’. Ia menjelaskan demikian:

“Bahasa tubuh yang saya baca dari sekelompok masyarakat itu. Tipikal bahasa tubuh yang bagaimana yang akan membedakan? Adakah tipikal bahasa tubuh tertentu yang membuat sebuah sikap yang berbeda? Atau sikap yang berbeda terwujud dalam bahasa tubuh? Di Gunungkidul itu bahasa tubuh yang banyak dilakukan entah itu secara otomatis itu ya semacam begini, sehingga di karya saya ada gambar kepala, dan lain-lain.” (wawancara pada 16 April 2019)

Pendekatan surealisme etnografis tidak hadir tanpa kritik. Hal Foster (1996) melalui tulisannya yang berjudul The Artist as Ethnographer menyebutkan implikasi lain dari pendekatan ini. Bahaya self-fashioning yang berkaitan dengan fantasi primitifisme dapat muncul ketika peneliti atau seniman cenderung merasa ahli atas suatu kebudayaan tertentu; ketika kebudayaan hanya dibaca sebagai otentisitas pribumi (asli). Lebih ironis, ketika praktik surealisme etnografis masuk ke dalam mekanisme institusional, kebudayaan ‘yang lain (other/ surreality)’ akan dipandang sebagai sesuatu yang inovatif secara politis. Yang terakhir ini akan lebih nampak ketika praktik surealisme etnografis pada titik tertentu bekerja dalam sistem pasar.

Fantasi primitifisme mungkin membayangi praktik yang Ivan lakukan. Ia sempat mengatakan, “Saya ingin yang purba, untuk mengetahui clue-clue ini”. Meski demikian, saya juga melihat suatu refleksi lain yang muncul, yakni kesadaran atas batas antara Ivan dan masyarakat yang sedang ia pahami. Ia menjelaskan, “Meskipun kita sudah masuk di dalam, tetap ada layer yang mengatakan, ah, kamu orang luar, kamu orang berbeda. …. Paling-paling kita melihat selubang kecil saja dari permasalahan yang di dalam”. Mungkin saja, kesadaran atas batas ini adalah bentuk kesadaran estetis -persepsi atas ‘yang lain’- yang mampu menjadi alarm dalam praktik riset artistik, terutama yang berhubungan dengan suatu kelompok masyarakat.

Apa yang dilakukan Ivan adalah satu contoh dari praktek riset artistik yang mungkin memiliki ragam bentuk lain. Alih-alih berjalan dalam koridor ilmiah, riset artistik justru menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya di luar hirarki rasionalitas. Seperti halnya surealisme etnografis, sejauh-jauhnya menyentuh kemungkinan masa lalu dan masa depan untuk sebuah analisis budaya, ia adalah pernyataan utopis.

Sumber bacaan:

Clifford, James. 1981. On Ethnographic Surrealism. James Clifford. Comparative Studies in Society and History, 23(4): 539-564

DeBouzek, Jeanette. 1989. The “ethnographic surrealism” of Jean Rouch. Visual Anthropology, 2(3-4): 301-315

Foster, Hal. 1996. The Artist as Ethnographer. The Return of the Real. Cambridge: The MIT Press.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Sorotan Pustaka | Maret-April 2019

Di dalam edisi ini, ada tiga buku yang kami ulas sebagai bagian subrubrik Sorotan Pustaka. Pertama adalah “Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta” karya Ibed Surgana Yuga yang bicara soal ragam warna dan suara dalam kerja seni peran. Kedua adalah “Seni Kejadian Berdampak” karya Bramantyo Prijosusilo, yang membicarakan kerja seni (khususnya seni daerah) berdampak. Perhatian kepada ke-daerah-an juga nampak dari buku ketiga, yakni “Gunungwingko: Situs Penanda Kehidupan Pesisir Selatan Sejak Awal Masehi Hingga Abad XVII”. Sebuah buku hasil dari disertasi Goenadi Nitihaminoto ini memaparkan kajian tentang masyarakat Gunungwingko yang tidak lepas dari kesenian.