Tag Archives: #buletinivaa_juni2018

BULETIN IVAA DWI BULANAN | MEI-JUNI 2018

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Mei-Juni 2018

Salam hangat bagi pembaca sekalian. Ketika memasuki bulan Mei, kita menjumpai berbagai acara yang menggunakan reformasi sebagai tajuk utama, mulai dari pameran seni, diskusi hingga pameran arsip. Percakapan-percakapan yang mengetengahkan pembahasan dan pembahasaan reformasi di berbagai ranah mengemuka. Sebagian percakapannya di lingkungan seni, bisa kita ikuti dari dokumentasi yang dikerjakan oleh tim arsip dan dokumentasi IVAA di buletin ini.

Selain itu rubrik baca arsip sengaja kami selaraskan dengan tim arsip dan dokumentasi yang sedang mencari arah dan fokus dalam kerja-kerja pendokumentasian. Untuk memulainya, tim arsip menggunakan beberapa kunci yang dekat dengan pembahasan soal nusantara, identitas keindonesiaan, sambil melihat kecenderungan praktik yang menggunakan klaim-klaim tersebut. Meski, beberapa penggunaan istilah tersebut hanyalah sementara, untuk memulai eksplorasi berjalan, sambil menautkannya dengan kejadian yang diamati di lapangan.

Selebihnya, beberapa tulisan yang sudah dihimpun oleh tim redaksi IVAA yang terdiri dari staf dan kawan magang, bisa dinikmati di berbagai rubrik yang mengabarkan koleksi arsip yang bisa diakses, koleksi baru perpustakaan serta ulasan-ulasan atas peristiwa, acara maupun diskusi.

Akhir kata, kami ucapkan selamat membaca.

Lisistrata Lusandiana

Pemimpin Redaksi


I. Pengantar Redaksi
Oleh: Lisistrata Lusandiana

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Willy Alfarius, M. Hanif Arikhoh, Elis Sriwahyuni, dan Rossella

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa, Didit Fadilah, dan Diatami Muftiarini

Sorotan Arsip

Oleh: Hardiwan Prayoga

III. Agenda RumahIVAA
Oleh: Dwi Rahmanto, Elis Sriwahyuni, Andya Sabila, Didit Fadilah, dan Putri R.A.E. Harbie

IV. Baca Arsip
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2018

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi ⚫ Penyunting: Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayogo ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Krisnawan Wisnu Adi, Santosa, Hardiwan Prayogo ⚫ Kontributor: Andya Sabila, M.S Fitriansyah, Diatami Muftiarini, Didit Fadilah, Putri R.A.E. Harbie, Willy Alfarius, M. Hanif Arikhoh, Elis Sriwahyuni, dan Rossella ⚫ Tata Letak & Distribusi: Dwi Rahmanto, dan Lisistrata Lusandiana

#Sorotandokumentasi Mei-Juni 2018

Oleh: Dwi Rahmanto

Dalam ramainya agenda seni di Yogyakarta, bersamaan dengan acara tahunan ArtJog, Tim arsip Hardiwan Prayoga dan Kawan Magang M. Hanif Arikhoh berkesempatan berkunjung ke Bandung dan Jakarta pada 7-10 Mei 2018. Di sana kami mengikuti satu acara bertajuk 3 1/2 Tahun Bekerja, dengan mata acara simposium dan pameran arsip yang menggaris bawahi seni dan propaganda Jepang pada 1942-1945. Kurasi dikerjakan oleh Antariksa, dan berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.  Selagi di Ibukota, kami sekaligus menyambangi Pameran Manifesto 6.0 Multipolar di Galeri Nasional, dan Pameran Arsip Namaku Pram: Catatan dan Arsip di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta.

Sementara itu di Yogyakarta riuh pameran juga kami rasakan, beruntung banyak kawan-kawan magang yang aktif terlibat dalam praktik-praktik pengarsipan, terutama dalam tahap perekaman. Kawan-kawan ini berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), juga Universitas PGRI Yogyakarta (UPY). Tercatat hingga 30 Mei 2018 kami mendokumentasikan 41 acara seni sejak mulai 28 April 2018.

Dalam rentang waktu ini, kami juga menjadi saksi banyaknya kemunculan pameran-pameran bertema kriya, pameran berbasis arsip terutama dalam merespon momentum 20 tahun reformasi, Aksi Tari Warga Berdaya dengan judul Bedhaya Banyu Neng Segara, Festival Sketsa Imajiner Malioboro, hingga Festival Kathok Abang di Gunungkidul Yogyakarta.

Selain mendokumentasikan, Tim Arsip juga mendapat hibah koleksi poster Film dan Iklan tahun 1920-1995 dalam bentuk digital dari Christoper Woodrich. Koleksinya terdiri dari poster Iklan, sampul buku, selebaran film, dengan jumlah sekitar 1800 file digital. Informasi lebih detail mengenai arsip hibah ini akan ada dalam rubrik sorotan arsip.

Di samping mengerjakan dokumentasi, kami masih secara rutin melakukan proses olah data yang konsisten. Mulai dari tahap olah data; penyuntingan foto, video, dan menambah meta data, hingga pengayaan khazanah, soal wacana dan pembicaraan yang berkembang dari berbagai peristiwa yang muncul dalam medan seni budaya. Proses olah data dan pengayaan khazanah ini merupakan satu ciri yang menunjukkan model pengarsipan IVAA yang cenderung mengedepankan nilai informatif.

Pada kesempatan ini kami Tim Arsip ingin sekaligus mengumumkan kembali bahwa IVAA mengundang siapa saja untuk bersama berkontribusi dalam kerja pengarsipan. Kami membuka pintu seluasnya bagi kawan-kawan yang ingin mendonasikan dokumen, khususnya peristiwa seni/ agenda seni. Tidak dapat dipungkiri bahwa kami selalu bersahabat dengan keterbatasan ketika melihat cakupan wilayah kerja IVAA, yang berambisi melakukan pencatatan atas wacana dan dinamika seni yang sedang berlangsung di berbagai sudut penjuru Indonesia. Untuk itu, mari selalu terhubung dengan kami melalui email archive@ivaa-online.org atau documentation@ivaa-online.org dengan kontak Hardiwan Prayoga dan Dwi Rahmanto. Untuk link bagaimana cara berkontribusi silahkan cek tautan ini : https://docs.google.com/forms/d/1qO1DgYdt1n_SW49N4iU7hdHA5tLfM1g5qIEMiwtBifY/edit?ts=5ad444f5

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi

Oleh Hardiwan Prayoga

Tim arsip IVAA yang diwakili oleh Hardiwan Prayoga dan M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA) berkesempatan untuk mengunjungi beberapa pameran di Jakarta pada 7-10 Mei 2018 lalu. Salah satunya adalah pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional, yaitu Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi. Manifesto adalah pameran dwi tahunan yang dimulai sejak tahun 2008. Untuk gelaran keenam ini, yang bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi, pameran ini menghadirkan tajuk “Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi”. Menghadirkan tidak kurang dari 60 seniman, karya-karya yang dipamerkan adalah yang dianggap mewakili perkembangan dan penanda zaman atas 20 tahun reformasi. Maka kesan pertama yang akan muncul adalah keragaman atas tema, narasi, hingga pilihan medium karya. Inilah yang sedikit banyak menjadi latar belakang atas dipilihnya Multipolar sebagai judul pameran Manifesto edisi ini.

Pameran yang menggunakan 4 gedung Galeri Nasional mempresentasikan tidak hanya karya seni, tetapi juga Lini Masa Peristiwa Seni Rupa 1990-2017, lebih tepatnya terletak di pintu masuk Gedung A. Menandai tidak hanya peristiwa seni seperti semaraknya gerakan dan kelompok seni kolektif dan pameran seniman indonesia di luar negeri, tetapi juga terbukanya akses teknologi yang melahirkan google hingga youtube, dan fenomena budaya pop seperti lahirnya MTV (Music Television) hingga kematian Michael Jackson.

Dalam hal karya seni, meski bertema seni rupa setelah 20 tahun reformasi, karya terlama yang dipamerkan berasal dari tahun 2012, yaitu The Procces #1, merupakan seni instalasi karya I Wayan Upadana. Selebihnya didominasi karya yang lahir tahun 2016-2018. Secara tema dari setiap karya, akan sangat sulit untuk ditarik satu kesimpulan. Hal ini disebabkan beragamnya isu yang diangkat dalam setiap karya, mulai dari populisme agama karya Jauh Di Hati Dekat Di Mata dari Rudy Atjeh D., kritik terhadap kapitalisme dan indutrialisasi yang terlihat dalam Hore karya Farid Stevy Asta, im obsessed with these culture but i hate it karya Muklay, dan Ketagihan Dikibulin Bandar karya Syaiful Ardianto, yang sangat personal yaitu seni instalasi interaktif karya Putri Ayu Lestari tentang pengalaman menjadi joki three in one yang berjudul Joki-Jokian, dan Photo Shoppu Scrinium karya Nurrachmat Widyasena, hingga lukisan abstrak Menjaga Sunyi yang Perlahan Liar karya Iabadiou Piko. Sebaran tema ini pada dasarnya cukup menarik bagi pengunjung, meski harus diakui pada akhirnya publik akan kesulitan mencari narasi utama dari seni rupa pasca orde baru ini selain kata keragaman atau yang oleh pameran ini dibahasakan sebagai Multipolar. Terlebih karya yang ditampilkan juga hanya dalam rentang waktu 2012-2018.

Merujuk pada catatan kuratorial, seniman yang dipilih dalam pameran ini adalah mereka yang proses karir berkeseniannya dimulai pasca 1998, dan yang dianggap cukup mewakili semangat zaman. Pasca reformasi, selalu ada pertanyaan reflektif seputar kesadaran dan laku seni apa saja yang tengah berlangsung dari generasi yang lahir pada tahun 80-an ke tahun sesudahnya? Pameran ini nampaknya lahir dari gagasan kurasi untuk menghadirkan arkeologi karya-karya seniman pasca 98. Menarik untuk ditandai adalah terjadi berbagai pemikiran dan praktik yang beragam, terutama karena pengaruh dan dinamika sosial budaya melalui lingkungan media dan teknologi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi

Oleh: Willy Alfarius (Kawan Magang IVAA)

Jumat sore 18 Mei 2018, bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi hari dibukanya Pameran Arsip 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi. Merupakan pameran arsip berisi kliping dan foto-foto peristiwa unjuk rasa menuntut Reformasi dan mundurnya Soeharto yang terjadi di UGM. Dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. R. Suharyadi, M.Sc dengan sedikit seremoni di halaman Gedung PKKH. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan pagelaran musik yang menghadirkan John Tobing, Sande Monink, Sastra Budaya, Orkes Melayu Dangdut Pembangunan, dan Forum Musik Fisipol.

Acara yang berlangsung selama 18-20 Mei 2018 ini tidak hanya menampilkan foto-foto yang menggambarkan mahasiswa turun ke jalan, tetapi menunjukkan kalangan akademisi hingga Rektor UGM menyatakan sikap mendukung segera dilaksanakannya Reformasi. Hampir semua aksi yang berlangsung di seputaran UGM diakhiri bentrokan dengan aparat keamanan. Berbagai aksi berlangsung di Yogyakarta pada minggu-minggu menjelang Mei 1998. Hingga puncaknya pada acara Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara, sehari menjelang Reformasi bergulir yang dihadiri langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagian besar foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini berasal dari koleksi Arsip UGM. Sedangkan kliping berita yang dipamerkan hampir semua berasal dari majalah mahasiswa Balairung, serta beberapa surat kabar lokal.

Lengsernya Suharto dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 21 Mei 1998 menjadi babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Gelombang reformasi menjadi penanda dimulainya penataan kembali berbagai struktur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan berbagai elemen mendasar lainnya. Tahun 2018 ini menjadi momentum 20 tahun Reformasi yang kemudian dirayakan dengan bermacam-macam acara yang digelar oleh berbagai pihak di Indonesia. Tidak terkecuali Forum Komunikasi (Forkom) Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga mengadakan kegiatan peringatan dua dekade Reformasi dengan judul 98/18: Peringatan 20 Tahun Reformasi.

Forkom sendiri adalah sebuah perkumpulan dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa di UGM yang bermarkas di Gelanggang Mahasiswa. Ide acara peringatan ini muncul dengan dilandasi gagasan bahwa dua dekade lalu, reformasi lahir salah satunya dari pergerakan mahasiswa di kampus. Gelanggang Mahasiswa menjadi salah satu titik kumpul bagi pergerakan mahasiswa di Yogyakarta untuk merumuskan aksi, strategi, hingga benteng pertahanan ketika aksi unjuk rasa dilangsungkan di berbagai titik seperti Boulevard, Bunderan, dan Gedung Pusat UGM. Dalam rilis pers yang dikeluarkan panitia, disebutkan bahwa acara ini bertujuan untuk membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa dalam mengawal pemerintahan sekarang. Acara ini sekaligus sebagai penegasan bahwa unit kegiatan mahasiswa juga memiliki andil dalam berbagai pergerakan mahasiswa.

Selain pameran arsip, juga digelar acara bincang-bincang yang menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan akademisi yang mengalami langsung peristiwa bersejarah tersebut. Para hari kedua acara, bincang-bincang dengan tema “Mengenang 1998” dimulai pada pukul 20.00 dengan menghadirkan Ika Dewi Ana (mantan aktivis mahasiswa ’98), Peter Kasenda (sejarawan), dan Muhammad Nurkhoiron (alumnus UGM dan anggota Komnas HAM). Ketiga pembicara menghadirkan kisah berupa kesaksian mereka yang mengalami secara langsung berbagai aksi dan peristiwa dalam proses Reformasi 1998. Sedangkan pada hari ketiga sekaligus penutupan acara menghadirkan Agus Suwignyo (Dosen Sejarah UGM), Max Lane (peneliti di Fisipol UGM), dan Agus Wahyudi (Dosen Filsafat UGM). Tema dari talkshow ini adalah “Indonesia Setelah 20 Tahun Reformasi”. Ketiganya memberikan ulasan dan pandangannya bagaimana kemudian Reformasi ini berjalan, dan berbagai perubahan maupun stagnasi yang terjadi pasca-Orde Baru.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945

Oleh: Hardiwan Prayoga

Masih dalam rangkaian perjalanan di Jakarta, kali ini Tim Arsip IVAA mengikuti seluruh rangkaian acara 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 yang bertempat di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Benang merah yang diangkat dari acara ini adalah pengaruh yang ditinggalkan Jepang pada pasa pendudukannya selama 3,5 tahun di Indonesia. Acara yang berlangsung dari 7-10 Mei 2018 ini pada dasarnya berbasis arsip, yang lebih lanjut dijadikan sandaran untuk eksplorasi seni. Dari situ, hasil eksplorasi dimunculkan dalam bentuk presentasi hasil riset, lini masa pendudukan Jepang dari segi sosial politik dan seni-budaya, seni pertunjukan, pemutaran film dan simposium.

Kita dapat langsung melihat poster-poster propaganda, lukisan-lukisan seniman Jepang pada masa itu, ruang gelap yang berisi profil-profil seniman Indonesia di masa itu, hingga video. Koleksi ini diambil dari keluarga Saseo Ono, salah satu seniman Jepang, dan dari

The NIOD (Institute for War, Holocaust and Genocide Studies is an organisation in the Netherlands). Sedangkan lini masa dicetak dalam kursi-kursi yang tersebar di sekitar lokasi pameran. Pameran riset ini berjalan penuh dari pembukaan acara tanggal 7 Mei hingga penutupan tanggal 10 Mei.

Sementara itu, pertunjukan berlangsung pada tanggal 9 Mei 2018. Dengan mengangkat cerita berjudul Ayahkoe Poelang. Kemudian ditanggal 10 Mei sebelum penutupan dipentaskan juga dramatic reading. Pentas teater ini masih dielaborasi dalam upaya menampilkan arsip yang lebih performatif tanpa kehilangan konteksnya. Selain itu juga diadakan screening film, pada tanggal 9-10 Mei. Dengan mengambil jeda waktu antara simposium dan pertunjukan teater, yaitu dari pukul 18.00-19.00. Film yang di-screening adalah film-film yang diproduksi Jepang sebagai salah satu media propaganda. Maka film-film ini tidak jauh dari kisah seputar cara membuat dan menggunakan bambu runcing, keuntungan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), hingga janji dan citra bahwa Jepang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa Eropa.

Kemudian satu sub acara yang cukup menjadi perhatian dari Tim Arsip IVAA adalah simposium. Simposium diadakan sebanyak 3 kali, pada tanggal 8-10 Mei. Simposium hari pertama yang dimoderatori oleh JJ Rizal mempresentasikan 3 riset berjudul “Riset dan Pengembangan Bekraf” oleh Wawan Rusiawan, “Media Massa Pada Masa Pendudukan Jepang Kasus Djawa Baroe” oleh Ignatius Haryanto, dan Surat Menyurat Pada Masa Perang: Kasus Survival Komunitas Gerejani Pada Masa Jepang” Oleh G. Budi Subanar, SJ. Dilanjutkan pada simposium II dihari berikutnya, oleh Antariksa dan Fandy Hutari yang masing-masing mempresentasikan penelitiannya dengan judul “Kemakmuran Bersama: Seni Rupa dan Desain Pada Masa Pendudukan Jepang”, dan “Sandiwara Pada Masa Pendudukan Jepang”, dengan moderator Ugeng T. Moetidjo. Simposium III sekaligus salah satu penutup rangkaian acara ini berjudul “Arsip dan Praktik Seni di Luar Tubuh Sejarah” oleh Antariksa, Fandy Hutari, Dendi Madya, Haryo Hutomo, dan Riosadja. Simposium III lebih mengarah pada wicara penyelenggara, yang banyak bicara seputar proses kreatif hingga akhirnya terlaksana acara ini. Mulai dari ide dari komite teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membuat suatu program pameran, hingga kemudian mengajak Antariksa untuk menjadi kurator sekaligus ruang untuk memamerkan dan mendiskusikan hasil risetnya. Dari sekian banyak ide yang terlontar, akhirnya diputuskan bahwa acara berbasis arsip ini direspon dengan berbagai bentuk seni kontemporer, sebagai upaya mengkontekstualisasi arsip-arsip masa lalu dengan praksis masa kini tanpa menghilangkan esensi dan nilai peristiwanya.

Dari tiga kali simposium, IVAA cukup menyoroti simposium II yang lebih fokus pada praktik seni pada masa pendudukan Jepang. Antariksa mempresentasikan bagaimana masa singkat pendudukan Jepang berpengaruh pada perkembangan seni rupa indonesia. Antariksa mengawali presentasi dengan kedatangan Jepang ke Indonesia yang disambut gembira dikarenakan keyakinan bahwa Jepang akan memerdekakan Indonesia. Keputusan yang juga didukung elit politik ini berimbas pada seniman yang akhirnya bekerja pada lembaga-lembaga propaganda Jepang. Jepang adalah negara yang sangat sadar pada kekuatan seni sebagai media propaganda. Berbeda dengan barat, Jepang menggunakan propaganda dengan prinsip kejujuran, hanya saja kejujuran yang sudah melalui skema filtering.

Jepang yang ketika itu diembargo oleh Amerika dan sekutunya, membuat poros segitiga dengan Nazi dan Italia. Kondisi yang kemudian sangat mempengaruhi ketersediaan material dan bahan baku seni rupa yang menjadi terbatas. Pada masa perang ini, Jepang mengirim senimannya ke negara jajahan hingga lokasi-lokasi konflik. Seniman-seniman inilah yang banyak melukiskan kondisi perang sebagai salah satu narasi propaganda. Seniman-seniman Jepang ini tinggal di berbagai daerah di Indonesia, seperti Saburo Miyamoto yang pernah pameran tunggal di Manado tahun 1943, Suro Tagoro seorang pengajar seni dari Tokyo yang pernah tinggal di Bukittinggi. Kehadiran seniman ke daerah-daerah ini menciptakan desentralisasi seni dengan tidak hanya di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, tetapi menyebar hingga ke Jember, Dili, Manado, Bukittingi dan lain-lain. Selain itu, mereka yang didatangkan ke Indonesia adalah Takashi Kono, Rintaro Takeda, Seizen Minami, Saseo Ono, Soichi Oya, Eitaro Hinatsu, dan Ryohei Koso. Takashi Kono adalah seniman yang bekerja di agensi propaganda Jepang, memperkenalkan teknik-teknik grafis, montase, hingga stopmotion pada seniman Indonesia. Banyak bekerja sama dengan Soichi Oya sebagai copywriternya. Kemudian Yonosuke Natori, yang disebut sebagai bapak foto jurnalisitik Jepang, menerbitkan majalah Nippon, majalah seni visual pertama di Asia dan didistribusikan dalam 5 bahasa ke seluruh dunia. Nippon versi Indonesia berjudul Djawa Baroe. Selain mendatangkan seniman, Jepang juga membentuk lembaga-lembaga seperti Keimin Bunka Shidoso, secara singkat dapat diartikan sebagai institusi pemandu seni dan budaya.

Berbeda dari Belanda, Jepang membuat seni menjadi populis, mulai dari akses ruang pamer, hingga edukasi gratis. Ini mengakibatkan meledaknya perkembangan estetika dengan gagasan seni rupa barat. Kenapa barat? Karena Jepang ingin menunjukkan bahwa mereka menguasai teknik barat lebih baik dari barat itu sendiri. Dengan kata lain mengakuisisi keahlian barat yang kemudian digunakan ulang untuk kepentingan bangsa, artinya Jepang dan Indonesia saling diuntungkan. Jepang membebaskan seniman Indonesia menggunakan gaya estetik apapun asal tidak mengkritik Jepang. Pengaruh Jepang pada seni rupa memberikan narasi baru, bahwa kepentingan Jepang di Indonesia tidak hanya soal militer dan perang. Seni yang berhasil dibuat populis ini menyadarkan publik saat itu akan pekerjaan yang tidak melulu kerja kasar/ buruh tetapi juga bisa menjadi seniman. Periode ini sekaligus mengenalkan bahwa seni mulai digunakan sebagai pernyataan politik.

*Dokumentasi pameran ini dapat diakses di Archive Online IVAA, dan buku program 3 ½ Tahun Bekerja; Kuratorial, Arsip Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang 1942-1945 dapat diakses di perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Mengenal Catatan dan Arsip dalam Pameran Namaku Pram

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Pameran catatan dan arsip yang bertajuk Namaku Pram mengingatkan kita akan pentingnya arsip, catatan, dan menulis. Suasana galeri dengan iringan musik instrumental membawa pengunjung mengingatkan kembali fase-fase era kehidupan Pram. Pameran catatan dan arsip ini berlangsung di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta, 17 April – 3 Juni 2018.

Publik akan disuguhi berbagai macam artefak kehidupan Pram. Pertama melalui lini masa perjalanan saat beliau masih kecil hingga menjelang wafatnya. Membaca secara kronologis jejak hidup Pram mulai dari pertemuannya dengan dunia penulisan, hingga pilihan ideologi politik yang membawanya terasing di tanahnya sendiri.

Semua benda catatan dan arsip yang dipamerkan adalah koleksi keluarga Pram, dan ini adalah pertama kalinya untuk dipertunjukkan di hadapan publik. Berbagai macam catatan ikut dipamerkan, termasuk tulisan Pram di atas kertas semen, karena dalam pengasingan di Pulau Buru tahanan politik dilarang memegang kertas, sehingga Pram hanya bisa menulis di kertas semen.  Surat–surat untuk Pram pada masa pengasingan dari anak dan istri juga masih tersimpan rapi dan ikut dipamerkan. Surat-surat yang menyentuh perasaan karena berisi mulai dari cerita kerinduan hingga nilai rapor dan kenaikan kelas anak-anaknya. Juga yang tentu saja ikut dipajang adalah foto – foto Pram bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Maemunah bagi Pram adalah belahan jiwanya, meskipun ia adalah istri kedua. Maemunah adalah sosok perempuan hebat. Perempuan yang tidak pernah menuntut apapun dari Pram, membebaskan kehendak Pram, setia dalam masa pengasingan, dan selalu menerima apa adanya. Beberapa barang pribadi, pemberian teman, penghargaan cukup memuaskan dan akan menghabiskan waktu yang cukup panjang jika ingin diperhatikan satu per satu. Satu yang menarik juga adalah replika ruang kerja Pram, lengkap dengan mesin tik yang selalu ia gunakan saat menulis, pakaian putih, sarung, celana, asbak, kacamata, meja, kursi, sampai beberapa piagam penghargaan.

Himbauan yang paling penting pada pameran catatan dan arsip ini adalah larangan untuk memotret arsip–arsip Pram. Khusus untuk arsip yang terdiri dari teks, dikarenakan permintaan dari pihak keluarga. Catatan harian Pram di Pulau Buru, surat-surat dari keluarga Pram, foto-foto keluarga, dan lini masa dilarang untuk diabadikan melalui lensa kamera. Pameran ini dihadirkan sebagai pengenalan kembali jejak panjang karya sastrawan besar Indonesia ini. Harus diakui bahwa masuknya buku-buku Pram dalam daftar buku putih di masa orde baru membuat namanya hanya dikenal sebatas nama. Sementara itu karya sastra Pram memiliki kekayaan narasi yang bisa menjadi penanda zaman, penanda atas cerita tentang kekuasaan, perlawanan, kesetiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Made of: Stories of the Material

Oleh Dwi Rahmanto

5 Mei 2018 di Yogyakarta menawarkan beberapa pembukaan pameran dalam waktu hampir berbarengan, selain yang paling dekat dengan Galeri Lorong yaitu Gadjah Galeri dengan pameran seni rupa dan performance art, Medium at Play. Dari sekian banyak pameran seni rupa di bulan April – Mei, saya tertarik datang ke pameran Made of: Stories of the Material, pameran ini di gagas oleh Galeri Lorong. Galeri Lorong merupakan salah satu galeri seni yang didirikan oleh Alloysius Suko Widigdo, Maria Ambar Sulistyowati dan Yoshi Fajar Kresno Mukti. Galeri yang didirikan di akhir tahun 2013 ini merupakan ruang pamer yang menjadikan kriya sebagai konsep dan titik tekan. Galeri ini berlokasi di Dusun Jeblok, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau jalan utama Kampung Nitiprayan dan Jeblok. Dusun yang memang dikenal sebagai dusun seniman, karena banyaknya seniman yang bertempat tinggal di situ.  

Pameran dibuka pada pukul 5.30 WIB oleh Arham Rahman (kurator Galeri Lorong) dan Adelina Luth (Kurator lepas). Pameran ini juga merupakan kerjasama dengan ARCOLABS, yang berdiri tahun 2014 sebagai The Center for Art and Community Management yang merupakan bagian dari Universitas Surya di Tangerang.Project kerjasama ini mengundang lima perupa muda dengan pendekatan karya yang beragam. Mereka adalah Abud Andri William, FJ Kunting, Gintani Swastika & Yahya Dwi Kurniawan, Julian Abraham ‘Togar’, Yosefa Aulia. Mereka bukanlah seniman yang bermain di ranah seni kriya, tetapi nampaknya justru menjadi tantangan tersendiri. Juga dalam pameran ini tidak menampilkan secara spesifik apa itu kriya, tetapi mengambil gagasan-gagasan seni kriya dalam bentuk seni rupa kontemporer. Dalam sambutanya, Arham berkata bahwa pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik-praktik kerajinan tidak hanya tunduk pada materialitas, tetapi lebih pada aspek relasional dari prosesnya. Pameran bersama ini mengeksplorasi tiga elemen inti kerajinan sebagai cara berpikir dan membuat -bahan, asal-usulnya, dan prosesnya tersirat- untuk mengungkapkan cerita yang tak terhitung jumlahnya dari dimensi sosial dan budaya yang melekat.

Hal ini terlihat dalam presentasi karya yang beragam, mulai dari instalasi, performance art, keramik, video dan sebagainya. FJ Kunting dalam pembukaan mempresentasikan karya instalasi dan performance art. Kunting menciptakan alat untuk membuat batu cincin, dan memajang berbagai model batu dan bentuk cincin yang sudah siap di pakai. Proses membuat batu cincin ini dipadukan dengan efek-efek suara, yang kemudian memunculkan narasi suara-suara beragam, saling beradu baik dari alat pembuat batu cincin hingga interaksi Kunting saat melakukan performance art. Perpaduan alat manual membuat batu akik dan sound noise/delay menggambarkan bagaimana situasi saat itu dengan dinamika yang sangat mengambang.

Dalam wawancara saya dengan Kunting, dia menjelaskan banyak aspek pencarian data dan cerita soal batu akik. Mulai dari booming yang terjadi di berbagai kelas ekonomi masyarakat hingga cerita soal batu akik pacitan yang dijadikan pemberian kepada Barack Obama, oleh SBY sewaktu keduanya merupakan presiden hingga eksploitasi alam. Kemudian Togar juga bermain-main dengan efek suara. Dari karyanya, dia berbentuk Gong dan Air, suara bergema yang muncul saat suara gong di dalam air cukup menggelitik, seperti suara bergerumuh saat gempa. Eksplorasi lain yang bisa dijumpai dari kolaborasi Gintani Yahya yang menarasikan sejarah minuman keras oplosan dengan nama “Santoso”, yang sangat terkenal di kalangan Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2008.

Pameran ini merupakan satu dari serial program berjudul ‘Back to Craftmanship Series’, Galeri ini berupaya mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan kriya. Seniman-seniman yang dipilihnya merupakan seniman lintas generasi, dengan bermacam pendekatan, yang sengaja dihadirkan agar muncul percakapan dan pertukaran pengetahuan. Di awal kehadirannya pun, galeri ini juga sempat menghadirkan karya-karya dari seniman yang dekat dengan pendekatan tradisi, seperti seniman wayang Sulasno, pelukis kaca yang sangat kuat dalam bertungkus lumus dengan mediumnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2: Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa

Oleh Elis dan Rossella (Kawan Magang IVAA)

Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 digelar pada  9-13 Mei 2018 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini diikuti oleh 40 peserta hasil seleksi terbuka dan 46 peserta undangan, dengan menampilkan 110 karya yang tersaji dalam karya yang sifatnya utuh dan instalasi. Pameran Besar Seni Kriya Undagi #2 merupakan program dari Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik lndonesia. Pameran bertema “Seni Kriya lnspirasi Budaya Bangsa” ini merupakan lanjutan dari kegiatan pameran Undagi #1 yang digelar dua tahun lalu. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah pameran Undagi #2 karena sebagai wilayah dengan memiliki tradisi pengembangan ilmu seni kriya yang didukung keberadaan lembaga pendidikan tinggi seni kriya tertua di lndonesia, yakni Jurusan Kriya Institut Seni lndonesia (lSI) Yogyakarta, 5 Sekolah Menengah lndustri Kerajinan (SMIK), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan komunitas-komunitas seni kriya, mulai dari Keramik Kasongan, Batik lmogiri, Perak Kota Gedhe, Batik Pandak Bantul, Keris Banyusumurup, dan lainnya.

Pembukaan pameran ini diramaikan dengan berbagai macam aksi, mulai dari tari-tarian hingga peragaan busana, yang menampilkan karya-karya bercorak etnik berbahan lurik, tile, spon ati dan bahkan tikar mendong. Desainer-desainer yang meramaikan acara ini antara lain Phillip Iswardono, Isyanto, Novi Bamboo.Dalam katalognya, dituliskan bahwa pameran ini ingin merefleksikan kekayaan alam dan budaya lndonesia yang beragam, yang selama ini menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni kriya. Seni-budaya peninggalan nenek moyang adalah hasil kesenian tradisi yang memiliki nilai keindahan dan filosofis. Pameran ini menekankan resepsi atas karya-karya masa lalu yang dielaborasi oleh para kriyawan, sehingga memiliki nilai artistik dan nilai guna yang tinggi.

Sedangkan istilah ‘undagi’ biasanya dipakai untuk menyebut profesi yang selama ini kita kenal sebagai arsitek. Menurut tradisi, sebelum menekuni profesi undagi, seseorang harus melalui proses pembersihan diri lahir-batin. Syarat ini wajib dijalani seorang undagi, agar dalam proses perancangan dan penciptaannya selaras dengan alam, tradisi dan religi. Ia harus paham filosofi yang mendasari konsep desain dan fungsi dari setiap bagian produk seni kriya yang mengekspresikan dimensi estetis dan etis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Metafora #4 “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”

Oleh: M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA)

Metafora merupakan pameran seni kriya tahunan dari jurusan Kriya ISI Surakarta. Metafora edisi ke 4 ini bertema “Weruh, Wanuh, Wengkuh ing Kria”. Diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang berarti mengetahui atau melihat, mengakrabi, dan menjiwai dalam bekeria. Tema ini, mengutip dari katalog pameran, dimaksudkan untuk merangkum narasi praktek kesenimanan kriya secara utuh dan mendalam. Kriya sebagai seni yang masih mengutamakan sentuhan langsung antara tubuh dengan mediumnya, memang menuntut relasi khusus antara seniman dengan tekniknya, yang pada tahap lebih lanjut bisa dimaknai sebagai pilihan-pilihan politis.

Melalui spirit ini, Metafora #4 memberanikan diri untuk unjuk gigi dengan mendatangkan partisipan dari pihak dosen dan mahasiswa, meskipun tidak sejurusan namun pihak panitia masih membuka kesempatan bagi mereka yang mempunyai keahlian dan keterampilan di bidang itu. Pameran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 3 – 5 Mei 2018, bertempat di Museum Keris Solo. Kurator membagi dua kategori utama wujud presentasi karya dalam pameran ini. Pertama yang tergolong kekaryaan media dwimatra (kain, kertas, kulit). Kedua adalah kekaryaan bersifat trimatra (topeng, panil, benda hias, keramik). Selama pameran berlangsung panitia memberi suguhan beberapa kegiatan seperti Workshop Batuk Bandana, Workhsop Keramik, Workshop Transfer Paper, Workshop Nempa Keris, Workshop Pyrography, Workshop Key Chain, Bedah Karya, dan Mural. Museum Keris Solo yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu kini mulai dipadati dengan kegiatan kesenian yang mulai ramai, dari kegiatan masyarakat hingga instansi kampus.

Pameran yang dibuka oleh Rektorat kampus, Dinas Pariwisata, dan Soegeng Toekio ini menghadirkan lebih dari 70 karya dari berbagai instansi kampus undangan. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Bali namun panitia tetap membuka siapapun bagi yang ingin mengikuti. Spirit ini tetap dibawa dengan kesadaran bahwa pameran bagi penggiat seni adalah kebutuhan yang wajib, dan arena bagi pertanggungjawaban karya seninya. Karya-karya dalam pameran ini menunjukkan berbagai macam teknik dalam kriya, seniman-seniman yang aktif merespon bagaimana perkembangan di era sekarang, yang bahkan tidak terbatas hanya pada teknik, tetapi juga wacana. Dengan hadirnya delegasi dari beberapa kampus ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, Universitas Brawijaya Malang, ISI Padang Panjang, IKJ Jakarta, UNS Solo, UNY Yogyakarta, ASDI Surakarta, dan ISI Denpasar semakin merekatkan relasi sosial antara perupa muda dan jejaringnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#Sorotanpustaka Mei-Juni 2018

Oleh: Santosa

IVAA sebagai perpustakaan alternatif, mempunyai koleksi katalog pameran seni yang dihimpun sejak IVAA berdiri tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Katalog–katalog tersebut ditata dan disimpan dalam 4 rak dengan jumlah katalog pameran seni 7237, seluruhnya bisa diakses oleh publik dan ditelusuri di http://library.ivaa-online.org/index.php. Katalog – Katalog tersebut berasal dari kontribusi individu maupun pameran. Terdiri dari katalog pameran tunggal maupun pameran bersama yang diselenggarakan di dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, koleksi katalog pameran yang dikoleksi IVAA masih didominasi katalog pameran yang berlangsung di sekitar pulau Jawa terutama Yogyakarta mengingat lokasi dan keterbatasan jangkauan IVAA.

Sementara basis data yang dimiliki IVAA juga telah dibaca dan dijadikan katalog, dihimpun pada tahun 2011 dalam buku Seri Katalog Data IVAA yang terdiri dari  4 tema, yaitu Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942 – 2011), Reka Alam: Praktek Seni Visual Dan Isu Lingkungan Indonesia Dari Mooi Indie Hingga Reformasi, Kolektif Kreatif: Dinamika Seni Rupa Dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan Dan Ekonomi (Kreatif) (1938-2011), Interkultur: Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keragaman (1935 – 2011). Sedangkan tahun 2017 IVAA juga menerbitkan buku Katalog Data IVAA: Seni, Aksi Dan Jogja Sebagai Ruang Urban dirangkai dan dikumpulkan dari berbagai peristiwa seni dan budaya atau yang berkaitan dengannya, yang mengiringi perubahan dan pergeseran arah gerak Yogyakarta sebagai ruang urban pasca-1998. Secara sengaja, beberapa peristiwa yang terhimpun tidak melulu peristiwa yang sudah begitu saja diterima sebagai peristiwa seni visual. Tema-tema ini dibingkai dalam katalog data IVAA sebagai produk pengetahuan kerja dokumentasi IVAA, lebih lanjut sebagai upaya pengembangan wacana pengetahuan dan pemantik untuk penelitian kedepan.

Newsletter edisi kali ini mengulas dua buku, pertama Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro, yang ditulis oleh OPée Wardany dan Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005. Karena pembahasan di kedua buku tersebut berada pada kisaran dua nama seniman, yakni Ugo Untoro dan Semsar Siahaan, kami kemudian membuka koleksi yang juga terkait dengan kedua nama itu, beberapa diantaranya ialah: Ugo Untoro Menggugat… Sisipus tertawa, Papers and Ugo Untoro, Ugo Untoro My Lonely Riot, Sciascia|Untoro, Solo Show By Ugo Untoro, Melupa, Passage Ugo Untoro: Retropective Exhibition, Corat – Coret 91 – 95. Sedangkan yang berkenaan dengan Semsar Siahaan perpustakaan IVAA juga mempunyai antara lain: Semsar Siahaan: Art Liberation dan beberapa katalog pameran kelompok. Selain kedua buku tersebut, satu koleksi baru yang diulas pada edisi ini ialah Tesis berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian, yang ditulis oleh Stanislaus Yangni dalam menuntaskan kuliahnya di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.